Anda di halaman 1dari 66

BUKU PETUNJUK TEKNIS

TEKNOLOGI BUDIDAYA CABAI MERAH

Penyusun : Sri Swastika


Dian Pratama
Taufik Hidayat
Kuntoro Boga Andri

Editor : Rustam
Oni Ekalinda

Lay Out : Andi

Budidaya Cabai 1
BUKU PETUNJUK TEKNIS

TEKNOLOGI BUDIDAYA CABAI MERAH


Penyusun :
Sri Swastika
Dian Pratama
Taufik Hidayat
Kuntoro Boga Andri

Editor :
Rustam
Oni Ekalinda

Sampul dan Tata Letak : Andi

Diterbitkan atas kerjasama UR Press dan Kementerian Pertanian


Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Riau

Alamat Penerbit:
Badan Penerbit Universitas Riau UR PRESS
Jl. Pattimura No 9, Pekanbaru. 28132
Riau, Indonesia
e-mail: unri_press@yahoo.co.id
ANGGOTA IKAPI

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang


Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian
atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit

Cetakan Pertama, Desember 2017

ISBN 978-979-792-798-1

2 Budidaya Cabai
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Allah SWT atas


ridho-Nya sehingga buku petunjuk teknis (juknis) tentang
budidaya cabai ini dapat diselesaikan oleh tim penulis.

Juknis ini berisikan panduan atau acuan bagaimana


tahapan-tahapan budidaya cabai dari persiapan
lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan, hingga
panen dan pascapanen.

Penulis menyampaikan terimakasih kepada semua


pihak yang telah memberikan masukan selama
penyusunan buku juknis ini. Buku juknis ini masih banyak
kekurangan, untuk itu diharapkan kritik dan saran dari
para pembaca.

Semoga buku juknis budidaya cabai ini dapat


bermanfaat bagi masyarakat, khususnya bagi insan
pertanian.

Tim Penulis

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai i i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ......................................................... i


DAFTAR ISI ...................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR ........................................................... iv
PENDAHULUAN ............................................................... 1
SYARAT TUMBUH ............................................................. 5
PERSIAPAN LAHAN .......................................................... 7
PERSEMAIAN ................................................................... 11
PENANAMAN................................................................... 14
PEMELIHARAAN TANAMAN ............................................ 18
PANEN DAN PASCAPANEN ........................................... 50
PENUTUP .......................................................................... 52
DAFTAR PUSTAKA............................................................. 53
INDEX................................................................................ 56

iiBudidaya Cabai ii
Budidaya Cabai
DAFTAR TABEL

Halaman

1. Jenis, dosis, dan waktu pemupukan pada


tanaman cabai ........................................................ 24
2. Daftar kebutuhan kapur untuk setiap pH tanah .... 45

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai iii iii
DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Persiapan lahan pada lahan kering ..................... 9


2. Persiapan lahan pada lahan sawah .......................... 9
3. Penyemaian cabai menggunakan baki semai..... 12
4. Persemaian dengan naungan ............................... 12
5. Sistem penanaman: a. 2 baris, b 3 baris, dan c 4
baris............................................................................ 15
6. Tumpang sari............................................................. 15
7. a. Mulsa jerami, b. mulsa plastik hitam perak......... 16
8. Pemupukan dengan cara disebar ......................... 20
9. Pemupukan pada larikan ........................................ 20
10. Pemupukan dalam lubang dan sekitar tanaman. 21
11. Pemupukan dengan disiramkan............................. 21
12. Larva H. armigera dan gejala serangannya.......... 26
13. Kelompok kutu kebul di bawah permukaan
daun. ......................................................................... 27
14. Kutu kebul Bemisia tabaci dan Trialeurodes
vaporariorum ................................................................. 28
15. Kutu daun persik dan Kutu daun kapas ................. 28
16. Trips pada bunga cabai dan gejala serangannya
pada bagian daun .................................................. 29
17. Gejala serangan tungau pada tanaman cabai .......... 30
18. Tungau merah (kiri) dan tungau teh kuning
(kanan) ..................................................................... 30
19. a. Gejala serangan lalat buah pada cabai,
b. lalat dewasa dan c. larva lalat buah................. 31
20. Gejala serangan penyakit bercak daun
serkospora pada daun tanaman cabai. ............... 32
21. Gejala serangan penyakit bercak daun
alternaria................................................................... 33
22. Gejala serangan penyakit busuk buah antraknos
pada buah cabai .................................................... 34

Budidaya Cabai
iv iv
Budidaya Cabai
23. Gejala serangan penyakit busuk daun fitoftora
pada tanaman cabai ............................................. 34
24. Gejala serangan penyakit layu fusarium pada
tanaman cabai........................................................ 35
25. Gejala serangan R. solani (kiri) dan gejala
serangan Pythium spp (kanan) di pangkal
batang tanaman cabai ......................................... 36
26. Gejala serangan virus kuning pada tanaman
cabai (kiri) dan pada rumput babadotan
(kanan) ...................................................................... 37
27. Hemiptarsonemus varicornis ................................... 38
28. Eriborus argenteopilosus........................................... 39
29. Trichogramma chilonis. ............................................ 39
30. Larva dan imago M. Sexmaculatus ....................... 40
31. Rhinocoris sp.............................................................. 40
32. Amblyseius cucumeris .............................................. 41
33. S. litura terserang jamur B. bassiana........................ 42
34. Larva S. litura terserang SLNPV................................. 42
35. Trips terserang Steinernema spp.............................. 43
36. Perangkap trips ......................................................... 47
37. Perangkap lalat buah .............................................. 48
38. Buah cabai merah yang siap untuk dipanen........ 50
39. Buah cabai merah .................................................. 51

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai v v
vi Budidaya Cabai
PENDAHULUAN

Cabai adalah salah satu komoditas sayuran


unggulan nasional dengan daya adaptasi dan nilai
ekonomi tinggi. Cabai termasuk komoditas strategis
pertanian yang mendapat perhatian serius dari
pemerintah dan pelaku usaha karena kontribusinya
terhadap perekonomian nasional. Rata-rata
produktivitas cabai secara nasional selama 5 tahun
terakhir sekitar 8 ton/ha (BPS, 2016). Kebutuhan cabai
untuk kota-kota besar sekitar 800.000 ton/tahun atau
sekitar 66.000 ton/bulan. Untuk memenuhi kebutuhan
bulanan masyarakat perkotaan diperlukan luas area
panen cabai sekitar 11.000 ha/bulan, sedangkan pada
saat perayaan hari besar dan acara syukuran luas area
panen cabai yang harus tersedia berkisar antara 12.100-
13.300 ha/bulan (Anwarudin dkk, 2015)
Cabai diperkirakan masuk ke Indonesia pada
awal abad 15 oleh para pelaut Portugis. Penyebaran
cabai ke seluruh Nusantara dilakukan secara tidak
langsung oleh para pedagang dan pelaut Eropa yang
mencari rempah-rempah ke pelosok Nusantara
(Agromedia, 2007). Peta sebaran areal pertanaman
cabai merah di Indonesia meliputi 34 provinsi dengan
sasaran produksi tertinggi terfokus di Pulau Jawa diikuti
Sumatera Utara. Dalam RENSTRA Kementerian Pertanian
Tahun 2015-2019 sasaran produksi cabai merah besar
mengalami peningkatan 11,75% artinya permintaan
cabai dari waktu ke waktu terus meningkat. Hal ini
sejalan dengan program pemerintah yang tengah
mengembangkan komoditas unggulan yang
berpeluang dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat setempat.

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 1 1
Pengembangan komoditas cabai merah lingkup
nasional memiliki empat sasaran, yaitu (1) Ketersediaan
cabai merah yang lebih merata sepanjang tahun; (2)
Stabilisasi harga cabai merah di pasaran; (3)
Pengurangan impor cabai merah; dan (4) Peningkatan
ekspor cabai merah. Untuk mencapai sasaran tersebut
maka salah satu upaya yang dilakukan adalah
peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat terhadap cabai merah yang semakin
meningkat. Hal ini mendorong pengusaha benih
menyediakan berbagai jenis dan varietas cabai
dengan keunggulannya masing-masing sehingga
memudahkan petani dan pelaku usahatani dalam
memilih jenis cabai maupun varietas yang akan
dibudidayakan.
Dalam pemilihan varietas cabai yang perlu
dipertimbangkan antara lain kesesuaian permintaan
pasar (rasa, warna, penampakan, ukuran, dll.),
produktivitas tinggi, tahan terhadap serangan
Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan cocok
ditanam pada kondisi agroekosistem setempat.
Pemilihan benih juga merupakan hal penting bagi
petani dan pelaku usahatani, karena benih yang baik
dan sehat merupakan dasar bagi pertumbuhan
tanaman agar dapat tumbuh dan berkembang serta
berproduksi secara optimum. Pemilihan benih harus
memperhatikan sertifikat/label benih, kadar air benih,
kemurnian benih, daya kecambah benih dan
kesehatan benih.
Berbagai kendala dihadapi dalam agribisnis
cabai merah antara lain: (a) Penanaman terkonsentrasi
pada musim tanam utama, sehingga pasokan tidak
merata, tidak seimbang sepanjang tahun; (b) Belum
ada keseimbangan antara produksi dengan serapan
pasar, yang mengakibatkan harga berfluktuasi; (c)

Budidaya
2 Cabai 2
Budidaya Cabai
Penerapan teknologi maju belum optimal; (d) Industri
perbenihan belum berkembang dan benih unggul
bermutu diusahakan oleh petani dalam jumlah terbatas;
(e) Perlindungan tanaman umumnya belum dilakukan
sesuai dengan konsep pengendalian hama terpadu
(PHT); (f) Belum tersedia fasilitas permodalan untuk
petani dalam bentuk kredit usaha tani; (g)
Pengolahan/prosesing belum berkembang meskipun
memiliki potensi pemasaran yang cukup baik; (h)
Pemasaran umumnya dilakukan oleh tengkulak dengan
harga yang seringkali merugikan petani dan (i)
Koordinasi pengaturan areal tanam yang sesuai dengan
kebutuhan belum terlaksana secara optimal.
Budidaya cabai merah menjanjikan keuntungan
yang besar tetapi tidak jarang petani cabai merah
menemui kegagalan dan kerugian. Permintaan akan
cabai tidak sepanjang tahun dapat terpenuhi. Pasokan
yang kurang menyebabkan harga cabai melonjak
tinggi sehingga sering menimbulkan inflasi (Surya, 2015).
Permasalahan cabai sebenarnya tidak hanya pada
saat harga melonjak tinggi akibat pasokan yang
berkurang, tetapi juga pada saat anjloknya harga
cabai akibat melimpahnya pasokan sehingga petani
mengalami kerugian cukup besar (Anwarudin dkk,
2015). Untuk keberhasilan dalam usahatani cabai merah
selain diperlukan keterampilan dan modal yang cukup,
juga banyak faktor yang perlu diperhatikan seperti
syarat tumbuh, pemilihan bibit, cara bercocok tanam,
pengendalian OPT dan penanganan pasca panen.
Strategi untuk mengatasi gejolak harga cabai
antara lain dengan meningkatkan luas tanaman cabai
pada musim hujan, mengatur luas tanam dan produksi
cabai pada musim kemarau, menstabilkan harga, dan
mengembangkan kelembagaan kemitraan yang andal
dan berkelanjutan (Anwarudin dkk, 2015). Peningkatan

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai 3 3
produksi dan produktivitas cabai merah secara nyata
hanya dapat dilakukan dengan inovasi teknologi baru
dan perencanaan tanam yang tepat. Terobosan inovasi
teknologi baru dapat difokuskan pada penggunaan
benih unggul lokal dan hibrida tersertifikasi, teknologi
pemupukan secara lengkap dan berimbang,
penggunaan pupuk organik terstandardisasi dan
penggunaan kapur sebagai unsur pembenah tanah,
teknologi pengendalian hama dan penyakit secara
terpadu, serta penanganan pasca panen yang prima.
Perencanaan tanam harus didasarkan pada dinamika
permintaan pasar menurut tujuan dan segmen pasar,
serta preferensi konsumen (Saptana dkk, 2013).

Budidaya
4 Cabai 4
Budidaya Cabai
SYARAT TUMBUH

Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.)


termasuk ke dalam keluarga Solanaceae (Setiadi, 2008).
Tanaman ini mempunyai daya adaptasi yang cukup
luas dan dapat diusahakan di dataran rendah maupun
dataran tinggi sampai ketinggian 1400 m di atas
permukaan laut, tetapi pertumbuhannya di dataran
tinggi lebih lambat.
Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan
0
tanaman cabai merah adalah 25-27 C pada siang hari
0
dan 18-20 C pada malam hari. Suhu malam di bawah
16 oC dan suhu siang hari di atas 32 oC dapat
menggagalkan pembuahan (Prabaningrum, dkk, 2016).
Rata-rata suhu yang baik untuk pertumbuhan tanaman
cabai adalah antara 21-28 0C. Suhu udara yang lebih
tinggi menyebabkan buahnya sedikit (Tim Bina Karya
Tani, 2009).
Suhu tinggi dan kelembaban udara yang rendah
menyebabkan transpirasi berlebihan, sehingga
tanaman kekurangan air. Akibatnya bunga dan buah
muda gugur. Pembungaan tanaman cabai merah tidak
banyak dipengaruhi oleh panjang hari (Sumarni, 2005).
Walaupun cabai dapat ditanam hampir di
semua jenis tanah dan tipe iklim yang berbeda, tetapi
penanamannya yang luas banyak dijumpai pada jenis
tanah Mediteran dan Aluvial tipe iklim D3/E3 (0-5 bulan
basah dan 4-6 bulan kering). Tanaman cabai dapat
tumbuh pada berbagai jenis tanah, asal drainase dan
aerasi tanah cukup baik, dan air cukup tersedia selama
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanah
yang ideal untuk penanaman cabai adalah tanah yang
gembur, remah, mengandung cukup bahan organik
(sekurang-kurangnya 1,5%), unsur hara dan air, serta

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 5 5
bebas dari gulma (Prabaningrum, 2016). Curah hujan
yang tinggi atau iklim yang basah tidak sesuai untuk
pertumbuhan tanaman cabai merah. Pada keadaan
tersebut tanaman akan mudah terserang penyakit,
terutama yang disebabkan oleh jamur, yang dapat
menyebabkan bunga gugur dan buah membusuk.
Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman
cabai merah adalah sekitar 600-1200 mm/tahun
(Sumarni, 2005).
Cahaya matahari sangat diperlukan sejak
pertumbuhan bibit hingga tanaman berproduksi. Pada
intensitas cahaya yang tinggi dalam waktu yang cukup
lama, masa pembungaan cabai merah terjadi lebih
cepat dan proses pematangan buah juga berlangsung
lebih singkat. Kelembaban tanah dalam keadaan
kapasitas lapang (lembab tetapi tidak becek) dan
0
temperatur tanah antara 24-30 C sangat mendukung
pertumbuhan tanaman cabai merah. Temperatur tanah
yang rendah akan menghambat pengambilan unsur
hara oleh akar.
Tingkat kemasaman (pH) tanah yang sesuai
adalah 6-7. Cabai dapat tumbuh baik pada kisaran pH
tanah antara 5,5 - 6,8. Pada pH >7,0 tanaman cabai
seringkali menunjukkan gejala klorosis, yakni tanaman
kerdil dan daun menguning karena kekurangan hara
besi (Fe). Pada pH < 5,5 tanaman cabai juga akan
tumbuh kerdil karena kekurangan Ca, Mg dan P atau
keracunan Al dan Mn.

Budidaya
6 Cabai 6
Budidaya Cabai
PERSIAPAN LAHAN

Secara umum, lahan di Indonesia dibedakan


menjadi kawasan beriklim basah dan beriklim kering.
Lahan di daerah beriklim basah didominasi oleh tanah
masam akibat pencucian yang intensif, seperti Podzolik
Merah-Kuning, Latosol, Andisol, dan Aluvial. Tanah-tanah
tersebut umumnya miskin unsur hara dengan pH masam
(kecuali tanah Aluvial), dan rendah kadar bahan
organiknya (kecuali tanah Andisol). Lahan di daerah
beriklim kering didominasi oleh tanah alkalin seperti
Grumosol dan Mediteran. Secara umum sifat kimiawi
tanah beriklim kering lebih baik dari pada tanah beriklim
basah, karena kandungan hara dan basa cukup tinggi,
dengan pH netral.
Kemasaman (pH) tanah mempengaruhi
ketersediaan hara bagi tanaman. Pada pH netral (6,5-
7,5) unsur-unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup
banyak (optimal). Pada pH < 6,0 ketersediaan hara P, K,
Ca, S dan Mo menurun dengan cepat. Pada pH > 8
ketersediaan hara N, Fe, Mn, Bo, Cu dan Zn relatif sedikit.
Cabai merah mempunyai toleransi yang sedang
terhadap kemasaman tanah, dan dapat tumbuh baik
pada kisaran pH tanah antara 5,5 - 6,8. Pada pH > 7,0
tanaman cabai merah seringkali menunjukkan gejala
klorosis, yakni tanaman kerdil dan daun menguning
karena kekurangan hara besi (Fe). Pada tanah masam
(pH < 5,5) perlu dilakukan pengapuran dengan kapur
pertanian (Kaptan) atau Dolomit dengan dosis 1-2
ton/ha untuk meningkatkan pH tanah dan memperbaiki
struktur tanah. Pengapuran dilakukan 3-4 minggu
sebelum tanam, dengan cara menebarkan kapur
secara merata pada permukaan tanah lalu kapur dan
tanah diaduk. Pada tanah masam disarankan tidak

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai 7 7
menggunakan terlalu banyak pupuk yang bersifat asam
seperti ZA dan Urea. Pupuk N yang paling baik untuk
tanah masam adalah Calcium Amonium Nitrate (CAN).
Pupuk yang bersifat masam akan baik pengaruhnya bila
digunakan pada tanah Alkalin.
Tanah yang ideal terdiri atas tiga komponen,
yaitu masa padatan, air dan udara, masing-masing
dengan volume sepertiga bagian. Keadaan ini akan
menjamin aerasi, daya tahan air, drainase, dan aktivitas
biologi tanah yang cukup baik. Perbaikan sifat fisik
tanah antara lain dapat dilakukan dengan pengolahan
tanah dan pemberian bahan organik. Pengolahan
tanah dapat dilakukan dengan menggunakan cangkul
atau traktor.
Pengolahan tanah bertujuan untuk membuat
lapisan olah yang gembur, menghilangkan gulma atau
sisa-sisa tanaman, menghilangkan racun, dan
menghilangkan organisme pengganggu tanaman (OPT)
dalam tanah. Oleh karena itu, pengolahan tanah harus
dilakukan secara bertahap dan memerlukan cukup
waktu antar tahapannya, yaitu sekitar 5-7 hari. Hal ini
dimaksudkan agar tanah cukup terjemur oleh sinar
matahari sehingga gas-gas racun dalam tanah hilang
dan OPT tanah mati.
Tanah yang ideal untuk penanaman cabai
adalah tanah yang gembur, remah, mengandung
cukup bahan organik (sekurang-kurangnya 1,5%), unsur
hara, dan air, serta bebas dari gulma (Andri dkk, 2015).
Untuk keperluan tersebut diperlukan tindakan-tindakan
pengolahan tanah yang terdiri atas pembajakan
(pencangkulan tanah), pembersihan gulma dan sisa-
sisa tanaman, perataan permukaan tanah, serta
pembuatan bedengan dan saluran. Persiapan lahan
untuk lahan kering dan sawah diuraikan sebagai berikut
:

Budidaya
8 Cabai 8
Budidaya Cabai
1) Lahan kering/tegalan :
 Lahan dicangkul sedalam 30-40 cm sampai
gembur.
 Dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 100-
120 cm, tinggi 30 cm, dan jarak antar bedengan
30- 50 cm.
 Dibuat garitan-garitan dan lubang-lubang tanam
dengan jarak (50-60 cm) x (40-50 cm). Pada tiap
bedengan terdapat 2 baris tanaman.

Gambar 1. Persiapan lahan pada lahan kering

2) Lahan sawah :

 Dibuat bedengan-bedengan dengan lebar 1,5 m


dan antar bedengan dibuat parit sedalam 50 cm
dan lebar 50 cm.
 Tanah di atas bedengan dicangkul sampai
gembur.
 Dibuat lubang-lubang tanam dengan jarak 50
cm x 40 cm.

Gambar 2. Persiapan lahan pada lahan sawah

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai 9 9
Perbaikan sifat fisik tanah dapat juga dilakukan
dengan pemberian bahan organik. Bahan organik
mempunyai sifat mengurangi kepadatan tanah berat
(tanah liat) dan meningkatkan daya tahan air bagi
tanah ringan (tanah pasir). Tanah yang berpasir
sekurang-kurangnya harus mengandung bahan organik
4% (C-organik 2%), dan untuk tanah liat diperkirakan
harus mengandung bahan organik 2% (C-organik 1%).
Lahan dengan kesuburan kimia yang kurang baik
bukan merupakan faktor pembatas yang serius dalam
budidaya cabai merah, karena penggunaan pupuk
organik dan pupuk buatan relatif mudah. Hal yang tidak
menguntungkan adalah adanya pemberian pupuk
yang berlebihan dan tidak berimbang. Sering dijumpai
petani yang memberikan pupuk secara berlebihan
(terutama pupuk N) dengan maksud mendapatkan
hasil yang setinggi-tingginya, tetapi kenyataannya
hasilnya tidak selalu memuaskan. Penggunaan pupuk
yang berlebihan dapat menjadikan tanaman rentan
terhadap serangan hama dan penyakit, serta dapat
menurunkan kualitas tanah.
Untuk menghasilkan buah sebanyak 21 ton/ha,
tanaman cabai merah harus menyerap unsur hara N
sebanyak 70 kg/ ha, P2O5 16 kg /ha, dan K2O 92 kg /ha
(IFA World Fertilizer Use Manual, 1992 cit. Sutarya et al.
1995). Bila efisiensi serapan N diperkirakan 60%, P 40%
dan K 70%, maka pupuk N yang perlu diberikan adalah
70 kg/ 0,6 = 117 kg, P2O5 adalah 16 kg/ 0,4 = 40 kg, dan
K2O adalah 92 kg/0,7 = 131 kg/ha. Kebutuhan pupuk
tersebut bervariasi tergantung pada jenis lahan,
varietas, dan waktu tanam.

Budidaya Cabai
10 10
Budidaya Cabai
PERSEMAIAN

Mutu benih mencakup mutu genetis, fisiologis,


fisik, dan patologis. Rendahnya produktivitas tanaman
terutama disebabkan oleh rendahnya mutu benih yang
digunakan. Mutu patologis berhubungan dengan infeksi
patogen terbawa benih baik yang terdapat di dalam
maupun di permukaan benih (Ibrahim dkk, 2014).
Tahap persemaian dilakukan untuk
mempersiapkan tanaman yang sehat, kuat dan
seragam sebagai bahan tanam yang akan
dipindahkan ke lapang. Faktor yang berpengaruh
dalam persemaian cabai adalah kualitas media
persemaian yaitu yang mampu mencukupi kebutuhan
air dan unsur hara, ruang untuk akar dan menyokong
pertumbuhan tanaman. Dari hasil penelitian pada
persemaian cabai dengan media vermicompost
mempunyai pertumbuhan bibit yang lebih baik dalam
parameter bobot basah, panjang akar, tinggi tanaman,
dan jumlah daun (Susila, AD, 2012).
Kebutuhan benih cabai setiap hektar
pertanaman adalah 150- 300 gram dengan daya
tumbuh lebih dari 90 % (Arianto, 2010). Penanaman biji
dapat dilakukan secara langsung atau melalui
pesemaian terlebih dahulu. Penanaman biji secara
langsung memiliki risiko kematian bibit yang lebih tinggi
dibandingkan dengan melalui penyemaian. Untuk
varietas hibrida yang harga benihnya relatif mahal,
penanaman biji melalui persemaian sangat dianjurkan.

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai 11 11
Gambar 3. Penyemaian cabai menggunakan baki semai

Sebelum disemai, benih cabai merah direndam


dalam air hangat (50 °C) atau larutan Previcur N (1 ml/l)
selama 1 jam. Perendaman benih tersebut bertujuan
untuk menghilangkan hama atau penyakit yang
menempel pada biji dan untuk mempercepat
perkecambahan. Kalau ada biji yang mengambang,
berarti benih kurang baik, jadi harus disingkirkan. Benih-
benih yang tenggelam bisa langsung disemai. Media
persemaian terdiri atas campuran tanah halus dan
pupuk kandang (1:1) yang telah disterilisasi dengan uap
air panas selama 6 jam. Bedengan persemaian diberi
naungan atau atap plastik transparan untuk melindungi
bibit yang masih muda dari terpaan air hujan dan terik
matahari.

Gambar 4. Persemaian dengan naungan

Budidaya Cabai
12 12
Budidaya Cabai
Penyiraman dilakukan secukupnya setiap pagi
hari. Bila terlalu banyak air, bibit menjadi lemah dan
peka terhadap jamur penyebab rebah kecambah
(damping off) Setelah bibit tumbuh baik, tanah harus
tetap lembab. Oleh karena itu penyiraman harus terus
dilakukan tetapi tidak terlalu sering. Penyiraman
sebaiknya dilakukan pada pagi hari, supaya daun
tanaman dan permukaan tanah menjadi kering
sebelum malam hari untuk mencegah terjadinya
“damping-off”. Temperatur optimum untuk
pertumbuhan bibit sampai dipindahkan ke lapangan
0
adalah 22-25 C. Penyiangan gulma dilakukan dengan
tangan secara hati-hati tanpa mengganggu perakaran.
Bila terlihat adanya serangan hama atau penyakit
dilakukan eradikasi selektif, yaitu memusnahkan bibit
yang terserang.

Sebelum bibit dipindahkan ke lapangan,


sebaiknya dilakukan penguatan bibit (hardening)
dengan jalan membuka atap persemaian supaya bibit
menerima langsung sinar matahari dan mengurangi
penyiraman secara bertahap. Bibit yang sehat dan siap
dipindahkan ke lapangan adalah bibit yang telah
berumur 3-4 minggu sejak dibumbung. Pada umur
tersebut bibit sudah membentuk 4-5 helai daun dengan
tinggi bibit antara 5-10 cm.

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 13 13
PENANAMAN

Penanaman cabai dilakukan pada sore hari


untuk menghindari sengatan sinar matahari. Jika
ditanam pada pagi atau siang hari bibit akan layu,
yang dapat mengakibatkan kematian. Di dataran
rendah, sebaiknya penanaman cabai dilakukan
dengan sistem tumpang gilir dengan tanaman bawang
merah, untuk melindungi tanaman cabai muda dari
sengatan sinar matahari.
Kerapatan tanaman atau jarak tanam cabai
berpengaruh terhadap populasi tanaman dan efisiensi
penggunaan cahaya matahari, serta persaingan antar
tanaman dalam penggunaan air, unsur hara dan ruang.
Dengan jarak tanam yang lebih rapat, cahaya
matahari yang diterima oleh tanaman lebih sedikit, serta
terjadi persaingan yang lebih ketat di antara tanaman
dalam penyerapan air, sinar matahari dan unsur hara.
Akibatnya hasil buah akan lebih rendah dibandingkan
dengan hasil pada jarak tanam yang lebih jarang. Jarak
tanam cabai ialah 50 x 60 cm atau 40 x 50 cm.
Curah hujan juga mempengaruhi jarak tanam
cabai, kondisi curah hujan yang tinggi menyebabkan
kelembaban tinggi sehingga perlu untuk mengatur jarak
yang lebih renggang antar tanaman (Prajnanta, 2011).
Cabai merah membutuhkan suhu pada malam
hari yang dingin dan suhu pada siang hari yang agak
panas untuk pembungaannya. Oleh karena itu, untuk
pertumbuhan dan hasil yang optimum sebaiknya cabai
merah ditanam pada bulan-bulan agak kering, tetapi
air tanah masih cukup tersedia. Waktu tanam cabai
merah yang tepat dapat berbeda menurut lokasi dan
tipe lahan. Untuk lahan kering atau tegalan dengan
drainase baik, waktu tanam yang tepat adalah awal
musim hujan. Untuk lahan sawah bekas padi, waktu

Budidaya
14 Cabai 14
Budidaya Cabai
tanam yang tepat adalah akhir musim hujan. Pemilihan
waktu tanam yang tepat ini dimaksudkan agar
penanaman cabai merah di lahan sawah tidak
kelebihan air dan di lahan tegalan tidak kekurangan air.
Secara umum, waktu tanam cabai merah yang tepat
untuk lahan beririgasi teknis adalah pada akhir musim
hujan (Maret-April) atau awal musim kemarau (Mei-
Juni).
Sistem penanaman cabai merah bervariasi,
tergantung pada jenis dan ketinggian tempat. Pada
lahan sawah bertekstur berat (liat), sistem tanam 2-4
baris tanaman tiap bedengan lebih efisien. Pada lahan
kering bertekstur sedang sampai ringan lebih cocok
dengan sistem tanam 1 atau 2 baris tanaman tiap
bedengan (double row) seperti yang biasa dilakukan di
dataran medium dan dataran tinggi. Cabai merah
selain ditanam secara monokultur, juga dapat ditanam
secara tumpang gilir/tumpangsari dengan tanaman
lain.

(a) (b) (c)


Gambar 5. Sistem penanaman a. 2 baris, b. 3 baris dan c. 4
baris

Gambar 6. Tumpangsari

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 15 15
Penggunaan mulsa pada penanaman cabai
merah merupakan salah satu usaha untuk memberikan
kondisi lingkungan pertumbuhan tanaman yang lebih
baik, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berproduksi
secara optimal. Adanya mulsa di permukaan tanah
dapat memelihara struktur tanah tetap gembur,
memelihara kelembaban dan temperatur tanah,
mengurangi pencucian hara, menekan gulma, dan
mengurangi erosi tanah. Jenis bahan dapat digunakan
sebagai mulsa antara lain adalah jerami, plastik putih,
dan plastik hitam perak (MPHP).
MPHP memiliki dua muka dan dua warna, yaitu
muka pertama berwarna hitam dan muka kedua
berwarna perak. Warna hitam untuk menutup
permukaan tanah, warna perak sebagai permukaan
atas tempat menanam suatu tanaman budidaya
(chairumasyah, 2010). Penggunaan mulsa plastik hitam
perak dan plastik putih nyata dapat meningkatkan hasil
cabai merah dan mengurangi kerusakan tanaman oleh
serangan hama trips dan tungau. Pemasangan mulsa
plastik dilakukan sebelum penanaman cabai merah.

(a) (b)

Gambar 7. a. Mulsa jerami, b. mulsa hitam perak

Penggunaan mulsa jerami setebal 5 cm (10 ton/


ha) juga dapat meningkatkan hasil cabai merah, tetapi
sebaiknya mulsa jerami digunakan pada musim

Budidaya Cabai
16 16
Budidaya Cabai
kemarau. Mulsa jerami dipasang 2 minggu setelah
penanaman cabai merah.
Sebelum tanam, lahan yang telah dipersiapkan
berupa garitan-garitan atau lubang-lubang tanaman
diberi pupuk kandang atau kompos dengan dosis sesuai
dengan anjuran. Dalam pemberian pupuk kandang
atau kompos ini terdapat dua cara yang dapat
dilakukan, yaitu diberikan secara dihamparkan dalam
garitan-garitan atau diberikan secara setempat pada
lubang-lubang tanaman. Perbedaan kedua cara
pemberian pupuk tersebut pada dasarnya ditujukan
untuk menghindari kekhawatiran timbulnya pengaruh
sampingan yang kurang baik akibat penggunaan
pupuk organik dengan tingkat kematangan yang
berbeda-beda. Pupuk buatan diberikan sebagian dari
dosis yang dianjurkan, ditempatkan di atas pupuk
kandang atau kompos, lalu ditutup dengan selapis tipis
tanah. Setelah itu bedengan disiram dengan air sampai
keadaan kapasitas lapang, kemudian mulsa plastik
hitam perak dipasang.
Kerapatan tanaman atau jarak tanam yang
digunakan akan mempengaruhi populasi tanaman dan
efisiensi penggunaan cahaya matahari, serta
persaingan antar tanaman dalam menggunakan air,
unsur hara dan ruang. Dengan jarak tanam yang lebih
rapat, cahaya matahari yang diterima oleh tanaman
lebih sedikit, sehingga tanaman tumbuh lebih tinggi,
jumlah cabang lebih sedikit, serta terjadi persaingan
yang lebih ketat di antara tanaman dalam penyerapan
air, sinar matahari dan unsur hara. Akibatnya hasil buah
akan lebih rendah dibandingkan dengan hasil buah
pada jarak tanam yang lebih jarang.

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 17 17
PEMELIHARAAN TANAMAN

Pemeliharaan tanaman adalah semua tindakan


manusia yang bertujuan untuk memberi kondisi
lingkungan yang menguntungkan sehingga tanaman
tetap tumbuh dengan baik dan mampu memberikan
hasil atau produksi yang maksimal. Dalam hal ini,
pemeliharaan tanaman sangatlah penting, karena
merupakan salah satu faktor penentu dalam
produktivitas tanaman. Semakin baik cara
pemeliharaan tanamannya, maka semakin tinggi pula
produktivitas tanaman dan begitu juga sebaliknya.
Pemeliharaan tanaman cabai dilakukan selama masa
pertumbuhan tanaman cabai sampai masa panen,
meliputi pemupukan, pengairan, perompesan,
pemasangan ajir, penyiangan, dan pengendalian OPT.
Berdasarkan pembentukannya, pupuk terbagi
menjadi (1) pupuk buatan dan (2) pupuk alam. Pupuk
buatan adalah pupuk yang dibuat secara industri dan
mengandung unsur hara tertentu yang umumnya
berkadar tinggi, contohnya pupuk Urea, SP 36 dan KCl.
Pupuk alam dihasilkan dari alam seperti endapan
batuan, contohnya fosfat alam dari batuan fosfat, dan
kalsit serta dolomit dari batuan kapur. Dibandingkan
dengan pupuk alam, pupuk buatan mempunyai
keunggulan dan kelemahan. Keunggulan pupuk
buatan: (a) lebih mudah menentukan jumlah pupuk
berdasarkan kebutuhan tanaman, (b) hara yang
diberikan dalam bentuk yang cepat tersedia, (c) dapat
diberikan pada saat yang lebih tepat dan (d)
pemakaian dan pengangkutannya lebih murah karena
kadar haranya tinggi. Kelemahan pupuk buatan ialah:
(a) merusak lingkungan jika penggunaannya tidak

Budidaya
18 Cabai 18
Budidaya Cabai
dengan perhitungan yang akurat dan (b) pada
umumnya hanya mengandung sedikit unsur mikro.
Berdasarkan unsur hara yang dikandung, pupuk
terbagi menjadi (1) pupuk tunggal dan (2) pupuk
majemuk. Pupuk tunggal mengandung satu jenis hara
tanaman, contohnya Urea, SP 36 dan KCl. Pupuk
majemuk mengandung lebih dari satu unsur hara,
contohnya NPK. Berdasarkan senyawa kimia
pembentuknya, pupuk terbagi menjadi (1) pupuk
anorganik dan (2) pupuk organik. Pupuk anorganik dari
senyawa anorganik yang dihasilkan dari proses
rekayasa kimia, contohnya Urea , SP, Kl, ZA, ZK, Phonska.
Pupuk organik terbentuk dari senyawa organik yang
berasal dari tumbuhan atau hewan, contohnya Super
Kascing, Subur Ijo, kompos, dll.
Dalam budidaya tanaman sayuran, pemakaian
pupuk organik seperti pupuk kandang atau kompos
merupakan kebutuhan pokok, disamping penggunaan
pupuk buatan. Pupuk organik atau kompos, selain
dapat memasok unsur hara bagi tanaman (terutama
hara mikro), juga dapat memperbaiki struktur tanah,
memelihara kelembaban tanah, mengurangi
pencucian hara, dan meningkatkan aktivitas biologi
tanah. Ketersediaan unsur-unsur hara, baik hara makro
(N, P, K, Ca, Mg dan S) ataupun hara mikro (Zn, Fe, Mn,
Co, dan Mo) yang cukup dan seimbang dalam tanah
merupakan faktor penting untuk mendapatkan hasil
yang tinggi dengan kualitas yang baik. Setiap unsur
hara mempunyai peran spesifik di dalam tanaman.
Kekurangan atau kelebihan unsur hara dapat
menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan
hasil. Dosis pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tiap
jenis tanaman.
Waktu dan cara pemupukan harus tepat agar
unsur hara tersedia bagi tanaman. Seminggu sebelum

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 1919
tanam, pupuk kandang ayam (15-20 ton/ha) atau
kompos (5-10 ton/ha) dan SP-36 (300-400 kg/ha)
diberikan sebagai pupuk dasar. Pupuk susulan yang
terdiri atas Urea (150-200 kg/ha), ZA (400-500 kg/ha) dan
KCl (150-200 kg/ha) atau pupuk NPK 16-16-16 (1,0
ton/ha), diberikan 3 kali pada umur 0,1 dan 2 bulan
setelah tanam, masing-masing sepertiga dosis.
Aplikasi pupuk pada tanaman dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu melalui perakaran dan
disemprotkan melalui daun.

Pemupukan melalui perakaran


• Disebar
Pupuk diberikan dengan cara disebar merata di
atas tanah di sekitar pertanaman atau pada
waktu pengolahan tanah terakhir. Cara ini
dilakukan pada tanaman dengan jarak tanam
yang sangat rapat, misalnya pada tanaman
bawang merah atau tanaman padi.

Gambar 8. Pemupukan dengan cara disebar

• Ditempatkan di antara larikan/ barisan tanaman.


Pupuk ditaburkan di antara larikan atau barisan
tanaman selanjutnya ditutup dengan tanah.

Gambar 9. Pemupukan pada larikan

Budidaya Cabai
20 20
Budidaya Cabai
• Diletakkan di dalam lubang di sekitar tanaman.
Di sekitar tanaman dengan membuat lubang di
sekitar tanaman dengan jarak ± 10 cm
menggunakan tugal, lalu pupuk ditempatkan di
dalam lubang tersebut dan ditutup dengan
tanah.

Gambar 10. Pemupukan dalam lubang dan sekitar tanaman

• Disiramkan.
Pupuk dilarutkan dalam air dengan konsentrasi
tertentu, selanjutnya larutan pupuk disiramkan
pada tanah di sekitar batang tanaman.

Gambar 11. Pemupukan dengan disiramkan

Pada tanaman cabai, cara pemupukan yang


tepat ialah dilakukan di sekitar tanaman dibuat
lubang dengan jarak ± 10 cm menggunakan
tugal, lalu pupuk ditempatkan di dalam lubang
tersebut dan ditutup dengan tanah.

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 2121
Pemupukan melalui daun
Pada umumnya pupuk yang diaplikasikan melalui
daun adalah pupuk mikro. Pupuk dilarutkan dalam air
sesuai dengan dosis atau konsentrasi yang dianjurkan,
selanjutnya disemprotkan ke daun menggunakan alat
semprot. Pemberian pupuk melalui daun sebenarnya
kurang efektif. Hal ini disebabkan daun pada tanaman
berfungsi untuk fotosintesis yang hanya menyerap O2
dan CO2. Fungsi daun tidak seperti akar yang berfungsi
menyerap garam (pupuk) dan air. Dengan demikian,
aplikasi pupuk daun dapat menyebabkan risiko
keracunan dan daun dapat terbakar.
Beberapa hal menjadi pertimbangan untuk
menggunakan pupuk daun, ialah :

• Jika kondisi tanah membatasi ketersediaan unsur


hara
• Pada kondisi dimana kehilangan unsur hara pada
tanah atau lahan tersebut sering terjadi
• Pada tahap pertumbuhan, dimana permintaan
tanaman dengan kondisi lingkungan berinteraksi
membatasi pasokan unsur hara ke bagian-
bagian penting tanaman
• Pada musim kemarau, pupuk daun kemungkinan
juga dapat membantu karena aliran unsur hara
agak terkendala sehubungan dengan
rendahnya kelembaban tanah
• Jika terjadi kekurangan unsur Ca, Si, Mn dan B,
pemberian unsur tersebut melalui daun dapat
dilakukan secara intensif.
• Jika terjadi kekurangan unsur Fe, Zn, Cu dan Mb,
pemberian unsur tersebut melalui daun dapat
dilakukan sekali-kali.
• Untuk unsur yang mobilitasnya tinggi seperti N, P.
K, S, Mg, satu kali aplikasi pupuk daun yang

Budidaya
22 Cabai 22
Budidaya Cabai
dibarengi dengan penggunaan pupuk buatan
biasa sudah cukup untuk mengatasi defisiensi
unsur tersebut.

Tetesan larutan pupuk daun dari daun harus


dicegah agar unsur hara dari pupuk daun tetap berada
di daun dan tidak menetes ke tanah. Terjadinya hujan
setelah aplikasi pupuk daun juga dapat mencuci nutrisi
dari daun. Sementara itu, kelembaban rendah dapat
menyebabkan formasi garam di daun meningkat. Hal ini
akan menghambat penyerapan unsur hara dan akan
mengakibatkan daun terbakar.
Waktu pemupukan tergantung pada jenis pupuk
yang akan diberikan. Pupuk fosfor (P) dan kalium (K)
adalah jenis pupuk yang kelarutannya cukup lama,
yaitu sekitar 10-14 hari. Oleh karena itu untuk tanaman
sayuran yang berumur kurang dari 3 bulan kedua jenis
pupuk tersebut sebaiknya diberikan sebagai pupuk
dasar, yaitu diaplikasikan 7 hari sebelum tanam. Dengan
demikian pada umur tanaman 14 hari kedua unsur
tersebut telah siap digunakan oleh tanaman. Pupuk
Nitrogen (N) merupakan pupuk yang mudah hilang
karena pengaruh lingkungan seperti suhu dan tercuci
oleh air. Oleh karena itu pemberian pupuk N harus
disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman.
Pemupukan pada tanaman cabai disajikan pada Tabel
1.

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 2323
Tabel 1. Jenis, dosis, dan waktu pemupukan pada
tanaman cabai

Pupuk dasar Pupuk


susulan *
Pupuk N P2O5 K2O5 N
kandang (kg/ha) (kg/ha) (kg/ha) (kg/ha)
(ton/ha)
15-20 100-120 80 100-120

Keterangan :
- Pupuk dasar : diberikan pada umur 0-7 hari sebelum
tanam
- Pupuk susulan : diberikan pada umur 10-15 hari, 30-35 hari,
dan 40-50 hari setelah tanam masing-
masing sepertiga dosis

Cabai merah termasuk tanaman yang tidak


tahan terhadap kekeringan, tetapi juga tidak tahan
terhadap genangan air. Air tanah dalam keadaan
kapasitas lapang (lembab tetapi tidak becek) sangat
mendukung pertumbuhan dan perkembangan
tanaman cabai merah. Masa kritis tanaman ini
terhadap kebutuhan air adalah saat pertumbuhan
vegetatif cepat, pembentukan bunga dan buah.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa
kelembaban tanah yang ideal untuk pertumbuhan dan
hasil cabai merah berkisar antara 60-80% kapasitas
lapang. Jumlah kebutuhan air per tanaman selama fase
pertumbuhan vegetatif adalah 200 ml tiap 2 hari dan
meningkat menjadi 400 ml tiap 2 hari pada fase
pembungaan dan pembuahan. Dalam upaya
meningkatkan efisiensi penggunaan air, penerapan
sistem irigasi tetes untuk lahan kering tampaknya akan
lebih efisien, baik ditinjau dari segi penggunaan air

Budidaya
24 Cabai 24
Budidaya Cabai
maupun respon tanaman terhadap pemberian air
pengairan.
Setelah tanaman cabai berumur 2 bulan, tunas-
tunas air sampai dengan ketinggian 15 - 25 cm
(tergantung pada varietas yang ditanam) dari
permukaan tanah harus dibuang (dirompes).
Perompesan ini bertujuan untuk menghindari percikan
air penyiraman menempel pada bagian tanaman yang
akan menyebabkan timbulnya serangan penyakit.
Ajir bambu dipasang untuk menopang tanaman
cabai agar dapat tumbuh dengan tegak. Pada
budidaya cabai di lahan tegalan atau kering.
pemasangan ajir bambu dilakukan mulai umur 4 minggu
setelah tanam.
Pengendalian OPT atau hama dan penyakit
berdasarkan konsep pengendalian hama terpadu (PHT)
dapat dilakukan secara preventif atau kuratif.
Pengendalian OPT secara preventif dilakukan sebelum
ada serangan OPT, misalnya pergiliran tanaman,
pengaturan jarak tanam, penggunaan varietas tahan,
dll. Pengendalian secara kuratif dilakukan setelah ada
serangan OPT, yaitu jika populasi atau intensitas
serangan OPT telah mencapai ambang pengendalian.
Gulma merupakan masalah penting dalam
budidaya cabai merah. Tumbuhan pengganggu ini
berkompetisi memperebutkan ruang, cahaya, air dan
unsur hara, serta dapat menjadi inang hama dan
penyakit. Periode kritis tanaman cabai merah karena
adanya persaingan dengan gulma terjadi pada umur
30-60 hari setelah tanam. Gulma yang mengganggu
selama periode tersebut dapat menurunkan bobot
kering tanaman. Penyiangan yang dilakukan pada
umur 30-60 hari dapat meningkatkan hasil cabai merah
Selain dengan penyiangan, gulma juga dapat

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 2525
dikendalikan dengan penggunaan mulsa dan
penyemprotan herbisida.
Pengendalian hama dan penyakit pada
tanaman cabai merah dilaksanakan berdasarkan
konsep PHT. Dalam konsepsi PHT, aplikasi pestisida
merupakan alternatif terakhir jika cara pengendlian
non-kimia kurang efektif.

Hama tanaman cabai merah :

1. Ulat buah (Helicoverpa armigera)

Serangga dewasa berupa ngengat berwarna


coklat kekuning-kuningan dengan bintik-bintik dan garis
yang berwarna hitam. Ada dua spesies ulat buah yang
menyerang tanaman sayuran dan palawija, yaitu ulat
buah tomat (Helicoverpa armigera) dan ulat buah
jagung (Helicoverpa zea). Stadia yang paling
merugikan ialah stadia ulat/ larva. Tubuh ulat berbentuk
silindris dan terdapat variasi warna dan corak,
tergantung pada sumber makanannya. Gejala
serangan ditandai adanya lubang pada buah. Larva/
ulat akan ditemukan di dalam buah. Tanaman
inangnya antara lain ialah tomat, cabai, jagung,
tembakau, kapas, dll.

Gambar 12. Larva H. armigera dan gejala serangannya

Budidaya Cabai
26 26
Budidaya Cabai
2. Kutu kebul (Bemisia tabaci)

Serangga dewasa kutu kebul berwarna putih


dengan sayap jernih, dengan ukuran tubuh berkisar
antara 1-1,5 mm. Serangga dewasa biasanya
berkelompok dalam jumlah banyak di bawah
permukaan daun. Bila tanaman tersentuh serangga
akan berterbangan seperti kabut atau kebul putih. Ada
dua spesies kutukebul yang umum menyerang tanaman
sayuran, yaitu Bemisia tabaci yang berukuran tubuh
lebih kecil dan Trialeurodes vaporariorum yang ukuran
tubuhnya lebih besar. Kutu kebul mengisap cairan daun
dan eksresinya menghasilkan embun madu menjadi
media tumbuhnya penyakit embun jelaga. Kutu kebul
merupakan vektor penyakit virus kuning (virus gemini)
yang menyerang tanaman cabai dan kacang-
kacangan. Tanaman inangnya antara lain ialah cabai,
kacang panjang, kentang, labu, mentimun, semangka,
paria, dan tomat.

Gambar 13. Kelompok kutu kebul di bawah permukaan daun

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 2727
Gambar 14. Kutu kebul Bemisia tabaci dan Trialeurodes vaporariorum

3. Kutu daun persik (Myzus persicae) dan kutu daun


kapas (Aphisgossypii)

Ada dua spesies kutu daun yang umum


menyerang tanaman cabai, tomat dan mentimun, yaitu
(a) kutu daun persik (Myzus persicae) dan (b) kutu daun
kapas (Aphis gossypii). Secara langsung gejala serangan
kutu daun menyebabkan daun yang terserang
berkeriput, kekuningan, terpuntir, pertumbuhan
tanaman terhambat, layu lalu mati. Secara tidak
langsung kutu daun adalah sebagai vektor beberapa
jenis penyakit virus.

Gambar 15. Kutu daun persik dan kutu daun kapas

Budidaya Cabai
28 28
Budidaya Cabai
4. Trips (Thrips parvispinus)

Spesies trips yang umum menyerang tanaman


cabai ialah Thrips parvispinus, sedangkan yang
menyerang bawang merah ialah Thrips tabaci. Panjang
tubuh serangga dewasa ± 8-9 mm. Nimfa trips tidak
bersayap, sedangkan serangga dewasanya bersayap
seperti jumbai (sisir bersisi dua). Gejala serangan
ditandai dengan adanya warna keperak-perakan pada
bagian bawah daun, daun mengeriting atau keriput.
Tanaman inangnya antara lain ialah bawang merah,
buncis, cabai, kacang panjang, kentang, labu,
mentimun, oyong, paria, semangka, tomat, terung, dll.

Gambar 16. Trips pada bunga cabai dan gejala serangannya pada
bagian daun

5. Tungau (Polyphagotarsonemus latus dan


Tetranychus sp.)

Ada dua jenis tungau yang umum menyerang


tanaman sayuran dan palawija, yaitu tungau teh kuning
(Polyphagotarsonemus latus) dan tungau merah
(Tetranychus sp). Tungau merah berwarna kemerah-
merahan sedangkan tungau teh kuning berwarna
kuning transparan, dengan ukuran tubuh ± 0,25 mm.
Gejala serangan ditandai dengan adanya warna
tembaga di bawah permukaan bawah daun, tepi daun

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 2929
mengeriting, daun melengkung ke bawah seperti
sendok terbalik, tunas daun dan bunga gugur. Tanaman
inang dari hama tungau lebih dari 57 jenis tanaman dan
beberapa di antaranya ialah buncis, cabai, kacang
panjang, kentang, labu, mentimun, oyong, paria,
semangka, dan terung.

Gambar 17. Gejala serangan tungau pada tanaman cabai

Gambar 18. Tungau merah (kiri) dan tungau teh kuning (kanan)

6. Lalat buah (Bactrocera sp.)

Serangga dewasa lalat buah mirip lalat rumah


dengan panjang tubuh ± 6-8 mm. Larva berwarna putih
susu berada di dalam buah. Gejala serangan ditandai
dengan adanya titik hitam pada pangkal buah tempat
serangga dewasa meletakkan telurnya. Larva
memakan daging buah dan menyebabkan terjadinya
infeksi oleh jasad renik sekunder misalnya bakteri Erwinia
carotovora sehingga buah membusuk. Tanaman
inangnya antara lain ialah cabai, labu mentimun,
oyong, paria, dan tanaman buah lainnya.
Budidaya Cabai
30 30
Budidaya Cabai
Gambar 19. a. Gejala serangan lalat buah pada cabai, b. lalat
dewasa, dan c. larva lalat buah

Penyakit tanaman cabai

Kelompok penyakit tanaman adalah organisme


pengganggu tumbuhan yang penyebabnya tidak
dapat dilihat dengan mata telanjang seperti: jamur,
bakteri, dan virus.

1. Penyakit bercak daun serkospora

Penyakit bercak daun serkospora atau mata


katak disebabkan oleh jamur Cercospora capsici.
Patogen penyakit disebarkan melalui udara. Serangan
pada daun berupa bercak kecil berbentuk bulat dan
kering dengan diameter ± 0,5 cm. Pusat bercak
berwarna pucat sampai putih dengan warna tepi lebih
tua. Daun menguning dan akhirnya gugur. Selain daun
penyakit ini menyerang juga batang dan tangkai buah.
Tanaman inangnya antara lain ialah buncis, cabai,
kacang panjang, kangkung, labu, mentimun, oyong,
paria, seledri, tomat, dan semangka.

Budidaya Cabai 31
Budidaya Cabai 31
Gambar 20. Gejala serangan penyakit bercak daun serkospora
pada daun tanaman cabai

2. Penyakit bercak daun alternaria

Penyakit bercak daun alternaria atau penyakit


bercak kering disebabkan oleh cendawan Alternaria sp.
Patogen ditularkan melalui udara. Gejala awal
timbulnya bercak kecil di daun-daun bagian bawah,
kemudian berkembang dengan diameter mencapai ±
15 mm. Warna bercak coklat dengan lingkaran-
lingkaran sepusat. Masa konidia yang berwarna kelabu
sampai hitam terlihat di atas bercak. Suhu optimum
untuk perkembangan penyakit ini berkisar antara 28-30
0C dengan kelembaban tinggi. Tanaman inangnya

antara lain ialah kentang, tomat, kacang panjang, labu,


mentimun, oyong, paria, seledri, tomat, semangka, dan
terung.

Budidaya Cabai
32 32
Budidaya Cabai
Gambar 21. Gejala serangan penyakit bercak daun alternaria

3. Penyakit busuk buah antraknos

Penyakit busuk buah antraknos disebabkan oleh


jamur Colletotrichum sp. dan Gloeosporium spp.
Patogen ditularkan melalui udara dan biji. Gejala
serangan dimulai dengan timbulnya bercak coklat
kehitaman pada permukan buah, kemudian bercak
menjadi lunak. Pada bagian tengah bercak terdapat
kumpulan titik hitam yang merupakan kelompok spora.
Pada serangan berat menyebabkan seluruh permukaan
buah keriput dan mengering dan warna kulit buah
seperti jerami padi. Pada saat cuaca panas dan
lembab penyakit ini akan cepat berkembang. Tanaman
inangnya antara lain ialah cabai, tomat, buncis, kacang
panjang labu, mentimun, oyong, paria, semangka, dan
terung.

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 3333
Gambar 22. Gejala serangan penyakit busuk buah antraknos
pada buah cabai

4. Penyakit busuk daun/buah fitoftora

Penyakit busuk daun dan buah fitoftora


disebabkan oleh cendawan Phytophthora spp. Patogen
ditularkan melalui udara dan air.

Gambar 23. Gejala serangan penyakit busuk daun fitoftora pada


tanaman cabai

Gejala awal berupa bercak kebasah-basahan


pada bagian tepi atau tengah daun. Bercak
selanjutnya melebar dan terbentuk daerah nekrotik
yang berwarna coklat. Bercak dikelilingi oleh masa
sporangium yang berwarna putih dengan latar
belakang hijau kelabu. Serangan dapat menyebar ke

Budidaya Cabai
34 34
Budidaya Cabai
batang, tangkai, umbi dan buah. Serangan penyakit ini
dapat berkembang dengan cepat pada musim hujan
dengan kelembaban di sekitar kanopi >95% suhu sekitar
20 0C. Tanaman inangnya antara lain ialah kentang,
tomat, cabai, labu, oyong, semangka, dan terung.

5. Penyakit layu fusarium

Penyakit layu fusarium disebabkan oleh


cendawan Fusarium oxysporum. Patogen ditularkan
melalui udara dan air. Gejala serangan ditandai
tanaman menjadi layu, mulai dari daun bagian bawah.
Anak tulang daun menguning. Jaringan batang dan
akar berwarna coklat. Tanaman inangnya antara lain
ialah bawang merah, buncis, cabai, kentang, kacang
panjang, labu, mentimun, oyong, paria, seledri,
semangka, tomat, dan terung.

Gambar 24. Gejala serangan penyakit


layu fusarium pada tanaman cabai

6. Penyakit rebah kecambah

Penyakit rebah kecambah banyak menyerang


tanaman muda di persemaian. Penyakit ini disebabkan
oleh cendawan Rhizoctonia solani Kuhn. dan Pythium
spp. Gejala serangan yang disebabkan oleh serangan
Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 35 35
jamur R. solani ditandai adanya luka berwarna coklat di
pangkal batang, sehingga batang tersebut patah dan
akhirnya mati. Gejala serangan yang disebabkan oleh
cendawan Pythium spp. ditandai dengan adanya
warna coklat di pangkal akar dan membusuk. Tanaman
inangnya antara lain ialah cabai, tomat, kubis, paria,
mentimun, dan tanaman muda lainnya.

Gambar 25. Gejala serangan R. solani (kiri) dan Pythium spp (kanan)
di pangkal batang tanaman cabai

7. Penyakit virus kuning Gemini

Virus kuning gemini tergolong dalam keluarga


Geminiviridae. Gejala yang ditimbulkan berbeda-beda,
tergantung pada genus dan spesies tanaman yang
terinfeksi. Gejala pada cabai pertama kali muncul pada
daun muda atau pucuk berupa bercak kuning di sekitar
tulang daun, kemudian berkembang menjadi urat daun
berwarna kuning, cekung dan mengkerut dengan
warna mosaik ringan atau kuning. Tanaman inangnya
antara lain ialah cabai, tomat, kacang panjang, terung,
mentimun, buncis, dll.

Budidaya
36 Cabai 36
Budidaya Cabai
Gambar 26. Gejala serangan virus kuning pada tanaman cabai (kiri)
dan pada rumput babadotan (kanan)

Musuh alami

Musuh alami ialah setiap organisme yang meliputi


spesies, subspesies, varietas, semua jenis serangga,
nematoda, protozoa, cendawan fungi, bakteri, virus,
mikoplasma, serta organisme lainnya dalam semua
tahap perkembangannya yang dapat dipergunakan
untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau
organisme pengganggu, proses produksi, pengolahan
hasil pertanian, dan berbagai keperluan lainnya.
Parasitoid adalah serangga parasitik (parasitic
insect), yaitu serangga yang memarasit serangga lain
yang lebih besar, khususnya serangga hama.Istilah
parasitoid banyak digunakan oleh ahli Entomologi.
Parasitoid dapat menyerang setiap instar serangga
meskipun instar dewasa yang paling jarang terparasit.
Predator adalah hewan yang memangsa hewan
lain. Predator membunuh beberapa individu mangsa
selama satu siklus hidup
Patogen serangga adalah organisme yang
dapat menyebabkan penyakit pada serangga. Seperti
halnya tumbuhan, manusia dan hewan lainnya,
serangga dan tungau juga dapat terinfeksi patogen.

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 37 37
Yang termasuk dalam patogen serangga antara lain
adalah bakteri, cendawan, virus dan nematoda.

1. Hemiptarsenus varicornis

H. varicornis merupakan parasitoid larva hama


Liriomyza huidobrensis. Parasitoid tersebut dapat
ditemukan di seluruh areal pertanaman sayuran yang
terserang L. huidobrensis dan mampu memarasit L.
huidobrensis sampai 40,63%. Siklus hidup berkisar antara
12 - 16 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan telur
sebanyak 24 - 42 butir.

Gambar 27. Hemiptarsonemus varicornis

2. Eriborus argenteopilosus

E. argenteopilosus merupakan parasitoid larva


hama S. litura dan H. armigera. Aktivitas parasitoid
tersebut sebagian besar terjadi pada pagi hari (pukul
8.00 – 11.00). Siklus hidup berkisar antara 17 - 18 hari.
Seekor betina mampu meletakkan telur sebanyak 160
butir.

Budidaya Cabai
38 38
Budidaya Cabai
Gambar 28. Eriborus argenteopilosus

3. Trichogramma chilonis

T. chilonis merupakan parasitoid telur hama H.


armigera. Serangga dewasa berbentuk tabuhan kecil,
panjang tubuhnya sekitar 0.5 mm. Tingkat parasitasi
sekitar 60 – 70%. Siklus hidup 10 - 11 hari. Seekor betina
mampu menghasilkan telur sebanyak 20 – 50 butir.

Gambar 29. Trichogramma chilonis

4. Menochilus sexmaculatus

M. sexmaculatus merupakan predator penting


hama B. tabaci, T. parvispinus dan berbagai kutu daun.
Satu ekor M. sexmaculatus mampu memangsa
sebanyak 50 ekor B. tabaci, 200 kutu daun dan 17
trips/hari. Aktivitasnya terjadi antara pukul 09.00 – 13.00.
Siklus hidup berkisar antara 3 – 5 minggu.

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai 39 39
Gambar 30. Larva dan imago M. sexmaculatus

5. Rhinocoris sp.

Rhinocoris sp. merupakan predator penting hama


H. armigera dan S. litura. Imago sangat aktif menyerang
mangsa dengan cara menjepit bagian tubuh mangsa
dengan tungkai-tungkai depan dan peran rostromnya
yang kuat menekankan bagian alat stilet masuk ke
dalam tubuh mangsa. Selanjutnya seluruh tubuh
mangsa dihisap olehnya hingga tubuh mangsa menjadi
mengkerut dan mengering. Kemungkinan terdapat
toksin disekresikan yang mengakibatkan larva lumpuh.
Dalam waktu 4-5 menit tubuh larva dihisap sehingga
mengakibatkan larva mengerut, kering dan akhirnya
mati. Siklus hidup 12 minggu. Satu ekor mampu
memangsa 9-10 ekor larva S. litura.

Gambar 31. Rhinocoris sp.

6. Amblyseius cucumeris

A. cucumeris adalah tungau predator yang


merupakan salah satu musuh alami trips dan tungau.

Budidaya Cabai
40 40
Budidaya Cabai
Tungau predator tersebut memiliki kemampuan mencari
mangsa dan potensi reproduksi yang tinggi serta tahan
terhadap pestisida. Kemampuan pemangsaan
terhadap trips dan tungau masing-masing adalah
sebesar 4,6 dan 73,9 ekor. Siklus hidup berkisar antara 6-9
hari. Seekor betina mampu menghasilkan 47 butir telur.

Gambar 32. Amblyseius cucumeris

19. Beauveria bassiana

B. bassiana adalah jenis jamur yang tergolong


dalam klas Deuteromycetes, ordo Moniliales, famili
Moniliaceae. B. bassiana masuk ke tubuh serangga
melalui kulit di antara ruas-ruas tubuh. Gejala yang
terlihat adalah larva menjadi kurang aktif kemudian
kaku dan diikuti oleh perubahan warna tubuh karena
dinding tubuhnya sudah ditutupi oleh hifa yang
berwarna putih seperti kapas. Aplikasi di lapangan
berupa suspensi (biakan jagung blender) dalam air,
langsung disemprotkan di habitat hama pagi hari atau
sore hari. Dosis 1 kg/ha cukup efektif terhadap kutu
daun dan trips.

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 4141
Gambar 33. S. litura terserang jamur B. bassiana

20. SLNPV

Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus


(SlNPV) merupakan salah satu virus patogen yang
menginfeksi ulat grayak. (S. litura.). SLNPV efektif
mengendalikan ulat grayak dan berpeluang untuk
dikembangkan sebagai bioinsektisida dalam skala
komersial. Virus patogen serangga ini mempunyai
beberapa sifat menguntungkan, antara lain: (1) memiliki
inang spesifik, yakni ulat grayak; (2) tidak
membahayakan organisme bukan sasaran dan
lingkungan; (3) dapat mengatasi masalah resistensi ulat
grayak terhadap insektisida; dan (4) kompatibel dengan
komponen pengendalian lainnya.

Gambar 34. Larva S. litura terserang SLNPV

21. Steinernema spp.


Steinernema spp. merupakan golongan
nematoda dengan siklus hidup sederhana, yaitu telur,
larva (juvenil) dan dewasa. Larva mempunyai 4 stadia

Budidaya Cabai
42 42
Budidaya Cabai
yang ditandai dengan pergantian kulit. Gejala
serangan hama yang terserang Steinernema sp. warna
inang berubah menjadi coklat kekuningan dan
tubuhnya menjadi lembek. Hal tersebut disebabkan
oleh eksotoksin yang dihasilkan oleh bakteri simbion.
Konsentrasi 2.000 juvenil instar III/ml efektif terhadap S.
litura pada cabai, dengan tingkat mortalitas 70%.
Aplikasi 5 x 108 juvenil instar III/ha efektif terhadap L.
huidobrensis .

Gambar 35. Trips terserang Steinernema spp

Pengendalian organisme pengganggu


tumbuhan atau hama dan penyakit berdasarkan
konsep pengendalian hama terpadu (PHT) dapat
dilakukan secara preventif atau kuratif.

Pengendalian secara preventif

a. Modifikasi lingkungan
Upaya memodifikasi lingkungan dapat dilakukan
secara kultur teknis seperti pengaturan pola tanam,
pengaturan sistem tanam, pemilihan varietas,
pengolahan tanah, pengapuran, solarisasi, memodifikasi
iklim mikro, dan pemupukan.

1. Pengaturan pola tanam


Ditinjau dari segi pengendalian OPT pengaturan
pola tanam bertujuan untuk memutus siklus hidup hama

Budidaya
Budidaya Cabai
Cabai 43 43
dan penyakit di suatu wilayah atau area lahan tertentu.
Oleh karena itu dalam pengaturan pola tanam harus
diupayakan pergiliran tanaman dengan tanaman yang
tidak berasal dari satu keluarga/famili. Jika pergiliran
tanaman dilakukan dalam satu famili, OPT akan selalu
mendapatkan inang, sehingga siklus hidupnya berlanjut.

2. Pengaturan sistem tanam


Untuk mengurangi serangan OPT melalui
pengaturan sistem tanam dapat dilakukan dengan
sistem tumpangsari, tumpanggilir, menanam tanaman
perangkap, menanam tanaman penghadang, atau
menanam di dalam rumah kasa. Menanam tanaman
penghadang 4 baris jagung di sekeliling tanaman cabai
1,5 bulan sebelum tanam cabai bertujuan untuk
menekan serangan hama kutu kebul.

3. Pemilihan varietas
Selain karena selera pasar, produktivitas tinggi
dan kesesuaian dengan kondisi lahan, faktor penting
lain dalam memilih varietas ialah yang tahan terhadap
serangan OPT. Cabai varietas Tanjung 1 agak toleran
terhadap hama pengisap seperti trips dan kutu daun.

4. Pengolahan tanah
Ditinjau dari sudut pengendalian hama dan
penyakit, pengolahan tanah yang baik dan benar
bertujuan untuk menekan populasi OPT tanah. Oleh
karena itu jeda waktu yang diperlukan dari pengolahan
tanah awal sampai dengan siap tanam minimal 1
bulan. Dengan jeda waktu yang panjang, patogen dan
kepompong hama di dalam tanah akan terbakar oleh
sinar matahari sehingga akan mati.

Budidaya Cabai
44 44
Budidaya Cabai
5. Pengapuran
Tanaman dapat tumbuh baik pada tanah yang
mempunyai kisaran pH tertentu, karena pH tanah
berpengaruh terhadap penyerapan unsur hara oleh
tanaman. Jika pH tanah tidak sesuai, maka
pertumbuhan tanaman menjadi kurang optimum,
sehingga rentan terhadap serangan OPT. Pada
umumnya kemasaman tanah untuk tanaman cabai
adalah 5,6-6,5 dan 5,5-6,8. Jika pH tanah kurang dari
kisaran angka tersebut dapat dilakukan pengapuran
menggunakan dolomit atau kapur pertanian yang
dilakukan minimal 1 bulan sebelum tanam. Banyaknya
dosis kapur yang dibutuhkan jika pH tanah < 6,0
disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Daftar kebutuhan kapur untuk setiap pH tanah

No. pH Tanah Kebutuhan Kapur


(ton/ha)
1. 5,50 5,80
2. 5,00 7,80
3. 4,50 10,70
4. 4,00 13,00

6. Modifikasi iklim mikro


Modifikasi iklim mikro dapat dilakukan dengan
pengaturan jarak tanam. Pada musim hujan
diupayakan jarak tanam lebih lebar dibandingkan
dengan jarak tanam pada musim kemarau, karena
kelembaban tinggi akan menyebabkan penyakit
berkembang lebih cepat.

7. Pemupukan
Tanaman memerlukan unsur makro dan mikro
yang sesuai dengan kebutuhannya agar dapat tumbuh

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai 45 45
optimal. Tanaman yang kelebihan atau kekurangan
unsur hara akan rentan terhadap serangan OPT.
Pemupukan Nitrogen yang berlebihan akan
mengakibatkan ukuran sel tanaman membesar dengan
dinding sel yang lebih tipis. Akibatnya pathogen dan
hama lebih mudah menembus. Kekurangan unsur Fosfat
dan Kalium akan mengakibatkan tanaman mudah
terserang oleh penyakit. Oleh karena itu sebelum tanam
perlu dilakukan analisis tanah terlebih dahulu agar
pemberian pupuk dapat lebih tepat.

8. Penggunaan mulsa plastik hitam perak


Penggunaan mulsa dapat mempengaruhi
kelimpahan OPT. Mulsa plastik hitam perak dapat
menurunkan populasi trips, karena mulsa tersebut dapat
mempengaruhi refleksi cahaya dan suhu. Penggunaan
mulsa plastik juga dapat mengurangi persentase
pembentukan pupa di dalam tanah, mencegah terjadi
perkolasi dan gerakan air tanah, sehingga dapat
meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi.

b. Perlakuan benih/bibit
Perlakuan benih menggunakan pestisida
dilakukan untuk menekan serangan OPT tular benih.
Untuk menekan serangan penyakit tular benih, sebelum
ditanam/ disemai benih cabai direndam dalam larutan
fungisida Propamokarb hidroklorida (1 ml/l) selama 0,5
jam atau dalam air hangat suam-suam kuku (45-50 0C)
selama 0,5 jam. Untuk menekan serangan kutu kebul
terhadap bibit cabai dilakukan penyiraman larutan
insektisida Tiametoksam (0,5 ml/l) dengan dosis 50
ml/tanaman pada umur 2 dan 4 minggu setelah semai.

c. Perlakuan tanah
Perlakuan tanah dilakukan untuk menekan
serangan OPT dalam tanah.
Budidaya
46 Cabai 46
Budidaya Cabai
• Jika ditemukan uret atau orong-orong, maka
lahan diberi perlakuan dengan insektisida Fipronil
0,3 G sebanyak 15 kg/ha
• Untuk daerah endemik serangan penyakit layu
bakteri, lahan diberi perlakuan dengan
bakterisida Oksitetrasiklin (konsentrasi formulasi 1
ml/liter) dengan dosis 200 ml/ lubang tanam yang
diaplikasikan satu hari sebelum tanam

d. Pemasangan perangkap OPT


Pemasangan perangkap OPT bertujuan untuk
menekan populasi awal OPT agar perkembangannya
tidak menimbulkan kerugian. Beberapa macam
perangkap OPT adalah sebagai berikut :
• Untuk menekan populasi trips, kutu daun, kutu
kebul, dan tungau dipasang perangkap lekat
warna kuning sebanyak 40-50 buah/ha.
Perangkap tersebut dipasang pada saat tanam.

Gambar 36. Perangkap trips

• Untuk mengendalikan hama lalat buah dipasang


perangkap Metil Eugenol sebanyak 40-50
buah/ha. Pada tanaman cabai pemasangan
perangkap Metil Eugenol dilakukan ketika
tanaman mulai berbunga

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 4747
Gambar 37. Perangkap lalat buah

e. Pemanfaatan sumber daya hayati (SDH) domestik


(Indigenous)
Dalam pengendalian OPT ramah lingkungan,
peranan musuh alami harus lebih diutamakan dengan
menitikberatkan pada pemanfaatan musuh alami
domestic dengan cara menciptakan lingkungan yang
mendukung semakin berfungsinya musuh-musuh alami
secara maksimal. Beberapa musuh alami penting seperti
parasitoid, predator dan cendawan entomatogen
diketahui dapat menekan serangan OPT pada
tanaman cabai.

f. Pemanfaatan biopestisida
Lebih dari 2300 jenis tumbuhan dari berbagai
penjuru dunia diketahui dapat digunakan sebagai
pestisida nabati dan tidak kurang dari 100 jenis
tumbuhan telah diketahui mengandung bahan aktif
insektisida. Beberapa tumbuhan yang dapat digunakan
sebagai biopestisida dan efektif mengendalikan OPT
cabai antara lain serai wangi, babadotan, kirinyuh,
tagetes, mindi, nimbi, kipahit, kacang babi, legundi,
kapayang, gamal, bintaro, mengkudu, berenuk dsb.

g. Penyemprotan fungisida secara preventif


Pada pengendalian penyakit tanaman, strategi
yang digunakan berbeda dengan strategi

Budidaya Cabai
48 48
Budidaya Cabai
pengendalian hama yang berdasarkan ambang
pengendalian. Pengendalian penyakit harus dilakukan
sebelum munculnya gejala serangan. Tanaman perlu
diproteksi menggunakan fungisida untuk mencegah
berkecambahnya spora yang menempel pada bagian
tanaman. Hal yang perlu diperhatikan ialah pemilihan
fungisida yang tepat karena setiap jenis fungisida
memiliki sifat proteksi yang berbeda-beda. Pada awal
penanaman digunakan fungisida yang memiliki sifat
proteksi preventif. Jika masih terjadi serangan,
digunakan fungisida dengan sifat kuratif.

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai 49 49
PANEN DAN PASCAPANEN

Panen pertama dilakukan pada umur 60-75 hari


setelah tanam, dengan interval ± 3-7 hari. Buah yang
dijual segar dipanen matang, sedangkan jika untuk
dikirim dengan jarak yang jauh, buah dipanen matang
hijau. Buah yang akan dikeringkan dipanen setelah
matang penuh. Kemasan untuk cabai merah yang
dikirim ke tempat yang jaraknya jauh berupa karung
jala dengan kapasitas ± 50 kg atau kotak-kotak karton
yang diberi lubang angin yang cukup. Tempat
penyimpanan harus kering, sejuk, dan mempunyai
sirkulasi udara yang cukup baik. Karakteristik kualitas
cabai merah yang dikehendaki oleh konsumen rumah
tangga maupun lembaga adalah :
• warna buah merata dan tua,
• kekerasan buah sedang – keras,
• bentuk buah memanjang (± 10 cm),
• diameter buah sedang (± 1,5 cm), dan
• permukaan buah halus dan mengkilap.

Gambar 38. Buah cabai merah yang siap untuk dipanen

Budidaya
50 Cabai 50
Budidaya Cabai
Gambar 39. Buah cabai merah

Budidaya Cabai 51
Budidaya Cabai 51
PENUTUP

Demikian buku petunjuk teknis ini dibuat dengan


harapan dapat menjadi panduan atau acuan
tahapan-tahapan budidaya cabai dari persiapan
lahan, persemaian, penanaman, pemeliharaan, hingga
panen dan pascapanen guna tercapainya
peningkatakan produktivitas dan peningkatan
pendapatan petani.

Budidaya Cabai
52 52
Budidaya Cabai
DAFTAR PUSTAKA

Agriflo. 2012. Cabai : Prospek Bisnis dan Teknologi


Manca Negara.Penebar Swadaya Grup. Jakarta.
205 hal.

Agromedia. 2007. Budidaya Cabai Hibrida. Agromedia


Pustaka. Jakarta. 58 hal.

Andri, K. B., F. N. Azis, E. Korlina. 2015. Sistem Usahatani


dan Budidaya Cabai. Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Jawa Timur. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian

Arianto,2010.http://ariantoganggus.blogspot.com/2010/
01/budidaya-tanaman-cabai.html. di akses pada
tanggal 3 april 2010.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2015.


Inovasi Hortikultura Pengungkit Peningkatan
Pendapatan Rakyat. Jakarta : IAARD Press.

Chairumasyah,2010.http://binatani.blogspot.com/2010/
03/keuntungan- penggunaan-mulsa-plastik.html. di
akses pada tanggal 14 april 2010.

Cyber Extension Pusluhtan. 2017. Hama dan Penyakit


Tanaman Cabai. http//: www.
http://cybex.pertanian.go.id/materilokalita/cetak/
13233. Diakses Tanggal 27 November 2017.

Harpenas, Asep dan R. Dermawan. 2010. Budidaya


Cabai Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta. 106 hal.

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai 53 53
Ibrahim. A, 2014, Perlakuan Benih Cabai (Capsicum
Annuum L.) Dengan Rizobakteri Untuk
Mengendalikan Phytophthora capsici
Meningkatkan Vigor Benih Dan Pertumbuhan
Tanaman, Skripsi, IPB, Bogor

Imtiyaz, H., Barlian H. P., Nurul H. 2017. Sistem Pendukung


Keputusan Budidaya Tanaman Cabai Berdasarkan
Prediksi Curah Hujan. Jurnal Pengembangan
Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol. 1, No. 9,
Juni 2017, hlm. 733-738

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2015.


Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun
2015-2019. Kementrian Pertanian Republik
Indonesia. Jakarta. 339 hal.

Khoiri, M. 2010. Pengaruh naungan terhadap


pertumbuhan dan laju fotosintesis tanaman cabe
merah (Capsicum annuum L.) sebagai salah satu
sumber belajar biologi. Jurnal Pendidikan Biologi. 1
(2) : 87-95

Prabaningrum, L., T. K. Moekasan, W. Setiawati, M.


Prathama, A. Rahayu. 2016. Modul Pendampingan
Pengembangan Kawasan Pengelolaan Tanaman
Terpadu Cabai. Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Hortikultura Badan Penelitian Dan
Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian.

Prajnanta, F., 2011. Mengatasi Permasalahan Bertanam


Cabai. Jakarta: Penebar Swadaya.

Budidaya Cabai
54 54
Budidaya Cabai
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. 2016.
Dukungan Inovasi Dalam Pengembangan
Kawasan Agribisnis Hortikultura. Bogor : IPB Press

Saptana, N.K. Agustin, dan A.M. Ar-Rozi. 2013. Kinerja


Produksi Dan Harga Komoditas Cabai Merah.
Policy Brief Analisis Kebijakan .Pusat Sosial Ekonomi
dan Kebijakan Pertanian.Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian

Sayaka, B., W.K. Sejati, A. Askin, 2012. Antisipasi


Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun
2010 Tentang Hortikultura Terhadap Struktur Pasar
Industri Benih Hortikultura. Laporan Penelitian. Pusat
Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Sumarni. N dan Agus M, 2005, Budidaya Tanaman Cabai


Merah, Panduan Teknis PTT Cabai Merah No.2,
Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hortikultura
Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian,
Kementerian Pertanian

Surya, T.A., 2015. Pengendalian Inflasi Komoditas Pangan


Menjelang Bulan Ramadhan. Info Singkat Ekonomi
dan Kebijakan Publik. 8(11), pp.13-16.

Susila D.A, Tisna P, Palada, 2012, Improving


Management Practices for Transplant Production
of Chili Pepper (Capsicum annuum L. ), Vegetable
Agroforestry System in Indonesia, ICRAF Special
Publication No.6c.

Budidaya
BudidayaCabai
Cabai 55 55
INDEKS

A H
Alternaria sp, 32 Hara mikro, 19
Amblyseius cucumeris, 40 Hemiptarsenus varicornis, 38
Aphis gossypii, Hardening, 13
Helicoverpa armigera, 26
B Helicoverpa zea, 26
Bactrocera sp, 30
Beauveria bassiana, 41 K
Bemisia tabaci, 27 KCl, 18, 19, 20
Biopestisida, 48 Kompos, 17, 19, 20
Klorosis, 6, 7
C
Capsicum annuum L. 55 M
Cendawan, 32, 34, 35, 36, 37, Menochilus sexmaculatus, 39
38, 48 Monokultur, 15
Cercospora capsici, 31 Majemuk, 19
Colletotrichum sp, 33
Damping-off, 13 N
NPK, 19, 20
D
Dolomit, 7, 18, 45 M
Double row, 15 Myzus persicae, 28

E O
Eriborus argenteopilosus, 38, Organisme, 2, 8, 31, 37, 42, 43
39
Fungisida Propamokarb P
hidroklorida, 46 Patogen, 11, 31, 32, 33, 34, 35,
F 37, 38, 42, 44
Fusarium oxysporum, 35 Parasitoid,37, 38, 39, 48
Phonska, 19
G Phytophthora spp, 34
Gloeosporium spp, 33 Polyphagotarsonemus latus,
Gulma,6, 8, 13, 16, 25 29
Pupuk, 4, 8, 10, 12, 17, 18, 19,
20, 21, 23, 24
Predator, 37, 39, 40, 48

Budidaya Cabai
56 56
Budidaya Cabai
Previcur, 12 U
Pythium spp, 35, 36 Urea, 8, 18, 19, 20

R V
Rhinocoris sp, 40 Vektor, 27, 28
Rhizoctonia solani Kuhn, 35 Vermicompost, 11
Virus kuning Gemini, 36
S
Serangga, 26, 27, 29, 30, 37, Z
38, 39, 41, 42 ZA, 8, 19, 20
SP 36, 18, 19 38
Spodoptera litura nuclear-
polyhedrosis virus (SlNPV),
42
Steinernema spp, 42, 43
Susulan, 20, 24

T
Tetranychus sp, 29
Thrips parvispinus, 29
Trichogramma chilonis, 39
Tumpangsari, 15
Tumpang gilir, 14, 15
Tunggal, 19

Budidaya Cabai
Budidaya Cabai 5757
RIWAYAT HIDUP PENULIS

Sri Swastika
Sri Swastika terlahir di Sorong, 26 April 1980. Meraih gelar
sarjana dari Universitas Gadjah Mada, Jurusan Ilmu Hama dan
Penyakit Tumbuhan pada tahun 2004. Saat ini penulis sebagai
Penyuluh Pertanian pada Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP) Riau.

Dian Pratama
Dian Pratama terlahir di Sleman, 15 Mei 1987. Meraih gelar
sarjana dari Universitas Gadjah Mada, Jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian pada tahun 2008. Saat ini penulis sebagai Calon
Penyuluh Pertanian pada Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian (BPTP) Riau.

Taufik Hidayat
Taufik Hidayat, SP, MP Lahir di Padang Sidempuan, pada
tanggal 16 April 1969. Mendapatkan gelar Sarjana Pertanian
dari Universitas Tjut Nyak Dhien, Sumatera Utara pada
tahun 1999. Menyelesaikan pendidikan program
pascasarjana dari Universitas Islam Riau pada Tahun 2015.
Saat ini yang bersangkutan tergabung ke dalam kelji
Budidaya di BPTP Balitbangtan Riau.

Kuntoro Boga Andri


Kuntoro Boga Andri, SP, M.Agr, Ph.D, Menyelesaikan S1 pada
Fakultas Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, IPB
(1998), S2 dalam bidang Ekonomi dan Pemasaran Pertanian
di Graduate School of Agriculture, Saga University, Jepang
(2004), dan S3 bidang Ekonomi dan Kebijakan Pertanian di
The United Graduate School of Agricultural Sciences,
Kagoshima University, Jepang (2007). Mencapai jenjang
Peneliti Utama Tahun 2017 dan Peneliti Madya tahun 2009.
Saat ini menjabat sebagai kepala Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Riau sejak November 2016.

Budidaya
58 Cabai 58
Budidaya Cabai