Anda di halaman 1dari 24

NEEDLESTICK INJURY &

SHARPS INJURY
Needlestick injury / NSI merupakan luka tusukan tajam dari jarum (atau benda tajam
lainnya) yang dapat menyebabkan paparan darah atau cairan tubuh lainnya.
(
RISIKO TERKENA NSI
Apabila terjadi NSI yang menyebabkan kontak darah dengan pasien maka
risiko terinfeksi blood borne diseases seperti virus hepatitis B (HBV), hepatitis C
(HCV), dan human immunodeficiency virus (HIV). Selain itu terdapat juga
mikroorganisme yang dapat di transmisikan melalui kontak darah, yaitu :
cytomegalovirus (CMV), epstein-Barr virus (EBV), parvovirus, treponema
palladium, yersina, plasmodium.
(Sumber : WGO Practice Guideline. Needle Stick Injury and Accidental Exposure
to Blood )
KASUS NSI DI KARIADI
25 23

20

15
15 14

10 8

2014 2015 2016 2017


PENYEBAB KASUS NSI TAHUN 2017
Melakukan Recapping
4%
4% Penutup jarum terlepas, dan mengenai jari

18% 35% Kurang konsentrasi dan terburu - buru

Terdapat jarum di tempat sampah infeksius


4%
4% Tersenggol tangan pasien karena pasien tidak dalam
kondisi tenang atau tersenggol rekan kerja

31%
Jarum dalam keadaan bengkok

Ada jarum yang keluar dari sudut safety box


Dari Data kejadian NSI di RSUP Dr. Kariadi Tahun 2017 sebanyak 23 kejadian,
diketahui :
Kasus tertusuk jarum dengan pasien HIV Aids sebanyak 2 kejadian, Hepatitis C
sebanyak 2 kejadian, Hepatitis B sebanyak 3 kejadian
RISK OF INFECTION TRANSMISSION
AFTER A BLOOD EXPOSURE

Depend on What microorganisms,


type and severity of exposure and
number/load of microorganism

HBV : 27 – 37% ( 30%)


HCV : 3 – 10 % (3,0 %)
HIV : 0,2 – 0,4% (0,3%)
SIAPA SAJA YANG BERISIKO ?

Source : CDC
DIMANA RISIKO TERJADI NSI ?

Source : CDC
BAGAIMANA BISA TERJADI NSI ?

Source : CDC
KEJADIAN NSI TAHUN 2017
Apoteker
4% Lab
9%

PPDS
18%

Perawat
65%
HK
4%
PENCEGAHAN NSI MELALUI SAFETY INJECTION

PLANNING
PREPARATION
INJECTING
CLEAN UP

Source :
PLANNING
Perencanaan dan persiapan memainkan peranan penting dalam mengurangi risiko
tertular atau menularkan infeksi blood borne disease dan konsekuensi berbahaya
lainnya yang terkait dengan penggunaan suntikan. Yang dapat dilakukan dalam tahap
perencanaan :
1. Mempelajari atau membaca kembali RM pasien yang akan diinjeksi
2. Memikirkan teknik menyuntik
3. Memikirkan perlengkapan apa yang dibutuhkan
PREPARATION
1. Menyiapkan persiapan yang akan digunakan : alcohol swabs, sterile water,
tourniquets or ties (made of pliable, easy-to-tie-and-release material),
sterile/new syringes, cotton, alcohol, safety box, etc
2. Mencuci tangan atau menggunakan handsanitizer
3. Menggunakan APD berupa Handchoen
4. Melakukan pengecekan identifikasi pasien (cek, nama, no RM dan tanggal lahir)
5. Melakukan edukasi kepada pasien agar tetap tenang dan penunggu pasien
6. Meminta bantuan ke rekan kerja, bila ada situasi tertentu (pasien berontak atau
gelisah)
INJECTING
1. Menentukkan lokasi yang akan diinjeksi (Cek vena atau nadi pasien)
2. Pasangkan tourniquets pada lengan pasien bila diperlukan
3. Membersihkan lokasi yang akan diinjeksi dengan alcohol swab atau kapas yang sudah diberi
alcohol. Gerakan wiping ini disarankan hanya satu arah untuk mengurangi kontaminasi
4. Langkah selanjunya, temukan vena untuk disuntik
5. Dengan jarum miring, jarum perlahan dimasukkan ke dalam pembuluh darah. Jarum harus
sekitar 35 derajat dan dimasukkan ke arah jantung (arah aliran darah) untuk mengurangi
kerusakan pembuluh darah
6. Tekan atau Tarik ujung syringe untuk mengeluarkan obat atau mengambil darah pasien
7. Bila jarum sudah masuk ke vena, mengendurkan tourniquets secara perlahan
8. Jarum perlahan – lahan ditarik pada tempat yang sama saat dimasukkan, untuk mengurangi
kerusakan pembuluh darah
9. Tekan lokasi yang telah diinjeksi dengan kapas kering
CLEAN UP
1. Buang syringe beserta jarum ke dalam safety box tanpa recapping/ menutup
jarum dan melepas jarum dari syringe
2. Buang kapas atau alcohol swab yang sudah digunakan kedalam sampah
infeksius
3. Buang handschoen kedalam sampah infeksius
4. Lakukan cuci tangan dengan sabun sesuai prosedur
YANG PERLU DIPERHATIKAN :
DO DON’T
Menerapkan aseptic technique untuk mecegah Menggunakan syringe yang sama untuk penyuntikan
kontaminasi alat-alat injeksi lebih dari satu pasien walaupun jarum suntiknya diganti
Semua alat suntik yang dipergunakan harus satu kali Memberikan obat-obat single dose kepada lebih dari
pakai untuk satu pasien dan satu prosedur satu pasien atau mencampur obat-obat sisa dari
vial/ampul untuk pemberian berikutnya
Gunakan cairan pelarut/flushing hanya untuk satu kali Menggunakan cairan pelarut untuk lebih dari 1 pasien
(NaCl, WFI, dll)
Gunakan single dose untuk obat injeksi (bila Menggunakan multi dose untuk obat injeksi
memungkinkan), Bila harus menggunakan obat-obat multi
dose, semua alat yang akan dipergunakan harus steril

Simpan obat-obat multi dose sesuai dengan Melakukan recapping pada jarum suntik
rekomendasi dari pabrik yang membuat

PMK NO 27 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PPI DI FASYANKES


YANG PERLU DIPERHATIKAN PADA SAAT
MEMBUANG JARUM :
DON’T
Jangan menekan atau menjejali jarum kedalam Jangan memasukkan tangan kedalam lubang
safety box yang penuh container safety box
Jangan melepas jarum pada syringe sebelum Jangan recapping
membuang ke safety box
Jangan membengkokan jarum sebelum dibuang ke Jangan membuang jarum dengan cara melempar
dalam safety box kedalam safety box
Jangan memotong jarum sebelum dibuang ke Jangan merasa ketakutan pada saat akan
dalam safety box membuang jarum kedalam safety box

DO
Pegang tali atau handle pada safety box untuk Letakkan safety box pada jauh dari jangkauan
mengangkat safety box anak anak dan tidak di lantai
Buang safety box sebelum penuh atau ¾ bagian Siapkan safety box selalu pada saat memberikan
sudah terisi tindakan pada pasien
Alur pelaporan kejadian
Needlestick Injury :
DO DON’T
BILA ANDA TERTUSUK Bersihkan luka dengan air mengalir Memencet mencet luka untuk
JARUM selama 10 – 15 menit mengeluarkan darah
Basuh dengan sabun cuci tangan dan Hanya membasuh dengan air
handrub (desinfeksi) mengalir
Melaporkan ke Melaporkan kejadian NSI lebih dari
atasan langsung dan Tim K3 sebelum 2 x 24 jam
2 x 24 jam

Mengisi Form KAK dan segera ke


IGD
Melakukan pengecekan Lab yang
diperlukan :
Cek HBsAg
Cek Anti HBs
Cek Anti HCV
Cek Anti HIV
Lakukan pengecekan Lab ulang 3
bulan kemudian
KAPAN DILAKUKAN PROFILAKSIS HEP B?
Parameter hasil pemeriksaan Verifikasi riwayat imunisasi pegawai Tindakan yang dilakukan

Maka berhak mendapatkan booster


Pegawai sudah pernah mendapatkan
imunisasi Hepatitis B 1x
Imunisasi Hepatitis B lengkap
1. Anti HBs < 8 (Negatif),
2. Anti HBs 8 - 12 (Equivocal)

Pegawai pernah mendapatkan Imunisasi


Maka berhak mendapatkan
Hepatitis B tetapi belum lengkap atau
Immunoglobulin Hepatitis B (HBIG) dalam
tidak pernah mendapatkan Imunisasi
waktu ≤ 24 jam
Hepatitis B

Tidak perlu mendapatkan booster atau


1. Anti HBs > 12 (Positif) -
Immunoglobulin Hepatitis B (HBIG)

PMK NO 27 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PPI DI FASYANKES


KAPAN DILAKUKAN PPP HIV ?

Memulai PPP sebaiknya secepatnya kurang dari 4 jam dan tidak lebih dari 72 jam,
setelah 72 jam tidak dianjurkan karena tidak efektif. Orang yang terpajan cairan
pasien dengan HIV positif dan sebelumnya dilakukan tes HIV dengan hasil negative
yang dapat dilakukan PPP HIV
Apabila orang tersebut telah mendapat infeksi HIV sebelumnya, maka PPP tidak
boleh diberikan dan tindakan pengobatan dan semua paket perawatan seperti
skrining TB, IMS, penentuan stadium klinis dll sesuai dengan pedoman ARV mutlak
perlu dilakukan.

PMK NO 27 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PPI DI FASYANKES