Anda di halaman 1dari 223

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Ringkasan Deskripsi Rencana Usaha dan / atau Kegiatan


1.1.1. Tahap Pra-Konstruksi
1) Sosialisasi rencana kegiatan
Adapun tujuan dari dilakukannya kegiatan sosialisasi ini yaitu agar
masyarakat mengetahui dan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.
Sehingga demikian akan mampu mengakomodir kepentingan
masyarakat dengan adanya kegiatan penambangan. Disamping itu juga
berfungsi sebagai kontrol pemrakarsa terhadap kelancaran proyeknya.
Kegiatan sosialisasi kepada masyarakat sekitar lokasi perusahaan
adalah pemberian penjelasan secara langsung dan transparan kepada
masyarakat mengenai latar belakang kegiatan, mengakomodir harapan
dan kekhawatiran masyarakat terhadap adanya kegiatan penambangan,
sehingga keinginan masyarakat lebih terbuka. Kegiatan sosialisasi ini
dilakukan dengan bentuk kegiatan dan waktu pelaksanaan yang
disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan prosesntase pemahaman
serta penerimaan masyarakat terhadap rencana kegiatan penambangan
yang akan dilakukan oleh PT ABC di daerahnya.
Kegiatan sosialisasi ini terlaksana sebelum konsultasi publik
dilakukan, bahkan jika diperlukan kegiatan sosialisasi tetap akan
dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan penambangan
yang tengah berjalan. Tujuannya yaitu untuk menjaga opini
masyarakat serta memberikan pemahaman yang penuh serta tanpa
intervensi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang
berpotensi untuk mengganggu kelancaran pekerjaan kedepannya.

2) Pembebasan Lahan
Kegiatan pertambangan emas PT ABC akan dilaksanakan pada
lahan seluas 5000 Ha. Penggunaan lahan tersebut akan membutuhkan
kegiatan relokasi mengingat rencana lokasi kegiatan memiliki
peruntukan sebagai perumahan dan lahan persawahan.
Kegiatan pembebasan lahan tersebut akan dikoordinasikan dengan
instansi terkait dan melibatkan pihak pemerintah administrasi
setempat, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan sampai desa yang
bersangkutan. Proses negoisasi akan dilakukan langsung oleh pihak
pemrakarsa dengan pemilik lahan dan dalam hal ini pihak pemrakarsa
akan berusaha memberikan nilai atau harga ganti lahan dan tanam
tumbuh dalam batas yang wajar sehingga tidak merugikan kepentingan
masyarakat. Selain itu pihak pemrakarsa juga akan memperhatikan
kearifan lokal masyarakat setempat sehingga diharapkan kegiatan yang
ada tidak akan terus menurunkan fungsi lingkungan hidup.

1.1.2. Tahap Konstruksi


1) Pembangunan Sarana & Prasarana
Sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk keperluan
penambangan dibagi menjadi 2, yaitu unit utama untuk keperluan
pengolahan dan unit penunjang seperti mining office, jalan tambang
(hauling road), waste dump dan fasilitas lainnya. Berikut adalah
rincian berbagai sarana dan prasarana beserta kapasitasnya yang
terdapat di PT. ABC.
a) Pembangunan unit pengolahan Pembangunan unit pengolahan
terdiri dari pekerjaan sipil dan mekanik-elektrik. Bangunan unit
pengolahan berstruktur kerangka baja dengan konstruksi
pondasi bangunan utama dibuat dengan memperhitungkan
kondisi tanah setempat, sehingga mampu memikul beban dari
bangunan yang akan didirikan dan dirancang tahan terhadap
gempa. Konstruksi untuk penempatan peralatan produksi,
pondasi bangunan dan struktur akan didirikan di atas tiang
pancang yang didirikan alas pondasi atau akan berlandaskan
pondasi langsung pada tanah yang telah disiapkan. Berikut
adalah diagram alir kegiatan pengolahan emas yang akan
dilakukan oleh PT. ABC.
b) Ore Crushing bertujuan untuk melakukan proses peremukan
material sesuai dengan ukuran yang diinginkan. Dalam unit ini
akan menghasilkan gaya-gaya dari material yang diremukan,
antara lain :
 Gaya tekan (compression). Gaya tekan dari alat peremuk
harus lebih besar dari kekuatan material, gaya tekan bisa
berasal dari satu permukaan atau pun dua permukaan. Alat
peremuk yang menggunakan gaya tekan untuk meremukkan
material adalah Jaw Crusher, Gyratory Crusher, dan Roll
Crusher.
 Gaya gesek (Attrition atau abrasion). Gesekan akan
mengakibatkan material remuk, gesekan bisa terjadi dari
media yang digunakan untuk meremuk atau dari sesama
material yang akan diremuk. Alat peremuk yang
menggunakan gaya ini adalah Ball Mill. Sizer Crusher
(Single Stage Double Roll Crusher) terdiri dari dua buah
silinder baja dan masing-masing dihubungkan pada poros
sendiri-sendiri. Silinder ini hanya satu saja yang berputar
dan lainnya dapat bergerak bebas, tetapi karena adanya
material yang masuk dan pengaruh silinder lainnya maka
silinder ini ikut berputar pula. Putaran masing-masing
silinder tersebut berlawanan arahnya sehingga material
yang ada di atas roll akan terjepit dan hancur.
Berikut adalah tahapan crushing yang dilakukan oleh PT.
ABC:
 Umpan Feed Bijih yang berasal dari tambang diangkut ke
pabrik pengolahan dengan menggunakan belt conveyor
dengan material ukuran terbesar adalah : 400 mm.
kemudian dimasukkan ke grizzly dengan settingan -400
mm, sehingga hanya bijih yang berukuran – 400 mm dapat
langsung lolos ke hopper, sedangkan bijih yang berukur
+400 mm harus direduksi ukurannya dengan menggunakan
rock breaker.
 Peremuk I (Primary crushing) Bijih yang berada dalam
hopper diumpankan dengan menggunakan feeder ke jaw
crusher yang mempunyai ukuran 250 x 400 mm dengan
setting 1¾ inchi ( 43,75 mm) dengan material terbesar yang
masuk ke dalam jaw crusher adalah 50 mm dan akan
menghasilkan bijih dengan ukuran -50 + 12,5 mm.
 Peremuk II (Secondary crushing) Secondary crushing yang
digunakandalam proses pengolahan ini adalah: cone
crusher, dengan setting ¼ inchi (6,25 mm). Material
diumpankan ke cone crusher dengan menggunakan feeder.
Pada secondary crushing ini akan menghasilkan bijih
dengan ukuran – 12,5 mm.
 Grizzlies, merupakan alat untuk memisahkan partikel
didasarkan atas perbedaan massa jenis emas (19,3
ton/m3 ) dengan massa jenis mineral lain dalam
batuan ( yang umumnya berkisar 2,6 hingga 2,8
ton/m3 ).
 Vibrating Screen, Spiral Classifier, merupakan alat
untuk memilah ukuran bijih hasil kominusi, sehingga
menyeragamkan besaran umpan (feeding size) ke
proses konsentrasi selanjutnya.
 Belt Conveyor, merupakan alat untuk proses
pengangkutan material atau konsentrat.
 Elektrolisis Tank, merupakan tangki yang digunakan
untuk proses elektrolisis, yaitu proses leaching berupa
carbon in leaching dan sianidasi. Tangki ini dibuat
dalam bentuk kerucut untuk memudahkan proses
pembongkaran dan beberapa proses pemasukan bahan
mixer.
 Agitator, merupakan alat untuk proses alat pengaduk
slurry atau lumpur yang telah diberi beberapa
campuran.
 Pompa Slurry, berfungsi membantu pengadukan
sehingga pencampuran dapat merata.
c) Pembangunan Kolam Pengendap (Settling Pond)
Kolam pengendap direncanakan akan dibangun di dekat unit
pengolahan dan pemurnian. Air hujan yang melewati tumpukan
bijih di stockpile bijih berpeluang untuk tercemar secara fisik
maupun kimiawi. Secara fisik, aliran air hujan yang melewati
tumpukan bijih di stockpile, akan membawa partikel-partikel
halus bijih, sehingga air tersebut nampak berwarna hitam.
Apabila aliran air ini masuk ke sungai, maka dapat
menimbulkan pencemaran secara fisik pada sungai. Secara
kimiawi, ada kemungkinan air hujan pada saat melewati
tumpukan bijih juga akan bereaksi unsur-unsur kimia yang
terkandung dalam mineralmineral yang berasosiasi dengan
bijih, seperti mineral pyrite. Reaksi kimia ini berupa proses
oksidasi yang dapat menjadikan air hujan menjadi bersifat
asam, seperti yang ditunjukkan pada reaksi di bawah ini :
2 FeS2 + 7 O2 + 2 H2O 2 FeSO4 + 2 H2SO4
Dengan adanya kolam pengendap, maka air buangan yang
keluar dari lokasi pengolahan bijih diendapkan partikel-partikel
pengotornya, sekaligus dinetralkan kembali dengan material
yang umum digunakan, yaitu kapur (lime). Adanya kolam
pengendap ini akan mengurangi dampak pencemaran
lingkungan yang disebabkan air dari lokasi pengolahan bijih.
Kolam pengendap juga digunakan untuk menampung tailing
proses sianidasi setelah dilakukan detoxification. Air dari
proses pengendapan tidak di buang ke perairan bebas (sungai)
tetapi disirkulasikan kembali ke proses pengolahan. Sedangkan
padatan atau slurry-nya secara periodik di keruk untuk
dikeringkan (dimampatkan), diangkut dan di timbun sebagai
tailing kering di Tailing Storage Facility (TSF). Direncanakan
kolam pengendap akan ditempatkan di bagian terendah dari
topografi yang ada di lokasi penimbunan bijih, dengan ukuran 3
x (25 m x 15 m x 4,0 m).
d) Pembangunan Tangki Penyimpanan Bahan Bakar (Fuel dump)
Bahan bakar hanya digunakan untuk tempat penampungan
sementara dan untuk kebutuhan peralatan permukaan dan
genset. Lokasi tangki bahan bakar dipilih yang dekat dengan
lokasi kerja alat, terlindungi dari bahaya petir, diberi atap,
lantai kedap air, dilengkapi dengan saluran pembuangan limbah
dan dipagari dengan kawat duri. Kapasitas tangki bahan bakar
dibuat untuk stok bahan bakar selama kira-kira kira 1 (satu)
minggu produksi. Jumlah tangki bahan bakar yang diperlukan
adalah sebanyak 2 (dua) buah tangki dengan kapasitas masing-
masing adalah 8.000 liter.
e) Pembangkit Listrik
Mengingat daerah tambang yang relative terpencil dan kurang
sumber tenaga listrik maka perlu dibangun sumber tenaga
listrik untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pengolahan dan
camp.
 Power Generation Generator terdiri dari tujuh buah
diessel caterpillar V16 (3516) dengan kapasitas, 4 unit
sebesar 1240 KVA dan 3 unit berkapasitas 1520 KVA.
Unit yang sedang operasi akan memasok listrik yang
dibutuhkan ke switchboard 6,6 KVA tiga fase 50 Hz
yang ditempatkan di powerhouse. Unit lainnya akan
tetap standby dan siap disinkronkan bila salah satu unit
ada masalah. Ruang kontrol dan switchgear dibangun
didalam powerhouse. Stationservices dipasok dari
transformer lokal dan 380 volt Motorcontrolcentres.
Powerhouse dilengkapi dengan sistem pemadam
kebakaran halide gas dan flashdetector.
 Plantsite Distribution Tenaga listrik dikirim dari
powerhouse ke ruang listrik di fasilitas pengolahan
dengan dua kabel yang dipendam. Masing-masing ini
berakhir ke 6,6 Kv Switchboards terdiri dari rangkaian
pengatur utama isolatingload-break dan fusedconttactor
untuk motor mill, kontrol dan proteksi transformer.
Transformer 6,6 KV-380 memasok 380 Volt Motor
control centres. Pengolahan dan peralatan servise
lainnya menerima listrik dari Motor Control Centre ini.
Transformer kecil juga disediakan dari Motor Control
Centre untuk penerangan dan keperluan listrik 220 Volt
lainnya. Network ground yang dipendam dipasang
dimana semua pembangkit listrik digunakan untuk
mencegah bahaya akibat kesalahan ground.
f) Mining Office
Sarana ini penting sebagai tempat tinggal para pekerja serta
proses dimana penyelenggaraan kegiatan pengumpulan,
pencatatan, pengolahan, penyimpanan, dan
penyampaian/pendistribusian data/informasi kegiatan
pertambangan berlangsung. Sarana air bersih dan kantin
disediakan dekat perumahan atau camp. Mining office akan
dilengkapi dengan sarana sanitasi seperti septic tank untuk
aktivitas Mandi Cuci Kakus (MCK). Mess karyawan.

2) Penerimaan Tenaga Kerja Pra penambangan


Dalam hal mendukung kegiatan operasional penambangan emas
oleh PT ABC maka perlu dilakukan proses rekrutmen tenaga kerja.
Tenaga yang dibutuhkan selama tahap persaiapan penambangan
mencapai 500 orang. Guna meminimalisir terjadinya konflik sosial
antara perusahaan dengan warga setempat maka menjadi penting untuk
membuka akses atau lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal. Di lain
sisi, faktanya kebutuhan tenaga kerja dan kualifikasi yang dibutuhkan
untuk kegiatan pertambangan seringkali tidak dapat dipenuhi dari
penduduk setempat. Sehingga dengan demikian untuk memenuhi
kebutuhan tersebut maka pihak perusahaan mendatangkan tenaga kerja
terampil dari luar daerah, yang pada akhirnya akan dapat memicu
terjadinya konflik sosial. Adapun proses penentuan jumlah tenaga
kerja didasarkan pada pertimbangan:
1. Alokasi personil manajemen dan supervisor untuk menangani
jadwal kerja di tiap bidang tugas.
2. Operator yang diperlukan untuk mengoperasikan tiap bagian
dari peralatan sesuai dengan jadwal.
3. Personil pemeliharaan/perawatan untuk merawat peralatan
tambang, memperbaiki peralatan sesuai dengan perkiraan
perawatan tahunan.
4. Personil layanan antara lain sebagai pengelolaan gudang,
petugas kebersihan dan buruh yang dialokasikan sesuai dengan
pekerjaan.
Jumlah tenaga kerja sebanyak 500 tenaga kerja yang terdiri dari 63
operator alat berat dan sisanya tenaga kerja bidang lainnya, termasuk
tenaga lokal. PT. ABC merencanakan jumlah tenaga kerja secara
keseluruhan. Jumlah tenaga kerja lokal diproyeksikan sebanyak 60%
dan 40% berasal dari luar daerah. Sistem kerja direncanakan adalah 7
hari/minggu, 2 shift/hari dan 11 jam/shift untuk tugas sebagai:
1. Penggalian/pengangkutan bijih emas
2. Penggalian/penimbunan tanah pucuk dan penutup
3. Peremukan bijih emas
4. Pengangkutan bijih emas dari stockpile ke terminal bijih emas
5. Pengapalan
6. Operasional di stockpile dan pelabuhan
7. Pemeliharaan/perawatan
8. Operasional camp
Di dalam pelaksanaan kegiatan operasi penambangan bijih emas,
direncanakan karyawan diberi kewajiban sebagai berikut;
1. Karyawan berkewajiban mentaati instruksi, perintah ataupun
peraturan yang dikeluarkan oleh perusahaan baik tertulis
maupun lisan.
2. Menjaga rahasia perusahaan selama dalam hubungan kerja dan
sesudah hubungan kerja berakhir.
3. Menyerahkan semua hasil penemuan atau penelitian yang
dilakukan selama masa hubungan kerja dengan perusahaan.
4.
3) Mobilisasi Alat Berat & Material
Mobilisasi peralatan berat dan material adalah kegiatan
pengangkutan atau transportasi peralatan-peralatan berat dan bahan
material untuk keperluan penambangan dan pengolahan emas ke lokasi
tapak proyek. Kegiatan ini memerlukan penanganan khusus mengingat
jalur transportasi dan kekuatan jalan ke lokasi penambangan sangat
terbatas. Mobilisasi peralatan dan material adalah kegiatan
pengangkutan atau transportasi peralatan-peralatan berat untuk
keperluan konstruksi, penambangan dan pengolahan emas ke lokasi
tapak proyek. Adapun pengelolaan lingkungan yang sudah
direncanakan sejak awal pada kegiatan mobilisasi peralatan yaitu:
 Akan mengelola dan memantau tingkat kebisingan yang
ditimbulkan dari kegiatan mobilissasi peralatan berat. Hal ini
berdasarkan pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.
48/MENLH/11/1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan.
 Akan mengelola kendaraan yang akan digunakan untuk
mengangkut barang. Hal ini berdasarkan pada Keputusan
Menteri Perhubungan No.30 Tahun 2002 Tentang Perubahan
Kepmen Perhubungan No. 69 Tahun 1993 tentang
Penyelenggaraan Angkutan Barang di Jalan.
Penentuan alat yang diperlukan disesuaikan dengan sasaran
produksi yang direncanakan yaitu 2.000.000 ton/tahun bijih emas dan
tembaga pit. Pemilihan jenis peralatan ditentukan oleh faktor-faktor
seperti kondisi lapangan dan jenis material yang akan digali. Jenis
alat-alat utama dan pendukung yang diperlukan adalah sebagai
berikut:
o Alat penambangan utama Sesuai dengan metode
penambangan, akan digunakan alat pemberaian (dengan
pemboran Atlas Copco RO CL 8 & peledakan) alat gali-muat
excavator EX1900 (backhoe-loader) untuk penggalian tanah
penutup dan bijih. Alat angkut yang digunakan dump truck
CAT 777F. Untuk mendukung operasi tersebut, alat bantu
yang digunakan adalah bulldozer CAT D9T yang berfungsi
sebagai alat pengupasan tanah penutup dan membantu
excavator mengumpulkan material hasil peledakan untuk
pemuatan ke alat angkut.
o Alat angkut utama dari tambang ke pengolahan dan dry tailing
Bijih dari tambang diangkut dengan dump truck ke lokasi
pengolahan untuk diolah. Hasil pengolahan tersebut akan
menghasilkan dry tailing yang nantinya akan ditempatkan pada
sebelah barat pit penambangan. Lebih lanjut lagi, untuk
mengetahui meningkatkan efektifitas dalam proses pekerjaan
tambang nantinya, maka akan digambarkan jenis, tipe dan
kapasitas pekerjaan alat berat sebagaimana yang terlihat pada
tabel berikut :
Tabel 1. Daftar Alat Angkut dan Kapasitasnya

Selain alat tersebut di atas juga diperlukan alat-alat pendukung


yang juga akan turut dimobilisasi ke lokasi proyek, yaitu sebagai
berikut:
 Motor grader : untuk pemeliharaan jalan tambang
 Mobil Crane : untuk penangnan service alat-alat yang
trouble
 Soil compactor : untuk pemeliharaan dan pemadatan jalan
tambang
 Service truck : untuk perbaikan alat-alat berat ditempatkan
 Fuel truck : untuk pasokan bahan bakar minyak
 Water truck : untuk menyiram jalan tambang dan tanaman
hasil pekerjaan reklamasi.

1.1.3. Tahap Penambangan


1. Rekutment tanaga kerja operasional tambang
Tenaga kerja yang dibutuhkan terbagi atas dua klasifikasi yaitu
tenaga kerja lokal dan tenaga kerja ekspatriat (asing). Perkiraan
jumlah tenaga kerja adalah sebanyak 1500 orang dengan 500 orang
tenaga kerja asing. Kebutuhan tenaga kerja dibagi menjadi beberapa
divisi, yaitu:
 Production : 500 orang
 Maintenance : 100 orang
 Services : 500 orang
 Material Handling : 350 orang
 Administration : 50 orang

2. Pembersihan lahan
Pembersihan lahan dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara
manual dengan menebang pohon yang berukuran besar dan mendorong
tanah dengan menggunakan bulldozer. Penyiapan lahan dilakukan
dengan meratakan lahan dan melakukan cut and fill. Pekerjaan cut and
fill dilakukan dengan menggunakan bulldozer dan backhoe untuk
mendapatkan topografi yang diinginkan serta perataan dan pemadatan
lahan sehingga lahan menjadi siap dibangun dan menggunakan dump
truck untuk pemindahan material dari aktifitas land clearing. Jenis dan
jumlah peralatan berat yang dipergunakan pada waktu pekerjaan
pembersihan dan penyiapan lahan adalah sebagai berikut:
 Bulldozer : 30 unit
 Backhoe : 20 unit
 Compactor : 10 unit
 Dump truck : 300 unit

3. Pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup
Untuk menunjang kegiatan ini digunakan alat bulldozer. Hasil
pengupasan tanah penutup ini kemudian dimuat dengan alat
wheelloader dan diangkut dengan Dump truck untuk ditimbun di daerah
yang tidak dilakukan penambangan. Sistem penambangan yang
digunakan adalah sistem tambang terbuka dengan pembuatan area
waste dump diwilayah yang telah ditentukan. Lapisan tanah penutup
akan dikembalikan setelah ore diambil untuk diolah.
4. Penambangan
Untuk mempermudah proses penambangan maka dilakukan proses
pemberaian batuan dengan pemboran dan peledakan terlebih dahulu.
Kegiatan ini merupakan aktifitas pemberaian batuan untuk
memudahkan penggalian dan pembawaan batuan dalam target produksi
penambangan. Pelaksanaan kegiatan pemboran di pit menggunakan alat
Drill Atlas Copco ROC L8. Aksesori peledakan yang digunakan adalah
Ammonium Nitrat (ANFO) atau Powergel, Nonel cord, detonator,
stems dan clips. Semua bahan tersebut digunakan untuk menyambung
dan memulai peledakan dikawasan yang akan di bongkar. Peledakan
yang memakai lubang bor vertikal atau hampir vertikal, seperti Gambar
6.16. Lubang bor diatur dalam satu atau beberapa deretan, sejajar atau
ke arah bidang bebas (freeface) & lubang tembak dapat mempunyai
"freebreakage" ataupun "fixedbottom". Aksesori peledakan yang
digunakan adalah Ammonium Nitrat (ANFO) atau Powergel, Nonel
cord, detonator, stems dan clips. Pola Peledakan untuk memperoleh
smooth blasting dapat diterapkan di PT ABC dimana langkah utama
dilakukan pengontrolan peledakan (controlled blasting) dengan sistem
presplitting (kontrol peledakan yang termasuk dalam precutting).
Sistem ini dilakukan dengan membuat lubang bor yang berfungsi
sebagai precutting. Dalam proses peledakan lubang bor ini tidak diisi
bahan ledak dan diharapkan lubang bor ini dapat mengotrol kekuatan
ledak dengan dijadikan sebagai free face semu, sehingga pola pecahnya
batuan akan dapat dikontrol walaupun menggunakan volume bahan
ledak yang sedikit.

5. Pengangkutan
Untuk mendukung tercapainya target produksi tambang bijih emas
tembaga yang telah ditetapkan oleh PT ABC sebesar maksimal
2.000.000 ton/tahun pada lokasi Mining Area maka diperlukan sistem
dan sarana transportasi yang memadai, untuk itu perlu direncanakan
dengan baik. Oleh karena itu kajian transportasi bijih menjadi aspek
vital bagi kelancaran pengangkutan bijih dan overburden. Bijih,
overburden, tailing dari tambang Pit dan lokasi pengolahan diangkut
dengan dump truck CAT 777F ke lokasi pengolahan, lokasi
penempatan waste dump dan lokasi penempatan dry tailing. Distribusi
persebaran panjang jalan dari pintu masuk lokasi penambangan (pit)
menuju front penambangan, dari tahun ke tahun semakin meningkat.
Hal ini dikarenakan semakin turunnya elevasi pit bottom akan
menambah kemiringan jalan, sehingga untuk menyesuaikan grade jalan,
jalan tambang harus mengelilingi pit supaya didapatkan grade jalan
yang memadai dengan kondisi alat. Tabel panjang jalan yang berada di
dalam pit i sebagai berikut: Dengan rencana produksi pertahun sesuai
besarnya cadangan berdasarkan hasil perhitungan yaitu sebesar
16.830.000 Ton Ore selama 10 tahun. Kelancaran target produksi per
tahun tergantung pada pengangkutan bijih emas dan tembaga melalui
jalan darat dengan alat angkut dump truck. Adapun jenis pengangkutan
yang akan ditempuh dalam kegiatan penambangan di PT ABC meliputi:
 Jalur pengangkutan lapisan penutup dari daerah penambangan
(ROM) di Pit ke lokasi waste dump yang terletak di sebelah
selatan dengan jarak sekitar 1,7 km.
 Bijih dari tambang diangkut ke unit pengolahan (mill and
gravity CIL plant) yang jaraknya kurang lebih hanya 0,4 km.
 Bijih yang telah dilakukan pengolahan menghasilkan dry tailing,
material dry tailing tersebut diangkut menggunakan dump truck
dan ditempatkan di sebelah barat lokasi pit penambangan
dengan jarak 2,5 km.
 Kegiatan penambangan yang dilakukan oleh PT ABC tersebut
akan mengolah bijih emas dan tembaga sampai proses
mendapatkan dore bullion, sehingga setelah mendapatkan dore
bullion tersebut maka proses selanjutnya adalah pemurnian yang
nantinya akan bekerjasama dengan pihak lainnya.
Jalan pengangkutan penambangan bijih emas dan tembaga yaitu jalan
utama tambang, dibangun dengan ukuran lebar 25 meter dan kemiringan
maksimum 10 %. Fungsi utama jalan angkut dalam kegiatan
pertambangan adalah untuk menunjang kelancaran operasi tambang,
terutama kegiatan pengangkutan. Dalam rangka penggunaan jalan
angkut, ada beberapa geometri yang perlu diperhatikan dan dipenuhi
supaya tidak menimbulkan gangguan dan hambatan yang dapat
mempengaruhi produksi pengangkutan.

6. Pengolahan Emas
a. Pengolahan Bijih
Tahapan pengolahan bijih emas mempunyai ruang lingkup proses
sebagai berikut :
a) Primary dan Secondary Crushing
Crushing Unit, broken ore dari tambang berukuran –400 mm
akan dipecah dalam 2 tahap ( Primary Crushing & Secondary
Crushing ) pemecahan sampai diperoleh ukuran material – 12,5
mm. Umpan ( Feed ) bijih yang berasal dari tambang diangkut
ke pabrik pengolahan dengan menggunakan truck dengan
material ukuran terbesar adalah : 400 mm. Kemudian
dimasukkan ke grizzly dengan setting - 400 mm, sehingga hanya
bijih yang berukuran – 400 mm dapat langsung lolos ke hooper,
sedangkan bijih yang berukur + 400 mm harus direduksi
ukurannya dengan menggunakan rock breaker.
 Peremuk I ( Primary crushing )
Bijih yang berada dalam hopper diumpankan dengan
menggunakan feeder ke jaw crusher yang mempunyai
ukuran 250 x 400 mm dengan setting 1¾ inchi ( 43,75
mm) dengan material terbesar yang masuk ke dalam jaw
cr usher adalah 50 mm dan akan menghasilkan bijih
dengan ukuran - 50 + 12,5 mm.
 Peremuk II ( Secondary crushing )
Secondary crushing yang digunakan dalam proses
pengolahan ini adalah: cone crusher , dengan setting ¼
inchi (6,25 mm). Material diumpankan ke cone crusher
dengan menggunakan feeder . Pada secondary crushing
ini akan menghasilkan bijih dengan ukuran – 12,5 mm.

b) Grinding and classification


Milling Unit, dengan menggunakan Belt Conveyor, bijih dari
crushing unit dimasukkan ke Ball Mill dengan kapasitas 32,7
Ton kering/jam. Bijih berukuran -12,5 mm (yang berasal dari
unit crushing ) dengan pengumpan giling (mill feeder) dengan
size 1.224 (1.200 mm x 2.400 mm) yang mempunyai kapasitas
maksimum 11,1 ton/jam. Produk milling ini 80 % berupa
lumpur halus berukuran -200# (74 μm). Sebelum umpan masuk
ke tanki sianidasi, Ball Mill ditambahkan CaO (kapur) yang
berfungsi sebagai pengatur pH untuk mempercepat reaksi
sianidasi. Jumlah kapur yang ditambahkan sekitar 9,8 kg/ton
bijih, sehingga pH larutan dapat mencapai 11-12. Sedangkan
kebutuhan air dalam pengolahan bijih emas dengan 40% solid
sebanyak 1,5 m³ untuk per ton bijih. Produk yang dihasilkan
mengalami kehilangan sebesar 5%, dimana kehilangan
berlangsung sejak proses peremukan; baik peremukan I maupun
peremukan II dan proses penggilingan (grinding).

c) Proses Konsentrasi
Proses konsentrasi dengan menggunakan Falcon Concentrator
dengan menerapkan kombinasi prinsip gaya sentrifugal dan gaya
berat mineral (gravitasi) sangat cocok untuk jenis mineral
tembaga dan emas sesuai dengan Gravity Separation Chart .
Alat ini mampu mengolah hingga 400 ton per jam. Recovery
dari proses konsentrasi ini sebesar 40%. Sedangkan tailingnya
akan diletakkan pada stockpile untuk dilakukan proses CIL
apabila memungkinkan.
d) Pengentalan Slurry
Pengentalan ditujukan untuk mengatur persen padatan agar
kapasitas pabrik dan reaksi yang terjadi pada proses sianidasi
berlangsung optimum. Proses pengendapan atau pengentalan
terjadi dengan cara sedimentasi dimana butiran yang lebih kasar
dan berat akan mengendap lebih cepat dari pada butiran yang
lebih halus. Pengendapan butiran yang lebih halus dapat
dipercepat lagi dengan cara menambahkan bahan kimia organik
yang disebut dengan flokulan. Flokulan dibuat dari bahan rantai
polimer organik yang berfungsi sebagai perekat antara butiran-
butiran yang membentuk gumpalan yang lebih besar sehingga
dapat mengendap lebih cepat. Umpan dimasukkan melalui
kolom dibagian tengah, selanjutnya butiran padat mengendap ke
bagian dasar yang dibentuk miring ke arah pusat silinder.
Endapan diaduk dengan pengaduk ( agitator ) yang bergerak
pelan (satu putaran dalam waktu 15 menit) menuju kerucut di
bagian bawah pusat tangki pengendap (thickener).

b. Proses Ekstraksi Emas


Sianidasi emas biasanya diterapkan pada konsentrasi yang sangat
rendah dalam bijih yang kadarnya kurang dari 10 g/t atau 0,001%
(basis massa). Pada kasus seperti ini penggunaan proses ekstraksi
kimia air (hydrometalurgi) akan lebih efektif. Proses pengambilan
bijih emas menggunakan standart proses Carbon In leach (CIL) yang
diikuti dengan proses elution dan proses electro winning.
a) Sianidasi
Emas adalah salah satu logam mulia dan karena itu tidak larut
dalam air. Bahan kimia Natrium Sianida (NaCN) mampu
menstabilkan emas dalam larutan. Lumpur slurryproduk Ball
Milldengan persen padatan 40 % disianidasi dengan total waktu
tinggal selama 15 jam perlu diinjeksikan NaCN dengan kadar
0.13% dengan jumlah sekitar 1,35 – 1,45 kg/ton bijih, dilarutkan
dalam 2 buah tangki dengan reaksi sebagai berikut :
4Au + 8NaCN + O2 + 2H2O 4NaAu(CN)2 + 4NaOH
Pompa yang mengontrol laju alir mengatur kandungan padatan
pada pulp berkisar antara 44-48 % mengalirkan pulp masuk ke
dalam tangki pelarutan. Penambahan udara untuk agitasi dan
oksigen agar sianidasi berlangsung baik. Laju alir konsumsi
udara pada tangki pelarutan selalu dikontrol agar kandungan
oksigen larutan sesuai dengan kebutuhan untuk reaksi pelarutan
emas. Dengan demikian reaksi pelarutan dapat berlangsung
secepat mungkin. Sedangkan agitasi yang dilakukan adalah
untuk membantu agar cukup terjadi pengadukan. Pengontrolan
terhadap keenceran pulp merupakan suatu hal yang sangat
penting. Apabila tingkat kekentalan slury terlalu tinggi maka
akan menghambat pertukaran massa dari pelarut dan produk dan
mengakibatkan terhambatnya proses pelarutan, selain itu juga
menyebabkan terjadinya kehilangan emas yang banyak.
Sebaliknya apabila slury terlalu encer berarti waktu tinggal di
dalam tangki pelarutan berkurang akibatnya proses pelarutan
tidak sempurna.

b) Leaching and Carbon in Leach ( CIL )


Emas dan perak yang telah mengalami proses sianidasi dialirkan
ke tangki CIL. Emas akan ditangkap oleh carbon aktif yang
ditambahkan pada tangki Carbon In Leach (CIL) dimana tangki
CIL memiliki diameter tangki sebesar 4,67 meter. Kondisi
optimum dari pross pelarutan ini ada pada pH 10,5 untuk
mencapai pH tersebut ditambahkan kapur. Kemudian terhadap
pulp dilakukan proses adsorbsi oleh karbon aktif selama kurang
lebih 32,5 jam untuk menyerap emas dari larutan. Karbon yang
sudah jenuh menyerap larutan emas di CIL, dipompakan ke
Elution Column untuk melepaskan emas dalam karbon kembali
ke phase larutan. Emas dalam larutan ini dengan proses
electrowinning akan terdeposisi ke kawat katode. Serbuk yang
menempel tersebut kemudian dilebur dan menghasilkan Dore
Bullion. Proses Adsorbsi dengan karbon aktif sebagai berikut:
 pemuatan (loading) karbon
C-OH + Au(CN)2- C-Au(CN)2 + OH-
 pelucutan (stripping) karbon = PROSES ELUSI
(elution)
C-Au(CN)2 + OH- C-OH + Au(CN)2-
Larutan hasil proses elusi = Eluate
Setelah proses pelarutan di atas berlangsung dibutuhkan
pemisahan larutan kaya dari residu yang berupa padatan.
Limbah unit sianidasi dan carbon in leach kemudian diendapkan
oleh dua buah tangki pemekat ( thickener ) yang berdiameter
20,51 meter untuk meningkatkan persen padatan dan mengambil
kembali sianida. Aliran bawah dari pemekat kemudian
dipompakan ke siklon pengisi untuk pemisahan material yang
berukuran > 10 mikron untuk digunakan sebagai material
pengisi. Tempat penambahan kapur akan disediakan mengingat
tambahan kapur mungkin diperlukan untuk tercapainya PH yang
sesuai. Coalgulant , terdiri dari 10% alum slurry mungkin
diberikan ke thickener over flow tank di atas clarification bila
diperlukan. Operasi thickening akan menghasilkan sekitar 90%
logam mulia ke thich kener over flow untuk dilakukan
pengolahan di Electrowinning Circuit . Fasilitas untuk
melanjutkan proses sebagian leached pulp langsung ke CIL
circuit dilakukan untuk mengatasi masalah (seperti settling yang
lambat dan clarify yang jelek.
c) Thickening
Produk dari unit leaching akan mengalir secara gravitasi ke
thickener berdiameter 18 m. Uji thickening perlu dilakukan
untuk mengetahui tingkat pengendapan. Selain itu juga perlu
dilakukan uji lanjutan yang dilakukan di laboratorium oleh
pabrik floculant. Uji ini untuk mengetahui efek dari parameter
berikut dalam hal settlingrate dan supermatantclarify:
 Tipe flocculant dan tingkat penambahannya.
 Tipe coagulant dan tingkat penambahannya
 Densitas thickener feed slurry pulp
 Limedosage (PH)
 Penghapusan viskositas caustic dan penggantiannya
oleh lime.
Berdasarkan studi literatur hasil uji tersebut adalah:
 Reagen sintetik seperti magnafloc 156 adalah flocculant
paling cocok. Konsumsi diharapkan antara 25-50 g/t
 Coagulant telah di test termasuk bentonit, alum dan
anionicpolymer. Dari semua itu, alum dengan
konsentrasi 75 mm di clarifierfeed memberikan hasil
yang paling baik, menghasilkan nilai suspended solid 50
ppm atau lebih kecil
 Dilusi dari slurry ke 10-15% diperlukan
 Setling rate paling baik dan clarities didapat pada PH 11-
11,6
Test settling konvensional berikut, test lanjutan dilakukan untuk
mengetahui thickening derajat tinggi. Test ini meyakinkan
bahwa hasilnya memuaskan (settling rate melebihi 20 m/h, 50-
55% solids berada di underflow, kurang dari 200 ppm dari
suspended solid dalam overflow) dapat dicapai dengan feed
dilution menjadi 10% solid dan penambahan 40-50 g/t
flocculant. Persyaratan daerah settling dihitung sebesar
0,65t/m3/h. Thickener yang telah dipilih dari studi ini adalah
tipe high rate thickener berdiameter 18 meter dengan sistem auto
dilution. Wash feed dilution dicapai dengan penambahan meril -
Crowebarren solution ke thickener feed box.
d) Elution dan Reactivation
Sistem Anglo American Research Laboratory (AARL)
digunakan untuk elut ion. Loaded carbon akan dipompa dari
CIL contractor No 1 ke screen loaded carbon. Carbon kemudian
akan dialirkan ke salah satu dari dua columnelution berbahan
stainlesss tell . Acid washing dan elution akan dilakukan pada
column yang sama. Proses elution akan dimonitor dan dikontrol
dengan Program able Logi Controller (PLC). Cycleelution
terdiri dari acid wash dan pembilasan dengan air, diikuti dengan
tahap pre-soak dengan satu bed volume larutan panas caustic
cyanide dari tangki elution berkapasitas 20 m3. Kemudian
diikuti dengan elution menggunakan air panas dari tangki air
berkapasitas 50 m3 lalu dibilas dengan air dingin pada akhir dari
proses siklus elution. Eluted carbon akan dikirim ke column
memakai air unit carbon regeneration. Tanur regenerasi adalah
tipe horizontal rotary. Karbon yang telah diregenerasi dipompa
dari quenchtank ke regeneration carbon screen dan kemudian
secara gravitasi ke CIL contractor terakhir. Total waktu untuk
satu siklus komplit, termasuk transfer eluted carbon adalah 8-10
jam. Elution akan dilakukan pada temperatur 125oC dan
flowrate dua bed volume per hari. Pregnant eluted bergabung
larutan clarified thickener overflow ke zick precipitation.
e) Gold Room (Clarification, precipitation, dan smelting)
Overflow dari thickener akan dipompa ke Primary hopper
clarrifier. Coagulant ditambahkan ke tangki thickener overflow
bila diperlukan sehingga pompa thickener overflow dapat
menghasilkan campuran turbulen di atas clarifier . Flocculant
ditambahkan lagi ke classifier feed bila diperlukan. Hopper
classifier didesain berdasarkan program uji spesifik dibuat untuk
unit ini. Peningkatan kecepatan tidak lebih dari 4 m/detik. Unit
ini telah menunjukkan sukses yang baik sepanjang masa operasi
sebelumnya dan menghasilkan produk overflow mengandung
<50 ppm suspended solid. Mengingat kemungkinan muculnya
masalah dengan supernatant clarify dalam settling test, dua
tahap sirkuit classification. Clarification tahap ke dua diperlukan
untuk mengurangi suspended solid kurang dari 10 ppm. Unit
dibangun untuk keperluan ini adalah dua pressure filter
horiziontal dengan vertical filter leaves. Unit ini dipasok
lengkap dengan precoat dan body feed tank, agitator dan pompa.
Sirkuit deaeration dan electro winning menggunakan sirkuit
konvensional electro winning. Dua crucible furnace akan
digunakan untuk smelting pada temperature mencapai 1200oC.
Tiap furnace mempunyai kapasitas 240 liter. Waktu smelting
sekitar empat jam dan umur crucible sampai 4 bulan. Proses
detoxification cyanide yang dibangun adalah Inco Air/S02
system.
 Grinding
Hasil uji Uniaxial Compressive Strength (UCS) bijih dari
sleman diklasifikasikan sebagai material keras dan sifat
ini digunakan saat memilih peralatan kominusi.
Penelitian selanjutnya mencakup penentuan berikut:
o Abrasion Index (Ai)
o Bond Crushing Work Index (BCWi)
o Bond Ball Milling Work Index (BWi)
Berdasarkan uji UCS menyimpulkan bahwa material
bijih cocok menggunakan Ball Mill untuk menghasilkan
produk berukuran 80% lewat 75 micron, tetapi bijih
tertentu perlu grinding lebih halus.
 Gravity
Konsentrasi Gravity menunjukkan bahwa liberasi emas
di fraksi kasar > 0.075 mm kecil, sehingga recovery
antara 24 sampai 36%, sedangkan recovery emas di
fraksi halus adalah 71%. Recovery secara keseluruhan
hampir 51% dari 1,8% berat. Hasil penyelidikan
menunjukkan perolehan sianidasi langsung dengan hasil
recovery yang terbalik dengan cara gravity. Hal ini
mungkin disebabkan emas terikat pada logam sulfida.
Untuk memastikan kandungan emas pada konsentrat
dilakukan pengujian secara cepat menggunakan cara
amalgamasi, dan menghasilkan recovery lebih dari 90%
emas.
 Viscosity
Slurries dari bijih sleman relatif mempunyai viskositas
tinggi. Uji coba untuk mengetahui efek dari
viscositymodifier, coustic dan lime serta slurrydilution
pada pulpviscosity perlu dilakukan. Namun beberapa
studi menyimpulkan tingkat viskositas (untuk milling ,
classification, agitation dan screening) dapat dicapai
dengan kombinasi dari penambahan lime dan
pulpdilluiton.
 Leaching
Serangkaian uji secara komprehensif atas contoh
komposit dari sleman menunjukan terdapat perbedaan
yang signifikan dissolusi Au dan Ag pada ukuran >
0,075 mm dan < 0,075 mm. Hasil uji menunjukkan
recovery fraksi halus mencapai 83 % dapat dioptimasi
menjadi 90 %. Bijih bersifat sulfidis sehingga perlu
dipertimbangkan dilakukan roasting dan penambahan
oksigen akan bermanfaat. Waktu leaching juga perlu
diteliti lebih lanjut namun mendasarkan studi
penambahan waktu leaching dari 24 jam ke 48 jam
menghasilkan peningkatan dissolution Au 2% dan Ag
10%, sehingga waktu 48 jam dipilih. Konsumsi reagent
diperkirakan 2,1 kg/t cyanide dan 1,5 kg/t lime .
 CIL
Carbon adsorpsion kinetic (nilai k dan n) perlu
ditentukan agar diketahui apakah nilai k dan n cocok
untuk adsorption Au dan Ag secara memuaskan.
 Setling
Kebanyakan contoh yang dilakukan uji/test
menghasilkan derajat pengendapan yang baik tetapi
supermatant solution clarify sering jelek. Ini diatasi
dengan menggunakan PH yang tinggi, peningkatan
floculant, penghilangan viscosity modifier dan mengatur
thickener feed dilution sampai 10% solid. Supermatant
dicirikan mengandung 100-200 ppm suspended,
finesolid menunjukan dan meyakinkan perlunya 2 tahap
clarification sirkuit. Uji/test atas supermatant liquor
menunjukan bahwa beberapa jenis coagulant dapat
digunakan untuk mengurangi tingkat suspended solid
sampai sekitar 50 ppm. Alum adalah coagulant yang
paling efektif.

1.1.4. Tahap Pasca Tambang


1) Reklamasi
Pada akhir kegiatan penambangan emas, diharapkan tingkat
keberhasilan reklamasi dan revegetasi lahan sesuai dengan desain yang
telah direncanakan sehingga akan membentuk morfologi yang
mendekati rona awal. Pada tahap pasca penambangan, nantinya yang
akan diperhatikan adalah perawatan vegetasi dan pengembalian lahan.
Kegiatan ini mencakup penataan permukaan tanah, penebaran tanah
pucuk. Dalam pelaksanaan kegiatan penutupan tambang, Perusahaan
akan menempatkan staff pelaksana kegiatan yang berasal dari Divisi
Lingkungan Hidup. Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan
memperbaiki atau menata ulang kegunaan lahan yang terganggu
sebagai akibat usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya
guna sesuai dengan peruntukan. Kegiatan reklamasi yang akan
dilakukan merupakan kegiatan yang terus menerus dan berlanjut
sepanjang umur tambang, bahkan hingga pasca tambang (reklamasi
progresif). Kegiatan dalam reklamasi yaitu:
o Perbaikan bentang alam (Landscaping)
Setelah proses pembongkaran berakhir makan seluruh
bangunan termasuk infrastruktur tambang termasuk fasilitas
penyimpanan limbah serta material buangan maka permukaan
tanahnya akan disesuaikan dengan pembentukan bentang alam
mendekati bentuk alamiah dan menghasilkan kontur mirip
dengan lingkungan yang ada untuk memfasilitasi pengeringan
alami dan menyediakan kompatibilitas estetika serta persiapan
dilakukannya reklamasi.
o Penyebaran Tanah Penutup
Tanah yang telah diperbaiki kontur permukaan dan bentang
alamnya akan ditimbun dengan tanah penutup yang
ditempatkan sebelumnya dengan komposisi yang baik sehingga
memungkinkan untuk dilakukan proses penanaman kembali
dengan tanaman terpilih yang sudah disesuaikan dengan
lingkungan setempat.
o Pencegahan Erosi dan Sedimentasi
Pencegahan erosi akan dilakukan untuk meminimalkan dampak
dari air permukaan yang melewatinya. Pencegahan erosi ini
meliputi pembentukan bentuk bentang alam permukaan yang
baik seperti penerapan sistim terasering, pembuatan saluran
pengaliran air yang baik, penanaman dengan tanaman yang
sudah ditentukan dan disesuaikan dengan lingkungan sekitar.
o Revegetasi
Revegetasi memiliki peran penting dalam pencapaian target
reklamasi lahan yang sukses. Pekerjaan akan mencakup
penelitian nutrisi tanaman dan kondisi tanah, pengumpulan,
penyimpanan, penanaman, dan pemeliharaan benih.
Keterlibatan masyarakat lokal dalam menyediakan benih untuk
kegiatan revegetasi juga dianggap komponen penting dari
upaya rehabilitasi. Reklamasi akan dilakukan setelah kegiatan
berikut selesai: (1) seluruh beton fondasi telah dibongkar; (2)
struktur baja dan pelat baja telah dibongkar dan material
dipindahkan; (3) semua mesin dan pembangkit listrik, peralatan
dan materialdarilokasi tambangtelah dipindahkan; (4) Telah
dilakukan perbaikan bentang alam, penutupan tanah penutup
dan pembuatan saluran air dan terasering; dan (5) jenis
tanaman yang akan dipakai untuk reklamasi akan diutamakan
tanaman yang sudah sesuai dengan kondisi alam setempat.
o Jalan Akses
Sebuah keputusan tentang kondisi akhir dari penutupan jalan
utama akan dilakukan setelah berkonsultasi dengan Pemerintah
Daerah dan masyarakat lokal dan disesuaikan dengan rencana
reklamasi dan penutupan sesuai yang disyaratkan dalam
peraturan.
o Lahan bekas Tambang
Lahan bekas tambang akan berupa cekungan dan bisa
dipergunakan sebagai tandon air sehingga bisa menyimpan air
saat musim hujan dan menjadi sumber air saat musim kemarau.
Lahan disekitarnya akan dilakukan perbaikan bentang alamnya
dan direhabilitasi serta direklamasi kembali.
o Rehabilitasi di Lokasi Penempatan Tanah penutup dan tailing
Rehabilitasi pada lahan tempat penempatan tanah penutup akan
dilakukan dengan perlakuan rehabilitasi tanah yang standar
seperti perbaikan bentang alam, penempatan tanah penutup dan
reklamasi. Dalam rencana tambang, limbah yang telah diproses
detoksifikasi sehing merupakan limbah yang tidak berbahaya
akan ditempatkan dengan sistim penempatan tailing kering
dimana limbah tersebut akan dikurangi kadar airnya dan
ditempatkan dilokasi penempatan. Karena sistim penempatan
tailing kering yang lebih fleksibel, maka proses penempatannya
bisa diatur sedemikian rupa sehingga proses rehabilitasi dan
reklamasi akan bisa dilakukan secara lebih mudah dan
kemajuan reklamasi bisa dilihat setiap tahun berjalan. Saat
penutupan tambang diharapkan tahap akhir rehabilitasi akan
bisa diselesaikan.

2) Demobilisasi Alat
Pada tahap ini peralatan berat yang digunakan dalam semua tahap
kegiatan akan dikembalikan (demobilisasi) ke tempat semula dimana
alat berasal. Dalam hal ini kegiatan demobilisasi peralatan memiliki
dampak yang tidak jauh berbeda dengan dampak yang dihasilkan pada
tahap mobilisasi alat berat pada tahap-tahap sebelumnya. Pada saat
kegiatan penambangan telah selesai beroperasi, maka akan dilakukan
demobilisasi peralatan. Demobilisasi peralatan dilakukan dengan
menarik/ memindahkan semua peralatan yang telah dipergunakan ke
tempat penyewaannya / penyimpanannya.

3) Pelepasan Tenaga Kerja


Pelepasan tenaga kerja yang dimaksud dalam hal ini yaitu terkait
dengan berakhirnya proses tambang. Dengan telah habisnya cadangan
emas, maka pelepasan tenaga kerja akan dilakukan oleh PT ABC
sesuai peraturan yang berlaku yang telah ditetapkan oleh Dinas Sosial,
Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dampak lingkungan dari kegiatan
pelepasan tenaga kerja adalah terjadinya penurunan kesempatan kerja
yang ada sehingga terjadi pengangguran dan penurunan pendapatan
masyarakat. Selain itu kegiatan ini juga berpotensi menimbulkan
dampak terjadinya konflik sosial yang berkembang menjadi gangguan
terhadap Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (kamtibmas).
1.2. Ringkasan Dampak Penting Hipotetik Yang Ditelaah/Dikaji
Identifikasi dampak potensial dapat menghasilkan dampak penting hipotetik
yang nantinya dikaji lebih mendalam dan komprehensif dalam Dokumen Analisis
Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) dan dilanjutkan dalam Dokumen Rencana
Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL-RPL) sebagai hasil
lanjutan dari bentuk arahan pengelolaan dan pemantauan dari dokumen Andal.
Identifikasi dampak potensial dimaksudkan untuk menduga semua dampak yang
berpotensi terjadi jika rencana kegiatan dilaksanakan. Proses identifikasi dampak
potensial dilakukan dengan mendasarkan pada interaksi antara diskripsi rencana
kegiatan dengan kondisi rona lingkungan hidup awal. Proses identifikasi dampak
dilakukan dengan metode matriks.
Tahapan rencana kegiatan Penambangan Emas Gunung Purba Ijo Di Kulon
Progo meliputi tahap pra konstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi.
Dengan melingkupi setiap jenis dalam tahapan rencana kegiatan serta identifikasi
rona lingkungan hidup awal yang mencakup komponen geofisik-kimia, biologi,
sosial-ekonomi dan budaya, dan kesehatan masyarakat, maka dilakukan
identifikasi dampak lingkungan dengan diperkirakan potensial akan terjadi akibat
kegiatan tersebut.
Pengkajian dilakukan atas dasar diskusi tim penyusun, narasumber, dan
pemrakarsa dengan mempertimbangkan masukan-masukan dari konsultasi publik
serta hasil orientasi lapangan. Identifikasi dampak potensial yang diperkirakan
muncul terhadap komponen lingkungan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Tahap pra konstruksi
Pada tahap pra konstruksi dilakukan kegiatan sosialisasi dan pembebasan
lahan.
1. Sosialisasi
Sosialisasi dapat menimbulkan dampak seperti berikut:
 Terganggunya proses sosial atau konflik
 Munculnya persepsi dan sikap masyarakat
2. Pembebasan lahan
Pembebasan lahan dapat berdampak sebagai berikut:
 Munculnya kesempatan kerja
 Peningkatan pendapatan masyarakat
 Penurunan kualitas udara
 Peningkatan kebisingan
 Peningkatan laju erosi dan sedimentasi
 Penurunan populasi vegetasi
 Terganggunya habitat satwa liar

b. Tahap konstruksi
Tahap konstruksi meliputi pembangunan sarana dan prasarana, penerimaan
tenaga kerja pra penambangan, dan mobilisasi alat berat dan material.
1. Pembangunan sarana dan prasarana
Kegiatan ini akan menimbulkan dampak potensial sebagai berikut:
 Penurunan kualitas udara
 Peningkatan kebisisngan
 Peningkatan getaran
 Penurunan kuantitas air tanah
 Timbulan limbah padat
 Timbulan limbah B3
 Penurunan kualitas air sungai
 Gangguan kesehatan mayarakat
2. Penerimaan tenaga kerja pra penambangan
Kegiatan ini akan menimbulkan dampak potensial sebagai berikut:
 Munculnya kesempatan kerja
 Pendapatan masyarakat meningkat
 Terganggunya proses sosial atau konflik
 Munculnya persepsi dan sikap masyarakat
3. Mobilisasi alat berat dan material
Kegiatan ini akan menimbulkan dampak potensial sebagai berikut:
 Penurunan kualitas udara
 Peningkatan kebisingan
 Peningkatan getaran
 Terganggunya lalu lintas

c. Tahap operasi
Pada tahapan ini terjadi kegiatan rekutment tenaga kerja operasional tambang,
pembersihan lahan, pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup,
penambangan, pengangkutan, dan pengolahan emas.
1. Rekutment tenaga kerja operasional tambang
Kegiatan ini akan menimbulkan dampak potensial sebagai berikut:
 Munculnya kesempatan kerja
 Pendapatan masyarakat meningkat
 Terganggunya proses sosial atau konflik
 Munculnya persepsi dan sikap masyarakat
2. Pembersihan lahan
Pembersihan lahan dapat berdampak sebagai berikut:
 Penurunan kualitas udara
 Peningkatan kebisingan
 Peningkatan laju erosi dan sedimentasi
 Peningkatan getaran
 Gangguan kesehatan masyarakat
 Terganggunya proses sosial atau konflik
 Munculnya persepsi dan sikap masyarakat
3. Pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup
Kegiatan ini dapat berdampak sebagai berikut:
 Penurunan kualitas udara
 Peningkatan kebisingan
 Peningkatan laju erosi dan sedimentasi
 Peningkatan getaran
 Gangguan kesehatan masyarakat
 Terganggunya proses sosial atau konflik
 Munculnya persepsi dan sikap masyarakat
 Penurunan kualitas air tanah
 Penurunan kualitas air sungai
4. Penambangan
Kegiatan ini dapat berdampak sebagai berikut:
 Penurunan kualitas udara
 Peningkatan kebisingan
 Peningkatan laju erosi dan sedimentasi
 Peningkatan getaran
 Gangguan kesehatan masyarakat
 Terganggunya proses sosial atau konflik
 Munculnya persepsi dan sikap masyarakat
 Penurunan kualitas air tanah
 Penurunan kualitas air sungai
 Penurunan kualitas tanah
 Adanya limbah B3
5. Pengangkutan
Kegiatan ini dapat berdampak sebagai berikut:
 Penurunan kualitas udara
 Peningkatan kebisingan
 Peningkatan getaran
 Gangguan kesehatan masyarakat
 Gangguan kelancaran lalu lintas
6. Pengolahan emas
Kegiatan ini dapat berdampak sebagai berikut:
 Peningkatan kebisingan
 Peningkatan getaran
 Adanya limbah B3
 Adanya limbah padat
 Adanya limbah cair
 Penurunan kualitas air permukaan (run off)
 Penurunan kualitas air tanah
 Penurunan kualitas tanah
d. Tahap pasca operasi
Pada tahap ini terdapat kegiatan diantaranya reklamasi, demobilisasi alat, dan
pelepasan tenaga kerja.
1. Reklamasi
Kegiatan ini dapat berdampak sebagai berikut:
 Kembalinya vegetasi
 Penurunan erosi
 Meningkatnya kualitas air run off
 Membaiknya kualitas tanah
2. Demobilisasi alat
Kegiatan ini dapat berdampak sebagai berikut:
 Penurunan kualitas udara
 Peningkatan kebisingan
 Peningkatan getaran
 Terganggunya lalu lintas
3. Pelepasan tenaga kerja
Kegiatan ini dapat berdampak sebagai berikut:
 Terganggunya proses sosial atau konflik
 Munculnya persepsi dan sikap masyarakat
 Hilangnya mata pencaharian masyaraat
 Menurunnya pendapatan masyarakat

1.3. Batas Wilayah Studi dan Batas Waktu Kajian


Batas wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi wilayah studi AMDAL
sesuai dengan hasil pelingkupan yang telah diuraikan pada bahasan sebelumnya.
Lingkup wilayah studi bertitik tolak pada ruang dimana rencana kegiatan
pembangunan akan berlangsung yang diperluas dengan ekosistem, ruang sosial
dan ruang administrasi yang lebih luas. Dengan memperhatikan batasan-batasan
diatas serta keterbatasan yang lain yang dijadikan bahan pertimbangan,ruang
lingkup wilayah studi AMDAL kegiatan pembangunan Pertambangan Emas
adalah sebagai berikut :
1.3.1. Batas Wilayah Studi
Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas
wilayah studi AMDAL sesuai hasil pelingkupan dampak penting dan dengan
memperhatikan keterbatasan sumberdaya, waktu dan tenaga, serta sasaran,
pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan. Batas wilayah
studi untuk Studi AMDAL rencana Pembangunan Pertambangan Emas di
kawasan Gunung Api Purba,Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon
Progo adalah sebagai berikut:

1.3.1.1. Batas Proyek


Batas proyek adalah ruang kawasan Gunung Api Purba, Desa Kalirejo,
Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Di dalam tapak proyek inilah sumber
atau asal terjadinya dampak pada lingkungan sebagai akibat dari kegiatan-
kegiatan Pembangunan Pertambangan Emas baik pada masa prakonstruksi,
konstruksi, operasi maupun pascaoperasi.

1.3.1.2. Batas Ekologis


Batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana
kegiatan menurut media transportasi limbah (air dan udara) dimana proses alami
yang berlangsung di dalam ruang di sekitar kegiatan diperkirakan akan mengalami
perubahan yang mendasar. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang di sekitar
rencana kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap aktivitas usaha
dan atau kegiatan. Berikut ini telaah batas ekologis berdasarkan justifikasi
penyebaran dampak yang muncul:
 Batas ekologi terkait kualitas udara berdasarkan pendekatan arah dan
kecepatan angina serta jalan aktivitas kegiatan sebagai media
transportasi penurunan kualitas udara (partikel debu).
 Batas ekologi terkait kuantitas dan kualitas air permukaan berupa
surface runoffberdasarkan pendekatan kondisi eksisting fisiografi
lahan di lokasi proyek mengenai kemiringan lereng. Dapat
disimpulkan bahwa kemiringan lahan mengarah ke Sungai Progo
sehingga ketika musim hujan berpotensi arah aliran limpasan air
permukaan akan mengalir kearah tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa batas ekologi udara meliputi area di tapak
proyek dan wilayah yang langsung berbatasan dengan tapak proyek, Sungai Progo
dan akses sepanjang jalan yang masuk dalam wilayah studi.

1.3.1.3. Batas Sosial


Ruang batas sosial adalah suatu ruang gerak tempat berlangsungnya
kegiatan dan interaksi social sekelompok manusia. Di dalam ruang tersebut
terdapat berbagai interaksi social yang mengandung norma dan nilai-nilai tertentu
yang sudah mapan. Di dalam dan sekitar Rencana Kegiatan Pertambangan Emas,
berada di kawasan Gunung Api Purba, Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap,
Kabupaten Kulon Progo yang merupakan tempat berlangsungnya proses sosial
yang diakibatkan oleh dinamika sosial suatu kelompok masyarakat yang
diperkirakan mengalami perubahan mendasar akibat dari rencana kegiatan.
Warga masyarakat di dalam area tersebut akan terkena dampak akibat
adanya berbagai aktivitas pada saat konstruksi/pembangunan maupun operasional
pembangunan nantinya, seperti penurunan kualitas udara, peningkatan kebisingan,
penurunan kuantitas-kualitas air permukaan, dampak biotis, kesempatan kerja dan
berusaha, peningkatan pendapatan masyarakat serta dampak terkait kesehatan
masyarakat. Dengan kriteria tersebut, maka pemukiman-pemukiman tersebut
dijadikan sebagai batas wilayah sosial.

1.3.1.4. Batas Administrasi


Batas administrasi adalah batas ruang dimana masyarakat dapat secara
leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam ruang tersebut. Berdasarkan
pelingkupan maka batas administrasi kegiatan Pembangunan Pertambangan Emas
berada di wilayah kawasan Gunung Api Purba, Desa Kalirejo, Kecamatan Kokap,
Kabupaten Kulon Progo. Adapun batas administrasi studi ini adalah sebagi
berikut. Sebelah utara Desa Hargotirto, sebelah timur Desa Hargowilis, Desa
Hargorejo, sebelah selatan Sungai Progo, Desa Hargomulyo, sebelah barat
Kabupaten Purworejo.

1.3.2. Batas Waktu Kajian


Batasan waktu kajian merupakan batas waktu yang akan digunakan dalam
melaksanakan prakiraan dan evaluasi dampak dalam kajian ANDAL pada
pembangunan Pertambangan Emas. Pada setiap dampak penting hipotetik yang
dikaji memiliki batas waktu kajian tersendiri. Batas waktu akan ditelaah
berdasarkan jangka waktu kegiatan dari tahap pra-konstruksi, konstruksi, operasi
(Penambangan). Sedangkan pada masa pasca tambang hanya melakukan
reklamasi, demobilisasi alat, dan pelepasan tenaga kerja. Hal ini dilakukan agar
rona awal wilayah bisa kembali dan meminimalisir terjadinya pencemaran
terhadap lingkungan.
Berikut merupakan tabel yang menjelaskan batasan waktu kajian berdasarkan
komponen yang sudah ditentukan:
a) Komponen Kesehatan Masyarakat dan Ekonomi

Tabel 2. Batas Waktu Kajian Komponen Kesehatan Masyarakat dan Ekonomi


Jenis Bulan
Kegiatan Dampak
N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1
(Sumber Penting Justifikasi
o 0 1 2
Dampak) Hipoteti
k

A. PRA KONSTRUKSI
Peningka Batas
tan waktu
pendapat kajian
an untuk
masyarak pembebas
at an lahan
akan
Pembebas
1. dikaji
an Lahan
dalam
waktu 1
bulan
sebelum
dibukanya
pertamban
gan emas

B. KONSTRUKSI
Ganggua
Pembangu
n
nan sarana
2. kesehatan
dan
masyarak
prasarana
at

3. Penerimaa Pendapat
n tenaga an
kerja pra- masyarak
pertamban at
gan meningka
t

C. TAHAP OPERASI
Rekrutme Pendapat
n Tenaga an
kerja masyarak
4.
Operasion at
al meningka
Tambang t

Ganggua
n
Pembersih
5. kesehatan
an lahan
masyarak
at

Pengupasa Ganggua
n tanah n
6. pucuk dan kesehatan
tanah masyarak
penutup at

Ganggua
n
Penamban
7. kesehatan
gan
masyarak
at

Ganggua
Pengangk
8. n
utan
kesehatan
masyarak
at

D. PASCA OPERASI
Hilangny
a mata
Pelepasan
pencahari
9. Tenaga
an
Kerja
masyarak
at

Menurun
nya
Pelepasan
1 pendapat
Tenaga
0. an
Kerja
masyarak
at
b) Komponen Sosial dan Budaya
Tabel 3. Batas Waktu Kajian Komponen Sosal dan Budaya
Jenis Bulan
Kegiatan Dampak 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1
N
(Sumber Penting 0 1 2 Justifikasi
o
Dampak) Hipoteti
k
A. PRA KONSTRUKSI
Tergangg Batas
u nya waktu
proses kajian
social untuk
atau sosialisasi
konflik akan dikaji

1. Sosialisasi dalam
waktu 3
bulan
sebelum
dibukanya
pertamban
gan emas

Muncul
Pembebas
2. kesempat
an Lahan
an kerja
B. KONSTRUKSI
Penerimaa Kesempa
3. n Tenaga tan kerja
Kerja
Penerimaa Tergangg
4. n Tenaga u nya
Kerja proses
social
atau
konflik
Muncul
nya
Penerimaa
presepsi
5. n Tenaga
dan sikap
Kerja
masyarak
at
C. TAHAP OPERASI
Rekrutme Tergangg
n Tenaga u nya
kerja proses
6.
Operasion social
al atau
Tambang konflik
Rekrutme Muncul
n Tenaga nya
kerja presepsi
7.
Operasion dan sikap
al masyarak
Tambang at
Tergangg
u nya
Pembersih proses
8.
an Lahan social
atau
konflik
Muncul
Pembersih nya
9.
an Lahan presepsi
dan sikap
masyarak
at
Tergangg
Pengupasa u nya
1 n Tanah proses
0. pucuk dan social
tutup atau
konflik
Muncul
Pengupasa nya
1 n Tanah presepsi
1. pucuk dan dan sikap
tutup masyarak
at
Tergangg
u nya
1 Penamban proses
2. gan social
atau
konflik
Muncul
nya
1 Penamban presepsi
3. gan dan sikap
masyarak
at
D. PASCA OPERASI
Tergangg
Pelepasan u nya
1
Tenaga proses
4.
Kerja social
atau
konflik
Muncul
nya
Pelepasan
1 presepsi
Tenaga
5. dan sikap
Kerja
masyarak
at

c) Komponen Bio-Kimia
Tabel 4. Batas Waktu Kajian Komponen Biologi dan Kimia
Jenis Bulan
Kegiatan Dampak 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1
N Justifikas
(Sumber Penting 0 1 2
o i
Dampak) Hipoteti
k
A. TAHAP PENAMBANGAN
Pencema Batas
ran udara waktu
kajian
untuk
pencemara
n udara
akan
Penamban
1. dikaji
gan
dalam
waktu 2
bulan
selama
dan
setelah
proses
penamban
gan

Perubaha
n tata
guna
lahan
Kebising
an
Getaran

Kualitas
air dan
air tanah
Pencema
ran tanah
Pencema
ran udara
Pengangku
2. Kebising
tan
an
Getaran

Pencema
ran udara
Kebising
an
Getaran
Pengolaha
3. Kualitas
n bijih
dan
kuantitas
air
permuka
an
Kualitas
dan
Ekstraksi kuantitas
4.
Emas air
permuka
an
B. TAHAP PASCA TAMBANG
Pencema
Demobilis ran udara
asi alat
1. Kebising
dan
an
material
Getaran

d) Komponen Geo-Fisika
Tabel 5. Batas Waktu Kajian Komponen Geologi dan Fisika
Jenis Bulan
Dampa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1
Kegiatan
N k 0 1 2
(Sumber Justifikasi
o Penting
Dampak)
Hipoteti
k
A. PRA KONSTRUKSI
B. KONSTRUKSI
Batas
Pembangu waktu
nan sarana kajian
1. Bentang
dan untuk
lahan
prasarana bentang
lahan akan
dikaji
dalam
waktu 2-3
bulan
selama
dan
setelah
proses
penamban
gan

Kebising
an
Mobilisasi Kebising
alat berat an
2.
dan
Getaran
material
C. TAHAP OPERASI
Bentang
lahan

Erosi
Pembersih
3. Kebising
an lahan
an
Getaran

Runoff

Bentang
lahan
Pengupasa
n Tanah Erosi
4.
pucuk dan Kebising
tutup an
Getaran
Bentang
lahan

Penamban Erosi
5.
gan Kebising
an
Getaran

Stabilita
s Lereng
Pengangku
6. Kebising
tan
an
Getaran

Kebising
an
Pengolaha
7. Getaran
n Emas
Runoff

D. PASCA OPERASI
Erosi

Kebising
8. Reklamasi
an
Runoff

Kebising
Demobilis
9. an
asi
Getaran
BAB II
DISKRIPSI RINCI RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL

2.1. Komponen Lingkungan Terkena Dampak Penting


2.1.1 Komponen Geo-Fisika
A. Kebisingan

Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari suatu kegiatan


dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan
pada kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Sumber
kebisingan pada lokasi kegiatan pada saat ini dominan dihasilkan oleh
alat berat atau konstruksi yang melintas di area lokasi rencana kegiatan.
Kegiatan pada saat tahap konstruksi dan penambangan dapat
menyebabkan tingkat kebisingan yang meningkat. Berdasarkan hasil
data pengukuran tingkat kebisingan pada 5 titik dengan mengacu pada
keputusan Gubernur 176 tahun 2003 DIY Pengukuran dilakukan
dengan memakai Sound Level Meter atau Integrating Sound Level
Meter. Pengukuran dilakukan pada A-Weighting network dan Fast
response. Berikut ini adalah titik sampling pengukuran kebisingan ada
pada Tabel dan Hasil pengukuran tingkat kebisingan pada kondisi
tanpa kegiatan ada pada tabel :
Tabel 2.1Titik Sampling untuk Kebisingan
Titik Sampling Koordinat

1. Titik 1 7°46'27.59"S LS 110° 6'49.82" BT

2. Titik 2 7°47'36.41" LS 110° 7'29.41"BT

3. Titik 3 7°48'21.73" LS 110° 6'39.94" BT

4. Titik 4 7°47'35.01" LS 110° 5'34.62" BT

5. Titik 5 7°47'8.38" LS 110° 6'27.79" BT


Gambar 2.1 Lokasi Titik Sampling untuk Kebisingan

Tabel2.2 Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan di lokasi rencana penambangan


emas PT. ABC

L1* = pengukuran pada jam 07.00 mewakili jam 06.00 – 09.00


L2* = pengukuran pada jam 10.00 mewakili jam 09.00 – 11.00
L3* = pengukuran pada jam 15.00 mewakili jam 14.00 – 17.00
L4* = pengukuran pada jam 20.00 mewakili jam 17.00 – 22.00
L5* = pengukuran pada jam 23.00 mewakili jam 22.00 – 24.00
L6* = pengukuran pada jam 01.00 mewakili jam 24.00 – 03.00
L7* = pengukuran pada jam 04.00 mewakili jam 03.00 – 06.00
Leq = rata-rata pengukuran
* data dalam tabel sudah di dalam rata-rata
Dari data di atas dapat kita simpulkan atau kita asumsikan bahwa
daerah yang jarang dilewati oleh kendaraan umum memiliki tingkat
kebisingan di bawah 50 dB. Skala kualitas lingkungan yang dibuat
berdasarkan pada baku mutu yang ditetapkan Menteri Lingkungan
Hidup melalui KepMen LH No 48 adalah sebagai berikut :

Tabel2.3 Skala Kualitas Lingkungan untuk Tingkat Kebisingan


Kriteria Skala
0 – 20 dB Sangat Baik 5
20 – 30 dB Baik 4
30 – 50 dB Sedang 3
50 – 60 dB Jelek 2
>60 dB Sangan Jelek 1

Berdasarkan studi lapangan dan hasil pengamatan, keadaan awal


dari calon lokasi penambangan PT. ABC memiliki skala kualitas 3
(Sedang).

B. Getaran
Getaran adalah gerakan bolak-balik yang berulang-ulang yang
tidak diinginkan dari suatu kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu
yang dapat menimbulkan gangguan pada kesehatan manusia dan
kenyamanan lingkungan. Sumber getaran pada lokasi kegiatan
didominasi oleh alat berat atau konstruksi yang melintas di area lokasi
rencana kegiatan. Kegiatan pada saat tahap konstruksi dan
penambangan dapat menyebabkan tingkat getaran yang meningkat.
Berdasarkan hasil data pengukuran tingkat getaran pada 5 titik dengan
mengacu pada titik acuan (KepMen LH No. 49 Tahun 1996),KepMen
LH No.49 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Tingkat Getaran.

Berikut ini adalah titik sampling pengukuran kebisingan ada pada


Tabel dan Hasil pengukuran tingkat getaran pada kondisi tanpa kegiatan
ada pada table berikut :
Tabel 2.4 Titik Sampling untuk Getaran
Titik Sampling Koordinat

1. Titik 1 7°46'27.59"S LS 110° 6'49.82" BT

2. Titik 2 7°47'36.41" LS 110° 7'29.41"BT

3. Titik 3 7°48'21.73" LS 110° 6'39.94" BT

4. Titik 4 7°47'35.01" LS 110° 5'34.62" BT

5. Titik 5 7°47'8.38" LS 110° 6'27.79" BT

Gambar Lokasi Titik Sampling untuk Kebisingan

Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada baku mutu


yang ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 49
adalah sebagai berikut :
Tabel 2.5 Skala Kualitas Lingkungan Getaran

Tingkat
Skala Kualitas
Getaran Kategori
Lingkungan
(Mikron)

5 = Sangat Tidak
< 37
Baik mengganggu

4 = Baik 38-120 Mengganggu

3 = Sedang 121-300 Tidak nyaman

2 = Jelek 301-360 Menyakitkan

1 = Sangat Sangat
>361
jelek menyakitkan

C. Run-off
Air aliran permukaan atau run off adalah bagian dari curah hujan
yang mengalir di atas perkaan tanah yang menuju ke sungai, danau
dan lautan. Sebagian dari air tidak sempat meresap ke dalam tanah dan
oleh karena itu mengalir menuju kedaerah yang lebih rendah. Ada
pula air yang telah masuk kedalam tanah kemudian keluar lagi karena
tanah telah jenuh terhadap air dan mengalir ke tempat yang lebih
rendah. Sumber kegiatan yang dapat merubah nilai koefisien run off
ialah tahap pembersihan lahan. Tahapan ini dapat meningkatkan
koefisien run off. Penentuan koefisien limpasan mengacu pada
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 tentang
Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.
Berikut ini adalah titik sampling yang digunakan dalam
pengukuran koefisien limpasan :
D. Metode Sampling
Sampling dilakukan di wilayah penambangan dengan koordinat :
Tabel 2.6 Koordinat Sampling Run-off
Titik Sampling Koordinat

Titik 1 7051’51,90”S dan 110052’20,44”T

Titik 2 7051’49,67”S dan 110052’18,64”T

Titik 3 7049’50,12”S dan 110050’19,76”T

E. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data sekunder seperti curah hujan dapat di
ambil dari dinas meteorologi dan geofisika sedangkan data primer
seperti luas diperoleh dengan pengukuran di lapangan.

F. Metode Analisis Data


Analisis data dibuat dengan membuat skala seperti berikut :
Tabel 2.7 Skala Kualitas Limpasan

Debit (m3/s) Skala Kualitas

< 0,2 5 Sangat Baik

0,2 – 0,5 4 Baik

0,5 – 1 3 Sedang

1–2 2 Buruk

>2 1 Sangat Buruk

G. Metode Prakiraan
Metode yang digunakan untuk memperkirakan besaran limpasan air
yaitu dengan metode rasional dengan rumus :
𝑄 = 0,00278 × 𝐶 × 𝐼 × 𝐴
Dengan :C adalah koefisien limpasan, nilai dapat dilihat di tabel 2.8
I adalah intensitas hujan (mm/jam)
A adalah luas area (Ha)
Tabel 2.8 Nilai Koefisien Limpasan Berbagai Macam Kondisi Daerah

Berdasarkan dari rona awal daerah yang akan dijadikan


pertambangan,koefisien run-offada pada kondisi daerah pegunungan
tersier.

2.1.2 KOMPONEN SOSIAL – EKONOMI - BUDAYA


A. Kesempatan Kerja
Pertumbuhan angkatan kerja yang tidak sebanding dengan pertumbuhan
kesempatan kerja yang ada merupakan salah satu masalah pokok di bidang
ketenagakerjaan. Penempatan tenaga kerja dari tahun ke tahun selalu
mengalami peningkatan. Jumlah penduduk usia produktif yang bekerja di
wilayah Kulon Progo pada tabel 2.9 dilihat pada tahun 2015 sebanyak 232.190
orang. Pada tahun 2015, jumlah oenduduk usia produktif yang menganggur di
wilayah Kulon Progo sebanyak 8.966 orang. (lihat tabel 2.9)

Tabel 2.9 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Bekerja


Menurut Kab./Kota di Provinsi D.I Yogyakarta, 2011-2015
Tabel 2.10 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang
Menganggur Menurut Kab./Kota di Provinsi D.I Yogyakarta, 2011-2015

Selain Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten Purwurejo juga terkena


dampak dari proyek tersebut. Untuk penduduk usia produktif untuk angkatan
kerja sendiri sebanyak 347.054 orang. (Lihat tabel 2.11)
Tabel 2.11 Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Menurut Jenis Kegiatan,
Jenis Kelamin dan Klasifikasi Daerah di Kabupaten Purworejo, Agustus 2015
Berdasarkan data Sakernas bulan Agustus 2015, jumlah angkatan kerja
di Kabupaten Purworejo tercatat sebanyak 374.054 orang. Dibandingkan
dengan jumlah angkatan kerja tahun 2014 yang tercatat sebanyak 368.602
orang, pada tahun 2015 terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja sebesar 1,48
persen.
Dilihat dari jenis kelamin, komposisi angkatan kerja pada tahun 2015
menunjukkan perbedaan yang cukup besar. Jumlah angkatan kerja laki-laki
lebih banyak 1,4 kali dibandingkan angkatan kerja perempuan. Tabel 2.2
memperlihatkan, angkatan kerja laki-laki berjumlah 216.021 orang (57,75
persen) sedangkan angkatan kerja perempuan berjumlah 158.033 orang (42,25
persen) dari total angkatan kerja.

Tabel 2.12 Presentase Usia Kerja Menurut Kegiatan

dan Jenis Kelamin, Agustus 2015

Penduduk bukan angkatan kerja didominasi oleh perempuan.


Sementara itu, penduduk bukan angkatan kerja perempuan sebagian besar
merupakan penduduk yang mengurus rumah tangga. Dari 43,30 persen
penduduk bukan angkatan kerja perempuan, sekitar 33,46 persen mempunyai
kegiatan mengurus rumah tangga dan sisanya (9,84 %) terdiri dari mereka
yang bersekolah dan mempunyai kegiatan lainnya.Berdasarkan data tersebut
pada tahun 2015, rona awalnya masuk dalam kategori nomer 4 yaitu kategori
baik .
B. Keresahan Masyarakat
Sebelum ada rencana kegiatan penambangan, lokasi adalah berupa
hutan yang mampu menghidupi masyarakat dengan hasil buminya. Masyarakat
sangat terbantu dengan adanya hutan ini sebagai lahan mata pencaharian
penduduk sekitar. Kegiatan penambangan emas akan memperjelas rencana
kegiatan yang berhubungan dengan penggunaan lahan. Sehingga masyarakat
perlu diberikan sosialisasi supaya tidak menimbulkan kesalah pahaman
dikemudian hari. Terbelahnya sikap masyarakat terhadap rencana kegiatan
diiring dengan informasi awal tentang rencana pembangunan yang diperoleh
oleh warga lebih banyak dari sumber diluar pemrakarsa.. Hal ini di karenakan
masyarakat menganggap dengan adanya proyek tersebut dapat meningkatkan
perekonomian dan fasilitas umum masyarakat sekitar. Sisanya masih merasa
keberatan dengan rencana kegiatan tersebut. Hal ini dipicu dengan
Ketidakjelasan informasi yang berkembang memunculkan ketidakpastian
tentang rencana kegiatan yang akan dilakukan, misalnya luas kebutuhan lahan
dan lokasi rencana proyek serta isu penggusuran permukiman. Rona awal
keresahan masuk pada kriteria sedang atau pada skala 4, dalam artian
lingkungan tempat tinggal cukup tenang.
Tabel 2.13 Skala Tingkat Keresahan masyarakat
Skala Tafsiran
1 Sangat buruk
2 Buruk
3 Sedang
4 Baik
5 Sangat Baik
C. Konflik Sosial
Konflik sangat rentan terjadi, baik terhadap penolakan serta tanggapan
negatif yang didapat dari masyarakat terhadap rencana kegiatan pembukaan
lahan tambang. Hal ini dianggap penting agar kita dapat mengetahui
bagaimana cara meredam konflik sosial yang terjadi. Salah satu cara yang
dilakukan guna menghindari konflik ialah dengan melakukan pendekatan dan
sosialisai kepada masyarakat demi mengetahui sikap dan persepsi dari
masyarakat sekitar. Dari hasil survey menunjukkan konflik sosial sangat jarang
terjadi, ditunjukkan dengan intesitas interaksi masyarakat yang dapat
dikatagorikan sering. Interaksi masyarakat berupa pertemuan rutin, acara adat,
hingga kerja bakti. Dalam hal ini untuk kondisi konflik sosial di katagorikan
dalam skala 4 atau baik.
Tabel 2.14 Skala Tingkat Konflik Masyarakat
Tafsiran Skala
Sangat buruk 1
Buruk 2
Sedang 3
Baik 4
Sangat Baik 5

2.1.3 KOMPONEN KESEHATAN MASYARAKAT


A. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Analisis resiko K3 tidak dapat dilakukan di rona awal karena belum
adanya aktifitas kerja. Sehingga status lingkungan untuk K3 pada rona awal
adalah 5 (sangat baik). Skala kualitas lingkungan yang dibuat ada pada tabel
2.15

Tabel 2.15 Skala Kualitas Lingkungan K3

Kriteria Skala

Nilai Rata-rata potensi bahaya 1 – 2 Sangat Baik 5

Nilai Rata-rata potensi bahaya 2 – 3 Baik 4

Nilai Rata-rata potensi bahaya 3 – 4 Sedang 3

Nilai Rata-rata potensi bahaya 4 – 5 Jelek 2

Nilai Rata-rata potensi bahaya 5 Sangan Jelek 1


B. Bioakumulasi Logam Berat
Bioakumulasi logam berat dihitung dengan persamaan :

Dengan : BCF adalah faktor biokonsentrasi


Corg adalah konsentrasi logam berat pada organisme
Csed adalah konsentrasi logam berat pada sedimen
Cwater adalah konsentrasi logam berat pada air

Bioakumulasi logam berat disebabkan oleh adanya biomagnifikasi yang


ada di alam. Biomagnifikasi adalah terkumpulnya konsentrasi suatu unsur
mengikuti alur rantai makanan. Ini menyebabkan terakumulasinya konsentrasi
logam berat pada konsumen puncak pada umumnya, yaitu manusia. Hal ini
bisa dicegah dengan penanganan limbah pemurnian emas dengan baik, karena
belum adanya kegiatan pemurnian emas sebelum penambangan, maka skala
kualitas lingkungan untuk bioakumulasi logam berat adalah 5 (sangat baik).
Skala kualitas lingkungan untuk bioakumulasi logam berat adalah :

Tabel 2.16 Skala Bioakumulasi Logam Berat

Kriteria Skala

Tidak ada logam berat dalam perairan Sangat Baik 5

Adanya logam berat yang terpapar ke perairan Sangat Buruk 1

Alasan hanya ada kriteria dikarenakan tidak boleh ada logam berat yang
terpapar ke perairan karena sifatnya yang sulit diuraikan.

C. Pendapatan Masyarakat
Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam
perekonomian nasional, begitu pula untuk pembangunan ekonomi daerah
Kulon Progo. Sebagian besar penduduk Kulon Progo bermata pencaharian
sebagai petani. Hal ini terkait dengan kondisi daerah yang mempunyai
ketersediaan lahan yang relatif luas. Sektor pertanian terdiri atas 6 sub sektor
yaitu, tanaman pangan, tanaman hortikultural, perkebunan, pertenakan,
perikanan dan kehutanan.
PDRB per kapita sebagai indikator kasar untuk mengukur pendapatan
per kapita penduduk kabupaten Kulon Progo menurut harga berlaku pada tahun
2012 secara kumulatif meningkat 9,6 persen dari tahun 2013. Besaran PDRB
perkapita kabupaten Kulon Progo tahun 2013 senilai Rp 4.602.893.750.000.

Gambar 2.2 Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita Atas Dasar Harga
Berlaku Kabupaten Kulon Progo Tahun 2009-2013 (dalam Juta Rupiah)

Tabel 2.17 Tingkat Pendapatan Penduduk Sekitar Lokasi Proyek


Pendapatan per bulan Persentase
< Rp. 500.000 10%
Rp. 500.000 - Rp. 1.000.000 30%
Rp. 1.000.000 - Rp. 3.000.000 50%
Rp. 3.000.000 - Rp. 5.000.000 10%
>Rp. 5.000.000 0%
Total 100%
Sumber :Data primer
Rona awal komponen pendapatan masyarakat berdasarkan data tersebut
masuk dalam kategori nomer 3 yaitu kategori sedang.
2.1.4. KOMPONEN KIMIA-BIOLOGI

a. Kualitas Air
Penentuan status mutu air menggunakan metode Indeks Pencemaran
yang merupakan salah satu metode yang diatur dalam Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup No Kep 115/MENLH/2003. Prinsip metode ini
adalah membandingkan data kualitas air dengan baku mutu air disesuaikan
dengan peruntukannya, dalam hal ini menggunakan baku mutu Peraturan
Gubernur DIY no 20 Tahun 2008 tentang baku mutu air provinsi Dearah
Istimewa Yogyakarta.
Tabel 2.18 Peraturan Gubernur DIY no 20 Tahun 2008 tentang baku
mutu air provinsi Dearah Istimewa Yogyakarta

Baku Mutu
Parameter Satuan Metode Uji
Kelas 1 Kelas 2
Fisika
Debit Lt/dt - - -
Deviasi Deviasi
0
Temperatur C SNI 06-6989.23-2005
3 3
TDS mg/L 1000 1000 SNI 06-6989.3-2004
Kekeruhan NTU 5 - SNI 06-6989.25-2005
Kimia
pH mg/L 6-8,5 6-8,5 SNI 06-6989.11-2004
Amoniak (NH3N) mg/L 0,5 - SNI 06-6989.30-2005
Nitrat (NO3-) mg/L 10 10 SNI 06-2480-1991
Nitrit (NO2-) mg/L 0,06 0,06 SNI 06-2480-9-2004
Sulfat (SO4-2) mg/L 400 - SNI 06-6989.20-2009
Klorida (Cl-) mg/L 600 - SNI 06-6989.19-2009
Besi total (Fe) mg/L 0,3 - SNI 16-1127-1989
Kesadahan (CaCO3) mg/L - - SNI 06-6989.14.12.2004
Deterjen sebagai MBAS mg/L 200 200 SNI 06-6989.14.51.2004
BOD mg/L 2 3 SNI 06-6989.14.57.2004
COD mg/L 10 25 SNI 06-6989.2-2004
DO mg/L 6 5 SNI 06-6989.14-2004
Biologi
MPN/100
Coliform Total 1000 5000 SNI 01-2332-1991
ml

Pada pengamatan kualitas air tanah dilakukan pengambilan sampel


pada 25 titik. Pada pengukuran kualitas air tanah yang tidak memenuhi baku
mutu yaitu timbal, mangan, seng, fluorida, nitrit, fecal coliform, dan total
coliform. Pengukuran parameter didasarkan pada Peraturan Gubernur
Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 20 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Air
di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Unsur timbal dalam air tanah dianggap aman jika kadarnya masih
dibawah baku mutu. Sebaliknya jika kandungan timbal diatas baku mutu
maka dianggap berbahaya, khususnya bagi tubuh manusia. Sumber
pencemaran timbal sangat beragam, seperti kaca, keramik, baterai, plastik,
bahkan pipa air minum. Berdasarkan hasil pengambilan sampel, 53 persen
mengandung timbal diatas baku mutu, sedangkan 47 persen dibawah baku
mutu.

Gambar 2.3 Presentase Sampel Pada Hasil Uji Parameter Timbal


Tahun 2016

Persentase sampel pada hasil uji parameter timbal menunjukkan


kandungan timbal yang tidak sesuai dengan baku mutu sebesar 53 persen.
Adapun lokasi pengambilan sampel berada pada sentra tahu, Tempat
Pemrosesan Akhir (TPA), dan industri Sungchang. Hal ini menunjukkan
bahwa sumur penduduk yang dekat dengan industri dan tempat pembuangan
sampah akhir berpotensi besar tercemar oleh timbal. Mangan dapat
ditemukan secara alami dalam air tanah dan air permukaan. Pada umumnya
mangan terbentuk bersamaan dengan zat besi. Namun aktivitas manusia
juga menjadi penyebab kontaminasi mangan di suatu daerah. Konsentrasi
mangan yang tinggi dapat mengubah warna air menjadi hitam. Konsentrasi
mangan yang tinggi tentu berbahaya bagi kesehatan penduduk yang
tendampak. Berikut disajikan persentase sampel pada hasil uji parameter
mangan:

Gambar 2.4 Presentase Sampel Pada Hasil Uji Parameter Mangan


Tahun 2016

Gambar diatas menunjukkan bahwa 93 persen sampel mengandung


mangan yang tidak sesuai dengan baku mutu. Hanya 7 persen yang sesuai
dengan baku mutu. Angka tersebut tentu menjadi perhatian khusus, karena
93 persen sampel mengandung mangan yang tidak sesuai dengan baku mutu
yang akan memberikan efek terhadap kesehatan penduduk yang
mengkonsumsi air sumur tersebut.
Seng (Zn) dibutuhkan oleh tubuh manusia untuk proses metabolisme.
Kebutuhan seng sangat bervariasi, namun kecukupan seng yang dianjurkan
adalah 15 mg/hari. Menurut Peraturan Gubernur DIY Nomor 20 Tahun
2008 tentang Baku Mutu Air di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
kandungan seng dalam sumber air minum tidak lebih dari 0,05 mg/L.
Gambar 2.5 Presentase Sampel Pada Hasil Uji Parameter seng Tahun
2016

Gambar di atas menunjukkan bahwa 7 persen sumur mengandung


seng di atas baku mutu, sedangkan 93 persen masih sesuai dengan baku
mutu. Fluorida adalah salah satu mineral yang dapat mencegah kerusakan
gigi, namun efek negatif kelebihan fluorida jika kandungan fluorida tidak
dapat dikeluarkan oleh tubuh akan merusak organ tubuh manusia.

Gambar 2.6 Presentase Sampel Pada Hasil Uji Parameter Fluorida


Tahun 2016

Berdasarkan hasil uji sampel dihasilkan 28 persen mengandung


fluorida yang tidak sesuai dengan baku mutu, sedangkan 72 persen masih
sesuai dengan baku mutu.
Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis
perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut yang
rendah. Selain itu nitrit juga dapat bersifat racun karena dapat bereaksi
dengan hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak dapat mengangkut
oksigen.

Gambar 2.7 Presentase Sampel Pada Hasil Uji Parameter Nitrit Tahun
2016

Hasil uji sampel menunjukkan 16 persen mengandung nitrit yang


tidak sesuai dengan baku mutu, sedangkan sampel yang sesuai dengan baku
mutu sebesar 84 persen. Hal ini menunjukkan 84 persen pada uji sampel
masih tergolong baik. Fecal coliform umumnya digunakan sebagai indikator
untuk pencemaran yang berasal dari limbah rumah tangga (Chay Asdak,
2014:506). Contoh dari fecal coliform yaitu kotoran manusia dan hewan.
Berdasarkan hasil uji 52 persen mengandung fecal coliform melebihi baku
mutu.

Gambar 2.8 Presentase Sampel Pada Hasil Uji Parameter Fecal


Coliform Tahun 2016
Total coliform merupakan indikator bakteri pertama yang digunakan
untuk menentukan aman tidaknya air dikonsumsi. Hasil uji sampel
menunjukkan 56 persen terkandung total coliform yang tidak sesuai dengan
baku mutu.

Gambar 2.9 Presentase Sampel Pada Hasil Uji Parameter Total


Coliform Tahun 2016

b. Kualitas Air Sungai


Wilayah Kabupaten Kulon Progo menjadi bagian dari beberapa
wilayahDaerah Aliran Sungai (DAS). DAS yang melewati wilayah
Kabupaten Kulon Progoadalah DAS Bogowonto, DAS Serang dan DAS
Progo. DAS Progo merupakanDAS yang paling luas, yaitu meliputi
31.163,774 hektar atau 53,16 persen dari luasKabupaten Kulon Progo yang
sekaligus mengindikasikan sebagai DAS yang palingbanyak mensuplai air,
baik itu ke dalam bentuk air permukaan maupun air tanah.Luas DAS Serang
lebih kecil, namun tetap saja kontribusinya terhadap sumber airdi wilayah
Kabupaten Kulon Progo sangat penting, karena luasannya
mencakup24.152,86 hektar atau 41,20 persen dari total luas Kabupaten
Kulon Progo. DASBogowonto hanya mencakup 3.310,878 hektar atau 5,65
persen saja, selain itukeluaran dari air yang masuk ke DAS Bogowonto ini
berada diluar wilayahKabupaten Kulon Progo.
Kabupaten Kulon Progo memiliki 19 sungai yang mengalir di wilayah
perkotaan dan perdesaan. Sumber utama air irigasi persawahan masyarakat
di Kabupaten Kulon Progo adalah Sungai Progo dan Sungai Serang. Sungai
terpanjang yaitu Sungai Progo dengan panjang 56,70 km. Pemanfaatan lain
dari sungai Progo yaitu aktivitas penambangan pasir. Sungai Serang juga
merupakan sungai besar yang ada di Kabupaten Kulon Progo.
Sebagai salah satu upaya pengendalian pencemaran air sungai, Kantor
Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo melakukan pemantauan kualitas
air sungai terutama Sungai Serang, karena sungai tersebut melintas di
wilayah perkotaan Wates dan rawan terkena pencemaran lingkungan.
Daerah Aliran Sungai (DAS) Serang yang berada di Kabupaten Kulon
Progo mulai dari hulu sampai hilirnya dan memiliki panjang sungai utama
23,16 km. Pola Alirannya bersifat dendritik. Ketinggian tempat di DAS
Serang bervariasi dengan rentang antara 0 m – 811 m dpal. Kerapatan aliran
di DAS Serang sebesar 0,002, hal ini menunjukkan bahwa DAS Serang
rawan terhadap penggenangan.
Pengukuran kualitas air Sungai Serang pada tahun 2016 dilakukan tiga
kali pemantauan yaitu pada bulan Juli, September dan Oktober. Adapun titik
sungai ada dilima titik yaitu lokasi 1 Sungai Serang (Pekik Jamal Bojong IX
Panjatan), lokasi 2 Sungai Serang (Jembatan Durungan Wates), lokasi 3
Sungai Serang (Pendem Sidomulyo Pengasih), lokasi 4 Sungai Serang
(Kamal Karangsari Pengasih),lokasi 5 Sungai Serang (Kedung Galih
Pengasih). Pengukuran kualitas air sungaididasarkan pada Peraturan
Gubernur DIY No 20 Tau Mutu Air di Daerah IstimewaYogyakarta.

c. Kualitas Lahan
Pengukuran kualitas lahan dilakukan di Kecamatan Lendah
denganmengambil 10 titik. Berdasarkan hasil uji yang dilakukan oleh Badan
LingkunganHidup Daerah Istimewa Yogyakarta ada tujuh parameter yang
diukur yaitu BeratIsi, Porositas total, Derajat Pelulusan Air, pH, Daya
Hantar Listrik (DHL), Redoks,dan jumlah Mikroba. Berdasarkan tujuh
parameter tersebut terdapat parameter yangmelebihi ambang kualitas tanah
yaitu Derajat Pelulusan Air.
Derajat Pelulusan Air atau permeabilitas merupakan kemampuan
mediaporus tanah untuk meloloskan zat cair baik secara leteral maupun
vertikal.Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000 baku
mutu DerajatPelulusan Air yaitu < 0,7 cm/jam dan > 8,0 cm/jam. Sedangkan
pada hasil ujimenunjukkan 8 titik dari 10 titik pengujian kualitas lahan
memiliki nilai lebih daribaku mutu.
Lahan di Kabupaten Kulon Progo memiliki kemampuan tanah yang
rendahdalam meloloskan zat cair secara leteral maupun vertikal. Faktor
yangmempengaruhi derajat pelulusan air adalah berat isi dan porositas suatu
tanah.Tanah dengan nilai berat isi tanah yang tinggi dan tingkat porositas
tanah yangrendah derajat pelulusan airnya akan semakin rendah.
Lahan kritis merupakan lahan yang sangat tandus dan gundul dengan
tingkat kesuburan yang sangat rendah, sehingga tidak dapat digunakan
sebagai lahan pertanian. Lahan ini masih dapat dikelola walaupun
produktifitasnya rendah. Luas lahan kritis di dalam maupun di luar kawasan
hutan di Kabupaten Kulon Progosebesar 4.908,69 hektar. Luas lahan kritis
tahun 2016 menurun dibanding tahun 2015 sebesar 5.107,52 hektar.
Kecamatan yang memiliki lahan kritis terbesar yaitu Kecamatan Temon
sebesar 15 persen, disusul Kecamatan Galur sebesar 14 persen dan
Kecamatan Panjatan sebesar 13 persen. Lahan kritis di wilayah Kecamatan
Temon, Kecamatan Galur dan Kecamatan Panjatan sebagian besar berlokasi
di lahan pantai di mana kekritisan lahannya terutama dilihat dari parameter
kondisi tutupan vegetasi yang ada
Gambar 2.10 Presentase Luas Lahan Kritis di dalam dan luar Kawasan
Hutan Per Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo

Lahan kritis terjadi karena beberapa faktor. Adapun faktor yang


menyebabkan terjadinya lahan kritis antara lain:
1. Kekeringan,
2. Genangan air yang terus menerus seperti di daerah pantai yang selalu
tertutup rawa-rawa menyebabkan tanahnya bersifat asam,
3. Erosi tanah atau longsor ,
4. Pengelolaan tanah yang tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian
lingkungan,
5. Masuknya material yang bertahan lama ke lahan pertanian karena tidak
dapat diuraikan oleh bakteri, seperti plastic,
6. Pencemaran zat pencemar, seperti pestisida dan limbah pabrik.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sudah berupaya dalam


pengelolaanlahan kritis yang ditandai dengan menurunnya luas lahan kritis.
Upaya tersebutadalah melalui kegiatan penanaman (vegetatif) dan
pembuatan bangunan sipilteknis untuk konservasi lahan dan air. Namun
demikian upaya-upaya konservasidan rehabilitasi lahan perlu dilanjutkan
dan ditingkatkan. Jika lahan kritis tetapdibiarkan atau tidak ada perlakuan
perbaikan maka akan mengancam kehidupanmanusia baik secara langsung
maupun tidak langsung. Menurut Undang-UndangRepublik Indonesia
Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, Rehabilitasi hutandan Lahan
dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkanfungsi
hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktifitas dan peranannya
dalammendukung sistem kehidupan tetap terjaga. Kegiatan Rehabilitasi
Hutan dan Lahandiselenggarakan melalui kegiatan Reboisasi, Penghijauan,
PemeliharaanPengayaan Tanaman atau Penerapan Teknik Konservasi tanah
secara vegetatif dansipil teknis. Kegiatan penghijauan yang telah dilakukan
oleh Kabupaten KulonProgo tahun 2016 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.19 Realiasi Kegiatan Penghijauan di Kabupaten Kulan Progo
Tahun 2016

Sumber: Dinas Pertanian dan Kelautan Kabupaten Kulon Progo, 2016

Pada tahun 2016 dilakukan penghijauan dengan menanam pohon yang


berlokasi di sepuluh kecamatan. Beberapa manfaat kegiatan penghijauan di
daerah dataran tinggi antara lain memulihkan produktivitas tanah pada lahan
kritis, memperluas lahan serapan air hujan, dan meminimalisir terjadinya
longsor.

d. Kualitas Udara
Udara merupakan salah satu sumberdaya alam non hayati yang di
dalamekosistem merupakan lingkungan fisik yang mempunyai hubungan
timbal balikdengan makhluk hidup, baik itu manusia, hewan, tumbuhan
maupun mikroba.Makhluk hidup termasuk manusia pun memerlukan udara
yang bersih dan sehat,dan tidak terganggu oleh pencemaran yang tidak
membuat nyaman. Sebagai salahsatu upaya untuk mengetahui kualitas udara
adalah pelakukan pemantauan kualitasudara.
Pemantauan kualitas udara ambien tahun 2016 dilakukan di lima
lokasi, yaitu di :
Lokasi 1 : Pro Liman Karangnongko Jl. Khudori Wates Kulon Progo
Lokasi 2 : Perempatan Pasar Wates Jl. Diponegoro, Wates, Kulon Progo
Lokasi 3 : Pertigaan Sindutan, Temon, Kulon Progo
Lokasi 4 : Depan Pasar Bendungan Jl. KH Wahid Hasyim, Wates, Kulon
Progo
Lokasi 5 : Pertigaan Brosot, Galur (Tugu Brosot), Brosot, Kulon Progo
Pemantauan dilakukan dua periode yaitu Bulan Maret dan Bulan
Oktober. Parameter yang dipantau adalah Sulfur Dioksida (SO2), Karbon
Monoksida (CO), Nitrogen Dioksida (NO2), Ozon (O3), dan Total
Suspended Particulates (TSP). Sulfur Dioksida merupakan gas berbau yang
dapat menyebabkan iritasi pernafasan terjadi akibat pembakaran batubara,
bahan bakar minyak, dan bahan bakar fosil lainnya yang mengandung
sulfur. Selain itu dapat berasal dari sumber alami seperti gunung berapi.
Karbon Monoksida adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan
beracun yang dihasilkan dari proses pembakaran yang tidak sempurna dari
bahan bakar fosil. Nitrogen Dioksida adalah gas yang menyebabkan
gangguan pernafasan dalam kadar tinggi, terjadi akibat pembakaran pada
kendaraan bermotor dan juga mesin berbagai industri. O3 atau disebut
sebagai ozon permukaan. Sedangkan TSP atau Total Suspended Particulates
adalah konsentrasidebu.
Berdasarkan hasil analisis parameter-parameter tersebut di atas dan
dibandingkan dengan Standar Baku Mutu Udara Ambien Daerah Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta yang tertuang dalam Lampiran Keputusan
Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 153 Tahun 2002
menunjukkan bahwa kualitas udara ambien tergolong aman atau masih
dibawah baku mutu yang ditetapkan.
1. Parameter Sulfur Dioksida (SO2)
SO2atau Sulfur dioksida memiliki karakteristik bau yang tajam.
Pembakaran bahan-bahan yang mengandung sulfur akan menghasilkan
sulfur dioksida. SO2 memiliki dampak sangat kecil bagi kesehatan
namun yang dikawatirkan adalah dengan tingginya sulfur dioksida di
udara maka dimungkinkan peluang untuk bereaksi dengan air (H2O)
yang bisa menghasilkan H2SO4 di udara yang biasa disebut hujan asam
yang bersifat merusak. Dari hasil pemantauan kualitas udara dengan 5
lokasi dapat diketahui bahwa konsentrasi SO2 pada semua lokasi
berada di bawah baku mutu yang ditetapkan yaitu 900 ug/m.

Gambar 2.11 Konsentrasi SO2 Tahun 2016

2. Parameter Karbon Monoksida (CO)


CO atau Karbon monoksida adalah senyawa yang tidak memiliki
bau dan tidak memiliki rasa. CO berbentuk gas yang tidak berwarna
apabila pada suhu udara normal. CO bersumber dari emisi gas buang
kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar bensin.
Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara di 5 lokasi (1-5) ternyata
kandungan CO atau Karbon monoksida di semua titik pengukuran
masih di bawah Baku Mutu Udara Ambien yang dipersyaratkan yaitu
30.000 ug/m3 dengan waktu pengukuran 1 jam. CO atau Karbon
Monoksida apabila terhirup ke dalam paru-paru akan ikut masuk dalam
peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang
dibutuhkan oleh tubuh. Keadaan ini menyebabkan fungsi vital darah
sebagai pengangkut oksigen terganggu. Keracunan gas karbon
monoksida dapat ditandai dari keadaan ringan, berupa pusing, rasa tidak
enak pada mata, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat dapat
berupa detak jantung meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran
bernafas, kelemahan otot-otot, gangguan pada sistem kardiovaskuler,
serangan jantung sampai pada kematianapabila kadar CO yang masuk
dalam peredaran darah dalam jumlah yang besar.
Gambar 2.12 Konsentrasi CO Tahun 2016

3. Parameter Nitrogen Dioksida (NO2)


Nitrogen dioksida (NO2) merupakan gas yang berwarna coklat
kemerahan dan berbau tajam. Pembentukan NO2 merupakan reaksi
antara Nitrogen dan Oksigen diudara sehingga membentuk NO yang
bereaksi lebih lanjut dengan banyak oksigen membentuk NO2
(Nitrogen dioksida). Dampak polusi NO2 terhadap manusia yaitu pada
konsentrasi 50 – 100 ug/m3 bila terpapar pada manusia beberapa menit
saja dapat menyebabkan peradangan paru-paru. Pada konsentrasi 150 –
200 ug/m3 dapat menyebabkan gangguan bronchili (cabang
broonchus). Pada konsentrasi lebih dari 500 ug/m3 dapat membunuh
orang yang terpapar dalam waktu 2 – 10 hari. Tempat-tempat yang
padat lalu lintas kendaraan bermotor, diperkirakan kandungan polutan
NO2 lebih tinggi dibandingkan tempat yang sepi lalu lintas kendaraan
bermotor. Dari hasil pemantauan di 5 lokasi dengan waktu pengukuran
1 jam menunjukan hasil Kosentrasi NO2 masih berada di bawah baku
mutu.
Gambar 2.13 Konsentrasi NO2 Tahun 2016

4. Parameter Ozon (O3)


O3 nama simbol dari Ozon adalah komponen atmosfer yang
diproduksi oleh proses fotokimia, yaitu suatu proses kimia yang
membutuhkan sinar, yang akan mengoksidasi komponen-komponen
yang tidak segera dapat dioksidasi oleh gas oksigen. Pengaruh oksidan
fotokimia antara lain dapat mengakibatkan kerusakan pada tenunan
tanaman. Komponen fotokimia yang paling merusaktanaman adalah
Ozon. Pengaruh ozon yang dapat terlihat langsung pada tanaman adalah
terjadinya pemucatan karena kematian sel-sel pada permukaan daun,
dimana daun yang lebih tua lebih sensitif terhadap kerusakan
tersebut.Sedangkan pengaruh oksidan fotokimia terhadap manusia
antara lain apabila masuk ke dalam tubuh sebagian bagian dari udara
dan pada konsentrasi subletat dapat mengganggu proses pernafasan
normal. Selain itu oksidan fotokimia juga dapat menyebabkan iritasi
mata. Dari hasil pemantauan di 5 lokasi pemantauan titik 1-5 ternyata
kandungan Ozon (O3) semua lokasi masih dibawah Baku Mutu yang
dipersyaratkan (235 ug/m3).
Gambar 2.14 Konsentrasi O3 Tahun 2016

5. Parameter Total Suspended Particulates (TSP)


Total Suspended Particulates atau total partikel melayang sedang
adalah kosentrasi debu yang berada di udara. TSP tidak dapat terhirup
ke dalam paru, tetapi hanya sampai pada bagian saluran pernapasan
atas. Dari hasil pemantauan di 5 lokasi pemantauan titik 1-5 ternyata
kandungan TSP semua lokasi masih dibawah Baku Mutu yang
dipersyaratkan (230 ug/m3).

Gambar 2.15 Konsentrasi TSP Tahun 2016


Hal yang mempengaruhi kualitas udara pada umumnya di lingkungan
tambang adalah kendaraan tambang, sehingga fokus rona awal lingkungan
adalah kualitas udara karena emisi kendaraan. Parameter dan baku mutu
udara ambien yang dipantau sesuai dengan Keputusan Gubernur Daerah
Istimewa Yogyakarta Nomor 153 Tahun 2002 tentang Baku Mutu Udara
Ambien Daerah diPropinsi DaerahIstimewa Yogyakarta.
Tabel 2.20 Baku Mutu Kualitas Udara

B
M
UA
BMUA Primer
Su
ken

Waktu der
N
Parameter Pengukur (ppm) (µg/m3 ( ( Metode Analisis Peralatan
o
an ) p µ
p g
m /
) m
3

SO2 1 jam 0,340 900 0 1

(Sulfur 3 jam ....... ..... , . Pembentukan


1
dioksida) 5 3 kompleks dengan Spektrofotometer UV-Vs
. 24 jam 0,140 365 0 0 pararosanilin

1 tahun 0,030 60 0 0

2 CO 1 jam 35 30.000 NDIR


Spektrometri
. (Carbon 8 jam 9 10.000 Spektrofotometer
mono
oksida)

NO2 400 0
1 jam 0,212 Pembentukan
(Nitrogen 150 , 1
3 kompleks dengan
dioksida) 24 jam 0,080 0 0 Spektrofotometer UV-Vs
. 100 pereaksi
5 0
1 tahun 0,053 Saltzaman
3

O3 0
,
(ozon)
1 2

1 jam 0,120 235 2 1

4 0 5 Chemiluminescen
24 jam 0,080 157 Spektrofotometer UV
. 0 1 ce
1 tahun 0,026 50 , 5
0 7
8
0

KOV =

5 VOC=HC
Total 3 jam ...... 160 Kromatografi Kromatrografi gas
.
(Karbon
organik
volatil) =
(volatil
Organic
Carbon =
hidrokarbon
total

PM10 .
.
(Partikulat
.
diameter
.
<10 mikron)
.
1
.
5
6 24 jam ....... 150 .
0 Gravimetri PM10 meter
. 1 tahun ....... 50 .
5
.
0
.
.
.
.
.

7 PM2,5 24 jam ....... 65 . 6


. 5 Gravimetri PM2,5 meter
. (Partikulat 1 tahun ....... 15
.
diameter . 1
≤2,5 . 5
mikron) .
.

.
.
.
.
.
.
.

Pb 1
24 jam 2
5
8 (Timbal/Ti Spektrofotometer
3 bulan 1.500 0 Spektrometri
. mah hitam) Serapan Air
0
1 tahun 1
0

TSP 2
3
9 (Total 24 jam .........
0 Gravimetri High Volume Sampler
. Partikulat
1 tahun .........
Tersuspensi/ 9
debu) 0
Debu jatuh 10
ton/km 2
a.
2
1 Pemukiman 3
30 hari Penampungan pada filter
0 ........ 20 0 Gravimetri
b.Kawasan 30 hari bebas abu
. ton/km 9
Industri
2
0

1 Klorin Pembentukan
1 1 jam 1 3.130 kompleks dengan Spektrofotometer UV-Vs
. oortho-toluidin
Tabel 2.21 Kualitas Udara Ambien yang Terukur di Kabupaten Kulon Progo

Lokasi

1 2 3 4 5
P S
ar a O O O O O
N a t M k M k M k M k M k
o m u a t a t a t a t a t
et a r o r o r o r o r o
er n e b e b e b e b e b
t e t e t e t e t e
r r r r r

1 S µ 5 4 7 4 8 5 1 8 1 1
. O g 0 0 0 0 0 0 0 0 5 1
2 / 0 0 0
m
3

2 C µ 7 1 9 9 5 9 5 1 8 1
. O g 5 4 0 0 0 0 0 0 5 0
/ 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
m 0 0 0
3

3 N µ 6 2 2 2 2 3 2 3 5 4
. O g 0 9 5 4 0 0 0 5 0 0
2 /
m
3

4 O µ 3 9 3 6 2 1 2 1 2 6
. 3 g 0 0
/
m
3

5 T µ 2 2 2 2 7 1 1 1 1 1
. S g 1 1 0 1 0 0 6 7 5 6
P / 0 0 0 0 0 0 0 0 0
m
3
e. Komponen Hayati
Kabupaten Kulonprogo terdiri atas empat ekosistem dataran tinggi, dataran
rendah, pantai berpasir, dan ekosistem karst/bukit kapur. Wilayah Kabupaten
Kulonprogo didominasi oleh ekosistem dataran tinggi seluas 33.815,8 Ha.
Keanekaragaman hayati tersebar pada wilayah – wilayah ekosistem dataran tinggi
seperti Kecamatan Kalibawang (koordinat UTM : 416955 - 418738 mT), Kecamatan
Samigaluh (409365 - 411741 mT), dan Kecamatan Kokap (402698 - 405008 mT).
Penggunaan lahan yang masih alami memberikan dampak terhadap tingkat
keanekaragaman hayati di daerah tersebut.
Menurut Peta Kemelimpahan Flora dan Fauna Kabupaten Kulonprogo yang
dikeluarkan oleh BLH Provinsi DIY, Kecamatan Samigaluh memliki jumlah familia
flora terbanyak yaitu ± 40 familia, antara lain : durian, manggis, jati, beringin, randu
alas, klayu, gedoya, aren dll, sedangkan fauna ± 25 familia antara lain burung pemakan
serangga dan buah seperti : trocokan (Pycnonotus goavier), kutilang (Pycnonotus
aurigaster) dan pentet (Lanius schah), juga jenis burung yang dilindungi yaitu gelatik
jawa (Padda oryzivora).
Karena masih mempunyai kawasan hutan atau hutan masyarakat yang cukup luas
sehingga masih mampu menyediakan daya dukung bagi konservasi satwa liar. Di lokasi
dataran tinggi lain yaitu di Kecamatan Girimulyo terdapat penangkaran rusa (Cervus
timorensis). Di kawasan Gunung Api Purba Ijo terdapat habitat macan kumbang
(Panthera pardus), macan tutul (Panthera pardus), monyet ekor panjang (Macaca
fascicularis)
Pada ekosistem dataran tinggi juga terdapat ekosistem karst/bukit kapur yang
memiliki karakter yang spesifik baik flora maupun faunanya. Ekosistem karst
menempati wilayah terkecil hanya 673,35 Ha (1,2%) yang terdiri atas Formasi
Jonggrangan yang mengandung batuan gamping. Karena luas ekosistem karst ini hanya
relatif kecil maka ekosistem yang berkembangpun kecil terutama ekosistem yang
terdapat di luar gua, antara lain flora : pule, beringin, jati, dll.
Tabel 2.22 Jenis Flora yang Ada di Kulon Progo

No Nama Lokal Spesies


1 Beringin Ficus benyamina
2 Jambu-jambuan Syzigium sp
3 Pala hutan Myritica fatna
4 Pandan Pandanus tectorius
5 Rengas Gluta renghas
6 Pule Alstonia scholaris
7 Akasia Acacia auriculiformis
8 Kenanga Cananga odorata
9 Lamtoro Leucaena glauca
10 Kemuning Muraya panniculata
11 Ketapang Terminalai catapa
12 Mahoni Swietenia macrophylla
13 Jati Tectona grandis

Kondisi flora di daerah studi masuk dalam kategori sangat baik (5), karena secara
umum lokasi kegiatan berada di daerah yang masih di kaya akan tumbuhan dan
vegetasi.
Sedangkan fauna antara lain : kera ekor panjang (Macaca fascicularis) yang
jumlahnya cukup banyak dan dirasakan oleh masyarakat sebagai hama, karena sering
mengganggu dan merusak tanaman budidaya (terutama pada musim kemarau karena
persediaan makanan di habitatnya sangat sedikit/habis).
Waduk Sermo sebenarnya merupakan suatu ekosistem perairan tawar. Hal ini
disebabkan pada daerah tersebut hanya memiliki fauna saja sedangkan floranya adalah
fitoplankton, dengan keanekaragaman yang rendah (±15 genus) yang berfungsi sebagai
produsen. Di perairan Waduk Sermo, Kabupaten Kulonprogo hanya ditemukan 18
genus zooplankton; 4 genus bentos dan hanya 6 spesies ikan (ikan air tawar). Angka
yang diperoleh menunjukkan kekayaan jenis tang sangat terbatas/sedikit. Untuk jenis
ikan yang hidup di perairan waduk sermo dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 2.23 Jenis Flora yang Ada di Kulon Progo

Uraian Jenis
No
Nama Lokal Nama Ilmiah
1 Kijang Muntiacus muntjak
2 Rusa Cervus timorensis
3 Cekakak jawa Halcyon cyanoventris
4 Kakatua koki Cacatua galerita
5 Elang laut Haliaeetus leucogaster
6 Kasturi ternate Lorius garralus
7 Gelatik jawa Padda oryzivora
8 Trocokan Pycnonotus goavier
9 Kutilang Pycnonotus aurigaster
10 Macan kumbang Panthera pardus
11 Macan tutul Panthera pardus
12 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis

Kondisi fauna di daerah studi masuk dalam kategori sangat baik (5), karena
secara umum lokasi kegiatan berada di daerah yang masih di kaya akan tumbuhan dan
vegetasi sehingga masih menjadi habitat yang baik untuk menjadi tempat tinggal hewan
di tempat tersebut.

2.2. KEGIATAN LAIN YANG ADA DI SEKITAR LOKASI RENCANA


2.2.1 Kawasan Hutan Lindung
Kawasan lindung yaitu wilayah yang ditetapkan dengan fungsi utamamelindungi
kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alamdan sumber daya buatan.
Kawasan lindung dibagi menjadi lima kawasan yaitukawasan lindung terhadap kawasan
dibawahnya; kawasan perlindungansetempat; kawasan suaka margasatwa; kawasan rawan
bencana; dan kawasanlindung geologi. Kawasan lindung terhadap kawasan bawahnya dibagi
menjadi dua yaitu kawasan hutan lindung dan kawasan resapan air. Berdasarkan RTRW
Kabupaten Kulon Progo tahun 2012 – 2032, dilihat dari tutupan lahannya, luas kawasan
lindung Kabupaten Kulon Progo terhadap kawasan dibawahnya sebesar 16.834,710 hektar,
dengan luas hutan lindung 278,577 hektar dan kawasan resapan air 16.556,133 hektar.
Kawasan hutan lindung berada di seluruh kawasan hutan negara dengan luas
278,577 hektar, meliputi:
a. Desa Hargowilis Kecamatan Kokap; dan
b. Desa Karangsari dan Desa Sendangsari berada di Kecamatan Pengasih.
Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya berupa
kawasan resapan air 16.556,133 hektar, meliputi:
a. Tempat cekungan air tanah pada daerah tubuh Pegunungan Menoreh;
b. Hutan konservasi di Desa Hargowilis Kecamatan Kokap; dan
c. Waduk Sermo di Kecamatan Kokap dan Bendung Sapon di Kecamatan Lendah.
2.2.2 Kawasan Suaka Alam
Kawasan Suaka Alam adalah kawasan yang memiliki ciri khas tertentu,baik di
daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagaikawasan keutuhan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnyayang berfungsi sebagai wilayah
sistem penyangga kehidupan. Kawasan SuakaAlam terbagi menjadi dua, yaitu kawasan
Suaka Margasatwa dan kawasanCagar Alam. Kawasan Suaka Margasatwa adalah kawasan
suaka alam yangmempunyai kekhasan/keunikan keanekaragaman satwa liar,
dalamkelangsungan suaka margasatwa memerlukan upaya perlindungan danpembinaan
terhadap populasi dan habitatnya. Selain kawasan SuakaMargasatwa Kabupaten Kulon Progo
juga memiliki Kawasan Cagar Budaya.Kawasan cagar budaya adalah kawasan yang
merupakan lokasi bangunan hasilbudaya manusia yang bernilai tinggi maupun bentukan
geologi alami yangkhas. Luas suaka alam sebesar 994.801 hektar yang di dalamnya terdapat
suakamargasatwa. Kawasan suaka margasatwa berada di Desa HargowilisKecamatan
Kokap.Kawasan suaka alam di Kabupaten Kulon Progo dalam pelestarianalamnya meliputi:
a. taman wisata alam tracking dan hashing berada di Kali Biru DesaHargowilis
Kecamatan Kokap, Gunung Kelir, dan Tamanan DesaJatimulyo Kecamatan Girimulyo;
b. taman wisata alam tracking, hashing, layang gantung, panorama, danagrowisata teh
berada di Suroloyo Pegunungan Menoreh KecamatanSamigaluh; dan
c. pemandian alam, di Desa Sendangsari Kecamatan Pengasih; dan DesaGerbosari
Kecamatan Samigaluh.

2.2.3 Kegiatan Rumah Tangga


Lokasi rencana kegiatan PT. ABC letaknya berdampingan dengan permukiman
warga setempat. Kegiatan rumah tangga memiliki dampak terhadap lingkungan diantaranya
diakibatkan limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah tangga tersebut, baik itu limbah
padat maupun limbah cair. Selain itu, kegiatan rumah tangga juga berpengaruh terhadap
kuantitas air tanah maupun permukaan di wilayah setempat. Jumlah kepala keluarga/ rumah
yang menjadi warga setempat bermukim sejumlah 9.139. Dengan jumlah luas kecamatan
7380 ha.

2.2.4 Pertanian dan Peternakan


Banyaknya masyarakat di Kecamatan Kokap yang bermata pencaharian bertani dan
beternak maupun peternakan , sehingga mayoritas lahan yang ada di wilayah tersebut digarap
sebagai persawahan maupun perkebunan danpeternakan. Kegiatan ini lah yang nantinya akan
berdampingan dengan rencana kegiatan PT. ABC. Hasil pertanian di Kecamatan Kokap
diantaranya padi, kacang tanah, jagung, buah-buahan, serta sayuran. Sedangkan di bagian
peternakan di antaranya kambing, kelinci , sapi potong ,domba , kuda ,dan unggas Kegiatan
pertanian dan peternakan memiliki dampak lingkungan terhadap kuantitas air. Baik itu
sebagai irigasi persawahan maupun penyiraman perkebunan. Untuk irigasi pertanian,
masyarakat setempat memanfaatkan air dari Waduk sermo.Sedangkan kegiatan peternakan
menimbulkan dampak berupa limbah baik itu limbah padat maupun cair, yang memiliki
kandungan organik yang cukup tinggi. Apabila tidak dikelola dengan baik maka dapat
menurunkan atau mencemari lingkungan.

2.2.5 Parawisata
Saat ini Kecamatan Kokap menjadi tujuan wisata Kalibiru dan Waduk sermo.
Waduk Sermo di sebagian Kecamatan Kokap dengan luas 341,841 hektar. Kegiatan wisata
ini berdampingan dengan rencana kegiatan pertambangan emas PT. ABC. dampak yang
ditimbulkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya volume kendaraan yang melalui lokasi
rencana kegiatan PT. ABC.
BAB III
PRAKIRAAN DAMPAK PENTING

3.1 KOMPONEN GEOFISIKA – KIMIA


A. Kebisingan
1) Tahap Kontrsuksi
 Pembangunan Sarana dan Prasarana
Pada tahap konstruksi terdapat aktivitas pembangunan sarana dan pra sarana yang
didalamnya terdapat proses pemasangan pondasi dengan konstruksi menggunakan
tiang pancang yang menggunakan peralatan berat yakni seperti drop hammer dan
sebagainya sehingga menimbukan kebisingan dari pengoperasian alat berat dan
konstruksi tersebut. Kebisingan ini akan menimbulkan gangguan berupa pencemaran
suara yang menyebabkan ketidaknyamanan pendengaran dan aktivitas komunikasi
verbal serta stabilitas emosi masyarakat yang belum terbiasa dengan keberadaan
proyek ini. Analisis kebisingan pada jarak tertentu akibat adanya pembangunan
konstruksi sarana dan pra sarana dipergunakan persamaan point source sebagai
berikut :
Dimana :
SL1 dan SL2 = Sumber kebisingan pada jarak tertentu
r2/r1 = Jarak antar sumber dampak dengan jarak yang diinginkan
Tingkat kebisingan peralatan konstruksi sesuai dengan Pedoman Pemantauan
Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tahun 2009, menyebutkan bahwa sebagai berikut :

Tabel 3.30 Tingkat Kebisingan Peralatan Konstruksi

Tingkat Kebisingan (dBA)


Jenis Pada Pada jarak 15 m Pada jarak 30 m
NO
Peralatan Sumbernya dari sumbernya dari sumbernya
(dBA) (dBA) (dBA)
1 Bulldozer 101 82,6 67,5
2 Backhoe 98 82,6 60,5
3 Truck 64,6
Vibration
4 98 82,5 60,5
roller
Vibration
5 101 82,6 63,5
compactor
Road
6 101 82,6 63,5
roller
Asphalt
7 101 82,6 63,5
finisher
Sumber : Pedoman Pemantauan Lingkungan Hidup Bidang Jalan, 2009

Apabila digunakan perhitungan point source tingkat kebisingan akan turun


semakin jauh jaraknya. Dengan intensitas dan periode pembangunan sarana dan pra
sarana yang berlangsung dalam rentang waktu yang pendek (tidak terus-menerus),
maka peningkatan kebisingan tidak sampai menyebabkan gangguan terhadap
lingkungan masyarakat sekitar seperti kesehatan ataupun keresahan yang timbul.
Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran pada area sekitar proyek :
Tabel 3.31 Prakiraan Tingkat Kebisingan pada Kegiatan Pembangunan Sarana dan Prasarana
Tingkat Jarak dari sumber kebisingan (meter)
Alat Berat
Kebisingan
NO yang
(dBA) dari 5 10 20 50 100 150 200 500 1000 2000 3000
digunakan
sumber
1 Bulldozer 101 87 81 75 67 61 57 55 47 41 35 31
2 Backhoe 98 84 78 72 64 56 53 50 42 36 30 27
3 Dump Truck 64,6 51 45 39 31 23 19 17 9 3 - -
4 Compactor 101 87 81 75 67 59 56 53 45 39 33 30
5 Wheel loader 82 68 62 56 48 40 37 34 26 20 14 11
6 Vibration roller 98 84 78 72 64 56 53 50 42 36 30 27

Berikut ini adalah tabel Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada
baku mutu yang ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 48
adalah sebagai berikut :

Tabel 3.32 Skala Tingkat Kebisingan


Kriteria Skala
0 – 20 dB Sangat Baik 5
20 – 30 dB Baik 4
30 – 50 dB Sedang 3
50 – 60 dB Jelek 2
>60 dB Sangan Jelek 1

Dari analisa diatas jarak kurang lebih antara 5 – 100 meter dari sumber baru
memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu pemukiman yakni 55 dBA.
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 3 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 1 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 1 – 3 = -2

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan pembangunan sarana dan


prasarana akan berlangsung selama 36 minggu. Berikut ini perkiraan tingkat
kepentingan tingkat kebisingan :

Tabel 3.33 Prakiraan Tingkat Kepentingan Tingkat Kebisingan pada Tahap Pembangunan
Sarana dan Prasarana
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh tingkat
Jumlah Manusia kebisingan pada saat pembangunan
1 P
Terkena Dampak sarana dan prasarana yakni
pemukiman yang berdekatan dengan
lokasi proyek
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah jarak 200 meter dari warga Desa
2 P
Persebaran Dampak Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas Dan Intensitas dan lama waktu kegiatan
3 P
Lamanya Dampak ini yakni berlangsung selama 36
Berlansung minggu atau +/- 9 bulan.

Kebisingan mempengaruhi aspek


Jumlah Lingkungan
kesehatan dan kondisi sosial
4 Lain Yang Terkena P
masyarakat selama kegiatan ini
Dampak
berlangsung
Dampak bersifat tidak kumultaif
Sifat Kumulatif
5 TP karena berkurang setelah kegiatan
Dampak
berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 TP
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Peningkatan kebisingan pada saat
Dengan
pembangunan dapat ditangani
7 Perkembangan Dan TP
dengan pendekatan perawatan
Pengetahuan Dan
kendaraan alat konstruksi
Teknologi
Jumlah 4P 3TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

 Mobilisasi Alat Berat dan Material


Pada tahap konstruksi terdapat aktivitas mobilisasi alat berat dan material akan
menimbulkan kebisingan sekitar jalur yang akan dilaluinya. Kebisingan ini akan
menimbulkan gangguan berupa pencemaran suara yang menyebabkan
ketidaknyamanan pendengaran dan aktivitas komunikasi verbal serta stabilitas emosi
masyarakat yang belum terbiasa dengan keberadaan proyek ini. Analisis kebisingan
pada jarak tertentu akibat adanya mobilisasi alat berat dan material dipergunakan
persamaan line source sebagai berikut :

Dimana :
SL1 dan SL2 = Sumber kebisingan pada jarak tertentu
r2/r1 = Jarak antar sumber dampak dengan jarak yang diinginkan
Tingkat kebisingan peralatan konstruksi sesuai dengan Pedoman Pemantauan
Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tahun 2009 pada Tabel xx. Apabila digunakan
perhitungan line source tingkat kebisingan akan turun semakin jauh jaraknya.
Dengan intensitas dan periode mobilisasi alat berat dan material yang berlangsung
dalam rentang waktu yang pendek (tidak terus-menerus), maka peningkatan
kebisingan tidak sampai menyebabkan gangguan terhadap lingkungan masyarakat
sekitar seperti kesehatan ataupun keresahan yang timbul. Berikut ini adalah tabel
prakiraan nilai besaran pada area sekitar proyek :

Tabel 3.34Prakiraan Tingkat Kebisingan pada Kegiatan Mobilisasi Alat Berat dan Material
Tingkat Jarak dari sumber kebisingan (meter)
Alat Berat
Kebisingan
NO yang
(dBA) dari 10 50 100 200 500 1000 2000 5000 10000 20000 30000 50000
digunakan
sumber
1 Bulldozer 101 91 84 81 78 74 71 68 64 61 58 56 54
2 Excavator 98 88 81 78 75 71 68 65 61 58 55 53 51
3 Dump Truck 64,6 55 48 45 42 38 35 32 28 25 22 20 18
4 Compactor 101 91 84 81 78 74 71 68 64 61 58 56 54
5 Wheel loader 82 72 65 62 59 55 52 49 45 42 39 37 35

Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada baku mutu yang
ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 48 terdapat pada
Tabel 3.34 . Dari analisa diatas jarak kurang lebih antara 10 – 20000 meter dari
sumber baru memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu pemukiman
yakni 55 dBA.
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 3 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 3 = -1
Dampak peningkatan kebisingan pada tahap mobilisasi alat berat dan material
akan berlangsung selama 4 minggu. Berikut ini perkiraan tingkat kepentingan
tingkat kebisingan :
Tabel 3.35 Prakiraan Tingkat Kepentingan Tingkat Kebisingan pada Tahap Mobilisasi Alat
Berat dan Material
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh tingkat
Jumlah Manusia kebisingan pada saat mobilisasi alat
1 P
Terkena Dampak berat dan material yakni pemukiman
yang berdekatan dengan lokasi
proyek
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah jarak 20000 meter dari warga Desa
2 P
Persebaran Dampak Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas Dan Intensitas dan lama waktu kegiatan
3 Lamanya Dampak P ini yakni berlangsung selama 4
Berlansung minggu atau +/- 1 bulan.
Kebisingan mempengaruhi aspek
Jumlah Lingkungan
kesehatan dan kondisi sosial
4 Lain Yang Terkena P
masyarakat selama kegiatan ini
Dampak
berlangsung
Dampak bersifat tidak kumultaif
Sifat Kumulatif
5 TP karena berkurang setelah kegiatan
Dampak
berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 TP
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Peningkatan kebisingan pada saat
Dengan
mobilisasi alat berat dan material
7 Perkembangan Dan TP
dapat ditangani dengan pendekatan
Pengetahuan Dan
perawatan kendaraan alat konstruksi
Teknologi
Jumlah 4P 3TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

2) Tahap Penambangan
 Pembersihan Lahan
Pada tahap penambangan terdapat aktivitas pembersihan lahan yang akan
menimbulkan kebisingan berasal dari alat berat yang digunakan. Kebisingan ini akan
menimbulkan gangguan berupa pencemaran suara yang menyebabkan
ketidaknyamanan pendengaran dan aktivitas komunikasi verbal serta stabilitas emosi
masyarakat yang belum terbiasa dengan keberadaan proyek ini. Analisis kebisingan
pada jarak tertentu akibat adanya pembersihan lahan dipergunakan persamaan point
source sebagai berikut :
Dimana :
SL1 dan SL2 = Sumber kebisingan pada jarak tertentu
r2/r1 = Jarak antar sumber dampak dengan jarak yang diinginkan

Tingkat kebisingan peralatan konstruksi sesuai dengan Pedoman Pemantauan


Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tahun 2009 pada Tabel 3.36. Apabila digunakan
perhitungan point source tingkat kebisingan akan turun semakin jauh jaraknya.
Dengan intensitas dan periode pembersihan lahan yang berlangsung dalam rentang
waktu yang pendek (tidak terus-menerus), maka peningkatan kebisingan tidak
sampai menyebabkan gangguan terhadap lingkungan masyarakat sekitar seperti
kesehatan ataupun keresahan yang timbul. Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai
besaran pada area sekitar proyek :
Tabel 3.36 Prakiraan Tingkat Kebisingan pada Kegiatan Pembersihan Lahan
Alat Berat Jarak dari sumber kebisingan (meter)
Tingkat Kebisingan
NO yang
(dBA) dari sumber 5 10 20 50 100 150 200 500 1000 2000 3000
digunakan
1 Bulldozer 101 87 81 75 67 61 57 55 47 41 35 31
2 Backhoe 98 84 78 72 64 56 53 50 42 36 30 27
3 Dump Truck 64,6 51 45 39 31 23 19 17 9 3 - -
4 Compactor 101 87 81 75 67 59 56 53 45 39 33 30

Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada baku mutu yang
ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 48 terdapat pada
Tabel 3.36 . Dari analisa diatas jarak kurang lebih antara 5 – 100 meter dari sumber
baru memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu pemukiman yakni 55
dBA.
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 3 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 3 = -1
Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan pembersihan lahan akan
berlangsung selama 2 minggu. Berikut ini perkiraan tingkat kepentingan tingkat
kebisingan :

Tabel 3.37 Prakiraan Tingkat Kepentingan Tingkat Kebisingan pada Tahap Pembersihan
Lahan
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh tingkat
Jumlah Manusia
1 P kebisingan pada saat pembersihan
Terkena Dampak
lahan yakni pemukiman yang
berdekatan dengan lokasi proyek
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah
2 P jarak 150 meter dari warga Desa
Persebaran Dampak
Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.

Intensitas Dan Intensitas dan lama waktu kegiatan


3 Lamanya Dampak P ini yakni berlangsung selama 2
Berlansung minggu atau +/- 1/2 bulan.
Kebisingan mempengaruhi aspek
Jumlah Lingkungan
kesehatan dan kondisi sosial
4 Lain Yang Terkena P
masyarakat selama kegiatan ini
Dampak
berlangsung
Dampak bersifat tidak kumultaif
Sifat Kumulatif
5 TP karena berkurang setelah kegiatan
Dampak
berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 TP
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Peningkatan kebisingan pada saat
Dengan
pembersihan lahan dapat ditangani
7 Perkembangan Dan TP
dengan pendekatan perawatan
Pengetahuan Dan
kendaraan alat konstruksi
Teknologi
Jumlah 4P 3TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

 Pengupasan Tanah Pucuk dan Penutup


Pada tahap penambangan terdapat aktivitas pengupasan tanah pucuk dan penutup
yang akan menimbulkan kebisingan berasal dari alat berat yang digunakan.
Kebisingan ini akan menimbulkan gangguan berupa pencemaran suara yang
menyebabkan ketidaknyamanan pendengaran dan aktivitas komunikasi verbal serta
stabilitas emosi masyarakat yang belum terbiasa dengan keberadaan proyek ini.
Analisis kebisingan pada jarak tertentu akibat adanya pengupasan tanah pucuk dan
penutup dipergunakan persamaan point source sebagai berikut :
Dimana :
SL1 dan SL2 = Sumber kebisingan pada jarak tertentu
r2/r1 = Jarak antar sumber dampak dengan jarak yang diinginkan
Tingkat kebisingan peralatan konstruksi sesuai dengan Pedoman Pemantauan
Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tahun 2009 pada Tabel xx. Apabila digunakan
perhitungan point source tingkat kebisingan akan turun semakin jauh jaraknya.
Dengan intensitas dan periode pengupasan tanah pucuk dan penutup yang
berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, maka peningkatan kebisingan bisa
sampai menyebabkan gangguan terhadap lingkungan masyarakat sekitar seperti
kesehatan ataupun keresahan yang timbul. Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai
besaran pada area sekitar proyek :

Tabel 3.381 Prakiraan Tingkat Kebisingan pada Kegiatan Pengupasan Tanah Pucuk dan
Penutup
Jarak dari sumber kebisingan (meter)
Alat Berat
Tingkat Kebisingan
NO yang
(dBA) dari sumber 5 10 20 50 100 150 200 500 1000 2000 3000
digunakan

1 Bulldozer 101 87 81 75 67 61 57 55 47 41 35 31
2 Wheel loader 82 68 62 56 48 42 38 36 28 22 16 12
3 Dump Truck 64,6 51 45 39 31 23 19 17 9 3 - -

Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada baku mutu yang
ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 48 terdapat pada
Tabel 3.38 . Dari analisa diatas jarak kurang lebih antara 5 – 150 meter dari sumber
baru memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu pemukiman yakni 55
dBA.
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 3 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 3 = -1

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan pengupasan tanah pucuk dan
penutup akan berlangsung selama 10 tahun. Berikut ini perkiraan tingkat
kepentingan tingkat kebisingan :
Tabel 3.392 Prakiraan Tingkat Kepentingan Tingkat Kebisingan pada Tahap Pengupasan
Tanah Pucuk dan Penutup
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh tingkat
Jumlah Manusia kebisingan pada saat pengupasan
1 P
Terkena Dampak tanah pucuk dan penutup yakni
pemukiman yang berdekatan dengan
lokasi proyek
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah jarak 150 meter dari warga Desa
2 P
Persebaran Dampak Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas Dan Intensitas dan lama waktu kegiatan
3 Lamanya Dampak P ini yakni berlangsung selama 10
Berlansung tahun
Kebisingan mempengaruhi aspek
Jumlah Lingkungan
kesehatan dan kondisi sosial
4 Lain Yang Terkena P
masyarakat selama kegiatan ini
Dampak
berlangsung
Dampak bersifat kumultaif karena
kegiatan pengupasan tanah pucuk
Sifat Kumulatif
5 P dan tanah penutup akan terus
Dampak
dilakukan selama kegiatan
penambangan emas
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 TP
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai Peningkatan kebisingan pada saat
7 Dengan TP pengupasan tanah pucuk dan penutup
Perkembangan Dan dapat ditangani dengan pendekatan
Pengetahuan Dan perawatan kendaraan alat konstruksi
Teknologi

Jumlah 5P 2TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

 Penambangan
Pada tahap penambangan terdapat aktivitas penambangan yang akan
menimbulkan kebisingan berasal dari alat berat yang digunakan dan sistem
peledakan yang digunakan. Kebisingan ini akan menimbulkan gangguan berupa
pencemaran suara yang menyebabkan ketidaknyamanan pendengaran dan aktivitas
komunikasi verbal serta stabilitas emosi masyarakat yang belum terbiasa dengan
keberadaan proyek ini. Analisis kebisingan pada jarak tertentu akibat adanya
penambangan dipergunakan persamaan point source sebagai berikut :

Dimana :
SL1 dan SL2 = Sumber kebisingan pada jarak tertentu
r2/r1 = Jarak antar sumber dampak dengan jarak yang diinginkan

Tingkat kebisingan peralatan konstruksi sesuai dengan Pedoman Pemantauan


Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tahun 2009 pada Tabel 3.40. Apabila digunakan
perhitungan point source tingkat kebisingan akan turun semakin jauh jaraknya.
Dengan intensitas dan periode penambangan yang berlangsung dalam rentang waktu
yang panjang, maka peningkatan kebisingan bisa sampai menyebabkan gangguan
terhadap lingkungan masyarakat sekitar seperti kesehatan ataupun keresahan yang
timbul. Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran pada area sekitar proyek :

Tabel 3.40 Prakiraan Tingkat Kebisingan pada Penambangan


Tingkat Jarak dari sumber kebisingan (meter)
Alat Berat
Kebisingan
NO yang
(dBA) dari 5 10 20 50 100 150 200 500 1000 2000 3000
digunakan
sumber
1 Drill 101 87 81 75 67 61 57 55 47 41 35 31
2 Blasting 98 84 78 72 64 58 54 52 44 38 32 28
Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada baku mutu yang
ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 48 terdapat pada
Tabel 3.40 . Dari analisa diatas jarak kurang lebih antara 5 – 200 meter dari sumber
baru memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu pemukiman yakni 55
dBA.
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 3 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 3 = -1

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan penambangan akan


berlangsung selama 10 tahun. Berikut ini perkiraan tingkat kepentingan tingkat
kebisingan :

Tabel 3.41 Prakiraan Tingkat Kepentingan Tingkat Kebisingan pada Tahap Penambangan
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh tingkat
Jumlah Manusia
1 P kebisingan pada saat penambangan
Terkena Dampak
yakni pemukiman yang berdekatan
dengan lokasi proyek
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah jarak 150 meter dari warga Desa
2 P
Persebaran Dampak Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas Dan Intensitas dan lama waktu kegiatan
3 Lamanya Dampak P ini yakni berlangsung selama 10
Berlansung tahun
Kebisingan mempengaruhi aspek
Jumlah Lingkungan
kesehatan dan kondisi sosial
4 Lain Yang Terkena P
masyarakat selama kegiatan ini
Dampak
berlangsung
Dampak bersifat kumultaif karena
Sifat Kumulatif kegiatan penambangan akan terus
5 P
Dampak dilakukan selama kegiatan
penambangan emas
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 TP
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Peningkatan kebisingan pada saat
Dengan
penambangan dapat ditangani
7 Perkembangan Dan TP
dengan melakukan pengontrolan
Pengetahuan Dan
peledakan
Teknologi
Jumlah 5P 2TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

 Pengangkutan
Pada tahap penambangan terdapat aktivitas pengangkutan yang akan
menimbulkan kebisingan berasal dari alat berat yang digunakan. Kebisingan ini akan
menimbulkan gangguan berupa pencemaran suara yang menyebabkan
ketidaknyamanan pendengaran dan aktivitas komunikasi verbal serta stabilitas emosi
masyarakat yang belum terbiasa dengan keberadaan proyek ini. Analisis kebisingan
pada jarak tertentu akibat adanya pengangkutan dipergunakan persamaan line source
sebagai berikut :

Dimana :
SL1 dan SL2 = Sumber kebisingan pada jarak tertentu
r2/r1 = Jarak antar sumber dampak dengan jarak yang diinginkan
Tingkat kebisingan peralatan konstruksi sesuai dengan Pedoman Pemantauan
Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tahun 2009 pada Tabel xx. Apabila digunakan
perhitungan line source tingkat kebisingan akan turun semakin jauh jaraknya.
Dengan intensitas dan periode pengangkutan yang berlangsung dalam rentang waktu
yang panjang, namun peningkatan kebisingan mungkin sampai menyebabkan
gangguan terhadap lingkungan masyarakat sekitar seperti kesehatan ataupun
keresahan yang timbul. Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran pada area
sekitar proyek :

Tabel 3.42 Prakiraan Tingkat Kebisingan pada Kegiatan Pengangkutan


Tingkat Jarak dari sumber kebisingan (meter)
Alat Berat
Kebisingan
NO yang
(dBA) dari 5 10 20 50 100 150 200 500 1000 2000 3000 50000
digunakan
sumber
1 Dump Truck 64,6 58 55 52 48 45 43 42 38 35 32 30 28

Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada baku mutu yang
ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 48 terdapat pada
Tabel xx . Dari analisa diatas jarak kurang lebih antara 5 – 20 meter dari sumber
baru memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu pemukiman yakni 55
dBA.
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 3 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 3 – 2 = -1

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan pengangkutan akan


berlangsung selama 10 tahun. Berikut ini perkiraan tingkat kepentingan tingkat
kebisingan :
Tabel 3.433 Prakiraan Tingkat Kepentingan Tingkat Kebisingan pada Tahap Pengangkutan
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh tingkat
Jumlah Manusia
1 P kebisingan pada saat pengangkutan
Terkena Dampak
yakni pemukiman yang berdekatan
dengan lokasi proyek
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah jarak 150 meter dari warga Desa
2 P
Persebaran Dampak Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas Dan Intensitas dan lama waktu kegiatan
3 Lamanya Dampak P ini yakni berlangsung selama 10
Berlansung tahun
Kebisingan mempengaruhi aspek
Jumlah Lingkungan
kesehatan dan kondisi sosial
4 Lain Yang Terkena P
masyarakat selama kegiatan ini
Dampak
berlangsung
Dampak bersifat kumultaif karena
Sifat Kumulatif kegiatan pengangkutan akan terus
5 P
Dampak dilakukan selama kegiatan
penambangan emas
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 TP
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Peningkatan kebisingan pada saat
Dengan
pengangkutan dapat ditangani
7 Perkembangan Dan TP
dengan pendekatan perawatan
Pengetahuan Dan
kendaraan alat konstruksi
Teknologi
Jumlah 5P 2TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

 Pengolahan Emas
Pada tahap penambangan terdapat aktivitas pengolahan emas yang akan
menimbulkan kebisingan berasal dari alat berat yang digunakan dan sistem
peledakan yang digunakan. Kebisingan ini akan menimbulkan gangguan berupa
pencemaran suara yang menyebabkan ketidaknyamanan pendengaran dan aktivitas
komunikasi verbal serta stabilitas emosi masyarakat yang belum terbiasa dengan
keberadaan proyek ini. Analisis kebisingan pada jarak tertentu akibat adanya
penambangan dipergunakan persamaan point source sebagai berikut :

Dimana :
SL1 dan SL2 = Sumber kebisingan pada jarak tertentu
r2/r1 = Jarak antar sumber dampak dengan jarak yang diinginkan

Tingkat kebisingan peralatan konstruksi sesuai dengan Pedoman Pemantauan


Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tahun 2009 pada Tabel 3.44. Apabila digunakan
perhitungan point source tingkat kebisingan akan turun semakin jauh jaraknya.
Dengan intensitas dan periode pengolahan emas yang berlangsung dalam rentang
waktu yang panjang, maka peningkatan kebisingan bisa sampai menyebabkan
gangguan terhadap lingkungan masyarakat sekitar seperti kesehatan ataupun
keresahan yang timbul. Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran pada area
sekitar proyek :

Tabel 3.444 Prakiraan Tingkat Kebisingan pada Pengolahan Emas


Tingkat Jarak dari sumber kebisingan (meter)
Alat Berat yang Kebisingan
NO
digunakan (dBA) dari 5 10 20 50 100 150 200 500 1000 2000 3000
sumber
1 Crusher 78 64 58 52 44 38 34 32 24 18 12 8
2 Belt conveyor 79 65 59 53 45 39 35 33 25 19 13 9
3 Hopper 85,2 71 65 59 51 45 42 39 31 25 19 16
4 Falcon Concentrator 82 68 62 56 48 42 38 36 28 22 16 12
5 Smelter 80 66 60 54 46 40 36 34 26 20 14 10
Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada baku mutu yang
ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 48 terdapat pada
Tabel 3.44 . Dari analisa diatas jarak kurang lebih antara 5 – 20 meter dari sumber
baru memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu pemukiman yakni 55
dBA.
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 3 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 3 = -1

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan pengolahan emas akan


berlangsung selama 10 tahun. Berikut ini perkiraan tingkat kepentingan tingkat
kebisingan :

Tabel 3.455 Prakiraan Tingkat Kepentingan Tingkat Kebisingan pada Tahap Pengolahan
Emas
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh tingkat
Jumlah Manusia
1 P kebisingan pada saat pengolahan
Terkena Dampak
emas yakni pemukiman yang
berdekatan dengan lokasi proyek
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah jarak 20 meter dari warga Desa
2 P
Persebaran Dampak Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas Dan Intensitas dan lama waktu kegiatan
3 Lamanya Dampak P ini yakni berlangsung selama 10
Berlansung tahun
Kebisingan mempengaruhi aspek
Jumlah Lingkungan
kesehatan dan kondisi sosial
4 Lain Yang Terkena P
masyarakat selama kegiatan ini
Dampak
berlangsung
Dampak bersifat kumultaif karena
Sifat Kumulatif kegiatan pengolahan emas akan terus
5 P
Dampak dilakukan selama kegiatan
penambangan emas
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 TP
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Peningkatan kebisingan pada saat
Dengan
pengolahan emas dapat ditangani
7 Perkembangan Dan TP
dengan melakukan pengontrolan
Pengetahuan Dan
peledakan
Teknologi
Jumlah 5P 2TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

3) Tahap Pasca Konstruksi


 Reklamasi
Pada tahap pasca konstruksi terdapat aktivitas reklamasi yang didalamnya
terdapat proses perbaikan bentang lahan, penyebaran tanah penutup, pencegahan
erosi dan sedimentasi, revegetasi, jalan akses dan rehabilitasi lokasi penempatan
tanah penutup dan tailing menggunakan peralatan berat sehingga menimbukan
kebisingan dari pengoperasian alat berat dan konstruksi tersebut. Kebisingan ini
akan menimbulkan gangguan berupa pencemaran suara yang menyebabkan
ketidaknyamanan pendengaran dan aktivitas komunikasi verbal serta stabilitas emosi
masyarakat yang belum terbiasa dengan keberadaan proyek ini. Analisis kebisingan
pada jarak tertentu akibat adanya kegiatan reklamasi dipergunakan persamaan point
source sebagai berikut :

Dimana :
SL1 dan SL2 = Sumber kebisingan pada jarak tertentu
r2/r1 = Jarak antar sumber dampak dengan jarak yang diinginkan
Tingkat kebisingan peralatan konstruksi sesuai dengan Pedoman Pemantauan
Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tahun 2009 pada Tabel 3.46. Apabila digunakan
perhitungan point source tingkat kebisingan akan turun semakin jauh jaraknya.
Dengan intensitas dan periode reklamasi yang berlangsung dalam rentang waktu
yang pendek (tidak terus-menerus), maka peningkatan kebisingan tidak sampai
menyebabkan gangguan terhadap lingkungan masyarakat sekitar seperti kesehatan
ataupun keresahan yang timbul. Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran pada
area sekitar proyek :

Tabel 3.46 Prakiraan Tingkat Kebisingan pada Kegiatan Reklamasi


Tingkat Jarak dari sumber kebisingan (meter)
Alat Berat
Kebisingan
NO yang
(dBA) dari 5 10 20 50 100 150 200 500 1000 2000 3000
digunakan
sumber
1 Bulldozer 101 87 81 75 67 61 57 55 47 41 35 31
2 Backhoe 98 84 78 72 64 56 53 50 42 36 30 27
3 Dump Truck 64,6 51 45 39 31 23 19 17 9 3 - -
4 Compactor 101 87 81 75 67 59 56 53 45 39 33 30
5 Wheel loader 82 68 62 56 48 40 37 34 26 20 14 11
6 Vibration roller 98 84 78 72 64 56 53 50 42 36 30 27

Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada baku mutu yang
ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 48 terdapat pada
Tabel 3.46 . Dari analisa diatas jarak kurang lebih antara 5 – 200 meter dari sumber
baru memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu pemukiman yakni 55
dBA.
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 3 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 3 = -1

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan reklamasi akan berlangsung


selama 6 minggu. Berikut ini perkiraan tingkat kepentingan tingkat kebisingan :
Tabel 3.47Prakiraan Tingkat Kepentingan Tingkat Kebisingan pada Tahap Reklamasi
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh tingkat
Jumlah Manusia
1 P kebisingan pada saat reklamasi yakni
Terkena Dampak
pemukiman yang berdekatan dengan
lokasi proyek
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah jarak 200 meter dari warga Desa
2 P
Persebaran Dampak Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas Dan Intensitas dan lama waktu kegiatan
3 Lamanya Dampak P ini yakni berlangsung selama 6
Berlansung minggu
Kebisingan mempengaruhi aspek
Jumlah Lingkungan
kesehatan dan kondisi sosial
4 Lain Yang Terkena P
masyarakat selama kegiatan ini
Dampak
berlangsung
Dampak bersifat tidak kumultaif
Sifat Kumulatif
5 TP karena berkurang setelah kegiatan
Dampak
berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 TP
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Peningkatan kebisingan pada saat
Dengan
reklamasi dapat ditangani dengan
7 Perkembangan Dan TP
pendekatan perawatan kendaraan alat
Pengetahuan Dan
konstruksi
Teknologi
Jumlah 4P 3TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

 Demobilisasi Alat Berat dan Material


Pada tahap pasca konstruksi terdapat aktivitas demobilisasi alat berat dan material
akan menimbulkan kebisingan sekitar jalur yang akan dilaluinya. Kebisingan ini
akan menimbulkan gangguan berupa pencemaran suara yang menyebabkan
ketidaknyamanan pendengaran dan aktivitas komunikasi verbal serta stabilitas emosi
masyarakat yang belum terbiasa dengan keberadaan proyek ini. Analisis kebisingan
pada jarak tertentu akibat adanya mobilisasi alat berat dan material dipergunakan
persamaan line source sebagai berikut :

Dimana :
SL1 dan SL2 = Sumber kebisingan pada jarak tertentu
r2/r1 = Jarak antar sumber dampak dengan jarak yang diinginkan

Tingkat kebisingan peralatan konstruksi sesuai dengan Pedoman Pemantauan


Lingkungan Hidup Bidang Jalan Tahun 2009 pada Tabel 3.48. Apabila digunakan
perhitungan line source tingkat kebisingan akan turun semakin jauh jaraknya.
Dengan intensitas dan periode demobilisasi alat berat dan material yang berlangsung
dalam rentang waktu yang pendek (tidak terus-menerus), maka peningkatan
kebisingan tidak sampai menyebabkan gangguan terhadap lingkungan masyarakat
sekitar seperti kesehatan ataupun keresahan yang timbul. Berikut ini adalah tabel
prakiraan nilai besaran pada area sekitar proyek :

Tabel 3.48 Prakiraan Tingkat Kebisingan pada Kegiatan Mobilisasi Alat Berat dan Material
Tingkat Jarak dari sumber kebisingan (meter)
Alat Berat
Kebisingan
NO yang
(dBA) dari 10 50 100 200 500 1000 2000 5000 10000 20000 30000 50000
digunakan
sumber
1 Bulldozer 101 91 84 81 78 74 71 68 64 61 58 56 54
2 Excavator 98 88 81 78 75 71 68 65 61 58 55 53 51
3 Dump Truck 64,6 55 48 45 42 38 35 32 28 25 22 20 18
4 Compactor 101 91 84 81 78 74 71 68 64 61 58 56 54
5 Wheel loader 82 72 65 62 59 55 52 49 45 42 39 37 35
Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada baku mutu yang
ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup melalui KepMen LH No 48 terdapat pada
Tabel 3.48 .Dari analisa diatas jarak kurang lebih antara 10 – 20000 meter dari
sumber baru memiliki tingkat kebisingan yang melebihi baku mutu pemukiman
yakni 55 dBA.
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 3 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 3 = -1

Dampak peningkatan kebisingan pada tahap mobilisasi alat berat dan material
akan berlangsung selama 4 minggu. Berikut ini perkiraan tingkat kepentingan
tingkat kebisingan :

Tabel 3.49Prakiraan Tingkat Kepentingan Tingkat Kebisingan pada Tahap Mobilisasi Alat
Berat dan Material
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh tingkat
Jumlah Manusia kebisingan pada saat mobilisasi alat
1 P
Terkena Dampak berat dan material yakni pemukiman
yang berdekatan dengan lokasi
proyek
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah jarak 20000 meter dari warga Desa
2 P
Persebaran Dampak Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas Dan Intensitas dan lama waktu kegiatan
3 Lamanya Dampak P ini yakni berlangsung selama 4
Berlansung minggu atau +/- 1 bulan.
Kebisingan mempengaruhi aspek
Jumlah Lingkungan
kesehatan dan kondisi sosial
4 Lain Yang Terkena P
masyarakat selama kegiatan ini
Dampak
berlangsung
Dampak bersifat tidak kumultaif
Sifat Kumulatif
5 TP karena berkurang setelah kegiatan
Dampak
berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 TP
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Peningkatan kebisingan pada saat
Dengan
mobilisasi alat berat dan material
7 Perkembangan Dan TP
dapat ditangani dengan pendekatan
Pengetahuan Dan
perawatan kendaraan alat konstruksi
Teknologi
Jumlah 4P 3TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

B. Peningkatan Koefisien Run Off


1) Tahap Kontrsuksi
 Pembangunan Sarana dan Prasarana
Pada tahap konstruksi terdapat aktivitas pembangunan sarana dan pra sarana yang
didahului dengan adanya pembersihan lahan. Pembersihan lahan tentunya akan
mengurangi lahan penyerapan air yang nantinya akan mengurangi daerah resapan
air. Berkurangnya daerah resapan air akan berdampak pada banyaknya jumlah
genangan air di daratan terutama di daerah sekitar proyek. Secara langsung ataupun
tidak dapat berdampak pada lingkungan sekitar proyek. Dalam perhitungan
matematis terdapat istilah koefisien limpasan atau biasa dikenal dengan run off yang
menggambarkan kemampuan resapan air suatu wilayah. Analisis perubahan
koefisien limpasan atau run off bisa dengan menggunakan persamaan berikut :
Q=CIA
Keterangan :
Q : debit puncak (m3 /dtk)
C : koefisien runoff, tergantung pada karakteristik DAS (tak berdimensi)
I : intensitas curah hujan (mm/s)
A : luas DAS (m2 )

Berikut merupakan nilai koefisien limpasan pada beberapa kondisi topografi :


Tabel 3.50Nilai Koefisien Limpasan Pada Beberapa Kondisi Topografi

Sumber : Dr. Mononobe dalam Suyono S. (1999).

Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran perubahan koefisien limpasan
pada area sekitar proyek :

Tabel 3.51 Prakiraan Perubahan Koefisien Limpasan dalam Periode Proyek


Debit Curah Luas
Debit
No Tahun Tahunan Hujan Lahan C
(m3/det)
(m3) (mm) (Ha)
1 2017 0,45 38880 164 80 0,29634146
2 2020 0,37 31968 122 150 0,17468852
3 2023 0,48 41472 117 230 0,15411371
4 2026 0,52 44928 97 320 0,14474227
5 2029 0,87 75168 147 370 0,13820188
6 2032 0,67 57888 247 450 0,05208097
7 2035 0,97 83808 164 500 0,10220488

Berikut ini adalah tabel Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan pada
baku mutu yang ditetapkan melalui Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan
dan Perhutanan Sosial tentang Pedoman Monitoring Dan Evaluasi Daerah Aliran
Sungai nomor : P.04/V-Set/2009 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.52 Skala Tingkat Koefisien Run-off

Dampak peningkatan peningkatan koefisien limpasan ini akibat kegiatan


pembangunan sarana dan prasarana akan berlangsung selama 2 minggu. Berikut ini
perkiraan tingkat kepentingan untuk perubahan koefisien limpasan:

Tabel 3.53 Prakiraan Tingkat Kepentingan Perubahan Koefisien Limpasan pada Tahap
Pembangunan Sarana dan Prasarana
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh perubahan
koefisien limpasan pada saat
Jumlah Manusia pembangunan sarana dan prasarana
1 P
Terkena Dampak yakni pemukiman yang berdekatan
dengan lokasi proyek. Diperkirakan
jumlah jiwa terkena dampak
sebanyak 487 jiwa.
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah jarak 3,73kilometer dari warga Desa
2 P
Persebaran Dampak Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas dan lama waktu kegiatan
Intensitas Dan ini yakni berlangsung selama 2
3 Lamanya Dampak TP minggu. Dari perkiraan yang sudah
Berlansung dihitung nilai C masih dalam
katagori baik.
Perubahan nilai C akan berdampak
Jumlah Lingkungan
pula pada jumlah genangan air,
4 Lain Yang Terkena P
kecelakaan lalu lintas, bencana alam,
Dampak
gangguan kesehatan, dan lainnya.
Dampak bersifat kumultaif karena
Sifat Kumulatif cenderung tetap bahkan bias
5 P
Dampak meningkat nilai C yang dihasilkan
setelah kegiatan berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 P
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Perubahan koefisien limpasan pada
Dengan
saat pembangunan dapat
7 Perkembangan Dan TP
diminimalisir dengan menggunakan
Pengetahuan Dan
teknologi rain water harvesting.
Teknologi
Jumlah 5P 2TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

2) Tahap Penambangan
 Pembersihan Lahan
Pada tahap penambangan terdapat aktivitas pembersihan lahan. Pembersihan lahan
tentunya akan mengurangi lahan penyerapan air yang nantinya akan mengurangi
daerah resapan air. Berkurangnya daerah resapan air akan berdampak pada banyaknya
jumlah genangan air di daratan terutama di daerah sekitar proyek. Pembersihan lahan
dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara manual dengan menebang pohon yang
berukuran besar dan mendorong tanah dengan menggunakan bulldozer. Penyiapan
lahan dilakukan dengan meratakan lahan dan melakukan cut and fill. Pekerjaan cut
and fill dilakukan dengan menggunakan bulldozer dan backhoe untuk mendapatkan
topografi yang diinginkan serta perataan dan pemadatan lahan sehingga lahan menjadi
siap dibangun dan menggunakan dump truck untuk pemindahan material dari aktifitas
land clearing. Analisis perubahan koefisien limpasan atau run off bisa dengan
menggunakan persamaan berikut :
Q=CIA
Keterangan :
Q : debit puncak (m3 /dtk)
C : koefisien runoff, tergantung pada karakteristik DAS (tak berdimensi)
I : intensitas curah hujan (mm/s)
A : luas DAS (m2 )

Berikut merupakan nilai koefisien limpasan pada beberapa kondisi topografi :


Tabel 3.54Nilai Koefisien Limpasan Pada Beberapa Kondisi Topografi

Sumber : Dr. Mononobe dalam Suyono S. (1999).


Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran perubahan koefisien limpasan
pada area sekitar proyek :

Tabel 3.55 Prakiraan Perubahan Koefisien Limpasan dalam Periode Proyek


Debit Curah Luas
Debit
No Tahun Tahunan Hujan Lahan C
(m3/det)
(m3) (mm) (Ha)
1 2017 0,45 38880 164 80 0,29634146
2 2020 0,37 31968 122 150 0,17468852
3 2023 0,48 41472 117 230 0,15411371
4 2026 0,52 44928 97 320 0,14474227
5 2029 0,87 75168 147 370 0,13820188
6 2032 0,67 57888 247 450 0,05208097
7 2035 0,97 83808 164 500 0,10220488
Berikut ini adalah tabel Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan
pada baku mutu yang ditetapkan melalui Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi
Lahan dan Perhutanan Sosial tentang Pedoman Monitoring Dan Evaluasi Daerah
Aliran Sungai nomor : P.04/V-Set/2009 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.56 Skala Tingkat Koefisien

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan pembangunan sarana dan


prasarana akan berlangsung selama 2 minggu. Berikut ini perkiraan tingkat
kepentingan untuk perubahan koefisien limpasan:

Tabel 3.57 Prakiraan Tingkat Kepentingan Perubahan Koefisien Limpasan pada Tahap
Pembangunan Sarana dan Prasarana

Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh perubahan
koefisien limpasan pada saat
Jumlah Manusia pembangunan sarana dan prasarana
1 P
Terkena Dampak yakni pemukiman yang berdekatan
dengan lokasi proyek. Diperkirakan
jumlah jiwa terkena dampak
sebanyak 487 jiwa.
Tingkat kebisingan yang terjadi
Luas Wilayah dipemukiman warga sampai dengan
2 P
Persebaran Dampak jarak 3,73kilometer dari warga Desa
Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas dan lama waktu kegiatan
Intensitas Dan ini yakni berlangsung selama 2
3 Lamanya Dampak TP minggu. Dari perkiraan yang sudah
Berlansung dihitung nilai C masih dalam
katagori baik.
Perubahan nilai C akan berdampak
Jumlah Lingkungan
pula pada jumlah genangan air,
4 Lain Yang Terkena P
kecelakaan lalu lintas, bencana alam,
Dampak
gangguan kesehatan, dan lainnya.
Dampak bersifat kumultaif karena
Sifat Kumulatif cenderung tetap bahkan bias
5 P
Dampak meningkat nilai C yang dihasilkan
setelah kegiatan berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 P
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Perubahan koefisien limpasan pada
Dengan
saat pembangunan dapat
7 Perkembangan Dan TP
diminimalisir dengan menggunakan
Pengetahuan Dan
teknologi rain water harvesting.
Teknologi
Jumlah 5P 2TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

 Pengupasan Tanah Pucuk dan Penutup


Untuk menunjang kegiatan ini digunakan alat bulldozer. Hasil pengupasan tanah
penutup ini kemudian dimuat dengan alat wheelloader dan diangkut dengan Dump
truck untuk ditimbun di daerah yang tidak dilakukan penambangan. Sistem
penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka dengan pembuatan
areawaste dump diwilayah yang telah ditentukan. Lapisan tanah penutup akan
dikembalikan setelah ore diambil untuk diolah. Analisis perubahan koefisien limpasan
atau run off bisa dengan menggunakan persamaan berikut :
Q=CIA
Keterangan :
Q : debit puncak (m3 /dtk)
C : koefisien runoff, tergantung pada karakteristik DAS (tak berdimensi)
I : intensitas curah hujan (mm/s)
A : luas DAS (m2 )

Berikut merupakan nilai koefisien limpasan pada beberapa kondisi topografi :


Tabel 3.58Nilai Koefisien Limpasan Pada Beberapa Kondisi Topografi

Sumber : Dr. Mononobe dalam Suyono S. (1999).

Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran perubahan koefisien limpasan
pada area sekitar proyek :

Tabel 3.59 Prakiraan Perubahan Koefisien Limpasan dalam Periode Proyek


Debit Curah Luas
Debit
No Tahun Tahunan Hujan Lahan C
(m3/det)
(m3) (mm) (Ha)
1 2017 0,45 38880 164 80 0,29634146
2 2020 0,37 31968 122 150 0,17468852
3 2023 0,48 41472 117 230 0,15411371
4 2026 0,52 44928 97 320 0,14474227
5 2029 0,87 75168 147 370 0,13820188
6 2032 0,67 57888 247 450 0,05208097
7 2035 0,97 83808 164 500 0,10220488
Berikut ini adalah tabel Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan
pada baku mutu yang ditetapkan melalui Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi
Lahan dan Perhutanan Sosial tentang Pedoman Monitoring Dan Evaluasi Daerah
Aliran Sungai nomor : P.04/V-Set/2009 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.60 Skala Tingkat Kebisingan

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan pembangunan sarana dan


prasarana akan berlangsung selama 2 minggu. Berikut ini perkiraan tingkat
kepentingan untuk perubahan koefisien limpasan:

Tabel 3.61 Prakiraan Tingkat Kepentingan Perubahan Koefisien Limpasan pada Tahap
Pembangunan Sarana dan Prasarana

Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh perubahan
koefisien limpasan pada saat
Jumlah Manusia pembangunan sarana dan prasarana
1 P
Terkena Dampak yakni pemukiman yang berdekatan
dengan lokasi proyek. Diperkirakan
jumlah jiwa terkena dampak
sebanyak 487 jiwa.
Tingkat kebisingan yang terjadi
Luas Wilayah dipemukiman warga sampai dengan
2 P
Persebaran Dampak jarak 3,73kilometer dari warga Desa
Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas dan lama waktu kegiatan
Intensitas Dan ini yakni berlangsung selama 2
3 Lamanya Dampak TP minggu. Dari perkiraan yang sudah
Berlansung dihitung nilai C masih dalam
katagori baik.
Perubahan nilai C akan berdampak
Jumlah Lingkungan
pula pada jumlah genangan air,
4 Lain Yang Terkena P
kecelakaan lalu lintas, bencana alam,
Dampak
gangguan kesehatan, dan lainnya.
Dampak bersifat kumultaif karena
Sifat Kumulatif cenderung tetap bahkan bias
5 P
Dampak meningkat nilai C yang dihasilkan
setelah kegiatan berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 P
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Perubahan koefisien limpasan pada
Dengan
saat pembangunan dapat
7 Perkembangan Dan TP
diminimalisir dengan menggunakan
Pengetahuan Dan
teknologi rain water harvesting.
Teknologi
Jumlah 5P 2TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

 Penambangan
Untuk menunjang kegiatan ini digunakan alat bulldozer. Hasil pengupasan tanah
penutup ini kemudian dimuat dengan alat wheelloader dan diangkut dengan Dump
truck untuk ditimbun di daerah yang tidak dilakukan penambangan. Sistem
penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka dengan pembuatan
areawaste dump diwilayah yang telah ditentukan. Lapisan tanah penutup akan
dikembalikan setelah ore diambil untuk diolah. Analisis perubahan koefisien
limpasan atau run off bisa dengan menggunakan persamaan berikut :

Q=CIA
Keterangan :
Q : debit puncak (m3 /dtk)
C : koefisien runoff, tergantung pada karakteristik DAS (tak berdimensi)
I : intensitas curah hujan (mm/s)
A : luas DAS (m2 )

Berikut merupakan nilai koefisien limpasan pada beberapa kondisi topografi :

Tabel 3.62Nilai Koefisien Limpasan Pada Beberapa Kondisi Topografi

Sumber : Dr. Mononobe dalam Suyono S. (1999).

Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran perubahan koefisien


limpasan pada area sekitar proyek :

Tabel 3.63 Prakiraan Perubahan Koefisien Limpasan dalam Periode Proyek


Debit Curah Luas
Debit
No Tahun Tahunan Hujan Lahan C
(m3/det)
(m3) (mm) (Ha)
1 2017 0,45 38880 164 80 0,29634146
2 2020 0,37 31968 122 150 0,17468852
3 2023 0,48 41472 117 230 0,15411371
4 2026 0,52 44928 97 320 0,14474227
5 2029 0,87 75168 147 370 0,13820188
6 2032 0,67 57888 247 450 0,05208097
7 2035 0,97 83808 164 500 0,10220488

Berikut ini adalah tabel Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan
pada baku mutu yang ditetapkan melalui Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi
Lahan dan Perhutanan Sosial tentang Pedoman Monitoring Dan Evaluasi Daerah
Aliran Sungai nomor : P.04/V-Set/2009 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.64 Skala Tingkat Koefisien

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan pembangunan sarana


dan prasarana akan berlangsung selama 2 minggu. Berikut ini perkiraan tingkat
kepentingan untuk perubahan koefisien limpasan:

Tabel 3.65 Prakiraan Tingkat Kepentingan Perubahan Koefisien Limpasan pada Tahap
Pembangunan Sarana dan Prasarana
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh perubahan
koefisien limpasan pada saat
Jumlah Manusia pembangunan sarana dan prasarana
1 P
Terkena Dampak yakni pemukiman yang berdekatan
dengan lokasi proyek. Diperkirakan
jumlah jiwa terkena dampak
sebanyak 487 jiwa.
Tingkat kebisingan yang terjadi
dipemukiman warga sampai dengan
Luas Wilayah
2 P jarak 3,73kilometer dari warga Desa
Persebaran Dampak
Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.

Intensitas dan lama waktu kegiatan


Intensitas Dan ini yakni berlangsung selama 2
3 Lamanya Dampak TP minggu. Dari perkiraan yang sudah
Berlansung dihitung nilai C masih dalam
katagori baik.
Perubahan nilai C akan berdampak
Jumlah Lingkungan
pula pada jumlah genangan air,
4 Lain Yang Terkena P
kecelakaan lalu lintas, bencana alam,
Dampak
gangguan kesehatan, dan lainnya.
Dampak bersifat kumultaif karena
Sifat Kumulatif cenderung tetap bahkan bias
5 P
Dampak meningkat nilai C yang dihasilkan
setelah kegiatan berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 P
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Perubahan koefisien limpasan pada
Dengan
saat pembangunan dapat
7 Perkembangan Dan TP
diminimalisir dengan menggunakan
Pengetahuan Dan
teknologi rain water harvesting.
Teknologi
Jumlah 5P 2TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting

3) Tahap Pasca Konstruksi


 Reklamasi
Pada akhir kegiatan penambangan emas, diharapkan tingkat keberhasilan reklamasi
dan revegetasi lahan sesuai dengan desain yang telah direncanakan sehingga akan
membentuk morfologi yang mendekati rona awal. Pada tahap pasca penambangan,
nantinya yang akan diperhatikan adalah perawatan vegetasi dan pengembalian lahan.
Kegiatan ini mencakup penataan permukaan tanah, penebaran tanah pucuk. Dalam
pelaksanaan kegiatan penutupan tambang, Perusahaan akan menempatkan staff
pelaksana kegiatan yang berasal dari Divisi Lingkungan Hidup. Reklamasi adalah
kegiatan yang bertujuan memperbaiki atau menata ulang kegunaan lahan yang
terganggu sebagai akibat usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna
sesuai dengan peruntukan. Kegiatan reklamasi yang akan dilakukan merupakan
kegiatan yang terus menerus dan berlanjut sepanjang umur tambang, bahkan hingga
pasca tambang (reklamasi progresif). Analisis perubahan koefisien limpasan atau run
off bisa dengan menggunakan persamaan berikut :
Q=CIA
Keterangan :
Q : debit puncak (m3 /dtk)
C : koefisien runoff, tergantung pada karakteristik DAS (tak berdimensi)
I : intensitas curah hujan (mm/s)
A : luas DAS (m2 )

Berikut merupakan nilai koefisien limpasan pada beberapa kondisi topografi :


Tabel 3.66Nilai Koefisien Limpasan Pada Beberapa Kondisi Topografi

Sumber : Dr. Mononobe dalam Suyono S. (1999).

Berikut ini adalah tabel prakiraan nilai besaran perubahan koefisien limpasan
pada area sekitar proyek :
Tabel 3.67 Prakiraan Perubahan Koefisien Limpasan dalam Periode Proyek
Debit Curah Luas
Debit
No Tahun Tahunan Hujan Lahan C
(m3/det)
(m3) (mm) (Ha)
1 2017 0,45 38880 164 51 0,46862528
2 2020 0,37 31968 122 72 0,36257427
3 2023 0,48 41472 117 103 0,34332743
4 2026 0,52 44928 97 147 0,31403841
5 2029 0,87 75168 147 211 0,24268958
6 2032 0,67 57888 247 301 0,07786192
7 2035 0,97 83808 164 430 0,11884288

Berikut ini adalah tabel Skala kualitas lingkungan yang dibuat berdasarkan
pada baku mutu yang ditetapkan melalui Peraturan Direktur Jenderal Rehabilitasi
Lahan dan Perhutanan Sosial tentang Pedoman Monitoring Dan Evaluasi Daerah
Aliran Sungai nomor : P.04/V-Set/2009 adalah sebagai berikut :
Tabel 3.68 Skala Tingkat Kebisingan

Dampak peningkatan kebisingan ini akibat kegiatan pembangunan sarana dan


prasarana akan berlangsung selama 2 minggu. Berikut ini perkiraan tingkat
kepentingan untuk perubahan koefisien limpasan:

Tabel 3.69 Prakiraan Tingkat Kepentingan Perubahan Koefisien Limpasan pada Tahap
Pembangunan Sarana dan Prasarana
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
Masyarakat yang terkena dampak
langsung dari pengaruh perubahan
koefisien limpasan pada saat
Jumlah Manusia pembangunan sarana dan prasarana
1 P
Terkena Dampak yakni pemukiman yang berdekatan
dengan lokasi proyek. Diperkirakan
jumlah jiwa terkena dampak
sebanyak 487 jiwa.
Tingkat kebisingan yang terjadi
Luas Wilayah
2 P dipemukiman warga sampai dengan
Persebaran Dampak
jarak 3,73kilometer dari warga Desa
Hargotirto, Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis, Desa Jatimulyo, Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
Intensitas dan lama waktu kegiatan
Intensitas Dan ini yakni berlangsung selama 2
3 Lamanya Dampak TP minggu. Dari perkiraan yang sudah
Berlansung dihitung nilai C masih dalam
katagori baik.
Perubahan nilai C akan berdampak
Jumlah Lingkungan
pula pada jumlah genangan air,
4 Lain Yang Terkena P
kecelakaan lalu lintas, bencana alam,
Dampak
gangguan kesehatan, dan lainnya.
Dampak bersifat kumultaif karena
Sifat Kumulatif cenderung tetap bahkan bias
5 P
Dampak meningkat nilai C yang dihasilkan
setelah kegiatan berakhir
Berbalik Atau Tidak Dampak akibat kebisingan dapat
6 P
Berbaliknya Dampak berbalik karena bersifat fisik
Kriteria Lain Sesuai
Perubahan koefisien limpasan pada
Dengan
saat pembangunan dapat
7 Perkembangan Dan TP
diminimalisir dengan menggunakan
Pengetahuan Dan
teknologi rain water harvesting.
Teknologi
Jumlah 5P 2TP
Prakiraan dampak
P Penting
penting
C . GETARAN

Getaran dapat timbul dengan adanya segala aktifitas pra-konstruksi,


pertambangan dan pasca tambang. Metode prakiraan besaran dampak dilakukan
dengan menganalisa tingkat getaran. dapat dilihat pada tabel 3.x yang mengacu pada
KEP/49/MENLH/11/1996 tentang bakumutu getaran. Penilaian tingkat getaran
terhadap kenyamanan dan kesehatan. Berikut adalah titik koordinat sampling.
Tabel 3xx titik sampling
Titik Sampling Koordinat
Titik Sampling T1 8°46'36.03"S dan 120° 5'53.65"E
Titik Sampling T2 8°47'49.28"S dan 120° 7'1.97"E
Titik Sampling T3 8°46'39.14"S dan 120° 4'56.15"E
Titik Sampling T4 8°45'40.09"S dan 120° 6'22.31"E

Peralatan

1) Alat penangkap getaran (Accelerometer atauseismometer.)


2) Alat ukur atau alat analisis getaran (Vibration meter atau vibrationanalyzer)
3) Tapis pita 1/3 oktaf atau pita sempit (Filter 1/3 oktaf atau NarrowBand)
4) Pencatat tingkat getaran (Level atau X - Yrecorder)
5) Alat analisis pengukur tingkat getaran (FTT-Analyzer)

Carapengukuran

1. Getaran untuk Kenyaman danKesehatan

a) Alat penangkap getaran diletakkan pada lantai atau permukaan


yang bergetar, dan disambungkan ke alat ukur getaran yang
dilengkapi denganfilter
b) Alat ukut dipasang pada besar:an simpangan. Dalam hal alat
tidakdilengkapi dengan fasilitas itu, dapat digunakan
konversibesaran
c) Pembacaaan dan pencatatan dilakukan untuk setiap frekwensi 4
- 63 Hz atau dengan sapuan oleh alat pencatatgetaran
Tabel 3xx Nilai tingkat getaran KEPMENLH

Nilai Tingkat getaran, dalam mikron (10-6 meter)


Frekuensi Tidak
(Hz) Mengganggu Tidak Menyakitkan
Mengganggu
Nyaman
4 <100 100 – 500 >500 – 1000 > 1000
5 <80 80 – 350 >350 – 1000 > 1000
6.3 <70 70 – 275 >275 – 1000 > 1000
8 <50 50 – 160 >160 – 500 >500
10 <37 37 – 120 >120 – 300 >300
12.5 <32 32 – 90 >90 – 220 >220
16 <25 25 – 60 >60 – 120 >120
20 <20 20 – 40 >40 – 85 >85
25 <17 17 – 30 >30 – 50 >50
31.5 <12 12 – 20 >20 – 30 >30
40 <9 9 – 15 >15 – 20 >20
50 <8 8 – 12 >12 – 15 >15
63 <6 6–9 >9 – 12 >12

Dari hasil pengukuran dari 4 titik sampling secara umum getaran yang di hasilkan tidak
mengganggu

Table 3xx hasil pengukuran

Lokasi sampling Nilai Tingkat getaran, dalam mikron (10-6 meter)

Titik Sampling T1 70

Titik Sampling T2 89

Titik Sampling T3 97

Titik Sampling T4 50

Tabel 3.x Penentuan Sifat Dampak Kegiatan Pembersihan Lahan terhadap getaran
Faktor Penentu Sifat
Dampak Penting Penting
No Keterangan
Dampak
P/TP
Besarnya jumlah Dengan adanya kegiatan
penduduk yang akan pembersihan lahan, getaran yang di
1 TP
terkena dampak hasilkan tidak berdampak buruk
rencana usaha terhadap warga sekitar
dan/atau kegiatan

Luas wilayah yang terkena dampak


tidak bertambah Karena
Luas Wilayah
2 TP pembersihan lahan dilakukan di
Persebaran Dampak
daerah yang sudah ditentukan saat
masa perencanaan.
Dampak yang berlangsung hingga
Intensitas Dampak
kegiatan penambangan selesai dan
(ada/tidaknya
3 P pengaruhnya terhadap nilai getaran
dampak yang akan
yang semakin tinggi di tapak proyek
terjadi)
dan sekitarnya.
Banyaknya
komponen
Nilai getaran yang di hasilkan masih
4 lingkungan hidup TP
dalam katagori tidak berbahaya
lain yang terkena
dampak
Sifat Kumulatif
5 P Berlangsung hingga pasca-tambang
Dampak
Berbalik Atau Tidak
Tahap pembersihan lahan akan
6 Berbaliknya TP
berbalik
Dampak
Kriteria Lain Sesuai
dengan Tidak ada kriteria lain sesuai dengan
7 Perkembangan Dan P perkembangan ilmu pengetahuan
Pengetahuan Dan dna teknologi
Teknologi
Sifat Penting
P Penting
Dampak

Tabel 3.x Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Penambangan terhadap Getaran
Faktor Penentu Sifat
Dampak Penting Penting
No Keterangan
Dampak
P/TP
Besarnya jumlah Dengan adanya kegiatan
penduduk yang akan penambangan dapat membuat nilai
1 P
terkena dampak getaran semakin tinggi karena
rencana usaha aktifitas yang di lakukan
dan/atau kegiatan menggunakan peralatan yang
menghasilkan getaran yang besar

Luas wilayah yang terkena dampak


Luas Wilayah
2 TP dapat bertambah karna getaran
Persebaran Dampak
hanya ada pada area penambangan
Dampak yang berlangsung hingga
Intensitas Dampak
kegiatan penambangan selesai dan
(ada/tidaknya
3 P pengaruhnya terhadap nilai getaran
dampak yang akan
yang semakin tinggi di tapak proyek
terjadi)
dan sekitarnya.
Banyaknya
Dapat memicu terjadinya kerusakan
komponen
bangunan dan masyarakat sekitar
4 lingkungan hidup P
serta pekerja bisa terkena
lain yang terkena
dampaknya
dampak
Sifat Kumulatif
5 P Berlangsung hingga pasca-tambang
Dampak
Berbalik Atau Tidak
6 Berbaliknya TP Tahap penambangan akan berbalik
Dampak
Kriteria Lain Sesuai
dengan Tidak ada kriteria lain sesuai dengan
7 Perkembangan Dan P perkembangan ilmu pengetahuan
Pengetahuan Dan dna teknologi
Teknologi
Sifat Penting
P Penting
Dampak

Tabel 3.x Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Reklamasi terhadap Getaran
Faktor Penentu Sifat
Dampak Penting Penting
No Keterangan
Dampak
P/TP
Besarnya jumlah
penduduk yang akan Getaran di hasilkan dari alat berat
1 terkena dampak TP yang beroprasi di sekitar aera
rencana usaha reklamasi dan jauh dari pemukiman
dan/atau kegiatan
Luas wilayah yang terkena dampak
Luas Wilayah
2 P dapat bertambah karna getaran
Persebaran Dampak
hanya ada pada area penambangan
Dampak yang berlangsung hingga
Intensitas Dampak seterusnya maka pengerjaan
(ada/tidaknya reklamasi harus dilakukan dengan
3 P
dampak yang akan tepat dan lokasi tapak proyek dapat
terjadi) dimanfaatkan seperti sebelum
kegiatan penambangan.
Banyaknya
Penggunaan alat berat yang
komponen
digunakan secara teratur tidak
4 lingkungan hidup TP
menyebabkan dampak yang begitu
lain yang terkena
besar
dampak
Sifat Kumulatif Kegiatan akan bersifat kumulatif
5 P
Dampak terhadap lahan pasca-tambang.
Berbalik Atau Tidak
6 Berbaliknya TP Pengerjaan reklamasi akan berbalik
Dampak
Kriteria Lain Sesuai Dengan majunya perkembangan
dengan teknologi dan ilmu pengetahuan,
7 Perkembangan Dan P metode reklamasi bias berkembang
Pengetahuan Dan untuk mendapatkan hasil yang lebih
Teknologi efektif.
Sifat Penting
P Penting
Dampak

3.2 KOMPONEN BIOLOGI – KIMIA


A. KUALITAS AIR SUNGAI
1) Tahap Konstruksi
 Pembangunan Sarana dan Prasarana
Pada proses pembangunan sarana dan prasarana, dihitung dengan
menggunakan indeks Pencemaran (Pi). Penentuan status mutu air dengan
menggunakan metode indeks pencemaran (pollution index) sesuai Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003. Perhitungan indeks pencemaran
dilakukan dengan menggunakan persamaan :
Dimana:
Pi : Indeks Pencemaran bagi peruntukan (j)
Ci :Konsentrasi parameter kualitas air hasil pengukuran
Li : Konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam baku
mutu peruntukan air (j)
(Ci/Li)M : Nilai Ci/Li maksimum
(Ci/Li)R : Nilai Ci/Li rata-rata
Evaluasi terhadap nilai PI adalah :
0 ≤ PIj ≤ 1,0 = memenuhi baku mutu (kondisi baik)
1,0 < PIj ≤ 5,0 = cemar ringan
5,0 < PIj ≤ 10 = cemar sedang
PIj > 10 = cemar berat

Tabel Penentuan Nilai Indeks Pencemar Air

Ci/Li
No Parameter Satuan Ci Li Ci/Li
baru
o
1 Suhu C 29.1 3 9.70 5.93
2 pH - 7.6 6-8.5 1.09 1.18
Residu Terlarut
333 1000 0.33 0.33
4 (TDS) mg/L
Residu Tersuspensi
mg/L 43 50 0.86 0.86
5 (TSS)
6 BOD mg/L 7.9 3 2.63 3.10
7 COD mg/L 18.8 25 0.75 0.75
8 DO mg/L 5.9 5 1.18 1.36
9 Fosfat mg/L 0.01 0.2 0.05 0.05
10 Nitrat mg/L 1.8 10 0.18 0.18
11 Tembaga mg/L 0.02 0.02 1.00 1.00
12 Timbal mg/L 0.16 0.03 5.33 4.63
13 Seng mg/L 0.02 0.05 0.40 0.40
14 Sianida mg/L 0.138 0.02 6.90 5.19
16 Nitrit mg/L 0.07 0.06 1.17 1.33
18 Deterjen sbg MBAS µg/L 81.7 200 0.41 0.41
21 Klorin Bebas mg/L 0.01 0.03 0.33 0.33
23 Boron mg/L 0.1 1 0.10 0.10
24 Selenium mg/L 0.0009 0.05 0.02 0.02
25 Total Coliform jml/100mL 80000 5000 16.00 7.02
26 Fecal Coliform jml/100mL 17000 1000 17.00 7.15
Nilai Maksimum (Ci/Li)M 7.15
Nilai Rata-rata (Ci/Li)R 2.07

𝐶𝑖 2 𝐶𝑖 2
( )𝑀 +( )𝑅
PI=√
𝐿𝑖𝑗 𝐿𝑖𝑗
2

(7,15)2 +(2,07)2
=√
2

51,1225+4,2849
=√
2

55,4074
=√
2

= √27,7037
= 5,26
Dengan nilai indeks pencemaran air bernilai 5,26, maka air sungai dalam kondisi
tercemar sedang.

Tabel Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pembangunan Sarana Prasarana


Terhadap Kualitas Air Sungai
No Faktor Penentu Sifat Penting Keterangan
Dampak Penting Dampak
1. Besarnya jumlah P Adanya kerusakan pada
penduduk yang akan lapisan tanah namun tidak
terkena dampak rencana berdampak langsung pada
usaha dan/atau kegiatan masyarakat karena tidak
menggunakan air sungai
namun air sumur.

2. Luas wilayah P Tidak mempengaruhi


daerah di luar tapak
proyek.

3. Intensitas dampak TP Dampak yang terjadi


(ada/tidaknya dampak hanya pada saat kegiatan
yang akan terjadi) pembangunan sarana
prasarana, setelahnya tidak
ada jadi tidak intensitas/
tidak menimbulkan
dampak yang berulang.

4. Banyaknya komponen P Biota yang ada di tapak


lingkungan hidup lain proyek mengalami
yang terkena dampak kematian dan kerusakan
pada kualitas air
permukaan di tapak
proyek.

5. Sifat kumulatif dampak TP Kegiatan hanya dilakukan


sekali yaitu untuk
menandai bahwa disitu
akan dilakukan kegiatan
tambang.

6. Berbalik atau tidak TP Pengerjaan hanya sekali


berbaliknya dampak dan bisa diatasi dengan
reklamasi.

7. Kriteria lain sesuai P Tidak ada kriteria lain


dengan sesuai dengan
perkembanganilmu perkembangan ilmu
pengetahuan dan pengetahuan dan
teknologi
teknologi.

Sifat Penting Dampak 4P : 3TP Penting

Keterangan: P= Penting, TP = Tidak Penting

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap kualitas air sungai memiliki ΣTP = 3, sehingga
kegiatan pembangunan sarana dan prasarana terhadap kualitas air sungai
berdampak penting.

B. KUANTITAS AIR
1) Tahap Operasi
 Pembangunan Sarana dan Prasarana dan Penambangan
Debit air yang digunakan untuk kegiatan pembangunan sarana dan
prasarana serta kegiatan sehari-hari domestik penambangan diasumsikan :
a. Kebutuhan Air
 Pembangunan sarana dan prasarana :
Q =500 orang x 150 L/org/hari
= 75.000 L/hari
= 0,87 L/s
 Domestik Penambangan
Q = 1500 orang x 150 L/org/hari
= 225.000 L/hari
= 2,6 L/s
Total kebutuhan air adalah : 0,87 L/s + 2,6 L/s = 3,47 L/s

Persentase penggunaan air adalah :


𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑢𝑛𝑎𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟 3,47 𝐿/𝑠
= × 100% = × 100% = 19,3%
𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑒𝑏𝑖𝑡 𝑠𝑢𝑛𝑔𝑎𝑖 18 𝐿/𝑠

Dengan nilai 19,3 % memiliki skala lingkungan 4 (baik) sehingga dampak


lingkungan yang didapat adalah :
Dampak = RLA – RLAdp = 5 – 4 = 1
Nilai dampak yang terjadi adalah 1 dengan menurunnya jumlah air di
sekitar tapak proyek.
Penentuan sifat penting dampak tertera pada tabel berikut ini.

Tabel Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pembangunan Sarana dan


Prasarana Terhadap Kuantitas Air
No Faktor Penentu Sifat Penting Keterangan
Dampak Penting Dampak
1. Besarnya jumlah P Jumlah air di sekitar tapak
penduduk yang akan proyek dapat menurun
terkena dampak rencana karena air yang digunakan
usaha dan/atau kegiatan merupakan air sumur
dangkal.

2. Luas wilayah TP Luas dapat bertambah jika


penyebaran dampak tidak dicegah dari kegiatan
pembangunan.

3. Intensitas dampak P Jumlah air aka terus


(ada/tidaknya dampak menurun hingga kegiatan
yang akan terjadi) tambang selesai.

4. Banyaknya komponen P Flora dan fauna yang ada


lingkungan hidup lain ditapak proyek dan
yang terkena dampak sekitarnya akan merasakan
kekurangan air bahkan
kekeringan

5. Sifat kumulatif dampak P Bersifat kumulatif karena


berlangsung hingga pasca
tambang.

6. Berbalik atau tidak TP Dapat berbalik karena


berbaliknya dampak pada kegiatan reklamasi
dan konservasi sedikit
demi sedikit jumlah air
bertambah.

7. Kriteria lain sesuai P Tidak ada kriteria lain


dengan sesuai dengan
perkembanganilmu perkembangan ilmu
pengetahuan dan pengetahuan dan teknologi
teknologi
Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan: P= Penting, TP = Tidak Penting

Tabel Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Konservasi Terhadap


Kuantitas Air
No Faktor Penentu Sifat Penting Keterangan
Dampak Penting Dampak
1. Besarnya jumlah P Jumlah kandungan air
penduduk yang akan yang ada di tapak proyek
terkena dampak rencana dan sekitarnya dapat
usaha dan/atau kegiatan bertambah meski tidak
secara langsung. Sehingga
jumlah air di sumur
masyarakat bisa
bertambah.

2. Luas wilayah P Luas wilayah dapat


penyebaran dampak bertambah karena kegiatan
konservasi dilakukan
hingga keadaan membaik.

3. Intensitas dampak P Berlangsung hingga


(ada/tidaknya dampak keadaan tapak proyek
yang akan terjadi) membaik.

4. Banyaknya komponen P Dengan meningkatnya


lingkungan hidup lain jumlah air bisa digunakan
yang terkena dampak kembali oleh masyarakat
dna biota asli daerah.

5. Sifat kumulatif dampak P Bersifat kumulatif karena


berlangsung terus
menerus.

6. Berbalik atau tidak P Berbalik. Keadaan bisa


berbaliknya dampak kembali seperti semula
mesti tidak secara
langsung.

7. Kriteria lain sesuai TP Adanya kemajuan


dengan teknologi yang
perkembanganilmu memungkinkan menambah
pengetahuan dan jumlah air di bekas tapak
teknologi proyek.

Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan: P= Penting, TP = Tidak Penting

C. KUALITAS TANAH
1) Tahap Operasi
 Penambangan
Nilai skor berada pada interval 1 hingga 3. Semakin tinggi skor suatu
variabel, semakin tinggi tingkat kualitas tanahnya. Perhitungan kualitas tanah
dilakukan dengan menjumlahkan skor variabel yang dikalikan dengan indeks
bobot. Penilaian kualitas tanah menggunakan indeks kualitas tanah

Dimana
IKT = indeks kualitas tanah,
Si = skor pada indikator terpilih,
Wi =indeks bobot,
n = jumlah indikator kualitas tanah
Tabel 3. Indeks Kualitas Tanah

Kriteria Kualitas
No Kelas Nilai
Tanah
1 0,80 - 1,00 Sangat Baik
2 0,60 - 0,79 Baik
3 0,40 - 0,59 Sedang
4 0,20 - 0,39 Rendah
5 0,00 - 0,19 Sangat Rendah

Cara perhitungan indeks adalah sebagai berikut :


a. Indeks bobot dihitung dengan mengalikan bobot fungsi tanah (bobot 1)
dengan bobot medium perakaran (bobot 2) dengan bobot jeluk perakaran
(bobot 3). Misalnya, indeks bobot untuk porositas diperoleh dengan
mengalikan 0,40 (bobot 1) dengan 0,33 (bobot 2) dengan 0,60 (bobot 3), dan
hasilnya sama dengan 0,080.
b. Skor dihitung dengan membandingkan data pengamatan dari indikator tanah
dan fungsi penilaian. Skor berkisar dari 0 untuk kondisi buruk dan 1 untuk
kondisi baik. Penetapan skor dapat melalui interpolasi atau persamaan linier
sesuai dengan kisaran yang ditetapkan berdasar harkat atau berdasarkan data
yang diperoleh. Berikut adalah tabel modifikasi indikator, bobot, batas-batas
fungsi penilaian:
c. Indeks kualitas tanah dihitung dengan mengalikan indeks bobot dan skor
dari indikator.
Tabel 2. Perhitungan Indeks Kualitas Tanah

Indeks Kualitas
Nilai Indikator Tanah
Fungsi Bobot Bobot Bobot Indeks Tanah Rata-
Indikator tanah
Tanah I II III Bobot Lahan Hutan Lahan Pertanian Lahan Lahan rata
Nilai Skor Nilai skor Hutan Pertanian
Medium
0,330
Perakaran
Jeluk Perakaran
0,600 0,079 110,000 0,890 80,000 0,640 0,070 0,051 0,061
cm
Berat Volume
0,400 0,053 1,510 0,950 1,600 0,500 0,050 0,026 0,038
g/cm
Kelengasan 0,330
Melestarikan
Porositas % 0,200 0,026 39,800 0,150 41,800 0,600 0,004 0,016 0,010
aktivitas 0,400
C-Organik % 0,400 0,053 1,370 0,540 1,160 0,200 0,029 0,011 0,020
biologi
Debu+Lempung
0,400 0,053 21,530 0,260 16,320 0,070 0,014 0,004 0,009
%
Keharaan 0,330
pH 0,100 0,013 6,900 0,410 6,540 0,160 0,005 0,002 0,004
P tsd ppm 0,200 0,026 13,520 0,890 9,730 0,200 0,023 0,005 0,014
K tsd me/100 g 0,200 0,026 0,905 0,710 0,250 0,050 0,019 0,001 0,010
C-Organik % 0,300 0,040 1,370 0,480 1,160 0,200 0,019 0,008 0,013
N-ter ppm 0,200 0,026 0,050 0,090 0,070 0,220 0,002 0,006 0,004
Debu+Lempung
Peraturan 0,600 0,180 21,530 0,200 16,320 0,070 0,036 0,013 0,024
%
dan
0,300 Porositas % 0,200 0,060 39,800 0,140 41,800 0,600 0,008 0,036 0,022
penyediaan
Berat Volume
air 0,200 0,060 1,510 0,990 1,600 0,500 0,059 0,030 0,045
g/cm
Debu+Lempung
0,600 0,180
%
Porositas % 0,100 0,030
Filter dan
0,300 Proses
buffering 0,300
mikrobiologis
C-Organik % 0,500 0,045 1,370 0,480 1,160 0,200 0,022 0,009 0,015
Tot N ppm 0,500 0,045 2,360 0,220 1,990 0,180 0,010 0,008 0,009
Total 0,079 0,032 0,026 0,029
Nilai IKT kualitas tanah adalah 0,29, sehingga kualitas lingkungan prakiraan untuk kualitas tanah adalah 4 (rendah). Sehingga nilai dampak yang
diperoleh adalah :
Dampak = rona awal – perkiraan
=2–2
=0
Nilai dampak yang didapat adalah 0.
Penentuan sifat penting dampak tertera pada Tabel berikut ini. Analisis rinci
penentuan dampak kegiatan pengupasan pucuk dan tanah penutup pada tahap
penambangan terhadap kualitas tanah.

Tabel 3. Penentuan Sifat Penting Dampak Kualitas Tanah terhadap Pengupasan Pucuk dan
Tanah Penutup
Sifat
Faktor penentu dampak
No penting Keterangan
penting
dampak
Besarnya jumlah
penduduk yang akan Karena flying rock yang ada bisa
1. terkena dampak P mengenai rumah warga bahkan
rencana usaha dan/atau warga itu sendiri
kegiatan
Luas wilayahnya tidak
Luas wilayah bertambah karena pengupasan
2. TP
penyebaran dampak pucuk hanya dilakukan didaerah
yang sudah ditentukan saja
Selama pengerjaan pengupasan
pucuk dilakukan maka sering
3. Intensitas dampak P juga dampak terhadap kualitas
tanah itu muncul seperti run off
yang tidak bisa dikontrol.
Dampak yang ada hanya muncul
Lamanya dampak ketika ada beberapa batu saja
4 TP
berlangsung yang tidak bisa dihancurkan oleh
alat.
Selain run off yang tidak
Banyaknya komponen
terkontrol yaitu banyaknya
4. lingkungan hidup lain P
hilangnya pohon pohon didaerah
yang terkena dampak
tersebut.
Walaupun dampaknya hanya
beberapa tetapi itu yang dapat
5. Sifat kumulatif dampak P membuat kuantitas tanah
berkurang serta terjadinya run
off yang tidak terkendali.
Dampak bisa diatasi dengan
Berbalik atau tidak melakukan reklamasi di akhir
6 TP
berbaliknya dampak tahap pengerjaan kegiatan pasca
tambang.
Kriteria lain sesuai
Tidak ada kriteria lain sesuai
dengan perkembangan
7. P dengan perkembangan ilmu
ilmu pengetahuan dan
pengetahuan dan teknologi
teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

2) Reklamasi
Nilai skor berada pada interval 1 hingga 3. Semakin tinggi skor suatu variabel,
semakin tinggi tingkat kualitas tanahnya. Perhitungan kualitas tanah dilakukan dengan
menjumlahkan skor variabel yang dikalikan dengan indeks bobot. Penilaian kualitas
tanah menggunakan indeks kualitas tanah

Dimana
IKT = indeks kualitas tanah,
Si = skor pada indikator terpilih,
Wi =indeks bobot,
n = jumlah indikator kualitas tanah
Tabel 3. Indeks Kualitas Tanah

Kriteria Kualitas
No Kelas Nilai
Tanah
1 0,80 - 1,00 Sangat Baik
2 0,60 - 0,79 Baik
3 0,40 - 0,59 Sedang
4 0,20 - 0,39 Rendah
5 0,00 - 0,19 Sangat Rendah

Cara perhitungan indeks adalah sebagai berikut :


a. Indeks bobot dihitung dengan mengalikan bobot fungsi tanah (bobot 1)
dengan bobot medium perakaran (bobot 2) dengan bobot jeluk perakaran
(bobot 3). Misalnya, indeks bobot untuk porositas diperoleh dengan
mengalikan 0,40 (bobot 1) dengan 0,33 (bobot 2) dengan 0,60 (bobot 3), dan
hasilnya sama dengan 0,080.
b. Skor dihitung dengan membandingkan data pengamatan dari indikator tanah
dan fungsi penilaian. Skor berkisar dari 0 untuk kondisi buruk dan 1 untuk
kondisi baik. Penetapan skor dapat melalui interpolasi atau persamaan linier
sesuai dengan kisaran yang ditetapkan berdasar harkat atau berdasarkan data
yang diperoleh. Berikut adalah tabel modifikasi indikator, bobot, batas-batas
fungsi penilaian:
c. Indeks kualitas tanah dihitung dengan mengalikan indeks bobot dan skor
dari indikator.
Tabel 2. Perhitungan Indeks Kualitas Tanah

Indeks Kualitas
Nilai Indikator Tanah
Fungsi Bobot Bobot Bobot Indeks Tanah Rata-
Indikator tanah
Tanah I II III Bobot Lahan Hutan Lahan Pertanian Lahan Lahan rata
Nilai Skor Nilai skor Hutan Pertanian
Medium
0,330
Perakaran
Jeluk Perakaran
0,600 0,079 110,000 0,890 80,000 0,640 0,070 0,051 0,061
cm
Berat Volume
0,400 0,053 1,510 0,950 1,600 0,500 0,050 0,026 0,038
g/cm
Kelengasan 0,330
Melestarikan
Porositas % 0,200 0,026 39,800 0,150 41,800 0,600 0,004 0,016 0,010
aktivitas 0,400
C-Organik % 0,400 0,053 1,370 0,540 1,160 0,200 0,029 0,011 0,020
biologi
Debu+Lempung
0,400 0,053 21,530 0,260 16,320 0,070 0,014 0,004 0,009
%
Keharaan 0,330
pH 0,100 0,013 6,900 0,410 6,540 0,160 0,005 0,002 0,004
P tsd ppm 0,200 0,026 13,520 0,890 9,730 0,200 0,023 0,005 0,014
K tsd me/100 g 0,200 0,026 0,905 0,710 0,250 0,050 0,019 0,001 0,010
C-Organik % 0,300 0,040 1,370 0,480 1,160 0,200 0,019 0,008 0,013
N-ter ppm 0,200 0,026 0,050 0,090 0,070 0,220 0,002 0,006 0,004
Debu+Lempung
Peraturan 0,600 0,180 21,530 0,200 16,320 0,070 0,036 0,013 0,024
%
dan
0,300 Porositas % 0,200 0,060 39,800 0,140 41,800 0,600 0,008 0,036 0,022
penyediaan
Berat Volume
air 0,200 0,060 1,510 0,990 1,600 0,500 0,059 0,030 0,045
g/cm
Debu+Lempung
0,600 0,180
%
Porositas % 0,100 0,030
Filter dan
0,300 Proses
buffering 0,300
mikrobiologis
C-Organik % 0,500 0,045 1,370 0,480 1,160 0,200 0,022 0,009 0,015
Tot N ppm 0,500 0,045 2,360 0,220 1,990 0,180 0,010 0,008 0,009
Total 0,079 0,032 0,026 0,029
Nilai IKT kualitas tanah adalah 0,29, sehingga kualitas lingkungan prakiraan untuk kualitas tanah adalah 4 (rendah). Sehingga nilai dampak yang
diperoleh adalah :
Dampak = rona awal – perkiraan
=2–2
=0
Nilai dampak yang didapat adalah 0.
Penentuan sifat penting dampak tertera pada Tabel berikut ini. Analisis rinci
penentuan dampak kegiatan pengupasan pucuk dan tanah penutup pada tahap
penambangan terhadap kualitas tanah.

Tabel 3. Penentuan Sifat Penting Dampak Kualitas Tanah terhadap Pengupasan Pucuk dan
Tanah Penutup
Sifat
Faktor penentu dampak
No penting Keterangan
penting
dampak
Besarnya jumlah
penduduk yang akan Karena flying rock yang ada bisa
1. terkena dampak P mengenai rumah warga bahkan
rencana usaha dan/atau warga itu sendiri
kegiatan
Luas wilayahnya tidak
Luas wilayah bertambah karena pengupasan
2. TP
penyebaran dampak pucuk hanya dilakukan didaerah
yang sudah ditentukan saja
Selama pengerjaan pengupasan
pucuk dilakukan maka sering
3. Intensitas dampak P juga dampak terhadap kualitas
tanah itu muncul seperti run off
yang tidak bisa dikontrol.
Dampak yang ada hanya muncul
Lamanya dampak ketika ada beberapa batu saja
4 TP
berlangsung yang tidak bisa dihancurkan oleh
alat.
Selain run off yang tidak
Banyaknya komponen
terkontrol yaitu banyaknya
4. lingkungan hidup lain P
hilangnya pohon pohon didaerah
yang terkena dampak
tersebut.
Walaupun dampaknya hanya
beberapa tetapi itu yang dapat
5. Sifat kumulatif dampak P membuat kuantitas tanah
berkurang serta terjadinya run
off yang tidak terkendali.
Dampak bisa diatasi dengan
Berbalik atau tidak melakukan reklamasi di akhir
6 TP
berbaliknya dampak tahap pengerjaan kegiatan pasca
tambang.
Kriteria lain sesuai
Tidak ada kriteria lain sesuai
dengan perkembangan
7. P dengan perkembangan ilmu
ilmu pengetahuan dan
pengetahuan dan teknologi
teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting


D. KUALITAS UDARA
1) Tahap Operasi
 Pembangunan Sarana dan Prasarana
Prakiraan kualitas udara yang dilakukan lebih pada akibat emisi
kendaraan pengangkut dan kendaraan berat tambang. Untuk menghitung
kualitas perubahan udara digunakan perhitungan ISPU (Index Standar
Pencemar Udara) dengan persamaan :
𝐼𝑎−𝐼𝑏
I=( (Xx – Xb)) + Ib
𝑋𝑎−𝑋𝑏
Dimana :
I adalah ISPU terhitung Iaadalah ISPU batas atas
Ib adalah ISPU batas bawah
Xa adalah Ambien batas atas
Xb adalah Ambien batas bawah
Xx adalah Kadar ambient nyata hasil pengukuran
Tabel Hasil Pengukuran Kualitas Udara
Hasil Pengukuran

Si
mp
Si
S ang
mp Ter
Para at Se Tig
N ang mi
met u nt a
o Tig nal
er a ol Ti
a Wa
n o mu
Wa tes
r
tes
Wa
tes

1 µ 50 27, 33, 827


SO2
. g/ ,5 38 02 ,37
m 3
3

2 O3 µ 32 17, 99, 912


. g/ ,7 32 49 ,83
m
3 8

3 PM µ 37 22, 93, 15,


. g/ ,2 43 26 16
10
m
3 9

4 CO µ 26 17, 95, 901


. g/ ,2 19 45 ,11
m
3 6

Sumber : SLHD Kabupaten Gunung Kidul, 2014

Tabel Konversi Indeks ISPU menjadi Skala Kualitas Lingkungan


Kriteria
ISPU Skala
Kesehatan

Sangat
1-50 Baik 5
Baik

51-
Sedang Baik 4
100

101-
Tidak Sehat Sedang 3
199

200- Sangat Tidak


Jelek 2
299 Sehat

≥300 Berbahaya Sangat 1


Jelek

Tabel Batas Indeks Standart Pencemar Udara (Dalam Satuan SI)


24
Indeks 24 24 24 24
jam
Standar jam jam jam jam
PM1
Pence SO2 CO O3 NO2
0
mar µg/ µg/ µg/ µg/
µg/
Udara m3 m3 m3 m3
m3

50 50 80 5 120

100 150 365 10 235

113
200 350 800 17 400
0

160 226
300 420 34 800
0 0

210 100 300


400 500 46
0 0 0

262 120 375


500 600 57,5
0 0 0

100−50
I=( (50,53 – 80)) + 50
365−80
= 44,83
= 45 (Pembulatan)
Jadi konsentrasi udara ambien SO2 : 50,53 µg/m3 dirubah menjadi
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) : 45Dari tabel ISPU idapatkan
bahwa konsentrasi SO2masuk dalam kategori Baik. Sehingga kadar
SO2di Kabupaten Kulon Progo tergolong baik.
Untuk parameter PM10 memiliki ISPU rata-rata : Sedang (4)
Untuk parameter SO2 memiliki ISPU rata-rata : Baik (5)
Untuk parameter O3 memiliki ISPU rata-rata : Baik (5)
Untuk parameter CO memiliki ISPU rata-rata : Baik (5)

Faktor
Sifat
Penentu
No Penting Keterangan
Dampak
Dampak
Penting

Besarnya P Penduduk akan


jumlah merasa udara
penduduk yang disekitarnya
1. akan terkena kembali bersih
dampak rencana meski tidak secara
usaha dan/atau langsung.
kegiatan

P Dampak terjadi di
sekitar wilayah
Luas wilayah
tambang dan bisa
2. penyebaran
bertambah luas jika
dampak
angin cukup
kencang.

Intensitas P Adanya ntensitas


dampak dampak.
3.
Lamanya P Dampak akan terus
dampak menerus
berlangsung berlangsung setelah
kegiatan
penambangan.

P Menimbulkan
dampak positif
Banyaknya
terhadap
komponen
masyarakat, biota
4. lingkungan
disekitarnya
hidup lain yang
maupun pada air
terkena dampak
permukaan dengan
meningkatnya O2.

P Dampak bersifat
Sifat kumulatif kumulatif, karena
5.
dampak berlangsung terus
menerus.

P Berbalik. Kualitas
Berbalik atau
udara perlahan bisa
tidak
6. menjadi baik
berbaliknya
kembali setelah
dampak.
pasca tambang.

P Dengan adanya
Kriteria lain perkembangan ilmu
sesuai dengan pengetahuan dan
perkembangan teknologi metode
7.
ilmu pengetahuan dan
pengetahuan teknologi metode
dan teknologi konservasi
lingkungan dapat
ditingkatkan
sehingga dapat
menghasilkan
dampak positif
lebih besar dan
cepat.

Sifat Dampak P Penting


Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting


 Penambangan
Prakiraan kualitas udara yang dilakukan lebih pada akibat emisi
kendaraan pengangkut dan kendaraan berat tambang. Untuk menghitung
kualitas perubahan udara digunakan perhitungan ISPU (Index Standar
Pencemar Udara) dengan persamaan :
𝐼𝑎−𝐼𝑏
I=( (Xx – Xb)) + Ib
𝑋𝑎−𝑋𝑏
Dimana :
I adalah ISPU terhitung Iaadalah ISPU batas atas
Ib adalah ISPU batas bawah
Xa adalah Ambien batas atas
Xb adalah Ambien batas bawah
Xx adalah Kadar ambient nyata hasil pengukuran

Tabel Hasil Pengukuran Kualitas Udara


S Hasil Pengukuran
Para at
N Si Si Ter
met u Se
o mp mp mi
er a nt
ang ang nal
n ol
Tig Tig Wa
o a a tes
Wa Ti
tes mu
r
Wa
tes

1 µ 33, 827
50
. g/ 27, 02 ,37
SO2 ,5
m 38
3
3

2 O3 µ 32 17, 99, 912


. g/ ,7 32 49 ,83
m
3 8

3 PM µ 37 22, 93, 15,


. g/ ,2 43 26 16
10
m
3 9

4 CO µ 26 17, 95, 901


. g/ ,2 19 45 ,11
m
3 6

Sumber : SLHD Kabupaten Gunung Kidul, 2014

Tabel Konversi Indeks ISPU menjadi Skala Kualitas Lingkungan


Kriteria
ISPU Skala
Kesehatan

Sangat
1-50 Baik 5
Baik
51-
Sedang Baik 4
100

101-
Tidak Sehat Sedang 3
199

200- Sangat Tidak


Jelek 2
299 Sehat

Sangat
≥300 Berbahaya 1
Jelek

Tabel Batas Indeks Standart Pencemar Udara (Dalam Satuan SI)


24
Indeks 24 24 24 24
jam
Standar jam jam jam jam
PM1
Pence SO2 CO O3 NO2
0
mar µg/ µg/ µg/ µg/
µg/
Udara 3
m3 m3 m3 m3
m

50 50 80 5 120

100 150 365 10 235

113
200 350 800 17 400
0

160 226
300 420 34 800
0 0

210 100 300


400 500 46
0 0 0
262 120 375
500 600 57,5
0 0 0

100−50
I=( (50,53 – 80)) + 50
365−80
= 44,83
= 45 (Pembulatan)
Jadi konsentrasi udara ambien SO2 : 50,53 µg/m3 dirubah menjadi
Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) : 45. Dari tabel ISPU
idapatkan bahwa konsentrasi SO2masuk dalam kategori Baik.
Sehingga kadar SO2di Kabupaten Kulon Progo tergolong baik.
Untuk parameter PM10 memiliki ISPU rata-rata : Sedang (4)
Untuk parameter SO2 memiliki ISPU rata-rata : Baik (5)
Untuk parameter O3 memiliki ISPU rata-rata : Baik (5)
Untuk parameter CO memiliki ISPU rata-rata : Baik (5)

Tabel Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Konservasi


Lingkungan
terhadap Kualitas Udara
Faktor
Sifat
Penentu
No Penting Keterangan
Dampak
Dampak
Penting

Besarnya P Penduduk akan

jumlah merasa udara

penduduk yang disekitarnya


1.
akan terkena kembali bersih

dampak rencana meski tidak secara

usaha dan/atau langsung.


kegiatan

P Dampak terjadi di
sekitar wilayah
Luas wilayah
tambang dan bisa
2. penyebaran
bertambah luas jika
dampak
angin cukup
kencang.

Intensitas P Adanya ntensitas


dampak dampak.

P Dampak akan terus


3. Lamanya menerus
dampak berlangsung setelah
berlangsung kegiatan
penambangan.

P Menimbulkan
dampak positif
Banyaknya
terhadap
komponen
masyarakat, biota
4. lingkungan
disekitarnya
hidup lain yang
maupun pada air
terkena dampak
permukaan dengan
meningkatnya O2.

P Dampak bersifat
Sifat kumulatif kumulatif, karena
5.
dampak berlangsung terus
menerus.

6. Berbalik atau P Berbalik. Kualitas


tidak udara perlahan bisa
berbaliknya menjadi baik
dampak. kembali setelah
pasca tambang.

P Dengan adanya
perkembangan ilmu
pengetahuan dan
teknologi metode
Kriteria lain pengetahuan dan
sesuai dengan teknologi metode
perkembangan konservasi
7.
ilmu lingkungan dapat
pengetahuan ditingkatkan
dan teknologi sehingga dapat
menghasilkan
dampak positif
lebih besar dan
cepat.

Sifat Dampak P Penting


Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

E. LIMBAH B3
1) Tahap Operasi
 Penambangan
Limbah B3 yang dihasilkan dari masing-masing industri
diwajibkan memiliki ijin pembuangan limbah ke instansi terkait
berdasarkan PP No.101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah
Berbahaya dan Beracun. Limbah B3 pada kawasan ini akan disimpan
di gudang penyimpanan B3. Gudang penyimpanan B3 harus memiliki
ijin berdasarkan PP Menteri Lingkungan Hidup No. 30 Tahun 2009.
Untuk pengelolaan limbah B3 di kawasan pertambangan emas
bekerjsama dengan pihak ketiga baik swasta maupun negeri.
Tabel Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Penambangan
Terhadap
Adanya Limbah B3
No Faktor Penentu Sifat Penting Keterangan
Dampak Penting Dampak
1. Besarnya jumlah P Jumlah manusia terkena
penduduk yang akan dampak yaitu penduduk yang
terkena dampak tinggal di dekat perairan/
rencana usaha dan/atau lahan yang terkena dampak
kegiatan merkuri.

2. Luas wilayah P Luas wilayah penyebaran


dampak lebih besar
dibandingkan dengan luas
wilayah rencana kegiatan.

3. Intensitas dampak P Intensitas dampak cukup


(ada/tidaknya dampak besar. Dampak diprediksikan
yang akan terjadi) akan berlangsung selama
tahap kegiatan persiapan dan
sampai berlanjut hingga tahap
penambangan.

4. Banyaknya komponen P Berdampak pada komponen


lingkungan hidup lain kesehatan masyarakat dan
yang terkena dampak biota makhluk di perairan.
5. Sifat kumulatif dampak P Bersifat kumulatif.

6. Berbalik atau tidak TP Berbalik.


berbaliknya dampak
7. Kriteria lain sesuai TP Dampak penting negatif yang
dengan ditimbulkan dapat
perkembanganilmu ditanggulangi oleh teknologi
pengetahuan dan yang tersedia.
teknologi
Sifat Penting Dampak 5P : 2TP Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

Berdasarkan hasil evaluasi adanya limbah B3 memiliki ΣTP = 2, sehingga


kegiatan penambangan yang menghasilkan limbah B3 berdampak penting.

F. SAMPAH PADAT
1) Tahap Operasi
 Pembangunan Sarana dan Prasarana
Timbulan sampah terdapat dari kegiatan pembangunan sarana-
prasarana dan kegiatan karyawan pertambangan. Jumlah karyawan
adalah sebagai berikut:
Karyawan pra penambangan = 500 orang
Karyawan penambangan = 1500 orang
Timbulan sampah pada saat pra penambangan sebesar 500 orang x
0,1 kg/orang/hari = 50 kg/hari. Sedangkan timbulan pada saat proses
penambangan sebesar 1500 x 0,1 kg/orang/hari = 150 kg/hari
Penentuan sifat penting dampak tertera pada Tabel berikut ini.
Analisis rinci penentuan dampak kegiatan pembangunan sarana dan
prasarana
Tabel 3. Penentuan Sifat Penting Dampak timbulan sampah padat
pada proses pembangunan sarana dan prasarana
Sifat
Faktor penentu dampak
No penting Keterangan
penting
dampak
Besarnya jumlah
Adanya timbulan sampah akan
penduduk yang akan
berdampak negatif bagi warga
1. terkena dampak P
sekitar jika tidak dikelola dengan
rencana usaha dan/atau
baik
kegiatan
Luas wilayahnya tidak
Luas wilayah bertambah karena timbulan
2. TP
penyebaran dampak sampah hanya ada dalam
wilayah proyek
Selama pengerjaan
3. Intensitas dampak P pembangunan sarana dan
prasarana

Lamanya dampak Dampak yang ada muncul ketika


4 P
berlangsung ada timbulan sampah pdat

Sampah yang tidak dikelola


dengan baik akan merusak tanah.
Pada tahap ini sampah banyak
Banyaknya komponen
berasal dari sampah organik dari
4. lingkungan hidup lain P
kegiatan pembukaan lahan
yang terkena dampak
seperti tumbuh-tumbuhan dan
juga sisa konstruksi bangunan
dari pembongkaran pemukiman
Walaupun dampaknya hanya
beberapa tetapi itu yang dapat
5. Sifat kumulatif dampak P
membuat kuantitas tanah
berkurang
Dampak bisa diatasi dengan
Berbalik atau tidak
6 TP melakukan pengelolaan sampah
berbaliknya dampak
diarea proyek
Kriteria lain sesuai
Tidak ada kriteria lain sesuai
dengan perkembangan
7. P dengan perkembangan ilmu
ilmu pengetahuan dan
pengetahuan dan teknologi
teknologi
2 TP dan
Sifat Penting Dampak Penting
5P
Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

G. PENURUNAN POPULASI SATWA


1) Tahap Operasi
 Pembangunan Sarana dan Prasarana
Data yang digunakan dalam pengambilan data fauna adalah data
sekunder. Tujuan dilakukannya survei fauna di sepanjang lokasi adalah
untuk mengetahui jenis fauna yang dilindungi dan terancam punah.
Survei tersebut juga bertujuan untuk mengetahui upaya-upaya yang
akan dilakukan untuk menyelamatkan fauna yang berpotensi
mengalami kepunahan. Survei flora dilakukan berdasarkan format
penilaian cepat melalui pengumpulan secara intensif berbagai jenis
hewan. Berdasarkan hasil perhitungan data kemudian dikonversikan ke
dalam skala kualitas lingkungan dengan skala sebagaimana disajikan
pada tabel berikut :

Tabel 3. Skala Flora & Fauna


Skala Tingkat Kehilangan Kategori
Flora (%)
5 0–1 Sangat Baik / Beragam
4 1–2 Baik
3 2–3 Sedang
2 3–4 Jelek
1 4–5 Sangat Jelek

a. Indeks (Shannon-Wienner)
Indeks ini merupakan salah satu yang paling sederhana dan
banyak dipergunakan untuk mengukur indeks diversitas. Indeks
Shanon-Weiver dapat dipergunakan untuk membandingkan
kestabilan lingkungan dari suatu ekosistem. Indeks
keanekaragaman Shannon-Wiener yang digunakan memiliki
formula sebagai berikut:

H’ = - Σ (pi log pi)

Keterangan:
H’ = indeks keanekaragaman
pi = perbandingan jumlah individu satu jenis dengan jumlah
individu keseluruhan sampel dalam plot (n/N)

Tabel 3. Rona Lingkungan Awal


Uraian Jenis
No Jumlah
Nama Lokal Nama Ilmiah pi H'
Spesies
1 Kijang Muntiacus muntjak 308 0,125356 0,113053
2 Rusa Cervus timorensis 276 0,112332 0,106659
3 Cekakak jawa Halcyon cyanoventris 417 0,169719 0,130729
4 Kakatua koki Cacatua galerita 204 0,083028 0,089735
5 Elang laut Haliaeetus leucogaster 146 0,059422 0,072855
6 Kasturi ternate Lorius garralus 211 0,085877 0,091556
7 Gelatik jawa Padda oryzivora 280 0,11396 0,107493
8 Trocokan Pycnonotus goavier 209 0,085063 0,09104
9 Kutilang Pycnonotus aurigaster 113 0,045991 0,061505
10 Macan kumbang Panthera pardus 98 0,039886 0,055808
11 Macan tutul Panthera pardus 102 0,041514 0,057364
12 Monyet ekor panjang Macaca fascicularis 93 0,037851 0,053821
Indeks
Keaneka
Jumlah 2457 1,03162
ragaman
(H')

Tabel 3. Rona Setelah Kegiatan


Uraian Jenis
No Jumlah
Nama Lokal Nama Ilmiah pi H'
Spesies
1 Kijang Muntiacus muntjak 118 0,12 0,1101
2 Rusa Cervus timorensis 107 0,11 0,1044
3 Cekakak jawa Halcyon cyanoventris 147 0,15 0,1230
4 Kakatua koki Cacatua galerita 88 0,09 0,0934
Haliaeetus
5 Elang laut 56 0,06 0,0706
leucogaster
6 Kasturi ternate Lorius garralus 99 0,10 0,1000
7 Gelatik jawa Padda oryzivora 114 0,12 0,1081
8 Trocokan Pycnonotus goavier 84 0,08 0,0909
Pycnonotus
9 Kutilang 35 0,04 0,0513
aurigaster
10 Macan kumbang Panthera pardus 50 0,05 0,0655
11 Macan tutul Panthera pardus 49 0,05 0,0646
Monyet ekor
12 Macaca fascicularis 43 0,04 0,0592
panjang
Indeks
Keanekara
Jumlah 990 1,0411
gaman
(H')

Tabel 3. Besaran Dampak


Tabel 3.33 Besaran Dampak Tabel 3.37 Δ = KLp - KLo
Besaran Dampak Δ =
Δ= Besaran Dampak 1,041-1,03 0,01
KLdp - KLtp
Parameter Kualitas
Indeks Keanekaragaman
KLdp = Lingkungan yang datang 1,041
(H') dengan proyek
Dengan Proyek
Parameter Kualitas
Indeks Keanekaragaman
KLtp = Lingkungan yang datang 1,03
(H') tanpa proyek
Tanpa Proyek

Dengan nilai indeks keanekaan yang bernilai 0,01, maka


skala kualitas lingkungan untuk keanekaragaraman fauna adalah 5
(sangat baik). Sehingga nilai dampak yang terjadi adalah :

Dampak Δk = Kldp-Kltp = 1,041-1,03 = 0,01


Tabel 3. Skala Tingkat Kehilangan Fauna

Tabel 3.34 Skala Tingkat Kehilangan Kategori


Tingkat Kehilangan Fauna (%)
Fauna Skala
5 0–1 Sangat Baik / Beragam
4 1–2 Baik
3 2–3 Sedang
2 3–4 Jelek
1 4–5 Sangat Jelek

Kualitas lingkungan awal = 4


Kualitas lingkungan tanpa proyek = 4
Kualitas lingkungan dengan proyek = 4
Besaran dampak = 0
Penentuan sifat penting dampak tertera pada tabel berikut ini.
Analisis rinci penentuan dampak kegiatan pembersihan lahan
unruk pembngunan sarana dan prasarana terhadap
keanekaragaman hayati.

Tabel 3. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pembangunan Sarana


dan Prasarana terhadap Keanekaragaman Fauna

Sifat
Faktor penentu
No penting Keterangan
dampak penting
dampak
Besarnya jumlah Fauna liar yang berbahaya
penduduk yang akan dikhawatirkan bisa masuk ke
1. P
terkena dampak permukiman warga karena
rencana usaha habitat mereka hilang karena
dan/atau kegiatan adanya proyek.

Luas wilayah Dampak terjadi di lokasi


2. P
penyebaran dampak proyek hingga batas ekologis.

Dampak yang akan timbul


3 Intensitas dampak TP adalah hilangnya tempat
hidup untuk hewan

Dampak diprediksikan akan


Lamanya dampak
P berlangsung pada tahap
berlangsung
pembukaan lahan
Banyaknya
komponen Dampak lain yang
4 lingkungan hidup TP ditimbulkan masih bisa
lain yang terkena ditoleransi
dampak
Dapat bersifat kumulatif
karena pada saat kegiatan
Sifat kumulatif pembersihan lahan
5. P
dampak mengharuskan menebang
hutan yang merupakan
hanitat hidup fauna.
Berbalik atau tidak Dampak dapat dipulihkan
6. TP
berbaliknya dampak dengan perlakuan terprogram
Kriteria lain sesuai Tidak ada kriteria lain sesuai
7. TP
dengan dengan perkembangan ilmu
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
pengetahuan dan
teknologi
Sifat Penting
4P,3TP Penting
Dampak
Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

Berdasarkan hasil evaluasi tingkat fauna memiliki ΣTP = 2,


sehingga kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dalam
mempengaruhi fauna/satwa liar berdampak penting.

H. PENURUNAN POPULASI FLORA


1) Tahap Operasi
 Pembangunan Sarana dan Prasarana
Data yang digunakan dalam pengambilan data vegetasi adalah
data sekunder. Tujuan dilakukannya survei flora di sepanjang lokasi
adalah untuk mengetahui jenis flora yang dilindungi dan terancam
punah. Survei tersebut juga bertujuan untuk mengetahui upaya-upaya
yang akan dilakukan untuk menyelamatkan flora yang berpotensi
mengalami kepunahan. Survei flora dilakukan berdasarkan format
penilaian cepat melalui pengumpulan secara intensif berbagai jenis
hewan. Berdasarkan hasil perhitungan data kemudian dikonversikan ke
dalam skala kualitas lingkungan dengan skala sebagaimana disajikan
pada tabel berikut :
Tabel 1. Skala Flora & Fauna

Skala Tingkat Kehilangan Kategori


Flora (%)
5 0–1 Sangat Baik / Beragam
4 1–2 Baik
3 2–3 Sedang
2 3–4 Jelek
1 4–5 Sangat Jelek

a. Indeks (Shannon-Wienner)
Indeks ini merupakan salah satu yang paling sederhana dan
banyak dipergunakan untuk mengukur indeks diversitas. Indeks
Shanon-Weiver dapat dipergunakan untuk membandingkan
kestabilan lingkungan dari suatu ekosistem. Indeks keanekaragaman
Shannon-Wiener yang digunakan memiliki formula sebagai berikut:

H’ = - Σ (pi log pi)

Keterangan:
H’ = indeks keanekaragaman
pi = perbandingan jumlah individu satu jenis dengan jumlah
individu keseluruhan sampel dalam plot (n/N)
Tabel 2 Rona Lingkungan Awal

Uraian Jenis
No Jumlah
Nama Lokal Nama Ilmiah Di H'
Spesies
1 Angsana Pterocarpus indicus 35 0.11254 0.106766
2 Sengon Paraserianthes falcaria 70 0.22508 0.145776
3 Beringin Ficus benjamina 50 0.160772 0.127619
4 Pinus Pinus merkusii 68 0.21865 0.144364
5 Jambu Monyet Syzygium aquaeum 54 0.173633 0.132025
6 Sawo Zapota 34 0.109325 0.105092
Indeks
Jumlah 311 Keanekaragaman 0.76164
(H')
Tabel 3 Rona Setelah Kegiatan

Uraian Jenis
No Jumlah
Nama Lokal Nama Ilmiah Di H'
Spesies
1 Angsana Pterocarpus indicus 15 0.08 0.0868
2 Sengon Paraserianthes falcaria 50 0.26 0.1524
3 Beringin Ficus benjamina 30 0.16 0.1263
4 Pinus Pinus merkusii 48 0.25 0.1507
5 Jambu Monyet Syzygium aquaeum 34 0.18 0.1334
6 Sawo Zapota 14 0.07 0.0832
Indeks
Jumlah 191 Keanekaragaman 0.7328
(H')

Tabel 3. Besaran Dampak

Tabel 3 Besaran Dampak Tabel 3.37 Δ = KLp - KLo


Besaran Dampak Δ = 0,7666-
Δ= Besaran Dampak 0,03
KLdp - KLtp 0,7328
Parameter Kualitas
Indeks Keanekaragaman
KLdp = Lingkungan yang datang 0,7666
(H') dengan proyek
Dengan Proyek
Parameter Kualitas
Indeks Keanekaragaman
KLtp = Lingkungan yang datang 0,7328
(H') tanpa proyek
Tanpa Proyek
Dengan nilai indeks keanekaragaman yang bernilai 0,03, maka
skala kualitas lingkungan untuk keanekaragaraman flora adalah 3
(sedang). Sehingga nilai dampak yang terjadi adalah :
Dampak Δk = Kldp-Kltp = 0,7666-0,7328= 0,03
Kualitas lingkungan awal = 4
Kualitas lingkungan tanpa proyek = 4
Kualitas lingkungan dengan proyek = 4
Besaran dampak = 0
Penentuan sifat penting dampak tertera pada tabel berikut ini.
Analisis rinci penentuan dampak kegiatan pembersihan lahan unruk
pembngunan sarana dan prasarana terhadap keanekaragaman hayati.

Tabel 4 Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pembangunan Sarana


Prasarana Terhadap Penurunan Populasi Vegetasi
No Faktor Penentu Sifat Penting Keterangan
Dampak Penting Dampak
1. Besarnya jumlah P Lahan pencaharian warga akan
penduduk yang akan berkurangseperti lahan pertanian
terkena dampak dan perkebunan.
rencana usaha
dan/atau kegiatan
2. Luas wilayah P Dampak terjadi di kec. Pengasih,
Wates, Temon.

3. Intensitas dampak TP Dampak yang akan timbul adalah


(ada/tidaknya hilangnya tempat hidup untuk
dampak yang akan hewan dan keseimbangan
terjadi) ekosistem terganggu.

Lamanya dampak P Dampak diprediksikan akan


berlangsung berlangsung pada tahap
pembukaan lahan.

4. Banyaknya TP Dampak lain yang ditimbulkan


komponen masih bisa ditoleransi.
lingkungan hidup
lain yang terkena
dampak
5. Sifat kumulatif P Dapat bersifat kumulatif karena
dampak pada saat kegiatan pembebasan
lahan mengharuskan menebang
tumbuh-tumbuhan di sekitar
tambang.

6. Berbalik atau tidak TP Dampak dapat dipulihkan dengan


berbaliknya dampak penanaman kembali atau adanya
program reboisasi.

7. Kriteria lain sesuai TP Adanya teknologi untuk


dengan memulihkan kerusakan lokasi.
perkembangan ilmu
pengetahuan dan
teknologi
Sifat Penting Dampak 3P : 4TP Penting

Keterangan: P= Penting, TP = Tidak Penting

Berdasarkan hasil evaluasi tingkat fauna memiliki ΣTP = 4,


sehingga kegiatan pembangunan sarana dan prasarana dalam
mempengaruhi flora berdampak penting.
3.3 KOMPONEN SOSIAL – EKONOMI BUDAYA
A. Keresahan Masyarakat
1) Tahap Pra Konstruksi
a. Sosialisasi
Aktivitas sosialisasi diprediksi akan menimbulkan keresahan masyarakat di
lokasi Tambang Emas PT ABC. Sejak awal sikap masyarakat terhadap rencana
kegiatan telah terbelah ke dalam sikap yang berharap rencana kegiatan dapat
terealisasi dan sikap yang menolak. Terbelahnya sikap masyarakat terhadap
rencana kegiatan diakibatkan oleh kurangnya sosialisasi dari pemrakarsa. Hal
tersebut memunculkan informasi yang tidak akurat, akibatnya informasi yang
berkembang seringkali kurang jelas dan kurang benar. Ketidakjelasan informasi
yang berkembang memunculkan ketidakpastian tentang rencana kegiatan yang
akan dilakukan, misalnya luas kebutuhan lahan dan kejelasan lokasi rencana
proyek serta isu penggusuran permukiman. Hal tersebut menimbulkan keresahan
masyarakat sekitar rencana proyek. Keresahan masyarakat juga muncul karena
adanya kekhawatiran akan kehilangan lahan dan pekerjaan, terganggu kegiatan
pertanian, serta warga yang mendukung proyek juga muncul kekhawatiran tidak
bisa bekerja di proyek.
Dari hasil survey yang dilakukan mengenai rencana penambangan emas, di
dapatkan hasil bahwa 65% masyarakat mengatakan setuju dengan proyek
tersebut. Hal ini di karenakan masyarakat menganggap dengan adanya proyek
tersebut dapat meningkatkan perekonomian dan fasilitas umum masyarakat
sekitar. Sisanya masih merasa keberatan dengan rencana kegiatan tersebut.
Ketidakseimbangan lingkungan sosial yang muncul akibat survei dan pengadaan
lahan bersifat negatif. Hal ini mengakibatkan adanya penurunan kuslitas
lingkungan terkait keresahan masyarakat yang mana pada rona awal terlihat
kondisi yang baik.
Dari analisa diatas maka :
1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 3 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 3 – 4 = -1
Dengan demikian besaran dampak terhadap meningkatnya keresahan
masyarakat pada tahap kegiatan persiapan adalah tergolong Kecil dengan nilai
perubahan dampaknya Negatif Satu (-1). Analisis rinci penentuan dampak
kegiatan sosialisasi terhadap meningkatnya keresahan masyarakat dapat dilihat
pada tabel.
Tabel. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Sosialisasi terhadap
Meningkatnya Keresahan Masyarakat
Faktor Penentu Dampak Sifat Penting
No Keteranan
Penting Dampak
1 Besarnya jumlah P Jumlah penduduk terkena dampak
penduduk yang akan ada sekitar 30% dari jumlah total
terkena dampak rencana penduduk
usaha dan/atau kegiatan
2 Luas wilayah penyebaran P Kecamatan Kokap Desa Hargotirto,
dampak Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis,dan pada Kecamatan
Girimulyo di Desa Jatimulyo serta
di Kecamatan Kaligesing yaitu Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
3 Intensitas dampak P Intensitas dampak cukup
mengingat: (a) perbedaan
sikap yang makin
mengganggu kebersamaan
warga; (b) muncul
kekhawatiran kehilangan
lahan dan pekerjaan, serta
gangguan pada kegiatan
pertanian.
Lamanya dampak P Dampak diprediksikan akan
berlangsung berlangsung pada tahap
kegiatan persiapan hingga
tahap penambangan
4 Banyaknya komponen P Menimbulkan dampak
lingkungan hidup lain sekunder pada pola
yang terkena dampak hubungan sosial dan
persepsi.
5 Sifat kumulatif dampak P Dapat bersifat kumulatif
karena sebelum kegiaatan
prakonstruksi telah muncul
perbedaan sikap terhadap
rencana kegiatan
6 Berbalik atau tidak TP Dampak dapat dipulihkan
berbaliknya dampak dengan perlakuan
terprogram
7 Kriteria lain sesuai dengan TP Tersedia teknologi terkini
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting


Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, sosialisasi terhadap
keresahan masyarakat masuk kategori dampak penting. Dari uraian
perubahan skala kualitas lingkungan terjadi penurunan, sehingga dampak
tergolong Negatif Penting (NP). Untuk mewujudkan terciptanya
kesimbangan baru dan memulihkan keresahan masyarakat dalam sistem
lingkungan sosial diperlukan fasilitasi dan penyediaan sarana serta prasarana
baru yang menjadi kebutuhan masyarakat yang terkena dampak. Mekanisme
aliran dampak kegiatan survei terhadap meningkatnya keresahan masyarakat
bersifat langsung pada komponen lingkungan sosial ekonomi dan budaya
dan selanjutnya dapat menimbulkan dampak pada lingkungan sosial lainnya.
2) Tahap Penambangan
a. Pembersihan Lahan
Aktivitas pembersihan lahan diprediksikan akan menimbulkan
perubahan bentang lahan daerah sekitar. Sejak awal sikap masyarakat terhadap
rencana kegiatan telah terbelah ke dalam sikap yang berharap rencana kegiatan
dapat terealisasi dan sikap yang menolak. Pembersihan lahan diprediksikan
akan meningkatkan keresahan masyarakat yang diakibatkan oleh perubahannya
tata guna lahan dan kualitas tanah. Terbelahnya sikap masyarakat terhadap
rencana kegiatan dibarengi pula dengan informasi awal tentang rencana
pembangunan Tambang Emas yang diperoleh oleh warga lebih banyak dari
sumber di luar pemrakarsa. Hal tersebut cukup memunculkan informasi yang
tidak akurat, akibatnya informasi yang berkembang seringkali kurang jelas dan
kurang benar. Hilangnya lahan pertanian yang berdampak pada hilangnya
pekerjaan dalam artian masyarakat yang bertani di lahan tersebut menjadi
penganggur.
Selain itu berubahnya tata guna lahan yang berupa hutan pada awalnya,
kemudian dilakukan pembukaan lahan tambang hingga menghilangkan
mayoritas fauna mengakibatkan timbulnya keresahan masyarakat akan dampak
yang dapat terjadi seperti penurunan kualitas dan kuantitas air tanah, longsor
dan sebagainnya. Kegiatan pembersihan lahan dengan menimbulkan kebisingan
dan penurunan kualitas udara sekitar menjadi fokus dampak yang diresahkan
masyarakat sekitar.
Dari analisa diatas maka :
1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 3 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 3 – 4 = -1
Penentuan sifat penting dampak tertera pada tabel berikut:

Tabel. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pembersihan Lahan


Tambang Emas terhadap Keresahan Masyarakat
Faktor Penentu Dampak Sifat Penting
No Keteranan
Penting Dampak
1 Besarnya jumlah P Jumlah masyarakat yang
penduduk yang akan meresahkan adanya kebisingan dan
terkena dampak rencana penurunan kualitas udara mencapai
usaha dan/atau kegiatan >10%.
2 Luas wilayah penyebaran P Kecamatan Kokap Desa Hargotirto,
Dampak Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis,dan pada Kecamatan
Girimulyo di Desa Jatimulyo serta di
Kecamatan Kaligesing yaitu Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
3 Intensitas dampak TP Intensitas dampak tidak terlalu
signifikan
Lamanya dampak P Dampak diprediksikan akan
Berlangsung berlangsung selama tahap kegiatan
persiapan dan sampai berlanjut
hingga tahap penambangan
4 Banyaknya komponen P Menimbulkan dampak sekunder
lingkungan hidup lain pada munculnya presepsi dan sikap
yang terkena dampak negatif masyarakat.
5 Sifat kumulatif dampak P Dapat bersifat kumulatif karena
sebelum kegiaatan prakonstruksi
setelah muncul perbedaan sikap
terhadap rencana kegiatan
6 Berbalik atau tidak TP Dengan pengelolaan tertentu
berbaliknya dampak dampak dapat dipulihkan
7 Kriteria lain sesuai dengan TP Tersedia teknologi terkini
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan pembersihan


lahan Tambang Emas terhadap meningkatnya keresahan masyarakat masuk
kategori dampak penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan
terjadi penurunan, sehingga dampak tergolong Negatif Penting (NP). Dalam
mewujudkan terciptanya kesimbangan baru guna menghilangkan atau
mengurangi keresahan masyarakat diperlukan fasilitasi dan teknologi
penanggulangan dampak lingkungan yang dikhawatirkan oleh masyarakat
akibat berubahnya tata guna lahan. Mekanisme aliran dampak kegiatan
pembebasan lahan Tambang terhadap meningkatnya keresahan masyarakat
bersifat langsung pada komponen lingkungan sosial ekonomi dan budaya
dan selanjutnya dapat menimbulkan dampak pada lingkungan sosial lainnya.

a. Pengupasan Tanah Pucuk dan Tanah Penutup


Aktivitas pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup diprediksikan
akan menimbulkan perubahan kualitas lingkungan sekitar. Sejak awal sikap
masyarakat terhadap rencana kegiatan telah terbelah ke dalam sikap yang
berharap rencana kegiatan dapat terealisasi dan sikap yang menolak.
pengupasan tanah pucuk dan tanah penutup diprediksikan akan
meningkatkan keresahan masyarakat yang diakibatkan oleh perubahannya
kualitas tanah dan kualitas air tanah. Terbelahnya sikap masyarakat terhadap
rencana kegiatan dibarengi pula dengan informasi awal tentang rencana
pembangunan Tambang Emas yang diperoleh oleh warga lebih banyak dari
sumber di luar pemrakarsa. Hal tersebut cukup memunculkan informasi yang
tidak akurat, akibatnya informasi yang berkembang seringkali kurang jelas
dan kurang benar. Hilangnya tata guna lahan yang berupa hutan pada
awalnya, kemudian dilakukan pembukaan lahan tambang hingga
menghilagkan mayoritas fauna mengakibatkan timbulnya keresahan
masyarakat akan dampak yang dapat terjadi seperti penurunan kualitas dan
kuantitas air tanah, longsor dan sebagainnya. Selain itu perubahan kualitas
tanah dimana tanah yang mengandung huus tinggi di kupas, dapat
berdampak pada penurunan kualitas tanah hingga air tanah daerah sekitar.
Dari analisa diatas maka :
1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 3 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 3 – 4 = -1
Penentuan sifat penting dampak tertera pada tabel berikut:

Tabel. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pengupasan Tanah Pucuk


dan Tanah Penutup terhadap Keresahan Masyarakat
Faktor Penentu Dampak Sifat Penting
No Keteranan
Penting Dampak
1 Besarnya jumlah TP Jumlah penduduk terkena dampak
penduduk yang akan tidak mencapai 10% dari jumlah total
terkena dampak rencana penduduk
usaha dan/atau kegiatan
2 Luas wilayah penyebaran P Kecamatan Kokap Desa Hargotirto,
Dampak Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis,dan pada Kecamatan
Girimulyo di Desa Jatimulyo serta di
Kecamatan Kaligesing yaitu Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
3 Intensitas dampak TP Intensitas dampak tidak terlalu tinggi
akibat keterbatasan pengetahuan
masyarakat sekitar.
Lamanya dampak P Dampak diprediksikan akan
berlangsung berlangsung selama tahap kegiatan
persiapan dan sampai berlanjut
hingga tahap penambangan
4 Banyaknya komponen P Menimbulkan dampak sekunder
lingkungan hidup lain pada munculnya konflik sosial.
yang terkena dampak
5 Sifat kumulatif dampak P Dapat bersifat kumulatif karena
sebelum kegiaatan prakonstruksi
telah muncul perbedaan sikap
terhadap rencana kegiatan
6 Berbalik atau tidak TP Dengan pengelolaan tertentu
berbaliknya dampak dampak dapat dipulihkan
7 Kriteria lain sesuai dengan TP Tersedia teknologi terkini
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
Sifat Penting Dampak TP Tidak Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan pengupasan


tanah pucuk dan tanah penutup terhadap meningkatnya keresahan
masyarakat masuk kategori dampak tidak penting. Dari uraian perubahan
skala kualitas lingkungan terjadi penurunan, sehingga dampak tergolong
Negatif tidak Penting (NP). Hal ini dikarenakan keresahan mengenai
penurunan kualita stanah dan air tidak secara menyeluruh dirasakan. Kondisi
tersebut diakibatkan latar belakang pendidikan kebanyakan masyarakat yang
masih rendah, sehingga hanya yang mengerti mengenai kualitas lingkungan
yang merasa resah dengan kegiatan tersebut. Sehingga dampak yang
ditimbulkan dianggap kurang penting. Namun dampak ini akan meluas
ketika masyarakt yang resah memprovokasi masyarakat yang dapat
berpotensi memunculkan konflik sosial.
b. Penambangan
Keresahan masyarakat juga timbul akibat adanya aktivitas
penambangan. Hal ini dikarenakan dampak yang ditimbulkan dari
kegiatan penambangan, di mana penambangan dilakukan secara open pit
dengan menggunakan bahan peledak. kebisingan dari alat-alat berat,
getaran, hingga kemungkinan adanya pencemaran akan menimbulkan
gangguan kenyamanan pada masyarakat sehingga dapat menyebabkan
keresahan masyarakat. Rona awal kualitas lingkungan dari parameter
keresahan masyarakat masuk katagori baik atau skala 4 dalam artian ada
kemungkinan dapat terjadinya keresahan dalam kegiatan ini. Dengan
demikian kegiatan penambangan yang menimbulkan kebisingan hingga
kemungkinan pencemaran ini akan mengubah kualitas lingkungan
menjadi skala 3 yang artinya masyarakat resah dengan adanya aktivitas
penambangan yang mengakibatkan ketidaknyamanan.

Dari analisa diatas maka :

1) Kualitas lingkungan awal = skala 4


2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 3 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 3 – 4 = -1
Analisis rinci penentuan sifat penting dampak pada kegiatan
pembangunan konstruksi terhadap keresahan masyarakat tertera pada
Tabel berikut ini.

Tabel. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Penambangan terhadap


Keresahan Masyarakat
Faktor Penentu Dampak Sifat Penting
Keteranan
No Penting Dampak
1 Besarnya jumlah P Jumlah penduduk terkena dampak
penduduk yang akan ada >30% total masyarakat
terkena dampak rencana
usaha dan/atau kegiatan
2 Luas wilayah penyebaran P Kecamatan Kokap Desa Hargotirto,
dampak Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis,dan pada Kecamatan
Girimulyo di Desa Jatimulyo serta di
Kecamatan Kaligesing yaitu Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
3 Intensitas dampak P Intensitas dampak cukup tinggi
mengingat proses penambangan
secara berkelanjutan
Lamanya dampak P Dampak diprediksikan akan
berlangsung berlangsung selama tahap
penambangan
4 Banyaknya komponen P Menimbulkan dampak sekunder
lingkungan hidup lain pada munculnya konflik sosial.
yang terkena dampak
5 Sifat kumulatif dampak P Dapat bersifat kumulatif karena
sebelum kegiaatan prakonstruksi
telah muncul perbedaan sikap
terhadap rencana kegiatan
6 Berbalik atau tidak TP Dengan pengelolaan tertentu
berbaliknya dampak dampak dapat dipulihkan
7 Kriteria lain sesuai dengan TP Tersedia teknologi terkini
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan pengupasan


penambangan terhadap meningkatnya keresahan masyarakat masuk kategori
dampak penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan terjadi
penurunan, sehingga dampak tergolong Negatif Penting (NP). Dalam
mewujudkan terciptanya kesimbangan baru guna menghilangkan atau
mengurangi keresahan masyarakat diperlukan fasilitasi dan teknologi
penanggulangan dampak lingkungan yang dikhawatirkan oleh masyarakat
akibat dari penambangan yang menggunakan bahan peledak. Mekanisme
aliran dampak kegiatan pembebasan lahan Tambang terhadap meningkatnya
keresahan masyarakat bersifat langsung pada komponen lingkungan sosial
ekonomi dan budaya dan selanjutnya dapat menimbulkan dampak pada
lingkungan sosial lainnya.
c. Pengolahan Emas
Pengolahan emas akan menghasilkan zat buangan yang dapat berupa
limbah cair maupu emisi udara. Zat buangan dari proses pengolahan bijih
emas sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap kualitas lingkungan
sekitar. Dampak ini lah yang menimbulkan keresahan masyarakat sekitar.
Masyarakat khawatir apabila zat buangan tersebut dapat mengakibatkan
pencemaran air tanah yang sering mereka gunakan sebagai air minum. Selain
itu emisi gas buangan juga dikhawatirkan akan menurunkan kualitas udara
sekitar. Rona awal kualitas lingkungan dari parameter keresahan masyarakat
masuk katagori baik atau skala 4 dalam artian ada kemungkinan dapat
terjadinya keresahan dalam kegiatan ini. Dengan demikian kegiatan
pengolahan emas yang menghasilkan zat sisa memungkinan pencemaran dan
akan mengubah kualitas lingkungan, di mana skala berunah menjadi skala 2
yang artinya masyarakat resah dengan adanya aktivitas pengolahan emas
yang mengakibatkan kekhawatiran.
Dari analisa diatas maka :
1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 4= -2
Tabel. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pengolahan Emas
terhadap Keresahan Masyarakat

Faktor Penentu Dampak Sifat Penting


No Keteranan
Penting Dampak
1 Besarnya jumlah P Jumlah penduduk terkena dampak
penduduk yang akan ada >30% total masyarakat
terkena dampak rencana
usaha dan/atau kegiatan
2 Luas wilayah penyebaran P Kecamatan Kokap Desa Hargotirto,
dampak Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis,dan pada Kecamatan
Girimulyo di Desa Jatimulyo serta di
Kecamatan Kaligesing yaitu Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
3 Intensitas dampak P Intensitas dampak cukup tinggi
mengingat proses pengolahan emas
secara berkelanjutan
Lamanya dampak P Dampak diprediksikan akan
berlangsung berlangsung selama tahap
penambangan
4 Banyaknya komponen P Menimbulkan dampak sekunder
lingkungan hidup lain pada munculnya persepsi dan sikap
yang terkena dampak negatif masyarakat.
5 Sifat kumulatif dampak P Dapat bersifat kumulatif karena
sebelum kegiaatan prakonstruksi
telah muncul perbedaan sikap
terhadap rencana kegiatan
6 Berbalik atau tidak TP Dengan pengelolaan tertentu
berbaliknya dampak dampak dapat dipulihkan
7 Kriteria lain sesuai dengan TP Tersedia teknologi terkini
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, pengolahan emas


terhadap meningkatnya keresahan masyarakat masuk kategori dampak
penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan terjadi penurunan,
sehingga dampak tergolong Negatif Penting (NP). Dalam mewujudkan
terciptanya kesimbangan baru guna menghilangkan atau mengurangi
keresahan masyarakat diperlukan fasilitasi dan teknologi penanggulangan
pencemaran akibat buangan zat sisa dari proses pengolahan emas.
Mekanisme aliran dampak kegiatan pembebasan lahan Tambang terhadap
meningkatnya keresahan masyarakat bersifat langsung pada komponen
lingkungan sosial ekonomi dan budaya dan selanjutnya dapat menimbulkan
dampak pada lingkungan sosial lainnya.

B. Konflik Sosial
1) Tahap Pra Konstruksi
a. Sosialisasi
Konflik sosial muncul karena adanya perubahan pola hubungan sosial
antara masyarakat, pemrakarsa, dan pemerintah. Rona kualitas lingkungan dari
pola hubungan sosial di tapak Tambang masuk pada kriteria baik atau pada
skala 4 dimana hubungan kekerabatan antar warga desa dalam kegiatan sosial
masih berjalan baik dan cukup sering terjadi. Pola hubungan sosial dilihat dari
kegiatan sosial dan keagamaan, serta kegiatan gotong royong warga. Interaksi
di antara warga di Kecamatan Kokap, Kaligesing, Girimulyo telah
menunjukkan kerenggangannya akibat perbedaan sikap dalam penerimaan
rencana kegiatan. Hubungan masyarakat yang bisa menerima proyek dengan
pemrakarsa berjalan baik, namun hubungan pemrakarsa dengan masyarakat
yang belum bisa menerima kehadiran proyek tidak berjalan baik. Hal ini
ditunjukan dengan prosentase hasil survei yang menunjukkan 65% masyarakat
setuju dan sisanya tidak setuju dengan adanya proyek ini. Kegiatan sosialisasi
diprediksikan berdampak negatif pada menurunnya pola hubungan sosial antara
masyarakat (yang menerima dan yang menolak rencana kegiatan yang pada
akhirnya akan mengganggu interaksi dan kebersamaan warga) serta hubungan
dengan pemrakarsa. Diperlukan upaya untuk terciptanya kesimbangan baru
dalam sistem lingkungan sosial. Dengan melihat realitas seperti ini maka
kualitas lingkungan dari parameter konflik sosial khususnya pada lokasi di
sekitar lokasi Tambang akan turun menjadi skala 3.
Dari analisa diatas maka :
1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 3 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 3 – 4 = -1
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola hubungan
sosial pada tahap kegiatan persiapan adalah tergolong Kecil dengan nilai
perubahan dampaknya Negatif Satu (-1). Untuk menumbuhkan dampak positif
pada pola hubungan sosial diperlukan fasilitasi dan penyediaan sarana serta
prasarana baru yang menjadi kebutuhan masyarakat guna mewujudkan
terciptanya keseimbangan baru dan menumbuhkan dampak positif dalam sistem
lingkungan sosial. Penentuan sifat penting dampak tertera pada Tabel berikut
ini. Analisis rinci penentuan dampak kegiatan sosialisai terhadap munculnya
konflik sosial.
Tabel. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Sosialisasi terhadap
Munculnya Konflik
Faktor Penentu Dampak Sifat Penting
No Keteranan
Penting Dampak
1 Besarnya jumlah P Jumlah penduduk terkena dampak
penduduk yang akan ada sekitar >30% total masyarakat
terkena dampak rencana
usaha dan/atau kegiatan
2 Luas wilayah penyebaran P Kecamatan Kokap Desa Hargotirto,
dampak Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis,dan pada Kecamatan
Girimulyo di Desa Jatimulyo serta
di Kecamatan Kaligesing yaitu Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
3 Intensitas dampak P Intensitas dampak cukup
mengingat perbedaan sikap yang
mengganggu kebersamaan warga
dan menimbulkan kurang
harmonisnya hubungan sebagian
masyarakat dengan pemrakarsa.
Lamanya dampak P Dampak diprediksikan akan
berlangsung berlangsung pada tahap
kegiatan persiapan hingga
tahap penambangan
4 Banyaknya komponen P Menimbulkan dampak sekunder
lingkungan hidup lain pada pola hubungan masyarakat.
yang terkena dampak
5 Sifat kumulatif dampak P Dapat bersifat kumulatif
karena sebelum kegiaatan
prakonstruksi telah muncul
perbedaan sikap terhadap
rencana kegiatan
6 Berbalik atau tidak TP Dampak dapat dipulihkan
berbaliknya dampak dengan perlakuan
terprogram
7 Kriteria lain sesuai dengan TP Tersedia teknologi terkini
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting


Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, sosialisasi terhadap
perubahan pola hubungan sosial (konflik sosial) masuk kategori dampak
penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan terjadi penurunan,
sehingga dampak tergolong Negatif Penting (NP). Mekanisme aliran dampak
kegiatan sosialisasi terhadap perubahan pola hubungan sosial bersifat
langsung pada komponen lingkungan sosial ekonomi dan budaya dan
selanjutnya dapat menimbulkan dampak pada lingkungan sosial lainnya.

b. Pembebasan Lahan
Kegiatan pembebasan lahan diprediksikan berdampak negatif pada
menurunnya pola hubungan sosial antara masyarakat (yang menerima dan
yang menolak rencana kegiatan yang pada akhirnya akan mengganggu
interaksi dan kebersamaan warga) serta hubungan dengan pemrakarsa.
Potensi munculnya konflik didapatkan dari hasil persentase yang telah di
survei, di mana 30-50% warga meminta ganti rugi diatas NJOP daerah
Kulon Progo. Ketidak sepakatan atas harga tanah akan memicu sengketa
antara masyarakat dengan pihak pemrakarsa, hingga konflik sosial antar
warga. Kegiatan pembebasan lahan telah menimbulkan ketidak-seimbangan
sistem lingkungan sosial yang bersifat negatif, sehingga diperlukan upaya
untuk terciptanya kesimbangan baru dalam sistem lingkungan sosial. Dengan
melihat realitas seperti ini maka kualitas lingkungan dari parameter pola
hubungan sosial khususnya pada lokasi di sekitar Tambang Emas akan turun
menjadi skala 2.
Dari analisa diatas maka :
1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2(Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 4 = -2
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola
hubungan sosial pada tahap prakonstruksi adalah tergolong Kecil dengan
nilai perubahan dampaknya Negatif Satu (-2). Untuk menumbuhkan dampak
positif pada pola hubungan sosial diperlukan mediasi dalam penentuan
kesepakatan harga antara warga dan pihak pemrakarsa, penyediaan fasilitasi
dan penyediaan sarana serta prasarana baru yang menjadi kebutuhan
masyarakat guna mewujudkan terciptanya keseimbangan baru dan
menumbuhkan dampak positif dalam sistem lingkungan sosial. Penentuan
sifat penting dampak tertera pada Tabel berikut ini. Analisis rinci penentuan
dampak kegiatan sosialisai terhadap munculnya konflik sosial.

Tabel. Penentuan Sifat Penting Dampak Pembebasan Lahan terhadap Konflik


Sosial

Faktor Penentu Dampak Sifat Penting


No Keteranan
Penting Dampak
1 Besarnya jumlah P Jumlah penduduk terkena dampak
penduduk yang akan ada >30% total Masyarakat
terkena dampak rencana
usaha dan/atau kegiatan
2 Luas wilayah penyebaran P Kecamatan Kokap Desa Hargotirto,
dampak Desa Kalirejo, dan Desa
Hargowilis,dan pada Kecamatan
Girimulyo di Desa Jatimulyo serta di
Kecamatan Kaligesing yaitu Desa
Jatirejo dan Desa Donoharjo.
3 Intensitas dampak P Intensitas dampak cukup tinggi
mengingat terjadinya konflik akibat
kesepakatan harga, yang menjadi
kebutuhan masyarakat
Lamanya dampak P Dampak diprediksikan akan
berlangsung berlangsung pada tahap
kegiatan persiapan hingga
tahap penambangan
4 Banyaknya komponen P Menimbulkan dampak sekunder
lingkungan hidup lain pada pola hubungan masyarakat.
yang terkena dampak
5 Sifat kumulatif dampak P Dapat bersifat kumulatif
karena sebelum kegiaatan
prakonstruksi telah muncul
perbedaan sikap terhadap
rencana kegiatan
6 Berbalik atau tidak TP Dampak dapat dipulihkan
berbaliknya dampak dengan perlakuan
terprogram
7 Kriteria lain sesuai dengan TP Tersedia teknologi terkini
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi
Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, sosialisasi terhadap


perubahan pola hubungan sosial (konflik sosial) masuk kategori dampak
penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan terjadi penurunan,
sehingga dampak tergolong Negatif Penting (NP). Mekanisme aliran dampak
kegiatan pembebasan lahan terhadap perubahan pola hubungan sosial
bersifat langsung pada komponen lingkungan sosial ekonomi dan budaya
dan selanjutnya dapat menimbulkan dampak pada lingkungan sosial lainnya.
2) Tahap Pasca Konstruksi
a. Pelepasan Tenaga Kerja
Pelepasan tenaga kerja menandakan kegiatan proyek penambangan emas
telah selesai. Secara otomatis memiliki arti bahwa selesai segala kontrak kerja
antara pemrakarsa dengan seluruh tenaga kerja. Hal ini menimbulak keresahan
yang berujung konflik sosial, di mana beberapa masyarakat kehilangan
pekerjaan dam mereka harus mencari pekerjaan lain. Di mana dari 1500 tenaga
kerja 60% di antaranya merupakan tenaga kerja lokal atau masyarakat
sekitar.Sedangkan tanah yang merupakan lahan pertanian mereka pada awalnya
sudah bukan lagi haknya. Beberapa pekerja yang telah memiliki pekerjaan
sampingan tidak merasa khawatir atau dirugikan. Perbedaan persepsi dasi
masyarakat tersebut menimbulkan konflik sosial di antara masyarakat itu
sendiri. Selain itu konflik sosial timbul antara masyarakat dengan pihak
pemrakarsa. Dengan melihat realitas seperti ini maka kualitas lingkungan dari
parameter pola hubungan sosial khususnya pada lokasi di sekitar Tambang
Emas akan turun menjadi skala 3.
Dari analisa diatas maka :
1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 3 (Klp)
4) Besaran dampak = Klp – Klo = 3 – 4 = -1
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola hubungan
sosial pada tahap pasca konstruksi adalah tergolong kecil dengan nilai
perubahan dampaknya Negatif Satu (-1).

Tabel. Penentuan Sifat Penting Dampak Pelepasan Tenaga Kerja terhadap


Konflik Sosial

Faktor Penentu Dampak Sifat Penting


No Keteranan
Penting Dampak
1 Besarnya jumlah P Jumlah penduduk terkena
penduduk yang akan dampak ada >50% dari total
terkena dampak rencana masyarakat yang merupakan
usaha dan/atau kegiatan tenaga kerja operasional
tambang
2 Luas wilayah P Kecamatan Kokap Desa
penyebaran Hargotirto, Desa Kalirejo, dan
dampak Desa Hargowilis,dan pada
Kecamatan Girimulyo di Desa
Jatimulyo serta di Kecamatan
Kaligesing yaitu Desa Jatirejo
dan Desa Donoharjo.
3 Intensitas dampak P Intensitas dampak cukup tinggi
mengingat terjadinya konflik
sosial diantara masyarakat
Lamanya dampak P Dampak diprediksikan akan
berlangsung berlangsung pada tahap
pasca konstruksi hingga
permasalahan teratasi atau
meraka memiliki pekerjaan
penggganti.
4 Banyaknya komponen P Menimbulkan dampak
lingkungan hidup lain sekunder pada pola hubungan
yang terkena dampak masyarakat.
5 Sifat kumulatif dampak P Dapat bersifat kumulatif
karena sebelum kegiaatan
prakonstruksi telah muncul
perbedaan sikap terhadap
rencana kegiatan
6 Berbalik atau tidak TP Dampak dapat dipulihkan
berbaliknya dampak dengan perlakuan
terprogram
7 Kriteria lain sesuai TP Tersedia teknologi terkini
dengan
perkembangan ilmu
pengetahuan dan
teknologi
Sifat Penting Dampak P Penting
Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, sosialisasi terhadap


perubahan pola hubungan sosial (konflik sosial) masuk kategori dampak
penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan terjadi penurunan,
sehingga dampak tergolong Negatif Penting (NP). Mekanisme aliran dampak
kegiatan sosialisasi terhadap perubahan pola hubungan sosial bersifat
langsung pada komponen lingkungan sosial ekonomi dan budaya dan
selanjutnya dapat menimbulkan dampak pada lingkungan sosial lainnya.

C. Kesempatan Kerja
1) Tahap Pembangunan Sarana dan Prasarana
a. Tahap Penerimaan Tenaga Kerja Pra Penambangan
Penerimaan tenaga kerja akan memberikan dampak positif terhadap
pendapatan masyarakat di lokasi pertambangan. Masyarakat akan diikutsertakan
dalam pelaksanaan kegiatan penambangan sehingga dapat mengurangi jumlah
pengangguran ataupun pengalihan pekerjaan masyarakat misalnya dari petani
menjadi penambang.

Tabel xx Skala Penerimaan Tenaga Kerja Masyarakat Sekitar Proyek


Penambagan

Kriteria Skala
<20% Sangat buruk 1
21 - 40% Buruk 2
41 - 60% Sedang 3
61 - 80% Baik 4
>81% Sangat Baik 5
Adanya kegiatan pertambangan ini juga dapat membuka peluang usaha seperti
pemasok bahan pokok makanan. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap
peningkatan pendapatan.

Dari analisa diatas maka :


1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 5 (Klp)
Besaran dampak = Klp – Klo = 5 – 4 = 1
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola hubungan
sosial pada tahap konstruksi adalah tergolong kecil dengan nilai perubahan
dampaknya Positif Satu (1).

Rona awal kualitas lingkungan pada aspek kesempatan kerja masuk dalam
kategori sedang atau skala 4. Dengan demikian besaran dampak terhadap
meningkatnya kesempatan kerja pada kegiatan persiapan tergolong besar, dengan
nilai besaran dampak adalah Positif satu (+1). Besaran dampak positif 1 menaikan
skala kualitas lingkungan dari parameter kesempatan kerja menjadi skala 5 yang
artinya masyarakat diuntungkan dengan adanya penerimaan tenaga kerja ini.

Persentase jumlah penduduk yang terkena dampak=(Jumlah kebutuhan tenaga


kerja : Jumlah pengangguran berpotensi kerja) x 100% = (500:3938) x 100 % =
12,7%
Penentuan sifat penting dampak tertera pada tabel 3.xx. berikut ini.

Tabel 3.xx. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Penerimaan Tenaga


Kerja Pra Penambangan terhadap Kesempatan Kerja

Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
1. Besarnya jumlah penduduk P _ Jumlah penduduk terkena dampak ada sekitar
yang akan terkena dampak 3938jiwa dari total 3 Kecamatan.
rencana usaha dan/atau kegiatan

2. Luas wilayah penyebaran P _ Dampak terjadi di Desa Hargotirto, Desa


dampak Kalirejo, Desa Hargowilis, Desa Jatimulyo,
Desa Donoharjo, dan Desa Jatirejo.

3. Intensitas dampak P _ Intensitas dampak cukup tinggi mengingat


meningkatnya taraf hidup masyarakat

Lamanya dampak berlangsung P _ Dampak diprediksikan akan berlangsung


selama tahap kegiatan persiapan dan sampai
berlanjut hingga tahap penambangan
4. Banyaknya komponen P _ Menimbulkan dampak sekunder pada pola
lingkungan hidup lain yang hubungan masyarakat.
terkena dampak

5. Sifat kumulatif dampak P _ Dapat bersifat kumulatif karena dan


kemungkinan berlanjut pada tahap
penambangan
6 Berbalik atau tidak berbaliknya _ TP Dengan pengelolaan tertentu dampak dapat
dampak dipulihkan

7. Kriteria lain sesuai dengan _ TP Tersedia teknologi terkini


perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting


Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan penerimaan tenaga
kerja pra konstruksi Tambang Emas terhadap kesempatan kerja masuk kategori
dampak penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan terjadi
peningkatan, sehingga dampak tergolong Positif Penting (PP).

Mekanisme aliran dampak kegiatan penerimaan tenaga kerja pra konstruksi


Tambang Emas terhadap kesempatan kerja bersifat langsung pada komponen
lingkungan sosial ekonomi dan budaya dan selanjutnya dapat menimbulkan
dampak pada lingkungan sosial lainnya.

2) Tahap Penambangan
a. Tahap Rekrutment Tenaga Kerja Operasional Tambang
Penerimaan tenaga kerja akan memberikan dampak positif terhadap
pendapatan masyarakat di lokasi pertambangan. Masyarakat akan diikutsertakan
dalam pelaksanaan kegiatan penambangan sehingga dapat mengurangi jumlah
pengangguran ataupun pengalihan pekerjaan masyarakat misalnya dari petani
menjadi penambang.

Tabel xx Skala Penerimaan Tenaga Kerja Masyarakat Sekitar Proyek


Penambangan

Kriteria Skala
<20% Sangat buruk 1
21 - 40% Buruk 2
41 - 60% Sedang 3
61 - 80% Baik 4
>81% Sangat Baik 5

Adanya kegiatan pertambangan ini juga dapat membuka peluang usaha


seperti pemasok bahan pokok makanan. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap
peningkatan pendapatan.
Dari analisa diatas maka :
1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 5 (Klp)
Besaran dampak = Klp – Klo = 5 – 4 = 1
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola hubungan
sosial pada tahap penambangan adalah tergolong kecil dengan nilai perubahan
dampaknya Positif Satu (1).
Rona awal kualitas lingkungan pada aspek kesempatan kerja masuk dalam
kategori sedang atau skala 4. Dengan demikian besaran dampak terhadap
meningkatnya kesempatan kerja pada kegiatan persiapan tergolong besar, dengan
nilai besaran dampak adalah Positif satu (+1). Besaran dampak positif 1
menaikan skala kualitas lingkungan dari parameter kesempatan kerja menjadi
skala 5 yang artinya masyarakat diuntungkan dengan adanya penerimaan tenaga
kerja ini.

Persentase jumlah penduduk yang terkena dampak=(Jumlah kebutuhan tenaga


kerja : Jumlah pengangguran berpotensi kerja) x 100% = (1500:3938) x 100 % =
38%

Penentuan sifat penting dampak tertera pada tabel 3.xx. berikut ini.

Tabel 3.xx. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Penerimaan Tenaga


Kerja Operasional Tambang terhadap Kesempatan Kerja

Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
1. Besarnya jumlah penduduk P _ Jumlah penduduk terkena dampak ada sekitar
yang akan terkena dampak 3938jiwa dari total 3 Kecamatan.
rencana usaha dan/atau kegiatan

2. Luas wilayah penyebaran P _ Dampak terjadi di Desa Hargotirto, Desa


Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
dampak Kalirejo, Desa Hargowilis,, Desa Jatimulyo,
Desa Donoharjo, dan Desa Jatirejo.

3. Intensitas dampak P _ Intensitas dampak cukup tinggi mengingat


meningkatnya taraf hidup masyarakat

Lamanya dampak berlangsung P _ Dampak diprediksikan akan berlangsung


selama tahap kegiatan persiapan dan sampai
berlanjut hingga tahap penambangan
4. Banyaknya komponen P _ Menimbulkan dampak sekunder pada pola
lingkungan hidup lain yang hubungan masyarakat.
terkena dampak

5. Sifat kumulatif dampak P _ Dapat bersifat kumulatif karena dan


kemungkinan berlanjut pada tahap
penambangan
6 Berbalik atau tidak berbaliknya _ TP Dengan pengelolaan tertentu dampak dapat
dampak dipulihkan

7. Kriteria lain sesuai dengan _ TP Tersedia teknologi terkini


perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan penerimaan tenaga


kerja operasional Tambang Emas terhadap kesempatan kerja masuk kategori
dampak penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan terjadi
peningkatan, sehingga dampak tergolong Positif Penting (PP).
Mekanisme aliran dampak kegiatan penerimaan tenaga kerja operasional
Tambang Emas terhadap kesempatan kerja bersifat langsung pada komponen
lingkungan sosial ekonomi dan budaya dan selanjutnya dapat menimbulkan
dampak pada lingkungan sosial lainnya.
3) Tahap Pasca Tambang
a. Tahap Pelepasan Tenaga Kerja
Pelepasan tenaga kerja pada tahap pasca tambang dapat menimbulkan
penurunan kesempatan kerja. Rona awal kualitas lingkungan pada aspek
kesempatan kerja masuk dalam kategori baik atau skala 4.

Tabel xx Skala Pelepasan Tenaga Kerja


Kriteria Skala
>81% Sangat buruk 1
61 - 80% Buruk 2
41 - 60% Sedang 3
21 - 40% Baik 4
<20% Sangat Baik 5

Dari analisa diatas maka :


1) Kualitas lingkungan awal = skala 4
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 4 = -2
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola hubungan
sosial pada tahap pascatambang adalah tergolong kecil dengan nilai perubahan
dampaknya NegatifDua (-2).
Dengan demikian besaran dampak terhadap penurunan kesempatan kerja
tergolong besar, dengan nilai besaran dampak adalah Negatif dua (-2). Besaran
dampak negatif 2 menurunkan skala kualitas lingkungan dari parameter
Kesempatan kerja menjadi skala 3 yang artinya masyarakat dirugikan dengan
adanya pelepasan tenaga kerja ini. Penentuan sifat penting dampak tertera pada
tabel 3.x. berikut ini.
Tabel 3.x.x. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pelepasan Tenaga Kerja
terhadap Kesempatan Kerja

Kriteria Keterangan
No Faktor Evaluasi
P TP
1. Besarnya jumlah penduduk P _ Jumlah penduduk terkena dampak ada
yang akan terkena dampak sekitar 3938jiwa dari total 3 Kecamatan.
rencana usaha dan/atau
kegiatan

2. Luas wilayah penyebaran P _ Dampak terjadi di Desa Hargotirto, Desa


dampak Kalirejo, Desa Hargowilis, Desa Jatimulyo,
Desa Donoharjo, dan Desa Jatirejo.

3. Intensitas dampak P _ Intensitas dampak cukup tinggi mengingat


tingginya pengaruh pelepasan tenaga kerja
terhadap penurunan taraf hidup masyarakat

Lamanya dampak berlangsung P _ Dampak diprediksikan akan berlangsung


selama tahap kegiatan persiapan dan sampai
berlanjut hingga tahap penambangan
4. Banyaknya komponen P _ Menimbulkan dampak sekunder pada pola
lingkungan hidup lain yang hubungan masyarakat.
terkena dampak

5. Sifat kumulatif dampak P _ Dapat bersifat kumulatif karena dan


kemungkinan berlanjut pada tahap
penambangan
6 Berbalik atau tidak _ TP Dengan pengelolaan tertentu dampak dapat
berbaliknya dampak dipulihkan

7. Kriteria lain sesuai dengan _ TP Tersedia teknologi terkini


perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting


Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan pelepasan tenaga kerja
terhadap kesempatan kerja masuk kategori dampak penting. Dari uraian
perubahan skala kualitas lingkungan terjadi penurunan,sehingga dampak
tergolong Negatif Penting (PP).
Mekanisme aliran dampak kegiatan pelepasan tenaga kerja terhadap
kesempatan kerja bersifat langsung pada komponen lingkungan sosial ekonomi
dan budaya dan selanjutnya dapat menimbulkan dampak pada lingkungan sosial
lainnya.
1) Tahap Konstruksi
a. Tahap Penerimaan Tenaga Kerja Pra Penambangan
Penerimaan tenaga kerja akan memberikan dampak positif terhadap
pendapatan masyarakat di lokasi pertambangan. Masyarakat akan diikutsertakan
dalam pelaksanaan kegiatan penambangan sehingga dapat mengurangi jumlah
pengangguran ataupun pengalihan pekerjaan masyarakat misalnya dari petani
menjadi penambang.

Tabel XX
Kriteria Skala
<20% Sangat buruk 1
21 - 40% Buruk 2
41 - 60% Sedang 3
61 - 80% Baik 4
>81% Sangat Baik 5

Adanya kegiatan pertambangan ini juga dapat membuka peluang usaha seperti
pemasok bahan pokok makanan. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap
peningkatan pendapatan.

Dari analisa diatas maka :


1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 5 (Klp)
Besaran dampak = Klp – Klo = 5 – 4 = 1
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola hubungan
sosial pada tahap konstruksi adalah tergolong kecil dengan nilai perubahan
dampaknya Positif Satu (1).
Rona awal kualitas lingkungan pada aspek pendapatan masyarakat masuk
dalam kategori sedang atau skala 3. Dengan demikian besaran dampak terhadap
meningkatnya pendapatan masyarakat pada kegiatan persiapan tergolong besar,
dengan nilai besaran dampak adalah Positif satu (+1). Besaran dampak positif 1
menaikan skala kualitas lingkungan dari parameter pendapatan masyarakat
menjadi skala 5 yang artinya masyarakat diuntungkan dengan adanya
penerimaan tenaga kerja ini. Penentuan sifat penting dampak tertera pada tabel
3.xx. berikut ini.

Tabel 3.xx. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Penerimaan Tenaga


Kerja Pra Penambangan terhadap Pendapatan Masyarakat

Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
1. Besarnya jumlah penduduk P _ Jumlah penduduk terkena dampak ada sekitar
yang akan terkena dampak 48005 jiwa dari total 3 Kecamatan.
rencana usaha dan/atau kegiatan

2. Luas wilayah penyebaran P _ Dampak terjadi di Desa Hargotirto, Desa


dampak Kalirejo, Desa Hargowilis,, Desa Jatimulyo,
Desa Donoharjo, dan Desa Jatirejo.

3. Intensitas dampak P _ Intensitas dampak cukup tinggi mengingat


meningkatnya taraf hidup masyarakat

Lamanya dampak berlangsung P _ Dampak diprediksikan akan berlangsung


selama tahap kegiatan persiapan dan sampai
berlanjut hingga tahap penambangan
4. Banyaknya komponen P _ Menimbulkan dampak sekunder pada pola
lingkungan hidup lain yang hubungan masyarakat.
Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
terkena dampak

5. Sifat kumulatif dampak P _ Dapat bersifat kumulatif karena dan


kemungkinan berlanjut pada tahap
penambangan
6 Berbalik atau tidak berbaliknya _ TP Dengan pengelolaan tertentu dampak dapat
dampak dipulihkan

7. Kriteria lain sesuai dengan _ TP Tersedia teknologi terkini


perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan penerimaan tenaga


kerja pra konstruksi Tambang Emas terhadap pendapatan masyarakat masuk
kategori dampak penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan terjadi
peningkatan, sehingga dampak tergolong Positif Penting (PP).
Mekanisme aliran dampak kegiatan penerimaan tenaga kerja pra konstruksi
Tambang Emas terhadap pendapatan masyarakat bersifat langsung pada
komponen lingkungan sosial ekonomi dan budaya dan selanjutnya dapat
menimbulkan dampak pada lingkungan sosial lainnya.

2) Tahap Penambangan
a. Tahap Rekrutment Tenaga Kerja Operasional Tambang
Penerimaan tenaga kerja akan memberikan dampak positif terhadap
pendapatan masyarakat di lokasi pertambangan. Masyarakat akan diikutsertakan
dalam pelaksanaan kegiatan penambangan sehingga dapat mengurangi jumlah
pengangguran ataupun pengalihan pekerjaan masyarakat misalnya dari petani
menjadi penambang.
Tabel xx

Kriteria Skala
<20% Sangat buruk 1
21 - 40% Buruk 2
41 - 60% Sedang 3
61 - 80% Baik 4
>81% Sangat Baik 5

Adanya kegiatan pertambangan ini juga dapat membuka peluang usaha


seperti pemasok bahan pokok makanan. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap
peningkatan pendapatan.

Dari analisa diatas maka :


1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 5 (Klp)
Besaran dampak = Klp – Klo = 5 – 4 = 1
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola hubungan
sosial pada tahap penambangan adalah tergolong kecil dengan nilai perubahan
dampaknya Positif Satu (1).
Rona awal kualitas lingkungan pada aspek pendapatan masyarakat masuk
dalam kategori sedang atau skala3.Dengan demikian besaran dampak terhadap
meningkatnya pendapatan masyarakat pada kegiatan persiapan tergolong besar,
dengan nilai besaran dampak adalah Positif satu (+1). Besaran dampak positif 1
menaikan skala kualitas lingkungan dari parameter pendapatan masyarakat
menjadi skala 5 yang artinya masyarakat diuntungkan dengan adanya
penerimaan tenaga kerja ini. Penentuan sifat penting dampak tertera pada tabel
3.xx. berikut ini.
Tabel 3.xx. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Penerimaan Tenaga
Kerja Operasional Tambang terhadap Pendapatan Masyarakat

Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
1. Besarnya jumlah penduduk P _ Jumlah penduduk terkena dampak ada sekitar
yang akan terkena dampak 48005 jiwa dari total 3 Kecamatan.
rencana usaha dan/atau kegiatan

2. Luas wilayah penyebaran P _ Dampak terjadi di Desa Hargotirto, Desa


dampak Kalirejo, Desa Hargowilis,, Desa Jatimulyo,
Desa Donoharjo, dan Desa Jatirejo.

3. Intensitas dampak P _ Intensitas dampak cukup tinggi mengingat


meningkatnya taraf hidup masyarakat

Lamanya dampak berlangsung P _ Dampak diprediksikan akan berlangsung


selama tahap kegiatan persiapan dan sampai
berlanjut hingga tahap penambangan
4. Banyaknya komponen P _ Menimbulkan dampak sekunder pada pola
lingkungan hidup lain yang hubungan masyarakat.
terkena dampak

5. Sifat kumulatif dampak P _ Dapat bersifat kumulatif karena dan


kemungkinan berlanjut pada tahap
penambangan
6 Berbalik atau tidak berbaliknya _ TP Dengan pengelolaan tertentu dampak dapat
dampak dipulihkan

7. Kriteria lain sesuai dengan _ TP Tersedia teknologi terkini


perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan penerimaan tenaga


kerja operasional Tambang Emas terhadap pendapatan masyarakat masuk
kategori dampak penting. Dari uraian perubahan skala kualitas lingkungan terjadi
peningkatan, sehingga dampak tergolong Positif Penting (PP).
Mekanisme aliran dampak kegiatan penerimaan tenaga kerja operasional
Tambang Emas terhadap pendapatan masyarakat bersifat langsung pada
komponen lingkungan sosial ekonomi dan budaya dan selanjutnya dapat
menimbulkan dampak pada lingkungan sosial lainnya.

3) Tahap Pasca Tambang


a. Tahap Pelepasan Tenaga Kerja
Pelepasan tenaga kerja pada tahap pasca tambang dapat menimbulkan
penurunan pendapatan masyarakat. Rona awal kualitas lingkungan pada aspek
pendapatan masyarakat masuk dalam kategori baik atau skala 3.

Tabel xx
Kriteria Skala
>81% Sangat buruk 1
61 - 80% Buruk 2
41 - 60% Sedang 3
21 - 40% Baik 4
<20% Sangat Baik 5

Dari analisa diatas maka :


1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 1 (Klp)
Besaran dampak = Klp – Klo = 1 – 4 = -3
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola hubungan
sosial pada tahap pascatambang adalah tergolong kecil dengan nilai perubahan
dampaknya NegatifTiga (-3).
Dengan demikian besaran dampak terhadap penurunan pendapatan
masyarakat tergolong besar, dengan nilai besaran dampak adalah Negatif dua (-
3). Besaran dampak negatif 3 menurunkan skala kualitas lingkungan dari
parameter pendapatan masyarakat menjadi skala 1 yang artinya masyarakat
dirugikan dengan adanya pelepasan tenaga kerja ini.Penentuan sifat penting
dampak tertera pada tabel 3.x. berikut ini.

Tabel 3.x.x. Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pelepasan Tenaga Kerja
terhadap pendapatan masyarakat

Kriteria
No Faktor Evaluasi
P TP Keterangan

1. Besarnya jumlah penduduk P _ Jumlah penduduk terkena dampak ada


yang akan terkena dampak sekitar 48005 jiwa dari total 3 Kecamatan.
rencana usaha dan/atau
kegiatan

2. Luas wilayah penyebaran P _ Dampak terjadi di Desa Hargotirto, Desa


dampak Kalirejo, Desa Hargowilis, Desa Jatimulyo,
Desa Donoharjo, dan Desa Jatirejo.

3. Intensitas dampak P _ Intensitas dampak cukup tinggi mengingat


tingginya pengaruh pelepasan tenaga kerja
terhadap penurunan taraf hidup masyarakat

Lamanya dampak berlangsung P _ Dampak diprediksikan akan berlangsung


selama tahap kegiatan persiapan dan sampai
berlanjut hingga tahap penambangan
4. Banyaknya komponen P _ Menimbulkan dampak sekunder pada pola
lingkungan hidup lain yang hubungan masyarakat.
terkena dampak

5. Sifat kumulatif dampak P _ Dapat bersifat kumulatif karena dan


kemungkinan berlanjut pada tahap
penambangan
6 Berbalik atau tidak _ TP Dengan pengelolaan tertentu dampak dapat
berbaliknya dampak dipulihkan
7. Kriteria lain sesuai dengan _ TP Tersedia teknologi terkini
perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan pelepasan tenaga kerja
terhadap pendapatan masyarakat masuk kategori dampak penting. Dari uraian
perubahan skala kualitas lingkungan terjadi penurunan, sehingga dampak
tergolong Negatif Penting (PP).
Mekanisme aliran dampak kegiatan pelepasan tenaga kerja terhadap
pendapatan masyarakat bersifat langsung pada komponen lingkungan sosial
ekonomi dan budaya dan selanjutnya dapat menimbulkan dampak pada
lingkungan sosial lainnya.
3.4 KOMPONEN KESEHATAN MASYARAKAT
A. Bioakumulasi Logam Berat
1) Tahap Penambangan Emas
a. Pengolahan Emas

Bioakumulasi logam berat dapat diprediksikan dengan skema rantai


makanan dan skema bioakumulasi, skema tersebut dapat digambarkan
sbb :

Sungai 0,014 mg/L

Udang 0,4 mg/L Udang 0,4 mg/L Udang 0,4 mg/L Udang 0,4 mg/L

Ikan 4,0 mg/L Ikan 4,0 mg/L

Manusia 98,8 mg/L

Gb. 3.1. Skema Bioakumulasi Logam Berat

Penentuan sifat penting dampak tertera pada Tabel berikut ini. Analisis rinci
penentuan dampak kegiatan processing plant.
Tabel XX Penentuan Sifat Penting Dampak Bioakumulasi Logam Berat

Sifat penting
No Faktor penentu dampak penting
dampak Keterangan

1. Besarnya jumlah penduduk yang P Jumlah manusia terkena dampak yaitu


akan terkena dampak rencana penduduk yang tinggal di dekat
usaha dan/atau kegiatan perairan/lahan yang terkena dampak
2. Luas wilayah penyebaran dampak P Luas wilayah penyebaran dampak lebih
besar dibandingkan dengan luas wilayah
rencana kegiatan
3. Intensitas dampak P Intensitas dampak cukup besar

Lamanya dampak berlangsung P Dampak diprediksikan akan berlangsung


selama tahap kegiatan persiapan dan
sampai berlanjut hingga tahap
penambangan
4. Banyaknya komponen lingkungan P Berdampak pada komponen kesehatan
hidup lain yang terkena dampak masyarakat dan biota makhluk di perairan

5. Sifat kumulatif dampak P Bersifat kumulatif

6 Berbalik atau tidak berbaliknya TP Berbalik


dampak

7. Kriteria lain sesuai dengan TP Dampak penting negatif yang


perkembangan ilmu pengetahuan ditimbulkan dapat ditanggulangi oleh
dan teknologi teknologi yang tersedia

Sifat Penting Dampak P Penting

Keterangan : P = Penting, TP = Tidak Penting


B. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Untuk komponen K3 dibuat analisis resiko berdasarkan DPH yang ditentukan
dengan kriteria resiko ada pada tabel 3.x., kriteria peluang ada pada tabel 3.x dan
tabel penentuan ada pada tabel 3.x.

Tabel XX Kriteria Resiko


Level-1 (Sangat Tidak ada cedera, kerugian biaya rendah,
Ringan) kerusakan peralatan ringan.
Cedera ringan (hanya membutuhkan
Level-2 (Ringan)
P3K), peralatan rusak ringan.
Menyebabkan cidera yang memerlukan
Level-3 (Sedang) perawatan medis ke rumah sakit,
peralatan rusak sedang.
Menyebabkan cidera yang menyebabkan
Level-4 (Berat) cacatnya angota tubuh permanen,
peralatan rusak berat.
Menyebabkan kematian 1 orang atau
Level-5 (Fatal) lebih, kerusakan berat pada mesin
sehingga mengganggu proses produksi.

Tabel XX. Kriteria Peluang


Level-A (Sangat Jarang) Hampir tidak pernah terjadi
Level-B (Jarang) Frekuensi kejadian jarang terjadi waktu tahunan
Level-C (Mungkin terjadi) Frekuensi kejadian sedang dalam waktu bulanan
Level-D (Sering) Hampir 100 % terjadi kejadian tersebut.
Level-E (Pasti terjadi) 100 % kejadian pasti terjadi.
Tabel XX.Tabel Identifikasi K3 Kegiatan Penambangan

No Tahapan Bahaya Resiko Peluang Ket.


1 Pembangunan Sarana & Prasarana Tertimpa Material 5 A high
Terkena Alat 4 A high
Jatuh dari ketinggian 3 B medium
2 Mobilisasi Alat Berat Tertabrak Kendaraan 3 C medium
Kejepit alat berat 3 B medium
Ketumpahan Oli 2 C low
Polusi udara 2 D low
Kecelakaan
3 C medium
berkendaraan
Terkena Alat
Pembersihan Lahan 4 A high
3 Pemotong
Tertimpa pohon 4 A high
Tergelincir alat berat 4 A high
Tertimbun tanah 4 B high
4 Pembersihan Tanah Pucuk kecelakaan alat berat 3 C medium
Tertimbun tanah 4 C medium
Terseret alat berat 3 C medium
very
Penambangan Terkena ledakan 5 A
5 hgh
tertimbun galian 3 C medium
Terkena sebaran debu 4 A high
6 Pengangkutan Jatuh Dari Truk 3 D medium
7 Pengolahan Emas terpapar bahan kimia 5 A high
tersengat listrik 4 B hgh
terkontaminasi LB3 4 B high
8 Reklamasi tertabrak alat berat 3 C medium
Tergelincir alat berat 3 A medium
tertimbun tanah
4 B high
longsor
9 Demobilisasi Alat tertabrak alat berat 3 B medium
kejepit alat berat 3 A medium
ketumpahan oli 2 C low
very
polusi udara 1 D
low
Rata-rata Nilai 3,26
Keterangan :

VH : very high/ekstrim : Stop, perbaiki saat itu juga


H : high / tinggi : Perlu perbaikan dalam 24 jam
M : medium : Perlu perbaikan dalam 3 hari
L : low / rendah : Perlu perbaikan dalam 7 hari
VL : very low / dapat diabaikan : Tidak perlu tindakan khusus

Tabel XX.Penentuan Sifat Penting Dampak Komponen K3 terhadap Kegiatan Pembangunan


Sarana dan Prasarana

No Faktor penentu dampak penting Sifat penting Keterangan


dampak

1. Besarnya jumlah penduduk yang P Pekerja yang berada di area penambangan


akan terkena dampak rencana dengan 70% terkena dampak
usaha dan/atau kegiatan

2. Luas wilayah penyebaran dampak P Dampak terjadi di seluruh area penambangan


dan dapat mempengaruhi wilayah komponen
lainnya

3. Intensitas dampak TP Intensitas dampak jarang karena kegiatan


operasional pembangunan sarana dan
prasarana berlansung sementara.
Lamanya dampak berlangsung P Dampak diprediksikan akan berlangsung
selama kegiatan operasional.
4. Banyaknya komponen lingkungan TP Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja
hidup lain yang terkena dampak yang diterapkan hanya kepada karyawan

5. Sifat kumulatif dampak P Dampak bersifat kumulatif.


6 Berbalik atau tidak berbaliknya TP Tidak ada pengaruh K3 terhadap berbalik
dampak atau tidak berbaliknya dampak.

7. Kriteria lain sesuai dengan _ Tidak ada kriteria lain sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan perkembangan ilmu pengetahuan dan
dan teknologi teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting

Tabel 3.26.Penentuan Sifat Penting Dampak Komponen K3 terhadap Penambangan

No Faktor penentu dampak penting Sifat penting Keterangan


dampak

1. Besarnya jumlah penduduk yang P Pekerja yang berada di area penambangan


akan terkena dampak rencana 70% terkena dampak.
usaha dan/atau kegiatan

2. Luas wilayah penyebaran dampak P Dampak terjadi diwilayah penambangan dan


menyebar.

3. Intensitas dampak P Intensitas dampak sering karena kegiatan


berlangsung tiap hari.
Lamanya dampak berlangsung P Dampak diprediksikan akan berlangsung
selama kegiatan penambangan berlangsung.
4. Banyaknya komponen lingkungan P Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja
hidup lain yang terkena dampak yang diterapkan hanya kepada karyawan.

5. Sifat kumulatif dampak P Satu dampak akan mempengaruhi komponen


lain dan bersifat akumulatif.
6 Berbalik atau tidak berbaliknya TP Tidak ada pengaruh K3 terhadap berbalik
dampak atau tidak berbaliknya dampak.

7. Kriteria lain sesuai dengan _ Tidak ada kriteria lain sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan perkembangan ilmu pengetahuan dan
dan teknologi teknologi
Sifat Penting Dampak P Penting

Tabel 3.27.Penentuan Sifat Penting Dampak Komponen K3 terhadap Pengolahan Emas

No Faktor penentu dampak penting Sifat penting Keterangan


dampak

1. Besarnya jumlah penduduk yang P Pemukiman penduduk yang dekat dengan


akan terkena dampak rencana area penambangan dan area proses
usaha dan/atau kegiatan pengolahan emas.

2. Luas wilayah penyebaran dampak TP Dampak hanya terjadi di area penambangan.

3. Intensitas dampak P Intensitas dampak sering karena kegiatan ini


berlangsung setiap hari.
Lamanya dampak berlangsung P Dampak diprediksikan akan berlangsung
selama kegiatan operasional.
4. Banyaknya komponen lingkungan TP Sistem Kesehatan dan Keselamatan Kerja
hidup lain yang terkena dampak yang diterapkan hanya kepada karyawan

5. Sifat kumulatif dampak P Dampak bersifat kumulatif.

6 Berbalik atau tidak berbaliknya TP Tidak ada pengaruh K3 terhadap berbalik


dampak atau tidak berbaliknya dampak.

7. Kriteria lain sesuai dengan _ Tidak ada kriteria lain sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan perkembangan ilmu pengetahuan dan
dan teknologi teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting


D. Pendapatan Masyarakat
4) Tahap Pra Konstruksi
a. Tahap Pembebasan Lahan
Pembebasan lahan dapat menimbulkan penurunan pendapatan
masyarakat. Rona awal kualitas lingkungan pada aspek pendapatan
masyarakat masuk dalam kategori sedang atau skala 3.

Tabel xx Skala Pendapatan Masyarakat


Kriteria Skala
>81% Sangat buruk 1
61 - 80% Buruk 2
41 - 60% Sedang 3
21 - 40% Baik 4
<20% Sangat Baik 5
Dari analisa diatas maka :
1) Kualitas lingkungan awal = skala 3
2) Kualitas lingkungan yang akan datang tanpa proyek = skala 4 (Klo)
3) Kualitas lingkungan yang akan datang dengan proyek = skala 2 (Klp)
Besaran dampak = Klp – Klo = 2 – 4 = -2
Dengan demikian besaran dampak terhadap menurunnya pola hubungan
sosial pada tahap pra konstruksi adalah tergolong kecil dengan nilai perubahan
dampaknya NegatifDua (-2).

Dengan demikian besaran dampak terhadap penurunan pendapatan


masyarakat tergolong besar, dengan nilai besaran dampak adalah Negatif dua (-
2). Besaran dampak negatif 2 menurunkan skala kualitas lingkungan dari
parameter pendapatan masyarakat menjadi skala 2 yang artinya masyarakat
dirugikan dengan adanya pembebasan lahan ini. Penentuan sifat penting dampak
tertera pada tabel 3.x. berikut ini.
Tabel xx Penentuan Sifat Penting Dampak Kegiatan Pembebasan
Lahan terhadap Pendapatan Masyarakat

Kriteria
No Faktor Evaluasi Keterangan
P TP
1. Besarnya jumlah penduduk P _ Jumlah penduduk terkena dampak ada sekitar
yang akan terkena dampak 48005 jiwa dari total 3 Kecamatan.
rencana usaha dan/atau kegiatan

2. Luas wilayah penyebaran P _ Dampak terjadi di Desa Hargotirto, Desa


dampak Kalirejo, Desa Hargowilis,, Desa Jatimulyo,
Desa Donoharjo, dan Desa Jatirejo.

3. Intensitas dampak P _ Intensitas dampak cukup tinggi mengingat


meningkatnya taraf hidup masyarakat

Lamanya dampak berlangsung P _ Dampak diprediksikan akan berlangsung


selama tahap kegiatan persiapan dan sampai
berlanjut hingga tahap penambangan
4. Banyaknya komponen P _ Menimbulkan dampak sekunder pada pola
lingkungan hidup lain yang hubungan masyarakat.
terkena dampak

5. Sifat kumulatif dampak P _ Dapat bersifat kumulatif karena dan


kemungkinan berlanjut pada tahap
penambangan
6 Berbalik atau tidak berbaliknya P _ Dengan pengelolaan tertentu dampak dapat
dampak dipulihkan

7. Kriteria lain sesuai dengan _ TP Tersedia teknologi terkini


perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi

Sifat Penting Dampak P Penting

Ditinjau dari 7 kriteria sifat penting dampak, kegiatan pembebasan lahan


terhadap pendapatan masyarakat masuk kategori dampak penting. Dari uraian
perubahan skala kualitas lingkungan terjadi peningkatan, sehingga dampak
tergolong Positif Penting (PP).
Mekanisme aliran dampak kegiatan penerimaan tenaga kerja pra konstruksi
Tambang Emas terhadap pendapatan masyarakat bersifat langsung pada
komponen lingkungan sosial ekonomi dan budaya dan selanjutnya dapat
menimbulkan dampak pada lingkungan sosial lainnya.
BAB IV
EVALUASI SECARA HOLISTIK TERHADAP DAMPAK LINGKUNGAN

4.1. TELAAHAN SECARA KESELURUHAN DAN KETERKAITAN


Setelahdilakukananalisisdampakholistikmengenaiproyekpenambanganemas di
KecamatanKokap,DesaKalirejodanfasilitaspenunjanganyamakadiperolehinformasi
yang diantaranya :
1) Hubunganketerkaitanantaratahapanproyekdanprakiraandampak yang
ditimbulkansertakarakteristiknyasepertiluasandampak,
durasidanintensitasdampak.
2) Analisiskomponen-komponen yang paling
besarmemberikandampaklingkungan.
3) Area yang mengalamipaparandampak paling
besarsehinggaperludiberikanperhatianpenting.
Dari
hasilanalisistersebutkemudiandapatdilakukananalisisperihalpilihanopsipengelolaanda
mpaklingkungan yang dianggapdapatdilakukanolehpemrakarsa.
Pilihanopsitersebutditinjaudari :
a. Ketersediaanopsipengelolaanterbaik (best available technology).
b. Kemampuanmelakukanopsipengelolaanterbaik (best achievable technology).
c. Relevansiopsipengelolaan yang tersediadengankarakteristiklingkunganlokal.

Hasilanalisisterkaitopsipengelolaandampaklingkungankemudiandijadikandasa
rdalampenyusunandokumen RKL-RPL.
Dokumentersebutmerupakanarahanpengelolaandanpemantauanlingkunganhid
upsaatpelaksanaanproyekhinggaproyektersebutselesaidilaksanakan.

4.1.1. EvaluasiSecaraHolistikMetode Diagram Alir


4.1.2. EvaluasiSecaraHolistikMetodeYahya Husain

4.2. ARAHAN PENGELOLAAN DAMPAK LINGKUNGAN


4.3. KESIMPULAN KELAYAKAN LINGKUNGAN