Anda di halaman 1dari 2

Mengemis di Langit, Bermanis di Bumi

Ustadz Salim A. Fillah @ Masjid Al-Irsyad 28 September 2018.

Nama Nabi Musa AS. paling banyak disebutkan dalam Al-Quran sebagai wujud pembelajaran kepada
Rasulullah dan umatnya. Jika dibandingkan, Rasulullah SAW memiliki beberapa hal lebih baik yang
seharusnya menjadi alasan agar tidak mudah menyerah dalam berdakwah.

1. Rasul sempurna fisik dan fasih cara berbicaranya. Sementara Musa harus mengadu kepada Allah agar
diberikan Harun sebagai kawan dalam dakwahnya. Bahkan atas keterbatasannya Firaun sampai berkata
_"Apakah Tuhanmu tidak memiliki seseorang yang lain untuk diutus?"_

2. Rasulullah SAW sempurna masa lalunya dan tidak memiliki hutang budi pada musuhnya, sementara
Musa pernah tidak sengaja memukul sampai seseorang berbangsa Mesir meninggal -untuk melindungi
salah seorang dari bani Israil- dan dari kecil diselamatkan dibesarkan oleh keluarga Firaun -atas izin
Allah-.

3. Rasulullah memiliki sahabat-sahabat terbaik yang rela mati demi dakwah beliau, sementara Musa
hanya bersama Harun diamanahi bangsa Israil yang sangat keras kepala.

Mari belajar juga pada Musa yang melarikan diri hingga ke Madyan yang singkat cerita bertemu dg dua
orang gadis yang memerlukan bantuan untuk memberi minum ternaknya. _Al Qawiy_, adalah salah satu
syarat mengangkat seseorang sebagai pekerjanya: kuat (akhlaknya). Musa, saat itu adalah orang yang
paling memerlukan bantuan lebih dari siapapun. Namun kuatnya akhlak yang Allah berikan padanya
membuatnya tak segan memberikan bantuan pada yang lain.

Maka setelah menawarkan bantuan, lihatlah ia yang menepi di bawah pohon sambil berdoa "Ya Rabbi..
sungguh aku, atas kebaikan yang Engkau karuniakan, amat memerlukan". (Al Qashash: 24).

Betapa indah doa Musa, kata salafus salih, karena ia tak sebutkan hajatnya sebab ia yakin Rabbnya Maha
Mengetahui, bahkan atas hal-hal yang tidak kita ketahui. Hajat Musa saat itu yang sangat mendesak
adalah sederhana saja: ia lapar. Namun dengan doanya yang indah, Allah karuniakan kepadanya:
makanan, tempat tinggal, pekerjaan, jodoh, hingga nubuwah yang beliau dapatkan saat berada di negeri
Madyan.

Sebab berdoa adalah saat kita berbincang mesra pada Allah. Termasuk sebaik-baik doa adalah yang
berisi pengakuan atas ke-Maha-an Allah dan lemahnya diri sebagai manusia, menurut Ibnu Taimiyah.
Dibandingkan terkabulnya doa, ada yang lebih penting menurut Sayyidina Umar bin Khattab: “Aku tak
pernah khawatir apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, sebab setiap kali Alloh mengilhamkan
hamba-Nya untuk berdoa maka Dia sedang berkehendak untuk memberi Karunia. Yang aku khawatirkan
adalah jika aku tidak berdoa”.
Mari belajar juga pada doa Yunus yang begitu indah saat ia terperangkap di perut ikan sebagai bentuk
ujian dari Allah. La ilaha illa Anta, subhanaKa, inni kuntu minazh zhalimin. Tiada Ilah sesembahan haq
selain Engkau. Maha Suci Engkau; sungguh aku termasuk orang yang berbuat aniaya.” (QS Al Anbiya’
[21]: 87). Maka dengan izin Allah, Yunus berhasil keluar dari perut ikan dan mendapati kaumnya yang
dulu mendustakannya, telah beriman. Sejatinya doa kita memang harus berisi aduan atas lemahnya daya
diri, sehingga Allah kuatkan kita dengan cara-Nya yang indah.

Tentang Nabi Yakqub bin Ishak bin Ibrahim, yang menarik adalah Al Quran tidak mengisahkan tentangnya
berjuang dan berdakwah pada kaumnya sebagaimana nabi-nabi yang lain. Terhadap ujian yang menimpa
keluarganya, Yakqub istimewa karna ia hanya mengadukan kesusahannya pada Allah semata.
“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS Yusuf: 86).
Sebab seringnya mengadu kepada manusia seringnya justru akan menambah masalah baru. Mereka
barangkali memang berniat membantu, tapi atas keterbatasannya barangkali bantuan itu tidak sampai
sebagaimana diharapkan. Karenanya, bijaklah memilih saudara untuk bercerita dan meminta bantuan
orang lain.

Betapa banyak masalah yang tidak bisa kita selesaikan dengan tafakur, tapi justru selesai dengan
istighfar. Maka ketika berdoa, bersiaplah menerima lebih dari apa yang kita harapkan. Sebab pada apa-
apa yang tidak kita lisankan saja Allah sudah memberi, maka pada yang sungguh kita hajatkan, Allah
pasti memberikan yang paling baik.

1 Hai orang yang berselimut (Muhammad), 2 bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali
sedikit (daripadanya), 3(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, 4 atau lebih dari
seperdua itu. Dan bacalah al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. 5 Sesungguhnya Kami akan menurunkan
kepadamu perkataan yang berat. 6 Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk
khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. 7 Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai
urusan yang panjang (banyak). 8 Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh
ketekunan. 9 (Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,
maka ambillah Dia sebagai pelindung. (Al-Muzzamil: 1-9)

Jika kita sudah mengadukan segala pada Dzat yang Maha Agung, maka semoga kita menjadi orang yang
selesai dengan diri sendiri. Sehingga sisanya kita dapat bermanis di bumi dengan menjadi sebaik-baik
insan dengan memberikan sebanyak dan sebaik mungkin manfaat bagi sekitar.

"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik
seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu menghasilkan
buahnya setiap waktu dengan seizin Allah. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar
mereka selalu ingat.” (QS. Ibrâhîm [14]: 24-25).