Anda di halaman 1dari 2

PERJALANAN BATIN SEORANG SANTRI

Sebuah garasi mewah di rumah mewah


Berubah pungsi menjadi tempat aku mengaji dan teman-teman
Sebelum mengaji aku menghidupkan AC, menggelar permadani
Suatu hari ustadzah datang lebih awal. Aku mendekat, menanyakan yang selama
ini tak pernah ku tanyakan.
“ Apakah mungkin Allah mempertanyakan tentang bagaimana pendidikan
seorang anak kepada orang tuanya dihari kemudian ?”
Ibu guru menjawab dengan anggukan, sembari mengelus-elus kepalaku
Aku terdiam tanpa kata, mataku menatap ke wajah ustadzahku yang redup, teduh
dinaungi jilbab yang menutupinya.
Senyum kesayangan ia tebarkan kepada santri-santri yang mulai berdatangan.
Ada yang berjalan kaki sendiri, ada yang datang bersama teman-temannya, ada
pula yang diantar oleh orang tuanya
Sebelum berpisah mereka berjabatan , anak itu mencium tangan, kemudian
mengucapkan salam.
Duu......h Sungguh !!!
Hatiku bagai ditoreh sembilu, nafasku menjelma beribu jarum alif yang menusuk
jantungku.
Tiba... tiba.......Aku lebih cengeng dari sipat kenak kanakanku bahkan aku
menangisi semua
Namun aku tak mampu bersuara, isak tangis dan air mata seakan harus
kutumpahkan semua
Gejolak batin dan hati ini negitu dahsyat, lantaran cerita dukana, bahwa
Ibu rela mempertukarkan selembar nyawa untuk melahirkanku kedunia yang
pana.
Ingin kuteriakan penyesalan, mengapa ibu harus meninggalkannku ?
Kemudian pendengaranku sunyi, pandangannku pergi menjelagat
Ingin rasanya kutanyakan pada ustadzahku tapi dimana suaraku ?
Ingin kupegang erat jemari tanganku tapi dimana rasaku ?
Ingin kudengar suara teman –teman tapi dimana pendengaranku ?
Ingin aku segera pulang tapi aku tak tau ?
Dikesunyian yang fitri aku teras diawang awung
Lalu seseorang yang tak kukenali membawaku ke sebuah perjalanan
yang tak pernah kurasakan
Disana kusaksikan seorang pemuda berlumuran darah
Memanggang tubuhnya dibara api yang panas
Selembar demi selembar dagingnya rontok , ia berteriak minta tolong
Tapi tak seorangpun yang menolong. Aku sangat iba melihatnya
Lalu ia berkata dengan congkaknya
“Tuhanku ! seandainya orang tuaku tak melahirkanku ke dunia yang
bejat ini, aku tak akan begini. Mereka hanya memikirkan harta, tahta dan
seabrek masalah duniawi, sedangkan aku dititipkan pada pembantu.
Sementara ibu bersama sopir mondar mandir dan bapak asyik dengan
dunianya sendiri.
Sungguh Tuhanku ! keluarkan mereka darisyurga-Mu
Aku bukan tak bisa berbuat baik
Tapi..., orang tuaku tak pernah mengajariku mengaji
Dimana keadilan-Mu Tuhanku ?”
Setelah teriakan itu berkali-kali, dua orang muncul dari kejauhan berjalan gontai
penuh penyesalan, kemudian merekapun memanggang diri bersama
Begitu adzab, begitu sengsara , Masya...Allaaa...h
Kemudian aku segera dibawa ketempat lain. Disini tak ada rintih, tak ada derita
Sebuah kampung yang penghuninya damai dan sungainya mengalir jernih
dimana-mana
Dan aroma kasturi di sepanjang jalan. Aku ingin bertanya, tapi pada siapaa.... ?
Ditengah kebingunganku seseorang merangkulku, wajahnya mirip wajahku
Ia mengajakku kesebuah rumah dengan halaman yang penuh bunga
Seseorang wanita tua duduk disana, terdengar suara lembut entah dimana
Lalu kurasakan bisikan ditelinga kananku menggetarkan
Ibumu.... itu Ibumu...
Aku tersentak mata dan pendengaranku terbuka
Disekelilingku ada saudara-saudaraku, ustadz dan ustadzahku
Sementara teman-temanku masih menyanyikan Rukun Islam yang lima
Sungguh..... ini aku saksikan dalm perjalanan batinku

KORPS MUBALIGH
SMKTI MUHAMMADIYAH KUNINGAN
Tahun 2005