Anda di halaman 1dari 37

TINGKAH LAKU REPRODUKSI PADA KUCING

Oleh:

Ivo Febrina Prasetyo


061714153002

S2-Ilmu Biologi Reproduksi


Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Airlangga
2017/2018
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kucing merupakan hewan kesayangan yang paling populer. Pentingnya mempelajari

reproduksi spesies ini disebabkan oleh meningkatnya perhatian kucing domestik sebagai model

penelitian dan pentingnya mempelajari fenomena induksi-kopulasi ovulasi. Akhir-akhir ini,

banyak pemelihara kucing mulai membiakkan dan membesarkan kucing untuk memperbaiki

spesies, bahkan menciptakan strain dan breed kucing yang baru. Metode breeding pada kucing

dilakukan ketika musim kawin. Waktu yang tepat ketika kucing mampu menghasilkan keturunan

optimal perlu dipahami dalam melakukan breeding.

Setiap individu kucing umumnya memiliki tingkah laku reproduksi yang sama, namun

adapula sebagian kecil yang berbeda. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh faktor lingkungan dan

faktor genetic. Daylenght dan musim merupakan salah satu contoh faktor yang mempengaruhi

tingkah laku reproduksi dari kucing terumata waktu pubertas dan ovulasi. Kucing yang tinggal di

alam liar dan kucing rumahan pasti memilki waktu pubertas dan lama ovulasi yang berbeda.

Untuk dapat melakukan breeding yang baik, seorang dokter hewan maupun pemilik harus

mengenali tingkah laku reproduksi baik dari kucing betina maupun kucing jantan. Mulai dari

waktu pubertas, siklus reproduksi, tingkah laku pre-post kawin, tingkah laku pre-post melahirkan

dan tingkah laku keibuan. Maka dari itu pada makalah ini akan dijelaskan tingkah laku reproduksi

pada kucing betina dan kucing jantan.


1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana tingkah laku reproduksi pada kucing betina?

2. Bagaiman tingkah laku reproduksi pada kucing jantan?

1.3 Tujuan

Dapat mengetahui dan menjelaskan tingkah laku reproduksi dari kucing betina dan kucing

jantan secara detail. Mulai dari tingkah laku dari awal pubertas, terjadi kopulasi hingga tingkah

laku setelah mempunyai anak baik dari kucing betina maupun kucing jantan.
BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Kucing Betina

Fisiologi reproduksi kucing betina berbeda dari banyak spesies peliharaan lainnya. Queen

(kucing betina) biasanya mencapai pubertas pada usia 4-12 bulan, waktu yang tepat tergantung

dari beberapa faktor seperti pencahayaan,(daylenght), berat badan (setidaknya 80% dari berat

badan dewasanya) dan adanya kucing jantan disekitarnya. Namun kebanyakan kucing betina

mengalami dewasa kelamin dimulai pada usia 6-8 bulan, disebut dewasa kelamin ketika kucing

betina mulai mengalami birahi. Siklus birahi di kucing betina terdiri dari beberapa fase. Hal ini

umumnya dibagi menjadi lima fase perilaku: proestrus, estrus, interestrus, diestrus dan anestrus.

Kucing betina memiliki siklus birahi yakni polyestrous musiman, yang berarti bahwa ia

memiliki beberapa siklus estrus selama musim kawin, dimana akan terjadi siklus anestrus yang

panjang jika sinar matahari jarang terlihat (sedikit menerima pencahayaan). Di negara yang

memiliki 4 musim, biasanya musim kawin dimulai pada bulan Januari atau Februari dan berlanjut

sampai akhir musim panas atau awal musim gugur. Mulai sekitar bulan Januari, kucing betina akan

terus heat setiap 7-10 hari sampai dia dibesarkan atau jumlah siang hari berkurang (biasanya

sekitar bulan Oktober). Kucing yang disimpan di dalam rumah dan terpapar lampu buatan mungkin

akan memiliki siklus estrus sepanjang tahun. Kucing betina memiliki tipe ovulasi yakni dengan

induced ovulation, dimana dengan terjadinya kopulasi akan menyebabkan pelepasan luteinizing

hormone (LH) yang merangsang terjadinya ovulasi. Sehingga kucing betina tidak mengalami masa

menstruasi (proses peluruhan peluruhan dinding rahim disertai robeknya pembuluh darah). Hal

ini berlaku di sebagian besar Queen (Kucing betina), tetapi saat ini telah terdapat catatan bahwa

juga terjadi ovulasi spontan pada beberapa kucing betina secara sporadis.
2.2 Siklus Birahi Kucing Betina

2.2.1 Proestrus

Kucing betina memasuki fase proestrus jika kucing terlihat gelisah, vagina terlihat

memerah, lembab dan sedikit bengkak yang disertai pula peningkatan nafsu makan. Selain itu

kucing betina juga akan bersuara, menggosokkan kepala dan leher terhadap benda (atau bahkan

kaki pemiliknya) serta berguling-guling di tanah. Pada fase ini kucing betina sudah memasuki

masa heat, dimana kucing jantan mulai tertarik mengawini namun kucing betina masih menolak

dan tidak memungkinkan kucing jantan untuk menaikinya. Biasanya pada fase ini mulai terjadinya

neck grip oleh kucing jantan. Proestrus terjadi selama 1-2 hari. Fase proestrus terdiri dari

pertumbuhan folikel dan sintesis estrogen yang mana masuk ke dalam sirkulasi dengan konsentrasi

tinggi. Kosentrasi estrogen pada Queen pada fase proestrus dua kali lebih tinggi daripada pada fase

anestrus maupun interestrus. Akhir proestrus ditandai dengan penerimaan kucing betina terhadap

kucing jantan.

Gambar 1. Kaki mulai menapak pada lantai dan tubuh kucing betina menggeliat
2.2.2 Estrus

Fase kedua adalah fase estrus atau umum disebut fase birahi, dimana terjadinya proses

reproduksi seksual. Kucing betina telah siap “menerima” atau mau dinaikki kucing jantan.

Biasanya Queen (kucing betina) menerima kehadiran Tom (kucing jantan) yang mengelus-elus

bagian belakang di dasar ekor dari Queen. Kucing betina umumnya memperlihatkan sifat yang

lebih manja, suka bergulung-gulung dan menggosok-gosokkan bagian tubuh ke tembok atau kaki

pemilik, suara terdengar lebih melengking, menginginkan keluar dari rumah untuk pergi mencari

wilayah jantan, lebih sering kencing, posisi menerima (lordosis), memegang ekornya ke samping

untuk mengekspos alat kelaminnya, produksi debit vulva jelas dan suka mengangkat ekor ke satu

sisi tubuh, terkadang ada juga Queen yang murung. Namun demikian, masing-masing individu

dapat menunjukkan gejala birahi yang berbeda-beda. Fase proestrus dan estrus umumnya sulit

dibedakan secara jelas. Periode ini terjadi 4-10 hari, umumnya fase estrus dan biasanya

berlangsung selama rata-rata 7,2 hari.

Lordosis diperlukan jika intromission adalah untuk terjadi dan dapat dirangsang oleh

injakan kucing jantan yang menaikki. Sementara kucing jantan melakukan penyodoran untuk

kopulasi, betina menyesuaikan posisinya dengan sedikit menginjak alternatif dengan hindlimbs

nya. Selama estrus, langkah ini berirama, penyimpangan ekor, dan bergulir dapat dimulai dengan

lembut membelai atau menekan perineum betina, mengapit, atau belakang. Ekspresi wajah terkait

dengan kawin sering intens, mirip dengan yang terlihat pada kucing agresif dan beberapa yang

menakutkan. Selain itu, telinga diposisikan rostrolaterally. Jongkok, menggosok, bergulir, dan

menginjak bagian dari courtship terakhir antara 10 detik dan 5 menit, cenderung lebih pendek

dengan breedings diulang.


Perilaku estrus terkait erat dengan fase folikuler, yang didefinisikan sebagai periode waktu

ketika folikel memproduksi dan mensekresikan estrogen dengan kadar yang sangat tinggi. Ada

yang menyebutkan kalau fase folikuler terjadi selama 3-16 hari dengan rata-rata 7,4 hari, dimana

panjang fase ini dapat berubah dengan adanya proses kopulasi atau ovulasi. Hanya 8% dari kucing

betina menunjukkan perilaku estrus pada hari 1 dari fase folikuler sementara itu bisa dilihat pada

100% dari kucing betina pada hari ke 5. Tingkat darah estrogen terus meningkat hingga mencapai

konsentrasi puncak, rata-rata mencapai pada hari 3 dari fase folikuler, dan kemudian dengan cepat

menurun, namun ada pada sebagian kucing betina yang tingkat kosentrasi estrogennya terus

meningkat atau konsisten (tidak menurun) sehingga menunjukkan perilaku estrus sampai 1-4 hari

setelah fase folikular berakhir. Bahkan jika ovulasi diinduksi, dimana konsentrasi progesteron

plasma mulai meningkat, hal ini menandai berakhirnya fase estrus. Jika ovulasi tidak diinduksi

selama estrus, Queen akan memasuki fase anovulasi, sering disebut sebagai interestrus, dan

melanjutkan ke proestrus lagi segera setelah itu. Jika ratu berovulasi selama estrus, ia akan menjadi

baik hamil atau pseudopregnancy.

2.2.3 Interestrus

Kucing betina akan memasuki fase interestrus setelah periode estrus berakhir. Ini adalah

periode tidak aktifnya reproduksi dan juga periode siklus estrus yang membuat kucing betina

berbeda dari betina spesies pelihaaraan lainnya. Periode interestrus telah diamati untuk bertahan

selama 1,4-16,6 hari, dengan rata-rata 9 hari, fase interestrus akan lebih lama jika ovulasi diinduksi

selama estrus. Estrogen dan progesteron dalam sirkulasi tetap rendah selama fase interestrus,

karena hormon ovarium tidak aktif. Kucing betina kembali ke perilaku normal dan tidak menarik

kucing jantan. Interestrus kadang-kadang disebut sebagai hasil dari 3 hal yang berbeda setelah fase
estrus yakni fase anovulasi, pseudo-kehamilan setelah ovulasi atau kehamilan. Jika interestrus

disebut dengan cara ini, istilah diestrus biasanya tidak digunakan. Dalam studi saat ini namun,

interestrus didefinisikan sebagai terdiri dari fase anovulasi saja.

2.2.4 Diestrus

Setelah masa birahi berakhir, kucing betina akan memasuki fase diestrus atau masa tidak

ingin dikawini, fase ini berlangsung selama 1-2 minggu. Kucing betina akan terlihat secara agresif

menolak untuk dikawini. Jika setelah masa ini berakhir namun tidak terjadi kehamilan, kucing

akan kembali pada fase awal yaitu fase proestrus. Diestrus didefinisikan sebagai periode dominasi

progesteron, yang merupakan fase setelah estrus jika ovulasi diinduksi. Kucing betina yang

diestrus dapat berupa hamil atau pseudo-hamil, makna yang terakhir bahwa dia berovulasi tapi

tidak hamil. Corpora lutea berkembang 1-2 hari setelah ovulasi dan mulai mensintesis dan

mensekresi progesteron, yang menghambat sekresi hormon gonadotropin-releasing hormone

(GnRH) dari hipotalamus dan, pada gilirannya, LH dan follicle stimulating hormone (FSH) dari

kelenjar pituitary juga terhambat. Pada akhir diestrus, kucing betina akan melanjutkan menjadi

baik proestrus atau anestrus, tergantung pada musim.

2.2.5 Anestrus

Fase yang terakhir adalah fase anestrus yang sering disebut sebagai musim non-breeding.

Salah satu faktor penting dari birahi adalah tersedianya sinar matahari dan suhu lingkungan yang

cukup. Di negara yang memiliki 4 musim, biasanya masa kawin terjadi pada bulan dimana tersedia

sinar matahari yang cukup, umumnya terjadi pada bulan Januari/Februari sampai akhir September.
Di Indonesia dimana matahari bersinar cukup teratur, fase anestrus jarang bisa diamati. Anestrus

adalah fase dormansi reproduksi di mana konsentrasi plasma dari kedua estrogen dan progesteron

tetap pada tingkat basal. Betina tidak menarik perhatian pejantan atau mengekspresikan perilaku

seksual. Pada kucing betina yang subur di Swedia, anestrus musiman biasanya dimulai pada akhir

musim panas atau awal musim gugur dan terakhir sampai awal musim semi. Karena Queen (kucing

betina) tergantung pada penyinaran untuk siklus estrusnya, hari lebih pendek (penyinaran yang

sedikit) dapat memicu timbulnya anestrus bahkan di tengah musim kawin. Selain itu, suhu yang

lebih tinggi memungkinkan dimulainya periode anestrus, seperti yang terjadi selama musim panas

tinggi. Oleh karena itu, musim kawin kadang-kadang dibagi menjadi dua periode, yakni di musim

semi dan di awal musim gugur, dengan periode anestrus selama bulan-bulan hangat musim panas.

Betina yang anestrous juga menunjukkan perilaku agresif dalam upaya untuk membebaskan diri

dari pemasangan yang tidak diinginkan. Sinyal penciuman dari daerah vulva-nya ternyata yang

menjijikkan bagi beberapa kucing jantan, yang akan cepat berpaling setelah berbau perineum-nya.

Selain itu posisinya tidak lordosis, melainkan hampir duduk.

2.3 Induced Ovulation

Selama sanggama/kopulasi, penis Tom (kucing jantan) merangsang reseptor di vagina

yang mengirimkan sinyal ke hipotalamus melalui saraf tulang belakang aferen. Hipotalamus

dirangsang untuk melepaskan GnRH, yang pada gilirannya menyebabkan pelepasan LH dan FSH

dari kelenjar pituitari. Pelepasan FSH kemudian dihambat oleh inhibin dari folikel besar.

Ovulasi spontan telah sering diamati meskipun sebagian besar kucing betina perlu

rangsangan mekanik atau farmasi untuk ovulasi. Telah terlihat bahwa ovulasi refleks lebih sering

terjadi pada beberapa individu, tetapi pada kondisi perumahan (seperti kedekatan dengan pemilik

dan hewan lainnya dalam rumah tangga) dan kehadiran kucing jantah telah disimpulkan menjadi
faktor penting juga. Dalam beberapa spesies kucing liar telah diamati bahwa kehadiran kucing

betina lain dalam estrus memicu ovulasi spontan pada frekuensi yang lebih tinggi.

2.3.1 Dampak Sanggama/Kopulasi Tunggal dan Ganda

Meskipun kucing betina dianggap menjadi ovulator induksi, proses sanggama tunggal

tidak selalu cukup untuk menyebabkan puncak LH yang diperlukan untuk ovulasi. Dalam sebuah

penelitian yang dilakukan oleh Concannon et al. (1980), hanya 50% dari Queen (kucing betina)

yang ovulasi setelah kawin tunggal dengan Tom (kucing jantan) yang subur, yang menunjukkan

variabilitas yang signifikan antara individu dalam regulasi puncak LH. Variasi antar individu ini

disarankan menjadi faktor utama memutuskan apakah ovulasi terjadi atau tidak. Setelah empat kali

kopulasi, 100% dari Queen (kucing betina) telah berovulasi. Dalam studi yang sama, itu

menunjukkan bahwa kadar plasma dari LH di Queen (kucing betina) yang berovulasi lebih tinggi

dan berlangsung lama setelah beberapa sanggama dibandingkan dengan setelah kawin tunggal.

Pelepasan LH setelah kopulasi tunggal terjadi hanya beberapa menit setelah kawin dan

mempunyai puncak konsentrasi 10 menit sampai 1 jam kemudian, dan masih meningkat 8 jam

setelah itu pada kucing betina yang berovulasi. Sebagai perbandingan, puncak LH setelah empat

sanggama diamati pada 1 jam di 13 dari betina, dan setelah 4 jam di 10 kucing betina yang tersisa.

Durasi tepat dari peningkatan kadar LH dalam plasma berikut beberapa sanggama tidak

didokumentasikan dalam studi ini, walaupun konsentrasi beredar di 8 jam setelah sanggama

pertama jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat di betina tunggal dikawinkan. Dalam betina

yang tidak berovulasi setelah kawin tunggal, konsentrasi plasma pada tingkat basal setelah 4 jam,

dan konsentrasi puncak adalah lebih rendah dibandingkan dengan kucing betina yang berovulasi.

Hubungan antara beberapa sanggama dan konsentrasi LH dapat dilihat pada gambar meskipun
konsentrasi yang beredar di 8 jam setelah sanggama pertama adalah jauh lebih tinggi dibandingkan

dengan tingkat pada kucing betina yang dikawinkan tunggal. Dalam betina yang tidak berovulasi

setelah kawin tunggal, konsentrasi plasma pada tingkat basal setelah 4 jam.

Perbedaan yang signifikan antara konsentrasi plasma pada kucing betina yang dikawinkan

tunggal dan kucing betina yang dikawinkan beberapa kali diyakini hasil dari release ulang GnRH.

Ini juga menunjukkan bahwa interval antara beberapa sanggama mungkin memiliki efek pada

ovulasi (Concannon et al., 1980). Dalam sebuah studi oleh Shille et al. ( 1983), dapat disimpulkan

bahwa peningkatan kadar LH selama 2-4 jam dapat menginduksi ovulasi pada Queen (kucing

betina), dan bahwa lonjakan LH berkepanjangan tidak diperlukan. Pelepasan LH setelah kopulasi

pada kucing betina telah diamati terus menerus, sementara release selama sisa siklus estrus telah

terbukti berdenyut. Hal ini tidak terlihat pada spesies dengan ovulasi spontan, di mana release

berdenyut diintensifkan hanya sesaat sebelum ovulasi (Shille et al., 1983).


2.3.2 Ovulasi Pada Hari Estrus yang Berbeda

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Bank & Stabenfeldt (1982), itu bisa diamati bahwa

hari estrus ketika kucing betina dikawinkan berdampak pada lonjakan LH dia bisa menghasilkan.

Sebuah release LH cukup untuk menginduksi ovulasi terlihat setelah dua perkawinan pada hari 1

estrus hanya 6 dari 14 kucing betina, sementara 9 dari 14 mampu menghasilkan lonjakan ovulasi

pada hari 2. Salah satu teori penulis adalah bahwa baik kelenjar hipofisis atau hipotalamus

membutuhkan peningkatan kadar estrogen plasma yang terjadi selama fase folikular menjadi siap

untuk merilis jumlah yang cukup GnRH dan sebagai tanggapan LH. Para peneliti juga berkomentar

bahwa ini mungkin hasil dari fase folikuler tidak mulus bertepatan dengan perilaku estrus, seperti

yang diamati oleh Shille et al. (1979). Namun, Wildt et al., ( 1981) menemukan bahwa tiga

sanggama dalam jangka waktu 3 jam diinduksi ovulasi di 10 dari 12 betina pada hari pertama

estrus, menunjukkan bahwa dua perkawinan per kucing betina di studi pertama mungkin tidak

cukup. Teori lain untuk hasil yang berbeda, seperti yang disarankan oleh Bank & Stabenfeldt

(1982), mungkin interval antara sanggama, sebagai dua perkawinan dalam studi mereka terjadi 6

jam terpisah. Hal itu juga terlihat dalam penelitian ini bahwa selama satu fase estrus, kucing betina

mampu satu-dua LH lonjakan cukup untuk menginduksi ovulasi. Hal ini sesuai dengan penelitian

yang dilakukan oleh Wildt et al. ( 1982), yang menunjukkan bahwa konsentrasi LH mencapai

puncaknya pada hari 1 dan 2 dari estrus ketika ratu sedang dikawinkan beberapa kali, tapi terus

kopulasi setelah itu tidak menyebabkan lonjakan hormon yang signifikan.


2.3.3 Waktu Ovulasi Setelah Kopulasi

Dalam sebuah studi oleh Shille et al., ( 1983), tanda-tanda pertama ovulasi yang terdeteksi

23 jam setelah kopulasi, dengan ovulasi selesai pada 25 jam. Rata-rata waktu untuk ovulasi terjadi

disimpulkan menjadi 23-32 jam setelah kawin dan jumlah sanggama tampaknya tidak mengubah

panjang periode itu. Namun, dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wildt et al., (

1981), waktu dari kopulasi ovulasi terbukti menjadi 48-64 jam. Perlu dicatat bahwa dalam studi

pertama disebutkan, kucing betina dikawinkan pada hari 3-4 dari estrus, dan di salah satu yang

dilakukan oleh Wildt et al., (1981), betina dikawinkan pada hari pertama estrus dan kemudian

berulang kali pada berikut hari sepanjang siklus. Menurut Bank & Stabenfeldt (1982), studi

sebelumnya (Shille, 1979) menemukan bahwa waktu dari kopulasi ovulasi berkisar antara 25-30

jam, tetapi tidak ada teks lengkap dapat ditemukan pada saat ini.

2.4 Perilaku Postmating Pada Kucing Betina

Perilaku postmating pada betina bersifat dramatis. Kucing jantan mulai menarik penis

setelah ejakulasi. Kemudian kucing betina akan mengucapkan teriakan sanggama, menusuk

vokalisasi melengking. Kemudian kucing betina akan berubah agresif pada kucing jantan. Pada

kucing jantan yang familiar, kucing betina mungkin kurang agresif dan mungkin malah

melanjutkan langsung ke “afterreaction.” Selama afterreaction, bagian consummatory perilaku

seksual betina, dia lagi gulungan di lantai, membentang, dan menjilati vulvanya. Periode ini

berlangsung dari 1 sampai 7 menit.


Gambar 2. Perilaku afferection setelah kawin

Perilaku kawin ketika estrus biasanya berlangsung 1-95 menit (rata-rata 19 menit).

Pasangan berpengalaman mungkin dapat kawin sesering 8 kali dalam 20 menit, atau 10 kali per

jam. Kucing betina telah dikenal untuk kawin lebih dari 50 kali selama periode estrus. Dan akan

kawin terus selama beberapa hari ke depan, periode refrakter (waktu antara perilaku ini) menjadi

lebih panjang. Interval kawin betina, bagaimanapun, benar-benar menurun, dan dia menjadi lebih

aktif dalam mendorong kucing jantan untuk me-mount. Hal ini terutama berlaku dari kucing betina

naif. Jadi kucing jantan merupakan peran utama yang bertanggung jawab untuk peningkatan selang

waktu antara breedings. Seekor kucing betina estrus dapat dikondisikan untuk menganggap postur

estrus setiap kali dia ditempatkan di daerah kawin, bahkan tanpa adanya laki-laki.

Sebuah atraksi saling menguntungkan antara tomcat dan ratu bisa bertahan untuk waktu

yang lama. Seekor kucing betina umumnya akan menerima sejumlah kucing jantan selama periode

estrus, dan banyak tandu memiliki beberapa indukan. Jika ada tomcat pusat, dia adalah pemacek
utama dari kelompok betina. Ketika betina berada di dekat pejantan utama terkait, mereka/kucing

jantan lain lebih cenderung untuk meninggalkan daerah asalnya selama estrus daripada terjadi

pertengkaran.

Kucing adalah ovulator diinduksi, sehingga betina estrus umumnya tidak berovulasi

kecuali kawin terjadi. Ovulasi terjadi sekitar 24 jam setelah sanggama-jumlah yang sama waktu

yang dibutuhkan sperma untuk memberi hak. Ovulasi mungkin disebabkan oleh stimulasi vagina

dari duri penis jantan atau dengan cara buatan, seperti dengan batang kaca. Lebih dari satu kawin

alam mungkin diperlukan untuk pembuahan. Stimulasi buatan membutuhkan beberapa sisipan

sekitar 10 detik dalam durasi, 5 sampai 10 menit terpisah, selama periode 48-jam. Sukses stimulasi

dengan metode baik menyebabkan agresi postcopulation khas. Jumlah situs ovulasi pada ovarium

bervariasi secara langsung dengan jumlah perkawinan dan dapat mencakup sebanyak 86,6% dari

folikel dengan perkawinan diulang. Semua telur meninggalkan ovarium pada waktu yang sama.

Estrus berakhir dengan tiba-tiba, dalam waktu 24 jam setelah coitus. Jika hamil, kucing

biasanya tidak akan kembali ke estrus lagi sampai puncak musiman berikutnya atau tahun depan.

Namun, sekitar 10% dari ratu hamil menampilkan perilaku estrus dan menghasilkan smear vagina

khas estrus selama ketiga untuk minggu keenam kehamilan, mungkin karena sekresi estrogen oleh

plasenta. Kawin pada saat ini dapat mengakibatkan superfetation. Ratu keperawatan juga telah

dikenal untuk menunjukkan estrus 7 sampai 10 hari setelah kelahiran, namun estrus umumnya

tidak terjadi selama menyusui, sehingga sebagian besar tidak kembali ke estrus sampai 6 sampai

8 minggu setelah melahirkan. Hal ini dapat ditunda selama 21 minggu. Postpartum estrus memiliki

durasi lebih pendek dari estrus awal, rata-rata 3,8 hari.

Bila tidak ada tomcat hadir, perempuan tetap dalam estrus selama 10 sampai 14 hari,

meskipun estrus pertama mungkin berlangsung hanya 5 sampai 10 hari. Dia kembali ke estrus
dalam 9,0 ± 7,6 hari (kisaran 5-22 hari). Beberapa studi menunjukkan perbedaan minimal antara

durasi estrus dibesarkan dan terbuka. Rata-rata siklus estrus adalah 21 hingga 29 hari panjang,

tetapi dapat bervariasi 5-73 hari. perempuan muda cenderung menunjukkan tanda-tanda estrus

minimal; menjadi hyperexcitable, anorectic, atau ditarik; dan memiliki periode estrus lebih

pendek. Sebaliknya, betina yang lebih tua terus siklus, meskipun interval antara periode estrus

dapat meningkatkan dan durasi dan intensitas penurunan perilaku estrus. Sekitar 35% dari waktu,

ovulasi akan terjadi tanpa coitus. Dalam kucing tersebut atau di salah satu yang dikawinkan tapi

tidak hamil, fase luteal akan berlangsung 30 sampai 36 hari dan interval interestrous adalah 35-76

hari.

Karena beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi masa pubertas pada wanita juga

dapat mempengaruhi timbulnya estrus, wanita hamil telah digambarkan sebagai dalam “potensial”

estrus selama musim kawin. Hasil paparan faktor-faktor tertentu, seperti tomcat atau betina

bersepeda lainnya, adalah munculnya proestrus dan estrus dalam beberapa jam ke 3 atau 4 hari

dan sinkronisasi dengan kelompok-kelompok perempuan. Asam valeric berlimpah di sekresi

vagina selama estrus dan mungkin terkait dengan sinkronisasi. Faktor-faktor lain, seperti relokasi

koloni, dapat mengakibatkan koordinasi siklus estrus 42% menjadi 77% dari betina.

Perilaku estrus telah dikendalikan dengan kucing jantan vasectomized. Pada wanita

dikawinkan dengan Tomcat tersebut, estrus berlangsung sekitar 7 hari dan diikuti oleh periode

interestrous 36- ke 44-hari pseudopregnancy. Perilaku kucing betina, smear vagina, dan fase-nya

dalam siklus reproduksi sangat erat berkorelasi. Kucing menunjukkan perilaku estrus dalam satu

studi, 78% memiliki smear vagina estrus sepenuhnya cornified dan 18% berada di proestrus.
2.5 Kebuntingan

Durasi kehamilan pada kucing berkisar 60-68 hari, dengan rata-rata 65 sampai 66 hari.

periode kehamilan 52-71 hari telah dilaporkan. Namun, kelahiran sebelum 60 hari harus dianggap

sebagai prematur karena mereka sering disertai dengan tingkat lahir mati yang tinggi dan kematian

postnatal awal.

Selama ketiga terakhir kehamilan, perubahan perilaku yang jelas terjadi, meskipun

beberapa ratu telah menunjukkan peningkatan kepatuhan. Seiring dengan kenaikan berat badan

yang cepat, terutama akibat dari pertumbuhan janin, datang peningkatan nafsu makan, penurunan

aktivitas, dan penurunan kelincahan. Sebuah distensi sedikit mammae dapat juga terjadi.

Pada minggu segera sebelum kelahiran, ratu akan mencari tempat gelap, daerah kering di

mana dia bisa tetap relatif tidak terganggu. Idealnya, tempat ini juga akan berisi berlindung dari

unsur-unsur dan bahan selimut lembut. Seorang ratu dapat memilih, situs sarang tunggal

tersembunyi, atau jika dia berhubungan dengan kelompok, ia dapat berbagi sarang komunal.

Pemilihan lokasi mungkin berhubungan dengan tingkat penutup tersedia atau kedekatan dengan

sumber makanan bagi ratu atau anak-anaknya yang lebih tua. Mungkin bahkan mungkin dipilih

untuk interaksi sosial mungkin. Pilihan ini awal daerah bersarang memungkinkan untuk waktu

yang dibutuhkan untuk situs untuk mengambil bau betina sehingga ia dapat bersantai di lingkungan

yang akrab. Hal ini agak mirip dengan fungsi urin disemprotkan di lingkungan tomcat ini. Jumlah

pengasingan disukai oleh betina selama proses kelahiran sangat individual. Beberapa benar-benar

mencari persahabatan manusia saat ini dan akhirnya dapat memilih tempat tidur pemilik sebagai

daerah queening. Kebanyakan lebih memilih pengasingan dan akan menemukan hayloft dari

gudang lebih dapat diterima. Queens hidup dengan beberapa betina terkait dan tidak terkait lainnya

dapat menggunakan sarang komunal. Selama minggu terakhir ratu drive off anak kucing dari
sampah sebelumnya yang masih bersamanya. Setelah queening, bagaimanapun, dia dapat

menerima mereka kembali ke perawat dengan anak barunya. Selama periode ini sebelum

melahirkan, Ratu biasanya menghabiskan peningkatan jumlah waktu di diri grooming, terutama

dari daerah susu dan perineum-nya, mungkin karena peningkatan sensitivitas kulit di daerah

tersebut. Kepribadiannya juga dapat menjadi lebih mudah marah atau defensif.

Sebagai proses kelahiran menjadi dekat, betina menjadi semakin gelisah, menggali di lantai

atau bahan bersarang, dan mengasumsikan postur buang air besar tanpa buang air besar. Mungkin

ada memanggil vokalisasi, terutama dengan kucing Siam, dan beberapa ratu menjadi terlalu cemas,

hampir panik.

2.5.1 Proses Kelahiran

Kebanyakan kelahiran terjadi pada malam hari, sering di lokasi terpencil, sehingga proses

kelahiran tidak selalu diamati. Karena kucing adalah multipara, empat fase yang biasanya terkait

dengan proses kelahiran yang diulang beberapa kali. Penghentian kelahiran anak kucing terjadi

pada awal kontraksi untuk selanjutnya. Dengan hewan multipara, pengiriman plasenta tidak selalu

menandai berakhirnya proses kelahiran. Total waktu untuk rentang kelahiran yang normal 4-42

jam (16,1 ± 14,3 jam rata-rata).

Masing-masing dari empat fase kelahiran sangat bervariasi, tetapi agar mereka berlaku

untuk sebagian besar kelahiran. Inisiasi setiap tahap baru biasanya ditandai oleh perubahan

perilaku tiba-tiba, dari kontraksi menyebabkan menjilati genitoabdominal untuk pengiriman

plasenta mengakibatkan konsumsi plasenta.


2.5.1.1 Fase kontraksi

Selama tahap pertama, kontraksi, ratu menghabiskan banyak waktu menjilati dirinya atau

bayi baru lahir sudah disampaikan. Otot-otot perut menunjukkan kontraksi yang jelas, yang

dianggap untuk menemani kontraksi rahim. Gerakan anggota badan panggul oleh ratu harus

membantu membedakan ini kontraksi perut dari gerakan janin. Tanda-tanda lain dari kegelisahan

yang jelas. Selain jongkok dan menggaruk, ratu mungkin lingkaran, mengatur ulang tempat tidur,

roll, atau menggosok. Dia umumnya muncul tidak nyaman dan tampaknya akan terus mencoba

untuk menyesuaikan beberapa gangguan di bagian ekor dari tubuhnya, bahkan menguatkan

tubuhnya terhadap berbagai benda. Durasi fase kontraksi adalah variabel, mulai dari 12 detik untuk

1 ½ jam.

2.5.1.2 Fase munculnya

Selama fase munculnya, kontraksi uterus menyebabkan kucing untuk melewati jalan lahir

dan jeda di vulva. Biasanya kantung ketuban telah rusak oleh kontraksi rahim, tetapi jika tidak,

menjilati ratu segera istirahat itu. Pelepasan cairan dari kantung ketuban menyebabkan ratu untuk

menghabiskan waktu tambahan menjilati cairan dan kebetulan dirinya dan bayi yang baru lahir.

Ratu berpengalaman mungkin mengarahkan perhatian lebih pada bayi baru lahir, tetapi perilaku

lain yang cukup mirip dengan fase kontraksi.

2.5.1.3 Tahap pengiriman

Tahap ketiga, pengiriman, merupakan bagian dari janin dari vulva. Menjilat diarahkan

secara khusus pada kenaikan baru lahir, meskipun ratu mungkin tidak dimulai segera setelah

pengiriman. Menjilati ini memasok stimulus untuk inisiasi respirasi bayi baru lahir jika perjalanan

melalui jalan lahir tidak. Seorang ratu pertama-sampah cenderung menjadi yang paling gelisah dan
kurang kemungkinan untuk menjilati dirinya sendiri dan masing-masing anak kucing dengan

benar. Pengalaman rupanya diperlukan untuk memperbaiki perilaku ini. Dari penyerahan diri

lateral yang ratu mungkin mencoba untuk memposisikan dirinya setelah melahirkan dan mungkin

kebetulan menyeret anak kucing di sekitar dengan tali pusar masih terpasang, bahkan mungkin

melangkah atau duduk di atasnya. Distress menangis dari bayi yang baru lahir ini atau orang lain

sering diabaikan oleh Ratu saat ini, mungkin karena kegembiraan yang berhubungan dengan

kelahiran, atau ketidakpahaman dari isyarat vokal, atau keduanya. Anak kucing dapat terluka

selama periode ini. Tak lama setelah kelahiran, biasanya 1 sampai 4 menit kemudian, perempuan

menjadi responsif terhadap anak-anak kucing. Dia akan memutuskan tali pusat segera setelah

melahirkan dalam waktu sekitar sepertiga dari kelahiran.

Ada variasi yang luar biasa dalam interval antara kelahiran anak kucing, mulai biasanya

dari 32 detik untuk lebih dari 50 menit. Kebanyakan anak kucing dilahirkan dalam waktu 15

sampai 30 menit satu sama lain, dengan total waktu pengiriman dari 1 sampai 2 jam. Beberapa

ratu yang normal akan mengambil sebanyak 33 jam untuk menyelesaikan pengiriman, tetapi

gangguan biasanya eksternal, seperti tidak adanya pemilik atau bergerak dari daerah bersarang,

menyebabkan keterlambatan ekstrim ini. inersia uteri relatif jarang pada kucing. Tidak ada

hubungan antara urutan kelahiran anak kucing dan interval antara kelahiran dan bahwa dari

littermates nya.

2.5.1.4 Fase plasenta

Yang terakhir dari empat fase kelahiran, karena mereka biasanya terjadi, adalah fase

plasenta. Selama ini plasenta dikeluarkan dari saluran kelamin. Segera sebelum pengusiran ini,

perempuan menjadi gelisah, sekali lagi muncul untuk memusatkan perhatian ke arah bagian ekor

dari tubuhnya. Dia segera menanggapi munculnya jaringan ini, kadang-kadang makan sebelum itu
telah benar-benar muncul. Tidak ada hubungan telah ditunjukkan antara urutan kelahiran dan baik

interval respon terhadap plasenta atau tingkat dan kelengkapan konsumsi. Pada kali, anak kucing

kedua atau bahkan ketiga lahir sebelum tali pusat yang pertama terputus atau plasenta berlalu,

tetapi masing-masing akan dihadiri sebagai waktu memungkinkan. nilai gizi dari tembuni yang

cukup besar dan memungkinkan ratu untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan anaknya

selama beberapa hari pertama dibandingkan jika ia harus mencari makanan seperti biasa. Selain

itu, perilaku ini meminimalkan mengotori area sarang. ratu terus genital dan menjilati neonatal

selama fase plasenta tetapi membutuhkan waktu untuk memutuskan tali pusat dengan gigi taring

nya. tindakan menghancurkan mereka, peregangan pembuluh, atau keduanya mencegah

perdarahan pusar fatal. perawatan ratu selama fase ini membuat kanibalisme sebagai konsekuensi

dari makan berlebihan dari plasenta dan tali sangat langka. Bagi mereka ratu berbagi sarang

komunal, satu dapat dibantu segera setelah melahirkan oleh wanita lain. bantuan biasanya adalah

untuk membersihkan dan mengeringkan muda, tetapi dapat mencakup memutus tali pusat.

2.5. 2 Perilaku Keibuan

Pola sosial primer dipamerkan oleh kucing betina adalah perilaku ibu. Secara umum,

perilaku ini melibatkan menjilati berlebihan diri dan muda, serta mengurus muda. Selama beberapa

hari pertama setelah selesainya proses kelahiran, ratu tetap hampir terus-menerus dengan anak-

anak kucing, jarang meninggalkan selama lebih dari 2 jam pada suatu waktu, dan kemudian

terutama untuk makan dan olahraga. Selama hari-hari awal, anak-anak kucing sangat bergantung

pada ibu mereka untuk kehangatan. Beberapa saat kemudian mereka mampu mempertahankan

suhu tubuh dalam kehangatan ngerumpi kucing. Banyak waktu ratu selama beberapa hari pertama

dihabiskan menyusui keturunannya, meskipun anak-anak kucing mungkin tidak perawat selama 2
jam postpartum. Untuk menyusui, ratu “hadiah,” dengan asumsi penyerahan diri lateral yang

dengan anggota tubuhnya dan tubuh benar-benar melampirkan anak kucing. Dia bahkan mungkin

memutar tubuhnya untuk mengekspos lebih dari wilayah susu. Untuk merangsang muda untuk

mulai menyusui, menjilat perempuan dan sering membangunkan mereka. Awalnya arah menjilati

membantu orientasi anak-anak kucing buta ke wilayah susu, tapi kemudian, menjilati

terkonsentrasi pada daerah anogenital anak kucing untuk merangsang eliminasi. menelan ratu

limbah ini juga membantu menjaga area rumah belum kotor. Setelah ratu menyajikan mammae,

seluruh sampah biasanya perawat, tapi kadang-kadang mungkin hanya satu atau dua individu.

Selama minggu pertama, sekitar 90% dari waktu betina dihabiskan dengan anak-anaknya, dan

sebanyak 70% dihabiskan menyusui mereka. Pada minggu kelima, waktu dengan anak-anak

kucing menurun hingga 16%. Awalnya setiap kucing menghabiskan sekitar 25% dari keperawatan

waktu, yang menurun hingga sekitar 20% pada minggu kelima. Anak kucing menghabiskan

hampir seluruh waktu mereka di kontak dengan satu sama lain atau ratu selama 3 minggu pertama,

dan waktu kontak hanya menurun sampai 85% selama beberapa minggu ke depan.

2.6 Kehamilan Semu (Pseudo-pregnancy)

Pseudo-pregnancy atau kehamilan semu dapat terjadi pada kucing, walaupun jarang

ditemukan dan tidak sesering dijumpai seperti pada anjing. Pada kehamilan semu, kucing

menunjukkan tanda - tanda umum seperti yang dijumpai pada pada kucing hamil seperti muncul

gejala muntah, nafsu makan menurun, payudara membesar, serta perut membesar, namun ketika

Dilakukan pemeriksaan menunjukkan bahwa tidak ada fetus dalam rahim. Penyebab dari

kehamilan semu belum diketahui dengan pasti, namun diperkirakan karena kucing mengalami

ketidak-seimbangan hormon (progesteron dan prolaktin). Sumber lain mengatakan bahwa hal ini
terjadi karena kucing betina yang melakukan kawin dengan kucing jantan steril sehingga memicu

indung telur untuk melepaskan telur yang pada akhirnya tidak dibuahi. Kehamilan semu dapat

berlangsung antara 1 – 2 bulan.

2.7 Pematangan Sexual Kucing Jantan

2.7.1 Masa Pubertas

Dekat dengan waktu kelahiran, lonjakan testosteron membawa maskulinisasi neuron yang

secara langsung akan merangsang tingkah laku reproduksi/seksual dari kucing jantan. Namun, sel-

sel Leydig tetap tidak aktif setelah lonjakan ini sampai anak kucing jantan tersebut berumur sekitar

3 bulan. Setelah usia 3 bulan, anak kucing jantan memiliki testosteron yang cukup untuk memulai

pertumbuhan duri penis, yang mencapai ukuran penuh ketika berusia antara 6 sampai 7 bulan.

Pertumbuhan atau resesi duri penis memiliki korelasi positif dengan aktivitas androgen yang

menodorong perilaku kawin. Setelah usia 5 bulan testis anak kucing yang matang cukup untuk

proses spermatogenesis awal, tapi biasanya lain 1 atau 2 bulan harus lulus sebelum spermatozoa

dapat ditemukan dalam tubulus seminiferus.

Kematangan perilaku seksual, dapat ditunjukkan dengan terjadinya kopulasi yang

sempurna, hal ini terjadi setelah sperma masuk ke dalam tubulus semiferus, umumnya pada usia 9

sampai 12 bulan. Namun di alam liar, kucing jantan biasanya tidak dapat mencapai proses ini

sampai usia 18 bulan. Pola tertentu yang berkaitan dengan perilaku seksual muncul sebelum

kematangan seksual yang sempurna dan sering dikaitkan dengan aktivitas bermainnya. Meskipun

begitu biasanya anak kucing muda menaikki atau melakukan pegangan leher pada kucing lain

ketika bermain, beberapa kucing jantan mulai menaikki, menyodorkan panggul, dan menggigit

leher ketika usia masih 4 bulan. Namun mereka belum bisa mencapai intromission. Pemilik sering
menyadari akan increased roaming, intermale aggression, dan perilaku menandai dengan air

kencing, semua ini berhubungan dengan peningkatan testosteron saat pubertas.

Gambar 1. Sebuah kucing jantan 4-bulan-tua mounting littermate tidak kooperatif dalam bermain

prapubertas.

2.7.2 Siklus Reproduksi

Kucing jantan biasanya meninggalkan rumah tempat mereka dibesarkan ketika berusia

antara 1-3 tahun. Mereka biasanya disebut “kucing buangan/outcats” jika mereka menetap jauh

dari kucing jantan lain dan disebut juga “penantang/challengers” jika mereka menantang terhadap

kucing jantan lain.

Kucing jantan umumnya dianggap sebagai poligami, subur, dan aktif secara seksual

sepanjang tahun. Namun, penelitian menunjukkan bahwa kucing jantan memiliki pola siklik halus.

Siklus aktivitas seksual mencapai puncaknya pada musim semi dan titik rendah selama akhir

musim gugur di belahan bumi utara, ketika kucing betina juga nonreceptive secara alami. Titik

rendah ini memperlihatkan perilaku untuk kawin menurun, sehingga dalam operasi breeding

kucing, hal ini adalah waktu yang paling sulit untuk menjaga kucing jantan cukup kuat. Perubahan

umpan balik sensoris dari penis juga telah dilaporkan ada kaitannya dengan siklus reproduksi.
2.7.3 Longevity

Kucing jantan dewasa tidak hanya cenderung menunjukkan minat seksual di luar

kemampuan kawin mereka tetapi juga cenderung mempertahankan keinginan ini meskipun fungsi

reproduksinya dapat menurun seiring bertambahanya usia. Perilaku seksual kucing jantan biasanya

terlihat di semua kucing jantan baik yang muda maupun dewasa dan telah diamati pada kucing

jantan yang berusia 27 tahun.

2.8 Premating Behaviour

2.8.1 Territorial Effect

Wilayah merupakan hal yang sangat penting pada perilaku seksual kucing jantan. Setelah

tiba di area breeding, kucing jantan menghabiskan waktu untuk menyelidiki dan mengamati

wilayahnya, dan umumnya kucing jantan tidak akan berkembang biak di tempat yang asing.

Kadang-kadang kucing jantan mungkin memerlukan waktu lebih dari satu bulan untuk mengenal

wilayah sekitarnya, tapi pada umumnya hanya butuh beberapa hari untuk menjadi akrab dengan

wilayahnya. Untuk hasil terbaik, kucing betina harus dibawa atau diajak ke wilayah yang tidak

asing bagi kucing jantan. Jika wilayahnya terlalu kecil atau kucing jantan terbatas pada kandang

kecil, kapasitas reproduksi mungkin akan menurun.

Setelah area yang dipilih, kucing jantan sering menyemprotkan urin pada bagian yang

menonjol. Biasanya dia mengakat punggunya sampai sejajar dengan hidung, mengangkat ekornya

dan mengangkat salah satu kakinya, kemudian menyemprotkan urinnya. Kadang-kadang kucing

jantan melakukan gaya front-end-down, rear-end-up posture, hal ini memungkinkan untuk

menyemprotkan urinnya lebih tinggi, dan saat urinasi kucing jantan mengarahkan penisnya kearah
caudal, kemudian kucing jantan biasanya menggoyangkan ekor. Lokasi lain ditandai dengan

menggosokkan pipi. Meningkatnya frekuensi menandai selama musim kawin dapat membantu

meyakinkan kucing jantan akan wilayahnya, menarik kucing betina estrus, dan memperkuat bau

wilayahnya terhadap kucing jantan lain yang berkeliaran. Sehingga menandai dikaitkan dengan

respon terhadap gangguan psikologis, seperti invasi wilayah.

2.8.2 Intermale Aggression

Kucing jantan yang memiliki sebuah wilayah menjadi semakin mudah marah dan

melindungi wilayah mereka dari kucing jantan lain selama musim kawin. Hal ini menyebabkan

sebagian kucing jantan lain berkeliaran/berkelana ke lain tempat, mencari wilayah yang tidak

bertuan/memiliki pengakuan wilayah yang rendah dari kucing jantan lain, dan berintaksi dengan

beberapa kelompok kucing betina. Meningkatnya kontak antara kucing jantan akan meningkatkan

intermale aggression, terutama pada individu yang bertemu pada wilayah untuk bersama/berbagi.

Pada suatu rumah atau wilayah, sifat pemarah dari kucing jantan akan menurun jika kucing jantan

tidak dapat melihat maupun mendengar kucing betina estrus yang bersembunyi. Intermale

aggression, dikendalikan oleh hormone testosteron, dapat merubah kucing jantan berisifat kasar

menyukai kekerasan daripada mengutamakan perilaku seksualnya. Lingkungan tampaknya tidak

menjadi sangat penting, dan seranngan / kekerasan tidak akan terjadi jika tidak ada provokasi

dengan adanya kehadiran kucing jantan lainnya.

Setelah pertemuan awal antar kucing jantan, biasanya pada pertemuan berikutnya tidak

akan terjadi perkelahian, para kucing jantan (pasangan kucing jantan) tidak akan berkelahi di

depan kuicng betina yang estrus. Sistem ini umumnya memugkinkan kucing jantan memiliki

kesempatan untuk mengawini betina yang estrus, kucing jantan yang memiliki wilayah
mempunyai kesempatan yang paling baik, terutama untung perkawinan pertama. Kucing jantan

yang memiliki wilayah tertentu biasanya tidak mengizinkan kucing jantan lain kawin dengan

betina di daerahnya atau kawin dihadapan nya, karena hal ini dapat menyebabkan invasi wilayah/

gangguan psikologis daripada kucing jantan yang memiliki wilayah tersebut. Biasanya kucing

jantan yang tidak meninggalkan wilayahnya untuk berkelana, biasanya sesekali memperlihatkan

perilaku seksualnya dihadapan kucing jantan lainnya. Dalam kondisi normal biasanya kucing

jantan dapat mengawini 20 kucing betina.

2.8.3 Courtship

Bagi seekor kucing jantan, jumlah pengalaman berkembang biak dan keakraban dengan

wilayah perkembangbiakan adalah pengaruh utama pada durasi dan tampilan courtship behaviour.

Periode kawin ini bervariasi, berlangsung antara 10 detik sampai 5 menit, dan ini terjadi terutama

pada malam hari. Awalnya si kucing jantan memanggil dengan keras, keras vokalisasi, biasa

disebut caterwauling. Panggilan kawin atau courtship ini berfungsi untuk memberitahukan

keberadaan kucing jantan tersebut kepada kucing betina yang estrus dan untuk memperingatkan

kucing jantan lain yang mengembara atas wilayahnya. Penjelajahan dan penyemprotan urine yang

meningkat merupakan bagian dari tahap awal perkawinan.

Sampai enam ekor kucing jantan akan mengikuti betina yang estrus, namun hanya butuh

sepertiga waktu dari adanya betina estrus di sana akan ada lebih dari satu kucing jantan baru.

Ketika ada beberapa kucing jantan yang berada di suatu wilayah, mungkin ada "central male" yang

cenderung lebih dekat dan memiliki kemungkinan besar untuk mengawini kucing betina yang

estrus tersebut. Pada titik tertentu, kucing jantan kemudian akan mengambil inisiatif untuk kawin,

dengan cara menggunkan pendekatan wajah atau anogenital. Pada saat itu dagu akan digosokan
ke wajah kucing betina. Mengendus urin dari daerah genital betina proestrous dan estrous sering

berakibat pada flehmen yaitu perpanjangan kepala, leher, dan bibir atas. Terjadinya flehmen lebih

mudah terjadi ketika mengendus urin dari kucing betina yang estrus daripada yang anestrus,

mungkin itu karena bau estrus betina lebih mudah terbaca oleh vomeronasal dan area otak yang

terkait dari kucing jantan. Kurangnya kemampuan penciuman dapat mengurangi waktu yang

dihabiskan untuk mencium lingkungan dan memperpanjang waktu yang digunakan untuk kawin.

Panggilan kawin yang lebih lembut, yang telah digambarkan sebagai tiruan "tangisan panas/heat

cry" dari kucing betina menunjukkan kesiapan untuk kawin. Biasanya kucing jantan mengelilingi

kucing betina sebelum langsung mendekatinya. Namun, kucing jantan yang lebih berpengalaman

mungkin mengikuti panggilan kawin moderat dengan berlari langsung ke wanita dan memulai

perilaku kawin. Seekor kucing jantan yang berpengalaman dapat berlari langsung ke kucing mana

pun yang berada di area berkembang biak dan untuk kucing jantan yang kurang pengalaman

biasanya hanya mengawini kucing betina pilihanya dan mengabaikan kucing betina yang lain.

Hanya satu dari tiga kucing jantan sehat yang dapat menjadi pemacek yang handal dan bahkan

suntikan testosteron tidak efektif dalam meningkatkan dorongan seks yang rendah.

Gambar 2. Pendekatan anogenital kepada kucing betina estrus oleh pejantan territorial
2.9 Mating Behaviour

2.9.1 Neck Grip

Meskipun setiap kucing jantan memiliki gaya sendiri, tetapi kebiasaan umum tetap sering

terlihat di semua kucing, yakni pegangan leher (Neck Grip) merupakan perilaku yang paling

konsisten. Seekor kucing jantan berpengalaman dapat mencapai neck grip dalam waktu 16 detik.

Menggigit kulit bagian dorsum leher adalah perilaku seksual yang digunakan untuk melumpuhkan

betina dan memberikan orientasi yang tepat untuk dinaikki. Pegangan leher (neck grip) bukanlah

bentuk serangan dari kucing jantan. Sebenarnya, kucing jantan sangat terhambat untuk

menunjukkan agresi / perilaku seksual pada kucing betina yang estrus, dan gigitan leher pada saat

kawin hampir sama seperti bentuk gigitan leher dari kucing sebagai hewan predator. Bahkan

gigitan leher yang begitu agresif, terkadang tetap tidak dapat merangsang kucing betina yang

proestrus. Jarang terjadi gigitan leher dari kucing jantan yang menembus kulit, dan

keseimbangannya bergeser terlalu jauh ke depan untuk menunjukkan agresi. Hambatan yang kuat

mungkin disebabkan oleh postur tubuh wanita yang rendah dengan bobot lebih besar yang dibawa

diatas forelimb, yang merupakan sinyal untuk dinaiki, bukan melawan. Pegangan leher (Neck grip)

telah dibandingkan dengan cara seorang kucing betina ketika membawa anak kucingnya dan

dengan perilaku menjilati


Gambar 3. Kucing jantan melakukan neck grip pada kucing betina yang estrus sebelum

menaikinya.

2.9.2 Copulation

Mounting adalah awal dari kopulasi. Tunggangan palsu tanpa intromisi memang terjadi

pada beberapa kucing jantan yang memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada kucing jantan lain.

Tunggangan palsu terjadi secara normal pada banyak spesies dan mungkin merupakan cara untuk

menguji reseptivitas betina, untuk mempersiapkan betina untuk mencapai true mount, atau untuk

menunjukkan dominasi, atau mereka mungkin hanya mewakili usaha yang gagal dalam kopulasi.

Si kucing jantan akhirnya menaikki kucing betina, mengangkangi kucing betina terlebih

dahulu dengan forelimbs dan kemudian dengan hindlimbs. Gerakan menginjak atau menginjak-

injak tungkai pelvis membantu pria itu melengkungkan punggungnya dan bergerak kaudal untuk

memposisikan daerah perineumnya untuk intromisi yang berhasil. Dorongan pelvis, gerakan

dorsoventral pada daerah pelvis, dimulai saat ia mendekati postur tubuh yang tepat, dan penis

menjadi tegak. Intromisi terjadi setelah dorongan akhir, sedikit lebih kuat, pelvic lunge. Hal ini

diikuti dengan ejakulasi. Pegangan leher dilepaskan, penis ditarik, dan betina cepat turun.
Gambar 4. Postur tubuh kucing jantan ketika mengawini

Pertama mengangkangi memilah-milah memakan waktu 0,3 sampai 8 menit. Perilaku kawin

umumnya berlangsung antara 1 dan 9 menit, dengan kucing jantan berpengalaman mencapai

intromisi rata-rata 1,8 menit. Neck grip berlangsung 5 sampai 50 detik, dan intromisi-ejakulasi-

penarikan hanya membutuhkan 5 sampai 18 detik periode ini (berarti 8,2 detik).

2.9.3 Repeated Mating

Pola perkawinan berulang antara sepasang kucing sangat bervariasi pada setiap individu.

Setelah kawin pertama, kucing jantan melakukan periode postejaculatory refractory sebelum

menaikki kucing betina kembali. Durasi periode laten ini bervariasi dari 5 sampai 15 menit, selalu

meningkat setelah melakukan perkawinan. Kucing betina harus memainkan peran lebih aktif

dalam proses courtship. Jika kawin berulang berlanjut cukup lama, kucing jantan bisa naik tanpa

melakukan pegangan leher/ neck grip. Komponen fisiologis dari periode postejaculatory refractory

relatif konstan atau stabil dikarenakan hal ini memiliki hubungannya dengan regulasi neural

perkawinan. Bagian psikologis merupakan bagian utama yang bertanggung jawab atas perubahan

waktu periode postejaculatory refractory. Antusiasme kawin dapat diperbaharui dengan


memperkenalkan/ bertemunya kucing jantandengan kucing betina estrus yang baru selama fase

psikologis. Jika tidak, kelelahan akan hilang dalam waktu 24 jam. Selama 2 jam pertama, kucing

jantan dapat bersanggama/berkopulasi tiga sampai enam kali. Rata-rata jumlah intromisi per jam

adalah 5,3, dengan 8,9 tunggangan selama waktu itu. Pada periode 2 jam berikutnya, akan menurun

menjadi 0 sampai 4 sanggama/kopulasi, dengan frekuensi umumnya tidak melebihi 15 per 24 jam

atau 20 sampai 36 per 36 jam.

2.9.4 Miscellaneous influences

Meskipun kucing jantan berpengalaman sangat ingin sekali kawin dan mungkin akan

menaiki sesuatu benda yang ada sekitarnya, pemerkosaan/ kawin paksa jarang terjadi. Presentasi

kucing betina dimana perineumnya meningkat hampir secara fisik penting untuk kejadian

intromissi. Seekor kucing jantan yang digunakan sebagai pejantan dapat dilatih dengan

menggunakan habituasi sebagai betina buatan dengan dilengkapi adanya vagina buatan. Untuk

menangani seekor kucing jantan di sebuah kelompok supaya dapat cepat kawin, pemilik harus

mempertemukan kucing jantan tersebut dengan betina yang reseptive pada suatu wilayah,

membiarkan mereka melakukan beberapa perkawinan, dan melepaskan betina tersebut terlebih

dahulu.

2.10 Postmating behaviour

Perilaku postmating bervariasi karena merupakan periode laten, tetapi kucing jantan akan

mulai menjauh dengan melompat "afterreaction" dari kucing betina yang menggeram. Kemudian

kucing jantan menjilati penis dan forepaws nya sebelum dia duduk di dekat kucing betina tersebut,

tetapi tetap menjaga jarak untuk menghidari cakaran kucing betina sewaktu-waktu. Ikatan
pasangan dengan durasi panjang jarang terbentuk. Si kucing jantan sering tinggal dengan betina

hanya selama beberapa waktu saat perkawinan, meskipun beberapa kucing jantan akan

memperpanjang waktu itu untuk satu periode estrus. Jarang terjadi ikatan selama satu siklus estrus.

2.11 Paternal Behaviour

Meskipun kebanyakan kucing jantan tidak menunjukkan minat pada anak kucing yang

baru lahir, ada beberapa hal yang dilakukan. Perilaku ayah ini mungkin terlihat lebih banyak pada

jenis Siam, dimana kucing jantan akan berbaring dan merawat anak-anak mereka. Pada perilaku

ekstrem, kucing jantan tanpa pandang bulu akan membunuh anak-anak kucing. Perilaku ini

mungkin merupakan predisposisi yang diwariskan untuk membawa kucing betina kembali ke fase

estrus. Pada spesies kucing jantan yang tingkat perkembangbiakan nya tinggi, biasanya gen dirinya

lebih dominan terhadap anaknya nanti daripada kucing betinanya.

2.12 Neural Regulation

2.12.1 Brain

Hubungan otak dengan perilaku seksual kucing jantan telah mengalami banyak

penelitian. Seperti yang diharapkan, sistem limbik, khususnya daerah hipotalamus preoptic-rostral

medial, merupakan tempat utama yang bertanggung jawab. Bagian bilateral ablasi dari area

hipotalamus menghilangkan keinginan menaikki dan pelvic thrust/dorongan pelvis, hal ini terjadi

dan tidak terpengaruh oleh testosteron. Pemindahan lateral neokorteks menghasilkan hasil yang

bervariasi, yang mungkin mencerminkan gangguan pada koordinasi motorik daripada deficit

dalam perilaku kawin. Karena kemampuan motorik ini lebih penting untuk perilaku perkawinan

kucing jantan daripada untuk kawin wanita atau perilaku keibuan, perbedaan yang terkait dengan
kontrol neokorteks mungkin mencerminkan perbedaan kebutuhan motor daripada perbedaan

neurologis seksual sejati.

2.12.2 Neural and hormone relationship

Keterkaitan kompleks antara otak dan hormon tubuh membuat banyak laporan awal sulit.

Telah ditunjukkan pada sejumlah spesies bahwa steroid gonad dapat memiliki pengaruh besar pada

perilaku, baik dengan morfogenesis dan dengan kelangsungan hidup neuron yang spesifik. Anak

kucing prenatal atau neonatal menerima lonjakan testosteron, yang mengkultivasi otak. Ini

mungkin akibat efek testosteron langsung atau testosteron yang diubah menjadi estradiol. Pada

saat bersamaan, protein plasma pengikat estrogen bekerja untuk mencegah masuknya estrogen ke

dalam otak. Tanpa lonjakan ini, bayi mengembangkan pola perilaku betina dan merespons

terutama hormon betina. Perbedaan antara jantan dan betina relatif, meskipun mereka berada di

bawah kendali hormon tertentu. Saat jatuh tempo, tiga tingkat kontrol hormonal ada. Inti

hipotalamus tertentu menghasilkan faktor pelepasan gonadotropik yang mengarah ke kelenjar

pituitari. Pada lobus rostral kelenjar pituitari, faktor pelepasan ini menyebabkan produksi

gonadotropin: hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinizing (LH). FSH dan LH

bekerja di testis, di mana FSH merangsang produksi sel sperma dan LH merangsang produksi

testosteron oleh sel interstisial. Mekanisme umpan balik negatif mengatur produksi hipotalamus

sehingga tingkat FSH atau LH rendah adalah stimulasi. Dalam castrates, tingkat ini cukup tinggi.

Pada masa pubertas, sel interstisial yang mulai dewasa mulai memproduksi kadar testosteron

dewasa, yang memulai perilaku pria dari otak premasculinized. Kawasan hipotalamus sebenarnya

mengandung dan merespon konsentrasi testosteron. Perilaku spesifik androgen terkait meliputi

perilaku seksual pria, agresi intermale, roaming, dan pola tanda-tanda harum.
2.12.3 Spinal cord and peripheral nervous

Bagian dari perilaku seksual pria dimediasi oleh segmen tertentu dari sumsum tulang

belakang. Transeksi spinal di daerah toraks dapat mempengaruhi postur tubuh sebagian tapi bukan

kapasitas ereksi dan ejakulasi atau respons kaudosfer terkait. Ereksi dapat diinduksi oleh stimulasi

saraf sakral kedua, dan ejakulasi dimediasi oleh sumsum tulang belakang lumbosakral di bagian

dalam nervus pudendal dan dipicu oleh stimulasi taktil pada tubuh penis melalui saraf dorsal penis.

Androgen tampak mengintensifkan refleks spinal rendah. Serabut simpatis melalui saraf

hipogastrik menyebabkan ereksi mereda dan menghentikan emisi cairan prostat ke dalam uretra,

namun peran sebenarnya dari sistem saraf otonom tidak jelas.


BAB 3 KESIMPULAN

Baik kucing betina maupun kucing jantan memiliki tingkah laku reproduksi yang sangat

berbeda, namun perbedaan tingkah laku reproduksi dari mereka saling berhubungan atau

mempengaruhi bukan hanya pada waktu courtship atau mating. Kucing betina merupakan spesies

yang umumnya akan dewasa kelamin sekitar umur 6-8 bulan dan memiliki siklus reproduksi

dengan tipe seasonally polyestrus yang terdiri dari beberapa fase yakni proestrus, estrus,

interestrus, diestrus dan anestrus. Sedangkan kucing jantan akan dewasa kelamin ketika berumur

6-7 bulan dan dapat melakukan kopulasi sempurna ketika berumur 9-12 bulan. Ketika kucing

jantan mencapai dewasa kelamin perubahan tingkah laku akibat pengaruh hormone testoteron akan

terjadi seperti intermale aggression, neck grip, courtship dan kemudian siap untuk melakukan

mating.
DAFTAR PUSTAKA

Amanda, Petersen. 2015. Swedish University of Agricultural Science. Reproductive Physichology


of Female Cat.
Pet Informed The Female Cat in Heat - The Signs and Symptoms of Feline Estrus. http://www.pet-
informed-veterinary-advice-online.com/cat-in-heat.html
Veterinary Key. Female Feline Sexual Behaviour. https://veteriankey.com/female-feline-sexual-
behavior/
Veterinary Key. Male Feline Sexual Behaviour. https://veteriankey.com/male-feline-sexual-
behavior/