Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sediaan infus merupakan sediaan cairan steril mengandung obat yang
dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih dan ditujukan untuk manusia. Keperluan
akan ketersediaan parenteral volume besar meningkat dikarenakan oleh kebutuhan
tubuh akan air, elektrolit dan karbohidrat yang kurang harus dengan cepat diganti,
sebagai penambah zat makanan bila pasien tidak dapat makan. Beberapa
komponen fisiologis tubuh yang menunjang dapat diberikan bentuk sediaan
parenteral volume besar seperti kebutuhan tubuh akan air, elektrolit, karbohidrat,
asam amino, lipida, vitamin dan mineral. Dengan cepatnya komponen penunjang
fisiologi tubuh diganti maka kesehatan tubuh akan cepat tercapai.
Infus dextrose merupakan salah satu infus yang sering digunakan.
Kandungan dari infuse ini adalah D-glukosa yang disebut dengan dekstrosa.
Glukosa atau dextrosa merupakan suatu metabolit yang penting bagi
kelangsungan hidup manusia. Pada pasien pediatrik yang di puasakan, semua
cairan rutin yang di berikan harus mengandung glukosa. Hal ini dikarenakan pada
anak hanya sedikit memiliki cadangan glikogen di hepar, sehingga bila glukosa
yang masuk secara peroral terhenti selama beberapa waktu maka akan dengan
mudah terjadi hipoglikimia yang dapat berakibat fital terutama bagi sel otak. Pada
anak yang puasa akan menjadi pemecahan glikogen di hati dan otot menjadi asam
laktat dan piruvat. Untuk menghindari hal tersebut pada pasien pediatrik, biasanya
digunakan infus yang mengandung dextrosa.
Glukosa dan monosakarida diberikan melalui oral atau dengan infus
intravena dalam terapi dengan karbohidrat dan deplesi cairan. Glukosa adalah
sumber karbohidrat yang lebih disukai dalam rejimen nutrisi parenteral dan
digunakan dalam larutan rehidrasi oral untuk pencegahan dan pengobatan
dehidrasi karena penyakit diare akut. Glukosa juga digunakan dalam pengobatan
hipoglikemia dan diberikan secara oral dalam tes toleransi glukosa sebagai alat
bantu diagnostik untuk diabetes melitus (Sweetman, 2009).

1
Larutan glukosa dalam air bersifat iso-osmotik pada darah dengan
konsentrasi glukosa anhidrat 5,05% atau glukosa monohidrat 5,51%. Larutan
glukosa dengan konsentrasi 5% sering digunakan untuk deplesi cairan, dan dapat
diberikan melalui vena perifer. Larutan glukosa dengan konsentrasi yang lebih
besar dari 5% yang bersifat hiperosmotik pada umumnya digunakan sebagai
sumber karbohidrat, larutan glukosa 50% sering digunakan dalam pengobatan
hipoglikemia berat (Sweetman, 2009).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana preformulasi yang dibutuhkan untuk sediaan infus dekstrosa
5%?
2. Bagaimana formula yang perlu dirancang untuk membuat sediaan infus
dekstrosa 5%?
3. Bagaimana cara pembuatan infus dekstrosa 5% dalam skala laboratorium
sesuai dengan persyaratan sediaan steril yang telah ditentukan?
4. Bagaimana cara melakukan evaluasi sediaan infus dekstrosa 5% yang telah
dibuat?
C. Tujuan Formulasi
1. Dapat memahami preformulasi sediaan infus dekstrosa.
2. Dapat merancang formula infus dekstrosa 5%.
3. Dapat membuat infus dekstrosa 5% dalam skala laboratorium sesuai
dengan persyaratan sediaan steril yang telah ditentukan.
4. Dapat melakukan evaluasi sediaan infus dekstrosa 5%.
D. Manfaat Formulasi
Formulasi sediaan disusun berdasarkan zat aktif yang digunakan,
sehingga perlu diperhatikan ada atau tidaknya interaksi yang terjadi dengan
zat tambahan yang digunakan agar obat/sediaan dapat digunakan secara
efektif dan dapat memenuhi syarat-syarat resmi.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Preformulasi
1. Tinjauan Farmakologi Dekstrosa
Rumus Struktur Dekstrosa

1. Mekanisme kerja obat


Dektrosa adalah suatu gula yang diperoleh dari hidrolisis pati.
Mengandung satu molekul air hidrat atau anhidrat
2. Farmakokinetika
Dekstrosa atau glukosa merupakan suatu gula (monosakarida) yang
diperoleh dari hidrolisis pati, mengandung satu molekul air hidrat atau
anhidrat. Absorbsinya sangat cepat dalam usus halus dengan mekanisme
difusi aktif. Dekstrosa dapat diberikan secara per oral atau melalui infus i.v
sebagai treatment deplesi cairan dan karbohidrat (Kathleen, P., 1999).
Konsentrasi tertinggi glukosa dalam plasma terjadi dalam 40 menit setelah
pemakaian oral pada pasien hipoglikemia. Dekstrosa pada saluran
pencernaan akan mengalami 3 jalur metabolisme yaitu glikolisis, siklus
krebs dan jalur pentose fosfat (Reynolds, 1982). Dekstrosa dapat
mengurangi protein tubuh dan menyebabkan kehilangan nitrogen, juga
mengakibatkan penurunan atau pencegahan ketosis jika dosis tepat
diberikan (Trissel, 2003).
3. Indikasi
Infus dekstrosa atau glukosa digunakan sebagai terapi parenteral
untuk memenuhi kalori pada pasien yang mengalami dehidrasi. Selain itu
juga digunakan untuk terapi pada pasien hipoglikemia yang membutuhkan
konsentrasi glukosa dalam darah, hal ini dipenuhi dengan cara menyimpan
dekstrosa yang ada sebagai cadangan gula dalam darah (McEvoy, 2002).
4. Kontra Indikasi

3
Pemberiaan larutan dekstrosa di kontraindikasikan untuk pasien
dengan koma diabetikum, pemberian bersama produk darah, anuria,
perdarahan intraspinal & intrakranial dan delirium dehidrasi (dehydrated
delirium tremens) (Kathleen, P., 1999). Larutan dekstrosa yang tidak
mengandung elektrolit sebaiknya tidak diadministrasikan pada darah
dengan infus IV yang sama karena dapat terjadi aglomerasi (Trissel,
2003).
5. Efek Samping
Larutan dekstrosa atau infuse dekstrosa dapat menyebabkan
poliuria karena gula yang ada menyerap air dengan kuat dalam tubuh.
Hipergikemia dan glukosuria (McEvoy, 2002). Menyebabkan infeksi di
tempat suntikan, trombosis vena dan ekstravasasi. Jika larutan dekstrosa
hipertonis diinfusi terlalu cepat, dapat terjadi nyeri lokal dan iritasi vena.
Jika terjadi efek samping selama administrasi, injeksi harus segera
dihentikan, pasien dievaluasi dan juga dilakukan pengukuran terapeutik
yang tepat jika diperlukan (Trissel, 2003).
2. Tinjauan Fisiko Kimia Zat Aktif dan Zat Tambahan
1. Dekstrosa Monohidrat
a. Organoleptis
Dekstrosa Monohidrat berupa kristal tidak berwarna atau
putih, berbentuk bubuk kristal atau butiran, tidak berbau dan
memiliki rasa manis (Sweetman, 2009). Memiliki luas permukaan
0,22-0,29 m2/g (Rowe, et.al., 2009).
b. Struktur Kimia dan Bobot Molekul
Dekstrosa memiliki rumus molekul C6H12O6.H2O dengan
bobot molekul yaitu 198,17 g/mol (Reynolds, 1982). Dibawah ini
merupakan struktur kimia dekstrosa:

Struktur Dekstrosa

4
c. Kelarutan
Pelarut Kelarutan
Air mendidih Sangat mudah larut
Air Mudah larut
Etanol mendidih Larut
Etanol Sukar larut

d. Stabilitas
Dekstrosa atau glukosa memiliki daya tahan yang baik
terhadap cahaya, namun dalam penyimpanan diusahakan
terlindung dari sinar matahari (McEvoy, 2002). Dekstrosa stabil
pada pH 3,5 sampai 6,5 (Depkes RI, 1995). Jika pH terlalu asam
akan menyebabkan terbentuknya karamel dan akan terdekomposisi
dan berwarna coklat pada pH yang lebih basa (Kibbe, 2000).
e. Titik Lebur dan Penyimpanan
Dekstrosa memiliki titik lebur 83oC (Kibbe, 2000) dan
harus disimpan pada suhu 2oC-25oC dan terlindungi dari sinar
matahari (McEvoy, 2002).
f. Inkompatibilitas
Jika larutan i.v glukosa dicampur dengan cyanocobalamin,
kanamycin sulfat, novobiocin sodium dan warfarin sodium akan
menyebabkan terjadi kekeruhan. Glukosa dapat bereaksi dengan
amin, amida, asam amino, peptida. Vitamin B kompleks akan
terdekomposisi bila dipanaskan dengan dekstrosa, eritromisisn
gluceptate tidak stabil pada larutan glukosa dengan pH 5,05.
Apabila sediaan dekstrosa bereaksi dengan senyawa alkali kuat
dapat menyebabkan perubahan warna menjadi coklat dan
penguraian pada sediaan (McEvoy, 2002).
g. Fungsi
Infus dekstrosa atau glukosa digunakan sebagai terapi
parenteral untuk memenuhi kalori pada pasien yang mengalami
dehidrasi
h. Konsentrsi yang di gunakan 5%

5
i. Cara sterilisasi
Menggunakan autoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit
2. Arang aktif / kabon aktif
Arang aktif adalah sisa destilasi destruktif dari beberapa bahan
organik yang telah diberi perlakuan untuk mempertinggi daya serap
a. Organoleptis
berupa serbuk halus, bebas dari butiran, hitam, tidak berbau
dan tidak berasa.
b. Kelarutan
praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol.
c. Stabilitas
stabil pada tempat yang tertutup dan kedap udara.
d. Wadah dan peyimpanan
disimpan dalam wadah tertutup baik.
e. Kegunaan
digunakan untuk menyerap bahan-bahan pengotor yang
mungkin ada.
f. Alasan pemilihan
bersifat inert sehingga tidak bereaksi dengan zat aktif.
3. Air Suling /Aquadestilata
Air suling dibuat dengan menyuling air yang bisa di minimum
a. Pemerian
Cairan jernih tidak berwarna ,tidak berbau, dan tidak
mempeunyai rasa
b. Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik
3. Bentuk Sediaan, Dosis, Rute Pemakaian
 Bentuk Sediaan
Sediaan akan dibuat dalam bentuk infus dekstrosa 5% dengan
volume sediaan adalah 500 mL dan ditampung dalam sebuah
botol gelap bervolume 500 mL.
 Dosis

6
Dosis dari penggunaan sediaan dekstrosa ini tergantung dari
umur pasien, berat badan, kondisi klinik, cairan elektrolit, dan
keseimbangan asam-basa dari pasien. Dosis melalui injeksi IV
untuk pemulihan kondisi pasien, laju kecepatan infusnya adalah
0,5 g/kg per jam tanpa disertai produksi gula dalam urin
(glukosuria). Laju atau kecepatan infus maksimum pada
umumnya tidak melebihi 0,8 g/kg per jam. Untuk pengobatan
hipoglikemia dosis umumnya adalah 20-50 mL dekstrosa 50%,
yang diberikan dengan lambat. Untuk pengobatan gejala
hipoglikemia akut pada bayi dan anak-anak dosis umumnya
adalah 2 mL/kg dengan konsentrasi glukosa 10%-25%
(McEvoy, 2002).
 Rute Pemakaian
Infus dekstrosa 5% diberikan secara intravena
B. FORMULASI
1. MACAM – MACAM FORMULA STANDAR
 Scoville’s The Art of Compounding (Jenkins et al., 1957).
R/ Dextrose Anhydrous C. P. 5%
Karbon aktif 0,1%
Aqua pro injeksi ad 100 mL

 Handbook of Injectable Drugs (Trissel, 2003)


R/ Amino Acids 5%
Dextrose 5%
Vitamin 5%
Trace qs
 Formularium Nasional Ed III 1978
Tiap 500 ml mengandung :
Glucossum 25 g
Aqua pro injection ad 500 ml

7
2. PERMASALAHAN
1. Infus dekstrosa 5% merupakan sediaan yang diberikan secara intravena
(Trissel, 2003).
2. Dextrosa mempunyai kelarutan mudah larut dalam air (Depkes RI,
1995) sehingga pembawa yang digunakan dalam pembuatan infus
dextrosa 5% ini adalah pembawa berair.
3. Sediaan parenteral harus bebas mikroorganisme, pirogen, dan partikel
asing (Lukas, 2006).
4. Sisa partikulat dari karbon aktif mempengaruhi kejernihan sediaan
dextrose, karena syarat sediaan steril harus jernih (Lukas, 2006).
5. Dekstrosa stabil pada rentang pH 3,5-6,5 (Depkes RI, 1995).
Perubahan pH di luar rentang stabil akan menyebabkan karamelisasi
dan larutan dextrose akan terdekomposisi (Rowe et al, 2009).
6. Infus dextrose 5% sedapat mungkin dibuat sediaan bersifat isotonis
agar tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan hemolisis (Syamsuni,
2006). Larutan dextrosa dengan konsentrasi lebih dari 5% b/v bersifat
hiperosmotik dan dapat menyebabkan iritasi pada pembuluh darah bila
diberikan secara intravena (Rowe et al, 2009).
3. PENGATASAN MASALAH
1. Sediaan infus untuk pemakaian intravena merupakan sediaan steril,
maka pada proses pembuatan sediaan infus dextrosa 5% dibuat dengan
menggunakan sterilisasi akhir dengan menggunakan autoklaf (Salawu,
et al.,2010).
2. Pembawa berair untuk injeksi adalah air steril untuk injeksi (aqua pro
injectiones) yaitu air suling segar yang disuling dengan alat kaca netral
atau wadah logam yang cocok yang dilengkapi dengan labu percik
dimana hasil sulingan pertama dibuang dan sulingan selanjutnya
ditampung dalam wadah yang cocok dan segera digunakan (Depkes
3. Untuk membebaskan sediaan dari pirogen biasanya digunakan
absorbing agent yaitu karbon aktif yang akan mengadsorbsi pirogen
dari larutan (Jenkins et al., 1957). Aktivitas karbon aktif ini baik pada
suhu 600, sehingga pada proses pembuatan dilakukan pemanasan pada

8
suhu tersebut dan dilakukan pengadukkan secara perlahan (Voigt,
1995). Untuk Karbon aktif yang ditambahkan sebanyak 0,1 gram.
4. Pada saat pengadukan dengan karbon aktif dilakukan secara perlahan
dan dilakukan penyaringan secara berulang untuk menghilangkan sisa-
sisa partikel karbon aktif. Untuk membebaskan pirogen dapat
dihilangkan dengan mengunakan metode filtrasi menggunakan kertas
saring dengan ukuran pori 0,22 mikrometer (Niazi, 2004).
5. Untuk mencegah agar infus yang dihasilkan tidak memiliki pH di luar
rentang pH stabilitas Dekstrosa yaitu pH 3,5-6,5 maka dilakukan
penyesuaian pH dengan penambahan NaOH dan HCl konsentrasi
rendah (jika terjadi perubahan pH).
6. Sifat isotonis dari sediaan sangat berpengaruh terhadap rasa sakit yang
ditimbulkan pada saat penggunaan sediaan tersebut (Voigt, 1995),
sehingga pada kemasan sekunder infus dekstosa 5% diberikan
keterangan ‘sediaan bersifat sedikit hipotonis’ agar saat
diadministrasikan secara perlahan . Selain itu perlu dijaga tonisitas
sediaan dan sediaan dibuat sedekat mungkin isotonis dengan cairan
tubuh (Lukas, 2006). Sehingga larutan dekstrosa yang akan dibuat
adalah dengan konsentrasi tidak lebih dari 5%.
4. FORMULASI YANG DIAJUKAN
R/ Dekstrosa Monohidrat 5g
Karbon Aktif 0,1 g
Aqua pro injeksi ad 500 ml

PERHITUNGAN BAHAN
Sediaan yang akan dibuat adalah 500 mL dalam satu botol dan akan
diproduksi 1 botol sediaan. Sehingga perhitungan bahan adalah sebagai
berikut:
a. Dekstrosa 5% b/v
5 gram
× 500 𝑚𝐿 = 5 𝑔𝑟𝑎𝑚 / botol
500 mL

9
b. Karbon aktif granul 0,1% b/v
0,1 gram
/ b 500 mL × 500 𝑚𝐿 = 0,1 𝑔𝑟𝑎𝑚 otol

c. Perhitungan Tonisitas
Diketahui : Kosentrasi Dextrosa = 5,5 g/110 mL = 50 g/L
BM Dextrosa = 198,17 g/mol
Ditanyakan : Tonisitas infuse dextrose?
Jawab :

kons Dex
Osmolaritas Dextrosa = × 1000 × jumlah ion Dex
BM Dex
50 g/L
= × 1000 × 1
198,17 g/mol
= 252,31 M.osmol/L
> 350 Hipertonis
Hipertonis
329 – 350 Sedikit Hipertonis Sedikit hipertonis
270 – 328 Isotonis Isotonis
250 - 269 Sedikit Hipotonis Sedikit hipotonis
0 - 249 Hipotenis

(Nema dan Ludwig, 2010)


Berdasarkan hasil perhitungan nilainilai osmolaritas yaitu 252,31 M.osmol/Lmaka
berdasarkan tabel diatas dapat diketahui infus dektrosa yang dibuat sedikit
hipotonis.

PENIMBANGAN BAHAN
Dibuat infus dekstrosa 5% sebanyak 1 botol dengan volume 500 ml/botol
Penimbangan Penimbang
No Bahan Fungsi
(1 botol) an
1 Dextrose 5% Bahan aktif 5g 5g
2 Karbon aktif Adsorben 0,1 g 0,1 g
3 Aquades Pelarut/Pembawa Ad 500 mL Ad 500 mL

10
C. PELAKSANAAN
1. ALAT-ALAT YANG DIGUNAKAN DAN CARA STERILISASINYA
a. Alat
 Botol infus 500 mL
 tutup karet
 Gelas beaker 500ml
 Erlenmeyer 250ml
 Termometer
 Autoklaf
 Corong gelas
 Pipet tetes
 Spiritus
 Kaki tiga
 Pinset
 Timbangann analitik
 Sendok tanduk
 Batang pengaduk
 Gunting
 Kertas saring
 Kertas perkamen
 Aluminium foil
 Kertas roti
 Cutton ball
 Kasa steril
 Benang kasur
 Gelas ukur 250 ml
b. Bahan
 Deskstrosa
 Aquades
 Karbon aktif (norit)

11
 Alkohol
 Etanol
Cara Kerja Sterilisasi Alat
No Nama Bahan Ukuran Jumlah Cara Suhu Waktu
Sterilisasi (0C) (Menit)
1 Batang Besar 1 Oven 170 35
pengaduk
2 Erlenmeyer 250 mL 1 Autoklaf 121 19
3 Beker glass 500 mL 1 Autoklaf 121 19
4 Gelas ukur 250 mL 19
5 Corong gelas Medium 1 Autoklaf 121 19
6 Botol Infus 100 mL 3 Autoklaf 121 19
7 Karet pipet sedang 3 Di rendam 24
di etanol
8 Pipet tetes sedang 3 Oven 170 35
9 Karet botol sedang 1 Di rendam 24
infus di etanol
10 Kaca arloji sedang 1 Oven 170 35

2. Cara Kerja
1. Alat yang digunakan di sterilisasi sehari sebelumnya, sesuai prosedur diatas.
2. Siapkan mortir dan stamper untuk menggerus norit.
3. Timbang masing – masing dekstrosa 5 gram dan noit 0,1 gram.
4. Ukur aquades sebanyak 500 ml
5. Aquades diukur hingga volume mencapai 250 ml kemudian dipanaskan pada
gelas beker hingga 1000 C,diukur menggunakan thermometer,setelah suhu
mencapai 1000C kemudian diamkan hingga suhu 60 0 C dan tambahkan desktrosa
sedikit demi sedikit sambil di aduk hingga larut.pertahankan suhu pada 60 0 C.
6. Diukur Ph awal menggunakan ph meter
7. Ditambahkan norit dan diaduk hingga larut.
8. Ditambahkan sisa aquades hingga mencapai volume 500 ml

12
9. Disaring menggunakan kertas saring sebanyak 2 kali.
10. Dimasukan kedalam botol infuse 50 ml.
11. Diukur ph akhir dan ditutup dengan tutup karet.
12. Dilakukan evaluasi.
3. KEMASAN, BROSUR dan ETIKET
Kemasan

Komposisi :
DexFus
Dekstrosa 5%/500 mL

® Indikasi :
Sebagai sumber kalori
Dekstrosa 5% / 500 mL
Osmolaritas 252,31
dan zat pengisotonis
Dosis :
mOsm / L
i.v : 0,5-0,8 g/kg/jam
Efek samping :
Larutan glukosa No. Reg :
hipertonik dapat DKL0131903443A
Simpan di tempat
menyebabkan sakit No. Batch : BT150
sejuk, kering, dan
pada tempat Exp. Date : Mei 2019
terlindung dari sinar
pemberian (lokal),
matahari.
tromboklebitise,
menyebabkan
gangguan cairan dan
elektrolit termasuk
edema, hipokalemia,
Diproduksi Oleh :
hipopostemia,
PT. Quinkue Farma
hipomagnesia.

13
Brosur

DexFus®
Dekstrosa 5% / 500 mL
Osmolaritas 252,31 mOsm / L

Komposisi : tiap 1 mL mengandung glukosa 50mg.

Cara kerja obat :


obat ini digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi. Prinsip kerjanya
adalah cairan berpindah dari yang nilai osmolaritas rendah ke yang nilai
osmolaritasnya tinggi, sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju.

Indikasi :
Sebagai sumber kalori dan zat pengisotonis

Kontra indikasi :
Pada pasien anuria, intrakranial atau intraspiral hemorage

Efek samping :
Larutan glukosa hipertonik dapat menyebabkan sakit pada tempat pemberian
(lokal), tromboklebitise, menyebabkan gangguan cairan dan elektrolit termasuk
edema, hipokalemia, hipopostemia, hipomagnesia.

Dosis :
i.v : 0,5-0,8 g/kg/jam

Kemasan :
Dus, 1 vial 100 mL

Cara penyimpanan :
Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.

No. Reg : DKL0131903443A

Diproduksi oleh :
PT. DDM Farma, Bandung – Indonesia.

14
Etiket
Komposisi :
DexFus® HARUS DENGAN RESEP
DOKTER
Dekstrosa 5% / 100 mL
Dekstrosa 5% / 500 mL Keterangan lebih lanjut, lihat di
Osmolaritas 252,3 mOsm / L brosur.

Indikasi :
Sebagai sumber kalori dan zat
No. Reg : DKL0131903443A
pengisotonis
No. Batch : BT150
Exp. Date : Mei 2014

Simpan di tempat sejuk, kering, dan


terlindung dari sinar matahari.
Diproduksi oleh :
PT. Quinkue Farma
D. EVALUASI SEDIAAN
1. Uji organoleptik
Uji organoleptis dilakukan dengan pengamatan secara visual dari sediaan infus
dextrosa 5% yang meliputi warna, bau dan penampilan fisik sediaan. Larutan untuk
infus intravena harus jernih dan praktis bebas partikel (Depkes RI, 1979).
2. Uji Kejernihan Larutan
Penetapan kejernihan larutan menggunakan taung reaksi alas datar diameter 15 mm
hingga 25 mm, tidak berwarna, transparan dan terbuat dari kaca netral. Masukkan
kedalam dua tabung reaksi masing-masing zat uji dan air atau pelarut yang digunakan
hingga volume larutan dalam tabung reaksi terisi setinggi tepat 40 mm. Bandingkan
kedua isi tabung dengan latar belakang hitam. Pengamatan dilakukan dibawah cahaya
yang berdifusi, tegak lurus kearah bawah tabung. Suatu cairan dinyatakan jernih jika
kejernihannya sama dengan air atau pelarut yang digunakan bila diamati dibawah
kondisi seperti tersebut diatas (Depkes RI, 1995).
3. Uji Bahan Partikulat dalam Injeksi
Larutan injeksi, termasuk larutan yang dikonstitusi dari zat padat steril untuk
penggunaan parenteral, harus bebas dari partikel yang dapat diamati pada
pemeriksaan secara visual. Bahan partikulat merupakan zat asing, tidak larut dan
melayang, kecuali gelembung gas yang tanpa disengaja ada dalam larutan parenteral
(Depkes RI, 1995).

15
4. Uji kebocoran
Wadah takaran tunggal yang masih panas setelah selesai disterilkan, dimasukkan
kedalam larutan metilen blue 0,1%. Jika ada wadah yang bocor maka larutan metilen
blue akan masuk kedalam karena perubahan tekanan luar dan didalam wadah tersebut
sehingga larutan dalam wadah akan berwarna biru. (Agoes, 2009).
5. Uji pH
Harga pH adalah harga yang diberikan oleh alat potensiometrik (pH meter) yang
sesuai, yang telah dibakukan sebagaimana mestinya, yang mampu mengukur harga
pH sampai 0,02 unit pH menggunakan elektrode indikator yang peka terhadap
aktivitas ion hidrogen, elektrode kaca, dan elektrode pembanding yang sesuai seperti
elektrode kalomel atau elektrode perak-perak klorida. Untuk pembakuan pH meter,
pilih 2 larutan dapar untuk pembakuan yang mempunyai perbedaan pH tidak lebih
dari 4 unit dan sedemikian rupa sehingga pH larutan uji diharapkan terletak
diantaranya. Jika sistem telah berfungsi dengan baik, bilas elektrode dan sel beberapa
kali dengan larutan uji, isi sel dengan sedikit larutan uji dan baca harga pH. Syarat pH
untuk injeksi dekstrosa adalah antara 3,5 dan 6,5 (Depkes RI, 1995).

16
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil
Tabel Penimbangan bahan
No Bahan Jumlah Penimbangan
1 Dekstrosa mohohidrat 5 gran
2 Karbon aktif 0,1 gran
3 Aquadestilata Ad 500 mL

Tabel Pengamatan
No Perlakukan Pengamatan
1 Dekstrosa dimasukkan dalam Dekstrosa dapat larut pada air steril,
akuadestilata yang telah mendidih, diaduk tidak ada yang mengandap. Larutan
hingga larut tampak jernih
2 Penambahan karbon aktif(norit) Larutan dekstrosa menjadi berwarna
hitam, karbon aktif tersebar merata pada
larutan
3 Penyaringan karbon aktif dari sediaan Tingkat kekeruhan akibat karbon aktif
Penyaringan pertama ++
Penyaringan kedua +++++++

Keterangan:
+++++ = sangat keruh
++ = sedikit jernih

17
Tabel Hasil Pengamatan Evaluasi Infuse Dextrose 5%
Evaluasi sediaan Hari 1 Hari 2 Hari 3
Uji organoleptik Warna keruh , tidak Warna keruh , tidak Warna keruh ,
berbau berbau tidak berbau
Uji pH Awal : 7 6 6
Akhir: 6
Kejernihan Keruh Keruh keruh
Uji partikulat Tidak terlihat Tidak terlihat Tidak terlihat
dalam sediaan partikulat karena partikulat karena partikulat karena
terlalu keruh terlalu keruh terlalu keruh
Uji Kebocoran Tidak bocor Tidak bocor Tidak bocor

2. PEMBAHASAN
Sediaan yang dibuat pada praktikum kali ini adalah sediaan parenteral yang diberikan
melalui intravena yaitu infus dextrosa 5% dengan volume 500 ml. Sediaan intravena
diberikan dengan memasukkan cairan steril melalui jarum langsung ke vena pasien.
Indikasi dari infus dekstrosa adalah sebagai terapi parenteral untuk menuhi kalori
pada pasien yang mengalami dehidrasi dan juga sebagai terapi pada pasien hipoglikemi yang
membutuhkan konsentrasi glukosa yang tinggi dalam darah, sehingga hal ini dapat dilakukan
dengan cara menyimpan dekstrosa yang ada sebagai cadangan gula dalam darah.
Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas pirogen dan
sedapat mungkin dibuat isotonis tehadap darah, disuntikkan langsung kedalam vena dalam
volume relatif banyak (Depkes RI,1979) sehingga untuk membuat agar sediaan steril
dilakukan suatu pengerjaan secara aseptis, atau bisa juga dilakukan tahap sterilisasi akhir
terhadap sediaan infus yang dibuat.
Sediaan infus dekstrosa 5% sebanyak 500 ml pada praktikum ini dibuat dengan
formula yang sesuai dengan literatur.
Formula yang digunakan pada praktikum ini adalah :
R/ Dekstrosa Anhidrat 5% (5 gram)
Karbon Aktif (Norit) 0,1 gram

18
Aqua destilata ad 500 ml
Bahan aktif yang digunakan adalah dekstrosa anhidrat yang merupakan suatu
senyawa polisakarida dengan satuan glukosa sebagai komponen monomer, yang terikat
secara glikosidik pada posisi alpha 1,6 dekstrosa yang merupakan sumber nutrisi yang
baik bagi mikroba sehingga dapat ditumbuhi oleh mikroba yang bersifat pirogen. Pirogen
dalam sediaan dapat dihilangkan dengan pemanasan pada suhu 250oC selama 45 menit.
Namun, dekstrosa akan terdekomposisi apabila dipanaskan pada temperatur yang tinggi
yaitu pada suhu 220oC.
Karbon aktif berfungsi sebagai adsorpsi agent yang akan membebaskan sediaan
dari pirogen. Sebenarnya pembebasan pirogen dapat dilakukan dengan pemanasan diatas
suhu 250oC di oven, namun karena bahan aktif bersifat tidak tahan panas dilakukan
pembebasan pirogen dengan menggunakan adsorpsi agent.
Pelarut zat aktif dan zat tambahan digunakan aquades karena sifat kedua bahan
yang digunakan mudah larut didalam air. Pelarut yang digunakan dipanaskan hingga
mendidih pada suhu 100oC dengan tujuan untuk membunuh mikroba sekaligus
menghilangkan CO2 didalam air yang akan digunakan. Dimana dekstrosa sangat mudah
larut dalam air mendidih.
Dari hasil pengamatan selama 3 hari pada sediaan infus dekstrosa, terlihat bahwa
tidak adanya mikroorganisme yang terdapat dalam sediaan atau di bagian wadah sediaan.
Ini merupakan bukti bahwa sediaan yang dibuat sudah sesuai, hanya karena adanya
kesalahan dalam perhitungan karbon aktif dan juga di karenakan penyaringan hanya
dilakukan 2 kali sedangkan sesuai literatur, sediaan harus di saring secara berulang-ulang
dan terakhir barulah disaring menggunakan kertas saring whatman sehingga
mengakibatkan sediaan tidak jernih atau sediaan menjadi keruh.

19
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Tahapan pembuatan sediaan infus dekstrosa 5% dapat dilakukan dengan cara melakukan
sterilisasi alat terlebih dahulu, kemudian tahapan formulasi, dan tahapan evaluasi pada
sediaan yang dibuat. Formulasi sediaan infus yang dibuat adalah :
R/ Dekstrosa Monohidrat 5%
Karbon Aktif (norit) 0,1%
Aquadestilata ad 500%
B. SARAN
Setelah melakukan praktikum dalam pembuatan formulasi sediaan steril infus dekstrosa
5%, kelompok kami menyarankan untuk praktikum selanjutnya waktu yang dibutuhkan
dalam bekerja perlu dipercepat.

20
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Trissel, C.A. 2003. Handbook on Injectable Drugs 12th edition book 2. USA: American Society
of Health- System Pharmacist Inc

McEvoy, G. K. 2002. AHFS Drug Information. United State of America: American Society of
Health System Pharmcists.

Kathleen, P. 1999. Martindale : The Complete Drug Reference 32nd Edition. London:
Pharmaceutical Press.

Sweetman, S. C. 2009. Martindale : The Complete Drug Reference Thirty-Sixth Edition.


London: Pharmaceutical Press.

21
LAMPIRAN STERILISASI ALAT

G1.Alat yang di sterilisasi dengan autoklaf G2.Memasukkan alat ke dalam autoklaf


di bungkus menggunakan alumunium foil

G3.Proses sterilisasi
G4.Suhu sterilisasi
autoklaf

G5.Alat yang di sterilisasi


di oven G6.Suhu sterilisasi
oven

22
LAMPIRAN PROSEDUR KERJA

G1. Alat G2. Bahan

G.3 Penimbangan dekstrosa G.4 Penimbangan norit

G.5 Penggerusan norit dan proses


sterilisasi meja praktikkum

23
G.7 Pemanasan
G.6 kalibrasi botol 500 aquadest ad suhu 60ºC
ml

G.8 Penambahan desktrosa G.9 Penambahan norit

G.10 pengukuran ph awal G.11 Penyaringan pertama

24
G. 12 penyaringan kedua G. 13 pengukuran ph akhir

G. 14 sediaan infuse dekstrosa


G. 15 uji kebocoran
5 % dan kemasannya

25
G. 16 pengamatan hari pertama G. 17 pengamatan hari kedua

G. 18 pengamatan hari ketiga

26

Anda mungkin juga menyukai