Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN KASUS

Othematoma dengan Perikondritis

Disususn Oleh :

Puspita Sari
030.12.212

Pembimbing :
dr. Fahmi Novel, Sp. THT-KL, Msi. Med
dr. Heri Puryanto, Msc, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT THT-KL


RSUD KARDINAH KOTA TEGAL
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS

OTHEMATOMA DENGAN PERIKONDRITIS

Oleh :

Puspita Sari
030.12.212

Disusun sebagai salah satu syarat kelulusan


Kepanitraan Klinik Ilmu Telinga Hidung Tenggorok- Bedah Kepala & Leher
Rumah Sakit Umum Daerah Kardinah Kota Tegal
4 Juni- 21 Juli 2018

Tegal, Juli 2018

Pembimbing I Pembimbing II

dr. Fahmi Novel, Sp. THT-KL, Msi.Med dr.Heri Puryanto, MSc, Sp.THT-KL

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1


BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................... 2

BAB III LAPORAN KASUS ................................................................ 25

BAB IV PEMBAHASAN........................................................................ 33

BAB V KESIMPULAN ........................................................................... 34

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 35

BAB I

PENDAHULUAN

Othematom merupakan hematom daun telinga akibat ruda paksa yang menyebabkan
timbulnya darah dalam ruangan antara perikondrium dan kartilago. Masalah ini paling sering
terjadi pada atlet muda, terutama pegulat. Peradangan pada telinga biasanya muncul dalam
waktu seminggu setelah penyebab trauma langsung pada telinga. Mekanisme biasanya
melibatkan gangguan traumatis pembuluh darah perikondrial. Akumulasi darah dalam ruang
subperikondrial memisahkan perikondrium dari tulang rawan. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan di Rumah Sakit Umum Banjarmasin tahun 1989 hingga 1994, prevalensi othematom
pada anak-anak usia 0-4 tahun adalah sebanyak 5%, usia lanjut lebih dari 50 tahun adalah
sebesar 3% sementara sebagian besar lainnya terjadi pada remaja dan dewasa muda.
Othematom kebanyakan terjadi pada atlet beladiri terutama gulat sebanyak 40% mengalami
cedera telinga yang menyebabkan othematom.

Kesalahan penanganan othematoma dapat menyebabkan perikondritis supuratif


aurikuler. Komplikasi infeksi daun telinga ini sangat ditakuti karena dapat menyebabkan
seluruh daun telinga terkena infeksi dan mengubah bentuk daun telinga (Cauliflower ear).
Beberapa cara penatalaksanaan antara lain adalah dengan tindakan operasi atau insisi
pembersihan, kemudian dilakukan pembalutan. Tindakan ini tidak hanya dapat menimbulkan
kekambuhan tetapi juga dapat menyebabkan ketidak nyamanan dalam aktivitas sehari-hari
ataupun melakukan latihan atau pertandingan bagi olahragawan. Penanganan dengan cara
aspirasi dan dilanjutkan penekanan memakai gips sebagai fiksasi memperoleh hasil cukup baik
tidak semua pos pelayanan medis didaerah terutama di dipuskesmas mempunyai gips.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Telinga

Anatomi Telinga

Telinga terdiri atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam

Gambar 1: Anatomi Telinga dan Pembagian Telinga


• Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga (auricular) dan liang telinga sampai
membrane tymphani. Daun telinga merupakan struktur tulang rawan yang berlekuk dan
ditutupi oleh kulit tipis dan dipertahankan pada tempatnya oleh otot-otot dan
ligamentum. Lekukan- lekukan ini dibentuk oleh heliks, anti heliks, tragus, antitragus,
fossa skafoidea, fossa triangularis, konka dan lobulus. Tepi daun telinga yang
melengkung disebut heliks. Pada bagian posterior-superiornya terdapat tonjolan kecil
yang disebut tuberkulum telinga (Darwins’s tubercle). Pada bagian posterior heliks
terdapat lengukngan yang disebut antiheliks.

Bagian superior antiheliks membentuk dua buah krura antiheliks dan bagian
kedua krura ini disebut fossa triangularis. Diatas kedua krura ini terdapat fossa scapha.
Didepan antiheliks terdapat lekukan menyerupai corong yang menuju meatus yang
disebut konka, yang terdiri atas dua bagian samba konka, merupakan bagian antero-
posterior yang ditutupi oleh krus heliks dan kavum konka yang terletak dibawahnya
berseberangan dengan konka yang terletak dibawah krus heliks terdapat tonjolan kecil
berbentuk segitiga tumpul yang disebut tragus. Bagian diseberang tragus dan terletak
pada batas antihelik disebut antitragus.

Satu-satunya bagian daun telinga yang tidak mempunyai tulang rawan adalah
lobules. Tulang rawan daun telinga ini berlanjut dengan tulang rawan liang telinga luar.
Gambar 2 : Anatomi Telinga Luar

Meatus akustikus externus (liang telinga) adalah tabung berkelok yang terbentang
antara auricular sampai membarana tympani. Berfungsi menghantarkan gelombang suara dari
auricular ke mebran tympani. Pada orang dewasa panjang nya ±2,5 cm – 3 cm dan dapat
diluruskan untuk memasang otoskop dengan menarik auricular keatas dan kebelakang. Pada
anak, auricular cukup ditarik lurus ke belakang, atau ke bawah dan kebelakang. Daerah meatus
yang paling sempit ± 5mm dari membrana tympani yang miring, maka meatus paling panjang
pada dinding anterior inferiornya.

Sepertiga meatus bagian luar mempunyai kerangka tulang rawan elastik dan dua pertiga
dalam oleh tulang, yang dibentuk lempeng tympani. Meatus dilapisi kulit dan sepertiga bagian
luarnya memiliki rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen. Yang terakhir ini adalah
modifikasi kelenjar keringat, yang menghasilkan lilin coklat kekuningan. Rambut dan lilin ini
merupakan sawar lengket yang mencegah masuknya benda-benda asing. Suplai saraf sensoris
kekulit pelapisnya, berasal dari nervus auriculotemporalis dan cabang nervus vagus. Drainase
limfe kelenjar parotidei superficialis, mastoidei dan cervicales superficiales.

• Telinga Tengah

Kavum timpani adalah ruang berisi udara dalam pers petrosa ossis temporalis yang
dilapisi membrane mukosa. Di dalamnya didapatkan tulang-tulang pendengaran yang berfungsi
meneruskan getaran membrane tympani (gendangan) ke perilimf telinga dalam. Merupakan
suatu ruang mirip celah sempit yang serong, dengan sumbu panjang terletak sejajar dengan
bidang membrane tympani.

Telinga tengah berbentuk kubus dengan:

Batas luar : Membrana tympani

Batas depan : Tuba eustachius

Batas Bawah : Vena Jugularis

Batas belakang : Aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis

Batas Dalam : Kanalis semisirkularis horizontal, kanalis fasialis, tingkap


lonjong (oval window), tingkap bundar (round window) dan
promontorium.

Membrana timpani adalah membrane fibrosa tipis yang berbentuk bundar yang
berwarna kelabu mutiara. Permukaan luarnya ditutupi oleh epitel berlapis gepeng dan
permukaan dalamnya oleh epitel silindris rendah. Membrana tympani ini terpasang secara
serong menghadap ke bawah, depan dan lateral. Permukaan konkaf ke lateral pada dasar
cekungan terdapat lekukan kecil, yaitu umbo, yang ditimbulkan oleh ujung manubrium mallei.
Bila membrana ini terkena cahaya stetoskop, bagian cekung ini menghasilkan “ kerucut reflex
atau cone of light”, yang memancar ke anterior dan inferior dari umbo. Bagian atas membrane
tympani disebut pars flaksida (membrane sharpnell), sedangkan bagian bawah pars tensa
(membrana topia).
Gambar 3 : Anatomi telinga tengah

• Telinga Dalam

Telinga dalam terdiri dari koklea ( rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran
dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis yaitu:

• Kanalis semisirkularis superior

• Kanalis semisirkularis posterior

• Kanalis semisirkularis lateral

Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibule disebelah atas, skala tymphani
disebelah bawah dan skala media (duktus koklearis) diantaranya. Skala vestibule dan skala
tympani berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibule disebut
sebagai membrane vestibule (Reissner’s membrane) sedangkan dasar skala media adalah
membrane basalis. Pada membrane ini terletak organ korti. Pada skala media terdapat bagian
yang berbentuk lidah yang disebut membrane tektoria dan pada membrane basalis melekat sel
rambut yang terdiri dari sel rambut dalam, luas dan kanalis korti, yang membentuk organ korti.
Gambar 4 : Anatomi Telinga Dalam

• Histologi Telinga

• Daun Telinga

Daun telinga terletak di kedua sisi kepala, merupakan lipatan kulit dengan dasarnya

terdiri dari tulang rawan yang juga ikut membentuk liang telinga bagian luar. Hanya cuping

telinga atau lobulus yang tidak mempunyai tulang rawan, tetapi terdiri dari jaringan lemak

dan jaringan fibrosa. Permukaan lateral daun telinga mempunyai tonjolan dan daerah yang

datar. Tepi daun telinga yang melengkung disebut heliks. Pada bagian postero-superiornya

terdapat tonjolan kecil yang disebut tuberkulum telinga (Darwin’s tubercle). Pada bagian

anterior heliks terdapat lengkungan yang disebut anteheliks. Bagian superior anteheliks

membentuk dua buah krura antiheliks, dan bagian dikedua krura antiheliks ini disebut fosa

triangulari. Diatas kedua krura ini terdapat fossa scafa. Di depan anteheliks terdapat konka,

yang merupakan bagian antero superior konka yang ditutupi oleh krus heliks dan cavum

chonca yang terletak dibawahnya berseberangan dengan konka dan terletak dibawah krus

heliks terdapat tonjolan kecil yang berbentuk segitiga tumpul yang disebut tragus. Bagian

diseberang tragus dan terletak pada batas bawah anteheliks disebut antitragus. Tragus dan
antitragus dipisahkan oleh celah intertragus. Lobulus merupakan bagian daun telinga yang

terletak dibawah anteheliks yang tidak mempunyai tulang rawan dan terdiri dari jaringan

ikat dan jaringan lemak.

Di permukaan posterior daun telinga terdapat juga tonjolan dan cekungan yang

namanya sesuai dengan anatomi yang membentuknya yaitu sulkus heliks, sulkus krus

heliks, fosa antiheliks, eminensia konka, dan eminensia scafa. Rangka tulang rawan daun

telinga dibentuk oleh lempengan fibrokartilago elastik. Tulang rawan tidak terbentuk pada

lobulus dan bagian daun telinga diantara krus heliks. Tulang rawan daun telinga ini ditutupi

oleh kulit dan dihubungkan dengan sekitarnya oleh ligamentum dan otot – otot. Tulang

rawan daun telinga berhubungan dengan tulang rawan liang telinga melalui bagian yang

disebut isthmus pada permukaan posterior perlekatannya tidak terlalu erat karena terdapat

lapisan lemak subdermis yang tipis. Kulit daun telinga ditutupi oleh rambut – rambut halus

yang mempunyai kelenjar sebasea. Kelenjar ini banyak terdapat di konka dan fosa scafa.

• Kulit Liang Telinga

Liang telinga memiliki lapisan kulit yang sama dengan lapisan kulit pada bagian tubuh

lainnya yaitu dilapisi oleh epitel squamosa. Kulit liang telinga merupakan lanjutan kulit

daun telinga dan ke dalam meluas menjadi lapisan luar membran timpani.

Lapisan kulit liang telinga luar lebih tebal pada bagian tulang rawan daripada bagian

tulang. Pada liang telinga bagian tulang rawan tebalnya 0,5 – 1 mm, terdiri dari lapisan

epidermis dengan papillanya, dermis, dan subkutan melekat dengan perikondrium. Lapisan

kulit liang telinga bagian tulang lebih tipis, tebalnya kira – kira 0,2 mm, tidak mengandung

papilla, melekat erat dengan periosteum tanpa lapisan subkutan, berlanjut menjadi lapisan

luar dari membran timpani dan menutupi sutura antara tulang timpani dan tulang skuama

kulit yang tidak mengandung kelenjar dan rambut. Epidermis dari liang telinga bagian
tulang rawan biasanya terdiri dari 4 lapis yaitu sel basal, skuamosa, sel granuler, dan lapisan

tanduk.

• Persarafan

Persarafan telinga luar bervariasi tumpang tindih antara saraf – saraf cutaneus dan

cranial. Cabang auricular temporalis dari bagian ketiga saraf trigeminus (N.V)

mempersarafi permukaan anterolateral permukaan telinga, dinding anterior, dan superior

liang telinga dan segmen depan membran timpani. Permukaan posteromedial daun telinga

dan lobulus dipersarafi oleh pleksus cervicalis saraf auricularis mayor. Cabang auricularis

dari saraf fasialis (N.VII), glossofaringeus (N.IX), dan vagus (N.X) menyebar ke daerah

konka dan cabang – cabang saraf ini mempersarafi dinding posterior dan inferior liang

telinga dan segmen posterior serta inferior membran timpani.

Batang saraf utama pada jaringan subkutan berjalan sejajar dengan permukaan kulit.

Cabang – cabang di dalam dermis naik secara vertikal dari batang saraf subcutaneus. Saraf

– saraf tersebut berjalan diantara lilitan kelenjar – kelenjar dan menyelimuti masing –

masing tubulus dengan sejumlah besar anastomosis. Serabut – serabut saraf tadi

membentuk suatu jaringan di atas struktur membrana propria dan masing – masing serabut

membentuk jaringan membentuk keranjang disekeliling folikel rambut.

• Sistem Limfatik

Pembuluh-pembuluh limfe berasal dari papila dermis dari sekeliling folikel rambut

dan kelenjar sebasea seperti anyaman berbentuk bintang menghubungkan lakuna.

Pengaliran dari pembuluh-pembuluh tersebut kedalam kelenjar pre dan postaurikular.

Sistim limfe liang telinga luar berhubungan erat dengan sistim limfe prosesus mastoideus

dan kelenjar parotis. Pada infeksi tertentu dari liang telinga kelenjar-kelenjar limfe yang

berdekatan dengan liang telinga menjadi membesar sistim limfatik dan bagian anterior dan
superior liang telinga, tragus dan kulitnya berdekatan ke daerah temporal bermuara

kedalam kelenjar preaurikular yang terletak diatas kelenjar parotis. Saluran eferen kelenjar

parotis menuju kelenjar servikal dalam bagian superior lalu dari lobulus, heliks dan dinding

inferor liang telinga mengalir kedalam kelenjar infra aurikular keinferior telinga dan

posterior sudut ruang bawah.

• Perdarahan Telinga.

Perdarahan daun telinga bagian superior berasal dari cabgang posterior arteri carotis
eksterna yang mnedarahi juga sebagian kecil permukaan depan daun telinga . Sebagian
permukaan belakang daun telinga juga diperdarahi arteri occipitalis. Permukaan depan daun
telinga terutama diperdarahi oleh cabang anterior arteri temporalis superfisialis anterior.

Gambar 5 : Perdarahan daun telinga

• Fisiologi Pendengaran

Proses pendengaran diawali oleh dengan ditangkapnya energy bunyi (gelombang suara)
oleh daun telinga dan melalui liang telinga diteruskan ke membrane tympani. Getaran tersebut
menggetarkan membrane tympani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkaian tulang
pendengaran yang akan mengaplikasikan getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian luas membrane tympani dan tingkap lonjong (ovale window).

Energi getar yang telah di amplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggetarkan
ovale window sehingga perilmfa pada skala vestibule bergerak. Getaran diteruskan melalui
membrane Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif
antara membrane basilaris dan membrane tektoria. Proses ini merupakan rangsangan mekanik
yang menyebabkan terjadinya defleksi steresilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan
terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses
depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmitter kedalam sinaps yang akan
menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius
sampai ke kortex pendengaran (area 39-40) dilobus temporalis.

Gambar 6 : Fisiologi Pendengaran

2.2 Othematoma

• Definisi

Othematom merupakan hematoma daun telnga akibat suatu rudapaksa yang


menyebabkan tertimbunnya darah dalam ruangan antara perikondriom dan kartilago. Keadaan
ini biasanya terdapat pada remaja atau orang dewasa yang mempunyai kegiatan memerlukan
kekerasan namun bisa saja dijumpai pada usia lanjut dan anak-anak.

• Epidemiologi
Penderita othematom di RSU Ulin Banjaramasin berasarkan usia sekitar 22 laki-laki
(100%) diantaranya anak 1 orang (5%) dan dewasa 20 orang (90%) sedang penderita diatas 50
hanya tahun 1 orang (5%).

Othematom berdasarkan lokasi anatomis 12 orang (60%) murni pada daerah konka.
Sedang Priyono dkk (1983) mendapatkan 80 % pada konka. Lima orang (25%) menderita
perluasan dan daerah konka kearah bagian superior aurikula (1983), mendapatkan hanya 16%.
Perluasan ke arah lateral ada 2 orang (10%).

• Etiologi

Othematom umunya terjadi akibat trauma secara langsung ke daerah telinga seperti
yang ditemui pada petinju, pegulat dan seni bela diri, sehingga terdapat penumpukan bekuan
darah diantara perikondrium dan tulang rawan menerima pasokan darah dari perikondrium
atasnya. Luka geser menyebabkan gangguan hubungan anatomi normal dari perikondrium ke
tulang rawan, dengan nekrosis tulang rawan yang dihasilkan.

• Patofisiologi

Secara normal cedera jaringan atau adanya bahan asing mnejadi pemicu kejadian yang
mengikut sertakan enzim, mediator, cairan ekstravasasi, migrasi sel, kerusakan jaringan dan
mekanisme penyembuhan. Hal tersebut menimbulkan tanda inflamasi berupa kemerahan,
pembengkakan, panas, nyeri dan hilangnya fungsi. Terjadi 3 proses utama selama reaksi
inflamasi ini yaitu, aliran darah kedaerah itu meningkat, permeabilitas kapiler meningkat,
leukosit mula-mula neutrophil dan makrofag, lalu limfosit keluar dari kapiler menuju ke
jaringan. Selanjutnya bergerak ketempat cedera dibawah pengaruh stimulus – stimulus
kemotaktik. Bila ada antigen tersebut, mulu-mula respon imun non spesifik bekerja untuk
mengeliminasi antigen tersebut. Bila ini berhasil, inflamasi akut berhenti. Apabila respon imun
non spsifik tidak berhasil, maka respon imun spesifik diaktivasi untuk menangkis antigen
tersebut. Inflamasi berhenti apabila usaha ini berhasil. Bila tidak maka inflamasi ini menjadi
kronik dan sering kali menyebabkan destruksi yang irreversible pada jaringan.
Gambar 7 : Akumulasi darah antara perikondrium dan tulang rawan

• Manifestasi Klinis

Pada othematom aurikula dapat terbentuk penumpukan bekuan darah diantara


perikondrium dan tulang rawan. Bila bekuan darah ini tidak segera dikeluarkan maka dapat
terjadi organisasi dari hematoma, sehingga tonjolan menjadi padat dan permanen serta dapat
berakibat terbentuknya telinga bunga kol. Penampilan karakteristik telinga kembang kol adalah
konsekuensi dari fibrosis berikutnya, kontraktur dan pembentukan neokartilago. Hematoma
daun telinga ditandai dengan daun telinga yang terlihat membengkak, garis lipatan konka
menghilang, terjadi pembengkakan besar kebiru-biruan yang biasanya dapat mengenai seluruh
daun telinga, meskipun kadang terbatas hanya pada setengah bagian atas saja. Tidak dijumpai
nyeri pada daun telinga, namun bila ada nyeri tidak begitu nyata, daun telinga terasa panas dan
adanya rasa tidak nyaman. Bila tidak segera diobati, darah ini akan terkumpul menjadi jaringan
ikat yang menyebabkan nekrosis tulang rawan, karena adanya gangguan nutria. Massa jaringan
parut yang berlekuk-lekuk ini, terutama dari tyrauma yang berulang, akan menimbulkan
deformitas yang disebut cauliflower ear. Bila dijumpai oklusi total liang telinga akan
menyebabkan kehilangan pendengaran.
Gambar 8: Hematoma Auricular

• Diagnosis

• Anamnesa

Dari anamnesa dijumpai adanya riwayat trauma. Misalnya karena hantaman atau
pukulan saat berolahraga seperti gulat dan lainnya. Telinga dapat terasa nyeri dan bengkak.
Jika pembengkakan berlanjut, pasien sering kali mengeluhkan pendengarannya terganggu.

• Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik, dari inspeksi dijumpai benjolan kemerahan pada daun telinga.
Pada palpasi terdapat fluktuasi tanpa adanya nyeri tekan atau nyeri tekan yang ringan. Pada
kasus yang telah lama dan berulang dapat timbul pengerutan pada daun telinga (cauliflower
ear). Kemudian dilakukan aspirasi dan dijumpai cairan serohemoragis.

• Diagnosa Banding

• Perikondritis

Radang pada tulang rawan yang menjadi kerangka daun telinga. Biasnya terjadi karena
trauma akibat kecelakaan, operasi daun telinga yang terinfeksi.

• Pseudokista

Terdapat benjolan didaun telinga yang disebabkan oleh adanya kumpulan cairan kekuningan
diantara lapisan perikondrium dan tulang rawan telinga. Pseudokista daun telinga adalah suatu
kondisi yang relatif jarang di mana cairan serosa terakumulasi di antara ruang intracartilaginous
telinga dan bermanifestasi sebagai suatu pembengkakan, dan tanpa rasa sakit pada telinga luar.
Etiologi dari pseudokista daun telinga tidak diketahui, tetapi beberapa mekanisme patogenik
telah dikemukakan. Analisis isi dari pseudokista mengungkapkan bahwa cairan kaya akan
albumin dan asam proteoglikan, dengan kaya sitokin tetapi sedikit mengandung enzim
lisosomal. Analisis sitokin dari cairan menunjukkan terdapatnya peningkatan interleukin (IL) -
6, yang diyakini untuk merangsang proliferasi kondrosit. IL-1, mediator penting untuk
terjadinya peradangan dan kerusakan tulang rawan, menginduksi IL-6. IL-1 juga merangsang
kondrosit mensintesis protease dan prostaglandin E2 sementara menghambat pembentukan
komponen matriks ekstraseluler.
Dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa pseudokista aurikularis sering terjadi
setelah trauma ringan yang berulang. Untuk mendukung etiologi trauma ini, telah dilaporkan
nilai dehidrogenase laktat serum (LDH) terdapat dalam cairan pseudokista. Dua dari isoenzim
tinggi, LDH-4 dan LDH-5, yang dinyatakan sebagai komponen utama dari tulang rawan
aurikularis manusia. Enzim ini mungkin dapat dilepaskan dari cartilago aurikularis yang
mendapatkan trauma minor berulang. Suatu artikel melaporkan bahwa pseudocysts dapat
dianggap sebagai variasi dari othematoma atau otoseroma.
Pseudokista bermanifestasi sebagai pembengkakan tanpa rasa sakit pada permukaan
lateral atau anterior pinna, yang terus berkembang selama 4-12 minggu. Riwayat trauma
mungkin menyertai perjalanan klinis, termasuk menggosok, menarik telinga, tidur di bantal
keras, atau memakai helm sepeda motor atau earphone. Ini juga telah dikaitkan dengan kasus
kulit gatal atau penyakit sistemik termasuk dermatitis atopik dan limfoma. Pseudokista
bukanlah suatu peradangan, terjadi pembengkakan yang asimptomatik pada permukaan lateral
atau anterior dari pinna, biasanya pada fossa skafoid atau fosa triangular. Ukuran mulai dari
diameter 1-5 cm, dan mengandung cairan kental bening atau kekuningan, dengan konsistensi
yang sama dengan minyak zaitun.
Gambar 9. Pseudokista daun telinga

• Penatalaksanaan

Tujuan pengobatan adalah sepenuhnya untuk mengevakuasi darah subperikondrial dan


untuk mencegah reakumulasi. Dahulu dilakukan aspirasi sederhana pada hematoma, namu kini
kebanyakan dokter menganjurkan terapi yang lebih ekstensif dengan insisi dan drainase
kumpulan darah dalam kondisi steril, diikuti dengan pemasangan balutan tekan khusunya pada
konka. Tekanan setempat akan lebih baik bila membuat jahitan menembus diatas dental roll
atau materi serupa. Terapi paling baik dilakukan setelah cedera, sebelum terjadi organisasi
hematoma. Para pegulat perlu diingatkan untuk memakai pelindung kepala, juga pada saat
berlatih.

Hal yang perlu diperhatikan pada penanganan hematoma daun telinga antara lain :

• Aspirasi dilakukan dalam kondisi yang steril dan setelah aspirasi penting diberikan
antibiotik yang adekuat.

• Pemantauan yang ketat diperlukan untuk memastikan hematom tidak berulang kembali
dan dapat berkembang terbentuknya deposit fibrous ataupun infeksi.

• Untuk mencegah reakumulasi maka setelah aspirasi atau insisi perlu dilakukan
penekanan.

Instrumen dan bahan yang disediakan :

• Spuilt 5 ml dengan jarum ukuran 20 G

• Scalpel No. 11 dan No. 15 dengan pemegangnya

• Curved hemostat (mosquito)

• Penrose drain

• Salep betadine

• Betadin scrub

• Kain kassa steril

• 2-0 nylon atau prolene


• Lidokain 1 % (dengan atau tanpa epinefrin)

• Peralatan irigasi (spuilt, normal salin)

• Bahan untuk penekanan

• Balut tekan sederhana : kapas kering, kass dengan vasselin, kassa dengan elastic
bandage

• Balut tekan khusus : dental rolls (cotton bolsters, slicon slint, plaster mold),
balut tekan dengan kancing baju yang difiksasi dengan nilon atau benang prolen
dan penekanan dengan gips.

Anestesi

• Dilakukan anestesi local dengan lidokain 1% dengan 1:100.000 epinefrin atau tanpa
epinefrin, dan diinfiltrasi secara langsung pada daerah yang akan diinsisi dan drainase.

• Banyak penulis mendukung penggunaan lidokain tanpa disertai pemberian agen


vasokontriktif seperti epinefrin. Namun demikian, beberapa literatur menyetujui
keamanan penggunaan agen vasokonstriktor pada lokasi seperti hidung dan daun
telinga.

Dengan persiapan : bersihkan kulit dengan betadine dan alcohol, dapat juga digunakan betadine
cleanser, dengan anestesi local lidokain 1%.

Teknik yang digunakan

• Aspirasi Jarum

• Walaupun secara luas masih sering digunakan, metode ini tidak lagi
direkomendasikan karena dapt menyebabkan reakumulasi hematoma. Aspirasi
sering kali tidak ade kuat dan hematoma memerlukan penanganan yang lebih
lanjut. Beberapa sumber merekomendasikan aspirasi terlebih dahulu yang
diikuti dengan metode insisi jika terjadi reakumulasi.

• Gunakan jarum ukuran 18 atau 20 G untuk aspirasi darah dari daerah yang
paling berfluktiasi atau daerah yang paling bengkak.
Gambar 10 : Aspirasi Othematoma

• Insisi dan drainase

• Insisi pada tepi hematom harus dibuat pada skafa sejajar dengan heliks.
Pembukaan harus cukup luas untuk mengeluarkan seluruh hematoma.

• Perlahan-lahan dipisahkan kulit dengan perikondrium dari hematoma dan


tulang rawan, kemudian lakukan pengeluaran hematoma. Perlu kehati-hatian
karena dapat merusak perikondrium.

• Bila kumpulan bekuan darah telah terjadi karena keterlambatan tindakan, dapat
digunakan kuret tajam untuk mengeluarkan bekuan darah.

• Dilakukan irigasi dengan normal salin.

• Pemasangan drain dilakukan pada kasus – kasus dengan hematoma yang sangat
luas. Namun hal ini dapat menyebabkan luka pada drain dan dapat pula menjadi
predisposisi infeksi. Jika dilakukan pemasangan drain, pasien harus diberikan
antibiotic adekuat. Drain harus dilepas dalam 24 jam jika tidak terdapat
perdarahan yang signifikan.2,5
Gambar 11 : Insisi dan drainase hematoma auricular

Kompresi dan balut tekan

• Lakukan penekanan 5-10 menit, lalu lakukan kompresi dengan balut tekan. Teknik
yang sederhana biasanya tidak adekuat, dan dapat menyebabkan reakumulasi
hematoma.

• Kompresi balut tekan dapat dibuat dengan berbagai cara metode sederhana,
diantaranya :

• Letakkan kapas kering pada kanal eksternal


Gambar 12 : Kompresi dengan kapas kering yang diletakkan dikanal eksternal5

• Isi celah aurikuler eksternal dengan kassa yang lembab (yang telah direndam dengan
salin atau vasselin)

Gambar 13 : Kompresi dengan kassa vaselin pada pina anterior


Dengan menambahkan 3-4 lapis kassa dibelakang telinga sebagai tampon pada bagian
posterior, potong kassa menjadi bentuk V, sehingga pas untuk diletakkan dibelakang
telinga.
Gambar 14 : Kompresi dengan meletakkan kasa pada belakang telinga

• Tutup telinga dengan kassa berlapis

Gambar 15 : Kompresi kasa pada telinga anterior

• Balut dengan perban elastik


Gambar 16 : Kompresi kasa dengan perban elastik.


Pemasangan balut tekan khusus pada konka, seperti silicon splint atau dental rolls, ke
bagian anterior dan posterior telinga

Gambar 17 : Balut tekan khusus dengan dental rolls

• Komplikasi

Bila tindakan tidak steril, bisa timbul komplikasi yaitu perikondritis. Perikondritis
adalah radang pada tulang rawan daun telinga, yang terjadi akibat trauma, pasca operasi telinga,
serta sebagai komplikasi hematoma daun telinga, otitis eksterna kronik, otitis media kronik,
pseudokista. Pengobatan dengan antibiotika sering gagal. Dapat terjadi komplikasi, yaitu
tulang rawan hancur dan menciut serta keriput, sehingga terjadi telinga lingsut. Selain itu bisa
juga terjadi reakumulasi dari hematom, luka parut dan site infeksi.

• Perikondritis

• Definisi

Perikondritis adalah infeksi perikondrium pada pinna dimana pus terkumpul

diantara kartilago telinga luar dan perikondrium. Hal ini diakibatkan peradangan,

terjadi efusi serum dan pus ke dalam lapisan perikondrium dan tulang rawan dari

telinga luar. Perikondritis adalah infeksi dari perikondrium daun telinga yang sering

terjadi oleh karena tulang rawan terpapar, baik oleh laserasi maupun operasi. Adapun

gejala dan tanda perikondritis yaitu daun telinga terasa sakit sekali, panas dan tegang.

Tampak pinna merah dan bengkak, dapat menjadi abses. Namun lobulus tidak ikut

meradang.

• Etiologi

Perikondritis bisa terjadi akibat trauma, frostbite, gigitan serangga, pemecahan

furunkel/bisul dengan sengaja pada telinga. Infeksi juga dapat terjadi saat aspirasi dan

insisi hematom auris serta komplikasi dari mastoidektomi atau pseudokista.


Gambar 18. Perikondritis

• Patofisiologi

Infeksi superfisial dari liang telinga luar atau dari daun telinga menyebar lebih ke

dalam ke perikondrium. Pada keadaan ini disebut stadium dini, daun telinga (pinna) merah

dan nyeri kemudian mulai terbentuk abses subperikondrial. Hal ini menyebabkan tulang

rawan kekurangan blood supply, lama – kelamaan terjadi nekrose tulang rawan sehingga

dapat terjadi deformitas pada daun telinga yang disebut dengan cauliflower ear.

• Diagnosis

Penderita dengan perikondrititis pada umumnya datang ke dokter dengan keluhan

daun telinga terasa sakit, warna merah, dan tegang. Pemeriksaan fisik dapat ditemukan

pinna merah dan tender, kemudian bengkak (generalized swelling of the pinna), serta

terdapat abses pada daun telinga. Tampak daun telinga membengkak, merah, panas,

dirasakan nyeri, dan nyeri tekan. Pembengkakan ini dapat menjalar ke bagian belakang

daun telinga, sehingga sangat menonjol. Terdapat demam, pembesaran kelenjar limfe

regional, dan leukositosis. Serum yang terkumpul di lapisan subperikondrial menjadi

purulen, sehingga terdapat fluktuasi difus atau terlokalisasi. Pada pemeriksaan

laboratorium, dapat diambil sampel dari abses daun telinga untuk dikultur, mengetahui

jenis bakteri penyebab sehingga dapat diberikan terapi yang tepat.8

• Diagnosis Banding

- Othematoma

Suatu hematom daun telinga akibat rudapaksa yang menyebabkan timbulnya darah

dalam ruangan antara perikondrium dan kartilago. Mekanisme biasanya melibatkan


gangguan traumatis pembuluh darah perichondrial. Akumulasi darah dalam hasil ruang

subperikondrial dalam pemisahan perikondrium dari tulang rawan. Penanganan dengan

cara aspirasi dan dilanjutkan penekanan memakai gips sebagai fiksasi.

- Pseudokista

Terdapat benjolan di daun telinga yang disebabkan oleh adanya kumpulan cairan

kekuningan diantara lapisan perikondrium dan tulang rawan telinga. Biasanya pasien

datang ke dokter, karena ada benjolan di daun telinga yang tidak nyeri dan tidak diketahui

penyebabnya.

Kumpulan cairan ini harus dikeluarkan secara steril untuk mencegah timbulnya

perikondritis. Kemudian dilakukan balut tekan dengan bantuan semen gips selama

seminggu supaya perikondrium melekat pada tulang rawan kembali. Apabila perlekatan

tidak sempurna dapat timbul kekambuhan.

• Penatalaksanaan

Untuk pengobatan perikondritis diberikan antibiotik broadspectrum. Jika terdapat

abses maka dilakukan insisi drainase. Kemudian sampel dari abses dapat dikultur untuk

mengetahui jenis bakteri penyebab. Mikroorganisme penyebab paling sering adalah

Pseudomonas aeruginosa. Obat yang dapat diberikan (drug of choice) golongan

aminoglikosida.
BAB III

LAPORAN KASUS

• Identitas Pasien
Nama : Tn. AT
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 40 tahun
Pekerjaan : Pekerja bangunan
Pendidikan : SMA
Suku : Jawa
Status Pernikahan : Sudah Menikah
Alamat : Debong Tengah, RT/RW 05/03 Kel. Debong Tengah Kec.
Tegal
Agama : Islam
Tanggal kontrol poli : 09 Juni 2018
No. RM : 917170

• Anamnesis

Anamnesis dilakukan secara Autoanamnesis pada tanggal 09 Juni 2018 pada


pukul 11.00 WIB bertempat di poli THT RSUD Kardinah Tegal.

Keluhan Utama
Benjolan pada daun telinga kiri 2 minggu SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poli THT RSUD Kardinah dengan keluhan benjolan pada telinga kiri
sejak 7 hari setelah pasien bekerja sebagai pekerja bangunan dengan menggunakan
helm yang menyebabkan penekanan pada telinga kiri pasien. Pasien mengeluhkan
benjolan semakin lama semakin membesar yang pada awalnya tidak terasa nyeri.
Terdapat nyeri ringan hilang timbul setelah 7 hari timbul benjolan. Pasien juga
mengatakan sering menggaruk dan menarik daun telinga setelah timbul benjolan telinga
tersebut. Keluhan gatal dan panas pada daun telinga serta keluar cairan dari liang telinga
disangkal. Demam disangkal. Setelah timbul benjolan pasien memeriksakan diri ke poli
THT untuk dilakukan pemeriksaan. Pasien diberikan obat antibiotik dan anti nyeri serta
dilakukan penyedotan cairan daun telinga kiri pasien. Cairan yang keluar berwarna
kuning. Dilakukan pemasangan gips yang menurut perintah dokter dipertahankan
selama 7 hari. Namun 3 hari kemudian gips daun telinga kiri pasien lepas sehingga
timbul benjolan baru yang kembali timbul di daun telinga kiri karena ketidakpatuhan
pasien untuk tidak memberikan penekanan dan menarik telinga kiri selama pemasangan
gips yang telah ditentukan. Pasien datang berkunjung ke poli untuk kedua kalinya.
Dilakukan penyedotan cairan dari benjolan telinga kiri. Cairan yang keluar berwarna
kemerahan. Dilakukan pemasangan gips untuk kedua kalinya yang berhasil
dipertahankan selama 7 hari.

Riwayat Alergi
Pasien tidak memiliki alergi terhadap makanan ataupun obat tertentu
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak memiliki gejala yang mirip atau penyakit pada telinga sebelumnya
Riwayat Operasi
Pasien pernah menjalani operasi tonsilektomi 4 tahun yang lalu
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak pernah ada yang memiliki keluhan serupa, keluarga
pasien tidak ada yang memiliki riwayat alergi.
Riwayat Kebiasaan
Pasien memiliki kebiasaan sering menggaruk dan menarik telinga, bekerja
sebagai pekerja bangunan dan menggunakan helm yang menekan telinga.
Pemeriksaan Fisik

• Status Umum
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 90 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 37,1oC
Tinggi Badan : 175 cm
Berat Badan : 60 kg
IMT : Gizi normal

• Pemeriksaan Fisik
Kepala : Normosefali, tidak ada bekas trauma
Rambut : Rambut hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak alopesia
Mata : Tidak ada kelainan palpebra, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
pupil isokor diameter 3 mm/3mm, reflex cahaya langsung +/+, refleks
cahaya tidak langsung +/+
Telinga : Normotia, sekret (-/-), darah (-/-), pus (-/-)
Hidung : Bentuk normal. deviasi septum (-), sekret (-/-), penyumbatan (-/-)
Mulut : bibir sianosis (-), lidah tidak kotor, gigi lengkap, oral higenis baik
Tenggorokan : T0/T0, faring tidak hiperemis
Leher :
• Tekanan Vena Jugularis (JVP) : tidak dilakukan
• Kelenjar tiroid : tidak membesar
• Kelenjar getah bening : tidak membesar
Thorax :
• Paru-paru
Depan dan belakang
• Inspeksi : Bentuk thorax normal, simetris kiri dan kanan saat statis
dan dinamis, tidak ada bagian dada yang tertinggal, tidak tampak
retraksi sela iga.
• Palpasi : vocal fremitus kanan kiri teraba sama kuat, nyeri tekan
(-), benjolan (-)
• Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
• Auskultasi : suara nafas vesikuler (+/+), ronki (-/-), wheezing (-/-)
• Cor
• Inspeksi: ictus cordis tak tampak
• Palpasi : ictus cordis teraba pada ICS V linea midclavicularis sinistra
• Perkusi
Batas kanan : ICS IV linea sternalis dextra
Batas atas : ICS II linea sternalis sinistra
Batas kiri : ICS V 1/3 lateral dari linea midclavicularis sinistra
Batas bawah : ICS VI linea midclavicularis sinistra
• Auskultasi : BJ I-II reguler, tidak ada murmur dan gallop

Abdomen :
• Inspeksi : Bentuk perut datar, tidak membuncit, warna kulit sawo
matang, pelebaran pembuluh darah (-), tidak ada tanda bekas luka
operasi
• Auskultasi : bising usus (+) normal
• Palpasi : supel, defense muscular (-), nyeri tekan (-), tidak teraba hepar,
lien dan ginjal
• Perkusi : timpani pada seluruh lapang abdomen, ascites (-)

• Status Lokalis

Telinga

Dextra Sinistra
Normotia, benjolan (-), Daun telinga Normotia, benjolan (+), nyeri tarik
nyeri tarik (-), nyeri (+), nyeri tekan tragus (+)
tekan tragus (-)
Hiperemis (-), fistula (- Preaurikuler Hiperemis (-), fistula (-), sikatriks(-)
), oedem(-), sikatriks(-)
Hiperemis (-), fistula (- Retroaurikuler Hiperemis (-), fistula (-), oedem(-),
), oedem(-), sikatriks(- sikatriks(-), nyeri tekan mastoid (-)
), nyeri tekan mastoid
(-)
Lapang, Hiperemis (-), Kanalis akustikus Lapang, Hiperemis (-), oedem(-),
oedem(-), discharge(-) eksternus discharge(-)
Hiperemis (-), warna Membran timpani Hiperemis (-), warna putih
putih mengkilat, mengkilat, Refleks cahaya (+)
Refleks cahaya (+)

Hidung
Dextra Sinistra
Bulu hidung (+), Vestibulum Bulu hidung (+), hiperemis(+),
hiperemis(+), benjolan benjolan (-), nyeri (-), sekret(-)
(-), nyeri (-), sekret(-)
Tidak terlihat Konka Superior Tidak terlihat
Livid (-), hipertrofi(-), Konka media Livid (-), hipertrofi(-),
hiperemis(-), discharge hiperemis(-), discharge
purulen(-) purulen(-)
Livid (-), hipertrofi(-), Konka inferior Livid (-), hipertrofi(-),
hiperemis(-), hiperemis(-), discharge(-)
discharge(-)
Sekret purulen (-) Meatus nasi medius Sekret purulen (-)
Tidak dapat dinilai Meatus nasi inferior Tidak dapat dinilai
Normal Cavum nasi Normal
Deviasi (-) Septum nasi Deviasi (-)

Orofaring

Mulut Trismus(-)
Palatum Simetris, deformitas (-)
Arkus faring Simetris, hiperemis (-)
Mukosa faring Hiperemis(-), granulasi(-), sekret(-)
Dinding faring posterior Hiperemis(-), post nasal drip (-)
Uvula Simetris ditengah, hiperemis (-)
Tonsila Palatina Ukuran : T0-T0
Warna : Hiperemis (-)
Kripta : -
Detritus: -/-
Perlekatan : -
Massa : -
Kemampuan menelan Makanan padat (+), makanan lunak (+), air (+)

Laringoskopi indirek : Tidak dilakukan


Leher : Kelenjar getah bening dan tiroid tidak teraba membesar

• Telinga Kiri

Sebelum aspirasi Sesudah aspirasi dan pemasangan gips

• PEMERIKSAAN LABORATORIUM

PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN

HEMATOLOGI

CBC

Hemoglobin 14.9 g/dl 13.7-17.7


Leukosit 6.5 10^3/ul 4.4-11.5

Trombosit 235 % 150-521

Eritrosit 4.9 10^6/ul 4.5-5.9

RDW 12.7 % 11.5-14.5

MCV 90.5 U 80-96

MCH 30.2 Peg 28-36

MCHC 33.5 g/dl 33-36

Waktu Perdarahan 2.50 menit 1-3

Waktu Pembekuan 3.30 menit 2-6

SEROIMUNOLOGI

HBSAg Negatif Negatif Negatif

HIV 3 TEST

HIV (Rapid Test) Negatif Non Reaktif Non Reaktif

• Diagnosis
a. Diagnosis Banding
Diagnosis banding pada pasien ini :
• Pseudokista
• Othematoma
• Perikondritis

b. Diagnosis Kerja
Diagnosis kerja pada pasien ini adalah othematoma dengan perikondritis

• Penatalaksanaan

• Aspirasi hematoma

• Pemasangan gips
• Medikamentosa :

• Antibiotik : Ciprofloxacin tablet 2 x 500 mg

• Analgetik : Asam mefenamat tablet 2x500 mg

Edukasi :
• Pemasangan gips dipertahankan hingga 7 hari
• Jangan memberikan penekanan terhadap daun telinga kiri, posisi tidur
miring ke kanan

• Prognosis

• Ad vitam : Bonam

• Ad functionam : Dubia ad bonam

• Ad sanationam : Dubia ad bonam


BAB IV
PEMBAHASAN

Diagnosis othematoma dengan perikondritis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan


anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien mengeluh terdapat
benjolan pada telinga kiri sejak 7 hari setelah pasien bekerja sebagai pekerja bangunan dengan
menggunakan helm yang menyebabkan penekanan pada telinga kiri pasien. Pasien
mengeluhkan benjolan semakin lama semakin membesar yang pada awalnya tidak terasa nyeri.
Terdapat nyeri ringan hilang timbul setelah 7 hari timbul benjolan. Pasien juga mengatakan
sering menggaruk dan menarik daun telinga setelah timbul benjolan telinga tersebut. Keluhan
gatal dan panas pada daun telinga serta keluar cairan dari liang telinga disangkal. Demam
disangkal.
Pada pemeriksaan fisik pada pasien tidak ditemukan tanda-tanda fisik yang khas pada
pemeriksaan generalis, namun pada pemeriksaan lokalis daun telinga kiri didapatkan
hematoma yang ditandai dengan terdapatnya edema, fluktuasi positif, nyeri tekan positif saat
dilakukan palpasi. Ditemukan hilangnya sebagian lipatan lekukan daun telinga. Pada aspirasi
cairan daun telinga yang dilakukan saat kunjungan pertama pasien di poli THT ditemukan
cairan kuning yaitu transudat plasma sementara pada aspirasi cairan daun telinga pada
kunjungan kedua ditemukan cairan kemerahan berupa darah.
Timbulnya gejala tersebut pada pemeriksaan fisik diperkirakan karena terdapat trauma
ringan pada daun telinga kiri pasien yang menyebabkan terjadinya othematom. Pada pasien ini
ditemukan perikondritis yang timbul sebagai akibat dari ketidakpatuhan pasien dalam
mempertahankan pemasangan gips saat dilakukan pemasangan gips pertama kali
Tatalaksana yang diberikan pada pasien ini adalah dilakukannya pemberian
medikamentosa berupa antibiotik spektrum luas ciprofloxacin yang diharapkan dapat
mengatasi gejala yang ditemukan dan mencegah terjadinya infeksi. Pada pasien dilakukan
evakuasi cairan dengan cara aspirasi untuk mencegah organisasi dari hematoma, sehingga
tonjolan menjadi padat dan permanen. Pada pasien ini juga dilakukan pemasangan gips untuk
mencegah komplikasi yang diakibatkan oleh othematom yaitu cauliflower ear.
BAB V
KESIMPULAN

Kejadian hematoma daun telinga atau othematoma biasanya didahului dengan adanya
trauma, seringkali terjadi pada olahragawan yang banyak kontak fisik seperti pemain gulat,
petinju dan pemain rugby dan dapat menyebabkan masalah kosmetik seperti cauliflower ear
atau bahkan kehilangan kampuan mendengar. Diagnosis dari hematoma daun telinga ini
ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan aspirasi.
Beberapa teknik diaplikasikan sebagai terapi dari othematoma, antara lain dengan
aspirasi, pemasangan gips, insisi, dan drainase serta penempatan pembalut tekan yang
ditujukan untuk mengeluarkan isi hematoma, mencegah berulangnya hematoma, mencegah
perikondritis, dan mencegah deformitas kosmetik.

Othematom merupakan hematoma pada daun telinga akibat suatu rudapaksa yang
menyebabkan tertimbunnya darah dalam ruangan antara perikondrium dan kartilago.
Hematoma pada daun telinga disebabkan oleh trauma, sehingga terdapat penumpukan bekuan
darah diantara perikondrium dan tulang rawan. Bila bekuan darah ini tidak dikeluarkan dapat
terjadi organisasi dari hematoma, sehingga tonjolan menjadi padat dan permanen. Pada pasien
ini ditemukan perikondritis yang menyertai othematom dikarenakan ketidakpatuhan pasien
dalam mempertahankan pemasangan gips telinga.
DAFTAR PUSTAKA

• Glasscock and Shambaugh, , Auricular Hematoma in surgery of The Ear, Fourth


Edition, W.B Saunders Company,1990.P: 195-196

• Treatment Of Auricular Hematoma Using Dental Rolls Splint available from:


www.journaloftheroyalmedicalservice.com

• Snell S.R in Tambayong J Anatomi Klinik, Bagian 3, Ed 3, EGC, Jakarta.2006, Hal


128-139.

• Mansjoer Arif, Ilmu Penyakit Telinga Hidung dan Tenggorok in Kapita Selekta
Kedokteran, Ed 3, Jilid 1, Media Aesculapius,FKUI,2001. Hal 94

• Karabulut H, Acar B, Tuncay KS, Tanyildizli T, Karadag AS, Guresci S, et al.


Treatment of the non-traumatic auricular pseudocyst with aspiration and intralesional
steroid injection. The New Journal of Medicine 2009; 26: 117-119
• Yang JS, Hong SH, Kim H, Song HJ, Oh CH. Pseudocyst of auricle. Ann Dermatol
1997; 9:(1) 16-21
• Soepardi, Efiaty Arsyad dkk, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala Leher edisi 6.2007. FKUI
• Moore KL., 2002. Anatomi Klinik Dasar Jakarta: EGC

• R.Putz, R.Pabst., 2007. Atlas Anatomi Manusia Sobotta. Edition: 22 EGC

• Sadler TW., 2003. Langman's Medical Embryology. Edition 9. New York: Mc Graw
Hill.pdf

• Sherwood L., 2006. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC

• Junqueira., 2005. Basic Histology Text Atlas. Edition : 11 New York.pdf