Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PEMBENIHAN PERIKANAN LAUT

PEMBENIHAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)

Oleh
Nama : Dina Septalia Lestari
NIM : B0A012003
Kelompok :1

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PROGRAM STUDI D-III PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN
DAN KELAUTAN
PURWOKERTO

2013
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Udang putih Amerika (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu pilihan


jenis udang yang dapat dibudidayakan di Indonesia. Udang Litopenaeus vannamei
lebih dikenal dengan nama udang vannamei. Udang vannamei masuk ke Indonesia
pada tahun 2001 dan pada bulan Mei 2002 pemerintah Indonesia memberikan ijin
kepada perusahaan swasta untuk mengimpor induk udang vannamei sebanyak
2.000 ekor. Induk dan benur tersebut kemudian dikembangkan oleh hatchery
pemula. Dengan adanya pembenihan udang vannamei, baik dalam bentuk skala
kecil atau skala mini hatchery akan membantu pemerintah dalam penyediaan
benur bemutu bagi pembudidaya udang vannamei. Sehingga target pemerintah
meningkatkan produksi udang dalam negeri dapat tercapai.
Menurut Ghufran (2006), Klasifikasi udang vaname (Litopenaeus
Vannamei) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Artrhopoda
Kelas : Malascostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei
Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang
yang memiliki pertumbuhan cepat dan nafsu makan tinggi, namun ukuran yang
dicapai pada saat dewasa lebih kecil dibandingkan udang windu (Paneus
monodon), habitat aslinya adalah di perairan Amerika, tetapi spesies ini hidup dan
tumbuh dengan baik di Indonesia. Di pilihnya udang Vannamei ini di sebabkan
oleh beberapa faktor yaitu (1) sangat diminati dipasar Amerika, (2) lebih tahan
terhadap penyakit dibanding udang putih lainnya, (3) pertumbuhan lebih cepat
dalam budidaya, (4) mempunyai toleransi yang lebar terhadap kondisi lingkungan
(Ditjenkan, 2006).
Udang vannamei adalah udang asli dari perairan amerika latin yang kondisi
iklimnya subtropics. Di habitat alaminya dia suka hidup pada kedalaman kurang
lebih 70 meter.Udang vannamei bersifat nocturnal, yaitu aktif mencari makan
pada malam hari. Proses perkainan pada udang vannamei ditandai dengan
loncatan betina secara tiba-tiba. Pada saat meloncat tersebut, betina mengeluarkan
sel-sel telur.Pada saat yang bersamaan, udang jantan mengeluarkan sperma
sehingga sel telur dan sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung kira-kira
satu menit. Sepasang udang vannamei berukuran 30- 45 gram dapat menghasilkan
telur sebanyak 100.000 - 250.000 butir. Siklus hidup udang vannamei sebelum
ditebar di tambak yaitu stadia naupli, stadia zoea, stadia mysis, dan stadia post
larva. Pada stadia naupli larva berukuran 0,32 - 0,59 mm, sistim pencernaanya
belum sempurna dan masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur.
Stadia zoea terjadi setelah larva ditebar pada bak pemeliharaan sekitar 15 - 24
jam. Larva sudah berukuran 1,05 - 3,30 mm dan pada stadia ini benih mengalami
3 kali moulting. Pada stadia ini pula benih sudah bisa diberi makan yang berupa
artemia.Pada stadia mysis, benih udang sudah menyerupai bentuk udang.Yang
dicirikan dengan sudah terluhatnya ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson).
Selanjutnya udang mencapai stadia post larva, dimana udang sudah menyerupai
udang dewasa. Hitungan stadianya sudah menggunakan hitungan hari.Misalnya,
PL1 berarti post larva berumur satu hari. Pada stadia ini udang sudah mulai
bergerak aktif.
Pada udang putih, ciri-ciri telur yang telah matang adalah dimana telur akan
terlihat berwarna coklat keemasan (Wyban dan Sweeney,1991). Udang putih
mempunyai carapace yang transparan, sehingga warna dari perkembangan
ovarinya jelas terlihat. Pada udang betina, gonad pada awal perkembangannya
berwarna keputih-putihan, berubah menjadi coklat keemasan atau hijau
kecoklatan pada saat hari pemijahan (Lightner et al., 1996).
Telur jenis udang ini tergantung dari ukuran individu, untuk udang dengan
berat 30 gram sampai dengan 45 gram telur yang di hasilkan 100.000 sampai
250.000 butir telur. Telur yang mempunyai diameter 0,22 mm, cleaveage pada
tingkat nauplis terjadi kira-kira 14 jam setelah proses bertelur (Anonymous,
1979). Telur yang dihasilkan dari udang vanname di CV. Mutiara Windu Sakti
adalah 60.000- 100.000 ribu. Survival rate penetasan pada bulan pertama sebesar
50 %, bulan ke dua hingga ke tiga adalah 90 % dengan suhu 28 – 320C, dan
salinitas 30-32 ppt. Menurut Lim et al., (1989), perkembangan larva udang
penaeid terdiri dari beberapa stadia yaitu:
a. Stadia nauplius
Nauplius bersifat planktonik dan phototaxis positif. Dalam stadia ini masih
memiliki kuning telur sehingga belum memerlukan makanan. Perkembangan
stadia nauplius terdiri dari enam sub stadium. Nauplius memiliki 3 pasang organ
tubuh yaitu antena pertama, antena kedua dan mandible. Antena pertama
uniramous, sedangkan 2 alat lainnya biramous.
b. Stadia Zoea
Perubahan bentuk dari nauplius menjadi zoea memerlukan waktu kira-kira
40 jam setelah penetasan. Pada stadia ini larva dengan cepat bertambah besar.
Tambahan makanan yang diberikan sangat berperan dan mereka aktif memakan
phytoplankton. Stadia akhir zoea juga memakan zooplankton. Zoea sangat sensitif
terhadap cahaya yang kuat dan ada juga yang lemah diantara tingkat stadia zoea
tersebut.
Zoea terdiri dari tiga substadia secara kasar tubuhnya di bagi kedalam tiga
bagian, yaitu carapace, thorax dan abdomen. Tiga substadia tersebut dapat
dibedakan berdasarkan segmentasi abdomen dan perkembangan dari lateral dan
dorsal pada setiap segmen.
c. Stadia mysis
Larva mencapai stadia mysis pada hari ke lima setelah penetasan. Larva
pada stadia ini kelihatan lebih dewasa dari dua stadia sebelumnya. Stadia mysis
lebih kuat dari stadia zoea dan dapat bertahan dalam penanganan. Stadia mysis
memakan phytoplankton dan zooplankton, akan tetapi lebih menyukai
zooplankton menjelang stadia mysis akhir (M3). Mysis memilki tiga sub stadia
dimana satu dengan lainnya dapat dibedakan dari perkembangan bagian dada dan
kaki renang.
d. Stadia post larva
Perubahan bentuk dari mysis menjadi post larva terjadi pada hari
kesembilan. Stadia post larva mirip dengan udang dewasa, dimana lebih kuat dan
lebih dapat bertahan dalam penanganan. Kaki renang pada stadia post larva
bertambah menjadi tiga segmen yang lebih lengkung. Post larva bersifat
planktonik, dimana mulai mencari jasad hidup sebagai makanan.
Menurut Haliman, R.W dan Adijaya, D.S (2005) tubuh udang vaname
dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Vaname
memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau eksoskeleton
secara periodik (moulting). Bagian tubuh udang vannamei sudah mengalami
modifikasi sehingga dapat digunakan untuk keperluan sebagai berikut.
1. Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam lumpur (burrowing).
2. Menopang insang karena struktur insang udang mirip bulu unggas.
3. Organ sensor, seperti pada antena dan antenula. Kepala (thorax).
Kepala udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula, dan dua
pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan tiga pasang
maxillipied dan lima pasang kaki berjalan (periopoda) atau kaki sepuluh
(decapoda). Maxillipied sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ
untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel pada chepalothorax yang
dihubugka oleh coxa.
Bentuk periopoda beruas-ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus
ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4
dan ke-5). Di antara coxa dan dactylus, terdapat ruang berturut-turut disebut basis,
ischium, merus, carpus, dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang bisa
digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies penaeid dalam taksonomi.
Kehadiran udang vannamei diakui sebagai penyelamat dunia pertambakan
udang di Indonesian. Petambak mulai bergairah kembali begitu juga dengan para
operator pembenih udang. Operator mulai membenihkan udang vannamei untuk
memenuhi kebutuhan petambak. Awal mula pembudidayaan udang vannamei
dilakukan di Jawa Timur dan memperoleh keuntungan yang cukup memuaskan
sehingga petambak di luar Jawa Timur sangat antusias untuk membudidayakan
terhadap udang vannamei, Bahkan hampir 90% petambak mengganti komoditas
udang windu menjadi udang vannamei. Hal ini dikarenakan produksi udang
windu pada saat itu yang sedang berkembang mengalami penurunan karena
serangan penyakit dan virus terutam bercak putih WSSV (White Spot Syndrome
Virus) , TSV (Taura sundrome virus). Dengan semakin banyaknya petambak
udang vannamei maka diperlukan prosedur dan proses budidaya yang benar bagi
para hatchery baik dari guna memenuhi permintaan para petambak khususnya
petambak udang vannamei.
Dengan demikian diharapkan produktivitas udang vannamei dapat
diangkat . Untuk melaksanakan usaha perikanan budidaya yang berkelanjutan,
maka penerapan tatacara budidaya yang bertanggung jawab harus dimulai dari
kegiatan pembenihan sampai dengan pembesarannya. Benih yang bermutu
dicirikan antara lain : pertumbuhan cepat, ukuran seragam sintasan tinggi,adaptif
terhadap lingkungan pembesaran, bebas parasit dan tahan terhadap penyakit,
efisien dalam menggunakan pakan serta tidak mengandung residu bahan kimia
dan obat-obatan yang dapat merugikan manusia dan lingkungan. Agar dihasilkan
benih yang bermutu, maka dalam kegiatan usaha pembenihan harus mendapatkan
teknik pembenihan sesuai dengan standard dan prosedur pembenihan yang
baik.untuk itu perlu adanya Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) yang dapat
digunakan sebagai acuan para pelaku usaha pembenihan udang dalam
menghasilkan benih yang bermutu.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui teknik pemeliharaan


indukan dan nauplii udang vaname (Litopenaeus vannamei).
II. MATERI DAN METODE

2.1 Materi

Materi yang digunakan pada praktikum pembenihan perikanan laut ini


adalah lokasi hatchery skala rumah tangga pembenihan udang vannamei yang
bertempat di CV. Mutiara Windu Sakti, Desa Tegal Kamulyan, Kabupaten
Cilacap. Adapun sarana dan prasarana yang digunakan adalah bak pemeliharaan
induk, bak pemeliharaan benur, bak pakan alami,bak tandon, bak filter, aerator,
pipa PVC, send filter, pompa air, seser dengan berbagai ukuran, ember a, nauplii,
air laut, pupuk plankton, Artemia.

2.2 Metode

Metode yang digunakan pada praktikum pembenihan perikanan laut adalah


metode survey lapangan dan diskusi tentang pembenihan udang vannamei dengan
pemilik hatchery CV. Mutiara Windu Sakti.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

Gambar 3.1.1. Kolam pemeliharaan induk jantan dan betina

Gambar 3.1.2. Bak pemeliharaan larva (benur)

Gambar 3.1.3. Bak pemeliharaan pakan alami Skeletonema sp.


dan Artemia
Gambar 3.1.4. Pupuk plankton dan Obat

Gambar 3.1.5. Sampel nauplii dan benur yang siap di jual

Gambar 3.1.6. Sand filter Gambar 3.1.7 Bak Tandon


Gambar 3.1.8 Pompa Gambar 3.1.9 Seser berbagai size

3.2. Pembahasan

3.2.1. Teknik Pemeliharaan Indukan Vannamei

Induk udang yang berkualiatas sangat menentukan dalam keberhasilan


memproduksi nauplii. Dalam memenuhi kebutuhan induk vannamei, CV.
Mutiara Windu Sakti yang berdiri tahun 1989 dan memulai pembenihan udang
vanname tahun 2011 awalnya mendatangkan induk F1 dari Florida dengan alasan
sesuai dengan iklim tropis di Indonesia. Namun untuk sekarang indukan yang di
gunakan untuk produksi nauplii di CV. Mutiara Windu Sakti adalah indukan
murni Nusantara. Untuk menghindari stress terhadap induk yang dikirim tersebut
digunkan injeksi O2 dan penerunan suhu air packing.
Setelah indukan diterima, hal yang dilakukan adalah merangsang
kematangan telur pada induk udang betina agar cepat memijah yang disebut
dengan ablasi nata. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara :
- Pemijatan tangkai bola mata dan bola mata.
- Pembakaran tangkai mata dengan menggunkan solder atau dengan benda
perak nitrat.
- Peningkatan tangkai mata.
- Pemotongan atau pengguntingan tangkai mata (ablasi).
Dari keempat cara tersebut, cara yang paling praktis dan efektif serta
menunjukan hasil yang baik adalah dengan melakukan pemotongan tangkai mata
(ablasi). Ablasi pada induk udang berpedoman pada perkembangan kelamin
kepiting yang dihambat oleh hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pada tangaki
mata. Jika tangkai mata kepiting dihilangkan, hormon yang mengahmbat
perkembangan alat kelamin tidak diproduksi sehingga kepiting sangggup
mematangkan telur dan memijah (Cahyaningsih, 2006). Sebelum dilaksanakan
ablasi, sebaiknya induk udang memiliki berat minimal 35 gram umur 7 bulan dan
setelah di ablasi induk bisa mencapai berat 40 gram selain itu udang ditempatkan
dalam bak berisi air laut yang bersih dicampur larutan formalin 70 % dengan dosis
4 ppm - 5 ppm. Larutan formalin sangat bermanfaat untuk menghindarkan induk
dari serangan penyakit serta mempertinggi daya tahan tubuh induk udang
(Cahyaningsih, 2006). Pemeliharaan induk dilakukan selama 4 bulan dan waktu
pematangan gonadnya adalah 4-5 hari.
Pakan alami yang cocok bagi induk udang untuk mendukung proses
pemijahan yang baik adalah cacing laut yang di supply dari lampung dan
kerangPemberian pakan dilakukan 4x sehari yaitu 2000 gram untuk 350 ekor
udang dengan pemberian 2x cacing laut dan 2x kerang. Waktu pemberian pakan
adalah pukul 06.00, 12.00, 14.00 dan 16.00.
Proses pemijahan terjadi di dalam bak maturasi yang padat penebaran untuk
menghasilakan hasil yang terbaik berkisar antaa 1-3 ekor per m³ dengan
perbandingan jumlah induk jantan dan betina adalah 1 : 2 (Iskandar dan Khairul
A, 2008). Suhu air untuk prmijahan adalah 24 – 28oC. Ruang meturasi diusahakan
gelap dengan suhu ruang berkisar antara 29° C - 32º C. Setelah tiga hari dari
proses ablasi pertama dapat dilakukan sampling induk yang matang telur dan
untuk selanjutnya dapat dilakuakn setiap hari. Kegiatan ini biasanya dilakukan
ketinggian air dalam bak sebanyak 50 %. Seleksi dilakukan pada induk yang telah
mencapai TKG III, yang ditandai dengan ovari didaerah punggung dan akan
terlihar jelas bila disorot dengan senter halogen, bahkan pada TKG ini ovari
meluas sampai ke bagian kepala. (Agustin, dkk, 1999 ). Proses pemijahan yang
terjadi kurang lebih 5 jam.
Adapun masalah terjadinya kegagalan dalam pemijahan adalah saat
pemijahan induk jantan mengalami stress.

3.2.2. Teknik Pemeliharaan Nauplii Udang Vannamei

Hal – Hal yang dilakukan dalam pemeliharaan nauplii udang vannamei


adalah :
a) Bak pemeliharaan
Bak pemeliharaan yang akan digunakan harus disuci hamakan sehingga
bebas dari penyakit. Caranya, bak dikeringkan (dijemur), kemudian dasar dan
dinding bak disikat. Agar lebih steril gunakan zat-zat kimia seperti klorin dengan
dosis 100 ppm, KMnO4 (kalium permanganat) 10 ppm, dan formalin 50 ppm.
b) Perlakuan air media
Air media berasal dari air bak tandon yang telah di filter dengan
menggunakan sand filter dengan penyaringan beberapa lapis yang di lapsi oleh
kapas. Air laut yang dibutuhkan adalah air yang berkadar garam 29-31 permil, dan
bebas bahan pencemar. Menurut Cahyaningsih (2006), sebelum naupli ditebar ke
dalam bak perlu diperhatikan salinitas, kondisi naupli, dan suhu air media. Ciri
naupli yang sehat, gerakannya sangat aktif terutama jika kena sinar. Dan bila
terjadi perbedaan suhu dan salinitas, maka dilakukan proses penyesuaian yang
dikenal dengan proses aklimatisasi. Aklimatisasi salinitas dilakukan dengan cara,
air media yang di dalam bak dialirkan ke dalam baskom yang berisi naupli dengan
menggunakan dengan menggunakan slang plastik yang berdiameter kecil,
sehingga aliran airnya hanya sebesar benag jahit. Untuk penurunan kadar garam
sebesar 1 permil diperlukan waktu antara 15-30 menit. Apabila salinitas antara air
media pada bak pemeliharaan sudah sama dengan air media pada baskom naupli,
maka proses akilmatisasi salinitas dianggap selesai.
c) Penebaran nauplii dan pemberian pakan
Setelah aklimatisasi selesai naupli ditebarkan ke dalam bak pemeliharaan
dengan menjungkirkan baskom yang berisi naupli perlahan-lahan. Padat tebar
nauplii yang aman berkisar 250 ekor/L. Jenis pakan yang diberikan pada larva
udang vannamei selama proses pemeliharaan yaitu pakan alami. Pakan alami
yang biasa diberian pada larva uadang vannamei yaitu Skeletonema costatum dan
Artemia sp. Pakan alami ini sangat dibutuhkan pada stadium akhir napulius (N-6)
atau awal stadium zoea. Sedangkan pakan buatan mulai diperlukan ketika larva
memasuki stadium zoea. Pakan buatan ini ada yang dijual dalam bentuk kalengan
maupun bungkusan. Dosis pakan yang diberikan pada larva tidak dihitung
berdasarkan jumlah populasi larva, tetapi diukur dengan satuan ppm, sebab larva
membutuhkan pakan yang tersedia setiap saat. Yang dimaksud dengan ppm
adalah gram/ton volume air media yang jika pakan berbentuk tepung, sedangkan
yang cair ml/ton. Dosis terebut hanya untuk pakan buatan, sedangkan untuk dosis
pakan alami yaitu sel/cc/hari atau individu /ekor larva/hari. Pemberian pakan
dilakukan setiap 4-6 kali/hari dengan selang waktu 4-5 jam. Larva suka makan
pada malam hari maka pemberian pakan pada malam hari lebih baik dari pada
siang hari, yaitu pukul 05.00, 10.00, 15.00, 20.00 dan pukul 24.00.
Pemberian pakan dilakukan dengan cara dimasukkan kedalam saringan
yang kemudian dimaukkan ke dalam ember yang berisi air tawar. Setelah itu
saringn diremas-remas sampai pakan yang ada dalam saringan habis, kemudian
ditambahkan pakan alami. Pakan yang berada dalam ember yang berisi air tadi
langsung ditebar ke dalam bak pemeliharan (Farhan dkk, 2006).
Menurut Iskandar dan Khairul Amri (2008), temperatur air untuk
optimalkan pertumbuhan dan transisi dari satu larva ke larva berikutnya adalah
280C, sedangkan salinitas adalah 26 - 30 dan pH sekitar 8,0, namun pH 7,8
sampai 8,4 sudah cukup. Menurut Haliman, Rubiyanto W dan Dian Adijaya
(2005) dalam pengelolaan kualitas air ada beberapa perlakuan agar air media tetap
sesuai untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva, diantaranya adalah
penyiponan. Penyimponan dilakukan agar sisa-sisa pakan buatan maupun sisa-sisa
metabolisme larva dapat dikeluarkan sehingga tidak terjadi penumpukan dan
pembusukandalam air media. Penyimponan dapat dilakukan setelah larva
mencapai stadium mysis, frekuensinya 2 hari sekali, waktunya setelah 2 jam
pemberian pakan. Cara menyimpon adalah sebagai berikut :
 Blower dimatikan,setelah itu slang yang akan digunakan utuk
menyedot air diisi air penuh dan dipasang saringan pada salah satu
ujungnya.
 Kemudian slang dimasukkan kedalam bak dan ujungnya yang dilepas
tutupnya sehingga air keluar dengan sendirinya.
d) Pemanenan
Pemanenan benur dilakukan mulai pada stadia PL10 atau ukuran PL
telah mencapai 1 cm dan yang telah memenuhi kriteria-kriteria benur yang siap
dipanen. Caranya adalah membuka saluran pembuangan yang telah diberi
saringan di dalamnya agar air yang keluar tidak deras dan benur tidak ikut keluar.
Sebelum hal tersebut dilakukan terlebih dahulu mengurangi ketinggian air hingga
6-10 cm sehingga benur mudah ditangkap dengan menggunakan serok. Setelah
ketinggian air mencapai 5 cm hentikan penyerokan dan buka saringan, sehinga
sisa benur akan keluar bersama air tersebut. Langkah berikutnya adaptasi
salinitas, penghitungan, dan pengemasan. Survival rate yang di hasilkan dalam
pemeliharaan larva dengan rata-rata 30% (Iskandar dan Khairul A, 2008).
Hasil panen benur udang vannamei biasanya langsung dibeli oleh para
petambak yang langsung dating ke hatchery. Benur udang vannamei yang sering
dibeli yaitu benih vannamei yang sering tebar yang berumur PL10-PL30. Harga
jual udang sangat tergantung pada kualitas benih . Benih tersebut harus sehat,
kulit dan tubuh bersih dari organisme parasit, tidak cacat, tubuh tidak pucat, gesit,
merespon cahaya dan bergerak aktif. Selain itu harga benih udang juga
dipengeruhi oleh ukuran panjang dan bobot sesuai umur PL serta musim
penebaran benur di tambak (Haliman dan Adijaya, 2005).
Untuk memperoleh harga jual yang baik dan pemasaran yang efisien,
penyusunan program pemasaran harus dilibatkan sedikit mungkin pemasaran.
Dengan demikian, jalur lembaga pemasaran yang sedikit akan terbentuk margin
pemasaran yang rendah sehingga harga ditingkat hatchery tinggi dan harga
ditingkat konsumen layak jadi kedua belah pihak (pengusaha pembenihan atau
pemeliharaan larva dengan konsumen) sering diuntungkan. Margin pemasaran
adalah selisih antara harga ditingkat konsumen dengan harga jual di tingkat
produsen benur (Haliman dan Adijaya, 2005).
Menurut Heryadi D dan Sutadi (1993) pengangkutan benur ummnya
dilakukan dengan cara tertutup dan terbuka. Pengangkutan cara tertutup disenangi
karena pengirimannya dapat dilakukan dengan menggunakan bus, kereta api,
pesawat udara, dan kendaraan lainnya. Cara ini membutuhkan es, kantong pastik,
tabung oksigen dan kardus Styrofoam.
Kunci keberhasilan dalam pengangkutan cara tertutup adalah suhu dan
kepadatan. Dalam pengangkutan diusahakan agar suhu tetap rendah, oleh karena
itu setelah plastik diikat, maka bagian luarnya digantungkan plastik berisi es.
Untuk daerah tropis suhu yang dianggap aman adalah 18-20 0 C.
Kepadatan yang aman dalam pengankutan cara tertutup yaitu 4.000-6.000
ekor /kantong. Setiap kantong diisi dengan 4 liter air dengan perbandingan
oksigen dan air 5:1. Pengangkutan dengan cara ini akan aman jika lama perjalanan
maksimum 6 jam.
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang sudah di uraikan di atas, dapat di


simpulkan bahwa :

1. Indukan udang vannamei CV. Mutiara Windu Sakti berasal dari indukan F1
Florida dan indukan murni nusantara. Untuk mempercepat pematangan gonad
dilakukan dengan cara teknik ablasi yaitu pemotongan tangkai mata udang
vannamei dan kondisi lingkungan harus baik supaya indukan tidak stress dan
tetap baik, terutama induk udang jantan yang rentan terkena strees yang bisa
mengakibatkan pemijaahn menjadi gagal.
2. Pemeliharaan nauplii harus memperhatikan lingkungan baik dan pakan yang
mencukupi supaya pertumbuhan dan perkembangannya bagus dan mencapai
survival rate yang tinggi selain itu padat penebaran dan ketersediaan pakan
alami seperti Skeletonema sp. dan Artemia sp. juga menentukan
kelangsungan hidupnya.
DAFTAR PUSTAKA

Agustin, dkk. 1999. Pembenihan udang vannamei.IPB. Bogor.


Cahyaningsih, H. S. 2006. Petunjuk Teknis Produksi Pakan Alami. Direktorat
Jendral Perikanan. Situbondo. 34 hal.
Ditjenkan Budidaya, 2005. Profil Budidaya air payau. Direktorat Perikanan
Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta Perikanan
Farhan, Goenawan M, Insani dan Marliani. 2006. Jurnal BAPPL Sekolah
Tinggi Perikanan. Bagian Administrasi Pelatihan Perikanan
Lapangan. Serang.
Ghufran, M. 2006. Pemeliharaan Udang Vanname. Gramedia. Surabaya.
Haliman, Rubiyanto W dan Dian Adijaya. 2005. Budidaya Udang Vannamei.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Heryadi, D & Sutadi, 1993. Back Yard Usaha Budidaya Udang Skala Rumah
Tangga. Penebar Swadaya. Jakarta
Iskandar dan Khairul Amri. 2008. Budidaya Udang Vannamei. Gramedia.
Jakarta
Lightner at.all. 1996. Isolasi pathogenik pada udang. IPB. Bogor.
Weyban dan sweeney. 1991. Analisis berat dan panjang pada udang. UNDIP.
Semarang.