Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP TINGKAT DEPRESI PADA

LANSIA DI KELURAHAN SUMBER JERUK WILAYAH KERJA PUSKESMAS


JAMBESARI BONDOWOSO

Ahmad Subkhan

15010050

STIKES dr. SOEBANDI JEMBER


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2018/2019

Jl.dr.Soebandi No.99 Jember Telp/fax.(0334)483536


E_mail : jstikesdr.soebandi@yahoo.com, web: http://www.stikesdrsoebandi.ac.id

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan telah meningkatkan kesejahteraan sosial danderajat


kesehatan masyarakat, yang dampak positifnya adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat,
menurunkan angka kematian dan meningkatkan usia harapan hidup, sehingga kemungkinan
mencapai usia lebih tua makin banyak.
Usia lanjut adalah tahap akhir dari siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses
alamiah kehidupan yang tidak dapat dihindarkan dan akan dialami oleh setiap individu. Pada
tahap ini individu mengalami banyak perubahan, baik secara fisik maupun mental, khususnya
kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan fisik
sebagai bagian dari proses penuaan yang normal, seperti berkurangnya ketajaman panca indera,
menurunnya daya tahan tubuh merupakan ancaman bagi integritas orang usia lanjut dan harus
berhadapan dengan kehilangan peran diri, kedudukan sosial serta perpisahan dengan orang-orang
yang dicintai. Kondisi ini menyebabkan orang usia lanjut menjadi lebih rentan untuk mengalami
problem mental, salah satunya adalah depresi (FKUI,2000).
Saat ini gangguan depresi pada usia lanjut kurang dipahami sehingga banyak kasus
depresi pada usia lanjut tidak dikenali dan tidak diobati karena gambaran klinisnya tidak khas.
Terjadinya depresi pada usia lanjut dapat berasal dari 3 aspek yaitu sosial, psikologik dan
biologik. Faktor sosial adalah berkurangnya interaksi sosial, kesepian, berkabung dan
kemiskinan dapat mencetuskan depresi. Sedangkan faktor psikologik yang berperan dalam
timbulnya depresi adalah rasa rendah diri, kurang percaya diri, kurangnya rasa keakraban, dan
ketidak berdayaan karena menderita penyakit kronis. Dari aspek biologik usia lanjut mengalami
kehilangan dan kerusakan banyak sel-sel saraf maupun zat neurotransmiter, resiko genetik
maupun adanya penyakit tertentu seperti kanker, Diabetes Mellitus, stroke memudahkan
terjadinya gangguan depresi. Semua hal tersebut menuntut kemampuan beradaptasi yang cukup
besar. Pada umumnya masalah kesehatan mental lansia khususnya depresi adalah masalah
penyesuaian. Penyesuaian tersebut karena adanya perubahan dari keadaan sebelumnya ( fisik
masih kuat, bekerja dan berpenghasilan ) yang mengalami kemunduran. Serta berbagai persoalan
hidup yang menimpa lansia sepanjang hidupnya, seperti kemiskinan, kegagalan yang beruntun,
stres berkepanjangan, konflik dengan keluarga atau anak, ataupun kondisi lain seperti tidak
memiliki keturunan yang bisa merawatnya atau sebagainya. Kondisi-kondisi seperti ini juga bisa
memicu terjadinya depresi. Tidak adanya media bagi lansia untuk mencurahkan segala perasaan
dan kegundahannya merupakan kondisi yang akan mempertahankan kondisi depresinya, karena
dia akan menekan segala bentuk perasaan negatifnya kealam bawah sadarnya (Philip, 1994
dalam Setiabudi, 1999).
Dukungan keluarga adalah suatu dorongan atau bantuan nyata seperti kenyamanan,
perhatian, penghargaan serta hal-hal yang dapat memberikan keuntungan terhadap anggota
keluarga, agar individu tersebut merasa dicintai, diperhatikan, dihargai dan bernilai. Adanya
problem keluarga akan berpengaruh pada perkembangan lansia. Disamping itu proses penuaan
yang terjadi pada lansia juga dapat mempengaruhi dinamika keluarga. Menurut friedman (1998),
ikatan kekeluargaan yang kuat sangat membantu ketika lansia menghadapi masalah,
karenakeluarga adalah orang yang paling dekat hubunganya dengan lansia. Dukungan keluarga
memainkan peran penting dalam mengintensifkan perasaan sejahtera. Orang yang hidup dalam
lingkungan yang bersikap supportif, kondisinya jauh lebih baik dari pada mereka yang tidak
memilikinya. Dukungan tersebut akan tercipta bila hubungan interpersonal diantara mereka baik.
Melalui dukungan keluarga, lansia akan merasa masih ada yang memperhatikan, ikut merasakan
mau membantu mengatasi beban hidupnya. Dengan adanya dukungan keluarga yang mempunyai
ikatan emosional setidaknya akan memberikan kekuatan pada lansia untuk menjalani hari tua
yang lebih baik.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan hasil penelitian , maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian
ini adalah : Apakah ada pengaruh dukungan keluarga terhadap tingkat depresi pada lansia di
Kelurahan Sumber Jeruk Kecamatan Jambesari Bondowoso.

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh dukungan keluarga terhadap tingkat depresi pada lansia.

1.3.2 Tujuan Khusus


a) Mengidentifikasi dukungan keluarga yang diterima oleh lansia di Kelurahan
Sumber Jeruk Kecematan Jambesari Bondowoso.
b) Mengidentifikasi tingkat depresi lansia di Kelurahan Sumber Jeruk Kecamatan
Jambesari Bondowoso.
c) Menganalisis pengaruh dukungan keluarga terhadap tingkat depresi pada lansia di
Kelurahan Sumber Jeruk Kecamatan Jambesari Bondowoso.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti

Dengan mengetahui pengaruh dukungan keluarga terhadap tingkat depresi pada lansia
maka akan menambah pengetahuan peneliti di bidang keperawatan, khususnya
keperawatan keluarga dan keperawatan gerontik dan penelitian ini dapat dijadikan
sebagai dasar untuk pengembangan penelitian yang lebih lanjut.

1.4.2 Bagi Ilmu Keperawatan


Penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi kepada pengelola program kesehatan
lanjut usia khususnya dalam perawatan lanjut usia di rumah, dalam upaya peningkatan
perawatan lanjut usia dengan melibatkan peran aktif keluarga.
1.4.3 Bagi Institusi
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi penelitian lain yang akan
membahas topik yang sama, dan dapat digunakan sebagai pedoman (referensi) yang
bermanfaat.

1.5 Keaslian Penelitian


Didit Damayanti, 2006. Meneliti tentang Hubungan antara Support System
keluarga dengan mekanisme koping pada lansia di Desa Oro oro ombo Kartoharjo
Madiun. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif non eksperimental dengan
studi penelitian korelasional. Populasi adalah seluruh lansia yang ada di kelurahan Oro
Oro Ombo Kartoharjo Madiun. Sampel dilakukan dengan cara purposive sampling.
Responden berjumlah 85 lansia. Tehnik pengumpulan data dengan menyebar kuesioner
penelitian. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan dukungan keluarga dan
mekanisme koping dengan p value sebesar 0,024 lebih kecil dari derajat signifikansi 0,05.
Perbedaan dengan penelitian ini antara lain pada variable terikatnya, penelitian tersebut
variabel terikatnya adalah mekanisme koping sedang pada peneliti adalah tingkat depresi.