Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kromosom adalah badan mikroskopis dalam intisel yang merupakan


struktur sel paling penting yang bertugas untuk menurunkan sifat kepada keturunan.
Kromosom yang terdapat ada sebuah sel haploid tidak pernah memiliki ikan dan
sifat yang sama. Di dalam kromosom terdapat genyang mengandung DNA yang
terbalut dalam satu ataulebih kromosom. Gen-genmenempati posisi tertentu (lokus)
dalam kromosom dan mengandung cetak biru berupa kode sifat biologis untuk
memproduksi fenotipe. Panjang rangkaian DNA akan menentukan ukuran
kromosom dan hal ini bervariasi antara suatu spesies dengan spesies lain. Panjang
kromosom berkisar 0,2-20 m. Perhitungan kormosomdapat dilakukan melalui
kultur jaringan padat dan diharapkan mendapatkan hasil yang akurat. Penatan
kromosom berguna untuk menentukan bentuk dan jumlah kromosom serta
penentuan ploidi. Tahapan-tahapan yang digunakan pada teknik aringan padat
meliputi perlakuan kolkisin, perlakuan hipotonik, fiksasi, pembuatan preparat,
pewarnaan dan pengamatan (Hartati, 2017).
Replikasi dan distribusi sedemikian banyak DNA dikemas menjadi
kromosom, dinamai demikian karena menyerap zat-zat pewarna tertentu yang
digunakan dalam mikroskopi (dari kata Yunani chroma, warna, dan soma, tubuh).
Setiap spesies eukariota memiliki jumlah yang khas dalam setiap nukleus sel.
Jumlah kromosom dalam sel somatik sangat bervariasi pada spesies-spesies yang
berbeda: 18 pada tanaman kubis, 56 pada gajah, 90 pada landak, dan 148 pada salah
satu jenis alga. Kromosom eukariota terbuat dari kromatin, komplek DNA dan
molekul-molekul protein terkait. Setiap kromosom mengandung satu molekul DNA
linear yang sangat panjang dan membawa beberapa ratus sampai beberapa ribu gen,
yaitu unit-unit yang menspesifikasi sifat-sifat warisan suatu organisme. Protein-
protein yang terkait mempertahankan struktur kromosom dan membantu
mengontrol aktivitas gen (Campbell et al, 2008).
Butiran Romanowsky-Giemsa (RG) dirancang pada abad ke-19 untuk
mengidentifikasi parasit plasmodia dalam bentuk darah. Kemudian, noda RG
menjadi prosedur standar untuk hematologi dan sitologi. Sejumlah upaya telah
dilakukan untuk menerapkan pewarnaan RG ke bagian jaringan parafin fixedin
fixedin formalin, dengan keberhasilan bervariasi. Sebagian besar karya yang
diterbitkan mengenai topik ini menjelaskan metode pewarnaan RG di mana bagian
dilipat, kemudian dikenai diferensiasi asam; Sayangnya, langkah diferensiasi sering
kali menyebabkan hasil pewarnaan yang tidak konsisten. Jika pewarnaan dilakukan
dalam kondisi optimal dengan kontrol konsentrasi zat warna, pH, suhu larutan dan
waktu pewarnaan, tidak diperlukan pembedaan. Hasil pewarnaan serupa dengan
pewarnaan rutin hemalum dan eosin (H & E). Nuclei berwarna biru; Intensitas
bergantung pada kerapatan kromatin. Situs kaya RNA berwarna ungu. Serat
kolagen, keratin, sel otot, eritrosit dan zat putih sistem saraf pusat berwarna merah
muda dan berwarna kemerahan. Matriks tulang rawan, butiran sel mast dan daerah
degenerasi myxomatous berwarna ungu. Lendir kaya Sulfat berwarna biru pucat,
sedangkan kelompok sulfat yang kurang memiliki unsur yang tidak bernoda.
Simpanan hemosiderin, lipofuscin dan melanin berwarna kehijauan, dan endapan
kalsium berwarna biru. Bakteri Helicobacter pylori berwarna ungu sampai ungu.
Kelebihan metode ini adalah kesamaannya dengan pewarnaan H & E dan
kesederhanaan teknis. Hemosiderin, H. pylori, butiran sel mast, melanin dan butiran
spesifik dari sel hematopoietik yang berbeda, yang tidak terlihat atau hampir tidak
dapat dibedakan dengan pewarnaan H & E, divisualisasikan. Keuntungan lain dari
noda RG sebelumnya termasuk waktu pewarnaan yang lebih pendek dan
penghindaran aseton (Stefanovic et al., 2017).
Salah satu noda yang paling sering ditemui di lapangan adalah noda Giemsa
(Giemsa). Pewarnaan ungu murah ini digunakan untuk berbagai aplikasi histologis
dan mikrobiologi (yaitu identifikasi Chlamydia spp., Spirochet dan Trypanosomes)
serta penggunaan penting dalam diagnosis malaria. kegunaan pewarnaan Giemsa
(mikrobiologi dan parasitologi yang umum digunakan) dengan cara 'subvital' untuk
menyediakan metode yang akurat untuk memvisualisasikan dan menghitung
retikulosit dalam sampel darah dari individu yang terinfeksi normal dan malaria
(Lee et al., 2013).
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagian besar orang yang mengumumkan kelahiran bayinya biasanya
menyebutkan jenis kelamin bayi, namun tidak ada yang merasa perlu memerinci
bahwa anaknya merupakan manusia. Sehingga, salah satu yang menjadi
karakteristik kehidupan adalah kemampuan organisme menghasilkan jenisnya
sendiri. Karakteristik ini tidak lepas dari peran kromosom dalam mewariskan
sifat dari satu generasi ke generasi yang lain. Campbel et al (2008) menyatakan
bahwa kromosom eukariota terbuat dari kromatin, komplek DNA dan molekul-
molekul protein terkait. Setiap kromosom mengandung satu molekul DNA linear
yang sangat panjang dan membawa beberapa ratus sampai beberapa ribu gen,
yaitu unit-unit yang menspesifikasi sifat-sifat warisan suatu organisme. Protein-
protein yang terkait mempertahankan struktur kromosom dan membantu
mengontrol aktivitas gen. Pemberian nama kromosom berdasarkan atas
kemapuannya dalam menyerap zat-zat warna. Sehingga dengan metode giemsa
yang memberikan warna dengan metylen blue pada pengamatan kromosom
tungkai hewan ampibi akan menunjukkan kromosom dengan spesifik.
Keberadaan kromosom dalam diketahui melalui zat-zat warna yang diserapnya.
Keseluruhan laboratorium dalam menentukan kromosom pada hewan
ataupun manusia umumnya menggunakan metode giemsa melalui pengamatan
mikroskop. Metode ini dianggap muda dan tidak begitu membutuhkan biaya
yang tinggi. Umumnya kromosom yang terlihat dengan metode ini memiliki
warna ungu. Oleh karena itu, sebagai mehasiswa yang berkecimpun di Biologi
terkhusus pada mata kuliah genetika, maka perlu kiranya diadakan praktikum
mengenai pewarnaan kromosom dengan metode Giemsa. Maka dengan ini pula
praktikan tidak hanya melihat kromosm melalui buku-buku atau internet namun
dengan pengamatan langsung melalui mikroskop, praktikan dapat melihat jelas
kromosom melalui pewarnaan kromosom.
B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum mengenai pewarnaan kromosom metode giemsa
adalah sebagai berikut:
1. Memahami teori kromosom sebagai materi genetik
2. Memahami tingkah laku kromosom dalam siklus sel
3. Memahami teknik preparasi kromosom baik secara langsung (teknik
jaringan padat)
4. Mampu menganalisis hasil preparasi kromosom
C. Manfaat Praktikum
Adapun Manfaat praktikum mengenai pewarnaan kromosom metode
giemsa adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa dapat memahami teori kromosom sebagai materi genetik
2. Mahasiswa dapat memahami tingkah laku kromosom dalam siklus sel
3. Mahasiswa dapat memahami teknik preparasi kromosom baik secara
langsung (teknik jaringan padat)
4. Mahasiswa dapat mampu menganalisis hasil preparasi kromosom

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Gambar hasil pengamatan.
Kr
omos
om

B. Pembahasan
Kromosom merupakan bahan materi genetik yang menyebabkan
pewarisan sifat dapat terjadi. Adanya kesamaan sifat yang diturunkan itu
diakibatkan oleh proses siklus sel yang berupa meiosis. Hal ini terjadi pada sel
kelamin atau sex pada makhluk hidup. Sedangkan pembelahan sel yang terjadi
di tubuh diakibatkan oleh sel somatik yang menghasilkan anak yang sama
dengan induknya. Keasamaan ini dapat muncul akibat menyatunya gamet betina
dan jantan sehingga menjadi sel yang sifatnya diploid. Pengamatan sikulus sel
yang jelas terletak pada metafase, sebab pada miosis, tahap metafase I
menunjukkan kromosom homolog yang saling berlekatan. Sedangkan pada
mitosis, tahap metafase hanya menunjukkan perlekatan antara kromatid
bersaudara. Nama kromosom diambil dari sifatnya yang dapat menyerap zat-zat
warna. Oleh karena itu, salah satu metode yang mudah dan efisien dalam
mengamati kromosom melalui mikroskop dengan metode giemsa.
Metode giemsa adalah salah satu metode yang paling sering digunakan
dalam laboratorium dalam melihat kromosom. Selain muda dilakukan, metode
ini juga efisien. Tehnik ini digunakan dalam histologi karena mampu mewarnai
kromatin. Prinsip dari pewarnaan giemsa adalah presipitasi hitam yang terbentuk
dari penambahan larutan metilen biru dan eosin yang dilarutkan di dalam
metanol. Presipitasi sendiri memiliki tujuan dalam mengendapkan protein histon
pada DNA, sehingga untaian DNA pada kromosom dapat terlihat. Dalam
pengamatan ini kromosom yang terlihat bewarna ungu dengan bentuk yang
cukup besar atau seperti jaringan yang padat.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan mengenai pewarnaan
kromosom melalui metode Giemsa adalah sebagai berikut:
1. Kromosom adalah meteri genetik yang dapat menurukan sifat dari satu
generasi ke generasi yang lain.
2. Tingkah laku kromosom dalam siklus sel, ada berbedaan pada siklus mitosis
dan miosis. Pada mitosis pada metafase kromatid bersaudara berlekatan
sedangkan miosis dalam metafase I, kromosom homolog yang berlekatan.
3. Kromosom hasil preparasi dengan metode Giemsa menunjukkan warna
ungu dan seperti jaringan yang padat.
B. Saran
Sebelum dilakukannya suatu praktikum mengenai unit pewarnaan
kromosom dengan motede Giemsa ada baiknya para praktikan menguasai
teorinya dengan baik, dengan harapan praktikum yang dilaksanakan dapat
berjalan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

CAMPBELL, NEIL A., et. al. Biologi Ed. 1. Jakarta: Erlangga.


HARTATI. 2017. Modul Genetika Berbasis Pendekatan Saintifik. Jurusan Biologi
FMIPA UNM. Makassar.

LEE, W. C., RUSSELL, B., LAU, Y. L., FONG, M. Y., CHU, C., SRIPRAWAT, K., SUWANARUSK,
R., NOSTEN, F. & RENIA, L. 2013. Giemsa-stained wet mount based method for
reticulocyte quantification: a viable alternative in resource limited or malaria
endemic settings. PLoS One, 8, e60303.

STEFANOVIC, D., SAMARDZIJA, G., REDZEK, A., ARNAUT, M., NIKIN, Z. & STEFANOVIC, M.
2017. Buffered Romanowsky-Giemsa method for formalin fixed, paraffin
embedded sections: taming a traditional stain. Biotech Histochem, 92, 299-308.

HALAMAN PENGESAHAN

Laporang lengkap Genetika dengan judul “Pewarnaan Kromosom dengan


Metode Giemsa” yang disusun oleh:
nama : Muh. Habil Ahmad
NIM : 1614142011
kelas : Biologi Sains
kelompok : III (Tiga)
telah diperiksa oleh Asisten dan/Koordinator Asisten, maka laporan ini
dinyatakan telah diterima.

Makassar, Desember 2017


Koordinator asisten Asisten

Ferry Irawan, S.Pd Ferry Irawan, S.Pd

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab

Hartati, S.Si, M.Si, Ph.D


NIP. 19740405 200003 2 00