Anda di halaman 1dari 6

SISTEM PEMILUKADA “NOKEN”

Sistem noken adalah sistem pemilihan umum yang penggunaannya menggunakan noken yang
digantungkan pada salah satu kayu dan digunakan sebagai pengganti kotak suara. Sistem noken
ini bertumpu pada “Big Man” atau kepala suku/ketua suku. Seorang big man tidak sekedar sebagai
pemimpin politik yang menentukan aturan yang harus diikuti oleh warga suku, tapi juga pemimpin
ekonomi, sosial, dan budaya. Kekuasaannyapun bukan diperoleh dari keturunan, tapi karena
pengaruh, karisma, dan warna kepemimpinannya yang disegani dan terkadang ditakuti. Terdapat
hak dan kewajiban dikalangan big man dan warganya. Big man bertanggung jawab atas
ketersediaan kebutuhan dasar warganya seperti makan, dan kesehatan, namun sebaliknya warga
harus loyal dengan apapun keputusan big man. Sistem politik big man di Papua sudah berlangsung
ratusan atau bahkan ribuan tahun.

Noken merupakan tas tradisional masyarakat Papua yang multi fungsi dimana dapat menyimpan
segala kebutuhan. Noken memiliki makna yang sangat penting dalam struktur kehidupan
masyarakat Papua.Hal ini dikarenakan Noken merupakan sebuah simbol kesuburan seorang
perempuan. Sistem Noken merupakan model pemilihan yang penggunaannya menggunakan
Noken (tas tradisional) yang digantungkan pada salah satu kayu untuk digunakan sebagai
pengganti kotak suara.Ada dua sistem yang digunakan yaitu Pertama, Sistem Big Man yaitu suara
diserahkan atau diwakilkan kepada kepala suku yang mereka percayai. Kedua.Sistem Noken
gantung atau ikat yaitu masyarakat dapat melihat langsung suara yang telah disepakati masuk ke
kantung yang sebelumnya telah ditetapkan. Sistem noken ini bertumpu pada “Big Man” atau
kepala suku/ketua suku. Seorang big man tidak sekedar sebagai pemimpin politik yang
menentukan aturan yang harus diikuti oleh warga suku, tapi juga pemimpin ekonomi, sosial, dan
budaya. Kekuasaannyapun bukan diperoleh dari keturunan, tapi karena pengaruh, karisma, dan
warna kepemimpinannya yang disegani dan terkadang ditakuti. Terdapat hak dan kewajiban
dikalangan big man dan warganya. Big man bertanggung jawab atas ketersediaan kebutuhan dasar
warganya seperti makan, dan kesehatan, namun sebaliknya warga harus loyal dengan apapun
keputusan big man. Sistem politik big man di Papua sudah berlangsung ratusan atau bahkan ribuan
tahun.

Noken sudah lama diakui oleh Mahkamah Konstitusi (MK), sebagaimana dituangkan dalam
putusan MK No. 47-81/PHPU-A-VII/2009 tanggal 09 Juni 2009. Disisi lain, sistem Noken tidak
sesuai dengan UU No 15 Tahun 2011 tentang penyelenggaraan pemilihan umumdimana pada pasal
1 berbunyi pemilihan umum adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan
secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil berdasarkan pancasila dan UndangUndang
Dasar 1945.Penerapan Sistem Noken menyebabkan pro dan kontra dalam pemungutan suara
dengan menggunakan sistem Noken.Hal ini dikarenakan masyarakat tidak memilih dengan cara
formal, melainkan suaranya di serahkan kepada kepala suku.

Pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014 menampilkan dua pasangan Prabowo
Subianto - Hatta Rajasa sebagai pasangan nomor urut 1 dan Jokowi-JK sebagai Pasangan nomor
urut dua (2), di beberapa wilayah kabupaten pegunungan tengah di Papua menggunakan noken
sebagai kotak suara dalam pemilihan umum tersebut. Ini menjadi salah satu sengketa terhadap
gugatan hasil pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden di Mahkamah Konstitusi yang di
ajukan oleh pasangan nomor urut satu (1) yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Peran penting seorang kepala suku tidak hanya berada dalam tingkat adat saja namun juga berada
dalam tataran pemerintahan negara. Peranan penting seorang kepala suku juga terjadi pada saat
proses pemilukada. Dalam proses pemilukada, seorang kepala suku menjadi pusat perhatian
masyarakat karena seorang kepala suku sebagai seorang pemimpin yang memiliki otoritas dalam
memberikan perintah dan masyarakat tunduk dan patuh kepada seorang kepala suku tanpa adanya
paksaan. Kewenangan dan kekuasaan seorang kepala suku di dalam adat ternyata berlangsung
hingga proses-proses pemerintahan Negara. Kepala suku yang memiliki kekuasaan terhadap
masyarakatnya, ternyata sangat berpengaruh terhadap setiap proses pemerintahan Daerah dan
Negara. Pengambilan keputusan dan sebagainya merupakan hak dari seorang kepala suku. Salah
satu proses yang menunjukkan pentingnya seorang kepala suku adalah proses pemilukada.

.Sistem pemilihan dengan menggunakan Noken merupakan sistem yang telah dipakai secara adat
dari generasi ke generasi.Sistem Noken dianggap tidak sesuai dengan asas pemilu LUBER namun
telah disetujui oleh Mahkamah Konstitusi Negara Republik Indonesia untuk beberapa alasan. Ada
beberapa peran kepala suku dalam sistem noken yaitu:

1. Mengumpulkan masyarakat
Proses ini dimulai dari tingkat yang terbawah dan akan diteruskan kepada tingkat yang
tertinggi dari sistem tingkatan kepala suku. Biasanya masyarakat ini dikumpulkan untuk
diberikan arahan tentang proses pemilihan dan pengenalan para calon.
2. Memaparkan proses pemilukada dan visi-misi kandidat
Kepala suku akan menjelaskan bagaimana seharusnya menjadi seorang warga negara yang
baik dalam mengikuti pemilukada. Selain itu juga seorang kepala suku haruslah
mengetahui latar belakang para kandidat yang akan dipilih guna memberikan arahan
kepada masyarakat siapa yang pantas dan layak untuk dipilih berdasarkan visi-misi dan
apa yang sudah pernah dihasilkan oleh para kandidat dengan melihat karya yang sudah
pernah dibuat. Dalam Proses ini sering kali menimbulkan dampak negatif seperti terjadi
praktek suap yang dilakukan oleh para kandidat/calon untuk menyuap kepala suku
3. Mengawasi masuknya suara kedalam noken dan diikat
Seorang kepala suku juga memiliki peran penting setelah proses pemilihan tersebut terjadi
yaitu mengawal surat suara hingga tingkat penyelenggara yaitu KPU. Membawa dan
mengawal surat suara ini dimaksudkan agar mengurangi proses kecurangan yang terkadang
terjadi atau penghilangan suara yang kadang terjadi.
Sistem noken dalam sistem big man dan sistem gantung atau sistem ikat menurut hukum
adat merupakan akomodasi dalam bermusyarawah dan mufakat, yang berdasarkan pada
nilai-nila adat dan kearifan lokal dalam budaya masyarakat adat di wilaya pegunungan
Papua. Proses musyawarah mufakat ini yang ditafsirkan sebagai demokrasi masyarakat
adat Papua di wilayah pegunungan Papua. Kedua sistem ini diletakan dengan
penyelenggaraan pemilu di Indonesia bertentangan dengan asas-asas pemilu yaitu asas
langsung, umum, bebas dan rahasia (LUBER). Sistem big man yang bertentangan dengan
asas-asas pemilu yaitu asas langsung dan rahasia. Asas langsung dalam sistem big man
yang dimaksud adalah bahwa sistem big man tidak memberikan kebebasan kepada setiap
masyarakat untuk melakukan pemilihan secara langsung melainkan memberikan
kepercayaan sepenuhnya kepada seorang kepala suku untuk mewakili suaranya dalam
mencoblos surat suara di TPS atas kesepakatan bersama. Sedangkan asas rahasia adalah
siapapun yang dipilih oleh pemilih adalah rahasia yang hanya dia yang tahu, tetapi dalam
sistem big man tidak mengenal asas rahasia karena masyarakat adat dalam memilih
pemimpin harus secara terbuka dan transparan, tidak ada kerahasiaan dalam memilih
pemimpin karena untuk kepentingan bersama. Demikian halnya juga dengan sistem
gantung atau noken gantung. Sistem noken gantung bertentangan juga dengan asas-asas
dalam pemilu yaitu asas rahasia. Asas rahasia yang dimaksudkan dalam sistem gantung
adalah bahwa siapapun yang di pilih oleh pemilih adalah rahasia yang hanya dia yang tahu,
tetapi dalam sistem noken gantung semua pemilih datang bersama dan menyaksikan serta
melihat untuk memasukan surat suara yang dicoblos di noken yang sudah digantungkan
sesuai kesepakatan.

DAFTAR PUSTAKA

Tarima, Yerianto. Noak,Piers Andreas. Azhar, Muhammad Ali. (2013). PERAN KEPALA SUKU
DALAM SISTEM NOKEN PADA PEMILUKADA DI DISTRIK KAMU KABUPATEN
DOGIYAI PROVINSI PAPUA TAHUN 2013. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Udayana. https://media.neliti.com/media/publications/248593-peran-kepala-suku-dalam-sistem-
noken-pad-906ae3e6.pdf

Kossay, Methodius. (2014).Jurnal “PEMILU SISTEM NOKEN DALAM DEMOKRASI


INDONESIA” (Studi kasus di Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua). Ilmu Hukum, Fakultas
Hukum, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. http://e-journal.uajy.ac.id/7278/1/JURNAL.pdf
LEMBAGA LEGISLATIF KHUSUS PAPUA BARAT

Otonomi daerah merupakan salah satu landasan hukum bagi daerah untuk melaksanakan
pembangunan daerah yang lebih aspiratif berdasarkan prakarsasendiri, dengan memanfaatkan
seluruh potensi yang dimilikinya. Undang- Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah,bagi Provinsi Papua, dinilai belum sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan
daerah. Karakteristik daerah yang sangat berbeda dengan beberapadaerah lain di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia, permasalahan-permasalahanyang belum terselesaikan,
mengharuskan adanya perlakuankhusus bagi Provinsi Papua.

Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua pada dasarnya adalah pemberian wewenang yang lebih luas
bagi Provinsi dan rakyat Papua untuk mengatur danmengurus diri sendiri di dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wewenang yang lebih luas berarti pula tanggungjawab yang
lebih besar bagiProvinsi dan rakyat Papua, untuk menyelenggarakan pemerintahan danmengatur
Journal of Governance And Public Policy 506 pemanfaatan kekayaan alam di Provinsi Papua
untuk sebesar-besarnyabagi kemakmuran rakyat Papua sebagai bagian dari rakyat Indonesiasesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Maka dari itu dibentuklah MRP ( Majelis Rakyat Papua), MRP adalah lembaga yang termasuk
dalam susunan pemerintahan daerah dalam UU Otsus, Pasal 5 ayat (2) Dalam rangka
penyelenggaraan Otonomi Khusus di Provinsi Papua dibentuk Majelis Rakyat Papua yang
merupakan representasi kultural orang asli Papua yang memiliki kewenangan tertentu dalam
rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua, dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap
adat dan budaya, pemberdayaan perempuan, dan pemantapan kerukunan hidup beragama; ayat (3)
MRP dan DPRP berkedudukan di ibu kota Provinsi.

ran perundang-undangan. MRPB berkedudukan sebagai lembaga representasi kultural orang asli
Papua yangmemiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua
dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap adat dan budaya,pemberdayaan perempuan,
dan pemantapan kerukunan hidup beragama. Pembentukan MRP ini dilatarbelakangi oleh
beberapa alasan :

1. Hak-hak politik orang asli Papua dan kaum perempuan cenderung diabaikan
2. Representasi politik orang asli Papua dan kaum perempuan di lembagalembagapolitik
(parpol/legislatif) tidak cukup signifikan
3. Aspirasi politik orang asli Papua dan kaum perempuan cenderung tidakterakomodir
4. Tingkat partisipasi politik orang asli Papua dan kaum perempuan tergolong relatif rendah
5. Komitmen untuk menghormati adat dan budaya, memberdayakan kaumperempuan, dan
memantapkan kerukunan hidup beragama
6. Komitmen untuk melakukan rekonsiliasi antara sesama orang asli Papua,maupun orang
asli Papua dengan sesama penduduk Provinsi Papua.
Kehadiran MRP sesungguhnya diharapkan dapat merumuskan kebijakan yang bernilai strategis
sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan (service), pemberdayaan (empowerment),
memperkuat tatakelola pemerintahan (good governance), serta dalam rangka akselarasi
pembangunan (acceleration development), namun apabila proses pembentukannya tidak di
laksanakan secara tepat dan bijaksana, justru berpotensi untuk memicu konflik yang lebih luas dan
berbagai permasalahan lainnya dikalangan masyarakat asli Papua.

Hak politik orang asli Papua tidak lepas dari nilai-nilai norma yang diperjuangkan selama ini. Pada
elemen normatif MRP sebagai lembaga yang merepresentasikan norma maupun adat dan
menjunjung tinggi hak orang asli Papua. Misalkan MRP Papua Barat memperjuangkan dan
mendorong agar recruitmen partai politik memperioritaskan orang asli Papua dan mendapatkan
pertimbangan dari lembaga MRP. Karena yang menjadi bahan pertimbangan lembaga adat seperti
MRP adalah memilih orang-orang yang dapat membawa aspirasi serta faham akan nilai-nilai yang
diperjuangkan sesuai dengan adat dan istiadat yang berlaku selama ini di tanah Papua yang selalu
mejujung tinggi nilai kekompakan dan kekeluargaan. Alat Kelengkapan MRP terdiri dari :

1. Pimpinan
2. Kelompok Kerja-Kelompok Kerja
3. Dewan Kehormatan

Dengan demikian pendekatan desentralisasi di Provinsi Papua pada hakekatnya tetap dimaksudkan
untuk mencapai tujuan pelaksanaan desentralisasi dan Otonomi Daerah itu sendiri. Provinsi Papua
terdiri atas Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang masing-masing sebagai Daerah Otonom.
Daerah Kabupaten/ Kota terdiri atas sejumlah distrik. Distrik terdiri atas sejumlah kampung atau
yang disebut dengan nama lain. Berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2001, kewenangan Provinsi Papua mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan,
kecuali kewenangan bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, moneter dan fiskal, agama,
dan peradilan serta kewenangan tertentu di bidang lain yang ditetapkan sesuai dengan peraturan
perundang- undangan.

Otonomi Khusus Papua berarti bahwa ada hubungan hirarkis antara pemerintah tingkat Provinsi
dan Kabupaten/ Kota, namun pada saat yang sama Provinsi, Kabupaten/ Kota dan Kampung
masing-masing adalah daerah otonom yang memiliki kewenangannnya sendiri-sendiri. Prinsip
yang dianut adalah bahwa kewenangan perlu diberikan secara proporsional ke bawah, terutama
untuk berbagai hal yang langsung berkaitan dengan masyarakat.Untuk menyelenggarakan
pemerintahan yang demokratis, profesional dan bersih, sekaligus memiliki ciri-ciri kebudayaan
dan jati diri rakyat Papua, serta mengakomodasi sebanyak mungkin kepentingan penduduk asli
Papua, dibentuk empat badan/ lembaga, yaitu lembaga eksekutif, lembaga legislatif, lembaga adat,
dan lembaga peradilan. Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 menyebutkan
bahwa Pemerintahan Daerah Provinsi Papua terdiri atas DPRP (Dewan Perwakilan Rakyat Papua)
sebagai badan legislatif, dan Pemerintah Provinsi sebagai badan eksekutif. Lembaga eksekutif di
tingkat propinsi dipimpin oleh seorang Gubernur dan di tingkat Kabupaten/ Kota dipimpin oleh
Bupati atau Walikota.

Tugas dan kewenangan Majelis Rakyat Papua (MRP), dapat dikatakan bahwa apabila tidak ada
Majelis Rakyat Papua (MRP) yang mempunyai kewenangan dalam melindungi hak-hak orang asli
Papua, dengan berlandaskan penghormatan terhadap adat dan budaya, pemberdayaan perempuan
dan pemantapan kehidupan kerukunan hidup beragama, maka tidak ada Otonomi Khusus Papua.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai representasi
kultural orang asli Papua adalah lembaga yang menentukan penyelenggaraan dan eksistensi
Otonomi Khusus di Papua

DAFTAR PUSTAKA

Rengen, Yamin. (2017). KELEMBAGAAN MAJELIS RAKYAT PAPUA BARAT (MRP-PB)


DALAM OTONOMI KHUSUS 2017. Staff Bagian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Dinas
Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Fakfak Provinsi Papua Barat. Artikel Online,
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=509371&val=9909&title=KELEMBAGAA
N%20MAJELIS%20RAKYAT%20PAPUA%20BARAT%20(MRP-
PB)%20DALAM%20OTONOMI%20%20KHUSUS%202017