Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil palatina yang diakibatkan


oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur. Penyebaran infeksi terjadi melalui udara
(air borne droplets), tangan dan ciuman, dapat terjadi pada semua usia, terutama
pada anak.1 Penyebab tersering pada tonsilitis adalah bakteri group A
streptokokus beta hemolitik, yaitu 30% dari kasus tonsilitis pada anak dan 10%
pada kasus dewasa.2 Adanya pengobatan tonsilitis akut yang tidak adekuat,
rangsangan kebiasaan merokok yang menahun, beberapa jenis makanan, higiene
mulut yang buruk, pengaruh cuaca, kelelehan fisik, dan pengaruh cuaca dapat
menjadi faktor predisposisi dan penyebab terjadinya tonsilitis kronik.1

Tonsilitis kronis merupakan penyakit yang paling sering terjadi dari


seluruh penyakit THT. Data epidemiologi penyakit THT di tujuh provinsi di
Indonesia, prevalensi tonsilitis kronis sebesar 3,8% tertinggi setelah nasofaringitis
akut 4,6%. Hasil pemeriksaan pada anak-anak dan dewasa menunjukkan total
penyakit pada telinga hidung dan tenggorokan berjumlah 190-230 per 1.000
penduduk dan didapati 38,4% diantaranya merupakan penderita penyakit tonsilitis
kronis.3 Tonsilitis lebih umum terjadi pada pada anak-anak usia 5-15 tahun dengan
prevalensi tonsillitis bakterial 15-30% pada anak dengan gangguan tenggorokan
dan 5-15% pada dewasa dengan gangguan tenggorokan.4 Berdasarkan penelitian
yang diambil dari data medical record tahun 2010 di RSUP dr M. Djamil Padang
bagian THT-KL subbagian laring faring, ditemukan tonsilitis sebanyak 465 dari
1110 kunjungan di Poliklinik subbagian laring faring dan yang menjalani
tonsilektomi sebanyak 163 kasus. Sedangkan insiden tonsilitis kronis di RSUP dr
Kariadi Semarang 23,36% sebagian besar diantaranya pada usia 6-15 tahun.5
Mengingat angka kejadian yang tinggi dan dampak yang ditimbulkan dapat
mempengaruhi kualitas hidup anak, maka pengetahuan yang memadai mengenai
tonsilitis kronis diperlukan guna penegakan diagnosis dan terapi yang tepat dan
rasional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Tonsil
Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori.
Cincin Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di
faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual,
dan tonsil tuba Eustachius.6

Gambar 2.1 Anatomi Tonsil8

1. Tonsil Palatina6
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak
di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar
anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus).
Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil
mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil. Tonsil
tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya
dikenal sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring.
Dibatasi oleh:
- Lateral : Muskulus konstriktor faring superior
- Anterior : Muskulus palatoglosus
- Posterior : Muskulus palatofaringeus
- Superior : Palatum mole
- Inferior : Tonsil lingual
Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga
melapisi invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di
bawah jaringan ikat dan tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam
di dalam stroma jaringan ikat retikular dan jaringan limfatik difus.

2. Fossa Tonsil6
Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior
adalah otot palatoglosus, batas posterior adalah otot palatofaringeus dan
batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring superior.
Berlawanan dengan dinding otot yang tipis ini, pada bagian luar dinding
faring terdapat nervus ke IX yaitu nervus glosofaringeal.

3. Perdarahan6,7
Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri karotis
eksterna, yaitu :
1. Arteri maksilaris eksterna(arteri fasialis) dengan cabangnya arteri
tonsilaris danarteri palatina asenden
2. Arteri maksilaris internadengan cabangnya arteri palatina desenden
3. Arterilingualis dengan cabangnya arteri lingualis dorsal
4. Arteri faringeal asenden.

Gambar 2.2 Perdarahan Tonsil


Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh arteri lingualis
dorsal dan bagian posterior oleh arteri palatina asenden, diantara kedua
daerah tersebut diperdarahi oleh arteri tonsilaris. Kutub atas tonsil
diperdarahi oleh arteri faringeal asenden dan arteri palatine desenden.
Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus
dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena
lidah dan pleksus faringeal.

4. Aliran Getah Bening8


Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian
getah bening servikal profunda (deep jugular node) bagian superior di
bawah muskulus sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar toraks
dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai
pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen
tidak ada.

5. Persarafan7
Tonsil bagian bawah mendapat sensasi dari cabang serabut saraf ke
IX (nervus glosofaringeal) dan juga dari cabang desenden lesser palatine
nerves.

6. Imunologi Tonsil6
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit.
Limfosit B membentuk kira-kira 50-60% dari limfosit tonsilar. Sedangkan
limfosit T pada tonsil adalah 40% dan 3% lagi adalah sel plasma yang
matang. Limfosit B berproliferasi di pusat germinal. Immunoglobulin
(IgG, IgA, IgM, IgD), komponen komplemen, interferon, lisozim dan
sitokin berakumulasi di jaringan tonsilar. Sel limfoid yang immunoreaktif
pada tonsil dijumpai pada 4 area yaitu epitel sel retikular, area
ekstrafolikular, mantle zone pada folikel limfoid dan pusat germinal pada
folikel ilmfoid. Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang
diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah
disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan
mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama
produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.

B. Tonsilitis
1. Definisi1
Tonsilitis merupakan peradangan pada tonsil palatine yang
merupakan bagian dari cincin Waldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas
susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut, yaitu tonsil
faringeal (adenoid), tonsil palatine (tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil
pangkal lidah, dan tolsol tuba Eustachius (lateral band dinding faring/
Gerach’s tonsil).

2. Klasifikasi1
Rusmajono dan Efiaty membagi tonsillitis ke dalam 3 bagian,
yaitu:
a) Tonsillitis akut
b) Tonsilitis membranasea
c) Tonsillitis kronik

3. Etiologi
Tonsilitis terjadi saat kuman masuk ke tonsil melalui kriptanya
secaraaerogen yaitu droplet yang mengandung kuman terhisap oleh hidung
kemudian nasofaring terus masuk ke tonsil maupun secara foodborn yaitu
melalui mulut masuk bersama makanan. Etiologi tonsilitis kronik dapat
disebabkan oleh serangan ulangan dari Tonsilitis Akut yang
mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil, atau kerusakan ini dapat
terjadi bilafase resolusi tidak sempurna.9
Beberapa organisme dapat menyebabkan infeksi pada tonsil,
termasuk bakteri erobik dan anaerobik, virus, jamur, dan parasit. Pada
penderita tonsilitis kronis jenis kuman yang paling sering adalah
Streptokokus beta hemolitikus grup A (SBHGA). Streptokokus grup A
adalah flora normal pada orofaring dan nasofaring. Namun dapat menjadi
patogen infeksius yang memerlukan pengobatan. Selain itu infeksi juga
dapat disebabkan Haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus, S.
Pneumoniae dan Morexella catarrhalis.10
Dari hasil penelitian Suyitno dan Sadeli (1995) kultur apusan
tenggorok didapatkan bakteri gram positif sebagai penyebab tersering
Tonsilofaringitis Kronis yaitu Streptokokus alfa kemudian diikuti
Staphylococcus aureus, Streptokokus beta hemolitikus grup A,
Staphylococcus epidermidis dan kuman gram negatif berupa Enterobakter,
Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella dan E. coli.9
Infeksi virus biasanya ringan dan dapat tidak memerlukan
pengobatan yang khusus karena dapat ditangani sendiri oleh ketahanan
tubuh (self-limiing). Penyebab penting dari infeksi virus adalah
adenovirus, influenza A, dan herpes simpleks (pada remaja). Selain itu
infeksi virus juga termasuk infeksi dengan coxackie virus A, yang
menyebabkan timbulnya vesikel dan ulserasi pada tonsil. Epstein-Barr
virus yang menyebabkan infeksi mononukleosis, dapat mengakibatkan
pembesaran tonsil secara cepat sehingga mengakibatkan obstruksi jalan
napas yang akut.1,9
Infeksi jamur seperti Candida sp tidak jarang terjadi khususnya di
kalangan bayi atau pada anak-anak dengan immunocompromised.1,9

4. Patofisiologi
Tonsil dibungkus oleh suatu kapsul yang sebagian besar berada
pada fosa tonsil yang terfiksasi oleh jaringan ikat longgar. Tonsil terdiri
dari banyak jaringan limfoid yang disebut folikel. Setiap folikel memiliki
kanal (saluran) yang ujungnya bermuara pada permukaan tonsil. Muara
tersebut tampak oleh berupa lubang yang disebut kripta. Saat folikel
mengalami peradangan, tonsil akan membengkak dan membentuk eksudat
yang akan mengalir dalam saluran (kanal) lalu keluar dan mengisi kripta
yang terlihat sebagai kotoran putih atau bercak kuning. Kotoran ini disebut
detritus. Detritus sendiri terdiri atas kumpulan leukosit polimorfonuklear,
bakteri yang mati, dan epitel tonsil yang terlepas. Tonsilitis akut dengan
detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis. Tonsilitis akut dengan
detritus yang menyatu lalu membentuk kanal-kanal disebut tonsilitis
lakunaris.1,6,8
Detritus dapat melebar jika terjadi proses peradangan yang
berulang. Proses peradangan yang terus berlanjut mengakibatkan
pelebaran krita menembus kapsul tonsil dan menimbulkan perlekatan
dengan jaringan di sekitar fosa tonsilaris.1

5. Diagnosis
a) Anamnesa
Penderita tonsilitis awalnya mengeluh rasa kering di tenggorok.
Kemudian berubah menjadi rasa nyeri di tenggorok dan rasa nyeri saat
menelan. Makin lama rasa nyeri ini semakin bertambah sehingga
penderita mengalami kesulitan dalam menelan. Nyeri hebat ini dapat
menyebar sebagai referred pain ke sendi-sendi dan telinga.1,6,8
Keluhan lainnya berupa demam, rasa nyeri kepala, badan lesu
dan nafsu makan berkurang sering menyertai pasien tonsilitis akut.
Suara pasien terdengar seperti orang yang mulutnya penuh terisi
makanan panas (plummy voice), mulut berbau dan ludah menumpuk
dalam kavum oris akibat nyeri telan yang hebat (ptialismus).1,6,8
b) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan tonsilitis akut ditemukan tonsil yang membesar,
hiperemis dan terdapat detritus yang memenuhi permukaan tonsil baik
berbentuk folikel, lakuna, atau pseudomembran. Ismus fausium
tampak menyempit. Palatum mole, arkus anterior dan arkus posterior
juga tampak udem dan hiperemis. Kelenjar submandibula yang terletak
di belakang angulus mandibula terlihat membesar dan ada nyeri tekan.
Pada infeksi berulang tonsilitis kronik akan ditemukan ukuran tonsil
yang membesar dengan permukaan tidak rata, kirptus melebar, dan
beberapa kripti terisi detritus.1,6,8
Ukuran tonsil pada tonsilitis kronik dapat membesar
(hipertrofi) atau atrofi. Pembesaran tonsil dapat dinyatakan dalam
ukuran T1 – T4. Cody dan Thane (1993) membagi pembesaran tonsil
dalam ukuran berikut:11
T1 :Batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar
anterior uvula
T2 :Batas medial tonsil melewati ¼ jarak pilar anterior-uvula sampai ½
jarak pilar anterioruvula
T3 :Batas medial tonsil melewati ½ jarak pilar anterior-uvula sampai ¾
jarak pilar anterioruvula
T4 :Batas medial tonsil melewati ¾ jarak pilar anterior-uvula atau
lebih.

Gambar 2.3 Grading Tonsilitis11

c) Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan kultur dan uji resistensi (sensitifitas) kuman
dari sediaan apus tonsil. Biakan swab sering menghasilkan beberapa
macam kuman dengan derajat keganasan yang rendah, seperti
Streptococcus haemolitikus, Streptokokus viridans, Stafilokokus,atau
Pneumokokus dan terjadi peningkatan leukosit.1,6,8

6. Komplikasi
Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah
sekitarnya berupa rhinitis kronik, sinusitis, atau otitis media secara
perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen
dan dapat menimbulkan endokarditis, arthritis, miositis, nefritis, uveitis,
iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan furunkulosis.1

7. Penatalaksanaan
Pengobatan pasti untuk tonsillitis kronis adalah pembedahan
dengan pengangkatan tonsil. Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus
dimana penatalaksanaan medis atau yang konservatif gagal untuk
meringankan gejala-gejala.1,6,8
Terapi antibiotik pada tonsilitis kronis sering gagal dalam
mengurangi dan mencegah rekurensi infeksi, baik karena kegagalan
penetrasi antibiotik ke dalam parenkim tonsil ataupun ketidaktepatan
antibiotik. Oleh sebab itu, penanganan yang efektif bergantung pada
identifikasi bakteri penyebab dalam parenkim tonsil.1,6,8
Indikasi tonsilektomi menurut American Academy of
Otolaryngology–Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium
tahun 1995 menetapkan:1,6,8
a) Indikasi Absolut
1. Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas,
disfagia berat,gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner
2. Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis
dan drainase
3. Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam
4. Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi
anatomi
b) Indikasi Relatif
1. Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi
antibiotik adekuat.
2. Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan
pemberian terapi medis.
3. Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang tidak
membaik denganpemberian antibiotik β-laktamase resisten.
4. Hipertrofi tonsil unilateral yang dicurigai merupakan suatu
keganasan.

8. Prognosis
Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan
beristirahat dan pengobatan suportif. Namun akan kambuh kembali jika
faktor pencetus tidak dihindari. Menangani gejala – gejala yang timbul
dapat membuat penderita tonsilitis lebih nyaman.2

C. Tonsilektomi
1. Definisi
Tonsilektomi merupakan prosedur pengangkatan tonsil yang
dilakukan dengan atau tanpa adenoidektomi. Prosedur ini dilakukan
dengan mengangkat seluruh tonsil dan kapsulnya, dengan melakukan
diseksi pada ruang peritonsil di antara kapsul tonsil dan otot dinding fossa
tonsil.

2. Indikasi
a) Tonsilitis kronik, hipertrofi tonsil, hipertrofi tonsil dengan disertai
hipertrofi adenoid, dan abses peritonsiler.
b) Reccurent acute tonsillitis.
c) Tumor jinak pada tonsil.
d) Tumor ganas tonsil.
e) Limfoma Hodgkin pada tonsil.
f) Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) / Sleep Disorder
Breathing.

3. Kontra Indikasi
a) Kelainan darah, seperti hemophilia, diskrasia darah, anemia.
b) Resiko tinggi pembiusan umum.

4. Persiapan
a) Pasien
1) Penjelasan operasi dan kemungkinan komplikasi yang dapat
terjadi.
2) Ijin operasi
3) Ijin pembiusan
4) Konsul: anestesi
5) Konsul: kesehatan anak/ penyakit dalam/ kardiologi (atas indikasi).
6) Pemeriksaan laboratorium: darah tepi lengkap, PT & APTT, atas
indikasi, missal SGOT, SGPT, Ureum dan Creatinin darah, GDS.
7) Pemeriksaan Radiologi: Foto Thoraks.
8) Puasa 6 jam sebelum operasi.
b) Bahan dan Alat
1) Bahan: Larutan Betadine, Alkohol 70%, Kasa Depper Tonsil,
Kassa Steril, dan Benang Silk 2-0.
2) Alat: Bipolar cautery system, Mouth gag Davis dengan tongue
depressor, tonsil holding forceps, birkett artery forceps, Negus
Artery Forceps, Gunting tonsil, adenoid currete, yankauer suction
catheter bulb tip, needle holder, blade holder, sickle knife, lampu
kepala, mesin suctin dan selang suction.
c) Petugas
1) Dokter Spesialis THT-KL yang mempunyai kewenangan klinis.
2) PPDS Sp.1 THT-KL yang mempunyai kewenangan klinis sesuai
tingkat kompetensi pendidikannya.
3) Perawat Kamar Operasi THT-KL yang mempunyai kewenangan
klinis.
4) Dokter Spesialis Anestesi yang mempunyai kewenangan klinis.

5. Prosedur
a) Antibiotik profilaksis intravena diberikan 30 menit sebelum insisi.
b) Identifikasi.
c) Sign in.
d) Time out.
e) Pasien terbaring dalam norkase umum di meja operasi.
f) Ternik operasi tonsilektomi adalah mengangkat jaringan tonsil ang
secara umum dilakukan dengan insisi mukosa faring dan diesksi tonsil
diikuti dengan hemostatis mengikat pembuluh darah.
g) Tahapan tonsilektomi dengan metode diseksi (dissection method):
1) Pasien dalam posisi terlentang, kepala ekstensi.
2) Dipasang mouth gag Davis sesuai dengan ukuran rongga mulut
pasien.
3) Pole atas tonsil dipedang dengan klem kemudian ditarik kearah
medial.
4) Dilakukan insisi secara tajan antara massa tonsil dan pilar
dengan menggunakan sickle knife mulai dari pole atas tonsil.
5) Selanjutnya insisi dilanjutkan dengan gentel.
6) Kemudian dilakukan diseksi tonsil menggunakan disektor
sampai tinggal pedikel tonsil di pole inferior.
7) Pedikel di klem dengan Negus Artery Forceps, tonsil digunting.
8) Perdarahan dirawat dengan cara ligasi menggunakan benang
silk 2-0.
9) Hal yang sama dilakukan pada tonsil sisi kontralateral.
10) Dilakukan evaluasi pada fossa tonsil, bila ada perdarahan
dilakukan hemostasis.
11) Mouth gag Davis dilepas.
h) Operasi selesai.
i) Sign out.

6. Pasca Prosedur Tindakan


a) Medikamentosa
1) Deksametason dosis tunggal intraoperatif injeksi.
2) Antibiotika: Amoksisilin Klavulanat selama 3 hari
3) Analgetika: paracetamol atau Metampiron selama 3 hari.
b) Evaluasi Outcome:
1) Tidak ada resiko obstruksi napas yang dapat beresiko mengancam
kematian.
2) Tidak ada perdarahan.
3) Luka operasi tidak infeksi
4) Tidak ada dehidrasi
c) Diet: lunak dan dingin 5 hari.
BAB III
PENYAJIAN KASUS

I. Keterangan Umum
Nama : An. WCA
Usia : 9 Tahun
Alamat : Gg. Cempaka No. 13
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Marital : Belum Menikah
Pekerjaan : Pelajar
Tanggal Pemeriksaan : 12 Maret 2018
Anamnesa : Autoanamnesis dan alloanamnesis

II. Anamnesa
Keluhan Utama:
Sejak Napas

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak ± 30 menit SMRS.
Pasien juga mengeluh mengalami kesulitan dalam menelan, nyeri pada
daerah leher dan saat menelan makanan, tidur mengorok dan batuk sesekali.
Pasien juga merasa mual dan pusing. Demam (-), pilek (-), terlinga
berdengung (-), Sakit Kepala (-).
Keluhan pasien sudah dirasakan sejak 3 bulan yang lalu diawali sesak napas
hilang timbul dan nyeri ketika menelan makanan. Sesak napas dirasakan
pasien semakin memburuk sejak 1 bulan yang lalu. Sesak juga dirasakan
memberat saat pasien berbaring terlentang untuk tidur.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Pasien beberapa kali berobat ke praktek dokter umum dengan keluhan sakit
tenggorokan. Namun, keluhan tidak membaik dengan obat yang diberikan.
Pasien juga diberi tahu bahwa menderita pembesaran amandel. 2 minggu
sebelumnya pasien pernah dirawat di rumah sakit dan dianjurkan melakukan
operasi, namun orang tua pasien menolak.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Orang tua pasien tidak memiliki keluhan yang serupa dengan pasien.

Riwayat Sosial Ekonomi:


Berdasarkan keterangan dari orang tua pasien, pasien suka mengonsumsi
jajanan gorengan dan minuman es di kantin sekolah dan di rumah.

III. Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaran : Compos Mentis, pasien tampak nyeri
Tanda Vital :
Tekanan darah : - mmHg
Nadi : 90 x/menit
Respirasi : 26 x/menit
Suhu : 36,8oC

Kepala : (I) Bentuk simetris, jejas pada wajah (-), benjolan (-)
(P) Teraba pulsasi a. temporalis, nyeri tekan wajah (-)

Leher : (I) Bentuk simetris, jejas (-), benjolan (-)


(P) Pembesaran KGB (-), nyeri tekan (-)
(A) Stridor (-)

Thorax : (I) Bentuk simetris, jejas (-), retraksi (-), ictus tidak terliat
(P) Nyeri tekan (-) teraba ictus cordis ICS IV midclavicula
(P) Sonor pada kedua hemithorax
(A) Suara napas normal, rhonki (-) wheezing (-) S1/S2 +/+

Abdomen : (I) Bentuk simetris, jejas (-), kelainan pigmentasi (-)


(A) Bising usus dalam frekuensi normal (8 kali per menit)
(P) Nyeri tekan (-)
(P) Timpani pada seluruh kuadran abdomen

Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, ruam (-), jejas (-)

Neurologis :
(N.V) : sensori wajah baik
(N. VII) : wajah simetris, ekspresi wajah termasuk mengangkat alis,
menutup mata baik.
(N. IX, X, XII) : lidah dan uvula di tengah pada cavum oris, deviasi (-),
gerakan lidah dan uvula baik, deviasi saat gerakan (-).

Berat Badan : 47,5 kg

STATUS LOKALIS
Telinga

Auris
Bagian Kelainan
Dextra Sinistra
Kelainan kongenital - -
Prearikula Radang dan tumor - -
Trauma - -
Kelainan kongenital - -
Aurikula Radang dan tumor - -
Trauma - -
Edema - -
Retroaurikula
Hiperemis - -
Nyeri tekan - -
Sikatriks - -
Fistula - -
Fluktuasi - -
Kelainan Kongenital - -
Kulit Normal, tenang Normal, tenang
Sekret - -
Canalis
Serumen + +
Acustikus
Edema - -
Externa
Jaringan granulasi - -
Massa - -
Kolesteatoma - -
Warna Jernih, Jernih,
transparan transparan
Intak + +
Cahaya (+) Refleks (+) Refleks
Membrana cahaya arah cahaya arah
Timpani jam 5 jam 7
Tes Pendengaran
Auris
Pemeriksaan
Dekstra Sinistra

Tes Bisik/Suara Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Tes Rinne (+) AC > BC (+) AC > BC

Tes Webber Tidak ada lateralisasi

Kesan: Fungsi pendengaran dalam batas normal.

Hidung

Auris
Pemeriksaan
Dekstra Dekstra
Keadaan Luar Bentuk dan Ukuran Simetris, normal Simetris, normal
Mukosa Tenang, jernih Tenang, jernih
Sekret - -
Krusta - -
Concha inferior Hiperemis (-), hiperemis (-),
hipertrofi (-) hipertrofi (-)
Septum Deviasi (-) Deviasi (-)
Rhinoskopi Polip/tumor - -
anterior Pasase udara Baik Baik
-

Rhinoskopi Posterior : Tidak diperiksa


Transiluminasi : Tidak dilakukan
Mulut dan Orofaring
Bagian Kelainan Keterangan
Mukosa mulut Hiperemis
Lidah Normal
Palatum mole hiperemis
Mulut Gigi geligi 87654321 12345678
87654321 12345678
Uvula Normal
Halitosis -
Mukosa Hiperemis
Besar T4/T4
Kripta +
Detritus +
Perlengketan
Tonsil

Mukosa Hiperemis
Faring Granulasi -
Post nasal drip -

Laring: Tidak diperiksa.

Maksilofasial
Bentuk : Simetris
Parese N. Kranialis :-
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Hb : 12.3 gr/dL
GDS : 141 mg/dL
Leukosit : 11.24 x 10-3 uL
BT : 1’00”
CT : 9;30”
HBsAg : Non Reaktif
HIV : Non Reaktif
Kesan : pemeriksaan hematologi dalam batas normal

Foto Thoraks PA
Corakan bronkovaskular paru-paru kesan kasar, tak tampak
bercak/konsolidasi.
Cor : besar dan bentuk normal.
Kedua sinus lancip, diafragma licin.
Tulang-tulang costae tervisualisasi intak
Kesan : tidak tampak kelainan radiologik pada cor dan pulmo

V. Resume
Anamnesa
Seorang anak perempuran usia 9 tahun datang ke IGD RSUD Sultan
Syarif Mohamad Alkadrie dengan keluhan sejak napas 30 menit SMRS.
Keluhan disertai nyeri ketika menelan, tidur mengorok, mual, dan batuk
sesekali. Demam (-), pilek (-),terlinga berdengung (-), Sakit Kepala (-).
Keluhan sudah dirasakan sejak 3 bulan yang lalu dan semakin
memburuk. Pasien juga sering mengonsumsi es dan gorengan. Pasien akan
menjalani prosedur tonsilektomi dengan indikasi sesak napas (OSAS) dan
kekambuhan penyakit pasien.
Pemeriksaan Fisik
Status Generalis:
Kesadaran : Compos Mentis, pasien tampak nyeri
Tanda Vital :
Nadi : 90 x/menit
Respirasi : 26 x/menit
Suhu : 36,8oC

Status Lokalis:
ADS : Fungsi ADS dalam batas normal, serumen (+)
CN : Tidak ditemukan kelianan.
NPOP : Mukosa hiperemis, tonsil T4/T4, kripta
melebar(+), detritus (+)
MF : Tidak ditemukan kelainan
Leher : Tidak ditemukan kelainan
Hematologi : pemeriksaan hematologi dalam batas normal
Foto Thoraks PA: tidak ditemukan kelainan pada cor dan pulmo

VI. Diagnosis Banding


1. Tonsilitis kronik eksaserbasi akut
2. Faringitis
3. Tumor tonsil

VII. Diagnosis Kerja


Tonsilitis Kronik Eksaserbasi Akut

VIII. Usulan Pemeriksaan


1. Kultur Bakteri
2. Konsultasi ke bagian Spesialis Anak
3. Konsultasi ke bagian Spesialis Anestesi
IX. Penatalaksaan
1. Non-Medikamentosa
a) Tidak diperbolehkan mengonsumsi es, gorengan, dan makanan pedas.
b) Menjaga kebersihan mulut.
2. Medikamentosa
a) Dexamethasone 2x ½ amp IV
b) Ampicillin Sulbaktam 4 x250 mg IV
3. Terapi bedah: Pasien dijadwalkan akan menjalani tonsileksomi pada
tanggal 13 maret 2018.

X. Pembedahan
Persiapan pasien sebelum dilakukan tindakan tontomi adalah
sebelumnya orang tua pasien telah diinformed concern mengenai tindakan
medis yang akan dilakukan. Orang tua pasien telah memahami informasi
yang diberikan dan bersedia untuk dilakukan tindakan tonsilektomi terhadap
pasien. Dalam hal ini juga, dr. Spesialis THT-KL selaku yang mengani
pasien telah melakukan konsultasi sejawat di bidang Spesialistik Anak dan
Spesialistik Anestesi. Dari hasil konsultasi tersebut, tidak ditemukan adanya
kontraindikasi terhadap tindakan pembedahan yang akan dijalani.
Tindakan tonsilektomi dilakukan di Instalasi Bedah Sentral RSUD
Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak, pada tanggal 13 Maret 2018.
Tindakan operasi sebelumnya telah terjadwal, pasien sebelumnya telah
dipuasakan. Petugas terdiri dari satu orang dokter Spesialis THT-KL selaku
operator, satu orang dokter Spesialis Anestesi, dan dua Perawat Kamar
Operasi THT-KL yang mempunyai kewenangan klinis. Operasi dimulai
pada pukul 08.40 hingga pukul 09.20. Komplikasi yang ditemui selama
proses pembedahan adalah pendarahan, namun telah ditangani.
XI. Observasi Pasca Bedah
1. Observasi pada tanggal 13 Maret 2018
Anamnesis
Pasien mengeluhkan nyeri pada daerah lokasi operasi. Keluhan
juga disertai mual dan muntah.

Pemeriksaan Fisik
Pasien tampak nyeri dan lemah. Saturasi oksigen (SpO2 99%),
nadi 94 kali/ menit.
Tatalaksana
a) Bed rest
b) Puasa sampai Bising Usus (+) N, diet cair dan dingin
c) Medikamentosa:
 Ampisilin Sulbaktam 4 x 250 mg IV
 Dexametasone 1 x ½ amp IV
 Asam Traneksamat 3 x 500 mg IV
 Paracetamol 3 x 500 mg IV
 Ranitidin 2 x 1 amp IV

2. Observasi pada tanggal 14 Maret 2018


Anamnesis
Pasien mengeluh nyeri di daerah bekas operasi, pusing dan terasa
mual.
Pemeriksaan Fisik
Pasien tampak lemah. Pemeriksaan rongga mulut menunjukkan
Tonsil T0-T0, fibrin (+), blood cloth (-), uvula edem (+).

Tatalaksana
a) Bed rest
b) Diet cair dan dingin
c) Medikamentosa:
 Ampisilin Sulbaktam 4 x 250 mg IV
 Dexametasone 1 x ½ amp IV
 Asam Traneksamat 3 x 500 mg IV
 Ranitidin 2 x 1 amp IV

3. Observasi pada tanggal 15 Maret 2018


Anamnesis
Pasien mengeluhkan nyeri pada luka daerah operasi. Keluhan
disertai mual dan muntah, serta nafsu makan berkurang.

Pemeriksaan Fisik
Pasien tampak lemah. Pemeriksaan rongga mulut menunjukkan
Tonsil T0-T0, fibrin (+), blood cloth (-), uvula edem (+).

Tatalaksana
d) Bed rest
e) Diet cair dan dingin
f) Medikamentosa:
 Ampisilin Sulbaktam 4 x 250 mg IV
 Dexametasone 1 x ½ amp IV
 Asam Traneksamat 3 x 500 mg IV
 Paracetamol 3 x 500 mg IV
 Ranitidin 2 x 1 amp IV\

4. Observasi pada tanggal 16 Maret 2018


Anamnesis
Pasien mengeluhkan nyeri pada luka daerah operasi. Keluhan
disertai mual dan muntah, serta nafsu makan berkurang.
Pemeriksaan Fisik
Pasien tampak lemah. Pemeriksaan rongga mulut menunjukkan
Tonsil T0-T0, fibrin (+), blood cloth (-), uvula edem (+).

Tatalaksana
g) Bed rest
h) Diet cair dan dingin
i) Medikamentosa:
 Asam Traneksamat 3 x 500 mg IV
 Paracetamol 3 x 500 mg IV
 Ranitidin 2 x 1 amp IV
 Ondansetron 2 x 1 amp IV

X. Prognosis
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad sanactionam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien anak perempuan usia 9 tahun datang dengan keluhan sesak napas ±
30 SMRS. Keluhan disertai nyeri menelan, mual, dan terkadang batuk. Keluhan
sudah dirasakan sejak 3 bulan yang lalu hilang timbul dan memburuk. Selain itu
pasien juga mengorok ketika tidur. Pasien diketahui suka mengonsumsi es dan
gorengan. Dari hasil pemeriksaan fisik rongga mulut didapatkan tonsil hipertrofi
T4/T4, hiperemis, kripta melebar, dan terdapat detritus. Ditemukan pula faring
yang hiperemis, palatum mole dan mukosa mulut yang hiperemis. Dari hasil
anamnesa dan pemeriksaan fisik tersebut, pasien didiagnosis mengalami tonsilitis
kronik eksaserbasi akut. Hal ini dikarenakan keluhan pada pasien yang berulang
dan kebiasaan pasien yang suka mengonsumsi es dan gorengan, serta tanda-tanda
tonsilitis kronik. Pasien juga menjalani tindakan pembedahan berupa tonsilektomi.

Tonsilitis merupakan peradangan tonsil yang merupakan bagian dari


cincin Waldeyer dan dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak.
Penderita tonsilitis awalnya mengeluh rasa kering di tenggorok. Kemudian
berubah menjadi rasa nyeri di tenggorok dan rasa nyeri saat menelan. Peradangan
yang berulang akan mengakibatkan perubahan morfologi tonsil yang mengalami
hipertrofi disertai krita yang melebar dan terdapat detritus. Perbesaran tonsil ini
akan menghambat saluran pernapasan, sehingga keluhan sesak napas dirasakan
pasien. Selain itu hipertrofi tonsil juga mengakibatkan tidur mengorok, gangguan
tidur kerena terjadinya sleep apnea yang dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea
Syndrome (OSAS). Proses peradangan yang terjadi pada tonsil juga akan
menyebabkan kesulitan menelan makan dikarenakan pergesekan antara makanan
dengan tonsil yang mengalami hipertrofi akan menimbulkan nyeri.

Diagnosis banding pada pasien ini adalah faringitis dan tumor pada tonsil.
Pada kasus faringitis keluhan yang ditemukan hampir sama dengan tonsilitis,
namun tidak disertai perbesaran tonsil. Sedangkan pada kasus tumor tonsil,
terutama yang bersifat maligna gejela akan di awali dengan perbesaran KGB
regional, pembesaran tonsil yang asimetri, dan gejala sistemik berupa demam,
keringat malam hari, dan penurunan berat badan.

Tatalaksana nonmedikamentosa yang diberikan kepada pasien ini adalah


pasien tidak diperbolehkan mengonsumsi es, gorengan, dan makanan pedas
karena dapat memperberat peradangan yang terjadi. Terapi medika mentosa
diberikan dexamethasone 2 x ½ amp IV guna mengatasi peradangan berlangung.
Antibiotik ampicillin sulbaktam 4x 250mg IV diberikan untuk menanggulangi
patogen penyebab infeksi. Ampicilin merupakan antibiotik spektrum luas dan
bersifat bakterisidal yang efektif untuk bakteri gram positif dan bakteri gram
negatif. Asam traneksamat 3 x 500 mg IV untuk menangani perdarahan pasca
operasi. Ranitidin 2x 1 amp IV dan ondansetron 2 x 1 amp IV diberikan untuk
menangani sindrom dispepsia pada pasien.

Pasien menjalani tindakan tonsilektomi dengan indikasi gejala pasien yang


mengorok ketika tidur menandakan pasien mengalami Obstructive Sleep Apnea
Sysdrome (OSAS) dan sesak napas yang mengganggu kegiatan sehari-hari pasien.
Tonsilektomi adalah prosedur pengangkatan tonsil yang dilakukan dengan atau
tanpa adenoidektomi. Hal ini guna membebaskan jalan napas, menghilangkan
fokus infeksi, dan sebagai tindakan terapeutik atas penyakit tonsilitis kronik pada
pasien yang sering kambuh.
BAB V
KESIMPULAN

Seorang anak perempuan usia 9 tahun datang dengan keluhan sesak napas
± 30 SMRS. Keluhan disertai nyeri menelan, mual, dan terkadang batuk. Keluhan
sudah dirasakan sejak 3 bulan yang lalu hilang timbul dan memburuk. Selain itu
pasien juga mengorok ketika tidur. Pasien diketahui suka mengonsumsi es dan
gorengan. Dari hasil pemeriksaan fisik pada rongga mulut didapatkan tonsil
hipertrofi T4/T4, hiperemis, kripta melebar, dan terdapat detritus. Ditemukan pula
faring yang hiperemis, palatum mole dan mukosa mulut yang hiperemis. Pasien
menjalani tindakan pembedahan tonsilektomi.

Diagnosis kerja pasien adalah tonsilitis kronik eksaserbasi akut.


Tatalaksana nonmedika mentosa yang diberikan berupa menghindari faktor resiko
dan menjaga hieginitas rongga mulut. Terapi medikamentosa yang diberikan
berika antiinflamasi, antibiotik, pereda perdarahan, H2 blocker, dan anti emetik.
Tindakan pembedahan tonsilektomi dilakukan untuk membebaskan jalan napas,
menghilangkan fokus infeksi, dan sebagai tindakan terapeutik atas penyakit
tonsilitis kronik pada pasien yang sering kambuh.
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi.E.A,et all. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok


Kepala Leher. 6th ed. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2007.
2. Medical Disbility Advisor. Tonsillitis and Adenoiditis. [online]. 2011 .[cited,
2018, March 13). Available from URL:
http://www.mdguidelines.com/tonsillitis-and-adenoiditis/
3. Nyimas, F.N. $Merry I. S.Tonsilitis Kronik Eksaserbasi Akut pada Pasien
Dewasa. Lampung: J Medula Unila, Vol 5; No. 1; Mei, 2016; Pg. 107.
4. Epocrates. Tonsillitis epidemiology. AnAthenahealth Service[internet]. 2015
[disitasi tanggal 13 Maret 2018]. Tersedia
dari:http://onlie.epocrates.com/diseases/59823/Tonsillitis/Epidemiology/
5. Pulungan MR & Novialdi N. Mikrobiologi tonsilitis kronis.Padang: Fakultas
Kedokteran Universitas Andalas Padang; 2010.
6. Adams.G.L, Boies.L.R, Higler. P.A. Boies Buku Ajar Penyakit THT. 6th
ed.Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC. 2004.
7. Robertson, J.S. 2004. Journal of Tonsilitis. Available at:
http://www.emedicine.com. Diakses pada 13 Maret 2018.
8. Caparas.M.B, Lim.M.G. Basic Otolaryngology. Publication of comittee of the
collegeof Medicine: University of the Philippines. 1998.
9. Amalia, Nina. Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis D RSUP H. Adam
Malik: Medan, 2009.
10. Boies AH. Rongga Mulut dan Faring. In: Boies Buku Ajar Penyakit THT.
Jakarta: ECG, 1997; p263-340.
11. Brodsky, L, Poje, C 2006. Tonsillitis, tonsillectomy, and adenoidectomy.
Head & Neck Surgery-Otolaryngology. 4th edn. Lippincort-William &
Wilkins. Philadelphia, pp. 979-991.
12. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-Bedah KL Indonesia. Panduan Praktek
Klinis Tindakan. Jakarta. 2015.