Anda di halaman 1dari 7

Tugas Metodologi Penelitian Kuantitatif

Kritik Jurnal
The Big Five, self-esteem, and narcissism as predictors of the topics
people write about in Facebook status updates
Tara C. Marshall, Katharina Lefringhausen, Nelli Ferenczi

KELOMPOK VII :

Rosida Ibrahim (186020300111018)


Nur Alfiyah (186020300111021)
Muhammad Ichsan (186020300111033)

PROGRAM MAGISTER SAINS AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2018
The Big Five, self-esteem, and narcissism as predictors of the topics
people write about in Facebook status updates
Tara C. Marshall , Katharina Lefringhausen, Nelli Ferenczi

PENDAHULUAN
Pada jurnal ini dilakukan penelitian terhadap perilaku para pengguna Facebook. Sejak
awal diluncurkannya Facebook pada tahun 2004, update (pembaruan) status telah menjadi
salah satu fitur yang paling disukai (Ryan & Xenos, 2011). Update status memungkinkan
pengguna untuk membagikan pemikiran, perasaan, dan kegiatan mereka dengan teman-teman,
yang memiliki kesempatan untuk menyukai dan memberi komentar sebagai balasan. Beberapa
studi terdahulu telah meneliti topik yang orang pilih untuk menulis tentang pembaruan status
mereka. Penelitian ini juga turut dalam topik tersebut dengan menguji ciri-ciri kepribadian
(personality traits) terhadap frekuensi para pengguna Facebook melakukan update status
tentang lima topik yang diidentifikasi melalui faktor pendekatan analitis: kegiatan sosial dan
kehidupan sehari-hari, pengejaran intelektual, prestasi, diet / olahraga, dan hubungan signifikan
(significant relationship). Penelitian ini juga melakukan pemeriksaan apakah asosiasi tersebut
dimediasi oleh beberapa motif menggunakan Facebook yang sebagaiman diidentifikasi dalam
literatur (misalnya, Bazarova & Choi, 2014; Seidman, 2013): kebutuhan untuk validasi (yaitu,
mencari perhatian dan penerimaan), ekspresi diri ( yaitu, mengungkapkan pendapat pribadi,
cerita, dan keluhan), komunikasi (yaitu, sesuai dan menghubungkan), dan berbagi informasi
impersonal (misalnya, kejadian terkini).
Tujuan kedua dari penelitian ini adalah untuk menguji apakah orang yang memperbarui
status lebih sering tentang topik tertentu menerima lebih banyak jumlah suka dan komentar
untuk postingan mereka. Pada hasil penelitian ini diharapkan juga bisa menjelaskan mengapa
topik pembaruan status dapat membuat pengguna Facebook berisiko mendapatkan pengucilan
online (online ostracism).

KAJIAN LITERATUR DAN HIPOTESIS


Terdapat cukup banyak literatur yang dikaji peneliti dalam merumuskan hipotesisnya.
Model kepribadian Big Five, self-esteem (harga diri), dan narsisme merupakan variabel
independen yang akan diuji terhadap seberapa sering orang meng-update status Facebook
mereka dan apa saja topik update-nya.

1
Berdasarkan model kepribadian “Big Five”, masing-masing individu bervariasi dalam
hal ekstraversi, neurotisisme, openess to experience (terbuka terhadap hal baru), agreeableness
(mudah bersepakat), dan conscientiousness (kehati-hatian) (Costa & McCrae, 1992). Orang
extrovert memiliki sifat mudah berteman, banyak bicara, dan periang. Mereka menggunakan
Facebook sebagai sarana komunikasi dan bersosialisasi, seperti terlihat pada tingginya
frekuensi penggunaan Facebook mereka yang tinggi, banyaknya teman Facebook, dan
preferensi mereka terhadap fitur Facebook yang memungkinkan mereka berkontribusi sosial
secara aktif. Oleh karena itu hipotesis pertama yang dirumuskan peneliti adalah: Extraversi
berhubungan positif terhadap postingan mengenai kegiatan sosial, dan asosiasi ini akan
dimediasi oleh penggunaan Facebook untuk komunikasi (H1)

Neurotisisme dicirikan oleh kecemasan dan sensitif terhadap ancaman. Seorang


neurotik menggunakan Facebook untuk mencari perhatian dan dukungan sosial (sesuatu yang
hilang di kehidupan nyata mereka). Kegemaran orang neurotik mengungkap topik personal
mereka menjadi dasar peneliti merumuskan hipotesis kedua: Neurotisisme akan berhubungan
positif dengan postingan mengenai hubungan dekat (pasangan romantis dan / atau anak-
anak), dan bahwa pemilihan topik tersebut ini dimotivasi oleh tujuan penggunaan Facebook
untuk validasi dan pengekspresian diri (H2)

Orang memiliki keterbukaan (openess) yang tinggi cenderung kreatif, pintar, dan
memiliki rasa penasaran. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa keterbukaan terasosiasi
dengan frekuensi penggunaan sosial media, dan juga berasosiasi dengan penggunaan Facebook
untuk menemukan dan menyebarkan informasi, namun tidak untuk bersosialisasi. Atas dasar
itu kemudian hipotesis ketiga dinyatakan: Keterbukaan berhubungan positif dengan postingan
tentang topik intelektual, dan bahwa asosiasi ini dimediasi oleh penggunaan Facebook untuk
berbagi informasi (H3)

Orang yang memiliki agreeableness yang tinggi cenderung kooperatif, senang


membantu, dan sukses secara interpersonal. Hal ini menjadi basis hipotesis keempat: Fokus
interpersonal agreeableness dan penggunaan Facebook untuk komunikasi menjadi faktor
penyebab seringnya update mengenai kegiatan sosial dan hubungan signifikan mereka (H4)

Conscientiouness menggambarkan orang yang disiplin, bertanggungjawab, dan pekerja


keras. Mereka jarang menggunakan Facebook namun rajin dan bijaksana saat
menggunakannya, sehingga hipotesis kelima dirumuskan berikut: Conscientiousness atau
kehati-hatian berhubungan positif dengan update mengenai topik “aman” yang tidak

2
mengganggu, yang akan dimediasi oleh rendahnya kecenderungan penggunaan Facebook
untuk validasi (H5)

Orang dengan self-esteem rendah berpikir bahwa pengungkapan diri melalui Facebook
lebih menguntungkan dibanding secara personal. Namun status update mereka lebih kurang
disukai karena isinya lebih banyak negatif dibanding positifnya. Mereka juga dianggap sering
meng-update hubungan romantis untuk meningkatkan self-worth (rasa kelayakan diri) dan
untuk menyangkal anggapan mengenai buruknya hubungan mereka. Peneliti kemudian
merumuskan hipotesis keenam: Self-esteem berhubungan negatif dengan postingan tentang
hubungan romantis, dan pengaruh ini dimediasi oleh penggunaan Facebook untuk validasi
(H6)

Individu yang narsistik cenderung menyombongkan diri, angkuh, dan eksebisionitik.


Mereka mencari perhatian dan pujian dengan mengutarakan prestasi mereka serta sangat
merawat penampilan fisik. Hal ini dirumuskan pada hipotesis ketujuh: Update status orang
narsistik lebih sering mengenai pencapaian, diet, dan rutinitas latihan mereka (H7)

Hipotesis terakhir berkaitan dengan respon atas update status. Peneliti menguji apakah
bervariasinya jumlah respon (like dan komentar) yang diterima tergantung dari kepribadian
dan frekeuensi topik-topik yang di-update. Dalam hipotesis kedelapan peneliti menguji: Orang
dengan self-esteem yang rendah menerima like dan komentar yang lebih sedikit karena mereka
sering update tentang pasangan romantis (H8)

METODA PENELITIAN

Data dikumpulkan dari 555 pengguna Facebook yang saat ini berada di Amerika Serikat
(59% perempuan; M-age = 30,90, SD-age = 9,19). Enam puluh lima persen peserta saat ini
terlibat dalam hubungan romantis, dan 34% memiliki setidaknya satu anak. Lima puluh tujuh
persen memeriksa Facebook setiap hari, dan menghabiskan rata-rata 107,95 menit per hari aktif
menggunakannya (SD = 121,41). Sembilan puluh persen peserta direkrut melalui Mechanical
Turk dari Amazon dan membayar $ 1,00 sebagai kompensasi; sisanya direkrut melalui forum
web untuk studi psikologi online, dan tidak menerima kompensasi.

Partisipan kemudian mengisi survey secara online yang berisi pertanyaan demografis
dan ukuran-ukuran berdasarkan hipotesis yang telah disusun. Hasil survei tersebut dianalisis
menggunakan koefisien Cronbach’s alpha, statistik deskriptif dan korelasi Pearson serta
analisis regresi.

3
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan dukungan pada Hipotesis 1 bahwa Ekstraversi


berhubungan positif update status lebih sering tentang kegiatan sosial dan kehidupan sehari-
hari, dan dengan penggunaan Facebook untuk berkomunikasi. Hipotesis 2 hanya didukung
sebagian dimana neurotisisme tidak terkait dengan update status mengenai salah satu dari enam
topik atau dengan menggunakan Facebook untuk ekspresi diri, tetapi terkait dengan
penggunaan Facebook untuk validasi.
Konsisten dengan Hipotesis 3, keterbukaan berhubungan positif dengan update tentang
topik intelektual, dan penggunaan Facebook untuk informasi. Orang dengan keterbukaan tinggi
menulis update tentang kejadian saat ini, penelitian, atau pandangan politik mereka untuk
tujuan berbagi informasi impersonal daripada untuk bersosialisasi, konsisten dengan temuan
Hughes et al. (2012). Tidak ada dukungan untuk Hipotesis 4, hasil menunjukkan agreeableness
memiliki hubungan dengan update tentang kegiatan sosial, hubungan yang signifikan, atau
dengan menggunakan Facebook untuk berkomunikasi. Sejalan dengan Hipotesis 5, kehati-
hatian tidak terkait dengan pembaruan tentang topik ‘‘ aman ’’ seperti aktivitas sosial dan
kehidupan sehari-hari, alih-alih, itu terkait dengan menulis lebih sering postingan tentang anak-
anak seseorang. Lebih jauh lagi, kehati-hatian tidak terkait secara negatif dengan menggunakan
Facebook untuk validasi, tetapi itu terkait secara positif dengan menggunakan Facebook untuk
berbagi informasi dan untuk berkomunikasi.
Konsisten dengan Hipotesis 6, orang yang lebih rendah dalam harga diri lebih sering
memposting tentang pasangan romantis mereka saat ini, tetapi mereka lebih cenderung
menggunakan Facebook untuk ekspresi diri daripada untuk validasi. Orang dengan harga diri
rendah mungkin memiliki motif lain untuk memposting pembaruan tentang pasangan romantis
mereka. Mempertimbangkan bahwa orang dengan harga diri rendah cenderung lebih takut
secara kronis kehilangan pasangan romantis mereka (Murray, Gomillian, Holmes, & Harris,
2015), dan bahwa orang-orang lebih mungkin untuk memposting informasi terkait-hubungan
di Facebook pada hari-hari ketika mereka merasa tidak aman (Emery et al., 2014), adalah
masuk akal untuk menduga bahwa orang dengan harga diri rendah memperbarui tentang
pasangan mereka sebagai cara untuk mengklaim hubungan mereka ketika merasa terancam.
Sejalan dengan Hipotesis 7, narsisisme terkait secara positif dengan postingan tentang
pencapaian dan dengan menggunakan Facebook untuk validasi. Tidak ada dukungan untuk
Hipotesis 8: narsisisme daripada harga diri dikaitkan dengan menerima lebih banyak suka dan

4
komentar untuk pembaruan seseorang. Kami kemudian menilai apakah empat topik umum
untuk seluruh sampel - kegiatan sosial dan kehidupan sehari-hari, pengejaran intelektual,
prestasi, dan diet / olahraga - memprediksi jumlah suka dan komentar yang biasanya diterima
untuk pembaruan di atas dan di atas variabel kontrol dan sifat. Pembaruan tentang aktivitas
sosial dan kehidupan sehari-hari dikaitkan secara positif dengan jumlah suka dan komentar
yang diterima Dua model regresi tambahan menambahkan frekuensi pembaruan tentang
hubungan romantis seseorang atau anak-anak seseorang sebagai prediktor untuk peserta yang
memiliki pasangan hubungan atau anak-anak. Hanya frekuensi pembaruan tentang anak-anak
yang secara signifikan memprediksi suka / komentar.

KESIMPULAN
Secara bersama-sama, hasil ini membantu menjelaskan mengapa sebagian teman
Facebook menulis pembaruan status tentang pesta yang mereka datangi di akhir pekan
sedangkan yang lain menulis tentang buku yang baru saja mereka baca atau tentang promosi
pekerjaan mereka. Penting untuk memahami mengapa orang menulis tentang topik tertentu di
Facebook sejauh tanggapan yang mereka terima mungkin bermanfaat secara sosial atau
eksklusif. Kesadaran yang lebih besar tentang bagaimana pembaruan status seseorang dapat
dirasakan oleh teman dapat membantu orang untuk menghindari topik yang mengganggu lebih
dari yang mereka hormati.

KRITIK ATAS JURNAL


Penelitian ini menurut kami cukup menarik karena topik yang diangkat merupakan hal
yang saat ini melekat di kehidupan sehari-hari masyarakat modern, yaitu topik status update
para pengguna Facebook. Latar belakang kepribadian pengguna sebagaimana hasil penelitian
memiliki pengaruh kuat atas isi, frekuensi, dan respon status update tersebut. Keterbatasan
utama dari penelitian, sebagaimana telah diakui peneliti adalah bahwa data kepribadian, isi
status Facebook, dan respon yang diperoleh dilaporkan sendiri oleh partisipan, sehingga
kebenaran jawaban yang diperoleh masih meragukan dalam arti responden mungkin tidak
secara akurat melaporkan jumlah suka dan komentar yang mereka terima untuk setiap
postingan. Untuk studi-studi berikutnya peneliti merekomendasikan pemakaian coding yang
mampu merekam status aktual partisipan berikut jumlah aktual like dan komen yang diterima.

5
6