Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN RUPTUR PORTIO

A. PENDAHULUAN
Ruptur serviks adalah robekan serviks yang luas yang
menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah rahim.
Robekan yang terjadi pada persalinan yang kadang-kadang sampai ke
forniks, robekan biasanya terdapat pada pinggir samping serviks malahan
kadang-kadang sampai ke SBR dan membuka parametrium.
Pada kehamilan dan persalinan dapat terjadi perlukaan pada alat
genital. Perlukaan alat genital pada kehamilan dapat terjadi baik pada
uterus, serviks maupun pada vagina, sedangkan pada persalinan disamping
pada tempat diatas perlukaan dapat juga terjadi pada vulva dan perineum.
Derajat luka dapat ringan dapat berupa luka lecet saja sampai dengan berat
berupa luka robekan yang luas disertai perdarahan yang hebat.
Pada primigravida yang melahirkan bayi cukup bulan umumnya
perlukaan pada jalan lahir bagian distal (vagina, vulva, dan perineum)
tidak dapat dihindarkan apalagi bila anaknya besar (BB anak >4000 gram).
Perlukaan paling berat pada kehamilan atau persalinanialah robekan uterus
(ruptura uteri). Umumnya robekan terjadi pada segmen pada segmen
bawah rahim yang dapat meluas ke kiri atau ke kanan sehingga dapat
menyebabkan putusnya arteri uterina.
Robekan pada segmen atas rahim dapat terjadi pada luka parut
bekas SC klasis atau bekas miomektomi, robekan pada jenis ini dapat
terjadi baik pada kehamilan maupun pada persalinan. Perlukaan alat
genital didalam panggul pada waktu pembedahan genikoligik merupakan
penyulit yang tidak jarang dijumpai. Hal ini terjadi terutama terjadi bila
terdapat banyak perlekatan antara organ genital yang akan dibedah dengan
jaringan sekitar.
Pada umumnya robekan jalan lahir terjadi pada persalinan dengan
trauma. Pertolongan persalinan yang semakin manipulative dan traumatik
memudahkan robekan jalan lahir dan karena itu dihindarkan memimpin
persalinan pada saat pembukaan serviks belum lengkap. Robekan jalan
lahir biasanya akibat episiotomi, robekan spontan perineum, trauma
forceps atau vakum ekstraksi atau karena versi ekstraksi.

B. ANATOMI
Serviks uteri bebentuk fusiformis dan membuka tiap ujungnya
melalui lubang kecil ostium uteri internum dan eksternum. Di anterior,
batas atas serviks adalah ostium internum, yang bersesuaian dengan level
peritoneum yang melekat dengan vesika urinaria. Segmen atas serviks
portio supravaginalis terletak diatas perlekatan vagina ke serviks di tutupi
oleh peritoneum dipermukaan posteriornya, ligamentum kardinale melekat
dilateral, dan dipisahkan oleh vesika urinaria yang terdapat diatasnya oleh
jaringan ikat jarang. Bagian vagina bawah serviks disebut portio
vaginalis.
Sebelum melahirkan, ostium uteri eksternum memiliki orificium
yang kecil, regular dan oval setelah melahirkan, terutama persalinan
pervaginam, orificium tersebut berubah menjadi celah melintang yang
membagi sehingga menjadi bibir anterior, dan posterior serviks, jika
terjadi robekan dalam waktu persalinan, serviks dapat sembuh sedemikian
rupa sehingga tampak irregular, nodular, atau stelata. Perubahan ini
merupakan ciri khas yang cukup untuk membantu pemeriksa memastikan
apakah seseorang wanita telah melahirkan anak pervaginam. Akan tetapi
jika seseorang menjalani perlahiran caesar makan penampilan serviks
pasca pembedahan mencerminkan derajat dilatasi sebelum pembedahan.
Bagian serviks diluar ostium eksternum disebut ektoserviks dan
dilapisi terutama oleh epitel gepeng berlapis tidak berkeratin. Sebaliknya,
kanalis endoservikalis dilapisi oleh selapis epitel kolumnar penyekresi
musin, dan membentuk fissura dalam seperti pelipatan kedalam atau
“kelenjar” mukus yang dihasilkan oleh epitel endoserviks berubah selama
kehamilan. Mukus tersebut berubah menjadi tebal dan membentuk
sumbatan mukus didalam kanalis endoservikalis.
Umumya selama kehamilan, epitel endoserviks berpindah keluar
dan masuk ke ektoserviks, selama pembesaran serviks dalam suatu proses
yang disebut inversi, akibatnya pita epitel kolumnar ini dapat melingkari
ostium eksternum. Seiring dengan waktu, epitel kolumnar yang mengalami
eversi ini dibawah pengaruh keasaman vagina atau selama penyembuhan,
dapat digantikan denga epitel gepeng dalam suatu proses yang disebut
metaplasia skuamosa. Penggantian dengan epitel skuamosa ini dapat
memblok fissura endoservikalis.
Stroma serviks terutama terdiri dari kolagen elastin dan
proteoglikan dengan sedikit otot polos, perubahan dalam jumlah
komposisi dan orientasi komponen ini menyebabkan pematangan serviks
sebelum persalinan dimulai. Pada kehamilan awal peningkatan
vaskularisasi dan edema didalam stroma serviks memberi warna biru dan
pelunakan yang mepurakan ciri khas tanda chadwick dan hegar.

C. FISIOLOGI DAN FUNGSI SERVIKS


Serviks mengeluarkan lendir rahim yang berbeda kadarnya pada
masa-masa tertentu. Fungsi dari lendir ini yaitu sebagai perlindungan
alami tubuh dari bakteri dari luar tubuh. Selain itu lendir rahim juga
berperan dalam membantu sperma menuju ke ovum, lendir dimasa subur
lebih banyak dibandingkan saat masa tidak subur begitu juga pada saat
hamil, serviks akan tertutup rapat dan lendir yang ada akan semakin
banyak karna berfungsi untuk menjaga bayi dari bakteri dari luar. Pada
saat proses persalinan serviks yang berbentuk seperti donat dengan lubang
yang sangat kecil ini dapat membuka secara elsatis, serviks akan berubah
bentuk setelah melahirkan dan normal kembali setelah masa nifas.

D. DEFINISI
Ruptur serviks adalah robekan serviks yang luas yang
menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawah rahim.
Robekan yang terjadi pada persalinan yang kadang-kadang sampai ke forniks,
robekan biasanya terdapat pada pinggir samping serviks bahkan kadang-
kadang sampai ke SBR dan membuka parametrium.

E. KLASIFIKASI
1. Menurut waktu terjadinya, ruptur uteri dapat dibedakan:
a) Ruptur Uteri Gravidarum:
Terjadi waktu sedang hamil, sering berlokasi pada korpus.
b) Ruptur Uteri Durante Partum:
Terjadi waktu melahirkan anak, lokasinya sering pada SBR. Jenis inilah
yang terbanyak.
2. Menurut lokasinya, ruptur uteri dapat dibedakan:
a) Korpus Uteri
Biasanya terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi,
seperti seksio sesarea klasik (korporal) atau miomektomi.
b) Segmen Bawah Rahim
Biasanya terjadi pada partus yang sulit dan lama (tidak maju). SBR
tambah lama tambah regang dan tipis dan akhirnya terjadilah ruptur
uteri.
c) Serviks Uteri
Biasanya terjadi pada waktu melakukan ekstraksi forsep atau versi dan
ekstraksi, sedang pembukaan belum lengkap.
d) Kolpoporeksis-Kolporeksis
Keadaan dimana terjadi robekan memanjang/melintang diatas/didalam
vagina (regio fornics) sehingga sebagian serviks / uterus terlepas dari
vagina

F. ETIOLOGI
Bibir leher rahim (serviks uteri) merupakan jaringan yang mudah
mengalami perlukaan pada saat persalinan. Akibat perlukaan tersebut pada
seseorang dengan multipara pars vaginalis cervicis uteri (portio uteri) sudah
terbagi menjadi bibir depan dan bibir belakang seriks. Robekan serviks bisa
menimbulkan banyak perdarahan, khususnya bila robekan meluas kearah
kranial sebab ditempat itu terdapat ramus descendens dari arteri uterina.
Robekan servisk yang meluas ke arah kranial dan mencapai dinding vagina
kearah forniks lateralis perlu diwaspadai sebagai ruptur uteri karena robekan
dapat terus meluas keatas dan menyebabkan putusnya arteri uterina.
Perlukaan ini dapat terjadi pada persalinan normal, tetapi yang paling sering
adalah akibat upaya untuk melahirkan anak maupun persalinan buatan
pervaginam pada pembukaan yang belum lengkap.
Dapat pula terjadi robekan pada persalinan buatan dengan vakum
ekstraktor akibat terjeptnya serviks antara mangkok vakum dengan kepala
anak yang tidak terdeteksi sehingga serviks robek pada saat dilakukan tarikan
pada mangkok vakum ekstraktor. Penyebab lain robekan serviks adalah
partus presipitatus dimana pada partus ini kuat dan sering, sehingga janin
didorong keluar dengan kuat dan cepat sebelum pembukaan lengkap.
Diagnosa pembukaan serviks dapat diketahui dengan pemeriksaan inspekulo.

G. DIAGNOSIS
Diagnosa perlukaan serviks dilakukan dengan speculum bibir
serviks dapat di jepit dengan cunam atromatik kemudian diperiksa secara
cermat sifat-sifat dari robekan tersebut. Bila ditemukan robekan serviks yang
memanjang, maka luka dijahit dari ujung yang paling atas, terus ke bawah.
Pada perlukaan serviks yang berbentuk melingkar, diperiksa dahulu apakah
sebagian besar dari serviks sudah lepas atau tidak. Jika belum lepas, bagian
yang belum lepas itu dipotong dari serviks, jika yang lepas hanya sebagian
kecil saja itu dijahit lagi pada serviks. Perlukaan dirawat untuk menghentikan
perdarahan.
Perdarahan pasca persalinan pada uterus yang berkontraksi baik,
maka lakukan pemeriksaan speculum untuk memeriksa serviks uteri,
kemudian dilakukan pengamatan untuk mencari sumber perdarahan pada
serviks.
H. PENATALAKSANAAN
1. Penanganan
Apabila ada robekan memanjang, serviks perlu ditarik keluar
dengan beberapa cunamovum, supaya batas antara robekan dapat dilihat
dengan baik. Jahitan pertama dilakukan padaujung atas luka, baru kemudian
diadakan jahitan terus ke bawah. Robekan serviks harus dijahit kalau
berdarah atau lebih besar dari 1 cm. Pada robekan serviks yang berbentuk
melingkar, diperiksa dahulu apakah sebagian besar dari serviks sudah lepas
atau tidak. Jika belum lepas, bagian yang belum lepas itu, dipotong
dariserviks; jika yang lepas hanya sebagian kecil saja itu dijahit lagi pada
serviks. Perlukaan dirawat untuk menghentikan perdarahan..
Robekan serviks harus dilakukan penjahitan jika perdarahan
atau luka lebih dari 1cm. Kadang bibir rahim depan serviks tertekan antara
kepala anak dan simfisis, terjadi nekrosis dan terlepas. Biasanya pada
robekan serviks terjadi pada bagian kiri tengah atau kanan tengah (posisi
jam 3 atau 9), dan akan terlihat saat dilakukan inspeksi vagina dan serviks,
robekan serviks juga dapat terjadi pada persalinan spontan, itulah sebabnya
pemeriksaan serviks dan vagina harus dilakukan secara teliti. Pada robekan
ringan akan cepat sembuh,jika robekan meluas harus dijahit.
2. Penjahitan robekan serviks.
Tinjau kembali prinsip perawatan umum dan oleskan larutan anti
septik ke vagina dan serviks. Berikan dukungan dan penguatan emosional.
Anastesi tidak dibutuhkan pada sebagian besar robekan serviks. Berikan
petidin dan diazepam melalui IV secara perlahan (jangan mencampur obat
tersebut dalam spuit yang sama) atau gunakan ketamin untuk robekan
serviks yang tinggi dan lebar. Minta asisten memberikan tekanan pada
fundus dengan lembut untuk membantu mendorong serviks jadi terlihat.
Gunakan retraktor vagina untuk membuka serviks, jika perlu
pegang serviks dengan forcep cincin atau forcep spons dengan hati–hati.
Letakkan forcep pada kedua sisi robekan dan tarik dalam berbagai arah
secara perlahan untuk melihat seluruh serviks. Mungkin terdapat beberapa
robekan. Tutup robekan serviks dengan jahitan jelujur menggunakan
benang catgut kromik atau poliglokolik 0 yang dimulai pada apeks (tepi
atas robekan) yang seringkali menjadi sumber pendarahan.
3. Tehnik Penjahitan Pada Ruptur Serviks.
Terlebih dahulu dilakukan pemasangan sims spekulum, porsio
dilihat secara avue. Selanjutnya bibir serviks yang utuh (bila mungkin
sebaiknya pada arah jam 6 dan jam 12) dijepit dengan cuman atraumatik
atau fenster klem, portio ditarik dengan hati-hati keluar, kemudian
diperiksa secara cermat, tempat dan sifat robekan yang terjadi. Bila
diperlukan penjahitan pada serviks, maka luka dijahit mulai 1 cm
proksimal dari ujung robekan yang paling atas, dibuat simpul mati,
kemudian jahitan dibuat secara jelujur interlocking kebawah sampai
pinggir serviks dan dibuat simpul mati pada ujung jahitan.
4. Perawatan lanjutan.
a) Periksa tanda vital 2-4 jam
b) Perhatikan jika ada robekan atau terjadinya hematoma
c) Beri cairan IV dan atau donor sesuai keadaan pasien
d) Beri antibiotic profilaksis selama 5 hari
e) Tindak lanjuti selama 10 hari, dan dalam 6 minggu untuk memastikan
bahwa luka benar-benar sembuh.

I. KOMPLIKASI
a. Komplikasi awal
1) Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi jika pembuluh darah tidak diikat dengan
baik. Pencegahannya adalah dengan mengikat titik perdarahan ketika
sedang menjahit, pastikan bahwa perdarahan tidak berasal dari uterus
yang atonik.
2) Hematoma
Hematoma adalah mengumpulnya darah pada dinding vagina yang
biasanya terjadi akibat komplikasi luka pada vagina. Hematoma
terlihat adanya pembengkakan vagina atau nyeri hebat dan retensi
urine.
3) Retensi urine
Maternal harus sering dianjurkan untuk sering berkemih. Jika ibu
tidak mampu maka pasang kateter untuk menghindari ketegangan
kandung kemih.
4) Infeksi
Komplikasi paling umum dan dapat dihindari dengan memberikan
antibiotic profilaktik pada maternal dan gunakan teknik aspetik saat
menjahit robekan. Jika terjadi infeksi, jahitan harus segera dilepas
dan diganti dengan jahitan kedua kali, jika diperlukan hanya setelah
infeksi teratasi.
b. Komplikasi Lanjut
Jaringan parut dan stenosis (penyempitan) vagina dapat
menyebabkan nyeri selama bersenggama dan persalinan lama pada
kelahirn berikutnya, jika robekan yang terjadi tidak diperbaiki vesiko
vagina, vesiko serviks atau fistula dapat terjadi apabila robekan vagina
atau serviks meluas terkandung kemih atau rectum.

J. KESIMPULAN
Robekan serviks dapat menimbulkan perdarahan banyak khususnya
bila jauh ke lateral sebab di tempat terdapat ramus desenden dari arateria
uterina. Perlukaan ini dapat terjadi pada persalinan normal tapi lebih sering
terjadi pada persalinan dengan tindakan–tindakan pada pembukaan
persalinan belum lengkap. Selain itu penyebab lain robekan serviks adalah
persalinan presipitatus. Pada partus ini kontraksi rahim kuat dan sering
didorong keluar dan pembukaan belum lengkap.
DAFTAR PUSTAKA

Amuriddin, Ridwan. 2009. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta:


EGC
Erawati, Ambar Dwi. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan Normal.
Jakarta: EGC
JNPK-KR. 2014. Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusui Dini. Jakarta
Liliyana, dkk.2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan. Jakarta: EGC
Lisnawati, Lilis. 2011. Buku Pintar Bidan (Aplikasi Penatalaksanaan Gawat-
darurat Kebidanan di Rumah Sakit). Jakarta: TIM
Manuaba. Ida Bagus Gde. 2008. Gawat-Darurat Obstetri-Ginekologi & Obstetri-
Ginekologi Sosial untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC
Prawiroharjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT. Bina Pustaka
Rohani, dkk. 2011. Asuhan pada Masa Persalinan. Jakarta: Salemba Medika
Saifuddin, Abdul B. 2010. Buku Pandan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
& Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Sulistyawati, Ari & Nugraheny, Esty. 2013. Asuhan Kebidanan pada Ibu
Bersalin. Jakarta: Salemba Medika
UNPAD. 2005. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC
Widyastuti, Palupi. 2002. Modul Hemoragi Postpartum Materi Pendidikan
Kebidanan. Jakarta: EGC
Jurnal Cervical lacerations: some surprising facts. 2007 Diakses tanggal 15 Maret
2016 http://www.ajog.org/article/S0002-9378(06)02415-X/fulltext