Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI INTERNA HEWAN KECIL DAN


ROTASI BEDAH & RADIOLOGI
yang dilaksanakan di
KLINIK HEWAN PENDIDIKAN FKH UB

LAPORAN BEDAH KELOMPOK


CYSTOTOMY PADA ANJING

Oleh:
Rizal Nur Fadli, S.KH 170130100111055
Sandra Rini Sulistyaningtyas, S.KH 170130100111034
Siti Qurnia Zakiyah, S.KH 170130100111037
Yulis Indah A., S.KH 170130100111038
Nanda Ayu Cindyasputri, S.KH 170130100111040

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Cystotomy merupakan suatu tindakan pembedahan atau operasi yang membuka
kantung kencing (vesica urinaria) dan kemudian menutupnya lagi seperti semula.
Cystotomy penting dipelajari karena merupakan terapi akhir pada penanganan
gangguan yang ada di vesica urinaria. Cystotomy dilakukan terutama untuk
mengeluarkan kalkuli yang ada pada kantung kemih dan uretra, tumor kantung
kemih, trauma akibat kecelakaan atau tertusuk oleh benda runcing, tujuan biopsi,
memperbaiki ureter ektopik atau kantung kemih pecah, dan membantu dalam
diagnosis untuk mengobati saluran kencing. Sebelum dilakukan pembedahan pada
sistem perkencingan, perlu dilakukan evaluasi status pasien seperti keadaan cairan
tubuh pasien. Evaluasi yang bisa dilakukan adalah urinalisis evaluasi fungsi ginjal
dan hemogram (gambaran darah).
Cystotomi adalah salah satu prosedur bedah yang paling umum dilakukan pada
anjing. Kadang-kadang pada anjing terbentuk kristal abnormal dalam urin yang
menyebabkan infeksi sekunder berupa penyakit sistemik, infeksi kantung kemih,
atau ketidakseimbangan gizi. Kristal-kristal dapat tumbuh menjadi batu padat yang
dapat menyebabkan iritasi kantung kemih atau infeksi. Selain itu, batu bisa masuk
dalam uretra dan mengganggu proses perkencingan pada hewan. Keberadaan batu
dapat menyebabkan hewan melakukan buang air kecil dalam volume kecil namun
sering menyebabkan kencing berdarah, atau tidak mampu buang air kecil, ureter
ektopik juga diobati melalui suatu cystotomy.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana teknik operasi cystotomy pada anjing ?
2. Bagaimana manajemen pre-operasi dan post-operasi cystotomy pada
anjing ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui teknik operasi cystotomy pada anjing.
2. Untuk mengetahui manajemen pre-operasi dan post-operasi cystotomy
pada anjing.

1.4 Manfaat
Manfaat dari pelaksanaan kegiatan Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH)
bedah Cystotomy pada najing adalah mahasiswa memiliki kemampuan melakukan
prosedur bedah cystotomy dengan baik dan benar pada anjing beserta penanganan
pre-operasi dan post-operasinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cystotomi
Cystotomi adalah tindakan bedah membuka kantong kencing (vesika
urinaria). Cystotomi dilakukan jika hewan terindikasi mengalami sistik kalkuli,
tumor kandung kemih, trauma akibat kecelakaan atau tertusuk oleh benda runcing,
dan untuk mengeksplorasi ruptur vesika urinaria yang merupakan abnormalitas
yang paling sering terjadi pada hewan kecil. Hasil akhir dari ruptur vesika urinaria
juga mengakibatkan terjadinya kebocoran urin ke dalam rongga abdomen (Fossum,
2002). Operasi cystotomi dilakukan dengan membuka abdomen di bagian ventral
kemudian membuka vesika urinaria, setelah itu vesika urinaria ditutup kembali
seperti semula. Operasi cystotomi juga bertujuan untuk biopsi, memperbaiki ureter
ektopik atau kandung kemih pecah, dan membantu dalam diagnosis untuk
mengobati infeksi saluran kencing (Sardjana, 2013).

2.2 Indikasi Dilakukan Cystotomi


Indikasi cystotomi adalah sebagai tindakan pengobatan saluran urinari
seperti tumor, batu kencing, dan gumpalan darah di vesika urinaria. Cystotomi
dilakukan untuk memperbaiki kerusakan pada saluran urin. Sebelum dilalukan
cystotomi terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan ultrasonografi dan radiografi
untuk meneguhkan diagnosa penyakit. Resiko dari cystotomi antara lain adanya
bleeding (perdarahan) dan infeksi post operasi. Gangguan terhadap vesika urinaria
dapat terjadi karena adanya endapan garam-garam fosfat, oksalat, cystin, dan urat
pada vesika urinaria. Pertumbuhan jaringan yang abnormal pada dinding vesika
urinaria juga akan merangsang terbentuknya tumor atau neoplasma yang akan
mengganggu fungsi vesika urinaria sebagai penampung urin (Fossum, 2002).
Komplikasi yang umum terjadi pada cystotomi biasanya berupa
pendarahan, infeksi post-operasi, keluarnya urin yang tidak dapat terkontrol, dan
dehisensi (terbukanya luka kembali). Secara keseluruhan komplikasi jarang terjadi,
akan tetapi komplikasi yang serius dapat menyebabkan kematian sehingga
diperlukan tindakan lebih lanjut. Dalam kasus yang jarang terjadi, vesika urinaria
mungkin tidak sembuh dengan baik setelah cystotomi dan urin mungkin mulai
bocor ke perut. Jika hal ini terjadi hewan peliharaan mungkin mulai merasa kurang
nyaman dan menunjukan tanda-tanda berupa perut yang buncit. Jika hewan tidak
membaik setelah operasi atau mulai merasa buruk (nafsu makan berkurang, lesu)
segera lakukan pemeriksaan untuk menguatkan diagnosa penyebab infeksi atau
gangguan. Jika sudah bisa dipastikan bahwa kandung kemih bocor, maka bisa
segera dilakukan operasi ulang untuk perbaikan (Fossum, 2002).

2.2 Anatomi Vesika Urinaria


Vesika urinaria merupakan salah satu organ dalam sistem eksresi (urin)
yang berfungsi untuk menampung urin sementara sebelum dibuang melalui proses
urinasi. Vesika urinaria merupakan organ berbentuk seperti kantong tersusun oleh
otot polos. Organ ini terletak pada daerah rongga pelvis, di belakang pubis. Secara
normal, vesika urinaria dapat menyimpan sekitar 500 ml urin. Vesika urinaria
merupakan organ muskuler berongga yang ukuran dan posisinya tergantung pada
jumlah urin di dalamnya. Pada keadaan kosong vesika urinaria mempunyai struktur
berdinding tebal, berbentuk seperti buah pir yang terletak di atas pelvis. Peritonium
menutupi bagian cranial dari vesika urinaria dan bagian caudal ditutupi oleh fascia
pelvis. Vesika urinaria disuplai oleh arteri-arteri yang berasal dari arteri pudenda,
cabang dari arteri obturatoria dan arteri umbilikalis (Tobias, 2012).

Gambar 2.1. Vaskularisasi vesika urinaria jantan (Tobias, 2012).


Gambar 2.2. Vaskularisasi vesika urinaria betina (Tobias, 2012).

Vesika urinaria dibagi menjadi bagian leher atau cervic vesikae yang
dihubungkan dengan uretra, bagian cranial yang tumpul atau fundus vesikae dan
badan vesika urinaria atau corpus vesikae. Urin pada vesika urinaria diperoleh dari
ginjal melewati ureter yang kemudian disimpan, setelah disimpan urin dikeluarkan
melewati uretra. Pengeluaran urin dari vesika urinaria disebut miksturisi. Miksturisi
merupakan aktivitas yang dirangsang oleh terjadinya distensi vesika urinaria karena
masuknya urin melalui ureter. Vesika urinaria akan beraksi terhadap masuknya urin
secara bertahap sampai tekanannya cukup tinggi untuk merangsang pusat reflek
yang terdapat di dalam corda spinalis. Hal ini akan menyebabkan timbulnya
kontraksi dinding vesika urinaria melalui saraf-saraf parasimpatik sakral. Reflek
mengosongkan vesika urinaria dicegah oleh kontrol volunter dari spincter eksternal
yang mengelilingi leher vesika urinaria tersebut (Tobias, 2012).

Gambar 2.3. Anatomi vesika urinaria (Tobias, 2012).


BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Kegiatan cystotomi pada anjing dilakukan pada tanggal 12 Juni 2018 di
Klinik Hewan Pendidikan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya.

3.2 Persiapan Operasi


3.2.1 Persiapan Hewan
Persiapan yang dilakukan meliputi anjing dilakukan pemeriksaan fisik untuk
mengetahui status kesehatan hewan. Anjing dibersihan tubuhnya untuk
meminimalisir risiko kontaminasi saat operasi. Kemudian anjing dipuasakan makan
selama 8-12 jam dan minum 2 jam sebelum operasi operasi untuk menghindari
refleks muntah dan regurgitasi yang merupakan efek samping dari pemberian
anasthesi. Dilakukan pemeriksaan fisik pada anjing, meliputi suhu, respiration rate,
heart rate, turgor, CRT, dan mukosa. Hasil pemeriksaan klinis hewan sebagai
berikut:

Gambar 3.1. Anjing Katty (Dokumentasi Pribadi)

Sinyalemen
Nama : Katty
Jenis Hewan : Anjing
Ras : Mix
Jenis Kelamin : Betina
Umur : ± 6 bulan
Berat Badan : 3 kg
Warna : Coklat dan Hitam

Temuan Klinis
1. Keadaan Umum
Perawatan : Baik
Habitus/Tingkah laku : Manja
Gizi : Baik
Pertumbuhan Badan : Baik
Sikap berdiri : Berdiri pada empat kaki
Suhu tubuh : 38,0 0C
Frekuensi nadi : 120 x/menit
Frekuensi napas : 40 x/menit
Capillary Refill Time CRT) : <2 detik
2. Sistem Integumen dan Panca Indra
Kulit dan Rambut
Aspek rambut : Tidak mengkilap
Kerontokan : Tidak terdapat kerontokan
Kebotakan : Tidak terdapat kebotakan
Turgor kulit : <2 detik
Permukaan kulit : Pigmentasi normal
Bau Kulit : Bau khas kulit
Kepala dan Leher
Inspeksi
Ekspresi wajah : Bereaksi
Pertulangan wajah : Kompak
Posisi tegak telinga : Telinga tidak tegak
Posisi kepala : Simetris
Mata dan Orbita Kiri
Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna
Cilia : Melengkung keluar
Konjungtiva : Rose, basah tidak ada kelainan
Mata dan Orbita Kanan
Palpebrae : Membuka dan menutup sempurna
Cilia : Melengkung keluar
Konjungtiva : Rose, basah tidak ada kelainan
Bola Mata Kiri
Sklera : Putih
Kornea : Jernih
Iris : Hitam
Pupil : Baik
Limbus : Rata
Refleks pupil : Baik (miosis dan midriasis)
Vasa Injectio : Baik
Bola Mata Kanan
Sklera : Putih
Kornea : Jernih
Iris : Hitam
Pupil : Baik
Limbus : Rata
Refleks pupil : Baik (miosis dan midriasis)
Vasa Injectio : Baik
Hidung dan Sinus
Bentuk pertulangan : Simetris
Aliran udara : Aliran udara bebas di kedua cavum
nasal
Cermin hidung : Basah
Mulut dan Rongga Mulut
Defek bibir : Tidak ada
Mukosa : Rose, basah, tidak ada kerusakan
Lidah : Rose, basah, kasar, tidak ada
kerusakan
Telinga
Posisi : Keduanya turun sempurna
Bau : Khas serumen, telinga basah
Permukaan daun telinga : Bersih, tidak ada luka
Krepitasi : Tidak ada
Reflek panggilan : Ada reflek
Leher
Perototan : Simetris
Trakea : Teraba, tidak ada refleks batuk saat
dipalpasi
Esofagus : Tidak teraba
Kelenjar Pertahanan
Ln.Mandibularis : Teraba, tidak ada pembengkakan
Ln. Retropharingeal : Tidak teraba
Ln.Axilaris : Tidak teraba
Ln.Prefemoralis : Tidak teraba
Ln.Popliteus : Teraba, tidak ada pembengkakan

Sistem Pernafasan
Inspeksi
Bentuk rongga thoraks : Simetris
Tipe pernapasan : Costalis
Ritme pernapasan : Ritmis
Intensitas : Dangkal, cepat
Frekuensi : 40 x /menit
Trakea : Teraba
Refleks batuk : Tidak ada
Auskultasi
Suara pernapasan : Lama inspirasi = lama ekspirasi
Suara ikutan : Tidak terdapat suara ikutan
Sistem Peredaran Darah
Inspeksi
Ictus cordis : Tidak terlihat
Auskultasi
Frekuensi : 120 x /menit
Intensitas : Sedang
Ritme : Ritmik
Sinkron pulsus dengan jantung : Sinkron

Sistem Gastrointestinal
Inspeksi
Ukuran rongga abdomen : Tidak terdapat pembesaran
Bentuk rongga abdomen : Simetris
Palpasi
Epigastrikus : Tidak ada reaksi kesakitan
Mesogastrikus : Tidak ada reaksi kesakitan
Hipogastrikus : Tidak ada reaksi kesakitan
Auskultasi
Suara peristaltik usus : Tidak terdengar
Anus
Daerah sekitar anus : Bersih
Refleks sphincter ani : Ada reaksi mengkerut dan menghisap
Kebersihan perianal : Bersih

Sistem Urogenital
Ginjal : Terasa, ukuran simetris
Vesica Urinaria : Terasa dan tidak tension
Alat Kelamin Betina
Vulva : Tidak ada perubahan bentuk
Mukosa vagina : Merah cerah ,tidak ada lender
Kelenjar mammae : Terletak simetris
Alat Gerak
Inspeksi
Perototan kaki depan : Kompak
Perototan kaki belakang : Kompak
Spasmus otot : Tidak ada
Tremor : Tidak ada
Cara berjalan : Koordinatif
Kesimetrisan : Simetris
Palpasi Struktur Pertulangan
Kaki kanan depan : Tegas
Kaki kanan belakang : Tegas
Kaki kiri depan : Tegas
Kaki kiri belakang : Tegas
Konsistensi pertulangan : Keras
Reaksi saat palpasi : Tidak ada reaksi kesakitan
Panjang kaki depan ka/ki : Sama
Panjang kaki belakang ka/ki : Sama
Reaksi saat palpasi otot : Tidak ada reaksi kesakitan

Diagnosa
Hewan sehat dan dapat dilakukan cystotomi.

3.2.2 Persiapan Ruang dan Sterilisasi Alat


Persiapan ruang operasi dilakukan dengan cara membersihkan kotoran dan
debu dalam ruangan. Tindakan sterilisasi ruangan menggunakan desinfektan
alkohol 70%. Perlakuan sterilisasi alat operasi seperti baju operasi, masker, penutup
kepala, sarung tangan, dan handuk dimasukkan ke dalam sterilisator untuk
disterilisasi dengan suhu 60oC selama 15-30 menit.
Perlakuan sterilisasi pada alat bedah minor dengan dicuci bersih dan
dikeringkan, kemudian peralatan ini dimasukkan ke dalam kotak sesuai yang
selanjutnya peralatan tersebut dibungkus koran lalu disterilisasi menggunakan
sterilisator dengan suhu 121oC selama 15 menit. Alat dan bahan yang digunakan
pada cystotomi ini dapat terlihat pada Tabel 3.1 dan Tabel 3.2.
Tabel 3.1 Daftar alat dan bahan yang digunakan pada cystotomi
Nama Alat Jumlah Nama Bahan Jumlah
Towel Clamp 4 buah Cutgut Chromic 2.0 1 buah
Alice Tissue Forceps 2 buah Cutgut Plain 3.0 2 buah
Scalpel Handle 1 buah Tampon steril Secukupnya
Blade 1 buah Kasa Steril Secukupnya
Pinset Anatomis 1 buah Kapas Secukupnya
Pinset Cirurgis 1 buah Masker 3 buah
Artery Clamps (Rochester pean) 2 buah Gloves 3 pasang
Artery Clamps (Mosquito) 6 buah Spuit 1 cc 6 buah
Gunting metzembaum 1 buah Spuit 3 cc 1 buah
Needle Holder 2 buah Underpad 1 buah
Gunting Tajam Tumpul 1 buah IV Cateter 24 G 1 buah
Infus set 1 buah Tampon steril Secukupnya
Gunting Tajam Tajam 1 buah Alkohol Secukupnya
Needle taper 2 buah Iodine 10% Secukupnya
Needle round 2 buah Infus NS (500ml) 1 buah
Nierbeken 1 buah Hipafix Secukupnya

Termometer digital 1 buah Atropin Sulfat 0,48 ml


Stetoskop 1 buah Ketamin 0,3 ml
Drape 1 buah Xylazin 0,3 ml
Amoxicilin 0,3 ml
Amoxicilin oral 30 mg
Ketoprofen 0,15 ml
NS flushing 10 ml
Gentamycin 1 buah
Tabel 3.2 Fungsi alat dan bahan yang digunakan pada cystotomi
No. Nama Alat Fungsi
Menjepit duk atau drapes agar tidak
1. Towel Clamp bergeser
Menjepit jaringan atau organ tidak
2. Alice Tissue Forceps berlumen
Pengangan pisau untuk mengiris
3. Scalpel Handle jaringan
4. Blade Mata pisau untuk mengiris jaringan
Memegang jaringan dan organ
5. Pinset Anatomis (tidak bergigi) dalam/berlumen
6. Pinset Cirurgis (ujung bergigi) Memegang kulit dan jaringan
Menjepit pembuluh darah besar dan
7. Artery Clamps (Rochester pean) jaringan
8. Artery Clamps (Mosquito) Menjepit pembuluh darah kecil
9. Gunting metzembaum Menguak jaringan
10. Needle Holder Memegang jarum
11. Gunting Tajam Tumpul Memotong jaringan luar
12. Gunting Tajam Tumpul Memotong jaringan luar
13. Needle taper Menjahit intradermal dan kulit
14. Needle round Menjahit muskulus dan subkutan
15. Nierbeken Meletakkan alat bedah
Menutupi area sekitar, selain area yang
16. Drape dioperasi
Pemberian terapi cairan melalui
17. IV Cateter 24 G dan infus set pembuluh darah
Benang absorbable untuk menjahit
18. Cutgut Chromic 2.0 bagian dalam dan subkutan
Benang absorbable untuk menjahit
19. Cutgut Plain 3.0 bagian subkutan

3.2.3 Perhitungan Dosis


Berdasarkan hasil penimbangan berat badan diketahui berat badan anjing
sebesar 3 kg sehingga dosis obat yang diperlukan sebagai berikut:
Jumlah yang diberikan = Berat badan x dosis
Sediaan

Atropin Sulfat
Dosis = 0,04 mg/kg BB
𝑚𝑔
Berat badan (Kg) x Dosis ( )
𝑘𝑔
Atropin sulfat = 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑔/𝑚𝑙

3 kg x 0,04 mg/kgBB = 0,48 ml


0,25 mg/mL
Xylazine
Dosis = 2 mg/kgBB
𝑚𝑔
Berat badan (Kg) x Dosis ( )
𝑘𝑔
Xylazine 2% = 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑔/𝑚𝑙

3 kg x 2 mg/kgBB = 0,3 ml
20 mg/ml
Ketamin
Dosis = 10 mg/kgBB
𝑚𝑔
Berat badan (Kg) x Dosis ( )
𝑘𝑔
Ketamin 10% = 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑔/𝑚𝑙

3 kg x 10 mg/kgBB = 0,3 ml
100 mg/ml

Antibiotik Intramox® (Amoxicilin)


Dosis = 15 mg/kgBB
𝑚𝑔
Berat badan (Kg) x Dosis ( )
𝑘𝑔
Amoxicillin = 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑎𝑎𝑛 𝑚𝑔/𝑚𝑙

3 kg x 15 mg/kgBB = 0,3 ml
150 mg/ml
Amoxicillin (oral) = Berat badan x dosis
3 kg x 10 mg/kgBB = 30mg

Analgesik Ketoprofen
Dosis = 1 mg/kgBB
Ketoprofen = Berat badan x dosis = mg
= 3 kg x 5 mg/kg = 15 mg

3.2.4 Persiapan Operator dan Asisten


Operator dan asisten steril sebelum melakukan operasi harus mencuci tangan
menggunakan sabun chlorhexidine selama 5 menit dengan cara menyikat kedua
tangan dengan sabun, lalu dibilas dengan air mengalir sebanyak 10-15 kali.
Penyikatan tangan dimulai dari ujung jari kemudian terus berlanjut ke arah lengan.
Setelah cuci tangan selesai, kran ditutup menggunakan siku untuk mencegah
kontaminasi, kemudian tangan disemprot dengan alkohol 70 % oleh asisten non
steril. Setelah itu operator dan asisten steril menggunakan tutup kepala, masker,
baju operasi, dan sarung tangan kemudian siap melakukan operasi.
BAB IV
PROSEDUR OPERASI

4.1 Teknik Operasi


Sebelum dilakukan operasi, hewan dilakukan pembiusan dengan prosedur
seperti berikut:
1. Disuntikkan :
- Amoxylin secara IM dosis 15 mg/kgBB
- Atropin (15 menit setelah penyuntikan Amoxylin) secara SC dosis 0,04
mg/kgBB
- Ketamin secara IM (15 menit setelah penyuntikan atropin) dosis 10
mg/kgBB
- Xylazin secara IM (15 menit setelah penyuntikan atropin) dosis 2 mg/kgBB
2. Dilakukan pemasangan infus NaCl 0,09% iv.
3. Memastikan pasien benar-benar teranastesi dengan melihat respon palpebrae dan
pupil mata.
4. Pemberian salep antibiotik pada mata agar mata tidak kering.
5. Anjing direbahkan dorsal recumbency.
6. Diberikan fiksasi menggunakantali pada keempat ekstremitas.

17
7. Daerah yang akan diinsisi dilakukan pencukuran rambut.

8. Daerah yang akan diinsisi dibersihkan dengan sabun clorhexidine 4% lalu dibilas
dengan NaCl
9. Daerah yang akan diinsisi dilakukan pemberian povidon iodine sebagai
antiseptik.

10. Daerah yang akan diinsisi dan bagian di sekitarnya dilakukan penyemprotan
alkohol 70% untuk mencegah rambut anjing yang berterbangan saat operasi.
11. Dilakukan pemasangan duk dengan lubang pada bagian yang akan diinsisi.

18
Teknik operasi yang digunakan yaitu teknik cystotomy, berikut langkah-
langkah yang dilakukan :
a. Dimulai dengan melakukan laparotomi, yaitu dengan menginsis bagian bawah
umbilicus sampai sepertiga di atas pubis. Insisi dilakukan pasa linie alba karena
pada daerah tersebut tidak terdapat vaskularisasi maupun syaraf sehingga
meminimalisir perdarahan.

Letak Insisi

b. Dilakukan eksplorasi di bagian 1/3 di bawah umbilikus. Setelah vesica urinaria


ditemukan lalu vesica urinaria dikeluarkan dan ditarik ke arah belakang. Lalu
meletakkan tampon disekitar vesica urinaria kemudian menyiramnya dengan
NaCl fisiologis.

c. Kemudian membuat stay suture di bagian lateral vesica urinaria menggunakan


benang cut gut chromic 2.0.

19
d. Insisi vesica urinaria pada bagian medial (antara apex dan trigon).

e. Jahit vesicaa urinaria tanpa menembus mukosa dengan tipe jahitan simple
continous menggunakan benang cat gut chromic 2.0 dengan jarak antar jahitan
2 mm.

f. Uji kebocoran dengan menyuntikkan NaCl fisiologis ke dalam vesica urinaria.


Reposisi vesica urinaria yang telah dilapisi omentum.

20
g. Dilakukan penjahitan lapisan abdomen :
1. Sebelum dilakukan penjahitan, rongga abdominal dibersihkan dengan
diberikan normal saline (NS).

2. Jahitan pada lapisan musculus dilakukan dengan tipe jahitan terputus


sederhana dengan menggunakan jarum round dan benang cat gut chromic 2.0.

21
3. Jahitan pada lapisan subkutan dilakukan dengan tipe jahitan horizontal
mattress continous lalu langsung dilanjutkan dengan tipe jahitan continuous
cushing menggunakan jarum taper dan benang cat gut plain 3.0.

4. Luka insisi diberikan antibiotik gentamycin salep dan ditutup menggunakan


hypafix.

4.2 Perawatan dan Pengobatan Post Operasi


4.2.1 Perawatan Post Operasi
1. Pemeriksaan suhu tubuh anjing secara berkala untuk mencegah hipotermia.
2. Pemeriksaan status kesehatan anjing untuk mengetahui tingkat dehidrasi,
urin, dan feses setelah dioperasi.
3. Penyinaran menggunakan infrared dan pemberian lampu di kandang untuk
menciptakan kondisi hangat pada anjing.
4. Luka jahitan dicek setiap 2 hari sekali dan dibersihkan menggunakan povidon
iodine dan diberi salep gentamycin

22
4.2.2 Pengobatan Post Operasi
1. Pemberian Ketoprofen sebagai antiinflamasi secara per oral 1 kali sehari.
2. Pemberian Amoxylin sebagai antibiotik secara per oral 2 kali sehari.
3. Pemberian makanan basah dan minum diberikan satu jam setelah anjing
kembali sadar.

23
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Hasil Observasi

Tanggal Pemeriksaan Terapi


13/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink T/ Ketoprofen PO
s.1.d.d
Suhu : 38,1oC Appetice :++
Pakan + minum
Pulsus :132 kali/ menit Defekasi :-

Nafas : 56 kali/ menit Urinasi :++

CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

14/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink T/ Amoxicillin PO


s.2.d.d
Suhu : 39,4 oC Appetice : +++
Ketoprofen PO
Pulsus : 128 kali/ menit Defekasi :- s.1.d.d
Nafas : 44 kali/ menit Urinasi : ++ Pakan + minum
CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

15/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink T/ Amoxicillin PO


s.2.d.d
Suhu : 38,6 oC Appetice : +++
Ketoprofen PO
Pulsus : 100 kali/ menit Defekasi :- s.1.d.d
Nafas : 44 kali/menit Urinasi : +++ Pakan + minum
CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : 2 detik

16/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink T/ Amoxicillin PO


s.2.d.d
Suhu : 39 oC Appetice : +++
Ketoprofen PO
Pulsus : 128 kali/menit Defekasi :- s.1.d.d
Nafas : 44 kali/menit Urinasi : +++ Pakan + minum

24
CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

17/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink T/ Amoxicillin PO


s.2.d.d
Suhu : 38 oC Appetice : +++
Ketoprofen PO
Pulsus : 128 kali/menit Defekasi : ++ s.1.d.d
Nafas : 44 kali/menit Urinasi : +++ Pakan + minum
CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

18/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink T/ Amoxicillin PO


s.2.d.d
Suhu : 39,1 oC Appetice : +++
Pakan + minum
Pulsus : 140 kali Defekasi :+

Nafas : 36 kali/menit Urinasi : +++

CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

19/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink Pakan + minum

Suhu : 37,8 oC Appetice : +++

Pulsus : 128 kali/menit Defekasi : ++

Nafas : 40 kali/menit Urinasi : +++

CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

20/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink Pakan + minum

Suhu : 37,5 oC Appetice : +++

Pulsus : 128 kali/menit Defekasi :-

Nafas : 40 kali/menit Urinasi : +++

CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

21/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink Pakan + minum

25
Suhu : 37,8 oC Appetice : +++

Pulsus : 128 kali/menit Defekasi :-

Nafas : 40 kali/menit Urinasi : +++

CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

22/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink Pakan + minum

Suhu : 37,4 oC Appetice : +++ T/ Glukortin IM


s.i.d
Pulsus : 128 kali/menit Defekasi :-

Nafas : 36 kali/menit Urinasi : +++

CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

23/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink Pakan + minum

Suhu : 37,4 oC Appetice : +++ T/ Glukortin IM


s.i.d
Pulsus : 124 kali/menit Defekasi : ++

Nafas : 40 kali/menit Urinasi : +++

CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

24/06/2018 BB : 2,94 kg Mukosa : Pink Pakan + minum

Suhu : 37,8 oC Appetice : +++ T/ Glukortin IM


s.i.d
Pulsus : 120 kali/menit Defekasi : ++

Nafas : 40 kali/menit Urinasi : +++

CRT : < 2 detik Vomit :-

Turgor : < 2 detik

4.4 Pembahasan
Cystotomi merupakan tindakan operasi untuk membuka dinding vesica
urinaria. Cystotomi pada hewan diindikasikan untuk penanganan kalkuli
vesicae, neoplasma atau akibat traumatik pada vesica urinaria. Insisi dilakukan

26
pada bagian bawah umbilicus sampai sepertiga di atas pubis. Cystotomi berarti
penyayatan pada dinding vesica urinaria yang berfungsi untuk mengetahui
bagian dalam vesica urinaria (Brunt et al., 2008). Insisi dilakukan pasa linie
alba karena pada daerah tersebut tidak terdapat vaskularisasi maupun syaraf
sehingga meminimalisir perdarahan. Insisi dilakukan melalui kulit dan
subkutan untuk mengekspose linea alba (Omeran et al., 2014).
Sebelum dilakukan proses pembedahan, dilakukan pemeriksaan fisik
pada hewan terlebih dahulu untuk mengetahui status present dan kesehatannya.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi; umur hewan, suhu, mukosa membran,
frekuensi nafas, frekuensi jantung, dan berat badan untuk menentukan dosis
obat anastesi. Selain itu, hewan dipuasakan makan 8-12 jam dan puasa minum
2 jam sebelum operasi agar lambung kosong sehingga diafragma tidak tertekan
dan pernafasan tidak terganggu. Selain itu dapat mencegah terjadinya refleks
muntah yang dapat masuk ke saluran pernafasan.
Persiapan operasi meliputi :
1. Persiapan alat dan bahan
Alat bedah yang digunakan untuk operasi harus disterilisasi terlebih
dahulu. Menurut Adji dkk, (2007) beberapa hal yang perlu diperhatikan
selama penggunaan alat-alat operasi adalah jenis, jumlah, kebersihan atau
sterilisasinya sampai pelaksanaan operasi selesai dan segera diberssihkan
setelah selesai digunakan. Sterilisasi merupakan proses yang
menghancurkan semua bentuk kehidupan. Suatu benda yang steril
dipandang dari sudut mikrobiologi, artinya bebas dari mikroorganisme
hidup. Alat bedah yang dibutuhkan yaitu gunting tajam tumpul, gunting
tajam-tajam, pinset anatomis, pinset chirugis, needle holder, jarum round
& tapped, blade, scalpel, arteri clamp, infra red, tali, silet, infus set, i.v.
catheter ukuran 24, drape dan meja operasi. Sedangkan bahan yang
dibutuhkan yaitu benang cat gut chromic ukuran 2.0 & cut gut plain
ukuran 3.0, tampon steril, gloves, masker, syringe, underpad, Alkohol
70% & Povidon Iodine (antiseptik dan desinfektan), NaCl (cairan infus),
Ketamin & Xylazine (anasthesi), Atropin Sulfat (premedikasi),

27
Intramox®, Ketoprofen (NSAID), gentamycin salep, teramycin salep,
phytomenadion, dan hypafix®.
2. Persiapan ruang operasi
Ruang operasi yang digunakan dipastikan harus bersih kemudian
didesinfeksi menggunakan desinfektan untuk meminimalisir kontaminasi
ketaki operasi berlangsung.
3. Persiapan pasien
Pasien dipuasakan makan 8-12 jam dan minum 2 jam terlebih dahulu
sebelum dilakukan operasi. Setelah itu dilakukan injeksi atropine dengan
dosis 0,04 mg/kg berat badan melalui subkutan. Atropin adalah
premedikasi intramuskular. Obat ini kurang sedatif dan kurang menekan
pernapasan dibandingkan dengan papaveterum dan skopolamin (Boulton
dan Blogg, 1994). Atropin adalah alkaloid belladonna yang mempunyai
afinitas kuat terhadap reseptor muskarinik. Obat ini bekerja kompetitif
antagonis dengan Ach untuk menempati kolinoseptor. Umumnya masa
kerja obat ini sekitar 4 jam. Terkecuali, pada pemberian sebagai tetes mata,
masa kerjanya menjadi lama bahkan sampai beberapa hari. Atropin mudah
diabsorbsi, sebagai dimetabolisme dalam hepar dan diekskresikan ke
dalam urine. Waktu paruhnya sekitar 4 jam. Efek antikolinergik dapat
menstrimulus ataupun mendepresi bergantung pada organ target. Di dalam
otak, dosis rendah merangsang dan dosis tinggi mendepresi. Atropin
myebabkan midriasis pada mata, antispasmik, menurunkan hipermotilitas
kandung kemih, pada dosis kecil menyebabkan bradikardi, pada dosis
tinggi terjadi penyekatan reseptor kolinergik di SA nodus dan denyut
jantung sedikit bertambah (takikardi), menghambat sekresi kelenjar saliva
sehingga mukosa mulut menjadi kering (serostomia) dan atropin
menghambat sekresi kelenjar keringat sehingga menyebabkan suhu tubuh
naik. Efek samping dari atropin yaitu menyebabkan mulut kering,
penglihatan kabur, mata terasa berpasir, takikardi, konstipasi, halusinasi,
dilirium yang berlanjut menjadi depresi, kolaps sirkulasi, depresi napas
dan kematian (Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya, 2009). 15 menit kemudian dilakukan

28
injeksi anastesi ketamin dengan dosis 10 mg/kg berat badan dan xylazine
dengan dosis 2 mg/kg berat badan melalui intramuskuler. Pemakaian
ketamin HCL untuk anastesi umum pada bedah vetteriner sering
digunakan pada hampir semua jenis hewan. Pertimbangan pemakaian
ketamin HCL anatar lain tingkat keamanan yang relatif tinggi, interval
dosis efektif yang luas dan teknik pemberian yang mudah. Salah satu efek
negatif yang ditimbulkan oleh ketamin adalah meningkatkkan tekanan
arterial yang akan menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler (TIO).
Selain itu juga sering menyebabkan tachycardia. Xylazin menimbulkan
efek relaksasi muskulus sentralis, selain itu juga mempunyai efek analgesi.
Kondisi tidur yang ringan sampai kondisi narkosis yang dalam dapat
tercapai, tergantung pada dosis untuk masing-masing spesies hewan.
Xylazin umumnya dikombinasikan dengan ketamin untuk beberapa
spesies hewan, terutama kuda, anjing, anjing, primata dan kelinci. Xylazin
mampu menimbulkan depresi susunan syaraf pusat yang dimulai dengan
sedasi kemudian hipnotis dan hilangnya kesadaran, selanjutnya terjadi
anastesi (Yudaniayanti, dkk., 2012). Xylazin digunakan sebagai campuran
ketamin dengan tujuan ssebagai penyeimbang kerja ketamin,
menyebabkan relaksasi muskulus. Selain itu campuran ketamin-xylazin
menghasillkan stadium anastesi yang lebih dalam, dan alasan
kesejahteraan hewan. Penggunaan campuran ketamin-xyllazin
menyebabkan hipotermia dan waktu pemulihan yang lebih lama, sehingga
diperlukan persiapan prosedur penanganan perawatan pascaanastesi yang
lebih optimal (Satria, dkk., 2016).
Kemudian dilakukan pemasangan infus NS (normal saline). NS
merupakan cairan yang bersifat isotonis dimana osmolalitas cairan
mendekati serum dalam pembuluh darah. Secara umum cairan isotonik
digunakan untuk penggantian volume ekstraseluler (misalnya : kelebihan
volume cairan setelah muntah yang berlangsung lama) (Ningsih, 2015).
Pasien dipastikan teranastesi dengan melihat respon palpebrae dan
pupil mata, jika palpebrae dan mata tidak memberikan respon serta terjadi
relaksasi otot maka pasien telah teranestesi. Lalu mata pasien diberi salep

29
antibiotik erlamycetin agar mata tidak kering karena selama teranastesi
mata anjing akan selalu terbuka, jika mata dibiarkan mengering telalu lama
maka akan terjadi kerusakan. Kemudian pasien direbahkan posisi dorsal
recumbency, setelah itu rambut bagian ventral abdomen dicukur. Pada
bagian yang telah dicukur tersebut dibersihkan dengan sabun clorhexidin
4% dan dibilas dengan NaCl filisologis. Untuk sterilisasi daerah tersebut
digunakan iodin yang disemprotkan secara langsung. Kemudian drape
dipasang dengan lubang diletakkan pada bagian yang akan diinsisi.
4. Persiapan operator
Operator yang akan melakukan operasi harus melepaskan semua
asesoris yang digunakan ditangan terlebih dahulu. Kemudian operator
harus mencuci tangan dengan sabun chlorhexidin 4% selama 3 menit dan
disikat lalu dibilas dengan air mengalir. Pencucian tangan dilakukan mulai
ujung kuku sampai siku. Setelah itu menggunakan masker serta
menggunakan sarung tangan steril.
5. Teknik Operasi
Teknik operasi yang digunakan yaitu teknik cystotomy, berikut
langkah-langkah yang dilakukan :
a. Dimulai dengan melakukan laparotomi, yaitu dengan menginsis bagian
bawah umbilicus sampai sepertiga di atas pubis. Insisi dilakukan pasa
linie alba karena pada daerah tersebut tidak terdapat vaskularisasi
maupun syaraf sehingga meminimalisir perdarahan.

Letak Insisi

b. Dilakukan eksplorasi di bagian 1/3 di bawah umbilikus. Setelah vesica


urinaria ditemukan lalu vesica urinaria dikeluarkan dan ditarik ke arah

30
belakang. Lalu meletakkan tampon disekitar vesica urinaria kemudian
menyiramnya dengan NaCl fisiologis. Pemberian tampon basah
bertujuan untuk membuat kondisi lingkungan di sekitar VU tetap basah
seperti keadaan di dalam ruang abdomen, jika VU dibiarkan kering
akan menyebabkan kerusakan pada VU. NaCl fisiologis digunakan
karena memiliki sifat isotonis yang sama denngan cairan tubuh.
c. Kemudian membuat stay suture di bagian lateral vesica urinaria
menggunakan benang cat gut chromic 2.0. Stay suture berfungsi
sebagai pegangan ketika dilakukan insisi maupun penjahitan sehingga
meminimalisir tangan menyentuh VU, jika VU terlalu sering disentuh
tangan akan membuat VU bengkak.
d. Insisi vesica urinaria pada bagian medial (antara apex dan trigon)
karena pada bagian ini minim pembuluh darah dan syaraf.
e. Jahit vesica urinaria tanpa menembus mukosa dengan tipe jahitan
simple continuous tanpa menembus mukosa menggunakan benang cat
gut chromic 2.0 dengan jarak antar jahitan 2 mm. Penjahitan VU tidak
boleh menembus mukosa karena jika jahitan menembus mukosa maka
dapat menyebabkan kristas urin menempel dan lama kelamaan dapat
menyebabkan pertumbuhan tumor.
f. Uji kebocoran dengan menyuntikkan NaCl fisiologis ke dalam vesica
urinaria. Patikan VU tidak mengalami kebocoran, karena jika masih
bocor akan menyebabkan urin masuk ke ruang abdomen dan
menyebabkan infeksi dan iritasi. Reposisi vesica urinaria yang telah
dilapisi omentum.
g. Dilakuakan penjahitan lapisan abdomen :
1. Sebelum dilakukan penjahitan, rongga abdominal dibersihkan
dengan diberikan normal saline (NS).
2. Jahitan pada lapisan musculus dilakukan dengan tipe jahitan
terputus sederhana dengan menggunakan jarum round dan benang
cat gut chromic 2.0.

31
3. Jahitan pada lapisan subkutan dilakukan dengan tipe jahitan
horizontal mattress continous menggunakan jarum round dan
benang cat gut plain 3.0.
4. Luka insisi diberikan antibiotik gentamycin salep dan ditutup
menggunakan hypafix.

KONTROL ANASTESI KATTY


1. Atropin : 16.16
2. Ketamin : 16.21
3. Xylazine : 16.21
4. Amoxicillin : 16.05
5. Ketoprofen : 19.05
Mulai Operasi : 16.30 / 12-6-2018
Selesai Operasi : 18.35 / 12-6-2018

KONTROL PEMERIKSAAN KATTY


Menit Heart Rate Respiration Rate Temperature (oC)
(x/menit) (x/menit)
0 133 44 38,2
15 124 40 38
30 100 40 37,8
45 133 40 37,6
60 113 33 37,6
75 113 28 36,6
90 96 32 36,4
105 88 33 36,2
120 88 32 36,2
135 100 36 36,5

32
Secara umum terdapat 4 tahapan atau stadium anestesi, yaitu (Katzung, 2004):
Stadium I (stadium induksi atau eksitasi volunter)
Dimulai dari pemberian agen anestesi sampai menimbulkan hilangnya
kesadaran. Rasa takut dapat meningkatkan frekuensi nafas dan pulsus, dilatasi
pupil, dapat terjadi urinasi dan defekasi.
Stadium II (Eksitasi)
Stadium ini dimulai sejak hilangnya kesadaran sampai munculnya
pernapasan yang teratur yang merupakan tanda dimulainya stadium
pembedahan. Pada stadium ini pasien tampak mengalami delirium dan eksitasi
dengan gerakan-gerakan diluar kehendak. Pernapasan tidak teratur,
kadangkadang apnea dan hiperpnea, tonus otot rangka meninggi, pasien
meronta, kadang sampai mengalami inkontinesia dan muntah. Hal ini terjadi
karena hambatan pada pusat inhibisi. Pada stadium ini dapat terjadi kematian
maka stadium ini harus cepat diusahakan untuk dilewati.
Stadium III (Pembedahan)
Stadium ini dimulai dengan timbulnya kembali pernapasan yang teratur
dan berlangsung sampai pernapasan spontan hilang. Keempat tingkat dalam
stadium pembedahan ini dibedakan dari perubahan pada gerakan bola mata,
refleks bulu mata dan konjungtiva, tonus otot, dan lebar pupil yang
menggambarkan semakin dalamnya pembiusan.
Plana 1 : Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang, terjadi
gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak, pupil midriasis, refleks
cahaya ada, lakrimasi meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada, dan
belum tercapai relaksasi otot lurik yang sempurna (tonus otot mulai menurun).
Plana 2 : Pernapasan teratur, spontan, perut-dada, volume tidak menurun,
frekuensi meningkat, bola mata tidak bergerak dan terfiksasi di tengah, pupil
midriasis, refleks cahaya mulai menurun, relaksasi otot sedang, dan refleks
laring hilang sehingga dikerjakan intubasi.
Plana 3 : Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai
paralisis, lakrimasi tidak ada, pupil midriasis dan sentral, refleks laring dan
peritoneum tidak ada, relaksasi otot lurik hampir sempuma (tonus otot semakin
menurun).

33
Plana 4 : Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal
paralisis total, pupil sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks sfmgter ani
dan kelenjar air mata tidak ada, relaksasi otot lurik sempuma (tonus otot sangat
menurun).
Stadium IV (paralisis pada medula oblongata)
Dimulai dengan melemahnya pernapasan perut dibanding stadium III
plana 4. pada stadium ini tekanan darah tak dapat diukur, denyut jantung
berhenti, dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan pernapasan pada stadium
ini tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan.
Intramox LA diberikan satu kali sebelum operasi. Intramox LA
merupakan injeksi Amoxycillin long acting, bersifat bakterisidal. Sedangkan
Amoxycilin per oral diberikan selama 5 hari dua kali sehari mulai tanggal 14
juni 2018 hingga 19 juni 2018. Amoxycilin bekerja dengan menghambat
sintesis dinding sel bakteri. Efektif terhadap bakteri gram positif dan gram
negatif seperti E. coli, Pasteurella, Haemophilus, Salmonella, Erysipelothrix,
Campylobacter, Clostridium, Corynebacterium, Staphylococcus dan
Streptococcus spp. Obat golongan penisilin ini, menghambat pertumbuhan
bakteri dengan mengganggu reaksi transpeptidasi sintesis dinding sel bakteri.
Dinding sel adalah lapisan luar yang rigid yang unik pada setiap spesies bakteri.
Dengan terhambatnya reaksi ini makan akan menghentikan sintesis
peptidoglikan dan mematikan bakteri (Katzung, 2007). Amoksisilin adalah
obat yang di metabolisme secara parsial dan akan dieliminasi melalui ginjal.
Sembilan puluh persen ekskresi obat amoksisilin akan terjadi melalui sekresi
tubular, dan 10% melalui filtrasi glomerular. Terdapat beberapa efek samping
yang dapat muncul dari penggunaan amoksisilin yaitu reaksi hipersensitivitas,
efek samping sistem gastrointestinal, kerusakan hati, nefropati, efek samping
hematologik, ensefalopati, dan lain-lain (Grayson, 2010).
Keadaan anjing setelah operasi yaitu suhu tubuh anjing mengalami
penurunan menjadi 35,00C, hal ini terjadi karena efek dari anastesi yang dapat
menurunkan suhu tubuh. Karena suhu tubuh yang terlalu rendah maka
dilakukan kompres menggunakan air hangat serta pemasangan lampu
penghangat pada kandang, selain itu untuk menghangatkan tubuh anjing juga

34
diberikan lampu infrared selama 5 menit dan dilakukan setiap 30 menit sekali.
Setiap pemberian infrared maka lampu kandang dimatikan. Hal ini dilakukan
sampai suhu tubuh anjing normal kembali. Suhu tubuh anjing mengalami
kenaikan berlahan mulai dari 35,80C, 36,50C, dan 37,60C. Anjing mau minum
namun masih belum mau makan, pakan basah diberikan menggunakan spuit.
Setelah suhu tubuh pencapai 38,00C anjing diterapi dengan obat analgesik
ketoprofen melalui per oral dengan dosis 1 mg/kg BB diberikan 1 kali sehari
dan antibiotik amoxylin melalui per oral dengan dosis 10mg/kg BB diberikan
2 hari sekali.
Amoxicillin digunakan untuk menghindari adanya infeksi sekunder pada
luka operasi, mekanisme kerja amoxicilin ini adalah dengan cara mengikat
pada ikatan penisilin protein 1A (PBP-1A) yang berlokasi didalam dinding sel
bakteri. Penisillin (amoksisilin) mengasilasi penisilin-mensensitifkan
transpeptidase C-terminal domain dengan membuka cincin laktam
menyebabkan inaktivasi enzim, dan mencegah pembentukan hubungan silang
dari dua untai peptidoglikan linier, menghambat fase tiga dan terakhir dari
sintesis dinding sel bakteri, yang berguna untuk divisi sel dan bentuk sel dan
proses esensial lain dan lebih mematikan dari penisillin untuk bakteri yang
melibatkan mekanisme keduanya litik dan non litik (Kaur et al., 2011).
Terapi yang diberikan mulai tanggal 12 juni 2018 hingga 17 juni 2018
selanjutnya ialah Ketoprofen melalui rute per oral dan diberikan sehari sekali
selama 5 hari. Pemberian ketoprofen diberikan setelah suhu anjing Keti stabil,
yakni 30 menit setelah operasi. Ketoprofen diberikan dengan harapan
mengurangi reaksi inflamasi post operasi pada anjing Keti. Ketoprofen
merupakan golongan obat anti inflamasi non steroid (NSAID) turunan
propionat yang secara luas digunakan untuk mengurangi rasa nyer, inflamasi
akibat beberapa kondisi (Sweetman, 2009). Mekanisme kerja ketoprofen
menghambat enzim siklooksigenase 1 (COX-1) sehingga tubuh tidak dapat
mensisntesis prostaglandin (Zakir et al, 2015). Efek samping ketoprofen adalah
pada gastroinestinal, mual, ulserasi, dan pendarahan pada lambung.
Anjing mulai buang air besar pada hari ke 1 pasca operasi sedangkan
buang air kecil terjadi setiap hari. Anjing mulai makan sendiri dengan pakan

35
basah pada hari ke-2 pasca operasi dan pakan kering diberikan pada hari ke-3.
Jahitan masih rapat dan sedikit bengkak pada hari ke 1 dan semakin mengecil
pada hari ke 3 pasca operasi. Luka jahitan diberi salep gentamycin kemudian
diberi kasa dan hypafix, setelah itu dipakaikan gurita agar luka tidak dijilati
oleh anjing.
Pada hari ke-10 post operasi, daerah bekas operasi bengkak, sehingga
diberikan antiinflamasi dexamethasone dengan dosis 0,1ml/KgBB 1 kali sehari
selama 3 hari. Deksametason, seperti kortikosteroid lainnya memiliki efek anti
inflamasi dan anti alergi dengan pencegahan pelepasan histamine.
Deksametason adalah kortikosteroid kuat dengan khasiat immunosupresan dan
antiinflamasi yang digunakan untuk mengobati berbagai kondisi peradangan.
Kortikosteroid seperti deksametason bekerja dengan cara mempengaruhi
kecepatan sintesis protein. Molekul hormon memasuki sel jaringan melalui
membran plasma secara difusi pasif di jaringan target, kemudian bereaksi
dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma sel jaringan dan
membentuk kompleks reseptor steroid. Kompleks ini mengalami perubahan
konformasi, lalu bergerak menuju nukleus dan berikatan dengan kromatin.
Ikatan ini menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi
sintesis protein ini merupakan perantara efek fisiologik steroid.
Inflamasi adalah reaksi kompleks pada jaringan ikat yang memiliki
vaskularisasi akibat stimulus eksogen maupun endogen. Pada saat terjadi jejas,
maka tubuh aakan melakukan upaya pertahanan. Mekanisme pertahanan
paling awal berupa keradangan yang merupakan suatu respon seluler non
spesifik. Proses inflamasi akan mengeliminasi penyebab awal jejas serta
membuang sel dan jaringan nekrotik yang diakibatkan jejas tersebut. Hasil dari
proses inflamasi akan membantu proses perbaikan jaringan. Dalam proses
inflamasi, upaya pertahanan dimulai dengan membunuh mikroorganisme
penyebab yang menimbukan kerusakan pada jaringan. Setelah inflamasi mulai
mereda maka proses proliferasi jaringan akan mulai berjalan dan selanjutnya
secara bertahap terjadii proses perbaikan dari jaringan yang rusak atau
nekrotik. Pada fase ini akan muncul adanya granulasi yang masih mengandung
sel-sel radang dan fibroblas. Selama perbaikan, jaringan yang rusak diganti

36
melalui regenerasi sel parenkim atau dengan jaringan fibrosa (Mardiyantoro,
2017).

Inflamasi dan infeksi merupakan dua hal yang berbeda. Inflamasi tidak
selalu disertai dengan infeksi, namun infeksi akan selalu diawali dengan
inflamasi. Pada kondisi infeksi, tanda-tanda inflamasi akan muncul setelah
mikroorganisme masuk ke dalam tubuh host pada daerah jejas. Metabolisme
dari mikroorganisme tersebut akan memperparah proses infeksi. Sedangkan
inflamasi sendiri tidak selalu diikuti dengan masuknya mikroorganisme. Hal
tersebut terjadi, apabila jejas tidak menimbulkan luka yang dapat menjadi port
de entry dari mikroorganisme. Beberapa kasus inflamasi dapat terjadi dalam
kondisi steril atau bersih dari mikroorganisme, misalnya lebam karena
benturan yang tidak ada luka terbuka (Mardiyantoro, 2017).

Proses inflamasi terdiri dari inflamasi akut dan inflamasi kronis. Pada
umumnya inflamasi akut akan dilanjutkan dengan inflamasi kronis sebagai
suatu proses perjalanan penyakit contohnya pada inflamasi kasus infeksi
osteomielitis, inflamasi akut biasanya akan diikuti oleh inflamasi kronis selama
belum dilakukan perawatan. Kondisi inflamasi akut teradi dalam waktu singkat
pada onset dan durasi pendek. Proses tersebut berlangsung mulai dari beberapa
menit setelah terdapat jejas hingga beberapa hari. Inflamasi akut ditandai
dengan eksudat plasma protein dan akumulasi leukosit dominasi neutrofil.
Manifestasi akut yaitu kemerahan, panas, ada rasa sakit, pembengkakan, dan
kehilangan fungsi. Inflamasi kronis yang terjadi sebagai lanjutan dari inflamasi
akut dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama, dapat terjadi dalam
hitungan minggu, atau bulan dan dapat juga dalam hitungan tahun. Inflamasi
kronis menyebakan kerusakan jaringan, meskipun usaha perbaikan tetap
dilakukan oleh tubuh. Dalam proses perjalanan inflamasi akut, apabila respon
tubuh terhadaap radang akut tidak berhasil yang sering disebabkan
mikroorganisme penyebab jejas masih menetap atau host mengalami gangguan
pada proses penyembuhan normal, maka inflamasi kronis dapat berlangsung
semakin lama (Mardiyantoro, 2017).

37
Pada hari ke-13 post operasi bengkak sudah mulai mengecil, bekas luka
operasi sudah menutup dengan baik, sehingga penggunaan antiinflamasi dapat
dihentikan. Kondisi anjing katy baik, dengan nafsu makan baik, urinasi dan
defekasi lancar.

38
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Dari prosedur cystotomy pada anjing kali ini dapat diambil kesimpulan
bahwa cystotomy merupakan prosedur pembukaan kantung kemih (vesika urinaria)
dengan tujuan mengeluarkan adanya benda asing seperti struvit (batu) yang
terbentuk akibat gangguan metabolisme sehingga dapat mengganggu sistem
urinaria terhadap adanya sumbatan pembentukan struvit tersebut. Pembukaan pada
vesika urinaria yang sangat rentan harus dilakukan secara hati-hati tanpa banyak
melakukan kontak langsung dengan vesica urinaria dan dijaga kelembapannya
karena organ tersebut secara normal terdapat pada rongga abdomen dengan kondisi
yang lembab. Prosedur setelah operasi seperti pakan diet yang baik untuk
pemulihan pasca operasi, pengecekan jahitan serta pemberian antibiotik dan
antinyeri juga harus diperhatikan dengan tujuan untuk mempercepat kesembuhan
luka pasca operasi.

6.2 Saran
Perlunya pemberian air minum pada anjing dalam jumlah sedang sebelum
operasi dengan tujuan agar kantung kemih (vesika urinaria) tidak terlalu kecil pada
saat prosedur pembedahan cystotomy agar pengambilan vesika urinaria tidak terlalu
sulit dilakukan dan mudah difiksasi.

39
DAFTAR PUSTAKA

Boulton, Thomas B., dan Colin E. Blogg. 1994. Anastesiologi Edisi 10. EGC.
Jakarta.
Brunt, M.V., S.T. Oliveira, S.A. Messina, R. Stedile, dan R.P. Oliveira. 2008.
Laparoscopic Cystotomy for Urolith Removal in Dogs: Three Case Reports.
Arq. Bras. Med. Vet. Zootec., v.60, n.1, p.103-108, 2008.

Fossum, T. W. 2002. Small Animal Surgery, Ed 2nd. Mosby, St. Lois London.

Philadelphia. Sydney. Toronto.


Grayson ML, 2010. Kucers’ The Use of Antibiotics 6th ed., London: Edward
Arnold Ltd.
Katzung BG. 2004. Basic and Clinical Pharmacology.2nded. Lange Medical
Publications. California.
Katzung B. G. 2007. Basic and Clinical Pharmacology. 10th ed. Boston:
McGrawHill.
Mardiyantoro, Fredy. 2017. Penyebaran Infeksi Odontogen dan Tatalaksana. UB
Press. Malang.
Ningsih, Dewi Kartikawati. 2015. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan Syok
dengan Pendekatan Proses Keperawatan. Cetakan Pertama. UB Press.
Malang.
Omeran, Bedoor M., Ramadan E. Abdel-Wahed, Mahmoud H. El-Kammar, dan
Howiada AbuAhmed. 2014. Ovariectomy versus Ovariohysterectomy for
Elective Sterilization of Female Cats. Alexandria Journal of Veterinary
Sciences 2014, 43: 73-81
Sardjana, I Komang Wiarsa. 2013. Pengendalian Populasi Anjing Liar di Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya Melalui Kastrasi dan
Ovariohistektomi. Veterinr Medika Jurnal Klinik Veteriner. Vol. 1, No. 2,
Januari 2013
Satria, Gagak Donny, Setyo Budhi, dan Dinni Nurdyanti. 2016. Hipotermia dan
Waktu Pemulihannya dalam Anestesi Gas Isofluran dengan Induksi Ketamin-
Xylazin pada Anjing. Jurnal Veteriner Maret 2016 Vol. 17 No. 1 : 1-6 pISSN:
1411-8327; eISSN: 2477-5665. DOI: 10.19087/jveteriner.2016.17.1.1

40
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya. 2009. Kumpullan Kuliah Farmakologi Edisi 2. EGC. Jakarta.
Sweetman, S.C. 2009. Martindale : The Complete Drug Reference. Thirty-sixth
Edition. London : Pharmaceutical Press.
Tobias KM. 2012. Manual of Small Animal Soft Tissue Surgery. USA: Wiley and
Blackwell.
Yudaniayanti, Ira Sari, Daud Yusuf , Herman Setyono , M. Zainal Arifin , Benjamin
Chr. Tehupuring , dan Handayani Tjitro. 2012. Profil Tekanan Intra Okuler
Penggunaan Kombinasi Ketamin-Xylazin dan Ketamin Midazolam pada
Kelinci. Vet Medika Jurnal Klinik Veteriner. Vol. 1, No. 1, Juli 2012
Zakir, Banu, Fatima. 2015. Formulation and Evaluation of Transdermal Patches of
Ketoprofin by Using Different Polymers. Research Article : International
Journal of Current Trends in Pharmaceutical Research. Vo 3(4) : 989-996

41
LAMPIRAN

Resep Obat Anjing Katty


Nama : drh. Rizal J

SIP : 445/45465/545.45/2017

Alamat : Jl. Ikan Combro no 39

HP : 0812345667

Malang, 12 Juni 2018

R/ Ketoprofen 15 mg

mfla. Pulv. da.in.caps no V

s.i.d.d. caps 1

R/ Amoxicilin 300 mg

mfla. Pulv. da.in.caps No X

s.2.d.d. caps 1

R/ Cream gentamycin no I

s.u.e

Pro : Anjing Katty

Usia : 3 Bulan

42