Anda di halaman 1dari 2

Bab I

Pendahuluan

1. Latar Belakang
Suksesi atau yang lebih dikenal dengan succession, adalah perubahan teratur dalam hal
susunan spesies dalam suatu komunitas setelah terjadinya gangguan ekologis. Suksesi ini terjadi
akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir
dengan sebuah komunitas atau ekosistem mencapai klimaks atau keseimbangan (homeostasis)
(Maarel & Franklin. 2013: 5)
Terdapat dua jenis suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi primer adalah
formasi suatu komunitas pada suatu lahan yang baru muncul atau perairan, biasanya melibatkan
sedikit spesies. Sedangkan suksesi sekunder adalah pembentukan kembali suatu komunitas ke
bentuk kondisi awal yang sebelumnya terjadi kerusakan besar. Dalam awal tahap suksesi,
organisme pertama yang membentuk koloni pada lahan atau perairan tersebut disebut spesies
pionir. Biasanya spesies ini merupakan spesies yang memiliki toleran luas terhadap lingkungan
ekstrim, seperti suhu maupun ketersediaan air. Salah satu organisme yang mampu bertahan dalam
kondisi tersebut adalah Protozoa.
Protozoa berasal dari kata protoz yang berarti pertama dan zoon berarti hewan. Jadi dapat
disimpulkan bahwa Protozoa adalah hewan pertama atau hewan perintis yang muncul dalam
suatu komunitas. Protozoa tersusun atas satu sel sehingga bersifat mikroskopis. Di perairan,
Protozoa adalah penyusun zooplankton. Makanan Protozoa meliputi bakteri, jenis Protista lain
atau detritus (Glime. 2017: 5)
Dengan memiliki toleransi terhadap lingkungan cukup luas, mendukung perannya sebagai
hewan perintis dalam suatu komunitas pada lahan baru. Hal ini membuat Protozoa tepat di
jadikan suatu objek pengamatan bila ingin melihat proses perubahan komunitas dan mempelajari
suksesi dari tahap awal hingga mencapai keseimbangan. Namun Protozoa yang berukuran sangat
kecil membuatnya sulit diamati tanpa adanya alat-alat laboratorium. Oleh karena itu dibuatlah
suatu sistem buatan untuk dapat mengamati perubahan komunitas Protozoa di dalam
laboratorium.

2. Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah mempelajari suksesi atau perubahan komunitas
Protozoa pada suatu sistem buatan di laboratorium.

3. Manfaat
a. Mengetahui perubahan komunitas Protozoa pada suatu sistem buatan di laboratorium
b. Memperluas wawasan untuk pembaca dan penulis mengenai suksesi atau perubahan
komunitas Protozoa pada suatu sistem buatan di laboratorium
c. Sebagai referensi mengenai pengamatan suksesi Protozoa pada sistem buatan di
laboratorium.
Bab 5
Penutup

1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
a. Suksesi adalah perubahan teratur dalam hal susunan spesies dalam suatu komunitas
setelah terjadinya gangguan ekologis secara progresif dari tahap pelopor atau perintis
hingga menuju tahapan klimaks atau keseimbangan (homeostasis)
b. Protozoa adalah salah satu organisme pioneer karena toleransinya terhadap lingkungan
cukup luas dan merupakan hewan perintis yang tersusun atas satu sel.
c. Tercapainya klimaks dalam suatu komunitas Protozoa ditandai dengan perkembangan
koloni Protozoa yang mencapai keadaan statis atau tetap.
d. Suksesi Protozoa pada sistem buatan di laboratorium juga dapat dipengaruhi oleh faktor
abiotik maupun faktor edafitnya.

2. Saran
Selain memperbanyak sumber referensi sehingga analisis hasil pengamatan semakin
mendalam, juga meningkatkan ketelitian dan kesabaran saat melakukan pengamatan
suksesi Protozoa pada sistem buatan di laboratorium.

Daftar Pustaka
Maarel, Eddy Van der. & Janet Franklin. Vegetation Ecology. Sussex: John Wiley & Sons,
Ltd. 2013.

Glime, J., M. Protozoa Ecology. (Jurnal Bryophyte Ecology).2 (2017): 2-6.