Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak merupakan individu yang masih bergantung pada orang

dewasa dan lingkungannya, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat

memfasilitasi dalam pemenuhan kebutuhan anak untuk pertumbuhan dan

perkembangan anak. Kesehatan anak menentukan kualitas anak dikemudian

hari, karena keberhasilan anak dimasa yang akan datang akan tergantung

dari bagaimana anak menjalani tahap awal kehidupannya yaitu usia bayi,

toddler, prasekolah dan sekolah (Supartini, 2008).

Menurut Snowman dalam Patmonodewo (2008), mengemukakan

ciri-ciri anak prasekolah (3-6 tahun) yang meliputi aspek fisik, sosial, emosi

dan kognitif anak. Pertama pada ciri fisik, anak prasekolah terlihat lebih

aktif sehingga membutuhkan kontrol pada tubuhnya untuk istirahat yang

cukup. Hal ini dikarenakan anak prasekolah seringkali tidak menyadari

bahwa mereka harus beristirahat yang cukup. Kedua pada ciri sosial, pada

tahap ini anak prasekolah lebih cepat bersosialisasi dengan teman-temannya.

Ketiga pada ciri emosi, dimana pada tahap ini anak prasekolah cenderung

mengekspresikan emosinya dengan bebas dan terbuka, sedangkan pada ciri

perkembangan kognitif anak prasekolah umumnya terampil dalam

berbahasa.

Pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dicapai secara optimal.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak


diantaranya pemberian nutrisi yang adekuat, memfasilitasi kegiatan

bermain, dan melakukan upaya pemeliharaan kesehatan untuk pencegahan

penyakit (Supartini, 2008). Kecemasan merupakan suatu penyerta yang

normal dalam merespon sesuatu yang baru dan belum pernah dialami.

Perawatan anak di rumah sakit merupakan pengalaman yang penuh dengan

kecemasan bagi anak maupun orang tua. Faktor yang mempengaruhi

kecemasan anak yang dirawat di rumah sakit antara lain lingkungan rumah

sakit, bangunan fisik, bau khas rumah sakit, obat-obatan, alat-alat medis,

petugas kesehatan, warna seragam, dan sikap petugas kesehatan seperti

dokter dan perawat (Moersintowati, dkk 2008).

Menurut Supartini (2008), perawatan di rumah sakit seringkali

dipersepsikan anak prasekolah sebagai hukuman sehingga anak merasa

malu, bersalah, cemas dan takut. Anak juga sering merasa takut pada hal-hal

yang tidak logis, seperti takut gelap dan monster. Berbagai perasaan yang

sering muncul pada anak usia prasekolah yaitu cemas, marah, sedih, takut

dan rasa bersalah. Perasaan tersebut dapat timbul karena menghadapi

sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya, rasa tidak aman

dan tidak nyaman, perasaan kehilangan sesuatu yang dialaminya, dan

sesuatu yang dirasakan menyakitkan serta lingkungan rumah sakit (Wong,

2009).

Upaya untuk mengatasi kecemasan pada anak antara lain yang

pertama melibatkan orang tua anak, agar orang tua berperan aktif dalam

perawatan anak dengan cara membolehkan mereka untuk tinggal bersama


anak selama 24 jam. Jika tidak mungkin, beri kesempatan orang tua untuk

melihat anak setiap saat dengan maksud untuk mempertahankan kontak

antara mereka. Yang kedua melakukan modifikasi lingkungan rumah sakit,

agar anak tetap merasa nyaman dan tidak asing dengan lingkungan baru.

Upaya yang ketiga adalah peran dari petugas kesehatan rumah sakit (dokter,

perawat), dimana diharapkan petugas kesehatan khususnya perawat harus

menghargai sikap anak karena selain orang tua perawat adalah orang yang

paling dekat dengan anak selama perawatan di rumah sakit. Sekalipun anak

menolak orang asing (perawat), namun perawat harus tetap memberikan

dukungan dengan meluangkan waktu secara fisik dekat dengan anak

menggunakan komunikasi yang baik yaitu suara bernada tenang, pilihan

kata yang tepat, kontak mata dan sentuhan secara empati (Wong, 2009).

Menurut Musliha dan Siti (2010) komunikasi bisa diartikan sebagai

proses penyampaian informasi, makna atau pemahaman dari pengirim ke

penerima. Dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan

suatu pertukaran ide, perasaan, pengiriman pesan/pengiriman informasi, dan

pikiran antar dua orang atau lebih yang mempunyai tujuan tertentu.

Dalam bidang keperawatan, komunikasi penting untuk menciptakan

hubungan antara perawat dengan pasien, untuk mengenal kebutuhan pasien

dan menentukan rencana tindakan serta kerja sama dalam memenuhi

kebutuhan tersebut (Purwanto, 2010). Komunikasi dalam kehidupan sehari

hari merupakan sarana yang penting untuk menjalin relasi dengan orang

lain. Komunikasi juga dapat memberikan pertukaran informasi dan


dukungan emosional pada saat mengalami stress (Elliot & Wright, 1999

dalam Damaiyanti, 2010).

Dalam praktik pelayanan keperawatan perawat perlu menjaga

hubungan kerjasama yang baik dengan keluarga maupun pasien, peran

komunikasi sangat dibutuhkan untuk menciptakan hubungan yang baik

antara perawat, keluarga, dan pasien. Dalam standar asuhan keperawatan,

komunikasi yang dimaksudkan disini adalah komunikasi yang bersifat

terapi, yaitu komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik adalah

komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya

dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Purwanto, 2010).

Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang direncanakan

secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan

pasien (Indrawati, 2011). Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi

yang mempunyai efek penyembuhan. Karena komunikasi terapeutik

merupakan salah satu cara untuk memberikan informasi yang akurat dan

membina hubungan saling percaya terhadap klien, sehingga klien akan

merasa puas dengan pelayanan yang diterimanya. Apabila perawat dalam

berinteraksi dengan klien tidak memperhatikan sikap dan teknik dalam

komunikasi terapeutik dengan benar dan tidak berusaha untuk

menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi

terapeutik, maka hubungan yang baik antara perawat dengan klienpun akan

sulit terbina (Anggraini, 2009). Cara berkomunikasi pada anak berbeda

dengan komunikasi terapeutik pada orang dewasa. Komunikasi terapeutik


pada anak hendaknya selalu memperhatikan nada suara, jarak interaksi

dengan anak, sentuhan yang diberikan kepada anak harus atas persetujuan

anak (Mundakir, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hannan (2012)

tentang hubungan pelaksanaan komunikasi terapeutik perawat dengan

tingkat kecemasan pada anak prasekolah di Ruang Perawatan Anak RSUD

Ambarawa, didapatkan hasil terdapat hubungan antara pelaksanaan

komunikasi terpeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada anak

prasekolah di ruang perawatan anak RSUD Ambarawa dengan p-value

sebesar 0,003 (α = 0,05).

Berdasarkan survei awal peneliti yang dilaksanakan pada tanggal 21

Februari 2017, peneliti mendapatkan informasi bahwa sebelumnya belum

pernah dilakukan penelitian di rumah sakit ini mengenai komunikasi

terapeutik pada anak di RSUD dr. Slamet Garut. Data rekam medik yang

diperoleh tentang jumlah anak prasekolah yang dirawat di ruang anak

khususnya kelas tiga RSUD dr. Slamet Garut enam bulan terakhir yaitu

pada bulan Agustus 2016 sebanyak 30 anak, September 2017 terdapat 40

anak, Oktober 2017 terdapat 36 anak, November 2017 terdapat 39 anak,

Desember 2017 terdapat 32 anak, Januari 2017 terdapat 38 anak.

Berdasarkan data tersebut diperoleh rata-rata jumlah anak pra sekolah yang

dirawat di ruang anak RSUD dr. Slamet Garut enam bulan terakhir adalah

36 anak per bulan.


Hasil studi pendahuluan terhadap anggota keluarga dari anak yang

dirawat pada tanggal 21 Februari 2017 mengungkapkan bahwa waktu

kunjungan terbatas dan jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu juga

terbatas, kecemasan anak bertambah selama dirawat karena anak harus

berpisah dengan teman-teman dan keluarganya. Selain itu dari hasil

wawancara dengan orang tua anak yang dirawat dua hari di ruang rawat

anak kelas 3 RSUD dr. Slamet Garut mengungkapkan dari sejak pertama

kali masuk dan dirawat anak sering menangis, terlihat gelisah, juga takut

jika didekati perawat dan jika akan diberikan suatu tindakan keperawatan.

Sedangkan 3 dari 5 orang tua anak yang anaknya telah dirawat selama 5 hari

mengungkapkan awal-awal dirawat anaknya juga sering menangis jika

didekati perawat tetapi sekarang sudah tidak takut lagi kecuali jika akan

diberikan tindakan tertentu (seperti dipasang infus). Menurut lima orang tua

anak yang dirawat, komunikasi yang diterapkan perawat baik kepada anak

maupun kepada orang tua sudah cukup baik yaitu menyapa, mengucap

salam dan menjelaskan prosedur tindakan yang akan dilakukan, walaupun

ada beberapa perawat yang dirasakan kurang menerapkan cara-cara atau

komunikasi yang baik ke anak.

Hasil wawancara kepada pihak manajemen yaitu kepala ruangan

anak kelas 3 RSUD dr. Slamet Garut yang dilakukan peneliti pada tanggal

21 Februari 2017 didapatkan data dari hasil angket yang diberikan pihak

rumah sakit kepada pasien tingkat kepuasan pasien yang dirawat selama 3

bulan terakhir cukup bagus (85% pasien puas dengan pelayanan yang
rumah sakit berikan). Selain itu tenaga kesehatan RSUD dr. Slamet Garut

sudah menerapkan komunikasi terapeutik serta tenaga keperawatan

mendapatkan pelatihan tentang komunikasi terapeutik diantaranya

mendengarkan keluhan pasien, bertanya apa yang dikeluhkan pasien,

memberikan informasi terkait tindakan yang akan dilakukan sampai

memberikan humor bagi pasien. Namun masih ada keluhan dari masyarakat

yang melakukan rawat inap. Dari beberapa wawancara didapatkan keluhan

bahwa ada perawat tidak mengucapkan salam ketika masuk ruangan pasien.

Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti tertarik untuk

mengetahui, “Hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat

kecemasan anak usia prasekolah yang dirawat di ruang anak kelas 3 RSUD

dr. Slamet Garut tahun 2017”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah “apakah ada Hubungan komunikasi terapeutik

perawat dengan tingkat kecemasan anak usia prasekolah yang dirawat di

ruang anak kelas 3 RSUD dr. Slamet Garut tahun 2017”.

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini untuk mengetahui hubungan komunikasi

terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan anak usia prasekolah yang

dirawat di ruang anak kelas 3 RSUD dr. Slamet Garut tahun 2017.
1.3.2 Tujuan Khusus :

a. Mengetahui gambaran komunikasi terapeutik perawat di ruang perawatan

anak kelas 3.

b. Mengetahui gambaran tingkat kecemasan pasien anak usia prasekolah

yang dirawat di ruang perawatan anak kelas 3.

c. Mengetahui hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat

kecemasan anak usia prasekolah yang dirawat di ruang anak kelas 3 RSUD

dr. Slamet Garut.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Petugas Kesehatan

Menjadi masukan bagi petugas kesehatan yang memberikan

asuhan keperawatan terutama dalam hal komunikasi terapeutik terhadap

anak usia prasekolah dan keluarga yang menjalani perawatan.

1.4.2 Instansi Kesehatan

Hasil penilitan ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi

instansi kesehatan terutama rumah sakit yang melakukan pelayanan

asuhan keperawatan maupun bagi petugas kesehatan dalam

memberikan komunikasi terapeutik bagi pasien dan keluarga yang

menjalani rawat inap sehingga pelayanan yang diberikan dapat

meningkat kualitasnya.
1.4.3 Institusi Pendidikan

Sebagai bahan literatur untuk menabah wawasan ilmu pengetahuan

khususnya mengenai hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan

tingkat kecemasan anak usia prasekolah yang dirawat.