Anda di halaman 1dari 37

4.4.1.

1 Analisis Tingkat Pelayanan Jalan

Kebutuhan dasar jalan masyarakat Kabupaten Tanggamus sangat di perlukan


untuk mengetahui apakah sudah sesuai dengan kriteria yang diikuti. Menurut Standar
Pelayanan Minimum (SPM) jalan perkotaan berdasarkan Keputusan Menteri
Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001 tentang Pedoman Standar
Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Permukiman dan
Pekerjaan Umum adalah:

- Panjang Jalan 0,6 km/1000 penduduk

- Rasio luas jalan 5% dari luas wilayah

Tabel 4.2 Rasio Panjang Jalan dengan Jumlah Penduduk Tahun 2017

Panjang
Jumlah Rasio Jalan Rasio
No Kecamatan Jalan
Penduduk Existing Jalan Ideal
(Km)
1 Pugung 53.987 185,2 3,43 32,39
2 Talang Padang 44.839 47,5 1,06 26,90
3 Wonosobo 35.169 24,5 0,70 21,10
4 Kota Agung Timur 19.043 28,9 1,52 11,43
5 Bulok 20.926 89,4 4,27 12,56
6 Limau 17.770 14,8 0,83 10,66
7 Ulu Belu 43.491 26,4 0,61 26,09
8 Cukuh Balak 22.772 31,5 1,38 13,66
9 Gisting 38.743 81,8 2,11 23,25
10 Air Naningan 29.802 90,9 3,05 17,88
11 Pulau Panggung 34.479 98,3 2,85 20,69
12 Gunung Alip 18.105 18,8 1,04 10,86
13 Sumberejo 32.880 159 4,84 19,73
14 Semaka 35.637 80,4 2,26 21,38
15 Pematang Sawa 16.651 69,2 4,16 9,99
16 Bandar Negeri Semuong 19.418 51,8 2,67 11,65
17 Kota Agung 41.962 67,3 1,60 25,18
18 Kota Agung Barat 23.334 48,7 2,09 14,00
19 Kelumbayan 11.020 20,9 1,90 6,61
20 Kelumbayan Barat 13.602 67,6 4,97 8,16
Total 573.630 1302,9
Sumber : Peneliti, 2018

Rasio panjang jalan di Kabupaten Tanggamus belum memenuhi kebutuhan standar


dimana panjang jalan 0,6km/1000 penduduk. Namun keadaan ini tidak mempengaruhi
konektivitas jalan, konektivitas jalan tetap terhubung dengan baik antar desa, kecamatan
maupun kabupaten. Dengan konektivitas jalan yang baik antar desa, kecamatan dan
kabupaten maka pendistribusian barang maupun hasil tani dapat dilakukan dengan
lancar.

4.4.1.2 Analisis Proyeksi Kebutuhan Air Bersih

Kebutuhan air bersih yang selalu bertambah, menjadikan perlunya proyeksi


kebutuhan akan air bersih di Kabupaten Tanggamus. Saat Ini, distribusi jaringan pipa
air bersih di Kabupaten Tanggamus dikelola oleh PDAM setempat. Pada tabel dibawah
dapat dilihat proyeksi kebutuhan air bersih di Kabupaten Tanggamus.

Tabel 4. 4 Proyeksi Kebutuhan Air Bersih Kabupaten Tanggamus


Cakupan Jumlah Jumlah Volume Non jumlah
Volume Domestik
Tahun Pelayanan SR HU HU domestik kebocoran kebutuhan
SR (liter) (liter)
(90%) (unit) (unit) (liter) (liter) (liter/hari)

2017 353.734 117.325 1.173 19.945.216 23.465 19.968.681 4.992.170 3.993.736 28.954.587

2018 3579.21 118.713 1.187 20.181.285 23.743 20.205.028 5.051.257 5.051.257 30.307.542

2022 375.613 124.581 1.246 21.178.842 24.916 21.203.759 5.300.940 5.300.939 31.805.639

2027 400.081 132.697 1.327 22.558.490 26.539 22.585.029 5.646.257 5.646.257 33.877.544

2032 427.574 141.816 1.418 24.108.643 28.363 24.137.006 6.034.252 4.827.401 34.998.659
Cakupan Jumlah Jumlah Volume Non jumlah
Volume Domestik
Tahun Pelayanan SR HU HU domestik kebocoran kebutuhan
SR (liter) (liter)
(90%) (unit) (unit) (liter) (liter) (liter/hari)

2037 458.616 152.111 1.521 25.858.925 30.422 25.889.347 6.472.337 5.177.869 37.539.554

Sumber : Peneliti, 2018

Dengan bertambahnya jumlah penduduk setiap tahun maka semakin meningkat


pula kebutuhan akan air bersih di Kab. Tanggamus. Sebagai kawasan pariwisata dan
industri, perlu adanya arahan berupa pengembangan lain yang tidak hanya
mengandalkan sumber air tradisional dan air tanah serta perlu adanya penambahan
kebutuhan air bersih untuk mendukung berjalannya kegiatan industri dan pariwisata di
kabupaten Tanggamus.

Dari hasil perhitungan menggunakan Standar Dinas Cipta Karya, di tahun 2037,
harus ada penambahan kapasitas sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan untuk
mendukung dan mencapai standar ideal cakupan pelayanan yaitu 90% dari jumlah
penduduk Tanggamus, dimana cakupan pelayanan yang harus dipenuhi sebanyak
458.616 unit. Saat ini ditahun 2018, cakupan pelayanan PDAM hanya sebesar 14%, di
tahun 2037 diperlukan penambahan fasilitas jaringan perpipaan air bersih sebesar 76%
baik untuk memenui kebutuhan domestik maupun non domestik.

1.4.3.2 Analisis Proyeksi Kebutuhan Listrik


Berikut ialah hasil proyeksi kebutuhan listrik di Kabupaten Tanggamus untuk
tahun 2017 hingga tahun 2037. Dari keseluruhan jumlah penduduk, kebutuhan listrik
domestik dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK) dengan persentase 30%
KK menggunakan listrik berkapasitas 450 watt, 40% KK menggunakan listrik
berkapasitas 900 watt, dan 30% KK menggunakan listrik berkapasitas 1300 watt, . hal
ini berdasarkan dari kemampuan (ability to pay) dan kebutuhan (needs). Sedangkan
untuk kebutuhan listrik non domestik dihitung berdasarkan 20% dari total kebutuhan
listrik domestik, yang terdiri dari kebutuhan listrik untuk penerangan jalan, komersil,
pemerintahan, pelayanan umum, dan cadangan. Berikut ditampilkan table kebutuhan
listrik Kabupaten Tanggamus sampai dengan Tahun 2037.
Tabel 4-1 Proyeksi Kebutuhan Listrik Kabupaten Tanggamus

Kebutuhan
Jumlah Jumlah 450 900 1300 Kebutuhan Listrik (Watt) Listrik Non
Tahun Total
Penduduk KK Watt Watt Watt domestik
(Watt)

450 Watt 900 Watt 1300 Watt


2017 586.624 117.325 35.197 46.930 35.197 15.838.848 42.236.928 45.756.672 103.832.448 20.766.489
2018 593.567 118.713 35.614 47.485 35.614 16.026.314 42.736.839 46.298.243 105.061.397 21.012.279
2022 622.907 124.581 37.374 49.833 37.374 16.818.492 44.849.313 48.586.756 110.254.563 22.050.912
2027 663.485 132.697 39.809 53.079 39.809 17.914.095 47.770.920 51.751.830 117.436.845 23.487.369
2032 709.078 141.816 42.545 56.726 42.545 19.145.098 51.053.597 55.308.063 125.506.759 25.101.351
2037 760.557 152.111 45.633 60.845 45.633 20.535.028 54.760.076 59.323.416 134.618.521 26.923.704
Sumber : Peneliti, 2018

Berdasarkan hasil analisis, diketahui bahwa saat ini Kabupaten Tanggamus


membutuhkan setidak supply listrik sebesar 120 MW untuk memnuhi baik kebutuhan
domestik maupun non domestik. Sedangkan pada faktanya, saat ini supply energi listrik
Kabupaten Tanggamus hanya berkisar 100 MW, sehingga masih terdapat kekurangan
sebesar 20 MW, hal tersebut lah yang mengakibatkan pemadaman bergilir dan harus
mendapatkan supply listrik dari luar Kabupaten Tanggamus. Sedangkan untuk
memenuhi kebutuhan KIM, diperlukan setidaknya 150 MW supply tambahan yang
mana hal tersebut bisa dipenuhi melalui kerjasama dengan swasta.

Kesimpulan Infras Air Bersih dan Energi Listrik


1. Pelayanan PDAM saat ini masih belum maksimal, baik melayani Kabupaten
Tanggamus secara umum, KIM maupun kawasan pariwisata.
2. Seluruh masyarakat Kabupaten Tanggamus masih belum terlayani listrik
3. Pelayanan listrik oleh PLN masih buruk, terlihat dari seringnya terjadi
pemadaman listrik.

4.4.1.3 Kepuasan Terhadap Telekomunikasi

Perencanaan telekomunikasi pada suatu wilayah sangat penting untuk memenuhi


kebutuhan akan infrastruktur telekomunikasi dengan kecukupan trafik yang sebanding
dengan potensi pelanggan sehingga mampu meng-cover seluruh area potensial tersebut.
Maka itu perlu di lakukan perhitungan dengan menggunakan parameter jumlah
penduduk di Kabupaten Tanggamus dan menentukan teledensitas penggunaan layanan
seluler. Berikut beberapa parameter yang dipergunakan dalam perencanaan jumlah BTS
Kabupaten Tanggamus ialah :

 Diasumsikan pelanggan telepon seluler tersebar di seluruh Bagian Wilayah


Perencanaan Selatan Tulang Bawang Barat, tidak ada pengelompokan pelanggan
telepon seluler berdasarkan operator telekomunikasi tertentu pada suatu lokasi.
 Lama rata-rata panggilan atau menerima panggilan untuk setiap handphone per-
hari diasumsikan 2 menit atau setara dengan 33 mErlang
 Grade of Service (GOS) = 2%.
 Teledensitas yang digunakan adalah 70,85 yang merupakan teledensitas rata-rata
Pulau Sumatera tahun 2010 berdasarkan data dari Kominfo.
 Mengsumsikan kapasitas rata-rata BTS yang digunakan adalah sebuah menara
dengan 3 sektoral antena, dengan susunan Trx 3/3/3 dengan kapasitas 55,3
Erlang
Setelah parameter perencanaan didefinisikan, langkah selanjutnya ialah
menghitung kebutuhan BTS untuk beberapa tahun mendatang dengan cara
menggunakan data jumlah penduduk yang telah diproyeksikan pada tahun 2037
penduduk di Kabupaten Tanggamus. Lalu dihitung jumlah pelanggan dengan
menggunakan data teledensitas yang digunakan. Setelah itu dihitung trafik yang
dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan trafik dengan cara dikali dengan kebutuhan
trafik tiap pelanggan. Dengan demikian, didapatkan data sebagai berikut:

Tabel 4.Error! Use the Home tab to apply 0 to the text that you want to appear here. 2
Analisis kebutuhan trafik

Jumlah Penduduk
wilayah Jumlah User (jiwa) Trafik (Erlang)
(jiwa)
2018 2037 2018 2037 2018 2037
Wonosobo 34668 34256 24545 24253 810 800
Semaka 35491 36829 25128 26075 829 860
Bandar
Negeri 19993 24335 14155 17229 467 569
Semuong
Kota Agung 43175 52368 30568 37076 1009 1224
Pematang
17157 20962 12147 14841 401 490
Sawa
Kota Agung
19926 26194 14108 18545 466 612
Timur
Kota Agung
25755 43752 18235 30976 602 1022
Barat
Pulau
36140 47904 25587 33916 844 1119
Panggung
Ulu Belu 47916 80714 33925 57145 1120 1886
Air
32027 47853 22675 33880 748 1118
Naningan
Talang
44814 47289 31728 33481 1047 1105
Padang
Sumber
33425 38262 23665 27089 781 894
Rejo
Gisting 40382 52115 28590 36897 943 1218
Gunung
18246 20040 12918 14188 426 468
Alip
Pugung 53916 56701 38173 40145 1260 1325
Bulok 21683 27209 15352 19264 507 636
Cukuh
23838 31413 16877 22240 557 734
Balak
Kelumbayan 10798 10354 7645 7331 252 242
Limau 17783 18885 12590 13371 415 441
Kelumbayan
16435 43122 11636 30530 384 1008
Barat
TOTAL 593568 760557 420246 538474 13868 17770
RATA-
29678 38028 21012 26924 693 888
RATA
Sumber : Peneliti, 2018

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, didapatkan total kebutuhan trafik yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi di Kabupaten Tanggamus
adalah 17770 Erlang, sementara itu rata-rata per desa membutuhkan trafik 888 Erlang.
Setelah itu dilakukan perhitungan untuk mengetahui kebutuhan akan infrastruktur
menara BTS baru yang akan dibangun untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi di
bagian wilayah perencanaan pada tahun 2037.

Selanjutnya untuk menggetahui kebutuhan telekomunikasi tahun 2037 dilakukan


perhitungan kebutuhan akan menara BTS di Kabupaten Tanggamus dengan cara
menghitung kebutuhan dikurang dengan kapasitas BTS saat ini. Dengan perhitungan
sebagai berikut:

Tabel 4.Error! Use the Home tab to apply 0 to the text that you want to appear here.-3
Kebutuhan Menara BTS

Tahun 2016 Tahun 2037


wilayah Kebutuhan Kebutuhan
Jumlah BTS Kapasitas
Trafik Menara BTS
Wonosobo 9 810 800 17
Semaka 9 829 860 19
Bandar Negeri
2 467 569 12
Semuong
Kota Agung 16 1009 1224 27
Pematang Sawa 1 401 490 11
Kota Agung Timur 5 466 612 13
Kota Agung Barat 2 602 1022 22
Pulau Panggung 6 844 1119 24
Ulu Belu 6 1120 1886 41
Air Naningan 4 748 1118 24
Talang Padang 13 1047 1105 24
Sumber Rejo 7 781 894 19
Gisting 8 943 1218 26
Gunung Alip 5 426 468 10
Pugung 8 1260 1325 29
Bulok 4 507 636 14
Cukuh Balak 2 557 734 16
Kelumbayan 1 252 242 5
Limau 1 415 441 10
Kelumbayan Barat 2 384 1008 22
Sumber : Peneliti, 2018

Pada tabel perhitungan diatas dapat diketahui bahwa Kecamatan Ulu Belu memiliki
kebutuhan paling tinggi menara BTS sebanyak 29 BTS. Hal tersebut disebabkan oleh
luasnya wilayah Kecamatan Ulu Belu serta memiliki jumlah penduduk paling tinggi
pada tahun 2037 sebanyak 80714 jiwa. Selain itu Kecamatan Ulu Belu memiliki kondisi
topografi yang cukup terjal sehingga disana dimanfaatkan sebagai pusat energi
geotermal (panas bumi). Berikut pesebaran serta radius pelayanan BTS.
Gambar X Peta Pesebaran dan Radius Pelayanan BTS

Sumber : Peneliti, 2018


Dari peta diatas diketahui bahwa kecamatan yang terlayani BTS 100% adalah
kecamatan Talang Padang, Gisting dan Gunung Alip. Sedangkan untuk Kecamatan
Kota Agung dan Kota Agung Timur terlayani karena mendapat cover dari BTS Talang
Padang dan Gisting. Akan tetapi kecamatan lain belum terlayani BTS 100% karena
radius setiap BTS di kecamatan masing-masing masih belum mampu menjangkau
semua daerahnya, karena radiusnya terlalu pendek serta luas kecamatan yang terlalu
besar menyebabkan daerah tersebut belum sepenuhnya terlayani BTS meskipun jumlah
BTS yang cukup banyak.

4.4.1.4 Kepuasan Terhadap Telekomunikasi


Untuk mengetahui efektifitas jaringan telekomunikasi di Kabupaten Tanggamus maka
perlu diketahui jumlah tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan telekomunikasi
dalam kehidupan sehari-hari.

Tabel 4.Error! Use the Home tab to apply 0 to the text that you want to appear here.-4
Jumlah Kepuasan Terhadap Telekomunikasi

40
35
30
25
20 Puas
15
Tidak Puas
10
5
0
Gisting Kota Agung Talang Ulu Belu Wonosobo
Padang

Sumber : Peneliti, 2018

Dari hasil kuesioner kepada masyarakat dengan jumlah sebanyak 140 responden yang
memiliki kepuasan paling tinggi yaitu Kecamatan Kota Agung yaitu dengan hasil
kepuasan 34 dan tidak puas 8 responden.
4.4.2 Analisis Infrastruktur Sanitasi

4.4.2.1 Analisis Persampahan

Berdasarkan pengumpulan data secara primer dan sekunder yang telah dilakukan,
maka akan di analisis kondisi infrastruktur jaringan persampahan eksisting di
Kabupaten Tanggamus. Data tersebut di dapatkan melalui kuesioner, wawancara,
observasi serta data sekunder dari instansi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten
Tanggamus. Analisis yang akan dilakukan antara lain yaitu analisis timbulan sampah,
kebutuhan fasilitas persampahan eksisting, lokasi eksisting TPA dan TPS serta
kebutuhan persampahan di masa mendatang.

4.4.2.1.1 Analisis Timbulan Sampah

Standar Nasional Indonesia nomor 3242-2008 tentang tata acara pengelolaan


sampah di permukiman menyebutkan bahwa Rata-rata timbunan sampah domestik
adalah sebesar 2,5 liter/orang/hari. Dengan dasar timbulan tersebut, terhitung dari hasil
proyeksi penduduk Kabupaten Tanggamus pada tahun 2018 total timbulan sampah yang
dihasilkan adalah 1661988 liter atau 1662, dapat dilihat dengan tabel dibawah ini:

Tabel 4. Error! Use the Home tab to apply 0 to the text that you want to appear here.-5
Timbulan Sampah Kabupaten Tanggamus Tahun 2018

Jumlah Timbulan
Timbulan Total Total
Penduduk Sampah
Sampah Timbulan Timbulan
No Kecamatan Tahun Non-
Domestik Sampah Sampah
2018 Domestik
(liter) (liter) (m3)
(jiwa) (liter)
1 Wonosobo 34.668 86670 10400 97071 97
2 Semaka 35.491 88728 10647 99375 99
Bandar
3 Negeri 19.993 49982 5998 55980 56
Semuong
4 Kota Agung 43.175 107938 12953 120891 121
Jumlah Timbulan
Timbulan Total Total
Penduduk Sampah
Sampah Timbulan Timbulan
No Kecamatan Tahun Non-
Domestik Sampah Sampah
2018 Domestik
(liter) (liter) (m3)
(jiwa) (liter)
Pematang
5 17.157 42892 5147 48039 48
Sawa
Kota Agung
6 19.926 49814 5978 55792 56
Timur
Kota Agung
7 25.755 64388 7727 72115 72
Barat
Pulau
8 36.140 90350 10842 101192 101
Panggung
9 Ulu Belu 47.916 119790 14375 134165 134
Air
10 32.027 80067 9608 89675 90
Naningan
Talang
11 44.814 112034 13444 125478 125
Padang
Sumber
12 33.425 83562 10027 93590 94
Rejo
13 Gisting 40.382 100956 12115 113071 113
Gunung
14 18.246 45615 5474 51088 51
Alip
15 Pugung 53.916 134789 16175 150964 151
16 Bulok 21.683 54206 6505 60711 61
Cukuh
17 23.838 59594 7151 66746 67
Balak
18 Kelumbayan 10.798 26995 3239 30235 30
19 Limau 17.783 44458 5335 49793 50
20 Kelumbayan 16.435 41086 4930 46017 46
Jumlah Timbulan
Timbulan Total Total
Penduduk Sampah
Sampah Timbulan Timbulan
No Kecamatan Tahun Non-
Domestik Sampah Sampah
2018 Domestik
(liter) (liter) (m3)
(jiwa) (liter)
Barat
TOTAL 593.567 1483918 178070 1661988 1662
Sumber : Peneliti, 2018
Diketahui dari hasil perthitungan timbulan diatas bahwa Kecamatan Pugung
memiliki timbulan paling tinggi yaitu 151 m3/hari karena Pugung merupakan kecamatan
di Kabupaten Tanggamus yang memiliki jumlah penduduk paling tinggi. Timbulan
sampah di Kabupaten Tanggamus sebagian besar berasal dari rumah tangga, pasar,
pendidikan dan sebagainya. Berikut rincian timbulan sampah di Kecamatan Pugung
berdasarkan komposisi sampah :

Tabel 4.6 Jenis Timbulan Sampah Kecamatan Pugung

Timbulan sampah Timbulan sampah Timbulan sampah


Jenis Perumahan
(per rumah) (liter/hari) (m3/hari)

Permanen
2696 8087 8
Semi Permanen
3235 8627 9
Non Permanen
4852 11322 11
Sumber : Peneliti, 2018

Pengelolaan sampah di Kabupaten Tanggamus belum sepenuhnya terlayani,


karena masih ada masyarakat yang membuang sampah dengan cara di timbun atau di
bakar. Akan tetapi ada beberpa yang sudah terlayani pengangkutan sampah, sehingga
masyarakat hanya dengan meletakkan sampah di bak sampah depan rumah maka
petugas akan mengangkut untuk dibawa ke TPS. Pada proses pengumpulannya, ada 2
pola pengumpulan sampah yaitu secara individual dan komunal. pengumpulan
individual dimana proses pengumpulan sampah dilakukan dengan cara mengumpulkan
sampah dari sumber timbulan sampah dan diangkut langsung ke TPA tanpa proses
pemindahan, sedangkan pengumpulan sampah komunal dimana sampah yang berasal
dari permukiman dikumpulkan dengan menggunakan mobil sampah / motor sampah.
Kabupatn Tanggamus saat ini memiliki satu TPA yaitu TPA Kalimiring yang
berlokasi di Pekon Kalimiring, Kota Agung Barat. Menurut hasil wawancara dengan
petugas TPA, hanya ada 4 kecamatan yang sampahnya masuk dalam TPA yaitu
Kecamatan Kota Agung, Talang Padang, Gisting dan Wonosobo. Dari setiap mobil
sampah yang masuk itu sekitar 2 kali sehari dari setiap kecamtan dengan rata-rata
membawa 8-10 ton sampah. Kondisi TPA cukup baik karena mempunyai luas sekitar 6
ha dan TPA ini sudah disediakan berupa wadah air lindi sehingga air sampah tidak
meresap ke tanah yang akan berdampak terhadap lingkungan sekitar. Selain itu, di TPA
Kalimiring juga terdapat IPLT dengan pengolahan yang baik. Akan tetapi terdapat
permasalahan dalam TPA Kabupaten Tanggamus yaitu sampah-sampah yang sudah
masuk ke TPA tidak dikelola karena tidak adanya alat pendukung serta alokasi dana
yang kurang.
Dengan jumlah timbulan sampah di Kabupaten Tanggamus dan jumlah penduduk
yang semakin meningkat setiap tahunnya, maka perlu disediakan lokasi TPA serta TPS
tambahan. Oleh karena itu diperlukan suatu rencana yang mengaharuskan warga untuk
mengolah sampah rumah tangga mereka, sehingga tidak semua hasil sampah rumah
tangga dikelola pemerintah agar lebih efisien.

4.4.2.1.2 Kebutuhan Fasilitas Persampahan

Pada tabel di bawah akan di tunjukkan mengenai fasilitas persampahan


eksisiting di beberapa 34 titik lokasi yang tersebar di Kabupaten Tanggamus pada
tahun 2009-2015.

Tabel 4. 7 Jumlah Sarana dan Prasarana Persampahan Kabupaten Tanggamus


Tahun 2010 - 2015

No Jenis Jumlah Unit


1 TPA 1
2 TPS 18
No Jenis Jumlah Unit
3 Dump Truck 2
4 Mobil Sampah 6
5 Sepeda Motor Sampah 33
6 Gerobak Sampah 73
7 Kontainer 19
8 Landasan Kontainer 5
9 Amroll 1
10 Kotak Sampah 11
11 Tong Sampah 173
Sumber : Dinas Lingkungan Hidup Tanggamus

Berdasarkan jumlah sarana dan prasarana diatas, untuk meningkatkan pelayanan


pengangkutan sampah perlu adanya penambahan armada angkutan sampah tersebut agar
seluruh masyarakat di Kabupaten Tanggamus agar masyarakat 100% terlayani oleh jasa
pengangkutan sampah.

Tabel 4.8 Proyeksi Kebutuhan Sarana Prasarana Persampahan


Kabupaten Tanggamus

Sarana dan Tahun


No
Prasarana 2018 2022 2027 2032 2037
1 TPS 10 12 12 12 13
2 Gerobak sampah 208 218 232 248 266
Sumber : Peneliti, 2018

Dari hasil analisis dibutuhkan sejumlah sarana dan prasarana untuk menjalankan
sistem jaringan persamphan yang baik. Kebutuhan ini diperoleh dari jumlah timbunan
yang dihasilkan oleh Kabupaten Tanggamus. Untuk itu pemerintah daerah perlu
menyediakan sejumlah sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan yang
diproyeksikan.
Kebutuhan gerobak sampah tiap tahun bertambah akibat pertumbuhan jumlah
penduduk yang meningkat, sehingga masyarakat tidak perlu membuang sampah sendiri
ke TPA yang sangat jauh. Sedangkan TPS terus meningkat sejalan dengan jumlah
timbulan sampah yang terus bertambah akibat pertumbuhan jumlah penduduk dari
tahun ke tahun, sehingga diperlukan peningkatan kuantitas TPS agar masyarakat dapat
lebih tertib dalam membuang sampah serta mengurangi resiko dampak buruk pada
lingkungan akibat kegiatan penimbunan maupun pembakaran sampah di sembarang
tempat.

Kebutuhan diatas didasarkan dari rata-rata jumlah timbunan sampah yang


dihasilkan oleh rumah tangga. Jumlah itu dapat berkurang apabila produksi sampah
yang dihasilkan oleh masyarakat. Pengurangan jumlah produksi sampah dengan cara
program pengolahan sampah dirumah mereka sendiri, sehingga dapat mengurangi biaya
pengadaan alat pengangkutan sampah.
Gambar 1 Peta Pesebaran TPA dan TPS Kabupaten Tanggamus

Sumber : Peneliti, 2018


Gambar 2 Kondisi Eksisting Persampahan

Sumber : peneliti, 2018

4.4.2.2 Analisis Air Limbah

Kabupaten Tanggamus belum memiliki instalasi pengolahan limbah IPLT


(Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) tetapi sudah memiliki IPAL (Instalasi Pengolahan
Air Limbah). Adapun permasalahan utama dan menjadi prioritas yang dihadapi oleh
Kabupaten Tanggamus antara lain, masih kurangnya sarana dan prasarana pengelolaan
air limbah serta belum optimalnya retribusi di bidang sanitasi, sehingga pendanaan
sektor sanitasi khususnya air limbah masih bertumpu pada NGO atau swasta.

Pembuangan air limbah domestik mengacu pada pilar ke 5 dari Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM) yaitu pengelolaan limbah cair rumah tangga. Limbah cair
disini berasal dari air limbah dapur, air dari kamar mandi, air bekas cucian dan lain-lain
selain air dari jamban. Pada prinsipnya tidak mencemari sumber air minum baik yang
air dipermukaan maupun air didalam tanah, tidak menjadi media tempat
berkembangnnya binatang pembawa penyakit, tidak mengotori permukaan tanah dan
menimbulkan bau serta pelestarian sumber daya air.

Pengelolaan sanitasi khususnya dalam pengelolaan air limbah domestik di


Kabupaten Tanggamus pada saat ini sudah tersedia satu sarana instalasi pengolahan air
limbah (IPAL) komunal di Pekon Gisting Bawah Kecamatan Gisting, akan tetapi satu
IPAL ini hanya melayani 29 rumah jadi Kabupaten Tanggamus masih sangat
membutuhkan beberapa IPAL komunal. Sedangkan untuk limbah black water seperti
limbah dari kamar mandi (tinja) menggunakan pengolahan setempat (on site system).
Sistem ini mempunyai beberapa kelemahan diantaranya kurangnya pengetahuan
masyarakat mengenai standart teknis dan kesehatan yang telah ditentukan misalnya saat
membangun tangki septik adalah jarak antar tangki septik dan sumber air atau sumur
gali kurang dari 10 meter, terutama di kawasan-kawasan permukiman dan perumahan
padat penduduk. Disamping itu pengurasan tangki septick jarang dilakukan sehingga
mengakibatkan pencemaran air tanah.

Sistem sanitasi permukiman di Kabupaten Tanggamus, khusus untuk black water


pada umumnya menggunakan sistem on site, dimana limbah yang ada ditampung pada
suatu wadah yang disebut dengan tangki septik dan terjadi penguraian oleh bakteri
anaerobik. Dari penguraian ini menghasilkan limpahan tangki septik yang dimasukkan
ke dalam sumur resapan dan langsung meresap ke dalam air tanah, selain itu juga
menghasilkan endapan lumpur yang mengendap di dasar tangki. Lumpur ini tidak boleh
dibuang ke sungai karena BOD nya masih terlalu tinggi yaitu > 2000 mg/liter, dan perlu
diolah melalui instalasi pengolahan limbah, jadi masih memerlukan off site untuk
lumpurnya .

Berikut adalah data usaha atau kegiatan yang memiliki atau tidak memiliki
Instalasi Pengolahan Air Limbah di Kabupaten Tanggamus.
Tabel 4.9 Data Usaha / Kegiatan yang Memiliki Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tahun 2018

No Nama Usaha / Kegiatan


Bidang
Bidang Bidang
Bidang Medik Budidaya Air
ESDM Pertenakan
Payau
PT. Jafra
RS Umum PT. Windu PT. Comfeed
1 Daerah Kota Mantap Mandiri Natarang Indonesia
Agung Tengokh Mining Gisting
Atas
PT. Jafra
PT. Windu
RS Panti Comfeed
2 Mantap Mandiri
Secanti Gisting Indonesia
Way Riau
Campang
Klinik Alhafa
PT. Prima
3 Medika Kota
Larvae Tengokh
Agung
Klinik Sabila
Jhony Samsudin
4 Nisa Pulau
Farm
Panggung
Puskesmas Hj. Merry Warti
5
Talang Padang Farm
Klinik
Anugerah Hj. Ernita
6
Bunda Talang Syarief Farm
Padang
PT. Sumber
7
Windu Air Mas
PT. Agung
8
Damai Lestari
Sumber: Dinas Lingkungan Hidup, 2018

Tabel 4.10 Data Usaha / Kegiatan yang Tidak Memiliki


Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Tahun 2018

Nama Usaha / Kegiatan


No Bidang Pariwisata dan
Bidang Medik
Perhotelan
Taman Wisata Butterfly
1 Puskesmas Kota Agung
Gisting
Puskesmas Negara
2 Batin Kota Agung Gisting Hotel
Barat

3 Puskesmas Wonosobo Hotel 21 Gisting

Puskesmas Siring Betik


4 Hotel VIP Gisting
Wonosobo
Puskesmas Sanggi
5 Bandar Negeri Wisma Hosana Gisting
Semoung
Puskesmas Sukaraja
6 Hotel Setia Kota Agung
Semaka

7 Puskesmas Gisting

8 Puskesmas Sumberejo

Puskesmas Rantau
9
Tijau Pugung
Puskesmas Pulau
10
Panggung
Puskesmas Air
11
Naningan
Puskesmas Sukamara
12
Bulok

13 Klinik Pratama Sehati


Nama Usaha / Kegiatan
No Bidang Pariwisata dan
Bidang Medik
Perhotelan
Gisting

Klinik Rawat Inap


14
Husada
15 BPM Retno Ningsih
16 BPM Idawati
Klinik Bhakti Bunda
17
Air Naningan
Balai Pengobtan
18 Pratama Enggal Waras
Gisting
Balai Pengobatan
19 Pratama Enggal Waras
Air Naningan
Balai Pengobatan Nusa
20 Indah Husada Air
Naningan
Sumber: Dinas Lingkungan Hidup, 2018

Gambar 3 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal


Sumber: Peneliti, 2018

Pada gambar diatas diketahui bahwa pada Kabupaten Tanggamus terdapat


Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, dimana IPAL komunal ini terdapat
di Dusun 2A Pekon Gisting Bawah Kecamatan Gisting. IPAL komunal dibangun pada
tahun 2004 oleh swadaya masyarakat yang ada disana, adapun alasan dibangunnya
IPAL komunal ini untuk antisipasi sumber mata air dimana sumber mata air dengan
lokasi IPAL komunal ini sangat dekat yaitu sekitar 50 meter. IPAL komunal ini
melayani 29 rumah warga dimana di setiap rumah memiliki bak kontrol setelah
melakukan penyaringan baru kemudian dialiri ke IPAL komunal.
Sedangkan, untuk rumah-rumah yang tidak dilayani IPAL komunal berdasarkan
hasil wawancara masyarakat Kabupaten Tanggamus sebagian dialiri ke kolam belakang
rumah atau kolam-kolam terdekat rumah atau langsung dialiri ke sungai.

Gambar 4 Penampungan Air Limbah Domestik Masyarakat


Sumber: Peneliti, 2018

Untuk kawasan pariwisata belum ada objek pariwisata di Kabupaten Tanggamus


tersedia Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pengolahan air limbah di kawasan
pariwisata langsung dialiri ke sungai terdekat. Berdasarkan hasil observasi peneliti ke
objek wisata yang ada di Kabupaten Tanggamus berikut contoh pengolahan air limbah
di objek wisata Air Terjun Way Lalaan

Sumber: Peneliti, 2018

Tabel 4.11 Proyeksi Produksi Limbah Cair Domesstik dan Non-Domestik


Kabupaten Tanggamus Tahun 2018-2038
Produk
Produk si
Total Total
si Grey Black
Kebutu Kebutuh
Total Water Water Total
han Air an Air Total
Produk dalam dalam Produks
Bersih Bersih ProduksiLi
Tah si Limbah Limba i
Domest Non- mbah Non-
un Limbah Domesti h Limbah
ik Domestik Domestik
Domesti k (98% Domest Domesti
(Liter) (liter) = (liter)
k (liter) Cair ik (2% k (L/Dt)
= 30%
dalam Padat
SR+HU domestik
liter) dalam
liter)

771637 23.149.11 6173096 1.851.929.0 6049634 123461 71447,87


2018 10 3 800 40 864 936 963

819855 24.595.66 6558843 1.967.652.9 6427666 131176 75912,53


2023 40 2 200 60 336 864 704

873830 26.214.90 6990640 2.097.192.2 6850827 139812 80910,19


2028 10 3 800 40 984 816 444

934533 28.036.00 7476268 2.242.880.6 7326743 149525 86530,88


2033 60 8 800 40 424 376 889

100314 30.094.27 8025139 2.407.541.7 7864636 160502 92883,55


2038 240 2 200 60 416 784 556
Sumber: Hasil Analisis Peneliti, 2018

Tabel diatas menunjukkan hasil analisis proyeksi produksi limbah domestik dan
non-domestik di Kabupaten Tanggamus tahun 2018-2038. Proyeksi produksi limbah
domestik maupun non-domestik akan terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan
pertambahan jumlah penduduk. Limbah cair suatu kota dikategorikan berdasarkan
limbah cair domestik dan limbah cair non-domestik, sehingga untuk dapat menghitung
total timbulan limbah cair, selain menghitung total timbulan limbah cair domestik yang
merupakan limbah dari kegiatan rumah tangga, juga perlu dihitung timbulan limbah cair
non-domestik yang berasal dari fasilitas-fasilitas yang ada, seperti fasilitas pendidikan,
kesehatan dan kegiatan perdagangan yaitu sebesar 30% dari total produksi limbah
domestik.
Sedangkan untuk kebutuhan IPAL, berdasarkan Undang-undang 32 tahun 2009
tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, PP No.82/2001 tentang
pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. 58 Th 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan
Rumah Sakit, Permenkes RI NOMOR 340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi
Rumah Sakit, PP 18/1999 Tentang : Pengelolaan Limbah B3 dimana pada Pasal 3
berbunyi “Setiap orang yang melakukan usaha dan/ atau kegiatan yang menghasilkan
limbah B3 dilarang membuang limbah yang dihasilkannya itu secara langsung ke dalam
media lingkungan hidup tanpa pengelolaan terlebih dahulu.
IPAL merupakan bagian yang sangat penting dan harus ada pada setiap tempat
produksi limbah cair untuk mengolah limbah cair sehingga ramah lingkungan, apabila
IPAL tidak ada dan dibiarkan terus-menerus maka akan mencemari lingkungan serta
berdampak buruk pada kualitas air, tanah, dan hasil pertanian di Kabupaten Tanggamus.

4.4.3 Analisis Infrastruktur Fasilitas Sosial dan Umum

Bagian ini akan menjelaskan kondisi eksisting dan kebutuhan infrastruktur berupa
fasilitas umum dan sosial di Kabupaten Tanggamus yang terdiri dari sarana
perdagangan, sarana pendidikan, sarana kesehatan, dan sarana peribadatan dalam
kaitannya dengan pengembangan wilayah sekita kawasan industri maritim.

4.4.3.1 Analisis Kebutuhan Sarana Perdagangan dan Jasa


Sarana perdagangan dan jasa merupakan salah satu faktor yang dapat mendukung
perekonomian suatu wilayah. Sarana perdagangan maupun jasa merupakan suatu
kebutuhan penduduk untuk melakukan transaksi jual beli untuk memenuhi kebutuhan
hidup. Ada tiga kecamatan yang tidak memiliki pasar yaitu kecamatan Bandar Negeri
Semuong, Kota Agung Barat, dan Gunung Alip.

Tabel 4.12 Jumlah Eksisting Sarana Perdagangan dan Jasa


Kabupaten Tanggamus Tahun 2017

Sarana Perdagangan 2017

Pasar/Market 40

Toko/Store 736

Ruko 174

LOS 1051

Dasaran 2118

Sumber: Badan Pusat Stratistik, 2018

Berdasarkan peraturan SNI tentang Lingkungan Perkotaan, dapat dilihat


kebutuhan sarana perdagangan dan jasa sesuai dengan jumlah penduduk seperti pada
tabel dibawah ini. Setelah di ketahui jumlah sarana perdagangan dan jasa eksisting dan
seharusnya, maka dapat dihitung tingkat pelayanan sarana perdagangan dan jasanya.

Tabel 4.13 Tingkat Pelayanan Sarana Perdagangan dan Jasa


Kabupaten Tanggamus Tahun 2017
Tingkat Pelayanan
Eksisting Seharusnya
Kabupaten Penduduk (%)
Pasar Toko Pasar Toko Pasar Toko

Tanggamus 586624 40 736 20 2347 100 31


Sumber: Peneliti, 2018

Berdasarkan hasil analisis tingkat pelayanan sarana perdagangan dan jasa di Kabupaten
Tanggamus, diperoleh bahwa sarana perdagangan dan jasa sudah 100% terlayani sarana
perdagangan dan jasa berupa pasar, sedangkan sarana berupa toko hanya terlayani sebesar 31%.

Tabel 4.14 Proyeksi Kebutuhan Sarana Perdagangan dan Jasa


Kabupaten Tanggamus Tahun 2018-2038
Kebutuhan
Jumlah Penduduk
Tahun Sarana
(Jiwa)
Pasar Toko
2018 593567 20 2374
2023 630658 21 2522
2028 672177 22 2688
2033 718871 24 2875
2038 771648 26 3086
Sumber: Peneliti, 2018

Tabel diatas menunjukan hasil proyeksi dari sarana perdagangan dan jasa di
Kabupaten Tanggamus. Jumlah sarana perdagangan dan jasa berupa pasar dan toko
dibandingkan dengan kondisi eksisting belum mencukupi hingga tahun 2038. Dengan
demikian perlu dilakukan penambahan sarana perdagangan dan jasa untuk memenuhi
kebutuhan sarana perdagangan dan jasa di Kabupaten Tanggamus..

Tabel 4.15 Tingkat Pelayanan Sarana Perdagangan dan Jasa


Kabupaten Tanggamus Tahun 2017

Tingkat Pelayanan
Eksisting Seharusnya
(%)
Kabupaten Penduduk

Pasar Toko Pasar Toko Pasar Toko


Tanggamus 586624 40 736 20 2347 100 31

Sumber: Peneliti, 2018

Berdasarkan hasil analisis tingkat pelayanan sarana perdagangan dan jasa di


Kabupaten Tanggamus, diperoleh bahwa sarana perdagangan dan jasa sudah 100%
terlayani sarana perdagangan dan jasa berupa pasar, sedangkan sarana berupa toko
hanya terlayani sebesar 31%.

Tabel 4.16 Proyeksi Kebutuhan Sarana Perdagangan dan Jasa


Kabupaten Tanggamus Tahun 2018-2038

Kebutuhan
Jumlah Penduduk Sarana
Tahun
(Jiwa)
Pasar Toko

2018 593567 20 2374

2023 630658 21 2522

2028 672177 22 2688

2033 718871 24 2875

2038 771648 26 3086

Sumber: Peneliti, 2018

Tabel diatas menunjukan hasil proyeksi dari sarana perdagangan dan jasa di
Kabupaten Tanggamus. Jumlah sarana perdagangan dan jasa berupa pasar dan toko
dibandingkan dengan kondisi eksisting belum mencukupi hingga tahun 2038. Dengan
demikian perlu dilakukan penambahan sarana perdagangan dan jasa untuk memenuhi
kebutuhan sarana perdagangan dan jasa di Kabupaten Tanggamus.

4.4.3.2 Analisis Kebutuhan Sarana Pendidikan

Fasilitas pendidikan di Kabupaten Tanggamus adalah Sekolah Dasar (SD),


Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Fasilitas
pendidikan yang berada di Kabupaten Tanggamus mayoritas dikelola oleh pemerintah
dan swasta. Berikut ini merupakan jumlah dan sebaran fasilitas pendidikan setiap
tingkatan pendidikan di Kabupaten Tanggamus.

Grafik 1 Jumlah Sarana Pendidikan di Kabupaten Tanggamus Tahun 2017

50

32 32 34
30 27 27 27
23 22 23 22
18 15 15 18
13 14 13 118 13
8 9 78 85 77 87 8 10 10
4 4 52 33 52 63 5 63 3 41 42 5
20 22 1 1

SD/SEDERAJAT SMP/SEDERAJAT SMA/SEDERAJAT

Sumber: Badan Pusat Stratistik, 2018

Tingkat pelayanan Sarana Pendidikan di Kabupaten Tanggamus belum


mencapai 100% seluruhnya. Untuk tingkat SD hanya kecamatan teluk pandan dan Way
Ratai yang belum mencapai 100%. Untuk SMP hanya Kecamatan Punduh Pidada dan
Kecamatan Tegineneng yang sudah mencapai 100% dan SMA hanya Kecamatan
Padang Cermin yang telah mencapai 100%.

Tabel 4.17 Tingkat Pelayanan Sarana Pendidikan


Kabupaten Tanggamus Tahun 2017

SD Tingkat SMP Tingkat SMA Tingkat


Kecamata
/SEDERAJ Pelayan /SEDERAJ Pelayan /SEDERAJ Pelayan
n
AT an (%) AT an (%) AT an (%)
SD Tingkat SMP Tingkat SMA Tingkat
Kecamata
/SEDERAJ Pelayan /SEDERAJ Pelayan /SEDERAJ Pelayan
n
AT an (%) AT an (%) AT an (%)
Wonosobo 30 100 8 100 4 57
Semaka 32 100 9 100 4 57
Bandar
Negeri 13 100 2 50 0 0
Semuong
Kota
23 85 7 87 8 100
Agung
Pematang
18 100 5 100 2 66
Sawa
Kota
Agung 14 100 3 75 3 75
Timur
Kota
Agung 13 81 2 40 2 40
Barat
Pulau
32 100 5 71 2 28
Panggung
Ulu Belu 34 100 8 80 5 50
Air
22 100 6 100 3 50
Naningan
Talang
27 100 11 100 8 88
Padang
Sumber
27 100 7 100 7 100
Rejo
Gisting 23 92 8 100 7 87
Gunung
15 100 5 100 1 33
Alip
Pugung 50 100 13 100 8 72
Bulok 22 100 6 100 3 60
Cukuh
27 100 10 100 3 60
Balak
Kelumbay
15 100 4 100 1 50
an
Limau 18 100 4 100 2 66
Kelumbay
10 100 5 100 1 33
an Barat
Sumber: Peneliti, 2018

Tingkat pelayanan pendidikan SD dan SMP sudah hampir seluruhnya 100%,


untuk SMA dirasa sangat kurang. Kebutuhan fasilitas pendidikan jauh dibawah
permintaan, hal ini dapat menyebabkan lulusan SMP yang banyak namun tidak dapat
berlanjut ke tingkat selanjutnya karena minimnya fasilitas SMA sederajat. Kabupaten
Tanggamus harus memenuhi tingkat pelayanan pendidikan apabila ingin memiliki SDM
yang berkualitas, dimana kebutuhan pendidikan di Indonesia saat ini ialah wajib belajar
12 tahun atau sama dengan lulusan SMA/Sederajat. Proyeksi kebutuhan Sarana
Pendidikan di Kabupaten Tanggamus dihitung menggunakan SNI 03-1733-2004
tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan. Kebutuhan sd,
smp, sma dan sederajat bertambah setiap tahunnya mengikuti jumlah penduduk yang
terus bertambah.

Grafik 2 Proyeksi Jumlah SD di Kabupaten Tanggamus Tahun 2018-2038

449 482
394 420
371

2018 2023 2028 2033 2038

Proyeksi Jumlah SD/Sederajat

Sumber: Peneliti, 2018

Grafik 3 Proyeksi Jumlah SMA di Kabupaten Tanggamus Tahun 2018-2038

161
140 150
124 131

2018 2023 2028 2033 2038

Proyeksi Jumlah SMA/Sederajat

Sumber: Peneliti, 2018


4.4.3.3 Analisis Kebutuhan Sarana Kesehatan

Kesehatan merupakan salah satu komponen penting dalam kelangsungan segala


kegiatan manusia, tidak terkecuali kegiatan bisnis di sekitar wilayah kawasan industri
maritim. Sarana kesehatan berfungsi memberikan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat, memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan
derajat kesehatan masyarakat sekaligus untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk.
Dasar penyediaan sarana ini adalah didasarkan jumlah penduduk yang dilayani oleh
sarana tersebut. Sarana kesehatan yang ada di Kabupaten Tanggamus mencakup rumah
sakit, puskesmas, klinik/balai kesehatan, posyandu, dan apotek. Berikut ini adalah
jumlah eksisting (E) dan kebutuhan (K) sarana kesehatan di Kabupaten Tanggamus.

Tabel 4.18 Jumlah Eksisting dan Kebutuhan Sarana Kesehatan


Kabupaten Tanggamus Tahun 2017

Ruma Rumah Klinik/Bal


Pendud Puskesm Poskesd Posyand
h Bersali ai
Kecamatan uk as es u
Sakit n Kesehatan
(Jiwa)
E K E K E K E K E K E K
Wonosobo 34690 0 0 0 1 2 1 2 1 18 14 33 28
Semaka 35422 0 0 1 1 2 1 0 1 13 14 34 28
Bandar
Negeri 19787 0 0 0 0 1 1 1 1 5 8 15 16
Semuong
Kota
42739 1 0 0 1 1 1 2 1 15 17 39 34
Agung
Pematang
16977 0 0 0 0 1 1 0 1 7 7 19 14
Sawa
Kota
Agung 19641 0 0 0 0 1 1 1 1 5 8 26 16
Timur
Kota
Agung 25047 0 0 0 0 1 1 0 1 11 10 22 20
Barat
Pulau
35608 0 0 0 1 1 1 1 1 4 14 44 28
Panggung
Ulu Belu 46619 0 0 0 2 1 2 1 2 16 19 50 37
Air
31357 0 0 1 1 1 1 0 1 10 13 28 25
Naningan
Ruma Rumah Klinik/Bal
Pendud Puskesm Poskesd Posyand
h Bersali ai
Kecamatan uk as es u
Sakit n Kesehatan
(Jiwa)
E K E K E K E K E K E K
Talang
44687 0 0 0 1 1 1 3 1 17 18 63 36
Padang
Sumber
33188 0 0 0 1 1 1 3 1 11 13 33 27
Rejo
Gisting 39844 1 0 0 1 1 1 4 1 4 16 47 32
Gunung
18156 0 0 0 0 1 1 0 1 8 7 24 15
Alip
Pugung 53773 0 0 0 2 2 2 1 2 26 22 88 43
Bulok 21425 0 0 0 0 1 1 0 1 9 9 27 17
Cukuh
23494 0 0 0 0 1 1 0 1 11 9 28 19
Balak
Kelumbaya
10822 0 0 0 0 1 0 0 0 6 4 20 9
n
Limau 17727 0 0 0 0 1 1 0 1 1 7 21 14
Kelumbaya
15621 0 0 0 0 1 1 0 1 1 6 11 12
n Barat
19 23 67 46
Jumlah 586624 2 2 2 13 23 20 19 20
8 5 2 9
Sumber: Badan Pusat Stratistik dengan Modifikasi, 2018

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa sarana kesehatan yang paling
dominan adalah posyandu dengan jumlah 438 unit dan telah tersebar di seluruh
kecamatan. Sedangkan sarana kesehatan lainnya seperti rumah sakit, rumah sakit
bersalin, puskesmas, klinik, dan apotek masih belum tersebar secara merata ke seluruh
kecamatan, namun lebih terkonsentrasi di Kecamatan Kota Agung dan Gisting. Dari
tabel di atas juga dapat diketahui bahwa sebagian besar tingkat pelayanan sarana
kesehatan eksisting di Kabupaten Tanggamus telah mencapai 100% bahkan lebih dari
jumlah yang dibutuhkan, khususnya untuk pelayanan rumah sakit, puskesmas,
klinik/balai kesehatan, dan posyandu. Sedangkan untuk klinik bersalin dan poskesdes
masih belum tersedia dan memenuhi kebutuhan di Kabupaten Tanggamus. Setelah
mengetahui tingkat pelayanan sarana kesehatan di atas, dapat diketahui bahwa saat ini
masih terdapat sarana yang belum tersedia di beberapa kecamatan, sehingga diperlukan
peningkatan kuantitas sarana. Selain itu, diperlukan proyeksi kebutuhan sarana
kesehatan demi menunjang kebutuhan fasilitas keseharan di masa yang akan datang.
Berikut ialah hasil analisis proyeksi kebutuhan sarana kesehatan di Kabupaten
Tanggamus dari tahun 2018 hingga tahun 2038.

Tabel 4.219 Proyeksi Kebutuhan Sarana Kesehatan


Kabupaten Tanggamus Tahun 2018-2038

Jumlah Ruma Rumah


Tahu Puskesma Klinik/Bala Poskesde Posyand
Pendudu h Bersali
n s i Kesehatan s u
k Sakit n

2018 593567 2 20 20 20 237 475


2023 630658 2 21 21 21 252 505
2028 672177 2 22 22 22 269 538
2033 718871 2 24 24 24 288 575
2038 771648 2 26 26 26 309 617
Sumber: Peneliti, 2018

Dari hasil proyeksi di atas dapat diketahui bahwa kebutuhan rumah bersalin,
puskesmas, klinik/balai pengobatan, poskesdes, dan aposyandu terus meningkat sejalan
dengan pertumbuhan penduduk, dimana sarana kesehatan dengan kebutuhan terbanyak
ialah posyandu, sementara kebutuhan rumah sakit cenderung konstan dan jumlah saat
ini masih dapat memenuhi kebutuhan hingga 20 tahun mendatang.

4.4.3.4 Analisis Kebutuhan Sarana Peribadatan


Sarana peribadatan merupakan tempat yang digunakan umat beragama untuk
beribadah menurut kepercayaannya masing-masing. Sarana peribadatan yang ada di
Kabupaten Tanggamus meliputi Masjid, Mushola, Gereja, Pura, dan Vihara. Untuk
jumlah masing-masing sarana peribadatan pada kecamatan yang ada di Kabupaten
Tanggamus dapat dilihat melalui tabel dibawah.

Tabel 4.20 Jumlah Sarana Peribadatan


Kabupaten Tanggamus Tahun 2016

Kecamatan Masjid Musola Gereja Pura Wihara


Wonosobo 59 68 4 3 0
Kecamatan Masjid Musola Gereja Pura Wihara
Semaka 58 88 0 0 0
Bandar Negeri Semu 29 35 0 0 0
Kota Agung 57 40 3 1 1
Pematang Sawa 35 35 0 0 0
Kota Agung Barat 41 30 0 0 0
Kota Agung Timur 20 35 2 0 0
Pulau Panggung 61 106 0 0 0
Ulu Belu 68 67 0 0 0
Air Naningan 85 85 1 0 0
Talang Padang 61 56 0 0 0
Sumberejo 40 98 4 0 0
Gisting 42 62 4 0 0
Gunung Alip 29 42 0 0 0
Pugung 152 119 0 0 0
Bulok 39 35 0 0 0
Cukuh Balak 42 64 0 0 0
Kelumbayan 28 16 0 2 0
Limau 31 49 0 0 0
Kelumbayan Barat 34 26 0 0 0
Jumlah 1011 1156 18 6 1
Sumber: Badan Pusat Stratistik, 2017

Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa Kecamatan Kelumbayan memiliki


jumlah sarana peribadatan yang paling sedikit, sedangkan Kecamatan Pugung memiliki
jumlah sarana peribadatan terbanyak. Untuk melihat tingkat pelayanan masing-masing
sarana peribadatan di kabupaten Tanggamus dapat dilihat melalui tabel dibawah.

Tabel 4.21 Tingkat Pelayanan Sarana Peribadatan


Kabupaten Tanggamus Tahun 2016

Tingkat Pelayanan (%)


Kecamatan
Masjid Musola Gereja Pura Wihara
Wonosobo 100 49 100 100 100
Semaka 100 62 100 100 100
Bandar Negeri
100 44 100 100 100
Semuong
Kota Agung 100 23 100 100 100
Pematang Sawa 100 52 100 100 100
Kota Agung Barat 100 38 100 100 100
Tingkat Pelayanan (%)
Kecamatan
Masjid Musola Gereja Pura Wihara
Kota Agung Timur 100 35 100 100 100
Pulau Panggung 100 74 100 100 100
Ulu Belu 100 36 100 100 100
Air Naningan 100 68 100 100 100
Talang Padang 100 31 100 100 100
Sumberejo 100 74 100 100 100
Gisting 100 39 100 100 100
Gunung Alip 100 58 100 100 100
Pugung 100 55 100 100 100
Bulok 100 41 100 100 100
Cukuh Balak 100 68 100 100 100
Kelumbayan 100 37 100 100 100
Limau 100 69 100 100 100
Kelumbayan Barat 100 42 100 100 100
Sumber: Peneliti, 2018

Tingkat pelayanan Masjid pada keseluruhan kecamatan yaitu 100% artinya jumlah
Masjid eksisting pada masing-masing kecamatan sudah terpenuhi. Sedangkan untuk
mushola seluruh kecamatan masih kekurangan, namun dapat tertutupi oleh jumlah
masjid yang sangat besar melebihi kebutuhan. Pada Gereja, Pura, Vihara diasumsikan
tingkat pelayanan sudah 100% karena untuk sarana peribadatan selain Masjid dan
Mushola disesuaikan dengan kebutuhan pemeluknya masing-masing.