Anda di halaman 1dari 26

TUGAS KELOMPOK LISTRIK MAGNET

ARUS LISTRIK DAN GAYA LORENTZ

OLEH KELOMPOK 3

1. ANITA KINTAN PRATIWI (E1Q016005)


2. BQ. MIA REXA LIANI (E1Q016011)
3. HAERUNNISA (E1Q016018)
4. HASUNA WARDATUN (E1Q016019)
5. ITA LAILA (E1Q016027)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENGETAHUAN
UNIVERSITAS MATARAM
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas anugerah-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah terkait dengan materi Arus Listrik dan Gaya
Lorentz dan kami ucapkan terima kasih kepada pihak yang telah berkontribusi khususnya Dosen
mata kuliah Listrik Magnet Pak Drs. Sutrio, M.Si. yang telah membimbing dalam menyelesaikan
makalah ini.

Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini selain untuk menyelesaikan
tugas yang diberikan oleh Dosen pengampu, juga untuk lebih memperluas pengetahuan para
mahasiswa khususnya bagi kelompok kami.

Kami telah berusaha untuk dapat menyusun makalah ini dengan baik, namun kami
menyadari bahwa akan adanya keterbatasan yang dimiliki manusia. Oleh karena itu, jika didapat
adanya kesalahan-kesalahan baik dari segi teknik penulisan, maupun isi, maka kamin mohon
maaf, kritik serta saran dari Dosen pengampu bahkan semua pembaca sangat diharapkan oleh
kelompok kami untuk dapat menyempurnakan makalah ini terlebih dahulu dalam pengetahuan
kita bersama.

Mataram, 29 November 2018

Penyusun

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pada materi sebelumnya sudah dibahas tentang materi elektrostatika yang dimana
elektrostatika membahas tentang interaksi pada muatan listrik dengan anggapan muatan
sumber dalam keadaan diam. Keudian ada juga interaksi muatan listrik dengan anggapan
muatannya begerak. Berbeda dengan muatan diam yang hanya menghasilkan medan
listrik (E) di sekitarnya, pada muatan yang bergerak selain menghasilkan medan listrik
(E) juga menghasilkan medan magnet (B). Dalam makalah ini, penulis membahas tentang
komponen-komponen pada interaksi muatan listrik dengan anggapan muatan yang
bergerak sampai ke aplikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun pokok bahasan yang akan dijabarkan pada makalah ini adalah sebagai
berikut:
Arus listrik
a. Rapat arus permukaan
b. Rapat arus volume
c. Hukum kekekalan listrik
Gaya Lorentz
a. Gaya magnetic pada gerak Cyclotron
b. Gaya magnetic pada gerak Cycloid
c. Gaya magnetic yang dialami oleh kawat berarus
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan yang dimaksud dengan arus listrik!
2. Jelaskan rapat arus permukaan, rapat arus volume serta hukum kekekalan listrik!
3. Jelaskan yang dimaksud dengan gaya lorentz!
4. Bagaimanakah gaya magnetik pada gerak Cyclotron, Cycloid, dan kawat berarus?
C. Tujuan
1. Mengetahui konsep tentang arus listrik.
2. Mengetahui rapat arus permukaan, rapat arus volume serta hukum kekekalan listrik.
3. Mengetahui konsep tentang gaya lorentz.
4. Mengetahui gaya magnetik pada gerak Cyclotron, Cycloid, dan kawat berarus.

1
BAB II
URAIAN MATERI

A. ARUS LISTRIK

Secara kualitatif arus listrik merupakan muatan yang bergerak. Sedangkan


secara kuantitatif, arus listrik didefinisikan sebagai muatan persatuan waktu yang
melewati sebuah titik. Arus listrik diukur dengan satuan coloumb per sekon (C/s)
atau (A);

bila muatan berdistribusi garis 𝜆 mengalir di dalam sehelai kawat dengan kelajuan 𝑣
( gambar 1.1), maka arus listrik yang mengalir di dalam kawat tersebut adalah

𝐼 = 𝜆𝑣

Atau juga dapat dinyatakan dalam vektor

𝐼 = 𝜆𝑣
𝑑𝑄
Dimana 𝜆 = atau 𝑄 = ∫ 𝜆𝑑𝑙
𝑑𝑙

Gambar 1.1 Kawat berarus.

Dengan demikian gaya magnet yang bekerja pada elemen panjang kawat
berarus (𝑑𝑙) adalah

𝐹𝑚 = 𝑄(𝑣𝐵)

𝐹𝑚 = ∫(𝜆𝑑𝑙)(𝑣 × 𝐵)

𝐹𝑚 = (𝐼 × 𝐵)𝑑𝑙

Karena di dalam kawat I searah dengan 𝑑𝐼, maka gaya magnet dapat ditulis dalam
bentuk

2
𝐹𝑚 = 𝐼(𝑑𝑙 × 𝐵)

Bila arus listriknya konstan di sepanjang kawat, maka arus 𝐼 dapat


dikeluarkan dari integral, sehingga

𝐹𝑚 = 𝐼 ∫(𝑑𝑙 × 𝐵)

⃗⃗ )
1. Rapat Arus Permukaan (𝑲
Pada muatan yang mengalair pada suatu permukaan atau keeping tipis ( gambar 1.2),
aliran itu dapat dinyatakan dengan rapat arus permukaan (K). Misal, sehelai pita
dengan tebal 𝑑𝑙, terletak searah dengan aliran uatan, jika arus listrik di dala pita 𝑑𝑙,
maka rapat arus permukaannya adalah

𝑑𝐼
𝐾=
𝑑𝑎⊥

Gambar 1.2 keping tipis

Jadi, rapat arus permukaan adalah arus persatuan panjang yang tegak lurus aliran.
Jika rapat muatan permukaan yang bergerak adalah 𝜎 dan kecepatannya 𝑣, maka
𝐾 = 𝜎𝑣
Gaya magnetik yang bekerja pada muatan berdistribusi permukaan adalah
𝐹𝑚 = ∫(𝜎𝑑𝑎)(𝑣 × 𝐵)

𝐹𝑚 = ∫(𝐾 × 𝐵)𝑑𝑎
2. Rapat Arus Volume
Jika aliran muatan didistribusikan melalui benda ruang ( berdimensi tiga ), rapat
arusnya disebut rapat volume. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Misal, sebuah
tabung kecil berdiameter 𝑑𝑎⊥ terletak sejajar dengan aliran muatan ( Gambar 1.3 ).
Jika arus listrik di dalam tabung tersebut adalah 𝑑𝐼 rapat arus volumenya adalah

3
𝑑𝐼
𝐽=
𝑑𝑎⊥

Gambar 1.3 Tabung kecil

Jadi, rapat arus volume adalah arus persatuan luas yang tegak lurus aliran. Jika rapat
muatan volume yang bergerak 𝜌 dan kecepatan 𝑣, maka
𝐽 = 𝜌𝑣
Dan gaya magnet pada arus berdistribusi volume adalah

𝐹𝑚 = ∫(𝜌𝑑𝜏)(𝑣 × 𝐵)

𝐹𝑚 = ∫(𝐽 × 𝐵)𝑑𝜏

3. Hukum Kekekalan Listrik

Arus listrik di dalam kawat konduktor adalah pindahnya muatan persatuan


waktu yang melewati titik kawat tertentu. Hal ini disebabkan adanya medan listrik E,
dan arus listrik mengalir searah dengan E (lihat gambar 1.4).

Gambar 1.4 Arus listrik di dalam kawat konduktor.

Secara definisi muatan negative yang bergerak ke kiri, ataupun muatan positif yang
bergerak ke kanan (lihat gambar), sesuai dengan arah E,

4
Kenyataan fisis menunjukkan bahwa setiap gejala yang melibatkan muatan yang
bergerak tampaknya akan bergantung pada perkalian muatan dengan kecepatan. Bila
anda ubah tanda muatan, maka tanda kecepatan akan berubah juga.

𝐼 =𝜆𝑣 =𝑛𝑒𝜆𝑣

Dimana 𝜆 = 𝑛 𝑒 𝜆 C/m, dimana n = jumlah electron/𝑚3 A= luas penampang, dan e


= muatan dasar = 1,6 × 10−19 𝐶.

Jadi, arus I membawa muatan pindah sebesar dalam selang waktu ∆𝑡

𝜆 𝑣 ∆𝑡 = 𝑛 𝑒 𝜆 ∆𝑡

Secara vector dapat ditulis 𝐼 = 𝜆 𝑉

Khusus dalam keadaan seperti pada gambar 1.4 maka perluasannya menjadi

𝐼 = 𝜆+ 𝑣+ + 𝜆− 𝑣− = (𝑛+ 𝑒 + 𝑣+ + 𝑛− 𝑒 − 𝑣− )𝐴

Satuan dari arus listrik I adalah A = ampere = C/s.

Bila dipandang volume sebarang membatasi suatu permukaan S, terjadi bahan


konduktor yang rapat muatannya 𝜌(𝑟, 𝑡), maka muatan listrik di dalam voluma
konduktor adalah

𝑞 = ∫𝑣𝑜𝑙 𝜌𝑑𝜏

Selain itu didefinisikan pula vector rapat arus │J│= (I/A), dimana arus I melewati
luas penampang A, dengan satuan j (A/𝑚2 ), dan arahnya sama dengan I, arus yang
keluar dari permukaan S dapat dirumuskan sebagai fluks rapat arus ditulis dalam
bentuk integral

∮ 𝑗. ⃗⃗⃗⃗⃗ = I
⃗ 𝑑𝐴

Menurut kekekalan muatan listrik :

𝑑𝑞 𝜕𝑝
∮𝑠 𝐽. 𝑑𝐴 = − 𝑑𝑡 = − ∫ 𝜕𝑡 𝑑𝜏

5
Menggunakan persamaan divergensi

∫𝑣𝑜𝑙 ∇. 𝐽𝑑𝜏 = ∮𝑠 𝐽. 𝑑𝐴 , diperoleh hubungan :

𝜕𝑝 𝜕𝑝
∇. 𝐽 = − 𝜕𝑡 atau ∇. 𝐽 + 𝜕𝑡 = 0,

Ini disebut persamaan kontinuitas listrik, ungkapan penting tentang kekekalan listrik.

Dengan persamaan pertama Maxwell ∇. 𝐸 = 𝜌/𝜖0′ , kita dapat menulis :

𝜕𝑝 𝜕 𝜕𝐸
= 𝜖0 𝜕𝑡 (∇. 𝐸) = ∇. [𝜖0 𝜕𝑡 ]
𝜕𝑡

Kembali menggunakan persamaan kontinuitas

𝜕𝐸
∇. 𝐽 + ∇. (𝜖0 𝜕𝑡 ) = 0

𝜕𝐸
∇. {𝐽 + 𝜖0 𝜕𝑡 } = ∇. 𝐽𝑡 = 0

𝜕𝐸
Di sini 𝐽𝑡 disebut vector rapat arus total, dan 𝜖0 𝜕𝑡 disebut vector arus pergeseran =
𝜕𝐷
. Mengenai makna arus pergeseran ini, akan dibahas lebih rinci pada bab IX dalam
𝜕𝑡

pembahasan tentang terbentuknya persamaan Maxwell.

Arus mantap (“steady current”) adalah aliran muatan yang berkesinambungan


terus-menerus, artinya arus tidak pernah bertambah besar, berkurang ataupun
berubah arahnya pada suatu titik.

Anggapan bahwa I konstan sepanjang kawat disebabkan bila tidak demikian halnya,
𝜕𝑝
akan terjadi penumpukan muatan listrik. Di sini lalu berlaku = 0, dan menurut
𝜕𝑡

persamaan kontinuitas berakibat ∇. 𝐽 = 0. Hal ini menjadi syarat terwujudnya arus


mantap.

Untuk menyatakan gerakan muatan, kita dapat membuat pengelompokan


munculnya arus listrik, yaitu disebabkan gerakan muatan titik q (satuan C), arus
listrik sepanjang garis (𝐼 𝑠𝑎𝑡𝑢𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝐴), arus listrik pada luas permukaan (K

6
satuannya A/m), arus listrik pada vulome (J satuannya A/m) terungkap dalam bentuk
rumus berikut ini,

∑𝑛𝑖=1( )𝑞1 𝑣1 − ∫𝑔𝑎𝑟𝑖𝑠( )𝐼𝑑ℓ − ∫𝑝𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 ( )𝐾𝑑𝐴 − ∫𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑎( )𝐽𝑑𝜏

Dimana hasilnya arus sebagai sumber selalu membentuk satuan Am (ampere-meter).

Bentuk di atas analog dengan ungkapan rumus distribusi muatan, yaitu tentang
muatan listrik 𝑞 − 𝜆𝑑ℓ − 𝜎𝑑𝐴 − 𝜌𝑑𝜏 yang semuanya bersatuan 𝐶 = 𝐴𝑠 (smpere-
meter).

B. GAYA LORENTZ

Pada suatu interaksi muatan listrik yang bergerak akan menghasilkan medan
listrik (E) dan medan magnet (B). Apabila sebuah muatan Q yang ditempatkan dalam
sebuah medan listrik akan mengalami sebuah gaya listrik

𝐹𝐸 = 𝑄𝐸

Dan apabila sebuah muatan Q yang bergerak dengan kecepatan v didalam medan
magnet B akan mengalami gaya magnet.

𝐹𝑚 = 𝑄(𝑣 × 𝑩)

Jika di daerah itu selain memiliki medan magnetic B terdapat juga medan listrik E,
maka gaya total yang bekerja pada muatan Q yang sedng bergerak didalam daerah
tersebut adalah penggabungan dari gaya listrik dan gaya magnet:

𝐹𝐿 = 𝑄[𝐸 + (𝑣 × 𝑩)]

Gaya magnet sering disebut juga dengan Gaya Lorenzt merupakan gaya yang
ditimbulkan oleh muatan listrik yang bergerak, atau oleh arus listrik yang berada
dalam suatu medan magnet B. Arah dari gaya Lorentz selalu tegak lurus dengan arah
kuat arus listrik (I) dan induksi magnetic (B) yang ada.

7
1. Gaya magnetic pada gerak cyclotron

Salah satu aplikasi dari gaya lorenzt adalah siklotron. Siklotron merupakan
salah satu jenis akselerator (alat yang dapat meningkatkan kecepatan partikel untuk
menghasilkan energy kinetic yang sangat besar) melingkar dan digunakan untuk
mempercepat partikel bermuatan listrik. Siklotron berbentuk melingkar dengan
menggunakan medan magnetik dalam menjaga agar ion-ion bermuatan (biasanya
proton) bergerak dalam lintasan. Siklotron dikembangkan pada tahun 1930 oleh E. O.
Lawrence (1901-1958), dengan menggunakan sebuah medan magnetik untuk menjaga
agar ion-ion bermuatan seperti : proton,deutron dan partikel-partikel alpa, terdiri dari
dua ruang semisilinder yang ditempatkan dalam medan magnet, bergerak dalam
lintasan melingkar.

Penjelasan tentang cyclotron ini bisa di analogikan dengan, sebuah muatan Q


yang sedang bergerak tegak lurus dengan kecepatan v memasuki ruangan yang
memiliki medan magnet serba sama (B). Bila kecepatan muatan tegak lurus dengan
medan magnet, maka muatan itu akan memiliki gaya magnet (𝐹𝑚 ) dengan menempuh
lintasan melingkar dengan jari-jari R.

Gambar 2.1 Lintasan gerak muatan yang searah


dengan arah medan magnet (B).

Gambar 2.2 Arah gaya muatan Q dengan lintasan muatan

8
tegak lurus dengan medan magnet (B).
Dalam hal ini, terdapat gaya sentripetal dimana gaya sentripetal ini merupakan
gaya yang membuat benda untuk bergerak melingkar. Gaya sentripetal ini berasal dari
gaya Lorentz, sehingga:

𝐹𝑚 = 𝐹𝑠

𝑣2
𝑄(𝑣 × 𝑩) = 𝑚
𝑅

𝑄𝑩R = mv

𝑚𝑣
𝑅=
𝑄𝑩

Bila saat muatan masuk kedalam medan magnet, arah kecepatannya


membentuk sudut 𝜃, dimana 𝜃 < 90° 𝑎𝑡𝑎𝑢 90° > 𝜃 > 180°. Komponen kecepatan
yang tegak lurus medan magnet dipengaruhi gaya magnet (𝐹𝑚 ) yang mengakibatkan
muatan bergerak melingkar dengan jari jari R. Sedangkan komponen kecepatan yang
sejajar medan magnet tidak dipengaruhi gaya Lorentz atau gayanya nol.
Adapun prinsip kerja sesungguhnya dari cyclotron ini adalah misalkan ada ion
bermuatan proton melewati suatu celah yang berada diantara Dua elektroda tembaga
yang berbentuk D (D-shaped object) yang disebut dengan dees yang disebelumnya
diberi tegangan AC, kemudian ruangan seluruhnya di buat vakum (hampa udara).
Setiap kali muatan tersebut melewati celah, maka tegangan akan diberikan kepada
muatan tersebut yang akan memepercepat muatan tersebut. Percepatan ini
meningkatkan kelajuan proton dan jari-jari kelengkungannya, sehingga bergerak
memutar. Setelah beberapa putaran, proton-proton memperoleh energi kinetik tinggi
(dalam orde 10 atau 20 MeV per satuan muatan listrik) dan tiba pada sisi terluar
siklotron. Proton-proton kemudian dapat menumbuk suatu sasaran yang ditempatkan
di dalam siklotron atau meninggalkan siklotron dengan bantuan “magnet pembelok”
dan diarahkan ke suatu sasaran eksternal.
Di Indonesia siklotron terdapat di BATAN atau Badan Tenaga Atom Nasional.
Salah satu penggunaan Siloktron adalah dalam bidang kesehatan yaitu produksi

9
radioisotop, yang dimana radioisotope ini diguanakan sebagai dasar utama
penggunaan PET (Positron Emission Tomography). Penggunaan PET ini diawali
dengan memproduksi radioisotope flour 18. Radioisotope flour 18 diproduksi dari
oksigen 18 dengan menggunakan siklotron. Setelah flour 18 selesai disiapkan,
kemudian disuntikan ke tubuh pasien. Sebaran flour 18 di dalam tubuh akan dideteksi
dengan memasukkan tubuh dalam rangkaian detector elektronik.

Gambar 2.3 Cyclotron

2. Gaya magnetik pada gerak Cycloid

Misalnya sebuah partikel bermuatan diletakkan dalam ruangan bermedan


magnet dan medan listrik serba sama yang arahnya saling tegak lurus. Kemudian
medan magnet B searah sumbu x dan medan listrik E searah sumbu z. Ketika partikel
bermuatan yang mula-mula diam, karena mendapat gaya listrik searah medan listrik,
maka partikel akan bergerak searah sumbu z. Saat partikel mulai bergerak, pada
partikel itu akan bekerja gaya magnet yang arahnya ke kanan tegak lurus arah gerak
partikel, semakin cepat partikel tersebut maka semakin besar gaya magnetnya,
sehingga partikel bergerak melengkung. Pada saat partikel bergerak ke bawah menuju
sumbu y, gaya listrik berlawanan dengan arah gerak itu sehingga akan menghambat
gerak partikel yang menyebabkan partikel kemudian diam. Saat partikel diam (v=0)
gaya magnetnya akan nol, sehingga partikel hanya dipengaruhi oleh gaya listrik yang
menyebabkan partikel mulai bergerak ke atas lagi dan melengkung menuju sumbu y.
Begitu seterusnya sehingga lintasan gerak partikel membentuk lengkungan yang
berulang yang disebut gerak cycloid.

10
Gambar 2.4 Gaya magnetik pada gerak Cycloid

Gaya yang bekerja pada partikel tersebut adalah dalam arah tegak lurus arah
gerak partikel, yaitu gaya magnet, dan dalam arah sumbu z yaitu gaya listrik. Sehingga
posisi partikel pada setiap waktu t dapat dinyatakan sebagai (0,y(t), z(t)), dan
kecepatannya v = (0,𝑦,̇ 𝑧̇ ) dimana 𝑦̇ dan 𝑧̇ adalah turunan y dan z terhadap waktu.

𝑖̂ 𝑗̂ 𝑘̂
v x B = |0 𝑦̇ 𝑧̇ |= (B𝑧̇ ) 𝑗̂ – (B𝑦̇ ) 𝑘̂
𝐵 0 0
Dengan menerapkan hukum Newton pada partikel itu diperoleh

F = ma

Q (E+ v x B) = ma

Q[(E) 𝑘̂ + (B𝑧̇ ) 𝑗̂ – (B𝑦̇ ) 𝑘̂] = m [𝑦̈ 𝑗̂ + 𝑧̈ 𝑘̂]

Dan dengan memisahkan komponen 𝑗̂ dan 𝑘̂ diperoleh

QB𝑧̇ = m𝑦̈ dan QE - QB𝑦̇ = m 𝑧̈ yang masing-masing dapat ditulis dalam


bentuk
𝐸
𝑦̈ = 𝜔𝑧̇ dan 𝑧̇ = 𝜔 (𝐵 − 𝑦̇ )

𝑄𝐵
Dimana 𝜔 = adalah frekuensi cyclotron.
𝑚

Solusi umumnya adalah


𝐸
y(t)= 𝑐1 cos 𝜔𝑡 + 𝑐2 sin 𝜔𝑡+ 𝐵t + 𝑐3

z(t)= 𝑐2 cos 𝜔𝑡 - 𝑐1 sin 𝜔𝑡 + 𝑐4

11
Partikel mula- mula dalam keadaan diam 𝑦̇ (0) dan 𝑧̇ (0) dengan posisi di
pusat koordinat (y(0)= z(0)=0. Dengan menggunakan kondisi tersebut dapat
ditentukan konstanta 𝑐1 , 𝑐2 , 𝑐3 , 𝑑𝑎𝑛 𝑐4
𝐸 𝐸
𝑐1 = 0 , 𝑐2 = − , 𝑐3 = 0 , 𝑑𝑎𝑛 𝑐4 =
𝜔𝐵 𝜔𝐵

𝑠𝑒ℎ𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 solusinya menjadi


𝐸
y(t)= 𝜔𝐵 (𝜔𝑡 − sin 𝜔𝑡)

𝐸
z(t)= 𝜔𝐵 (1 − cos 𝜔𝑡)

𝐸
Bila R = serta sin dan cos dieleminasikan dengan menggunakan persamaan
𝜔𝐵
trigonometri sin2 𝜔𝑡 + cos 2 𝜔𝑡 = 1, maka

(y- R 𝜔𝑡)2 + (z- R)2 = R2

Persamaan tersebut adalah rumus lingkaran dengan jari jari R yang berpusat di (0,
R 𝜔𝑡, 𝑅) dan translasi dalam arah sumbu y dengan kelajuan tetap
𝐸
v = 𝜔R = 𝐵 .

3. Gaya magnetic yang dialami oleh kawat berarus


Gejala ini pertama kali dikaji oleh Hans Christian Oersted. Melalui percobaan, ia
berhasil mengungkap hubungan antara listrik dan magnet. Ia berhasil membuktikan
bahwa penghantar yang berarus listrik dapat menghasilkan medan magnetik. Kumparan
kawat berinti besi yang dialiri listrik dapat menarik besi dan baja. Hal ini menunjukkan
bahwa kumparan kawat berarus listrik dapat menghasilkan medan magnet. Medan
magnet juga dapat ditimbulkan oleh kawat penghantar lurus yang dialiri listrik.
Berdasarkan hasil percobaan tersebut terbukti bahwa arus listrik yang mengaliri dalam
kawat penghantar ini menghasilkan medan magnetik, atau disekitar kawat berarus listrik
terdapat medan magnetik.
Pada saat arus listrik yang mengalir dalam penghantar diperbesar, ternyata kutub
utara jarum kompas menyimpang lebih jauh. Hal ini berarti semakin besar arus listrik
yang digunakan semakin besar medan magnetik yang dihasilkan.

12
Gambar 2.5 Penyimpangan magnet kompas
Pada saat ujung kawat AB tidak dihubungkan dengan sumber tegangan (baterai),
kedudukan magnet jarum sejajar dengan bentangan kawat. Pada saat ujung A
dihubungkan dengan kutub positif baterai dan ujung B dengan kutub negatif baterai,
ternyata kutub utara magnet menyimpang ke kiri. Sebaliknya jika ujung A dihubungkan
dengan kutub negatif baterai dan ujung B dengan kutub positif baterai, maka kutub utara
magnet menyimpang ke kanan. Penyimpangan kutub magnet utara tersebut menunjukkan
adanya medan magnet di sekitar kawat beraliran arus listrik. Penyimpangan kutub utara
magnet ini memberi petunjuk tentang arah medan magnet di sekitar kawat berarus. Arah
medan magnetik di sekitar kawat penghantar lurus berarus listrik dapat ditentukan dengan
kaidah tangan kanan. Jika arah ibu jari menunjukkan arah arus listrik (I), maka arah
keempat jari yang lain menunjukkan arah medan magnetik (B). Kaidah tangan kanan ini
juga dapat digunakan untuk menemukan arah medan magnetik pada penghantar
berbentuk lingkaran yang dialiri listrik.

Gambar 2.6 kaidah tangan kanan


Pada dasarnya medan magnetik merupakan ruang di sekitar magnet dimana tempat
benda-benda tertentu mengalami gaya magnet. Medan magnet selalu mucul di sekitar
magnet. Jika sebatang magnet diletakkan dalam suatu ruang, maka terjadi perubahan
dalam ruang itu, yaitu pada setiap titik dalam ruang akan terdapat medan magnetik. Pada
abad ke-19 Hans Cristian menemukan bahwa arus listrik mempengaruhi kedudukan
jarum kompas. Percobaan selanjutnya dilakukan oleh Andre-Marie Ampere, Ampere

13
menaksir bahwa sumber dasar magnetisme bukanlah kutub magnetik akan tetapi arus
listrik.
a) Medan Manetik Untuk Kawat Lurus Dan Panjang

Besarnya medan magnet di sekitar kawat lurus panjang berarus listrik. Dipengaruhi oleh
besarnya kuat arus listrik dan jarak titik tinjauan terhadap kawat. Semakin besar kuat arus
semakin besar kuat medan magnetnya, semakin jauh jaraknya terhadap kawat semakin
kecil kuat medan magnetnya.

Gambar 2.7 medan magnet di sekitar kawat lurus panjang berarus listrik

Berdasarkan perumusan matematik oleh Biot-Savart maka besarnya kuat medan magnet
disekitar kawat berarus listrik dirumuskan dengan:
𝜇0 . 𝐼
𝐵=
2𝜋𝑎
Untuk jumlah N lilitan, maka
𝜇0 . 𝐼 𝑁
𝐵=
2𝜋𝑎
Dimana:
𝐵 = Medan magnet dalam tesla ( T )
𝜇0 = permeabilitas ruang hampa
𝐼 = Kuat arus listrik dalam ampere ( A )
𝑎 = jarak titik P dari kawat dalam meter (m)

14
b) Medan Magnetik Untuk Kawat Melingkar
a. Kompas

Gambar 2.8 Pola medan magnetik disekitar kawat melingkar berarus dengan kompas.
b.Pasir Besi

Gambar 2.9. Pola medan magnetik di sekitar kawat melingkar berarus dengan
pasir besi.
Pada gambar di atas terjadi penyimpangan kompas jarum di masing-masing ujung kawat
melingkar yang dialiri arus listrik. Hal ini menunjukkan bahwa adanya medan magnet di
sekitar kawat melingkar tersebut. Arah medan magnet akan membentuk lingkaran pada
setiap ujungnya. Hal tersebut juga terjadi pada saat serbuk besi ditaburi di atas kotak
transparan di sekitar kawat. Pasir besi akan membentuk dua lingkaran yang arahnya
berlawanan. Hal ini membuktikan bahwa medan magnet yang berada di sekitar kawat
melingkar disebabkan karena adanya arus listrik yang mengalir.

𝜇0 . 𝐼. 𝑎
𝐵𝑝 = sin 𝜃
2. 𝑟 2
Untuk jumlah N lilitan, maka
𝜇0 . 𝐼. 𝑎. 𝑁
𝐵𝑝 = sin 𝜃
2. 𝑟 2

Dimana:
15
𝐵𝑝 = Induksi magnet di P pada sumbu kawat melingkar dalam tesla ( T)
𝐼 = kuat arus pada kawat dalam ampere ( A )
𝑎 = jari-jari kawat melingkar dalam meter ( m )
𝑟 = jarak P ke lingkaran kawat dalam meter ( m )
𝜃 = sudut antara sumbu kawat dan garis hubung P ke titik pada lingkaran kawat dalam
derajad (°)
𝑥 = jarak titik P ke pusat lingkaran dalam meter ( m )

Besarnya medan magnet di pusat kawat melingkar dapat dihitung:


𝜇0 . 𝐼
𝐵=
2. 𝑎
Untuk jumlah N lilitan, maka
𝜇0 . 𝐼 𝑁
𝐵=
2. 𝑎
Dimana:

 𝐵 = Medan magnet dalam tesla ( T )


 𝜇0 = permeabilitas ruang hampa = 4𝜋 . 10 -7 Wb/Amp. m = 1,257 . 10-6 Wb/A.m
 𝐼 = Kuat arus listrik dalam Ampere ( A )
 𝑎 = jarak titik P dari kawat dalam meter (m) = jari-jari lingkaran yang dibuat

c) Medan Magnet Untuk Solenoida


Sebuah kawat dibentuk seperti spiral yang selanjutnya disebut kumparan , apabila dialiri
arus listrik maka akan berfungsi seperti magnet batang.Pengaruh medan magnet yang
dihasilkan oleh sebuah penghantar arus terhadap benda yang ada di sekitarnya sangat
kecil. Hal ini disebabkan medan magnet yang dihasilkan sangat kecil atau lemah.

16
Agar mendapatkan pengaruh medan yang kuat, penghantar itu harus digulung menjadi
sebuah kumparan. Pada kumparan, medan magnet yang ditimbulkan oleh lilitan yang satu
diperkuat oleh lilitan yang lain. Apabila kumparan itu panjang disebut solenoida.

Apabila di dalam kumparan diberi inti besi lunak maka pengaruh kemagnetannya
menjadi jauh lebih besar. Karena kumparan yang dililitkan pada inti besi lunak akan
menimbulkan sebuah magnet yang kuat. Pengaruh hubungan antara kuat arus dan medan
magnet disebut elektromagnet atau magnet listrik.

Magnet listrik banyak digunakan dalam bidang teknik, misalnya pembuatan bel listrik,
kunci pintu listrik, indikator untuk bahan bakar pada mobil (fuel level), kereta cepat tanpa
roda, telepon dengan uang logam dan detektor logam.

Keuntungan magnet listrik adalah:

a. Sifat kemagnetannya sangat kuat.

b. Kekuatan magnet itu dapat diubah-ubah dengan mengubah kuat arus.

c. Kemagnetannya dapat dihilangkan dengan memutuskan arus listrik.

Magnet listrik dibuat dalam berbagai bentuk, antara lain: berbentuk huruf U, berbentuk
batang, berbentuk silinder, dan lingkaran. Di antara bentukbentuk magnet listrik tersebut
yang paling kuat daya tarik magnetnya adalah yang berbentuk U.

 induksi magnet pada ujung solenoida


𝜇0 . 𝐼. 𝑁
𝐵=
2. 𝑙

17
 induksi magnet ditengah solenoida
𝜇0 . 𝐼. 𝑁
𝐵= = 𝜇0 . 𝐼. 𝑛
𝑙

Keterangan:
𝑙 = panjang solenoida (m)
𝐼 = arus pada solenoida (A)
𝑁 = banyaknya lilitan
𝑛 = banyaknya lilitan persatuan panjang (N/ l )
Ternyata penghantar berarus listrik yang ditempatkan dalam medan magnet juga
mengalami gaya magnet. Hal ini ditemukan pertama kali oleh Hendrik Antoon Lorentz.
Gaya Lorentz terjadi apabila kawat penghantar berarus listrik berada di dalam medan
magnetik. Besar gaya Lorentz bergantung pada besar medan magnetik, panjang
penghantar, dan besar arus listrik yang mengalir dalam kawat penghantar. Untuk arah
aliran arus listrik tegak lurus terhadap arah medan magnet, gaya Lorentz dapat
dinyatakan dengan:
F=BxIxl
Keterangan:
F = gaya Lorentz pada kawat (N)
B = medan magnet (Tesla)
I = arus listrik (A)
l = panjang kawat (m)

Contoh penerapan gaya lorentz dalam kehidupan sehari-hari.


Alat alat yang didasarkan pada gerak partikel bermuatan dalam medan banyak
dijumpai pada tabung sinar katoda, printer ink-jet, mikroskop elektron, spektograf massa,
pencepat partikel dan tabung gelombang mikro seperti klystron, magnetron, dan tabung
gelombang berjalan.

18
BAB III
PENUTUP
A. RANGKUMAN
 Arus listrik merupakan muatan yang bergerak. Sedangkan secara kuantitatif, arus
listrik didefinisikan sebagai muatan persatuan waktu yang melewati sebuah titik.
 Bila muatan berdistribusi garis 𝜆 mengalir di dalam sehelai kawat dengan kelajuan 𝑣,
maka arus listrik yang mengalir di dalam kawat tersebut adalah
𝐼 = 𝜆𝑣
 Jika rapat muatan permukaan yang bergerak adalah 𝜎 dan kecepatannya 𝑣, maka
𝐾 = 𝜎𝑣
 Jika rapat muatan volume yang bergerak 𝜌 dan kecepatan 𝑣, maka
𝐽 = 𝜌𝑣

 Arus mantap (“steady current”) adalah aliran muatan yang berkesinambungan terus-
menerus, artinya arus tidak pernah bertambah besar, berkurang ataupun berubah
arahnya pada suatu titik.
 Gaya Lorenzt merupakan gaya yang ditimbulkan oleh muatan listrik yang bergerak,
atau oleh arus listrik yang berada dalam suatu medan magnet B.
 𝐹𝐿 = 𝑄[𝐸 + (𝑣 × 𝑩)] merupakan persamaan gaya lorentz.
 Lintasan gerak partikel membentuk lengkungan yang berulang yang disebut gerak
cycloid. Gaya yang bekerja pada partikel dalam arah tegak lurus arah gerak partikel,
yaitu gaya magnet, dan dalam arah sumbu z yaitu gaya listrik.
 Penghantar berarus listrik yang ditempatkan dalam medan magnet juga mengalami
gaya magnet.
 gaya Lorentz dapat dinyatakan dengan:
F=BxIxl
 Alat alat yang menerapkan prinsip gaya lorentz banyak dijumpai pada tabung sinar
katoda, printer ink-jet, mikroskop elektron,

B. CONTOH SOAL
1. a. Sebuah kawat berbentuk silinder dengan jari-jari 𝑅 diberi arus listrik 𝐼 yang
terdistribusi secara merata atau serba sama ( gambar 1.4 ). Tentukan rapat arus
volumenya!

19
b. Missal rapat arus di dalam kawat itu berdistribusi sebanding dengan jaraknya
sumbu, yaitu 𝐽 = 𝑘𝑟, dimana k adalah konstanta. Tentukan arus total didalam kawat.

Gambar : Silinder dengan arus listrik yang terdistribusi secara merata

Penyelesaian

(a) Luas permukaan yang tegak lurus aliran adalah 𝜋𝑅 3 , dan karena arus terdistribusi
secara serba sama, maka
𝐼
𝐽=
𝜋𝑅 2
(b) Untuk menetukan 𝐼 digunakan persamaan 𝐼 = ∫ 𝑑𝑎⊥
Karena 𝐽 = 𝑘𝑟 dan 𝑑𝑎⊥ = 𝑟𝑑𝑟𝑑𝜃 (gambar 1.4 ), maka

𝐼 = ∫(𝑘𝑟)(𝑟𝑑𝑟𝑑𝜃)

𝐼 = ∫(𝑘𝑟 2 𝑑𝑟𝑑𝜃)

2𝜋 𝑅
𝐼 = 𝑘 ∫ 𝑑𝜃 ∫ 𝑟 2 𝑑𝑟
0 0

1
𝐼 = 𝑘(2𝜋 − 0) (𝑅 3 − 0)
3
2𝜋𝑘𝑅 3
𝐼=
3

20
Gambar : Alas silinder
2. Dua kumparan identik seperti pada gambar. Jika jumlah lilitannya 1000, panjangnya
1 m, dialiri arus masing masing i1  40A dan i2  20A . Tentukan
kuat medan magnet di titik P! jika kedua kumparan tersebut ujungnya dianggap
berhimpit.

Penyelesaian :

a) Dengan menggunakan aturan tangan kanan dan sesuai dengan arah arus
pada kumparan selenoida, diperoleh arah induksi magnetik oleh kawat 1
adalah ke kanan dan induksi magnetik oleh kawat 2 juga ke kanan.

Untuk menentukan besar induksi magnet di titik ujung selenoida


menggunakan persamaan

21
𝜇0 . 𝐼 𝑁
𝐵=
2𝑙
b) Besar Induksi magnetik di titik P oleh kawat 1 adalah

𝜇0 . 𝐼 𝑁
𝐵=
2𝑙

4𝜋. 107 . 1000. 40


𝐵=
2.1

𝐵 = 8𝜋. 10−3 𝑇

c) Besar Induksi magnetik di titik P oleh kawat 2 adalah

𝜇0 . 𝐼 𝑁
𝐵=
2𝑙

4𝜋. 107 . 1000. 20


𝐵=
2.1

𝐵 = 4𝜋. 10−3 𝑇
d) Karena arah induksi magnetik B1 dan B2 searah yaitu ke kanan, maka
induksi magnetik di titik P
BP  B1  B2

BP 8𝜋. 10−3 𝑇4𝜋. 10−3 𝑇

BP  12𝜋. 10−3 𝑇
Jadi induksi magnetik di titik P adalah 12.103 Tesla , dengan arah ke
kanan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Johannes. 1978. Listrik dan Magnet. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Loeksmanto, Waloejo. 1993.Medan Elektromagnetik. Bandung : Departemen Pendidikan dan

Kebudayaan.

Rao, Nannapaneni Narayana. 2001. Elemen-Elemen Elektromagnetika Teknik. Jakarta: Erlangga.

Wiyanto. 2008. Elektromagnetika. Yogyakarta: Graha Ilmu.


2

Anda mungkin juga menyukai