Anda di halaman 1dari 18

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. S
Umur : 70 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Pensiunan PNS
Alamat: : Bogor
Tanggal periksa : 18 Desember 2018

II. ANAMNESA
b Keluhan Utama : Penglihatan mata kanan dan kiri buram secara
perlahan sejak 1 tahun yang lalu.
Keluhan Tambahan : kedua mata silau saat melihat cahaya
RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT:

Pasien datang seorang diri ke Poli Mata RSPAD Gatot Soebroto


dengan keluhan penglihatan mata semakin buram sejak 1 tahun yang lalu. Mata
tidak merah. Pasien mengatakan penglihatan kedua matanya buram seperti
berkabut, silau jika melihat cahaya terutama malam hari. Pasien juga mengeluh
matanya kadang berair dan kadang kering seperti ada yang mengganjal. Pasien
menggunakan kacamata minus sejak 3 tahun yang lalu, namun saat ini kacamata
pasien rusak sejak 1 minggu yang lalu. Pasien selalu memakai kacamata nya
namun pandangan matanya semakin buram. Pasien tidak mengeluh sakit kepala,
bila berjalan tidak menabrak-nabrak, tidak melihat pelangi disekitar lampu,
tidak pernah mengalami trauma pada mata dan kepala. Pasien ada riwayat
menggunakan obat Parkinson dan obat Asma dalam jangka waktu lama. Pasien
tidak ada riwayat sakit diabetes dan hipertensi. Pasien mengatakan belum
pernah ke dokter mata.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Umum :
- Hipertensi : disangkal
- DM : disangkal
Mata :
- Trauma kepala/mata : disangkal
- Riwayat sakit mata : disangkal
- Riwayat penggunaan kaca mata : ada
- Riwayat operasi mata : disangkal
- Riwayat trauma mata : disangkal

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Keluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang sama dengan pasien.
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tanda – tanda vital
 Tekanan darah : tidak dilakukan pemeriksaan
 Nadi : tidak dilakukan pemeriksaan
 Suhu : tidak dilakukan pemeriksaan
 Frekuensi nafas : tidak dilakukan pemeriksaan
Kepala : normocephali
Mata : lihat status optalmologis
THT &Leher : tidak dilakukan pemeriksaan
Jantung : tidak dilakukan pemeriksaan
Paru : tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : akral hangat, pitting edem (-)

II. STATUS OFTALMOLOGI


1. Visus

KETERANGAN OD OS

Tajam penglihatan 0.1 2/60

Koreksi S -4,75 C -1,75 X 80 → 0.5 S-6.00 C-3,25 X150 → 0,2

Addisi S + 3,00 S +3,00

Distansia Pupil 62 mm /60 mm

2. Kedudukan bola mata

KETERANGAN OD OS

Eksoftamus Tidak ada Tidak ada

Endoftalmus Tidak ada Tidak ada

Deviasi Tidak ada Tidak ada

Gerakan bola mata Baik ke segala arah Baik ke segala arah

3. Supra silia

KETERANGAN OD OS

Warna Hitam Hitam

Letak Simetris Simetris


4. Palpebra Superior dan Inferior

KETERANGAN OD OS

Edema Tidak ada Tidak ada

Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada

Ektropion Tidak ada Tidak ada

Entropion Tidak ada Tidak ada

Blefarospasme Tidak ada Tidak ada

Trikiasis Tidak ada Tidak ada

Sikatriks Tidak ada Tidak ada

Fissura palpebra 10 mm 10 mm

Ptosis Tidak ada Tidak ada

Hordeolum Tidak ada Tidak ada

Kalazion Tidak ada Tidak ada

Pseudoptosis Tidak ada Tidak ada

5. Konjungtiva Tarsalis Superior dan Inferior

OD OS

Hiperemis Tidak ada Tidak ada

Folikel Tidak ada Tidak ada

Papil Tidak ada Tidak ada

Sikatriks Tidak ada Tidak ada

Anemia Tidak ada Tidak ada

Kemosis Tidak ada Tidak ada

6. Konjungtiva Bulbi

KETERANGAN OD OS

Injeksi konjungtiva Tidak ada Tidak ada

Injeksi Siliar Tidak ada Tidak ada

Perdarahan Tidak ada Tidak ada


subkonjungtiva

Pterigium Tidak ada Tidak ada

Pinguekula Tidak ada Tidak ada

Nevus Pigmentosus Tidak ada Tidak ada

Kista dermoid Tidak ada Tidak ada

Kemosis Tidak ada Tidak ada

7. Sistim Lakrimalis

KETERANGAN OD OS

Punctum Lacrimal Terbuka Terbuka

Epiforia Tidak ada Tidak ada

Tes anel Tidak diperiksa Tidak diperiksa

8. Sklera

KETERANGAN OD OS

Warna Putih Putih

Ikterik Tidak ada Tidak ada

9. Kornea

KETERANGAN OD OS

Kejernihan Jernih Keruh

Permukaan Licin Tidak licin

Ukuran 12 mm 12 mm

Sensibilitas Baik Baik

Infiltrat dan Dendrit Ada Ada

Ulkus Tidak ada Tidak ada

Perforasi Tidak ada Tidak ada

Arkus senilis Ada Ada

Edema Tidak ada Tidak ada

Tes Placido Positif Positif


10. Bilik Mata Depan

KETERANGAN OD OS

Kedalaman Dangkal Dangkal

Kejernihan Jernih Jernih

Hifema Tidak ada Tidak ada

Hipopion Tidak ada Tidak ada

Efek Tyndall Tidak diperiksa Tidak diperiksa

11. Iris

KETERANGAN OD OS

Warna Coklat Coklat

Kriptae Jelas Jelas

Bentuk Bulat Bulat

Sinekia Tidak ada Sulit dinilai

Koloboma Tidak ada Tidak ada

12. Pupil

KETERANGAN OD OS

Letak Di tengah Di tengah

Bentuk Bulat Bulat

Ukuran ± 5 mm ± 5 mm

Refleks cahaya langsung Positif Positif

Refleks cahaya tidak langsung Positif Positif

13. Lensa

KETERANGAN OD OS

Kejernihan Agak keruh Agak keruh

Letak Di tengah Di tengah

Shadow Test Positif Positif

14. Badan Kaca


KETERANGAN OD OS

Kejernihan Jernih Keruh

15. Fundus Okuli

KETERANGAN OD OS

Reflex Fundus Positif Positif

Papil

- Bentuk Bulat Sulit dinilai

- Warna Jingga Sulit dinilai

- Batas Batas tegas Sulit dinilai

- CD Ratio 0,3 Sulit dinilai

Arteri Vena 2:3 Sulit dinilai

Retina

- Edema Tidak ada Sulit dinilai

- Perdarahan Tidak ada Sulit dinilai

- Exudat Tidak ada Sulit dinilai

- Sikatrik Tidak ada Sulit dinilai

Makula Lutea

- Reflex Fovea Positif Sulit dinilai

- Edema Tidak ada Sulit dinilai

16. Palpasi

KETERANGAN OD OS

Nyeri Tekan Tidak ada Tidak ada

Massa Tumor Tidak ada Tidak ada

Tensi Okuli N-2 N-3

Tonometri schiotz Tidak dilakukan Tidak dilakukan

17. Lapang Pandang

KETERANGAN OD OS
Tes Konfrotasi sama dengan pemeriksa sama dengan pemeriksa
IV. Anjuran Pemeriksaan
- Pemeriksaan slit lamp ODS
- uji fluoresens ODS
- Periksa lab : GDS, profil lipid
- Tekanan darah
-

RESUME
Pasien laki-laki usia 70 tahun dengan keluhan penglihatan mata
semakin buram sejak 1 tahun yang lalu. Mata agak merah. Penglihatan kedua
matanya buram seperti berkabut, silau jika melihat cahaya terutama malam hari,
mata berair dan kadang kering seperti ada yang mengganjal.
Pasienmenggunakan kacamata minus sejak 3 tahun yang lalu. Pasien ada riwayat
menggunakan obat Parkinson dan obat Asma dalam jangka waktu lama. Pasien
tidak ada riwayat sakit diabetes dan hipertensi. Pasien mengatakan belum
pernah ke dokter mata.
Pada pemeriksaan oftalmologis didapatkan : Visus OD : S -4,75 C -1,75 X 80. OS : S-
6,00 C-3,00 X150, Addisi S +3,00 Kornea keruh OD, Infiltrat kornea ODS, Arkus
senilis ODS, Plasido test + ODS, Bilik mata depan dangkal ODS, Lensa agak keruh
ODS, Shadow test positif ODS, Refleks Fundus + ODS,didapati lensa OD keruh,
hasil Tensi okuli N-2 OD, N-3 OS. Tes konfrontasi sama dengan pemeriksa dan
lainnya dalam batas normal.
V. DIAGNOSA KERJA
Sikatrik Nebula Kornea OD, Sikatrik Makula Kornea OS,
Katarak Senilis Imatur ODS,
Astigmatisma Miopikus Kompositus ODS.
VI. PENATALAKSANAAN
Koreksi lensa cylinder dengan sferis ODS
S-4,75 C-1,75 X 80 OD S-6,00 C-3,00 X 150 OS, Addisi S + 3,00 D

VII. PROGNOSIS
OD OS
Quo Ad Vitam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo Ad fungsionam Dubia ad bonam Dubia ad bonam

Quo Ad sanationam Dubia Dubia


ANALISA KASUS
Diagnosis Katarak Senilis immatur, OD, Astigmatisma Miopikus Kompositus
ODS ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis
didapatkan Pasien Perempuan usia 60 tahun, datang dengan keluhan penglihatan mata
kanan semakin kabur secara perlahan sejak 3 bulan SMRS, mata tidak merah dan
disertai mata pasien silau bila melihat cahaya. Pasien menyangkal adanya trauma
pada mata. Penglihatan kabur digambarkan oleh pasien seperti melihat kabut. Pasien
juga sudah menggunakan kacamata minus sejak 2 tahun yang lalu Dari pemeriksaan
visus, didapati Visus OD : S -2,50 C -0,05 X 90 → 0.4, OS : S-2.00 C-2.00 X100 →
1,0, Pin Hole tetap. Hasil Tes konfrontasi sama dengan pemeriksa, Shadow test positif
pada mata kanan, pemeriksaan Funduskopi direk didapati lensa OD keruh, hasil
Tonometri OD 17,4 mmHg, OS 19,5 mmHg dan lainnya dalam batas normal. Faktor
keturunan ada pada pasien ini, yaitu Ibu pasien telah menjalani operasi Katarak pada
kedua matanya.
Dari data diatas dapat dipikirkan beberapa penyakit yang termasuk Mata
tenang, penglihatan turun perlahan, diantaranya yaitu, kelainan refraksi, katarak
glaukoma kronik, retinopati diabetika, retinopati hipertensi, intoksikasi Etambutol dan
Kina. Diagnosis Glaukoma kronik dapat disingkirkan karena tidak didapati keluhan
nyeri kepala hebat, TIO pada pasien ini normal (< 21 mmHg), tidak didapati atrofi
papil n. optikus pada funduskopi direk dan lapang pandang pasien sama dengan
pemeriksa. Pasien tidak ada riwayat penyakit Hipertensi dan Diabetes, di keluarga
juga tidak ada yang menderita Hipertensi dan Diabetes, maka diagnosis retinopati
diabetika dan retinopati hipertensi dapat disingkirkan. Intoksiksi Etambutol dan Kina
juga dapat disingkirkan karena pasien tidak mengkonsumsi obat Etambutol dan Kina.
Faktor yang mempengaruhi terbentuknya katarak pada pasien ini adalah faktor usia
dan faktor keturunan. Sehingga dapat ditegakkan diagnosis pada Pasien perempuan
usia 60 tahun ini adalah Katarak Senilis Imatur OD, Astigmatisma Miopikus
Kompositus ODS.
Dengan ditegakkannya Diagnosis pasien ini, dapat direncanakan pembedahan
pada mata kanan pasien. Salah satu indikasinya adalah apabila pasien sudah merasa
terganggu dengan penglihatannya yang semakin kabur. Teknik pembedahan yang
dilakukan adalah dengan teknik Fakoemulsifikasi dengan penggantian lensa
intraokuler.
Prognosis pada pasien ini quo ad vitam : dubia ad bonam, karena katarak tidak
mengancam jiwa, quo ad functionam : dubia ad bonam, karena tidak ada komplikasi
yang serius dari pembedahan sebagai tatalaksananya, dan quo ad sanationam : dubia
ad bonam, karena tajam penglihatan pasien masih baik dan dapat dikoreksi dengan
kacamata.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Katarak Senilis
2.1.1. Definisi
Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat
hidrasi(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau terjadi akibat kedua-
duanya (Ilyas, 2010) yang akan menyebabkan penurunan kualitas fungsi penglihatan
berupa penurunan sensitivitas kontras serta tajam penglihatan. Penurunan kemampuan
tajam penglihatan ini terjadi karena lensa merupakan sebuah organ transparan yang
memiliki fungsi optik untuk memfokuskan sinar masuk ke dalam mata agar jatuh
tepat pada retina, baik dari jarak jauh ataupun dekat.
Katarak senilis dikenal sebagai age-related cataract adalah setiap kekeruhan
pada lensa yang terjadi pada usia lanjut, yaitu di atas usia 50 tahun.

2.1.2. Epidemiologi
Survei kesehatan indera penglihatan dan pendengaran oleh Depkes RI tahun
1993 – 1996 menunjukkan bahwa angka kebutaan di Indonesia adalah sebesar 1,5%,
dengan penyebab utama yaitu katarak (0,78%). Angka ini menempatkan Indoesia
sebagai negara dengan prevalensi buta katarak kedua tertinggi di dunia; sementara
80% kasus buta katarak merupakan kasus yang dapat dicegah.

2.1.2. Faktor Resiko


Katarak adalah penyakit degeneratif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor,
baik internal maupun eksternal. Faktor internal yang berpengaruh antara lain adalah
umur dan jenis kelamin sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh adalah
pekerjaan dan pendidikan yang berdampak langsung pada status sosial ekonomi dan
status kesehatan seseorang, serta faktor lingkungan, yang dalam hubungannya dalam
paparan sinat Ultraviolet yang berasal dari sinar matahari (Sirlan F, 2000).
2.1.2.1 Usia
Proses normal ketuaan mengakibatkan lensa menjadi keras dan keruh. Dengan
meningkatnya umur, maka ukuran lensa akan bertambah dengan timbulnya serat-serat
lensa yang baru. Seiring bertambahnya usia, lensa berkurang kebeningannya, keadaan
ini akan berkembang dengan bertambahnya berat katarak. .Prevalensi katarak
meningkat tiga sampai empat kali pada pasien berusia >65 tahun (Pollreisz dan
Schmidt, 2010).
2.1.2.2 Jenis Kelamin
Usia harapan hidup wanita lebih lama dibandingkan oleh laki-laki, ini
diindikasikan sebagai faktor resiko katarak dimana perempuan penderita katarak lebih
banyak dibandingkan laki-laki (WHO, 2012)
2.1.2.3 Riwayat Penyakit
Diabetes Melitus (DM) dapat mempengaruhi kejernihan lensa, indeks refraksi,
dan kemampuan akomodasi. Meningkatnya kadar gula darah, juga akan
meningkatkan kadar gula di aqueous humor. Glukosa dari aqueous akan masuk ke
lensa melalui difusi dimana sebagian dari glukosa ini diubah menjadi sorbitol oleh
enzim aldose reduktase melalui jalur poliol, yang tidak dimetabolisme dan tetap
tinggal di lensa. Telah terbukti bahwa akumulasi intraselular sorbitol menyebabkan
perubahan osmotic sehingga air masuk ke lensa, yang akan mengakibatkan
pembengkakkan serabut lensa. Penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa
akumulasi poliol intraseluler menyebabkan kolaps dan likuifaksi(pencairan) serabut

9
lensa, yang akhirnya terjadi pembentukan kekeruhan pada lensa (Pollreisz dan
Schmidt, 2010).

2.1.3. Patogenesis
Katarak senilis adalah penyebab utama gangguan penglihatan pada orang tua.
Patogenesis katarak senilis bersifat multifaktorial dan belum sepenuhnya dimengerti.
Walaupun sel lensa terus bertumbuh sepanjang hidup, tidak ada sel-sel yang dibuang.
Seiring dengan bertambahnya usia, lensa bertambah berat dan tebal sehingga
kemampuan akomodasinya menurun. Saat lapisan baru dari serabut korteks terbentuk
secara konsentris, sel-sel tua menumpuk ke ararh tengah sehingga nukleus lensa
mengalami penekanan dan pengerasan (sklerosis nuklear).
Crystallin (protein lensa) mengalami modifikasi dan agregasi kimia menjadi
high-molecular-weight-protein. Agregasi protein ini menyebabkan fluktuasi
mendadak pada index refraksi lensa, penyebaran sinar cahaya, dan penurunan
transparansi. Perubahan kimia protein lensa nuklear ini juga menghasilkan pigmentasi
yang progresif sehingga seiring berjalannya usia lensa menjadi bercorak kuning
kecoklatan sehingga lensa yang seharusnya jernih tidak bisa menghantarkan dan
memfokuskan cahaya ke retina. Selain itu, terjadi penurunan konsentrasi Glutathione
dan Kalium diikuti meningkatnya konsentrasi Natrium dan Kalsium.

2.1.4 Tipe Katarak Senilis


2.1.4.1 Katarak Nuklear
Dalam tingkatan tertentu sklerosis dan penguningan nuklear dianggap normal
setelah usia pertengahan. Pada umumnya, kondisi ini hanya sedikit mengganggu
fungsi penglihatan. Jumlah sklerosis dan penguningan yang berlebihan disebut
katarak nuklear, yang menyebabkan opasitas sentral. Tingkat sklerosis, penguningan
dan opasifikasi dinilai dengan menggunakan biomikroskop slit-lamp dan pemeriksaan
reflex merah dengan pupil dilatasi. Katarak nuklear cenderung berkembang dengan
lambat. Sebagian besar katarak nuklear adalah bilateral, tetapi bisa asimetrik. Cirri
khas dari katarak nuklear adalah membaiknya penglihatan dekat tanpa kacamata,
keadaan inilah yang disebut sebagai “penglihatan kedua”. Ini merupakan akibat
meningkatnya kekuatan focus lensa bagian sentral, menyebabkan refraksi bergeser ke
myopia (penglihatan dekat). Kadang-kadang, perubahan mendadak indeks refraksi
antara nukleus sklerotik dan korteks lensa dapat menyebabkan monocular diplopia .
Penguningan lensa yang progresif menyebabkan diskriminasi warna yang buruk. Pada
kasus yang sudah lanjut, nukleusnlensa menjadi opak dan coklat dan disebut katarak
nuklear brunescent. Secara histopatologi, karakteristik katarak nuklearis adalah
homogenitas nukleus lensa dengan hilangnya lapisan tipis seluler.
2.1.4.2 Katarak Kortikal
Katarak kortikal adalah kekeruhan pada korteks lensa. Ini adalah jenis katarak
yang paling sering terjadi. Lapisan korteks lensa tidak sepadat pada bagian nukleus
sehingga lebih mudah terjadi overhidrasi akibat ketidakseimbangan elektrolit yang
mengganggu serabut korteks lensa sehingga terbentuk osifikasi kortikal, yang
ditunjukkan pada diabetes dan galaktosemia (Fong, 2008). Perubahan hidrasi serat
lensa menyebabkan terbentuknya celah-celah dalam pola radial disekeliling daerah
ekuator. Katarak ini cenderung bilateral, tetapi sering asimetrik. Derajat gangguan
fungsi penglihatan bervariasi, tergantung seberapa dekat kekeruhan lensa dengan
sumbu penglihatan (Harper et al,2010). Gejala yang sering ditemukan adalah
penderita merasa silau pada saat mencoba memfokuskan pandangan pada suatu
sumber cahaya di malam hari (Rosenfeld et al, 2007). Pemeriksaan menggunakan

10
biomikroskop slitlamp akan mendapatkan gambaran vakuola, degenerasi hiropik
serabut lensa, serta pemisahan lamella kortek anterior atau posterior oleh air.
Kekeruhan putih seperti baji terlihat di perifer lensa dengan ujungnya mengarah ke
sentral, kekeruhan ini tampak gelap apabila dilihat menggunakan retroiluminasi.
Secara histopatologi, karakteristik dari katarak kortikal adalah adanya pembengkakan
hidrofik serabut lensa. Globula Morgagni (globules-globulus material eosinofilik)
dapat diamati di dalam celah antara serabut lensa (Rosenfeld et al, 2007).
2.1.4.3 Katarak Subkapsularis Posterior
Katarak subkapsularis posterior terdapat pada korteks di dekat kapsul posterior
bagian sentral (Harper et al,2010). Katarak ini biasanya didapatkan pada penderita
dengan usia yang lebih muda dibanding kedua jenis katarak yang lain. Gejalanya
antara lain adalah fotofobia dan penglihatan yang buruk saat mata berakomodasi atau
diberikan miotikum. Ini dikarenakan ketika pupil konstriksi saat berakomodasi,
cahaya yang masuk ke mata menjadi terfokus ke sentral, dimana terdapat katarak
subkapsularis posterior, menyebabkan cahay menyebar dan mengganggu kemampuan
mata untuk memfokuskan pada makula (Rosenfeld et al, 2007).
Deteksi katarak subkapsularis posterior paling baik menggunakan biomikroskop
slitlamp pada mata yang telah ditetesi midriatikum. Pasda awal pembentukan
katarakakan ditemukan gambaran kecerahan mengkilap seperti pelangi yang halus
pada lapisan korteks posterior. Sedangkan pada tahap akhir terbentuk kekeruhan
granular dan kekeruhan seperti plak di kortek subkapsular posterior (Rosenfeld et al,
2007). Kekeruhan lensa di sini dapat timbul akibat trauma, penggunaan kortikosteroid
(topical atau sistemik), peradangan atau pajanan radiasi pengion (Harper et al, 2010).

Gambar 2. Tipe Katarak Senilis. A(katarak nuklear), B(katarak kortikal), C(katarak


subkapsularis posterior)

2.1.5 Stadium Katarak Senilis


2.1.5.1 Katarak Insipien
Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut :
1. Katarak kortikal : kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju
korteks anterior dan posterior. Vakuol mulai terlihat di dalam korteks.
2. Katarak subkapsular posterior : kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular
posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degenerative
(benda Morgagni)
Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang
tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu
yang lama (Ilyas, 2010).
2.1.5.2 Katarak Imatur

11
Katarak imatur, sebagian lensa keruh atau katarak. Katarak yang belum mengenai
seluruh lapis lensa. Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat
meningktnya tekanan osmotic bahan lensa yang degenerative. Pada keadaan lensa
mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, sehingga terjadi glaukoma
sekunder.
2.1.5.3 Katarak Matur
Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh massa lensa. Kekeruhan ini
bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur atau
intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar, sehingga lensa kembali
pada ukuran yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan
mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal
kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan
iris negatif (Ilyas, 2010).
2.1.5.4 Katarak Hipermatur
Katarak hipermatur, katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi
keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul
lensa sehingga lensa menjadi kecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan
terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Bila proses katarak berjalan lanjut
disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak
dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu
disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat.
Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.
2.1.6 Penatalaksanaan Katarak Senilis
Operasi katarak merupakan operasi mata yang sering dilakukan diseluruh
dunia, karena merupakan modalitas utama terapi katarak. Tujuan dilakukan operasi
katarak adalah perbaikan tajam penglihatan sehingga meningkatkan kualitas hidup
pasien.
Indikasi utama operasi katarak paling umum adalah keinginan pasien sendiri
untuk memperbaiki fungsi penglihatannya. Indikasi dilakukan tatalaksana bedah
untuk katarak tidak berdasakan visual acuity tertentu melaiankan berdasarkan tingkat
gangguan visual terhadap aktivitas sehari-hari (Rosenfeld, 2007). Misalnya jika
katarak masih imatur dengan visus 6/24 namun pasien adalah seorang polisi dan
sangat terganggu maka bisa dilakukan operasi. Jika katarak sudah matur namun
pasien tidak merasa tidak terganggu berarti tidak perlu dilakukan bedah. Namun jika
katarak mencapai hipermatur dapat meningkatkan resiko terjadinya glaukoma dan
uveitis. Indikasi medis untuk bedah katarak adalah galukoma fakolitik, glaucoma
fakomorfik, uveitis fakoantigenik, dan dislokasi lensa ke bilik anterior (Rosenfeld,
2007). Bedah katarak telah mengalami perubahan dramatis selama 30 tahun terakhir
ini. Perbaikan terus berlanjut dengan peralatan otomatis dan berbagai modifikasi lensa
intraocular yang memungkinkan dilakukannya operasi melalui insisi kecil. Metode
operasi yang digunakan sekarang adalah ekstraksi katarak intrakapsular (EKIK),
ekstraksi katarak ekstrakapsular (EKEK), dan fakoemulsifikasi.

Fakoemulsifikasi
Definisi Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi berasal dari 2 kata, yaitu phaco (lensa) dan emulsification
(menghancurkan menjadi bentuk yang lebih lunak). Fakoemulsifikasi merupakan
salah satu teknik operasi pembedahan katarak dengan menggunakan peralatan
ultrasonic yang akan bergetar dan memecahkan nukleus lensa mata menjadi fragmen-

12
frgmen kecil, kemudian lensa yang telah hancur berkeping-keping akan dikeluarkan
dengan menggunakan alat phaco.(2)

Prinsip Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi adalah teknik ekstraksi katarak menggunakan sayatan kecil
sekitar 1,5 mm sampai 3 mm dengan implantasi lensa intra okular lipat (foldable)
sehingga penutupan luka dapat tanpa jahitan. Cara kerja sistem fakoemulsifikasi
adalah menghancurkan lensa melalui ultrasonic probe yang mempunyai tip needle
yang mampu bergetar dengan frekuensi yang sangat tinggi yaitu setara dengan
frekuensi gelombang ultrasound. Massa lensa yang sudah dihancurkan akan diaspirasi
melalui rongga pada tip fakoemulsifikasi untuk kemudian dikeluarkan dari dalam
mata melalui selang aspirasi pada mesin fakoemulsifikasi.(3)

Prosedur Fakoemulsifikasi
Sebelum dilakukan fakoemulsifikasi, persiapan pasien yang harus dilakukan
sebelum operasi adalah sebagai berikut:
a. Pasien sebaiknya di rawat di rumah sakit semalam sebelum operasi,
b. Pemberian informed consent,
c. Pupil dilebarkan dengan midriatika tetes sekitar 2 jam sebelum operasi,
d. Bulu mata dipotong dan dibersihkan dengan povidone-iodine 5%.(3)
Teknik pembedahan katarak dengan fakoemulsifikasi adalah sebagai berikut:
a. Pemberian Asam mefenamat 500 mg atau Indometasin 50 mg peroral 1
– 2 jam sebelum operasi.
b. Anastesi lokal pada mata yang akan dioperasi dengan cara
menyuntikkan langsung melalui palpebra bagian atas dan bawah.
c. Operator kemudian menekan bola mata dengan tangannya untuk
melihat apakah ada kemungkinan perdarahan, dan juga dapat
merendahkan tekanan intraokuler.
d. Operator membuat insisi sepanjang kira-kira 3mm pada sisi kornea
yang teranestesi. Karena konstruksi insisi yang teliti dan ukurannya
yang kecil, insisi ini biasanya menutup sendiri. Disebut juga operasi
tipe ‘ no-stitch ’.

Gambar 2.4 Insisi pada Fakoemulsifikasi(3)

e. Kapsulotomi anterior dengan menggunakan jarum kapsulotomi melalui


insisi kecil pada kornea. Prosedur ini yang disebut capsulorhexis.

13
Gambar 2.5 Capsulorhexis pada Fakoemulsifikasi(3)

f. Setelah insisi dilakukan, suatu cairan viscoelastik dimasukan untuk


mengurangi getaran pada jaringan intraokuler.
g. Dilakukan hidrodiseksi dan hidrodilemenesi untuk memisahkan inti
lensa dari korteks kemudian dilakukan fakoemulsifikasi dengan teknik
horizontal choop menggunakan mesin fako unit.Fakoemulsifikasi
adalah prosedur dimana vibrasi ultrasonik digunakan untuk
memecahkan katarak menjadi bagian-bagian kecil. Fragmen-fragmen
ini kemudian diaspirasi keluar menggunakan alat yang sama.

Gambar 2.6 Pemecahan dan Aspirasi Katarak pada Fakoemulsifikasi(3)

h. Operator membuat groove pada katarak kemudian selanjutnya


memecahkan katarak tersebut menjadi bagian-bagian kecil
menggunakan ujung fakoemulsifikasi dan alat yang kedua dimasukkan
melalui insisi yang lebih kecil di tepi yang lain ‘side port’.

Gambar 2.7 Pemecahan dan Aspirasi Katarak pada Fakoemulsifikasi(3)

i. Korteks lensa dikeluarkan dengan cara irigasi aspirasi menggunakan


mesin fako unit. Kapsul posterior ditinggalkan untuk menyokong lensa
tanam intraokular (IOL).

14
Gambar 2.8 Irigasi Korteks pada Fakoemulsifikasi(3)

j. Insersi lensa intraokuler foldauble pada bilik mata belakang dilakukan


secara in the bag, setelah sebelumnya diberikan bahan viskoelastik
untuk mengurangi komplikasi.

Gambar 2.9 Insersi Intra-Ocular Lensa pada Bilik Mata Belakang(3)

k. Bahan viskoelastik dikeluarkan dengan cara irigasi aspirasi


menggunakan mesin fako unit.
l. Luka operasi ditutup tanpa jahitan.
m. Diberikan suntikan antibiotika (Gentamisin) 0,5 ml dan kortikostroid
(Kortison Asetat) 0,5 ml, subkonjungtiva.
n. Pasca bedah diberikan tetes mata antibiotika (Neomycin-Polymixin B)
dan anti-inflamasi (Deksametason) 0,1 ml., setiap 8 jam sekali.(1,3)

2.3.4 Indikasi dan Kontraindikasi Fakoemulsifikasi


Indikasi pembedahan katarak dengan menggunakan teknik fakoemulsifikasi
adalah sebagai berikut:
a. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit endotel,
b. Pada pemeriksaan dijumpai bilik mata yang dalam,
c. Pupil pasien dapat dilebarkan hingga 7 mm.

15
Sedangkan kontraindikasi untuk dilakukannya teknik fakoemulsifikasi
adalah:
a. Dijumpai adanya tanda-tanda infeksi,
b. Adanya luksasi atau subluksasi lensa.(2,3)

2.3.5 Kelebihan dan Kekurangan Teknik Operasi Fakoemulsifikasi


Secara teori operasi katarak dengan teknik Fakoemulsifikasi mengalami
perkembangan yang cepat dan telah mencapai taraf bedah refraktif oleh karena
mempunyai beberapa kelebihan yaitu rehabilitasi visus yang cepat, komplikasi setelah
operasi yang ringan, astigmat akibat operasi yang minimal dan penyembuhan luka
yang cepat. (2,3)
Kelebihan penggunaan teknik fakoemulsifikasi pada operasi katarak menurut
Kanski dan Bowling dalam Clinical Ophtalmology A Systemic Approach adalah
sebagai berikut: (3)
a. Kinder cut, pemotongan yang lebih nyaman untuk pasien.
b. Smaller incision, insisi terdahulu biasanya 2,7 mm, dengan M ICS hanya
1.8 mm. Implikasinya adalah insisi tersebut terlalu kecil untuk dapat
menyebabkan kornea melengkung dengan abnormal, dan menyebabkan
astigmatisme (efek samping yang biasa terjadi pada operasi katarak) serta
kecilnya insisi tersebut juga sangat menekan resiko terhadap terjadinya
infeksi.
c. Easy to operate, karena sedikit sekali cairan yang mungkin keluar dari
insisi mikro tersebut maka tekanan pada mata cenderung stabil, sehingga
memudahkan para dokter melakukan tindakan operasi.
d. Heals faster, setelah 1-2 hari tindakan, pasien sudah bisa kembali
beraktivitas. Rasa tidak nyaman setelah operasi, hilang dalam 3 hari.(3)
Tujuan dari teknik operasi ini adalah agar penderita katarak dapat
memperoleh tajam penglihatan terbaik tanpa koreksi dengan cara membuat sayatan
sekecil mungkin untuk mengurangi induksi astigmatisme pasca operasi. Prosedur ini
efisien, terutama jika operasi yang lancar umumnya dikaitkan dengan hasil
penglihatan yang baik. Insiden CME pada teknik fakoemulsifikasi yang mengalami
komplikasi intra operatif lebih rendah karena konstruksi insisi luka yang kecil dan
stabilitas yang lebih besar dibandingkan dengan teknik bedah katarak lain. Kelemahan
fakoemulsifikasi diantaranya mesin yang mahal, learning curve lebih lama, dan biaya
pembedahan yang tinggi. (3)

2.3.6 Penyulit
Penyulit yang terjadi untuk dilakukannya teknik fakoemulsifikasi adalah
katarak hipermatur atau katarak yang keras menyebabkan susahnya penghancuran
nucleus lensa dan pemisahan nukleus yang telah rusak dari epinukleus yang
berdekatan. (3)

16
Metode operasi yang umum dipakai untuk katarak dewasa atau anak-anak
adalah meninggalkan bagian posterior kapsul lensa sehingga dikenal sebagai ektraksi
katarak ekstrakapsular. Penanaman lensa intraokular merupakan bagian dari prosedur
ini. Insisi dibuat pada limbus atau kornea perifer, bagian superior atau temporal.
Dibuat sebuah saluran pada kapsul anterior, dan nukleus serta korteks lensanya
diangkat. Kemudian lensa intraokular ditempatkan pada “kantung kapsular” yang
sudah kosong, disangga oleh kapsul posterior yang utuh. Pada ekstraksi katarak
ekstrakapsular bentuk ekspresi nukleus, nukleus lensa dikeluarkan dalam keadaan
utuh, tetapi prosedur ini memerulukan insisi yang relatif besar. Korteks lensa
disingkirkan dengan penghisapan manual atau otomatis. Saat ini, Fakoemulsifikasi
adalah tekhnik ekstraksi katarak ekstrakapsular yang paling sering digunakan.
Tekhnik ini menggukanan vibrator ultrasonic genggam untuk menghancurkan
nukleus yang keras hingga substansi nukleus dan korteks dapat diaspirasi melalui
suatu insisi berukuran sekitar 3 mm. Ukuran insisi tersebut cukup untuk memasukkan
lensa intraokular yang dapat dilipat (foldable intraocular lens). Jika digunakan lensa
intraokular yang kaku, insisi perlu dilebarkan hingga kira-kira 5mm.
Keuntungan-keuntungan yaang didapat dari tindakan bedah insisi kecil
adalah kondisi intraoperasi lebih terkendali, menghindari penjahitan, perbaikan luka
yang lebih cepat dengan derajat distorsi kornea yang lebih rendah, dan mengurangi
peradangan intraokular pasca operasi yang semua berakibat pada rehabilitasi
penglihatan yang lebih singkat. Walaupun demikian, tekhnik fakoemulsifikasi
menimbulkan resiko yang lebih tinggi terjadinya pergeseran materi nukleus ke
posterior melalui suatu robekan kapsul posterior, kejadian ini membutuhkan tindakan
bedah vitreoretina yang kompleks.

17
DAFTAR PUSTAKA
1. Riordan-Eva P, Whitcher J P. Vaughan & Asbury – Oftalmologi umum; alih
bahasa: Brahm U Pendit. Edisi 17. Jakarta: EGC; 2009.
2. Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2015.h. 9-10,12-4, 35-6, 199-200, 210- 220
3. Albiani DA, Asbury T, Augsberg JJ, Biswell R, Campbell RJ et al. Vaughan
& asbury oftalmologi umum. Edisi ke-17. Jakarta: EGC; 2010.hlm. 1-7, 169-
70, 178-80
4. Lang, G. Ophthalmology Short textbook. Stutgart-New York: Thieme. 2015: 771-85
5. Sitompul R, Bani A. Buku ajar oftalmologi. Edisi pertama. Jakarta : FKUI;
2017.h. 66-8, 479-81
6. Ilyas S, Taim H, Widodo P. Ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan
mahasisawa kedokteran. Jakarta:Sagung Seto; 2012.h. 263-6

18