Anda di halaman 1dari 2

Keadaan masyarakat Indonesia saat ini dapat dikategorikan dalam keadaan masa transisi.

Di dalam
mazhab Sosiologi Hukum keadaan seperti ini yang paling tepat dapat dikategorikan dalam mazhab apa?
Mengapa demikian? Lalu, bagaimana hukum dapat berjalan secara efektif dalam masa transisi tersebut?

Jawaban :

Keadaan masyarakat Indonesia saat ini dikategorikan dalam mazhab / aliran Sociological Jurisprudence
yaitu suatu aliran yang berpokok pada pembedaan antara hukum positif (the positive law)dengan
hukum yang hidup dalam masyarakat (the living law). Hukum positif baru akan efektif hanya apabila
selaras dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. Apabila hukum tersebut ternyata tidak selaras
dengan hukum yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat, maka hukum itu tidak akan efektif dan
tidak akan diikuti oleh anggota masyarakat. Aliran ini dikembangkan oleh Ehrlich dan Pound.

Menurut ilmu hukum dan filsafat hukum, maka usaha pembaharuan hukum dapat dikatakan bahwa
Negara Republik Indonesia dalam kebijaksanaan pembinaan hukumnya menganut teori gabungan dari
apa yang dikenal sebagai aliran sociological jurisprudence dan pragmatic jurisprudence. Aliran
sociological jurisprudence ialah aliran yang menghendaki bahwa dalam proses pembentukan
pembaharuan hukum harus memperhatikan kesadaran masyarakat. Memperhatikan nilai-nilai hukum
yang hidup dalam masyarakat. Jadi cara pendekatannya bertolak dari hukum kepada masyarakat

Agar hukum dapat berjalan efektif dalam masa transisi ini maka berdasarkan aliran ini hukum yang
dibuat agar memperhatikan hukum yang hidup dalam masyarakat atau living law baik tertulis maupun
tidak tertulis. Misalnya dalam hukum yang tertulis jelas dicontohkan Undang- Undang sebagai hukum
tertulis, sedangkan yang dimaksudkan hukum tidak tertulis disini adalah hukum adat yang dimana
hukum ini adalah semulanya hanya sebagai kebiasaan yang lama kelamaan menjadi suatu hukum yang
berlaku dalam adat tersebut tanpa tertulis. Untuk itu Hakim harus terjun ditengah-tengah masyarakat
untuk mengenal, merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup
dalam masyarakat. Hakim merupakan perumus dan penggali dari nilai-nilai hukum yang hidup dalam
masyarakat. Dalam menerapkannya diperlukan berbagai pendekatan untuk memahami dan
menginventarisasi nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, terutama dalam masyarakat Indonesia yang
majemuk, yang memiliki tata tertib sendiri dan pruralistik. Pound menganjurkan untuk mempelajari
hukum sebagai suatu proses (law in action) yang dibedakannya dengan hukum yang tertulis. Pembedaan
ini dapat diterapkan pada seluruh bidang hukum, baik hukum substantif maupun hukum ajektif.

Tugas hakim dalam menerapkan hukum tidak melulu dipahami sebagai upaya social control yang
bersifat formal dalam menyelesaikan konflik, tetapi sekaligus mendisain penerapan hukum itu sebagai
upaya social engineering. Tugas yudisial hakim tidak lagi dipahami sekedar sebagai penerap undang-
undang terhadap peristiwa konkrit (berupa berbagai kasus dan konflik) atau sebagai sekedar corong
undang-undang (boncha de la loi) tetapi juga sebagai penggerak social engineering. Para penyelenggara
hukum harus memperhatikan aspek fungsional dari hukum yakni untuk mencapai perubahan, dengan
melakukan perubahan hukum selalu dengan menggunakan segala macam teknik penafsiran (teori
hukum fungsional). Teori Hukum Menurut Roscoe Pound “Law is a tool of social engineering” adalah apa
yang dikatakan oleh Roscoe Pound terhadap hukum itu. Sama seperti apa yang dikatakan oleh Mochtar
Kusumaatmadja, hukum adalah keseluruhan azas-azas dan kaedah-kaedah yang mengatur masyarakat,
termasuk di dalamnya lembaga dan proses untuk mewujudkan hukum itu ke dalam kenyataan.

Roscoe Pound menganggap bahwa hukum sebagai alat rekayasa sosial (Law as a tool of social
engineering and social controle) yang bertujuan menciptakan harmoni dan keserasian agar secara
optimal dapat memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia dalam masyarakat. Keadilan adalah
lambang usaha penyerasian yang harmonis dan tidak memihak dalam mengupayakan kepentingan
anggota masyarakat yang bersangkutan. Untuk kepentingan yang ideal itu diperlukan kekuatan paksa
yang dilakukan oleh penguasa negara.