Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

SECTIO CAESAREA (SC)

OLEH :

NAMA : SILVI ARI SINTYA


NIM : 18J10113

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI


PROGRAM PROFESI NERS
TAHUN 2018
A. TINJAUAN KASUS
1. Pengertian
Sectio caesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan
membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan abdomen
( Amrusofian, 2012 dalam NANDA, 2015).
Jenis-jenis sectio caesarea
a. sectio caesarea abdomen
sectio caesarea transperitonealis
b. sectio caesarea vaginalis
menurut arah sayatan pada rahim, sectio caesarea dapat dilakukan
sebagai berikut :
1) sayatan memanjang (longitudinal)
2) sayatan melintang (transversal)
3) sayatan T (T-incision)
c. sectio caesarea klasik (corporal)
dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri,
dengan panjang kira-kira 10 cm.
d. sectio caesarea ismika (profunda)
e. Dilakukan dengan cara membuat sayatan melintang konkaf
pada segmen bawah rahim, dengan panjang kira-kira 10 cm.

2. Etiologi
a. etiologi yang berasal dari ibu.
pada primigravida, dengan kelainan letak, primi para tua disertai
dengan kelainan letak, disproforsi sefalo pelvic ( disproforsi
janin/panggul), memiliki riwayat kehamilan dan persalinan yang
buruk, panggul sempit, palasenta previa terutama pada
primigravida, solutsio plasenta tingkat I-II, komplikasi kehamilan
seperti preeklamsia-eklamsia, kehamilan yang disertai dengan
penyakit jantung, DM, gangguan perjalanan persalinan ( kista
ovarium, mioma uteri, dll).
b. Etiologi yang berasal dari janin
Gawat janin, mal presentasi, mal posisi kedudukan janin, prolapsus
tali pusat dengan pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum
atau forceps ekstraksi.

3. Indikasi Sectio Caesarea


a. Disporsi sefalo peluik
b. Panggul sempit
c. Partus lama (prolonged labor)
d. Partus tak maju (obstructed labor)
e. Gawat janin
f. Placenta previa sentralis dan lateralis
g. Pernah sectio caesarea sebelumnya
h. Mal presentasi janin (letak lintang, letak bokong, presentasi dahi
dan muka, presentasi rangkap jika reposisi tidak berhasil, gemeli)
i. Eklamsia
j. Hipertensi

4. Fisiologi proses penyembuhan luka


Pada fase satu (I) penyembuhan luka leukosit mencerna bakteri dan
jaringan rusak. Fibrin bertumpuk pada gumpalan yang mengisi luka dan
pembuluh darah tumbuh pada luka dari benang fibrin sebagai kerangka.
Lapisan tipis dari sel epitel bermigrasi lewat luka dan menutupi luka,
pasien akan terlihat merasa sakit pada fase I selama 3 hari setelah bedah
besar.
Pada fase II berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah, leukosit
mulai menghilang dan ceruk mulai berisi kolagen serabut protein putih.
Sel epitel beregenerasi dalam 1 minggu. Jaringan baru memiliki banyak
pembuluh darah. Tumpukan kolagen akan menunjang luka dengan baik
dalam 6 – 7 hari. Jadi jahitan diangkat pada waktu ini, tergantung pada
tempat dan luasnya bedah.
Pada fase III kolagen terus bertumpuk. Ini menekan pembuluh darah
baru dan arus darah menurun. Luka terlihat seperti merah jambu yang luas.
Fase ini berlangsung minggu kedua sampai minggu keenam. Pasien harus
menjaga agar tidak menggunakan otot yang terkena.
Pada fase IV, fase terakhir berlangsung beberapa bulan setelah
bedah. Pasien akan mengeluh gatal di seputar luka. Walaupun kolagen
terus menimbun pada waktu ini luka menciut dan menjadi tegang. Karena
penciutan luka terjadi ceruk yang berwarna/berlapis putih. Bila jaringan itu
aseluler, avaskuler, jaringan kolagen tidak akan menjadi coklat karena
sinar matahari dan tidak akan keluar keringat dan tumbuh rambut (Barbara
C. Long, 1996 : 69).

5. Manifestasi Klinis Sectio Caesarea


Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2001 : 414),
antara lain :
a. Nyeri akibat luka pembedahan
b. Luka insisi pada bagian abdomen
c. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan berlebihan atau banyak
e. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 –
800 ml
f. Emosi klien labil dengan mengekspresikan ketidakmampuan
menghadapi situasi baru
g. Terpasang kateter urinarius pada sistem eliminasi BAK
h. Dengan auskultasi bising usus tidak terdengar atau mungkin samar
i. Immobilisasi karena adanya pengaruh anastesi
j. Bunyi paru jelas dan vesikuler dengan RR 20x/menit
k. Karena kelahiran secara SC mungkin tidak direncanakan maka
biasanya kurang pahami prosedur
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan darah lengkap
b. Hb dan HCT
c. Urinalisis
d. Kultur urine, darah, vaginal dan lokhea

7. Penatalaksanaan
a. Perawatan I setelah post operasi
1) Pembalutan luka (wound dressing) dengan baik
Dibersihkan dengan alkohol dan larutan suci hama (larutan
betadine) lalu ditutup dengan kain penutup luka.
2) Pemberian cairan
D 5 – 10%, garam fisiologis dan RL secara bergantian, 20
tts/mnt
3) Diit
Makanan dan minuman diberikan setelah pasien flatus.
Minuman yang diberikan air putih atau air teh. Makanan yang
diberikan dari bubur saring, minuman air buah dan susu,
selanjutnya secara bertahap bubur dan akhirnya makanan biasa.
4) Kateteriasasi
5) Obat-obatan
a) Antibiotik, kemoterapi dan anti inflamasi
b) Obat-obat pencegah perut kembung : plasil,
perimpuran
c) Obat anti nyeri : pethidin 100 – 150 mg atau morfin
10 – 15 mg
d) Transfusi darah apabila penderita anemia
b. Perawatan rutin
1) Pemeriksaan dan pengukuran, yang diukur adalah :
2) Tekanan darah, nadi, frekuensi pernafasan, suhu
3) Jumlah cairan masuk dan keluar (urine)
B. TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Merupakan cara yang dilakukan untuk mendapatkan data mengenai
kondisi klien. Dalam pengajian akan didapatkan data berupa data subjektif
yang merupakan data yang diperoleh langsung dari klien maupun keluarga
klien, yang mencangkup keluhan-keluahan yang diutarakan klien
mengenai kondisi dirinya. Kemudian data objektif, yang merupakan data
yang diperoleh dari pemeriksaan fisik langusung oleh perawat, atau data
yang didapatkan dari pemeriksaan penunjang, seperti hasil pemeriksaan
laboratorium, USG, CT-Scan dll.
a. Keluhan Utama
Mencangkup data yang klien keluhkan pada saat dilakukannya
pengkajian.
b. Riwayat Obstetri
Mencangkup data riwayat menstruasi, perkawinan, penggunaan alat
kontrasepsi, riwayat persalinan.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
Mencangkup data mengenai data imunisasi, riwayat alergi, riwayat
dirawat di rumah sakit dan pemakaian obat-obatan.
d. Riwayat penyakit keluarga
Mencangkup data-data mengenai riwayat penyakit yang dimiliki oleh
keluarga klien.
e. Pola Kebiasaan
Mencangkup data-data berupa pola kebiasaan klien sebelum dan pada
saat pengkajian.
f. Pemeriksaan Fisik
Mencangkup data berupa hasil pemeriksaan fisik terhadap klien mulai
dari kepala hingga ujung kaki.
g. Pemeriksaan penunjang
Mencangkup data-data yang diperoleh melalui hasil pemeriksaan
laboratorium, USG, CT-Scan, dll.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri b/d agen injuri (pembedahan)
b. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d obstruksi jalan nafas
(mokus dalam jumlah berlebihan, jalan nafas alergik (respon obat
anastesi)
c. Gangguan pola tidur b/d nyeri post SC
d. Resiko infeksi b/d faktor resiko : trauma jaringan, episiotomi,
laserasi jalan lahir, bantuan pertolongan persalianan.
e. Deficit perawatan diri: mandi/kebersihan diri b/d nyeri pada luka
post SC
f. Konstipasi b/d efek anastesi
g. Deficiensi pengetahuan : perawatan luka SC b/d kurangnya
infoemasi tentang perawatan luka post SC

3. Intervensi Keperawatan
Diagnosa I : Nyeri b/d agen cidera fisik (pembedahan)
Tujuan : menghilangkan atau mengurangi nyeri
Kriteria hasil :
a. Klien mampu mengontrol nyeri
b. Klien melaporkan nyeri berkurang
c. Merasakan nyaman setelah nyeri berkurang
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda vital
R/ nyeri dapat menstimulasi perubahan tanda-tanda vital
b. Lakukan pengkajian nyeri secara komperhensif (PQRST)
R/ untuk mengetahui perkembangan nyeri yang dirasakan pasien
c. Berikan posisi yang nyaman sesuai toleransi
R/ posisi yang nyaman dapat mengurangi nyeri
d. Ajarkan pasien teknik non farmakologis seperti teknik
distrasi dan relaksasi.
R/ Membantu pasien mengurangi rasa nyeri
e. Kolaborasi :
Berikan analgesik rutin s/d indikasi.
R/ Mempertahankan kadar obat, menghindari puncak periode nyeri

Diagnosa II : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d obstruksi


jalan nafas (mokus dalam jumlah berlebihan, jalan nafas alergik
(respon obat anastesi)
Tujuan : bersihan jalan nafas dan ventilasi dapat terjaga
Kriteria hasil :
a. Mendemonstrasikan batuk efektif, suara nafas bersih, tidak
ada sianosis dan dyspneu
b. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa
tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal,
tidak ada suara nafas abnormal).
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda vital
R/ dengan mengobservasi tanda-tanda vital, maka akan dapat
dikethui kondisi pasien.
b. Berikan klien posisi semifowler
R/ posisi emifowler dapat berfungsi untuk meningkatkan ekspansi
dada
c. Ajarkan klien batuk efektif
R/ batuk efektif yang benar dapat membantu klien untuk
membersihkan jalan nafas dari secret yang ada
d. Kolaborasi dalam pemberian O2
R/ pemberian oksigen bertujuan untuk mengoptimalkan tersedianya
oksigen di dalam darah.

Diagnosa III : Gangguan pola tidur b/d nyeri pada luka post SC
Tujuan : istirahat tidur dengan optimal
Kriteria hasil :
a. Melaporkan dapat istirahat ( tidur optimal)
b. Perasaan segar sesudah tidur atau istirahat
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda vital
R/ kurang tidur dapat menstimulasi perubahan tanda-tanda vital
b. Beri posisi yang nyaman
R/ posisi yang nyaman dapat meningkatkan relaksasi, sehingga
menstimulasi untuk tidur.
c. Ajarkan teknik distrasi dan relaksasi
R/ dapat meningkatkan relaksasi untuk mengurangi nyeri.
d. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik
R/ analgetik dapat mnegurangi nyeri sehingga menghilangkan atau
mengurani penyebab tidak bisa tidur.

Diagnosa IV : Resiko infeksi b/d rusaknya pertahanan primer


tubuh. faktor resiko : trauma jaringan, episiotomi, laserasi jalan
lahir, bantuan pertolongan persalianan.
Tujuan : menontrol resiko infeksi
Kriteria hasil :
a. Tanda-tanda vital dalam batas normal
b. Perbaikan luka tepat waktu
c. Klien terbebas dari gejala dan tanda infeksi
d. Mendeskrifsikan proses penularan penyakit, faktor yang
mempengaruhi penularan serta penatalaksanaannya.
Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda vital
R/ adanya infeksi dapat menstimulasi perubahan tanda-tanda vital
b. Monitor tanda-tanda infeksi
R/ untuk mengetahui adanya tada-tanda infeksi.
c. Lakukan perawatan luka post operasi SC dengan teknik
aseptik
R/ mencegah masuknya organisme melalui luka operasi
d. Anjurkan klien untuk mengkonsumsi makanan tinggi
protein
R/ protein berperan dalam mengganti sel-sel yang rusak dan
meningkatkan daya tahan tubuh.
e. Mandikan klien.
R/ mencegah faktor resiko penularan.
f. KIE : merawat luka dan pencegahan kontaminasi.
R/ mencegah faktor resiko penularan
e. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik
R/ obat-obatan antibiotik dapat membantu mengurangi resiko
terjadinya infeksi.

Diagnosa V : Deficit perawatan diri: mandi/kebersihan diri b/d


nyeri pada luka post SC
Tujuan : mampu membersihkan tubuh secara mandiri
Kriteria hasil :
a. Mampu untuk membersihkan tubuh sendiri secara mandiri
dengan atau tanpa alat bantu.
b. Mampu mempertahankan kebersihan dan penampilan yang
rapi secara mandiri, dengan atau tanpa alat bantu.
Intervensi
a. Kaji kebutuhan klien dalam membersihkan diri
b. Berikan bantuan sesuai untuk memenuhi hygine klien

Diagnosa VI : Resiko konstipasi b/d efek anastesi


Tujuan : masalah
Kriteria hasil :
a. Mendemonstrasikan kembalinya motilitas usus dibuktikan
oleh bising usus dan keluarnya flatus
b. Mendapatkan pola eliminasi kembali biasanya
Intervensi :
a. Auskultasi terhadap adanya bising usus
R/ Menentukan kesiapan terhadap pemberian makanan per oral
b. Palpasi abdomen, perhatikan distensi, ketidaknyamanan
R/ Menandakan pembentukan gas akumulasi/kemungkinan ileus
paralitis
c. Anjurkan cairan oral dan makanan berserat yang adekuat
R/ Mencegah konstipasi defekasi

Diagnosa VII : Deficiensi pengetahuan : perawatan luka SC b/d


kurangnya informasi tentang perawatan luka post SC
Tujuan : meningkatkan pengetahuan mengenai perawatan luka SC
Kriteria hasil :
a. klien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang
perawatan luka SC
b. pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali tentang
perawatan luka SC.
Intervensi :
a. kaji pengetahuan klien tentang perawatan luka post SC
R/ untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien mengenai
perawatan luka posr SC
b. berikan informasi mengenai perawatan luka post SC.
R/ menambah wawsan klien tentang penanganan luka post SC

Diagnosa VIII : Hambatan mobilitas fisik b/d nyeri luka post


SC
Tujuan : Ibu dapat melakukan mobilitas fisik
Kriteria Hasil :
a. Klien dapat bergerak secara mandiri
b. Klien dapat duduk
c. Klien tidak kesakitan pada saat bergerak
d. Klien tidak lemah
Intervensi :
a. Kaji kemampuan mobilisasi
R/ untuk mengetahui tingkat kemandirian klien dalam
melakukan mobilisasi fisik secara mandiri dan untuk
mengetahui apakah ibu memerlukan bantuan penuh atau
sebagian.
b. Latih mobilisasi sedini mungkin : miring kanan- miring kiri
R/ mencegah terjadinya kontraktur atau kekakuan otot
c. Ajarkan ibu latihan bertahap sesuai kemampuan
R/ Melatih kemampuan aktivitas ibu
d. Kolaborasi : pemberian analgetik
R/ menghilangkan /mengurangi penyebab.
DAFTAR PUSTAKA

NANDA, (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan BerdasarkanDiagnosa


Medis dan NANDA NIC-NOC 2015 Edisi Revisi Jilid 1. Jogjakarta :
Mediaction Jogja.