Anda di halaman 1dari 30

SUKA O A N C 2013

NAVIGASI DARAT
21 – 22 Desember 2013
Navigasi : suatu teknik untuk menentukan kedudukan dan arah lintasan secara tepat.

Navigasi darat :
Menerjemahkan tanda yang ada di peta dengan medan sebenarnya atau sebaliknya.

Prinsip Navigasi :
menentukan posisi dan arah.
Yaitu arah yang akan dituju dan posisi keberadaan navigator berada dimedan
sebenarnya yang di proyeksikan pada peta.

Salah satu faktor yang sangat penting dalam navigasi darat adalah analisa peta
Dengan satu peta, kita diharapkan dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya
tentang keadaan medan sebenarnya, meskipun kita belum pernah mendatangi daerah
di peta tersebut.

Mengerti teorinya secara lengkap, bukan berarti kemampuan navigasi


daratnya pun tinggi.
Karena tanpa latihan terus menerus akan mengurangi kepekaan
pemahaman peta.
Alat-alat yang dibutuhkan :

1. Peta
Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau
keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau
diperkecil dengan perbandingan tertentu.

2. Kompas
Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan
selalu menunjuk arah utara-selatan.

3. Altimeter
Alat untuk mengukur ketinggian. Titik 0 adalah titik tempat bertemunya air laut
dengan pasir pantai. Bekerja bedasarkan tekanan udara di suatu tempat.
Altimeter harus dikalibrasi sebelum digunakan. (St. Kereta atau patok BPN)

4. Protractor
Adalah alat untuk menghitung koordinat berdasarkan skala peta.

5. Alat tulis dan penggaris


Ballpoint warna, penggaris dan busur.
PETA KOMPAS SILVA
PROTRACTOR

KOMPAS TEMBAK
ALTIMETER
Peta yang digunakan dalam navigasi darat adalah peta topografi.
Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama
dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.

Bagian dari peta topografi :

1. Nomor Peta :nomor dari bagian peta yang digunakan.Biasanya berurutan dan mempunyai
kode tertentu.
2. Judul Peta : Biasanya berdasarkan dari daerah sekitar pemetaan.
3. Skala Peta
Perbandingan panjang lintasan sebenarnya dan panjang lintasan pada peta.
Contoh : jika skala peta 1:25000
Artinya 1 cm di peta = 250 m pada medan sebenarnya.
4. Legenda Peta : Bagian dari peta yang menunjukkan tahun pembuatan, tanda-tanda peta,
arah mata angin, dll.
5. Sistem Koordinat : cara untuk menyatakan kedudukan suatu titik pada peta dengan
menggunakan sistem sumbu yang memiliki garis-garis sistem koordinat peta yang
membentuk petak-petak peta/kisi-kisi penunjuk (grid references).
6. Tahun Pembuatan Peta : Informasi tahun pembuatan dan instansi pembuat peta.
7. Pembagian Lembaran Peta penjelasan nomor-nomor peta lain yang terletak di sekitar peta
yang digunakan, digunakan untuk mempermudah dalam menggabungkan peta-peta sekitar
ADA DUA MACAM KOMPAS ORIENTEERING.
1.BASE PLATE ATAU PROTRACTOR COMPASS (KOMPAS SILVA)
Jenis kompas ini dikembangkan oleh Kjellstrm bersaudara dimasa era perang dunia ke II dan
terdiri dari piringan dasar bersegi empat, yang diberi tanda dengan anak panah merah yang
menunjukan arah axis, dan rumah kompas yang bisa diputar diberi tanda dengan sudut (360
derajat untuk lingkaran penuh). Pada bagian dasar dari rumah berputar dari kompas diberi
tanda dengan panah dan set garis paralel pada tandah panah tersebut. Sebagai tambahan
kadang juga ada tali untuk mengikatkan kompas pada pergelangan tangan, sisi penggaris
dengan ukurannya untuk digunakan mengukur jarak pada peta, kaca pembesar untuk
membaca peta lebih baik dan contoh dari lingkaran serta segitiga untuk membuat tanda yang
digunakan kusus orieentaring pada peta.

2. THUMB COMPASS (KOMPAS TEMBAK)


Pada pertengahan tahun 1980'an, top Swedia orienteer membuat alternatif pada kompas
type dasar piringan dengan menipiskan dasar piringannya dan menempatkan strap pada
kompas yang nantinya akan dipakai pada ibu jari. Kompas ini dipakai pada ibu jari tangan kiri.
Kelebihan dari system ini adalah peta dan kompas selalu dibaca sebagai satu unit, peta lebih
gampang dan lebih cepat diluruskan, ditambah lagi tangan yang satunya bebas,
kekurangannya adalah karena keakuratannya membuat agak sulit pada bearing.

Walaupun kedua macam kompas ini mempunyai fungsi yang sama, Pribadi masing-masing
oranglah yang akan menentukan kompas mana yang paling sesuai.

Ada dua basic skill yang diperlukan oleh orienteer yaitu, Peta Orienting dan
Menghitung Bearing (sudut).
PROTRACTOR

Adalah sebuah alat pengukur koordinat peta. Terbuat dari bahan mika sederhana yang berisi
Informasi tentang sumbu x sebagai garis lintang dan sumbu y sebagai garis bujur. Dimana pada
titik pusat sumbu terdapat benang yg digunakan untuk mengukur sudut dari orientasi.

Pada sekeliling protractor dilengkapi dengan sudut 0 – 360 derajat yang mewakili sudut kompas.

Protractor biasanya bisa digunakan minimal dalam tiga skala peta standard yaitu 1:10000, 1:25000
Dan 1: 50000. Pemilihan skala protractor ditentukan oleh skala peta yang digunakan.

Protaractor dapat digunakan untuk menentukan posisi dalam format derajat, menit dan detik.

Untuk koordinat secara UTM (Universal Transfer Mode) harus dihitung secara manual.

ALAT TULIS DAN PENGGARIS

Alat tulis yang digunakan adalah ballpoint atau spidol warna, gunanya untuk memberi tanda pada
Posisi di peta.
Penggaris digunakan untuk menghitung jarak antara dua titik dalam peta.
KARVAK
Jalan setapak

Desa
Puncak

Garis Kontur
Punggungan

sungai

Trianggulasi Jurang

MENGENAL TANDA – TANDA PADA PETA TOPOGRAFI


MEMPROYEKSIKAN PETA KE DALAM BENTUK TIGA DIMENSI
HAL YANG HARUS DIINGAT

1. Tidak ada dua garis kontur yang saling berhimpitan atau bertibanan.

2. Tiap garis kontur mempunyai beda ketinggian 1/2000 skala peta. Jadi
apabila skala peta 1:50000, maka selisih tinggi tiap garis kontur adalah 25m
pada medan sebenarnya.

3. Jurang selalu berbentuk seperti huruf V.

4. Punggungan selalu berbentuk seperti huruf U.

5. Sungai hanya ada di dalam Jurang atau lembahan.

6. Jalan setapak selalu ada di atas punggungan.

7. Titik tertinggi pada medan sebenarnya tidak selalu merupakan puncak


gunung.
HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN PADA SAAT MELAKUKAN
NAVIGASI DARAT
1. Pilihlah judul peta yang sesuai
Jangan sampai membawa peta untuk daerah lain.

2. Perhatikan daerah yang diinginkan


Biasanya ada dua peta dengan judul yang sama tetapi memiliki daerah yang berbeda.
Pilih peta berdasarkan daerah yang kita inginkan, biasanya ditandai dengan nomor.

3. Perhatikan tahun pembuatan peta.


Tahun pembuatan peta sangat berpengaruh terhadap perubahan pada medan.

4. Samakan utara peta dengan utara kompas.


Samakan pembacaan utara peta dengan utara kompas, sehingga didapatkan
gambaran medan yang sesuai dengan aslinya.

5. Perhatikan sudut deklinasi.


Perhatikan sudut deklinasi (perbedaan utara kompas dan utara sesungguhnya).
Di daerah katulistiwa perbedaan deklinasi bisa diabaikan sampai dengan perbedaan
20 tahun.

6. Samakan medan di peta dengan medan sesungguhnya


Orientasikan dahulu medan sesungguhnya, apakah sama dengan
medan di peta.
PROSEDUR ORIENTASI PETA
1. Buka peta di tempat yang datar.
Makin rata areanya akan semakin bagus. Karena berpengaruh terhadap ratanya kompas.

2. Samakan utara peta dengan utara kompas.


Letakkan kompas di atas peta. Ratakan arah bidik kompas dengan garis grid vertikal
pada peta. Lalu geser peta sehingga utara jarum kompas menunjuk sudut utara.

3. Baca Legenda peta dengan seksama.


Pelajari legenda peta, mungkin ada hal-hal yang berguna seperti keterangan sudut
deklinasi, tahun pembuatan peta, dll

4. Hitung sudut deklinasi jika dibutuhkan.


Tambahkan hasil perhitungan sudut deklinasi ke dalam arah utara kompas.

5. Perhatikan dan bandingkan medan di peta dan medan sebenarnya.


Samakan keadaan di lapangan dengan keadaan di peta.
(Letak bukit, sungai, lembahan, dll)
Lalu carilah minimal dua titik yang unik sebagai titik acuan navigasi.
MENENTUKAN POSISI DAN CROSS BEARING
Hitung deviasi pada peta:
A=B+(CxD)
A: Deklinasi magnetis pada saat peta digunakan.
B: Deklinasi pada tahun pembuatan peta.
C: Selisih tahun pembuatan.
D: Variasi magnetis.

Contoh:
- Deklinasi magnetis tahun 1943 (pada saat peta dibuat) adalah: 0° 30′(=B).
- Variasi magnet pertahun: 2′(=D)

Pertanyaan:
Berapa deviasi bila pada peta tersebut digunakan pada tahun 1988?(=A)

Perhitungannya:
A = B + (CxD)
A = 0° 30′ + {(88-43)x 2′}
A = 0° 30′ + 90′
A =120′
A =2º0′
catatan
1° (satu derajat) = 60’ (enam puluh menit)
1’ (1 menit) = 60” (enam puluh detik
MENGUKUR SUDUT / BEARING

Dari kompas (K) dipindahkan ke peta (P): P= K +/- (A +/- D)

Dari peta( P) dipindahkan ke kompas (K): K= P +/- (A +/- D)

Keterangan:
Tanda +/- diluar kurung untuk A (deklinasi magnetis/iktilaf magnetis)
dari K ke P: A ke timur tanda (+), A ke barat tanda (-) =
dari P ke K: A ke timur tanda (-), A ke barat tanda (+)

Tanda +/- di dalam kurung untuk D (variasi magnetis)


tanda (+) untuk increase/naik; tanda (-) untuk decrease/turun.

Contoh Perhitungan:
Diketahui sudut kompas/azimuth 120 derajat, pada legenda peta tahun 1942 tersebut: Deklinasi
Magnetis 1 derajat 30 menit ketimur, Variasi Magnetis 2 menit increase, lalu berapa sudut yang
akan kita pindahkan ke peta?

P= K +/- (A +/- D) ingat! kompas ke peta, A ke timur D increase


besar D sekarang (2009)= (2009-1942)x 2 menit
D = 134 menit= 2 derajat 34 menit
sudut P= 120 derajat + (1 menit 30 detik + 2 derajat 34 menit)
P = 122 derajat 35 menit 30 detik
jadi sudut yang dibuat di peta adalah 122° 35” 30’ atau 122° 35.5”
MEMPERKIRAKAN JARAK DAN WAKTU
Contoh :
Skala peta 1:25000
1cm di peta = 250 meter di medan sesungguhnya
misal jarak tempuh di peta = 10cm
maka jarak nya sama dengan 10 x 250 meter = 2500 meter = 2.5km....

Namun karena medan yang di lalui tidak rata perlu dihitung perbedaan ketinggiannya.
Ketinggian awal : 1900 mdpl
Ketinggian tujuan : 2400 mdpl

Sehingga ilmu Phytagoras berlaku disini:


Dari contoh diatas :
a= 2.5km (jarak tempuh bidang datar)
b= 0.5km (beda ketinggian dari titik start dengan titik tujuan)

maka Jarak Tempuh sesungguhnya adalah C2 = A2+B2

Standard manusia
- 4 km/jam pada jalan datar
- 100 mdpl pada jalan kemiringan 45° < lebih

Maka waktu tempuh bisa diperkirakan


MENENTUKAN POSISI PADA PETA
Resection :
Resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda
medan
yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dalam
peta
dan dapat dibidik pada medan sebenarnya (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan
terbuka seperti kebun teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas).
Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.

Langkah-langkah melakukan resection:

1. Lakukan orientasi peta


2. Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah
3. Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut
(untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil ).
4. Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik.
Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.
5. Pindahkan sudut back azimuth bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya.
Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.
6. Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.

Puncak Punggungan
Puncak 1

Posisi kita
Intersection :
Intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau
lebih posisi koordinat yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau
memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai atau tidak
diketahui posisinya di peta. Syaratnya, sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu
posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.

Langkah-langkah melakukan intersection adalah:

1. Lakukan orientasi peta


2. Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.
3. Bidik obyek yang kita amati
4. Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta
5. Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3
6. Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.

Posisi Benda Koordinat B

Koordinat A
MENGENAL AZIMUTH DAN BACK AZIMUTH

Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut
juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka
sudut itu juga bisa dinamakan sebagai azimuth.

Kebalikannya adalah back azimuth. Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara:

-Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth adalah azimuth dikurangi 180º.
Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º.
Back azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º

-Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya adalah 180º
ditambah azimuth.
Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, diperoleh azimuth 160º.
Maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º

Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting
peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu Azimuth dan
back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas.Prinsipnya membuat lintasan
berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada
jarak tertentu.
Azimuth

Orang pertama Back Azimuth Orang kedua


Sistem Koordinat Bumi
Satuan Derajat

1 derajat = 60 menit
1 menit = 60 detik
1 derajat = 3600 detik

Memecah derajat UTM


125,2625 derajat UTM = 125 + 0,2625
0,2625 derajat = 0,2625 x 60 = 15,75 menit
15,75 menit = 15 + 0,75
0,75 menit = 0,75 x 60 = 45 detik

125,2625 derajat UTM = 125° 15’ 45”

Contoh

125° 15’ 45” + 24” = 125° 15’ 69” = 125° 16’ 09”

125° 15’ 45” - 53” = 125° 14’ 105” - 53” = 125° 14’ 52”
Penggaris Lintang Bujur

30"
1'
0' 1'

10
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1

Interval skala terkecil adalah 1 detik


04’ 00”

04’ 30”
Posisi Kotak :
Bujur = 137°
05’ 00”

Lintang = 02°

05’ 30”

06’ 00”

06’ 30”

07’ 00”
137° 52’ 30”

52’ 30” 53’ 30” 54’ 00” 54’ 30” 55’ 00”
02° 07’ 30”
MENENTUKAN BUJUR

30"
04’ 00” 0' 21”

0 1 2 3 4 5 6

Posisi Sekolah :
Bujur = 137° 55’ 00” +
Bujur = 137° 55’ 21”

55’ 00”
6
MENENTUKAN LINTANG

5
" 03

4
3
2
10”

1 0
04’ 00”

'0
Posisi Sekolah :
Lintang = 02° 04’ 00”
-
Lintang = 02° 03’ 50”

55’ 00”
04’ 00”

Posisi Sekolah :
Bujur = 137° 55’ 21”

Lintang = 02° 03’ 50”


137° 52’ 30”

02° 07’ 30” 55’ 00”


Jarak
Mengukur panjang jalan dari A ke B

Benang

30"
0'

Peta RBI Skala 1 : 25.000 0 1 2 3 4 5 6

Panjang jalan di peta = 5 cm


A B
Panjang jalan sebenarnya adalah
5 x 25.000 = 125.000 cm = 1250 m = 1,25 km
NAVIGASI DENGAN GPS

GPS (Global Positioning System) adalah sistim pembacaan koordinat berdasarkan


Pembacaan satelit.

Pada saat ini sangat banyak satelit yang bertebaran di luar angkasa, sistem GPS
manfaatkan koordinat satelit itu untuk menentukan posisi penerima GPS yang
ada di bumi.

Perhitungan koordinat, jarak serta ketinggian dilakukan secara otomatis sehingga


didapatkan keakuratan yang maksimal (antara 3-1 meter tergantung dari jumlah
satelit yang merespon panggilan dari GPS handheld)

Untuk mendapatkan hasil yang akurat diperlukan setidaknya tiga buah satelit yang
Merespon GPS handheld yang kita bawa.
KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN GPS

1. Hasil Navigasi lebih akurat.

2. Tidak perlu melakukan perhitungan yang rumit.

3. Tidak perlu membawa banyak peralatan navigasi dan peta.


Karena peta dapat dimasukkan ke dalam GPS.

4. Menghemat waktu navigasi.

5. Tidak tergantung medan


Pada navigasi konvensional kita harus melakukannya di medan terbuka.

6. Dapat mencari rute perjalanan awal.

7. Dapat mencari koordinat yang sudah kita tentukan sebelumnya.


Contoh GPS Handheld