Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

POST PARTUM SC

Disusun oleh :
Nama : Galuh Retno W.
NIM : 1611020132
Kelas :5C

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN S1


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2018/2019
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian Kasus
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin
dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim
dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram
(Sarwono, 2009).
Sectio Caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan
anak lewat insisi pada dinding abdomen dan uterus (Oxorn &
William, 2010).
Menurut Amru Sofian (2012) Sectio Caesarea adalah suatu cara
melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus
melalui dinding depan perut (Amin & Hardhi, 2013).
Sectio Caesarea didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui
insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus
(histerektomi).
Dari beberapa pengertian tentang Sectio Caesarea diatas dapat
diambil kesimpulan bahwa Sectio Caesarea adalah suatu tindakan
pembedahan yang tujuannya untuk mengeluarkan janin dengan cara
melakukan sayatan pada dinding abdomen dan dinding uterus.
B. Anatomi Fisiologi Genetalia, lapisan otot perut, serta fasia.
1. Organ Genetalia Interna

Secara umum alat reproduksi wanita terbagi atas dua bagian


yaitu terdiri dari alat kelamin bagian dalam dan alat kelamin bagian
luar. (Manuaba, 2012).
a. Alat kelamin bagian dalam
1) Vagina (saluran senggama)
Vagina merupakan saluran muskula membranase yang
menghubungkan rahim dengan dunia luar, bagian ototnya
berasal dari otot levatorani dan otot sfingterani sehingga
dapat dikendalikan dan dilatih.
2) Rahim (Uterus)
Bentuk uterus seperti buah pir dengan berat sekitar 30
gram terletak dipanggul kecil diantara rektum (bagian usus
sebelum dubur) dan di depannya terletak kandung kemih.
3) Tuba Fallopi
Adalah saluran spermatozoa dan ovum, tempat terjadinya
pembuahan, menjadi saluran dan tempat pertumbuhan hasil
pembuahan sebelum mampu menanamkan dari pada lapisan
rahim.
4) Indung Telur (Ovarium)
Merupakan sumber hormonal wanita yang paling utama
sehingga mempunyai dampak kewanitaan dalam pengaturan
proses menstruasi.
5) Parametrium
Merupakan lipatan peritonium dengan berbagai penebalan
yang menghubungkan rahim dengan tulang panggul.
2. Organ Genetalia Eksterna

a. Mons Veneris
Mons veneris disebut juga gunung venus, merupakan bagian yang
menonjol dibagian depan simfisis, terdiri dari jaringan lemak dan
sedikit jaringan ikat. Setelah dewasa tertutup oleh rambut yang
bentuknya segitiga.
b. Bibir besar (labia mayora)
Labia mayora kelanjutan dari mons veneris, bentuknya lonjong.
Kedua bibir ini dibagian bawah bertemu membentuk perineum.
Permukaan terdiri dari :
1) Bagian luar : tertutup rambut, yang merupakan kelanjutan dari
rambut pada mons veneris.
2) Bagian dalam : tanpa rambut, merupakan selaput yang
mengandung kelenjar sebasea (lemak)
c. Bibir kecil (labia minora)
Merupakan lipatan di bagian dalam bibir besar, tanpa rambut.
d. Klitoris
Merupakan bagian yang erektil, seperti penis pada pria,
mengandung banyak pembuluh darah dan serat saraf, sehingga
sangat sensitif saat berhubungan seks.
e. Vestibulum
Bagian kelamin ini dibatasi oleh kedua labia kanan - kiri dan bagian
atas oleh klitoris serta bagian belakang pertemuan labia minora.
f. Himen
Himen merupakan selaput tipis yang menutupi sebagian lubang
vagina luar. Pada saat hubungan seks pertama himen akan robek dan
mengeuarkan darah. Setelah melahirkan himen merupakan tojolan
kecil yang disebut karunkule mirtiformis.
3. Otot Perut
Otot perut terdiri dari : otot dinding perut anterior dan otot
dinding perut lateral. Otot dinding perut anterior dan lateral (rectus
abdominis) meluas dari bagian depan margo costalis di atas dan
pubis di bagian bawah. Otot itu disilang oleh beberapa pita fibrosa
dan berada dalam selubung. Linea alba adalah pita jaringan yang
membentang pada garis tengah dari proceccus xipoidius sternum ke
simpisis pubis, memisahkan kedua musculus rectus abdominalis.
Obliqus externus, obliqua internus dan tranverses adalah otot pipih
yang membentuk dinding abdomen pada bagian samping dan
bagian depan. Serat externus berjalan ke arah bawah dan atas, serat
obliqus internus berjalan ke atas dan ke depan, serat transverses
(otot terdalam dari otot ketiga dinding peruut) berjalan transversal
dari bagian depan ketiga otot terakhir dalam satu selubung bersama
yang menutupi rectus abdominis.
Otot dinding perut posterior (Quadrates lumbolus) adalah
otot pendek persegi pada bagian belakang abdomen, dari costa
keduabelas diatas crista iliaca.
4. Fasia

Di bawah kulit fasia superfisialis dibagi sebagai lapisan lemak yang


dangkal, camper’s fasia dan yang lebih dalam lapisan fibrosa. Fasia
profunda terletak pada otot-otot perut menyatu
dengan fasia profunda paha. Susunan ini membentuk pesawat antara
scarpa’s fasia dan perut dalam fasia membentang dari bagian atas
paha bagian atas perut. Di bawah lapisan terdalam otot, maka otot
abdominis transverses, terletak fasia transversalis. Fasia
transversalis dipisahkan dari peritonium parietalis oleh variabel
lapisan lemak. Fascias adalah lembar jaringan ikat atau mengikat
bersama-sama meliputi struktur tubuh.
C. Etiologi

Menurut Amin & Hardi (2013) etiologi Sectio Caesarea ada dua yaitu
sebagai berikut :

1. Etiologi yang berasal dari ibu


Yaitu pada primigravida dengan kelainan letak, primi para tua
disertai kelainan letak ada, disporporsi sefalo pelvik (disproporsi
janin/ panggul), ada sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk,
terdapat kesempitan panggul, placenta previa terutama pada
primigravida, solutsio placenta tingkat I - II, komplikasi kehamilan
yaitu preeklampsi-eklampsia, atas permitaan, kehamilan yang
disertai penyakit (jantung, DM), gangguan perjalanan persalinan
(kista ovarium, mioma uteri dan sebagainya).
2. Etiologi yang berasal dari janin
Fetal distress/ gawat janin, mal presentasi dan mal posisi kedudukan
janin, prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan
persalinan vakum atau forseps ekstraksi.

Menurut Rasjidi (2009) indikasi dan kontra indikasi dari Sectio Caesarea
sebagai berikut :
1. Indikasi Sectio Caesarea
a. Indikasi mutlak
Indikasi Ibu
a. Panggul sempit absolut
b. Kegagalan melahirkan secara normal karena kurang adekuatnya
stimulasi.
c. Tumor-tumor jalan lahir yang menyebabkan obstruksi.
d. Stenosis serviks atau vagina
e. Placenta previa
f. Disproporsi sefalopelvik.
g. Ruptur uteri membakat

Indikasi janin
a. Kelainan letak
b. Gawat janin
c. Prolapsus placenta
d. Perkembangan bayi yang terhambat
e. Mencegah hipoksia janin, misalnya karena preeklampsia.

2. Indikasi relatif
a. Riwayat Sectio Caesarea sebelumnya
b. Presentasi bokong
c. Distosia
d. Fetal distress
e. Preeklampsia berat, penyakit kardiovaskuler dan diabetes.
f. Ibu dengan HIV positif sebelum inpartu

3. Indikasi Sosial
a. Wanita yang takut melahirkan berdasarkan pengalaman sebelumnya.
b. Wanita yang ingin Sectio Caesarea elektif karena takut bayinya
mengalami cedera atau asfiksia selama persalinan atau mengurangi
resiko kerusakan dasar panggul.
c. Wanita yang takut terjadinya perubahan pada tubuhnya atau sexuality
image setelah melahirkan.

4. Kontra indikasi
Kontraindikasi dari Sectio Caesarea adalah :
a. Janin mati
b. Syok
c. Anemia berat
d. Kelainan kongenital berat
e. Infeksi piogenik pada dinding abdomen
f. Minimnya fasilitas operasi sectio caesarea
D. Tanda dan Gejala
Ada beberapa hal tanda dan gejala post sectio caesarea :
1. Pusing
2. Mual muntah
3. Nyeri di sekitar luka operasi
4. Adanya luka bekas operasi
5. Peristaltik usus menurun
E. Komplikasi
Infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama
beberapa hari dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya
peritonitis, sepsis dan lain-lain. Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum
pembedahan sudah ada gejala - gejala infeksi intrapartum atau ada faktor
- faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama
khususnya setelah ketuban pecah, tindakan vaginal sebelumnya). Bahaya
infeksi dapat diperkecil dengan pemberian antibiotika, tetapi tidak dapat
dihilangkan sama sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya
daripada SC transperitonealis profunda.
1. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang
arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri.
2. Komplikasi-komplikasi lain seperti :
a. Luka kandung kemih
b. Embolisme paru – paru.
3. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya
perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa
terjadi ruptura uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan
sesudah sectio caesarea klasik.
F. Penatalaksanaan
1. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian
cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar
tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh
lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi
dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila
kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan.
2. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus
lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian
minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 -
10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
3. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
a. Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi.
b. Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang
sedini mungkin setelah sadar.
c. Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit
dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
d. Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi
setengah duduk (semifowler).
e. Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan
belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan
sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
4. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak
pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan
perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi
tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
5. Pemberian obat-obatan
a. Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap
institusi.
b. Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
c. Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam.
d. Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol.
e. Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu.
6. Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat
diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C
7. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan
berdarah harus dibuka dan diganti.
8. Perawatan rutin.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu,
tekanan darah, nadi, dan pernafasan.
G. Patofisiologi
Adanya beberapa kelainan/hambatan pada proses persalinan yang
menyebabkan bayi tidak dapat lahir secara normal/spontan, misalnya
plasenta previa sentralis dan lateralis, panggul sempit, disproporsi cephalo
pelvic, rupture uteri mengancam, partus lama, partus tidak maju, pre-
eklamsia, distosia serviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebut
menyebabkan perlu adanya suatu tindakan pembedahan yaitu Sectio
Caesarea (SC).
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan
menyebabkan klien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan
masalah intoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementara dan
kelemahan fisik akan menyebabkan klien tidak mampu melakukan aktivitas
perawatan diri klien secara mandiri sehingga timbul masalah defisit
perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan,
dan perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada klien.
Selain itu, dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi
pada dinding abdomen sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas
jaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini
akan merangsang pengeluaran histamin dan prostaglandin yang akan
menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses pembedahan berakhir,
daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang bila tidak
dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah risiko infeksi.
H. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian fokus
a. Identitas klien dan penanggung jawab
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agama,
alamat, status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record,
diagnosa medik, yang mengirim, cara masuk, alasan masuk, keadaan
umum tanda vital.
b. Keluhan utama
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas sebelumnya bagi kien
multipara
d. Data riwayat penyakit
c. Riwayat kesehatan sekarang
Meliputi keluhan atau yang berhubungan dengan gangguan atau
penyakit yang dirasakan saat ini dan keluhan yang dirasakan
setelah klien operasi.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Meliputi penyakit lain yang dapat mempengaruhi penyakit
sekarang, maksudnya apakah klien pernah mengalami penyakit
yang sama (plasenta previa)
e. Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit yang diderita klien dan apakah keluarga klien
ada juga mempunyai riwayat persalinan yang sama (plasenta
previa).
e. Pola-pola fungsi kesehatan
f. Pola-pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan
cara pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga
kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan
dirinya
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari
keinginan untuk menyusui bayinya.
3) Pola aktifitas
Pada klien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya,
terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat
lelah, pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena
mengalami kelemahan dan nyeri.
4) Pola eleminasi
Pada klien postpartum sering terjadi adanya perasaan sering / susah
kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema,
yang menimbulkan infeksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi
karena penderita takut untuk melakukan BAB.
5) Istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena
adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
6) Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga
dan orang lain.
7) Pola penagulangan stres
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas
8) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka jahitan dan
nyeri perut akibat involusi uteri (pengecilan uteri oleh kontraksi uteri),
pada pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan
merawat bayinya
9) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih
menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan
konsep diri antara lain dan body image dan ideal diri
10) Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau
fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan
dan nifas.
g. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kontribusi rambut, warna
rambut, ada atau tidak adanya edem, kadang-kadang terdapat adanya
cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan.
2) Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan
kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses
persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kunuing.
3) Telinga
Biasanya bentuk telinga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya,
adakah cairan yang keluar dari telinga.
4) Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang
ditemukan pernapasan cuping hidung.
5) Leher
Pembesaran kelenjar limfe dan tiroid, adanya abstensi vena jugularis.
6) Dada dan payudara
Bentuk dada simetris, gerakan dada, bunyi jantung apakah ada bisisng
usus atau tiak ada. Terdapat adanya pembesaran payudara, adanya
hiperpigmentasi areola mamae dan papila mamae
7) Abdomen
Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa
nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.
8) Ginetelia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat
pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam
kandungan menandakan adanya kelainan letak anak.
9) Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena ruptur,
adanya hemoroid.
10) Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk melihat kelainan-kelainan karena
membesarnya uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung
atau ginjal.
11) Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi
cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.

2. Diagnosa keperawatan yang sering muncul


a. Nyeri akut berhubungan dengan luka post operasi (section caesarea)
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada abdomen
post operasi SC, post anestesi
c. Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan, luka post operasi
d. Ansietas berhubungan dengan koping yang tidak efektif
3. Rencana Tindakan ( Intervensi )
a) Diagnosa I : Nyeri akut berhubungan dengan luka post operasi (section
caesarea)
Tujuan : Klien akan mengungkapkan penurunan nyeri
Kriteria hasil :
a. Mengungkapkan nyeri dan tegang di perutnya berkurang
b. Skala nyeri 0-1 ( dari 0 – 10 )
c. Dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.
d. Kooperatif dengan tindakan yang dilakukan.
e. TTV dalam batas normal ; Suhu : 36-37°C, TD : 120/80 mmHg, RR
: 18-20x/menit, Nadi : 80-100 x/menit
Tindakan Rasional
1) Kaji lokasi, sifat dan durasi Menandakan ketepatan pilihan
nyeri, khususnya saat berhubungan tindakan. Klien yang menunggu
dengan indikasi kelahiran sesaris. kelahiran sesaria iminen dapat
mengalami berbagai derajat
2) Hilangkan factor-faktor yang ketidaknyamanan, tergantung pada
menghasilkan ansietas (mis; indikasi terhadap prosedur.
kehilangan control), berikan informasi
akurat, dan anjurkan keberadaan Tingkat toleransi ansietas adalah
pasangan. individual dan dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Ansietas berlebihan
3) Instruksikan teknik relaksasi; pada respon terhadap situasi darurat
posisikan senyaman mungkin. dapat meningkatkan ketidaknyamanan
Gunakan sentuhan terapeutik. karena rasa takut, tegang, dan nyeri
yang saling berhubungan dan merubah
kemampuan klien untuk mengatasi.

Dapat membantu dalam reduksi


ansietas dan ketegangan dan
meningkatkan kenyamanan.

b) Diagnosa II : Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri pada


abdomen post operasi SC, post anestesi
Tujuan : Dalam 3 x 24 jam gangguan mobilitas fisik teratasi dengan
kriteria hasil klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri
Tindakan Rasional
1) Kaji tingkat mobilitas dari klien 1) Diharapkan dapat
2) Motivasi klien untuk mempermudah
melakukan mobilitas secara pemberian tindakan
bertahap
3) Pertahankan posisi tubuh yang tepat pengobatan
4) berikandukungan dan bantuan kelu selanjutnya
arga/orang terdekat pada 2) Diharapkan dapat
latihan gerak klien. meningkatkan
kenyamanan dan
ambulasi.
3) Dapatkan
meningkatkan posisi
fungsional pada tubuh
klien.
4) Memampukan
keluarga/orang
terdekat untuk aktifita
s dalam perawatan
klien perasaan senang
dan nyaman pada
klien.

c) Diagnosa III : Resiko infeksi berhubungan dengan perdarahan, luka post


operasi.
Tujuan umum : Sel darah putih, suhu, nadi, tetap dalam batas normal.
Penyembuhan insisi terjadi dengan tujuan pertama ; uterus tetap lembut
dan tidak empuk dan lochia bebas dari bau.
Tindakan Rasional
1) Angkat balutan verban 1) Memudahkan insisi untuk
abdomen sesuai indikasi kering dan meningkatkan
2) Bantu sesuai keperluan penyembuhan setelah 24 jam
dengan mengangkat benang pertama menjalani prosedur
kulit. pembedahan.
3) Anjurkan klien untuk mandi 2) Insisi biasanya sudah cukup
air hangat setiap hari. sembuh untuk pengangkatan
4) Berikan oxytoksin atau benang pada 4-5 hari setelah
preparat ergometrium, beri prosedur pembedahan.
infuse oksitoksin yang sering 3) Mandi sering diijinkan
dianjurkan secara rutin untuk setelah hari ke-2 menjalani
4 jam setelah prosedur prosedur kelahiran caesarea
pembedahan. dapat meningkatkan
5) Ambil darah vaginal dan kebersihan dan dapat
kultur urine bila infeksi merangsang sirkulasi dan
dicurigai. penyembuhan luka
6) Berikan infus antibiotik 4) Mempertahankan kontraksi
profilaksis. miometrial oleh karena
menurunya penyebaran
bakteri melalui dinding
uterus, membantu dalam
pengeluaran bekuan dan
selaput.
5) Bekterimial lebih sering
pada ibu yang mengalami
ruptur membrane untuk 6
jam atau lebih lama dari pada
klien yang mempunyai
membran tetap utuh sebelum
menjalani kelahiran
caesarea, pemasangan
kateter tidak tetap,
mempredisposisi klien untuk
kemungkinan infeksi.
6) Menurunkan / mengurangi
kemungkinan endometritis
post partum sebagaimana
halnya dengan komplikasi
seperti abses insisi atau
trombophlebitis pelvis.

d) Diagnosa IV : Ansietas berhubungan dengan koping yang tidak efektif


Tujuan :

Klien akan :

1. Mengungkapkan rasa takut pada keselamat klien dan janin.


2. Mendiskusikan perasaan tentang kelahiran sesaria.
3. Tampak benar-benar rileks.
4. Menggunakan sumber atau sistem pendukung secara efektif

Tindakan Rasional
1) Kaji respons psikologis pada Makin klien merasakan ancaman,
kejadian dan ketersediaan system makin besar tingkat ansietas.
pendukung.
2) Pastikan apakah prosedur Pada kelahiran sesaria yang tidak
direncanakan atau tidak direncanakan, klien/pasangan
direncanakan. biasanya tidak mempunyai waktu
3) Tetap bersama klien dan tetap untuk persiapan secara psikologis
tenang. Bicara perlahan. maupun fisiologis. Bahkan bila
Tunjukkan empati. direncanakan, kelahiran sesaria dapat
4) Beri penguatan aspek positif dari membuat ketakutan klien/pasangan
ibu dan kondisi janin. karena ancaman fisik aktual atau
5) Dukung/arahkan kembali dirasakan pada ibu dan bayi yang
mekanisme koping yang berhubungan dengan prosedur dan
diekspresikan. pembedahan itu sendiri.
Membantu membatasi transmisi
ansietas interpersonal, dan
6) Diskusikan pengalaman / harapan mendemonstrasikan perhatian terhadap
kelahiran anak pada masa lalu, bila klien/pasangan.
tepat. Memfokuskan pada kemungkinan
7) Berikan masa privasi. Kurangi keberhasilan hasil akhir dan
rangsang lingkungan, seperti membantu membawa ancaman yang
jumlah orang yang ada, sesuai dirasakan / aktual ke dalam perspektif.
indikasi keinginan klien. Mendukung mekanisme koping dasar
dan otomatik, meningkatkan
kepercayaan diri dan penerimaan, dan
menurunkan ansietas
Klien dapat mengalami penyimpangan
memori dari melahirkan masa lalu atau
persepsi tidak realistis dari
abnormalitas kelahiran sesaria yang
akan meningkatkan ansietas.

Memungkinkan kesempatan bagi


klien/pasangan untuk
menginternalisasi informasi.
Menyusun sumber-sumber, dan
mengatasi dengan efektif
DAFTAR PUSTAKA

Chandranita Manuaba, Ida Ayu, dkk. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri . Jakarta :
EGC

Harry Oxorn & William R.Forte. 2010. Ilmu Kebidanan : Patologi dan Fisiologi
Persalinan. Jakarta : Andi Publisher.

Kusuma, Hardhi & Nurarif, Amin Huda. 2013. Handbook for Health Student:
Nursing, Midwife, Pharmacy, Docter. Yogyakarta: Mediaction Publishing.

Mansjoer, A. 2012. Asuhan Keperawatn Maternitas. Jakarta : Salemba Medika

Muchtar. 2014. Obstetri patologi, Cetakan 3. Jakarta : EGC

Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT.Bina Pustaka.

Salawati, L. 2013. Profil Sectio Caesarea di Rumah Sakit Umum Daerah


DR.Zainoel Abidin Banda Aceh Tahun 2011. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala.

Anda mungkin juga menyukai