Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS KASUS e-KTP

Untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester


Mata Pelajaran Akuntansi Forensik

Dosen pengampu:

Drs. Tarmizi Achmad , MBA, PhD, Ak, CA

Disusun oleh :

Nama : A’isah Pratiwi


Nim : 12030118410029
Kelas : sore
Angkatan : 39

MAGISTER AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
BAB II
ANALISA DAN PEMBAHASAN

A. ANALISA KASUS E-KTP

Kronologi Awal

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Kasus korupsi e-KTP


bermula dari rencana Kementerian Dalam Negeri RI dalam pembuatan e-KTP. Sejak
2006 Kemendagri telah menyiapkan dana sekitar Rp 6 triliun yang digunakan untuk
proyek e-KTP dan program Nomor Induk Kependudukan (NIK) nasional dan dana senilai
Rp 258 milyar untuk biaya pemutakhiran data kependudukan untuk pembuatan e-KTP
berbasis NIK pada 2010 untuk seluruh kabupaten/kota se-Indonesia. Pada 2011
pengadaan e-KTP ditargetkan untuk 6,7 juta penduduk sedangkan pada 2012 ditargetkan
untuk sekitar 200 juta penduduk Indonesia. Sebelum proses perekaman e-KTP
dilaksanakan, Gamawan Fauzi yang saat itu menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri
sempat menemui pimpinan KPK di gedung KPK pada 24 Januari 2011. Di sana ia
meminta KPK untuk mengawasi proyek e-KTP sembari menjelaskan tentang langkah-
langkah pelaksanaan proyek e-KTP. Namun KPK bukan satu-satunya institusi yang ia
datangi. Sebelumnya ia juga telah meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk terlibat dalam
pengawasan proyek ini. Dengan adanya keterlibatan institusi-institusi tersebut ia berharap
megaproyek e-KTP dapat bersih dan terhindar dari praktek korupsi. M Jasin yang saat itu
menjabat sebagai wakil ketua KPK juga menegaskan bahwa KPK memantau proses
proyek e-KTP.
Proses Pengadaan e-KTP

Pada pelaksanaannya, proyek e-KTP dilakukan oleh konsorsium yang terdiri dari
beberapa perusahaan atau pihak terkait. Untuk memutuskan konsorsium mana yang
berhak melakukan proyek, maka pemerintah kemudian melaksanakan lelang tender pada
21 Februari hingga 15 Mei 2011. Di sela-sela proses lelang, Lembaga Sosial
Masyarakat(LSM) bernama Government Watch (Gowa) menilai bahwa terjadi
kejanggalan pada proses lelang. Mereka beranggapan bahwa perusahaan yang
mengikuti tender tidak sesuai dengan persyaratan seperti yang terangkum dalam PP
54/2010.
Setelah melalui serangkaian proses, akhirnya pada 21 Juni 2011 pemerintah
mengumumkan konsorsium yang menjadi pemenang lelang. Mereka adalah konsorsium
PNRI yang terdiri dari beberapa perusahaan, yakni Perum PNRI, PT LEN Industri,
PT Quadra Solution, PT Sucofindo dan PT Sandipala Artha Putra. Hasil itu diambil
berdasarkan surat keputusan Mendagri Nomor: 471.13-476 tahun 2011. Sebagai tindak
lanjut, konsorsium PNRI kemudian melakukan penandatanganan kontrak bersama untuk
pengadaan e-KTP tahun anggaran 2011-2012 dengan nilai pekerjaan sebesar Rp
5.841.896.144.993. Kontrak tersebut disepakati pada 1 Juli 2011.
Mulanya proses perekaman e-KTP ditargetkan akan dilaksanakan secara serentak
pada 1 Agustus 2011. Namun karena terlambatnya pengiriman perangkat peralatan e-
KTP, maka jadwal perekaman berubah menjadi 18 Agustus 2011 untuk 197
kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Kecurigaan Korupsi

Belum sampai perekaman dilakukan di berbagai kabupaten dan kota, pihak


kepolisian mengabarkan bahwa mereka mencurigai terjadinya korupsi pada proyek e-
KTP. Kecurigaan itu berangkat dari laporan konsorsium yang kalah tender yang
menyatakan bahwa terjadinya ketidaksesuaian prosedur yang dilakukan oleh panitia saat
lelang tender berlangsung. Kecurigaan bahwa adanya praktek korupsi pada proyek e-KTP
juga dirasakan oleh Government Watch (GOWA) yang berbuntut pada laporan kepada
KPK pada 23 Agustus 2011. Mereka berspekulasi bahwa telah terjadi upaya pemenangan
terhadap satu konsorsium perusahaan dalam proses lelang tender berdasarkan investigasi
yang telah dilakukan sejak Maret hingga Agustus 2011. Dari hasil investigasi tersebut
mereka mendapatkan petunjuk berupa dugaan terjadinya kolusi pada proses lelang
oleh Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil dan menemukan fakta
bahwa telah terjadi 11 penyimpangan, pelanggaran dan kejanggalan kasat mata dalam
pengadaan lelang.
KPK turut mencium kejanggalan dari proses proyek e-KTP. Pada awal September
2011 KPK menuding bahwa Kemendagri tidak menjalankan 6 rekomendasi dalam
pelaksanaan proyek e-KTP. Keenam rekomendasi tersebut adalah: 1) penyempurnaan
desain.; 2) menyempurnakan aplikasi SIAK dan mendorong penggunaan SIAK di seluruh
wilayah Indonesia dengan melakukan percepatan migrasi non SIAK ke SIAK; 3)
memastikan tersedianya jaringan pendukung komunikasi data online/semi online antara
Kabupaten/kota dengan MDC di pusat agar proses konsolidasi dapat dilakukan secara
efisien; 4) Pembersihan data kependudukan dan penggunaan biometrik sebagai media
verifikasi untuk menghasilkan NIK yang tunggal; 5) Pelaksanakan e-KTP setelah basis
database kependudukan bersih/NIK tunggal, tetapi sekarang belum tunggal sudah
melaksanakan e-KTP; dan 6) Pengadaan e-KTP harus dilakukan secara elektronik dan
sebaiknya dikawal ketat oleh LKPP. Menanggapi tudingan KPK, Kemendagri kemudian
memberikan bantahan. Reydonnyzar Moenek, juru bicara Kemendagri menjelaskan
bahwa Kemendagri telah menjalankan 5 rekomendasi. Memang ada rekomendasi yang
tidak dijalankan, namun itu hanya 1. Satu rekomendasi tersebut adalah tentang
permintaan NIK tunggal saat proses e-KTP dilaksanakan. Berdasarkan penjelasan
Reydonnyzar, Kemendagri tidak bisa memenuhi rekomendasi tersebut karena bisa
mengubah waktu dan pembiayaan e-KTP.
Tak lama setelah itu Konsorsium Lintas Peruri Solusi melaporkan Pejabat
Pembuat Komitmen (PPK) dan Ketua Panitia lelang dalam proses pengadaan e-KTP,
Sugiharto dan Drajat Wisnu Setiawan ke Polda Metro Jaya dengan barang bukti
berupa surat kontrak pada 1 Juli 2011, surat jaminan penerimaan uang Rp 50 juta dan tiga
orang saksi. Konsorsium Lintas Peruri Solusi menduga bahwa telah
terjadinya penyalahgunaan wewenang sehingga dana untuk e-KTP membesar hingga Rp
4 triliun lebih dalam proses tender. Kenyataannya, penawaran yang diajukan oleh
Konsorsium Lintas Peruri Solusi lebih rendah, yakni sebesar Rp 4,75 triliun namun yang
memenangkan tender justru konsorsium PNRI yang mengajukan penawaran lebih tinggi,
yakni sebesar Rp 5,84 triliun dari anggaran senilai 5,9 triliun. Mereka juga menuding
bahwa panitia lelang telah menerima uang sebesar Rp 50 juta pada 5 Juli 2011 dari
konsorsium pemenang tender.
Seiring berjalannya waktu, indikasi korupsi pada proyek e-KTP semakin terbuka
lebar. Pada 2012 Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah menemukan indikasi
korupsi pada proyek e-KTP lebih awal ketimbang KPK berdasarkan
temuan investigator. Indikasi tersebut tertuang pada keputusan KPPU berupa hukuman
pada Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) dan
PT Astragraphia untuk membayar denda Rp 24 miliar ke negara karena
melanggar pasal 22 UU No. 4/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan
Usaha Tidak Sehat pada November 2012. Konsorsium PNRI didenda sebesar Rp 20
miliar sedangkan PT Astragraphia didenda Rp 4 miliar. Denda tersebut harus dibayar ke
kas negara melalui bank pemerintah dengan kode 423755 dan 423788 (Pendapatan
Pelanggaran di bidang persaingan usaha).
Indikasi korupsi juga dipaparkan oleh Muhammad Nazaruddin pada 31 Juli 2013.
Saat diperiksa oleh KPK terkait kasus Hambalang, ia menyerahkan bukti-bukti terkait
korupsi e-KTP. Lewat pengacaranya, Elza Syarief, ia juga menuding telah terjadi
penggelembungan dana pada proyek e-KTP. Dari total proyek sebesar RP 5,9 triliun,
45% di antaranya merupakan mark-up. Ia juga mengatakan bahwa Ketua Fraksi Partai
Golkar Setya Novanto dan mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas
Urbaningrum terlibat dalam kasus ini. Mendengar hal itu, Gamawan Fauzi merasa geram.
Ia pun melaporkan Nazaruddin ke Polda Metro Jaya karena menilai bahwa tuduhannya
tidak benar. Kendati demikian, saat itu KPK belum bisa memastikan kebenaran dari
kecurigaan-kecurigaan yang ada karena tahap penyidikan KPK terhadap kasus e-KTP
masih pada tahap awal.
Perkembangan kasus

Setelah menyelidiki kasus lebih lanjut, pada Selasa, 22 April 2014 KPK akhirnya
menetapkan Sugiharto, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Direktorat Jenderal
Kependudukan dan Catatan Sipil pada Kementerian Dalam Negeri sebagai tersangka
pertama dalam kasus korupsi e-KTP. Sugiharto diduga melakukan penyalahgunaan
wewenang dan melakukan suap pada proyek e-KTP di DPR untuk tahun anggaran 2011-
2013, melanggar Pasal 2 Ayat 1 subsider Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP. Ia juga
diperkaya dengan uang senilai 450.000 dollar AS dan Rp 460 juta. Untuk mengusut kasus
ini lebih dalam KPK kemudian melanjutkan pemenuhan berkas-berkas dengan
memeriksa berbagai saksi terkait kasus e-KTP di Kementerian Dalam Negeri pada 25
April 2014. Beberapa di antaranya adalah Drajat Wisnu Setyawan, Pringgo Hadi
Tjahyono, Husni Fahmi, dan Suciati. Sugiharto pun tak luput dari pemeriksaan oleh KPK
pada 14 Juli 2014 dan 18 Mei 2015. Pada waktu bersamaan KPK juga memeriksa para
pegawai Kemendagri dan pihak swasta seperti Pamuji Dirgantara, karyawan Misuko
Elektronik dan Andreas Karsono, karyawan PT Solid Arta Global sebagai saksi.
Sugiharto bukan satu-satunya orang yang ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.
Per 30 September 2016, KPK menetapkan mantan Direktur Jenderal Dukcapil
Kemendagri Irman sebagai tersangka. Motifnya melakukan korupsi serupa dengan
Sugiharto, yakni demi memperkaya diri sendiri atau orang lain dengan melakukan
penyalahgunaan wewenang. Berdasarkan surat tuntutan jaksa, Irman diperkaya senilai
573.000 dollar AS, Rp 2,9 milyar dan 6.000 dollar Singapura.
Pada 19 Oktober 2016 KPK melakukan penahanan terhadap Sugiharto setelah
melakukan pemeriksaan selama 4 jam di Gedung KPK. Ia ditahan di Rumah Tahanan
Guntur. Berbeda dengan Sugiharto, Irman justru baru ditahan oleh KPK pada 21
Desember 2016 setelah mengalami pemeriksaan selama 12 jam. Untuk kepentingan
penyelidikan, Irman dijebloskan ke rumah tahanan selama 20 hari ke depan. Walau
ditetapkan sebagai tersangka, Irman mengajukan surat permohonan sebagai justice
collaboratoruntuk membongkar kejahatan pada proyek e-KTP.
Pada 8 Februari 2017 KPK mengumumkan bahwa mereka telah menemukan bukti
terkait keterlibatan anggota DPR dalam kasus korupsi e-KTP. Mereka kemudian
menghimbau kepada siapa saja yang menerima aliran dana tersebut untuk
mengembalikannya ke negara. Dua hari kemudian, tepatnya pada 10 Februari 2017 KPK
menerima uang sebesar Rp 250 miliar dengan rincian Rp 220 miliar berasal dari sejumlah
korporasi, satu perusahaan dan satu konsorsium sedangkan Rp 30 miliar berasal dari
anggota DPR periode 2009-2014 dan beberapa orang lainnya. Penyerahan uang itu
dilaksanakan usai pemeriksaan sejumlah saksi oleh KPK. Mereka yang kooperatif
kemudian mengirimkan uang kepada rekening KPK khusus penyidikan.
Perkembangan kasus e-KTP kemudian bergulir pada terjadinya pelimpahan kasus
e-KTP ke Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi oleh KPK pada 1 Maret 2017.
Berkas tersebut merupakan berkas atas nama Sugiharto sebanyak 13 ribu lembar dan atas
nama Irman sebanyak 11 ribu lembar yang mencakup berita acara pemeriksaan tersangka
dan saksi. Dalam berkas tersebut terdapat keterangan dari 294 saksi atas nama Sugiharto,
173 saksi atas nama Irman dan keterangan dari lima orang ahli. Ditumpuk menjadi tiga
bagian, tinggi berkas tersebut mencapai sekitar 1,5 meter.

B. PEMBAHASAN
1. FRAUD PREVENTION
Pencegahan Fraud

Kasus korupsi pengadaan E-KTP merupakan kasus korupsi yang sangat


terorganisis sama dengan kasus korupsi lainnya di Indonesia. Pelaku dari kasus korupsi
ini juga melibatkan pihak-pihak petinggi negeri seperti anggota DPR. Berbagai usaha
telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi dan meminimalisir kasus
korupsi misalnya pembentukan Komisis Pemberantasan Korupsi (KPK). Namun ini
belum mampu untuk mengurai ataupun memberantas korupsi. Salah satu faktornya
adalah karena pelaku fraud biasanya berasal dari petinggi Negara maka susah untuk
terdeteksi. Walaupun ada pasti proses untuk pembuktiannya sangat susah.
Pencegahan kecurangan pada umumnya adalah aktivitas yang dilaksanakan
manajemen dalam hal penetapan kebijakan, sistem dan prosedur yang membantu
meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan sudah dilakukan untuk dapat memberikan
keyakinan memadai dalam mencapai 3tujuan pokok yaitu: keandalan pelaporan
keuangan, efektivitas dan efisiensi operasi serta kepatuhan terhadap hukum & peraturan
yang berlaku (COSO: 1992).
Lingkungan Pencegahan
Kunci keberhasilan pencegahan fraud adalah dengan melihat budaya entitas dan
mencoba mengubahnya jika diperlukan. Beberapa kegiatan dan sikap dapat membantu
dalam mencapai tujuan ini.
a. Struktur Tata Kelola Perusahaan

Pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan memperbaiki tata kelola
perusahaan mencakup pemilihan anggota dewan yang berkualitas dan independen
terutama komite audit. Dalam kasus e-KTP hal ini dapat dilakukan dengan pemilihan
pemimpin menggunakan sistem yang lebih ketat, seperti ada tes tentang spikologi,
intelektual, dan kepemimpinan, agar dapat dinilai apakah calon-calon tersebut mampu
menjadi pemimpin yang baik, jujur, dan bertanggung jawab sehingga tidak melakukan
tindak kejahatan apapun di kemudian hari setelah menjawab.
b. Berperilaku Secara Etis (Tone at The Top)

Tone at the top masih menjadi kunci untuk mencegah kecurangan. Jika seseorang
meninjau skandal besar beberapa tahun terakhir, hampir di setiap kasus seorang eksekutif
terlibat. Jika manajer kunci dan dewan direksi terus berbicara tentang kecurangan,
mengkomunikasikan kebijakan kecurangan, dan mendorong semua orang untuk terlibat
dalam mencegah dan mendeteksi kecurangan, maka entitas tersebut akhirnya akan
mengembangkan budaya anti kecurangan. Tanpa penekanan dan dukungan manajemen
kunci, hampir tidak mungkin memiliki budaya semacam itu.
Adanya upaya sinergi kelembagaan secara simultan merupakan hal yang penting.
Memperkuat KPK dalam memerangi korupsi tentu merupakan upaya yang penting.
Namun melakukan sinergi kelembagaan yang relevan dengan segala upaya penanganan
korupsi –termasuk di dalamnya penguatan BPK sebagai satu-satunya institusi negara
yang memiliki tanggung jawab melakukan pemeriksaan keuangan negara–akan menjadi
lebih strategis.Penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh menpora Andi
Mallarangeng dapat dicegah dengan melakukan dilakukan pemisahan fungsi, tugas dan
wewenang yang jelas dan serta pengawasan atas hal tersebut.
c. Kebijakan dan Prosedur

Kebijakan menentukan tujuan dan prinsip entitas, sedangkan prosedur


menentukan tindakan yang diambil entitas untuk memastikan tujuan tersebut tercapai.
Oleh karena itu, fondasi untuk budaya antifraud dan lingkungan untuk setiap entitas yang
serius mencegah kecurangan adalah kebijakan kecurangan dan prosedur yang dibuat
dengan hati-hati berdasarkan kebijakan.
Pada kasus e-KTP ini banyak sekali kebijakan yang dilanggar oleh oknum-oknum
pelaksana proyek. Misalnya Kemendagri tidak menjalankan 6 rekomendasi dalam
pelaksanaan proyek e-KTP. Memilih konsorsium yang tidak memenuhi syarat. Memilih
perangkat lunak yang tidak lolos uji kompetensi, dan lain sebagainya
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurai tindak kejahatan korupsi
antara lain :
 Meminimalisir adanya hubungan yang special dari pihak yang terlibat dalam sistem
kerja sehingga dapat menimbulkan persekongkolan dan kerjasama untuk
melakukan tindak korupsi berasama-sama tidak terjadi.
 Sikap pemimpin harus mempunyai integritas yang tinggi untuk tidak terlibat dan
membudayakan tindakan anti fraud. Dan sikap pemimpin yang selalu memikirkan
tentang dampak dari keputusan yang dia ambil
Persepsi Deteksi
Persepsi deteksi berada di bagian atas daftar langkah-langkah pencegahan
kecurangan.
Dalam kasus ini, beberapa cara untuk meningkatkan persepsi deteksi meliputi:
a. Pengawasan (Surveillance)

Kasus proyek e-KTP mencerminkan lemahnya pengawasan lintas instansi.


Lemahnya koordinasi pengawasan lintas instansi mendorong perilaku tidak peduli pada
aspek prudent (kehati-hatian). Kemendagri membiarkan membiarkan uang proyek
bertebaran ke berbagai pihak. Misalnya : pengakuan dari anggota tim teknis Kementerian
Dalam Negeri tentang pembagian uang. Namun mereka menyebutnya sebagai uang
transportasi dan uang lembur. Di samping itu mereka juga mengaku bahwa mereka tidak
menjalankan rekomendasi yang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa
Pemerintah (LKPP) sarankan berupa sembilan lingkup pekerjaan dalam proyek e-KTP
yang tidak digabungkan.
Hal seperti ini sebenarnya mampu ditangani Kemendagri dengan membentuk
pengawas independen, yang benar-benar direkrut melalui beberapa tahap tes sehingga
diyakini pengawas independen ini tidak akan melakukan tindak kejahatan korupsi
b. Masukan atau Saran Tanpa Nama (Anonymous Tips)

Petunjuk telah terbukti menjadi metode terbaik dalam mendeteksi kecurangan dan
juga langkah pencegahan. Praktik terbaik untuk program petunjuk anonim mencakup
keterlibatan manajemen yang tepat, penanganan keluhan secara independen oleh pihak
ketiga, dan menggunakan beberapa metode komunikasi dengan sistem yang mudah,
ringan, dan nyaman bagi para karyawan untuk memberikan petunjuk.
Pada kasus e-KTP mulanya kecurigaan bermula dari laporan konsorsium yang
kalah tender yang menyatakan bahwa terjadinya ketidak sesuaian prosedur yang
dilakukan oleh panitia saat lelang tender berlangsung. KPK turut mencium kejanggalan
dari proses proyek e-KTP. Pada awal September 2011 KPK menuding bahwa
Kemendagri tidak menjalankan 6 rekomendasi dalam pelaksanaan proyek e-KTP.

2. FRAUD DETECTION
Common detection methods
 Surprise audit
Terjadinya ksus e-KTP ini sepertiinya tidak hanya disengaja tapi juga karena
adanya kesempatan. Kelonggaran pada sistem pengendalian terjadi karena
pemimpin tidak memiliki peraturan ataupun kebijakan akan suatu sistem dalam
pengerjaan proyek tersebut.
 Anonimus tip (informasi rahasia dari informan yang disembunyikan) dan sistem
aduan oleh pegawai, vendor dan konsumen dapat diakses, nyaman, dan mudah
dipergunakan.

3. GATHERING EVIDENCE

Sistem pembuktian pidana Indonesia yang ada pada KUHAP masih menganut
Sistem Negatif Wettelijk dalam pembuktian pidana. Pembuktian dalam hal ini bukanlah
upaya untuk mencari-cari kesalahan pelaku saja namun yang menjadi tujuan utamanya
adalah untuk mencari kebenaran dan keadilan materil. Hal ini didalam pembuktian pidana
di Indonesia mengenal dua hal yang sering kita dengar yaitu alat bukti dan barang bukti
di samping adanya proses yang menimbulkan keyakinan hakim dalam pembuktian.
Bukti (evidence) adalah segala sesuatu yang dapat diterima oleh kelima indera
dan berbagai jenis bukti—seperti kesaksian dari saksi, rekaman, dokumen, fakta-fakta,
data atau objek konkret—yang disajikan secara legal pada persidangan untuk
membuktikan sebuah anggapan atau pernyataan mendorong kepercayaan di benak para
juri. Dalam menimbang bukti-bukti, pengadilan dan juri dapat mempertimbangkan hal-
hal seperti sikap para saksi, kecondongan atau bias kepada dan terhadap terdakwa, dan
hubungan dengan terdakwa. Sehingga, bukti dapat berupa pernyataan (testimoni), tidak
langsung, petunjuk, kesimpulan, dan bahkan teori yang diberikan oleh saksi ahli. Bukti
secara sederhana adalah segala sesuai yang dapat membuktikan atau tidak membuktikan
segala hal yang dipertanyakan.
Pada kasus ini terdapat beberapa bukti yang didapatkan KPK dari keterangan
saksi, petunjuk, surat, maupun keterangan terdakwa. Berikut tentang bukti tersebut:
1. Bukti-Bukti Primer:
 barang bukti berupa surat kontrak pada 1 Juli 2011, surat jaminan
penerimaan uang Rp 50 juta dan tiga orang saksi
 mendapatkan catatan tentang skema pengendali korupsi e-KTP anggaran
e-KTP 2011-2012 dengan pagu Rp 5,9 triliun di rumah Chairuman
Harahap
 CCTV dari rumah Setya Novanto

2. Bukti Sekunder
 keterangan saksi :
 Diah Anggraini. Diah menjelaskan bahwa telah terjadi pertemuan
antara Irman, Sugiharto, Andi Narogong dan Setya Novanto di Hotel
Gran Melia
 Tim Teknis e-KTP mengaku diperintah untuk meloloskan konsorsium
dalam proses lelang padahal sebenarnya tidak memenuhi syarat.
Sugiharto dan Irman menjadi dua nama yang bertanggung jawab atas
hal ini.
 Irvanto Hendra Pambudi yang tak lain adalah keponakan dari Setya
Novanto dan Johanes Richard Tanjaya. Nama Setya Novanto disebut
telah mendapat bagian sebesar 7 persen dari proyek e-KTP
berdasarkan penuturan tim IT proyek e-KTP
 Katerangan terdakwa
 Irman Gusman. Menurut penuturannya, Setya Novanto sempat
menyampaikan pesan mendesak kepada Diah Anggraini yang
disampaikan melalui perantara Zudan Arif Fakruloh selaku biro
hukum Kemendagri pada 2014, isi dari pesan itu adalah tentang wanti-
wanti agar ia tidak membuka suara kepada KPK terkait hubungannya
dengan Setya Novanto dalam kasus KPK
 pengakuan dari Sugiharto tentang pemberian uang darinya kepada
Miryam sebanyak empat kali dengan total 1,2 juta dollar AS
 Irman, Sugiharto dan Andi Narogong .Dalam persidangan
membeberkan fakta bahwa Anang Sugiana terbukti terlibat dalam
penyerahan sejumlah uang kepada Setya Novanto dan anggota DPR
lainnya dari Andi Narogong

4. NON-FINANCIAL EVIDENCE

Dalam mengumpulkan bukti fraud, dapat digunakan beberapa cara. Bukti fraud
sendiri terdiri atas beberapa jenis yang dapat dibagi menjadi bukti keuangan dan bukti
non-keuangan. Bukti keuangan terdiri atas transaksi dan fakta-fakta lainnya yang
berhubungan dengan keuangan yang dapat menjadi bukti di persidangan. Bukti non-
keuangan adalah salah satu jenis bukti atau cara memperoleh bukti fraud yang juga dapat
ditampilkan di persidangan.
Dalam memperoleh bukti non-keuangan dalam kasus fraud, pengetahuan tentang
psikologi dan hukum sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan bukti non-keuangan dalam
fraud mengharuskan penyidik atau auditor forensik menganalisa setiap perilaku dan
penyebab serta akibat yang timbul dari perilaku tersebut karena dalam melakukan fraud,
seseorang pasti dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal tertentu. Karenanya,
penting untuk mendapatkan dan memahami bukti-bukti ini agar dapat memperkuat bukti
fisik yang akan ditampilkan di pengadilan.
Pada kasus e-KTP ini untuk memperoleh bukti non-keuangan, analisis tentang Body
Language dari para saksi dan terdakwa, analisis pernyataan dari para saksi, dan alisis
SCAN sangat membantu.
1. Body Language
 Pada Video yang berjudul “Ling - Lung Setnov Saat Ditanya Hakim
Tipikor, Pengadilan Perdana Setya Novanto Kasus Korupsi eKTP” yang
diunggah oleh CNN Indonesia , juga menggambarkan Body Language
yang aneh seperti menunduk terus menerus, tidak berani menatap hakim,
maupun jaksa penuntut umu, dan izin ke kamar kecil berkali-kali dengan
alasan sedang diare. Padahal diketahu sebelum siding dimulai dokter telah
menyatakan bahwa setya novanti sedang dalam keadaan sehat.
2. Analisis Pernyataan
 Miryam membantah berita acara persidangan yang dituturkan Novel
sebelumnya yaitu penuturan Novel, Miryam mengaku bahwa telah
dilakukan pemberian uang kepada anggota DPR RI. Miryam menjelaskan
bahwa ia merasa ditekan oleh penyidik saat itu sehingga ia mengarang isi
berita acara persidangan.
3. Analisis SCAN
 Video yang berjudul “Ling - Lung Setnov Saat Ditanya Hakim Tipikor,
Pengadilan Perdana Setya Novanto Kasus Korupsi eKTP” yang diunggah
oleh CNN Indonesia (https://www.youtube.com/watch?v=zL_7deVlgkY),
dalam video tersebut Setya Novanto pura-pura linglung saat ditanya hakim
tipikor. Ketika ditanya siapa namanya, apakah benar amanya setya
novanto? Dia hanya diam saja dan apakah tempat lahirnya dibandung?
Dan dia menjawab jawa timur, padahal jelas-jelas setya novanto lahir di
Bandung. Sehingga siding di Skor oleh hakim.