Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH PRESENTASI

AKUNTANSI FORENSIK & AUDIT INVESTIGATIF

“AUDIT INVESTIGATIF DENGAN MENGANALISIS UNSUR


PERBUATAN MELAWAN HUKUM”
&
“INVESTIGATIF PENGADAAN”

Dosen Pengampu:
Jaswadi, SE., M.Si., DBA., Ak., CA., CPA.
Drs. M. Ichwan, Akt., MM., CA

Disusun oleh:
Jefrianto Tandi Bunna 421628
Yanti Roisye Marini Kondoy 417091

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2018
BAB 16
AUDIT INVESTIGATIF DENGAN
MENGANALISIS UNSUR PERBUATAN
MELAWAN HUKUM
A. PENGANTAR
Akuntan forensik bekerja sama dengan praktisi hukum dalam menyelesaikan masalah
hukum. Karena itu, akuntan forensik perlu memahami hukum pembuktian sesuai dengan
masalah hukum yang dihadapi, seperti pembuktian untuk tindak pidana umum (dimana
beberapa pelanggaran dan kejahatan mengenai fraud diatur), tindak pidana khusus (seperti
korupsi, pencucian uang, perpajakan, dan lain-lain), pembuktian alam hukum perdata,
pembuktian dalam hukum administrasi, dan sebagainya.
Perbuatan Melawan Hukum (PMH) dirumuskan dalam satu atau beberapa kalimat yang
dapat dianalisis atau dipilah-pilah ke dalam bagian yang lebih kecil. Penyidik atau akuntan
forensik mengumpulkan bukti dan barang bukti untuk setiap unsur tersebut. Bukti dan
barang bukti yang dikumpulkan untuk setiap unsur akan mendukung atau membantah
adanya PMH.
Berikut contoh matriks mengenai unsur-unsur dan pembuktian Pasal 2 Undang-undang
No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 yang selengkapnya berbunyi sebagai
berikut:
(1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana
penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda
paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.

Unsur-unsur dan Pernbuktian pasal 2 dalam Undang-undang Tipikor:


No. Unsur Tindak Fakta Perbuatan yang Dilakukan Alat Bukti
Pidana dan Kejadian yang Mendukung
1. Setiap orang B adalah seorang Dirut BUMN - Keterangan dari Terdakwa B.
- KTP A/n B.
- SK pengangkatan B sebagai
Dirut BUMN.
2. Memperkaya - Pada tanggal 10 Januari 2005, B - Keterangan dari TerdakwaB .
diri mendapat - Keterangan dari Saksi F.
sendiri, orang transfer uang sebesar Rp15 M - Keterangan dari Petugas Bank
Iain, atau suatu dari F. - Print-out rekening bank
korporasi - F telah mendapat kekayaan
berupa aset tanah seluas 50 Ha

2
dengan harga di bawah
NJOP/harga pasar
3. Dengan cara - B telah menjual tanah negara - Keterangan dari Saksi F.
melawan aset perusahaan (BUMN) yang - Kcterangan dari Panitia Penaksir
hukum dipimpinnya kepada F seluas 50 Harga.
Ha. - Keterangan dari Panitia
- Sebelum menjual, B penjualan.
mengadakan beberapa kali - Keterangan dari Kantor PBB
pertemuan dengan F untuk - Keterangan dari Perusahaan
melakukan negosiasi harga dan Appraisal.
tata cara pembayaran. - Keterangan dari Komisaris
- Setelah tercapai kesepakatan, B Perusahaan.
mengupayakan penurunan harga - Keterangan dari Para Direksi.
NJOP atas tanah sehingga sesuai - Keterangan dari Notaris.
dengan kesepakatannya dengan - Surat, seperti dokumen yang
F. berhubungan dengan penjualan,
- B meminta agar F mencari 2 NJOP tanah, SK Panitia.
perusahaan lain untuk - SK Menteri Keuangan.
melengkapi persyaratan - SK Meneg BUMN.
administrasi penjualan secara - Akta Jual Beli.
lelang - Sertifikat tanah.
- B menunjuk panitia penaksir - Kuitansi penjualan.
harga dan panitia penjualan untuk - Print-out Rekening Koran
memenuhi formalitas Perusahaan BUMN
administrasi proses penjualan
secara lelang serta telah
menetapkan harga tanah dan
pembelinya serta sistem
pembayaran secara bertahap.
- Padahal, menurut SK Menkeu,
proses penjualan harus dengan
prosedur lelang terbuka untuk
umum dan pembayarannya harus
secara tunai.
- Pada tanggal 10 Januari 2005,
aset tanah tersebut dijual dengan
harga Rp100 M. Padahal,
menurut SK Meneg BUMN,
penjualan tanah aset BUMN
sesuai dengan NJOP tertinggi
tahun berjalan dan atau harga
pasar sehingga aset tersebut
seharusnya dijual dengan harga
Rp150 M.

4. Dapat Negara dirugikan sebesar Rp50 - Keterangan dari Ahli BPKP


merugikan M. - Surat berupa laporan hasil
keuangan perhitungan kerugian keuangan
negara atau negara.

3
perekonomian
negara
KESIMPULAN

Keempat unsur tindak pidana korupsi pada pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20
Tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh B adalah
sebuah tindak pidana korupsi berdasarkan 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun
2001 sehingga B dituntut untuk dipidana penjara.

Berikut contoh matriks mengenai unsur-unsur dan pembuktian Pasal pasal 5 ayat (1)
huruf a Undang-undang No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 yang selengkapnya
berbunyi sebagai berikut: (1). Dipidanan dengan pidanan penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dana tau pidanan denda paling sedikit Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan pling banyak Rp. 250.000.000,00 (dua ratus
lima puluh juta rupiah) setiap orang yang:
a. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
dengan maksud supaya pengawai negeri atau penyelnggara tersebut berbuat atau tidak
berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya; atau
b. …….

Unsur-unsur dan Pernbuktian pasal 5 ayat (1) huruf a dalam Undang-undang


Tipikor:
No. Unsur Tindak Fakta Perbuatan yang Dilakukan Alat Bukti
Pidana dan Kejadian yang Mendukung
1. Setiap orang  W adalah seorang pejabat di - Keterangan dari Terdakwa W.
sebuah Lembaga negara. - KTP A/n W.
W adalah ketua - SK sebagai ketua panitia.
panitia/penanggung jawab
proyek pengadaan barang di
Lembaga tersebut
2. Memberi - W memberi uang Rp. 300 juta - Keterangan dari Terdakwa W
sesuatu atau kepada S. dan Keterangan dari Saksi S.
menjanjikan - S melaporkan kepada Penyidik - Keterangan dari Petugas
sesuatu tentang rencana pemberian uang penyidik yang melakukan
oleh W. penangkapan.
- Alat bukti petunjuk berupa:
1. Hasil perekaman oleh
penyidik tentang rekaman
peristiwa pemberian uang
dari terdakwa W kepada
saksi S.
2. Uang tunani Rp 300 juta.
3. Kepada - S adalah seorang pegawai negeri - Keterangan dari Saksi S.
pegawai negeri di salah satu Lembaga negara - SK S sebagai pegawai negeri.
atau yang berfungsi sebagai pemeriksa - Surat tugas S untuk melakukan
penyelenggara keuangan negara. pemeriksaan di Lembaga W.
negara - S sedanga melakukan - Keterangan dari atasan S.
pemeriksaan

4
pertanggungjawaban keuangan
atas pelaksanaan pengadaan
barang yang dilakukan oleh W.

4. Dengan maksud  Pemberian uang oleh W kepada - Keterangan dari terdakwa W dan
supaya berbuat S dimaksudkan agar S dalam keterangan dari saksi S.
atau tidak membuat laporan hasil - Keterangan dari anggota tim S.
berbuat sesuatu pemeriksaan tidak - Keterangan dari atasan S.
dalam mencantumkan temuan tentang - Surat berupa laporan hasil
jabatannya adanya indikasi penyimpangan pemeriksaan keuangan.
sehingga dalam pengadaan barang.
bertentangan  W mengetahui bahwa hal
dengan tersebut bertentangan dengan
kewajibannya kewajiban S selaku pemeriksa
KESIMPULAN

Keempat unsur tindak pidana korupsi pada pasal 5 ayat (1) huruf a UU No. 31 Tahun 1999 jo.
UU No. 20 Tahun 2001 terpenuhi. Keseluruhan rangkaian perbuatan yang telah dilakukan oleh
W adalah sebuah tindak pidana korupsi berdasarkan pasal 5 ayat (1) huruf a UU No. 31 Tahun
1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 sehingga W dituntut untuk dipidana penjara.

B. JENIS-JENIS TINDAK PIDANA KORUPSI

Tabel 1
Perincian 30 Jenis Tindak Pidana Korupsi
Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009
Jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
Pidana Pidana
Pidana Penjara Denda
No Kelompok Keterangan Penjara (tahun) d/da ( juta Rp )
Tipikor Min Maks Min Maks
Kerugian KeuanganNegara
1 Pasal 2 Memperkaya diri Seumur hidup 4 20 d 200 1.000
Pidana mati
2 Pasal 3 Menyalahgunakan Seumur hidup 1 20 da 50 1.000
Wewenang
Suap Menyuap
3 Psl 5 ayat Menyuap PN 1 5 da 50 250
(1)a
4 Psl 5 ayat Menyuap PN 1 5 da 50 250
(1)b
5 Pasal 13 Memberi hadiah ke 3 da 150
PN
6 Psl 5 ayat(2) PN menerimasuap 1 5 da 50 250
7 Pasal 12.a PN menerima suap Seumur hidup 4 20 d 200 1.000
8 Pasal 12.b. PN menerima suap Seumur hidup 4 20 d 200 1.000
9 Pasal 11 PN menerimasuap 1 5 da 50 250
10 Psl 6 ayat(1).a Menyuap Hakim 3 15 d 150 750

5
Pidana Pidana
Pidana Penjara Denda
No Kelompok Keterangan Penjara (tahun) d/da ( juta Rp )
Tipikor Min Maks Min Maks
11 Psl 6 ayat(1).b Menyuap advokat 3 15 d 150 750
12 Psl 6 ayat(2) Hakim & Advokat 3 15 d 150 750
terima suap
13 Pasal 12.c Hakim menerima Seumur 4 20 d 200 1.000
suap Hidup
14 Pasal 12.d Advokat menerima Seumur 4 20 d 200 1.000
suap Hidup
Penggelapan dalam Jabatan
15 Pasal 15 PN menggelapkan 3 15 d 150 750
uang atau
membiarkan
penggelapan
16 Pasal 9 PN. I memalsukan 1 5 d 50 250
buku
17 Pasal 10.a PN. I merusakbukti 2 7 d 100 350
18 Pasal 10.b PN membiarkan 2 7 d 100 350
orang lain
merusakkan bukti
19 Pasal 10.c PN membantuorang 2 7 d 100 350
lain merusakkan bukti
Perbuatan Pemerasan
20 Pasal 12.e PN memeras Seumur 4 20 d 200 1.000
Hidup
21 Pasal 12.g PN memeras Seumur 4 20 d 200 1.000
Hidup
22 Pasal 12.h PN memeras Seumur 4 20 d 200 1.000
Hidup
Perbuatan Curang
23 Psl 7 ayat(1) Pemborong berbuat 2 7 da 100 350
A curang
24 Psl 7 ayat(1) Pengawas 2 7 da 100 350
B proyekmembiarkan
perbuatan curang
25 Psl 7 ayat(1) Rekanan TNI/Polri 2 7 da 100 350
C berbuat curang
26 Psl 7 ayat(1) Pengawas rekanan 2 7 da 100 350
D TNI/Polri berbu at
curang
27 Psl 7 ayat (2) Penerima barang 2 7 da 100 350
TNI/Polri
membiarkan
perbuatan curang
28 Psl 12.h PN memeras 4 20 d 200 1.000
Benturan Kepentingan dalam
Pengadaan

6
Pidana Pidana
Pidana Penjara Denda
No Kelompok Keterangan Penjara (tahun) d/da ( juta Rp )
Tipikor Min Maks Min Maks
29 Pasal 12.i PN turut serta dlm Seumur 4 20 d 200 1.000
pengadaan yang Hidup
diurusnya
Gratifikasi
30 Psl 12B PN menerima Seumur 4 20 d 200 1.000
jo.12C gratifikasi dan tidak Hidup
melapor ke KPK

C. TINDAK PIDANA LAIN BERKAITAN DENGAN TIPIKOR


Selain ke-30 bentuk tindak pidana korupsi, Undang-Undang Tipikor Bab III mengatur
beberapa tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi.
1. Mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung
penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka,
terdakwa, atau saksi dalam perkara korupsi.
2. Tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar.
3. Dalam perkara korupsi, melanggar KUHP Pasal 220 (mengadukan perbuatan pidana,
padahal ia tahu perbuatan itu tidak dilakukan), Pasal 231 (menarik barang yang disita),
Pasal 421 (pejabat menyalahgunakan kekuasaan, memaksa orang melakukan, tidak
melakukan, atau membiarkan sesuatu), Pasal 422 (pejabat menggunakan paksaan untuk
memeras pengakuan atau mendapat keterangan), Pasal 429 (pejabat melampaui
kekuasaan ... memaksa masuk ke dalam rumah atau ruangan atau pekarangan tertutup
... atau berada di situ secara melawan hukum) atau Pasal 430 (pejabat melampaui
kekuasaan menyuruh memperlihatkan kepadanya atau merampas surat, kartu pos,
barang atau paket ... atau kabar lewat kawat)

D. BEBERAPA KONSEP UNDANG-UNDANG


Di bawah ini ada catatan mengenai beberapa konsep, baik yang secara umum dikenal dalam
KUHP dan KUHAP maupun yang khas untuk tindak pidana korupsi. Konsep-konsep itu
adalah:
1. Alat bukti yang sah
Alat bukti yang sah dalam bentuk petunjuk sebagaimana dimaksud dalam Pasal 188
ayat (2) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, khusus
untuk tindak pidana korupsi juga dapat diperoleh dari :
a. alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau
disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan
b. dokumen, yakni setiap rekaman data atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan
atau didengar yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik
yang tertuang di atas kertas, benda fisik apa pun selain kertas, maupun yang terekam
secara elektronik, yang berupa tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, huruf,
tanda, angka, atau perforasi yang memiliki makna.

7
2. Beban pembuktian terbalik
Pembuktian terbalik ini diberlakukan pada tindak pidana baru tentang gratifikasi dan
terhadap tuntutan perampasan harta benda terdakwa yang diduga berasal dari salah satu
tindak pidana.
3. Gugatan perdata atas harta yang disembunyikan
Apabila setelah putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap,
diketahui masih terdapat harta benda milik terpidana yang diduga atau patut diduga
juga berasal dari tindak pidana korupsi yang belum dikenakan perampasan untuk negara
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 B ayat (2), maka negara dapat melakukan
gugatan perdata terhadap terpidana dan atau ahli warisnya.
4. Pemidanaan secara in absentia
Pengalaman mengenai koruptor yang melarikan diri atau tidak hadir dalam
persidangan, diatasi dengan ketentuan mengenai pemidanaan secara in absentia. Hal ini
diatur dalam pasal 38 ayat 1, 2, 3, dan 4 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor yang
berbunyi sebagai berikut:
(1) Dalam hal terdakwa telah dipanggil secara sah, dan tidak hadir di sidang pengadilan
tanpa alasan yang sah, maka perkara dapat diperiksa dan diputus tanpa
kehadirannya.
(2) Dalam hal terdakwa hadir pada sidang berikutnya sebelum putusan dijatuhkan,
maka terdakwa wajib diperiksa, dan segala keterangan saksi dan surat-surat yang
dibacakan dalam sidang sebelumnya dianggap sebagai diucapkan dalam sidang
yang sekarang.
(3) Putusan yang dijatuhkan tanpa kehadiran terdakwa diumumkan oleh penuntut
umum pada papan pengumuman pengadilan, kantor Pemerintah Daerah, atau
diberitahukan kepada kuasanya.
(4) Terdakwa atau kuasanya dapat mengajukan banding atas putusan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1).
5. “memperkaya” versus “menguntungkan”
Seorang pejabat menerima suap dari seorang pengusaha dan seluruh jumlah itu
diberikan kepada atasannya. Pejabat itu tidak memperkaya dirinya, tetapi tetap
menguntungkan dirinya. Dengan meneruskan seluruh suap itu kepada atasannya, ia
menguntungkan diri karena bisa mendapat keistimewaan (favor) dalam bentuk
kenaikan pangkat, jabatan, gaji dan seterusnya.
Perumusan TPK dalam Pasal 2 Undang-Undang Tipikor berbeda dari perumusan dalam
Pasal 3. Dalam Pasal 2, digunakan istilah “memperkaya diri sendiri atau orang lain”.
Sementara itu, dalam Pasal 3, digunakan istilah “menguntungkan diri sendiri atau orang
lain”
6. Pidana mati
Dalam Pasal 2 ayat 2 dari Undang-Undang Tipikor, dikatakan: “Dalam hal tindak
pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan
tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan”. Penjelasannya berbunyi sebagai berikut:
Yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” dalam ketentuan ini dimaksudkan sebagai
pemberatan bagi pelaku tindak pidana korupsi apabila tindak pidana tersebut dilakukan
pada waktu negara dalam keadaan bahaya sesuai dengan undang-undang yang berlaku

8
pada waktu terjadi bencana alam nasional, sebagai pengulangan tindak pidana korupsi
atau pada waktu negara dalam keadaan krisis ekonomi dan moneter.
7. Nullum delictum
Maknanya dapat dilihat pada Pasal 1 ayat (1) KUHP yang berbunyi: “Suatu perbuatan
tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang undangan
pidana yang telah ada”
Dalam kaitan dengan TPK, asas ini dikemukakan dalam dua kasus. Pertama untuk
kasus-kasus TPK yang dilakukan sebelum keluarnya suatu undang-undang, tetapi
diadili setelah keluarnya undang-undang tersebut. Kedua, sewaktu KPK menangani
kasus yang terjadi sebelum keluarnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang
Komisi Pemberantasan TPK, ada orang yang mempertanyakan wewenang KPK dengan
menggunakan asas nullum delictum ini. Dalam kasus semacam ini, asas ini sebenarnya
tidak dilanggar karena substansi hukumnya sudah diatur dalam undang-undang yang
mendahului TPK itu. Yang terjadi kemudian adalah perluasan dari aparat yang
menanganinya, yakni dari polisi dan jaksa ke KPK.
8. Concursus idealis
Konsep concursus idealis berkenaan dengan satu perbuatan yang tercakup dalam lebih
dari satu aturan pidana. Hal ini terlihat dalam Pasal 63 yang berbunyi sebagai berikut:
(1) Jika suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana, maka yang
dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu; jika berbeda-beda, yang
dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.
(2) Jika suatu perbuatan masuk dalam suatu aturan pidana yang umum, diatur pula
dalam aturan pidana yang khusus, maka hanya yang khusus itulah yang diterapkan.
9. Concursus realis
Konsep concursus realis ini berkenaan dengan beberapa perbuatan yang dilakukan
berbarengan. Hal ini terdapat dalam KUHP Pasal 65 yang berbunyi sebagai berikut.
(1) Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai
perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, yang
diancam dengan pidana pokokyang sejenis, maka dijatuhkan hanya satu pidana.
(2) Maksimum pidana yang dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana yang diancam
terhadap perbuatan itu, tetapi boleh lebih dari maksimum pidana yang trerberat
ditambah sepertiga.
10. Perbuatan berlanjut
Perbuatan berlanjut ini diatur dalam Pasal 64 ayat 1 KUHP yang berbunyi sebagai
berikut. Jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan
kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus
dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut, maka hanya diterapkan satu aturan pidana;
jika berbeda-beda, yang diterapkan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling
berat.
11. “lepas dari tuntutan hukum” versus “bebas”.
Putusan bebas (vrijspraak) atau bebas murni (zuivere vrijspraak) diatur dalam KUHAP
Pasal 191 ayat 1 yang berbunyi: “Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil
pemeriksaan di sidang kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwaan kepadanya
tidak terbukti secara sah dan meyakinkan maka terdakwa diputus bebas.”

9
“Lepas dari segala tuntutan hukum” (ontslag van alle rechtsvervolging) diatur dalam
KUHAP Pasal 191 ayat 2 yang berbunyi sebagai berikut: “Jika pengadilan berpendapat
bahwa perbuatan yang didakwaan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak
merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan
hukum.”

E. CONTOH KASUS TINDAK PIDANA KORUPSI


1. Kasus Akbar Tandjung
Pada tanggal 10 Februari 1999, ada pertemua terbatas antara Presiden B.J. Habibie,
Akbar (Sekretaris Negara), Rahadi Ramelan ( Pejabat sementara kepala Bulog),
dan Haryono Suyono (Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan
Pemberantasan Kemiskinan) di Istana Merdeka. Pertemua itu membahas kiris
pangan. Rahadi Ramelan melaporkan kepada Presiden Habibie, ada dana non-
budgeter untuk membeli sembako bagi rakyat miskin sebesar Rp. 40 Miliar.
Dadang Sukardar (Ketua Yayasan Islam Raudatul Jannah) mengajukan
permohonan kepada Haryono Suyono untuk melaksanakan pengadaan dan
penyaluran sembako. Dadang Sukandar memperkenalkan Winfried Simatupang
(selaku mitra kerjanya) kepada Akbar Tandjung dan stafnya, mereka berdua
melakkukan pemaparan.
Akbar Tandjung menyetujui rencana pengadaan dan penyaluran sembako. Rahadi
Ramelan membuat nota kepada Ruskandar (Deputi Keuangan Bulog) dan Jusnadi
Suwarta (Kepala Biro Pembiayaan Bulog). Selanjutnya, Ruskandar dan Jusnadi
Suwarta membuat dan menandatangani beberapa cek.
Pada tanggal 2 Maret 1999, mereka menyerahkan dua cek (Bank Bukopin dan Bank
Ekspor Impor Indonesia) masing-masing sebesar Rp. 10 Miliar (Jumlah seluruhnya
Rp. 20 Miliar) kepada Akbar Tandjung, yang kemudian diserahkannya lagi kepada
Dadang Sukandar.
Pada tanggal 19 April 1999, mereka menyerahkan delapan cek Bank Bukopin
berjumalh Rp. 20 Miliar, juga kepada Akbar Tandjung yang menyerahkannya lagi
kepada Dadang Sukandar; empat cek @Rp. 3 Miliar dan empat cek lagi @Rp. 2
Miliar).
Penyerahan cek-cek di atas sejumalh Rp. 40 Miliar dilakkukan tanpa bukti tertulis.
Dadang Sukandar menyerahkan uang pencairan cek itu kepada Winfried
Simatupang. Pengadaan dan peraturan sembako tidak pernah terlaksana.
Pasal-pasal yang didakwakan Penuntut Umum terhadap Akbar Tandjung, Dadang
Sukandar, dan Winfried Simatupang adalah sebagai berikut:
 Dakwaan Primair:
Pasal 1 ayat (1) sub b, juncto pasal 28, juncto pasal 34c Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 1971 juncto
Pasal 43A Undang-Undang Nomor 31 TAhun 1999 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, juncto
Pasal 55 ayat (1) ke 1 juncto Pasal 65 KUHP.
 Dakwaan Subsidiar

10
Pasal 1 ayat (1) sub a, juncto Pasal 28, juncto Pasal 34c Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 1971 juncto
Pasal 43A Undang-Undang Nomor 31 TAhun 1999 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, juncto
Pasal 55 ayat (1) ke 1 juncto Pasal 65 KUHP.
Dari dakwaan di atas, dapat dilihat bahwa dakwaan primair menggunakan Pasal 1
ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971, sedangkan dakwaan
subsidiary menggunakan Pasal 1 ayat (1) huruf a. Berikut bunyi Pasal 1 ayat (1)
huruf a dan b dari undang-undang tersebut.

Pasal 1
Dihukum karena tindak pidana korupsi ialah:
Ayat (1)

a) Barangsiapa dengan melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya


diri sendiri atau orang lain, atau suatu Badan, yang secara langsung atau
tidak langsung, merugikan keuangan negara dana tau perekonomian
negara, atau diketahui atau patut disangka olehnya bahwa perbuatan
tersebut merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;
b) Barangsiapa dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau suatu Badan, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana
yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan, yang secara langsung
atau tidak langsung dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara;

2. Tanggapan Saksi Ahli dalam kasus Tipikor Akbar Tandjung


Menurut Prof. Andi Hamzah salah seorang ahli hukum pidana bahwa:
 Dakwaan primair-subsidiar secara terbalik menyimpang dari kebiasaan
penyusunan surat dakwaan, yang biasanya Pasal 1 ayat (1) huruf a dari
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 sebagai dakwaan primair, dan Pasal
1 ayat (1) huruf b untuk dakwaan subsidair
 Mengenai kerja sama denga keikutsertaan yang disebutkan dalam KUHP
Pasal 55 (untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
Badan dengan menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana
karena jabatan atau kedudukan, yang dapat merugikan keuangan atau
perekonomian negara), disebut sebagai konstruksi yang paling sulit
dibuktikan. Karena yang memiliki jabatan dan kewenangan dalam kasus ini
hanya satu orang yaitu Akbar Tandjung dan pertanyaan lain siapa orang
lain ( yang diuntungkan) dalam hal ini?
 Selanjutnya saksi ahli menulis: “Kelihatan dakwaan penuntut umum
bermaksud Akbar Tandjung menguntungakan orang lain (Dadang dan

11
Winfried), dan pada waktu yang bersamaan kedua orang itu
menguntungakn diri mereka sendiri, lalu mereka melakukannya bersama-
sama. Konstruksi seperti ini menurut Mahkamah Agung tidak logis”. Kalau
Akbar menguntungkan kedua orang lain itu, mereka berdua mustinya tidak
dipidana. Padahal ,baik pengadilan negeri maupun pengadilan tinggi,
memidana mereka berdua.
 Kemungkinan lain. Bagaimana juka Dadang dan Winfried menguntungkan
diri sendiri, dan bukan Akbar yangmenguntungkan mereka? Andir Hamzah
menyimpulkan: “Jelas pikiran iniliah yang ditempuh Mahkamah Agung”.
Akbar diputus bebas. Sebaliknya, Dadang dan Winfried dipidana
berdasarkan dakwaan subsidiary, yakni memperkaya diri sendiri secara
bersama-sama. Dalam kasus ini, saksi ahli pendapatnya dikutip Mahkamah
Agung. Pendapat beliau adalah penyerahan cek dari Bulog ke Akbar belum
ada tindak pidana. Tindak pidana terjadi saat sembako tidak dibeli.
 Saksi ahli berpendapat bahwa Akbar Tandjung seharusnya tidak didakwa
medeplegen dengan Dadang Sukandar dan Winfried Simatupang, tetapi
dengan Pasal 415 KUHP juncto Pasal 1 ayat (1) huruf c dari Undang-
Undang Nomor 3 Tahun 1971, yakni menggelapkan uang. Pendapat ini
dikemukannya di depan pengadilan negeri, tetapi tidak dikutip oleh
Mahkamah Agung.
 Putusan dalam persidangan Mahkamah Agung tanggal 12 Februari 2004
yaitu:
Penuntut Pengadilan Pengadilan Mahkamah
Umum negeri Tinggi Agung
Akbar Tandjung 4 Tahun 3 Tahun 3 Tahun Bebas
Dadang Sukandar 3 Tahun 18 Bulan 3 Tahun 18 Bulan
Winfried 3 Tahun 18 Bulan 3 Tahun 18 Bulan
Simatupang

3. Analisa 5W 2H
 Apa Kasusnya?: Kasus korupsi dana pengadaan dan penyaluran
sembako
 Siapa? : Akbar Tandjung, Dadang Sukandar, Winfried Simatupang.
 Kapan?: 11 Februari 1999 - 19 April 1999
 Dimana terjadi?: Jakarta
 Mengapa? : Adanya kesempatan dari para pelaku untuk menggelapkan
dana serta kurangnya pengendalian dalam hal pemeriksaan bukti baik
tertulis maupun bukti fisik ke lapangan terhadap penyerahan barang.
 Bagaimana? : Kronologi kasus telah dipaparkan pada pembahasan
sebelumnya.
 Berapa kerugian negara? : Rp. 40 Miliar.

12
BAB 17
INVESTIGASI PENGADAAN
A. PENGANTAR
Pengadaan merupakan salah satu sumber korupsi terbesar dalam sektor keuangan publik.
Setiap tahun, BPK dan BPKP melaporkan kasus pengadaan yang mengandung unsur tindak
pidana korupsi. Menurut wakil ketua KPK, Laode Muhammad Syarif korupsi pengadaan
barang dan jasa adalah korupsi yang paling banyak terjadi. Berikut beberapa data terkait
pengadaan barang dan jasa di Indonesia

13
Dari beberapa data di atas dapat kami simpulkan bahwa pengadaan barang dan jasa
merupakan ladang basah terjadinya fraud di pemerintahan. Besarnya dana yang
dikeluarkan oleh pemerintah untuk pembangunan, belanja barang dan modal
mengakibatkan banyaknya tikus-tikus sarjana mencari makan di sektor pemerintahan.
Lemahnya pengendalian serta kepatuhan terhadap aturan serta tidak takutnya akan sanksi
baik dunia dan akhirat menjadikan pengadaan barang dan jasa seperti sarapan sehari-hari.

B. PENGADAAN PUBLIK- SUMBER UTAMA KEBOCORAN NEGARA


Secara luas, sistem pengadaan publik Indonesia diyakini merupakan sumber utama bagi
kebocoran anggaran yang memungkinkan korupsi dan kolusi yang memberikan sumbangan
besar terhadap kemerosotan pelayanan jasa bagi rakyat miskin Indonesia. Suatu sistem
pengadaan efektif harus dipusatkan pada upaya untuk memastikan bahwa dana publik
dibelanjakan dengan baik guna meningkatkan efektivitas pembangunan. Apabila suatu
sistem pengadaan berfungsi dengan baik, dipastikan pembelian barang akan bersaing dan
efektif.
Apa yang membuat sistem pengadaan menjadi baik? Supaya berfungsi efektif, suatu rezim
pengadaan perlu mencakup ciri-ciri berikut:
1. Kerangka hukum yang jelas, komprehensif, dan transparan yang antara lain
mewajibkan pemasangan iklan yang luas tentang kesempatan penawaran,
pengungkapan sebelumnya tentang semua kriteria untuk mendapatkan kontrak,
pemberian kontrak sampai pengungkapan publik dari hasil proses pengadaan, dan
pemeliharaan catatan lengkap tentang seluruh proses tersebut.

14
2. Kejelasan tentang tanggung jawab-tanggung jawab dan akuntabilitas fungsional,
termasuk penunjukan tanggung jawab yang jelas atas pengelolaan proses pengadaan,
memastikan bahwa aturan ditaati, dan mengenakan sanksi-sanksi jika aturan itu
dilanggar.
3. Suatu organisasi yang bertanggung jawab untuk kebijakan pengadaan dan pengawasan
penerapan tepat dari kebijakan tersebut. Secara ideal, badan ini jangan bertanggung
jawab untuk mengolah proses pengadaan.
4. Suatu mekanisme penegakan. Tanpa penegakan, kejelasan aturan dan fungsi tidak ada
artinya. Badan audit pemerintah harus dilatih untuk mengaudit pengadaan publik dan
memulai tindakan terhadap mereka yang melanggar aturan-aturan.
5. Staf pengadaan yang terlatih baik, kunci untuk memastikan sistem pengadaan yang
sehat.

C. SISTEM PENGADAAN INDONESIA TIDAK BERFUNGSI


Dalam proses pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemborongan/jasa lainnya yang
memerlukan penyedia barang/jasa dibedakan menjadi empat cara berikut
1. Melalui Swakelola, yaitu pengadaan barang/jasa dimana pekerjanya direncanakan,
dikerjakan dan/atau diawasi sendiri oleh K/L/D/I sebagai penanggung jawab
anggaran, instansi pemerintah lain dan/atau kelompok masyarakat.
2. Melalui Penyedia Barang/Jasa, yaitu badan usaha atau orang perseorangan yang
memenuhi syarat dan mampu menyediakan barang/jasa yang dibutuhkan.

Adapun metode yang digunakan dalam pemilihan penyedia barang/jasa adalah sebagai
beiktut:

15
Metode Pemilihan Pemilihan Penyedia untuk Pengadaan
Penyedia
Barang Jasa Pekerjaan Jasa
Lainnya Kontruksi Konsultasi
Pelelangan Umum √ √ √
Pelelangan sederhana √ √
Pelelangan Terbatas √
Kontes √
Seleksi Umum √
Seleksi Sederhana √
Penunjukkan Langsung √ √ √ √
Pengadaan Langsung √ √ √ √
Pemilihan Langsung √
Sayembara √ √
Contoh metode pemilihan dengan melihat kriteria peilihan barang /jasa yang diinginkan
Berikut adalah beberapa contoh penyimpangan dalam pengadaan barang dan jasa yang
sering terjadi, yakni:
1. Perencanaan Pengadaan
 Mark up
 Rencana pengadaan yang diarahkan
 Rekayasa pemaketan untuk KKN
 Penentuan jadwal pengadaan yang tidak realistis
2. Pembentukan Panitia
 Panitia tidak transparan
 Integritas panitia lemah
 Panitia yang memihak
 Penitia tidak independen
3. Prakualifikasi Perusahaan
 Dokumen administratif tidak memenuhi persyaratan
 Dokumen administratif “ASPAL”
 Legalisasi dokumen tidak dilakukan
 Evaluasi tidak sesuai kriteria
4. Penyusunan Dokumen Pemilihan
 Spesifikasi yang diarahkan
 Rekayasa kriteria evaluasi
 Dokumen lelang non standar
 Dokumen lelang yang tidak lengkap
5. Pengumuman Lelang
 Pengumuman lelang yang semu dan efektif
 Jangka waktu pengumuman terlalu singkat

16
 Pengumuman lelang tidak lengkap
6. Pengambilan Dokumen Pemilihan
 Dokumen lelang yang diserahkan tidak sama (inkonsisten)
 Waktu pendeistribusian dokumen terbatas
 Lokasi pengambilan dokumen sulit dicari
7. Penyusunan HPS
 Gambaran nilai harga perkiraan sendiri ditutup-tutupi
 Pengelembungan untuk keperluan KKN
 Harga dasar yang tidak standar
8. Rapat Penjelasan
 Prebid meeting yang terbatas
 Informasi dan deksripsi terbatas
9. Penyerahan dan Pembukaan Penawaran
 Relokasi tempat penyerahan dokumen penawaran
 Penerimaan doumen penawaran yang terlambat
 Penyerahan dokumen fiktif
 Ketidaklengkapan dokumen penawaran
10. Evaluasi Penawaran
 Kriteria evaluasi cacat
 Peggantian dokumen
 Evaluasi tertutup dan tersembunyi
 Peserta lelang terpola dalam rangka berkolusi
11. Pengumuman Calon Pemenang
 Pengumuman terbatas
 Tanggal pengumuman sengaja ditunda
 Pengumuman yang tidak informatif
12. Sanggahan Peserta Lelang
 Tidak seluruh sanggahan ditanggapi
 Substansi sanggahan tiak ditanggapi
 Sanggahan proforma untuk menghindari tuduhan tender diatur
 Panitia kurang independen dan akuntabel
13. Penunjukan Pemenang Lelang
 Surat penunjukan yang tidak lengkap
 Surat penunjukan yang sengaja ditunda pengeluarannya
 Surat penunjukan yang dikeluarkan dengan terburu-buru
 Surat penunjukan yang tidak sah
14. Penandatangan Kontrak
 Penandatanganan kontrak yang kolutif
 Penandatanganan kontrak yang ditunda-tunda
 Penandatanganan kontrak secara tertutup
 Penandatanganan kontrak tidak sah
15. Penyerahan Barang

17
 Kualifikasi barang yang tidak sesuai spesifikasi
 Pemenangan lelang mensubkontrakkan pekerjaan
 Volume barang tidak sama dengan yang tertulis di dokumen lelang
 Jaminan pasca jual palsu

D. KERANGKA AKUNTABILITAS UNTUK PENGADAAN GAGAL


1. Kerangka hukum cacat
Dasar hukum utama yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan pengadaan barang
dan/jasa pemerintahan adalah:
 Pasal 4 ayat (1) UUD 1945
 UU No. 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara
 Peraturan Pemerintah No.29 tahun 2000 tentang penyelenggaraan jasa konstruksi
 Peraturan pemerintah No.6 Tahun 2006 tentang pengelolaan barang milik
negara/daerah
 Peraturan presiden RI No.106 Tahun 2007 tentang lembaga kebijakan pengadaan
barang dan jasa pemerintahan
 Peraturan presiden RI No. 54 Tahun 2010 tentang pengadaan barang dan jasa
pemerintahan
 Peraturan presiden RI No.16 Tahun 2018 tentang pengadaan barang/jasa
pemerintah.
Dasar Hukum Terkait dengan pelaksanaan pengadaan barang dan/jasa pemerintah
adalah sebagai berikut:
 UU RI No. 5 Tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha
tidak sehat
 UU RI No. 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas
dari korupsi, kolusi, dan nepotisme
 UU RI No. 18 Tahun 2000 tentang jasa konstruksi
 Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2000 tentang pembinaan jasa konstruksi
 Peraturan Presiden RI No. 53 Tahun 2010 tentang pelaksanaan anggaran
pendapatan dan belanja negara.
Dari dasar hukum di atas dapat disimpulkan banyaknya aturan yang dijadikan sebagai
dasar untuk melakukan pengadaan yang baik. Hal yang perlu dicermati, yakni
banyaknya hukum sebagai aturan tidak membuat proses pengadaan berjalan dengan
efisien dan efektif. Adanya tumpang tindih atas aturan yang ada mengakibatkan
ketidakpastian dalam proses pengadaan di pemerintahan. Selain itu, banyaknya
kepentingan yang diatur dalam hukum mengadakan persaingan yang tidak sehat antar
perusahaan.
2. Pemerintah Tidak Terorganisasi Untuk Menagani Pengadaan
Saat ini, Pemerintah memiliki Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang dan/Jasa
Pemerintahan (LKPP). LKPP adalah lembaga pemerintahan yang bertugas
mengembangkan dan merumuskan kebijakan pengadaan barang dan/jasa pemerintahan.
Selain itu adanya penggunaan anggaran (PA) yang menjabat sebagai pemegang
kewenangan penggunaan anggaran kementerian negara/lembaga/perangkat daerah.

18
Selain itu sampai saat itu, Pemerintah sudah memiliki tata kelola untuk proses
pengadaan yang baik. Namun tata kelola belum sepenuhnya berjalan dengan baik.
Kurangnya pemahaman, pengetahuan, sumber daya dan integritas menjadi faktor utama
tidak berjalannya tata kelola dan proses pengadaan barang dan/jasa di pemerintahan.
3. Insentif-Insentif Terdistorsi
Baik pimro (pimpinan proyek) maupun anggota panitia lelang menghadapi insentif-
insentif kuat untuk berpartisipasi dalam korupsi dan kolusi.
 Bagian mereka dari hasil lingkaran kolusi yang mendominasi pengadaan publik
mungkin sekali relatif sangat tinggi terhadap gaji dan tunjangan mereka
 Tidak adanya mekanisme keluhan yang tepat serta tidak adanya sanksi administratif
atau hukum apapun karena terlibat dalam kolusi membantu mengabadikan sistem
tersebut
 Anggota-anggota panitia lelang tidak mempunyai pelatihan untuk melakukan tugas
mereka dengan baik. Akibatnya, tinjauan penawaran berfokus pada persyaratan
administratif ketimbang pada persyaratan teknis.
 Pemerintah gagal memberikan sumber-sumber daya kepada panitia lelang untuk
melakukan tugasnya dengan baik.
 Tidak adanya aturan dan UU jelas yang memperkecil kebijaksanaan memudahkan
kolusi
Apabila terjadi pelanggaran, sesuai dengan kewenangannya, pimpinan dapat
memberikan sanksi baik kepada penyedia maupun kepada pejabat pengadaan. Sanksi
yang diberika kepada penyedia karena pelanggaran tersebut berupa:
 Sanksi administratif
 Sanksi pencantuman dalam daftar hitam (black list)
 Gugatan perdata
 Pelaporan secara pidana kepada pihak berwenang
Sedangkan sanksi yang dapat diberikan kepada pejabat pengadaan yang melakukan
kecurangan:
 Sanksi administratif
 Dituntut ganti rugi
 Dilaporkan secara pidana
4. Pengadaan dilakukan di balik pintu
Pengungkapan publik terbatas pada proses pengadaan memperkuat insentif-insentif
buruk tersebut. Sebagian besar proses tersebut berlangsung di balik pintu tertutup.
Adanya kepentingan yang sama serta hubungan khusus antara pejabat dan penyedia
menjadikan proses pengadaan dilakukan dibalik pintu atau di bawah meja. Auditor
cukup sulit untuk mengendus fraud seperti ini karena pelaku melakukannya secara
tersembunyi dan terstruktur.
5. Pengauditan Lemah
Sistem pengauditan internal yang sangat lemah sangat mendukung terjadinya fraud
dalam proses pengadaan. Tidak adanya pemisahan tugas, tanggung jawab
mengakibatkan pihak-pihak tertentu dapat secara leluasa melakukan (pengambilan
tugas) fraud. Pemerintah memberi aturan dan tata cara melakukan proses pengadaan,

19
namun proses kepatuhan serta pengawasan tidak mendapat perhatian lebih dari
pemerintah. “Barang harus ada dan dapat dilihat, urusan administrasi dapat dilakukan
kemudian” mungkin seperti itu proses pengadaan di Indonesia saat ini. Saat ini, LKPP
sudah memiliki pedoman pengendalian dan pengawasan barang dan/ jasa terkait tugas
dan kewenangan para pihak dalam pengendalian dan pengawasan pengadaan barang
da/jasa sebagai berikut:
 Pemimpin K/L/D/I
 Memberikan laporan secara berkala tentang realisasi pengadaan barang dan jasa
kepada LKPP
 Melakukan pengawasan terhadap Pejabat penerimaan hasil pekerjaan
 Menugaskan aparat pengawas intern untuk melakukan audit
 Membuat “blacklist” bagi penyedia jasa/barang sesuai ketentuan
 Memberi sanksi kepada penyedia barang/jasa setelah mendapat masukan dari
PPK/ULP/PP sesuai ketentuan
 Penjabat Pengadaan
 Memberikan sanksi administrasi kepada penyedia barang/jasa sesuai dengan
ketentuan
 Mengusulkan sanksi pencantuman dalam “blacklist” kepada PA/KPA atas
pelanggaran penyedia barang/jasa sesuai dengan ketentuan
 APIP K/L/D/I
 Menindaklanjuti pengaduan penyedia barang/jasa dan/ atau masyarakat yang
dianggap beralasan dan mempunyai bukti sesuai dengan kewenangannya.
 Hasil tindak lanjut pengaduan dilaporkan kepada Menteri/Pimpinan
Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan institusi
 Dari hasil tindak lanjut bila diyakini terdapat indikasi KKN yang akan
merugikan keuangan neg- ara, dapat dilaporkan kepada instansi yang
berwenang dengan persetujuan Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala
Daerah/Pimpinan Institusi, dengan tembusan kepada LKPP dan BPKP.
 LKPP
 Melakukan evaluasi atas laporan berkala yang dibuat K/L/D/I tentang
pelaksanaan pengadaan barang/jasa.
 Menindak lanjuti pengaduan yang didukung bukti sesuai dengan kewenangan
yang dimiliki
 Mengumumkan secara nasional daftar hitam yang dibuat K/L/D/I
 Penyedia Barang/Jasa dan Masyarakat
 Bila menemukan indikasi penyimpangan prosedur, KKN dalam pelaksanaan
pengadaan Barang/ Jasa dan/atau pelanggaran persaingan yang sehat dapat
mengajukan pengaduan atas proses pemilihan Penyedia Barang/Jasa.
 Pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditujukan kepada APIP
K/L/D/I yang bersangkutan dan/atau LKPP, disertai bukti-bukti kuat yang
terkait langsung dengan materi pengaduan

20
E. PENGADAAN BERBASIS ELEKTRONIK
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dapat dilakukan secara elektronik. Pengadaan secara
elektronik (e-Procurement) adalah Pengadaan Barang/Jasa yang dilaksanakan dengan
menggunakan teknologi informasi dan transaksi elektronik sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan. Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik dilakukan dengan cara e-
tendering atau e-purchasing. Pengadaan Barang/Jasa secara Elektronik berpedoman pada
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah secara elektronik bertujuan untuk:
 Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas
 Meningkatkan akses pasar dan persaingan usaha yang sehat;
 Memperbaiki tingkat efisiensi proses pengadaan;
 Mendukung proses monitoring dan audit
 Memenuhi kebutuhan akses informasi yang real time
Pengadaan barang/jasa pemerintah secara elektronik dapat dilakukan dengan e-Tendering
atau e-Purchasing:
 E-Tendering merupakan tata cara pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan
secara terbuka dan dapat diikuti oleh semua penyedia barang/jasa yang terdaftar
pada sistem elektronik dengan cara menyampaikan satu kali penawaran sampai
dengan waktu yang telah ditentukan.
 E-Purchasing merupakan tata cara pembelian barang/jasa melalui sistem katalog
elektronik.

F. INVESTIGASI PENGADAAN
Uraian di atas memberikan gambaran kepada kita mengenai maraknya fraud dalam proses
pengadaan barang dan jasa. Proses “tender terbuka” tidak akan dapat menghalangi fraud
karena kolusi antara pejabat atau pegawai dari lembaga yang bersangkutan dengan pihak
penyuplai atau supplier. Bahkan dokumentasi yang rapi sering sekali berhasil mengelabui
auditor. Ia mungkin mulai curiga ketika melihat, membaca atau mendengar berita bahwa
gedung perkantoran atau sekolah ambruk, jalan bebas berulang kali jebol dalam waktu yang
singkat, obat-obatan yang tidak dapat digunakan dan seterusnya.

21
Cara-cara investigasi yang dijelaskan di bawah, diterapkan dalam pengadaan yang
menggunakan sistem tender atau penawaran secara terbuka. Dalam sistem ini, lazimnya
ada tiga tahapan besar berikut:
1. Tahap pratender
Dalam tahap pertama ini, umumnya terjadi kegiatan berikut:
 Pemahaman mengenai kebutuhan perusahaan atau lembaga akan barang atau jasa
yang akan dibeli
 Pengumuman mengenai niat perusahaan atau lembaga itu untuk membuat kontrak
pengadaan barang atau jasa
 Penyusunan spesifikasi
 Penentuan mengenai kriteria pemenang
Ada dua skema fraud dalam tahap ini, pertama dalam penentuan kebutuhan, kedua
dalam penentuan spek. Dalam penentuan kebutuhan, sering terjadi persekongkolan
antara pejabat atau pegawai dari lembaga yang membeli dengan supplier. Supplier
memberikan uang suap kepada pejabat atau pegawai dari lembaga yang membeli
sebagai ucapan terima kasihnya karena pejabat atau pegawai itu berhasil menentukan
kebutuhan akan barang dan jasa yang akan dipasok. Dalam rancangan fraud yang
kedua, yang menjadi sasaran adalah speknya. Gejala-gejala berikut patut diwaspadai.
 Kontrak dibuat secara ceroboh, melemahkan kedudukan pembeli dan/atau
menguatkan kedudukan penyuplai. Berdasarkan kontrak yang buruk ini,
penyuplai terus membuat klaim yang tidak dapat ditolak oleh pembeli.
Penolakan klaim oleh pembeli mengakibatkan denda atau hukuman lainnya.
Pejabat atau pegawai bagian pembelian yang menerima uang suap taid berada
dalam posisi benturan kepentingan; hal ini membuatnya tidak berdaya
menghadapi tekanan penyuplai.
 Speknya yang “ngambang” memudahkan penyuplai mengirimkan barang atau
jasa dengan harga yang lebih mahal. Karena itu, ketika terjadi persekongkolan
dan penyuapan, spek sengaja dibuat tidak jelas.
 Spek dibuat dengan “pengertian” bahwa ia akan diubah. Spek sementara
membuat pesaing lain sulit memenuhi persyaratan. Pemenang tender tahu
bahwa spek diubah setelah ia ditunjuk sehingga ia lebih leluasa memenuhinya.
Berikut ini tanda-tanda (red flags) yang perlu dikenali auditor:
 Orang dalam memberikan informasi atau nasihat yang menguntungkan satu
kontraktor.
 Pembeli menggunakan jasa konsultasi, masukan, atau spek yang dibuat oleh
kontraktor yang diunggulkan. Hal ini juga sering dijumpai dalam pengadaan
jasa-jasa konsultasi dimana konsultan yang diunggulkan akan membuat Terms
of Reference dan detail lainnya dari dokumen tender
 Pembeli memperbolehkan konsultan yang ikut dalam penentuan dan
pengembangkan spek, menjadi subkontraktor atau konsultasi dalam proyek itu.
 Biaya dipecah-pecah dan disebar ke bermacam akun atau perincian sehingga
lolos dari pengamatan atau review.

22
 Pejabat sengaja membuat spek yang tidak konsisten dengan spek sebelumnya
untuk pengadaan serupa. Alasannya bisa bermacam-macam, misalnya “kita
terdesak waktu” atau “ini sellers market”
2. Tahap penawaran dan negosiasi
Skema fraud dalam tahap ini umumnya berupa persekongkolan antara pembeli dan
kontraktor yang diunggulkan dan kontraktor “pendamping” atau “pemantas” yang
meramaikan proses penawaran. Di permukaan, proses tender kelihatannya sah karena
peserta tender cukup banyak atau bahkan melimpah.
Beberapa skema fraud pada saat tahap penawaran dan negosiasi:
 Permainan yang berkenaan dengan pemasukan dokumen penawaran. Ada banyak
bentuk dari permainan atau skema fraud ini, misalnya membuka dokumen
penawaran lebih awal, menerima dokumen penawaran meskipun sudah melewati
batas waktu, mengubah dokumen penawaran secara tidak sah (setelah berhasil
“mengintip” dokumen saingan), mengatur harga penawaran, memalsukan berita
acara dan dokumen proses tender lainnya.
 Permainan yang berkenaan dengan manipulasi dalam proses persaingan terbuka.
Permainan ini dalam bahasa Inggris disebut bid-rigging schemes atau contract-
rigging fraud. Ini dilakukan dengan persekongkolan di antar apembeli dan sebagian
peserta tender. Beberapa contoh permainan di atas jug amasuk kategori ini.
 Tender arisan (bid rotation). Persekongkolan ini dilakukan untuk menentukan
pemenang kontraktor sebelum dokumen penawaran dibuka.
 Menghalang-halangi penyamapain dokumen penawaran. Bentuk permainan ini pun
beraneka ragam. Seorang atau beberapa peserta tender tiba-tiba (dengan atau tanpa
alasan) mengundurkan diri. Peserta tender ditolak karena menggunakan “formulir”
yang salah atau “lupa” merekatkan materai. Beberapa peserta mengatur persyaratan
tambahan, seperti izin dari asosiasi pengusaha sejenis atau “putra daerah, dan lain-
lain. Yang tidak jarang terjadi, pengusaha daftar “hitam” justru mengendalikan
asosiasi pengusaha sejenis. Asosiasi semacam ini tidak lain dari penikmat rantai
ekonomi.
 Menyampaikan dokumen penawaran pura-pura (complementary bids) yang berisi
harga yang relatif lebih tinggi atau persyaratan yang sudah pasti akan
mengalahkannya. Penyampaian complementary bids memang dimaksudkan untuk
“meramaikan bursa” agar tender tersebut kelihatan sahih.
 Memasukkan dokumen penawaran “hantu” (phantom bids). Perusahaan
menciptakan banyak perusahaan lain yang bohong-bohongan. Perusahaan-
perusahaan bodong ini bergentayangan dalam arena tender. Yang terjadi adalah
mereka terkait kepada seorang pemilik yang sama. Tanda-tanda yang cepat dikenali
adalah: alamat dan nomor telepon sama, akta notaris (akta pendirian) dibuat pada
hari yang sama di notaris yang sama dengan nomor urut yang teratur. Pada hari
pembukaan dokumen penawaran, ke-10 perusahaan bodong ini diawali satu orang;
ia juga menandatangani berita acara dan atas nama ke-10 perusahaan bodong.
 Permainan harga. Kontraktor sengaja memainkan harga. Sesudah terpilih dalam
proses negosiasi, ia “menafsirkan kembali” data harganya. Ini berakhir dengan

23
harga yang lebih mahal dari kontraktor yang dikalahkannya. Bentuk lain adalah
penggantian subkontraktor atau konsultan yang lebih rendah mutu atau
kualifikasinya, atau tidak mengungkapkan nilai dari barang-barang proyek (laptop,
mesin fotokopi, dan lain-lain) sesudah proyek berakhir
3. Tahap pelaksanaan dan penyelesaian administratif
Tahap ini meliputi kegiatan-kegiatan berikut.
 Perubahan dalam order pembelian
 Review yang tepat waktu atas bagian pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan dan
untuk bagian mana kontraktor berhak menerima pembayaran.
Ada dua rancangan fraud atau bentuk permainan dalam tahap ini, yaitu substitusi atau
penggantian produk dan “kekeliruan” dalam perhitungan pembebanan.
Untuk menaikkan keuntungan, kontraktor mengganti barang atau produk atau bahan
baku/pembungkus yang dipasoknya. Substitusi produk ini bermacam-macam
bentuknya:
a. Pengiriman barang yang mutunya lebih rendah
b. Pengiriman bahan yang belum diuji
c. Pemalsuan hasil pengujian
d. Pengiriman barang palsu
e. Pemalsuan sertifikasi, misalnya sertifikasi mengenai keaslian barang, mutu atau
persyaratan lain
f. Pembuatan sample yang khusus untuk pengujian dan memang lulus pengujian
tetapi sebagian besar produk yang dikirimkan tidak sebaik sampel ini.
g. Pemindahan tags yang bertanda “sudah diperiksa” dari barang yang sudah
diperiksa ke barang-barang yang belum diperiksa.
h. Penggantian dengan barang-barang yang kelihatannya (rupanya) sama.
Untuk mendeteksi permainan di atas, auditor harus melakukan:
 Pengecekan secara rutin dan kunjungan mendadak
 Me-review laporan inspeksi atau laporan laboratorium pengujian secara cermat
 Uji produk di laboratorium independen
 Review dokumen dan bandingkan dengan produk atau jasa yang diterima untuk
memastikan adanya kepatuhan
 Penilaian atas barang dan jasa yang diserahkan untuk memastikan bahwa
ketentuan yang disepakati telah dipenuhi, termasuk di dalamnya pengendalian
mutu.
Bentuk permainan kedua, kekeliruan dalam pembebanan bisa berupa kekeliruan
perhitungan (misalnya ada biaya yang boleh dan tidak boleh dibebankan ke proyek),
kekeliruan dalam pembebanan biaya material atau tenaga kerja. Contoh yang paling
sederhana adalah dalam kontrak penggunaan tenaga konsultan yang pembebanannya
meliputi jumlah waktu (man-hours, man-days, man-month, dan seterusnya) dikalikan
tarif per satuan waktu. Yang bisa dimainkan adalah jumlah waktunya, tarif yang
seharusnya dan hasil perkalian.

24
G. DIAGRAM
Uraian mengenai skema fraud diatas disarikan dalam Diagram di bawah ini. Dari diagram
ini, terlihat pembayaran uang suap dilakukan sesudah kontraktor menerima pembayaran
kontrak. Ini dikenal sebagai kickback.

H. KOMPUTER SEBAGAI ALAT BANTU


Teknologi komputasi membantu auditor dalam mendeteksi fraud dalam pengadaan barang.
Program komputer dapat khusus dibuat (atau sudah tersedia, seperti ACL) untuk
mengidentifikasi:
 Penyuplai dengan alamat P.O. BOX.
 Penyuplai dengan alamat yang sama dengan alamat pegawai
 Kontrak yang gagal dalam proses tender, tetapi sekarang menjadi subkontraktor
 Pembayaran-pembayaran kepada penyuplai tertentu selama suatu jangka waktu (untuk
mendeteksi kemungkinan pembayaran yang berulang-ulang atau pembayaran ganda).
 Pembayaran kepada penyuplai yang tidak melalui sistem yang ada.
 Pegawai atau konsultan yang dalam hari yang sama menangani beberapa proyek atau
proyek yang bukan untuk pembeli.
Komputer hanyalah alat bantu. Beberapa penyelewengan di bidang pengadaan yang
dibiayai Bank Dunia terungkap dengan bantuan spread sheet yang sederhana.

25