Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

TERAPI BIOLOGIS HERBAL

Disusun Oleh Kelompok 5 :


1. Anna Syarofatul
2. Ayu Nurtanti
3. Galang Aji Mukti
4. Nur Aida Perdani
5. Yusril Anugrah

Kelas 3A/S1 Ilmu Keperawatan


Dosen Pengampu : Deni Irawan, M.Kep
Mata Kuliah : Keperawatan Paliatif & Menjelang Ajal

Prodi S1 Ilmu Keperawatan


Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bhakti Mandala Husada Slawi
2018/2019

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat
pada waktunya.
Kami menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan dalam penyusunan makalah ini, baik dari isi maupun penulisannya.
Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun senantiasa
kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya atas segala bantuan dari semua pihak sehingga makalah ini dapat
terselesaikan.

Slawi, 14 Oktober 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Tujuan .......................................................................................................... 2

BAB 2 TINJAUAN TEORI


2.1 Definisi Terapi Biologis Herbal .................................................................... 3
2.2 Etiologi Terapi Biologis Herbal .................................................................... 3
2.3 Tujuan Terapi Biologis Herbal ..................................................................... 5
2.4 Contoh Terapi Biologis Herbal ..................................................................... 5

BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................................... 8
3.2 Saran ............................................................................................................. 8

DAFTAR PUSTAKA
JURNAL

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam dunia keperawatan kita mempelajari apa yang dimaksud dengan
Keperawatan Komplementer. Komplementer maupun terapi komplementer
merupakan metode penyembuhan yang caranya berbeda dari pengobatan
konvensional di dunia kedokteran, yang mengandalkan obat kimia dan operasi,
yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan. Banyak terapi modalitas yang
digunakan pada terapi komplementer mirip dengan tindakan keperawatan
seperti teknik sentuhan, masase, dan manajemen stress. Menurut WHO
(World Health Organization), pengobatan komplementer adalah pengobatan
non-konvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan. Sebagai
contoh di indonesia, jamu misalnya, bukan termasuk pengobatan
komplementer tetapi merupakan pengobatan tradisional. Pengobatan
tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu
digunakan dan diturunkan secara turun-temurun pada suatu negara. Tapi di
Filipina misalnya, jamu buatan Indonesia bisa dikategorikan sebagai
pengobatan komplementer. Bagi perawat yang tertarik mendalami terapi
komplementer dapat dimulai dengan tindakan-tindakan keperawatan atau
terapi modalitas yang berada pada bidang keperawatan yang dikuasai secara
mahir berdasarkan perkembangan teknologi terbaru.
Jadi, keperawatan komplementer adalah cabang ilmu keperawatan yang
menerapkan pengobatan non- konvensional yang tujukan untuk meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif yang berfungsi sebagai terapi suportif untuk mengontrol gejala,
meningkatkan kualitas hidup, dan berkontribusi terhadap penatalaksanaan
pasien secara keseluruhan, diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan
kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan
biomedik tapi belum dalam kedokteran konvensional. Jenis- jenis terapi
komplementer dari hasil penelitian, pendapat mahasiswa perawat tentang
terapi komplementer yang direkomendasikan untuk perawat adalah masase,

1
terapi musik, diet, teknik relaksasi, vitamin, dan produk herbal. Menurut
National Institute of Health (NIH), terapi komplementer dikategorikan
menjadi 5 yaitu Biological Based Practice yang meliputi herbal dan vitamin,
mind body techniques yang meliputi meditasi, Manipulative and body based
practice yang meliputi pijat dan refleksi, Energy therapies yang meliputi terapi
medan magnet, dan Ancient medical system yang meliputi obat tradisional
chinese, aryuvedic, serta akupuntur. Maka dari itu dalam makalah ini akan
dibahas salah satu dari jenis terapi tersebut yaitu biological based practice
yang meliputi keperawatan komplementer dengan menggunakan herbal.

1.2 Tujuan
1.2.1 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami definisi biologis dan
herbal secara umum.
1.2.2 Mahasiswa mampu mengetahui etiologi terapi biologis herbal.
1.2.3 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tujuan dari terapi
biologis herbal.
1.2.4 Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami penggolongan obat
bahan alam dalam keperawatan komplementer berbasis biologi/herbal.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Biologis menurut KBBI adalah hal yang bersangkutan dengan biologi.
Sedangkan biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup.
Istilah obat herbal sendiri mengacu pada kata herb yang berarti tanaman, yaitu
obat yang berasal dari tanaman atau tumbuhan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa terapi herbal adalah terapi dengan
menggunakan obat bahan alam.

2.2 Etiologi
2.2.1 Zaman Peradaban Kuno
Penggunaan tanaman obat sebagai obat dapat dikatakan telah sama
tuanya dengan umur manusia itu sendiri. Di dalam berbagai peradaban
kuno zaman dulu, makanan dan obat-obatan jadi tidak dapat di-
pisahkan, dan banyak tumbuh-tumbuhan dimakan karena khasiatnya
yang menyehatkan.
Di Mesir kuno, para budak diberi ransum bawang setiap hari untuk
membantu menghilangkan banyak penyakit demam dan infeksi yang
umum terjadi pada masa itu. Catatan tertulis pertama tentang tanaman
obat dan berbagai khasiatnya yang sangat bermanfaat dikumpulkan
oleh orang-orang Mesir kuno zaman dulu.
Sebagian besar pengetahuan kita dalam penggunaan tanaman obat
dapat dilacak kembali kepada para tabib Mesir kuno yang juga
mempraktikkan pengobatan herbal.
Berbagai catatan yang berasal dari abad 1500 Sebelum Masehi,
memuat berbagai tanaman obat, termasuk jintan dan kayu manis.
Orang orang Yunani dan Romawi kuno juga melakukan pengobatan
herbal, dan saat mereka menaklukkan berbagai daratan yang baru
maka para tabib mereka juga menemukan berbagai jenis tanaman obat

3
baru dan memperkenalkan pula tanaman obat seperti Rosemary atau
Lavender ke berbagai daerah baru.
Berbagai kebudayaan lain, juga mempunyai sejarah penggunaan
pengobatan tanaman obat adalah orang Cina dan India. Lalu di Inggris,
penggunaan tanaman obat dikembangkan bersamaan dengan di-
dirikannya biara-biara di seluruh negeri, yang masing-masing memi-
liki taman tanaman obatnya sendiri yang digunakan untuk merawat
para rohaniwan maupun para penduduk setempat. Dalam beberapa
daerah, khususnya Wales dan Skotlandia, orang orang Druid dan pada
penyembuh Celtic lainnya dianggap memiliki tradisi lisan tentang her-
balisme, di mana obat-obatan dicampuradukkan dengan agama dan
ritual.
2.2.2 Pengobatan Herbal Cara Barat
Herbalisme barat pada masa kini berasal dari kebudayaan Yunani
dan Romawi yang kemudian menyebar ke Eropa, dan selanjutnya ke
Amerika Utara dan Selatan. Di Eropa maupun di Amerika, sistemnya
banyak berasimilasi dengan cara pengobatan suku pribumi.
Dengan kedatangan Colombus, banyak anaman dari Dunia Baru
(Amerika) tersebar ke negara-negara Eropa. Dan pada zaman Raja
Henry VIII di Inggris (1491-1547), seluruh sistem pengobatan Eropa
(atau dunia )arat) yang menggabungkan peng-pmaan tanaman dan
astrologi terlentuk. Untuk masa berabad abad, pengobatan di dunia
barat berarti pengobatan herbal.
Hanya saja, sejak Perang Dunia Kedua, dunia Barat mulai ter-
gantung pada bahan-bahan sintetik dan juga teknologi tinggi menjadi
sedemikian dominan, sehingga penobatan herbal hampir sama setali
sirna. Namun menjelang mi-enium baru, pengobatan herbal me-
ngalami masa “renaissance” dan sedikitnya mulai diterima sebagai
komplemen untuk pengobatan konfensional.

4
2.3 Tujuan
Terapi herbal bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem – sistem
tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh dapat
menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita
sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri,
asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan respon dengan asupan
nutrisi yang baik lengkap serta perawatan yang tepat.

2.4 Contoh Terapi Biologis Herbal


Terapi biologis herbal dapat berupa jamu, obat terstandar, fitofarmaka, dan
juga tanaman obat. Disini akan dijelaskan salah satu dari golongan obat herbal,
yaitu tanaman obat.
Tanaman obat adalah semua tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat,
berkisar dari yang terlihat oleh mata hingga yang nampak dibawah mikroskop
(Hamid et al., 1991). Menurut Zuhud (2004), tumbuhan obat adalah seluruh
jenis tumbuhan obat yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat obat.
Salah satu dari jenis tumbuhan obat yang akan dibahas kali ini adalah
tumbuhan Kunyit Putih. Kunyit putih dikenal dengan beberapa nama,
diantaranya kunyit putih, kunir putih, temu bayangan, temu Poh (Jawa), temu
Pao ( Madura ), temu mangga, temu putih ( Melayu ), koneng Johor, koneng
lalap, dan koneng pare ( Sunda ). Bagian tanaman yang di gunakan adalah
rimpangnya yang memiliki bau khas seperti mangga kweni.
Kandungan kimia seperti Tanin, kurkumin, amilum, gula, minyak Atsiri,
damar, saponin, flavonoid, dan protein di dalam herba ini mampu
menghambat perkembangan sel kanker.
Selain itu, kunir putih juga dipercaya mampu mengatasi sakit perut,
mengecilkan rahim sesudah persalinan, menyempitkan organ kewanitaan,
mengurangi lemak perut, menambah nafsu makan, menguatkan syahwat,
mengatasi gatal-gatal pada vagina, gatal-gatal ( pruiritis ), luka, sesak nafas
( asma ), radang saluran nafas ( bronkitis ), demam, kembung, dan lain-lain
Dari hasil penelitian Chan Minyi dkk. Dalam bukunya Anti Cancer
Medikal Herba, kunir putih mempunyai efektifitas yang cukup tinggi dalam

5
mengatasi kanker dan tumor. Menurut hasil penelitian American Institute
Cancer Report ( New York Times ) tanggal 1 Juni 1999 serta oleh pakar
Fakultas Farmasi dan PAU Bioteknologi dan PPOT Universitas Gajah Mada,
Kunir putih mengandung beberapa zat sebagai berikut :
1. RIP (Ribosome Inacting Protein) yang mampu menon-aktivkan
perkembangan sel kanker, mampu merontokkan sel kanker tanpa
merusak jaringan sekitarnya, dan memblokir jaringan pertumbuhan sel
kanker.
2. Zat antioksidan, berfungsi mencegah kerusakan gen
3. Zat anticurcumin, sebagai anti-inflamasi atau anti peradangan
Zat antioksidan pada kunyit berfungsi mencegah kerusakan asam
deoksiribonukleat (senyawa yang menyusun gen), karena kerusakan gen
adalah salah satu penyebab terjadinya kanker.
Sedangkan curcumin bersama feruloyl 4-hydroy-cinnamoyl adalah
senyawa anti-inflamasi yang terdapat pada rimpang kunyit. Kesimpulannya
kedua kandungan cxurcumin tersebut sangat berperan dalam memerangi
kanker, yaitu mencegah kerusakan gen sekaligus mencegah peradangan
(inflamasi), karena pada penyakit kanker selalu terjadi inflamasi.
Mekanisme kerja kunir putih dalam menekan pertumbuhan sel kanker
dengan merusak pembentukan ribosoma pada sel-sel kanker dan jaringan liar.
Kandungan senyawa aktif dalam herbal ini akan meningkatkan pembentukan
jaringan fibroblast di sekeliling jaringan kanker, lalu membentuk lapisan
limfosit dalam sel-sel jaringan kanker dan membungkusnya sehingga sel-sel
jaringan kanker tersebut tidak dapat berkembang. Diharapkan, sel-sel kanker
akan mati dan tidak menimbulkan bahaya lagi (Najib, 2009)
Ada beberapa cara untuk mengolah kunyit putih untuk kanker dan bahan-
bahan yang harus disiapkan. Anda bisa melihat penjelasan cara mengolah
kunyit putih untuk obat kanker sebagai berikut:
1. Siapkan 3 jari kunyit putih yang masih segar dan cuci dengan air yang
mengalir dengan bersih
2. Air 200 ml untuk memblender kunyit putih
3. Gelas belimbing untuk hasil saringan kunyit putih

6
Cara mengolah :
1. Ambil 3 jari kunyit putih kemudian masukkan ke dalam blender
2. Masukkan 200 ml air ke dalam blender
3. Blender kunyit putih sampai halus
4. Saring kunyit putih
5. Konsumsi secara rutin air kunyit putih sebanyak 1-2 kali sehari

7
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Keperawatan komplementer adalah cabang ilmu keperawatan yang
menerapkan pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif yang berfungsi sebagai terapi suportif untuk
mengontrol gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan berkontribusi terhadap
penatalaksanaan pasien secara keseluruhan, diperoleh melalui pendidikan
terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi
berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik. Terapi komplementer bertujuan
untuk memperbaiki fungsi dari sistem – sistem tubuh, terutama sistem
kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh dapat menyembuhkan dirinya
sendiri yang sedang sakit.
Menurut National Institute of Health (NIH), terapi komplementer
dikategorikan menjadi 5, yaitu : Biological Based Practice : herbal, vitamin,
dan suplemen lain. Mind-body techniques : meditasi, hypnomedis.
Manipulative and body-based practice : pijat, refleksi. Energy therapies :
terapi medan magnet. Ancient medical systems : obat tradisional chinese,
aryuvedic, akupuntur. Terapi komplementer biologis atau herbal dapat berupa
jamu, obat terstandar, fitofarmaka, dan juga tanaman obat.

3.2 Saran
Sebagai penyusun makalah ini, kami menyarankan kepada para pembaca
khususnya kepada para perawat agar lebih mendalami materi yang telah
terpaparkan dalam makalah ini agar dapat berguna dalam kehidupan sehari-
hari.

8
DAFTAR PUSTAKA

Ide, Pangkalan. 2011. Health Secret of Turmeric (Kunyit). Jakarta : Gramedia

Handayani, Lestari., Suharmiati, dan Atika Ayuningtyas. 2012. Menaklukan


Kanker Serviks dan Kanker Payudara dengan 3 Terapi Alami. Jakarta : PT
AgroMedia Pustaka

Raka. 2016. Komplementer Herbal. Available (Online) :


https://id.scribd.com/doc/305312098/Komplementer-Herbal (diakses pada
tanggal 10 Oktober 2018)

Sari, Wening., Lili Indrawati, dan Oei Gin Djing. 2008. Care Yourself, Hepatitis.
Jakarta : Penebar Plus+

Synder, M & Lindquist, R. 2002. Complementary/alternative Therapies in


Nursing. New York : Springer