Anda di halaman 1dari 36

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn.

C
DENGAN MASALAH KEPERAWATAN PK (PERILAKU KEKERASAN)
DI WISMA PUNTADEWA RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG

Disusun Guna Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Jiwa


Pada Semester VI

Disusun Oleh :

Heni Wiji Utami (A01301759)


Heri Siswanto (A01301761)
Herlina Endah Kurniasih (A01301762)
Herlina Yulianti Kulsum (A01301763)
Ikhlas Arif Muktamar (A01301767)
Khikmah Yuniati (A01301778)
Jehan Pristya (A01301775)
Kamal Yudhistira (A01301777)
Kuni Sangadati (A01301780)
Leni Oktaviani (A01301781)
Krisna Surya S. (A01301779)
Miftahurohman (A01301786)
Heni Septiningsih (A01301758)
Ludi Nur Kurniawan (A01301784)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
2016
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn. C


DENGAN MASALAH KEPERAWATAN PK (PERILAKU KEKERASAN)
DI WISMA PUNTADEWA RSJ PROF. DR. SOEROJO MAGELANG

Telah Disyahkan
Pada Tanggal:

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

( ) ( )
BAB I
TINJAUAN TEORI

1. Pengertian
Menurut Fitria (2009) perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana
seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik
terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik pada diri sendiri
maupun orang lain (Kusumawati dan Hartono, 2010 dalam Nurul, 2012).
Menurut Yoseph (2007) perilaku kekerasan adalah adalah suatu keadaan
dimana seseorang melakukan tindakan yang membahayakan secara fisik baik
kepada diri sendiri maupun orang lain. Ancaman atau kebutuhan yang tidak
terpenuhi menyebabkan seseorang stress berat, membuat orang marah bahkan
kehilangna control kesadaran diri, missal memaki-maki orang di sekitarnya,
membanting-banting barang, mencederai diri dan orang lain, bahkan
membakar rumah.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa resiko perilaku
kekerasan adalah suatu kondisi dimana seseorang pernah mempunyai riwayat
perilaku kekerasan sebelumnya, tetapi kondisi saat ini sedang tenang,
walaupun tanda dan gejala masih ada.

2. Faktor Predisposisi dan Presipitasi


a. Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku
kekerasan menurut teori biologik, teori psikologi, dan teori sosiokultural
(Purba dkk, 2008) adalah:
1.) Teori Biologik
Teori biologik terdiri dari beberapa pandangan yang berpengaruh
terhadap perilaku:
a.) Neurobiologik
Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses
impuls agresif: sistem limbik, lobus frontal dan hypothalamus.
Neurotransmitter juga mempunyai peranan dalam memfasilitasi
atau menghambat proses impuls agresif. Sistem limbik merupakan
sistem informasi, ekspresi, perilaku, dan memori. Apabila ada
gangguan pada sistem ini maka akan meningkatkan atau
menurunkan potensial perilaku kekerasan. Adanya gangguan pada
lobus frontal maka individu tidak mampu membuat keputusan,
kerusakan pada penilaian, perilaku tidak sesuai, dan agresif.
Beragam komponen dari sistem neurologis mempunyai implikasi
memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem limbik
terlambat dalam menstimulasi timbulnya perilaku agresif. Pusat
otak atas secara konstan berinteraksi dengan pusat agresif.
b.) Biokimia
Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinefrine, dopamine,
asetikolin, dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi atau
menghambat impuls agresif. Teori ini sangat konsisten dengan
fight atau flight yang dikenalkan oleh Selye dalam teorinya tentang
respons terhadap stress.
c.) Genetik
Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara
perilaku agresif dengan genetik karyotype XYY.
d.) Gangguan Otak
Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi
perilaku agresif dan tindak kekerasan. Tumor otak, khususnya yang
menyerang sistem limbik dan lobus temporal; trauma otak,
yang menimbulkan perubahan serebral; dan penyakit seperti
ensefalitis, dan epilepsi, khususnya lobus temporal, terbukti
berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.
2.) Teori Psikologik
a.) Teori Psikoanalitik
Teori ini menjelaskan tidak terpenuhinya kebutuhan untuk
mendapatkan kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak
berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah. Agresi dan
tindak kekerasan memberikan kekuatan dan prestise yang dapat
meningkatkan citra diri dan memberikan arti dalam kehidupannya.
Perilaku agresif dan perilaku kekerasan merupakan pengungkapan
secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaan dan rendahnya
harga diri.
b.) Teori Pembelajaran
Anak belajar melalui perilaku meniru dari contoh peran
mereka, biasanya orang tua mereka sendiri. Contoh peran tersebut
ditiru karena dipersepsikan sebagai prestise atau berpengaruh, atau
jika perilaku tersebut diikuti dengan pujian yang positif. Anak
memiliki persepsi ideal tentang orang tua mereka selama tahap
perkembangan awal. Namun, dengan perkembangan yang
dialaminya, mereka mulai meniru pola perilaku guru, teman, dan
orang lain. Individu yang dianiaya ketika masih kanak-kanak atau
mempunyai orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan
hukuman fisik akan cenderung untuk berperilaku kekerasan setelah
dewasa.
c.) Teori Sosiokultural
Pakar sosiolog lebih menekankan pengaruh faktor budaya dan
struktur sosial terhadap perilaku agresif. Ada kelompok sosial yang
secara umum menerima perilaku kekerasan sebagai cara untuk
menyelesaikan masalahnya. Masyarakat juga berpengaruh pada
perilaku tindak kekerasan, apabila individu menyadari bahwa
kebutuhan dan keinginan mereka tidak dapat terpenuhi secara
konstruktif. Penduduk yang ramai /padat dan lingkungan yang
ribut dapat berisiko untuk perilaku kekerasan. Adanya keterbatasan
sosial dapat menimbulkan kekerasan dalam hidup individu.
b. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali
berkaitan dengan (Yosep, 2007):
1.) Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol
solidaritas seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng
sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.
2.) Ekspresi iari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial
ekonomi.
3.) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta
tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung
melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
4.) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan
ketidakmampuan dirinya sebagai seorang yang dewasa.
5.) Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan
alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat
menghadapi rasa frustasi.
6.) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan
keluarga.
3. Manifestasi Klinik
Menurut Yoseph ( 2007) manifestasi klinik dari resiko perilaku kekerasan
yaitu:
a. Data subjektif
1.) Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
2.) Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal atau marah.
3.) Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
b. Data objektif
1.) Mata merah, wajah agak merah.
2.) Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit,
memukul diri sendiri/orang lain.
3.) Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
4.) Merusak dan melempar barang-barang.

4. Psikopatologi
Menurut Yoseph (2007) psikopatologi dari resiko perilaku kekerasan yaitu
mengemukakan bahwa stress, cemas dan merah merupakan bagian kehidupan
sehari-hari yang harus dihadapi oleh setiap individu. Stress dapat
menyebabkan kecamasan yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan
dan terancam. Kecemasan dapat menimbulkan kemarahan yang mengarah
pada perilaku kekerasan. Respon terhadap marah dapat diekspresikan secara
eksternal maupun internal. Secara eksternal dapat barupa perilak kekerasan
sedangkan secara internal dapat berupa perilaku depresi dan penyakit fisik.
Mengekspresiakan marah dengan perilaku konstruktif dengan menggunakan
kata- kata yang dapat dimengerti dan diterima tanpa menyakiti orang lain,
akan memberi perasaan lega, menurunkan ketegangan, sehingga perasaan
marah dapat diatasi.

5. Pohon Masalah
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan Effect

Perilaku kekerasan Core problem

Halusinasi

Menarik diri Harga diri rendah Causa

Mekanisme koping tidak efektif

(Yoseph, 2007)
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan gangguan jiwa dengan dengan perilaku kekerasan
(Yosep, 2010) adalah sebagai berikut:
a. Medis
1) Nozinan, yaitu sebagai pengontrol prilaku psikososia.
2) Halloperidol, yaitu mengontrol psikosis dan prilaku merusak diri.
3) Thrihexiphenidil, yaitu mengontro perilaku merusak diri dan
menenangkan hiperaktivitas.
4) ECT (Elektro Convulsive Therapy), yaitu menenangkan klien bila
mengarah pada keadaan amuk.
b. Penatalaksanaan Keperawatan
1) Psikoterapeutik
2) Lingkungan terapieutik
3) Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
4) Pendidikan kesehatan

7. Diagnosis Keperawatan Utama


Perilaku kekerasan
8. Fokus Intervensi
Diagnosa Perencanaan
keperawatan Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
Perilaku TUM: Klien dapat me
kekerasan ngontrol perilaku
(PK) kekerasan
TUK: 1. Klien menunjukkan tanda- tanda 1. Bina hubungan percaya dngan klien
1. Klien dapat percaya kepada perawat:
membina hubungan a. Wajah cerah, tersenyum
saling percaya b. Mau berkenalan
c. Ada kontak mata
d. Bersedia menceritakan perasaan
2. Klien dapat Klien mampu menceritakan penyebab Bantu klien mengungkapkan perasaan marahnya:
mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukannya: a. Motivasi klien untuk menceritakan
penyebab perilaku a. Menceritakan penyebab perasaan pnyebab rasa kesal atau jengkelnya
kekerasan yang jengel/ kesal baik dari diri b. Dengarkan tanpa menyela atau memberi
dilakukannya. sendiri maupun lingkungan penilaian setiap ungkapan perasaan klien

3. Klien dapat Klien mampu menceritakan tanda-tanda


Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku
mengidentifikasi saat terjadi perilaku kekerasan kekerasan yang dialaminya :
tanda-tanda perilaku - Tanda fisik : mata merah, - Motivasi klien menceritakan
kekerasan tangan mengepal, ekspresi kondisi fisik (tanda-tanda fisik)
tegang, dan lain-lain - Motivasi klien menceritakan
- - Tanda emosional : perasaan kondisi emosinya (tanda-tanda
marah, jengkel, bicara kasar emosional) saat terjadi perilaku
- Tanda sosial : bermusuhan kekerasan
yang dialami saat terjadi - Motivasi klien menceritakan
perilaku kekerasan kondisi hubungan dengan orang
lain (tanda-tanda sosial) saat terjadi
perilaku kekerasan
4. Mengidentifikasi - Jenis – jenis ekspresi Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang
jenis perilaku kemarahan yang selama dilakukannya selama ini :
kekerasan yang ini telah dilakukannya - Motivasi klien menceritakan
pernah - Perasaannya saat jenis-jenis tindak kekerasan
dilakukannya melakukan kekerasan yang selama ini pernah
- Efektivitas cara yang dilakukannya
dipakai dalam - Motivasi klien menceritakan
menyelesaikan masalah perasaan klien setelah tindak
kekerasan tersebut terjadi
- Diskusikan apakah dengan
tindak kekerasan yang
dilakukannya masalah yang
dialami teratasi
5. Klien dapat Klien mampu menjelaskan akibat tindak Diskusikan dengan klien akibat negatif (kerugian)
mengidentifikasi kekerasan yang dilakukannya cara yang dilakukan pada :
akibat perilaku - Diri sendiri : luka,dijauhi - Diri sendiri
kekerasan teman,dll - Orang lain/keluarga
- Orang lain/keluarga : luka, - Lingkungan
tersinggung, ketakutan, dll
- Lingkungan : barang atau benda
rusak dll
6. Klien dapat Klien mampu menjelaskan cara-cara Diskusikan dengan klien :
mengidentifikasi sehat mengungkapkan marah - Apakah klien mampu mempelajari cara
cara konstruktif baru mengungkapkan marah yang sehat
dalam - Jelaskan berbagai alternatif pilihan untuk
mengungkapkan mengungkapkan marah selain perilaku
kemarahan kekerasan yang diketahui klien
- Jelaskan cara-cara sehat untuk
mengungkapkan marah :
a. Cara fisik : nafas dalam, pukul
bantal atau kasur, olah raga
b. Verbal : mengungkapkan bahwa
dirinya sedang kesal kepada
orang lain
c. Sosial : latihan asertif dengan
orang lain
d. Spiritual :
sembahyang/doa,dzikir, meditasi,
dsb

7. Klien dapat Klien mampu memperagakan cara - Diskusikan cara yang mungkin dipilih dan
mendemonstrasikan mengontrol perilaku kekerasan: anjurkan klien memilih cara yang mungkin
cara mengontrol a. Fisik : tarik nafas untuk memngungkapkan kemarahan
perilaku kekerasan dalam,memukul kasur - Latih kalien memperagakan cara yang dipilih,
bantal/kasur a. Peragakan cara melaksanakan cra yang
b. Verbal; mengungkapkan dipilih
perasaan jengkel kpada b. Jelaskan manfaat cara tersebut
seseorang tanpa menyakiti c. Anjurkan klien menirukan peragaan yang
orang lain. sudah dilakukan.
c. Spiritual; zikir/doa, meditasi d. Beri penguatan pada klien,perbaiki cara
sesuai agamanya yang masih belum sempurna
- Anjurkan klien menggunakan cara yang sudah
dilatih saat marah/jengkel.
8. Klien mendapatkan kelurga mampu: a. Diskusikan pentingnya peran serta keluarga
dukungan kelurga - Menjelaskan cara merawat klien sebagai pendukung klien untuk mengatasi
untuk mengontrol dengan perilaku kekerasan perilaku kekerasan
perilaku kekerasan - Mengungkapkan rasa puas b. Diskusikan potensi keluarga untuk
dalam merawat klien membantu klien untuk mengatasi perilaku
kekerasan
c. Jelaskan pengertian,penyebab,akibat dan
cara merawat klien perilaku kekerasan yang
dapat dilaksanakan oleh keluarga.
d. Peragakan cara merawat klien (menangani
perilaku kekerasan
e. Beri kesempatan keluarga untuk
memperagakan ulang
f. Beri pujian kepada kelurga setelah peragaan
g. anyakan perasaan keluarga setelah mencoba
cara yang dilatihkan.
a. Jelaskan manfaat menggunakan obat secara
teratur dan kerugian jika tidak menggunakan
obat
b. Jelaskan kepada klien:
- Jenis obat (nama,warna dan bentuk
obat)
- Dosis yang tepat untuk klien
- Waktu pemakaian
- Cara pemakaian
- Efek yang akan dirasakan klien
c. Anjurkan klien:
- Minta dan menggunakan obat tepat
waktu
- Lapor ke perawat/dokter jika mengalami
efek yang tidak biasa
- Beri pujian terhadap kedisplinan klien
menggunakan obat.
9. Daftar Pustaka
Fitria, Nita. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan
Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP
dan SP) untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat bagi S-1
Keperawatan. Jakarta: Salemba

Nurul, Anissya. 2012. Asuhan Keperawatan Pada Ny. S dengan Gangguan


Perilaku Kekerasan di Ruang Shinta Rumah Sakit Jiwa Daerah
Surakarta.Karya Tulis Ilmiah Diploma III Keperawatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta

Yosep, I., 2009, Keperawatan Jiwa, Bandung : Refika Aditama


BAB II
TINJAUAN KASUS

Tanggal masuk RS : 27 April 2016


Bangsal dirawat : Wisma Puntadewa
No.RM : 0941
Tanggal pengkajian : 28 April 2016
Sumber data : Pasien, Status RM, Perawat

I. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
Identitas Pasien
1. Nama :Tn. C
2. Umur : 36 tahun
3. Jenis kelamin : laki- laki
4. Alamt : Magelang
5. Pekerjaan : Swasta
6. Pendidikan : SD
7. Diagnosa Medis : F20.0 (Skizofrenia paranoid))
Identitas Penanggung Jawab
1. Nama : Ny. M
2. Umur : 57 tahun
3. Alamat : Magelang
4. Pekerjaan : Buruh
5. Hubungan : Ibu kandung klien

B. ALASAN MASUK
Klien mengatakan di bawa ke RSJ Magelang karena ngamuk, marah-
marah, hingga memukul orang disekitarnya.
C. FAKTOR PREDISPOSISI DAN PRESIPITASI
1. Faktor Predisposi
Klien mengatakan pernah mengalami gangguan jiwa sejak umur
14 tahun dan sudah dibawa ke RSJ Magelang lebih dari 5x, akan
tetapi pengobatan kurang berhasil. Tiga tahun yang lalu klien pernah
dirawat di RSJ Magelang
Klien mengatakan tidak pernah mengalami, melakukan dan
menyaksikan penganiayaan seksual, penolakan dari lingkungan,
kekerasan dalam keluarga. Akan tetapi, klien mengatakan pernah
melakukan kekerasan fisik (memukuli) orang lain di sekitarnya.
Masalah keperawatan: Resiko perilaku kekerasan
Klien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang mengalami
penyakit seperti klien. Klien pernah ditinggal menikah oleh pacarnya.
Masalah keperawatan: Koping in efektif
2. Faktor Presipitasi
Klien mengatakan sering kambuh karena klien tidak mau minum
obat (putus obat) sejak dua minggu yang lalu dan akhirnya klien
marah- marah.

D. FISIK
1. Kesadaran : compos mentis
2. Tanda- tanda vital
TD : 150/ 70 mmHg RR: 20x/ menit
Nadi: 84 x/ menit S : 36,5 ºC
3. Ukur
BB: 67 kg TB: 172 x/ menit
4. Pemeriksaan Fisik
Kepala : mesochpal, rambut agak panjang
Telinga : tidak ada selumen, simetris
Mata : konjungtiva ananemis, mata merah, melotot
Hidung : bersih, tidak ada kotoran
Leher : tidak peningkatan JVP
Dada
Paru- paru: I : simetris
Pa: vokal vremitus seimbang
Pe: sonor
A : vesikuler
Jantung: I : ictus cordis tidak tampak
Pa: ictus cordis teraba di intercosta IV
Pe: pekak
A : S1, S2 reguler
Abdomen: I : simetris
Pa: tidak ada nyeri tekan
Pe: timpani
A : bising usus 10 x/ menit
Kulit : lembab
Genital : tidak ada keluhan saat BAK
Ekstermitas: kekuatan otot 5, kuku pendek
Keluhan fisik: tidak ada

E. PSIKOSOSIAL
1. Genogram

Keterangan:
: laki- laki : menikah
: perempuan / : meninggal
: klien : tinggal serumah
Klien mengatakan dalam keluarga yang mengambil keputusan adalah
ibu klien. Komunikasi yang diterapkan antara orang tua dan anak bersifat
dua arah, dimana antara orang tua dan anak berhak menyampaikan
pendapat, pikiran, nasehat dan informasi. Sedangkan komunikasi anak
dengan anak yang lain baik, dimana anak yang lebih tua berperan sebai
pendamping pada anak yang lebih muda.
Masalah keperawatan:-
2. Konsep Diri
a. Gambaran Diri : klien mengatakan menerima bentuk dan fungsi
tubuhnya, klien mngatakan tubuhnya tidak ada yang cacat.
b. Identitas diri : klien sebagai seorang laki- laki yang belum menikah.
Klien berpenampilan sesuai dengan identitasnya sebagai seorang lalki-
laki.
c. Peran : Klien berperan sebagai anak dan klien merasa belum bisa
membantu ibunya di rumah, karena klien harus dirawat di RSJ. Klien
mengatakan malu dan minder karena klien sudah dewasa belum
menikah dan tidak bekerja.
d. Ideal diri : Klien berharap agar cepat sembuh dari penyakitnya dan
berharap agar bisa menikah.
e. Harga diri : Klien mengatakan malu dan minder, karena klien sudah
usia dewasa belum menikah dan tidak bekerja.
3. Hubungan Sosial
Klien mengatakan jika ada masalah sering dipendam sendiri, tidak
ngobrol dengan orang terdekat. Sedangkan di RSJ, klien jarang ngobrol
dengan teman- temannya, klien lebih banyak menyendiri dan diam. Klien
mengatakan dirumah tidak mengikuti kegiatan di masyarakat, sedangkan
di RSJ klien mengikuti TAK yang dilakukan oleh perawat maupun oleh
mahasiswa.
4. Spiritual
Klien mengatakan sakitnya seperti suatu balasan dosanya. Klien
mengatakan jarang sholat dan tidak puasa.
F. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Penampilan klien tampak rapi, penggunaan pakaian sesuai.
2. Pembicaraan
Saat diajak bicara klien mau menjawab, kontak mata mudah beralih,
bicaranya klien cepat.
3. Aktivitas Motorik
Klien tampak tegang dan gelisah saat ngobrol dengan perawat.
4. Alam Perasaan
Klien mengatakan marah dan kecewa karena ditinggal menikah oleh
pacarnya dan dimintai pulsa terus menerus oleh pacarnya beberapa tahun
yang lalu.
5. Afek
Afek klien labil.
6. Interaksi Selama Wawancara
Saat berinteraksi klien kooperatif, kontak mata mudah beralih,
bicaranya klien cepat.
7. Persepsi
Saat dikaji klien tidak mengalami gangguan persepsi sensori.
8. Proses Pikir
Proses berpikir klien sirkumtansial, saat diajak bicara klien menjawab
pertanyaan dengan muter-muter akan tetapi, mengarah ke tujuan
pembicaraan.
9. Isi Pikir
Isi pikir klien terobsesi karena ingin menikah dengan pacarnya.
10. Tingkat Kesadaran
Klien mengatakan bingung karena memikirkan masa lalu yang
mengecewakan.
11. Memori
a. Klien mengalami gangguan daya ingat jangka panjang, ditandai
dengan “klien mengatakan lupa dengan tempat pertama kali bertemu
dengan pacarnya”.
b. Klien tidak mengalami gangguan daya ingat jangka pandek, ditandai
dengan “klien mengatakan dibawa ke RSJ karena marah-marah ,
ngamuk dan menendang salon”.
c. Klien tidak mengalami gangguan daya ingat saat ini, ditandai dengan
“klien mengatakan sudah sarapan pagi, bersih-bersih ruangan, senam
dan jalan pagi disekitar wisma”.
12. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung
Konsentrasi klien mudah beralih, perhatian klien mudah berganti dari
objek satu ke objek lainnya. Klien mampu berhitung dan mampu
menjawab pertanyaan dengan benar.
13. Kemampuan Penilaian
Klien tidak mengalami gangguan kemampuan penilaian ringan,
ditandai dengan klien mampu mengambil keputusan saat diberikan pilihan
untuk makan dulu atau tidur dulu.
14. Daya Tilik Diri
Klien mengingkari penyakit yang diderita, klien mengatakn baik-baik
saja.

G. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG


1. Makan
Klien mengatakan makan 3x/hari dengan nasi, sayur, lauk dan pauk
yang stiap hari dengan menu yang berbeda. Klien mampu menyiapkan
dan membersihakan peralatan makan miliknya dan teman-temannya.
2. BAB / BAK
Klien mengatakan jika BAB/ BAK di WC pasien. Klien
membersihkan diri 2x/hari yaitu pagi dan sore.
3. Mandi
Klien mengatakan mandi 2x/ hari yaitu pagi dan sore, menyikat gigi
2x/ hari yaitu pagi dan sore, memotong kuku jika sudah panjang, klien
tidak tercium bau.
4. Berpakaian
Klien mengatakan mengambil, memilih dan mengenakan pakaian
secara mandiri, ganti pakaian 2x/ hari yaitu pagi dan sore, pakaian klien
rapi mnggunakan baju rumah sakit.
5. Istirahat dan Tidur
Klien mengatakan tidur siang setelah makan siang selama 2-3 jam,
tidur malam selama 10 jam ( pukul 19.00-05.30 WIB), klien sebelum
tidur mencuci kaki terlebih dahulu dan berdoa.
6. Penggunaan Obat
Klien mengatakn setelah minum obat dari rumah sakit merasa ngantuk
dan terkadang kaki terasa gemetar.
7. Pemeliharaan Kesehatan
Klien mengatakan akan mengikuti kegiatan perawatan dan pengobatan
di rumah sakit, setelah keluar dari rumah sakit akan minum obat secara
teratur dan sebelum obat habis akan kontrol lagi.
8. Kegiatan di Dalam Rumah
Klien mengatakan selama dirawat klien mampu menyajikan makanan
sendiri, mampu membersihkan rumah dengan menyapu, mengepel.
9. Kegiatan di Luar Rumah
Klien mengatakan mampu membersihkan halaman wisma, senam,
jalan-jalan pagi dan mengikuti kegiatan di rehabilitasi.

H. MEKANISME KOPING
Mekanisme koping klien yaitu koping maladaptif, klien saat memiliki
masalah diselesaikan dengan merokok yang banyak dan diam, tidak mau
mengungkapkan masalah ke orang lain.
Masalah keperawatan: koping inefektif

I. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN


Klien mengatakan dulu ditinggal menikah oleh pacarnya dan pacaranya
sering meminta pulsa pada klien. Klien mengatakan, di rumah sakit klien
kadang ngobrol dengan teman- temannya, kadang menyendiri. Klien
mengatakan tidak bekerja .
J. PENGETAHUAN
Klien mengatakan jika klien tidak minum obat, maka klien kambuh. Klien
mengatakan jika kambuh, klien cepat marah dan ngamuk-ngamuk.

K. ASPEK MEDIK
Haloperidol (HPD) 2x 5 mg (pagi dan sore)
Trihexiphenidil (THP) 2x2 mg (pagi dan sore)
Clozapin 2x100 mg (pagi dan sore)

I. ANALISA DATA
Waktu Data Fokus Diagnosa TTD
keperawatan
Kamis, DS: Perilaku kekerasan
28 April - Klien mengatakan di bawa ke RSJ (PK)
2016 jam Magelang karena ngamuk, marah-
09.02 marah, hingga memukul orang
WIB disekitarnya.
- Klien mengatakan marah dan kecewa
karena ditinggal menikah oleh
pacarnya dan dimintai pulsa terus
menerus oleh pacarnya.
- Mekanisme koping klien yaitu koping
maladaptif, ditandai dengan klien
mengatakan saat memiliki masalah
diselesaikan dengan merokok yang
banyak dan diam (tidak mau
mengungkapkan masalah ke orang
lain )
DO:
- Mata klien merah
- Mata melotot
- Saat dikaji wajah klien tegang dan
glisah
- Kontak mata mudah beralih
- Pembicaraan klien cepat
- Afek labil
Kamis, DS: Ganguuan konsep
28 April - Klien mengatakan belum bisa diri: harga diri
2016 jam membantu ibunya di rumah, karena rendah
09.03 klien harus dirawat di RSJ
WIB - Klien mengatakan malu dan minder,
karena klien sudah usia dewasa belum
menikah dan tidak bekerja.
- Klien mengatakan jika ada masalah
sering dipendam sendiri, tidak ngobrol
dengan orang terdekat.
DO:
- Klien sering menyendiri
- Klien jarang bergabung dengan teman-
teman
- Kontak mata mudah beralih

II. POHON MASALAH


Efek :Resiko mencederai diri sendiri, orag lain dan lingkungan

Core problem : Perilaku kekerasan (PK)

Etiologi/ Causa Harga diri rendah

Koping in efektif

III. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Perilaku kekerasan
2. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
IV. RENCANA KEPERAWATAN
Waktu Diagnosa Perencanaan
keperawatan Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
Kamis, 28 Resiko TUM: Klien dapat
April 2016 perilaku mengontrol perilaku
jam 09.04 kekerasan kekerasan
WIB (RPK) TUK: 1. Klien menunjukkan tanda- tanda 1. Bina hubungan percaya dngan klien
Klien dapat membina percaya kepada perawat:
hubungan saling percaya - Wajah cerah, tersenyum
- Mau berkenalan
- Ada kontak mata
- Bersedia menceritakan perasaan
Klien dapat Klien mampu menceritakan penyebab Bantu klien mengungkapkan perasaan
mengidentifikasi perilaku kekerasan yang dilakukannya: marahnya:
penyebab perilaku - Menceritakan penyebab perasaan - Motivasi klien untuk menceritakan
kekerasan yang jengel/ kesal baik dari diri sendiri pnyebab rasa kesal atau jengkelnya
dilakukannya. maupun lingkungan - Dengarkan tanpa menyela atau memberi
penilaian setiap ungkapan perasaan klien
Klien dapat Klien mampu menceritakan tanda-tanda Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda
mengidentifikasi tanda- saat terjadi perilaku kekerasan perilaku kekerasan yang dialaminya :
tanda perilaku kekerasan - Tanda fisik : mata merah, tangan - Motivasi klien menceritakan kondisi fisik
mengepal, ekspresi tegang, dan lain- (tanda-tanda fisik)
lain - Motivasi klien menceritakan kondisi
- - Tanda emosional : perasaan marah, emosinya (tanda-tanda emosional) saat
jengkel, bicara kasar terjadi perilaku kekerasan
- Tanda sosial : bermusuhan yang - Motivasi klien menceritakan kondisi
dialami saat terjadi perilaku hubungan dengan orang lain (tanda-tanda
kekerasan sosial) saat terjadi perilaku kekerasan

Mengidentifikasi jenis - Jenis – jenis ekspresi kemarahan Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan
perilaku kekerasan yang yang selama ini telah dilakukannya yang dilakukannya selama ini :
pernah dilakukannya - Perasaannya saat melakukan - Motivasi klien menceritakan jenis-jenis
kekerasan tindak kekerasan yang selama ini pernah
- Efektivitas cara yang dipakai dilakukannya
dalam menyelesaikan masalah - Motivasi klien menceritakan perasaan
klien setelah tindak kekerasan tersebut
terjadi
- Diskusikan apakah dengan tindak
kekerasan yang dilakukannya masalah
yang dialami teratasi
Klien dapat Klien mampu menjelaskan akibat tindak Diskusikan dengan klien akibat negatif
mengidentifikasi akibat kekerasan yang dilakukannya (kerugian) cara yang dilakukan pada :
perilaku kekerasan - Diri sendiri : luka,dijauhi teman,dll - Diri sendiri
- Orang lain/keluarga : luka, - Orang lain/keluarga
tersinggung, ketakutan, dll - Lingkungan
- Lingkungan : barang atau benda
rusak, dll
Klien dapat Klien mampu menjelaskan cara-cara Diskusikan dengan klien :
mengidentifikasi cara sehat mengungkapkan mara - Apakah klien mampu mempelajari cara
konstruktif dalam baru mengungkapkan marah yang sehat
mengungkapkan - Jelaskan berbagai alternatif pilihan untuk
kemarahan mengungkapkan marah selain perilaku
kekerasan yang diketahui klien
- Jelaskan cara-cara sehat untuk
mengungkapkan marah :
a. Cara fisik : nafas dalam, pukul bantal
atau kasur, olah raga
b. Verbal : mengungkapkan bahwa dirinya
sedang kesal kepada orang lain
c. Sosial : latihan asertif dengan orang
lain
d. Spiritual : sembahyang/doa,dzikir,
meditasi, dsb
2. Klien dapat Klien mampu memperagakan cara - Diskusikan cara yang mungkin dipilih dan
mendemonstrasikan mengontrol perilaku kekerasan: anjurkan klien memilih cara yang
cara mengontrol - Fisik : tarik nafas dalam,memukul mungkin untuk memngungkapkan
perilaku kekerasan kasur bantal/kasur kemarahan.
- Verbal; mengungkapkan perasaan - Latih kalien memperagakan cara yang
jengkel kpada seseorang tanpa dipilih,
menyakiti orang lain. - Peragakan cara melaksanakan cara yang
- Spiritual; zikir/doa, meditasi sesuai dipilih
agamanya - Jelaskan manfaat cara tersebut
- Anjurkan klien menirukan peragaan yang
sudah dilakukan.
- Beri penguatan pada klien,perbaiki cara
yang masih belum sempurna
- Anjurkan klien menggunakan cara yang
sudah dilatih saat marah/jengkel.
3. Klien mendapatkan kelurga mampu: - Diskusikan pentingnya peran serta
dukungan kelurga - Menjelaskan cara merawat klien keluarga sebagai pendukung klien untuk
untuk mengontrol dengan perilaku kekerasan mengatasi perilaku kekerasan
perilaku kekerasan - Mengungkapkan rasa puas dalam - Diskusikan potensi keluarga untuk
merawat klien membantu klien untuk mengatasi perilaku
kekerasan
- Jelaskan pengertian,penyebab,akibat dan
cara merawat klien perilaku kekerasan
yang dapat dilaksanakan oleh keluarga.
- Peragakan cara merawat klien (menangani
perilaku kekerasan
- Beri kesempatan keluarga untuk
memperagakan ulang
- Beri pujian kepada kelurga setelah
peragaan
- Tanyakan perasaan keluarga setelah
mencoba cara yang dilatihkan.
Klien menggunakan obat a. Klien mampu menjelaskan: - Jelaskan manfaat menggunakan obat secara
sesuai program yang - Manfaat minum obat teratur dan kerugian jika tidak
telah ditetapkan - Kerugian tidak minum obat menggunakan obat
- Nama obat - Jelaskan kepada klien:
- Bentuk dan warna obat a. Jenis obat (nama,warna dan bentuk
- Dosis yang diberikan obat)
kepadanya b. Dosis yang tepat untuk klien
- Waktu pemakaian c. Waktu pemakaian
- Cara pemakaian d. Cara pemakaian
- Efek yang dirasakan e. Efek yang akan dirasakan klien
b. Klien mampu menggunakan obat - Anjurkan klien:
sesuai program a. Minta dan menggunakan obat tepat
waktu
b. Lapor ke perawat/dokter jika
mengalami efek yang tidak biasa
c. Beri pujian terhadap kedisplinan klien
menggunakan obat.
V. IMPLEMENTASI
Waktu Diagnosa Implementasi Evaluasi Paraf
Kamis, 28 Perilaku Melakukan SP 1 pasien : S:
April kekerasan 1.Mengidentifikasi penyebab PK - Klien mengatakan marah dan kecewa
2016 jam 2.Mengidentifikasi tanda dan gejala PK karena ditinggal menikah oleh pacarnya
09.02 3.Mengidentifikasi PK yang dilakukan dan dimintai pulsa terus menerus oleh
WIB 4.Mengidentifikasi akibat PK pacarnya.
5.Menyebutkan cara mengontrol PK - Klien mengatakan ngamuk hingga
6.Melatih pasien cara kontrol PK dengan mencederai orang lain dan kadang
latihan napas dalam membanting barang disekitarnya
7.Membimbing pasien memasukkan ke - Klien mengatakan jika sedang ngamuk
dalam jadwal kegiatan harian banyak barang yang rusak dan
merugikan orang lain disekitarnya
- Klien mengatakan pernah diajari cara
kontrol emosi dengan teknik napas
dalam, akan tapi saat emosi datang
klien tidak bisa mengontrol emosi saat
itu
O:
- Ekspresi wajah klien tegang
- Klien memperagakan latihan fisik satu:
teknik napas dalam sesuai yang
dicontohkan mahasiswa
- Klien menyebutkan 3 dari 5 cara
kontrol emosi
A:
Klien mampu melakuakan cara kontrol
emosi dengan latihan fisik 1: napas dalam
P:
Lanjutkan sp 2 PK
1. Mengevaluasi sp sebelumnya
2. Melatih klien cara kontrol PK dengan
latihan fisik: pukul kasur bantal
3. Memasukkan ke dalam jadwal harian
Jum’at, 29 Perilaku Melakukan sp 2 PK: S:
April kekerasan 1. Mengevaluasi sp sebelumnya - Klien mengatakan sudah bisa
2016 jam 2. Melatih klien cara kontrol PK dengan melakukan cara kontrol emosi dengan
09.00 minum obat teknik napas dalam
WIB 3. Memasukkan ke dalam jadwal harian - Klien mengatakan bingung saat
dijelaskan tentang obat
O:
- Ekspresi tegang
- Kontak mata mudah beralih
A:
Klien belum bisa memahami cara kontrol
emosi dengan obat
P:
Ulangi sp 2 PK
1. Mengevaluasi sp sebelumnya
2. Melatih cara kontrol emosi dengan
cara minum obat
3. Membantu klien memasukkan ke
dalam jadwal harian
Sabtu,30 Perilaku Melakukan sp 3 PK: S:
April kekerasan 1. Mengevaluasi sp sebelumnya - Klien mengatakan bisa melakukan
2016 jam 2. Melatih klien cara kontrol PK dengan cara kontrol emosi dengan cara fisik :
09.00 obat napas dalam
WIB 3. Memasukkan ke dalam jadwal harian - Klien mengatakan masih belum
paham
O:
- Klien masih dituntun saat menjawab
- Terdapat kontak mata
- Klien mulai bisa membuka
pembicaraan
A:
Klien masih belum paham tentang obat
P:
Ulangi sp 2 PK
VI. PEMBAHASAN
a. Kesesuaian kaus dengan teori
Data fokus yang didapatkan sesuai dengan teori yang subjektif yaitu klien
mengataan secara verbal mengenai perasaannya. Sedangkan data objektif
yaitu data yang dapat terlihat dari kegiatan sehari- hari dan dari nonverbal
klien.
b. Kekuatan dan kemudahan
Klien bisa diarahkan, bisa berinteraksi, dapat mengikuti kegiatan di
ruangan.
c. Kelemahan dan kesulitan
Klien belum bisa membuka pembicaraan dan klien tidak berinisiatif
berinteraksi dengan orang lain.

VII. IMPLIKASI KEPERAWATAN


a. Kesimpulan
Selama dilakukan tindakan keprawatan, klien mengalami kemajuan yang
baik, dari klien yang awalnya tidak bisa membuka pembicaraan dan
ekspresi tegang, sekarang sudah bisa membuka pembicaraan, mau diajak
kerjasama, ekspresi tidak tegang.
b. Sarana dan rekomendasi
Tingkatkan komunikasi terapeutik dengan klien dan tingkatkan interaksi
ke klien sedikit tapi sering. Bri motivasi dan bimbingan kepada klien
dalam melakukan kegiatan.

Anda mungkin juga menyukai