Anda di halaman 1dari 12

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KETUBAN PECAH DINI DI RSU PKU


MUHAMMADIYAH BANTUL
TAHUN 2016

NASKAH PUBLIKASI

Disusun oleh:
Merti Demiarti
1610104258

PROGRAM STUDI BIDAN PENDIDIK JENJANG DIPLOMA IV


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2017
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KETUBAN PECAH DINI DI RSU PKU
MUHAMMADIYAH BANTUL 1
Merti Demiarti2, Suharni3
Mertidemiarti66@gmail.com

Latar Belakang: Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan salah satu penyebab
terjadinya infeksi. Pada sebagian besar kasus ketuban pecah dini berhubungan
dengan infeksi intra partum. Faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD sulit
diketahui. Kejadian ketuban pecah dini di Indonesia sebanyak 35,70 %-55,30% dari
17.665 kelahiran. Dampak terjadinya KPD dapat menyebabkan infeksi maternal
ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena kompresi tali pusat,
deformitas janin, meningkatnya insiden seksio sesarea, atau gagalnya persalinan
normal.
Tujuan: Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi ketuban pecah dini di RSU PKU Muhammdiyah Bantul.
Metode Penelitian: Desain penelitian survei analitik, dengan pendekatan
retrospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mengalami
ketuban pecah dini. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 85 responden
dengan total sampling. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-Square.
Simpulan hasil penelitian dan Saran: Ada hubungan antara paritas dengan
kejadian ketuban pecah dini (KPD) di RSU PKU Muhammadiyah Bantul tahun
2016. Diharapkan bagi bidan untuk melakukan skrining ANC yang komprehensif
untuk mendeteksi faktor resiko KPD pada ibu hamil.

Kata kunci: faktor, ketuban pecah dini, paritas

LATAR BELAKANG
Mortalitas dan morbiditas ibu kenaikan dari 228 di tahun 2007 menjadi
hamil, ibu bersalin dan nifas masih 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran
merupakan masalah terbesar terutama di hidup di tahun 2012 (BPS, 2013). Angka
Negara berkembang termasuk ini masih cukup tinggi jika dibandingkan
Indonesia. Angka kematian ibu dengan negara-negara tetangga ASEAN.
Berdasarkan data dari kementerian
merupakan tolak ukur status kesehatan kesehatan RI, kematian ibu di Indonesia
di suatu Negara. Setiap tahun tercatat masih didominasi oleh tiga penyebab utama
180-200 juta kehamilan di dunia dan kematian yaitu perdarahan (30,3%),
585 terjadi kematian pada ibu hamil. hipertensi dalam kehamilan (27,1%) dan
Penyebab dari kematian pada wanita infeksi (7,3%).
hamil dan bersalin selalu berkaitan Menurut Prawirohardjo (2007)
dengan komplikasi, diantaranya 24,8% penyebab kematian maternal merupakan
perdarahan, 14,9% infeksi, 12,9% suatu hal yang cukup kompleks, yang dapat
eklampsia, 6,9% distosia saat digolongkan pada faktor-faktor reproduksi,
persalinan, 12,9% aborsi yang tidak komplikasi obstertrik, pelayanan kesehatan
dan sosial ekonomi. Yang termasuk
aman dan sisanya berkaitan dengan
komplikasi obstetrik adalah infeksi. Infeksi
sebab lain (WHO, 2011). dapat terjadi pada pertolongan persalinan
Menurut hasil Survei Demografi
yang tidak mengindahkan syarat-syarat
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012,
asepsis-antisepsis, karena partus lama,
angka kematian ibu menunjukkan
ketuban pecah dini, dan sebagainya. keadaan janin dapat menurun jika tidak
Menurut Sujiyantini (2009) Ketuban pecah segera dilakukan pemeriksaan oleh tenaga
dini (KPD) merupakan salah satu kesehatan. Oleh karena itu ibu hamil harus
penyebab terjadinya infeksi. Pada sebagian rutin untuk memeriksakan kehamilannya
besar kasus ketuban pecah dini agar dapat deteksi dini jika ada komplikasi
berhubungan dengan infeksi intra partum. kehamilan. Selain itu ibu hamil juga harus
Menurut Hidayat (2009) faktor- mengetahui tentang tanda bahaya
fator yang berhubungan erat dengan KPD kehamilan. Apabila ibu mengetahui tentang
sulit diketahui. Kemungkinan faktor tanda bahaya kehamilan, ibu akan selalu
predisposisi adalah infeksi, golongan darah waspada dan berhati-hati dengan cara selalu
ibu dan anak tidak sesuai, multi graviditas rutin memeriksakan kehamilannya
(paritas), merokok, defesiensi gizi (vitamin (Damarati, 2012).
C), inkompetensi servik, polihidramnion, Peran bidan sangat penting
riwayat KPD sebelumnya, kelainan selaput khususnya dalam menurunkan angka
ketuban. Menurut Morgan. G dan kematian ibu (AKI) dan angka kematian
Hamilton. C (2009) kemungkinan yang bayi (AKB) dalam proses melahirkan yang
menjadi faktor penyebab terjadinya KPD hingga saat ini masih tinggi. Karenanya,
adalah usia ibu yang lebih tua mungkin keahlian dan kecakapan seorang bidan
menyebabkan ketuban kurang kuat dari menjadi bagian yang menentukan dalam
pada ibu muda, paritas, infeksi, kelainan menekan angka kematian saat melahirkan.
letak janin, inkompetensi serviks, riwayat Bidan diharapkan mampu mendukung
KPD sebelumnya sebanyak 2 kali atau usaha peningkatan derajat kesehatan
lebih, dan merokok selama kehamilan. masyarakat, yakni melalui peningkatan
Ketuban pecah dini merupakan kualitas pelayanan kesehatan, terutama
komplikasi yang berhubungan dengan perannya dalam mendukung pemeliharaan
kehamilan kurang bulan, dan mempunyai kesehatan kaum ibu saat mengandung
kontribusi yang besar pada angka kematian hingga membantu proses kelahiran
perinatal pada bayi yang kurang bulan. (Hidayat & Sujiyatini, 2011).
Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang Dalam penanganan kasus ketuban
dari 34 minggu sangat kompleks, bertujuan pecah dini terdapat pada kebijakan
untuk menghilangkan kemungkinan pemerintah dalam Permenkes Nomor
terjadinya prematuritas dan RDS 369/Menkes/SK/III/2007 tentang standar
(Respiration Dystress Syndrome) profesi bidan yang terdapat pada
(Nugroho, 2010). kompetensi ke-3 tentang asuhan dan
Menurut Dutton (2012) insiden konseling selama kehamilan yaitu bidan
ketuban pecah dini sebanyak 8-10% memberi asuhan antenatal bermutu tinggi
kehamilan cukup bulan. Pada umur untuk mengoptimalkan kesehatan selama
kehamilan kurang 37 minggu, insiden kehamilan yang meliputi deteksi dini,
ketuban pecah dini terjadi sebanyak 2-4% pengobatan atau rujukan dari komplikasi
pada kehamilan tunggal dan 7-10% pada tertentu. Dalam hal ini bidan harus mampu
kehamilan kembar. Menurut Wahyuni memberikan pelayanan kesehatan seoptimal
(2009) dalam Damarati (2012) kejadian mungkin dengan melakukan deteksi dini
ketuban pecah dini di Indonesia sebanyak untuk meminimalisir terjadinya komplikasi
35,70%-55,30% dari 17.665 kelahiran. yang akan terjadi sehingga dapat
Rendahnya kesadaran ibu hamil mengurangi angka kematian ibu salah
yang memeriksakan kehamilan merupakan satunya adalah kejadian ketuban pecah dini.
salah satu faktor penentu angka kematian Pemerintah juga telah
ibu. Dalam masyrakat banyak ibu yang mengupayakan peningkatan kesejahteran
tidak mengetahui tanda-tanda bahaya pada ibu diantaranya dengan andanya program
kehamilannya salah satunya adalah keluar inetrnasional yaitu Sustainable
air dari jalan lahir pada saat belum adanya Development Goals (SDGs) yang
tanda-tanda persalinan. Fenomena ini melanjutkan target-target Millenium
kadang dianggap biasa karena banyak Development Goals (MDGs), salah satu
mengira bahwa air tersebut bukan air tujuan dan sasaran SDGs dibidang
ketuban. Hal ini dapat menyebabkan kesehatan yaitu menjamin kehidupan yang
sehat dan mendorong kesejahteraan bagi yang sering terjadi dan memiliki angka
semua orang di segala usia (Goal nomor 3), yang cukup tinggi. Menurut rekam medis
yang mempunyai 13 target salah satunya angka kejadian ketuban pecah dini pada
yaitu mengurangi angka kematian ibu tahun 2014 adalah 78 (6,89%) kasus dari
hingga di bawah 70 per 100.000 kelahiran 1131 ibu bersalin, pada tahun 2015 adalah
hidup dan mengakhiri kematian bayi dan 73 (7,74%) kasus dari 942 ibu bersalin dan
balita yang dapat dicegah, dengan seluruh pada tahun 2016 adalah 96 (10,03 %) dari
negara berusaha menurunkan Angka 957 ibu bersalin.
Kematian Neonatal setidaknya hingga 12
per 1.000 kelahiran hidup dan Angka METODE PENELITIAN
Kematian Balita 25 per 1.000 kelahiran Penelitian ini merupakan penelitian
hidup. Untuk mengimplementasikan kuantitatif dengan menggunakan
program tersebut pemerintah Secara metode survei analitik. Rancangan
substansial meningkatkan pembiayaan
penelitian yang digunakan yaitu
kesehatan serta rekrutmen, pengembangan,
pelatihan, dan retensi tenaga kesehatan di
retrospektif. Populasi dalam penelitian
negara-negara berkembang, terutama ini adalah hasil studi dokumentasi yang
negara-negara tertinggal dan negara bagian diambil dari rekam medik tentang data
pulau kecil yang sedang berkembang. ibu bersalin tahun 2016 yang
Memperkuat kapasitas seluruh negara, mengalami ketuban pecah dini di RSU
khususnya Negara-negara berkembang PKU Muhammadiyah Bantul Besar
dalam hal peringatan dini, penurunan risiko sampel adalah 85 orang yang diambil
serta pengelolaan risiko kesehatan nasional dengan tehnik total sampel. Variabel
dan global (Hoelman dkk, 2015). penelitian adalah infeksi, kelainan letak,
Berdasarkan studi pendahuluan usia ibu, paritas, kehamilan kembar, dan
pada tanggal 12 Desember 2016 di Rumah ketuban pecah dini. Analsis data
Sakit Umum PKU Muhammadiyah Bantul menggunakan Chi-square.
kasus ketuban pecah dini merupakan kasus

HASIL
A. Analisis Univariat
Tabel 4.1 Kejadian KPD Berdasarkan Usia Kehamilan Di RSU PKU
Muhammadiyah Bantul Tahun 2016
No Kejadian KPD Frekuensi %
1 Preterm (<37 minggu) 20 23,5
2 Aterm (37-42 minggu) 65 76,5
3 Posterm (>42 minggu) 0 0
Jumlah 85 100
Berdasarkan Tabel 4.1 Dapat pada kehamilan aterm yaitu sebanyak
diketahui bahwa dari 85 ibu yang 65 orang (76,5%).
mengalami KPD paling banyak terjadi
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Faktor yang Mempengaruhi KPD
di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2016
No Faktor yang Mempengaruhi KPD Frekuensi %
1 Infeksi : Ya 0 0
Tidak 85 100
2 Kelainan Letak: Ya 3 3,5
Tidak 82 96,5
3 Usia Ibu: Beresiko (<20 & >35 tahun) 21 24,7
Tidak beresiko (20-35 tahun) 64 75,3
4 Paritas: Primipara 17 20
Multipara 68 80
5 Kehamilan Kembar: Ya 2 2,4
Tidak 83 97,6
Berdasarkan Tabel 4.2 Dapat diketahui yaitu 64 orang (75,3%), pada faktor
bahwa seluruh ibu bersalin dengan KPD paritas dapat diketahui bahwa paling
tidak mengalami infeksi yaitu sebanyak banyak responden dengan multipara
85 orang (100%), pada faktor kelainan yaitu 68 orang (80%), dan pada faktor
letak paling banyak tidak mengalami kehamilan kembar dapat diketahui
kelainan letak janin yaitu 82 orang bahwa paling banyak responden yang
(96,5%), pada faktor usia ibu dapat tidak mengalami kehamilan kembar
diketahui bahwa paling banyak yaitu 83 orang (97,6%).
responden memiliki usia tidak beresiko
B. Analisis Bivariat
Tabel 4.3 Hubungan antara Faktor Infeksi dengan Kejadian KPD
di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2016
KPD Preterm Aterm Posterm Total P
F % F % F % f % (value)
Infeksi
Ya 0 0 0 0 0 0 0 0
Tidak 20 23,5 65 76,5 0 0 85 100 -
Total 20 23,5 65 76,5 0 0 85 100
Dari Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa KPD tidak disebabkan oleh faktor
seluruh responden yang mengalami infeksi.
Tabel 4.4 Hubungan antara Faktor Kelainan Letak Janin dengan Kejadian
KPD di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2016
KPD Preterm Aterm Posterm Total P
Kelainan F % F % f % f % (value
letak janin )
Ya 0 0 3 100 0 0 3 100
Tidak 20 24,4 62 75,6 0 0 82 100 1,000
Total 20 23,5 65 76,5 0 0 85 100
Dari Tabel 4.4 menunjukkan menggunakan uji Fisher Exact
bahwa sebagian besar responden yang menunjukkan hasil p-value = 1,000
mengalami KPD tidak disebabkan oleh lebih besar dari α (0,05). Karena p > α
kelainan letak janin dengan jumlah 82 (1,000 > 0,05) sehingga dinyatakan
orang yang terjadi pada kehamilan bahwa tidak ada hubungan antara
aterm yaitu sebanyak 62 orang (75,6%) kelainan letak janin dengan kejadian
dan pada kehamilan preterm sebanyak KPD.
20 orang (24,4%). Analisis statistik
Tabel 4.5 Hubungan antara Faktor Usia Ibu dengan Kejadian KPD
di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2016
KPD Preterm Aterm Posterm Total P
Usia ibu F % F % F % F % (value)
Beresiko 8 38,1 13 61,9 0 0 21 100
(<20 & >35 tahun)
Tidak beresiko 12 18,8 52 81,2 0 0 64 100 0,070
(20-35 tahun)
Total 20 23,5 65 76,5 0 0 85 100
Pada Tabel 4.5 menunjukan kehamilan preterm sebanyak 12 orang
bahwa sebagian besar responden yang (18,8%). Hasil uji Chi-Square
mengalami KPD memiliki usia tidak diperoleh p value (0,070) lebih besar
beresiko (20-35 tahun) yaitu sebanyak dari α (0,05). Karena p > α (0,070 >
64 orang yang terjadi pada kehamilan 0,05) sehingga dinyatakan bahwa tidak
aterm yaitu 52 orang (81,2%) dan pada
ada hubungan antara usia ibu dengan kejadian KPD.
Tabel 4.6 Hubungan antara Faktor Paritas dengan Kejadian KPD
Di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2016
KPD Preterm Aterm Posterm Total P
Paritas f % F % F % f % (value)
Primipara 9 52,9 8 47,1 0 0 17 100
Multipara 11 16,2 57 83,8 0 0 68 100 0,001
Total 20 23,5 65 76,5 0 0 85 100
Pada Tabel 4.6 menunjukan Hasil uji Chi-Square menunjukkan
bahwa sebagian besar responden yang adanya hubungan yang signifikan
mengalami KPD yaitu pada multipara dengan nilai p value (0,001) lebih kecil
(paritas 2-3) sebanyak 68 orang yang dari α (0,05). Karena p < α (0,001 <
terjadi pada kehamilan aterm sebanyak 0,05) sehingga dinyatakan bahwa ada
57 orang (83,8%) dan pada kehamilan hubungan antara paritas dengan
preterm sebanyak 11 orang (16,2%). kejadian KPD.
Tabel 4.7 Hubungan antara Faktor Kehamilan Kembar dengan Kejadian
KPD Di RSU PKU Muhammadiyah Bantul Tahun 2016
KPD Preterm Aterm Posterm Total P
Kehamilan F % F % F % f % (value)
Kembar
Ya 0 0 2 100 0 0 2 100
Tidak 20 24,1 63 75,9 0 0 83 100 1,000
Total 20 23,5 65 76,5 0 0 85 100
Tabel 4.7 menunjukan bahwa menggunakan uji Fisher Exact
sebagian besar responden yang menunjukkan hasil p-value (1,000)
mengalami KPD tidak disebabkan oleh lebih besar dari α (0,05). Karena p < α
faktor kehamilan kembar yaitu (1,000 < 0,05) sehingga dinyatakan
sebanyak 83 orang yang terjadi pada bahwa tidak ada hubungan antara
kehamilan aterm sebanyak 63 (75,9%) kehamilan kembar dengan kejadian
dan pada kehamilan preterm sebanyak KPD.
20 (24,1%). Analisis statistik
PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini terjadi perubahan biokimia pada selaput
menunjukkan bahwa kejadian KPD ketuban. Pecahnya ketuban pada
banyak terjadi pada kehamilan aterm kehamilan aterm merupakan hal
yaitu sejumlah 65 (76,5%). Hal ini fisiologis.
menunjukkan bahwa semakin tua umur Hasil penelitian ini sejalan
kehamilan bahkan mendekati waktu dengan penelitian yang dilakukan oleh
persalinan akan mengakibatkan peneliti sebelumnya Lowing (2015)
pembukaan dan peregangan selaput dengan judul “ Gambaran Ketuban
ketuban yang berpengaruh terhadap Pecah Dini di RSUP PROF DR. R. D.
selaput ketuban sehingga melemah dan Kandou Manado” dengan jenis
mudah pecah. Hasil penelitian ini sesuai penelitian retrospektif deskriptif yang
dengan teori Prawirohardjo (2011) yang didapatkan hasil distribusi kasus KPD
menyatakan bahwa, selaput ketuban terbanyak pada usia kehamilan aterm
sangat kuat pada kehamilan muda. Pada yaitu sebanyak 43 kasus (1,13%) dan
trimester ke tiga selaput ketuban mudah pada usia kehamilan <37 minggu
pecah. Melemahnya kekuatan selaput (preterm) yaitu sebesar 16 kasus
ketuban ada hubungannya dengan (0,41%).
pembesaran uterus, kontraksi janin, dan Menurut Mochtar (2011), KPD
gerakan janin. Pada trimester terakhir pada kehamilan preterm terjadi karena
pada selaput ketuban terdapat kolagen bahwa infeksi genetalia (70,2%)
tersebut berada pada lapisan kompakta menyebabkan KPD.
amnion, fibroblast, jaringan retikuler Hasil penelitian yang dilakukan
korion dan trofoblas. Sintesis maupun mengenai faktor kelainan letak janin
regtradasi jaringan kolagen dikontrol menunjukkan bahwa analisis statistik
oleh sistem aktivitas dan inhibasi. Pada menggunakan uji Fisher Exact
interleukin-1 (IL-1) jika ada infeksi dan didapatkan p-value = 1,000 lebih besar
inflamasi akan terjadi peningkatan dari α (0,05) yang artiya tidak ada
aktivitas IL-1 dan prostaglandin hubungan yang bermakna antara
menghasilkan kolagenase jaringan kelainan letak janin dengan kejadian
sehingga terjadi dipolimenasi kolagen KPD. Hasil penelitian ini tidak sesuai
dan selaput korioamnion menyebabkan dengan teori Manuaba (2007) yang
selaput ketuban tipis lemah dan mudah menyatakan bahwa kelainan letak janin
pecah. dapat membuat ketuban pecah. Bagian
Berdasarkan penelitian yang yang terendah langsung menerima
telah dilakukan ditemukan bahwa ibu tekanan intra uteri yang dominan yaitu
bersalin di RSU PKU Muhammadiyah letak sungsang dan bokong. Persalinan
Bantul tahun 2017 yang mengalami pada letak sungsang merupakan
kejadian KPD tidak mengalami infeksi kontroversi karena komplikasinya tidak
85 (100%). Hal ini bisa disebabkan oleh dapat diduga sebelumnya terutama pada
faktor kebersihan diri dan aktivitas persalinan kepala bayi. Sebab terjadinya
seksual yang sehat yang dilakukaan letak sungsang adalah terdapat plasenta
oleh ibu bersalin tersebut karena previa, keadaaan janin yang
berdasarkan penelitian yang dilakukan menyebabkan letak sungsang
oleh Waters & Brian (2009) (makrosomia, hidrosefalus,
menunjukkan bahwa infeksi yang anensefalus), keadaaan air ketuban
disebabkan oleh clamidia adalah 0,7 (oligohidramnion, hidramnion),
kali lebih besar menyebabkan KPD, keadaan kehamilan (kehamilan ganda,
sedangkan gonorhoe 1,2 kali lebih besar kehamilan lebih dari dua), keadaan
mengalami KPD dan bacterial uterus ( uterus arkuatus), keadaan
vaginosis 1,6 lebih besar dapat dinding abdomen, keadaan tali pusat
menyebabkan KPD dibanding ibu yang pendek, terdapat lilitan tali pusat pada
tidak mengalami infeksi tersebut. leher.
Pada penelitian sebelumnya Pada dasarnya kelainan letak
yang dilakukan oleh Sudarto & Tunut janin memang dapat menyebabkan KPD
(2016) dengan judul risiko terjadinya karena bagian yang terendah langsung
ketuban pecah dini pada ibu hamil menerima tekanan intra uteri yang dapat
dengan infeksi menular seksual, membuat ketuban pecah sebelum
menunjukkan hasil bahwa terdapat waktunya. Meskipun hasil uji secara
hubungan yang bermakna antara faktor statistik tidak menunjukkan adanya
risiko infeksi menular seksual (IMS) hubungan yang bermakna antara faktor
dengan KPD, ibu hamil dengan kelainan letak janin dengan KPD, akan
penyakit IMS cenderung mengalami tetapi berdasarkan data ibu bersalin
risiko KPD lebih besar pada saat proses dengan KPD di RSU PKU
persalinan, jika dilihat dari aspek risiko Muhammadiyah Bantul tahun 2016
IMS berpeluang meningkatkan kejadian mayoritas tidak mengalami kelainan
KPD sebesar 4,06 kali dibandingkan ibu letak janin sejumlah 82 orang, sebagian
hamil yang tidak IMS, dan penelitian besar 62 (72,9%) terjadi pada
oleh Fitri AS (2011) didapatkan hasil kehamilan aterm dan 20 (24,4%) terjadi
pada kehamilan preterm. Sedangkan
responden dengan kelainan letak janin Kabupaten Gowa tahun 2012”
(sungsang) sejumlah 3 orang, (100%) menunjukkan hasil bahwa kejadian
yang terjadi pada kehamilan aterm. KPD banyak terjadi pada usia 20-35
Kesenjangan hasil penelitian ini tahun yang merupakan usia reproduksi
dengan teori yang ada dapat disebabkan sehat (32,3%). Begitu pula ibu yang
karena ibu yang tidak mengalami tidak mengalami KPD juga lebih
kelainan letak juga mempunyai faktor banyak pada usia 20-35 tahun (32,3%).
resiko yang lain. Berdasarkan data ibu Berdasarkan hasil penelitian
diketahui bahwa dari 82 ibu yang tidak yang telah dilakukan menunjukkan
menglami kelainan letak janin, 67 bahwa ada hubungan antara paritas
diantara memiliki paritas lebih dari 1 dengan kejadian KPD, analisis data
yang dapat menyebabkan terjadinya menggunakan Chi Square didapatkan p
KPD. value (0,001) lebih kecil dari α (0,05)
Hasil penelitian ini didukung yang artinya ada hubungan antara
oleh peneliti sebelumnya Purwanti paritas dengan kejadian KPD. Hasil
(2014) dengan judul “faktor-faktor yang penelitian ini sesuai dengan teori
berhubungan dengan kejadian ketuban manuaba (2010) yang menyatakan
pecah dini di RSUD Ungaran bahwa paritas merupakan faktor
Kabupaten Semarang” yang penyebab terjadinya ketuban pecah dini,
menyatakan bahwa tidak ada hubungan dan menurut Morgan & Hamilton
antara kelainan letak janin dengan (2009), paritas merupakan salah satu
ketuban pecah dini dengan (p-value = faktor yang mengakibatkan ketuban
0,897). pecah dini karena peningkatan paritas
Berdasarkan hasil penelitian yang memungkinkan kerusakan serviks
yang telah dilakukan mengenai faktor selama proses kelahiran sebelumnya.
usia menunjukkan bahwa tidak ada Hal ini bukan disebabkan aktivitas
hubungan antara usia ibu dengan uterus melainkan kelemahan intrinsik
kejadian KPD, dengan hasil uji Chi uterus yang disebabkan oleh trauma
Square didapatkan p value (0,070) lebih sebelumnya pada servik khususnya
besar dari α (0,05). Hasil penelitian ini pada tindakan riwayat persalinan
tidak sesuai dengan teori Prawirohardjo pervaginam, dilatasi serviks, kuretase.
(2010) yang menyatakan bahwa usia Selain itu susunan serviks pada
yang rentan mengalami KPD yaitu usia multipara lebih banyak serabut saraf
wanita kurang dari 20 tahun dan diatas daripada jaringan ikat dibanding serviks
35 tahun. Lebih lanjut dijelaskan bahwa normal. Rusaknya jaringan serviks
usia ibu yang ≤20 tahun, termasuk usia tersebut maka kemungkinan otot dasar
yang terlalu muda dengan keadaan dari uterus meregang. Proses
uterus yang kurang matur untuk peregangan terjadi secara mekanis yang
melahirkan sehingga rentan mengalami merangsang beberapa faktor di selaput
ketuban pecah dini. Sedangkan ibu ketuban seperti prostaglandin E2 dan
dengan usia ≥30 tahun tergolong usia interleukin-8. Hal-hal tersebut akan
yang terlalu tua untuk melahirkan menyebabkan terganggunya
khususnya pada ibu primi (tua) dan kesimbangan proses sintesis dan
beresiko tinggi mengalami ketuban degradasi matriks ektraseluler yang
pecah dini. akhirnya menyebabkan ketuban pecah.
Hasil penelitian ini didukung Aktivitas kehamilan multiple, pengaruh
oleh penelitian sebelumnya yang hormone dan infeksi dapat berperan
dilakukan oleh Tahir (2012) yang sebagian.
berjudul “Faktor determinan ketuban Berdasarkan data ibu bersalin
pecah dini di RSUD Syekh Yusuf dengan KPD di RSU PKU
Muhammadiyah Bantul tahun 2016 oleh ibu, yang akhirnya berdampak
sebagian besar memiliki paritas 2-3 terhadap ibu dan atau janinnya.
(multipara) sebanyak 68 orang (80,0%) Berdasarkan hasil penelitian
yang terdiri dari 11 orang (12,95) pada menunjukkan tidak ada hubungan antara
kehamilan preterm dan 57 orang kehamilan kembar dengan kejadian KPD
(67,1%) pada kehamilan aterm. yang dibuktikan dengan analisis statistik
Penelitian ini sejalan dengan penelitian menggunakan uji Fisher Exact
menunjukkan hasil p-value = 1,000 lebih
Sari (2014), yang menyatakan bahwa
besar dari α (0,05). Karena p < α (1,000 <
kejadian KPD di Puskesmas Balongsari
0,05) sehingga Ho diterima dan Ha ditolak
Surabaya tahun 2013 lebih banyak terjadi
yang artinya tidak ada hubungan antara
pada paritas multipara (31,17 %). Hal ini kehamilan kembar dengan KPD. Hasil
didukung juga oleh penelitian penelitian ini tidak sesuai dengan teori
Rahmawati (2015), yang dilakukan di Saifudin (2012) yang menyatakan bahwa
RSUD Sunan Kalijaga Demak, yang pada kehamilan kembar terjadi distensi
menyebutkan faktor paritas lebih uterus yang berlebihan, sehingga
banyak terjadi yaitu kelompok menimbulkan adanya ketegangan rahim
multipara sebanyak 48 % yang dapat secara berlebihan. Hal ini terjadi karena
mempengaruhi terjadinya ketuban jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih
pecah dini. Menurut Nugroho (2010) besar dan kantung (selaput ketuban )
penyebab ketuban pecah dini salah relative kecil sedangkan dibagian bawah
tidak ada yang menahan sehingga
satunya multigravida, karena pada mengakibatkan selaput ketuban tipis dan
multigravida kanalis servikalis selalu mudah pecah. Pada penelitian yang
terbuka oleh karena melahirkan lebih dilakukan oleh Tahir (2012), juga
dari 1 kali. Sedangkan pada kelainan menyatakan bahwa faktor kehamilan
letak menjadi salah satu faktor kembar ada hubungan dengan kejadian
predisposisi ketuban pecah dini karena KPD yaitu sebanyak (89%) pada ibu yang
pada letak sungsang tidak ada bagian tidak mengalami kehamilan kembar lebih
terendah yang menutupi pintu atas besar mengalami kejadian KPD dibanding
panggul (PAP) yang dapat menghalangi ibu yang tidak hamil kembar (11%).
tekanan terhadap membran bagian Wanita dengan kehamilan kembar
beresiko tinggi mengalami ketuban pecah
bawah.
dini juga preeklamsia. Hal ini biasanya
Pada penelitian ini tidak hanya
disebabkan oleh peningkatan massa
ibu multipara yang mengalami KPD plasenta dan produksi hormon. Oleh karena
tetapi juga terjadi pada ibu primipara itu, akan sangat membantu jika ibu dan
yaitu sebanyak 17 orang, 9 (52,9%) keluarga dilibatkan dalam mengamati
KPD terjadi pada usia kehamilan gejala yang berhubungan dengan
preterm dan 8 (47,1%) terjadi pada usia preeklamsia dan tanda-tanda ketuban pecah
kehamilan aterm. Hal ini disebabkan (Varney, 2008).
ibu primipara saat menjalani Pada dasarnya faktor kehamilan
kehamilannya yang pertama kalinya kembar memang merupakan salah satu
mengalami berbagai perubahan fisik penyebab dari KPD, hanya saja hasil uji
maupun psikis yang dapat menjadi secara statistik pada penelitian ini tidak
menunjukkan adanya hubungan yang
suatu stresor, karena kehamilan tidak bermakna antara faktor kehamilan kembar
sesuai dengan yang diharapkan. Di dengan KPD, akan tetapi berdasarkan data
samping itu pengalaman ibu yang masih ibu bersalin dengan KPD di RSU PKU
terbatas kadang membuat ibu hamil Muhammadiyah Bantul tahun 2016 yang
dengan mudah mempercayai informasi tidak mengalami kehamilan kembar yaitu
yang tidak sesuai kesehatan dan sebanyak 83 orang (97,6%), sebagian besar
berbagai nilai-nilai budaya yang dianut 63 orang (75,9%) terjadi pada kehamilan
aterm dan 20 orang (24,1%) terjadi pada
kehamilan preterm, dan 2 orang yang
mengalami kehamilan kembar (100%) terjadi pada kehamilan aterm.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan mendeteksi faktor resiko KPD pada ibu
pembahasan mengenai faktor-faktor hamil.
yang mempengaruhi ketuban pecah dini Diharapkan bagi ibu hamil untuk
di RSU PKU Muhammadiyah Bantul rutin memeriksakan kehamilannya, dan
tahun 2016 yang telah dipaparkan, apabila menemukan tanda bahaya
dapat disimpulkan bahwa sebagian seperti keluar air dari jalan lahir
besar ketuban pecah dini terjadi pada sebelum waktunya bersalin agar segera
usia kehamilan aterm sebanyak 65 datang ke petugas kesehatan.
(76,5%) dan yang terjadi pada usia Diharapkan penelitian ini dapat menjadi
kehamilan preterm sebanyak 20 tambahan refrensi bacaan perpustakaan
(23,5%). Faktor yang berhubungan dan dapat menjadi tambahan
dengan kejadian ketuban pecah dini pengetahuan bagi mahasiswa tentang
yaitu paritas dengan nilai p value < 0,05 faktor-faktor yang mempengaruhi
(p value = 0,001). ketuban pecah dini.
SARAN Diharapkan bagi peneliti
Hasil penelitian ini hendaknya selanjutnya untuk menambah variabel
digunakan sebagai tambahan informasi bebas atau faktor lain yang dapat
dalam pengembangan asuhan kebidanan mempengaruhi terjadinya ketuban
khususnya mengenai faktor-faktor yang pecah dini yang belum diteliti dalam
mempengaruhi ketuban pecah dini dan penelitian ini seperti faktor sosial,
diharapkan bagi bidan untuk melakukan ekonomi, pekerjaan, dan lain-lain.
skrining ANC yang komprehensif untuk

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik (BPS). (2013). Profil Statistik Kesehatan 2013. Jakarta: Badan
Pusat Statistik.
Damarati dan Yulis, P. (2012). Analisis Tentang Paritas Dengan Kejadian Ketuban
Pecah Dini Pada Ibu Bersalin Di RSUD Sidoarjo. Embrio, Jurnal Kebidanan.
1 (1). April 2012.
Dutton, L.A. (2012). Rujukan Cepat Kebidanan. Jakarta: EGC.
Fitri, AS. (2011). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Ketuban Pecah
Dinidi Rumah Sakit Umum Daerah Padangsidimpuan. Skripsi Fakultas
Keperawatan, Universitas Sumatera Utara.
Hidayat, A dan Mufdlillah. (2009). Asuhan Patologi Kebidanan. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Hidayat, A dan Sujiyatini. (2010). Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Hoelman, B. (2015). Panduan SDGs Untuk Pemerintah Daerah (Kota dan
Kabupaten) dan Pemangku Kepentingan Daerah. Jakarta: International NGO
Forum on Indonesian Development.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Profil Kesehatan Indonesia
tahun 2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tersedia
dalam <http://www.depkes.go.id> [diakses 15 November 2016].
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2007). Nomor
369/MENKES/SK/III/2007.
Lowing, J. (2015). Gambaran Ketuban Pecah Dini di RSUP PROF DR. R. D.
Kandou Manando. Jurnal e-Clinic (eCl), 3 (3). Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi Manado.
Manuaba, I.A.C. (2007). Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC.
Maria. (2007). Ketuban Pecah Dini Berhungan Erat Dengan Persalinan Preterm dan
Infeksi Intrapartum. Jakarta: EGC.
Mochtar, R. (2011). Sinopsis obstetri: obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi, Ed. 3,
jilid I. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
Morgan. G. dan Hamilton, C. (2009). Obstetri & Ginekologi, Panduan Praktik.
Jakarta : EGC.
Nugroho, T. (2010). Kasus Emergency Kebidanan untuk Kebidanan dan
Keperawatan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Parry, S & Jerome F.S. (2009). Premature Rupture of Fetal Membranes. The New
england Journal of Medicine 338 (10). February 21, 665-666.
Prawirohardjo, S. (2007). Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
__________. (2011). Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka.
Purwanti, E. (2014). Faktor-faktor yang berhubung dengan kejadian ketubaan pecah
dini di RSUD Ungaran Kabupaten Semarang. Skripsi Diploma IV Kebidanan
STIKES Ngudi Waluyo Ungaran.
Rahmawati, I. (2015). Gambaran Paritas Ibu Bersalin Terahadap Kejadian KPD di
RSUD Sunan Kalijaga Demak. Jurnal Kesehatan dan Budaya. 08 (01).
Sujiyatini, Mufdlillah, dan Hidayat, A. (2009). Asuhan Patologi Kebidanan.
Jogjakarta: Nuha Medika.
Tahir, S. (2012). Faktor determinan ketuban pecah dini di RSUD Syekh Yusuf
Kabupaten Gowa tahun 2012. Karya Tulis Ilmiah. Akademi Kebidanan
Muhammadiyah Makasar.
Varney, H. (2008). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Vol 1 . Jakarta: EGC.
Waters, T. P & Brian M. M. (2009). The Management of Preterm Premature Rupture
of The Membranes Near The Limit of Fetal Viability. American Journal of
Obstetrics & gynecology, September 2009.
World Health Organization (WHO). (2011). Trends in Maternal Mortality.