Anda di halaman 1dari 13

RINGKASAN KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

A. Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan


Undang-undang tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan dilandasi filsafah
pancasila dan undang-undang dasar 1945, yang didalamnya tertuang ketentuan yang
menjunjung tinggi hak warga Negara dan menempatkan kewajiban perpajakan sebagai
kewajiban kenegaraan.
B. Dasar Hukum
Dasar hukum ketentuan umumdan tata cara perpajakan adalah undang-undang NO. 6
tahun 1983 sebagai mana telah diubah terakhir dengan undang-undang NO. 28 tahun 2007

Hak dan Kewajiban Wajib Pajak

Guna mendukung sistem perpajakan agar berjalan dengan baik, terdapat kewajiban dan hak-
hak yang dimiliki Wajib Pajak.

Hak-Hak Wajib Pajak


1. Mendapatkan pelayanan, pembinaan, dan penyuluhan pajak.
2. Memperpanjang penyampaian SPT.
3. Membetulkan SPT.
4. Memperoleh kelebihan pembayaran pajak.
5. Mengajukan keberatan dan banding.
6. Mengajukan permohonan angsuran pembayaran pajak dan penundaan pembayaran
pajak.
7. Mengurangi penghasilan bruto dengan biaya fiscal.
8. Menggunakan Norma Penghitungan.
9. Memperoleh fasilitas perpajakan.
10. Mengkreditkan Pajak Masukan
11. Menunjuk kuasa.

1
12. Pelayanan, Pembinaan dan Penyuluhan Pelayanan, pembinaan dan penyuluhan pajak
diberikan agar ke depan dapat lebih mengefektifkan self assessment system berjalan
dengan baik.

Tata cara pendaftaran dan pemberian NPWP serta pelaporan dan pengukuhan PKP di
KPP:

1. Wajib Pajak harus mengisi formulir pendaftaran Permohonan Pengukuhan secara


lengkap dan jelas.
2. Wajib Pajak menyerahkan formulir.
3. Apabila Wajib Pajak belum mengisib formulir secara lengkap maka formulir
dikembalikan kepada Wajib Pajak.
4. Wajib Pajak menerima Bukti Penerimaan Surat (BPS) yang telah ditandatangani
petugas setelah formulir dilengkapi.
5. Wajib Pajak mendapat SKT dan/atau SPPKP dan kartu NPWP.
6. Jangka waktu penyelesaian permohonan pendaftaran NPWP 1 hari, terhitung sejak
permohonannya diterima.
7. Setelah menerbitkan SKT dahn kartu NPWP serta SPPKP, Petugas Konfirmasi
selama 6 bulan terjun ke lapangan guna memeriksa apakah yang ditulis oleh Wajib
Pajak sesuai atau tidak.
8. Apabila hasil konfirmasi di lapangan tidak menunjukkan kebenaran, maka KPP
menerbitkan Surat Penghapusan NPWP, Surat Pencabutan SKT dan/atau Surat
Pencabutan SPPKP secara jabatan untuk disampaikan kepada Wajib Pajak.
9. Apabila tempat kedudukan atau usaha atau PKP di wilayah KP4/KP2KP tidak sekota
dengan KPP, Kepala KPP dapat meminta bantuan KP4/KP2KP untuk membuktikan
kebenaran.
10. Melalui KP4/P2KP wajib pajak memberi permohonan pendaftaran NPWP atau
pengukuhan PKP kepada KPP , kemudian KPP memproses sebagaiman poin dari 5
sampai 8.

Sistem E-Registration merupakan sistem pendaftaran pengukuhan PKP secara online


yang langsung terhubung dengan Direktur Jenderal Pajak. Tata cara pendaftaran NPWP
dan/atau pengukuhan pengusaha kena pajak dan perubahan data Wajib Pajak dan/atau
pengusaha kena pajak dengan sistem E-Registration:

2
1. Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh NPWP untuk
dikukuhkan sebagai PKP melalui sistem E-Registration.
2. Mengisi formulir permohonan pendaftaran NPWP dan/atau pengukuhan PKP di
sistem E-Registration.
3. Mencetak formulir pendaftaran NPWP dan/atau pengukuhan PKP serta SKTS yang
diterbitkan dari sistem E-Registration.
4. SKTS berlaku sejak pendaftaran sampai dicetaknya SKT oleh KPP.
5. SKTS hanya berlaku untuk pembayaran, pemotongan dan pemungutan pajak.

Perubahan data Wajib Pajak dengan sistem E-Registration:

Wajib Pajak dapat melakukan perubahan data melalui sistem E-Registration dengan
mengisi Formulir Permohonan Perubahan Data Wajib Pajak kemudian KPP menerbitkan
kartu NPWP dan SKT dan/atau SPPKP paling lama satu hari setelah data diterima KPP.

Penghapusan NPWP dapat dilakukan apabila:

Wajib Pajak mengajukan permohonan penghapusan NPWP, Wajib Pajak dilikuidasi


karena penghentian atau penggabungan usaha, telah mengehentikan usahanya di Indonesia,
dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak karena Wajib Pajak sudah tidak memenuhi
persyaratan sesuai dengan per UU. Untuk pemberian keputusan penghapusan, untuk orang
pribadi 6 bulan dan untuk badan 12 bulan.

Pajak Negara dan Pajak Daerah PPh Umum

Pajak Negara dan Pajak Daerah


Pajak Negara (Pajak Pusat) adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan
digunakan untuk membiayai rumah tangga negara.

Yang termasuk Pajak Negara :


Pajak Penghasilan (PPh)
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah (PPN & PPn BM)

3
Bea Materai
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Tujuannya: pemerataan penghasilan bagi pemerintah daerah di Indonesia. Bagi hasil


diperlukan untuk menjaga kelangsungan negara kesatuan RI sebagai wujud keseimbangan
penerimaan antara pusat dan daerah atas pajak yang dipungut oleh pusat yang sumbernya
berada didaerah.

Dasar Hukum pemungutan Pajak Negara:


Pajak Penghasilan (PPh):
Undang-Undang No.7 Tahun 1984 kemudian mengalami perubahan ke Undang-undang
No.36 Tahun 2008. Undang-undang Pajak Penghasilan berlaku mulai tahun 1984 dan
merupakan pengganti UU Pajak Perseroan 1925, UU Pajak Pendapatan 1944, UU PBDR
1970.

Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPN & PPn BM):
Undang-undang No.8 tahun 1983 sebagaimana telah dirubah terakhir dengan Undang-undang
No. 42 tahun 2009. Undang-undang PPN & PPn BM efektif mulai berlaku sejak tanggal 1
April 1985 dan merupakan pengganti UU pajak Penjualan 1951

Bea Materai:
Undang-undang No.13 Tahun 1985. Undang-Undang Bea Materai berlaku mulai tanggal 1
januari 1986 mwnggantikan peraturan dan Undang-undang Bea Materai yang lama (Aturan
Bea Materai 1921)

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB):


Undang-undang No.12 tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.12
tahun 1985 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No.12 Tahun 1994. Undang-
undang PBB berlaku mulai tanggal 1 Januari 1986 dan merupakan pengganti :
Ordonasi Pajak Rumah Tangga tahun 1908
Ordonasi Verponding Indonesia tahun 1923
Ordonasi pajak kekayaan tahun 1932
Ordonasi verponding tahun 1928
4
Ordonasi Pajak Jalan tahun 1942
Undang-undang Darurat nomor 11 tahun 1957 khususnya pasal 14 huruf j,k,l
Undang-undang nomor 11 Prp. Tahun 1959 Pajak Hasil Bumi.

Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)


Undang-undang No.21 tahun 1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-
undang No.20 tahun 2000. Undang-undang BPHTB berlaku sejak tanggal 1 Januari 1998
menggantikan ordonasi Bea Balik Nama Staatsblad.

Pajak Daerah adalah pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan
untuk membiayai rumah tangga daerah.
Dasar hukum pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah adalah Undang-undang No.28
Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Salah satu pos Penerimaan Asli daerah (PAD) dalam APBD adalah Pajak Daerah

Istilah-istilah yang terkait Pajak Daerah adalah


Daerah Otonom
Kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang
mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem negara kesatuan Republik
Indonesia.

Pajak Daerah
Adalah kontribusi wajib pajak kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang denga tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat daerah.

Badan
Sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan
usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, perseroan
komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan nama dan dalam
5
bentuk apapun firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan,
organisasi massa, organisasi sosial politik atau organisasi lainya, lembaga dan bentuk badan
lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

Subjek Pajak
Adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak.

Wajib Pajak
Orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak
yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan daerah.

Pajak Daerah terbagi menjadi 2 (dua)


Pajak provinsi
Pajak kendaraan bermotor
Bea balik nama kendaraan bermotor
Pajak bahan bakar kendaraan bermotor
Pajak Air permukaan
Pajak Rokok

Pajak Kabupaten/Kota, terdiri dari:


Pajak hotel
Pajak restoran
Pajak Hiburan
Pajak Reklame
Pajak penerangan jalan
Pajak mineral bukan logam dan Batuan
Pajak Parkir
Pajak Air Tanah
Pajak Sarang Burung Walet

6
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Pajak Penghasilan (PPh) Umum

A. Definisi dan dasar hukum pajak penghasilan (PPh)


Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap Subjek Pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam suatu tahun pajak
Peraturan perundangan yang mengatur Pajak Penghasilan di Indonesia adalah UU No. 7
Tahun 1983 yang telah disempurnakan dengan UU No. 7 Tahun 1991, UU No. 10 Tahun
1994, UU No. 17 Tahun 2000, UU No. 36 Tahun 2008, Peraturan Pemerintah, keputusan
Presiden, Keputusan Menteri Keuangan, Keputusan Direktur Jenderal Pajak maupun Surat
edaran Direktur Jenderal Pajak.

B. Pengertian dan pengelompokan subyek pajak


Subjek Pajak Penghasilan adalah segala sesuatu yang mempunyai potensi untuk
memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan Pajak Penghasilan.
Berdasar Pasal 2 ayat 1 UU No. 36 Tahun 2008, Subjek Pajak dikelompokkan sebagai
berikut.
1. Subjek Pajak orang pribadi
Orang pribadi sebagai Subjek Pajak dapat bertempat tinggal atau berada di Indonesia
ataupun di luar negeri

2. Subjek Pajak warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang
berhak.Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan Subjek Pajak
pengganti, menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris. Penunjukan warisan
yang belum terbagi sebagai Subjek Pajak Pengganti dimaksudkan agar pengenaan
pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut tetap dapat dilaksanakan.

3. Subjek Pajak badan


Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang
melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan
terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau

7
badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi,
koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa,
organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya termasuk kontrak investasi kolektif
dan bentuk usaha tetap. Badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah
merupakan Subjek Pajak tanpa memperhatikan nama dan bentuknya sehingga setiap
unit tertentu dari badan Pemerintah, misalnya lembaga, badan, dan sebagainya yang
dimiliki oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah daerah yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan merupakan Subjek Pajak. Dalam
pengertian perkumpulan termasuk pula asosiasi, persatuan, perhimpunan, atau ikatan
dari pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama.

4. Subjek Pajak Benuk Usaha Tetap (BUT)


Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang
tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak
lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)
bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia
untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa:
a. tempat kedudukan manajamen;
b. cabang perusahan;
c. kantor perwakilan;
d. gedung kantor;
e. pabrik;
f. bengkel;
g. gudang;
h. uang untuk promosi dan penjualan;
i. pertambangan dan penggalian sumber alam;
j. wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi;
k. perikanan, perternakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan;
l. proyek kontruksi, instalasi, atau proyek perakitan;
m. pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain, sepanjang
dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas)
bulan;
n. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas;

8
o. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau
menanggung resiko di Indonesia;
p. komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki, disewa, atau
digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan
usaha melalui internet.

Pengertian PPN (Pajak Pertambahan Nilai)


Pajak yang dikenakan terhadap pertambahan nilai (value added) yang timbul akibat
dipakainya faktor-faktor produksi disetiap jalur perusahaan dalam menyiapkan ,
menghasilkan, menyalurkan dan memperdagangkan barang atau pemberian pelayanan jasa
kepada konsumen.

Keuntungan Sistem Pajak Pertambahan Nilai

Dibandingkan dengan sistem pajak peredaran maupun pajak penjualan yang bersifat
kumulatif, sistem PPN tentunya memiliki keuntungan-keuntungan yang dapat disebutkan
sebagai berikut :

1. Tidak ada unsur pajak berganda

Dalam sistem PPN tidak ada unsur pajak berganda karena kredit pajak sepenuhnya
diberikan tidak hanya terhadap pajak yang telah dipungut atas bahan mentah atau barang
setengah jadi, tetapi juga terhadap pajak yang telah dibayar atas perolehan barang-barang
modal.

2. Netral dalam persaingan dalam negeri

Jumlah pajak yang dibayar akan sama besar dengan adanya proses pembuatan barang
yang dilakukan oleh satu perusahaan atau oleh beberapa perusahaan yang berbeda-beda
dalam suatu jalur produksi. Hal ini tentunya akan menjamin sifat netral pemungutan pajak
dalam negeri, karena perusahaan kecil dan menengah dapat bersaing dalam kondisi yang
sama dengan perusahaan – perusahaan besar yang mempunyai sifat produksi terpadu
secara vertikal.

3. Netral dalam perdagangan internasional

9
Perdagangan internasional sangat penting karena :

– Dalam hal ekspor : diberikan pengembalian beban pajak yang melekat pada waktu
perolehan harga barang yang diekspor.

– Dalam hal impor : jumlah pajak yang dipungut sama dengan jumlah pajak yang
dikenakan atas barang yang diproduksi di dalam negeri pada tingkat harga yang sama,
karena itu menciptakan persaingan yang sehat untuk keuntungan konsumen.

4. Netral bagi pola konsumsi

Dalam sistem PPN yang mempunyai satu tarif untuk seluruh barang konsumsi
(kecuali bahan makanan yang belum diolah yang dibebaskan dari pengenaan pajak) tidak
akan memberikan pengaruh kepada pola konsumsi atas pembelanjaan barang hasil proses
produksi.

5. Menghindarkan penyelundupan pajak

PPN denga tarif tunggal 10% bagi pengusaha tentu sangat mudah melaksanakannya
dan bagi Direktorat Jenderal Pajak juga mempermudah dalam hal pengawasan dan
pemeriksaan apalagi setelah dipergunakannya komputer di lingkungan Ditjen Pajak,
bahkan dengan cara uji silang ( cross check) akan mudah melacak setiap bentum
penyelundupan pajak dan lebih siap dan cepat mengambil tindakan terhadap para
penyelundup pajak.

Karakteristik PPN

Dari uraian butir 1 dan 2 yang telah dikemukakan diatas, dapat diketahui adanya beberapa
karakteristik PPN yang berlaku di Indonesia yaitu :

1. Pajak merupakan pajak tidak langsung

Karakter ini membawa konsekuensi yuridis antara pemikul beban pajak (destinataris
pajak) dengan penanggung jawab pajak atas pembayaran pajak ke kas negara yang berada
pada pihak yang berbeda. Secara ekonomi beban pajaknya dialihkan ke pihak lain, yaitu
pihak yang akan mengonsumsi barang atau jasa yang menjadi objek pajak.

10
2. PPN merupakan pajak objektif

Yang dimaksud dengan pajak objektif adalah suatu jenis pajak yang saat timbulnya
kewajiban pajak ditentukan oleh faktor objektif yang dinamakan tatbestand, yaitu suatu
keadaan , peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak, yang lebih lazim
disebut dengan objek pajak.

3. PPN merupakan multi stage tax

Karakteristik ini berarti bahwa yang dikenakan PPN ialah setiap mata rantai jalur
produksi maupun jalur distribusi. Tiap penyerahan barang yang menjadi objek PPN dari
tingkat pabrikan sampai pedagang besar dan pedagang eceran dikenakan PPN.

4. Pemungutan menggunakan faktur pajak

Berdasarkan faktur pajak ini, akan dihitung jumlah pajak yang terutang dalam sutu masa
pajak yang wajib disetor ke kas negara. Sedangkan pihak pembeli atau penerima jasa atau
importir, faktur pajak yang diterima merupakan bukt pembayaran pajak.

5. PPN merupakan pajak atas konsumsi di dalam negeri.

Setiap orang yang akan melakukan pengeluaran untuk konsumsi di dalam negeri, akan
dikenakan PPN, karena tujuan akhir PPN adalah penyerahan pajak atas konsumsi di
dalam negeri ( tax on consumption expenditure )

Objek Pajak PPN

Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas :

a. penyerahan Barang Kena Pajak di dalamDaerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha.
(UU No 11 Tahun 1994)
b. impor Barang Kena Pajak. (UU No 11Tahun 1994)
c. penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabeanyang dilakukan oleh Pengusaha. (UU
No 18 Tahun 2000)
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujuddari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
Pabean. (UU No 11 Tahun 1994)

11
e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak dariluar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; atau (UU
No 11 Tahun 1994)
f. ekspor Barang Kena Pajak oleh PengusahaKena Pajak. (UU No 18 Tahun 2000)

Empat prinsip objek terkena PPN atau tidak terkena PPN yaitu :

1. Yang diserahkan adalah barang kena pajak / jasa kena pajak


2. Tindakan penyerahannya merupakan penyerahan kena pajak
3. Penyerahan di lakukan di daerah Pabean
4. Penyerahan dilakukan oleh pengusaha kena pajak ( penyerahannya dilakukan dalam
lingkungan perusahaan atau perusahaan sehari-hari pengusaha yang bersangkutan )

Objek PPnBM

PPnBM terutang hanya pada dua peristiwa yaitu pada saat impor BKP yang tergolong mewah
dan pada saat penyerahan BKP tergolong mewah oleh Pabrikan.

BKP yang tergolong mewah berarti :

a. barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok; atau


b. barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu; atau
c. pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat yang berpenghasilan tinggi;
atau
d. barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status; atau
e. apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat serta mengganggu
ketertiban masyarakat seperti minuman beralkohol.

Prinsip PPnBM

Pemungutannya hanya satu kali saja yaitu pada waktu impor BKP yang tergolong
mewah dan pada saat penyerahan BKP tergolong mewah oleh Pabrikan.

Tidak mengenal istilah Pajak Masukan, karena itu PPnBM yang telah dibayar tidak
dapat dikreditkan dengan PPnBM yang terutang.

12
PPnBM dapat ditambahkan ke dalam harga BKP yang bersangkutan (HPP) atau
dibebankan sebagai biaya sesuai dengan ketentuan UU PPh, artinya dapat dibebankan atau
disusutkan langsung.

13