Anda di halaman 1dari 24

Makalah

Teori-Teori Pembangunan Ekonomi

Disusun sebagai Tugas Mata Kuliah Ekonomi Pembangunan


Dosen Pengampu: Norlela, M.Pd.

Disusun oleh:

1. Anas Ali Fatoni 1587203032


2. Rinka Cecilia Putri 1687203040
3. Beri Asmara Hadi 1687203062
4. Nur Aisyah Amini 1687203066

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) MUHAMMADIYAH SAMPIT
2018
Makalah
Teori-Teori Pembangunan Ekonomi

Disusun sebagai Tugas Mata Kuliah Ekonomi Pembangunan


Dosen Pengampu: Norlela, M.Pd.

Disusun oleh:

1. Anas Ali Fatoni 1587203032


2. Rinka Cecilia Putri 1687203040
3. Beri Asmara Hadi 1687203062
4. Nur Aisyah Amini 1687203066

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) MUHAMMADIYAH SAMPIT
2018

i
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan
makalah yang berjudul Teori-Teori Pembangunan Ekonomi. Makalah ini diajukan
guna menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen pengampu untuk mata kuliah
Ekonomi Pembangunan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh
dari dari kata sempurna baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian,
Penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
sehingga dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, penulis dengan rendah hati
dan dengan tangan terbuka menerima masukan, saran, dan usul guna
penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan
bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi
kita semua.

Sampit, September 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan ............................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................... 3
A. Teori Pertumbuhan Linear ............................................................... 3
B. Teori Perubahan Struktural .............................................................. 7
C. Teori Dependensia ......................................................................... 10
D. Teori Neo-Klasik ........................................................................... 12
E. Teori-Teori Baru ............................................................................ 15
BAB III PENUTUP ........................................................................................... 19
A. Kesimpulan .................................................................................... 19
B. Saran .............................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 20

iii
BAB I
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang
Selama berabad-abad, perhatian utama masyarakat perekonomian dunia
tertuju pada cara-cara untuk mempercepat tingkat pengembangan ekonomi. Ada
banyak faktor yang mempengaruhi pengembangan perekonomian, hal
tersebutlah yang kadang menjadi kendala dalam menciptakan perekonomian
yang lebih bagus. Para ekonom dari semua negara, baik negara-negara
berkembang maupun sedang berkembang, yang menganut sistem kapitalis,
sosialis, maupun campuran, semua sangat mendambakan dan menomorsatukan
pertumbuhan ekonomi (economic growth).
Dari periode satu ke periode berikutnya perkembangan ekonomian
senantiasa menjadi pokok pembicaraan yang menarik. Oleh karena itu
munculah berbagai tokoh-tokoh ekonomi yang mengemukakan berbagai
pendapat, dari generasi ke generasi munculah tokoh-tokoh ekonomi baru yang
membawa pemikiran yang berbeda dengan tokoh-tokoh ekonomi generasi
sebelumnya. Pemikiran tersebut biasanya merupakan penyempurnaan
pemikiran tokoh sebelumnya atau pembenahan apabila ada pemikiran tokoh
yang setelah diuji ada suatu kesalahan. Walaupun berbagai pemikiran
bermunculan, namun pada dasarnya pemikiran-pemikiran tersebut
mengharapkan adanya pengembangan perekonomian menuju yang lebih baik.
Dan dari berbagai macam pemikiran dan teori-teori dari para tokoh inilah kita
bisa mengambil suatu tindakan ekonomi yang tepat guna meningkatkan
perekonomian. Sebelum kita bisa mengambil tindakan itu, timbul pertanyaan
baru yaitu bagaimana awal dari teori-teori pengembangan ekonomi itu dan
bagaimanakah proses perkembangan teori-teori itu? Oleh karenanya dalam
makalah ini akan dibahas tentang bagaimana teori-teori pembangunan ekonomi.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat dirumuskan permasalahannya yaitu Teori
apa saja yang membahas masalah pembangunan ekonomi?

1
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang teori-
teori yang membahas masalah pembangunan ekonomi. Di samping itu makalah
ini juga bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pengampu
untuk mata kuliah Ekonomi Pembangunan.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Pertumbuhan Linear
Dasar pemikiran dari teori pertumbuhan linear ini adalah evolusi proses
pembangunan yang dialami oleh suatu negara selalu melalui tahapan-tahapan
tertentu (Mudrajad, 2003:47). Dalam teori pertumbuhan linear, ketiga tokoh ini
menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat dimulai dari
masa tradisional hingga mencapai puncaknya di masa modern. Antara Adam
Smith, Karl Marx, Rostow menggagaskan pemikiran mereka bahwa
pertumbuhan ekonomi masyarakat berlangsung dari masa tradisional, masa
lanjutan dan masa modern.
1. Teori Pertumbuhan Adam Smith
Adam Smith dalam pemikirannya membagi pertumbuhan ekonomi
menjadi 5 tahap, dimulai dari masa perburuan, masa beternak, masa
bercocok tanam, masa perdagangan, dan masa perindustrian. Menurut
Adam Smith, dalam perkembangannya pertumbuhan ekonomi satu
masyarakat melalui proses pentahapan dari tahap yang paling tradisional
(primitif) hingga tahap yang lebih maju (modern). Pandangan Adam Smith
dalam teori pertumbuhan ekonomi, yang menjadi titik perhatiannya adalah
pembagian kerja dan investasi. Adam Smith berpendapat bahwa
pertumbuhan ekonomi akan bergerak dari masyarakat tradisonal menuju
masyarakat modern, namun pembagian kerja menjadi faktor lain yang turut
mendukung proses pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja menjadi masukan
(input) bagi proses produksi. Adam Smith berpendapat bahwa pembagian
kerja akan lebih efisien dan hasil produksi jauh lebih baik dan berkualitas
dengan adanya peningkatan keterampilan tenaga kerja dan penemuan
mesin-mesin. Kedua yang menjadi fokus perhatian Adam Smith adalah
kemampuan investasi dan menabung. Kemampuan menabung oleh
masyarakat dipengaruhi oleh kemampuan menguasai sumber daya. Artinya
kelompok masyarakat yang menguasai sumber daya dan mengeksplorasi
merupakan modal dalam investasi dan tabungan.

3
Asumsinya bahwa perkembangan ekonomi terjadi sebagai berikut:
a. Perkembangan ekonomi berlansgsung secara bertahap.
b. Adanya pembangian kerja sebagai proses efisiensi kerja dengan
peningkatan keterampilan tenaga kerja dan penemuan mesin-mesin.
c. Kemampuan menabung menunjukkan kemampuan masyarakat dalam
menguasai sumber daya yang ada (sumber ekonomi).
2. Teori Pembangunan Karl Max
Karl Marx membagi perkembangan ekonomi masyarakat menjadi tiga,
feodalisme, kapitalisme dan sosialisme. Masyarakat feodalisme masih
bersifat tradisional. Dengan adanya perkembangan teknologi menyebabkan
masyarakat yang semula masih bersifat feodal (agraris) menjadi masyarakat
kapitalis (industri). Dalam proses menuju masyarakat sosialis masyarakat
mengalami depresi ekonomi kapitalisme yang menimbulkan berbagai
masalah dalam berbagai bidang. Marx berpendapat bahwa kemampuan para
pengusaha untuk mengakumulasi modal terletak pada kemampuan mereka
dalam memanfaatkan nilai lebih produktivitas buruh yang dipekerjakan.
Nilai lebih merupakan keuntungan pengusaha dan oleh karenanya
pengusaha akan mengeksploitasi buruh dalam jumlah besar karena nilai
lebih akan meningkat jika upah buruh diturunkan (penetapan upah buruh
tidak lebih besar dari pada kebutuhan hidupnya). Nilai lebih inilah yang
diasumsikan oleh Marx sebagai bentuk kapitalisme dimana modal yang
dimiliki para pengusaha diinvestasikan dalam bentuk kapital, dengan cara
meningkatkan produktivitas kerja.
Bagi Marx produktivitas akan jauh lebih efisien apabila penggunaan
tenaga buruh dikurangi. Mengingat bahwa persaingan pasar dan penguasaan
pangsa pasar makin sengit dan kompetitif sehingga dibutuhkan produksi
yang lebih cepat diimbangi dengan mutu yang baik pula. Bagi para
pengusaha atau pemilik modal, pengurangan tenaga kerja merupakan salah
satu cara guna efisiensi dan produktivitas. Penggunaan mesin merupakan
cara lain dalam efisiensi dan produktivitas. Pengurangan tenaga kerja
berdampak pada daya beli masyarakat menurun, pengangguran meningkat

4
dan konflik antar kelas di masyarakat. Berbagai masalah ini yang oleh Marx
kemudian menyimpulkan bahwa kapitalisme akan berakhir dengan
munculnya revolusi sosial yang dilakukan kaum buruh. Dalam masyarakat
sosialis bahwa akumulasi modal sistem kapitalis diganti oleh sistem sosialis
dimana pemerataan dalam kesempatan kepemilikan sumber daya,
individualis dalam sistem masyarakat kapitalis akan berubah menjadi sistem
masyarakat sosialis.
3. Teori Pertumbuhan Rostow
Rostow membagi proses perkembangan ekonomi suatu negara menjadi
lima tahap; (a) perekonomian tradisional, (b) prakondisi tinggal landas, (c)
tinggal landas, (d) menuju kedewasaan, (e) konsumsi massa tinggi
(Mudrajad:2003).
Perekonomian pada masyarakat tradisional masih terbatas dan sektor
pertanian menjadi fokus utama masyarakat; teknologi yang digunakan
masih sangat sederhana. Struktur sosial dalam sistem masyarakat tradisional
bersifat berjenjang sehingga mempengaruhi penguasaan sumber daya pada
hubungan darah dan keluarga. Pada tahap kedua proses pertumbuhan oleh
Rostow bahwa sektor industri mulai berkembang namun sektor pertanian
masih sangat dominan dalam masyarakat. Tahap ini sekaligus menjadi tahap
di mana masyarakat memasuki tahap persiapan untuk maju ke tahap
selanjutnya. Perekonomian bergerak dinamis, industri-industri
bermunculan, perkembangan teknologi yang pesat, dan lembaga keuangan
sebagai penggerak dana mulai bermunculan. Industrialisasi dapat
dipertahankan jika dipenuhi syarat sebagai berikut; pertama, peningkatan
investasi di sektor infrastruktur/prasarana terutama transportasi. Kedua,
revolusi bidang pertanian untuk memenuhi peningkatan permintaan
penduduk. Ketiga, perluasan impor, termauk impor modal oleh biaya
produksi yang efisien dan pemasaran sumber alam untuk ekspor.
Tahap tinggal landas sebagai suatu revolusi industri yang berhubungan
dengan revolusi metode produksi dan didefinisikan sebagai tiga kondisi
yang saling berkaitan, sebagai berikut:

5
a. Kenaikan laju investasi produktif antara 5-10% dari pendapatan
nasional
b. Perkembangan salah satu atau beberapa sektor manufaktur penting
dengan laju pertumbuhan tinggu.
c. Hadirnya secara cepat kerangka politik, sosial dan institusional yang
menimbulkan hasrat ekspansi sektor modern, dan dampak eksternalnya
akan memberikan daya dorong pada pertumbuhan ekonomi.
Prasyarat pertama dan kedua saling berkaitan dimana kenaikan lanju
investasi produktif antara 5–10% dari GNP dapat menyebabkan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada sekto-sektor ekonomi khususnya
sektor manufaktur. Karena sektor manufaktur dipandang sebagai indikator
perkembangan industrialisasi dan memiliki keterkaitan dengan sektor-
sektor lain. Maka dengan mendorong pertumbuhan tinggi sektor
manufaktur akan mempengaruhi pertumbuhan tinggi pada sektor lain yang
berakibat pada perkembangan GNP yang lebih tinggi.
Tahap menuju kedewasaan ditandai dengan penerapan teknologi
modern secara efektif terhadap sumber daya yang dimiliki. Pada tahap ini
terdapat tiga perubahan yang penting:
a. Tenaga kerja berubah dan tidak terdidik menjadi baik
b. Perubahan watak pengusaha dari pekerja dari keras dan kasar berubah
menjadi manajer efisien yang halus dan sopan
c. Masyarakat jenuh terhadap indutrialisasi dan menginginkan perubahan
lebih jauh
Tahap konsumsi tinggi merupakan tahap akhir teori pertumbuhan
Rostow. Pada tahap ini ditandai dengan migrasi besar-besaran masyarakat
pusat perkotaan ke pinggiran kota, akibat dari pusat kota dijadikan sebagai
tempat kerja. Juga perubahan orientasi dari pendekatan penawaran (supply
side) yang dianut menuju ke pendekatan permintaan (demand side). Lebih
lanjut terjadi pergeseran perilaku ekonomi yang awalnya menitikberatkan
pada produksi, namun beralih ke konsumsi.

6
Menurut Rostow tiga kekuatan utama yang cenderung meningkatkan
kesejahteraan adalah (Jhingan 1988:188):
a. Pengaruh kebijakan nasional guna meningkatkan kekuasaan dan
pengaruh melampaui batas-batas nasional
b. Ingin memiliki satu negara kesejahteraan (walfare state) dengan
pemerataan pendapatan nasional yang lebih adil melalui pajak progresif,
peningkatan jaminan sosial dan fasilitas hiburan bagi para pekerja
c. Keputusan untuk membangun pusat perdagangan dan sektor penting
seperti mobil, jaringan rel kereta api, rumah murah, dan berbagai
peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik dan seterusnya.

B. Teori Perubahan Struktural


Teori perubahan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme
transformasi ekonomi yang dialami oleh negara sedang berkembang, yang
semula lebih bersifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian
menuju ke struktur perekonomian yang lebih modern, dan sangat didominasi
oleh sektor industri dan jasa. Dua teori yang menggunakan pendekatan
perubahan struktural adalah teori pembangunan yang dikemukakan oleh Arthur
Lewis dengan teori migrasinya dan Hollis Chenery dengan teori transformasi
struktural.
1. Teori Pembangunan Arthur Lewis
Teori pembangunan Arthur Lewis pada dasarnya membahas proses
pembangunan yang terjadi antara daerah kota dan desa, yang
mengikutsertakan proses urbanisasi yang terjadi di antara kedua tempat
tersebut. Teori ini juga membahas pola investasi yang terjadi di sektor
modern dan juga sistem penetapan upah yang berlaku di sektor modern,
yang pada akhirnya akan berpengaruh besar terhadap arus urbanisasi yang
ada. Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu negara pada
dasarnya akan terbagi menjadi dua yaitu:

7
a. Perekonomian Tradisional
Teori Lewis mengasumsikan bahwa di daerah perdesaan dengan
perekonomian tradisionalnya mengalami surplus tenaga kerja. Surplus
tersebut erat kaitannya dengan basis utama perekonomian yang
diasumsikan berada di perekonomian tradisional adalah bahwa tingkat
hidup masyarakat berada pada kondisi subsisten akibat perekonomian
yang bersifat subsisten pula. Hal ini ditandai dengan nilai produk
marginal (marginal product) dari tenaga kerja yang bernilai nol. Artinya
fungsi produksi pada sektor pertanian telah sampai pada tingkat
berlakunya hukum law of diminishing return. Kondisi ini menunjukkan
bahwa penambahan input variabel tenaga kerja yang terlalu besar.
Dalam perekonomian semacam ini, pangsa semua pekerjaan terhadap
output yang dihasilkan adalah sama. Dengan demikian, nilai upah riil
ditentukan oleh nilai rata-rata produk marginal dan bukan oleh produk
marginal dari tenaga kerja itu sendiri.
b. Perekonomian Industri
Perekonomian ini terletak di perkotaan, di mana sektor yang
berperan penting adalah sektor industri. Ciri dari perekonomian ini
adalah tingkat produktifitas yang tinggi dari input yang digunakan,
termasuk tenaga kerja. Hal ini menunjukkan bahwa nilai produk
marginal terutama tenaga kerja bernilai posif. Dengan demikian,
perekonomian di perkotaan merupakan daerah tujuan bagi para pekerja
yang berasal dari pedesaan, karena nilai produk marginal dari tenaga
kerja yang positif menunjukkan bahwa fungsi produksi belum berada
pada tingkat optimal yang mungkin dicapai. Jika ini terjadi, berarti
penambahan tenaga kerja pada sistem produksi yang ada akan
meningkatkan output yang diproduksi. Maka industri di perkotaan
masih menyediakan lapangan pekerjaan, dan ini akan dipenuhi oleh
masyarakat pedesaan dengan jalan berurbanisasi. Lewis
mengasumsikan pula bahwa tingkat upah di kota 30% lebih tinggi
daripada tingkat upah di perdesaan yang relatif bersifat subsisten dan

8
tingkat upah cenderung tetap, sehingga kurva penawaran tenaga kerja
akan berbentuk horizontal. Perbedaan upah tersebut jelas akan
menambah daya tarik untuk melakukan urbanisasi.
Perbedaan tenaga kerja dari desa ke kota dan pertumbuhan pekerja
di sektor modern akan mampu meningkatkan ekspansi output yang
dihasilkan di sektor modern tersebut. Percepatan ekspansi output sangat
ditentukan oleh ekspansi di sektor industri dan akumulasi modal di
sektor modern. Akumulasi modal yang nantinya digunakan untuk
investasi hanya akan terjadi jika terdapat akses keuntungan pada sektor
modern, dengan asumsi bahwa pemilik modal akan menginvestasikan
kembali modal yang ada ke industri tersebut.
2. Teori Pola Pembangunan Chenery
Analisis teori Pattern of Development memfokuskan terhadap
perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi, industri dan
struktur institusi dari perekonomian negara sedang berkembang, yang
mengalami transformasi dari pertanian tradisional beralih ke sektor industri
sebagai mesin utama pertumbuhan ekonominya. Penelitian yang dilakukan
Hollis Chenery tentang transformasi struktur produksi menunjukkan bahwa
sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita, perekonomian suatu
negara akan bergeser dari yang semula mengandalkan sektor pertanian
menuju ke sektor industri. Peningkatan peran sektor industri dalam
perekonomian sejalan dengan peningkatan pendapatan per kapita yang
terjadi di suatu negara, berhubungan erat dengan akumulasi capital dan
peningkatan sumberdaya manusia (human capital).
Dari sisi tenaga kerja, akan terjadi perpindahan tenaga kerja dari sektor
pertanian menuju sektor industry, meski pergeseran ini masih tertinggal
(lag) dibandingkan proses perubahan struktural itu sendiri. Dengan
keberadaan lag inilah maka sektor pertanian akan berperan penting dalam
peningkatan penyediaan tenaga kerja, baik pada awal hingga akhir dari
proses transformasi struktural tersebut. Produktifitas di sektor pertanian
yang rendah lambat laun akan mulai meningkat, dan memiliki produktivitas

9
yang sama dengan pekerja di sektor industri pada masa transisi. Dengan
demikian, produktivitas tenaga kerja dalam perekonomian secara
menyeluruh akan mengalami peningkatan.
Salah satu dampak negatif dari perubahan struktural tersebut adalah
meningkatnya arus urbanisasi yang akan menghambat proses pemerataan
hasil pembangunan, di mana peningkatan pendapatan hanya akan terjadi di
perkotaan. Sementara itu di sektor perdesaan yang ditinggalkan para pekerja
akan mengalami pertumbuhan yang lambat, sehingga akan semakin
memperlebar jurang pemisah antara desa dan kota. Transformasi struktural
hanya akan berjalan dengan baik jika diikuti dengan pemerataan
kesempatan belajar, penurunan laju pertumbuhan penduduk, dan penurunan
derajat dualism ekonomi antara desa dan kota. Jika hal itu dipenuhi maka
proses transformasi struktural akan diikuti oleh peningkatan pendapatan dan
pemerataan pendapatan yang terjadi secara simultan.

C. Teori Dependensia
Teori Ketergantungan juga dikenal dengan teori dependensi (Dependency
Theory). Teori ketergantungan adalah salah satu teori yang melihat
permasalahan pembangunan dari sudut Negara Dunia Ketiga. Menurut
Theotonio Dos Santos, Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan dimana
kehidupan ekonomi negara–negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan
dan ekspansi dari kehidupan ekonomi negara–negara lain, di mana negara–
negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja.
Aspek penting dalam kajian sosiologi adalah adanya pola ketergantungan
antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya dalam kehidupan
berbangsa di dunia. Teori Dependensi lebih menitikberatkan pada persoalan
keterbelakangan dan pembangunan negara pinggiran. Dalam hal ini, dapat
dikatakan bahwa teori dependensi mewakili "suara negara-negara pinggiran"
untuk menantang hegemoni ekonomi, politik, budaya dan intelektual dari
negara maju.

10
Teori ketergantungan sebagai teori yang muncul sebagai kritikan dari teori
modernisasi. Jika sebelumnya menurut teori modernisasi bahwa pembangunan
itu seharusnya berkiblat dan mencontoh negara negara barat yang terlebih
dahulu maju, dan penyebab tidak berkembangnya sebuah negara dikarena
faktor-faktor dalam negara tersebut yang menghambat gerak pembangunan.
Oleh karena itu, segala faktor internal tersebut harus dihapus dengan mencontoh
negara-negara barat. Negara-negara dunia ketiga yang mengikuti hal tersebut
ternyata justru menghadapi masalah dalam perekonomian, mereka terikat pada
tingginya angka hutang piutang dan angka inflansi yang tinggi. Hal ini dialami
oleh beberapa negara yang terletak di wilayah Amerika Latin. Kenyataan seperti
menimbulkan krisis kepercayaan terhadap teori modernisasi terhadap
bagaimana pembangunan itu seharusnya dilakukan. Hingga munculah teori
ketergantungan yang menjelaskan kegagalan dari teori modernisasi tersebut.
Menurut aliran marxisme, terdapat dua istilah yaitu kaum borjuis dan kaum
proletar, dimana kaum borjuis mengambil keuntungan dari kaum proletar.
Dalam hubungan negara maju dan negara tertinggal terjadi hubungan yang tidak
seimbang. Ketimpangan hubungan yang tidak sejajar ini menyebabkan negara
tertinggal tidak dapat berkembang kearah maju. Model pembangunan menurut
teori ketergantungan adalah memaksimalkan faktor-faktor internal yang disebut
dalam teori modernisasi sebagai penghambat gerak pembangunan. Justru
menurut teori ketergantungan bahwa penyebab masalah pembangunan di
beberapa negara dunia ketiga adalah faktor eksternal, yakni hubungan yang
tidak sejajar diantara negara maju dan negara tertinggal ataupun intervensi dari
negara maju terhadap negara tertinggal.
Tokoh utama dari teori dependensi adalah Theotonio Dos Santos dan Andre
Gunder Frank. Theotonio Dos Santos mendefinisikan bahwa ketergantungan
adalah hubungan relasional yang tidak imbang antara negara maju dan negara
miskin dalam pembangunan di kedua kelompok negara tersebut (Theotonio Dos
Santos, review, vol. 60, 231). Dia menjelaskan bahwa kemajuan negara Dunia
Ketiga hanyalah akibat dari ekspansi ekonomi negara maju dengan
kapitalismenya. Jika terjadi sesuatu negatif di negara maju, maka negara

11
berkembang akan mendapat dampak negatifnya pula. Sedangkan jika hal
negatif terjadi di negara berkembang, maka belum tentu negara maju akan
menerima dampak tersebut. Sebuah hubungan yang tidak imbang. Artinya,
dampak positif dan negative berkembangnya pembangunan di negara maju akan
dapat membawa dampak pada negara.
Dos Santos menguraikan ada 3 bentuk ketergantungan:
1. Ketergantungan Kolonial
a. Terjadi penjajahan dari negara pusat ke negara pinggiran.
b. Kegiatan ekonominya adalah ekspor barang-barang yang dibutuhkan
negara pusat.
c. Hubungan penjajah-penduduk sekitar bersifat eksploitatif negara pusat.
d. Negara pusat menanamkan modalnya baik langsung maupun melalui
kerjasama dengan pengusaha lokal.
2. Ketergantungan Finansial-Industrial
a. Negara pinggiran merdeka tetapi kekuatan finansialnya masih dikuasai
oleh negara-negara pusat.
b. Ekspor masih berupa barang-barang yang dibutuhkan negara pusat.
c. Negara pusat menanamkan modalnya baik langsung maupun melalui
kerjasama dengan pengusaha lokal.
3. Ketergantungan Teknologis-Industrial
a. Bentuk ketergantungan baru.
b. Kegiatan ekonomi di negara pinggiran tidak lagi berupa ekspor bahan
mentah untuk negara pusat.
c. Perusahaan multinasional mulai menanamkan modalnya di negara
pinggiran dengan tujuan untuk kepentingan negara pinggiran.

D. Teori Neo-Klasik
Sebelum teori neo-klasik muncul, teori ketergantungan internasional sudah
mulai mendominasi. Namun teori ketergantungan memiliki dua kelemahan
yang pokok. Pertama, teori ini tidak menjelaskan secara rinci baik secara formal
maupun informal mengenai apa yang harus dilakukan oleh negara-negara

12
berkembang untuk menyokong pembangunan. Kedua, pengalaman ekonomi
negara-negara berkembang secara aktual diikuti dengan pengkampanyean
revolusi penasionalisasian industrinya yang akibantnya pemerintah akan
mengalami kegagalan pasar. Akibat kelemahan teori ketergantungan
internasional maka munculnya kontrarevolusi pasar bebas neoklasik pada
dekade 1980-an dan 1990-an.
Neo-klasik adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan beberapa
aliran pemikiran ilmu ekonomi yang mencoba menjabarkan pembentukan
harga, produksi, dan distribusi pendapatan melalui mekanisme permintaan dan
penawaran pada suatu pasar (Wikipedia, 2013). Teori neo-klasik sebenarnya
bukan merupakan teori baru yang muncul seperti teori klasik. Teori neo-klasik
muncul dan mengusulkan perubahan-perubahan pada teori klasik, sejak
diperkenalkannya ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia.
Sejarah Perkembangan Teori Neo-klasik. Ekonomi klasik, yang
dikembangkan pada abad 18 dan 19, termasuk teori nilai dan distribusi teori.
Nilai produk dianggap tergantung pada biaya yang terlibat dalam memproduksi
produk tersebut. Penjelasan tentang biaya ekonomi klasik adalah sekaligus
penjelasan tentang distribusi. Seorang tuan tanah menerima sewa, pekerja
menerima upah, dan seorang petani penyewa kapitalis menerima keuntungan
atas investasi mereka. Namun, beberapa ekonom secara bertahap mulai
menekankan nilai yang dirasakan dari suatu barang kepada konsumen. Mereka
mengajukan teori bahwa nilai suatu produk adalah untuk dijelaskan dengan
perbedaan utilitas (kegunaan) kepada konsumen. Langkah ketiga dari ekonomi
politik untuk ekonomi adalah pengenalan marginalisme dan dalil bahwa para
pelaku ekonomi membuat keputusan berdasarkan margin
Mazhab neo-klasik telah mengubah pandangan tentang ekonomi baik dalam
teori maupun dalam metodologinya. Teori nilai tidak lagi didasarkan pada nilai
tenaga kerja atau biaya produksi tetapi telah beralih pada kepuasan marjinal
(marginal utility). Pendekatan ini merupakan pendekatan yang baru dalam teori
ekonomi. Salah satu pendiri mazhab neoklasik yaitu Gossen, dia telah
memberikan sumbangan dalam pemikiran ekonomi yang kemudian disebut

13
sebagai Hukum Gossen I dan II. Hukum Gossen I menjelaskan hubungan
kuantitas barang yang dikonsumsi dan tingkat kepuasan yang diperoleh,
sedangkan Hukum Gossen II, bagaimana konsumen mengalokasikan
pendapatannya untuk berbagai jenis barang yang diperlukannya.
Teori ini lebih berdasarkan kepada kepuasan marginal daripada biaya
produksi maupun tenaga kerja. Selain itu permintaan dan penawaran dalam
pasar neo-klasik harus maksimal. Di dalam teori neo-klasik ini ada yang
namanya hak kepemilikan. Hak kepemilikan adalah hak memiliki,
menggunakan, menguasai kekuasaan. Terdapat dua teori dalam hak
kepemilikan, yaitu; (1) Teori Positivis, yaitu hak kepemilikan bersifat politik.
Jadi, hak kepemilikan ini bisa digugat. (2) Teori hak kepemilikan tidak statis,
yaitu hak kepemilikan yang bisa berubah sewaktu-waktu dan berkembang.
Di dalam teori ini juga terdapat eksternalisasi yaitu pihak ketiga atau pihak
luar yang tidak terlibat dalam suatu proses perekonomian tetapi mereka terkena
dampak dari proses tersebut. Jadi, pemerintah harus bisa melindungi pihak
ketiga atau eksternalisasi tersebut. Kemudian didalam teori neo-klasik juga
terdapat kegagalan pasar seperti pada teori klasik. Kegagalan pasar yang
dimaksud tersebut adalah barang publik. Bahwa dalam neo-klasik, pasar
terkadang tidak bisa menyediakan barang yang dibutuhkan sehingga menjadi
barang publik. Dalam neo klasik juga terdapat istilah monopoli dan oligopoli.
Pasar monopoli merupakan pasar yang mempunyai hanya satu barang atau
homogen dan banyak yang membutuhkan, produsen atau perusahaannya juga
hanya satu sehingga mereka bebas dalam mengatur segalanya dan tidak ada
pesaing. Sedangkan pasar oligopoli adalah pasar yang barangnya homogen,
sedangkan dalam pasar terdapat dua atau lebih perusahaan yang menjualnya.
Pendapat neo-klasik mengenai perkembangan ekonomi dapat diikhtisarkan
sebagai berikut:
1. Adanya akumulasi kapital merupakan faktor penting dalam perkembangan
ekonomi. Menurut neo-klasik, tingkat bunga dan tingkat pendapatan
menentukan tingginya tingkat tabungan. Pada suatu tingkat tertentu, tingkat
bunga menentukan tingginya tingkat investasi.

14
2. Perkembangan merupakan proses yang gradual. Perkembangan merupakan
proses yang bertahap dan berlangsung terus-menerus. Marshall yang
merupakan tokoh neo-klasik mengatakan bahwa dengan tidak mengurangi
pentingnya penemuan-penemuan itu, baik investasi maupun penggunaan
teknik baru itu juga merupakan proses yang gradual dan terus-menerus.
3. Perkembangan merupakan proses yang harmonis dan kumulatif. Proses
perkembangan meliputi semua faktor yang terlibat itu tumbuh bersama.
Sebagai contoh alat-alat produksi yang tersedia akan memiliki tingkat
produktivitas tinggi bila faktor sumber daya manusianya juga mendukung.
4. Aliran neo-klasik merasa optimis terhadap perkembangan. Aliran
sebelumnya (klasik) mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi terhambat
karena terbatasnya sumber daya alam, sedangkan aliran neo-klasik yakin
bahwa manusia mampu mengatasi keterbatasan tersebut.
5. Adanya aspek internasional dalam perkembangan tersebut. Dengan adanya
pasar yang luas, memungkinkan produksi sebesar-besarnya sehingga
produktivitas semakin meningkat.

E. Teori-Teori Baru
Dalam perkembangan literatur terakhir, muncul tiga teori baru, yaitu: teori
pertumbuhan baru (New Growth Theory), teori geografi ekonomi baru (New
Economic Geography), dan teori perdagangan baru (New Trade Theory).
1. Teori Pertumbuhan Baru (New Growth Theory)
Teori ini menunjukkan perkembangan industri secara bertahap dan
bersama-sama di semua negara berkembang. Padahal dalam kenyataannya,
industrialisasi sering kali berupa gelombang industrialisasi yang sangat
cepat, di mana industri menyebar secara berurutan dari negara satu ke
negara lain.
Teori pertumbuhan baru pada dasarnya merupakan teori pertumbuhan
endogen. Teori ini memberikan kerangka teoritis untuk menganalisis
pertumbuhan endogen karena menganggap pertumbuhan GNP lebih
ditentukan oleh sistem proses produksi dan bukan berasal dari luar sistem.

15
Berbeda dengan teori tradisional neoklasik yang menganggap pertumbuhan
GNP sebagai akibat dari keseimbangan jangka panjang. Tujuan utama dari
Teori Pertumbuhan Baru adalah untuk menjelaskan perbedaan tingkat
pertumbuhan antar negara maupun faktor-faktor yang memberi proporsi
lebih besar dalam pertumbuhan.
Persamaan teori endogen dapat dituliskan dengan Y=AK. Dalam
formulasi ini, A adalah faktor yang mempengaruhi teknologi, K adalah
modal fisik dan modal manusia. Perlu diperhatikan bahwa tidak ada hasil
yang menurun (diminishing returns) atas capital dalam formula tersebut.
Akibatnya kemungkinan yang bisa terjadi adalah investasi dalam modal
modal fisik dan manusia dapat menghasilkan penghematan eksternal dan
peningkatan produktifitas yang melebihi penghasilan yang cukup untuk
menutup diminishing returns.
Implikasi dari penekanan terhadap pentingnya tabungan dan investasi
pada modal oleh teori pertumbuhan baru adalah tidak ada kekuatan yang
menyamakan tingkat pertumbuhan antarnegara, serta tingkat pertumbuhan
nasional yang konstan dan tingkat teknologi. Konsekuensinya, bagi negara
yang miskin modal manusia dan fisik sulit untuk menyamai tingkat
pendapatan per kapita negara yang kaya kapital, walaupun memiliki tingkat
tabungan nasional yang sama besar.
Kritik terhadap teori pertumbuhan baru:
a. Kelemahan penting dari Teori Pertumbuhan Baru adalah bahwa teori ini
tetap tergantung pada sejumlah asumsi neoklasik yang sering tidak
cocok dengan perekonomian negara berkembang.
b. Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang sering terhambat
oleh inefisiensi yang timbul karena infrastruktur yang tidak bagus, tidak
memadainya struktur kelembagaan, serta pasar modal dan pasar barang
yang tidak sempurna.
c. Teori Pertumbuhan Baru mengabaikan faktor-faktor yang sangat
berpengaruh ini, penerapannya dalam studi pembangunan ekonomi

16
menjadi terbatas, terutama ketika melibatkan perbandingan antar
negara.
2. Teori Geografi Ekonomi Baru (New Economic Geography)
Teori geografi ekonomi baru ini menekankan pada pentingnya hasil
yang meningkat (increasing returns), skala ekonomis, dan persaingan yang
tidak sempurna. Ada tiga alasan mengapa para pakar ekonomi mulai
menaruh perhatian pada geografi ekonomi dan memasukkan dimensi ruang,
yaitu:
a. Lokasi kegiatan ekonomi suatu negara merupakan topik yang penting
b. Garis antara ilmu ekonomi internasional dengan ilmu ekonomi regional
menjadi semakin kabur
c. Alasan yang paling penting untuk melihat kembali geografi ekonomi
adalah laboratorium intelektual dan empiris yang disediakan
Walupun teori geografi ekonomi baru menawarkan wawasan yang
menarik mengenai kesenjangan geografis distribusi kegiatan ekonomi,
pendekatan ini memiliki beberapa kelemahan yang berarti. Suatu kajian
kritis atas munculnya kembali dimensi geografi dalam ilmu ekonomi
menyimpulkan bahwa teori geografi ekonomi baru bukanlah pendekatan
yang baru dalam ilmu ekonomi dan geografi, melainkan merupakan
penemuan kembali teori lokasi tradisional dan ilmu regional.
3. Teori Perdagangan Baru (New Trade Theory)
Teori perdagangan baru mulai muncul pada tahun 1970-an ketika
sejumlah ahli ekonomi menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan untuk
mencapai tingkat kekuatan ekonomi mempunyai implikasi penting untuk
perdagangan internasional. Teori perdagangan baru menyatakan bahwa sifat
dasar dan karakter transaksi internasional telah sangat berubah dewasa ini
di mana aliran barang, jasa, dan asset yang menembus batas wilayah
antarnegara tidak begitu dipahami oleh teori-teori perdagangan tradisional.
Kritik utama teori perdagangan baru terhadap teori perdagangan yang lama
terfokus pada asumsi persaingan sempurna dan pendapatan konstan,
menghabiskan waktu terlalu banyak data dan teori daripada berbagai isu

17
yang mempengaruhi ilmu ekonomi dan gagal dalam menelusuri sebab-
sebab proteksionis.
Para pendukung teori perdagangan baru berpendapat bahwa ukuran
pasar ditentukan secara fundamental oleh besar kecilnya angkatan kerja
pada suatu negara dan tenaga kerja pada dasarnya tidak mudah pindah lintas
negara. Mereka percaya bahwa penentu utama lokasi adalah derajat tingkat
pendapatan yang meningkat dari suatu pabrik, suatu substitusi antarproduk
yang berbeda, dan ukuran pasar domestik. Dengan berkurangnya hambatan-
hambatan secara substansial, diperkirakan bahwa hasil industri yang
meningkat akan terkonsentrasi pada pasar besar.
Meskipun memiliki daya tarik, teori perdagangan baru juga memiliki
beberapa kelemahan. Ada tiga kelemahan utama teori perdagangan baru:
a. Teori perdagangan baru menjelaskan perbedaan struktur produksi
melalui perbedaan karakteristik yang mendasari.
b. Teori ini tidak menjelaskan mengapa perusahaan-perusahaan dalam
sector tertentu cenderung untuk berlokasi saling berdekatan, yang
mendorong adanya spesialisasi regional.
c. Teori ini menunjukkan perkembangan industri secara bertahap dan
bersama-sama di semua negara berkembang. Padahal dalam
kenyataannya, industrialisasi sering kali berupa gelombang
industrialisasi yang sangat cepat, di mana industri menyebar secara
berurutan dari negara satu ke negara lain.

18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Menurut Todaro (1991;1994) teori utama pembangunan terdiri dari 5
macam teori yaitu;
1. Teori pertumbuhan linear ini adalah evolusi proses pembangunan yang
dialami oleh suatu negara selalu melalui tahapan-tahapan tertentu
(Mudrajad, 2003:47).
2. Teori perubahan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme
transformasi ekonomi yang dialami oleh negara sedang berkembang, yang
semula lebih bersifat subsisten dan menitikberatkan pada sektor pertanian
menuju ke struktur perekonomian yang lebih modern, dan sangat
didominasi oleh sektor industri dan jasa.
3. Teori Dependensi (ketergantungan) adalah keadaan dimana kehidupan
ekonomi negara–negara tertentu dipengaruhi oleh perkembangan dan
ekspansi dari kehidupan ekonomi negara–negara lain, di mana negara–
negara tertentu ini hanya berperan sebagai penerima akibat saja.
4. Teori neo-klasik muncul dan mengusulkan perubahan-perubahan pada teori
klasik, sejak diperkenalkannya ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia.
5. Dalam perkembangan literatur terakhir, muncul tiga teori baru, yaitu: teori
pertumbuhan baru (New Growth Theory), teori geografi ekonomi baru (New
Economic Geography), dan teori perdagangan baru (New Trade Theory).
B. Saran
Semoga apa yang telah kami sajikan tadi dapat diambil pelajarannya yang
kemudian diamalkan juga semoga berguna bagi kehidupan kita di masa yang
akan datang.

19
DAFTAR PUSTAKA

Irawan dan Suparmoko. 2002. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta: BPTE


Yogyakarta
Senis, Yotam. 2009. Teori-Teori Utama Pembangunan.
https://www.scribd.com/doc/21844724/Teori-Pembangunan-Pertumbuhan-
Linear-Auto-Saved. Diakses pada tanggal 17 September 2018.
Sukirno, Sadono. 1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, masalah dan dasar
kebijaksanaan. Jakarta: FE UI
Suryana. 2000. Ekonomi pembangunan problematika dan pendekatan. Jakarta:
Salemba Empat

20

Anda mungkin juga menyukai