Anda di halaman 1dari 14

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

A. KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN


Undang-undang tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan dilandasi
filsafah pancasila dan undang-undang dasar 1945, yang didalamnya tertuang ketentuan
yang menjunjung tinggi hak warga Negara dan menempatkan kewajiban perpajakan
sebagai kewajiban kenegaraan1[1].
B. DASAR HUKUM
Dasar hukum ketentuan umumdan tata cara perpajakan adalah undang-undang NO.
6 tahun 1983 sebagai mana telah diubah terakhir dengan undang-undang NO. 28 tahun
2007
C. PENGERTIAN-PENGERTIAN
UU No. 28 tahun 2007 pada dasarnya mengatur hak dan kewajiban Wajib Pajak,
wewenang dan kewajiban aparat pemungut pajak, serta sanksi perpajakan. Beberapa istilah
yang lazim digunakan dalam perpajakan sebagaimana yang mengacu pada UU No. 28
tahun 2007, antara lain:2[2]

1. Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau
badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan sebesar-besarnya untuk keperluan negara
bagi kemakmuran rakyat.
2. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan yang mempunyai hak dan kewajiban
perpajakan.
3. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang
melakukan usaha termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
4. Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apapun yang dalam
kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor, mengekspor
barang, melakukan usaha perdagangan, dll.

1
5. Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha yang melakukan penyerahan barang kena
pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak.
6. Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada wajib pajak
sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagi tanda
pengenal diri Wajib Pajak.
7. Masa Pajak adalah jangka waktu yang menjadi dasar wajib pajak untuk menghitung,
menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang dalam suatu jangka waktu tertentu.
8. Tahun Pajak adalah jangka waktu satu tahun kalender.
9. Bagian Tahun pajak adalah bagian dari jangka waktu satu tahun pajak.
10. Pajak Yang Terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu bagian tahun
pajak.
11. Surat Pemberitahuan Pajak adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk
melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak.
12. Surat Pemberitahuan Masa adalah surat pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak.
13. Surat Pemberitahuan Tahunan adalah surat pemberitahuan untuk suatu Tahun
Pajak atau Bagian Tahun Pajak.
14. Surat Setoran Pajak adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak yang telah
dilakukan dengan menggunakan formulir atau dengan cara lain.
15. Surat Ketetapan Pajak adalah surat ketetapan yang berhubungan dengan
pembayaran pajak.
16. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat ketetapan yang menentukan
besarnya jumlah pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran
pokok pajak, besarnya administrasi, dan jumlah yang masih harus dibayar.
17. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat ketetapan pajak
yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.
18. Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah
pokok pajak sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan
tidak ada kredit pajak.
19. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat ketetapan pajak yang menentukan
jumlah kelebihan pembayaran pajak.
20. Surat Tagihan Pajak adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi
administrasi berupa bunga dan/atau denda.
21. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak.

2
22. Kredit Pajak untuk Pajak Penghasilan adalah pajak yang dibayar sendiri oleh
Wajib Pajak ditambah dengan pokok pajak terutang dalam Surat Tagihan Pajak
karena Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar, ditambah
dengan pajak yang dipotong atau dipungut, ditambah dengan pajak atas penghasilan
yang dibayar atau terutang diluar negeri, dikurangi dengan pengembalian
pendahuluan kelebihan pajak yang dikurangkan dari pajak yang terutang.
23. Kredit Pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai adalah Pajak Masukan yang dapat
dimasukkan dikurangi dengan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak atau
setelah dikurangi dengan pajak yang telah dikompensasikan, yang dikurangkan
dengan dari pajak yang terutang.
24. Pekerjaan Bebas adalah pekerjaan yang dilakukan orang pribadi yang mempunyai
keahlian khusus yang tidak terikat pada hubungan kerja.
25. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data,
keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional untuk
menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan.
26. Bukti Permulaan adalah keadaan, perbuatan, dan/atau bukti berupa keterangan,
tulisan atau benda yang dapat memberikan petunjuk adanya dugaan kuat bahwa
sedang atau telah terjadi tindak pidana dibidang perpajakan.
27. Pemeriksaaan Bukti Permulaan adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk
mendapatkan bukti permulaan tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana
dibidang perpajakan.
28. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab atas
pembayaran pajak.
29. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk
mengumpulkan data dan informasi keuangan untuk periode tahun pajak tersebut.
30. Penelitian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menilai kelengkapan
pengisian surat pemberitahuan dan lampiran-lampirannya termasuk penilaian tentang
kebenaran penulisan dan penghitungannya.
31. Penyidikan Tindak Pidana Dibidang Perpajakan adalah serangkaian tindakan
yang dilakukan oleh penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan
bukti itu membuat terang tindak pidana dibidang perpajakan.
32. Penyidik adalah pejabat pegawai negeri sipil tertentu dilingkungan Direktorat
Jenderal Pajak yang diberi wewenang khusus untuk melakukan penyidikan tindak
pidana.
3
33. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan yang membetulkan kesalahan
tulis, kesalahan hjitung, dan/atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam
peraturan perundang-undangan perpajakan.
34. Surat Keputusan Keberatan adalah Surat keputusan atas keberatan terhadap surat
ketetapan pajak atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang
diajukan oleh wajib pajak.
35. Putusan Banding adalah putusan badan peradilan pajak atas banding terhadap surat
keputusan keberatan yang dijukan oleh wajib pajak.
36. Putusan Gugatan adalah putuasn badan peradilan pajak atas gugatan terhadap hal-
hal yang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dapat
diajukan gugatan.
37. Putusan Peninjauan kembali adalah putusan mahkamah agung atas permohonan
peninjauan kembali yang diajukan oleh Wajib Pajak atau oleh Direktur Jenderal Pajak
terhadap putusan banding atau putusan gugatan dari badan peradilan pajak.
38. Surat Keputusan Pengambilan Pendahuluan Kelebihan Pajak adalah surat
keputuasn yang menentukan jumlah pengembalian pendahuluan kelebihan pajak
untuk wajib pajak tertentu.
39. Surat Keputusan Pemberian Imbalan Bunga adalah surat keputusan yang
menentukan jumlah imbalan bunga yang diberikan kepada Wajib Pajak.
40. Tanggal dikirim adalah tanggal stempel pengiriman pos, tanggal faksimili, atau
dalam hal disampaikan secara langsung yaitu tanggal pada saat surat, keputusan, atau
putusan disampaikan secara langsung.
41. Tanggal diterima adalah tanggal stempel pos, tanggal faksimili, atau dalam hal
diterima secara langsung yaitu tanggal pada saat surat, keputusan, atau putuasn
disampaikan secara langsung.

D. TAHUN PAJAK
Pada umumnya tahun paja sama dengan tahun takwim atau tahun calendar. Akan
tetapi wajib pajak dapat menggunakan tahun pajak tidak sama dengan tahun takwim dengan
syarat konsisten selama 12 bulan, dan melapor kepada kantor pelayanan pajak pratama
setempat.

4
E. NOMOR POKOK WAJIB PAJAK (NPWP)
1. Pengertian
Nomor pokok wajib pajak adalah nomor yang diberikan kepada wajib wajib pajak
sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal
diri atau identitas wajib pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban
perpajakannya3[3].
2. Fungsi NPWP
Fungsi NPWP adalah:
a Sebagai tanda pengenal diri atau identitas wajib pajak.
b Untuk menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan dalam pengawasan
administrasi perpajakan.
3. Pencantuman NPWP
Dalam hal berhubungan dengan dokumen perpajakan, wajib pajak diwajibkan
mencantumkan nomor pokok wajib pajak yang dimilikinya.
4. Pendaftaran NPWP
Semua wajib pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan subjektif sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan berdasarkan system self
assessment. Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan
mengenai subjek pajak dalam undang-undang pajak penghasilan 1984 dan
perubahannya. Persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima
atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan/
pemunguttan sessuai dengan ketentuan undang-undang pajak penghasilan 1984 dan
perubahannya4[4].
Tempat pendaftaran dilakukan pada kantor direktorat jendral pajak yang wilayah
kerjanya meliputi tempat tinggal dan kantor derektoral jendral pajak yang wilayah

5
kerjanya meliputi tempat kegiatan usaha dilakukan, bagi wajib pajak orang pribadi
pengusaha tertentu. kewajiban mendaftarkan diri tersebut belaku pula terhadap wanita
kawin yang dikenai pajak secarah terpisah karena hidup terpisah berdasarkan keputusan
hukum berdasarkan perjanjian pemisahan penghasilan dan harta. Wanita kawin juga dapat
melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya terpisah dari hak dan
kewajiban perpajakan suaminya.
Kewajiban untuk mendaftarkan diri untuk memproleh NPWP dibatasi jangka
waktunya,karena hal ini berkaitan dengan saat pajak terutang dan kewajiban mengenakan
pajak terutang, jangka waktu pendaftarannya NPWP adalah:
a. Bagi wajib pajak orang pribadi yang menjalankan uasaha yang menjalankan bebas dan
wajib pajak badan, wajib mendaftarkan diri paling lambat satu bulan setelah saat usaha
mulai dijalankan.
b. Wajib pajak orang pribadi yang tidak menjalankan suatu usaha atau tidak melakukan
pekerjaan bebas apabila jumlah penghasilannya sampai dengan suatu bulan yang
disetahunkan telah melebihi penghasilan tidak kena pajak, wajib mendaftarkan diri paling
lambat pada akhir bulan berikutnya.
c. Terhadap wajib pajak yang tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP akan
dikenakan sangsi perpajakan.
5. Sanksi
Setiap orang yang dengan sengaja tidak mendaftarkan diri untuk diberikan nomor
pokok wajib pajak, atau menyalah gunakan tanpa hak NPWP sehingga dapat menimbulkan
kerugiaan pada pendapatan Negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan
dan paling lam 6 tahun dan denda paling sedikit 2 kali jumlah pajak terutang yang tidak
atau kurang dibayar paling banyak 4 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang
dibayar.
Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana
menyalahgunakan atau menggunakan tanpa nomor hak nomor pokok wajib dalam rangka
melakukan permohonan restitusi atau melakukan kompensisasi pajak atau pengkreditan
pajak, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling lama 2 tahun dan
denda paling sedikit 2 kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan pengkreditan yang
dilakukan dan paling banyak 4 kali jumlah restitusi yang dimohonkan.
6. Penghapusan NPWP
Penghapusan nomor pokok wajib pajak dilakukan oleh direktur jendral pajak apabila:

6
a. Diajukan permohonan nomor pokok wajib pajak oleh wajib pajak dan ahli warisannya
apabila wajib pajak sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
b. Wajib pajak badan dilikuidasi karna penghentian dan penggabungan usaha.
c. Wanita yang sebelumnya telah memiliki nomor pokok wajib pajak dan menikah tanpa
membuat perjanjian pemisahan harta dan penghasilan dalam hal suami dari wanita
tersebut telah terdaftar wajib pajak.
d. Wajib pajak bentuk usaha tetap menghentikan usahanya di Indonesia.
e. Dianggap perlu oleh direktur jendral pajak untuk menghapuskan nomor pokok wajib
pajak dari wajib pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan objektif
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
f. Format NPWP
NPWP terdiri dari 5 digit, yaitu 9 digit pertama merupakan kode wajib pajak dan 6
digit berikutnya merupakan kode administrasi pajak.
Formatnya adalah sbb: XX. XXX. XXX. X- XXX. XXX
Catatan:
a. Wajib pajak yang tidak diwajibkan mendaftarkan diri apabila memerlukan NPWP dapat
mendaftarkan diri dan kepadanya akan dibrikan NPWP.
b. Setiap wajib pajak hanya mempunyai satu NPWP untuk semua jenis pajak.
c. Untuk perusahan perseorangan, NPWP atas nama pemiliknya.
d. Untuk badan misalnya PT. yang baru berdiri sebaiknya tetap mempunyai NPWP karena
apabila rugi dapat dikompensasi dengan tahun berikutnya
e. Warisan yang belum terbagi dalam kedudukannya sebagai subjek pajak menggunakan
nomor pokok wajib pajak dari wajib pajak orang pribadi yang meninggalkan warisan
tersebut.

Pajak Negara dan Pajak Daerah PPh Umum

Pajak Negara dan Pajak Daerah


Pengertian :
Pajak Negara (Pajak Pusat) adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan
untuk membiayai rumah tangga negara.

7
Yang termasuk Pajak Negara :
Pajak Penghasilan (PPh)
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan Atas Barang Mewah (PPN & PPn BM)
Bea Materai
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
Tujuannya: pemerataan penghasilan bagi pemerintah daerah di Indonesia. Bagi hasil
diperlukan untuk menjaga kelangsungan negara kesatuan RI sebagai wujud keseimbangan
penerimaan antara pusat dan daerah atas pajak yang dipungut oleh pusat yang sumbernya
berada didaerah.
Dasar Hukum pemungutan Pajak Negara:
Pajak Penghasilan (PPh):
Undang-Undang No.7 Tahun 1984 kemudian mengalami perubahan ke Undang-undang
No.36 Tahun 2008. Undang-undang Pajak Penghasilan berlaku mulai tahun 1984 dan
merupakan pengganti UU Pajak Perseroan 1925, UU Pajak Pendapatan 1944, UU PBDR
1970.
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPN & PPn BM):
Undang-undang No.8 tahun 1983 sebagaimana telah dirubah terakhir dengan Undang-undang
No. 42 tahun 2009. Undang-undang PPN & PPn BM efektif mulai berlaku sejak tanggal 1
April 1985 dan merupakan pengganti UU pajak Penjualan 1951

Salah satu pos Penerimaan Asli daerah (PAD) dalam APBD adalah Pajak Daerah
Istilah-istilah yang terkait Pajak Daerah adalah
Daerah Otonom
Kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang
mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem negara kesatuan Republik
Indonesia.
Pajak Daerah Adalah kontribusi wajib pajak kepada Daerah yang terutang oleh orang
pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang denga tidak
mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat daerah.

8
Badan
Sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan
usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, perseroan
komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan nama dan dalam
bentuk apapun firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan,
organisasi massa, organisasi sosial politik atau organisasi lainya, lembaga dan bentuk badan
lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

Subjek Pajak
Adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak.

Wajib Pajak
Orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak
yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan daerah.

Pajak Daerah terbagi menjadi 2 (dua)


Pajak provinsi
Pajak kendaraan bermotor
Bea balik nama kendaraan bermotor
Pajak bahan bakar kendaraan bermotor
Pajak Air permukaan
Pajak Rokok

Pajak Kabupaten/Kota, terdiri dari:


Pajak hotel
Pajak restoran
Pajak Hiburan
Pajak Reklame
Pajak penerangan jalan
Pajak mineral bukan logam dan Batuan
Pajak Parkir
Pajak Air Tanah
Pajak Sarang Burung Walet
9
Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan
Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

Pengertian PPN (Pajak Pertambahan Nilai)


Pajak yang dikenakan terhadap pertambahan nilai (value added) yang timbul akibat
dipakainya faktor-faktor produksi disetiap jalur perusahaan dalam menyiapkan ,
menghasilkan, menyalurkan dan memperdagangkan barang atau pemberian pelayanan jasa
kepada konsumen.

Keuntungan Sistem Pajak Pertambahan Nilai

Dibandingkan dengan sistem pajak peredaran maupun pajak penjualan yang bersifat
kumulatif, sistem PPN tentunya memiliki keuntungan-keuntungan yang dapat disebutkan
sebagai berikut :

1. Tidak ada unsur pajak berganda

Dalam sistem PPN tidak ada unsur pajak berganda karena kredit pajak sepenuhnya
diberikan tidak hanya terhadap pajak yang telah dipungut atas bahan mentah atau barang
setengah jadi, tetapi juga terhadap pajak yang telah dibayar atas perolehan barang-barang
modal.

2. Netral dalam persaingan dalam negeri

Jumlah pajak yang dibayar akan sama besar dengan adanya proses pembuatan barang
yang dilakukan oleh satu perusahaan atau oleh beberapa perusahaan yang berbeda-beda
dalam suatu jalur produksi. Hal ini tentunya akan menjamin sifat netral pemungutan pajak
dalam negeri, karena perusahaan kecil dan menengah dapat bersaing dalam kondisi yang
sama dengan perusahaan – perusahaan besar yang mempunyai sifat produksi terpadu
secara vertikal.

3. Netral dalam perdagangan internasional

Perdagangan internasional sangat penting karena :

10
– Dalam hal ekspor : diberikan pengembalian beban pajak yang melekat pada waktu
perolehan harga barang yang diekspor.

– Dalam hal impor : jumlah pajak yang dipungut sama dengan jumlah pajak yang
dikenakan atas barang yang diproduksi di dalam negeri pada tingkat harga yang sama,
karena itu menciptakan persaingan yang sehat untuk keuntungan konsumen.

4. Netral bagi pola konsumsi

Dalam sistem PPN yang mempunyai satu tarif untuk seluruh barang konsumsi
(kecuali bahan makanan yang belum diolah yang dibebaskan dari pengenaan pajak) tidak
akan memberikan pengaruh kepada pola konsumsi atas pembelanjaan barang hasil proses
produksi.

5. Menghindarkan penyelundupan pajak

PPN denga tarif tunggal 10% bagi pengusaha tentu sangat mudah melaksanakannya
dan bagi Direktorat Jenderal Pajak juga mempermudah dalam hal pengawasan dan
pemeriksaan apalagi setelah dipergunakannya komputer di lingkungan Ditjen Pajak,
bahkan dengan cara uji silang ( cross check) akan mudah melacak setiap bentum
penyelundupan pajak dan lebih siap dan cepat mengambil tindakan terhadap para
penyelundup pajak.

Karakteristik PPN

Dari uraian butir 1 dan 2 yang telah dikemukakan diatas, dapat diketahui adanya beberapa
karakteristik PPN yang berlaku di Indonesia yaitu :

1. Pajak merupakan pajak tidak langsung

Karakter ini membawa konsekuensi yuridis antara pemikul beban pajak (destinataris
pajak) dengan penanggung jawab pajak atas pembayaran pajak ke kas negara yang berada
pada pihak yang berbeda. Secara ekonomi beban pajaknya dialihkan ke pihak lain, yaitu
pihak yang akan mengonsumsi barang atau jasa yang menjadi objek pajak.

2. PPN merupakan pajak objektif

11
Yang dimaksud dengan pajak objektif adalah suatu jenis pajak yang saat timbulnya
kewajiban pajak ditentukan oleh faktor objektif yang dinamakan tatbestand, yaitu suatu
keadaan , peristiwa atau perbuatan hukum yang dapat dikenakan pajak, yang lebih lazim
disebut dengan objek pajak.

3. PPN merupakan multi stage tax

Karakteristik ini berarti bahwa yang dikenakan PPN ialah setiap mata rantai jalur
produksi maupun jalur distribusi. Tiap penyerahan barang yang menjadi objek PPN dari
tingkat pabrikan sampai pedagang besar dan pedagang eceran dikenakan PPN.

4. Pemungutan menggunakan faktur pajak

Berdasarkan faktur pajak ini, akan dihitung jumlah pajak yang terutang dalam sutu masa
pajak yang wajib disetor ke kas negara. Sedangkan pihak pembeli atau penerima jasa atau
importir, faktur pajak yang diterima merupakan bukt pembayaran pajak.

5. PPN merupakan pajak atas konsumsi di dalam negeri.

Setiap orang yang akan melakukan pengeluaran untuk konsumsi di dalam negeri, akan
dikenakan PPN, karena tujuan akhir PPN adalah penyerahan pajak atas konsumsi di
dalam negeri ( tax on consumption expenditure )

Objek Pajak PPN

Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas :

a. penyerahan Barang Kena Pajak di dalamDaerah Pabean yang dilakukan oleh Pengusaha.
(UU No 11 Tahun 1994)
b. impor Barang Kena Pajak. (UU No 11Tahun 1994)
c. penyerahan Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabeanyang dilakukan oleh Pengusaha. (UU
No 18 Tahun 2000)
d. pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujuddari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
Pabean. (UU No 11 Tahun 1994)
e. pemanfaatan Jasa Kena Pajak dariluar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean; atau (UU
No 11 Tahun 1994)

12
f. ekspor Barang Kena Pajak oleh PengusahaKena Pajak. (UU No 18 Tahun 2000)

Empat prinsip objek terkena PPN atau tidak terkena PPN yaitu :

1. Yang diserahkan adalah barang kena pajak / jasa kena pajak


2. Tindakan penyerahannya merupakan penyerahan kena pajak
3. Penyerahan di lakukan di daerah Pabean
4. Penyerahan dilakukan oleh pengusaha kena pajak ( penyerahannya dilakukan dalam
lingkungan perusahaan atau perusahaan sehari-hari pengusaha yang bersangkutan )

Objek PPnBM

PPnBM terutang hanya pada dua peristiwa yaitu pada saat impor BKP yang tergolong mewah
dan pada saat penyerahan BKP tergolong mewah oleh Pabrikan.

BKP yang tergolong mewah berarti :

a. barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok; atau


b. barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu; atau
c. pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat yang berpenghasilan tinggi;
atau
d. barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status; atau
e. apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat serta mengganggu
ketertiban masyarakat seperti minuman beralkohol.

Prinsip PPnBM

Pemungutannya hanya satu kali saja yaitu pada waktu impor BKP yang tergolong
mewah dan pada saat penyerahan BKP tergolong mewah oleh Pabrikan.

Tidak mengenal istilah Pajak Masukan, karena itu PPnBM yang telah dibayar tidak
dapat dikreditkan dengan PPnBM yang terutang.

PPnBM dapat ditambahkan ke dalam harga BKP yang bersangkutan (HPP) atau
dibebankan sebagai biaya sesuai dengan ketentuan UU PPh, artinya dapat dibebankan atau
disusutkan langsung.

13
14