Anda di halaman 1dari 6

Tugas Metodologi Penelitian Kuantitatif

Kritik Jurnal
Corporate governance and firm value during the global financial crisis:
Evidence from China
Chunyan Liu, Konari Uchida, Yufeng Yang

KELOMPOK VII :

Rosida Ibrahim (186020300111018)


Nur Alfiyah (186020300111021)
Muhammad Ichsan (186020300111033)

PROGRAM MAGISTER SAINS AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018
Corporate governance and firm value during the global financial crisis:
Evidence from China
Chunyan Liu, Konari Uchida, Yufeng Yang

PENDAHULUAN
Sejumlah penelitian telah menyelidiki hubungan antara struktur tata kelola perusahaan
dan kinerja perusahaan (misalnya, Bhagat & Bolton, 2008; Dahya, Dimitrov, & McConnell,
2008; Gompers, Ishii, & Metrick, 2003; Klapper & Love, 2004; McConnell & Servaes, 1990,
1995; Morck, Shleifer, & Vishny, 1988). Penelitian ini membahas mengenai masalah pada
perusahaan di Cina, dimana terdapat banyak perusahaan milik negara (BUMN) yang pemegang
sahamnya memiliki kuasa yang kuat dan mengejar berbagai tujuan publik (dua-pertiga dari
perusahaan China yang terdaftar adalah BUMN pada akhir 2006).
Masalah yang sering melanda banyak studi tata kelola perusahaan adalah endogenitas
struktur tata kelola perusahaan. Cara yang efektif untuk mengukur efek dari tata kelola pada
kinerja perusahaan adalah untuk menganalisis kembali harga saham selama krisis keuangan.
Dalam situasi ini, struktur tata kelola perusahaan dapat diperlakukan sebagai variabel eksogen
yang menjelaskan kinerja perusahaan selama krisis keuangan berikutnya. Penelitian
sebelumnya telah menyelidiki struktur tata kelola bagaimana perusahaan kinerja saham
dipengaruhi di pasar negara berkembang selama krisis keuangan Asia Timur tahun 1997-1998
(Baek, Kang, & Park, 2004; Johnson, Boone, Breach, & Friedman, 2000; Mitton 2002 ;
Lemmon & Lins, 2003). Beberapa penelitian juga telah menyelidiki bagaimana tata kelola
perusahaan yang mempengaruhi kinerja perusahaan di Cina selama krisis keuangan. Penelitian
ini bermaksud untuk mengisi kesenjangan penelitian ini, yaitu melakukan penelitian ulang
mengenai bagaimana struktur tata kelola perusahaan Cina mempengaruhi kinerja perusahaan
dalam lingkungan penelitian yang kurang tunduk pada masalah endogenitas. Selain itu, data
krisis periode memungkinkan kita untuk menyoroti beberapa aspek mekanisme tata kelola
perusahaan yang kurang dibicarakan selama kondisi ekonomi normal.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Sebuah ciri khas dari tata kelola perusahaan Cina adalah adanya kontrol negara. Banyak
penelitian Cina sebelumnya telah menemukan efek negatif dari kepemilikan negara terhadap
nilai perusahaan (Gunasekarage et al, 2007;. Sun dan Tong, 2003; Xu dan Wang, 1999; Zhang
et al, 2001. Bai et al. (2000) dan Clarke (2003) berpendapat bahwa BUMN terutama bertujuan

1
untuk mempertahankan pekerjaan dan stabilitas sosial (tujuan umum) daripada maksimalisasi
keuntungan, yang menimbulkan konflik keagenan antara pemegang saham negara dan
minoritas. Fakta-fakta ini menimbulkan prediksi bahwa BUMN akan menderita lebih akibat
dari penurunan nilai perusahaan selama krisis keuangan global.
Peneliti mengusulkan dua hipotesis yang saling bertentangan karena merupakan
pertanyaan empiris terbuka yang berlaku selama periode krisis.

 H1-1. BUMN lebih banyak mengalami penurunan nilai perusahaan dibandingkan


non-BUMN selama krisis keuangan global.
 H1-2. BUMN lebih sedikit mengalami pengurangan nilai perusahaan
dibandingkan non-BUMN selama krisis keuangan global.

Berbeda dari kasus Amerika Serikat di mana kepemilikan manajerial rendah


menimbulkan konflik keagenan antara pemegang saham dan manajer, kepemilikan manajerial
berpotensi meringankan masalah pengambilalihan di Cina yang disebabkan struktur
kepemilikan terkonsentrasi (atau kepemilikan negara tinggi). Li et al. (2007) menemukan
hubungan monoton positif antara kepemilikan manajerial dan kinerja perubahan BUMN Cina.

 H2. Perusahaan dengan kepemilikan manajerial tinggi menderita kurang dari


memburuknya nilai perusahaan selama krisis keuangan global.

METODOLOGI
Sampel penelitian terdiri dari perusahaan China yang terdaftar di Bursa Efek
Shanghai dan Shenzhen. Data keuangan dan harga saham dari database Osiris yang kemudian
digabungkan dengan data tata kelola perusahaan dari database CCER. Periode krisis keuangan
ditetapkan Agustus 2007 hingga Desember 2008. Perubahan Tobin's Q selama periode (Ch_Q)
digunakan sebagai proxy untuk perubahan nilai perusahaan selama krisis keuangan; Tobin's Q
dihitung sebagai rasio total kewajiban dan nilai pasar ekuitas dibagi dengan nilai buku dari
total aset. Variabel independen utama adalah D_SOE, BANKR, DLOWN, dan MOWN.
Peneliti menggunakan logaritma dari jumlah direksi (BOARDSIZE) sebagai proxy
untuk ukuran dewan pengurus. Literatur menunjukkan bahwa dewan pengurus besar kurang
efektif daripada dewan pengurus yang lebih kecil karena masalah freerider (Gladstein, 1984;
Jensen, 1993; Lipton dan Lorsch, 1992; Shaw, 1981). Kemudian proporsi direktur independen
atas total anggota dewan (INDBOARD) diadopsi sebagai proksi untuk independensi dewan.

2
Peneliti juga menggunakan variabel-variabel dummy meliputi DUALITY (jika CEO
perusahaan juga berfungsi sebagai pemilik dan dewan direksi), BIG FOUR (apakah perusahaan
memakai jasa salah satu dari firma akuntansi Big Four), dan BSHARE (apakah menerbitkan
B-shares, yang diperdagangkan terutama oleh asing investor dalam mata uang asing)
Kemudian pada penelitian ini menggunakan LEV (total kewajiban dikurangi hutang
bank dibagi oleh total aset), LIQUID (rasio kewajiban lancar terhadap aset lancar), EXPORTR
(penjualan ekspor dibagi dengan total penjualan), ROA (laba sebelum bunga dan pajak dibagi
dengan total aset), B_M (nilai buku ekuitas dibagi dengan nilai pasar ekuitas), dan STD
(standar deviasi bulanan return saham dari Agustus 2006 hingga Juli 2007), LN_MVALUE
(logaritma natural dari nilai pasar ekuitas). Semua variabel kecuali STD dihitung menggunakan
data tahun 2006. Jika data yang diperlukan tidak tersedia, perusahaan dihapus dari analisis.

ANALISIS EMPIRIS
Analisis univariat
Tabel 3 menjelaskan bahwa BUMN mengalami pengurangan nilai perusahaan lebih
besar daripada non-BUMN. Selain itu, Tabel 3 menunjukkan bahwa kelompok BANKR
tertinggi (Kelompok 1) mengalami penurunan nilai perusahaan secara signifikan lebih kecil
daripada grup BANKR terendah (Grup 4). Hasil tersebut konsisten dengan hipotesis efek
positif (H1-2). Kinerja pada periode krisis menurun dengan melihat LSOWN pada tingkat
kepemilikan yang rendah; hasil ini konsisten dengan H1-1, menunjukkan bahwa konsentrasi
kepemilikan menimbulkan masalah yakni pengambilalihan selama krisis.
Hasil regresi
Hasil menunjukkan kepemilikan negara memiliki dampak positif terhadap nilai
perusahaan selama krisis. Konsisten dengan ide ini, koefisien pada BANKR positif dan
signifikan pada level 0,01. Peneliti menafsirkan ini berarti bahwa BUMN menerima akses
istimewa ke utang bank, dan sebagai hasilnya, menghindari proyek-proyek prospektif.
Tabel 5 menunjukkan bukti bahwa kepemilikan pemegang saham besar memiliki
hubungan berbentuk U dengan periode krisis. Koefisien kinerja perusahaan meningkat ketika
kepemilikan pemegang saham besar melebihi 57%. Hasil ini disebabkan oleh fakta bahwa
BUMN cenderung memiliki LSOWN tinggi. Hasil ini konsisten dengan ide yang mendasari
H1-2 itu kepemilikan negara membawa akses istimewa ke utang bank dan karenanya
mengurangi kendala keuangan dan kekurangan likuiditas selama krisis periode.
Kemudian pada model 1 dan 2 menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial tidak
memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja harga saham selama krisis keuangan. Hal

3
ini mendukung prediksi bahwa kepemilikan manajerial meringankan masalah pengambilalihan
di BUMN yang memiliki pemegang saham pengendali yang kuat.
Pada variabel lainnya, semua model memberikan koefisien positif dan signifikan
pada BIG_FOUR, yang menunjukkan bahwa perusahaan dengan kualitas pengungkapan yang
lebih baik mengalami masalah penurunan harga saham yang lebih rendah selama periode krisis.
Selain itu baik BOARDSIZE maupun INDBOARD tidak terkait dengan Ch_Q pada tingkat
signifikansi 0,05. Pada dewan direksi perusahaan Cina, ada beberapa pihak profesional
(pengacara, akuntan, dan ahli keuangan) tetapi hampir tidak ada perwakilan pemegang saham
minoritas (Chen et al., 2004). Jadi, kemungkinan dewan semacam itu tidak memonitor
manajemen secara efektif.
Tabel 5 juga menunjukkan bahwa DUALITY memiliki koefisien yang tidak
signifikan, LEV memiliki koefisien positif dan signifikan, dan LIQUID memiliki koefisien
negatif dan signifikan. Namun peneliti tidak menemukan koefisien yang signifikan pada
BSHARE, EXPORTR, ROA, dan B_M (untuk seluruh sampel).

PENGUJIAN TAMBAHAN
Perbedaan definisi periode krisis keuangan
Berdasarkan pergerakan harga indeks saham di bursa, peneliti memperbarui periode
krisis keuangan, yakni Oktober 2007 sampai Oktober 2008. Hasilnya menyajikan hasil regresi
yang sama secara kualitatif pada periode tersebut, kecuali hasil koefisien positif dan signifikan
pada BOARDSIZE. Ini menunjukkan bahwa dewan direksi yang kecil, dimana pada studi-studi
sebelumnya dipandang sebagai alat monitoring yang lebih efektif, tidak selalu dapat
memitigasi masalah ekspropriasi pemegang saham minoritas.
Penghapusan outliers (data yang menyimpang)
Peneliti melakukan penghapusan sampel yang dianggap menyimpang yaitu perusahaan
yang memiliki Ch_Q sangat rendah dan B_M sangat tinggi. Penghapusan ini memberikan hasil
yang sama secara kualitatif: (a) BUMN yang mengandalkan hutang bank tidak terlalu
terdampak selama krisis keuangan; (b) konsentrasi kepemilikan memiliki hubungan U-shaped
terhadap kinerja; (c) kepemilikan manajerial berhubungan positif dengan Ch_Q pada sub
sampel BUMN; & (d) penggunaan firma akuntansi prestisius memiliki kinerja yang lebih baik.
Hasil periode pra-krisis
Peneliti juga melakukan analisa regresi terhadap perubahan Tobin’s Q selama periode
pra-krisis, Agustus 2006 sampai Juli 2007. Data yang menjadi variabel independennya adalah
tahun 2005, sedangkan untuk data STD mengambil periode Agustus 2005 sampai Juli 2006.

4
Dalam analisa ini ditemukan bahwa BUMN yang memiliki hutang bank memiliki
kinerja yang lebih buruk dibanding non BUMN yang tidak memiliki hutang bank. Peneliti juga
menemukan dua sisi (sifat) kepemilikan negara, dimana di satu sisi menyediakan dana yang
substansial tanpa syarat kepada BUMN, namun di sisi lain membiarkan perusahaan di Cina
mengejar kepentingan publik sehingga menimbulkan masalah over-investment pada kondisi
ekonomi normal.

KESIMPULAN DAN KRITIK


Dalam penelitian ini, peneliti menemukan beberapa temuan bahwa (1) BUMN yang
mengandalkan hutang bank tidak terlalu mengalami kemunduran kinerja saham selama periode
krisis, namun mengalami kinerja buruk pada saat sebelum krisis, (2) kepemilikan pemegang
saham yang lebih besar memiliki hubungan U-shaped terhadap kinerja periode-krisis, yang
menyatakan bahwa konsentrasi kepemilikan mengurangi batasan finansial dan menimbulkan
masalah ekpropriasi, (3) negara memberikan kredit yang substansial kepada BUMN, yang
menghilangkan batasan finansial pada periode krisis namun menimbulkan masalah over-
investment pada periode pra-krisis, (4) kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap
perubahan nilai perusahaan BUMN, dan (5) perusahaan dengan firma akuntan-auditor
prestisius mengalami penurunan nilai perusahaan yang kecil saat krisis keuangan.
Penelitian ini membawa implikasi penting ke dalam literatur. Jika beberapa studi
sebelumnya menekankan aspek negatif kepemilikan negara, peneliti memberikan bukti baru
tentang efek positifnya terhadap nilai perusahaan di saat krisis, termasuk efek positif hutang
bank pada kinerja perusahaan selama periode krisis. Meski demikian terdapat beberapa isu
yang belum mendapat solusi yaitu kondisi apa yang menyebabkan kepemilikan negara menjadi
menguntungan atau merugikan bagi kinerja perusahaan? Mengapa terdapat hubungan U-
shaped antara kepemilikan ekuitas dan nilai perusahaan selama krisis? Apakah karakteristik
hukum dan budaya dapat menjelaskan efek positif kepemilikan negara dan pinjaman bank
selama krisis keuangan? Peneliti menyarankan ada kajian baik dengan pendekatan teoritis
maupun empiris untuk riset yang akan datang.
Secara keseluruhan topik yang diangkat dalam penelitian ini sangat menarik sebab isu
nasionalisasi versus privatisasi pada negara berkembang lainnya cukup banyak perdebatan,
sehingga hasil penelitian ini layak dikaji oleh peneliti berikutnya. Namun karena banyaknya
variabel, sebaiknya hasil analisa utama dan analisa tambahan penelitian ini tidak hanya
deskriptif namun juga ditampilkan dalam bentuk tabel komparasi, sehingga pemahaman
pembaca lebih mudah dicapai.