Anda di halaman 1dari 180

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI DIAGNOSA LABORATORIK


yang dilaksanakan di
LABORATORIUM PARASITOLOGI VETERINER
FKH UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

Oleh :
Muhammad Alif Nur Mukhlisin, S. KH 170130100011051
Chandra Afyan Pratama, S. KH 170130100011053
Ridho Windarsyah, S. KH 170130100011063
Aziz Aninur Rahman, S. KH 170130100011092
Louise Emy Violetta, S. KH 170130100011020
Tsani Indah Kusuma, S. KH 170130100011021
Bekti Sri Utami, S. KH 170130100011022
Kinanthi Az Zahra, S. KH 170130100011023
Debora Ariyanti Wijaya, S. KH 170130100011034
Dhia Khoirunnisa, S. KH 170130100011035
Sylvia Dean Setiyolaras, S. KH 170130100011036
Monika Pradini, S. KH 170130100011044
Dinda Adinda, S. KH 170130100011045
Ema Eka Safitri, S. KH 170103100011046
Nela Dwi Octavia, S. KH 170130100011047
Venna Oktavia Anggraini, S. KH 170130100011048

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
KATA PENGANTAR

Ucapan syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
limpahan rahmat, hidayah dan pertolongan-Nya lah sehingga kami dapat
menyelesaikan kegiatan koasistensi diagnosa laboratoris dan laporan hasil
pengujian di Laboratorium Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Airlangga.
Kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam melaksanakan kegiatan koasistensi diagnosa laboratoris di
Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, para
dosen pengampu, laboran, serta teman sejawat PPDH yang telah bekerja sama
dengan baik dalam mengumpulkan sampel dan melaksanakan berbagai macam
pengujian.
Kami berharap semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas segala kebaikan
dan bantuan telah diberikan kepada kami selama melaksanakan koasistensi
diagnosa laboratoris di Laboratorium Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran
Hewan Universitas Airlangga. Kami sadar bahwa laporan ini jauh dari sempurna.
Kami berharap semoga laporan hasil pengujian koasistensi diagnosa laboratoris ini
dapat digunakan sebagaimana mestinya, dapat memberikan manfaat serta
menambah pengetahuan tidak hanya bagi kami tetapi juga bagi pembaca, Aamiin.

Surabaya, 7 September 2018

Mahasiswa PPDH Kel. 4


Gelombang X FKH UB

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................... i


Kata Pengantar .............................................................................................. ii
Daftar Isi ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 2
1.3 Tujuan .................................................................................................... 2
1.4 Manfaat .................................................................................................. 2
BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN ....................................................... 4
2.1 Tempat dan Waktu Kegiatan ................................................................. 4
2.2 Metode Kegiatan ................................................................................... 4
2.2.1 Prosedur Pemeriksaan Helminth.................................................... 4
2.2.2 Prosedur Pemeriksaan Arthropoda ................................................ 7
2.2.3 Prosedur Pemeriksaan Protozoa .................................................... 9
BAB III HASIL KEGIATAN........................................................................ 13
3.1 Hasil Pemeriksaan Feses ....................................................................... 13
3.2 Hasil Pewarnaan Semichen-Acetic Carmine ......................................... 20
3.3 Hasil Pemeriksaan Ulas Darah .............................................................. 21
3.4 Hasil Pengumpulan Sampel Arthropoda ............................................... 22
3.5 Hasil Nekropsi dan Bedah Saluran Pencernaan .................................... 23
BAB IV PEMBAHASAN............................................................................... 25
4.1 Helminth ................................................................................................ 25
4.1.1 Nematoda ....................................................................................... 25
4.1.2 Trematoda ...................................................................................... 67
4.1.3 Cestoda .......................................................................................... 83
4.2 Protozoa ................................................................................................. 90
4.2.1 Protozoa Darah .............................................................................. 90
4.2.2 Protozoa Saluran Pencernaan ........................................................ 105
4.3 Arthropoda............................................................................................. 122

iii
4.3.1 Kelas Insecta Ordo Diptera ............................................................ 122
4.3.2 Kelas Insecta Ordo Phthiraptera .................................................... 141
4.3.3 Kelas Insecta Ordo Siphonaptera................................................... 147
4.3.4 Kelas Arachnida Ordo Acariformes .............................................. 150
4.3.5 Kelas Arachnida Ordo Parasitiformes ........................................... 154
4.3.6 Arthropoda Lain............................................................................. 161
BAB V PENUTUP .......................................................................................... 165
5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 165
5.2 Saran ...................................................................................................... 166
Daftar Pustaka ................................................................................................ 167

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Parasit merupakan kelompok invertebrata yang dapat ditemukan dan
terdapat pada hewan-hewan yang berada dalam ruang lingkup ilmu kedokteran
hewan. Parasit hidup dengan cara mengambil sebagian atau hampir seluruh
makanan pada organisme yang menjadi inang dari parasit tersebut (Ballweber,
2001). Secara umum, berdasarkan tempat tinggal dari parasit di tubuh organisme
inang, maka parasit dapat dibedakan menjadi dua yakni endoparasit dan ektoparasit.
Parasit dapat menimbulkan banyak kerugian terhadap organisme inangnya,
diantaranya adalah sebagai agen transmisi dari suatu penyakit atau parasit lainnya,
dapat menimbulkan iritasi hingga kerusakan jaringan, munculnya gejala anemia,
malnutrisi, serta berpotensi dapat menular kepada manusia yang berhubungan
dengan organisme inang parasit tersebut (Foreyt, 2001).
Dalam bidang keilmuan kedokteran hewan, terdapat tiga sub bidang ilmu
dalam parasitologi yang wajib dipahami oleh para dokter hewan, yakni
helmintologi veteriner, entomologi veteriner dan protozoologi veteriner.
Helmintologi veteriner mencakup bangsa cacing yang bersifat parasit pada hewan
yang termasuk dalam filum Platyhelminthes dengan kelas trematoda dan
cestodanya serta filum Nemathelminthes dengan kelas nematodanya. Entomologi
veteriner mencakup filum arthropoda yang bersifat parasit pada hewan yang terbagi
dalam dua kelas besar, yakni kelas insecta yang bercirikan mempunyai 3 pasang
kaki serta kelas arachnida yang bercirikan mempunyai 4 pasang kaki. Pinjal, kutu
serta lalat dan nyamuk termasuk dalam kelas insecta, sedangkan caplak dan tungau
termasuk dalam kelas arachnida. Protozoologi veteriner mencakup kingdom
Protista yang bersifat parasit pada hewan yang kemudian berdasarkan tempat
predileksinya dalam tubuh organisme inang dapat dibedakan menjadi protozoa
darah dan protozoa jaringan (Taylor et al., 2007).
Dokter hewan dalam menjalankan tugasnya dalam menghadapi suatu
penyakit, tentu dapat menggunakan berbagai macam diagnosa penunjang sebagai

1
bahan pertimbangan untuk membantu penegakan diagnosa. Diantara beberapa
macam diagnosa penunjang yang dapat digunakan adalah diagnosa laboratoris
dalam ilmu parasitologi. Tentunya agar dapat menginterpretasikan hasil diagnosa
laboratoris parasitologi dan menggunakannya sebagai bahan untuk menegakkan
diagnosa, maka dokter hewan harus memiliki pemahaman yang baik dalam bidang
keilmuan parasitologi. Sehingga diharapkan mahasiswa PPDH FKH UB yang
sedang melaksanakan rotasi diagnosa laboratoris di Laboratorium Parasitologi
Veteriner FKH UNAIR, mampu mendiagnosa suatu penyakit berdasarkan temuan
klinis dan laboratoris serta menganalisa tindakan yang harus dilakukan pada kasus
penyakit parasiter.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja jenis-jenis parasit dan spesies nya yang sering ditemukan pada
hewan di Indonesia?
2. Bagaimana morfologi, siklus hidup, hospes dan predileksi dari parasit yang
sering ditemukan pada hewan di Indonesia?
3. Bagaimana patogenesa, pencegahan serta pengobatan dari penyakit yang
dapat ditimbulkan oleh parasit pada hewan?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa PPDH dapat mengetahui jenis parasit dan spesiesnya yang
sering ditemukan pada hewan di Indonesia.
2. Mahasiswa PPDH dapat mengetahui morfologi, siklus hidup, hospes dan
predileksi dari parasit yang sering ditemukan pada hewan di Indonesia.
3. Mahasiswa PPDH dapat mengetahui patogenesa, pencegahan serta
pengobatan dari penyakit yang ditimbulkan oleh parasit pada hewan.

1.4 Manfaat
Melalui koasistensi di Laboratorium Parasitologi Veteriner FKH UNAIR,
diharapkan mahasiswa PPDH FKH UB dapat mengidentifikasi dan menegakkan
diagnosa secara kausatif pada penyakit parasiter yang sering menyerang hewan di

2
wilayah Indonesia. Selain itu, mahasiswa PPDH juga diharapkan dapat memahami
proses pengambilan dan pengujian sampel dengan baik dan benar yang dilakukan
pada laboratorium parasitologi untuk mendapatkan hasil temuan laboratoris agar
dapat membantu menegakkan diagnosa dari suatu penyakit.

3
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN

2.1 Tempat dan Waktu Kegiatan


Pelaksanaan kegiatan Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Rotasi
Diagnosa Laboratoris Laboratorium Parasitologi dimulai pada tanggal 20 Agustus
2018 – 03 September 2018 yang bertempat di Laboratorium Parasitologi Veteriner
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga Surabaya.

2.2 Metode Kegiatan


2.2.1 Prosedur Pemeriksaan Helminth
2.2.1.1 Pemeriksaan Telur Cacing pada Feses
Feses diperiksa dalam kondisi masih segar atau dalam penyimpanan
formalin 10%. Metode pemeriksaan telur cacing pada feses meliputi:
a. Metode Natif (Suwanti dkk., 2011)
1. Dioleskan feses secukupnya pada object glass steril dengan lidi.
2. Diteteskan 1-2 tetes air pada feses tersebut, kemudian dicampur dengan lidi
atau ujung cover glass.
3. Ditutup dengan cover glass.
4. Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x.

b. Metode Sedimentasi (Sosiawati dkk., 2007)


1. Dibuat suspensi dengan satu bagian feses dan 10 bagian air, kemudian
disaring dengan saringan teh dan filtratnya ditampung dalam gelas plastik.
2. Dimasukkan dalam tabung, kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 1500
rpm selama 2-5 menit.
3. Dibuang supernatan (bagian jernih) lalu dimasukkan air kemudian
dilakukan sentrifugasi lagi hingga diperoleh supernatan yang jernih.
4. Dibuang supernatan, diambil sedimen dan dioleskan pada object glass
(diteteskan dengan pipet Pasteur).
5. Ditutup dengan cover glass.

4
6. Diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x.

c. Metode Apung (Suwanti dkk., 2011)


1. Dibuat suspensi feses dengan perbandingan 1 bagian feses dan 10 bagian
air.
2. Disaring dan filtrat dimasukkan tabung sentrifus
3. Disentrifugasi selama 2-5 menit dengan kecepatan 1500 rpm.
4. Hal ini diulang beberapa kali sampai supernatan jernih, pelarut dibuang dan
diganti larutan gula sampai 1 cm dari mulut tabung, lalu disentrifugasi
dengan cara yang sama.
5. Diletakkan tabung sentrifus pada rak tabung dan pelan-pelan ditetesi dengan
larutan gula jenuh sampai cairan terlihat cembung pada mulut tabung
sentrifus.
6. Diletakkan cover glass pelan-pelan di atas tabung sentrifus, dibiarkan 1-2
menit, kemudian diambil dan diletakkan di atas object glass, kemudian
diperiksa di bawah mikroskop.

2.2.1.2 Pemeriksaan Saluran Pencernaan Unggas (Sosiawati dkk., 2007)


1. Dipotong tiga saluran utama pada unggas yaitu, vena jugularis, esofagus,
dan trakhea.
2. Dibasahi tubuh unggas dengan air agar bulunya tidak berterbangan.
3. Kulit luar pada unggas digunting untuk dilakukan pembedahan.
4. Otot perut digunting pada linea mediana, kemudian dilanjutkan pada batas
costae kearah dexter dan sinister.
5. Costae dikuakkan pada perbatasan tulang rawan dan tulang keras.
6. Kemudian ditarik saluran pencernaan dari esofagus sampai ke cloaca yang
ujungnya telah diikat, kemudian dipisahkan menjadi tiap-tiap organ.
7. Dilakukan pembedahan pada masing-masing organ tersebut dengan
menggunakan alat-alat seksi (gunting, scalpel, dan pinset).
8. Dikeluarkan isi usus dan disayat bagian-bagian tertentu untuk menemukan
cacing.

5
9. Dilakukan kerokan (scraping) dengan scalpel untuk mencari kemungkinan
adanya skoleks cacing pita terutama bila terdapat keradangan atau mukosa
hiperemis.
10. Cacing yang ditemukan letakkan pada object glass dan diberi PZ. Cacing
yang ukurannya kecil dibuat preparat permanen (pewarnaan) dan yang besar
dimasukkan kedalam formalin 10%.
11. Diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 40x.
12. Identifikasi cacing: Cacing juga dapat dikoleksi dari saluran pencenaan
karnivora seperti anjing dan herbivora kecil seperti kambing dan domba.
Cara koleksi cacing pada hewan tersebut sama seperti tahapan-tahapan
diatas.

2.2.1.3 Metode Pembuatan Preparat Permanen (Pewarnaan Semichen - Acetic


Carmine) (Sosiawati dkk., 2007)
1. Dilakukan fiksasi cacing dengan menggunakan dua object glass, kemudian
kedua object glass diikat dengan tali rafia.
2. Object glass beserta cacing dimasukkan kedalam alkohol gliserin 5%
selama 24 jam.
3. Dilanjutkan dengan memasukkan kedalam alkohol 70% selama 5 menit.
4. Setelah itu, dipindahkan kedalam larutan Carmine yang sudah diencerkan,
dan diabiarkan selama ± 8 jam bergantung ketebalan kutikula cacing.
5. Kemudian cacing dilepas dari fiksasi (object glass) dan dimasukkan
kedalam alkohol asam selama 2 menit.
6. Dipindahkan cacing kedalam alkohol basa selama 20 menit.
7. Setelah itu dilakukan dehidrasi bertingkat dengan alkohol 70%, 85%, dan
95% masing-masing selama 5 menit.
8. Dilakukan mounting kedalam larutan Hung’s I selama 20 menit.
9. Kemudian cacing diambil dalam larutan Hung’s I, diletakkan pada object
glass yang dibersihkan dan diteteskan larutan Hung’s II secukupnya diatas
cacing, kemudian ditutup dengan cover glass.

6
10. Preparat permanen dikeringkan kedalam inkubator pada suhu 37 °C,
kemudian diletakkan pada suhu ruang untuk pendingin kemudian
identifikasi dibawah mikroskop.

2.2.2 Prosedur Pemeriksaan Arthropoda


2.2.2.1 Pengumpulan Sampel (Hastutiek dkk., 2014)
1. Pengumpulan lalat dan nyamuk:
Sampel lalat dan nyamuk ditangkap menggunakan jaring insekta dan
beberapa ditangkap langsung dengan tangan menggunakan kantong plastik,
lalu disimpan di botol air minum plastik berisi chloroform.
2. Pengumpulan kutu, pinjal dan caplak:
Kutu, pinjal, dan caplak didapatkan dengan menyisir dan menyibak
bulu dari hewan-hewan tersebut, kemudian diambil dengan menggunakan
pinset dan ditampung dalam wadah plastik yang diisi KOH 10%.
3. Pengumpulan tungau:
Sampel tungau diperoleh dari scraping kulit daun telinga hewan
yang terdapat keropengnya dikerok sampai berdarah kemudian hasil
kerokan dicampur KOH 10%.

2.2.2.2 Pengawetan Kering (Hastutiek dkk., 2014)


1. Pinning:
Pinning (penusukan tubuh serangga dengan pin) bertujuan untuk
mengawetkan serangga yang bertubuh keras. Serangga di-pin tegak lurus
melalui tubuhnya. Lalat di-pin pada bagian prothorax di daerah dexter dari
media tubuh serangga, sehingga tidak merusak pangkal-pangkal kaki.
Serangga yang sudah di-pin ditancapkan pada balok gabus. Setelah itu,
serangga dikeringkan di dalam inkubator 50-60 ºC selama 24 jam atau
langsung di bawah sinar matahari. Serangga siap disimpan pada kotak
penyimpanan serangga. Dalam kotak penyimpanan dibubuhi Naptalene atau
kapur barus untuk mencegah serangga dimakan serangga lainnya (semut).

7
2. Mengembangkan sayap (spreading)
Serangga yang bersayap sebelum di-pin dikembangkan terlebih
dahulu, kaki-kakinya dibentangkan supaya memudahkan untuk
mempelajarinya. Serangga yang kecil dapat diletakkan diatas ujung kertas
segitiga (berukuran panjang 8-10 mm dan lebar 3-4 mm) dan ditempel
menggunakan lem. Kertas segitiga itulah yang di-pin, bukan serangganya.
3. Labelling:
Label memberikan informasi mengenai tanggal dan lokasi spesimen
dan tambahan keterangan perlu dibubuhkan seperti nama kolektor dan
habitat serangga tersebut.

2.2.2.3 Pengawetan Basah (Hastutiek dkk., 2014)


a. Permanen Mounting tanpa Pewarnaan
1. Dimasukkan serangga (kutu, caplak, dan pinjal) kedalam tabung reaksi yang
berisi KOH 10%.
2. Dipanaskan selama 5–10 menit hingga serangga terlihat transparan.
3. Dehidrasi dengan direndam dalam alkohol konsentrasi yang semakin
meningkat 30%-50%-70%-95%-96% masing-masing selama 3-5 menit.
4. Direndam dalam larutan xylol selama 1 menit.
5. Mounting/melekatkan dengan Canada balsam.
6. Labelling dan identifikasi dibawah mikroskop dengan perbesaran 40-100x.

b. Permanen Mounting dengan Pewarnaan


1. Dimasukkan serangga (kutu, caplak, dan pinjal) kedalam tabung reaksi yang
berisi KOH 10%.
2. Dipanaskan selama 5 – 10 menit hingga serangga terlihat transparan.
3. Dicuci dengan aquadest sebanyak 2 kali.
4. Direndam dalam alkohol 95% selama 10 menit.
5. Direndam dalam acid fuchsin selama 30 menit.
6. Direndam dalam alkohol 95% selama 2 menit

8
7. Direndam dalam larutan alkohol 95% + xylol (sama banyak, 1:1) selama 5
menit.
8. Direndam dalam larutan xylol selama 1 menit.
9. Mounting/melekatkan dengan Canada balsam.
10. Labelling dan identifikasi dibawah mikroskop dengan perbesaran 40-100x.

2.2.3 Prosedur Pemeriksaan Protozoa


2.2.3.1 Prosedur Pemeriksaan Feses
Feses diperiksa dalam kondisi masih segar atau beberapa hari sebelumnya
diberi larutan kalium bikromat. Metode pemeriksaan protozoa pada feses meliputi:
a. Metode Sedimentasi (Sosiawati dkk., 2007)
1. Dibuat suspensi dengan satu bagian feses dan 10 bagian air, kemudian
disaring dengan saringan teh dan filtratnya ditampung dalam gelas plastik.
2. Dimasukkan dalam tabung, kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 1500
rpm selama 2-5 menit.
3. Dibuang supernatan (bagian jernih) lalu dimasukkan air kemudian
dilakukan sentrifugasi lagi hingga diperoleh supernatan yang jernih.
4. Dibuang supernatan, ambil sedimen dan dioleskan pada object glass
(teteskan dengan pipet Pasteur).
5. Ditutup dengan cover glass.
6. Diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x.

b. Pemeriksaan Apung (Suwanti dkk., 2011)


1. Dibuat suspensi feses dengan perbandingan 1 bagian feses dan 10 bagian air,
kemudian disaring dan filtrat dimasukkan tabung sentrifus.
2. Disentrifugasi selama 2-5 menit dengan kecepatan 1500 rpm. Hal ini
diulang beberapa kali sampai supernatan jernih, pelarut dibuang dan diganti
larutan gula sampai 1 cm dari mulut tabung, lalu disentrifugasi dengan cara
yang sama.

9
3. Diletakkan tabung sentrifus pada rak tabung dan pelan-pelan ditetesi dengan
larutan gula jenuh sampai cairan terlihat cembung pada mulut tabung
sentrifus.
4. Diletakkan cover glass pelan-pelan di atas tabung sentrifus, dibiarkan 1-2
menit, kemudian diambil dan diletakkan di atas object glass, kemudian
diperiksa di bawah mikroskop perbesaran 100x.

2.2.3.2 Teknik Pembuatan Ulas Darah (Suwanti dkk., 2011)


1. Disiapkan object glass (A) dan object glass pengulas (B) yang bersih.
2. Diteteskan satu tetes darah pada object glass A (pada bagian ujung).
3. Diambil object glass pengulas (B) dan diletakkan ujung object glass tersebut
pada tetesan darah sampai semua ujung object glass pengulas terbasahi
darah.
4. Dibuat sudut antara object glass (A) dan object glass pengulas (B) 30-40 °C.
Dengan gerakan kedepan yang cepat, diulaskan darah sehinga didapatkan
hasil ulasan yang semakin lama semakin tipis. Catatan: pada saat mengulas
tidak diperbolehkan berhenti ditengah ulasan dan darah habis sebelum ujung
object glass.
5. Keringkan hasil ulasan pada suhu kamar sehingga benar-benar kering.

2.2.3.3 Teknik Pewarnaan Giemsa pada Ulas Darah (Suwanti dkk., 2011).
1. Ulas darah tipis yang sudah kering dilanjutkan fiksasi dengan methanol
(methil alkohol absolut selama 3 menit).
2. Tanpa dikeringkan masukkan object glass pada larutan Giemsa 10-20%
selama 30 menit. Untuk usapan darah tebal langsung dimasukkan kedalam
pewarna Giemsa tanpa dilakukan fiksasi dengan methanol absolut.
3. Setelah 30 menit, diambil object glass dan dicuci dengan air mengalir (air
kran) dengan pelan-pelan sampai zat warna yang tersisa, hilang. Tidak
diperbolehkan menggosok hasil usapan darah.

10
4. Dikeringkan object glass dengan cara meletakkan object glass dengan posisi
berdiri pada bidang pengering pada suhu kamar. Pengeringan dapat
dipercepat dengan kipas angin.
5. Diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 400x-1000x. Untuk
pembesaran 1000x digunakan oil emersi.

2.2.3.4 Teknik Pembedahan Saluran Cerna Unggas untuk Scrapping dan


Gerusan Organ yang diduga Terdapat Protozoa
1. Sebelum dieuthanasi dilakukan swab pada kerongkongan unggas dengan
cotton bud yang sudah dibasahi dengan NS atau NaCl fisiologis, lalu
diletakkan hasil swab pada objek glass yang sudah ditetesi NS atau NaCl
fisiologis.
2. Dipotong tiga saluran utama pada unggas yaitu, vena jugularis, esofagus,
dan trakhea.
3. Dibasahi tubuh unggas dengan air agar bulunya tidak berterbangan.
4. Kulit luar pada unggas digunting untuk dilakukan pem bedahan.
5. Otot perut digunting pada linea mediana, kemudian dilanjutkan pada batas
costae kearah dexter dan sinister.
6. Costae dikuakkan pada perbatasan tulang rawan dan tulang keras.
7. Kemudian ditarik saluran pencernaan dari esofagus sampai ke cloaca yang
ujungnya telah diikat, kemudian dipisahkan menjadi tiap-tiap organ.
8. Dilakukan pembedahan pada masing-masing organ tersebut dengan
menggunakan alat-alat seksi (gunting, scalpel, dan pinset).
9. Dikeluarkan isi usus dan melakukan kerokan (scraping) dengan scalpel
terutama pada bagian yang mengalami radang atau perdarahan untuk
mencari kemungkinan adanya protozoa jaringan.
10. Dikoleksi hepar, limpa, paru-paru untuk melakukan gerusan organ.
Dipotong sebagian kecil organ yang terdapat lesi lalu diletakkan di dalam
mortar dihancurkan dengan perlahan lalu diberi air atau cairan normal saline,
lalu diteteskan cairan pada object glass dan ditutup dengan cover glass.

11
2.2.3.5 Metode Tekan Otak (Mufasirin dan Suwanti, 2008)
1. Pemeriksaan tekan otak dilakukan dengan cara mengambil sebagian kecil
otak dan diletakkan diatas object glass.
2. Otak kemudian ditutup dengan gelas penutup dan selanjutnya diletakkan
object glass yang lain yang diletakkan diatas gelas penutup sehingga
berimpitan dengan object glass pertama.
3. Penekanan menggunakan kedua ibu jari kedua tangan dan dilihat dibawah
mikroskop dengan perbesaran 400-1000x.

12
BAB III
HASIL KEGIATAN

3.1 Hasil Pemeriksaan Feses

Sampel Metode Pemeriksaan Sampel Feses


No Tanggal
Feses Natif Sedimen Apung
1 Sapi 19A2 21/08/2018 Moniezia benedini - -
2 Sapi 6B1G7 21/08/2018 - - -
3 Sapi 1C 21/08/2018 - - -
4 Sapi 2B1GR 21/08/2018 - - -
5 Sapi 9B1 21/08/2018 - - -
6 Sapi 4A1GR 21/08/2018 - - -
7 Sapi 2A1GR 21/08/2018 - - -
8 Sapi 12B1 21/08/2018 - - -
9 Sapi 11B2 21/08/2018 - - -
10 Sapi 14A2 21/08/2018 - - -
11 Babi 1 21/08/2018 - - -
12 Babi 2 21/08/2018 - - -
13 Lutung 1 21/08/2018 - - -
14 Domba 21/08/2018 - Eimeria sp. Ostertagia sp.
Oesophagustomum
sp
15 Sapi 6A2 23/08/2018 Balantidium coli - -
16 Sapi 12A1 23/08/2018 - Balantidium coli -
17 Sapi 14B1 23/08/2018 - Balantidium coli -
18 Sapi 12B1 23/08/2018 - Balantidium coli -
19 Sapi 15A1 23/08/2018 - Balantidium coli -
20 Sapi 5A1 23/08/2018 - - -

13
21 Sapi 20A1 23/08/2018 - - -
22 Sapi 21B2 23/08/2018 - - -
23 Sapi 3B1 23/08/2018 - - -
24 Sapi 44B1 23/08/2018 - - -
25 Anjing 1 23/08/2018 - - Ancylostoma
caninum
26 Anjing 2 23/08/2018 - Ancylostoma -
caninum
27 Kucing 1 23/08/2018 - - -
28 Kucing 2 23/08/2018 - - Eimeria sp.
29 Kucing 3 23/08/2018 - - -
30 Kelinci 23/08/2018 - - -
31 Tikus putih 23/08/2018 - - -
32 Kambing 23/08/2018 - - -
33 Babi 1 23/08/2018 Trichuris suis - -
34 Babi 2 23/08/2018 - Balantidium coli -
35 Babi 3 23/08/2018 - - -
36 Ayam 1 23/08/2018 Ascaridia galli Ascaridia galli -
37 Ayam 2 23/08/2018 Ascaridia galli Ascaridia galli -
38 Sapi 19A1 24/08/2018 - - -
39 Sapi 21B1 24/08/2018 - - -
40 Sapi 18A1P 24/08/2018 - - -
41 Sapi 20A1 24/08/2018 - - -
42 Sapi 4A2GR 24/08/2018 - - -
43 Sapi 10B2 24/08/2018 - - -
44 Sapi A2B1 24/08/2018 - - -
45 Sapi 13B1 24/08/2018 - - -
46 Sapi 11B1 24/08/2018 - - -

14
47 Sapi 13A1 24/08/2018 - - -
48 Ayam 1 24/08/2018 - - -
49 Ayam 2 24/08/2018 - - -
50 Kuda 1 24/08/2018 Ascaris equerum Strongylus vulgaris Strongylus vulgaris
Trichomena sp. Trichomena sp.
Dictyocaulus Gastrodiscus
amfieldi aegyptiacus
51 Kuda 2 24/08/2018 - - -
52 Kuda 3 24/08/2018 Triodontophorus - -
tenuicollis
53 Anjing 24/08/2018 Ancylostoma - Ancylostoma
caninum caninum
54 Sapi 7A2 27/08/2018 - - Trichuris globulosa
55 Sapi 20A2 27/08/2018 - - -
56 Sapi 17B1 27/08/2018 - Eimeria sp. Eimeria sp.
57 Sapi 20B2 27/08/2018 - - Blastocystis hominis
58 Sapi 19B2 27/08/2018 - - -
59 Sapi11A1g 27/08/2018 - Blastocytis hominis Bunostomum
M phlebotomum
60 Sapi 18A2P 27/08/2018 - - -
61 Sapi 8A1 27/08/2018 - Balantidium colli -
Blastocystis hominis
62 Ayam 1 27/08/2018 - Ascaridia galli -
63 Ayam 2 27/08/2018 - Heterakis gallinarum -
64 Ayam 3 27/08/2018 - - Heterakis
gallinarum
65 Ayam 4 27/08/2018 - - -
66 Ayam 5 27/08/2018 - -
67 Ayam 6 27/08/2018 - -

15
68 Kucing 1 27/08/2018 - Echinococcus -
granulosus
69 Kucing 2 27/08/2018 - - Paragonimus
kollicoti
70 Sapi 20A1 28/08/2018 - Eimeria sp. -
71 Sapi 1B2 28/08/2018 - - -
72 Sapi 10B1 28/08/2018 - - -
73 Sapi 13B1 28/08/2018 - - -
74 Sapi 16A1P 28/08/2018 - - -
75 Ayam 1 28/08/2018 - - -
76 Ayam 2 28/08/2018 Ascaridia galli Ascaridia galli Ascaridia galli
77 Ayam 3 28/08/2018 - - -
78 Ayam 4 28/08/2018 - - -
79 Merpati 1 28/08/2018 - - Capillaria sp.
80 Merpati 2 28/08/2018 - - -
81 Tikus hitam 28/08/2018 - - -
82 Tupai 28/08/2018 - - -
83 Kalkun 28/08/2018 - - -
84 Kelinci 28/08/2018 - - Passalurus
ambiguous
85 Iguana 28/08/2018 - - -
86 Monyet 28/08/2018 - - -
87 Burung beo 28/08/2018 - - -
88 Sapi 4B1GR 29/08/2018 - Chlonorchis sp. -
89 Sapi 7B1 29/08/2018 - - Bunostomum sp.
Trichostrongylus
90 Sapi 10B1 29/08/2018 - Toxocara vitulorum -
91 Sapi GR2C1 29/08/2018 Moniezia expansa - -
92 Sapi 4C1P 29/08/2018 Toxocara vitulorum - -

16
93 Sapi 4CA 29/08/2018 - - -
94 Sapi 12A1 29/08/2018 - Blastocystic hominis -
95 Sapi 9A1 29/08/2018 - Blastocystic hominis -
96 Sapi 11B2 29/08/2018 - - -
97 Sapi 17B2 29/08/2018 - - -
98 Sapi 1 29/08/2018 Balantidium coli Oesophagustomum -
sp.
99 Sapi 2 29/08/2018 - - Bunostomum sp.
100 Sapi 3 29/08/2018 - - Bunostomum sp.
101 Sapi 3D1GR 30/08/2018 - Blastocystic hominis Trichostrongylus sp.
102 Sapi P3A1 30/08/2018 - Blastocystic hominis Trichuris globulosa
103 Sapi P4D1P 30/08/2018 - Blastocystic hominis Blastocystic hominis
104 Sapi 2A1 30/08/2018 - Blastocystic hominis Blastocystic hominis
105 Sapi 1D1 30/08/2018 - Eimeria sp. Eimeria sp.
Toxocara vitulorum
106 Sapi 6A1GR 30/08/2018 - - -
107 Sapi 9B1 30/08/2018 - Eimeria sp. -
108 Sapi 7A1 30/08/2018 - - Bunostomum sp.
109 Sapi 5E1 30/08/2018 - - Toxocara vitulorum
110 Sapi 6B1 30/08/2018 - Blastocystic hominis Blastocystic hominis
Eimeria sp.
Haemonchus
contortus
Trichostrongylus sp.
111 Babi 1 30/08/2018 - - -
112 Babi 1 30/08/2018 - - -
113 Babi 3 30/08/2018 - - -
114 Kucing 1 30/08/2018 -- - -

17
115 Kucing 2 30/08/2018 - - -
116 Anjing 1 30/08/2018 - - -
117 Anjing 2 30/08/2018 - - -
118 Monyet 30/08/2018 - - -
119 Beruk 30/08/2018 - - -
120 Beruang 30/08/2018 - - -
121 Babi kutil 30/08/2018 - - -
122 Kasuari 30/08/2018 -- - Dispharynx sp.
123 Sapi 1A1 31/08/2018 - Balantidium coli Isospora sp.
Eimeria sp.
124 Sapi 11A1 31/08/2018 - Blastocystic hominis Blastocystic hominis
Eimeria sp.
125 Sapi 3C1Gr 31/08/2018 - Eimeria sp. Blastocystic hominis
126 Sapi 3BIP 31/08/2018 - - -
127 Sapi 5A1Gr 31/08/2018 Eimeria Blastocystic hominis -
Balantidium coli -
128 Sapi 7FH 31/08/2018 - - -
129 Sapi 6A1 31/08/2018 - - -
130 Sapi 6A2GR 31/08/2018 - - Eimeria sp
131 Sapi P4D1P 31/08/2018 - Eimeria sp.
132 Sapi 2A2 31/08/2018 - - Balantidium coli
133 Sapi 3A2P 31/08/2018 - - -
134 Sapi 10A2Gr 31/08/2018 - - -
135 Sapi 17A2Gr 31/08/2018 - - -
136 Sapi 13A2 31/08/2018 - - -
137 Sapi 9A2 31/08/2018 - - Eimeria sp.
Balantidium coli

18
138 Sapi 7C1 31/08/2018 - - Mecistocirus
digitatus
139 Sapi P5A 31/08/2018 - - -
140 Sapi 2B1 31/08/2018 - - Cystosoma bovis
141 Sapi 1B1 31/08/2018 - - -
142 Iguana 31/08/2018 - - -
143 Monyet 31/08/2018 - - -
144 Rusa 31/08/2018 - - -
145 Monyet 31/08/2018 - - -
146 Kelinci 1 31/08/2018 - - -
147 Kelinci 2 31/08/2018 - - Eimeria sp.
148 Kambing 1 31/08/2018 - Chabertia ovina -
149 Kambing 2 31/08/2018 - Strongyloides sp. Bunostomum sp.
Trichostrongylus sp. Haemoncus
contorcus
Oesophagustomum
sp.
Ostertagia sp.
Strongyloides
papillosus
Trichostrongylus sp.
150 Sapi 14A2G 03/09/2018 - - -
151 Sapi 5B2P 03/09/2018 - - Eimeria sp.
152 Sapi 2B2 03/09/2018 Balantidium coli - -
153 Sapi 1D2 03/09/2018 - - -
154 Sapi 5A2GR 03/09/2018 - - Balantidium coli
155 Sapi 1A2 03/09/2018 - - -
156 Sapi 19A1 03/09/2018 Eimeria sp. - -
157 Sapi 4A2GR 03/09/2018 - - Eimeria sp.

19
158 Sapi 3C2GR 03/09/2018 - - -
159 Sapi 14B2 03/09/2018 - - -
160 Sapi 15B2 03/09/2018 - - -
161 Sapi 3A2B 03/09/2018 - - -
162 Anoa 03/09/2018 - - -
163 Kijang 03/09/2018 - - Eimeria sp.
164 Watusi 03/09/2018 - Eimeria sp. Eimeria sp.
165 Jerapah 03/09/2018 - - -
167 Sitatunga 03/09/2018 - - -
168 Sapi 12B2 03/09/2018 Blastocystic hominis Eimeria sp.
Eimeria sp.
169 Sapi 13B2 03/09/2018 - - -
170 Sapi 11B2 03/09/2018 - - Blastocystis hominis
Haemonchus
contortus
171 Sapi 1C2 03/09/2018 - - -
172 Sapi 4C2P 03/09/2018 - - -
173 Sapi 4B1GR 03/09/2018 - Eimeria sp. Eimeria sp.

3.2 Hasil Pewarnaan Semichen-Acetic Carmine

Asal
No Tanggal Spesies
sampel

1 Sapi 21/08/2018 Fasciola sp.


2 Ayam 21/08/2018 Ascaridia galli
3 Anjing 21/08/2018 Dipylidium caninum
4 Merpati 28/08/2018 Railletina sp.
5 Tikus 28/08/2018 Moniliformis sp.
6 Anjing 28/08/2018 Dipylidium caninum

20
7 Sapi 29/08/2018 Paramphistomum sp.
8 Sapi 29/08/2018 Fasciola gigantica
9 Sapi 29/08/2018 Eurytrema pancreaticum
10 Sapi 29/08/2018 Haemonchus contorcus
11 Babi 29/08/2018 Ascaris suum
12 Sapi 29/08/2018 Moniezia expansa
13 Domba 29/08/2018 Trichuris ovis
14 Domba 29/08/2018 Gaergia sp.
15 Anjing 29/08/2018 Ancylostoma caninum

3.3 Hasil Pemeriksaan Ulas Darah

No Sampel Tanggal Hasil

1 Ayam 1 23/08/2018 -
2 Ayam 2 23/08/2018 -
3 Kalkun 23/08/2018 -
4 Sapi 23/08/2018 -
5 kambing 23/08/2018 -
6 Kucing 24/08/2018 -
7 Anjing mix 24/08/2018 -
8 Anjing 24/08/2018 Babesia sp.
Labrador
9 Sapi 1 24/08/2018 -
10 Sapi 2 24/08/2018 -
11 Sapi 3 24/08/2018 Anaplasma sp
12 Sapi 4 24/08/2018 Anaplasma sp.
Babesia sp.
13 Ayam 1 27/08/2018 -

21
14 Ayam 2 27/08/2018 -
14 Ayam 3 27/08/2018 -
16 Ayam 4 27/08/2018 -
17 Ayam 5 27/08/2018 -
18 Ayam 6 27/08/2018 -
19 Kucing 1 27/08/2018 -
20 Kucing 2 27/08/2018 -
21 Merpati 27/08/2018 Haemoproteus columbae
22 Ayam 1 28/08/2018 -
23 Ayam 2 28/08/2018 -
24 Tikus 28/08/2018 -
25 Ayam 29/08/2018 -
26 Ayam 2 29/08/2018 -
27 Ayam 3 29/08/2018 -
28 Ayam 4 29/08/2018 Plasmodium sp.
29 Ayam 03/09/2018 -

3.4 Hasil Pengumpulan Sampel Arthropoda

No Sampel Tanggal Hasil Ordo

1 Dari Lab 23/08/2018 Haemotomyzus elephantis


2 Dari Lab 23/08/2018 Pediculus corporis
3 Merpati 23/08/2018 Lipeurus caponis
Phithireptera
4 Merpati 23/08/2018 Columbicola sp.
5 Ayam 23/08/2018 Columbicola columbae
6 Kucing 24/08/2018 Felicola subrotatus
7 Kucing 24/08/2018 Ctenocephalides felis Siphonaptera
8 Ular 24/08/2018 Amblyomma sp. Arachnida

22
9 Anjing 24/08/2018 Riphicephalus canis
10 Anjing 24/08/2018 Ixodidae sp.
11 Ayam 24/08/2018 Dermanyssus gallinae
12 Merpati 24/08/2018 Dubiniia sp
Acarina
13 Kucing 27/08/2018 Sarcoptes scabei
Kutu beras 27/08/2018 Sitophilus oryzae
27/08/2018 Culex sp.
27/08/2018 Aedes sp.
27/08/2018 Stomoxys calsitrans
27/08/2018 Lucilia sp. jantan
27/08/2018 Pseudolyncyia sp.
Diptera
27/08/2018 Sarcophaga sp.
27/08/2018 Musca domestica
28/08/2018 Chrysomya sp.
28/08/2018 Culicoides sp.
Tabanus sp.

3.5 Hasil Nekropsi dan Bedah Saluran Pencernaan

No Sampel Tanggal Hasil

1 Saluran 23/08/2018 Ancylostoma caninum pada ileum


pencernaan
anjing
3 Saluran 23/08/2018 Trichuris ovis pada sekum
pencernaan
kambing
2 Merpati 27/08/2018 Trichomonas gallinae pada swab esophagus
3 Tikus 28/08/2018 Tekan otak: Negatif Toxoplasma gondii
Moniliformis sp. pada ileum

23
4 Ayam 03/09/2018 Ascaridia galli
Railletina sp.
Telur cacing Ascaridia galli pada scraping
jejenum

24
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Helminth
4.1.1 Nematoda
1. Oesophagostomum sp.
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Feses domba
Asal Sampel : Peternakan Karangploso, Malang
Tanggal Pengujian : 21 Agustus 2018
Media Pengawetan : Formalin 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Ordo : Strongylida
Famili : Trichonematidae
Genus : Oesophagostomum
Spesies : O. Venolosum
O. Columbinatum
O. Radiatum
O. Dentatum (Soulsby, 1986)
Oesophagostomum sp. adalah parasit yang terdapat pada saluran pencernaan
yaitu kolon dan sekum (Nematoda gastrointestinal), cacing ini disebut cacing
bungkul (Nodular Worm) karena larvanya dapat membentuk bungkul dipermukaan
dinding usus halus maupun usus besar. Panjang cacing jantan sekitar 12-16,5 mm,
sedangkan cacing betina 15-21,5 mm dengan diameter 0,45 mm. Bagian rongga
mulut (buccal capsul) tergolong relative dangkal dan bagian anterior lebih besar
dari pada posterior. Sedangkan pada bagian antrior terdapat cervical groove yang
melebar bagian ventral sampai lateral. Dibelakang cervical groove terdapat cervical
pappilae. Oesophagostomum sp. jantan memiliki bursa copulatrix yang tumbuh
sempurna dengan sepasang spikula, sedangkan pada betina memiliki ekor yang

25
meruncing. Telur mempunyai lapisan tipis dan keluar bersama feses. Telur
berbentuk oval dan sudah mengandung 6-8 sel (segmen) (Kusnoto dkk., 2014).

Telur Oesophagostomum sp. pada feses domba (dokumentasi pribadi, 2018)


c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari cacing Oesophagostomum sp. yakni sapi, kambing, domba dan
babi. Cacing Oesophagostomum berpredileksi di colon dan sekum hospes.
d. Siklus Hidup
Cacing dewasa yang berada di usus hospes akan menghasilkan telur dan
dikeluarkan bersama feses. Telur akan menetas dalam waktu 4-20 jam dan
berkembang menjadi larva stadium 2. Kemudian menjadi infektif (larva stadium 3)
pada suhu 10-25ºC selam 6-7 hari. Hewan tertular melalui pakan yang mengandung
larva infektif. Larva masuk menembus mukosa usus halus dan usus besar dan
membentuk kapsul dan larva menjadi stadium 4 dan hidup didalam kista.
Selanjutnya sebagian larva tetap berkembang didalam kista dan akan mengalami
demineralisasi, sebagiannya lagi keluar dari kista masuk kedalam lumen sekum dan
kolon, berkembang menjadi larva stadium 5. Kemudian berkembang dan menempel
pada mukosa sekum dan kolon menjadi dewasa. Telur akan dikeluarkan bersama
feses inang dalam waktu 41 hari setelah infeksi (Sri subekti dkk., 2011).
e. Patogenesa
Larva yang berada didalam tubuh hospes nantinya akan masuk ke
submucosa dan mengadakan penetrasi pada lamina propria usus sehingga
menyebabkan rada disekeliling larva. Peradangan ini mengakibatkan penumpukan
eosinophil, limfosit, makrofag, dan giant cell, foreign body mengelilingi larva
sehingga terbentuk nodul. Pada tengah nodul terdapat pengejuan dan pengapuran

26
serta luarnya terbentuk kapsul oleh fibroblas. Larva mampu bertahan didalam nodul
selama 3 bulan dan bila nodul mengalami pengejuan dan pengapuran maka larva
akan mati sehingga cacing yang ditemukan hanya sedikit (Sri subekti dkk., 2011).
f. Gejala Klinis
Gejala klinis yang terlihat apabila hewan terinfeksi Oesophagostomum
radiatum yakni adanya nodul di rongga peritoneum. Bila nodul dalam jumlah
banyak dan pecah maka eksudat akan masuk ke dalam rongga peritoneum sehingga
menimbulkan peritonitis. Hewan terinfeksi juga akan mengalami diare yang terjadi
selama 6 hari setelah terinfeksi dan bersamaan dengan larva meninggalkan nodul.
Pada keadaan kronis, diare profus menyebabkan dehidrasi, kulit kering, tubuh
bagian belakang membungkuk kaku dan kotor, konstipasi karena jumlah cacing
yang banyak, nafsu makan menurun, berat badan menurun, dan dapat menyebabkan
kematian (Kusnoto dkk., 2014).
g. Terapi
Terapi yang dapat diberikan pada hewan yang terinfeksi cacing
Oesophagostomum sp. yakni dengan memberikan Phenothiazine dengan dosis 600-
700 mg/kg BB, Albendazole 5 mg/kg BB atau Piperazine 125 mg/kg BB.
Pencegahannya hewan harus dikandangkan dan jangan dibiarkan merumput bebas
di alam liar. Selain itu kontrol penggunaan tanah sekitar kandang agar rumput yang
tumbuh terhindar dari infestasi larva cacing.

2. Ancylostoma caninum
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Feses anjing
Asal Sampel : Bhaskar Tengah, Surabaya
Tanggal Pengujian : 23 Agustus 2018
Media pengawet : Formalin 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Ordo : Strongylida

27
Famili : Ancylostomatoidae
Genus : Ancylostoma
Spesies : Ancylostoma Caninum
Ancylostoma caninum memiliki 3 pasang gigi. Panjang cacing jantan
dewasa berukuran 11-13 mm dengan bursa kopulatriks dan cacing betina dewasa
berukuran 14-21 mm. cacing betina meletakkan rata-rata 16.000 telur setiap harinya.
Menurut Bendryman dkk. (2013), Ancylostoma caninum berwarna abu-abu atau
kemerah-merahan karena berisi darah hospes. Oral apetura membuka kea rah antero
dorsal dan dilengkapi dengan 3 buah gigi pada tiap sisi di bagian ventral. Pada dasar
buccal capsul terrdapat sepasang gigi dorsal yang berbentuk segitiga (triangula) dan
sepasang gigi ventro lateral. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik dengan 2
spikula sama panjang. Vulva terletak pada ± 2/3 bagian tubuh sebelah anterior.
Telur berbetnuk bulat lonjong, berukuran 56-75 x 34-47 µm. Pada waktu
dikeluarkan, telur mengandung embrio yang terdiri dari 8-16 sel.

Telur Ancylostoma caninum (dokumentasi pribadi 2018)


c. Hospes dan Predileksi
Ancylostoma caninum merupakan cacing dari kelas nematoda yang
berpredileksi pada usus halus anjing, serigala, rubah, kucing dan terkadang pada
manusia (Bendryman dkk., 2013).
d. Siklus Hidup
Siklus hidup cacing Ancylostoma sp. tanpa hospes antara adalah telur
menetas (di luar tubuh hospes). Fase di luar tubuh hospes di mulai saat keluarnya
telur cacing dari tubuh hospes bersama feses. Telur ini akan menjadi infektif dan
larva di dalam telur berkembang menjadi larva stadium 1 (Ll) (Samosir, 2008).

28
Larva membutuhkan waktu 58 – 66 jam untuk mencapai stadium infektif pada suhu
30°C atau 9 hari pada suhu 18°C. Telur keluar bersama feses 15 – 18 hari setelah
infeksi pada anjing muda dan 15 – 26 hari pada anjing yang lebih tua. Larva stadium
1 (Ll) ini akan tumbuh dan melepaskan selubung tubuh (molting) yang kemudian
berkembang menjadi larva stadium 2 (L2). Larva ini akan berkembang dan molting
kembali membentuk larva stadium 3 (L3). Stadium 3 (L3) ini disebut juga stadium
larva infektif karena jika L3 termakan oleh hospes definitif maka larva ini akan
berkembang menjadi cacing dewasa. Larva infektif ini mempunyai selubung
kutikula ganda yang berfungsi sebagai perlindungan tubuh dari pengaruh
lingkungan yang tidak menguntungkan seperti kekeringan (Samosir, 2008).
e. Patogenesa
Cara penularan infeksi cacing Ancylostoma sp. ini tidak lepas dari tiga hal
yaitu host, agen dan lingkungan. Infeksi terjadi apabila terdapat larva infektif
Ancylostoma sp. sebagai sumber infeksi dan tersedianya inang yang peka pada
suatu tempat dan kondisi lingkungan yang menyebabkan kontak antara keduanya.
Kucing yang hidup di daerah kotor dan lembab mempunyai resiko terkena penyakit
yang lebih besar, karena lingkungan yang kotor merupakan tempat yang cocok
untuk berkembangnya bentuk infektif dari cacing Ancylostoma sp. Larva dapat
masuk ke tubuh kucing melalui dua cara yaitu lewat oral dan kulit. Pada infeksi per
oral, larva masuk bersamaan dengan makanan, sedangkan pada infeksi melalui kulit
larva masuk dengan cara menembus kulit ataupun membrane mukosa mulut
(Kusnoto dkk.,2014).
f. Gejala Klinis
Gejala klinis infeksi ankilostomiosis adalah diare berdarah. Cacing dewasa
menghisap darah sebanyak 0,1 – 0,8 ml setiap hari. Kucing mulai kehilangan darah
pada 10 – 25 hari pasca infeksi, tetapi paling banyak terjadi pada 10 – 15 hari pasca
infeksi, oleh karena itu kucing akan menderita anemia, hipoproteinemia,
malabsorbsi usus serta penurunan kekebalan tubuh. Bahaya yang akan timbul pada
kucing adalah badan yang kurus dan kadang disertai muntah. Hal yang lebih parah
bisa terjadi apabila diikuti oleh infeksi sekunder (Kusumamihardja, 1992).

29
g. Terapi
Beberapa pengobatan yang dapat diberikan untuk mengatasi investasi
cacing Ancilostoma caninum yaitu, mebendazole (veromox) per-oral dengan dosis
40 mg/kg, albendazole (Albenza) dengan dosis dewasa 400 mg per-oral selama 3
hari atau 200 mg per oral selama 5, Thiabendazole dengan dosis 25-50 mg/kg/hari
per-oral dibagi setiap 12 jam selama 2-5 hari dan dosis untuk anak anjing tidak lebih
dari 3 gr/hari, Febendazole dengan dosis 30 mg/kg, dan Pyrantel pamoat dengan
dosis 10 mg/kg per-oral (Bendryman dkk., 2013).

3. Ostertagia ostertagi
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Feses domba
Asal Sampe l : peternakan Karangploso, Malang
Tanggal Pengujian : 21 Agustus 2018
Media Pengawetan : Formalin 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Secernentea
Ordo : Strongylida
Familia : Trichostrongylidae
Genus : Ostertagia
Spesies : Ostertagia ostertagi
Cacing ini merupakan cacing lambung, berukuran sedang pada ruminansia
sapi, domba, dan ruminansia lain di seluruh dunia. Ostertagia ostertagi biasanya
tersebar di Amerika Utara dan daerah yang lain dengan iklim dingin dan lembab.
Ukuran cacing dewasa O. ostertagi dengan panjang jantan 6-8 mm dan panjang
betina 8-10 mm dengan ukuran telur 74-90 x 38-44 mikron, sedangkan ukuran
cacing dewasa O. bisonis dengan panjang jantan 6 mm dan betina 7 mm dengan
ukuran telur 67-77 x 45-48 mikron, dengan bentuk telur elips dan memiliki 8
blastomer (Fox, 2014).

30
Telur Ostertagia ostertagi pada domba (dokumentasi pribadi, 2008)
c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari cacing Ostertagia ostertagi yakni sapi, domba dan ruminansia
lain. Cacing Ostertagia ostertagi berpredileksi di abomasum hospes.
d. Siklus Hidup
Telur terdapat dalam tinja dan biasanya menetas di tanah. Larva stadium
pertama (L1) menetas dari telur dan hidup dari mikroorganisme yang terdapat
dalam tinja, L1 berkembang menjadi larva stadium dua (L2) yang masih hidup dari
mikroorganisme dan kemudian menjadi larva stadium tiga (L3) yang terselubung
dalam kutikula. Larva stadium tiga (L3) bersifat infektif, berpindah menuju
tumbuhan atau rumput dan dapat menginfeksi inang melalui tertelannya L3 saat
inang merumput. L3 yang tertelan menuju saluran pencernaan inang kemudian
melepaskan selubung kutikulanya dan berkembang menjadi larva stadium empat
(L4) hingga menjadi cacing dewasa (Levine, 1990). Dalam siklus hidupnya cacing
famili Trichostrongylidae mengalami dua fase penting, yaitu:
1. Fase pre-parasitik
Fase pre-parasitik dalam perkembangan cacing famili Trichostrongylidae
merupakan perkembangan keseluruhan larva stadium bebas (free-living). Telur
keluar bersama tinja dari inang yang terinfeksi. Telur yang berisi embrio menetas
pada suhu dan kelembaban optimum (22—26°C dan kelembapan mendekati 100%)
dan berkembang menjadi L1, akan berkembang menjadi L2, keduanya
mendapatkan makanan dari mikroorganisme dalam tinja termasuk bakteri tanah,
kemudian berkembang menjadi L3 yang tidak makan lagi dan hanya menggunakan
cadangan energi dalam tubuhnya karena terselubung kutikula. Johnstone (2000)

31
mengemukakan bahwa L3 mempertahankan diri dengan menggunakan nutrisi siap
pakai yang disimpan dari hasil aktifitas makan pada tahap L1 dan L2.
Perkembangan keseluruhan fase preparasitik dari telur menjadi L3 dipengaruhi oleh
temperatur dan kelembaban. Suhu yang lebih tinggi dari suhu optimal tingkat
perkembangannya akan lebih cepat, metabolisme meningkat, cadangan nutrisi L3
akan cepat habis dan menyebabkan kematian larva, kecuali bila L3 yang bersifat
infektif segera menemukan dan menginfeksi inang. Sebaliknya pada suhu rendah,
perkembangan telur sampai L3 akan lambat dan aktifitas metabolisme menurun.
Pada temperatur di bawah 10° C perkembangan larva, pergerakan dan metabolisme
menjadi minimal (Johnstone, 2000). Pada suhu di bawah 5°C larva sangat rendah
mobilitasnya, penggunaan energi lebih efisien, cadangan nutrisi sedikit sekali yang
dimetabolisme sehingga larva dapat bertahan hidup lebih lama. Sifat ini yang sering
digunakan dalam preservasi larva di Laboratorium.
2. Fase parasitik
Stadium infektif larva Trichostrongylidae adalah L3 yang masih
terselubung kutikula. L3 masuk ke saluran pencernaan inang melalui tertelannya
L3 saat ternak merumput. Setelah dalam saluran pencernaan, L3 melakukan
pelepasan selubung kutikula (exsheathment). Tempat melakukan pelepasan
selubung dapat berbeda-bedaantar spesies, biasanya terjadi pada bagian proksimal
tempat predileksi. Contoh: Haemonchus sp. dan Mecistocirrus sp. mempunyai
tempat predileksi di abomasum sehingga pelepasan selubung kutikula terjadi di
rumen. Cooperia sp., Oesophagustomum sp., Ascaris sp., Trichostrongylus sp., dan
Nematodirus sp., tempat predileksinya di usus halus dan melepaskan selubung
kutikula di abomasum. Setelah pelepasan selubung kutikula maka L3 bergerak
menuju tempat predileksi menginfeksi inang hingga menjadi dewasa (L3—L4
dewasa). Dalam siklus seksualnya, cacing betina dewasa akan bertelur pada ± 2—
3 minggu setelah infeksi. Periode waktu dan terjadinya infeksi hingga menjadi
dewasa dan mengeluarkan telur disebut periode prepaten (prepaten period).
e. Patogenesa
Periode prepaten O ostertagi biasanya 3 minggu. Larva yang dicerna
memasuki lumen kelenjar abomasal dan meranggas pada hari keempat. Larva

32
tersebut akan berada didalam abomasum dan muncul sebagai cacing dewasa muda
dari kelenjar lambung ke mukosa abomasal. Selama waktu ini, sel-sel khusus (sel-
sel zymogen yang memproduksi pepsinogen, sel-sel parietal penghasil asam) yang
melapisi kelenjar-kelenjar parasit akan hilang dan digantikan oleh sel-sel kuboid
yang hiperplastik dan tak berdiferensiasi. Ketika cacing dewasa mulai muncul dan
jumlahnya terus berkembang akan mengakibatkan meningkatnya PH abomasum
sehingga akan menyebabkan anoreksia gangguan pencernaan dan penurunan beraqt
badan (Fox, 2014).
f. Gejala Kinis
Kerugian yang ditimbulkan oleh cacing-cacing gastrointestinal secara
umum mengganggu sistem pencernaan, menyebabkan diare, enteritis (inflamasi
usus), pendarahan, gastritis, anemia akibat pecahnya pembuluh darah pada usus,
penurunan berat badan yang drastis, dan dehidrasi (Bassetto dkk., 2001).
g. Terapi
Kontrol terhadap parasit gastrointestinal pada ternak umumnya
menggunakan obat anti cacing (antihelminth) berspektrum luas. Beberapa contoh
antihelminth berspektrum luas adalah makrosiklik lakton (avermectin/AVM dan
milbemycins/ML) dan benzimidazole (BZD). Ivermectin (IVM), anggota
antihelminth dari kelas makrosiklik lakton, berspektrum luas dalam melawan
nematoda gastrointestinal dan ektoparasit (Campbell et al., 1983).

4. Trichuris suis
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Feses babi
Asal sampel : Sengkaling, Malang
Tanggal Pengujian : 23 Agustus 2018
Media pengawetan : Formalin 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Cacing Trichuris suis Disebut juga cacing cambuk (Whip Worm) karena
tubuh bagian anterior panjang dan langsing, sedangkan bagian posterior lebih

33
gemuk. Habitatnya pada sekum babi (Kusnoto dkk., 2014). Cacing ini oleh Soulsby
(1986) diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum : Nematoda
Kelas : Adenophorea
Ordo : Trichurida
Famili : Trichuridae
Genus : Trichuris
Spesies Hospes
T. ovis Sapi, domba, kambing
T. globulosa Sapi, domba, kambing, unta
T. vulpis Anjing
T. suis Babi

Cacing dewasa menyerupai cambuk sehingga disebut sebagai cacing


cambuk. Tiga perlima bagian anterior tubuh halus seperti benang, pada ujungnya
terdapat kepala (trix = rambut, aura = ekor, cephalus = kepala), esofagus sempit
berdinding tipis terdiri dari satu lapis sel, tidak memiliki bulbus esofagus, bagian
anterior yang halus ini akan menancapkan dirinya pada mukosa usus, 2/5 bagian
posterior lebih tebal, berisi usus dan perangkat kelamin. Cacing jantan memiliki
panjang 30 - 45mm, bagian posterior melengkung ke depan sehingga membentuk
satu lingkaran penuh. Pada bagian posterior ini terdapat satu spikulum yang
menonjol keluar melalui selaput retraksi. Cacing betina panjangnya 30 - 50 mm,
ujung posterior tubuhnya membulat tumpul. Panjang spicule adalah 4.18-5.62 mm
untuk kedua jenis kelamin. Kedua jenis kelamin juga memiliki band basiler.
Telur berukuran 50x25 mm, memiliki bentuk seperti tempayan pada kedua
kutubnya terdapat operkulum, yaitu semacam penutup yang jernih dan menonjol.
Dindingnya terdiri atas dua lapis bagian dalam jernih dan bagian luar kecokelatan.
Pada ujung-ujung bentukan kerang berfungsi untuk melindungi telur dalam kondisi
yang tidak menguntungkan seperti kotoran kasar dan lingkungan asam dari usus
kecil.

34
Telur cacing Trichuris suis (Sumber: Dewi, 2007)

Telur cacing Trichuris suis perbesaran 100x (kiri) dan 400x (kanan) (dokumentasi
pribadi, 2018)
c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari cacing Trichuris suis yakni pada babi. Cacing Trichuris suis
berpredileksi di sekum hospes.
d. Siklus Hidup
Trichuris suis memiliki siklus hidup yang sama seperti cacing cambuk pada
umumnya. Telur Trichuris suis yang tercerna oleh host akhirnya mencapai
duodenum dari usus kecil, di mana telur akhirnya menetas. Larva dari telur
Trichuris sp berjalanan ke sekum usus besar. Selama kurang lebih empat minggu,
cacing makan pada pembuluh darah yang terletak di dalam sekum. Akhirnya,
cacing meninggalkan sekum dan mulai meletakkan ribuan telur. Telur kemudian
dilepaskan dari hospes melalui tinja. Proses dari telur rilis ini memakan waktu
sekitar dua belas minggu. Telur dirilis menjadi berembrio di sekitar sembilan
sampai dua puluh satu hari dan akhirnya tertelan oleh host lain.

35
Telur cacing Trichuris suis memiliki tebal berbentuk seperti kerang
berwarna kuning muda. Pada ujung-ujung bentukan kerang berfungsi untuk
melindungi telur dalam kondisi yang tidak menguntungkan seperti kotoran kasar
dan lingkungan asam dari usus kecil. Telur Trichuris suis ditutupi oleh membran
vitelline. Ketika telur Trichuris suis keluar pertama terdiri hanya dari butiran
kuning. Selama periode 72 jam, telur mengalami pembelahan mitosis menjadi dua
blastomer yang dipisahkan oleh pembelahan melintang. Dua perpecahan tambahan
terjadi dalam setidaknya 96 jam sehingga telur terdiri dari empat sel dan terus
berkembang menjadi tahap morula tercapai dalam minggu. Setelah total 21-22 hari,
larva menjadi sepenuhnya dikembangkan dan tidak akan menetas sampai dicerna
oleh hospes. larva dapat hidup untuk total 6 bulan tanpa bantuan dari sebuah host.
e. Patogenesa
Pada beberapa infeksi seringkali tanpa disertai dengan gejala klinis. Pada
infeksi dengan jumlah cacing yang sangat banyak barulah terjadi gejala klinis
berupa hemoragi kolitis atau diphtheritic inflammation pada mukosa sekum. Pada
daerah sub epitel ditemukan pendarahan diikuti dengan adanya hemoragi, dan
edema mukosa sekum apabila jumlah infestasi cacing dalam jumlah besar. Hal ini
terjadi akibat cacing akan menempel kuat pada mukosa sekum dan menghisap darah
untuk tumbuh menjadi cacing dewasa (Taylor dan Wall, 2016).
f. Gejala Klinis
Gejala klinis pada hewan yang terinfeksi oleh cacing Trichuris suis akan
menyebabkan diare hemoragi encer, anemia, dan dapa menyebabkan penurunan
berat badan, kelemahan, dangguan pertumbuhan, dan kematian apabila infestasi
cacing terlalu banyak (Bendryman dkk., 2013).
g. Terapi
Obat untuk trichuriasis adalah mebendazole, dosis tunggal 500 mg dapat
memberikan tingkat kesembuhan dari 40% – 75%. Obat alternatif dari mebendazole
adalah albendazole, tetapi khasiat obat ini sedikit lebih rendah daripada
mebendazole. Suplemen zat besi juga diperlukan jika hewan yang terinfeksi
mengalami anemia.

36
5. Ascaris suum
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Feses
Hewan : Babi
Asal sampel : Peternakan Dau, Malang
Tanggal pengambilan : 24 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 24 Agustus 2018
Media pengawet : Formalin 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Famili Ascarididae merupakan Nematoda yang berukuran paling besar,
beberapa spesies di antaranya dapat mencapai panjang 45 cm atau lebih. Cacing
jantan memiliki panjang 15 – 30 cm dan diameter 2 – 4 mm pada bagian tubuh yang
paling lebar. Mempunyai 3 bibir pada ujung anterior kepala dan mempunyai gigi-
gigi kecil atau dentikel di pinggirnya. Cacing jantan mempunyai 2 buah spikulum
yang dapat keluar dari kloaka. Cacing betina memiliki panjang 20 – 49 cm dan
diameter 3 – 6 mm. Memiliki vulva pada sepertiga anterior panjang tubuh dan
ovarium yang luas. Uterusnya dapat berisi sampai 27 juta telur pada satu waktu,
dengan 200.000 butir telur yang dapat dihasilkannya setiap hari (Roberts dan
Janovy, 2005).
Terdapat 2 macam telur yang dihasilkan, yaitu telur yang dibuahi dan telur
yang tidak dibuahi. Telur yang dibuahi dihasilkan oleh cacing betina setelah
kopulasi, dan jumlahnya sekitar 200.000 per hari, sedangkan telur yang tidak
dibuahi dihasilkan oleh betina yang tidak berkopulasi dengan jantan. Telur yang
dibuahi berbentuk oval pendek dengan panjang 50-70 μm dan lebar 40-50μm.
Lapisan terluar berupa protein, dan lapisan di bagian dalamnya dapat dibedakan
menjadi kulit telur yang transparan dan membran vitelinus yang bergelombang.
Telur yang terdapat pada feses biasanya berwarna kuning kecoklatan, karena
lapisan protein menyerap zat warna empedu. Terkadang, jika telur kehilangan
lapisan proteinnya, identifikasi terhadap telur cacing menjadi lebih sulit. Hal ini
disebabkan karena lapisan protein tersebut tidak berwarna, sehingga jika lapisan
proteinnya hilang, maka telur cacing tersebut menjadi tidak berwarna . Telur yang

37
tidak dibuahi lebih bervariasi dalam bentuk dan ukuran, dengan panjang 60-100 μm
dan lebar 40-60 μm. Memiliki lapisan protein dan kulit telur yng lebih tipis, dan
berisi granula-granula dengan berbagai ukuran (Miyazaki, 1991).

Telur cacing Ascacris suum perbesaran 400x, (dokumentasi pribadi, 2018)


c. Hospes dan Predileksi
Ascaris suum berpredileksi pada usus halus babi.
d. Siklus Hidup
Siklus hidup Ascaris suum terdiri dari 2 fase perkembangan, yaitu eksternal
dan internal. Fase eksternal dimulai dari sejak telur dikeluarkan dari tubuh penderita
bersama tinja. Pada kondisi lingkungan yang menunjang larva stadium 1 di alam
akan menyilih menjadi larva stadium 2 yang bersifat infektif (siap menulari ternak
babi jika tertelan). Pada fase internal di dalam usus, kulit telur infektif yang tertelan
akan rusak sehingga larva terbebas (larva stadium II). Larva stadium II tersebut
selanjutnya menembus mukosa usus dan bersama sirkulasi darah vena porta menuju
ke hati. Dari telur tertelan sampai larva mencapai organ hati, butuh waktu sekitar
24 jam (Smith, 1968). Dari hati, larva stadium II akan terus mengikuti sirkulasi
darah sampai ke organ jantung dan paru-paru. Setelah 4 – 5 hari infeksi, larva
stadium II akan mengalami perkembangan menjadi larva stadium III, selanjutnya
menuju ke alveoli, bronkus dan trakhea (Soulsby, 1982). Dari trakea, larva menuju
ke saluran pencernaan. Larva stadium III mencapai usus halus dalam waktu 7 – 8
hari dari infeksi, selanjutnya menjadi larva stadium IV, pada hari ke 21-29 larva
stadium IV menjadi larva stadium V di dalam usus halus dan selanjutnya pada hari
ke 50 – 55 telah menjadi cacing dewasa. Satu ekor cacing betina dewasa rata-rata

38
bertelur 200.000 butir per hari dan selama hidupnya diduga dapat bertelur 23 milyar
butir (Dunn, 1978).
e. Patogenesa
Patogenesa dari ascariasis tergantung dari tingkat infeksi, dan umumnya
hewan muda lebih peka dibanding hewan dewasa. Lesi-lesi pada usus akibat adanya
migrasi pada stadium larva dan terjadi enteritis haemorhagika, berlanjut menjadi
anemi. Pada hati larva stadium 2 dapat menyebabkan perdarahan pada hati yang
terjadi disekeliling vena intra lobuler dari hati dan berlanjut menimbulkan cirosis
hepatis dan kadang kadang dapat menyumbat saluran empedu. Larva stadium 2
yang bermigrasi ke dalam hati dan usaha penyerapan oleh jaringan hati terhadap
larva yang mati akan meninggalkan jejas berwarna putih dibawah kapsul hati. Di
paru-paru larva stadium 2 menyebabkan fibrosis, bronchitis dan pnemonia,
sehingga terjadi batuk dan sesak nafas. Migrasi larva cacing juga dapat
menyebabkan perforasi usus halus sehingga cacing dapat merusak peritonium yang
mengakibatkan terjadinya peritonitis dan menimbulkan kematian pada penderita .
terjadinya larva migran dapat merangsang pembentukan antibodi yang dapat
dideteksi di dalam colostrum dan serum. Adanya antibodi ini dapat mencegah agar
jumlah cacing dewasa tidak berlebihan.
Sedangkan cacing dewasa didalam usus dalam jumlah banyak sering
menyebabkan penyumbatan pada usus sehingga terjadi kolik dan iritasi pada usus
sehingga sering timbul gejala diare. Adanya cacing dewasa di usus halus akibatnya
gangguan pencernaan , karena cacing ini berpengaruh terhadap proses penyerapan
zat-zat makanan dalam saluran pencernaan. Parah tidaknya gangguan yang
ditimbulkan tergantung banyak tidaknya cacing yang terdapat di dalam usus dan
daya tahan tubuh dari hewan terinfeksi. Kondisi ini juga mendorong masuknya
kuman patogen kedalam jaringan sebagai hasil infeksi sekunder.
f. Gejala Klinis
Pada stadium larva, Ascaris suum dapat mengakibatkan terbentuknya jejas
berwarna putih di bawah kapsul hati (milk spot), bronchitis, dan pneumonia.
Sedangkan cacing dewasa dalam usus halus dengan jumlah yang banyak sering
menyebabkan penyumbatan pada usus, sehingga terjadi kolik dan iritasi hingga

39
enteritis sehingga timbul gejala diare, demam dan anemia. Selain itu teramati
kelemahan umum seperti dehidrasi, penurunan berat badan dan kekurusan
(Urquhart et al., 1985).
g. Terapi
Terapi dapat dilakukan secara teratur yaitu 1 bulan sekali. Bila membeli
anak babi dilakukan pengobatan 2 kali dengan jarak 1 minggu. Berikan makanan
yang bergizi baik. Pada induk bunting dilakukan mengobatan untuk menghindari
infeksi secara prenatal dan laktogenik . dilakukan pengobatan 3 minggu sebelum
melahirkan. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing seperti
pirantel pamoat, albendazole dan mebendazole.

6. Heterakis gallinarum
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Feses Ayam
Asal Sampel : Pasar Hewan Splendid, Kota Malang
Tanggal Pengujian : 24 Agustus 2018
Media Pengawet : Formalin 10%
b. Morfologi

Telur Heterakis gallinarum (dokumentasi pribadi, 2018)


Secara morfologi, cacing jantan mempunyai pengisap preanal bagian
tepinya mengeras, speculum sama besar, tidak mempunyai gubernakulum. Betina
mempunyai vulva tedapat di pertengahan tubuh. Cacing jantan panjangnya 3-4 mm,
diameter 120-470 mikron, spikulum kanan panjangnya 0,85-2,80 mm dan spikulum

40
kanan 0,37-1,10 mikron sedangkan betina panjangnya 8-15mm, telurnya berbentuk
elips ukuran dinding 63-75x36-48 mikron, Heterakis gallinarum berwarna putih
dengan ekor halus dan memanjang pada yang dewasa morfologi dari telur Heterakis
gallinarum, bentuk telur elips berdinding tebal berukuran 63-75 x 36-48 mikron.
c. Hospes dan Predileksi
Heterakis sp. dapat ditemukan pada ayam, kalkun, itik, angsa, ayam mutiara,
sejenis ayam hutan, burung kuau dan burung puyuh. Cacing ini berpredileksi di
sekum (Tabbu, 2002).
d. Siklus Hidup
Telur yang dikeluarkan bersama feses inang akan berkembang menjadi telur
infektif (L2) dalam waktu 14 hari pada temperatur 27ºC. Telur infektif sangat
resisten dan tetap fertil untuk beberapa bulan di tanah. Penularan terjadi bila inang
(unggas) menelan telur infektif dan menetas di usus setelah 1-2 jam kemudian.
Selanjutnya L2 akan menembus dan diam selama 2-5 hari di
glandula epitel usus, kemudian moulting menjadi L3 pada hari ke-6 setelah infeksi.
L4 dicapai pada hari ke-10, kemudian L5 terbentuk pada hari ke-15. Hari ke 24-30
pasca infeksi telur dikeluarkan bersama feses. Cacing tanah bertindak sebagai host
transport, cacing dalam bentuk L2, penularan terjadi bila ayam memakan cacing
tanah tersebut.
e. Patogenesa
Dampak infeksi akan tampak jelas pada kejadian atau infeksi yang berat,
menyebabkan mukosa sekum menebal dan hemoragi. Lesi pada sekum terlihat
dengan terbentuknya nodul yang menjadi penyebab diare, kekurusan dan akhirnya
kematian. Kepentingan ekonomis pada infeksi H. gallinarum terletak pada
perannya sebagai karier pada penularan protozoa. Protozoa tersebut tetap hidup di
dalam telur H. gallinarum dalam jangka waktu yang panjang bahkan ditengarai
sepanjang telur tersebut masih riable (hidup) (Kusnoto dkk., 2014).
f. Gejala Klinis
Cacing Heterakis sp. tersebar luas dan dapat menyebabkan gejala klinis
yang tidak spesifik, meliputi kelesuan, bulu berdiri, penurunan nafsu makan dan
gangguan pertumbuhan. Pada infeksi buatan, sekum akan menunjukkan reaksi

41
keradangan dan penebalan mukosa. Pada infeksi berat dapat ditemukan adanya
noduli pada lapisan mukosa dan submukosa (Tabbu, 2002).
g. Terapi
Pengobatan yang dapat dilakukan yaitu: 1) Phenothiazin, 1 gram/ ekor atau
1 bagian phenothiazin dalam 60 bagian pakan diberikan 6 jam setelah dipuasakan
semalam.; 2) Piperazin kurang efektif untuk Heterakis sp.; 3) Namun bila piperazin
dicampur dengan phenothiazin (1:7) efektif untuk mengeliminasi Heterakis sp. dan
A. galli hingga 90% atau bahkan lebih; 4) Mebendazole, 2 gram dalam 28 kg pakan;
dan 5) Tetramisole, kadar 10% dalam air minum (Kusnoto dkk., 2014).

7. Ascaridia galli
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Secementea
Ordo : Ascaridida
Famili : Ascaridiidae
Genus : Ascaridia
Species : Ascaridia galli

Telur Ascaridia galli perbesaran 400x (dokumentasi pribadi, 2018)

42
Cacing Ascaridia galli (Ashour, 1994)
b. Sinyalemen
Jenis sampel : feses ayam
Asal : Pasar Splendid Malang
Tanggal pengambilan : 22 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 24 Agustus 2018
Pengawetan (metode uji) : formalin 10% (metode apung)
c. Morfologi
Panjang cacing jantan 50 – 76 mm, sedang panjang cacing betina 72 – 116
mm. terdapat 3 bibir besar dan esophagus tidak mempunyai posterior bulb (Kusnoto
dkk., 2014). Posterior cacing jantan memiliki alae yang jelas, dilengkapi papil 10
pasang dan alat penghisap prekloaka, dua spikula langsing panjang hampir sama
panjang. Vulva terletak sedikit anterior tengah – tengah tubuh. Telur oval,
berdinding rata, belum berkembang saat dikeluarkan bersama tinja, berukuran 73 –
93 x 45 – 57 µm.
d. Hospes dan Predileksi
Pada usus halus ayam, kalkun, angsa, ayam hutan dan berbagai burung liar.
e. Siklus Hidup
Telur Ascaridia galli yang dikeluarkan bersama tinja inang dan akan
berkembang menjadi stadium infektif (telur infektif) dalam waktu ± 10 hari di udara
terbuka. Perkembangan selanjutnya telur menjadi larva stadium 2 yang sangat kuat
(resisten) dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Pada stadium 2 ini larva
mampu bertahan hidup lebih dari 3 bulan di tempat yang teduh/terlindung, namun

43
akan segera mati bila ada keadaan kering dan cuara panas sekalipun larva berada
dalam tanah sedalam ± 15 cm.
Infeksi dapat terjadi dengan cara termakannya telur infektif bersama pakan
atau minum, dapat juga melalui cacing tanah yang menelan telur. Ascaridia galli
kemudian ayam memakan cacing tanah tersebut (secara mekanis cacing tanah
menularkan pada ayam).
Telur cacing yang termakan inang akan menetas menjadi larva stadium 3 di
dalam usus pada hari ke-8 setelah infeksi, kemudian larva hidup bebas di dalam
intestine. Pada hari ke 9 – 10 larva stadium 3 akan menembus mukosa usus
kemudian berkembang menjadi larva stadium 4 pada hari ke 14 – 15 setelah infeksi.
Hari ke 17 – 18 cacing muda akan keluar dari mukosa usus menuju lumen intestine
dan menjadi dewasa pada minggu ke 6 – 8. Pada hari ke ± 100 telur Ascaridia galli
sudah dapat ditemukan dalam feses inang. Pada kasus infeksi yang berat, incidental
dapat terjadi larva menembus mukosa usus terlalu dalam dan ikut aliran darah
menuju hepar kemudian ke paru – paru, namun kejadian ini jarang sekali.
f. Patogenesa
Telur yang termakan inang akan menetas dan berkembang menjadi larva
stadium 3. Selanjutnya larva menembus mukosa intestine, penetrasi larva ini dapat
mengakibatkan enteritis hemorhagis dan kerusakan dinding usus, sedang pada
ayam muda dapat mengakibatkan anemia, diare, nafsu makan turun serta haus yang
berlebihan. Ayam muda lebih peka dari pada ayam tua, karena ayam tua mucus
intestinenya lebih banyak dibanding ayam muda dan pada mucus itulah dibentuk
antibody parasit. Sehingga dengan adanya peningkatan jumlah mucus pada
intestine ayam lebih tua akan menjadi factor penghambat perkembangan larva
cacing Ascaridia galli.
Perkembangan larva stadium 3 menjadi larva stadium 4 berada di dalam
mukosa intestine, kemudian larva stadium 4 akan menjadi cacing muda dan keluar
dari mukosa menuju lumen berkembang menjadi dewasa. Infeksi yang hebat dari
cacing dewasa Ascaridia galli ini dapat mengakibatkan obstruksi, perforasi usus
dan kematian. Angka kematian yang ditimbulkan dapat mencapai 35%.

44
g. Gejala Klinis
Enteritis hemorhagi, anemia, nafsu makan turun, bulu rontok, kusam, pucat
dan sayap terkulai, lemah dan emasiasi. Pada ayam layer yang sedang berproduksi
dapat mengakibatkan penurunan produksi telur atau sampai terhenti sama sekali.
Pada ayam broiler pertumbuhan akan terganggu dan berat badan menurun.
h. Pengobatan
- Piperazine adipat 400 – 400 mg/kg pakan;
- Piperazine sitrat 400 mg/liter air untuk 24 jam. Mekanisme kerja
piperazine adalah dengan jalan memblokade acetylcholine pada neuro
muscular junction, sehingga menyebabkan paralisis cacing dan cacing
keluar bersama tinja. Efektivitas piperazine pada ascaridiasis ini hampir
100%;
- Phenotiazin 2200 mg/kg pakan;
- Hygromycin-B 8 gram/ton pakan diberikan selama 8 minggu efektif
untuk kontrol Ascaridia galli dan
- Mebendazol, tetramizol dan haloxon.
i. Pencegahan
- Pemeliharaan ayam muda dan ayam dewasa terpisah;
- Litter kandang dijaga kebersihannya termasuk juga peralatan kandang
(peralatan pakan dan minum);
- Latai kandang sebaiknya tidak dari tanah;
- Pencegahan infeksi dengan memberi obat cacing 1 kali/bulan
- Pemberian pakan yang baik (kandungan vitamin A, B12, mineral dan
protein yang cukup). (Kusnoto dkk, 2014).

8. Capillaria spp.
a. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Enoplea
Ordo : Trichurida

45
Famili : Capillariidae
Genus : Capillaria
Species : Capillaria spp

Telur Capillaria spp. perbesaran 400x (dokumentasi pribadi, 2018)

Telur Capillaria spp. (Lloyd, 2003)


b. Sinyalemen
Jenis sampel : feses merpati
Asal : Pacar keling, Surabaya
Tanggal pengambilan : 28 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 28 Agustus 2018
Pengawetan : formalin 10% (metode apung)
c. Morfologi
Memiliki bentuk seperti benang yang sangat halus, esophagus berbentuk
stichosome sempit terletak sekitar sepertiga sampai setengah panjang tubuh. Cacing
jantan berukuran sekitar 15 – 25 mm dan cacing betina 37 – 80 mm. cacing jantan
memiliki spikula tunggal tipis dan panjang, dengan selubung specula yang berduri
dan sering memiliki struktur seperti bursa primitive. Spesies ini memiliki pelebaran

46
khas pada bagian belakang kepala. Cacing betina mengandung telur yang
menyerupai cacing Trichuris spp. berbentuk menyerupai lemon dan tidak berwarna.
Berukuran 60 – 65 x 25 – 28 µm, memiliki dinding tebal yang sedikit ditemukan
adanya striasi dan sumbat (plug) pada kedua ujungnya (bipolar) (Bowman. D.D,
1999).
d. Hospes dan Predileksi
Oesofagus dan tembolok pada ayam, kalkun, itik dan burung liar lainnya.
e. Siklus Hidup
Siklus hidup tidak langsung. Telur yang keluar bersama tinja ditelan oleh
cacing tanah dan mengalami perkembangan mencapai stadium infektif setelah 2-3
minggu. Masa prepaten sekitar 3-4 minggu.
f. Patogenesa penyakit
Ujung anterior cacing dibenamkan ke dalam mukosa dan bahkan pada
infeksi ringan dapat menimbulkan peradangan dan penebalan pada dinding
esophagus dan tembolok. Pada infeksi berat dapat menyebabkan peradangan dan
penebalan pada dinding tempat cacing membenamkan diri. Pada kasus berat angka
kematian unggas tinggi.
g. Gejala Klinis
Infeksi ringan dimana jumlah cacing kurang dari 100 dapat menyebabkan
penurunan berat badan dan menurunkan produksi telur. Infeksi berat sering
menyebabkan ayam kurang bergairah dan kekurusan.
h. Pengobatan
Levamisol dalam air minum sangat efektif, efektivitasnya sama dengan
pengobatan menggunakan benzimidazol dalam pakan. Peningkatan dosis
anthelmintic oral yang diberikan selama beberapa hari, juga memberikan hasil yang
memuaskan.
i. Pencegahan
Pencegahan tergantung pada hasil pengobatan menggunakan anthelmintik
secara berkelanjutan dan juga dapat memindahkan ayam pada tempat pemeliharaan
yang baru (Taylor, M.A., R.L. Coop dan R.L. Wall, 2007).

47
9. Trichonema sp. (Cyathostomin)
a. Klasifikasi

Telur Trichonema sp perbesaran 400x (dokumentasi pribadi, 2018)

Telur Trichonema sp. (Proudman CJ, Matthews JB, 2000)


b. Sinyalemen
Jenis sampel : feses kuda
Asal : Kenjeran Park, Surabaya
Tanggal pengambilan : 22 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 23 Agustus 2018
Pengawetan (metode uji) : formalin 10% (metode apung)
c. Morfologi
Tubuh cacing diselubungi oleh kutikula yang fleksibel tapi keras. Cacing
memiliki system digesti tubular dengan dua pembuka yaitu mulut dan anus.
Memiliki buccal kapsul dan memakan darah dan jaringan organ melalui
predileksinya. Memiliki system saraf tapi tidak memiliki organ eksretori dan system
sirkulasi seperti jantung atau pembuluh darah. Ovarium betina besar dan uterus

48
berakhir pada pembuka yang disbut vulva. Jantan memiliki bursa kopulatriks yang
biasanya memiliki dua spikula untuk menempel pada betina selama kopulasi.
d. Hospes dan Predileksi
Intestine pada kuda, keledai, rusa.
e. Siklus Hidup
Cyathostomin masuk ke intestine pada larva ke-3 (L3) yang mana akan
berkembang dari telur melalui feses ke padang rumput. Setelah tertelan oleh kuda
telur akan mengalami maturasi dan telur baru akan lewat mealui feses ke padang
rumput dalam 5 – 6 minggu. Perkembangan dari larva 1 (L1) ke stadium L3
dipengaruhi oleh temperature yaitu pada suhu hangat, telur akan menetas dan akan
menghasilkan L3 infektif dalam waktu 3 hari. Ketika mencapai stadium L3, larva
akan dikelilingi dengan membrane pelindung dan dapat bertahan pada kondisi beku
yang berarti dapat bertahan hidup di padang rumput pada waktu yang lama. Pada
kasus infeksi tunggal, rata – rata periode pre-patent adalah 53 hari dengan jarak 48
sampai 62 hari, sedangkan pada infeksi yang melebar rata – rata periode pre-patent
adalah 65 dengan jarak 60 sampai 77 hari
Cyathostomin berbeda dengan cacing spesies lain yang maturasi pada awal
larva ke-3. Pada saat tertelan L3 akan memasuki mukosa pada usus besar. Saat di
dalam stadium larva akan melindungi diri sendiri dengan membentuk kista
(Proudman CJ, Matthews JB, 2000).

Siklus hidup Trichonema sp. (Proudman CJ, Matthews JB, 2000).

49
f. Patogenesa
Cyasthostomin memiliki kemampuan luar biasa unuk menimbulkan
keadaan patogenik pada saat masuk usus. Ketika memulai invasi, bekas selubung
L3 akan menyebabkan kerusakan yang serius pada mukosa intestinal. Ketika pada
stadium kista, sepuluh ribu kista larva akan menutupi dinding mukosa,
menyebabkan kerusakan yang parah dan secara drastis menurunkan metabolisme
nutrisi. Dinding kista melindungi larva dan susah untuk diobati dengan deworming
konvensional.
Tetapi kerusakan terparah ketika masuk stadium L4 yang dikembangkan
ketika muncul dari kista dan berlanjut perkembangannya ketahap dewasa di lumen
usus. Ini biasanya muncul pada akhir musim dingin atau awal musim semi, ketika
sejumlah besar larva masuk ke dalam lumen usus. Kondisi ini yang dikenal dengan
“larval cyathostominosis”, dapat merusak dinding usus, disertai dengan diarrhea,
berpotensi menimbulkan kolik dan rasio mortalitas tinggi sampai 50%.
Granulomatous colitis telah dilaporkan memiliki keterkaitan dengan larva
Cyasthostomin.
Walaupun kuda muda paling rentan tetapi penting untuk diketahui bahwa
ada kerentanan seumur hidup pada Cyasthostomin dan dapat menimbulkan penyakit
klinis pada semua umur kuda selama semua musim. Karena Cyasthostomin dapat
menjadi patogenik ketika penetrasi dan ketika berada pada mukosa intestinal,
penting untuk mengeleminasi larva yang masuk maupun larva yang membentuk
kista (Von Samson-Himmelstjerna G et al., 2002)
g. Gejala Klinis
Kuda yang terinfeksi bisa dari berbagai umur dan muncul dengan gejala
diare kronis, oedema, anoreksia, kusam, dan pyrexia
h. Pengobatan dan Pencegahan
Ada 3 kelas obat untuk mengendalikan Cyasthostomin pada kuda yaitu
benzimidazol seperti febendazol dan oxfendazol, tetrahydropyrimidin seperti
garam pyrantel dan macrocyclic lactones (ML), ivermectin dan moxidectin.
Untuk pencegahan disarankan menggunakan anthelmintik dengan efikasi
tinggi yang secara substansial akan mengurangi larva di padang rumput, yang telah

50
terbukti efektif terhadap Cyasthostomin yang memiliki kista (Baudena M, Chapman
M et al., 2000).

10. Strongyloides papillosus


a. Sinyalemen
Sampel yang didapat berupa feses domba yang diperoleh dari kandang FKH
Unair, Surabaya pada tanggal 28 Agustus 2018. Feses yang diperoleh kemudian
diawetkan menggunakan formalin 10% dan diuji pada tanggal 31 Agustus 2018
menggunakan metode natif, sedimentasi, maupun apung.
b. Morfologi
Cacing S. papillosus memiliki morfologi tubuh dengan panjang antara 3,5–
6 µm dan diameter tubuh 0,05–0,8 µm. Telur cacing ini mempunyai ujung yang
tumpul dan berdinding tipis. Berukuran 40–60 x 20–25 µm, oval mengandung larva
yang telah berkembang sewaktu dikeluarkan bersama feses inang (Kusnoto dkk.,
2010). Berdasarkan hasil metode sedimentasi dan apung diperoleh telur
S.papillosus dengan karakteristik sesuai literatur.

Telur cacing S. papillosus yang diperoleh dengan metode apung, perbesaran 400x
(dokumentasi pribadi, 2018)
c. Hospes dan Predileksi
S. papillosus umumnya menyerang hewan domba, kambing, sapi, kelinci,
dan ruminansia liar lainnya. Predileksi dari cacing ini ialah usus halus (Kusnoto
dkk., 2010).

51
d. Siklus Hidup
Cacing betina yang parthenogenetic menyelipkan diri pada mukosa usus
halus, kemudian menghasilkan telur yang dikeluarkan bersama feses. Telur
selanjutnya berubah menjadi larva, larva stadium I dapat berkembang langsung
menjadi larva stadium III yang infektif (homogenic cycle) atau berkembang
menjadi bentuk free living yakni jantan dan betina untuk kemudian menghasilkan
larva infektif (heterogonic cycle). Pada keadaan lingkungan yang memungkinkan
baik temperatur maupun kelembapan, maka terjadi heterogonic cycle akan tetapi
bila lingkungan tidak baik maka homogenic cycle lebih sering terjadi (Kusnoto dkk.,
2010).
Pada heterogenic cycle larva stadium I dengan cepat mengalami perubahan
menjadi bentuk free living jantan dan betina yang dewasa kelamin (dalam waktu 48
jam). Diikuti dengan kopulasi maka free living akan memproduksi telur dan
menetas dalam beberapa jam, selanjutnya larva berkembang menjadi bentuk
infektif. Pada homogenic cycle, larva stadium I dengan cepat berkembang menjadi
larva infektif (larva filariform). Infeksi pada vertebrata akan berlangsung secara per
oral atau dengan jalan menembus kulit. Larva ini akan menginfeksi inang baru dan
akan membentuk cacing jantan dan betina. Pada siklus hidup parasitik, larva akan
mengalami lung migration terutama jika menginfeksi melalui jalan menembus kulit
(Kusnoto dkk., 2010).
e. Patogenesa
Telur yang telah berkembang menjadi larva infektif (larva filariform), larva
akan masuk secara per oral dan berkembang pada target organ berupa usus halus,
selanjutnya dapat mengalami migrasi menuju paru-paru, terbawa ke bronki, trakea,
dibatukkan dan dapat tertelan sehingga masuk ke dalam esofagus dan kembali
menuju usus halus hingga berkembang menjadi cacing dewasa. Pada saat larva
menembus kulit hospes, dapat terjadi reaksi lokal berupa peradangan yang
kemudian ditandai dengan adanya pruritus dan pembentukan papula. Larva
filariform yang menembus kulit hospes akan terbawa aliran darah menuju paru-paru,
dan selanjutnya sama dengan rute per oral terbawa ke bronki, trakea, dibaukkan dan
dapat tertelan sehingga masuk ke dalam esofagus dan kembali menuju usus halus

52
hingga berkembang menjadi cacing dewasa. Akibat infeksi cacing pada usus halus
akan menimbulkan kerusakan pada dinding mukosa usus. Kerusakan juga dapat
terjadi akibat perjalanan larva ke organ lain termasuk migrasi larva menuju paru-
paru. Kerusakan yang ditimbulkan bersifat tidak spesifik umumnya berupa iritasi
dan peradangan dinding mukosa usus halus yang disertai dengan pembentukan lesi,
ulsera, perdarahan, bahkan dapat diikuti dengan ruptur. Larva dari cacing S.
papillosus selain dapat menembus mukosa usus sehingga menimbulkan peradangan
juga dapat menghisap darah sehingga hewan yang terinfeksi akan mengalami
anemia (Bendryman dkk., 2013).
f. Gejala Klinis
Hospes yang terinfeksi akan memperlihatkan gejala yang tidak spesifik
seperti emasiasis, anoreksia, rambut kotor dan kusam, diare, anemia. Pada anak
domba pertumbuhan akan terhambat dan bahkan seringkali dapat menyebabkan
kematian (Bendryman dkk., 2013).
g. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan dilakukan dengan menjaga agar kandang tetap kering dan
bersih. Pengobatan dilakukan dengan memberi obat-obatan antihelmintika berupa
ivermectin (0,2 mg/kg BB, SC) atau doramectin (0,2 mg/kgBB, SC) (Ballweber,
2001).

11. Strongylus vulgaris


a. Sinyalemen
Sampel yang didapat berupa feses kuda yang diperoleh dari Wisata
Kenjeran, Surabaya pada tanggal 22 Agustus 2018. Feses yang diperoleh kemudian
diawetkan menggunakan formalin 10% dan diuji pada tanggal 24 Agustus 2018
menggunakan tiga metode diantranya metode natif, sedimentasi, maupun apung.
b. Morfologi
Cacing S. vulgaris memiliki panjang 14–16 mm dan cacing betina 20–24
mm dengan rata-rata diameter sebesar 1,4 mm. Bukal kapsul berbentuk oval dan
terdapat dua gigi dorsal dibagian basis/dasar yang berbentuk kuping (ear-shaped
dorsal teeth). External leaf crwons menyerupai rumbai-rumbai dibagian distal

53
(Kusnoto dkk., 2010). Telur cacing Strongylus memperlihatkan bentuk telur oval,
bedinding tipis, berukuran 0–90 × 40–50 μm, mengandung morula 8–16 sel
(Ballweber, 2001). Berdasarkan metode sedimentasi dan apung yang telah
dilakukan, diperoleh hasil berupa telur cacing S. vulgaris dengan karakteristik
sesuai literatur.

Telur cacing S. vulgaris yang diperoleh dengan metode sedimentasi, perbesaran


400x (dokumentasi pribadi, 2018)
c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari S.vulgaris ialah bangsa kuda dengan predileksi berupa usus
besar (Kusnoto dkk., 2010).
d. Siklus Hidup
Larva infektif mengadakan penetrasi ke dalam dinding usus, delapan hari
setelah infeksi terbentuk larva stadium IV mengadakan penetrasi kedalam intima
arteriola, submukosa dan migrasi melalui vena menuju arteri messenterica cranialis
yang dapat dicapai ±14 hari setalah infeksi dan membentuk thrombus yang disebut
aneurysma. Dimulai dari masuknya larva infektif hingga 45 hari pasca infeksi, larva
stadium IV bermigrasi kembali melalui sistem arteri menuju submukosa kolon dan
sekum, disini terbentuk larva stadium V antara 3 bulan setelah infeksi. Larva
kemudian menuju lumen usus dan menjadi cacing dewasa. Telur diproduksi 6 – 7
bulan setelah infeksi, beberapa larva tertinggal dalam stadium IV dan V sebagai
penyebab aneurysma di dalam arteri messenterica cranialis dan dalam beberapa
minggu dapat menyumbat arteri tersebut. Adapun beberapa lesi pada beberapa

54
tempat di arteri juga disebabkan karena adanya gesekan akibat migrasi sejumlah
larva (Kusnoto dkk., 2010).
e. Patogenesa
Larva S. vulgaris merupakan larva yang paling patogenik dibandingkan
spesies cacing Strongylus lainnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya
larva dari cacing ini mampu melakukan penetrasi pada intima arteriola hingga
bermigrasi menuju arteri messenterica cranial, arteri iliac, arteri celiac, hingga arteri
femoralis sehingga mengakibatkan adanya peradangan dan trombosis dari arteri
tersebut. Trombosis lebih lanjut dapat memicu terjadinya aneurisma.
Tromboemboli juga dapat menuju pembuluh darah yang lebih kecil dari usus
sehingga memicu infark iskemic (Ballweber, 2001).
f. Gejala Klinis
Gejala klinis timbul sebagai akibat dari adanya infeksi dan migrasi larva
pada beberapa organ selama proses patogenesa berlangsung. Gejala klinis tersebut
antara lain demam, diare, kolik, kepincangan yang intermittent atau permanen,
bahkan kematian (Ballweber, 2001).
g. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi dan kondisi cuaca.
Metode pencegahan meliputi kombinasi pemberian antihelmintika dan manajemen
pemeriharaan ternak yang tepat. Kandang harus rutin dibersihkan dan pada kondisi
tertentu ternak tidak digembalakkan untuk mencegah penularan secara peroral
dengan memakan rumput yang terkontaminasi oleh larva S. vulgaris. Pada negara
dengan iklim tropis, larva S. vulgaris sangat mundah mengontaminasi rerumputan
sehingga selalu ada disepanjang tahun terutama saat musim penghujan (Ballweber,
2001).
Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat-oabatan antiparasitik
seperti piperazine, pirantelpamoat (6,6 mg/kgBB, PO), oxfendazole (10 mg/kgBB,
PO), oxibendazole (10 mg/kgBB, PO), fenbendazole (5 mg/kgBB, PO), ivermectin
(0,2 mg/kgBB, PO), atau moxidectin (0,4 mg/kgBB, PO) (Ballweber, 2001).

55
12. Toxocara vitolorum
a. Sinyalemen
Sampel yang didapat berupa feses sapi yang diperoleh dari Kecamatan
Socah, Madura. Feses yang diperoleh telah diawetkan menggunakan formalin 10%
dan diujikan di Laboratorium Parasitologi FKH Unair menggunakan tiga metode
diantranya metode natif, sedimentasi, maupun apung.
b. Morfologi
Panjang cacing jantan dapat mecapai 25 cm, diameter 5 mm. Panjang cacing
betina 30 cm dengan diameter 5 mm. kutikula tipis, lunak, dan terlihat transparan.
Terdapat 3 bibir, dasarnya luas dan sempit dibagian anterior. Vulva terletak pada
1/8 dari panjang tubuh anterior (Kusnoto dkk., 2010).
Kutikula T. vitolorum tidak setebal cacing Ascaris sp. yang lainnya sehingga
terlihat lembut dan jernih. Telur subglobular sedikit lebih besar daripada A. suum,
dikelilingi lapisan albumin, dikeluarkan bersama tinja dan berukuran 75–95 µm x
60–75 µm (Bendryman dkk., 2013). Berdasarkan metode natif, sedimentasi dan
apung yang telah dilakukan, diperoleh hasil berupa telur cacing T.vitolorum dengan
karakteristik sesuai literatur.

Telur cacing T. vitolorum yang diperoleh dengan metode sedimentasi, perbesaran


400x (dokumentasi pribadi, 2018)
c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari T. vitolorum adalah sapi, kerbau, dan zebra. Predileksi dari
cacing ini ialah usus halus (Bendryman dkk., 2013).

56
d. Siklus Hidup
Pada peternakan sapi yang telah tercemar oleh T. vitolorum umunya cukup
sulit dibebaskan. Hal tersebut disebabkan karena tebalnya dinding telur sehingga
cukup sulit untuk memutus siklus hidup cacing ini. Cacing dewasa yang hidup di
bagian depan usus halus sanggup membebaskan telur dalam jumlah banyak. Seekor
cacing betina mampu bertelur sebanyak 200.000 telur/hari. Telur dibebaskan
bersama tinja dan sangat tahan terhadap udara dingin, panas dan kekeringan,
bahkan telur T. vitolorum mampu bertahan di lingkungan selama 5 tahun (Duri,
2015). Pada saat telur dalam tinja tertelan oleh sapi dan menetas di usus halus
menjadi larva. Larva bermigrasi ke hati, paru-paru, jantung, ginjal dan plasenta lalu
masuk ke cairan kolostrum atau air susu dan kelenjar mammae. Dengan ikut
makanan, air minum atau saliva akan sampai di usus halus lagi untuk bertumbuh
menjadi dewasa dan kembali menghasilkan dan membebaskan telur. Telur cacing
T. vitulorum dapat berkembang ke tahap infektif selama 7-12 hari pada suhu
optimal 29-300C. Pedet memperoleh larva T. vitulorum dari induknya melalui
kolostrum, hingga pada umur 10 hari telah mengandung cacing dewasa, sedangkan
telur cacing dapat ditemukan pada umur 2-3 minggu. Waktu pedet umur 5 bulan
cacing dewasa mungkin dikeluarkan secara spontan (Febrianti, 2015).
e. Patogenesa
Cacing ini menyerang hewan muda terutama yang berumur 1 – 3 bulan. Hal
terpenting dari infeksi cacing ini adalah mengenai epidemiologi dari T. vitolorum,
dimana terjadi penularan larva melalui air susu dari induknya pada 3 minggu
pertama laktasi. Kejadian tersebut dikenal dengan istilah Milk Born Transmission.
Cara penularan lainnya melalui tertelannya telur infektif bersama pakan atau
melalui rute lain seperti prenatal infection (Bendryman dkk., 2013).
Saat larva bermigrasi ke berbagai organ bebrapa perubahan patologi
anatomi yang dapat diamati diantaranya migrasi larva di dalam hati atau usaha
penyerapan oleh jaringan hati terhadap larva yang mati, meninggalkan jejas
berwarna putih di bawah kapsula hati. Bila infestasi larva cukup berat, jejas fibrotik
terlihat dominan. Kerusakan jaringan yang berat biasanya dialami oleh paru-paru
hingga alveoli dapat mengalami luka dengan oedema atau mengalami pemadatan

57
(konsolidasi). Migrasi larva dapat merangsang pembentukan antibodi yang dapat
dideteksi di dalam kolostrum dan serum. Adanya antibodi untuk mencegah agar
jumlah cacing dewasa tidak berlebihan atau dalam keadaan tertentu dapat
menghasilkan selfcure. Infestasi larva dalam jumlah besar dapat menyebabkan
penurunan motilitas usus. Cacing yang belum dewasa yang bertempat di duodenum
dan abomasum menyebabkan radang usus hebat hingga diikuti diare berat. Cacing
dewasa yang tinggal di lambung muka, rumen dan reticulum, tidak menyebabkan
perubahan patologi berat. Pada saat nekropsi cacing muda dapat terlihat berwarna
pink yang menempel pada mukosa duodenum dan dapat juga terdapat di jejunum
dan abomasum. Dalam usus halus, cacing dewasa mengambil nutrisi dari hospes
definitifnya dengan mengakibatkan kelukaan dinding usus dan mengambil nutrisi
dari sirkulasi. Berdasarkan siklus hidupnya, larva menyebabkan penyakit dengan
fase migrasi dengan meninggalkan lesi pada organ dan jaringan yang dilalui.
Keparahannya tergantung pada jumlah, baik pada cacing dewasa maupun pada
larva (Febrianti, 2015). Menurut Bendryman dkk. (2013) gejala klinis akan nampak
apabila hospes definitif telah terinfeksi 70 – 500 cacing.
f. Gejala Klinis
Gejala klinis toxocariasis pada hewan sangat bervariasi tergantung dari
tingkat keparahan infeksi dan umur hewan itu sendiri. Pneumonia akan terlihat pada
pedet yang terinfeksi toxocara karena adanya migrasi larva ke paru-paru (Febrianti,
2015). Pada infeksi yang berat gejala klinis yang menonjol berupa diare dengan
warna seperti lumut (mud-colour), disertai kolik terutama bila adanya obstruksi
usus, emasiasis, nafas berbau asam butirat, nafsu makan menurun, dehidrasi,
anemia, bahkan kematian (Bendryman dkk., 2013). Perubahan patologi anatomi
yang ditemukan pada pedet yang mati akibat serangan toxocariasis adalah
terjadinya peradangan pada saluran percernaan usus halus. Pada kasus lainnya
dimana pedet dapat bertahan hidup umumnya akan mengalami gangguan
pertumbuhan. Sapi dewasa yang terserang toxocariasis umumnya tidak
menunjukkan gejala yang jelas. Hanya saja, infestasi cacing T. vitulorum pada sapi
perah biasanya akan menurunkan kualitas susu karena mengandung larva cacing ini
(Febrianti, 2015).

58
g. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan dipertimbangkan melalui proses penularan terutama melalui air
susu maka sapi bunting harus dipastikan bebas cacing, dengan memberikan
pengobatan sebelum dikawinkan dan diulang pada pertengahan usia kebuntingan
serta setelah melahirkan. Pada anak sapi berumur 2 minggu dapat dilakukan
pengobatan dengan antihelmintika untuk membunuh larva cacing sebelum infeksi
menjadi semakin parah (Bendryman dkk., 2013).
Pengobatan dilakukan dengan menggunakan piperazin (220 mg/kgBB, PO)
pada pedet dan pejantan. Pada induk dapat digunakan fenbendazole (7,5 mg/kgBB,
PO). Penggunaan fenbendazole dipilih karena lebih aman untuk kebuntingan dan
tidak mengganggu produksi air susu (Bendryman dkk., 2013).

13. Bunostomum trigonocephalum


a. Sinyalemen
Jenis sampel : Feses Domba
Asal sampel : Kebun Binatang Surabaya
Tanggal pengambilan : 27 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 31 Agustus 2018
Media pengawet : Formalin 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Berikut merupakan klasifikasi dari cacing Bunostomum trigonocephalum:
Kingdom : Animalia
Filum : Nemathelmintes
Kelas : Nematoda
Ordo : Strogylida
Family : Ancylostomatidae
Genus : Bunostomum
Spesies : Bunostomum trigonocephalum

59
Telur Bunostomum trigonocephalum perbesaran 400x (dokumentasi pribadi,
2018)
Bunostomiasis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi
cacing genus Bunostomum. Cacing ini aktif menghisap darah yang umumnya
menyerang ternak ruminansia. Bunostomum sp. merupakan jenis cacing nematoda
yang berbentuk gilig yang mempunyai saluran pencernaan dan tubuh berongga.
Bunostomum sp. dapat menyerang ternak muda maupun dewasa, ternak muda lebih
rentan terhadap infeksi Bunostomum sp. (Dunn, 1978).
Cacing jantan memiliki panjang sekitar 12-17 mm, sedangkan cacing betina
berukuran 19-26 mm. Dikenal dengan cacing kait karena pada bagian ujung depan
(kepala) cacing membengkok ke atas sehingga berbentuk seperti kait. Telur
Bunostomum sp. berbentuk lonjong, berukuran sekitar 85-100 sampai 50-60 mm.
Telur Bunostomum sp. memiliki 4-8 blastomer (Dunn, 1978).
Bunostomum trigonocephalum mempunyai bentuk penampang bulat, tidak
bersegmen dan berwarna putih kecoklatan. Ukuran telur 79-97x47˗50 µm. Warna
telurnya lebih gelap dari genus lain, sehingga lebih mudah dibedakan. Telur
berbentuk bulat lonjong dengan ujung tumpul dan mengandung sel embrio serta
hidup di usus (Arifin, 1982).
c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari Bunostomum trigonocephalum adalah kambing dan domba.
Bunostomum Trigonocephalum menginfeksi ternak ruminansia juga namum pada
jenis kambing dan domba, dan berpredileksi pada usus halus juga tepatnya pada
ileum dan jejunum (Radostits, 2000).

60
d. Siklus Hidup
Bunostomum trigonocephalum memiliki siklus hidup langsung, infeksi
terjadi melalui ingesti maupun penetrasi pada kulit. Telur pada feses mungkin
menetas dan mencapai larva stadium infektif dalam 5 hari Setelah terjadi penetrasi
pada kulit, Larva Bunostomum sp. stadium 3 terbawa sirkulasi vena melalui jantung
dan paru-paru. Larva melakukan penetrasi pada alveoli, terjadi reflek batuk oleh
hospes sehingga larva teringesti. Larva menuju usus halus dan berkembang menjadi
cacing dewasa. Periode prepaten 8-10 minggu (Arifin, 1982).

Siklus hidup Bunostomum trigonocephalum


e. Patogenesa dan Gejala Klinis
Penetrasi larva Bunostomum sp. pada kulit akan mengiritasi kulit. Migrasi
larva Bunostomum sp. di alveoli merusak epitel alveoli paru. Bunostomum sp. aktif
menghisap darah hospes sehingga hospes mengalami anemia dan hipoproteinemia.
Cacing dewasa yang berada pada usus halus menyebabkan iritasi pada mukosa usus.
Iritasi pada mukosa intestinum akan menyebabkan peradangan sehingga terjadi
diare (Radostits, 2000).
Gejala klinis yang nampak tergantung pada tingkat infeksi dari cacing,
apabila terjadi infeksi berat maka gejala yang timbul berupa diare hal ini
dikarenakan terjadi kerusakan atau iritasi pada membrane mukosa intestinum,
hospes tampak lesu dan pucat akibat anemia karena banyaknya darah yang terhisap
oleh cacing, terjadi juga kekurusan, kelamahan yang disebabkan oleh nafsu makan
yang menurun dari hewan yang terinfeksi. Juga terjadi penurunan berat badan
hospes. Gejala klinis pada kulit yang terinfeksi akibat penetrasi larva akan
menyebabkan dermatitis dan urticaria (Arifin, 1982).

61
f. Terapi
Pengobatan yang dapat dilakukan dengan pemberian obat fenbendazole,
albendazole, oxvendazole, benzinidazole, levamizole, avermektin dan morantel
yang paling efektif untuk pengobatan Bunostomum sp. dewasa.

14. Trichuris ovis


a. Sinyalemen
Jenis sampel : Feses
Ras/Breed : Domba
Asal Sampel : Peternakan
Tanggal Pengambilan : 23 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 27 Agustus 2018
Metode Pengawet : Formalin 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Cacing ini disebut whip worm (cacing cambuk) karena bagian anterior tubuh
panjang dan ramping sedangkan bagian posterior lebih gemuk. Pada posterior
cacing jantan melingkar dan terdapat satu spikula yang dikelilingi oleh selubung
yang protusible dan dilengkapi dengan duri-duri kutikuler. Panjang cacing jantan
50-80 mm, bagian anterior kecil merupakan ¾ dari panjang tubuh. Cacing betina
panjangnya 35-70 mm, bagian anterior kecil merupakan 2/3 dari panjang tubuh.
Panjang spikula 5-6 mm yang diselubungi duri-duri kecil. Telur ini berwarna coklat,
berbentuk seperti tong dengan ujung terdapat sumbat transparan. Ukuran telur
spesies ini yaitu 70-80 x 32-42 μm termasuk sumbatnya.
Cacing ini oleh Soulsby (1986) diklasifikasikan sebagai berikut:
Filum : Nemathelminthes
Kelas : Nematoda
Subkelas : Adenophorea
Ordo : Enoplida
Genus : Trichuris
Spesies : Trichuris ovis

62
Telur Trichuris ovis (dokumentasi pribadi, 2018)
c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari Trichuris ovis yaitu sapi, domba dan kambing, serta
berpredileksi pada sekum.
d. Siklus Hidup
Telur yang dikeluarkan bersama feses inang dan belum bersegmen
kemudian akan berkembang menjadi telur infektif dengan terbentuknya embrio
dalam waktu 17 hari pada suhu 25-28°C. Hewan terinfeksi bila telur infektif tertelan
bersama pakan dan menetas di dalam usus, kemudian larva akan menuju sekum
dengan bagian anterior menempel pada mukosa membran sekum untuk
berkembang menjadi dewasa dengan periode prepaten 1-3 bulan (Kusnoto dkk.,
2010).
e. Patogenesa dan Gejala Klinis
Cacing dewasa lebih banyak ditemukan di sekum tetapi dapat juga
berkoloni di dalam usus besar. Cacing ini dapat menyebabkan inflamasi, infiltrasi
eosinophilia, dan kehilangan darah. Pada infeksi yang parah dapat menyebabkan
rectal prolapse dan defisiensi nutrisi (Kusnoto dkk., 2010).
Cacing ini dapat menyebabkan keradangan yang akut maupun kronis. Telur
infektif yang tertelan bersama pakan akan masuk dalam usus, akan menetas menuju
mukosa usus dan menempel kuat pada mukosa membram sekum. Cacing akan
menghisap darah untuk tumbuh menjadi dewasa sehingga pada saat dilakukan
pemeriksaan terlihat sesitis (radang pada mukosa sekum), nekrosis hemorhagi dan
edema mukosa sekum. Infeksi akut akan menyebabkan diare hemorhagi encer,

63
anemia, penurunan berat badan kelemahan dan gangguan pertumbuhan (Kusnoto
dkk., 2010).
f. Terapi
Dalam hal ini pengobatan yang dilakukan tidak mempunyai efek yang
signifikan dalam mengurangi kontaminasi lingkungan dari telur. Albendazole
diketahui dapat menimbulkan perubahan telur yang kontak dengan obat ini dan
menyebabkan berkurangnya kemungkinan transmisi. Pemilihan antihelmintik yang
tepat, yang mempunyai efek vermisidal, larvasidal dan ovisidal penting dalam
upaya penurunan transmisi hal ini dapat dilihat dengan menurunnya angka reinfeksi.

15. Haemonchus contortus


a. Sinyalemen
Jenis sampel : Feses Kambing
Asal sampel : Surabaya
Tanggal pengambilan : 20 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 29 Agustus 2018
Media pengawet : Formalin 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Haemonchosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing
genus Haemonchosis yang disebabkan oleh Haemonchus contortus sangat
merugikan secara ekonomis. Haemonchus contortus merupakan genus nematoda
yang paling penting pada domba, kambing dan sapi. Cacing ini hidup di abomasum
domba, kambing, sapi dan ruminansia lain. Berdasarkan habitat dan bentuknya
sering di sebut cacing lambung berpilin atau cacing kawat pada ruminansia (Levine,
1990). Berikut klasifikasi dari Haemonchus contortus:
Kingdom : Animalia
Filum : Nemathelmintes
Kelas : Nematoda
Ordo : Strongylida
Family : Trichostrongylidae
Genus : Haemonchus

64
Spesies : Haemonchus contortus
Bagian anterior cacing memiliki diameter sekitar 50 um dilengkapi dengan
buccal capsule berukuran kecil yang berisi lancet (Levine, 1990). Caing betina
mempunyai ukuran panjang antara 18-20 nm dan berdiameter 0.5 mm. Cacing
betina dikenal sebagai "barbers pole worms'' karena uterusnya yang putih diselingi
usus yang berwama kemerahan karena berisi darah. Cacing jantan memiliki panjang
10-20 mm dan diameter 0.4 mm.
Morfologi dari telur Haemonchus contortus berdinding tipis, berbentuk
lonjong dan terdapat area bening di dalam telur. Telur cacing berukuran antara 62-
90 um x 39-50 um (Purwanta et al., 2009).Telur berkembang menuju stadium
morula (didalam telur mengandung 16-32 sel).

Telur Haemonchus contortus (Purwanta et al., 2009)

Telur Haemonchus contortus dengan perbesaran 400x (dokumentasi pribadi,


2018)
c. Hospes dan Predileksi
Sapi, kambing, domba, dan ruminansia lain serta berpredileksi pada
Abomasum.

65
d. Siklus Hidup
Pada lingkungan yang menguntungkan telur akan menetas menjadi larva
stadium pertama. Dalam waktu kurang lebih empat hari larva mengalami ekdisis
menjadi larva stadium kedua. Larva stadium pertama dan kedua ini akan memakan
mikroorganisme yang terdapat pada tinja induk semang. Larva stadium kedua
mengalami ekdisis menjadi larva yang infektif yaitu larva stadium ketiga dalam
waktu 4 sampai 6 hari. Perkembangan larva–larva ini dipengaruhi oleh perbedaan
lingkungan yaitu temperatur, iklim dan kelembaban. Larva Infektif lebih tahan
terhadap kekeringan dan udara dingin dibanding dengan larva stadium pertama dan
kedua karena selubung kutikula yang terdapat pada stadium kedua tidak dilepaskan
sehingga larva stadium ketiga mempunyai dua selubung.
Larva infektif tidak memperoleh makanan tetapi dapat hidup dari persediaan
makanan yang disimpan dalam sel–sel intestin. Larva infektif bergerak aktif
(mempunyai ekor) dan memanjat rerumputan pada pagi hari dan malam hari
(Levine, 1990). Penyebaran penyakit terjadi secara langsung melalui rumput yang
terkontaminasi larva infektif. Pada musim penghujan penyebarannya cepat, oleh
karena fluktuasi jumlah telur nematoda pada kotoran cenderung di pengaruhi oleh
fluktuasi curah hujan dengan titik tertinggi pada musim hujan dan terendah pada
musim kemarau (Soulsby, 1986).

Siklus hidup Haemonchus contortus

66
e. Patogenesa dan Gejala Klinis
Patogenesis dari haemonchosis dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
umur, ukuran dan berat badan, lama infeksi, dan status nutrisi. Rumput dan air
minum yang terkontaminasi larva infektif termakan oleh ternak, di dalam tubuh
hospes larva berkembang menjadi cacing dewasa dan akan berpindah menuju
abomasum. Infeksi dari cacing tersebut akan menyebabkan anemia,
hipoproteinemia, dan kerusakan mukosa pencernaan. Gejala klinis yang muncul
akibat infeksi Haemonchus contortus antara lain anemia, diare, pertumbuhan yang
terhambat, dan rentan terhadap paparan penyakit (Nasution, 1984).
f. Terapi
Terapi yang dapat diberikan diantranya: Phenotiazine 5-40 gram (single
dose untuk kambing/domba), Levamisole hidroklorida 7,5 mg/kg BB PO,
Parbendazole 30mg/kg BB (sapi), 20-30 mg/kg BB (Kambing / Domba) PO, tidak
untuk hewan bunting (Kusnoto dkk., 2011).

4.1.2 Trematoda
1. Fasciola gigantica

(a) anterior (b) posterior


Cacing Fasciola gigantica (dokumentasi pribadi, 2018)
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : cacing makroskopis
Asal : RBH Kota Batu
Tanggal Pengambilan : 19 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 20 Agustus 2018

67
Pengawetan : pewarnaan Semichen-Acetic Carmine
b. Klasifikasi dan Morfologi
Berikut merupakan taksonomi dari Fasciola gigantica:
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Trematoda
Ordo : Plagiorchiida
Family : Fasciolidae
Genus : Fasciola
Spesies : Fasciola gigantica
Fasciola gigantica mempunyai bentuk pipih seperti daun, bagian anterior
tubuhnya lebih besar daripada bagian posterior. Pada tubuh bagian luar dipenuhi
oleh duri-duri halus. Cacing hati ini mempunyai dua alat penghisap, yaitu oral
sucker dan ventral sucker dimana kedua alat penghisap ini terletak berdekatan.
Fasciola gigantica memiliki panjang 25-75 mm dan lebar 12 mm sedangkan ukuran
telurnya adalah 150-190 x 70-140 µm dan memiliki operculum pada salah satu
ujungnya. Fasciola gigantica berwarna coklat muda yang transparan. Cacing ini
memiliki susunan pencernaan yang terdiri atas mulut yang dikelilingi alat hisap
mulut, esophagus yang pendek dan bercabang menjadi dua sekum kea rah posterior
tubuh, tiap sekum bercabang-cabang banyak ke arah tepi dan tengah tubuh. Cacing
ini bersifat hemaprodit, yaitu terdapat dua jenis kelamin pada satu individu. Alat
kelamin jantan terdiri atas dua testis yang masing-masing memiliki saluran vasa
deferens. Vasa deferens menuju anterior masuk ke kantung sirus dimana pada
kantung tersebut terdapat vesikula seminalis, glandula prostat, dan sirus. Alat
kelamin betina terdiri atas ovarium yang dihubungkan oleh oviduct dengan ootip.
Ootip ini dikelilingi glandula Mehlis yang uniseluler dan pada ujung anterior ootip
terdapat uterus yang berkelok-kelok da masuk ke dalam atrium genital. Vitelina
bercabang dan memenuhi tubuh bagian tepi dan meluas ke bagian tengah tubuh
(Kusnoto dkk., 2011).

68
c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari Fasciola gigantica adalah sapi, kambing, domba, kadang juga
ditemukan pada kuda dan babi. Sedangkan predileksinya adalah saluran empedu,
kantung empedu, hati, dan kadang juga sampai ke paru-paru (Griffiths, 1978).
d. Siklus Hidup

Siklus hidup Fasciola gigantica


Cacing dewasa di dalam inang defiitif mengeluarkan telur dan kemudian
masuk dalam duodenum bersama dengan cairan empedu dan keluar dari tubuh
inang bersama feses. Cacing dewasa mengeluarkan telur rata-rata sebanyak 3.000
telur per hari. Setelah 14 hari, telur menetas yang dipengaruhi oleh suhu dan
kelembapan, menghasilkan mirasidium. Mirasidium memiliki bentuk melebar pada
bagian anterior dengan suatu penonjolan kecil berbentuk papilla atau konus,
kutikulanya bersilia serta mempunyai sepasang titik mata. Mirasidium
membutuhkan siput dari genus Lymnea untuk perkembangan selanjutnya. Lymnea
javaica atau Lymnearubigenosa merupkan inang perantara F. gigantica.
Mirasidium menembus secara aktif ke dalam tubuh siput air dengan melepas
selubung silianya dengan berkembang menjadi sporokista, panjang sporokista
dapat mencapai 1 mm. setiap sporokista menghasilkan 5-8 redia yang jika
berkembang secara penuh dapat mencapai panjang 1-3 mm. Redia berbentuk
spesifik yaitu dengan suatu lingkaran tebal di belakang daerah faring dan sepasang
penonjolan buntupada seperempat bagian belakang tubuhnya. Redia anak terbentuk
pada kondisi yang cocok tetapi akhirnya akan menghasilkan generasi selanjutnya

69
yang normal, yaitu serkaria. Serkaria meninggalkan siput pada minggu ke-4 –
minggu ke-7setelah penularan. Serkaria memiliki ukuran panjang 0.25-0.35 mm,
mempunyai ekor dan glandula sistogen yang jelas pada sisi tubuhnya. Dalam waktu
2 menit – 2 jam, serkaria akan menempel pada rumput atau tanaman air, setelah
melepaskan ekor membentuk metacercaria yang infektif. Metaserkaria masuk ke
dalam alat pencernaan inang bersama makanan atau minuman yang mengandung
metaserkaria. Setelah kista metaserkaria masuk ke dalam duodenum maka
keluarlah cacing muda dari kista yang selanjutnya cacing-cacing muda menembus
dinding duodenum inang, kemudia memasuki rongga abdominal dalam waktu 24
jam setelah infeksi. Pada hari ke 4-6 pasca infeksi, sebagian besar cacing muda
sudah menembus pembungkus hati dan migrasi ke dalam jaringan hari, dan
sebagian cacing dapat mencapai hati melalui pembuluh darah. Cacing muda selain
migrasi ke hati, juga dapat migrasi ke paru-paru dan migrasi ke fetus pada sapi yang
sedang bunting. Migrasi ke dalam parenkim hati terjadi selama 8 minggu, setelah
minggu ke-7 cacing muda mulai memasuki saluran empedu dan tumbuh menjadi
cacing dewasa. Setelah minggu ke-8 dan seterusnya telur cacing ditemukan dalam
saluran atau cairan empedu dan kemudian juga ditemukan dalam tinja. Manusia
dapat tertular apabila memakan sayur-sayuran yang tercemar metaserkaria yang
infektif, sehingga manusia sebagai Accidental host (Kusnoto dkk., 2011).
e. Patogenesa Penyakit
Kejadian infeksi Fasciola gigantica dapat berjalan secara akut, sub-akut,
dan kronis. Kejadian infeksi yang akut disebabkan penularan secara tiba- tiba oleh
cacing dalam jumlah yang besar pada hati penderita yang kemudian terjadi
kerusakan yang hebat pada parenkim hati yang menyebabkan perdarahan dalam
cavum peritoneal karena cacing tersebut memakan jaringan dan menghancurkan
parenkim hati. Hal ini dapat menyebabkan kematian pada hewan penderita. Cacing
dewasa akan merusak epitel saluran empedu sehingga akan menyebabkan foki-foki
nekrotik dan juga terjadi pembentukan jaringan fibrosa yang berlebihan sehingga
saluran empedu akan mengalami penebalan dan terlihat pengapuran yang
selanjutnya terbentuk sirosis hepatis (Kusnoto dkk., 2011).

70
f. Gejala Klinis
Secara umum, infeksi cacing hati ini dapat mengakibatkan penderita dungu,
lemah, nafsu makan menurun, tampak pucat dan oedema dari mukosa dan
konjungtiva, hewan tampak nyeri jika ditekan pada daerah hepar. Pada kejadian
yang akut sering disertai infeksi sekunder oleh bakteri Clostridium novyi yang
menyebabkan black disease dan sering menimbulkan kemarian. Sedangkan pada
kejadian yang kronik, dapat menimbulkan anemia, edema submandibular (bottle
joy), kehilangan berat badan, hewan cepat lelah, icterus, diare, penurunan produksi
dan dapat menimbulkan colostridial diseases (Foreyt, 2001; Kusnoto dkk., 2011).
g. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian obat cacing secara rutin,
control lymnea dengan obat antisiput seperti senyawa Cu dan garam Natrium yang
dimasukkan pada air selokan di sekitar peternakan. Sedangkan pengobatan pada
hewan yang terinfeksi Fasciola gigantica dapat dilakukan dengan pemberian:
Obat Dosis
Albendazole 10 mg/kgBB PO (sapi)
15 mg/kgBB PO (kambing)
Clorsulon 7 mg/kgBB PO
Nitroxynil 10 mg/kgBB SC
Rafoxanide 7.5 mg/kgBB PO
(Foreyt, 2001)

2. Paramphistomum sp.

Cacing Paramphistomum sp. (dokumentasi pribadi, 2018)

71
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Cacing
Asal : Batu, Malang
Tanggal Pengambilan : 22 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 29 Agustus 208
Pengawetan : pewarnaan Semichen-Acetic Carmine
b. Klasifikasi dan Morfologi
Berikut merupakan taksonomi dari paramphistomum
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Trematoda
Ordo : Plagiorchiida
Family : Paramphistomatidae
Genus : Paramphistomum
Cacing dewasa berukuran kecil, berbentuk kerucut, berbentuk pipih dengan
panjang 1.0 cm. Satu alat hisap (sucker) terletak di ujung posterior dan satu lagi
terletak di ventral. Stadium larva berukuran kurang dari 5.0 mm (Urquhart, 1996).
c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari cacing paramphistomum sp. adalah ruminansia, baik
ruminansia liar maupun ruminansia domestik dengan predileksi pada rumen dan
duodenum untuk cacing dewasa dan pada usus halus tepatnya pada duodenum
untuk cacing immature (Kaufmann, 1996 ; Urquhart, 1996).
d. Siklus Hidup

Siklus hidup paramphistomum sp.

72
Ternak ruminansia dapat terinfeksi paramphistomum sp. akibat memakan
rumput yang ditempeli metaserkaria. Metaserkaria yang masuk ke dalam saluran
pencernaan akan berkembang menjadi cacing muda di usus halus tepatnya
duodenum. Cacing muda berkembang cepat, lalu bermigrasi ke rumen dalam
jangka waktu satu bulan setelah infestasi. Di rumen, cacing berkembang menjadi
dewasa dan menggigit mukosa rumen dan dapat bertahan hidup lama. Cacing
dewasa kemudian bertelur kira-kira 75 butir/ekor/hari. Telur keluar melalui feses
dan terjatuh di tempat yang basah dan lembab. Mirasidia di dalam telur berkembang
cepat dan keluar dari telur kemudian berenang mencari siput yang cocok sebagai
inang antara. Dalam tuuh siput, mirasidium berkembang menjadi ookista dan
kemudian menjadi redia, lalu menjadi serkaria selama 4-10 minggu. Serkaria keluar
dari tubuh siput dan berkembang menjadi metaserkaria dengan melepaskan ekornya.
Metaserkaria ini menempel pada daun dan rerumutan, menunggu termakan oleh
ternak. Siklus hidup dari paramphistomum sp. bergantung pada lingkungan yang
cocok, terutama kelembaban yang tinggi dan temperature yang memadai (±27oC)
(Darmono, 1983).
e. Patogenesa Penyakit
Metaserkaria yang masuk ke dalam saluran pencernaan, akan berkembang
menjadi cacing muda di usus halus dan dapat menimbulkan kerusakan pada mukosa
usus karena gigitan acetabulumnya. Cacing muda yang menembus mukosa sampai
ke dalam dapat menimbulkan strangulasi (pengerutan), nekrosis, erosi, dan
hemoragik pada mukosa. Akibatnya dapat menimbulkan radang akut pada usus dan
abomasum (Darmono, 1983).
f. Gejala Klinis
Gejala klinis yang ditimbulkan akibat infeksi dari cacing paramphistomum
sp. adalah sebagai berikut:
- enteritis disertai dengan diare berair
- hypoproteinemia
- rumenitis (Kaufmann, 1996)

73
g. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan dari infeksi paramphistomum sp. dapat dilakukan dengan
drainage di daerah rawa-rawa dan pemberantasan terhadap snail dan molluscida.
Pengobatan dari infeksi paramphistomum sp. dapat dilihat pada tabel berikut ini
Obat Dosis
Hexa Chlorethane-Bentonite 180 g/ekor sapi
Bithionol 25-35 mg/kgBB
Hexa Chlorophene 10 mg/kgBB
Yomesan 75 mg/kgBB
(Kusnoto dkk., 2011)

3. Schistosoma bovis

Telur Schistosoma bovis perbesaran 400x (dokumnetasi pribadi, 2018)


a. Sinyalemen
Jenis Sampel : feses
Asal : Kecamatan Socah, Madura
Tanggal Pengambilan : 10 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 31 Agustus 2018
Metode Uji : sedimentasi
b. Klasifikasi dan Morfologi
Berikut ini adalah taksonomi dari Schistosoma bovis
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminhes
Class : Trematoda

74
Ordo : Diplostomida
Family : Schistosomatidae
Genus : Schistosoma
Spesies : Schistosoma bovis
Cacing dewasa memiliki panjang antara 8-20 mm tergantug pada jenis
kelamin. Cacing betina lebih panjang daripada cacing jantan. Cacing jantan
memiliki celah perut yang diseut Canal gynaecophore / Canalis gynaecophorus /
Ventral groove, sedangkan pada betina berbentuk silindrik. Oral sucker terletak
terminal sedangkan ventral sucker terletak sangat dekat dengan posterior tubuh.
Ventral groove memanjang dari ventral sucker sampai ujung posterior tubuh.
Sistem pencernaan terdiri atas esophagus dan sekum yang bercabang dua pada
permukaan ventral sucker dan bersatu kembali pada pertengahan tubuh posterior
dan berlanjut ke ujung posterior tubuh. Cacing jantan memiliki testis berkelompok
(7-10 buah) yang berada di belakang percabangan anterior usus. Cacing betina
memiliki vulva yang berada di bagian posterior dari ventral sucker. Uterus
merupakan tabung sederhana yang berisi banyak telur dan di bagian posterior uterus
terdapat ovarium yang berakhir dengan glandula vittelina. Telur berbentuk ovoid,
dilengkapi spina, berukuran 100-400 mikron (Kusnoto dkk., 2011).
c. Hospes dan Predileksi
Hospes dari schistosoma bovis adalah ruminansia, dengan predileksi di vena
porta dan vena mesenterika (Zajac, 2012).
d. Siklus Hidup
Cacing dewasa hidup di vena porta dan vena mesenterika dari hospes
definitif. Cacing jantan membawa cacing betina menuju mesenteric venules. Cacing
betina meninggalkan kanal gynecophoric jantan untuk meletakkan telur pada
cabang vena yang tepat. Cacing betina memproduksi ratusan telur per hari. Telur
dapat mengikuti aliran darah hingga menuju organ tubuh, seperti hepar. Sebagian
telur juga akan menuju lumen intestinal dan akhirnya dikeluarkan bersama feses
dan akan kontak dengan air sehingga dapat berkembang menjadi miracidium.
Miracidium berenang aktif untuk mencari hospes intermediate, yaitu siput dari
genus Bulinus. Di dalam tubuh siput, miracidium berkembang menjadi sporocyst.

75
Sporocyst migrasi ke kelenjar digestif dan gonad dari siput dan akan menjadi
cercaria. Cercaria penetrasi pada kulit hospes definitif setelah berubah menjadi
schistosomulum. Selain penetrasi pada kulit, infeksi schistosoma sp. juga dapat per
oral (pada kambing). Schistosomulum masuk ke sistem peredaran darah atau sistem
limpatik menuju jantung kanan dan paru-paru, kemudian melanjutkan ke sirkulasi
sistemik menuju hepar, dimana tempat berkembang menjadi cacing dewasa. Cacing
dewasa akan migrasi ke vena mesenterika untuk bertahan hidup (Soren, 2009).

Siklus hidup cacing schistosoma sp. (1) cacing dewasa di dalam vena mesenterika
dari hospes definitive, (2) telur, (3) miracidium (4) hospes intermediate a) primer
b) sekunder sporocyst (5) cercaria (gambar oleh Karolina Larsson dalam Soren,
2009)
e. Patogenesa dan Gejala Klinis
Infeksi cacing schistosoma sp. yang paling patogenik adalah telurnya. Telur
yang tidak berhasil penetrasi ke mukosa intestin atau telur yang terbawa aliran darah
menuju organ lain, akan tetap berada pada jaringan tersebut dan sekresi dari
miracidium akan menghasilkan respon inflamasi lokal. Pada schistosoma bovis,
temuan patologi paling parah adalah pada intestin, dimana inflamasi granulomatosa
perioval terbentuk pada tempat telur menetap. Granulomatosa juga dapat ditemukan
di hepar, dimana antigen telur menginduksi peningkatan fibrosis pada portal tract
(Soren, 2009).

76
f. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan dari infeksi schistosoma sp. dapat dilakukan dengan cara
berikut:
1. Mengurangi sumber infeksi dengan pemeriksaan secara rutin,
2. Membuang feses/urine pada tempat tertentu yang tidak memungkinkan
kontaminasi air yang terdapat siput,
3. Mengendalikan siput.
Pengobatan pada hewan yang terinfeksi schistosoma sp. dapat dilakukan
dengan pemberian:
Obat Dosis Lama pemberian
Stibophen/Fouadine 6,3% 7.5 mg/kgBB IV 10 hari
Kalium emetik 8.5-12 mg/kgBB IV 10 hari
Lucanthone 40 mg/kgBB PO 3 hari
Niridazole 8.0-15 mg/kgBB PO 5 hari
Praziquantel 8.0-15 mg/KG BB SC (Untuk domba)
(Kusnoto dkk., 2011)

4. Echinochasmus perfoliatus
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Cacing Pipih (Trematoda)
Asal sampel : kucing ras dari Klinik House of Pet Malang
Tanggal Pemeriksaan : 27 Agustus 2018
Media Pengawetan : formalin 10%
Periksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan feses kucing
yang diberi cairan formalin 10% dengan metode natif, sedimen dan apung. Pada
metode apung yang diamati dibawah mikroskop perbesaran 400x, teridentifikasi
cacing trematoda yaitu Echinochasmus perfoliatus.
b. Klasifikasi dan Morfologi
Echinochasmus perfoliatus merupakan cacing golongan trematoda yang
dapat menginfeksi saluran pencernaan pada hewan karnivora. Echinochasmus sp.
dapat menimbulkan peradangan catarrhal, bahkan membentuk ulkus pada mukosa

77
usus dan dapat menyebabkan enteritis. Taksonomi Echinochasmus sp. adalah
sebagai berikut:
Phylum : Platyhelminthes
Kelas : Trematoda
Ordo : Plagiorchiida
Family : Echinochasmidae
Genus : Echinochasmus
Spesies : Echinochasmus perfoliatus

Telur Echinochasmus perfoliatus ditemukan pada feses kucing (dokumentasi


pribadi, 2018)
Telur Echinochasmus sp. berbentuk lonjong dengan penebalan disalah satu
ujung berwarna lebih gelap dan terdapat operkulum yang kecil di ujung berlawanan.
Setiap spesies memiliki ukuran, warna dan lamanya waktu menetas. Ciri khas dari
cacing Echinochasmus adalah duri disekitar batil hisap mulut yang berbentuk
seperti tapal kuda. Spesies-spesies Echinochasmus dapat dibedakan dari jumlah
duri disekitar batil hisap mulut. Echinochasmus memiliki 2 batil hisap, yakni batil
hisap mulut dan batil hisap perut. Testis agak bulat, berlobus, tersusun satu
dibelakang yang lain, terdapat dibagian posterior tubuh. Ovarium bulat, terletak
didepan testis anterior (Keeler dan Huffman, 2009).
c. Hospes dan Predileksi
Echinochasmus perfoliatus merupakan parasit yang menginfeksi
gastrointestinal pada anjing dan kucing. Predileksi dalam induk semang di usus
halus dapat menyebabkan enteritis, larvanya dapat berkembang hampir pada semua

78
mamalia, membentuk sista hidatida pada hati, paru, ginjal dan organ lain (Fang dkk.,
2015).
d. Siklus Hidup
Telur akan keluar bersama tinja. Telur Echinochasmus sp. yang matang di
air akan membuat operkulum terbuka dan mirasidium akan keluar. Mirasidium
kemudian akan mencari hospes perantara I (keong air, seperti Gyraulus
convexiusculus), kemudian akan berubah menjadi sporokista, redia dan serkaria.
Serkaria akan keluar dari hospes perantara I mencari hospes perantara II (keong air,
seperti Vivaparus javanicus) dan berubah menjadi metaserkaria, kemudian akan
masuk ke tubuh hospes dan menjadi cacing dewasa dan menginfeksi usus halus
(Dhanumkumari dan Shyamasundari, 1991).
Hewan carnivora yang terinfeksi cacing Echinochasmus sp. akibat tertelan
pakan yang mengandung metaserkaria. Cacing dewasa hidup di usus halus. Lama
hidup masing-macing cacing dewasa bergantung pada jenis spesiesnya. Masing-
masing spesies cacing Echinochasmus sp. membutuhkan hospes perantara I yang
spesifik untuk perkembangan mirasidium menjadi serkaria (Keeler dan Huffman,
2009).
e. Patogenesa dan Gejala Klinis
Infeksi yang hebat pada kasus infeksi Echinochasmus sp. dapat
menimbulkan peradangan catarrhal, bahkan membentuk ulkus pada mukosa usus
dan dapat menyebabkan enteritis dengan gejala sakit perut dan diare.
f. Pengobatan
Pengobatan pada kasus infeksi cacing Echinochasmus sp. dapat dilakukan
dengan pemberian praziquantel 10-20 mg/kg BB benzimidazole, oxyclozamide,
nafozamide, brotionide.

5. Paragonimus kellicoti
a. Sinyalemen
Kucing persia 3 tahun. Tidak menunjukkan gejala klinis. Konsistensi feses
normal. Nafsu makan dan minum baik.
Jenis sampel : Feses

79
Tanggal Pengambilan : 19 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 27 Agustus 2018
Pengawetan : Menggunakan formalin 10%. Pemeriksaan dengan
metode natif, sedimentasi, dan apung
Genus Paragonimus termasuk dalam filum Platyhelminthes dan merupakan
kelas Trematoda. Paragonimiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing
genus Paragonimus. Paragonimiasis merupakan penyakit zoonosis dimana manusia
beperan sebagai hospes definitif.
b. Morfologi
Paragonimus sp. merupakan spesies yang bersifat hermaprodit, memiliki
testis maupun ovarium. Tubuh cacing dewasa ovoid. Terdapat oral terminal sucker
serta ventral sucker yang juga dikenal sebagai acetabulum. Sistem digestif terdiri
dari faring dan esofagus terpotong yang bercabang lebih awal dalam ceca/ sekum
yang berpasangan. Testis yang berpasangan sangat dalam, ovarium berada pada
satu sisi organisme sedangkan uterus yang tertutup rapat berada di sisi yang
berlawanan. Dinding tubuh mengandung otot polos yang ditutupi oleh tegumen
(Procop, 2009). Menurut Griffith (1978), identifikasi cacing Paragonimus kellicoti
yaitu berwarna merah kecoklatan dengan ukuran pada cacing dewasa kira-kira 16
x 8 mm. Kutikula/ tegumen ditutupi dengan spines (duri). Telur berwarna kuning
kecoklatan dengan ukuran 90 x 50 µm, memiliki operculum dan cangkang pada
kutub yang berlawanan agak menebal.

Telur Paragonimus kellicoti (Nelson dan Couto, 2014)

80
Hasil pemeriksaan feses pada kucing metode apung, ditemukan telur
Paragonimus kellicoti (dokumentasi pribadi, 2018).
c. Siklus Hidup
Siklus hidup dimulai ketika telur terfertilisasi, telur yang dibiarkan yang
diproduksi secara seksual oleh cacing dewasa dikeluarkan dalam sputum atau feses
dari mamalia hospes definitif masuk ke air dan menetas menjadi mirasidia bersilia.
Mirasidia kemudian memasuki bagian lunak dari siput air (hospes intermediet
pertama) dan mengalami dua siklus reproduksi aseksual (meliputi pembentukan
sac-like ssprocyst dalam hemocoel siput dan dua generasi redia dalam sistem
limfatik siput) menjadi serkaria infektif (dengan anterior stylets dan ekor pendek).
Serkaria infektif dikeluarkan siput ke dalam air (atau siput yang terinfeksi dimakan
oleh krustasea) menembus insang dan jaringan lunak lainnya pada exoskeleton
crustacean (hospes intermediet kedua) dan berkembang menjadi metaserkaria.
Setelah mengonsumsi krustasea air tawar mentah atau kurang matang , hospes
definitif mamalia memperoleh metasekaria yang bergerak dari usus ke abdomen
dan paru-paru. Hospes definitif cacing Paragonimus sp. yaitu mamalia omnivora
dan karnivora pemakan krustasea seperti anjing, kucing, harimau, dan
manusia.Dalam paru-paru, metaserkaria matang menjadi cacing dewasa, menjadi
kista (dari bentuk bulat menjadi ovoid dan diameter menncapai 2 cm, setiap kista
mengandung dua atau lebih cacing dewasa atau diploid atau tripoid seperti pada
kasus P. Westermanii), dan saling fertilisasi satu sama lain dengan akhir rupturnya
kista dalam paru-paru, telur dilepaskan dan dibatukkan atau tertelan dan
dikeluarkan ke dalam feses untuk siklus infeksi berikutnya (Liu, 2017).

81
Siklus hidup Paragonimus kellicoti (sumber CDC).
d. Hospes dan Predileksi
Hospes dari Paragonimus kellicoti antara lain kucing, anjing, mink dan
karnivora lainnya. Hospes intermediet Paragonimus kellicoti yaitu siput dan udang.
Predileksi cacing Paragonimus kellicoti ketika berbentuk kista berada dalam paru-
paru, biasanya 2 atau 3 cacing per kista. Kadang-kadang dapat ditemukan dalam
otak atau organ lainnya (Griffith, 1978).
e. Patogenesa dan Gejala Klinis
Penularan cacing dapat terjadi dengan cara memakan hospes intermediat
yang terinfeksi atau metaserkaria yang telah dilepaskan dari crayfish. Jumlah
parasit yang sedikit dalam paru-paru menyebabkan kerusakan yang kecil.
Paragonimiasis akut dapat bersifat asimtomatik atau subklinis pada sekitar 20%
pasien, sedangkan pada pasien yang lain menunjukkan demam, abdominal pain dan
nyeri dada, diare, keletihan dan urtikaria dengan kemungkinan eosinofilia. Pada
paragonimiasis yang kronis, cacing yang membentuk kista dan menghasilkan telur
pada parenkim paru-paru menyebabkan batuk, darah pada sputum, dyspnea,
pleuritic chest pain, demam, krepitasi, kelemahan, ronchi, dan suara serak dimana
gejala klinis bergantung pada lokasi dan jumlah kista parasit. Apabila cacing
berkeliaran ke otak atau jaringan vital yang lain dapat menyebabkan masalah yang
signifikan. Kista parasit dikelilingi oleh jaringan ikat dan diinfiltrasi leukosit dan
giant sel (Griffith, 1978). Adanya telur menimbulkan reaksi ringan yaitu

82
terbentuknya pesudotuberkel kecil. Pada kasus paragonimiasis cerebral seringkali
menimbulkan manifestasi lesi pada otak dan meningitis atau meningoencephalitis
karena migrasi cacing dengan gejala klinis yang umum seperti sakit kepala, muntah,
kejang, perubahan personal, penurunan kognitif, koma sampai kematian.
f. Pencegahan dan Pengobatan
Untuk merusak tegumen spesies Paragonimus sp. terapi yang diberikan
yaitu praziquantel (75mg/kg/hari diberikan 3 dosis dalam 2 hari). Obat lainnya
seperti bithinol (30-50 mg/kg 10-15 dosis dengan hari selang seling), niclofan, dan
triclabendazole (10mg/kg dua kali sehari) memiliki tingkat kesembuhan yang tinggi
pada kasus paragonimiasis. Pencegahan pada paragonimiasis manusia harus
memasak krustasea untuk membunuh semua stadium parasit dan menghindari
krustasea mentah. Pencegahan pada anjing atau kucing adalah jangan memberi
makan dengan krustasea mentah. Selain itu kontrol siput dapat dipertimbangkan.
Bithinol asetat menunjukkan keefektifannya untuk pengobatan pada anjing maupun
manusia.

4.1.3 Cestoda
1. Hymenolepis nana
a. Sinyalemen
Tikus rumah (Rattus rattus) tidak menunjukkan gejala klinis.
Jenis sampel : Feses
Tanggal Pengambilan : 28 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 29 Agustus 2018
Pengawetan : Tidak diawetkan Pemeriksaan dengan metode natif,
sedimentasi, dan apung
Hymenolepis nana merupakan parasit yang umum ditemukan pada usus
halus tikus.
b. Morfologi
Hymenolepis nana merupakan cacing pita yang sangat pendek, berukuran
panjang 25 – 40 mm dan lebar 0,1 – 0,5 mmm, dengan jumlah proglotidnya
mencapai 200 buah. Scolex bulat dan memiliki 4 penghisap seperti mangkok,

83
memiliki rostelum yang pendek dan refraktil, berkait kecil dalam satu baris. Bagian
lehernya panjang dan permukaannya halus. Strobila dimulai dari proglotid muda
yang sangat pendek dan sempit, belum terbentuk organ genital, ke arah distal
semakin lebar dan pada ujung distal strobila membulat. Proglotid berbentuk
trapesium dengan lebar proglotid kira-kira 4 kali panjangnya, mempunyai ovarium
dan berlobus, serta uterus berbentuk kantung yang berisi 80 – 180 butir telur.
Mempunyai testis bulat berjumlah 3 buah dengan porus genitalis unilateral
(Palgunadi, 2012).
Telur H. nana kecil, berbentuk bulat atau oval dan berukuran 44 – 62 x 30
– 55 µm. Tidak berwarna dengan cangkang halus dan mengandung embryophore
berbentuk lemon dengan sumbat kutub yang menonjol yang menahan filamen
panjang yang halus dan berundulasi. Embrio memiliki 3 pasang kait kecil (Taylor
et al., 2016).

Telur Hymenolepsis nana (Sadaf et al., 2013).

Telur Hymenolepsis nana pada tikus rumah dengan metode sedimentasi


(dokumentasi pribadi, 2018)

84
c. Siklus Hidup
Hymenolepis nana merupakan satu-satunya cacing golongan cestoda yang
tidak memerlukan hospes perantara dalam menyelesaikan siklus hidupnya. Namun
secara eksperimental dikenal adanya siklus hidup tidak langsung dimana serangga
sebagai hospes intermdiet. Serangga yang menjadi perantara antara lain pinjal dari
spesies Nosopsyllus fasciatus, Pulex irritans dan Xenopsylla cheopis, kutu beras
(Sitophylus orizae), dan kumbang tepung (Tribolium sp.). Telur cacing yang
dimakan serangga tersebut akan berkembang menjadi cysticercoid larva dan hidup
di hemocele serangga tersebut. Manusia terinfeksi cacing ini bila tidak sengaja
menelan serangga atau tepung yang mengandung cysticercoid. Siklus hidup
autoinfeksi internal pada H. nana mungkin saja terjadi.

Siklus hidup H. nana (sumber CDC).


Telur dapat menetas secara prematur dalam usus hospes, dimana pada siklus
yang lazim telur berkembang menjadi telur yang berembrio di uar tubuh hospes,
menjadi telur yang infeksius bagi manusia. Pada kejadian ini umumnya penderita
belum sempat membentuk kekebalan terhadap cacing Hymenolepis sp. sebab tidak
ada kontak langsung antara cacing dan makrofag untuk membentuk antibodi. Pada
manusia infeksi H. nana tidak memerlukan hospes perantara. Infeksi terjadi melalui
tertelannya telur. Telur menetas dan onkosfer masuk mukosa usus halus dan
menjadi cysticercoid. Cysticercoid bersarang dalam tunika propria dari villi usus
halus. Setelah beberapa hari kembali ke rongga usus halus menjadi dewasa. Tiga

85
puluh hari sesudah infeksi akan ditemukan telur dalam tinja. Kadang – kadang telur
tidak dikeluarkan bersama tinja, tetapi menetas di dalam usus, onkosfer yang keluar
menembus villi usus dan siklus hidupnya akan berulang. Hal ini diisebut autoinfeksi
interna yang dapat menyebabkan infeksi menjadi berat (Widiastuti et al, 2016).
d. Hospes dan Predileksi
Predileksi cacing H. nana adalah pada 2/3 bagian atas dari ileum (Palgunadi,
2012). Hospes intermediet H. nana yaitu kumbang tepung (Tebebrio) atau pinjal.
Sedangkan hospes definitifnya yaitu tikus, mencit, burung, manusia dan primata
(Taylor et al., 2016).
e. Patogenesa dan Gejala Klinis
Infeksi pada tikus laboratorium relatif jarang dan biasanya asimtomatik
meskipun pada infestasi berat dapat menyebabkan kehilangan berat badan, muntah
dan kadang-kadang obstruksi usus. Infestasi berat pada manusia dapat
menyebabkan enteritis, anoreksia dan pruritis anal (Taylor et al., 2016). Akibat
infeksi dari cacing ini biasanya tidak menimbulkan kerusakan pada mukosa usus
tetapi dapat terjadi deskuamasi sel epitel dan nekrosis pada tempat perlekaran
cacing dewasa, sehingga dapat menimbulkan enteritis pada infeksi yang berat.
Infeksi yang ringan biasanya tidak menimbulkan gejala klinis atau hanya timbul
gangguan pada perut yang terlihat kurang nyata pada infeksi yang berat akibat
infestasi lebih dari 1000 cacing, terutama pada anak – anak yang biasanya
merupakan autoingeksi interna dapat menimbulkan gejala berupa kurangnya nafsu
makan, penurunan beat badan, nyeri epigastrium, nyeri perut dengan atau tanpa
diare yag disertai darah, mual, muntah, pusing, toxaenua, pruritus anal, uticaria
serta gangguan saraf misalnya irritabilitas, konvulsi, dan kegelisahan (Palgunadi,
2012).
f. Pencegahan dan Pengobatan
Sebagai obat pilihan dapat diberikan Niclosamid/Yomesan dengan dosis 2,0
gram, dikunyah, sekali sehari diberikan selama 5 – 7 hari. Obat lain yaitu
Praziquantel peroral dengan dosis tunggal 15 mg/kg berat badan diberikan setelah
makan pagi. Praziquantel ternyata cukup toleran dan berhasil lebih baik daripada
niclosamid. Obat ini akan menimbulkan pembentukan vakuola pada telur cacing.

86
Obat lain yang dapat digunakan adalah Paramomysin dan Quinacrine walaupun
dalam hal ini Paramomysin kurang efektif, sedangkan Quinacrine sedikit bersifat
toksik (Palgunadi, 2012).
Kontrol terhadap H. nana sulit hal ini karena infeksi dapat ditularkan dalam
berbagai cara. Eradikasi bergantung pada higiene yang ketat, eliminasi terhadap
hospes intermediet yang berpotensi, screening individu yang baru tiba dan
pengobatan. Obat-obat yang efektif yaitu niclosamide dan praziquantel (Taylor et
al., 2016).

2. Moniezia sp.
a. Sinyalemen
Sapi limosin tidak menunjukkan gejala klinis
Jenis sampel : Feses
Tanggal Pengambilan : 28 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 29 Agustus 2018
Pengawetan : Pengawetan menggunakan formalin 10%.
Pemeriksaan dengan metode natif, sedimentasi, dan apung
Moniezia sp. merupakan cacing cestoda yang memiliki skoleks polos
dengan empat penghisap berukuran besar dan segmen yang sangat lebar, dengan
organ genital bilateral. Moniezia sp. Ditemukan di dalam usus halus sapi, domba,
dan kambing (Moniezia benedini, Moniezia expansa, dan Moniezia caprae)
(Bowman, 2014).
b. Morfologi
Panjang cacing ini dapat mencapai 6 m dan lebar 1.6 cm (M. expansa). M.
benedini yang lebih sering pada sapi lebih lebar yaitu dapat mencapai 2.6 cm. Telur
M. expansa berbentuk segitiga mengandung aparatus pyriform dan berukuran 56 x
67 µm. Telur M. benedini berbentuk segiempat dengan cangkang tebal berornamen
berdiameter 75 µm (Kaufmann, 1996). M. expansa memiliki empat penghisap yang
menonjol. Segmennya lebih lebar dari panjangya (lebarnya mencapai 1,5 cm) dan
berisi dua set organ genital yang sangat terlihat di sepanjang margin lateral setiap
segmen. Terdapat barisan kelenjar interproglotid yang membentang sepanjang

87
seluruh lebar batas posterior setiap segmen yang dapat digunakan dalam
diferensiasi spesies (gambar A). Sedangkan pada M. benedini kelenjar
interproglotid terbatas pada baris pendek dekat dengan bagian tengah tepi segmen
(gambar B) (Taylor et al., 2016).

A. M. expansa B. M. benedini
Perbedaan antara M. expansa dengan M. benedini (Taylor et al., 2016)

Telur Moniezia sp (Kaufmann, 1996).

Telur Moniezia expansa metode natif Telur Moniezia benedini metode


(dokumentasi pribadi, 2018) natif (dokumentasi pribadi, 2018)
c. Siklus Hidup
Siklus hidup Moniezia sp memerlukan inang antara seperti cacing pita pada
umumnya. Tungau merupakan inang antara pertama yang hidup bebas di hijauan

88
dan rumput. Telur yang keluar melalui kotoran ternak akan termakan oleh tungau.
Telur kemudian menetas dan larva bermigrasi ke dalam rongga tubuh tungau
dimana akan berkembang menjadi cysticercoid. Ketika tungau tertelan oleh domba,
mereka berkembang menjadi dewasa. Fase ketika telur tertelan hingga produksi
telur pada ternak memakan waktu sekitar 6 minggu. Cacing pita dewasa bertahan
hidup sekitar 3 bulan. Infestasi biasanya lebih buruk di musim panas tetapi
cysticercoid dapat bertahan pada musim dingin dalam tubuh tungau (Menzies,
2010).

Siklus hidup Moniezia sp (Hendrix dan Robinson, 2016).


d. Patogenesa dan Gejala Klinis
Pada umumnya anak kambing, domba dan sapi di bawwah umur 6 bulan
paling sering terinfeksi. Infeksi yang hebat pada kambing dan domba berhubungan
erat dengan jumlah oribated mites yang ada di padang rumput. Bila penggembalaan
dilakukan pada padang rumput yang sama/ tetap maka jumlah mites akan banyak
sekali baik pada rumput maupun tanah. Tungau ini mempunyai kebiasaan pada
malam hari/senja naik ke ujung rumput atau bagian rumput yang gelap dan pada
siang hari bersembunyi di dasar rumput yang tidak tercapai oleh sinar atau di
permukaan tanah (bersifat fototropisme negatif). Cacing muda maupun dewasa
dapat menimbulkan iritasi pada usus sehingga menyebabkan gangguan pencernaan
(Bendryman dkk., 2013).

89
Pada infestasi akut dapat terjadi intoksikasi akibat racun yang dihasilkan
oleh cacing dewasa. Pada infeksi ringan menyababkan gangguan pencernaan dan
pertumbuhan lambat. Gejala klinis pada umumnya tidak jelas dan biasanya tidak
jelas dan biasanya terlihat kelemahan dan kekurusan. Pada infeksi yang berat bisa
menimbulkan anemia, diare profus, pertumbuhan lambat, kekurusan, kelemahan
dan bisa bersifat fatal terutama sering terjadi pada anak sapi (Bendryman dkk.,
2013).
e. Pengobatan dan Pencegahan
Anthelmintika yang dapat digunakan adalah Dichlorophene 300-600 mg per
kg berat badan dan Yomesan 75 mg per kg berat badan. Untuk pengendalian
penyakit kontrol terhadap tungau (Bendryman dkk., 2013).

4.2 Protozoa
4.2.1 Protozoa Darah
1. Babesia canis
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Darah anjing labrador
Asal : Anjing dari klinik la femur, surabaya
Tanggal pengambilan : 23 agustus 2018
Tanggal pengujian : 24 agustus 2018
Metode uji : Pewarnaan giemsa

Protozoa darah Babesia canis (dokumentasi pribadi, 2018)

90
Gambar Protozoa darah Babesia canis (Nolan,2004)
b. Klasifikasi
Filum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoasida
Subkelas : Coccidiasina
Ordo : Eucoccidiorida
Subordo : Piroplasmorina
Famili : Babesidae
Genus : Babesia
Spesies : Babesia canis
c. Morfologi
Babesia canis merupakan parasit dari filum apicomplexa dengan trofozoit
dapat berbentuk bulat atau berbentuk buah pir. Babesia canis memiliki ukuran
panjang 2-5 um, parasit ini hidup di dalam sel darah merah anjing (Schoeman,
2009).
d. Hospes dan Predileksi
Hospes dari Babesia canis adalah hewan anjing, predileksi dari Babesia
canis di eritrosit anjing
e. Siklus hidup
Vektor dari penyakit ini adalah caplak anjing Rhipicephalus sanguineus.
Sporozoit parasit ditemukan di alveoles kelenjar ludah caplak. Setelah caplak
menggigit inang, sporozoit masuk ke dalam tubuh anjing dan menginfeksi eritrosit
anjing. Dalam vakuola dalam sitoplasma sel darah merah parasit membagi melalui
pembelahan biner menghasilkan merozoit. Kemudian, ketika caplak yang berperan

91
sebagai vector kembali mengigit inang dan memperoleh makan darah, parasit
diambil oleh vektor yang kemudian membentuk gamet dan menghasilkan sporozoit.
Pada anjing transmisi juga mungkin terjadi melalui penularan vertikal parasit yang
ditularkan dari ibu ke anaknya (rute yang sebenarnya tidak diketahui, tetapi
mungkin adalah transplasenta) (Schoeman, 2009).

Gambar siklus hidup Babesia canis


f. Patogenesa
Setelah terinfeksi, respon imun biasanya dihasilkan. Sistem kekebalan
tubuh tidak dapat sepenuhnya menghilangkan infeksi, dan hewan yang tetap hidup
bersifat sakit kronis dan berperan sebagai karier. Respon imun humoral yang tidak
maksimal umum terjadi pada anak anjing yang lebih muda dari 8 bulan. Transmisi
transplasenta B. canis dapat terjadi dan dapat mengakibatkan anak anjing lemah
(Camacho, 2004). Dalam satu contoh, infeksi B. canis didiagnosis pada anak anjing
greyhound berumur 36 jam yang lahir dari induk yang positif terinfeksi babesiosis
(Brandao, 2004). Faktor seperti usia dari inang dan tanggap kebal yang dihasilkan
terhadap parasit atau vektor kutu inang adalah hal yang penting (Welzl, 2001).
Eritrosit yang terinfeksi parasit memasukkan antigen ke permukaan eritrosit dan
menginduksi antibodi dalam tubuh inang yang menyebabkan pecahnya eritrosit
yang terinfeksi oleh sistem mononuklear fagosit (Brandao, 2004). Dua sindrom
yang dapat terlihat pada infeksi Babesia sp. adalah ditandai dengan anemia
hemolitik dan terjadinya beberapa disfungsi organ yang dapat menjelaskan

92
sebagian dari tanda-tanda klinis yang diamati pada hewan yang terinfeksi
babesiosis. Menurut VSSF (2005) Protozoa Babesia sp. umumnya ditularkan oleh
kutu dan mencapai aliran darah ketika kutu menghisap darah inang. Setelah masuk
ke dalam tubuh inang, parasit menempel ke eritrosit, kemudian masuk kedalam
eritrosis melalui proses endositosis, mengalami pematangan, dan kemudian mulai
bereproduksi melalui reproduksi aseksual, yang menghasilkan merozoit. Eritrosit
yang terinfeksi akhirnya pecah dan merozoit dirilis menyerang eritrosit lain.
Patogenesis utama yang terkait dengan Babesiosis adalah anemia hemolitik.
Anemia hemolitik adalah hasil dari cedera eritrosit langsung yang disebabkan oleh
parasit dan juga oleh mekanisme imun. Selain itu, sebagian besar anjing dengan
Babesiosis memiliki trombositopenia. Gejala klinis yang timbul dari penyakit ini
antara anak anjing umumnya lebih rentan terhadap Babesiosis dan dan memiliki
risiko terbesar dari penyakit ini dan dapat menimbulkan kematian. Pada kasus
anemia progresif dapat menyebabkan terjadinya hemoglobinemia, hemogloinuria,
bilirubinemia dan icterus.
g. Gejala Klinis
Gejala klinis yang dapat terlihat ketika inang terinfeksi Babesia sp. adalah
demam, lemas dan anemia yang bersifat akut. Selain itu dapat menimbulkan
kerusakan pada organ-organ seperti pada ginjal menyebabkan terjadinya gagal
ginjal, pada otak dapat menyebabkan babesiosis cerebral, trombositopenia, ikterus,
sindrom kegagalan dalam pernafasan, kegagalan jantung, dan pancreatitis (Kettner,
2003).
h. Diagnosis
Mikroskopi merupakan tes diagnostik yang sederhana dan paling mudah
untuk dokter hewan mengidentifikasi babesiosis dengan menggunakan pewarnaan
giemsa. Selain itu pemeriksaan pada babesiosis dapat menggunakan PCR dan
ELISA. Meskipun PCR merupakan alat diagnosis yang memiliki sensitivitas dan
spesifisitas tinngi. Namun penggunaannya untuk mendiagnosa Babesiosis masih
terbatas dan belum digunakan secara luas. Penggunaan PCR dilakukan di Australia
untuk membedakan B. vogeli dan B. gibsoni. Sebagian besar negara eropa

93
menggunakan PCR untuk membedakan antara spesies B. canis, B. gibsoni, dan B.
vogeli (Birkenheuer, 2003).
i. Pengobatan dan Pencegahan
Pengobatan yang utama adalah untuk menghilangkan parasit di dalam darah
dan mengembalikan keadaan anjing yang mengalami anemia. Pemberian obat
Diminazene aceturate, trypan blue and imidocarb dipropionate efektif diberikan
kepada B. canis. Pada penyakit yang bersifat ringan sampai dengan sedang hewan
dapat kembali sembuh setelah pemberian antibabesia. Selain mengunakan
antibabesia pengendalian vektor penyakit perlu diperhatikan agar penyebaran
Babesia sp. tidak meluas. Pengendalian terbaik adalah dengan eliminasi atau
penghilangan caplak yang menularkan Babesia sp. tersebut. Penghilangan caplak
tersebut bisa dengan cara rajin menyisir dan menyikat rambut anjing, memandikan
anjing dengan sampoo serta menggunakan produk yang bisa membunuh atau
mengusir kutu dan caplak contohnya Selamectin. Dosis pemberian obat untuk
babesiosis adalah sebagai berikut Imidocarb dipropionat pada dosis 7,5 mg/kg
diberikan satu kali atau 7 mg/kg diberikan dua kali dengan interval pemberian 14
hari telah terbukti menghilangkan infeksi (Miller et al., 2005). Perhitungan dosis
Diminazene harus teliti karena dosis terapeutik yang rendah, terutama pada anakan.
Obat diberikan kembali setelah pengobatan pertama jika masih terjadi infeksi
(Miller et al., 2005). Pemberian obat untuk babesiosis harus diperhatikan karena
beberapa obat dapat menyebabkan toksik pada otak. Tripan blue merupakan obat
tertua untuk antibabesia. Namun di beberapa negara obat ini masih digunakan untuk
mengobati penyakit babesiosis.
Pengobatan pertama yang telah terbukti efektif terhadap B. gibsoni adalah
kombinasi atovaquone dan azitromisin (Birkenheuer et al. 2004). Parasit ini sangat
sulit untuk dibersihkan dengan terapi konvensional dan anjing biasanya menjadi
reservoir dan bersifat karier. Hewan yang terlihat anemia dan mengalami
komplikasi memerlukan berbagai perawatan suportif, tergantung pada tingkat
keparahan kasus (Macintire et al., 2002). Transfusi darah dapat diberikan pada
anjing yang mengalami anemia. Pemberian elektrolit perlu diberikan untuk
menambah cairan tubuh dan menyetabilkan tubuh. Cairan elektrolit yang diberikan

94
seperti kalium klorida dan diuretik pada kasus gagal ginjal akut (Conrad et al.,
1991). Alat bantu respirasi sering diperlukan untuk kasus dengan edema paru akibat
sindrom gangguan pernapasan akut.

2. Haemoproteus columbae
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Darah Merpati
Lokasi Pengambilan : Pacar Keling
Tanggal Pengambilan : 26 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 27 Agustus 2018
Metode : Pewarnaan Giemsa
b. Klasifikasi
Kingdom : Protozoa
Phylum : Apicomplexa
Class : Aconoidasida
Ordo : Haemospororida
Family : Haemoproteidae
Genus : Haemoproteus
Species : Haemoproteus columbae (Suwanti dkk., 2012)
c. Morfologi
Haemoproteus sp. adalah protozoa intraseluler, parasit hemotropik yang
menginfeksi sel darah merah burung, kura-kura dan kadal (Bowman, 2003).
Morfologi dari Haemoproteus sp. antara lain bentuk seperti halter mengelilingi inti
eritrosit, granula berpigmen, bentuk skizogoni terdapat pada jaringan paru – paru,
bentuk gametosit yang terdiri dari mikrogametosit dan makrogametosit terdapat
pada pembuluh darah perifer atau eritrosit. Bentuk makrogametosit dengan
pewarnaan giemsa berwarna biru gelap, inti berwarna merah sampai ungu gelap dan
kompak, serta butiran pigmen tersebar di seluruh sitoplasma dan granul berpigmen,
sedangkan mikrogamet butiran pigmennya tidak rata atau berada di kedua ujung
sitoplasma. Bentuk gamet berada di dalam eritrosit memanjang dan melengkung
(berbentuk halter) disekitar inti eritrosit. Merogony berlangsung di sel–sel endotel

95
pembuluh darah, terutama di paru–paru. Protozoa darah ini menyerang burung,
reptil dan beberapa amfibi. Umumnya menyerang merpati, bebek dan kalkun.
Spesies Haemoproteus yang menyerang burung merpati yaitu Haemoproteus
columbae, dan Haemoproteus sacharovi, bebek (Haemoproteus netitionis), kalkun
Haemoproteus meleagridis (Valkiunas, 2005).

Haemoproteus sp. (Pendl, 2004)

Haemoproteus sp. pada eritrosit merpati (dokumentasi pribadi, 2018)


d. Hospes
Haemoproteus sp. sering menyerang pada burung merpati, reptil, dan hewan
liar (Suwanti dkk., 2012).
e. Siklus Hidup
Siklus hidup dimulai dengan tergigitnya induk semang (burung) oleh vektor
yang terinfeksi. Sporozoit dalah tubuh vektor (lalat Hippobosca sp.) yang terinfeksi
maka sporozoit masuk ke dalam aliran darah dan bersama aliran darah masuk sel-
sel endotel, terutama paru-paru (juga organ lain). Di dalam sel endotel berkembang
menjadi bentuk skizon, dalam beberapa menit sudah terbentuk sitoplasma dan satu

96
nukleus. Pertumbuhan selanjutnya nukleus tumbuh menjadi 15 atau lebih yang
berbentuk kecil dan mempunyai masa yang tidak berpigmen, disebut sitomer
(cytomere) dengan satu nukleus. Tiap-tiap satu sitomer secara kontinu berkembang
dan menghasilkan merozoit. Merozoit yang terbebas karena pecahnya sel induk
semang akan menginfeksi sel baru dan berkembang terus secara skizogoni atau
sebagian merozoit masuk ke dalam eritrosit. Di dalam eritrosit merozoit
berkembang menjadi berbentuk gametosit (makrogametosit dan mikrogametosit).
Gametosit yang muda tampak pertama kali dalam darah 30 hari setelah infeksi.
Gametosit terhisap oleh vektor yang menggigit induk semang dan gametosit ini
mengalami pendewasaan di dalam usus vektor. Zigot hasil pembuahan makrogamet
oleh mikrogamet dewasa, masuk ke dalam sel endotel usus vektor membentuk
ookista (ookinet). Dalam ookista terbentuk sporozoit dan ookista dewasa akan
pecah membebaskan sporozoit. Sporozoit masuk ke haemocoel dan akhirnya
mencapai ke glandula salivaria (Suwanti dkk., 2012).
f. Patogenesa
Haemoproteosis ditularkan melalui gigitan hippoboscidae dan cullicoides,
dan pada fase skizoon akan berada dalam endotel pembuluh darah sedangkan gamet
akan berada dalam eritrosit. Gametosit yang muda akan muncul di dalam darah
sekitar 30 hari setelah infeksi. Gamet terhisap oleh vektor melalui gigitan dan gamet
akan mengalami pendewasaan pada usus vektor. Zigot dari hasil pembuahan
makrogamet oleh mikrogamet dewasa, masuk ke dalam sel endotek usus vektor
membentuk ookista. Dalam ookista terbentuk sporozoit dan ookista dewasa akan
pecah membebaskan sporozoit. Sporozoit masuk ke haemocoel dan akhirnya
mencapai ke glandula salivaria yang akan ditularkan oleh vektor (Suwanti dkk.,
2012).
g. Gejala Klinis
Infeksi pada merpati dewasa biasanya gejala klinis tidak tampak. Gejala
yang tampak adalah anoreksia dan anemia. Pada infeksi yang bersifat akut, burung
cenderung tiduran terus dan pada infeksi yang berat dapat menimbulkan kematian.
Kelainan pasca mati yang dapat diamati yaitu membesarnya hari dan limfa serta
berwarna gelap (Suwanti dkk., 2012).

97
h. Pencegahan dan Pengobatan
Tindakan pencegahan terhadap infeksi protozoa darah Haemoproteus sp.
dilakukan dengan cara membuat kandang serangga. Selain itu, sanitasi lingkungan
perlu diperhatikan yaitu lingkungan harus selalu bersih. Terapi yang diberikan pada
hewan yang terinfeksi protozoa darah Haemoproteus sp. dapat diberikan
chloroquine dan primaquine yang efektif terhadap infeksi protozoa Haemoproteus
dan Plasmodium (Swayne et al., 2013).

3. Plasmodium sp.
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Darah Ayam Kampung
Lokasi Pengambilan : Pasar Bratang
Tanggal Pengambilan : 28 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 29 Agustus 2018
Metode : Pewarnaan Giemsa
b. Taksonomi
Kingdom : Protozoa
Phylum : Apicomplexa
Class : Sporozoasida
Ordo : Eucoccidiorida
Family : Plasmodiidae
Genus : Plasmodium
Species : Plasmodium sp. (Suwanti dkk., 2012)
c. Morfologi
Plasmodium sp. adalah protozoa yang terdapat didalam darah, khususnya
sel eritrosit dari bangsa burung. Plasmodium sp. adalah protozoa yang dapat
menyebabkan penyakit malaria. Bentuk skizogoni terdapat pada sel darah merah
hospes, sedangkan bentuk gametogoni dan sporogoni terjadi di saluran pencernaan
vektor yaitu invertebrata. Bentuk gametosit Plasmodium sp. adalah bundar dengan
pigmen bergranul yang relatif besar, sedangkan bentuk skizonnya bundar atau tidak
beraturan dan dapat menghasilkan 3-8 merozoit dalam satu siklus. Stadium

98
eksoeritrositik terjadi pada sel endotel dan sel RES pada lien, otak dan liver
(Suwanti dkk., 2012).

Plasmodium sp. pada eritrosit ayam kampung (dokumentasi pribadi, 2018)


d. Hospes dan Predileksi
Hospes Plasmodium sp. adalah ayam domestik dan ayam liar. Plasmodium
sp. juga dapat menginfeksi manusia, monyet, reptil, penguin, bebek, burung kenari,
elang dan merpati. Predileksi Plasmodium sp. adalah pada sel darah merah hospes
(Ali dan Sultana, 2015).
e. Vektor
Perkembangan seksual dan sporogoni terjadi pada nyamuk Culex,
Anopheles, Culiceta, Mansonia dan Aedes (Ali dan Sultana, 2015).
f. Siklus Hidup
Siklus hidup Plasmodium sp. dimulai dari sporozoit yang infektif tidak
langsung masuk ke dalam eritrosit, tetapi berkembang di luar eritrosit (bentuk
eksoeritrositik), yaitu di dalam sel endotel berkembang secara skizogoni
membentuk skizon. Skizon yang pecah akan membebaskan merozoit, bersamaan
pecahnya sel induk semang. Merozoit yang berasal dari bentuk pre-eritrosit skizon
generasi pertama dan kedua disebut metakriptozoit, kemudian merozoit yang
berasal dari metakriptozoit masuk ke dalam eritrosit dan sel lain, dan selanjutnya
menjadi bentuk skizon eksoeritrositik, dimana pada P. gallinaceum, P. retictum dan
P. cathemerium bentuk tersebut berada di dalam sel endotel, sedangkan P.
elongatum dan P. vaughini berada pada sistem haemopoitik. Siklus eritrositik

99
terjadi 7-10 hari setelah infeksi oleh merozoit dari metakriptozoit, tetapi waktu
tersebut berbeda apabila infeksi oleh merozoit dari skizon eksoeritrosit dari sel
endotel maupun sel haemopoietik. Di dalam eritrosit bentuk merozoit berubah
menjadi bentuk trofozoit, yang mempunyai bentuk bundar berisi vakuola yang
besar mendesak sitoplasma daripada parasit. Inti terletak pada salah satu ujungnya
dan disebut signetring, terlihat dengan pewarnaan Romanowsky. Bentuk trofozoit
mengalami proses skizogoni menghasilkan merozoit. Selama proses skizogoni
parasit berada di dalam sitoplasma sel induk semang oleh proses invaginasi.
Haemoglobin dicerna dan residual hematin pigmen akan terkumpul di dalam
granula daripda vakuola makanan. Selama generasi aseksual, maka merozoit
mengalami perkembangan seksual dengan pembentukan mikrogametosit dan
makrogametosit, kedua gamet mengadakan fertilisasi menjadi bentuk zigot.
Perkembangan gametosit terjadi bila darah termakan oleh nyamuk. Perkembangan
di dalam tubuh nyamuk berlangsung cepat, dalam waktu 10-15 menit, inti dari
mikrogamet sudah membelah dan mengalami proses eksflagellasi, bentuknya
panjang dan tebal, kemudian membuahi makrogamet. Hasil pembuahan
mikrogamet oleh makrogamet berupa zigot. Zigot yang terbentuk disebut ookinet.
Ookinet selanjutnya mengadakan penetrasi ke mukosa midgut (saluraan pencernaan
bagian tengah), kemudian tinggal di permukaan stomach, dalam bentuk ookinet
dengan diameter 50-60 mikron. Inti ookinet akan membelah dan menghasilkan
sejumlah besar sporozoit, yang mempunyai panjang 15 mikron dan inti terletak di
tengah. Pendewasaan dari ookinet tergantung pada spesies parasit, temperatur dan
spesies nyamuk, pada umumnya ke glandula salivaria (di dalam sel atau pada
duktus dari glandula salivaria) bentuk ini infektif pada induk semang yang baru
(Suwanti dkk., 2012).
g. Patogenesa
Infeksi Plasmodium sp. dimulai dari sporozoit yang dibawa vektor masuk
ke aliran darah hospes melalui gigitan. Sporozoit kemudian berkembang menjadi
skizon pada makrofag kulit. Skizon mengandung merozoit, merozoit yang
dibebaskan akan masuk ke eritrosit dan sebagian masuk ke sel endotel membentuk
skizon eksoeritrosit. Merozoit yang masuk ke dalam eritrosit akan berkembang

100
menjadi tropozoit muda yang kemudian berdiferensiasi menjadi tropozoit dewasa
dan gametosit. Tropozoit dewasa akan berkembang menjadi skizon. Skizon akan
melepaskan merozoit untuk menginfeksi sel darah merah lainnya dengan cara
melisiskan eritrosit, sehingga jumlah eritrosit akan berkurang dan menimbulkan
gejala klinis berupa anemia (Ali dan Sultana, 2015).

4. Anaplasma sp.
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Whole Blood
Asal : Sapi Kurban dari Perumahan Bhaskara Tengah,
Surabaya
Tanggal Pengambilan : 22 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 24 Agustus 2018
Pengawetan : Pemeriksaan ulas darah dengan metode pewarnaan
Giemsa.
b. Klasifikasi dan Morfologi
Phylum : Proteobacteria
Classis : Alphaproteobacteria
Ordo : Rickettsiales
Familia : Anaplasmacetae
Genus : Anaplasma
Spesies : Anaplasma marginale; Anaplasma centrale

Anaplasma sp. dengan pewarnaan giemsa (dokumentasi pribadi, 2018)

101
Anaplasma sp. berukuran kecil, berbentuk bulat seperti bola dengan
diameter 0,5 µm dan berukuran 1-2 µm terletak di pinggir atau di tengah eritrosit,
dalam satu eritrosit biasanya terdapat satu Anaplasma sp., tetapi apabila sudah
dalam keadaan tingkat infeksi tinggi bias terdapat hingga empat Anaplasma sp.
dalam satu eritrosit (Seddon, 1966).
Morfologi secara spesifik Anaplasma marginale dan Anaplasma centrale
menurut Ashadi, 1992 adalah sebagai berikut:
a. Anaplasma marginale
Jenis ini merupakan jenis Anaplasma sp yang berada di tepi atau pinggir
dinding eritrosit. Anaplasma marginale dapat bertahan di dalam tubuh lalat
penghisap darah tidak lebih dari 30 menit atau 6 jam setelah hewan penderita mati
atau disembelih.

(Cornell University, 2013)


b. Anaplasma centrale
Jenis ini merupakan jenis Anaplasma sp yang berada di tengah eritrosit.

(Cornell University, 2013)

102
c. Hospes dan Predileksi
Hospes : Dapat menyerang hampir semua hewan berdarah panas
seperti sapi, kambing, kerbau, domba, rusa unta, kuda,
keledai, babi anjing dan hewan liar lainnya.
Predileksi : Sel darah darah.
Vektor : Caplak Boophilus
d. Siklus Hidup
Penyebaran mekanis dari sel darah merah yang telah terinfeksi berlangsung
selama beberapa menit setelah sel darah meninggalkan hospes terinfeksi, karena
parasit darah tidak dapat bertahan hidup lebih dari beberapa menit di luar tubuh
hospes.

Siklus hidup Anaplasma sp.


e. Patogenesa
Anaplasmosis yang disebabkan oleh Anaplasma sp. dapat ditularkan secara
mekanis maupun secara biologis oleh vektor Arthropoda. Transmisi penyakit dapat
melalui transmisi intrastadial atau transtadial (Tsachev, 2009).
Anaplasmosis dapat ditularkan oleh caplak, lalat penghisap darah (Tabanus,
Stomoxys) dan nyamuk. Selain itu, penularan secara mekanik dapat terjadi saat
pemotongan tanduk, penggunakan jarum suntik yang terus-menerus saat vaksin dan
pengambilan darah.
Anaplasma sp. yang patogen biasanya adalah Anaplasma marginale.
Anaplasma marginale menyebar melalui 2 cara yaitu mekanik melalui jarum suntik,

103
pemotong tanduk, alat pemasang ear tag, pisau kastrasi atau lat bedah lain dan
instrument tato. Selain itu penyebaran mekanik juga bisa terjadi mulut sapi yang
terluka karena gigitan lalat penggigit. Cara penularan yang kedua adalah melalui
vektor biologis yaitu Dermacentor sp. Parasit ini dapat bertahan dalam tubuh vektor
selama siklus hidup vektor dan bias disebarkan beberapa bulan kemudian.
Setelah hewan digigit oleh vektor yang terinfeksi, Anaplasma sp. mulai
masuk dalam sel darah merah. Sistem kekebalan tubuh akan menghancurkan sel
darah merah yang terinfeksi dan mengakibatkan penurunan sel darah merah. Hewan
menjadi lesu, kurang nafsu makan dan dapat menyebabkan pembesaran pada
kelenjar getah bening. Fase ini jarang mengancam nyawa. Kebanyakan pada fase 1
agen Anaplasma sp. akan menghilang dengan sendirinya, tapi beberapa lagi akan
melanjutkan ke fase berikutnya.
Tahap kedua (fase sub klinis) agen Anaplasma sp. biasanya bersembunyi di
limpa. Pada fase ini hewan terlihat normal. Hewan bisa berada pada fase ini selama
berbulan-bulan atau bahkan hingga bertahun-tahun.
Fase terakhir adalah fase kronis ketika hewan sakit lagi. Pada fase ini hingga
60% anjing yang terinfeksi akan mengalami anemia akibat berkurangnya sel darah
merah.
Anaplasma bermultiplikasi pada aliran darah dan menempel pada sel darah
merah. Sistem imunitas akan menghancurkan sel darah merah yang terinfeksi.
Ketika jumlah sel darah merah yang dihancurkan melebihi ambang batas produksi
sel darah merah dalam tubuh hospes tersebut, maka hewan akan tampak anemia.
Diperlukan waktu 3-6 minggu untuk timbulnya gejala klinis pada hewan penderita.
f. Gejala Klinis
Infeksi Anaplasma sp. ditandai biasanya ditandai dengan adanya demam
tinggi, anemia, icterus dan kekurusan tanpa hemoglobinuria, di dalam eritrosit
hewan penderita terdapat betuk seperti “titik” yang disebut sebagai Anaplasma sp.
Kerugian ekonomi yang dapat ditimbulkan yaitu abortus, penurunan berat badan,
pejantan mandul dan ongkos perawatan.

104
g. Pencegahan dan Pengobatan
Program pengendalian terhadap Anaplasmosis akan berbeda-beda
tergantung pada level prevalensi penyakit pada setiap daerah. Pengobatan dapat
menggunakan zat warna Trypan Blue 1% disuntikkan 100-200 ml secara intra vena,
Acriflavin 5% disuntikkan 20 ml/hewan secara intravena atau 5% dalam citrate
secara intra muscular; sediaan Quinolyl; sediaan Diamidin Aromatik; antibiotik
Tetracycline.

4.2.2 Protozoa Saluran Pencernaan


1. Eimeria sp.
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Protozoa
Asal sampel : Sapi dari kecamatan Socah Madura
Tanggal Pemeriksaan : 30 Agustus 2018
Media Pengawetan : Kalium bikromat
Sampel yang digunakan dalam pemeriksaan laboratorium adalah feses sapi
yang diberi cairan kalium bikromat dengan metode natif, sedimen dan apung. Pada
metode sedimen, kemudian diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 400x
dan teridentifikasi protozoa intestinal yaitu Eimeria sp.
b. Klasifikasi dan Morfologi
Eimeria sp. merupakan parasit uniseluler yang memiliki inang spesifik.
Protozoa intestinal ini dapat menginfeksi hewan sapi, sehingga menyebabkan
kerusakan pada sel epitel saluran pencernaan. Menurut Levine (1985) taksonomi
Eimeria sp. adalah sebagai berikut:
Fillum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoa
Ordo : Eucoccidiorida
Subordo : Eimeriorina
Genus : Eimeria
Spesies : Eimeria sp.

105
Eimeria sp. ditemukan pada feses sapi (dokumentasi dribadi, 2018)
Morfologi Eimeria sp. dapat diidentifikasi berdasarkan bentuk dan ukuran
ookista. Bentuk ookista yang paling umum adalah bulat, bulat telur (ovoid) dan
silinder. Ookista memiliki dinding yang transparan berfungsi melindungi
kelangsungan hidup ookista di alam (Soulsby, 1968). Ookista dapat dibedakan
menjadi ada 2 tipe yaitu ookista belum bersporulasi dan ookista yang sudah
bersporulasi. Ookista yang belum besporulasi memiliki sel tunggal yaitu sporon.
Sedangkan ookista yang sudah bersporulasi memiliki empat sporokista, masing-
masing berisi dua sporozoit (Levine,1985). Ookista Eimeria sp. besarnya 30 x 15
mikron, bentuk oval. Ookista belum bersporulasi berisi satu sporoblast. Ookista
matang berisi empat sporokista yang masing-masing berisi dua sporozoit. Ookista
mengalami ekskistasi maka satu ookista menghasilkan 8 sporozoit infektif
(Gandahusada et al.,1995).
c. Siklus Hidup
Eimeria sp. merupakan parasit yang bersifat obligat yang dimana hidupnya
mutlak sebagai parasit, jadi untuk kelangsungan hidupnya mutlak memerlukan
hospes dan apabila tanpa hospes akan mati (Verninda dkk., 2015). Genus Eimeria
umumnya mengalami perkembangan siklus hidup secara lengkap didalam dan
diluar tubuh induk semangnya. Emeria sp. dapat dibagi menjadi siklus aseksual dan
siklus seksual. Siklus hidup Eimeria sp. secara umum terdiri atas 3 stadium, yakni
skizogoni, sporogoni dan gametogoni. Stadium skizogoni dan sporogoni
merupakan stadium aseksual, sedangkan stadium gametogoni adalah stadium
seksual (Soulsby, 1986). Ookista yang belum bersporulasi dikeluarkan bersama

106
feses jika kondisi oksigen sesuai, kelembaban tinggi dan suhu optimal sekitar 27°C
nukleus membelah diri berubah menjadi bulat untuk membentuk sporoblas.
Sporoblas akan mensekresikan bahan pembentuk dinding menjadi sporokista.
Ookista matang terdiri dari 4 sporokista dan masing-masing sporokista berisi 2
sporozoit selanjutnya menjadi ookista bersporulasi yang merupakan stadium
infektif dari Eimeria sp. Jika tertelan oleh induk semang (sapi) sporozoit akan
keluar dari sporokista dan akan menembus sel epitel saluran pencernaan lalu
menjadi tropozoit. Tropozoit matang menjadi skizon melalui proses skizogoni.
Skizon ini selanjutnya akan membelah dan menghasilkan merozoit pertama, kedua,
ketiga bahkan ke empat. Merozoit yang dihasillkan akan berkembang menjadi salah
satu gamet jantan dan gamet betina. Beberapa gamet yang terbentuk hanya sebagian
kecil saja yang bertemu dan berfertilisasi sehingga terbentuknya zigot. Kesatuan
zigot dan dinding yang mengelilinginya disebut ookista (Levine, 1995).

Siklus hidup Eimeria sp. (Levine, 1985)


d. Hospes dan Predileksi
Eimeria sp. merupakan parasit intraseluler dari epitel sel usus, dan beberapa
pada sel lain, seperti saluran empedu dan ginjal. Host definitif dari Eimeria sp.
adalah sapi, kerbau, kambing, domba, babi, anjing, kucing, hewan peliharaan dan
hewan liar lain (Verninda dkk., 2015).

107
e. Penularan
Penyakit yang disebabkan karena infeksi Eimeria sp. ditularkan melalui
konsumsi sporulasi ookista. Infeksi diperoleh dari terkontaminasi pakan, air, dan
padang rumput yang kotor. Ookista yang tertelan akan masuk kedalam tubuh induk
semang, sporosit akan menembus sel epitel usus, dan terjadi proses skizogoni.
Skizon yang terbentuk menghasilkan beberapa merozoit. Merozoit selanjutnya
mengalami perkembangan gametogoni dan membentuk gamet. Gamet yang
terbentuk kemudian masuk ke stadium seksual dan membentuk zigot. Zigot
berkembang menjadi ookista dan akhirnya dikeluarkan bersama feses induk semang.
Ookista adalah stadium yang resisten terhadap lingkungan. Pada kondisi yang
memungkinkan ookista dikeluarkan dari tubuh mengalami sporulasi. Kondisi
kering dan temperatur tinggi tidak mendukung sporulasi. Pada kondisi yang cocok
ookista dapat tahan sampai 2 tahun dan masuk kedalam induk semang melalui
kontaminasi dengan padang penggembalaan atau dengan minuman (Mufasirin
dkk.,2016).
f. Patogenesa dan Gejala Klinis
Infeksi terjadi setelah hewan tertelan ookista infektif. Sampai sejauh ini
hanya ookista yang bersporulasi saja yang infektif dan bila inang yang peka
menelan ookista bersporulasi dalam jumlah banyak maka akan menimbulkan gejala
klinis. Hewan muda lebih peka dibandingkan hewan tua, tetapi umumnya tidak
menimbulkan kematian. Periode prepaten masing-masing spesies berbeda
tergantung proses perkembangan protozoa di dalam sel induk semang. Rata-rata
perkembangan Eimeria sp. selama 3 minggu tergantung spesies (Mufasirin
dkk.,2016). Kehebatan gejala klinis yang timbul tergantung dari jumlah ookista
yang tertelan, jika ookista yang tertelan banyak maka gejala klinis ditimbulkan akan
makin hebat. Ada atau tidaknya gejala klinis tergantung keseimbangan antara
imunitas dengan dosis infeksi. Gejala penyakit ini dapat muncul dalam berbagai
situasi disaat keseimbangan (imunitas dan dosis infeksi) gagal terbentuk akibat
kondisi yang antara lain dipengaruhi oleh cuaca, pakan yang buruk dan stress pada
hewan. Patogenisitas koksidiosis tergantung beberapa faktor yaitu jumlah sel inang

108
yang rusak, jumlah merozoit dan lokasi parasit di dalam jaringan sel inang (Mundt
et al., 2005).
Gejala klinis dari penyakit yang disebabkan oleh infeksi Eimeria sp. adalah
anoreksia, demam tidak begitu mencolok tetapi sedikit mengalami peningkatan
suhu tubuh yang diikuti dengan diare yang bercampur darah. Perjalanan klinis
penyakit ini bervariasi antara 4–14 hari (Fraser, 2006). Hewan tampak anemia
karena terjadi pendarahan usus. Kematian dapat terjadi (80-90%) pada anak sapi
yang hyperesthesia, konvulsi pada kepala dan leher. Kematian bisa terjadi 24 jam
setelah gejala disentri dan gangguan syaraf. Koksidiosis bisa sembuh sendiri atau
self limiting disease dan sembuh secara spontan tanpa pengobatan spesifik serta
tidak terjadi reinfeksi. Waktu yang dibutuhkan untuk kembali normal dibutuhkan
waktu yang lama. Infeksi sekunder dapat terjadi dan kejadian sering didapatkan
(Mufasirin dkk., 2016).
g. Pengobatan
Pengendalian koksidiosis dapat dilakukan dengan memperhatikan sanitasi
kandang, gejala klinis yang ditunjukkan, usaha pencegahan dan pengobatan
(Kertawirawan, 2013). Pengobatan untuk stadium yang sudah lanjut tidak efektif.
Pengobatan pada awal infeksi dapat digunakan:
- Sulfaquinoxaline 6 mg/lb/hari selama 3-5 hari
- Amprolium 10 mg/kg/hari selama 5 hari
- Sulphadimidine 1 g/5kg bb
- Zoaquin 1 g//50bb diberikan selama 1-3 hari
h. Pengendalian
Pengendalian yang dilakukan untuk mencegah terjadinya koksidiosis adalah
dengan menjaga sanitasi dan kepadatan populasi yang akan mempermudah dan
memperparah penyakit, rotasi padang penggembalaan. Pemberian obat koksidiosis
dengan dosis pencegahan dapat menurunkan kejadian penyakit (Mufasirin,
dkk.,2016).

109
2. Balantidium coli
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Protozoa
Asal sampel : Sapi dari kecamatan Socah Madura
Tanggal Pemeriksaan : 23 Agustus 2018
Media Pengawetan : Kalium bikromat
Sampel yang digunakan untuk periksaan laboratorium adalah feses sapi
yang diberi cairan kalium bikromat dengan metode natif, sedimen dan apung. Pada
metode sedimen yang diamati dibawah mikroskop perbesaran 400x, teridentifikasi
protozoa intestinal yaitu Balantidium coli.
b. Klasifikasi dan Morfologi
Balantidium coli merupakan protozoa intestinal bersilia yang menimbulkan
gejala gangguan pencernaan pada hewan dan manusia. Protozoa intestinal ini dapat
menginfeksi hewan sapi, sehingga menyebabkan kerusakan pada di lumen caecum
dan colon, sehingga menimbulkan penyakit balantidiasis. Menurut Levine (1985)
taksonomi Balantidium coli adalah sebagai berikut:
Filum : Ciliaphora (Ciliata)
Kelas : Kinetofragminophorasida
Ordo : Trichostomatorida
Famili : Balantidiidae
Genus : Balantidium
Spesies : Balantidium coli
Balantidium coli adalah organisme bersel tunggal yang secara khas ditandai
dengan ukurannya yang besar berkisar dari 50–500 mikron termasuk cilia pada
permukaan selnya. Parasit ini ditemukan pada lumen sekum, kolon sapi, dan
primata sebagai organisme komensal namun dapat menjadi patogen kalau didahului
oleh adanya kerusakan pada jaringan akibat mikroorganisme lain. Balantidium coli
merupakan protozoa usus yang paling besar yang memiliki dua bentuk tubuh yaitu,
trofozoit dan kista. Bentuk trofozoit (vegetate) seperti kantung, panjangnya 50-200
mμ, lebarnya 40-70 mμ dan berwarna abu-abu tipis. Sitoplasma berisi beberapa
vakuola makanan dan dua vakuola kontraktil. Silianya tersusun secara longitudinal

110
dan spiral sehingga geraknya melingkar, sitostoma yang bertindak sebagai mulut
pada Balantidium coli terletak di daerah peristoma yang memiliki silia panjang dan
berakhir pada sitopige yang berfungsi sebagai anus sederhana. Ada 2 vakuola
kontraktil dan 2 bentuk nukleus. Bentuk nukleus ini terdiri dari makronukleus dan
mikronukleus. Makronukleus berbentuk seperti ginjal, berisi kromatin, bertindak
sebagai kromatin somatis/vegetatif. Mikronukleus banyak mengandung DNA,
bertindak sebagai nukleus generatif/seksual dan terletak pada bagian konkaf dari
makronukleus. Sedangkan bentuk kistanya lonjong atau seperti bola, ukurannya 45-
75 mμ, warnanya hijau bening, memiliki makronukleus, memiliki vakuola
kontraktil dan silia. Kista tidak tahan kering, sedangkan dalam tinja yang basah
kista dapat tahan berminggu-minggu (Jones et al., 1997 dalam Winaya dkk., 2011).

Balantidium coli ditemukan pada feses sapi (dokumentasi pribadi, 2018)


c. Siklus Hidup
Siklus hidup dari Balantidium coli dimulai dari tertelannya pakan yang
tercemar oleh trophozoit. Pada stadium ini trophozoit bentuknya oval dan besar
serta dikelilingi cilia pendek yang memungkinkan begerak di dalam usus besar.
Stadium motil ini panjangnya 50 – 100 mikron dan lebarnya 40 – 70 mikron.
Memiliki dua inti yang besar dan berbentuk seperti kacang disebut makronukleus
dan yang lebih kecil disebut mikronukleus. Stadium kedua berbentuk kista, yaitu
yang bertanggung jawab menyebarkan parasit ke inang baru. Ukuran diameter kista
50-70 mikron. Trophozoit dan kista keluar dari usus bersama feses namun hanya
kista yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang dapat bertahan hidup di luar
tubuh untuk selanjutnya mencemari air dan bahan makanan. Kalau kista termakan

111
kemudian menyilih (excysts) di dalam usus, bentukan motil ini mulai memakan
nutrisi yang terdapat di dalam sel, bahan karbohidrat dan bahan organik lainnya
(Kennedy, 2006).
d. Hospes dan Predileksi
Balantidium coli merupakan parasit yang menginfeksi usus besar manusia,
babi, kera, sapi, domba, dan bisa juga pada anjing serta bersifat patogen. Predileksi
dalam induk semang di lumen caecum dan colon. Induk semang tertular parasit
karena menelan bentuk kista yang mencemari makanan dan minuman (Winaya,
2011).
e. Patogenesa dan Gejala Klinis
Babi merupakan induk semang utama. Bentuk kista Balantidium sp.
mencemari makanan, kemudian masuk mulut. Dalam saluran pencernaan hewan
penderita, kista mengalami perkembangan dan mengadakan pengerusakan vili usus
dan sel epithel, sehingga terjadi enteritis. Dalam kondisi normal pada feses babi
ditemukan Balantidium coli (Dewi dan Nugraha, 2007). Apabila Balantidium coli
menginfeksi dalam jumlah banyak, maka bervariasi ke mukosa dan membentuk
ulsera, keadaan inisering dihubungkan dengan enteritis. Balantidium coli juga
menyebabkan kerusakan pada inti dari epitel. Pada kasus yang berat dapat
menyebabkan disentri yang disertai perdarahan. Balantidium coli menimbulkan
gastroenteritis yang disebut balantidiasis yang ditandai dengan munculnya gejala
nyeri pada abdomen dan diare yang berdarah. Pada infeksi berat dapat timbil abses
dan ulkus di mukosa dan dubmokosa usus besar dengan gambaran seperti pada
disentri ameba. Infeksi kronis dapat timbul tanpa gejala yang terlihat. Komplikasi
ekstraintestinal bisa terjadi di hati, paru, dan organ lain (Mufasirin dkk.,2016).
f. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan penyakit balantidiasis hampir sama dengan amoebiasis yaitu
ditunjukkan dengan kebersihan lingkungan termasuk vektor mekanik pembawa
penyakit, seperti lalat, kecoa, dan seterusnya. Pengobatan dapat dilakukan dengan
pemberian carbazone 250 mg/hari selama 10 hari, atau metronidazole, tetracycline,
dan iodoquinol (Mufasirin dkk.,2016)

112
3. Blastocystis humonis
a. Sinyalemen
Jenis sampel : feses
Asal : kecamatan socah, madura
Tanggal pengujian : 27 agustus 2018
Media pengawet : kalium bikromat
b. Klasifikasi
Subkingdom : Protozoa
Phylum : Sarcomastigophora
Ordo : Blastocystea
Family : Blastocystidae
Genus : Blastocystis
Species : Blastocystis humonis

Blastocystis humonis (Mustachia, 2012)

Blastocystis humonis (dokumentasi pribadi, 2018)

113
c. Morfologi
Protozoa ini berbentuk kista bulat yang berdinding tebal, dengan ukuran
antara 6-40µm (Soedarto, 2011). Blastocystis sp. mempunyai 4 bentuk yaitu: 1)
vakuolar dan granular, bentuknya bulat mengandung vakuola tunggal yang besar.
Sel granular mengandung banyak butiran kecil di sitoplasma atau vakuola sentral.
Terdiri dari beberapa inti sampai empat. Ini adalah bentuk paling umum dari
Blastocystis hominis; 2) multivakuolar dan avakuolar, vakuola kecil dan terdiri dari
1-2 inti; 3) amuboid, bentuk yang sangat jarang. Pseudopodia sering melekat; 4)
Kista, dinding tebal dan terdiri dari banyak vakuola serta mempunyai 1-2 inti.
Morfologi ini digunakan sebagai diagnosis untuk identifikasi Blastocystis hominis
dalam sampel feses yaitu ukuran 10-15 µm. Blastocystis hominis biasanya
menginfeksi usus manusia pada bagisan sekum dan kolon, kemudian melakukan
reproduksi dengan pembelahan biner (Shadaf et al., 2013).
d. Hospes dan Predileksi
Hospes dari Blasticystis hominis adalah mamalia, Predileksi nya di saluran
pencernaan yaitu intestine.
e. Siklus Hidup

Siklus hidup Blastocystis humonis

114
Manusia terinfeksi Blastocystis hominis karena tertelan kista berdinding
tebal yang berasal dari tinja penderita. Kemudian kista menginfeksi sel epitel usus
lalu memperbanyak diri secara seksual dan tumbuh menjadi bentuk vakuolar.
Sebagian dari bentuk vakuolar akan berkembang menjadi multi vakuolar yang
kemudian akan berkembang menjadi bentuk kista yang berdinding tipis yang
berperan dalam siklus auto infeksi di dalam tubuh hospes. Bentuk vakuolar lainnya
akan memperbanyak diri menjadi bentuk amuboid yang akan berkembang menjadi
bentuk prakista yang kemudian dengan proses skizogoni akan tumbuh menjadi
bentuk kista berdinding tebal yang keluar bersama tinja dan merupakan stadium
infektif pada penularan selanjutnya (Soedarto, 2011).
f. Patogenesa
Infeksi Blastocystis hominis ditransmisikan melalui fecal-oral. Infeksi ini
sering didapatkan pada lingkungan dengan sanitasi yang buruk dan higienitas yang
rendah (Chacon, 2007)
Blastocystis hominis merupakan flora normal dalam usus manusia, tetapi
bisa menjadi pathogen pada kondisi-kondisi tertentu seperti immunocompromise,
gizi buruk, dan infeksi campur. Beberapa peneliti meyakini bahwa Blastocystis
hominis adalah pathogen dan beberapa juga meyakini tidak. Patogenitasnya susah
untuk di pastikan karena ketidakmungkinan mengeliminasi semua penyebab dari
gejala-gejala gastrointestinal yang timbul, baik yang infeksius atau yang tidak
infeksius (25% dari kasus diare penyebab tidak diketahui). Patogenitas Blastocystis
hominis melibatkan:
- toksin bertanggung jawab untuk menyerang mukosa; dan jika tidak
diproduksi Blastocystis hominis bukan pathogen
- beberapa tingkatan siklus kehidupan bersifat pathogen, dan beberapa
lainnya tidak
- patogenitasnya bergantung pada factor inang
- Blastocystis hominis adalah marker co-infeksi yang menyebabkan gejala
tetapi lebih sulit ditemukan

115
g. Gejala Klinis
Gejala klinis dari Blastocystis hominis adalah kembung, diare ringan sampai
sedang, nyeri abdomen, anoreksia, berat badan menurun dan muntah. Blastocystis
hominis sering menyebabkan diare yang ringan. Diare disertai air telah banyak
dilaporkan dalam kasus akut, walaupun ini mungkin dikatakan sedikit dalam kasus
kronik. Kelelahan, anorexia dan gejala nonspesifik gastrointestinal juga bisa
berkaitan dengan infeksi ini (Levinson, 2004)
h. Pencegahan dan Pengobatan
Shadaf et al., (2013) menjelaskan bahwa pngobatan Blastocystis hominis
diperlukan jika gejala muncul dan tidak ada penyebab penyakit lain. Metronidazole
biasa direkomendasikan untuk pengobatan protozoa ini.
Jalur penularan Blastocystis hominis melalui oral-fekal ketika manusia
mengonsumsi makanan dan air yang tidak higienis. Oleh karena itu, tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan dengan menjaga higienitas. Mencegah
kontaminasi feses dalam makanan dan air (Shadaf et al., 2013).

4. Isospora felis
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Feses kucing
Asal : Feses kucing diambil dari Klinik House of Pet
Malang
Tanggal pengambilan : 21 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 23 Agustus 2018
Metode uji : Apung
b. Klasifikasi
Filum : Apicomplexa
Kelas : Sporozoasida
Subkelas : Coccidiasina
Ordo : Eucoccidiorida
Subordo : Eimeriorina
Famili : Eimeriidae

116
Genus : Isospora
Spesies : Isospora felis
c. Morfologi
Ookista Isospora felis merupakan ookista terbesar dari subordo Isospora
spp. yang ditemukan pada kucing. Ookista Isospora felis berbentuk ovoid 32-
53x26-43 µm dengan dinding licin, kekuningan hingga coklat pucat, dan tanpa
mikropil. Badan inklusi dapat diamati antara sporokista dan dinding ookista pada
ookista yang baru dikeluarkan bersama feses. Sporokista berukuran 20-26x17-22
µm dan mengandung dua residu sporokista dan empat sporozoit tetapi tidak
memiliki Stieda body. Sporokista residu merupakan granul dan mungkin memiliki
refraksi. Sporozoit berukuran 10-15 µm panjangnya yang terletak di dalam
sporokista, berisi inti tunggal dan globul refraksi (Taylor, 2007).

Ookista Isospora felis (dokumentasi pribadi, 2018)

Ookista Isospora felis (dokumentasi pribadi, 2018)


d. Hospes dan Predileksi
Banyak infeksi parasit protozoa dapat ditularkan dari feses kucing, salah
satunya yaitu genus Isospora sp. Spesies Isospora sp. yang sering menginfeksi
kucing yaitu Isospora felis. Spesies ini menginfeksi saluran pencernaan dan patogen

117
terhadap kucing muda. Gejala yang di timbulkan yaitu diare, anoreksia, kelemahan,
dehidrasi, dan radang usus (Bowman et al., 2002).
e. Siklus Hidup
Siklus hidup dimulai dari tertelannya ookista yang berspora oleh induk
semang. Selanjutnya di dalam usus induk semang, dinding ookista pecah oleh
tekanan dinding usus dan enzim tripsin yang dibebaskan ke dalam usus, hal ini
menyebabkan terbebasnya sporokista. Selanjutnya sporokista yang pecah karena
proses pencernaan akan membebaskan sporozoit. Sporozoit yang bebas akan
bergerak dan menembus sel epitel usus halus. Parasite akan bereproduksi secara
aseksual dan seksual di dalam epitel usus (Levine, 1995).
Spororzoit yang berada dalam sel epitel usus halus akan membulat dan
menjadi meront atau skizon generasi pertama. Oleh suatu proses reproduksi
aseksual atau disebut dengan skizogoni setiap meront akan membentuk 900
merozoit yang panjangnya masing-masing dua sampai tiga micrometer.
Selanjutnya meront generasi pertama akan membentuk 200-350 merizoit yang
panjangnya kira-kira 16 µm dengan cara multiple fission (Levine, 1995)
Banyak merozoit generasi kedua masuk ke dalam sel hospes baru dan
memulai fase seksual atau yang disebut dengan gametogoni. Beberapa dari
merozoit tersebut akan berubah menjadi makrogamet dan sisanya akan menjadi
mikrogamet. Selanjutnya mikrogamet akan membuahi mikrogamet dan terbentuk
zigot yang akan menjadi ookista. Ookista kemudian keluar dari sel hospesnya dan
menuju rongga usus dan keluar bersama feses induk semang (Levine,1995)
f. Patogenesa dan Gejala Klinis
Koksidia adalah penyakit yang disebabkan mikroskopis parasite yang hidup
disaluran pencernaan dari anjing dan kucing. Penyakit ini sering kali ditemukan,
tetapi sangat jarang menyebabkan gejala pada hewan dewasa. Pada anak anjing dan
kucing, gejala yang sering adalah diare atau bahkan bisa menyebabkan kematian.
Penyebab penyakit ini adalah protozoa fari genus Isospora (Levine, 1995)
Diare merupakan gejala klinis paling umum terjadi infeksi Isospora sp.
Dengan adanya lender dan bercak darah. Jika tidak segera dilakukan pengobatan
terhadap diare maka hewan akan mengalami dehidrasi, anemia, kurus, lemah dan

118
akhirnya berujung kematian. Namun infeksi protozoa saluran pencernaan biasanya
dapat menularkan penyakit pada hewan lain serta menyebarkan ookista infektif ke
dalam lingkungan melalui kontaminasi feses (Levine, 1995).
g. Pencegahan dan Pengobatan
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit
yang disebabkan protozoa antara lain: (1) batasi kontak dengan induk semang
utama yakni kucing, (2) jika memiliki hewan peliharaan kucing, batasi kontak
kucing dengan hewan liar seperti tikus atau reservoir lain, (3) pemasakan daging
sebelum dimakan hingga matang sempurna membantu membunuh protozoa yang
terkandung dalam daging, dan sebaiknya kucing diberi makan yang sudah masak,
(4) mencuci sayuran dan buah-buahan hingga bersih dalam keadaan mentah, (5)
penanganan yang tepat pada tempat pembuangan feses kucing, (6) peralatan yang
baru digunakan untuk mengolah daging harus disuse, (7) mencuci tangan dengan
sabun sebelum makan (Soulsby, 1986).
Terapi pemberian mepacrine dengan dosis 0,01 gram per kilogram berat
badan sangat efektif untuk kasus koksidiosis pada kucing yakni yang disebabkan
spesies dari genus Eimeria dan Isospora penggunaan nitrofurazone dengan dosis
rata-rata 15,4 mg/kg berat badan, pemberian selama tiga sampai sepuluh hari.
Pengobatan untuk stadium awal dapat diberikan sulphadimidine satu gram per lima
kilogram berat badan atau zoaquin dengan dosis satu gram per 50 kg berat badan
diberikan selama satu sampai tiga hari (Mufasirin dkk., 2012).

5. Trichomonas gallinae
a. Sinyalemen
Sampel yang diperiksa berupa hasil swab kerongkongan dari burung
merpati yang didapatkan dari Pasar Pacar Keling, Surabaya. Pengamatan protozoa
luminal dilakukan secara langsung dari hasil swab kerongkongan yang
ditambahkan dengan NaCl fisologis. Berdasarkan hasil identifikasi disimpulkan
dalam swab kerongkongan tersebut terdapat protozoa luminal berupa Trichomonas
gallinae, seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut:

119
Trichomonas gallinae (dokumentasi pribadi, 2018)
b. Klasifikasi
Taksonomi dari Trichomonas gallinae yaitu sebagai berikut (Levine, 1985):
Kingdom : Protozoa
Phylum : Sarcomastigophora
Class : Zoomastigophora
Ordo : Trichomonadorida
Family : Trichomonadidae
Genus : Trichomonas
Species : Trichomonas gallinae
c. Morfologi
Trichomonas gallinae berbentuk seperti buah avokat atau buah pear. Ukuran
dari protozoa ini berkisar antara 2-9 x 5-19 mikron. Diujung anterior tubuhnya
terdapat blepharoplast sebagai tempat timbulnya flagella, axostyle, costa dan
parabasal kompleks. Flagella anterior bebas berjumlah 4 buah yang panjangnya bisa
mencapai 13 mikron. Axostyle berjumlah 1 buah bentuknya langsing memanjang
ke posterior melalui poros tubuhnya sampai sedikit menonjol di belakang kurang
lebih 2-8 mikron. Costa adalah fibril yang memanjang dari blepharoplast dan
terletak di sebelah medial membrana undulasi, panjang costa tersebut sampai pada
ujung posterior dari membrana undulasi. Lokasi badan parabasal disepertiga
anterior tubuhnya dan bergabung dengan parabasal fibril yang panjangnya sampai
ujung posterior tubuh, kedua parabasal ini sering disebut sebagai parabasal
kompleks. Filamen membrana undulasi yang terletak disalah satu sisi, panjangnya
hanya mencapai dua pertiga dari panjang tubuhnya dan tidak berakhir sebagai

120
flagella bebas. Inti terdapat dibagian anterior tubuh berbentuk oval dan mempunyai
1 atau 2 kariosom (Atkinson et al., 2008).
d. Siklus Hidup
Siklus hidup Trichomonas gallinae sangat sederhana, berkembang biak
dengan cara longitudinal binary fission yaitu membelah diri menjadi dua menurut
poros panjang badan. Protozoa ini juga tidak membentuk kista dan tingkatan
seksual tidak diketahui. Menurut Atkinson et al. (2008), meskipun kista tidak
terbentuk tetapi protozoa ini mengalami degenerasi dan kemudian mati.
e. Hospes dan Predileksi
Trichomonas gallinae merupakan salah satu jenis protozoa yang dapat
ditemukan pada unggas terutama burung merpati, kalkun, dan anak ayam. Kejadian
penyakin pada burung merpati mencapai 80-90% dan pada merpati muda bersifat
fatal, habitat dalam tubuh induk semang, yaitu pada saluran pencernaan bagian atas
(depan) termasuk pula hati (Suwanti dkk., 2012). Protozoa ini predileksinya ada
pada mukosa saluran pencernaan bagian atas atau pada rongga mulut, faring,
esofagus dan tembolok.
f. Patogenesa
Patogenitas penyakit ini bervariasi dari kondisi yang ringan sampai fatal.
Biasanya kematian terjadi dalam waktu 4 sampai 18 hari setelah infeksi. Pada
merpati mula-mula timbul lesio kecil di rongga mulut dengan batas jelas dan warna
kekuningan terutama di palatum mole. Merpati yang banyak terserang antara umur
3 minggu sampai beberapa bulan. Lesio tersebut akan meluas ke esofagus sampai
ke proventrikulus, sinus hidung dan kadang-kadang daerah orbital juga terkena.
Tetapi lesio ini tidak pernah menyerang traktus digestivus bagian bawah. Hati juga
sering terserang dan meluas ke beberapa organ termasuk paru-paru, jantung,
pankreas, tetapi jarang menyerang limpa, ginjal dan sumsum tulang. Lesio yang
menyerang langit-langit mulut dan sinus hidung dapat meluas secara ekstensif dan
menjadi perkejuan yang nekrotis dan cenderung menutup lumen organ. Perluasan
ini bisa menembus dan menyebar sehingga melibatkan daerah kepala dan leher
termasuk nasofaring. Trichomonas gallinae juga mampu menyebabkan degenerasi

121
pada sel epitel dan fibroblas serta dapat menyerang aktifitas makrofag (Atkinson et
al., 2008).
g. Gejala Klinis
Merpati yang terinfeksi mula-mula menunjukkan depresi, bulu berdiri
seperti kedinginan dan berwarna suram, bila berdiri terhuyung-huyung. Dalam
mulut umumnya terdapat lesio dengan eksudat basah dan lengket, terutama pada
penyakit yang akut dan pada infeksi kronis terdapat perkejuan yang keras. Eksudat
yang keluar dari paruh berwarna kehijauan dan jika diperiksa mengandung
Trichomonas gallinae dalam jumlah besar. Umumnya penderita tidak mau makan
karena saluran makanannya mengalami infeksi, akibatnya tubuhnya menjadi lemah,
lesu dan mengalami penurunan berat badan. Pada kasus akut, kematian didahului
dengan depresi. Sedangkan pada burung yang tua atau yang resisten, sebelum mati
mengalami kehilangan berat badan selama 3 minggu atau lebih (Atkinson et al.,
2008).
h. Pencegahan dan Pengobatan
Pakan dan minuman unggas dijaga agar bebas dari kontaminasi parasit.
Apabila terdapat unggas yang sakit harus diisolasi dan diberi campuran Cooper
sulphate pada minumannya sebanyak 1:2000 selama 3-5 hari dan diulang 5-7 hari
(Mufasirin dkk., 2016).

4.3 Arthropoda
4.3.1 Kelas Insecta Ordo Diptera
1. Aedes aegypti
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Nyamuk
Lokasi Pengambilan : Kebun Bintang Surabaya
Tanggal Pengambilan : 29 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 30 Agustus 2018
Metode : Pinning

122
Nyamuk Aedes aegypti (dokumentasi pribadi, 2018)
b. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera
Subordo : Nematocera
Family : Culicidae
Genus : Aedes
Species : Aedes aegypti (Ginanjar, 2008)
c. Morfologi
Tubuh nyamuk dewasa terdiri dari 3 bagian, yaitu kepala (caput), dada
(thorax) dan perut (abdomen). Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika
dibandingkan dengan ukuran nyamuk rumah (Culex quinquefasciatus), mempunyai
warna dasar yang hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian-bagian badannya
terutama pada kakinya yang khas sebagai nyamuk yang mempunyai gambaran lira
(lire-form) yang putih pada punggungnya (mesonotum) (Djakaria, 2000), yaitu ada
dua garis melengkung vertikal di bagian kiri dan kanan. Pada bagian kepala
terpasang mata majemuk, sepasang antena dan sepasang palpi, antena berfungsi
sebagai organ peraba dan pembau. Pada nyamuk jantan antenanya disebut dengan
plumose (memiliki banyak bulu) dan pada betina antenanya disebut pilose
(memiliki sedikit bulu). Thorax terdiri dari 3 ruas, yaitu prothorax, mesothorax, dan
methathorax. Pada bagian thorax terdapat 3 pasang kaki dan pada ruas ke-2
(mesothorax) terdapat sepasang sayap. Abdomen terdiri dari 8 ruas dengan bercak

123
putih keperakan pada masing-masing ruas. Pada ujung atau ruas terakhir terdapat
alat kopulasi berupa cerci pada nyamuk betina dan hypogeum pada nyamuk jantan
(Depkes RI, 2007). Nyamuk jantan umumnya lebih kecil dari betina dan terdapat
rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Pada nyamuk betina, probosis
berukuran panjang disesuaikan untuk menusuk dan menghisap darah. Bagian mulut
ini terdiri dari labium pada bagian bawah yang mempunyai saluran dan pada bagian
atas terdapat labrum-epifarings. Telur Aedes aegypti berbentuk elips berwarna
hitam, mempunyai dinding yang bergaris-garis dan membentuk bangunan yang
menyerupai gambaran kain kasa. Larva Aedes aegypti mempunyai pelana yang
tebuka dan gigi sisir yang berduri lateral (Djakaria, 2000).

Nyamuk Aedes aegypti betina (Djakaria, 2000)


d. Siklus Hidup
Dalam siklus hidupnya, nyamuk Aedes aegypti memiliki metamorfosis
sempurna yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Nyamuk betina meletakkan telur
pada permukaan air bersih secara individual, terpisah satu dengan yang lain, dan
menempel pada dinding tempat perindukkannya. Seekor nyamuk betina dapat
meletakkan rata-rata sebanyak seratus butir telur tiap kali bertelur. Telur menetas
dalam satu sampai dua hari menjadi larva. Terdapat empat tahapan dalam
perkembangan larva yang disebut instar. Perkembangan dari instar I ke instar IV
memerlukan waktu sekitar 5 hari. Setelah mencapai instar IV, larva berubah
menjadi pupa dimana larva memasuki masa dorman. Pupa bertahan selama dua hari
sebelum akhirnya nyamuk dewasa keluar dari pupa. Perkembangan dari telur
hingga nyamuk dewasa membutuhkan waktu 7-8 hari, namun bisa lebih lama bila
kondisi lingkungan tidak mendukung (Djakaria, 2000).

124
Siklus hidup Nyamuk Aedes aegypti (Djakaria, 2000)
e. Kepentingan
Plasmodium, Haemoproteus dan Leucocytozoon adalah protozoa yang
hidup sebagai parasit dalam sel darah merah, yang menyebabkan malaria unggas
(avian malaria). Malaria unggas atau malaria ayam disebut juga Plasmodium
Disease (Tabbu, 2002).
f. Penularan
Nyamuk Culex sp., Aedes sp. dan terkadang Anopheles sp. merupakan
vektor yang berperan pada penularan penyakit. Nyamuk yang menghisap darah
unggas yang terinfeksi dapat menularkan penyakit ke unggas yang lain dalam satu
peternakan. Plasmodiosis hanya menular secara horizontal dan tidak diturunkan
dari induk ke anak (Hastutiek, 2014).
g. Dampak Klinis
Dampak yang secara langsung dapat diakibatkan oleh nyamuk ini adalah
penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada manusia yang dapat menyebabkan
kematian. Kasus ini juga termasuk kejadian luar biasa (KLB) pada tahun 1998-2009
di beberapa provinsi di Indonesia. Pada hewan nyamuk ini dapat menyebabkan
penyakit Rift Valley Fever (RVF) yang dapat menginfeksi hewan sapi, domba,
kucing, unta, monyet, dan rodensia lalu menyebabkan tingginya angka kematian
pada hewan muda (Ginanjar, 2008).

125
h. Tindakan Preventif
Tindakan preventif yang harus dilakukan adalah pemutusan siklus hidup
nyamuk Aedes aegypti adalah dengan membunuh jentik nyamuk. Hal ini
disebabkan karena jentik nyamuk hidup dalam satu tempat yang tergenang oleh air,
sedangkan nyamuk dewasa hidupnya berpindah-pindah (terbang). Pada saat musim
penghujan diharapan warga bias mengkondisian seminimal mungin terdapat
genangan air disekitar rumah dan kandang serta sesering mungkin menguras bak
mandi untuk meminimalisir perkembangan jentik-jentik (Ginanjar, 2008).

2. Culex sp.
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Nyamuk
Asal : Perumahan Margorejo Surabaya
Tanggal Pengambilan : 29 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 30 Agustus 2018
Pengawetan (Metode Uji) : Pembuatan preparat Arthropoda metode
pinning.
b. Klasifikasi dan Morfologi
Klasifikasi nyamuk Culex menurut Romoser & Stoffolano (1998), adalah
sebagai berikut:
Phylum : Arthropoda
Classis : Insecta
Sub classis : Pterygota
Ordo : Diptera
Sub ordo : Nematocera
Familia : Culicidae
Sub familia : Culicianae
Genus : Culex
Spesies : Culex quiquefasciatus Say.

126
Nyamuk Culex sp. (dokumentasi pribadi, 2018)

Nyamuk Culex sp. (Russell, 1996)


Nyamuk Culex sp. mempunyai ukuran kecil sekitar 4-13 mm dan tubuhnya
rapuh. Pada kepala terdapat probosis yang halus dan panjangnya melebihi panjang
kepala. Probosis pada nyamuk betina digunakan sebagai alat menghisap darah,
sedangkan pada nyamuk jantan digunakan sebagai alat untuk menghisap zat-zat
seperti cairan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan keringat. Terdapat palpus yang
mempunyai 5 ruas dan sepasang antena dengan jumlah ruas yang terletak di kanan
dan kiri probosis. Pada nyamuk jantan terdapat rambut yang lebat (plumose) pada
antenanya, sedangkan pada nyamuk betina jarang terdapat rambut (pilose) (Sutanto,
2011).
Sebagian besar thorax yang terlihat (mesonotum) dilingkupi bulu-bulu halus.
Bagian belakang dari mesonotum ada skutelum yang terdiri dari 3 lengkungan
(trilobus). Sayap nyamuk berbetuk panjang dan ramping, pada permukaaanya
mempunyai vena yang dilengkapi sisik-sisik sayap (wing scales) yang letaknya
menyesuaikan vena. Terdapat barisan rambut (fringe) yang terletak pada pinggir
sayap. Abdomen memiliki 10 ruas dan bentuknya menyerupai tabung dimana 2 ruas

127
terakhir mengalami perubahan fungsi sebagai alat kelamin. Memiliki kaki
berjumlah 3 pasang, letaknya menempel pada thorax, setiap kaki memiliki 5 ruas
tarsus, 1 ruas femur dan 1 ruas tibia (Hoedojo, 2008).
c. Siklus Hidup
1. Telur
Seekor nyamuk Culex sp. betina mampu meletakkan 100-400 butir telur dan
biasanya dapat bertahan selama 6 bulan. Nyamuk Culex sp. meletakkan telurnya
dipermukaan air secara bergerombol dan bersatu membentuk rakit sehingga mampu
mengapung. Telur akan menjadi larva setelah 2-3 hari.
2. Larva

Setelah kontak dengan air telur akan menetas setalah 2-3 hari. Pertumbuhan
dan perkembangan larva dipengaruhi oleh faktor temperature, tempat bertelur, dan
ada tidaknya predator.
Nyamuk Culex sp. mempunyai 4 tingkatan (instar) sesuai pertumbuhan
larva tersebut.
I. Larva Instar I berukuran paling kecil yaitu 1-2 mm atau 1-2 hati setelah
menetas.
II. Larva Instar II berukuran 2,5-3,5 mm atau 2-3 hari setelah telur menetas.
Duri-duri belum jelas, corong kepala mulai menghitam.
III. Larva Instar III berukuran 4-5 mm atau 3-4 hari setelah telur menetas duri-
duri dada mulai jelas dan corong pernafasan berwarna coklat kehitaman.
IV. Larva Instar IV berukuran paling besar yaitu 5-6 mm atau 4-6 hari setelah
telur menetas.

128
3. Pupa
Tubuh pupa berbentuk bengkok dan kepalanya besar. Pupa membutuhkan
waktu 2-5 hari. Pupa tidak makan apapun. Sebagian kecil tubuh pupa kontak
dengan permukaan air, berbetuk terompet panjang dan ramping, setelah 1-2 hari
akan menjadi nyamuk Culex sp. (Kardinan, 2005).
4. Nyamuk Dewasa

Nyamuk Culex sp. dewasa berwarna hitam belang-belang putih, kepala


berwarna hitan dengan putih pada ujungnya. Pada bagian thorax terdapat 2 garis
putih berbentuk kurva.
d. Patogenesa
Culex sp. adalah genus dari nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit
yang penting seperti West Nile Virus, Filariasis, Japanese encephalitis, St Louise
encephalitis. Nyamuk Culex sp. yang banyak ditemukan di Indonesia yaitu jenis
Culex quinquefasciatus.
Nyamuk Culex sp. senang menghisap darah manusia dan hewan khususnya
pada malam hari beberapa jam setelah terbenamnya matahari hingga sebelum
matahari terbit. Pada pukul 01.00-02.00 merupakan puncak dari aktivitas menggigit
nyamuk Culex sp. (Tiawsirisup, 2006).
Unggas kambing kerbau dan sapi adalah binatang peliharaan yang sering
menjadi sasaran gigitan nyamuk Culex sp. Culex sp. mempunyai sifat antropofilik
dan zoofilik, karena suka melakukan aktivitas menghisap darah di malam hari di
dalam maupun di luar rumah (Thenmozhi, 2009).
Penularan Filariasis bisa terjadi dari manusia dan hewan (reservoir). Pada
intinya manusia bisa tertular Filariasis diakibatkan karena gigitan nyamuk yang

129
membawa larva stadium III atau larva infeksius. Larva stadium III tersebut didapat
oleh nyamuk melalui aktivitas menghisap darah manusia yang telah terinfeksi.
Larva infeksius berpindah dari probosis nyamuk menuju ke kulit dan masuk lewat
lubang bekas gigitan nyamuk pada saat nyamuk menghisap darah. Larva yang
sudah masuk tadi bergerak ke saluran limfatik dan tinggal di tempat tersebut.
e. Pencegahan dan Pengobatan
Secara garis besar ada 4 cara pengendalian vektor yaitu dengan cara kimiawi,
biologis dan mekanik (pengendalian lingkungan) (Dinata, 2008). Pengendalian
lingkungan digunakan beberapa cara, antara lain dengan mencegah kontak nyamuk
dan manusia yaitu dengan memasang kawat kasa pada lubang ventilasi, jendela dan
pintu. Cara lain yaitu dengan gerakan 3 M “Plus” yaitu (1). Menguras tempat
penampungan air (2). Menutup rapat tempat penampungan air (3). Menimbun
barang-barang bekas atau sampah yang dapat menampung air hujan. “Plus”
menabur bubuk pembasmi jentik (larvasida/abate), memeilhara ikan pemakan
jentik di tempat penampungan air dan memasang kelambu (Dinata, 2008).

3. Stomoxys sp.
a. Sinyalemen
Jenis Sampel : Lalat
Asal : Pasar Hewan Bratang, Surabaya
Tanggal Pengambilan : 28 Agustus 2018
Tanggal Pengujian : 29 Agustus 2018
Pengawetan (Metode Uji) : Pembuatan preparat Arthropoda metode
pinning.
b. Klasifikasi dan Morfologi
Klasifikasi Stomoxys calcitrans adalah sebagai berikut:
Phylum : Arthropoda
Classis : Insecta
Ordo : Diptera
Familia : Muscidae
Sub familia : Culicianae

130
Genus : Stomoxys
Spesies : Stomoxys calcitrans

Stomoxys sp. (dokumentasi pribadi, 2018)

Stomoxys sp. (Lyle Buss, University of Florida, 2018)


Lalat Stomoxys sp. dikenal dengan nama lalat kandang, mempunyai
bentuk menyerupai lalat Musca domestica (lalat rumah), umum ditemui pada
peternakan sapi perah atau sapi yang selalu dikandangkan. Warna tubuh hitam
hingga kecoklatan dengan mata mengkilap. Lalat dewasa berukuran panjang
5-7 mm. Thorax berwarna abu-abu dan mempunyai 4 garis longitudinal yang
gelap, lateral lebih sempit dan tidak mencapai skutum. Abdomen lebih pendek
dan lebih lebar daripada lalat rumah dan mempunyai 3 bintik hitam pada
segmen kedua dan ketiga. Sayapnya mempunyai 4 vena melengkung halus
kedepan ke arah costae mendekati vena 3 terbuka serta berakhir pada bagian
belakang atau pada ujung sayap. Antenanya terdiri atas 3 ruas, ruas terakhir
paling besar berbentuk silindris dan dilengkapi dengan arista yang memiliki
bulu hanya pada bagian atas (Sigit dkk., 2006).

131
c. Siklus Hidup
Dalam waktu 2-5 hari telur menetas menjadi larva yang akan membentuk
pupa setelah 7-12 hari. Masa pupa dilalui selama 3-4 hari untuk mencapai imago
(dewasa). Lalat jantan maupun betinanya suka menghisap darah dan merupakan
penerbang yang kuat dan berumur panjang. Aktif di siang hari dan gigitannya
menyakitkan (Levine, 1990).
d. Patogenesa
Lalat Stomoxys calcitrans menjadi vektor bagi Brucella abortus, B.
Militensis, Bacillus anthracis dan Trypanosoma evansi.
e. Pengendalian
Sanitasi dan kebersihan kandang dapat dilakukan untuk mengendalikan
populasi lalat. Penggunaan insektisida dengan cara menyemprot kandang dengan
Lindane 0,03-0,05% , Toxaphene 0,5%, Metoxychlor 0,05%, Coumaphos 0,125%
Dioxanthion 0,15%, Malation 0,5% atau Ronnel 0,75%. Penggunaan dichlorvos
dalam minyak mineral digunakan setiap hari untuk mengusir lalat di permukaan
tubuh hewan. Selain itu bias digunakan Coumaphos, Malathion atau
Tetrachlorvinphos yang diberikan 2-3 kali seminggu dalam sediaan tabur.
Cara pengaplikasian insektisida dapat dilakukan dengan cara dipping
apabila populasi ternak banyak, spraying, Back Rubber, Dust Bag, Pour On, lewat
makanan dan menggunakan parasite penyengat yang sudah dikembangkan sebagai
kompetitor biologis lalat tersebut (Hadi dan Soviana, 2000).

4. Chrysomyia megacephala
a. Sinyalemen
Lalat dikoleksi dari sekitar bangkai tikus hitam yang berada pada
perumahan bhaskara tengah Surabaya pada tanggal 22 agustus 2018. Identifikasi
berdasarkan bentuk sayap dan morfologi dari lalat diperoleh hasil bahwa lalat yang
diamati merupakan jenis Chrysomyia megacephala, seperti yang ditunjukkan pada
gambar dibawah ini.

132
Chrysomyia megacephala (dokumentasi pribadi, 2018)
b. Morfologi
Chrysomyia megacephala yaitu lalat hijau yang mempunyai mata merah
besar, lalat jantan berukuran 8 mm. Lalat ini berwarna hijau biru dengan empat strip
(garis) hitam pada prescutumnya dan pada muka berwarna kuning orange. Ada dua
kelompok larva ini, yaitu larva halus dan larva berduri. Larva berbulu mempunyai
duri yang lunak dan mempunyai duri kecil pada ujung-ujungnya (Hastutiek dkk.,
2014).
c. Hospes dan Predileksi
Chrysomyia megacephala, lalat ini sering terlihat di pasar ikan dan daging,
saat populasi tinggi dapat masuk ke dalam rumah. Lalat ini meletakkan telur pada
luka atau jaringan kulit yang sakit dan menyebabkan myasis obligat pada hewan
dan manusia.
d. Siklus Hidup
Lalat meletakkan telurnya dalam kelompok berwarna agak kekuningan pada
karkas, luka atau wol bertanah, yang menarik karena bau dari bahan-bahan yang
membusuk. Lalat memilih lokasi tempat bertelur dan makan pada bahan yang
lembab. Lalat betina meletakkan telur 1000-3000 secara keseluruhan dan
diletakkan dalam kelompok 50-150 telur. Makanan mengandung protein diperlukan
sebelum mencapai dewasa penuh (Sasmita dkk., 2013).
Larva menetas dari telur dalam waktu delapan jam sampai tiga hati
tergantung suhu dan mulai makan. Larva tumbuh dengan cepat dan mengalami
ecdisis dua kali kemudian menjadi larva maksimum dalam waktu 2-19 hari. Derajat
pertumbuhan tergantung pada jumlah dan gizi makanan, suhu dan derajat

133
persaingan sesama larva. Larva panjangnya 10-14 mm, putih abu-abu atau kuning
pucat, kadang-kadang dengan tercampuri warna pink. Ujung larva mempunyai dua
kait mulut dan pada ujung posterior yang lebar dan datar terdapat lempeng stigmata.
Bukaan stigmata terdiri atas tiga celah silindris dan panjang yang kurang lebih
sejajar satu dengan lainnya pada spirakel. Segmen kedua mengandung sepasang
spirakel anterior seperti pada Musca (Sasmita dkk., 2013).
Dua kelompok larva yang dikenal, yaitu larva berbulu dan larva halus. Larva
berbulu mengandung sejumlah penonjolan, serupa duri berotot dengan sebuah spina
pada ujungnya pada hampir seluruh segmen. Larva berbulu pada Chrysomyia
ruffacies, C. Albiceps dan Microcalliphora variceps. Larva C. microphogon dan
lalat hembus domba di atas lainnya berupa larva halus. Diferensiasi dari larva dapat
dibedakan dengan melihat struktur dari spirakelnya dan sistem sekelet
cephalopharynx. Larva yang telah maksimal biasanya meninggalkan inang atau
karkas dan jatuh ke tanah, tetapi sebagian mungkin berada pada bagian kering dari
karkas atau bahkan dalam wol domba hidup. Sebelum menjadi pupa, larva mungkin
merayap cukup jauh atau masuk ke dalam tanah sehingga menjadi pupa di bawah
permukaan tanah. Apabila kondisi kurang sesuai, seperti misalnya musim dingin,
pembentukan pupa dapat berlangsung berbulan-bulan dan larva hibernasi (Sasmita
dkk., 2013).
Pada pembentukan pupa, larva melepaskan kulitnya, yang menjadi coklat
dan keras membentuk puparium. Pupa mempunyai kesamaan bentuk dengan larva
tingkat akhir. Pupa dari larva berbulu tetap mempunyai penonjolan pada
penutupnya. Selanjutnya pupa lebih sedikit pendek dari larva maksimum dan
ujungnya lebih membulat. Tingkat pupa berakhir 3-7 hari pada musim panas dan
lebih lama pada musim dingin. Hibernasi terjadi juga pada tingkat larva. Lalat
dewasa muncul dari pupa dengan mendorong ujung puparium pada bagian kantung
ptilinal yang melipat. Bagian ini digunakan untuk maju ke permukaan tanah. Waktu
yang paling pendek untuk siklus hidup lengkap ialah tujuh hari sehingga beberapa
generasi akan berkembang dalam satu tahun. Sembilan sampai sepuluh generasi
mungkin terbentuk dalam satu tahun di bagian tertentu dari Republik afrika Selatan.
Lalat dapat hidup satu bulan atau lebih dan dapat hibernasi (Sasmita dkk., 2013).

134
Lalat dewasa akan makan cairan protein. Protein ini untuk pendewasaan
ovari, dengan demikian jumlah protein yang dimakan sangat memengaruhi fertilitas
dari lalat betina. Lalat mendapat makanan dari hewan lain yang mati atau yang
masih hidup (Hastutiek dkk., 2014).
e. Patogenesa
Apabila ada luka pada permukaan tubuh hewan, maka lalat yang termasuk
pada golongan I ini, akan hinggap, menempel dan meletakkan telurnya, sambil
makan jaringan luka tersebut. Apabila keadaan luka tersebut cukup baik untuk
pertumbuhan telur, maka telur akan mentas dan keluar larvanya. Larva ini akan
hidup dari eksudat dan transudat dari luka tersebut. Larva akan mengeluarkan
enzim proteolitik yang dapat menghancurkan jaringan di sekitar luka dan kemudian
akan memkananya. Biasanya setelah larva lalat I tersebut datang, maka akan diikuti
oleh larva golongan II yang meletakkan telur dan akan menetas menjadi larva dan
larva lalat sekunder ini selain makan jaringan, transudat, juga makan larva lalat
primer (I). Saat ini larva tersebut akan membuat lorong-lorong di sekitar luka dan
akan mulai terjadi pembusukan pada luka tersebut, dan akan mengeluarkan bau
busuk yang mengandung lalat tertier untuk meletakkan telurnya dan makan, dimana
telur ini akan menetas dan bersama-sama larva lalat II menambah kerusakan luka
tersebut. Akibat adanya larva ini, hewan tidak tenang karena terganggu dan
kemungkinana mati disebabkan oleh toksemia yang berasal dari racun yang
dihasilkan dari pembusukan jaringan. Dapat pula kematian karena septisemia
karena infeksi sekunder pada luka (Sasmita dkk., 2013).
f. Gejala Klinis
Tanda-tanda klinis yang tampak (Sasmita dkk., 2013):
1. Hewan berusaha menggigit bagian yang luka
2. Apabila yang terkena bagian pantat akan berputar-putar atau menggosokkan
pada tiang-tiang atau bebatuan. Apabila diperhatikan, biasanya kotoran akan
bercsmpur dengan tanah, permukaan mengering dengan tepi basah. Apabila
dikuakkan bagian yang mengering ini, maka di bawahnya akan terlihat luka
yang besar dan dalam serta adanya stigma/spiracle (alat pernapasan dari
larva) yang menggerombol dengan mulut tertanam di dalam jaringan luka.

135
g. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan yang ditujukan pada lalat yaitu kontrol lalat di kandang dengan
insektisida, penyemprotan dengan dipping dengan insektisida, penangkapan
terhadap lalat-lalat tersebut menggunakan jerat/jebakan (Sasmita dkk., 2013).

5. Musca autumnalis
a. Sinyalemen
Lalat dikoleksi dari peternakan sapi perah Greenfield, Wlingi Blitar pada
tanggal 26 agustus 2018. Identifikasi berdasarkan bentuk sayap dan morfologi dari
lalat diperoleh hasil bahwa lalat yang diamati merupakan jenis Musca autumnalis,
seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Musca autumnalis (dokumentasi pribadi, 2018)


b. Morfologi
Permukaan lalat Musca autumnalis menyurupai Musca domestica. sedikit
lebih besar dan berwarna keabuan dengan empat belang keabuan diatas thoraks
bagian abdomen berwarna orange dengan belang hitam pada bagian dorsal (Gregor
dkk., 2002).
c. Hospes dan Predileksi
Lalat ini disebut juga “Face fly”. Lalat ini menghisap darah dan cairan tubuh.
Tempat favorit yaitu daerah mata dan nostril dari kuda dan sapi (Urquhart dkk.,
1996).
d. Siklus Hidup
Lalat Musca autumnalis meletakkan telurnya sekitar 120-150 butir telur
tepat di bawah permukaan kotoran sapi segar dalam waktu sekitar 15 menit. Telur

136
Musca autumnalis memiliki panjang sekitar 3 mm dan memiliki batang pernapasan
pendek. Seperti Musca domestica, larva melewati tiga stadia dalam waktu kurang
lebih 1 minggu, sebelum memasuki tanah sekitarnya dan melakukan puparisasi
untuk membentuk puparium berwarna keputihan. Ketika musim panas
membutuhkan sekitar 2 minggu untuk menyelesaikan siklus hidup (Wall dkk.,
2001).
e. Dampak Klinis
Musca autumnalis (face fly) merupakan salah satu parasit pada kuda. Lalat
betina dan jantan mencari serta memakan sekresi cairan pada daerah mata dan
kotoran ternak. Paling sering menimbulkan kejadian iritasi pada daerah kepala,
linea alba dan gldanula mamae, seringkali menimbulkan penyakit mastitis pada
musim panas. Musca autumnalis merupakan vektor cacing Stephanofilaria pada
kerbau. Juga merupakan vektor dari Thelazia lacrymalis serta merupakan penular
T. Rhodesi pada sapi (Wall dkk., 2001).
f. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan dapat dengan (Sasmita dkk., 2013):
1. Mengoleskan insektisida di bagian muka sapi/kuda dengan Dichlorvos.
Apabila dilakukan dengan drainage yang baik sehingga litter selalu dalam
keadaan kering.
2. Drainage juga ditujukan untuk sekitar kandang
3. Air minum tidak boleh tertumpah pada litter
4. Apabila keadaan atau cuaca lingkungan panas diusahakan agar kandang
tersebut dalam keadaan dingin, agar litter tidak lembab.
5. Kontrol biologi dengan Ravinia I’hermivera dimana 98% dapat membunuh
telur dan larva, sedangkan semut api (Solenopsis richteri) hanya efektif
membunuh larva.

6. Pseudolynchia canariensis
a. Sinyalemen
Lalat dikoleksi dari sekitar kandang merpati di Pacar Keling Surabaya pada
tanggal 26 agustus 2018. Identifikasi berdasarkan bentuk sayap dan morfologi dari

137
lalat diperoleh hasil bahwa lalat yang diamati merupakan jenis Pseudolynchia
canariensis, seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Pseudolynchia canariensis (dokumentasi pribadi, 2018)


b. Morfologi
Pseudolynchia canariensis lalat berwarna coklat tua dengan panjang 6 mm.
Bentuk tubuh seperti angka delapan, abdomen membulat, seluruh tubuh tertutup
bulu-bulu pendek, bulu-bulu keras dan panjang terdapat pada sebagian toraks dan
abdomen, pada kaki terdapat kait kuat dan dilengkapi spur (taji). Mata besar dan
menonjol. Sepasang sayap terang tembus seperti pita dengan venasi yang berkurang
dan menggerombol di sisi anterior sayap. Lalat ini ektoparasit permanen pada
merpati peliharaan serta beberapa jenis burung liar (Hastutiek dkk., 2014).
c. Hospes dan Predileksi
Lalat Pseudolynchia canariense merupakan lalat penghisap darah pada
burung. Lalat tersebut merupakan Lalat ini ektoparasit permanen pada merpati
peliharaan serta beberapa jenis burung liar. Berdasarkan penelitian Bahtiar (2014)
Lalat Pseudolynchia canariense hanya ditemukan pada burung Cacatua sulphurea.
Lalat penghisap darah ini ditemukan di bagian ekor dan menempel di bawah bulu
ekor. Lalat lebih nyaman pada bagian ekor, karena ekor memiliki bulu yang lebat
sebagai tempat berlindung saat menghisap darah. Menurut Kheirabadi dkk. (2016),
lalat P. canariensis lebih banyak dijumpai di dasar sayap dan pangkal ekor serta
sering terlihat diam tanpa bergerak dengan kepala mengarah kebawah seolah-olah
mati.

138
d. Siklus Hidup
Kopulasi terjadi pada inang dan larva diletakkan pada celah kandang
merpati, tempat-tempat berdebu kering dalam sangkar. Lalat betina melahirkan
larva yang warnanya kuning dengan kutub posterior yang gelap dengan berukuran
kira-kira 3 mm dan segera berubah menjadi pupa yang hitam dalam beberapa jam
saja. Larva yang diletakkan pada tubuh inang lalu menjatuhkan diri pda sarang atau
celah-celah yang gelap apabila akan berganti bentuk menjadi pupa. Tingkat pupa
berlangsung 23-31 hari dalam keadaan cuaca yang hangat. Lalat betina
menghasilkan 4-5 larva selama hidupnya kira-kira 43 hari. Lalat jantan dapat hidup
selama satu bulan (Hastutiek dkk., 2014).
e. Dampak Klinis
Lalat Pseudolynchia canariensis yang merupakan lalat hippoboscidae ini
bersifat menghisap darah dan bertindak sebagai transmisi protzoa darah patogen
haemoproteus columbae. Gigitan P. canariense dapat menimbulkan iritasi pada
kulit burung, penurunan produksi telur serta anemia pada burung muda (Kheirabadi
dkk., 2016).
f. Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan lalat Pseudolynchia canariensis yaitu dengan spray Permerhtin
0,05%, pyrethrin 0,25% (Baker, 2008).

7. Sarchopaga haemorrhoidalis
a. Sinyalemen
Lalat dikoleksi dari sekitar pasar hewan Bratang, Surabaya pada tanggal 27
agustus 2018. Identifikasi berdasarkan bentuk sayap dan morfologi dari lalat
diperoleh hasil bahwa lalat yang diamati merupakan jenis Sarchopaga
haemorrhoidalis.
b. Morfologi
Lalat daging (flesh fly) berukuran sedang sampai besar dan tebal, serta
berwarna abu-abu terang atau gelap. Arista plumose sampai kira-kira
pertengahannya dan tanpa bulu pada bagian distalnya. Toraks sering mempunyai

139
tiga garis gelap longitudinal dan dorsal abdomen mempunyai bercak gelap atau
kotak catur hitam abu-abu (Sasmita dkk., 2013).

Sarchopaga haemorrhoidalis (dokumentasi pribadi, 2018)


c. Hospes dan Predileksi
Lalat ini bersifat viviparus dan mengeluarkan larva hidup pada tempat
perkembangbiakannya seperti daging, bangkai, kotoran dan sayuran yang sedang
membusuk. Lalat ini umum ditemukan di pasar dan warung terbuka, pada daging,
sampah dan kotoran, tetapi jarang memasuki rumah (Sasmita dkk., 2013).
d. Siklus Hidup
Lalat Sarchopaga haemorrhoidalis menyebabkan myiasis obligat di
berbagai burung dan mamalia. Lalat betina akan menyimpan 120-170 larva I pada
luka. Larva ini berkembang dalam 4-7 hari dan menjadi pupa selama kurang lebih
empat hari. Lalat Sarchopaga haemorrhoidalis dapat menyelesaikan siklus hidup
mereka dalam dua minggu (Wall dkk., 2001).
e. Dampak Klinis
Sarchopaga haemorrhoidalis secara cepat dalam menyebabkan myiasis
obligate di beberapa peternakan khusunya pada kambing maupun poultry (Wall
dkk., 2001).
f. Pencegahan dan Pengobatan
1. Untuk membasmi lalat dewasa bisa dilakukan penyemprotan udara:
• Diluar rumah : fogging dengan suspensi atau larutan dari 5% DDT, 2%
lindane atau 5% malathion. Tetapi lalat bisa menjadi resisten terhadap
insektisida. Disamping penyemprotan udara (space spraying) bisa juga
dilakukan.

140
• Residual spraying dengan organo phosphorus insecticides seperti:
Diazinon 1%, Dibrom 1%, Dimethoote, malathion 5%, ronnel 1%,
DDVP dan bayer L 13/59.
• Pada residual spraying dicampur gula untuk menarik lalat.
2. Garbage harus dibuang dalam tempat sampah yang tertutup.

4.3.2 Kelas Insecta Ordo Phthiraptera


1. Felicola subrostratus
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Kutu
Asal sampel : Kucing Ras dari Klinik Hewan Magetan
Tanggal pengambilan : 18 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 23 Agustus 2018
Media pengawetan : KOH 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Pthiraptera
Family : Trichodectidae
Genus : Felicola
Spesies : Felicola subrostratus

Morfologi Felicola subrostratus (Foreyt, 2001).

141
Felicola subrostratus (dokumen pribadi, 2018).
Felicola subrostratus pada kucing mudah diidentifikasi dari bentuk kepala.
Kepala depannya berbentuk segitiga, sisi – sisinya menyatu dalam garis lurus dari
dasar antena ke batas alur rambut yang sangat sempit di puncak (Foreyt, 2001).
c. Siklus Hidup
Siklus hidup dari Felicola subrostratus yaitu betina akan menempelkan
telurnya ke rambut inang. Setelah beberapa jam hingga hingga berhari-hari, telur
menetas menjadi nimfa yang akan makan dan molting dalam beberapa hari. Kutu
mengalami metamorfosis sederhana. Setelah telur menetas, kutu nymphal, anak
kutu, mengalami dua molts tambahan hingga dewasa. Proses ini memakan waktu
dua sampai tiga minggu. Setelah dua sampai tiga minggu menjadi kutu dewasa, dan
beberapa hari setelah inseminasi, betina akan bertelur lagi. Tidak diketahui berapa
lama kutu dewasa akan hidup. Diperkirakan bahwa sumber makanan utama mereka
hanyalah puing epidermal (Foreyt, 2001).

Siklus hidup Lice (Foreyt, 2001).

142
d. Gejala Klinis
Pengaruh Felicola subrostratus atau sering disebut kutu bulu pada rambut
kucing pada awalnya tidak menunjukkan gejala, hanya penampilan rambut yang
terlihat kusut. Gejala klinis yang umum dari kucing yang terinfeksi kutu adalah
iritasi dan kerusakan kulit dan rambut karena kucing menggosok, menggaruk atau
menggitit daerah yang terinfeksi. Infestasi berat dapat menyebabkan pruritus berat,
gelisah, sering menggaruk hingga botak atau kulit menjadi tebal, mengkerut, kasar
atau bahkan luka karena kukunya. Kutu dapat juga melekat dengan cakar atau
rahangnya ke semua bagian rambut, dari pangkal sampai ujung. Dapat ditemukan
dalam jumlah besar pada bagian yang cenderung lembab atau dekat lubang tubuh
karena kutu cenderung mencari air (Zajac and Conboy, 2012).
e. Prevalensi
Infestasi banyak terjadi pada kucing muda, tua, sakit dan kucing yang
dipelihara dalam lingkungan yang tidak sehat. Kutu ini sering dan cukup umum
ditemui pada kucing diseluruh dunia (Zajac and Conboy, 2012).
f. Penularan
Kutu kucing merupakan parasit terbatas hanya sesama jenis kucing dan
tidak menular ke manusia. Penularan antara kucing biasanya melalui kontak
langsung, tetapi penularan juga dapat terjadi melalui telur yang melekat pada benda
mati seperti kuas, sisir dan perlatan lain yang kontak dengan kucing. Perubahan dari
telur hingga dewasa sekitar tiga minggu. Infestasi yang paling umum ketika hewan
dalam keadaan tidak sehat dan musim dingin (Zajac and Conboy, 2012).
g. Pengobatan
Banyak produk obat kontrol kutu yang efektif untuk digunakan, antara lain
fipronil, imidacloprid, salamectin. Untuk pengobatan topical bisa juga digunakan
shampo yang mengandung golongan sejenis permethrin dll. Pengobatan diulang
seminggu sekali untuk memastikan nimfa dari telur kutu yang menetas dapat mati.
Hewan juga harus dijaga kebersihan lingkungan dan kandang, kandang didesinfeksi.
Tahapan lain telur kutu yang menempel pada benda mati dapat dilakukan
pengeringan, dijemur sinar matahari beberapa jam untuk mematikannya (Zajac and
Conboy, 2012).

143
h. Kontrol dan Pencegahan
Kucing yang baru diadopsi diharapkan diperiksa dan diobati jika terinfeksi
kutu. Hewan yang terinfeksi kutu harus dikarantina sebelum dimasukkan
dikawanan lain. Telur kutu tidak rentan terhadap pengobatan sehingga perlu diulang
dalam seminggu untuk membunuh nimfa yang baru menetas sebelum kutu menjadi
dewasa dan bereproduksi. Parasit ini belum pernah ada penelitian yang
mengganggu kesehatan manusia, karena kutu pada kucing tidak menularkan ke
manusia sebaliknya kutu manusia tidak menularkan ke kucing (Zajac and Conboy,
2012).

2. Columbicola columbae
a. Sinyalemen
Kutu dikoleksi dari burung merpati yang dibeli dari Pasar Pacar Keling,
Surabaya. Identifikasi kutu dilakukan dengan memperhatikan bentuk morfologi
tubuh. Berdasarkan bentuk morfologi tubuh, didapatkan bahwa kutu tersebut
merupakan Columbicola columbae, seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah
ini.

Columbicola columbae (dokumentasi pribadi, 2018).


b. Klasifikasi
Taksonomi dari Columbicola columbae adalah sebagai berikut (Hastutiek
dkk., 2014):
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta

144
Ordo : Phthiraptera
Family : Philopteridae
Genus : Columbicola
Species : Columbicola columbae
c. Morfologi
Columbicola columbae banyak ditemukan pada coarse barbules
(percabangan dari barb yang memiliki struktur lebih keras) pada sayap atau ekor
walaupun terkadang ditemukan juga pada vane yang terdapat pada bagian tubuh
dan kepala. Ukuran C. columbae cenderung lebih panjang dibandingkan dengan
Goniocotes sp., jenis kutu ini memiliki ukuran sekitar 2- 3 mm dan berwarna
cokelat kehitaman. Memiliki ukuran kepala yang lebih panjang dibandingkan
dengan lebarnya, terdapat dua sekumpulan rambut dekat permukaan kepalanya.
Antena terdiri atas lima bagian yang seluruhnya terlihat jelas. Genus ini memiliki
tanda sexual dimorphism antena; Antena jantan lebih lebar dan memanjang secara
distal sepanjang segmen ketiga (Mubarok dan Susanto, 2017).

Columbicola columbae (Mubarok dan Susanto, 2017).


d. Hospes dan Predileksi
Nama lain dari kutu ini adalah slender pigeon louse. Hospes paling umum
kutu ini adalah merpati. Kutu ini hanya ditemukan di antara bulu-bulu di bagian
atas dan bawah sayap (baik di bawah permukaan sayap atau di dasar bulu sekunder).
kutu betina menyimpan telurnya di bawah bagian bulu sayap yang selanjutnya pada
tubuh inang. Betina dapat meletakkan hingga sembilan telur setiap harinya pada
bulu inang. Telur mengikat dirinya pada bulu di antara ruang barb atau kait
(percabangan dari shaft atau tulang bulu) (Mubarok dan Susanto, 2017).

145
e. Siklus Hidup
Dalam siklus hidupnya, kutu betina menyimpan telurnya di bawah bagian
bulu sayap yang selanjutnya pada tubuh inang. Betina dapat meletakkan hingga
sembilan telur setiap harinya pada bulu inang. Telur mengikat dirinya pada bulu di
antara ruang barb atau kait (percabangan dari shaft atau tulang bulu) dan
pengeraman antara tiga sampai lima hari, telur menetas pada suhu 37 °C,
selanjutnya berubah menjadi nimfa dan berkembang melalui tiga tahapan instar
sebelum mereka mencapai kematangan seksual (Mubarok dan Susanto, 2017).
f. Dampak Klinis
Infestasi ringan kutu tidak menimbulkan dampak yang berarti pada
inangnya, namun rentan pada burung muda. Menurut Hadi dan Soviana (2000),
ektoparasit yang tinggal di permukaan kulit dan di antara bulu dapat menimbulkan
iritasi, kegatalan, peradangan, kudisan, miasis, kerontokan bulu atau berbagai
bentuk reaksi alergi dan sejenisnya. Burung yang terinfeksi umumnya tidak
menunjukkan gejala klinis. Pada burung apabila infestasi ektoparasit pada burung
tinggi akan mengakibatkan burung gelisah, bulu burung yang rusak akan
menurunkan penampilan burung, baik dari bulu, suara, maupun kualitas
reproduksinya. Dampak yang paling parah dari keadaan ini yaitu kurangnya nafsu
makan dan menurunnya daya tahan tubuh sehingga burung mudah terkena penyakit
yang pada akhirnya akan menimbulkan kematian (Mubarok dan Susanto, 2017).
g. Tindakan Preventif
Terapi pada unggas yang terinfeksi kutu yaitu menggunakan obat
insektisida seperti cypermethrin; permethrin and propoxur dengan konsentrasi
100%. Selain itu juga dapat menggunakan sodium fluoride 98% dengan cara
dipping mencelupkan bulu yang terinfeksi pada sodium fluoride. Pencegahan
dilakukan dengan memperhatikan manajemen penangkaran mengenai sanitasi
kandang sangat perlu diperhatikan untuk mencegah bertambahnya populasi
ektoparasit (Mubarok dan Susanto, 2017).

146
4.3.3 Kelas Insecta Ordo Siphonaptera
1. Ctenocephalides felis
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Pinjal
Asal sampel : Kucing DSH dari Kertorejo Malang
Tanggal pengambilan : 18 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 23 Agustus 2018
Media pengawetan : KOH 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Pinjal memiliki bentuk badan pipih, tanpa sayap dan kecil. Bagian mulut
disesuaikan dengan fungsinya untuk menyobek dan menghisap, kaki belakang
pertumbuhannya sangat subur disesuaikan dengan fungsinya untuk meloncat. Pinjal
yang sering ditemukan pada hewan peliharaan adalah Ctenocephalides felis pinjal
kucing dan Ctenocephalides canis pinjal anjing. Dua pinjal tersebut dapat
dibedakan dari bentuk dahinya, Ctenocephalides felis dahinya lebih tinggi
dibanding Ctenocephalides canis meskipun begitu, genus Ctenocephalides sering
ditemukan menyerang sapi dan manusia. Genus ini dapat membawa penyakit yang
disebabkan oleh Salmonella enteridis dan Dipylidium caninum, adapun klasifikasi
dari Ctenocephlides felis sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Artrhopoda
Kelas : Insecta
Ordo : Siphonaptera
Famili : Pulicidae
Genus : Ctenocephalides
Spesies : Ctenocephalides felis
Ctenocephalides felis merupakan pinjal yang umum pada kucing dan anjing,
mereka juga menggigit hewan lain termasuk sapi dan manusia dan sebagai induk
semang cacing pita anjing Dipylidium caninum dan Filaria anjing Dipetalonema
reconditum. Perbedaan Ctenocephalides felis jantan dan betina adalah pada tubuh
jantan punya ujung posterior seperti tombak yang mengarah ke atas, antena lebih

147
panjang dari betina. Sedangkan, pada betina pada tubuh berakhir bulat, antena lebih
pendek dari jantan (Hastutiek dkk., 2014).

Ctenocephalides felis betina (A), jantan (B) (Sigit dkk., 2006).

Ctenocephalides felis (dokumen pribadi, 2018).


c. Siklus Hidup
Pinjal termasuk serangga Holometabolaus atau metamorphosis sempurna
karena daur hidupnya melalui 4 stadium yaitu: telur-larva-pupa-dewasa. Pinjal
betina bisa meletakkan telurnya yang berwarna putih dan berbentuk oval, pada
rambut inang atau dalam kandang-kandang. Pada keadaan optimum, telur menetas
dalam waktu 2 hari, larva yang muncul masih berupa ulat putih dengan kepala kecil
kecokelatan, yang bergerak aktif pada kotoran dan debu. Larva makan bahan
organik dan darah dalam tinja yang dikeluarkan induknya. Larva tumbuh
maksimum dalam 1-2 minggu berukuran sekitar 6mm panjangnya. Yang dewasa
muncul dari kepompong (pupa) 1-2 minggu kemudian. Pinjal dewasa hidup paling
lama 4 hari bila dimasukkan dalam tabung bertutup kapas dalam keadaan lembab
(Hastutiek dkk., 2014).

148
Jumlah telur yang dikeluarkan pinjal betina berkisar antara 3-18 butir. Pinjal
betina dapat bertelur 2-6 kali sebanyak 400-500 butir selama hidupnya. Telur
berukuran panjang 0,5 mm, oval dan berwarna keputih-putihan. Perkembangan
telur bervariasi tergantung suhu dan kelembaban. Telur menetas menjaga larva
dalam waktu 2 hari atau lebih. Larva yang muncul bentuknya memanjang, langsing
seperti ulat, terdiri atas 3 ruas toraks dan 10 ruas abdomen yang masing-masing
dilengkapi dengan beberapa bulu-bulu yang panjang. Ruas abdomen terakhir
mempunyai dua tonjolan kait yang disebut anal struts, berfungsi untuk memegang
pada substrat atau untuk lokomosi (Hastutiek dkk., 2014).
Larva berwarna kuning krem dan sangat aktif, dan menghindari cahaya.
Larva mempunyai mulut untuk menggigit dan mengunyah makanan yang bisa
berupa darah kering, feses dan bahan organic lain yang jumlahnya cukup sedikit.
Larva dapat ditemukan di celah dan retakkan lantai, dibawah karpet dan tempat-
tempat serupa lainnya. Larva ini mengalami tiga kali pergantian kulit sebelum
menjadi pupa. Periode larva berlangsung selama 7-10 hari atau lebih tergantung
suhu dan kelembaban (Hastutiek dkk., 2014).
Larva dewasa panjangnya sekitar 6 mm. Larva ini akan menggulung hingga
berukuran sekitar 4x2 mm dan berubah menjadi pupa. Stadium pupa berlangsung
dalam waktu 10-17 hari pada suhu yang sesuai, tetapi bisa berbulan-bulan pada
suhu yang kurang optimal, dan pada suhu yang rendah bisa menyebabkan pinjal
tetap terbungkus di dalam kokon. Stadium pupa mempunyai tahapan yang tidak
aktif atau makan, dan berada dalam kokon yang tertutupi debris dan debu sekeliling.
Stadium ini sensitive terhadap adanya perubahan konsentrasi CO2 di lingkungan
sekitarnya juga terhadap getaran. Adanya perubahan yang signifikan terhadap
kedua factor ini, menyebabkan keluarnya pinjal dewasa dari kepompong.
Perilaku pinjal secara umum merupakan parasit temporal, berada dalam
tubuh saat membutuhkan makanan dan tidak permanen. Jangka hidup pinjal
bervariasi pada spesies pinjal, tergantung dari makan atau tidaknya pinjal dan
tergantung pada derajat kelembaban lingkungan sekitarnya. Pinjal tidak makan dan
tidak dapat hidup lama di lingkungan kering tetapi di lingkungan lembab, bila
terdapat reruntuhan yang bisa menjadi tempat persembunyian maka pinjal bisa

149
hidup selama 1-4 bulan. Pinjal tidak spesifik dalam memilih inangnya dan dapat
makan pada inang lain. Pada saat tidak menemukan kehadiran inang yang
sesungguhnya dan pinjal mau makan inang lain serta dapat bertahan hidup dalam
periode lama (Hastutiek dkk., 2014).

Siklus hidup pinjal (Sigit dkk., 2006).


d. Pengendalian dan Pengobatan
Semua jenis pinjal berbiak dalam debu atau kotoran di tempat – tempat
berbaring dan tidur hewan, cara pemberantasan harus meliputi usaha membersihkan
dan disinfeksi keadaan sekeliling. Kandang harus dijaga kebersihannya dan bila
mungkin tempat – tempat tidur harus dididihkan, atau digunakan insektisida.
Pengobaran pinjal pada anjing dan kucing, pyrethrum dan bedak derris telah
digunakan dan derris dapat digunakan dalam air sabun sebagai pencuci. Bila
digunakan sebagai bedak, bedak dimasukkan di antara rambut – rambut dan
dibiarkan bereaksi selama 20-30 menit. Bulu kemudian disikat dalam keadaan
hewan berdiri pada kertas, pinjal yang mati dan pingsan dikumpulkan pada kertas
dan dibakar. Insektisida – insektisida ini baik digunakan untuk pinjal pada kucing
tetapi satu pun mempunyai daya tahan tersisa terhadap reinfestasi (Hastutiek dkk.,
2014).

4.3.4 Kelas Arachnida Ordo Acariformes


1. Dermanyssus gallinae
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Bulu ayam
Asal : Di MA Farm Blitar kandang No.A-8

150
Anamnesa : Ayam umur 4 bulan, jengger pucat
Tanggal pengambilan sampel : 19 Agustus 2018
Tanggal pengujian sampel : 24 Agustus 2018
Metode pengawetan : KOH 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Arachnida
Subclass : Acari
Order : Mesostigmata
Family : Dermanyssidae
Genus : Dermanyssus
Species : Dermanyssus. gallinae

Dermannysus gallinae Dermannysus gallinae (Sparagano


(dokumentasi pribadi, 2018) et al., 2014)
Menurut Sasmita dkk (2013), Dermanyssus gallinae dikenal sebagai gurem
atau tungau merah ayam, bila belum menghisap darah warnanya purih keabuan,
warna segera berubah merah jingga atau merah tua setelah menghisap darah.
Tungau dewasa berukuran anatar 0,75-1 mm dan memiliki 4 pasang kaki panjang,
Pelindung dorsal tidak samoai ujung posterior tubuh dan tepi posterior truncata.
Seta pada pelindung lebih kecil dari lainnya.anus pada setengah bagian posterior
dari pelat anal. Chelicera panjang dan menyerupai tanduk. Setelah menghisap darah,
mereka bersembunyi di sarang, celah dan litter yang jauh dari sumber cahaya untuk
kawin dan bertelur. Tungau merah dapat bertahan hidup hingga 10 bulan di kandang

151
ayam yang kosong, suhu lebih dari 45 ° C / 113 ° F dan kurang dari -20 ° C / -4 ° F
bisa menyebabkan tungau mati.
c. Hospes dan Predileksi
Dermanyssus gallinae adalah parasit obligat penghisap darah yang memiliki
sejumlah host termasuk beberapa spesies unggas, burung liar dan mamalia
(Sparagano et al., 2014). Menurut Proctor dan Owens (2000), tungau ini dianggap
sebagai hama pada setidaknya 30 jenis burung termasuk merpati, burung pipit,
merpati batu, dan jalak.
d. Siklus Hidup

Siklus hidup Dermanyssus gallinae


Selain dari telur, tungau ayam memiliki empat tahap dalam siklus hidupnya
yaitu larva, protonymph, deutonymph, dan dewasa. Larva menetas dengan enam
kaki dan tidak makan. Setelah molting pertama, kedua tahap nimfa memiliki
delapan kaki, seperti halnya tungau dewasa. Protonymph, deutonymph, dan tungau
betina dewasa secara rutin menghisap darah host, sementara tungau jantan hanya
menghisap sesekali. Dalam kondisi yang menguntungkan siklus hidup ini dapat
diselesaikan dalam waktu tujuh hari. Deutonymph dan tungau dewasa diketahui
dapat menahan kekeringan dan hidup selama delapan bulan tanpa makan.
e. Gejala Klinis dan Diagnosa
Flok kandang ayam dengan infestasi Dermanyssus gallinae diketahui
memiliki gejala termasuk anemia, peningkatan tingkat stres, pola tidur berubah,

152
atau sering mematuki bulu. Dermanyssus gallinae jarang terlihat pada burung dan
harus diperiksa secara teliti untuk melihat tungau, atau tungau dapat dicari di sarang,
retakan, dan litter. Penting untuk diingat bahwa tungau berukuran kecil, sehingga
sulit dilihat dari kejauhan. Tungau ayam akan menghisap darah host setiap dua
hingga empat hari dan biasanya menghabiskan waktu hingga satu jam untuk sekali
hisap. Unggas yang terinfeksi akan memiliki lesi yang kadang terlihat pada
pectoralis dan kaki sebagai akibat dari hisapan dan menimbulkan rasa sakit serta
berpengaruh pada penurunan produksi telur. Pustula, scab, hiperpigmentasi dan
kehilangan bulu dapat terjadi juga pada kasus ini. Jika infestasi tungau ayam dalam
jumlah besar, maka dapat menyebabkan anemia dengan gejala klinis pucat pada
pial.
Diagnosa dapat dilakukan pada ayam petelur, biasanya berdasarkan pada
sejarah penurunan produksi telur, anemia dan kematian pada ayam muda atau sakit.
Bintik-bintik darah pada telur mengindikasikan infestasi di dalam kloaka ayam
betina yang terkena. Diagnosa hanya dicapai setelah identifikasi telur, feses atau
tungau itu sendiri.
Dermanyssus gallinae adalah vektor mekanik untuk virus ensefalitis St.
Louis dan telah dikaitkan dengan penyakit lain juga. Tungau menyebarkan penyakit
lain seperti virus pox, virus Newcastle, dan kolera unggas (Hoy, 2011).
f. Pencegahan dan Pengobatan
Predator tungau seperti Androlaelaps casalis dan Hypoaspis miles dapat
digunakan untuk mengendalikan populasi Dermanyssus gallinae. Ectoparasiticides
dapat digunakan sebagai kontrol kimia, jika digunakan harus digunakan secara
bergiliran untuk menghindari resistensi. Insektisida spinosad efektif terhadap
tungau yang resisten terhadap acaricides veteran. Exzolt diperkenalkan di Uni
Eropa pada 2017, mengandung fluralaner, isoxazoline, dan sangat efektif melawan
Dermanyssus gallinae, termasuk yang tahan terhadap acaricides. Exzolt disetujui
untuk pemberian oral dicampur dengan air minum dan bekerja secara sistemik
(Brauneis et al., 2017).
Pemberantasan infestasi di lingkungan dapat dicapai melalui kombinasi
menghilangkan vektor potensial dan mengurangi tempat persembunyian potensial

153
(litter, kandang, feses), menggunakan pestisida dengan tepat, mempertahankan
suhu rendah di lingkungan dan selalu menjaga kebersihan. Pengobatan infestasi
mungkin memerlukan obat topikal dan oral seperti ivermectin dan mungkin
memerlukan waktu yang cukup untuk diberantas. Vaksin saat ini sedang dalam
pengembangan aktif untuk pengobatan unggas, yang berusaha "merangsang
respons protektif" pada unggas dan meningkatkan mortalitas Dermanyssus gallinae
(Paterson, 2009).

4.3.5 Kelas Arachnida Ordo Parasitiformes


1. Rhipicephalus sanguines
a. Sinyalemen
Caplak dikoleksi dari anjing yang berasal dari INI Vet Clinic, Surabaya.
Identifikasi caplak dilakukan dengan memperhatikan bentuk dan ukuran
capitulinya. Berdasarkan bentuk dan ukuran capituli, didapatkan bahwa caplak
tersebut merupakan caplak Rhipicepalus sanguineus, seperti yang ditunjukkan pada
gambar dibawah ini.

Rhipicepalus sanguineus (dokumentasi pribadi, 2018)

b. Klasifikasi
Taksonomi dari Rhipicepalus sanguineus adalah sebagai berikut (Hastutiek
dkk., 2014):
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Arachnida
Ordo : Parasitiformes

154
Subordo : Ixodida
Family : Ixodidae
Genus : Rhipicepalus
Species : Rhipicepalus sanguineus
c. Morfologi
Rhipicepalus sanguineus disebut juga Brown Dog tick. Larva dari caplak ini
dapat ditemukan celah-celah kandang, dinding, lantai, serta kebanyakan pada
anjing. Rhipicepalus sanguineus merupakan caplak dari golangan ixodidae sebagai
caplak keras (Levine, 1990). Caplak betina dewasa memiliki ukuran tubuh yang
lebih bsar daripada caplak jantan. Betina, panjangnya 1,24-11 mm dan lebar 4,0—
7,0 mm. Jantan, panjangnya 1,7-4,4 mm dan lebar 1,24-1,55 mm. Rhipicepalus
sanguineus memiliki mata dan feston, palpus pendek dan sebuah basis kapituli yang
berbentuk segi enam disebelah dorsal (Bowman, 2014).

Rhipicepalus sanguineus (Bowman, 2014)

d. Hospes
Hospes definitive dari Rhipicepalus sanguineus adalah anjing (Bowman,
2014).
e. Siklus Hidup
Siklus hidup caplak anjing memerlukan tiga inang (three host tick), masing-
masing pada stadium larva, nimfa dan dewasa. Bila caplak sudah kenyang
menghisap darah, maka akan menjatuhkan diri untuk bertelur di lantai. Telur yang
dihasilkan seekor caplak betina dapat mencapai 2000-4000 butir. Telur kemudian
menetas menjadi larva setelah 17-30 hari, larva akan segera mencari anjing (inang
pertama) yang ada disekitarnya untuk dihisap darahnya sekitar 2-4 hari, setelah

155
kenyang larva menjatuhkan diri dan berganti kulit menjadi nimfa dalam waktu 5-
23 hari. Nimfa akan mencari makanan dengan menghisap darah anjing kembali
(inang kedua), selama 4-9 hari selanjutnya akan melepaskan diri dari inang
kemudian berganti kulit menjadi caplak dewasa setelah 11-73 hari. Bentuk larva
dan nimfa banyak terdapat pada daun telinga, lipatan kaki, belakang, pangkal ekor,
bagian bawah dan sela-sela jari inang. Caplak dewasa akan mencari inang
kemudian merayap pada tempat yang terlindung dari tubuh hewan dan menghisap
darah. Caplak dewasa akan melakukan perkawinan dan caplak betina akan mati
setelah selesai bertelur. Waktu yang digunakan oleh caplak untuk menghisap darah
berkisar antara 6-15 hari. Secara keseluruhan waktu yang diperlukan untuk siklus
hidup yaitu 40-200 hari. Caplak dapat bertahan pada temperatur yang berkisara
antara 15-30 oC, dengan temperatur minimum 10 oC dan maksimum 40 oC
(Hastutiek dkk., 2014).

Siklus hidup dari Rhipicepalus sanguineus (Bowman, 2014).


f. Dampak Klinis
Rhipicepalus sanguineus menyebabkan beberapa dampak negatif yaitu
(Bowman, 2014):
1. Menyebabkan anemia
Caplak hidup dengan menghisap darah dari mulai stadium larva hingga
dewasa. Infestasi berat dari caplak dapat menimbulkan berkurangnya darah dari
sirkulasi hingga ratusan mililiter tiap harinya. Hal ini dapat membuat anjing tampak

156
lesu bahkan lebih pucat dari biasanya. Anemia tidak hanya ditumbulkan dari caplak
yang menghisap begitu banyak darah, tetapi juga dapat diperparah oleh penyebaran
parasit darah dari liur caplak.
2. Parasit darah
Caplak berperan sebagai vektor atau perantara penyebaran penyakit
terutama parasit darah. Parasit darah yang diperantarai caplak dapat berupa
protozoa seperti dari jenis Babesia sp., dan Hepatozoon sp., dan juga dari golongan
ricketsia (sejenis bakteri) seperti Anaplasma sp., maupun Erlichia canis. Gejala
klinis yang ditimbulkan dari parasit darah tidak hanya berupa anemia tetapi juga
dapat berupa demam, perdarahan titik di ekitar bekas gigitan caplak, dan juga
epistaxis (mimisan). Parasit darah tidak hanya mengganggu fungsi sel darah merah
dalam mendistribusikan oksigen dan nutrisi keseluruh jaringan tubuh tetapi juga
dapat mengganggu fungsi sel darah putih dan juga keping darah sehingga
mengganggu sistem kekebalan dan proses perbaikan jaringan.
3. Iritasi kulit (hotspot)
Caplak memiliki alat mulut yang disebut kelisera yang berfungsi seperti
gergaji yang dapat menembus kulit hingga ke pembuluh darah dibawahnya. Hal ini
akan menimbulkan iritasi lokal bagi anjing tersebut sehingga anjing akan menjilati
dan menggigiti bagian kulit bekas gigitan caplak. Namun, bila hal ini dilakukan
secara berlebihan, bekas gigitan caplak yang masih terbuka dapat terkontaminasi
oleh jilatan yang berlebihan dari anjing tersebut sehingga menimbulkan iritasi lebih
parah lagi yang disebut pyotraumatic dermatitis atau hotspot.
g. Tindakan Preventif
R. sanguineus dapat dikendalikan melalui berbagai cara, salah satunya
adalah dengan manajemen pemeliharaan dan perawatan anjing (inang) yang baik
dan tepat. Manajemen tersebut terdiri atas pemeliharaan kandang dan pemeliharan
anjing. Pemeliharaan kandang dilakukan dengan menutup dan meminimalkan
adanya celah-celah pada pintu, jendela, dinding, maupun lantai. Kandang
dibersihkan secara rutin dengan menggunakan desinfektan hingga ke celah-celah
dan seluruh bagian kandang yang bertujuan agar caplak yang bersarang maupun
telur-telur caplak yang disimpan dapat dibersihkan. Pada manajemen pemeliharaan

157
anjing, jika memungkinkan sebaiknya anjing di kandang masing-masing 1 ekor
agar tidak terjadinya penularan caplak antar inang (Hadi dan Soviana, 2010).

2. Amblyomma sp.
a. Sinyalemen
Jenis sampel : Caplak
Asal sampel : Batu - Malang
Tanggal pengambilan : 30 Agustus 2018
Tanggal pengujian : 31 Agustus 2018
Media pengawetan : KOH 10%
b. Klasifikasi dan Morfologi
Caplak yang tubuhnya berwarna-warni (Ornate ticks), mempunyai mata dan
feston, palpusnya panjang terutama pada segmen kedua, hipostome panjang, ada
bintik putih di tepi posterior scutum betinanya. Pada jantan terdapat beberapa pola
sepatu kuda terbalik di sepanjang tepi scutumnya, merupakan Three Host Ticks
(berinang tiga), ukuran betina dewasanya lebih besar daripada jantan dewasanya,
tubuh oval, pipih pada dorsoventral. Spesies – spesies yang dikenal antara lain,
Amblyomma hebraeum, A. pomposum, A. gemma, A. variegatum, A. americanum,
A. cajennense, A. maculatum. Caplak ini menyerang hewan domestik dan liar.
Adapun klasifikasi Amblyomma sp. menurut Levine (1990) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Metazoa
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnida
Subkelas : Acari / Acarina
Super Ordo : Parasitiformes
Ordo : Metastigmata
Sub Ordo : Ixodida
Superfamili : Ixodoidae
Famili : Ixodidae
Genus : Amblyomma
Spesies : Amblyomma sp.

158
Basis capituli Amblyomma sp. pada ular (A); Feston Amblyomma sp. pada ular
(dokumen pribadi, 2018).
c. Predileksi
Pada bentuk larva dan nymph banyak terdapat pada daun telinga, lipatan
kaki depan dan belakang, pangkal ekor bagian bawah dan sela-sela jari inang
(Levine, 1990).
d. Siklus Hidup
Amblyomma sp. berinduk semang tiga atau biasa disebut Three Host Ticks,
namun hewan yang sama dapat digunakan sebagai induk semang untuk semua
stadiumnya. Amblyomma sp. memiliki 4 tahapan kehidupan (stadium hidup) yaitu
antara lain : telur, larva, nimfa, dan dewasa. Semua stadium tersebut dapat
melangsungkan hidupnya dengan cara menjadi parasit pada darah
inangnya. Caplak betina dewasa pada spesies Amblyomma americanum ini
bertelur 1000 sampai 8000 butir. Larva menetas dalam waktu 23-117 hari,
menempel pada induk semang, menghisap darah dalam waktu 3-9 hari dan akhirnya
turun. Larva berkembang menjadi stadium nimfa dalam waktu 8-26 hari dan nimfa
menempel pada induk semang, menghisap darah dalam waktu 3-8 hari dan setelah
itu berkembang menjadi dewasa dalam waktu 13-46 hari. Caplak yang telah dewasa,
menempel pada induk semang yang baru. Selanjutnya menghisap darah inangnya
dalam waktu 9-24 hari dan kemudian turun untuk bertelur. Larva yang tidak makan
dapat hidup sampai 279 hari, sedangkan nimfa dapat bertahan hidup sampai 476
hari dan pada stadium dewasa yang tidak makan dapat hidup sampai 430 hari
(Levine, 1990).

159
e. Kontrol
Kontrol pada caplak dilakukan spesifik terhadap caplak karena jenis dan
inang caplak yang sangat bervariasi. Yang terpenting dari kontrol terhadap caplak
adalah melindungi inang dari iritasi dan penurunan produksi, timbulnya luka
sehingga terjadi infeksi sekunder, kerusakan yang tak terlihat, keracunan, paralisis
dan yang paling penting adalah timbulnya penyakit yang ditularkan oleh investasi
caplak. Kontrol juga harus mencegah penyebaran spesies caplak, dan penyakit yang
ditularkannya pada suatu daerah yang lebih luas. Kontrol suatu spesies meliputi
penghancuran setiap stadia parasit baik dengan insektisida atau pengambilan
dengan tangan. Pengetahuan tentang siklus hidup dan “host relation ship” serta
informasi yang teliti pada tingkah laku stadia ini dalam siklus hidup yang terjadi di
luar jauh dari induk semang perlu dipahami agar kontrol berhasil dengan baik
(Hastutiek dkk., 2014).
Metode kontrol terhadap caplak menurut Hastutiek dkk (2014) adalah:
1. Cultural dan biologi kontrol
Cultural kontrol adalah kontrol alami dengan cara merusak atau
meniadakan faktor alam yang dapat menunjang siklus hidup caplak misalnya
tumbuhan tertentu atau adanya air, kelembapan dan sebagainya yang bisa kita
hilangkan. Kalau perlu kita hilangkan jenis tanaman atau binatang tertentu yang
digunakan caplak untuk melengkapi siklus hidupnya.
Biologi kontrol adalah kontrol alami dengan cara memberi predator caplak
pada area tertentu seperti burung, tikus, semut, laba-laba dan sejenisnya. Predator
tersebut bisa memakan caplak pada saat fase bebas maupun fase parasitik.
2. Perputaran ladang penggembalaan
Cara ini bertujuan untuk menghindari caplak dengan membiarkan caplak-
caplak mati di lapangan tempat pembiakannya. Tingkat larva mempunyai umur
yang cukup pendek, dengan meninggalkan ladang penggembalaan dapat
mengurangi infestasi caplak. Umumnya kontrol ini dilakukan secara kombinasi dari
cara-cara tersebut di atas sehingga lebih memuaskan hasilnya daripada dilakukan
sendiri-sendiri.

160
3. Kontrol dengan bahan kimia
Kontrol dengan bahan kimia dapat dilakukan pada fase bebas maupun pada
fase parasitik. Adapun aplikasi penggunaan bahan kimia atau akarisida bisa sebagai
berikut :
• Plunge dipping
Perendaman, ternak dilewatkan pada suatu kolam larutan insektisida/
acarisida. Ternak dilewatkan dalam kolam tersebut dan diusahakan
seluruh tubuhnya terendam/ kontak dengan larutan insektisida.
• Showering or Spraying
Penyemprotan dengan menggunakan alat semprot merata pada seluruh
tubuh hewan dilakukan dengan menggunakan mesin maupun tangan.
• Hand Spraying and Hand Washing
Bila kedua alat tersebut diatas tidak ada, maka digunakan cara
penyemprotan dengan alat sederhana dengan tangan dan melap seluruh
tubuh ternak dengan lap yang dicelupkan dalam larutan insektisida.
4. Vaksinasi
Di luar negeri sudah dikembangkan vaksin untuk mencegah infestasi caplak
dengan menggunakan bioteknologi maupun dari ekstrak caplak.

4.3.6 Arthropoda Lain


1. Sitophilus orizae
a. Sinyalemen
Jenis sampel : kutu di dalam beras
Asal : Mulyosari, Surabaya
Tanggal pengambilan sampel : 29 Agustus 2018
Tanggal identifikasi sampel : 30 Agustus 2018
Metode identifikasi : Pinning
b. Klasifikasi dan Morfologi
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda

161
Class : Insecta
Order : Coleoptera
Family : Curculionidae
Subfamily : Dryophthorinae
Genus : Sitophilus
Species : Sitophilus oryzae

Sitophilus orizae Gambar. Sitophilus orizae dewasa


(Dokumentasi pribadi, 2018) (Koehler, 2015)
Sitophilus oryzae disebut dengan kutu beras adalah hama yang biasa
terdapat pada beberapa hasil pertanian seperti beras, gandum dan jagung. Panjang
kutu dewasa sekitar 1,5 – 2 mm. Warna tubuh tampak hitam kecoklatan, dan secara
makroskopis tampak empat titik berwarna lebih terang (light spots) di masing-
masing bagian penutup sayap dan memiliki lubang berbentuk tidak teratur pada
toraksnya. Sitophilus oryzae memiliki jenis mulut penggigit dan moncong yang
cukup panjang. Kutu beras dewasa bisa terbang. Selama tahap larva mereka tidak
berkaki, berwarnah putih kekuningan dengan kepala kecil. Sitophilus oryzae tahap
pupa memiliki moncong seperti orang dewasa.
c. Siklus Hidup
Kutu beras dewasa dapat terbang dan dapat hidup hingga dua tahun. Satu
siklus hidup kutu dapat diselesaikan dalam 28 hari. Kutu beras berpura-pura mati
dengan merapatkan kaki mereka dekat dengan tubuh dan tetap diam bahkan ketika
terganggu. Kutu betina dewasa dalam sekali menetas dapat mengeluarkan 2 – 6

162
telur atau sekitar 300 telur sepanjang hidupnya. Dengan mandibula yang kuat, kutu
betina dewasa akan membuat lubang pada biji untuk menetaskan telur. Telur akan
menetas setelah tiga hari. Stadium larva akan bertahan dalam biji selama 18 hari,
kutikula akan mengeras dan matang dan secara berkala mounting untuk
memperbesar ukurannya. Stadium pupa berlangsung selama 6 hari. Pupa tidak
memerlukan makan, pupa tertutup dalam kepompong yang dibangun oleh larva.
Pupa mengalami perubahan besar baik secara internal maupun eksternal dan
akhirnya muncul sebagai kutu dewasa. Kutu dewasa memiliki panjang antara 0,1
dan 1,7 cm. Mereka memiliki tiga pasang kaki dan tubuh mereka dibagi menjadi
kepala, dada dan perut. Kepala termasuk bagian mulut dan organ indera. Thorax
menyandang kaki dan sayap. Abdomen mengandung organ reproduksi.

Siklus hidup Sitophilus oryzae


d. Tindakan Kontrol
Tindakan kontrol dilakukan untuk memberantas hama ini dengan beberapa
cara sebagai berikut :
- Memusnakan produk yang telah terinfestasi
- Mengemas produk pada wadah yang antikutu
- Menempatkan produk dalam freezer selama 3 - 4 minggu dapat membunuh
larva dan dewasa.

163
- Kutu beras dalam semua tahap perkembangan dapat mati dengan
membekukan produk yang terinfeksi di bawah -17,7 ° C (0 ° F) selama tiga
hari, atau pemanasan hingga 60 ° C (140 ° F) selama 15 menit.

164
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Parasit yang mendapat perhatian khusus dalam ilmu kedokteran hewan
secara umum terbagi dalam 3 kelompok ilmu, yakni helmintologi veteriner,
protozoologi veteriner, dan entomologi (arthropoda) veteriner. Selama pelaksanaan
kegiatan koasistensi diagnosa laboratoris di Laboratorium Parasitologi Veteriner
Fakultas Kedokteran Hewan Unair, beberapa spesies parasit telah didapatkan untuk
dikoleksi dan dipelajari. Spesies parasit yang tergolong dalam helmintologi
veteriner, didapatkan dari pemeriksaan sampel feses, nekropsi dan pmbedahan
saluran pencernaan yang kemudian dilakukan pengamatan dan/atau pengawetan.
Beberapa spesies dalam helmintologi veteriner tersebut diantaranya adalah
Oesophagostomum sp., Ancylostoma caninum, Ostertagia ostertagi, Trichuris suis,
Ascaris suum, Heterakis gallinarum, Ascaridia galli, Capillaria spp., Trichonema
sp. (Cyathostomin), Strongyloides papillosus, Strongylus vulgaris, Toxocara
vitolorum, Bunostomum trigonocephalum, Trichuris ovis, Haemonchus contortus,
Fasciola gigantica, Paramphistomum sp., Schistosoma bovis, Echinochasmus
perfoliatus, Paragonimus kellicoti, Hymenolepis nana, dan Moniezia sp.
Spesies parasit yang tergolong dalam protozoologi veteriner, didapatkan
dari pemeriksaan sampel feses, kerokan (scraping) saluran pencernaan, swab pada
kerongkongan serta pemeriksaan ulas darah. Beberapa spesies dalam protozoologi
veteriner tersebut diantaranya adalah Babesia canis, Haemoproteus columbae,
Plasmodium sp., Anaplasma sp., Eimeria sp., Balantidium coli, Blastocystis
humonis, Isospora felis dan Trichomonas gallinae.
Spesies parasit yang tergolong dalam entomologi (arthropoda) veteriner,
didapatkan dari penangkapan di lingkungan atau dalam kandang menggunakan
jebakan serangga dan pemeriksaan pada hewan yang dicurigai terdapat ektoparasit.
Beberapa spesies dalam entomologi (arthropoda) veteriner tersebut diantaranya
adalah Aedes aegypti, Culex sp., Stomoxys sp., Chrysomyia megacephala, Musca
autumnalis, Pseudolynchia canariensis, Sarchopaga haemorrhoidalis, Felicola

165
subrostratus, Columbicola columbae, Ctenocephalides felis, Dermanyssus gallinae,
Rhipicephalus sanguines, dan Amblyomma sp.

5.2 Saran
Disarankan untuk lebih memahami cara pengambilan sampel dan
penyimpanan sampel yang baik dan benar. Hal tersebut dikarenakan akan sangat
membantu proses identifikasi pada saat dilakukan pengamatan serta pengawetan
spesies parasit. Pemahaman yang baik tentang spesies parasit dan siklus hidupnya
pada masing-masing hewan inang akan memudahkan dalam mencari,
mengidentifikasi dan membedakan satu parasit dengan parasit lainnya.

166
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, C. dan Soedarmono. 1982. Parasit Ternak dan Cara Penanggulangannya.


Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Ashadi, G dan S. Partosoedjono.1992. Penuntun Laboratorium Parasitologi I.
Institur Pertanian Bogor. Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Bogor.
Ashour, AA (1994). "Scanning electron microscopy of Ascaridia galli (Schrank,
1788), Freeborn, 1923 and A. columbae (Linstow, 1903)". J Egypt Soc
Parasitol. 24 (2): 349–55. PMID 8077754
Atkinson, A., V. Siegel, E. A. Pakhomov, P. Rothery, V. Loeb, R. M. Ross, L. B.
Quetin, K. Schmidt, P. Fretwell, E. J. Murphy, G. A. Tarling dan A. H.
Fleming. 2008. Oceanic Circumpolar Habitats of Antartartic Krill. Marine
Ecology Progress Series 362: 1-23
Bahtiar, D. H., R. Susanti, dan M. Rahayuningsih. 2014. Keanekaragaman Jenis
Ektoparasit Burung Paruh Bengkok Famili Psittacidae di Taman
Margasatwa Semarang. Unnes Journal of Life Science3 (2) (2014).
Baker, D.G. 2007. Flynn’s Parasites of Laboratory Animals. 2nd Edition.
Blackweel Publishing. USA. 844 pp. University of Malaysia. CABl
Publishing. 365 pp.
Ballweber, L. R. 2001. The Practical Veterinarian, Veterinary Parasitology.
Woburn: Butterworth-Heinemann
Ballweber, L.R. 2010. Veterinary Parasitology. Butterworth–Heinemann. USA
Bassetto, C.C., B.F. Silva, G.F.J. Newlands, W.D. Smith, and A.F.T. Amarante.
2011. Protection of calves against Haemonchus placei and Haemonchus
contortus after immunization with gut membrane proteins from H. contortus.
Parasite Immunol 33(7):377–381
Baudena M, Chapman M, French D, Klei T, 2000. Seasonal development and
survival of equine cyathostome larvae on pasture in south Louisiana. Vet
Parasitol. 88: 51-60. 10.1016/S0304-4017(99)00198-3.

167
Bendryman, S.S, S. Koesdarto, S. M. Sosiawati, Kusnoto. 2013. Helminthiasis
Veteriner. Global Persada Press. Surabaya.
Birkenheuer AJ, Levy MG, Breitschwerd EB. 2003. Development and evaluation
of a seminested PCR for detection and differentiation of Babesia gibsoni
(Asian genotype) and B. canis DNA in canine blood samples. J Clin
Microbiol. 1: 4172–4177.
Blue, J. dan French, T. 2013. http://www.eclinpath.com/atlas/hematology/bovine-
blood/ Cornell University. Diakses tanggal 6 September 2018.
Bowman DD, Bar SC, Hendrix CM and Lindsay DS. 2002. Feline Clinical
Parasitology. Iowa State University Press.
Bowman, D.D. 2003. Georgis' Parasitology for Veterinarians: Ninth Edition.
Elsevier Science. St. Louis.
Bowman, D. D. 2014. Georgi’s Parasitology fir Veterinarians. 10th edition.
Elsevier. St. Louis (US)
Bowman. D.D, 1999. Georgi’s Parasitology for Veterinary. 8th Ed. Saunders an
Imprint of Elsevier Science.
Brandão LP, Hagiwara MK, Myiashiro SI. 2003. Humoral immunity and
reinfection resistance in dogs experimentally inoculated with Babesia
canisand either treated or untreated with imidocarb dipropionate. Vet
Parasitol. 114: 453–465.
Brauneis, Maria D.; Zoller, Hartmut; Williams, Heike; Zschiesche, Eva; Heckeroth,
Anja R. (2017-12-02). The acaricidal speed of kill of orally administered
fluralaner against poultry red mites (Dermanyssus gallinae) on laying hens
and its impact on mite reproduction". Parasites & Vectors. 10: 594.
Camacho AT, Guitián FJ, Pallas. 2004. Azotemia and mortality among Babesia
microti-like infected dogs. J Vet Intern Med.18: 141–146.
Campbell WC, Fisher MH, Stapley EO, AlbersSchonberg G, Jacob TA. 1983.
Ivermectin: A Potent New Antiparasitic Agent. Science. 221(4613):
823:828.
Chacon-Cruz, Enrique, 2007. Intestinal Protozoa Disease. Emedicine

168
Conrad P, Thomford J, Yamane I. 1991. Hemolytic anemia caused by Babesia
gibsoniinfection in dogs. J Am Vet Med Assoc. 199: 601–605.
Darmono. 1983. Parasit Cacing Paramphistomum sp. Pada Ruminansia. Wartazoa
1 (2)
Dewi, K dan Nugraha. 2007. Endoparasit pada feses babi kutil (Sus Verrucosus)
dan prevalensinya yang berada di Kebun Binatang Surabaya. Zoo Indonesia
Vol. 16(1):13 – 19.
Dhanumkumari, C.H dan K. Shyamasundari. 2011. The life cycle of echinochasmus
bagulai (trematoda Echinostomatidae). International Journal for
Parasitology. Vol. 21. Issue 2, pages 259-263.
Dinata, A. 2008. Strategi Utama Pemberdayaan Atasi DBD. Inside (Insprirasi &
Ide Litbangkes P2B2). 3(2). http://www.academia.edu/
6610415/Ekstrak_Kulit_Jengkol_Atasi_Jentik_DBD_Majalah_Inside_Vol.
III.No.02-Desember_2008. Diakses tanggal 6 September 2018.
Djakaria. 2000. Vektor Penyakit Virus, Riketsia, Spiroketa dan Bakteri. Dalam:
Srisasi G., D.I. Herry, dan P. Wita penyunting. Parasitologi Kedokteran.
Edisi Ketiga. Balai Penerbit FKUI, Jakarta: 235-237.
Dunn A. M. 1978. Veterinary Helmintology, 2nd Ed. William Heinemann Medical
Books Ltd. London.
Duri, R.O. 2015. Deteksi Toxocara vitulorum pada Kerbau Perah (Bubalus bubalis)
di Kabupaten Enrekang [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Hasanuddin.
Fang, F. Jian L., H. Tengfei, G. Jacques, and H. Weiyi. 2015. Zoonotic helminths
parasites in the digestive tract of feral dogs and cats in Guangxi, China.
BMC Vet Res. 2015; 11: 211.
Febrianti, S. 2015. Prevalensi Toxocariasis pada Sapi Bali di Kabupaten Maros
[Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Hasanuddin.
Foreyt, W. J. 2001. Veterinary Parasitology Reference Manual. Iowa: Blackwell
Publishing Professional
Fox, MT .2014. Parasit Gastrointestinal Ternak: Parasit Gastrointestinal
Ruminansia: Merck Veterinary Manual. Merck Veterinary Manual

169
Fraser CM. 2006. The Merck Veterinary Manual, A Hand Book of Diagnosis
Therapy and Disease Prevention and Control for Veterinarians. Ed ke-7.
Amerika Serikat (US): NIT.
Gandahusada, S. 1995. Atlas Parasitologi Kedokteran. Gramedia Pustaka Utama:
hal 120.
Ginanjar, G. 2008. Demam Berdarah. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.
Gregor F, Rozkosny R, Bartak M, Vanhara J. 2002. The Muscidae (Diptera) of
Central Europe. Scientiarum Naturalium Universitatis Masarykianae
Brunensis. 107. Masaryk University, Masaryk., p 280
Griiffiths, Henry J. 1978. A Handbook of Veterinary Parasitology Domestic
Animals of North America. University of Minnesota Press.
Hadi, U. K. dan Soviana S. 2000. Ektoparasit; Pengenalan, Diagnosa dan
Pengendaliannya. Laboratorium Entomologi. FKH IPB.
Hastutiek, P., R. Sasmita., A. Sunarso, dan M. Yunus. 2014. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Arthropoda Veteriner. Airlangga University Press. Surabaya
Hendrix, C.M., Robinson, Ed. 2016. Diagnostic Parasitology for Veterinary
Technician. Elsevier.
Hoedojo, R. dan Zulhasril. 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Edisi 4. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta.
Hoy MA. 2011. Agricultural acarology: Introduction to integrated mite
management. CRC Press, Boca Raton, FL, pp. 325-327.
Hutauruk, J. D., Nuraeni, Purwanta, dan S. Setiawaty. 2009. Identifikasi cacing
saluran pencernaan (gastrointestinal) pada Sapi Bali melalui pemeriksaan
tinja di Kabupaten Gowa. Jurnal Agrisistem. 5
Johnstone, C. 2000. Parasites and Parasitic Diseases of Domestic Animals
Kardinan, A. 2005. Zodia (Evodia suaveolens) Tanaman Pengusir
Nyamuk.http://litbang.deptan.go.id/artikel177.pdf#search=’tanaman%20an
ti%20nyamuk’. Diakses tanggal 6 September 2018.
Kaufmann, Johannes. 1996. Parasitic infections of domestic animals: a diagnostic
manual. Birkhauser Verlag : Berlin

170
Keeler, S.P dan Huffman J.E. 2009. The biology of echinostomes. From the
molecule to the community.USA: Spring science. pp 61-67.
Kennedy M.J. 2006. Balantidium in Swine. Agriculture, Food and Rural
Deveolpment. AGRI-FACTS.
Kertawirawan, I.P.A. 2013. Pengaruh tingkat sanitasi dan sistem manajemen
perkandangan dalam menekan angka kasus koksidiosis pada pedet sapi bali.
Widyariset, Vol. 16 No. 2, hal: 287–292
Kettner F, Reyers F, Miller D. 2003. Thrombocytopenia in canine babesiosis and
its clinical usefulness. J S Afr Vet Assoc. 74 :63–68.
Kheirabadi, K.P., 1, *A. D. Samani., N. A. Baberi., dan V. Najafzadeh. 2016. Case
Report: A First Report of Infestation by Pseudolynchia canariensis in a
Herd of Pigeons in Shahrekord (Southwest of Iran). J Arthropod-Borne Dis,
September 2016, 10(3): 424–428
Koehler, P. G.2015. Rice Weevil, Sitophilus oryzae (Coleoptera: Curculionidae).
edis.ifas.ufl.edu.
Kusnoto dkk, 2014. Buku Teks Helmintologi Kedokteran Hewan. Zifatama
Publisher. Universitas Airlangga. Surabaya.
Kusnoto Subekti, S., dan S. Mumpuni, S. Koesdarto. 2011. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Helminth Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
Surabaya
Kusnoto, S.S. Bendryman, S. Koesdarto, S.M. Sosiawati. 2010. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Helmint. Airlangga University Press. Surabaya.
Kusnoto, S.S. Bendryman, S. koesdarto, S.M. Sosiawati. 2010. Helmintologi
Veteriner. Airlangga University Press. Surabaya.
Kusnoto, Sri S., Setiawan K., dan Sri M. S. 2015. Helmintologi Kedokteran Hewan.
Zifatama Publisher. Sidoarjo.
Kusumamiharja, S. 1992. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan
Piaraan di Indonesia. Pusat Antar Universitas. IPB.
Levine N. 1985. Protozoologi Veteriner. Soekardono S, penerjemah; Brotowidjojo
MD, editor. Yogyakarta (ID): UGM Pr.

171
Levine, N. D. 1990. Parasitologi Veteriner. Terjemahan Gatut Ashadi. Gadjah
Mada University Press.
Levine, N. D. 1995. Protozoologi Veteriner (terjemahan). Alih bahasa: Soekardono,
S. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Levine, N.D. 1990. Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Levinson. Warren, 2004. Medical Microbiology & Immunology. McGraw Hill
Companies: USA.2004:155-7
Liu, Dongyu. 2017. Laboratory Models for Foodborne Infections. CRC Press
Lloyd, C, 2003. Avian Practice: Control of Nematode Infections in Captive Birds.
In Practice; 25:198-206
Lyle Buss. 2018. http://entnemdept.ufl.edu/creatures/URBAN/MEDICAL/
Stomoxys_calcitrans.htm. University of Florida.
Macintire DK, Boudreaux MK, West GD. 2002. Babesia gibsoniinfection among
dogs in the southeastern United States. J Am Vet Med Assoc. 220: 325–329.
Menzies, P. 2010. Handbook of the Control of Internal Parasites of Sheep.
University of Guelph Pr. Guelph
Miller DB, Swan GE, Lobetti RG, Jacobson LS. 2005. The pharmacokinetics of
diminazene aceturate after intramuscular administration in healthy dogs.
Journal of the South African Veterinary Association. 76:146–150.
Mubarok, H. dan Susanto E. 2017. Identifikasi Morfologi dan Molekular (PCR-
SSCP) Kutu Pada Merpati (Columbia livia domestica). Jurnal Celebes
Biodiversitas Volume 1
Mufasirin dan Suwanti, L. T. 2008. Deteksi Toxoplasma gondii pada Telur Ayam
Buras yang Dijual sebagai Campuran Jamu di Kota Surabaya denga Uji
Biologis. Media Kedokteran Hewan 24(1): 9-14
Mufasirin, Lastuti D. R. L., Suprihati E., dan Suwanti L.T. 2016. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Protozoa. Surabaya: Airlangga University Press
Mundt H.C, Bangoura B, Mengel H, Keidel J, Daughschies A. 2005. Control of
clinical coccidiosis of calves due to Eimeria bovis and Eimeria zuernii with
toltrazuril under field conditions. J Parasitol Res.

172
Nasution, AH. Lubis A.H. 1984. Infeksi Haemonchus Contortus Pada Domba di
Kabupaten Aceh Besar. laporan penelitian.
Nelson, R. W., Couto, C. G., 2014. Small Animal Internal Medicine. 5th edition.
Elsevier.
Noble, ER and Noble G.D 1989. Parasitology. The Biology of animal Parasites.
5th. Ed Lea & Febiger. Philadelphia
Palgunadi, B. U. 2012. Hymenolepiasis nana. Fakultas Kedokteran Universitas
Wijaya Kusuma: Surabaya
Paterson S (2009). "Dermanyssus gallinae". Manual of skin diseases of the dog and
cat (2nd ed.). Chichester: John Wiley & Sons. pp. 118–119.
Paul J. Mustachia, Mitanshu Shah, Cristopher Brian Tan. 2012. Blastocystis
hominis and Endolimax nana Co-Infection Resulting in Chronic Diarrhea
in an Immunocompetent Male.
Procop, Gary W., 2009. North American Paragonimiasis (Caused by Paragonimus
kellicotti) in the Context of Global Paragonimiasis. Clinical Microbiology
Reviews. Vol. 22 No. 3. p: 415-446.
Proctor H, Owens I. 2000. Mites and birds: Diversity, parasitism and coevolution.
Trends in Ecology and Evolution 15: 358-364.
Proudman CJ, Matthews JB, 2000. Control of Intestinal Parasites in Horses. In
Practice, 22: 90-97
Purwanta, R. 2009. Hubungan Kecacingan pada Ternak Sapi di Sekitar Taman Way
Kambas dengan Kemungkinan Kejadian Kecacingan pada Badak Sumatera
(Dicerorhinus sumatrensis) Di Suaka Rhino Sumatera. Skripsi. Institut
Pertanian Bogor. Bogor
Radostits, O.M., D.C. Blood, C.C. Gay, and H.E. Hinchcliff. 2000. Veterinary
Medicine A Text Book of Disease of Cattle, Sheep, Pigs, Goats and Horses.
WB Saunders. Londo
Romoser S. Wiliam dan Stoffolano jr. 1998. The Science of Entomology 4th Edition.
Chapman and Hall. New York.
Russell, R.C. (1996). A Colour Photo Atlas of Mosquitoes of
Southeastern Australia. Medical Entomology, Westmead Hospital.

173
Sadaf, H.S., Khan S. S., Kanwal N., Tasawer, B. M., Ajmal S.M., 2013. Review on
Diarrhoea causing Hymenolepis nana Dwarf Tapeworm. International
Research Journal of Pharmacy.Vol. 4 No. 2.
Samosir TP. 2008. Kecacingan Ancylostoma sp Pada Anjing Ras. Bogor (ID) :
Institut Pertanian Bogor.
Sasmita, R., P. Hastutiek., A. Sunarso., dan M. Yunus. 2013. Buku Ajar Arthropoda
Veteriner. Airlangga University Press. Surabaya
Schoeman JP. 2009. Canine babesiosis. Onderstepoort Journal of Veterinary
Research, Vol (76):59–66.
Seddon, H. R. dan Albiston, H. E. 1966. Disease of Domestic Animal in Australia.
Part 4 Protozoan and Virus Disease. 2nd Ed. Commonwealth of Australia.
Department of Health: 3-8.
Shadaf HS, Khan SS, Urooj KS, Asma B, Ajmal SM, Karachi T, 2013. Blastocystis
humonis- Potential Diahorreal Agent: a Review. Int Res J Pharm.
Soedarto, 2011. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. CV Sagung Seto : Jakarta.
Soekardono S. 1989. IMPORTANT PROTOZOAN DISEASES OF ANIMALS IN
INDONESIA. Bulletin Penelitian Kesehatan. 17 : 154-163
Soren, Kaisa. 2009. Experimental Schistosoma bovis Infection in Goats : Studies
on the Host-Parasite Relationship with Special Reference to
Immunoregulatory Effect andt Immunopathology. [DOCTORAL THESIS].
Faculty of Veterinary Medicine and Animal Science Swedish University of
Agricultural Science
Sosiawati, S. M., Bendryman S. S. dan Koesdarto S. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Helmint. Surabaya: Airlangga University Press
Soulsby, E. J. L. 1986. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domestic Animals.
5th Edition. The English Language Book Soc and Bailliere Tindall. London.
Sparagano O, Pavlićević A, Murano T, Camarda A, Sahibi H, Kilpinen O, Mul M,
van Emous R, le Bouquin S, Hoel K, Cafiero MA. Prevalence and key
figures for the poultry red mite Dermanyssus gallinae infections in poultry
farm systems. Exp Appl Acarol. 2009;48(1–2):3–10.

174
Sri subekti dkk. 2011. Buku Ajar Ilmu Penyakit Helmint (Helmintiasis).Surabaya.
Universitas Airlangga Press.
Sutanto, I. dkk. 2008. Parasitologi Kedokteran cetakan ke-4. Departemen
Parasitologi FKUI. Jakarta.
Suwanti, Kusumamiharja, Kresno S. B. dan Ginanjar G. 2011. Parasit dan
Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan Piaraan di Indonesia. Bogor:
IPB Press
Suwanti, L.T., N.D.R. Lastuti, E. Suprihati, dan Mufasirin. 2012. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Protozoa. Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga.
Surabaya.
Swayne, E., J.R. Glisson, L.R. McDougald, L.K. Nolan, D.L. Suarez, V. Nair. 2013.
Disease of Poultry. Iowa (USA): Blackwell Publishing.
Taylor MA, Coop RL, Wall RL. 2007. Veterinary Parasitology. Third Edition,
Blackwell Publishing. Oxford.
Taylor, M.A., Coop, R.L., Wall, R. L. 2016. Veterinary Parasitology Fourth
Edition. Wiley Blackwell
Thenmozhi, V. R., Selvaraj, P. 2009. Host Feeding Pattern of Wild Caught
Mosquitoes in Reserve Forest, Rural Village and Urban Town in Nathan
Taluk, Tamil Nadu. Current Biotica. 2 (4).
Tiawsirisup, S., dan Nithiunai, S. 2006. Vector Competence of Aedes aegypti (L.)
and Culex quinquefasciatus (Say) for Dirofilaria imitis (Leidy).
http://www.tm.mahidol.ac.th/ diakses tanggal 6 September 2018.
Tsachev, I. 2009. Canine Granulotic Anaplasmosis. Trakia Journal of Sciences 7(1):
68-72.
Urquhart, G.M., J. Armour, J.L. Duncan, A.M. Dunn, F.W. Jennings. 1996.
Veterinary Parasitology 2nd edition. Blackwell Science
Valkiunas, G. 2005. Avian Malaria Parasites and Other Haemosporidia. CRC
Press, Boca Raton, Florida.
Verninda. N, H. Yuli, dan B. Deden. 2015. Identification of protozoa in beef cattle
feces before and after the formation process of biogas at digester fixed-dome.
Bandung: Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran.

175
Von Samson-Himmelstjerna G, von Witzendorff C, Sievers G, Schneider T:. 2002.
Comparative use of faecal egg count reduction test, egg hatch assay and
beta-tubulin codon 200 genotyping in small strongyles (cyathostominae)
before and after benzimidazole treatment. Vet Parasitol. 108: 227-235.
10.1016/S0304-4017(02)00197-8.
Wall, R., dan D. Shearer. 2001. Veterinary Ectoparasites Second Edition.
Blackwell Science. United Kingdom
Welzl, C, Leisewitz, AL, Jacobson, LS, et al.: Systemic inflammatory response
syndrome and multiple-organ damage/dysfunction incomplicated canine
babesiosis. J S Afr Vet Assoc. 72, 2001, 158–162.
Widiastuti, D., Astuti N.T., Pramesteti N., Sari T.F., 2016. Infeksi cacing
Hymenolepis nana dan Hymenolepis diminuta Pada tikus Dan cecurut di
area pemukiman Kabupaten banyumas. Vektora Volume 8 Nomor 2, p : 81
– 90.
Winaya, I.B.O, I Ketut Berata, Ida Ayu Pasti Apsari. 2011. Kejadian Balantidiosis
pada Babi Landrace. Jurnal Veteriner. Vol. 12 No. 1: 65-68.
Zajac, A.M., and G.A. Conboy. 2012. Veterinary Clinical Parasitology 8th edition.
Wiley-Blackwell

176

Anda mungkin juga menyukai