Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM


DI RUANG SEDAP MALAM (RUANG ANAK) RSUD ULIN
BANJARMASIN

Tanggal 4 s/d 9 Juni 2012

Oleh :
SYAMSU RIZALI
NIM I1B108626

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS


KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT 2012
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN
KEJANG DEMAM DI RUANG SEDAP MALAM (RUANG
ANAK) RSUD ULIN BANJARMASIN

Tanggal 4 s/d 10 Juni 2012

Oleh :
SYAMSU RIZALI
NIM I1B108626

Banjarmasin, Juni 2012

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Devi Rahmayanti, S.Kep., Ners. Wiwik Winarsih, S.Kep., Ns.


NIP.19690228 198911 2 001
A. PENGERTIAN
Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 oC) yang disebabkan oleh proses
ekstrakranium.
Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang
mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat
sementara.
Kejang demam merupakan gannguan sementara yang terjadi pada anak-anak yang
ditandai dengan demam.

B. ETIOLOGI

Penyebab dari kejang demam di bagi menjadi 5, yaitu :


1. Demam itu sendiri
Demam yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media,
pneumonia, gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih, kejang tidak selalu timbul pada
suhu yang tinggi.
2. Efek produk toksik dari pada mikroorganisme
3. Respon alergik atau keadaan umum yang abnormal oleh infeksi.
4. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.
5. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan, yang tidak diketahui atau
enselofati toksik sepintas.

C. Pathofisiologi &Web of Caution

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel/organ otak diperlukan energi yang


didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yaitu glukosa sifat proses
ini adalah oksidasi dengan perantaraan fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui
sestem kardiovaskuler.
Dari uraian di atas, diketahui bahwa sumber energi otak adalah glukosa yang melalui
proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel yang dikelilingi oleh membran yang
terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan
normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K +) dan sangat
sulit oleh natrium (Na+) dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya
konentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan ion Na + rendah, sedang di luar sel neuron
terdapat keadaan sebaliknya. Karena keadaan tersebut, maka terjadi perbedaan potensial
membran yang disebut potesial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan
potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na - K Atp – ase yang
terdapat pada permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh perubahan konsentrasi ion
di ruang ekstraseluler. Rangsangan yang datangnya mendadak seperti mekanis, kimiawi
atau aliran listrik dari sekitarnya dan perubahan patofisiologi dan membran sendiri karena
penyakit atau keturunan.
Pada demam, kenaikan suhu 1o C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal
10 - 15 % dan kebutuhan O2 meningkat 20 %.
Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh
dibandingkan dengan orang dewasa (hanya 15%) oleh karena itu, kenaikan suhu tubuh
dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi
difusi dari ion kalium dan natrium melalui membran listrik. Ini demikian besarnya
sehingga meluas dengan seluruh sel dan membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan
yang tersebut ”neurotransmitter” dan terjadi kejang.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang dapat terjadi pada suhu 38 o C

dan anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40 o C atau lebih,
kejang yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai apnea. Meningkatnya
kebutuhan O2 dan untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia,
hiperkapnia, denyut jantung yang tidak teratur dan makin meningkatnya suhu tubuh
karena tingginya aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otek
meningkat. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan
hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul oedema otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.

PATHWAY ANAK KEJANG DEMAM

Infeksi bakteri Rangsang mekanik dan biokimia


Virus dan parasit gangguan keseimbangan cairan & elektrolit

Reaksi inflamasi perubahan konsentrasi ion


di ruang ekstraseluler
Proses demam
Ketidakseimbangan kelainan neurologis
Hipertermi potensial membran perinatal/prenatal
Sel neuron

Resiko Kejang Berulang neurotransmitter

difusi Na+ dan K+


Perubahan status
Aktifitas otot Metabolisme
kesehatan, krisis Kejang
meningkat meningkat
situasional dan hospitalisasi

kurang dari lebih dari 15 menit Hipertermi


Tidak familier dengan 15 menit
Sumber informasi perubahan suplay
Tidak menimbulkan Darah ke otak
Defisiensi Pengetahuan gejala sisa
Hipoksia jaringan

Cemas Resiko Cedera

D. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala terjadinya bangkitan kejang demam pada bayi dan anak
kebanyakan bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang
disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat misalnya tosilitis, bronchitis dan lain-
lain.

Ada 2 bentuk kejang demam, yaitu :


1. Kejang demam sementara
a. Umur antara 6 bulan – 4 tahun
b. Lama kejang lebih dari 15 menit
c. Kejang bersifat umum
d. Kejang terjadi dalam waktu 16 jam setelah timbulnya demam
e. Tidak ada kelainan neurologis, baik klinis maupun laboratorium
f. Eeg normal 1 minggu setelah bangkitan kejang

2. Kejang demam komplikata


a. Kejang lama > 15 menit
b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial
c. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

E. KOMPLIKASI

1. Kejang berulang
2. Epilepsi
3. Hemiparese
4. Gangguan mental dan belajar

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Darah
Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang demam
2. Elektrolit : K, Na
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi
kejang Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )
3. Cairan Cerebo Spinal : Mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda infeksi,
pendarahan penyebab kejang.
4. Skull Ray : Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi
5. Tansiluminasi : Suatu cara yang dikerjakan pada bayi dengan UUB masih terbuka (di
bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus untuk transiluminasi kepala.
6. EEG : Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh
untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal.
7. CT Scan : Untuk mengidentifikasi lesi cerebral infaik hematoma, cerebral oedem,
trauma, abses, tumor dengan atau tanpa kontras.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS

1. Pemberian diazepam
a. dosis awal : 0,3 – 0,5 mg/ kg bb/ dosis iv (perlahan)
b. bila kejang belum berhenti dapat diulang dengan dosis ulangan setelah 20 menit.
2. Turunkan demam
a. anti piretik : para setamol atau salisilat 10 mg/ kg bb/ dosis
b. kompres air biasa
3. Penanganan suportif
a. bebaskan jalan nafas
b. beri zat asam

H. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan kejang demam


1. Riwayat Keperawatan
a. Adanya riwayat kejang demam pada pasien dan keluarga
b. Adanya riwayat infeksi seperti saluran pernafasan atis, OMA, pneumonia,
gastroenteriks, Faringiks, brontrope, umoria, morbilivarisela dan campak.
c. Adanya riwayat peningkatan suhu tubuh
d. Adanya riwayat trauma kepala
2. Pengkajian fisik
a. Adanya peningkatan : suhu tubuh, nadi, dan pernafasan, kulit teraba hangat
b. Ditemukan adanya anoreksia, mual, muntah dan penurunan berat badan
c. Adanya kelemahan dan keletihan
d. Adanya kejang
e. Pada pemeriksaan laboratorium darah ditemukan adanya peningkatan kalium,
jumlah cairan cerebrospiral meningkat dan berwarna kuning
3. Riwayat Psikososial atau Perkembangan
a. Tingkat perkembangan anak terganggu
b. Adanya kekerasan penggunaan obat – obatan seperti obat penurun panas
c. Pengalaman tantang perawatan sesudah/ sebelum mengenai anaknya pada waktu
sakit.
4. Pengetahuan keluarga
a. Tingkatkan pengetahuan keluarga yang kurang
b. Keluarga kurang mengetahui tanda dan gejala kejang demam
c. Ketidakmampuan keluarga dalam mengontrol suhu tubuh
d. Keterbatasan menerima keadaan penyakitnya

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Hipertermi b.d, peningkatan laju metabolik (00007)


2. Risiko Cedera dengan faktor resiko hipoksia jaringan (00035)
3. Ansietas (orang tua, anak) b.d. ancaman perubahan status kesehatan, krisis situasional
(00146)
4. Defisiensi pengetahuan berhubungan tidak familier dengan sumber informasi (00126)
J. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa
No Tujuan Intervensi
Keperawatan
1. Hipertermi Setelah dilakukan tindakan perawatan NIC
b.d, selama … X 24 jam suhu badan pasien Mengatur Demam (3900)
peningkatan normal, dengan kriteria : 1. Monitor suhu sesuai kebutuhan
laju 2. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
metabolik NOC 3. Monitor suhu dan warna kulit
(00007) Termoregulasi (0800) 4. Monitor dan laporkan tanda dan gejala hipertermi
a. Suhu kulit dalam rentan yang 5. Anjurkan intake cairan dan nutrisi yang adekuat
diharapkan 6. Ajarkan klien bagaimana mencegah panas yang tinggi
b. Suhu tubuh dalam batas normal 7. Berikan antipiretik sesuai advis dokter
c. Tidak ada sakit kepala
d. Tidak ada nyeri otot Mengobati Demam (3740)
e. Tidak ada perubahan warna kulit 1. Monitor suhu sesuai kebutuhan
f. Nadi, respirasi dalam batas 2. Monitor suhu dan warna kulit
normal 3. Monitor tekanan darah, nadi dan respirasi
g. Hidrasi adekuate 4. Monitor derajat penurunan kesadaran
h. Pasien menyatakan nyaman 5. Monitor kemampuan aktivitas
i. Tidak menggigil 6. Monitor intake dan output
j. Tidak iritabel / kejang 7. Dorong peningkatan intake cairan
8. Berikan cairan intravena
Indikator Skala : 9. Tingkatkan sirkulasi udara dengan kipas angin
1. : ekstrem 10. Dorong atau lakukan oral hygiene
2 : berat 11. Berikan obat antipiretik untuk mencegah klien menggigil kejang
3 : sedang 12. Berikan obat antibiotic untuk mengobati penyebab demam
4 : ringan 13. Berikan oksigen
5 : tidak ada gangguan 14. Kompres hangat diselangkangan, dahi dan aksila.
15. Anjurkan klien untuk tidak memakai selimut
16. Anjurkan klien memakai baju berbahan dingin, tipis dan menyerap keringat
Diagnosa
No Tujuan Intervensi
Keperawatan
Manajemen Lingkungan (6480)
1. Berikan ruangan sendiri sesuai indikasi
2. Berikan tempat tidur dan kain / linen yang bersih dan nyaman
3. Batasi pengunjung

2 Risiko Cedera Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC


dengan faktor selama … X 24 jam tidak terjadi cidera, Manajemen Lingkungan
resiko dengan Kriteria : 1. Diskusikan tentang upaya-upaya mencegah cedera, seperti lingkungan yang aman untuk klien,
hipoksia menghindarkan lingkungan yang berbahaya
jaringan NOC 2. Memasang pengaman tempat tidur
(00035) Kontrol Resiko (00035) 3. Memberikan penerangan yang cukup
a. Mengakui adanya risiko 4. Menganjurkan keluarga untuk menemani klien
b. Monitor faktor risiko lingkungan
c. Mengembangkan strategi kontrol Manajemen kejang
risiko yang efektif. 1. Tunjukkan gerakan yang dapat mencegah injury.
d. Menghindari eksposur yang 2. Monitor hubungan antara kepala dan mata selama kejang.
mengancam kese-hatan. 3. Longgarkan pakaian klien
e. Mengenali perubahan status 4. Temani klien selama kejang
kesehatan
Pencegahan kejang
Indikator Skala : 1. Sediakan tempat tidur yang bisa diatur rendah-tinggi, bila perlu.
1 = tidak adekuat 2. Instruksikan keluarga / orang terdekat untuk melaporkan medikasi dan aktivitas kejang yang
2 = sedikit adekuat terjadi.
3 = kadang-kadan adekuat 3. Ajarkan pada klien tentang medikasi dan efek sampingnya.
4 = adekuat 4. Monitor tingkat obat antiepilepsi, bila perlu
5 = sangat adekuat 5. Sediakan suction, ambubag, nasopharyngeal airway disamping tempat tidur.
6. Pasang side rail tempat tidur.
7. Ajarkan orang tua untuk mengenali faktor pemicu.
Diagnosa
No Tujuan Intervensi
Keperawatan
3 Ansietas Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC
(orang tua, selama … X 24 jam kecemasan orang Menurunkan Cemas
anak) b.d. tua berkurang / hilang, dengan criteria : 1. Gunakan pendekatan dengan konsep atraumatik care
ancaman 2. Jangan memberikan jaminan tentang prognosis penyakit
perubahan NOC 3. Jelaskan semua prosedur dan dengarkan keluhan klien/keluarga
status kese- Mengotrol cemas 4. Pahami harapan pasien/keluarga dalam situasi stres
hatan, krisis a. Klien/keluarga mampu 5. Temani pasien/keluarga untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut
situasional mengidentifikasi dan 6. Bersama tim kesehatan, berikan informasi mengenai diagnosis, tindakan prognosis
(00146) mengungkapkan gejala cemas. 7. Anjurkan keluarga untuk menemani anak dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
b. Mengidentifikasi, mengungkapkan, 8. Lakukan massage pada leher dan punggung, bila perlu
dan menunjukkan teknik untuk 9. Bantu pasien mengenal penyebab kecemasan
mengontrol cemas 10. Dorong pasien/keluarga untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi tentang
c. Vital sign (TD, nadi, respirasi) penyakit
dalam batas normal
d. Postur tubuh, ekspresi wajah,
bahasa tubuh, dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya
kecemasan.
e. Menunjukkan peningkatan
konsentrasi dan akurasi dalam
berpikir

Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
Diagnosa
No Tujuan Intervensi
Keperawatan
4 Defisiensi Setelah dilakukan tindakan NIC
pengetahuan keperawatan selama … X 24 jam Teaching : Diease process
berhubungan keluarga mengerti tentang kondisi 1. Berikan penilaian tentang penyakit pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik
tidak familier pasien, dengan criteria hasil 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi
dengan fisiologi dengan cara yang tepat
sumber NOC 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat
informasi Knowledge : Diease proses (1803) 4. Identifikasikan kemungkinan dengan cara yang tepat
(00126) a. Keluarga menyatakan pemahaman
tentang penyakit kondisi prognosis
dan program pengobatan
b. Keluarga mampu menjelaskan faktor
resiko penyakit anak
c. Keluarga mampu menjelaskan tanda
dan gejala penyakit anak
d. Keluarga mampu melaksanakan
prosedur yang dijelaskan secara
benar
e. Keluarga mampu menjelaskan
kembali apa yang dijelaskan
perawat/ tim kesehatan lainya

Indikator skala :
1. Tidak pernah dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Selalu dilakukan
DAFTAR PUSTAKA

1. Wong. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Volume 2. Jakarta: EGC, 2002.


2. Sachann, M Rossa. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC.
3. Suriadi, dkk 2001. Askep Pada Anak. Jakarta. Pt Fajar Interpratama.
4. Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit, ed 2. Jakarta: EGC.
5. NANDA International. Nanda International: Nursing Diagnoses 2009-2011. USA:
Willey Blackwell Publicaton, 2009.
6. Moorhead, Sue, Meridean Maas, Marion Johnson. Nursing Outcomes Classification
(NOC) Fourth Edition. USA: Mosby Elsevier, 2008.
7. Bulechek, Gloria M, Joanne C. McCloskey. Nursing Intervetion Classification(NIC) Fifth
Edition. USA: Mosby Elsevier, 2008.

Anda mungkin juga menyukai