Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada suatu negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, sektor


pembangunan di bidang industri merupakan suatu hal yang penting. Hal ini
terbukti dengan tumbuhnya berbagai macam industri, baik industri yang
menghasilkan produk untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk luar negeri
(ekspor). Pembangunan sektor industri diharapkan mampu menjadi salah satu
bidang yang mampu menopang perekonomian nasional sehingga nantinya
proyeksi pertumbuhan perekonomian nasional akan meningkat seiring dengan
adanya industrialisasi.

2-Etil Heksanal dengan rumus kimia CH3(CH2)3CH(C2H5)CH2OH


merupakan senyawa organik golongan alkohol. Pada suhu kamar berupa suatu
cairan tak berwarna, miscible dengan semua senyawa organik, dan sedikit larut
di dalam air. Senyawa ini tingkat toksisitasnya rendah, tetapi mudah terbakar.

2-Etil Heksanal sudah diproduksi sejak pertengahan tahun 1930 dan lebih
dari 2 juta ton diproduksi di seluruh dunia per tahunnya. Kegunaan 2-Etil
Heksanal antara lain sebagai bahan baku dalam pembuatan Dioctyl Phtalate
(DOP) yang berguna untuk pembuatan plasticizer ester untuk PVC, sebagai
bahan baku Dioctyl Adipate, 2-Etil Heksil Phosphat sebagai aditif untuk minyak
pelumas, dan lain-lain. Selain itu 2-Etil Heksanol juga digunakan sebagai pelarut
dan extracting agent.

Dalam skali industri, permodelan merupakan suatu hal yang penting


dalam pengembangan industri untuk meningkatkan kapasitas dan produksi
pabrik. Untuk itu pemanfaatan program simulasi merupakan salah satu metode
untuk mempelajari scale up dari Industri untuk meningkatkan produksi.
Penggunaan komputasi dalam permodelan tersebut memungkinkan untuk
mensimulasikan kondisi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pabrik
itu sendiri.

1.2 Rumusan Masalah

Reaktor merupakan sistem yang terbatas sesuai kondisi operasi tertentu


maka dalam merancang sebuah reaktor diperlukan banyak pertimbangan dan
perhitungan yang kompleks. Pertimbangan tersebut diantaranya adalah jenis
reaktor, volume reaktor yang dibutuhkan, kondisi operasi reaktor, serta
konversi yang dihasilkan oleh reaktor tersebut. Pembuatan 2-etil 2-heksanal
dapat menggunakan reaksi aldolisasi dari n-Butiraldehid yang diumpankan ke
reaktor alir tangki berpengaduk (CSTR) dengan bantuan katalis NaOH pada
suhu 638°K dan tekanan 5 atm. Mekanisme reaksi aldolisasi n-butiraldehid
untuk menghasilkan 2-etil-2 heksenal adalah mekanisme katalitik dalam suasana
basa yang melibatkan penggabungan 2 molekul n-butiraldehid dan penarikan
molekul H2O dari molekul hasil penggabungan. Berdasarkan pertimbangan dan
perhitungan dalam perancangan reaktor, maka terdapat beberapa perhitungan
yang akan diselesaikan yaitu perhitungan profil perancangan reaktor agar
dapat mencapai konversi yang diinginkan, perhitungan konversi pada tiap
perbedaan variabel suhu, serta perhitungan konversi pada tiap perbedaan
variabel mol reaktan. Perhitungan dan pemodelan tersebut dapat dengan
mudah dan cepat diselesaikan menggunakan perangkat lunak yaitu program
Scilab 5.5.2.

1.3 Tujuan Percobaan

1. Membuat pemodelan matematis reaktor CSTR adiabatis pembuatan 2-etil-2-


heksanal dengan menggunakan perangkat lunak Scilab 5.5.2
2. Membuat profil pengaruh konversi terhadap suhu
3. Mengetahui profil pengaruh konversi terhadap volume reaktor
4. Membuat profil hubungan suhu dan volume reaktor
5. Membuktikan neraca massa reaksi pembentukan 2-etil-2-heksanal

1.4 Manfaat Percobaan

1. Dapat membuat pemodelan matematis reaktor CSTR adiabatis pembuatan 2-


etil-2-heksanal dengan menggunakan perangkat lunak Scilab 5.5.2
2. Dapat membuat profil pengaruh konversi terhadap suhu
3. Dapat mengetahui profil pengaruh konversi terhadap volume reaktor
4. Dapat membuat profil hubungan suhu dan volume reaktor
5. Dapat membuktikan neraca massa reaksi pembentukan 2-etil-2-heksanal
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Teori

Dalam teknik kimia, reaktor kimia merupakan jantungnya proses


kimia. Reaktor kimia dirancang untuk mereaksikan bahan-bahan kimia, atau
juga sering disebut sebagai tempat untuk mengonversi bahan baku menjadi
produk. Perancangan reaktor kimia dengan kandungan bahan kimia yang
cukup banyak akan disintesis pada skala komersial tergantung pada beberapa
aspek kimia. Oleh karena itu untuk merancang reaktor kimia harus
memperhatikan jenis reaksi, kondisi operasi, arah reaksi, spesifikasi bahan
baku serta produk yang dihasilkan, dan memastikan bahwa proses reaksi dapat
menghasilkan yield tinggi dengan biaya yang paling efektif (Levenspiel, 1999).
2.1.1 Reaktor
Reaktor adalah suatu alat tempat terjadinya reaksi kimia untuk
mengubah suatu bahan baku menjadi produk yang memiliki nilai
ekonomis yang lebih tinggi.
2.1.1.1 Jenis Reaktor Berdasarkan Cara Kerjanya
a. Reaktor Batch Commented [H1]: Semua kata batch di italic ya dek

Reaktor Batch biasanya digunakan untuk reaksi fase cair,


terutama jika kapasitas produksi kecil atau skala laboratorium, dan
sangat bermanfaat untuk industri yang membuat bermacam-macam
produk seperti pabrik obat-obatan, pabrik zat warna, reaksi
fermentasi, dan lain-lain.
Proses batch merupakan sebuah proses dimana semua reaktan
dimasukan bersamasama pada awal proses dan produk dikeluarkan
pada akhir proses. Dalam proses ini, semua reagen ditambahkan di
awal proses dan tidak penambahan atau pengeluaran ketika proses
berlangsung (Fogler, 1986). Persamaan neraca masa dari reaktor
batch sebagai berikut:
Input = 0
Output = 0
Reaksi = (-rA)V
𝑑𝑁𝐴
Akumulasi = 𝑑𝑡

Input = output + reaksi + akumulasi


𝑑𝑁𝐴
0 = 0 + (-rA)V + 𝑑𝑡
𝑑𝑋𝐴
(-rA)V = NA0
𝑑𝑡

dimana : rA = laju reaksi


XA = konversi
V = volume reaktor
CA = konsentrasi reaktan (Levenspiel 1999)
Reaktor batch memiliki kelebihan, karena reaktor batch hanya
terdiri dari sebuah tangki dan pengaduk, harga instrumentasinya
lebih rendah, selain itu proses menggunakan reaktor batch bisa
dihentikan kapan saja jika terjadi kesalahan saat mengisi
reaktan (fleksibel). Reaktor batch juga dapat digunakan untuk
reaksi yang menggunakan reaktan beracun. Keuntungan lain dari
penggunaan reaktor batch yaitu mudah dibersihkan,
penggunaannya multifungsi dan dapat digunakan untuk reaksi fase
gas, cair dan cair-padat (Heinzle,2009).

Gambar 2.1. Reaktor Batch


Untuk penggunaan skala industri reaktor batch mempunyai
beberapa kekurangan karena membutuhkan waktu untuk
mengisi reaktor dengan reaktan, pemanasan reaktan, waktu
reaksi, waktu pendinginan, waktu pengosongan dan waktu
pengosongan. Akibatnya biaya penanganan dan tenaga kerjanya
tinggi, waktu untuk shutdown menjadi lebih lama dan kontrol
kualitas produknya rendah (Levenspiel 1999).
b. Continous Stirred-Tank Reactor Model (CSTR)
Reaktor ini termasuk sistem reaktor kontinyu untuk reaksi-
reaksi sederhana. Berbeda dengan sistem operasi batch dimana
selama reaksi berlangsung tidak ada aliran umpan yang masuk
dan produk yang meninggalkan sistem secara berkesinambungan,
maka didalam reaktor alir kontinyu, baik umpan maupun produk
akan mengalir secara terus menerus. Karena umpan dan produk
mengalir secara terus menerus akibatnya di dalam reaktor tidak
terjadi akumulasi. Berikut persamaan neraca massa dari reaktor
CSTR:
Input = FA0
Output = FA
Reaksi = (-rA)V
Akumulasi = 0
Input = output + reaksi + akumulasi
FA0-FA-(-rA.V) = dNA/dt; dNA/dt=0
FA0-FA-(-rA.V) = 0
-rA.V = FA0-FA
-rA.V = FA0 - FA0(1-XA)
-rA.V = FA0.XA
V = FA0.XA/-rA
dimana FA0 adalah laju alir umpan, XA adalah konversi, rA
adalah laju reaksi dan V adalah volume reaktor.

Gambar 2.2. Reaktor CSTR

Reaktor tipe ini bisa terdiri dari satu tangki atau lebih.
Biasanya tangki–tangki ini dipasang vertikal dengan
pengadukan sempurna. Pengadukan pada masing-masing tangki
dilakukan secara kontinu sehingga diperoleh suatu keadaan di
mana komposisi campuran di dalam reaktor benar - benar
seragam (Levenspiel,1999).
Keuntungan reaktor berpengaduk antara lain suhu dan
komposisi campuran dalam reaktor sama, volume reaktor besar
sehingga waktu tinggal juga besar yang berarti zat pereaksi lebih
lama bereaksi di reaktor. Sedangkan kerugiannya yaitu tidak efisien
untuk reaksi fase gas dan reaksi bertekanan tinggi, serta kecepatan
perpindahan panas lebih rendah dibanding reaktor aliran pipa.

c. Plug Flow Reactor Model (PFR)


Reaktor alir pipa merupakan reaktor dimana cairan bereaksi
dan mengalir dengan cara melewati tube (tabung) dengan
kecepatan tinggi, tanpa terjadi pembentukan arus putar pada
aliran cepat. Reaktor alir pipa pada dasarnya hampir sama dengan
pipa dan relatif cukup mudah dalam perancangannya. Produk
secara selektif ditarik dari reaktor sehingga keseimbangan
dalam reaktor secara kontinu bergeser membentuk lebih banyak
produk. Pada umumnya reaktor alir pipa dilengkapi dengan
katalisator. Seperti sebagian besar reaksi pada industri kimia,
reaksinya membutuhkan katalisator secara signifikan pada suhu
standar.

Gambar 2.3. Plug Flow Reactor

Dalam PFR, satu atau lebih reaktan dipompakan kedalam suatu


pipa. Biasanya reaksi yang digunakan pada reaktor ini adalah
reaksi fasa gas. Reaksi kimia berlangsung sepanjang pipa sehingga
semakin panjang pipa maka konversi akan semakin tinggi. Dalam
aplikasinya di industri reaktor alir pipa digunakan untuk reaksi
berskala besar, homogen atau heterogen, temperatur tinggi,
reaksinya cepat dan proses kontinyu. Pada reaktor pipa umpan
dan produk juga mengalir secara terus menerus, oleh karena
itu tidak terjadi akumulasi. Sehingga persamaan neraca masa
dari plug flow reaktor sebagai berikut :
Input = FA
Output = FA + dFA
Akumulasi = 0
Reaksi = (-rA)dV
Input = Output + Reaksi + Akumulasi
FA = FA + dFA + (-rA)dV + 0
𝑑𝑋
FA0 𝑑𝑉 = −𝑟𝐴
𝑋
𝑑𝑋
𝑉 = 𝐹𝐴0 ∫
0 −𝑟𝐴

Dimana FA0 adalah laju alir umpan, X adalah konversi, r A


adalah laju reaksi dan V adalah volume reaktor. Keuntungan
menggunakan PFR adalah reaktor ini memberikan volume yang
lebih kecil daripada RATB, untuk konversi yang sama. Namun
harga alat dan biaya instalasinya relatif lebih mahal, selain itu
butuh waktu untuk mencapai kondisi steady state dan untuk
reaksi eksotermis kadang terjadi hot spot (bagian yang suhunya
sangat tinggi) pada tempat pemasukan sehingga dapat
menyebabkan kerusakan pada dinding reaktor (Dey et al., 2007).
2.1.1.2 Jenis Reaktor Berdasarkan Kondisi Operasi
a. Reaktor Adiabatis
Reaktor adiabatis adalah reaktor yang beroperasi secara
adiabatis dimana tidak ada perpindahan panas antara reaktor
dengan sekelilingnya artinya tidak ada panas yang ditambahkan
kedalam sistem ataupun panas yang keluar dari sistem reaktor (Q =
0). Berikut adalah persamaan neraca energi :
a) Batch
𝑑𝑇
-ΔHR(T) (-rAV) = NA0 (Cp + ΔCpX) 𝑑𝑡

b) CSTR
-FA0 𝛴𝜃𝐶𝑝(𝑇 − 𝑇0) − [∆𝐻𝑅(𝑇𝑅) + ∆𝐶𝑝(𝑇 − 𝑇𝑅)]FA0X = 0
c) Plug Flow
(−∆𝐻𝑟)𝑋
T = T0 + 𝛴𝜃𝐶𝑝

∆𝐻𝑟 = ∆H298 + ∫(𝐶𝑝 𝑑𝑇)


∆H298 = ∆H298 produk – ∆H298 reakta
Ditinjau dari segi operasionalnya, reaktor adiabatis yang
paling sederhana, cukup dengan menyekat reaktor, sehingga tidak
ada panas yang hilang ke sekelilingnya. Jika reaksi yang terjadi
adalah reaksi eksotermis, maka panas yang terjadi karena reaksi
dapat dipakai untuk menaikkan suhu campuran di reaktor.
b. Reaktor non Adiabatis
Reaktor non adiabatis adalah reaktor yang beroperasi secara non
adiabatis dimana terdapat perpindahan panas antara reaktor
dengan sekelilingnya. Reaktor ini sering juga disebut reaktor
isothermal dikarenakan perpindahan panas yang ada digunakan
untuk menjaga suhu operasi di dalam reaktor. Reaktor jenis ini
mudah dikenali dengan pemasangan heater dan cooler pada reaktor.
Berikut persamaan neraca energi :
a) Batch
𝑑𝑇 𝑄 − 𝑊𝑥 + (−∆𝐻𝑟)(−𝑟𝐴 𝑉)
=
𝑑𝑡 𝑁𝐴0 (𝛴𝜃𝐶𝑝 + 𝛥𝐶𝑝𝑋)
b) CSTR
Q – FA0 𝛴𝜃𝐶𝑝(𝑇 − 𝑇0) − [∆𝐻𝑅(𝑇𝑅) + ∆𝐶𝑝(𝑇 − 𝑇𝑅)]FA0X = 0
c) Plug Flow
𝑑𝑇 𝑈𝐴(𝑇 − 𝑇0) + 𝑟𝐴 ∆𝐻𝑟 (𝑇)
=
𝑑𝑉 𝐹𝐴0 (𝛴𝜃𝐶𝑝 + ∆𝐶𝑝 𝑋)
∆𝐻𝑟 = ∆H298 + ∫(𝐶𝑝 𝑑𝑇)
∆H298 = ∆H298 produk – ∆H298 reaktan
Misalnya pada pembuatan phenyl ethyl alcohol dari etilena
dan benzena. Reaksinya sebagai berikut:
C2H4O+C6H6 C8H10O ΔH = -153300kJ/mol
Reaksi tersebut bersifat eksotermis sehingga panas terus
keluar dari reaktor. Oleh sebab itu pada reaktor harus dipasang
pendingin untuk mempertahankan suhu reaktor (Sembodo, 2008).
2.1.2 Sifat Reaksi
Ketika terjadi reaksi kimia, ada reaksi kimia yang membutuhkan
panas agar reaksi dapat berlangsung dan ada pula reaksi yang
menghasilkan panas. Secara umum sifat reaksi dibagi menjadi dua,
yaitu:
a. Eksotermis
Reaksi eksoterm adalah reaksi yang menyebabkan adanya
transfer kalor dari sistem ke lingkungan.Reaksi eksoterm selalu
ditandai dengan adanya kenaikan suhu sistem saat reaksi
berlangsung. Perubahan entalpi dihitung dengan:
ΔH = energi untuk memutus ikatan - energi untuk membuat
produk (Nanda, 2014)
𝑇
ΔHr = ΔH298 + ∫298 𝐶𝑝 𝑑𝑇
ΔH298 = ΔH298produk – ΔH298reaktan
Dengan demikian, perubahan entalpi bertanda negatif (ΔH < 0).
Hal ini dikarenakan energi yang dilepaskan lebih besar daripada
energi yang digunakan untuk reaksi. Berikut ini contoh reaksi
eksoterm, yaitu reaksi antara asam asetat dengan asetilena
menghasilkan vinil asetat:
C2H2+CH3COOH → C4H6O2 ΔH = -118kJ/mol
Contoh reaksi eksoterm yang lain adalah reaksi pembakaran,
reaksi netralisasi asam dan basa, reaksi korosi seperti oksidasi
logam, reaksi polimerisasi, respirasi, dekomposisi tumbuhan
menjadi kompos.
b. Endotermis
Reaksi endoterm adalah reaksi yang menyebabkan adanya
transfer kalor dari lingkungan ke sistem. Reaksi endoterm ditandai
dengan adanya penurunan suhu sistem. Dengan demikian kalor
dipindahkan dari lingkungan ke dalam sistem reaksi. Reaksi
endoterm mempunyai entalpi bernilai positif (ΔH > 0). Energi yang
dilepaskan lebih kecil daripada energi yang digunakan saat reaksi.
Contohnya seperti reaksi pembuatan stirena dari etil benzen
berikut:
C6H5C2H5 → C6H5C2H3 + H2 ΔH = 117440kJ/mol
Contoh lain dari reaksi endoterm adalah dekomposisi
termal, cracking alkana, reaksi fotosintesis dan lain-lain (Nanda,
2014).
2.1.3 Jenis Reaksi

Reaksi yang terjadi di dalam suatu reaktor jarang sekali hanya


terdiri satu buah reaksi (reaksi tunggal/single reaction) tetapi
kebanyakan yang terjadi adalah reaksi ganda (multiple reaction)
yang akan dihasilkan produk yang diinginkan dan produk yang tidak
diinginkan. Reaksi ganda terdiri dari reaksi paralel dan reaksi seri.

a. Reaksi Paralel
Reaksi paralel atau reaksi samping (competitive reaction) yaitu
dari reaktan yang sama dihasilkan produk yang berbeda melalui jalur
reaksi yang berbeda pula (Levenspiel, 1999).

𝑘1
A→ R
𝑘2
A→ S
Contoh reaksi paralel yang cukup pada skal industri adalah
reaksi berikut:
Reaksi utama: C2 H4 + 1/2H2 O → C2 H4 O
Reaksi samping: C2 H4 + 3O2 → 2CO2 + 2H2 O
Oksidasi terhadap etilen akan dihasilkan produk yang
diinginkan yaitu etilen oksida sementara selama terjadi reaksi
oksidasi sebagian etilen terbakar sempurna dan dihasilkan produk
yang tidak diinginkan adalah uap air dan karbon dioksida
(Levenspiel, 1999).
b. Reaksi Seri
Reaksi seri atau reaksi konsekutif yaitu dari reaktan terbentuk
produk antara yang aktif kemudian lebih lanjut berubah menjadi
produk lain yang stabil (Levenspiel, 1999).
𝑘1 k2
A → R→S
Contoh reaksi seri adalah proses produksi Syn Gas dari metanol:

1 1
CH3 OH(𝑔) ↔ CH3 OCH3(𝑔) + H2 O(𝑔)
2 2
1 1
CH OCH3(𝑔) + H2 O(𝑔) → CO(𝑔) + 2H2(𝑔)
2 3 2

2.1.4 Arah Reaksi


Dalam reaksi kimia, terdapat dua jenis reaksi yaitu reaksi bolak-
balik (reversible) dan reaksi searah (irreversible). Reaksi reversible
adalah suatu reaksi yang yangberlangsung dalam dua arah. Zat hasil
reaksi dapat bereaksi kembali membentuk zat pereaksi. Contohnya
reaksi pembentukan ester dari reaksi asam asetat dan alkohol.
CH3COOH+C2H5OH ↔ CH3COOC2H5+H2O
Reaksi ini memiliki dua nilai konstanta kecepatan reaksi. Pada
reaksi ini dapat terjadi kesetimbangan yaitu ketika laju pembentukan
produk dan laju pembentukan kembali reaktan memiliki nilai yang
sama (Belinda 2011).
Sedangkan reaksi irreversible adalah suatu recn aksi yang
berlangsung dalam satu arah. Zat hasil reaksi tidak dapat bereaksi
membentuk pereaksi. Misalnya reaksi karbon monoksida dengan uap
air membentuk karbondioksida dan gas hydrogen.
CO+H2O → H2 +CO2
Penentuan apakah reaksi berjalan reversible atau irreversible dapat
ditentukan dengan cara menghitung harga tetapan kesetimbangan (K).
Nilai K ditentukan dengan cara:
1. Perhitungan konsentrasi pada kondisi setimbang.
2. Perhitungan dari data termodinamika G dan K. Hubungan G dan
K dituliskan sebagai berikut:
∆G = -RT ln K

Menghitung harga K pada suhu operasi :

𝐾 ∆𝐻𝑅 298 1 1 Commented [H2]: delta Hrx


𝑙𝑛 = − ( − )
𝐾2 𝑅 𝑇 𝑇𝑜
dimana:
∆G = perubahan energi Gibs, R= tetapan gas umum, T = suhu(K)
Apabila nilai K ≤ 1 maka reaksi berjalan reversible, namun apabila nilai
K sangat besar, maka reaksi berjalan irreversible (Kristianingrum,2010).
2.2. Studi Kasus

2.2.1. Deskripsi Proses

Pembuatan 2-Etil Heksanol dengan bahan baku ini merupakan


suatu proses yang panjang karena tahap-tahap reaksinya menghasilkan
berbagai senyawa kimia sebagai produk intermediate. Asetaldehid
yang mula-mula dibuat dari bahan baku etilen, kemudian diubah
menjadi crotonaldehid melalui proses aldolisasi/dehidrasi.
Crotonaldehid yang terbentuk baru dibentuk menjadi n-butiraldehid
melalui proses hidrogenasi. Untuk dapat menghasilkan produk berupa
2-EH, maka n-butiraldehid yang dihasilkan, dikenakan reaksi
aldolisasi dan hidrogenasi.
Mekanisme reaksi aldolisasi n-butiraldehid untuk
menghasilkan 2-etil-2 heksenal adalah mekanisme katalitik dalam
suasana basa yang melibatkan penggabungan 2 molekul n-butiraldehid
dan penarikan molekul H2O dari molekul hasil penggabungan.

1. Penggabungan 2 molekul n-butiraldehid

OH

2H3C-CH2-CH2-CHO H3C-CH2-CH2-CH-CH-CHO
katalis
C2H5
n-butiraldehid butiraldol

2. Penarikan molekul H2O

OH
H3C-CH2-CH2-CH-CH-CHO H3C-CH2-CH2-CH=C-CHO
-H2O
C2H5 C2H5
butiraldol 2-etil-2 heksenal

Reaksi aldolisasi dijalankan dalam reaktor jenis CSTR yang


dioperasikan pada suhu 638K, 5 atm. Kondisi operasi pada reaksi
aldolisasi dipilih mendasarkan pada pertimbangan bahwa kondisi
operasi tersebut adalah isotermal non-adiabatik dan suhu operasinya
638K, 3-10 atm. Jika kondisi operasi dilakukan di luar range tersebut,
maka reaksi yang diharapkan tidak akan berjalan secara reversible.

Katalis berfungsi untuk mempercepat laju reaksi, meskipun


katalis tidak berubah pada akhir reaksi, tetapi katalis tetap ikut aktif
dalam reaksi. Kecepatan reaksi dapat dipercepat karena energi aktifasi
tiap langkah reaksi dengan menggunakan katalis akan lebih rendah
jika dibandingkan dengan tidak menggunakan katalis. Konversi
kesetimbangan tidak dipengaruhi katalis, tetapi selektifitas dapat
ditingkatkan dengan adanya katalis. Reaksi aldolisasi merupakan
reaksi katalitik yang berjalan dengan bantuan larutan alkali.
Konsentrasi NaOH yang dipakai pada reaksi ini adalah 20% (persen
berat) dengan perbandingan antara n-butiraldehid dan katalis NaOH
adalah 100:1. Pada reaksi aldolisasi dipilih katalis NaOH karena harga
larutan NaOH cukup murah. Pada reaksi hidrogenasi katalitik
umumnya penurunan tekanan akan semakin besar bila diameter katalis
semakin kecil, tetapi permukaan yang luas lebih baik karena laju
reaksi setara dengan luas permukaan yang ditempati.

2.2.2. Reaktor untuk pembentukan 2-etil-2 heksenal dari n-butiraldehid


Reaksi aldolisasi dijalankan dalam reaktor jenis CSTR.
Mereaksikan n-butiraldehid dalam suatu reaksi aldolisasi dengan
bantuan katalis larutan NaOH untuk menghasilkan produk utama
berupa 2 etil heksenal dan produk samping berupa air. Karena wujud
bahan yang digunakan berupai cairan maka digunakan reaktor jenis
tankgi berpengaduk atau CSTR.

2.2.3. Tinjauan Thermodinamika


Ditinjau dari thermodinamika reaksi, reaksi aldolisasi n-
butiraldehid menjadi butiradol, dan reaksi dehidrogenisasi butiradol
menjadi 2-etil-2-heksanal, ditunjukan sebagai berikut :
∆Hof298 n-butiraldehid = -207 kJ/mol.K
∆Hof298 butiradol = -440,66 kJ/mol.K
∆Hof298 2-etil-2-heksanal = 186,6 kJ/mol.K
(Yaws, 1990)
Reaksi I :

OH

2H3C-CH2-CH2-CHO H3C-CH2-CH2-CH-CH-CHO
katalis
C2H5
n-butiraldehid butiraldol

∆HR 298 = -440 – (-207) = -253,66 kJ/mol.K


Reaksi II :

OH
∆HR 298 = 186,6 – (-440,66) = 627,66 kJ/mol.K
H3C-CH2-CH2-CH-CH-CHO H3C-CH2-CH2-CH=C-CHO
H2O
C2H5 C2H5
butiraldol 2-etil-2 heksenal

∆HR 298 = 186,6 – (-440,66) = 627,66 kJ/mol.K

Tabel 2.1. Nilai Cp, A, B, C, dan D


Koefisien
Cp A B C D Commented [H3]: tambah kolom buat koefisien rx dong
Reaksi
n-butiraldehid 2 70,063 0,7257 -2,2348x10-3 3,3065x10-6
Butiradol 1 38,943 0,5961 1,038x10-4 -7,81x10-8
∑= -31,12 -0,12956 2,251x10-3 -3,3846x10-6
Butiradol 1 38,943 0,5961 1,038x10-4 -7,81x10-8
2-etil-2-
1 -6,857 0,7582 -4,91x10-4 1,31x10-7
heksana
∑= -45,8 0,1612 3,867x10-4 2,092x10-7
(Yaws, 1990)

Reaksi I :
638
∆𝐻𝑅 (638) = ∆𝐻298 + ∫ 𝐶𝑝 𝑑𝑇
298

∆𝐻𝑅 (638) = −233,66 𝑘𝐽⁄𝑚𝑜𝑙 . 𝐾 + 10282,84 𝑘𝐽⁄𝑚𝑜𝑙 . 𝐾


∆𝐻𝑅 (638) = 10049,23 𝑘𝐽⁄𝑚𝑜𝑙 . 𝐾
Untuk reaksi I, ∆𝐻𝑅 (638) menunjukan nilai positif. Sehingga untuk
reaksi tersebut bersifat endotermis
Reaksi II :
638
∆𝐻𝑅 (638) = ∆𝐻298 + ∫ 𝐶𝑝 𝑑𝑇
298

∆𝐻𝑅 (638) = −627,26 𝑘𝐽⁄𝑚𝑜𝑙 . 𝐾 + (−11589,19) 𝑘𝐽⁄𝑚𝑜𝑙 . 𝐾

∆𝐻𝑅 (638) = −10961,93 𝑘𝐽⁄𝑚𝑜𝑙 . 𝐾

Untuk reaksi , ∆𝐻𝑅 (638) menunjukan nilai negatif. Sehingga untuk


reaksi tersebut bersifat eksotermis

2.2.4. Tinjauan Kinetika

Ditinjau dari kinetika reaksi, kecepatan reaksi pembuatan butena dari


dehidrogenasi n-butanol akan makin besar dengan kenaikan suhu, adanya
pengadukan dan perbedaan konsentrasi. Hal ini dapat dijelaskan oleh
persamaan Arrhenius yaitu

−𝐸𝑎
𝑘 = 𝐴. 𝑒 𝑅𝑇

Dengan:
k = konstanta laju reaksi
A = faktor frekuensi tumbukan
T = suhu
Ea = Energi aktivasi
R = konstanta gas ideal
= 8,314 J/mol K
Berdasarkan persamaan Arrhenius dapat dilihat bahwa konstanta laju
reaksi dipengaruhi oleh nilai faktor frekuensi tumbukan, suhu,dan energi
aktivasi.
Pada reaksi pembentukan butiraldol didapatkan data sebagai berikut :
A = 1,78×106
Ea = 32,92
𝑘 = 1768987,088 mol/menit

Pada reaksi pembentukan 2-etil-2-heksenal didapatkan data sebagai berikut :


A = 314
Ea = 32,6
𝑘 = 312,076 mol/g.h