Anda di halaman 1dari 14

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/50829345

Analisis Manajemen Mutu Terpadu di PT Madu Pramuka Cibubur Jakarta


Timur

Article · August 2007


Source: DOAJ

CITATIONS READS

0 474

3 authors, including:

Anggraini Sukmawati
Bogor Agricultural University
31 PUBLICATIONS   9 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Employees' readiness to change factors View project

The development of a competency model for human resource practitioners in Indonesia View project

All content following this page was uploaded by Anggraini Sukmawati on 10 October 2017.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Media Peternakan, Agustus 2007, hlm. 88-99 Vol. 30 No. 2
ISSN 0126-0472
Terakreditasi SK Dikti No: 56/DIKTI/Kep/2005

Analisis Manajemen Mutu Terpadu di PT Madu Pramuka


Cibubur Jakarta Timur

A. Sukmawatia, H.C.H. Siregarb & C. Mauidahc


a
Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor
Wing Rektorat Lt. 3 IPB Darmaga Bogor. e-mail: anggrainism@plasa.com
b
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan,
Institut Pertanian Bogor
c
PT Madu Pramuka Cibubur Jakarta Timur
(Diterima 06-12-2006; disetujui 18-07-2007)

ABSTRACT

The study was conducted to determine the critical component of a Total Quality
Management (TQM) Program. The objectives of this research were: (1) identifying the problems
of TQM implementation and, (2) analyzing of TQM performace in PT Madu Pramuka. Data
were collected from PT Madu Pramuka through an expert survey instrument. Data analysis was
done through Analytical Hierarchy Process (AHP). Results of this study indicated that the most
important problem was the quality of raw material (honey) which were still under the standard.
This is due to limited honey quality control tools. The TQM performance was not satisfying
because it was only storage and packaging division used standard as the critical component of
TQM.

Keywords : Total Quality Management, honey, expert survey, Analytical Hierarchy Process

PENDAHULUAN sebagai inti konsep MMT masih sulit diterapkan


pada banyak perusahaan. Kunci sukses penerapan
Dewasa ini Total Quality Management MMT adalah tekad yang menyeluruh dari pimpinan
(Manajemen Mutu Terpadu) sebagai suatu filosofi puncak sampai dengan karyawan pelaksana.
telah banyak dikenal. Konsep-konsepnya pun telah Hambatan utama dalam menerapkan konsep MMT,
banyak dikemukakan oleh para ahlinya. Akan yaitu MMT tidak dipahami secara menyeluruh,
tetapi, penerapan konsep-konsep tersebut dalam dianggap sebagai aktivitas yang membuang-buang
industri manufaktur maupun industri jasa tidaklah waktu, program harus dilaksanakan secara formal
mudah, karena menghendaki perubahan budaya. dan dipandang tidak berhubungan dengan orang
Budaya bahwa ’mutu produk atau jasa adalah atau personil.
segala-galanya’ atau budaya bahwa’kepuasan Studi penerapan Manajemen Mutu Terpadu
pelanggan’ adalah tujuan utama, masih sulit dicapai. (MMT) di sisi lain masih terus berkembang pada
Fenomena ini juga terjadi di Indonesia. berbagai jenis industri dengan berbagai konteks
Budaya mengutamakan kepuasan pelanggan penelitian, pendekatan dan filosofinya. Hal ini

88 Edisi Agustus 2007


SUKMAWATI ET AL. Media Peternakan

menunjukkan MMT makin mempunyai nilai alkohol dan karbondioksida. Alkohol yang
strategis bagi perusahaan. Perusahaan yang terbentuk akan mengalami reaksi lanjutan dan
memiliki kompetensi dalam penerapan MMT akan membentuk asam asetat (Gojmerac, 1983).
memiliki kinerja inovasi yang unggul, yang pada Mutu yang ingin dipenuhi oleh perusahaan
akhirnya dapat memenangkan persaingan (Hung & dapat dilihat dari sudut pandang konsumen sebab
Suryo, 2004). konsumen merupakan penilai akhir dari suatu
Penelitian ini merupakan studi kasus pada produk. Kepuasan konsumen bisa terjamin jika
sebuah perusahaan manufaktur (PT Madu perusahaan menerapkan sistem Manajemen Mutu
Pramuka) yang memproduksi berbagai jenis madu Terpadu (MMT). Sistem ini merupakan suatu
dan hasil ikutan dari peternakan lebah madu seperti penerapan metode kualitatif dan sumber daya
propolis, pollen, royal jelly, apitoksin dan bibit manusia (SDM) untuk memperbaiki penyediaan
koloni lebah unggul. Masalah utama yang dihadapi bahan baku, pembiayaan organisasi, dan semua
perusahaan saat ini adalah mengkomunikasikan proses dalam organisasi pada tingkat tertentu agar
mutu produk sesuai dengan persepsi konsumen. kebutuhan pelanggan sekarang dan di masa yang
Umumnya, konsumen yang ingin mengkonsumsi akan datang dapat terpenuhi (Ariani, 2002).
produk olahan madu sangat jeli terkait dengan Penerapan MMT dengan baik dalam suatu
banyaknya produk yang dipalsukan. Hal ini perusahaan dapat meningkatkan mutu produk.
disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan sebagian Peningkatan mutu produk perusahaan dapat
besar konsumen mengenai mutu produk madu. menekan biaya karena mengurangi atau bahkan bisa
Salah satu cara yang sudah dilakukan perusahaan menghilangkan pemborosan akibat produk cacat
adalah mencantumkan kandungan madu dalam dan pada akhirnya dapat meningkatkan keuntungan.
kemasan. Namun demikian, meskipun kandungan Karena itu, dalam rangka peningkatan dan
tersebut tercantum dalam kemasan konsumen masih pengembangan usaha ternak lebah madu khususnya
sulit untuk mengetahui apakah madu tersebut di PT Madu Pramuka, penelitian ini dilakukan
memenuhi persyaratan atau tidak. Keberadaan hal dengan tujuan (1) mengidentifikasi permasalahan-
ini membuat perusahaan harus berupaya keras untuk permasalahan dalam penerapan MMT dan (2)
menjaga mutu produknya agar berbeda secara menganalisis kinerja MMT.
signifikan dengan produk palsunya sehingga Mutu produk merupakan hal yang sangat
kepercayaan konsumen terhadap produk tersebut penting bagi perusahaan untuk menciptakan strategi
tetap terjaga. bersaing di era pasar bebas saat ini. Mutu produk
Parameter yang dianggap penting dalam yang bagus dapat menjamin kepuasan konsumen.
menilai mutu madu produksi PT Madu Pramuka, Jika konsumen merasa puas atas produk tersebut,
yaitu kadar air dan keasaman. Kelembaban udara maka perusahaan mendapatkan posisi terbaik di
yang tinggi dan sifat higroskopis madu dapat hati konsumen.
menyebabkan kadar air madu meningkat sehingga Manajemen Mutu Terpadu (MMT)
pada umumnya madu di Indonesia, terutama di PT merupakan suatu konsep mutu yang bisa
Madu Pramuka, mempunyai kadar air yang cukup menyebabkan perbaikan efisiensi secara luas.
tinggi (sekitar 20%-24%). Kadar air madu yang Tujuan penerapan MMT adalah untuk memberikan
tinggi dapat merangsang terjadinya proses kepuasan atas kebutuhan pelanggan dengan seefisien
fermentasi madu yang disebabkan oleh aktivitas mungkin dan menguntungkan perusahaan.
khamir yang terdapat di dalam madu (Almayanthy, Perusahaan yang menerapkan MMT mampu
1998). Hasil akhir dari fermentasi tersebut adalah menemukan masalah baik yang berkaitan dengan

Edisi Agustus 2007 89


Vol. 30 No. 2 ANALISIS MANAJEMEN MUTU

proses produksi maupun kinerjanya. Keberadaan mengukur suatu metode dalam menetapkan
masalah perlu diidentifikasi untuk memperoleh prioritas. Hasil analisis identifikasi masalah MMT
pemecahan. Pada kajian ini digunakan metode menunjukkan pembobotan masalah yang dihadapi
Proses Hirarki Analitik (PHA) dengan pertimbangan dan penyebab masalahnya. Hasil analisis kinerja
PT Madu Pramuka dapat menentukan prioritas MMT menunjukkan sejauhmana perusahaan telah
masalah (terkait dengan penerapan MMT) yang menerapkan MMT pada seluruh kegiatannya. Hasil
akan diatasi terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan analisis-analisis di atas digunakan sebagai pedoman
keuntungan penggunaan PHA yang diutarakan oleh untuk menyusun langkah perbaikan manajemen
Saaty (1993) yaitu PHA memberikan skala untuk yang berkaitan dengan MMT (Gambar 1).

Persaingan Global

Keunggulan yang Berkelanjutan

Manajemen Mutu Terpadu

Penerapan Permasalahan Kinerja

Identifikasi Permasalahan
Identifikasi Kinerja
Prinsip Unsur
Dasar Utama
MMT MMT Penyusunan Hirarki Penyusunan Hirarki
Permasalahan Kinerja

Pengukuran Skala Pengukuran Skala


Prioritas Permasalahan Kinerja
Analisis
Deskriptif

Metode PHA

Alternatif Perbaikan Manajemen yang Terkait


dengan MMT

Catatan : Ruang lingkup penelitian.

Gambar 1. Kerangka pemikiran analisis penerapan MMT di PT Madu Pramuka

90 Edisi Agustus 2007


SUKMAWATI ET AL. Media Peternakan

MATERI dan METODE pelaksanaan dan permasalahan manajemen mutu


di PT Madu Pramuka.
Waktu dan Tempat
Analisis Data
Penelitian dilakukan di PT Madu Pramuka
(PT MP) yang beralamat di Komplek Wiladatika Penelitian ini menggunakan metode Proses
Cibubur, Kecamatan Ciracas, Kota Madya Jakarta Hirarki Analitik (PHA). Data yang diperoleh diolah
Timur. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara dengan metode PHA yang berbasis pada program
sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa komputer Expert Choice versi 2000. Program ini
perusahaan tersebut merupakan salah satu usaha merupakan program siap pakai yang disusun oleh
yang bergerak dalam agribisnis produk lebah madu, Asian Institute of Technology and Microsoft
serta merupakan pelopor bagi usaha apiari yang Company. Metode PHA merupakan sarana untuk
masih eksis dan terus berupaya dalam pemenuhan memantau dan membimbing prestasi organisasi ke
kepuasan pelanggan. Penelitian ini dilakukan pada arah seperangkat tujuan yang dinamis (Saaty, 1993).
pertengahan Maret sampai dengan akhir bulan Mei Dengan PHA, seperti PT MP, bisa mencapai
2006. tujuannya dengan tepat, mengingat tujuannya yang
tidak bersifat statis yaitu kepuasan konsumen.
Data dan Pengumpulan Data Berikut adalah kerangka kerja PHA menurut
Saaty (1993) yang terdiri atas delapan langkah
Data yang digunakan dalam penelitian ini
utama, yaitu :
adalah data primer dan data sekunder baik yang
1) pendefinisian permasalahan dan merinci
bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Data primer
pemecahan permasalahan yang diinginkan;
diperoleh dari observasi langsung di lapang, hasil
2) penyusunan struktur hirarki dari sudut pandang
kuesioner, dan hasil wawancara dengan pihak
manajemen secara menyeluruh (Gambar 2 dan
perusahaan. Data sekunder diperoleh dari data yang
3). Sebelum menentukan komponen-
dimiliki oleh perusahaan, hasil literatur, internet, serta
komponen pada Gambar 2 maupun Gambar
data lainnya yang relevan.
Pengumpulan data dibutuhkan untuk 3, konfirmasi dilakukan dengan pihak
mengidentifikasi sejauhmana penerapan MMT perusahaan untuk mengetahui apakah
dilakukan melalui wawancara dengan tim kecil penyusunan komponen tersebut tepat atau
(terdiri dari tiga orang untuk menggantikan tidak. Tidak ada aturan khusus dalam
keberadaan direktur saat tidak berada di kantor) menyusun struktur hirarki dari suatu sistem, juga
dan kepala bagian yang ada di kantor pusat PT tidak ada batasan tertentu mengenai jumlah
Madu Pramuka. Pengumpulan data untuk tingkatan struktur keputusan yang terstratifikasi
identifikasi permasalahan dan kinerja dilakukan dan elemen pada setiap tingkat keputusan;
melalui pengisian kuesioner dan diskusi dengan staf 3) penyusunan matriks banding berpasangan;
atau pihak perusahaan yang terkait dengan fokus 4) pengumpulan semua perhitungan yang
permasalahan. Wawancara mengenai hal-hal yang diperoleh dari hasil penyusunan matriks
bersifat manajerial dilakukan dengan kepala bagian/ banding berpasangan. Langkah ini
staf ahli, sedangkan untuk hal-hal yang bersifat membandingkan elemen-elemen yang ada
teknis dilakukan dengan bagian operasional di PT dalam matriks dengan menggunakan skala
Madu Pramuka. Pemilihan responden dilakukan banding berpasangan (Tabel 1);
secara sengaja dengan mempertimbangkan tingkat 5) pencantuman nilai 1 di sepanjang diagonal
pengetahuan dan pemahaman responden terhadap utama;

Edisi Agustus 2007 91


SUKMAWATI ET AL. Media Peternakan

MATERI dan METODE pelaksanaan dan permasalahan manajemen mutu


di PT Madu Pramuka.
Waktu dan Tempat
Analisis Data
Penelitian dilakukan di PT Madu Pramuka
(PT MP) yang beralamat di Komplek Wiladatika Penelitian ini menggunakan metode Proses
Cibubur, Kecamatan Ciracas, Kota Madya Jakarta Hirarki Analitik (PHA). Data yang diperoleh diolah
Timur. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara dengan metode PHA yang berbasis pada program
sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa komputer Expert Choice versi 2000. Program ini
perusahaan tersebut merupakan salah satu usaha merupakan program siap pakai yang disusun oleh
yang bergerak dalam agribisnis produk lebah madu, Asian Institute of Technology and Microsoft
serta merupakan pelopor bagi usaha apiari yang Company. Metode PHA merupakan sarana untuk
masih eksis dan terus berupaya dalam pemenuhan memantau dan membimbing prestasi organisasi ke
kepuasan pelanggan. Penelitian ini dilakukan pada arah seperangkat tujuan yang dinamis (Saaty, 1993).
pertengahan Maret sampai dengan akhir bulan Mei Dengan PHA, seperti PT MP, bisa mencapai
2006. tujuannya dengan tepat, mengingat tujuannya yang
tidak bersifat statis yaitu kepuasan konsumen.
Data dan Pengumpulan Data Berikut adalah kerangka kerja PHA menurut
Saaty (1993) yang terdiri atas delapan langkah
Data yang digunakan dalam penelitian ini
utama, yaitu :
adalah data primer dan data sekunder baik yang
1) pendefinisian permasalahan dan merinci
bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Data primer
pemecahan permasalahan yang diinginkan;
diperoleh dari observasi langsung di lapang, hasil
2) penyusunan struktur hirarki dari sudut pandang
kuesioner, dan hasil wawancara dengan pihak
manajemen secara menyeluruh (Gambar 2 dan
perusahaan. Data sekunder diperoleh dari data yang
3). Sebelum menentukan komponen-
dimiliki oleh perusahaan, hasil literatur, internet, serta
komponen pada Gambar 2 maupun Gambar
data lainnya yang relevan.
Pengumpulan data dibutuhkan untuk 3, konfirmasi dilakukan dengan pihak
mengidentifikasi sejauhmana penerapan MMT perusahaan untuk mengetahui apakah
dilakukan melalui wawancara dengan tim kecil penyusunan komponen tersebut tepat atau
(terdiri dari tiga orang untuk menggantikan tidak. Tidak ada aturan khusus dalam
keberadaan direktur saat tidak berada di kantor) menyusun struktur hirarki dari suatu sistem, juga
dan kepala bagian yang ada di kantor pusat PT tidak ada batasan tertentu mengenai jumlah
Madu Pramuka. Pengumpulan data untuk tingkatan struktur keputusan yang terstratifikasi
identifikasi permasalahan dan kinerja dilakukan dan elemen pada setiap tingkat keputusan;
melalui pengisian kuesioner dan diskusi dengan staf 3) penyusunan matriks banding berpasangan;
atau pihak perusahaan yang terkait dengan fokus 4) pengumpulan semua perhitungan yang
permasalahan. Wawancara mengenai hal-hal yang diperoleh dari hasil penyusunan matriks
bersifat manajerial dilakukan dengan kepala bagian/ banding berpasangan. Langkah ini
staf ahli, sedangkan untuk hal-hal yang bersifat membandingkan elemen-elemen yang ada
teknis dilakukan dengan bagian operasional di PT dalam matriks dengan menggunakan skala
Madu Pramuka. Pemilihan responden dilakukan banding berpasangan (Tabel 1);
secara sengaja dengan mempertimbangkan tingkat 5) pencantuman nilai 1 di sepanjang diagonal
pengetahuan dan pemahaman responden terhadap utama;

Edisi Agustus 2007 91


Vol. 30 No. 2 ANALISIS MANAJEMEN MUTU

FOKUS Identifikasi Permasalahan dalam Penerapan MMT di PT Madu Pramuka

KRITERIA
MUTU BIAYA WAKTU
MASALAH

Pengadaan Pengadaan
Bahan Baku
SUBKRITERIA Pengemasan Pengemasan
MASALAH Produk
Penyimpanan Penyimpanan

FAKTOR SARANA SISTEM KEUANGAN


PENYEBAB

Transportasi Peraturan-peraturan
Alokasi Dana
SUBFAKTOR
Alat dan Bahan Pelaksanaan
PENYEBAB
Sumber Dana
Komunikasi Pengawasan

PELAKU Pihak Manajemen Pihak Operasional

Gambar 2. Struktur hirarki identifikasi permasalahan dalam penerapan MMT di PT Madu Pramuka

6) pelaksanaan langkah 3, 4, dan 5 untuk semua menghadapi masalah terpenting yang harus
tingkatan dan gugusan dalam hirarkhi; ditangani, yaitu mutu. Perusahaan harus menjadikan
7) sintesis prioritas untuk melakukan pembobotan mutu sebagai strategi usahanya. Hal ini
vektor-vektor prioritas; dimaksudkan sebagai antisipasi atas pemalsuan
8) evaluasi inkonsistensi untuk seluruh hirarkhi. madu di pasaran dan mengakibatkan kekurang-
percayaan masyarakat terhadap produsen . Kriteria
HASIL DAN PEMBAHASAN masalah mutu memiliki dua subkriteria, yaitu mutu
bahan baku (0,574) dan mutu produk (0,144).
Identifikasi Permasalahan dalam Penerapan Mutu bahan baku perlu menjadi perhatian utama
MMT di PT Madu Pramuka perusahaan dibanding mutu produk. Masalah ini
disebabkan oleh sarana alat dan bahan yang kurang
Model hirarki yang digunakan dalam lengkap sehingga pengujian mutu bahan baku tidak
penelitian ini mempunyai enam tingkat hirarki dapat dilaksanakan. Pihak manajemen sangat
(Gambar 2). Analisis identifikasi permasalahan berperan dalam penyediaan sarana yang diperlukan
memberikan hasil berupa masalah yang dihadapi untuk meningkatkan mutu bahan baku.
perusahaan secara berurutan, yaitu mutu (0,717), Hasil yang diperoleh selanjutnya setelah mutu,
waktu (0,183) dan biaya (0,100). Perusahaan yaitu waktu yang secara berurutan terdiri atas tiga

92 Edisi Agustus 2007


SUKMAWATI ET AL.

FOKUS Kinerja MMT di PT Madu Pramuka

PELAKU

Direktur Staf Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Bagian Gudang Bagian Bagian Bagian
Ahli Keuangan Umum Pemasaran Personalia Diklat &Pengemasan Keamanan Apitherapy Accounting

UNSUR MMT SDM Standar Sarana Pengorganisasian Audit Internal Diklat

Gambar 3. Struktur hirarki kinerja setiap unit atas MMT di PT Madu Pramuka

Edisi Agustus 2007


93
Media Peternakan
Vol. 30 No. 2 ANALISIS MANAJEMEN MUTU

Tabel 1. Skala banding berpasangan*)

Skala Definisi

1 Kedua variabel sama pentingnya, artinya dua variabel mempengaruhi atau menyumbang
sama kuat pada sifat itu.
3 Variabel yang satu sedikit lebih penting dibanding variabel lainnya, artinya pengalaman
atau pertimbangan sedikit menyokong satu variabel atas variabel lainnya.
5 Variabel yang satu lebih penting dibanding variabel lainnya, artinya pengalaman atau
pertimbangan dengan kuat menyokong satu variabel atas variabel lainnya.
7 Satu variabel sangat jelas lebih penting dibanding variabel lainnya, artinya satu variabel
dengan kuat disokong dan dominasinya terlihat dalam praktek.
9 Satu variabel mutlak lebih penting dibanding variabel lainnya, artinya bukti-bukti yang
menyokong variabel yang satu atas variabel lainnya memiliki tingkat penegasan yang
tinggi.
2, 4, 6, 8 Nilai-nilai di antara kedua pertimbangan di atas, artinya kompromi diperlukan di antara dua
pertimbangan.
Kebalikan nilai- Bila nilai-nilai di atas dianggap membandingkan antara variabel A dan B, maka nilai-nilai
nilai di atas kebalikan (1/2,1/3...1/9) digunakan untuk membandingkan kepentingan B terhadap A.

Keterangan: *) Saaty, 1993

subktiteria, yaitu waktu pengadaan (0,115), waktu apotik dan toko). Sebagai tambahan, waktu
penyimpanan (0,042), dan waktu pengemasan penjualan sebenarnya cukup penting agar produk
(0,026). Waktu pengadaan menjadi masalah yang madu tidak tersimpan lama sehingga mutunya tidak
penting. Hal ini disebabkan perusahaan tidak menurun, mengingat selama penyimpanan madu
mempunyai bagian pengadaan tersendiri sehingga rentan tehadap fermentasi serta ada kedai dan agen
keputusan mengenai jumlah dan waktu pengadaan cabang yang berada di luar kota Jakarta.
diambil oleh direktur. Sebagai akibatnya, ada Setelah waktu, kriteria masalah yang harus
tenggang waktu antara laporan kebutuhan bahan ditangani pihak manajemen adalah biaya.
dengan pengambilan keputusan oleh direktur yang Subkriteria masalah biaya, yaitu biaya pengadaan
menambah waktu pengadaan. Masalah ini juga (0,068) perlu menjadi perhatian utama dibanding
terkait dengan faktor keuangan perusahaan, biaya pengemasan (0,021) dan penyimpanan
terutama sumber dana (Tabel 2). Tingkat penjualan (0,011) (Tabel 2). Hal ini disebabkan oleh jarak
yang masih rendah mengakibatkan penerimaan tempuh yang jauh untuk mendapatkan bahan baku
yang diperoleh kurang optimal. Pihak manajemen dan perusahaan tidak memiliki alat transportasi
berperan dalam masalah ini, terutama dalam sendiri, sehingga harus menyewa dari pihak lain.
menyusun kebijakan mengenai strategi pemasaran, Pihak manajemen sering memutuskan menambah
yang dapat meningkatkan penjualan. pembelian bahan baku melebihi kebutuhan dengan
Penelitian ini tidak memperhitungkan waktu alasan efisiensi biaya pengadaan. Hal ini
penjualan karena perusahaan tidak menganggapnya menyebabkan terjadi penumpukan bahan baku di
sebagai masalah. Saluran pemasaran produk madu gudang. Pihak manajemen perlu menghitung dengan
kemasan yang sangat pendek telah mengakibatkan lebih cermat di masa mendatang dalam menentukan
waktu penjualan yang tidak lama. Madu kemasan kebutuhan bahan baku yang optimal dengan
yang berasal dari bagian gudang dan pengemasan mempertimbangkan biaya penggudangan bahan
didistribusikan ke kedai dan agen (warung jamu, baku di samping biaya pengadaan.

94 Edisi Agustus 2007


Tabel 2. Implikasi peningkatan mutu berdasarkan hasil analisis identifikasi permasalahan yang terkait dengan penerapan MMT

Kriteria Subkriteria Faktor penyebab Subfaktor Pelaku MMT Implikasi


SUKMAWATI ET AL.

masalah masalah penyebab

Mutu Mutu Bahan Baku Sarana Alat dan Bahan Pihak Manajemen Penyediaan sarana yang diperlukan untuk
pengujian mutu madu secara keseluruhan
sehingga mutu madu dapat ditingkatkan.
Mutu Produk Sarana Alat dan Bahan Pihak Operasional Penurunan kadar air madu dan perbaikan
kemasan madu.
Waktu Waktu Pengadaan Keuangan Sumber Dana Pihak Manajemen Penyusunan kebijakan mengenai metode
pemasaran yang tepat sehingga dapat
meningkatkan penjualan.
Waktu Sarana Alat dan Bahan Pihak Operasional Penyediaan cooling room untuk penyimpanan
Penyimpanan bahan baku dan produk.
Waktu Sarana Alat dan Bahan Pihak Operasional Penyediaan mesin pengemasan otomatis untuk
Pengemasan menjaga kehigienisan produk.
Biaya Biaya Pengadaan Sarana Transportasi Pihak Manajemen Penentuan jumlah kebutuhan bahan baku yang
optimal diperlukan untuk menghemat
transportasinya.
Biaya Sarana Alat dan Bahan Pihak Operasional Sumber daya manusia yang ”serba bisa”
Pengemasan sangat diperlukan terutama dalam mendesain
jenis dan bentuk kemasan dengan peralatan
yang terbatas.
Keuangan Alokasi Dana Pihak Manajemen Sumber daya manusia yang ”serba bisa”
sangat diperlukan terutama dalam mendesain
jenis dan bentuk kemasan dengan peralatan
yang terbatas.
Biaya Sarana Transportasi Pihak Operasional Pengalokasian dana yang tepat untuk
Penyimpanan menyediakan sarana yang diperlukan untuk
penyimpanan.

Edisi Agustus 2007


95
Media Peternakan
Vol. 30 No. 2 ANALISIS MANAJEMEN MUTU

Biaya pengemasan juga menjadi masalah bagi kinerja perusahaan dengan menerapkan prinsip dan
PT MP, karena banyak konsumen mengeluhkan unsur MMT sangat diperlukan untuk terciptanya
kemasan yang kurang menarik. Pihak manajemen peningkatan mutu (Tabel 3).
perlu menganggarkan biaya untuk mendesain ulang Prioritas kinerja pada posisi kedua adalah
kemasan untuk merespon keluhan ini. Prioritas staf ahli (0,140). Staf ahli yang bekerja di PT. MP
terakhir adalah biaya penyimpanan. Biaya ini ini terdiri atas 3 orang yang bertugas sebagai
dianggap kurang penting dibanding dengan kedua penasehat dalam membantu peningkatan kinerja
jenis biaya sebelumnya, karena penyimpanan perusahaan, sehingga unsur MMT yang paling
barang jadi tidak membutuhkan biaya yang besar. berperan dalam kinerjanya adalah SDM (0,045).
Selama ini penyimpanan dilakukan dalam suatu Staf ahli yang memiliki kompetensi tinggi di
ruangan tanpa pendingin dengan kondisi produk- bidangnya, sangat diperlukan PT MP agar dapat
produk kemasan botol sudah dikemas dalam memberi saran-saran terkait kebijakan-kebijakan
kardus-kardus. yang tepat dalam upaya meningkatkan kinerja
Biaya pemasaran tidak dianggap masalah bagi perusahaan.
perusahaan karena saluran pemasaran yang Pelaku MMT yang menduduki posisi ketiga
sederhana. Semakin pendek saluran pemasaran, adalah bagian gudang dan pengemasan (0,096).
biaya pemasaran (terutama marjin) semakin kecil, Bagian ini merupakan jantung PT MP karena
sehingga harga produk yang diterima konsumen bagian inilah yang memproduksi berbagai produk
tidak berbeda jauh dengan harga dasarnya. madu dalam kemasan. Unsur MMT yang paling
Mengenai hal ini, perusahaan berupaya agar agen- berperan dalam kinerjanya adalah standar (0,030).
agennya tidak mengambil terlalu banyak keuntungan Hal ini menunjukkan bahwa pentingnya penetapan
dari penambahan harga. standar mutu untuk dapat menghasilkan produk
bermutu tinggi. Namun di PT. MP, standar ini tidak
Kinerja MMT di PT Madu Pramuka dalam bentuk dokumen tertulis sehingga
pengukuran kinerja kurang optimal.
Model hirarki yang digunakan terdiri atas tiga Indikator penilaian keberhasilan kinerja
tingkatan (Gambar 3). Analisis kinerja MMT MMT, yaitu mutu yang menjadi standar dalam
memberikan hasil berupa prioritas pertama yang setiap kegiatan perusahaan dan bisa sepenuhnya
ditempati oleh direktur (0,325). Hal ini memberikan disadari oleh semua karyawan. Standar ini berupa
informasi bahwa peran direktur sangat menentukan Standard Operation Procedure (SOP) dalam
pelaksanaan MMT. Unsur MMT yang paling setiap kegiatan sehingga keberhasilannya dapat
berperan dalam kinerja direktur yaitu SDM diukur (Malins & Woodhead, 1996). Hal ini dapat
(0,132), yang artinya bahwa tingkat kompetensi menciptakan penghematan tenaga kerja, biaya, dan
sebagai direktur merupakan modal utama dalam waktu. Pelaksanaan SOP dengan baik tidak
kinerja direktur. Tingginya prioritas SDM mengharuskan kehadiran direktur setiap saat, tanpa
memperlihatkan bahwa SDM yang berkualitas direktur atau pengawasan pun kegiatan perusahaan
mendukung pemahaman dalam penerapan konsep tetap berjalan.
MMT dengan tepat. Hal ini sejalan dengan hasil Analisis kinerja MMT memberikan hasil yang
penelitian (Talavera, 2004) yang mengemukakan kurang memuaskan. Hal ini ditunjukkan banyaknya
bahwa komitmen manajemen puncak merupakan bagian di perusahaan yang masih tergantung SDM
faktor kunci kesuksesan penerapan MMT. sebagai unsur MMT yang paling berperan. Hanya
Mengenai hal ini, peran direktur dalam perbaikan bagian gudang dan pengemasan yang

96 Edisi Agustus 2007


SUKMAWATI ET AL. Media Peternakan

Tabel 3. Implikasi peningkatan mutu berdasarkan hasil analisis kinerja MMT

Pelaku MMT Unsur MMT Implikasi

Direktur SDM Perbaikan kinerja perusahaan dengan menerapkan prinsip dan


unsur MMT sangat diperlukan untuk terciptanya peningkatan
mutu.
Staf ahli SDM Penambahan ilmu pengetahuan yang dimiliki sangat diperlukan
untuk meningkatkan produksi perusahaan.
Bagian gudang dan Standar Penyusunan standar kerja yang tertulis dan jelas sehingga semua
pengemasan karyawan dapat melaksanakannya.
Bagian pemasaran SDM Penentuan metode pemasaran yang tepat dan diversifikasi produk
agar dapat meningkatkan penjualan dan menguasai pasar.
Bagian keuangan SDM Perbaikan dan peningkatan kinerja perlu dilakukan untuk
menghasilkan data keuangan yang penting dalam penyusunan
laporan.
Bagian personalia SDM Sistem perekrutan karyawan perlu diperbaiki untuk mendapatkan
karyawan yang berkualitas. Peningkatan kesejahteraan karyawan
harus selalu dilakukan untuk menciptakan kepuasan kerja bagi
karyawan.
Bagian accounting SDM Perbaikan dan peningkatan kinerja perlu dilakukan untuk
menghasilkan laporan keuangan yang penting dalam pengambilan
keputusan.
Bagian apitherapy SDM Peningkatan pelayanan dan fasilitas untuk menciptakan
kenyamanan pasien yang berobat.
Bagian umum SDM Pengadaan sarana-sarana (dehumidifier, mesin pengemasan
otomatis, dll) yang diperlukan untuk perbaikan dan peningkatan
kinerja perusahaan.
Bagian diklat SDM Peningkatan pelayanan dan promosi program pelatihan bekerja
sama dengan bagian pemasaran. Pengadaan program diklat yang
rutin khusus bagi karyawan perusahaan untuk menanamkan
konsep MMT.
Bagian keamanan SDM Pembagian tugas yang jelas sangat menunjang perbaikan dan
Standar peningkatan kinerja.

mengutamakan standar sebagai unsur MMT yang Implikasi MMT terhadap Peningkatan
berperan penting. Hal ini dapat dipahami karena Mutu di PT Madu Pramuka
sejauh ini belum tercipta persamaan persepsi atas
tujuan yang ingin dicapai perusahaan. Perusahaan Berdasarkan analisis yang dilakukan,
secara tertulis masih menggunakan visi dan misi yang terdapat hal-hal yang perlu ditambahkan dalam
tidak mengarah pada pencapaian kepuasan perbaikan dan peningkatan mutu perusahaan (selain
konsumen, padahal penerapan konsep MMT yang dicantumkan pada Tabel 2 dan Tabel 3).
membutuhkan transformasi visi. Gaspersz (2002) Pelanggan memiliki arti penting bagi perusahaan
mengungkapkan bahwa visi organisasi menyajikan sehingga perusahaan harus memberikan yang
kerangka kerja yang menuntun suatu nilai dan terbaik bagi pelanggannya, terutama dalam
kepercayaan perusahaan. Visi dan misi memberikan merespon semua keluhan konsumen. Mengenai hal
identitas organisasi dan pemahaman terhadap arah ini, perusahaan membutuhkan suatu bagian, seperti
bisnis yang ingin dicapai. customer service centre, untuk menampung

Edisi Agustus 2007 97


Vol. 30 No. 2 ANALISIS MANAJEMEN MUTU

keluhan, saran, masukan dan pertanyaan dari KESIMPULAN


pelanggan. Selain itu, perlu juga dilakukan survei
pasar untuk mendapatkan ide-ide baru dalam Permasalahan yang dihadapi perusahaan
pengembangan produk, melakukan diversifikasi secara hirarkis mencakup: (1) mutu bahan baku
produk terutama untuk madu yang bermutu rendah yang kurang memenuhi standar dan kemasan
dan atau yang sudah lama tersimpan, misalnya dibuat kurang menarik, (2) waktu dan (3) biaya, terkait
permen, sabun atau lulur, shampoo, masker dan jarak transportasi yang jauh, ruang penyimpanan
bahan-bahan kosmetik lainnya. yang kurang memadai dan pengemasan yang masih
Peningkatan keterlibatan dan pemberdayaan manual.
karyawan perlu dilakukan melalui pertemuan- Hasil analisis kinerja MMT menyimpulkan
pertemuan rutin. Pertemuan ini melibatkan staf bahwa kinerja perusahaan kurang memuaskan.
operasional yang diberikan keleluasaan untuk Beberapa bagian di perusahaan masih sangat
mengemukakan ide-ide kreatif yang dapat tergantung kepada peran SDM sebagai unsur
memperbaiki dan meningkatkan kinerja perusahaan. utama MMT. Hanya bagian gudang dan
Selain itu, ada baiknya dilakukan pemberian reward pengemasan yang sudah menerapkan standar
bagi karyawan yang berprestasi dan punishment sebagai unsur utama MMT. Hal ini menyebabkan
bagi karyawan yang kurang baik kinerjanya. Upaya keberhasilan penerapan MMT sangat tergantung
yang perlu dilakukan dalam perbaikan mutu dan pada peran direktur melalui kebijakan perusahaan
sistem secara berkesinambungan yaitu penerapan yang diambil.
konsep Deming dalam setiap kinerja perusahaan
yaitu, Plan – Do – Check – Act – Analyze. UCAPAN TERIMA KASIH
Pengorganisasian perusahaan perlu sedikit
dibenahi sehingga tercipta peningkatan kinerja. Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada
Menurut Trisyulianti (2005), ketika proses produksi seluruh jajaran manajemen dan staf operasional PT
berlangsung sering terjadi penyimpangan, sehingga Madu Pramuka yang telah mengijinkan kami untuk
diperlukan pengambilan keputusan secepatnya. melakukan penelitian di perusahaan.
Pengambilan keputusan yang biasanya dilakukan
oleh tim manajemen atau ahli dirasakan kurang DAFTAR PUSTAKA
efektif, jika dilihat dari kehadirannya yang tidak
selalu ada setiap waktu. Hal ini dapat Almayanthy, D. 1998. Kualitas madu randu pada
mengakibatkan pengambilan keputusan yang suhu penyimpanan yang berbeda. Skripsi.
lambat, sehingga kerugian tidak dapat dihindari. Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas
Pelibatan manajemen mutu partisipatif, seperti gugus Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
kendali mutu, dapat berperan penting dalam Ariani, D.W. 2002. Manajemen Kualitas :
Pendekatan Sisi Kualitatif. Proyek
pengambilan keputusan. Hal ini dapat membantu
Peningkatan Penelitian Perguruan Tinggi.
untuk mempercepat pengambilan keputusan. Direktur Jenderal Perguruan Tinggi.
Gugus Kendali Mutu (GKM) merupakan Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.
kelompok yang terdiri dari 6-12 karyawan yang Gaspersz, V. 2002. Konsep Vincent dalam
secara sukarela mengadakan pertemuan untuk Manajemen Bisnis Total. PT Gramedia
memecahkan masalah-masalah yang berkaitan Pustaka Utama, Jakarta.
Gojmerac, W.L. 1983. Bees, Beekeeping, Honey
dengan pekerjaan. Anggota GKM mendapatkan and Pollination. The AVI Publishing Co. Inc.
pelatihan mengenai perencanaan kelompok, Westport, Connecticut.
pemecahan masalah dan pengendalian mutu secara Hung, R.Y. & N. Suryo. 2004. The impact of total
statistik (Render & Haizer, 2001). quality management and organizational learn-

98 Edisi Agustus 2007


SUKMAWATI ET AL. Media Peternakan

ing to organizational innovation through Saaty, T.L. 1993. Pengambilan Keputusan Bagi
knowledge management. Jurnal Manajemen Para Pemimpin.(Terjemahan). PT Pustaka
Prasetiya Mulya. 2: 107-114. Binaman Pressindo, Jakarta.
Malins, A. & S. Woodhead. 1996. Total quality Talavera, M.G.V. 2004. Development and valida-
tion of TQM constructs; the Philippine expe-
management for horticultural products. Fruits.
rience. Gadjah Mada International Journal of
51: 275-281. Business. 6: 335-381.
Render, B. & J. Haizer. 2001. Prinsip-Prinsip Trisyulianti, E. 2005. Desain sistem pakar untuk
Manajemen Operasi. (Terjemahan). PT kontrol kualitas pakan. Media Peternakan. 28:
Salemba Emban Patria, Jakarta. 136-148.

Edisi Agustus 2007 99

View publication stats