Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

Salah satu penyakit yang paling sering mengenai nervus medianus adalah
neuropati tekanan/ jebakanm (entrapment neuropathy). Dipergelangan tangan
nervus medianus berjalan melalui terowongan karpal dan menginervasi kulit
telapak tangan dan punggung tangan di daerah ibu jari, telunjukjari tengah dan
setengah sisi radial jari manis. Pada saat berjalan melalui terowongan inilah
nervus medianus paling sering mengalami tekanan yang menyebabkan terjadinya
neuropati tekanan yang dikenal dengan istilah Sindroma Terowongan Karpal
(Carpal Tunnel Syndrome).1
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) merupakan sindrom yang timbul akibat
nervus medianus tertekan di dalam Carpal Tunnel di pergelangan tangan sewaktu
nervus melewati terowongan tersebut dari lengan bawah ke tangan. CTS
merupakan salah satu penyakit yang dilaporkan oleh badan-badan statistik
perburuhan di negara maju sebagai penyakit yang sering dijumpai di kalangan
pekerja-pekerja industri.1
Tingginya angka prevalensi yang diikuti tingginya biaya yang harus
dikeluarkan membuat permasalahan ini menjadi masalah besar dalam dunia
okupasi. Beberapa faktor diketahui menjadi resiko terhadap terjadinya CTS pada
pekerja, seperti gerakan berulang dengan kekuatan, tekanan pada otot, getaran,
suhu,postur kerja yang tidak ergonomik dan lain-la in.2
Angka kejadian Carpal Tunnel Syndrome di Amerika Serikat telah
diperkirakan sekitar 1-3 kasus per 1.000 orang setiap tahunnya dengan prevalensi
sekitar 50 kasus dari 1.000 orang pada populasi umum. National Health Interview
Studymemperkirakan bahwa prevalensi CTS yang dilaporkan sendiri diantara
populasi dewasa adalah sebesar 1,55%. CTS lebih sering mengenai wanita
daripada pria dengan usia berkisar 25-64 tahun, prevalensi tertinggi pada wanita
usia >55 tahun, biasanya antara 40-60 tahun.3,4
Di Indonesia urutan prevalensi CTS dalam masalah kerja belum diketahui
karena sampai tahun 2001 masih sangat sedikit diagnosis penyakit akibat kerja
2

yang dilaporkan karena berbagai hal, antara lain sulitnya diagnosis. Penelitian
Harsono pada pekerja suatu perusahaan ban di Indonesia melaporkan prevalensi
CTS pada pekerja sebesar 12,7%. Silverstein dan peneliti lain melaporkan adanya
hubungan positif antara keluhan dan gejala CTS dengan faktor kecepatan
menggunakan alat dan faktor kekuatan melakukan gerakan pada tangan.5
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi N. Medianus


Secara anatomis, canalis carpi (carpal tunnel) berada di dalam dasar
pergelangan tangan. Sembilan ruas tendon fleksor dan N. Medianus berjalan di
dalam canalis carpi yang dikelilingi dan dibentuk oleh tiga sisi dari tulang –
tulang carpal. Nervus dan tendon memberikan fungsi sensibilitas dan pergerakan
pada jari – jari tangan. Jari tangan dan otot – otot fleksor pada pergelangan tangan
beserta tendon – tendonnya berorigo pada epicondilus medial pada regio cubiti
dan berinsersi pada tulang – tulang metaphalangeal, interphalangeal proksimal
dan interphalangeal distal yang membentuk jari tangan dan jempol. Canalis carpi
berukuran hampir sebesar ruas jari jempol dan terletak di bagian distal lekukan
dalam pergelangan tangan dan berlanjut ke bagian lengan bawah di regio cubiti
sekitar 3 cm.6
Pada terowongan carpal, N. Medianus mungkin bercabang menjadi
komponen radial dan ulnar. Komponen radial dari N. Medianus akan menjadi
cabang sensorik pada permukaan palmar jari-jari pertama dan kedua dan cabang
motorik m. abductor pollicis brevis, m. opponens pollicis, dan bagian atas dari m.
flexor pollicis brevis. Pada 33 % dari individu, seluruh fleksor polisis brevis
menerima persarafan dari N. Medianus. Sebanyak 2 % dari penduduk, m. policis
adduktor juga menerima persarafan N. Medianus . Komponen ulnaris dari N.
Medianus memberikan cabang sensorik ke permukaan jari kedua, ketiga, dan sisi
radial jari keempat. Selain itu, saraf median dapat mempersarafi permukaan dorsal
jari kedua, ketiga, dan keempat bagian distal sendi interphalangeal proksimal.6
Tertekannya N. Medianus dapat disebabkan oleh berkurangnya ukuran
canalis carpi, membesarnya ukuran alat yang masuk di dalamnya (pembengkakan
jaringan lubrikasi pada tendon – tendon fleksor) atau keduanya. Gerakan fleksi
dengan sudut 90 derajat dapat mengecilkan ukuran canalis. Penekanan terhadap
N. Medianus yang menyebabkannya semakin masuk di dalam ligamentum carpi
transversum dapat menyebabkan atrofi eminensia thenar, kelemahan pada otot
4

fleksor pollicis brevis, otot opponens pollicis dan otot abductor pollicis brevis
yang diikuti dengan hilangnya kemampuan sensorik ligametum carpi transversum
yang dipersarafi oleh bagian distal N. Medianus. Cabang sensorik superfisial dari
N. Medianus yang mempercabangkan persarafan proksimal ligamentum carpi
transversum yang berlanjut mempersarafi bagian telapak tangan dan jari jempol.6
N. Medianus terdiri dari serat sensorik 94% dan hanya 6% serat motorik
pada terowongan karpal. Namun, cabang motorik menyajikan banyak variasi
anatomi, yang menciptakan variabilitas yang besar patologi dalam kasus Carpal
Tunnel Syndrome.3

Gambar 2.1 Struktur Anatomi N. Medianus

2.2 Carpal Tunnel Syndrome


2.2.1 Defenisi
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) atau sindroma terowongan karpal adalah
kumpulan gejala akibat terjadinya penyempitan pada terowongan karpal, baik
5

akibat edema fasia pada terowongan tersebut maupun akibat kelainan pada tulang-
tulang kecil tangan sehingga terjadi penekanan terhadap nervus medianus di
pergelangan tangan.7
Carpal Tunnel Syndrome merupakan neuropati kompresi terhadap nervus
medianus terowongan karpal di pergelangan tangan dengan kejadian paling
sering, bersifat kronik dan ditandai dengan nyeri tangan pada malam hari,
parestesi daerah inervasi saraf medianus, kelemahan, dan atrofi tenar. Dulu
sindroma ini juga disebut dengan nama acroparestesia, median thenar neuritis,
atau partial thenar atrophy.7
Terowongan karpal terdapat di bagian depan dari pergelangan tangan
dimana tulang dan ligamentum membentuk suatu terowongan sempit yang dilalui
oleh beberapa tendon dan nervus medianus. Tulang-tulang karpalia membentuk
dasar dan sisi-sisi terowongan yang keras dan kaku sedangkan atapnya dibentuk
oleh fleksor retinakulum yang kuat dan melengkung di atas tulang-tulang karpalia
tersebut. Setiap perubahan yang mempersempit terowongan ini akan
menyebabkan tekanan pada struktur yang paling rentan di dalamnya yaitu nervus
medianus.7

2.2.2 Epidemiologi
Angka kejadian CTS di Amerika Serikat telah diperkirakan mencapai
sekitar 1-3 kasus per 1.000 orang setiap tahunnya dengan prevalensi sekitar
50 kasus dari 1.000 orang pada populasi umum. National Health Interview
Study (NHIS) memperkirakan bahwa prevalensi CTS yang dilaporkan sendiri
diantara populasi dewasa adalah sebesar 1,55% (2,6 juta). CTS lebih sering
mengenai wanita daripada pria dengan usia berkisar 25-64 tahun, prevalensi
tertinggi pada wanita usia >55 tahun, biasanya antara 40-60 tahun.Prevalensi
CTS dalam populasi umum telah diperkirakan 5% untuk wanita dan 0,6%
untuk laki-laki. Sindroma tersebut unilateral pada 42% kasus (29% kanan,
13% kiri) dan 58% bilateral. Sedangkan untuk di Indonesia, angka kejadian
CTS masih sangat sulit diketahui dengan pasti karena sedikitnya data yang
masuk. Pada sebuah penelitian pada pekerja garmen di Jakarta Utara yang
6

menggunakan kriteria diagnosis dari The National Institute for Occupational


Safety and Health (NIOSH) didapatkan bahwa prevalensi CTS cukup tinggi
yaitu 20,3%. Pada tahun 2001 di Jakarta, terdapat 238 pasien menderita CTS
dan sempat mengalami penurunan angka kejadian pada tahun 2002 yaitu
menjadi 149 pasien.8

2.2.3 Etiologi
Etiologi CTS antara lain :9
1. Herediter : neuropati herediter yang cenderung menjadi pressure palsy,
misalnya HMSN (hereditary motory and sensory neuropathies) tipe
III
2. Trauma : dislokasi, fraktur atau hematom pada lengan bawah,
pergelangan tangan. Sprain pada pergelangan tangan. Trauma
langsung terhadap pergelangan tangan.
3. Pekerjaan : gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan
tangan yang berulang-ulang. Seorang sekretaris yang sering mengetik,
pekerjaan kasar yang sering mengangkat benda berat dan pemain
musik terutama pemain piano dan pemain gitar yang banyak
menggunakan tangannya juga merupakan penyebab yang mendasari
carpal tunnel syndrome.
4. Infeksi
5. Metabolik
6. Endokrin : tenosinovitis, tuberkulosis tulang, sarkoidosis : amiloidosis
dan gout artritis : akromegali, terapi estrogen atau androgen, DM,
Hipotiroid, dan kehamilan
7. Neoplasma : kista ganglion, lipoma, infiltrasi metastase dan mieloma
8. Penyakit kolagen vaskular : rheumatoid artritis, polimialgia reumatika,
skleroderma, dan SLE
9. Degeneratif : osteoartritis
10. Iatrogenik : punksi arteri radialis, pemasangan shunt vaskular untuk
dialisis, hematoma, komplikasi dan terapi anti koagulan
7

11. Faktor stress


12. Inflamasi : inflamasi dari membran mukosa yang mengelilingi tendon
yang menyebabkan saraf medianus tertekan

2.2.4 Patofisiologi
Patofisiologi CTS masih belum jelas. Beberapa teori telah diajukan untuk
menjelaskan gejala dan gangguan studi konduksi saraf. Yang paling populer
adalah kompresi mekanik, insufisiensi mikrovaskular, dan teori getaran. Menurut
teori kompresi mekanik, gejala CTS adalah karena kompresi nervus medianus di
carpal tunnel. Kelemahan utama dari teori ini adalah bahwa ia menjelaskan
konsekuensi dari kompresi saraf tetapi tidak menjelaskan etiologi yang mendasari
kompresi mekanik. Kompresi diyakini dimediasi oleh beberapa faktor seperti
ketegangan, tenaga berlebihan, hyperfunction, ekstensi pergelangan tangan
berkepanjangan atau berulang.10
Teori insufisiensi mikro - vaskular mennyatakan bahwa kurangnya
pasokan darah menyebabkan penipisan nutrisi dan oksigen ke saraf yang
menyebabkan ia perlahan-lahan kehilangan kemampuan untuk mengirimkan
impuls saraf. Scar dan jaringan fibrotik akhirnya berkembang dalam saraf.
Tergantung pada keparahan cedera, perubahan saraf dan otot mungkin permanen.
Karakteristik gejala CTS, terutama kesemutan, mati rasa dan nyeri akut, bersama
dengan kehilangan konduksi saraf akut dan reversibel dianggap gejala untuk
iskemia. Seiler et al menunjukkan (dengan Doppler laser flowmetry ) bahwa
normalnya aliran darah berdenyut di dalam nervus medianus dipulihkan dalam 1
menit dari saat ligamentum karpal transversal dilepaskan. Sejumlah penelitian
eksperimental mendukung teori iskemia akibat kompresi diterapkan secara
eksternal dan karena peningkatan tekanan di carpal tunnel. Gejala akan bervariasi
sesuai dengan integritas suplai darah dari saraf dan tekanan darah sistolik .
Kiernan dkk menemukan bahwa konduksi melambat pada nervus medianus dapat
dijelaskan oleh kompresi iskemik saja dan mungkin tidak selalu disebabkan
myelinisasi yang terganggu.10
8

Menurut teori getaran, gejala CTS bisa disebabkan oleh efek dari
penggunaan jangka panjang alat yang bergetar pada nervus medianus di carpal
tunnel. Lundborg et al mencatat edema epineural pada nervus medianus dalam
beberapa hari berikut paparan alat getar genggam. Selanjutnya, terjadi perubahan
serupa mengikuti mekanik, iskemik, dan trauma kimia.10
Hipotesis lain dari CTS berpendapat bahwa faktor mekanik dan vaskular
memegang peranan penting dalam terjadinya CTS. Umumnya CTS terjadi secara
kronis dimana terjadi penebalan fleksor retinakulum yang menyebabkan tekanan
terhadap nervus medianus. Tekanan yang berulang-ulang dan lama akan
mengakibatkan peninggian tekanan intrafasikuler. Akibatnya aliran darah vena
intrafasikuler melambat. Kongesti yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi
intrafasikuler lalu diikuti oleh anoksia yang akan merusak endotel. Kerusakan
endotel ini akan mengakibatkan kebocoran protein sehingga terjadi edema
epineural. Hipotesa ini menerangkan bagaimana keluhan nyeri dan sembab yang
timbul terutama pada malam atau pagi hari akan berkurang setelah tangan yang
terlibat digerak-gerakkan atau diurut, mungkin akibat terjadinya perbaikan
sementara pada aliran darah. Apabila kondisi ini terus berlanjut akan terjadi
fibrosis epineural yang merusak serabut saraf. Lama-kelamaan saraf menjadi
atrofi dan digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi nervus
medianus terganggu secara menyeluruh.11
Selain akibat adanya penekanan yang melebihi tekanan perfusi kapiler
akan menyebabkan gangguan mikrosirkulasi dan timbul iskemik saraf. Keadaan
iskemik ini diperberat lagi oleh peninggian tekanan intrafasikuler yang
menyebabkan berlanjutnya gangguan aliran darah. Selanjutnya terjadi vasodilatasi
yang menyebabkan edema sehingga sawar darah-saraf terganggu yang berkibat
terjadi kerusakan pada saraf tersebut.11
Penelitian yang telah dilakukan Kouyoumdjian yang menyatakan CTS
terjadi karena kompresi nervus medianus di bawah ligamentum karpal transversal
berhubungan dengan naiknya berat badan dan IMT. IMT yang rendah merupakan
kondisi kesehatan yang baik untuk proteksi fungsi nervus medianus. Pekerja
dengan IMT minimal ≥25 lebih mungkin untuk terkena CTS dibandingkan dengan
9

pekerjaan yang mempunyai berat badan ramping. American Obesity Association


menemukan bahwa 70% dari penderita CTS memiliki kelebihan berat badan.
Setiap peningkatan nilai IMT 8% resiko CTS meningkat.11

2.2.5 Gejala Klinis


Pada tahap awal gejala umumnya berupa gangguan sensorik saja.
Gangguan motorik hanya terjadi pada keadaan yang berat. Gejala awal biasanya
berupa parestesia, kurang merasa (numbness) atau rasa seperti terkena aliran
listrik (tingling) pada jari 1-3 dan setengah sisi radial jari 4 sesuai dengan
distribusi sensorik nervus medianus walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai
seluruh jari-jari.12

Gambar 2.2 Kelainan neurologis pada jari 1-3 dan setengah sisi radial jari 4.
Dua bentuk carpal tunnel syndrome: akut dan kronis. Bentuk akut
mempunyai gejala dengan nyeri parah, bengkak pergelangan tangan atau tangan,
tangan dingin, atau gerak jari menurun. Kehilangan gerak jari disebabkan oleh
kombinasi dari rasa sakit dan paresis. Bentuk kronis mempunyai gejala baik
disfungsi sensorik yang mendominasi atau kehilangan motorik dengan perubahan
trofik. Nyeri proksimal mungkin ada dalam carpal tunnel syndrome.6
Keluhan parestesia biasanya lebih menonjol di malam hari. Gejala lainnya
adalah nyeri di tangan yang juga dirasakan lebih berat pada malam hari sehingga
sering membangunkan penderita dari tidurnya. Rasa nyeri ini umumnya agak
berkurang bila penderita memijat atau menggerak-gerakkan tangannya atau
dengan meletakkan tangannya pada posisi yang lebih tinggi. Nyeri juga akan
berkurang bila penderita lebih banyak mengistirahatkan tangannya.13
10

Apabila tidak segera ditagani dengan baik maka jari-jari menjadi kurang
terampil misalnya saat memungut benda-benda kecil. Kelemahan pada tangan
juga sering dinyatakan dengan keluhan adanya kesulitan yang penderita sewaktu
menggenggam. Pada tahap lanjut dapat dijumpai atrofi otot-otot thenar (oppones
pollicis dan abductor pollicis brevis).dan otot-otot lainya yang diinervasi oleh
nervus medianus.14

2.2.6 Diagnosis15
Diagnosa CTS ditegakkan selain berdasarkan gejala-klinis seperti di atas
dan perkuat dengan pemeriksaan yaitu :
1. Pemeriksaan fisik haruslah dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada penderita
dengan perhatian khusus pada fungsi motorik, sensorik, dan otonom tangan.
Beberapa pemeriksaan tes provokasi yang dapat membantu menegakkan
diagnosis carpal tunnel syndrome adalah sebagai berikut.
a. Flick’s sign
Penderita diminta mengibas-ibaskan tangan atau menggerakgerakan
jari-jarinya. Bila keluhan berkurang atau menghilang akan menyokong
diagnosa.
b. Thenar wasting
Pada inspeksi dan palpasi terdapat atrofi otot-otot thenar

Gambar 2.3 Thenar Wasting


11

c. Wrist extension test


Penderita melakukan ekstensi secara maksimal, sebaiknya dilakukan
secara serentak pada kedua tangan sehingga dapat dibandingkan. Bila
dalam 60 detik timbul gejala-gejala seperti carpal tunnel syndrome,
maka tes ini mendukung diagnosa.
d. Phalen’s test
Penderita melakukan fleksi tangan secara maksimal. Bila dalam waktu
60 detik timbul gejala seperti carpal tunnel syndrome, tes ini
menyokong diagnosa.
e. Torniquet test
Dilakukan pemasangan torniquet dengan menggunakan tensimeter
diatas siku dengan tekanan sedikit diatas sistolik. Bila dalam 1menit
timbul gejala carpal tunnel syndrome, maka tes ini menyokong.
f. Tinel’s sign
Tes ini mendukung diagnosis bila timbul parestesia atau nyeri pada
daerah distribusi nervus medianus apabila dilakukan perkusi pada
terowongan karpal dengan posisi tangan sedikit dorsofleksi.
g. Pressure test
Nervus medianus ditekan di terowongan karpal dengan menggunakan
ibu jari. Bila dalam waktu kurang dari 120 detik timbul gejala seperti
carpal tunnel syndrome, tes ini menyokong.
h. Luthy’s sign
Penderita diminta melingkari ibu jari dan jari telunjuk pada botol atau
gelas. Bila kulit tangan penderita tidak dapat menyentuh dindingnya
dengan rapat maka tes ini menyokong diagnosa.

Gambar 2.4 Luthy’s Sign


12

i. Pemeriksaan fungsi otonom


Diperhatikan adalah perbedaan keringat, kulit yang kering atau licin
yang terbatas pada daerah inervasi nervus medianus.
j. Pemeriksaan sensibilitas
Bila penderita tidak dapat membedakan dua titik (two-point
discrimination) pada jarak lebih dari 6mm di daerah nervus medianus,
tes dianggap positif.

Gambar 2.5 Pemeriksaan pada CTS

2. Pemeriksaan neurofisiologi (elektrodiagnostik)


a. Pemeriksaan EMG dapat menunjukkan adanya fibrilasi, polifasik,
gelombang positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otototot
thenar. Pada beberapa kasus tidak dijumpai kelainan pada otot-otot
lumbrikal. EMG bisa normal pada 31% kasus carpal tunnel syndrome.
b. Kecepatan hantar saraf pada 15-20% kasus bisa normal. Pada yang
lainnya, KHS akan menurun dan masa laten distal dapat memanjang,
menunjukkan ada gangguan pada konduksi saraf di pergelangan
tangan. Masa laten sensorik lebih sensitif dari masa laten motorik.
13

3. Pemeriksaan radiologisPemeriksaan foto rontgen pada pergelangan tangan


dapat membantu melihat apakah penyebab dari carpal tunnel syndrome
terdapat penyebab lain seperti fraktur atau artritis.
4. Pemeriksaan laboratorium Bila etiologi dari carpal tunnel syndrome belum
jelas seperti pada usia muda tanpa adanya gerakan tangan yang repetitif, dapat
dilakukan beberapa pemeriksaan seperti kadar gula darah, kadar hormon tiroid
ataupun darah lengkap.(Rambe)

2.2.7 Diagnosis Banding


Diagnosis dari CTS antara lain:
1. Cervical radiculopathy. Biasanya keluhannya berkurang bila leher
diistirahatkan dan bertambah hila leher bergerak. Distribusi gangguan sensorik
sesuai dermatomnya.
2. Thoracic outlet syndrome. Dijumpai atrofi otot-otot tangan lainnya selain otot-
otot thenar. Gangguan sensorik dijumpai pada sisi ulnaris dari tangan dan
lengan bawah.
3. Pronator teres syndrome. Keluhannya lebih menonjol pada rasa nyeri di
telapak tangan daripada CTS karena cabang nervus medianus ke kulit telapak
tangan tidak melalui terowongan karpal.
4. De Quervain's syndrome. Tenosinovitis dari tendon muskulus abductor
pollicis longus dan ekstensor pollicis brevis, biasanya akibat gerakan tangan
yang repetitif. Gejalanya adalah rasa nyeri dan nyeri tekan pada pergelangan
tangan di dekat ibu jari. KHS normal. Finkelstein's test : palpasi otot abduktor
ibu jari pada saat abduksi pasif ibu jari, positif bila nyeri bertambah.13

2.2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan carpal tunnel syndrome tergantung pada etiologi, durasi
gejala, dan intensitas kompresi saraf. Kasus ringan bisa diobati dengan obat anti
inflamasi non steroid (OAINS) dan menggunakan penjepit pergelangan tangan
yang mempertahankan tangan dalam posisi netral selama minimal 2 bulan,
terutama pada malam hari atau selama gerakan berulang. Kasus lebih lanjut dapat
14

diterapi dengan injeksi steroid lokal yang mengurangi peradangan. Jika tidak
efektif, dan gejala yang cukup mengganggu, operasi sering dianjurkan untuk
meringankan kompresi.6,16

2.2.8.1 Terapi konservatif9


1. Istirahatkan pergelangan tangan.
2. Obat anti inflamasi non steroid.
3. Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan. Bidai dapat
dipasang terus menerus atau hanya pada malam hari selama 2-3 minggu.
4. Nerve Gliding, yaitu latihan terdiri dari berbagai gerakan (ROM) latihan
dari ekstremitas atas dan leher yang menghasilkan ketegangan dan gerakan
membujur sepanjang saraf median dan lain dari ekstremitas atas. Latihan-
latihan ini didasarkan pada prinsip bahwa jaringan dari sistem saraf perifer
dirancang untuk gerakan, dan bahwa ketegangan dan meluncur saraf
mungkin memiliki efek pada neurofisiologi melalui perubahan dalam
aliran pembuluh darah dan axoplasmic. Latihan dilakukan sederhana dan
dapat dilakukan oleh pasien setelah instruksi singkat.

Gambar 2.6 Nerve Gliding


5. Injeksi steroid. Deksametason 1-4 mg 1 atau hidrokortison 10-25 mg
atau metilprednisolon 20 mg atau 40 mg diinjeksikan ke dalam
15

terowongan karpal dengan menggunakan jarum no.23 atau 25 pada lokasi


1 cm ke arah proksimal lipat pergelangan tangan di sebelah medial tendon
musculus palmaris longus. Sementara suntikan dapat diulang dalam 7
sampai 10 hari untuk total tiga atau empat suntikan,. Tindakan operasi
dapat dipertimbangkan bila hasil terapi belum memuaskan setelah diberi 3
kali suntikan. Suntikan harus digunakan dengan hati-hati untuk pasien di
bawah usia 30 tahun.
6. Vitamin B6 (piridoksin). Beberapa penulis berpendapat bahwa salah
satu penyebab CTS adalah defisiensi piridoksin sehingga mereka
menganjurkan pemberian piridoksin 100-300 mg/hari selama 3 bulan.
Tetapi beberapa penulis lainnya berpendapat bahwa pemberian piridoksin
tidak bermanfaat bahkan dapat menimbulkan neuropati bila diberikan
dalam dosis besar. Namun pemberian dapat berfungsi untuk mengurangi
rasa nyeri.
7. Fisioterapi. Ditujukan pada perbaikan vaskularisasi pergelangan tangan.

2.2.8.2 Terapi operatif


Operasi hanya dilakukan pada kasus yang tidak mengalami perbaikan
dengan terapi konservatif atau bila terjadi gangguan sensorik yang berat atau
adanya atrofi otot-otot thenar. Pada CTS bilateral biasanya operasi pertama
dilakukan pada tangan yang paling nyeri walaupun dapat sekaligus dilakukan
operasi bilateral. Penulis lain menyatakan bahwa tindakan operasi mutlak
dilakukan bila terapi konservatif gagal atau bila ada atrofi otot-otot thenar,
sedangkan indikasi relatif tindakan operasi adalah hilangnya sensibilitas yang
persisten.13
Biasanya tindakan operasi CTS dilakukan secara terbuka dengan anestesi
lokal, tetapi sekarang telah dikembangkan teknik operasi secara endoskopik.
Operasi endoskopik memungkinkan mobilisasi penderita secara dini dengan
jaringan parut yang minimal, tetapi karena terbatasnya lapangan operasi tindakan
ini lebih sering menimbulkan komplikasi operasi seperti cedera pada saraf.
16

Beberapa penyebab CTS seperti adanya massa atau anomaly maupun tenosinovitis
pada terowongan karpal lebih baik dioperasi secara terbuka.13
Keadaan atau penyakit yang mendasari terjadinya CTS harus
ditanggulangi, sebab bila tidak dapat menimbulkan kekambuhan CTS kembali.
Pada keadaan di mana CTS terjadi akibat gerakan tangan yang repetitif harus
dilakukan penyesuaian ataupun pencegahan. Beberapa upaya yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya CTS atau mencegah kekambuhannya antara
lain11:
a. Mengurangi posisi kaku pada pergelangan tangan, gerakan repetitif, getaran
peralatan tangan pada saat bekerja.
b. Desain peralatan kerja supaya tangan dalam posisi natural saat kerja.
c. Modifikasi tata ruang kerja untuk memudahkan variasi gerakan.
d. Mengubah metode kerja untuk sesekali istirahat pendek serta mengupayakan
rotasi kerja.
e. Meningkatkan pengetahuan pekerja tentang gejala-gejala dini CTS sehingga
pekerja dapat mengenali gejala-gejala CTS lebih dini.
Di samping itu perlu pula diperhatikan beberapa penyakit yang sering
mendasari terjadinya CTS seperti : trauma akut maupun kronik pada pergelangan
tangan dan daerah sekitarnya, gagal ginjal, penderita yang sering dihemodialisa,
myxedema akibat hipotiroidi, akromegali akibat tumor hipofise, kehamilan atau
penggunaan pil kontrasepsi, penyakit kolagen vaskular, artritis, tenosinovitis,
infeksi pergelangan tangan, obesitas dan penyakit lain yang dapat menyebabkan
retensi cairan atau menyebabkan bertambahnya isi terowongan karpal.11
17

BAB III

KESIMPULAN

Terowongan karpal terdapat di bagian depan dari pergelangan tangan


dimana tulang dan ligamentum membentuk suatu terowongan sempit yang dilalui
oleh beberapa tendon dan nervus medianus. Tulang-tulang karpalia membentuk
dasar dan sisi-sisi terowongan yang keras dan kaku sedangkan atapnya dibentuk
oleh fleksor retinakulum yang kuat dan melengkung di atas tulang-tulang karpalia
tersebut. Setiap perubahan yang mempersempit terowongan ini akan
menyebabkan tekanan pada struktur yang paling rentan di dalamnya yaitu nervus
medianus7
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) atau sindroma terowongan karpal adalah
kumpulan gejala akibat terjadinya penyempitan pada terowongan karpal, baik
akibat edema fasia pada terowongan tersebut maupun akibat kelainan pada tulang-
tulang kecil tangan sehingga terjadi penekanan terhadap nervus medianus di
pergelangan tangan.7
Pada tahun 2001 di Jakarta, terdapat 238 pasien menderita CTS dan
sempat mengalami penurunan angka kejadian pada tahun 2002 yaitu menjadi
149 pasien.
Berbagai etiologi CTS antara lain herediter, trauma, pekerjaan, infeksi ,
metabolic, endokrin, neoplasma, penyakit kolagen vascular, degeneratif :
osteoarthritis, iatrogenic, faktor stress dan inflamasi.
Pada tahap awal gejala umumnya berupa gangguan sensorik saja.
Gangguan motorik hanya terjadi pada keadaan yang berat. Gejala awal biasanya
berupa parestesia, kurang merasa (numbness) atau rasa seperti terkena aliran
listrik (tingling) pada jari 1-3 dan setengah sisi radial jari 4 sesuai dengan
distribusi sensorik nervus medianus walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai
seluruh jari-jari.
Pemeriksaan fisik yang patognomonis yaitu Phalen test dan Tinnel test.
Sedangkan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu dengan
Pemeriksaan elektrodiagnostik, radiologi dan laboratorium
18

Kasus ringan bisa diobati dengan obat anti inflamasi non steroid (OAINS)
dan menggunakan penjepit pergelangan tangan yang mempertahankan tangan
dalam posisi netral selama minimal 2 bulan
Kasus lebih lanjut dapat diterapi dengan injeksi steroid lokal yang
mengurangi peradangan. Jika tidak efektif, dan gejala yang cukup mengganggu,
operasi sering dianjurkan untuk meringankan kompresi
19

DAFTAR PUSTAKA

1. Jagga, V. Lehri, A et al. Occupation and its association with Carpal Tunnel
syndrome- A Review. Journal of Exercise Science and Physiotherapy.
2011. Vol. 7, No. 2: 68-78.
2. Kurniawan, Bina. et al. Faktor Risiko Kejadian Carpal Tunnel Syndrome
(CTS) pada Wanita Pemetik Melati di Desa Karangcengis, Purbalingga.
Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia. 2008. Vol. 3, No. 1.
3. American Academy of Orthopaedic Surgeons. Clinical Practice Guideline
on the Treatment of Carpal Tunnel Syndrome. 2008.
4. Gorsché, R. Carpal Tunnel Syndrome, The Canadian Journal of CME.
2001,101-117.
5. Tana, Lusianawaty et al. Carpal tunnel syndrome Pada Pekerja Garmen di
Jakarta. Buletin Peneliti Kesehatan. 2004. vol. 32, no. 2: 73-82.
6. Pecina, Marko M. Markiewitz, Andrew D. Tunnel Syndromes: Peripheral
Nerve Compression Syndromes Third Edition. New York: CRC PRESS.
2001.
7. De Jong, R. N. 1992. The Neurologic Examination 5th ed. Revised bu A. F.
Haerer. Philadelphia. J. R. Lippincott
8. Chammas, M. et al. 2014. Carpal Tunnel Syndrome- Part 1 (anatomy,
physiology, etiology, and diagnosis). Rev Bras Ortop 49(5), Elsevier; 429-
236
9. Jeffrey, N. Katz, et al. Carpal Tunnel Syndrome. N. Engl. J. Med, 2002,
Vol. 346, no 23
10. Tana, Lusianawaty et al. Carpal tunnel syndrome Pada Pekerja Garmen di
Jakarta. Buletin Peneliti Kesehatan. 2004. vol. 32, no. 2: 73-82.
11. Bachrodin, Moch. Carpal Tunnel Syndrome. Malang: FK UMM. 2011.
Vol.7 No. 14.
12. Salter RB. 1993. Textbook of Disorders and Injuries of the
Musculoskeletal System. 2nd ed. Baltimore: Williams&Wilkins
Co;.p.274-275.
13. Rambe, Aldi S. Sindroma Terowongan Karpal. Bagian Neurologi FK
USU. 2004.
14. Mumenthaler, Mark. Et al. Fundamentals of Neurologic Disease.
Stuttgard: Thieme.2006.
15. Simpson MA, Day B, et al. Clinical Focus : Painful Numb Hands.
Practical Neurology – 2. 2011.
16. Latov, Norman. Peripheral Neuropathy. New York: Demos Medical
Publishing. 2007.