Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumah sakit mempunyai fungsi menyelenggarakan

pelayanan medis, pelayanan keperawatan, pelayanan rujukan,

pendidikan dan pelatihan , penelitian , pengembangan administrasi

dan keuangan.

Peningkatan kualitas pelayanan terutama pelayanan rawat

inap harus memperhatikan manajemen perawatan pasien, yang

dikelola oleh dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya. Dalam

pelaksanaan tugas pelayanan kepada pasien , tenaga kesehatan

harus berkolaborasi, berkoordinasi, bekerjasama dan saling

memberikan informasi dan mempunyai tujuan bersama yaitu

kesembuhan pasien.(Djojo Sugito,Achmad,2003).

Kolaborasi merupakan salah satu modal interaksi yang

terjadi diantara dan antar praktisi klinik selama pemberian

pelayanan kesehatan . kolaborasi merupakan pengakuan keahlian

seseorang oleh orang lain. Dalam proses pelayanan pengobatan

kelompok multi disiplin menjadi tim antar disiplin yang mempunyai

ciri-ciri khas tertentu yang diperlukan pada suatu proses

kolaboratif. Termasuk diantaranya, kerjasama, saling berbagi,

kompromi, reakanan, saling ketergantungan dan kebersamaan.

1
2

Perawat dan dokter memiliki kepuasan dan kebanggan

tersendiri dalam berkarya. Tetapi mereka sering dihadapkan pada

masalah yang sama yaitu mereka tidak dapat berkolaborasi dengan

baik sehingga menghambat usaha mereka untuk membantu

klien. Salah satu tujuan kolaborasi adalah memberikan pelayanan

yang berkualitas dengan menggabungkan keahlian unik ini

dibutuhkan kesadaran dan kemampuan dari masing-masing

profesi, kurangnya kesadaran dan kemampuan dalam

berkolaborasi dapat menimbulkan dampak yang buruk terhadap

kualitas layanan yang diberikan.

Kolaborasi perawat dengan dokter belum berjalan sesuai

yang diharapkan, karena masing-masing pihak cenderung

mengutamakan kepentingan hubungan dengan pasien, kurang

memperhatikan hubungan perawat dengan dokter. Sebenarnya

Standar Operasional Prosedur (SOP) tentang kolaborasi tim

kesehatan sudah ada, yang kegiatannya dapat dilihat saat

pelaksanaan tim kesehatan ini, tetapi pelaksanaannya juga belum

optimal.(Wiwin Martiningsih,2011).

Kualitas pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh

kualitas pelayanan asuhan medis dan asuhan keperawatan.

Asuhan medis bermutu dapat diberikan oleh tenaga medis yang

profesional di bidangnya dan asuhan keperawatan bermutu dapat

diberikan oleh tenaga keperawatan yang telah dibekali dengan


3

pengetahuan dan keterampilan klinik yang memadai serta memiliki

kemampuan dalam membina hubungan profesional dengan pasien,

berkolaborasi dengan tim kesehatan lain, melaksanakan kegiatan

menjamin mutu, kemampuan memenuhi kebutuhan pasien dan

memperlihatkan sikap caring.(Nurachmah,2007).

Kolaborasi tidak akan terjadi apabila pemberi pelayan tidak

mengetahui makna kolaborasi itu sendiri. Defenisi kolaborasi

adalah sebagai hubungan rekanan sejati, dimana masing-masing

pihak menghargai kekuasaan pihak lain dengan mengenal dan

menerima lingkup kegiatan dan tanggung jawab masing-masing

yang terpisah maupun bersama, saling menghargai, saling

melindungi kepentingan masing-masing dan tujuan bersama yang

diketahui kedua belah pihak. Menurut ANA (1980).

Penelitian yang dilakukan Erlina (2009), mengungkapkan

terdapat keluhan dari pihak dokter tentang kurang maksimalnya

yang dilakukan oleh perawat dari tiap-tiap indikator kolaborasi.

Indikator control kekuasaan, dokter mengeluhkan perawat tidak

memberi informasi yang lengkap tentang kondisi pasien, perawat

lupa atau tidak tahu program yang sudah di tulis dokter di rekam

medik. Indikator kepentingan bersama, dokter mengeluhkan tidak

didampingi perawat saat visite sehingga perawat tidak mengerti

program dokter yang mengakibatkan terjadi penundaan jadwal

program pengobatan dan berdampak pada proses penyembuhan


4

pasien dan dokter juga mengeluh tidak disapa perawat saat vsite.

Indikator tujuan bersama, dokter mengeluhkan bahwa perawat

tidak memberitahu informasi yang jelas untuk mencegah

kekambuhan pada pasien. Indikator komunikasi, perawat kurang

cakap dalam berkomunikasi dengan dokter.

Sementara keluhan dari perawat adalah dokter sulit

dihubungi baik melalui telepon maupun pesan singkat, dokter

kurang jelas dalam menuliskan perintah di rekam medis yang

disampaikan pada perawat, dan perawat juga mengeluhkan dokter

tidak pernah melihat dokumentasi perawat.Menurut Erlina(2009).

Dari penelitian yang dilakukan oleh Lamp dan Napidano

(1984) teryata dari ratusan pertemuan antara pemberi pelayanan

pasien hanya ditemukan 22 kejadian dimana dokter dengan

perawat saling berbincang. Dari 22 interaksi tersebut hanya 5 yang

memenuhi kriteria kolaborasi dari peneliti. Namun pada saat

wawancara ternyata dokter dan perawat bersangkutan merasa

sudah menjalankan kolaborasi. Dari penelitian tersebut disimpulkan

bahwa pihak bersangkutan belum memahami makna kolaborasi.

Menurut Alpart, Agus Tri Puryanto. (1992) tenaga profesional

yang berada dalam tim pelayanan kesehatn sangat sedikit

pengetahuannya tentang praktek, keahlian, tanggung jawab,

keterampilan, nilai-nilai dan perspektif profesionalisme dari disiplin


5

ilmu yang lain. Hal ini merupakan suatu penghambat utama dalam

praktek kolaborasi.

Pelaksanaan kolaborasi perawat dengan dokter diperlukan

pengetahuan tentang indikator kolaborasi kontrol kekuasaan,

lingkup praktek, kepentingan bersama dan tujuan bersama.

Menurut Hanson & Spross (1996) bila profesi telah dapat

saling percaya dan menghormati, saling memahami, dan menerima

keilmua masing-masing, memiliki citra diri yang positif, memiliki

kematangan profesional yang setara, mengakui sebagi mitra kerja

dan bukan bawahan dan ada keinginan untuk bernegosiasi maka

hubungan kerjasama kolaborasi akan dapat terjalin dengan baik

sehingga pelayan kepada pasien efektif.

Sementara itu, Seibolt dan Welker dalam Misener, Siegler,

Daston. (1996) mengatakan bahwa sikap perawat yang mampu

dan mengerti apa yang seharusnya di kerjakan dan

mengerjakannya tidak dalam keadaan terpaksa merupakan elemen

kunci untuk membina hubungan dengan dokter. Jika hubungan

tersebut berjalan dengan baik akan membuat pekerjaan lebih

efektif dan efisien sehingga pada akhirnya akan menimbulkan

kepuasan terhadap pekerjaan yang akan dilakukan.

Dari hasil wawancara peneliti pada tanggal 10 Februari

dengan salah satu perawat pelaksana di RSUD Syekh Yusuf Kab.

Gowa bahwa kolaborasi perawat dengan dokter belum berjalan


6

sesuai yang diharapkan yang dimana perawat menganggap dokter

sebagai Mitra Kerja tetapi Dokter menganggap perawat bukan

sebagai mitra kerja melainkan sebagai Bawahannya atau

pelaksananya. Ini disebabkan karena selama ini beberapa dokter

menganggap bahwa perawat belum kompeten untuk diajak

berkolaborasi, selain itu usulan disampaikan oleh perawat

cenderung kurang dianggap dan belum ada manfaatnya.

Dari hasil survei awal yang dilakukan pada tanggal 10

Februari 2018 di RSUD Syekh Yusuf, diperolah data jumlah

perawat di Unit Rawat Inap sebanyak 153.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk meneliti

tentang“pengaruh pengetahuan perawat tentang indikator

kolaborasi terhadap Praktek Kolaborasi Perawat dengan Dokter di

Unit Rawat Inap RSUD Syekh Yusuf Kab. Gowa”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas,

maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut ”Pengaruh

pengetahuan perawat terhadap indikator praktek kolaborasi

perawat dengan dokter di Ruang Rawat Inat RSUD Syekh Yusuf

Kab. Gowa”
7

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diketahuinya pengaruh pengetahuan perawat terhadap indikator

praktek kolaborasi perawat dengan dokter di Ruang Rawat Inap

RSUD Syekh Yusuf Kab. Gowa.

2. Tujuan Khusus :

a. Diketahuinya pengetahuan perawat terhadap indikator

praktek kolaborasi di Ruang Rawat Inap RSUD Syekh Yusuf

Kabupaten Gowa.

b. Diketahuinya praktek kolaborasi perawat dengan dokter di

Ruang Rawat Inap RSUD Syekh Yusuf Kabupaten Gowa.

c. Teranalisinya pengaruh pengetahuan perawat terhadap

indikator praktek kolaborasi perawat dengan dokter di Ruang

Rawat Inap RSUD Kabupaten Gowa.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Merupakan bentuk pengaplikasian ilmu yang telah

diperoleh selama perkuliahan dan memperoleh pengetahuan

serta wawasan dalam bidang keperawatan manajemen

khususnya pengaruh pengetahuan perawat tentang indikator

kolaborasi terhadap praktek kolaborasi perawat dengan dokter.


8

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti

Hasil penenlitian ini diharapkan memberikan manfaat

dalam mengembangkan pengetahuann manajemen yang

telah diperoleh peneliti selama menempuh pendidikan dan

dapat menerapkannya ditempat kerja, serta mendapatkan

suatu pengalaman mempelajari perilaku individu dan

kelompok dalam organisasi serta pengaruhnya dalam

pengembangan organisasi khususnya organisasi rumah

sakit.

b. Bagi Institusi

Hasil yang diharapkan dapat menambah dan

memperkaya kajian tentang hubungan lingkup praktek

perawat dengan dokter dan dapat menjadi bahan referensi

bagi peneliti selanjutnya

c. Bagi Instansi Rumah Sakit

Hasil yang diharapkan dapat memberi masukan

kepada manajemen Rumah Sakit tentang pelayanan

perawatan dan pembangunan komitmen SDM Khususnya

perawat dengan dokter dalam mengembangkan pelayanan

kesehatan di rumah sakit.