Anda di halaman 1dari 205

ELECTRIC SUB1'"1ERGIBLE PUMP

Dos en
Ir. Drs. St. Edi Purwaka, MT

UNI''ERSITAS PROKL~t\MASI 45
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PF.Rl\1INYAJ< .l\N
YOGYAKARTA
09 FEBRUARI 2015
CENTRIFUGAL PUMP OPERATION
AND MAINTENANCE

Instructur
Ir. Drs. St. Edi Purwaka, MT

PT TOTALINDO PRATAMA

BANDUNG
10 - 12 Februari 2015
D~J"fAR ISi

BAB:
.I DASAR TEKNIK PRODUKSI
II PERALA TAN ELEC1RICAL SUBMERGIBLE PUMP (ESP)
III CARA KERJA DAN PENANGANAN ESP
TV PERMASALAHAN DAN SOP ESP
V DASAR PERHITIJNGAN ESP
VT PERENCANAAN PSP
VII TROUBLESHOOTING ESP
VJIJ APLIKASI SISTIM NODAL ANAUSIS PADA ESP

Dafiarlsi Pagel
BABI
DASAR TEKNIK PRODUKSI

1. Aliran Fluida Didalam Media Berpori


a Fluida yang terdapat dalam media berpori dapat mengalir dari formasi
· produktifke lubang sumur dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
.
lain:
1. Jumlah fasa yang mengalir
2. Sifat Fisik Flaida Reservoir
3. Sif3:t Fisik Batuan Reservoir
4. Konfigurasi disekitar lubang bor antara lain :
a. adanya lubang perforasi
b. Skin (kemsakan formasi)
c. Gravel pack
d. Rekahan hasil perekahan hidrolik
5. Kemiringan lubang sumur pada formasi produktif
6. Bentuk daerah pengurasan

o Dasar dari aliran fluida pada media berpori adalah :


" Darcy" ( 1856)
Persamaan:

q - k dp
v - -- - ........................................................... ( 1)
A µ dl

'q = v. A

Persyaratan :
a. aliran mantap
b. fluida mengalir 1 fasa

Dasar Teknik Produksi Pagel


c. tidak terjadi reaksi antara batuan dan fluida
d. fluid_a bersifat incompressible
e. viscositas mengalir konstan
f.. formasi homogen dan aliran horizontal

o Persamaan "Darcy" dikembangkan menjadi kondisi 7 Aliran radial


Persamaan lapangan:

'q 7.08 x I 0·3 kh(P,. ( Pwt)) ..................................•........••. (2)


µ 0 .B0 Jn ref rw

keterangan :
Pe tekanan formasi padajarak: re dari sumur, psi
Pwr = tekanan alir dasar sumur, psi
'q laju produksi, STB/hari
µ0 = viscositas, cp
Bo =faktor vol. Formasi, bbl/stb
'k = permeabilitas effektif minyak, rnd
'h = ketebalan formasi produktif, ft
're = jari-jari pengurasan sumur, ft
'tw = jari-jari sumur, ft

2. Inflow Performance Relationship (IPR)


IPR adalah hubungan antara tekanan alir dasar sumur (Pwf) dan laju al.ir
(q). Hubungan ini menggambarkan kemampuan suatu sumur untuk
mengangkat fluida dari formasi ke permukaan atau berproduksi. Kurva
hubungan ini disebut kurva IPR. Berdasarkan jenis reservoir, tenaga
pendorong reservoir, tekanan reservoir dan permeabilitas, kurva IPR dapat
berbentuk garis lurus dan garis melengkung, seperti gambar 1.

Dasar Teknik Produksi .


. ,_.
Page2
Q. q---

Gambar 1
KurvaIPR

Metode-metode pembuatan kurva IPR telah banyak dikembangkan yang


tergantung dari fasa yang mengalir. Metode-metod-::: tersebut diantaranya
adalah:
a. Metode Gilbert
Hanya memberikan gambaran yang tepat pada reservoir dengan aliran satu
fasa yaitu aliran dengan kondisi tekanan di atas tekanan jenuh (Pb). Sering
digwiakan untuk reservoir water drive.

Pwf = Ps _ _i_ .............................................................................(3)


PI

Dasar Teknik Prcduksi Page3


Dari persamaan di atas dapat dilihat bahwa hubungan ~tara Pwf dan q
merupak:an persamaan linier, seperti gambar 2.

A
p,...

TAN 0 • .9_D • J •Pl


04

I
Pwf

q .. moa 'Wfltn
Pwf • O

0
0 q _ _....,__
B

Gambar2.
Grafik IPR Metode Gilbert

b .. Metode Voge"!
Model inio ditulis dalarn bentuk fraksi Pwt!Ps versus q/qmax, yang dapat
dilihat pada gambar 3. Kira-kira persamaan itu akan berbentuk seperti
tertulis di bawah ini :

l - 02 ( p;:r)- 0. 8 ( P;.f )' .................................... (4)

Dimana : qmax laju alir maksimum, bpd

Dasar Teknik Produksi Page4


- :::
...
•~w
'
-::::> -,.,,.
J: (/)
:::. (/)
~l.JJ
... c:::
5 c..
\I) c:
i;> O-
Ii.i
->
-c.. c:
t.:J
.J (/)
..J t.:J •
w c:
~ u..
wo
.J z
~o
= ;:::
l u
o<
- c::
-L

:::i

PRODUCING RATC:(q /(q 0


0
>mox ), rRACTION OF MAXIMUM

Gambar 3.
Grafik IPR Metode Vogel

3. Productivity Index (PI)


PI ada1ah indeks yang digunakan untuk menyatakan kemampuan suatu
sumur untuk berproduksi, pada suatu kondisi tertentu secara kwalitatif.
Secara definisi PI adalah perbandingan antara laju produksi (q) suatu
sumur pada suatu harga tekanan aliran dasar sumur tertentu (P·wt) dengan
perbedaan tekanan dasar surnur pada keadaan statis (Ps) yang secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut :

PI == J = (Ps Pwf) .............................................................. (5)

Dasar Teknik Produksi


Page5
dimana:
PI = J = Produktivity Index, bbl/hari/psi
Q = laju produksi aliran total, bbl/hari
Ps = Tekanan statis reservoir, psi
Pwr = Tekanan dasar sumur waktu ada aliran, psi

Faktor-faktor yang rnempengaruhi harga PI dapat ditentukan dengan


penurunan persamaan PI dari persamaan Darcy untuk aliran radial.
Sehingga diperoleh suatu persamaan :

1.os2 x ro-3 x k x h
PI= .......................................................................... (6)
Box µox ln (re/rw)

'
Dari persam~ ini, dapat dilihat bahwa harga PI dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu:
a. Sifat fisik hatuan reservoir, k dan h
b. Sifat' fisi~ fluida reservoir, uo dan Bo
c. Bentuk geometri sumur dari reservoir, re dan rw

Perlu diketahui pula, bahwa persamaan di atas harus memenuhi syarat-


syarat yang diasumsikan oleh Darcy yaitu ;
1. Fluida satu fasa
2. Aliran mantap
3. Formasi homogen
4. Fluida incompresible

4. Fl~w Efisiensi (FE)


Flow cfisiensi didefinisikan sebagai perbandingan antara selisih tekanan
statik reservoir dengan tekanan alir reservoir jika disekitar lubang tidak
terjadi perubahan permeabilitas (ideal drawdown) terhadap besar

Dasar Teknik Produksi Page6


penurunan sebenarnya (actual drwadown). Secara matematika dinyatakan
sebagai berikut:

Ideal drawdown Ps Pw?


FE = ------------------------- = -----·--------- ....................................(7)
Actual drawdown Ps-P..,,.1

Dimana : P wt' = Pwf + fl. P skin

Untul<. memperjelas pengertian Pwf dapat diperhatikan gambar 4.

~~
p
. ii,
I
I
a. . I
w r·
~~
a: t
::>
fJ)
(IJ SLOPE= 141.2 ~ 1

~~
w kh l
I
·J
:P."{ l
I
l
~z

~
t
J
I
r_ r, 0.47 r. r.

lnr . -
Pressure Profilo of Dsmngod ~'\'oils Producing by Solution·
Gss Odve (allor Slanding)u

Gambar4
Perilaku Tekanan pada Reservoir yang mempunyai Damaged

Dasar Teknik Produksi Page7


5. Perkiraan ~9R, WOR, dan GWR

1) Perkiraan Gas Oil Ratio


GOR didefemsikan sebagai perbandingan laju aliran · gas terhadap laju
aliran minyak terproduksi atau dapat dinyatakan dengan persamaan
sebagai berikut :

GOR = '12- = .~~µ0 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ·••••••• (8)


qg koµg

Laju produksi gas dan minyak pada kondisi permukaan harus


mempertimbangkan pengaruh faktor volume formasi,akibat pengaruh
kompressibilitas gas dan minyak. Persamaan (8) akan menjadi:

kgµoBo
- - ....................................................... (9)
k 0 µgBg .

Besamya GOR sama dengan jumlah gas asal yang terlarut dalam minyak
(Rsi), terjadi bila tekanan reservoir diatas tekanan bubble point , karena
belum ada gas bebas di dalam resen1oir terebut.

b) Perkiraan Water Oil Ratio (WOR)


WOR didefenisikan sebagai perbandingan laju aliran air terhadap laju
aliran minyak terproduksi atau dapat dinyatakan dengan persamaan :

WOR = qw k,.,µo ··················································· .......(10)


qo koµw

Volume minyak akan mengecil saat diproduksikan , hal ini dikarenakan


terbebaskannya gas yang terlarut didalamnya. Kondisi tersebut
menyebabkan stock tank minyak akan sama dengan qo/Bo, kelarutan gas

Dasar Teknik Produksi :Page8


dalam air kecil dan kompresibilitas . air kecil. Hal tersebut akan
menyebabkan laju produksi air dalam reservoir akan sama dengan laju
produksi air di permukaan. Persamaan WOR reservoir adalah :

WORreservoir = q w = k,.,µo ... ••. •.. •. •.. ••.... •. •. •••.. •............................(11)


qo koµw

WORpennukaan = !l..!!_ = kwµo xBO .... ......................................... (12)


qo koµw

c) Perkiraan Gas \Vater Ratio


Besarnya gas water ratio mempakan perbandingan antara laju produksi gas
dengan laju produksi air, atau dapat dinyatakan:

GWR = 2..!. = kgµwB,. .......... ············· ............................. . (13)


qw koµgBg

6. Metode Produksi
Setelah tahap pemboran dan komplesi selesai, maka sumur baru dapat
diproduksikan. Pada awalnya, bila tekanan statik dasar sumur cukup besar,
maka produksi dapat berlangsung secara spontan tanpa bantuan energi dari
luar (permukaan) atuu sering disebut dengan "natural flowing"
Dengan berjalannya waktu maka tekanan reservoir akan menurun, untuk
dapat mempertahankan laju produksi yang telah digariskan, maka sumur-
sumur diberikan sistem pengangkatan buatan atau sering disebut dengan
artificial lift.
Ada beberapa metode artificial lift, diantaranya adalah gas lift dan
pompa yang terdiri dari pompa sucker rod, pompa reda (ESP), Progresive
Cavity Pump (PCP), Hydrolic Pump Unit (HPU) .
...

Dasar Teknik. Produksi Page9


7. Kehilangan Tekanan
Kehilangan tekanan pada sistim produksi dapat terjadi pada berbagai
posisi mulai dari reservoir sampai separator seperti ditunjukkan pada
gambar 6.

GAS

llf» • p. - ?.l'lfs • LOSS iN PC~OVS MSORJM


A~ • Pwfs-."..-t = LOSS ACR:;ss COW?LE.TION
t.!"3 = l':.<R-P!lA RESr.tilCT!C"I
l.?4 = "':r.•-":isv • SAFE"Y ~LVE
f.P;; • !"wh- "'!)sC : S!JR."ACE: CHOKE
A Ps • ~:::sc- "sep = "'.=:..ow1..1~

t«"7 "wf •i"wh = TOTAL LOSS IN TUBING


ti.P3 • R.. 11 -' :H;; = " FLOWL!Nc

Gambar 5.
Kehilangan Tekanan Pada Sistim Produksi

Dasar Teknik Produksi Page JO


8. Pressure Traverse
l60 PSI PRESSURE. 100 PSI 3.360 PSI. .
8 16 24 40 48 56

1.400FT VERTtCAL FLOW'lNG PRESSURE GRADIENTS


!OIL Pt1RCEHT • 50)
TUSING SIZE • :<44....,._ ID
2 PROOUC'TION IW£ • ' °°°
GAS SJ>EQFIC GRAVITY • 0.65
BUD
IOIEMGE Fl.OWl!Wa 'lt!Ml'eAATUME • 150'F
OIL API GFl.'.YITY • :SS.ClM"
WA.TER SProFlC GRAVJT'f•.,. t,07

~
(UVENO-.TA:
2ll'l.-IN. OP TUBING (2.«1-iN. ID)
6 UO\JIO FLOW R..-..TE • 1.000 8ID (50%o WATER)
DEPTH .., 12.ooG FT
PROOUCtNQ GOR ... 800 SCFISBl.
PRODUCING GLA .-: 80012 =
400 $CF/Bel
WELLHEAD PRESSURE • 180 ~
FINO THE FLOWlNG QOTI'O... -ttOlE PRE:.SSURE.
8 SOLU'OON:
t. FiJ'ldthe~tdeplh~to16C:I
J)$i. wellbQd p-renur., To do this. pf"DOftd
~rticaliy <townwan:t from 160 p&i at 2.-rti depth
unfii in1erMteting the -400-&ct/bbl GLR Une.. Thh>
t.s iU a deplh ot 1.400 ft. N~ Chept"e.$&Unl" sea.le
i$ in S0.p$1 inere:ments •od cbe depth 5eakt '5 m
100-H 1ner.e1PetUs.
z. Add the eQulvaJent depth of 1.400 ft to th& well
depth ol 12..000 It and obtain 13.400 ft.
3. F:-om i3.400 ft on the \'e~c:at see.le. procet!d
horiz:ot11aJly to 1?\e 400 sdfbb:l ljnc and read a.
12 newing pre&SUte of 3.360 plf,i,

0
14 50

16

18

Gambar 6.
Grafik Pressure Traverse

9. Analisa Nodal
Analisa sistim Nodal digllllakan untuk menganalisa sistim produksi yang
terdiri dari komponen-komponen yang saling berhubungan dan saling
·mempengaruhi. Sistim ini menempatkan node-node (titik) pada sistim yang
memisahk:an dua komponen dimana dalam proses penyelesaiannya menggunakan
korelasi atau persamaan yang berbeda.

Dalam analisa Nodal, ditempatkan beberapa node penyelesaian yaitu node


pada media berpori, node pada dasar sumur, node pada kepala sumur dan node

Dasar Teknik Produksi Page 11


pada separator. Penentuan letak penyelesaian dipertimbangkan berdasarkan faktor
yang berpengaruh terhadap sistim produksi seperti yang ditunjukkan pada gambar
7. Dengan menentukan node-node tersebut, maka dapat dihitung kehilangan
tekanan pada masing-masing komponen terpisah.
SE!'ARATOR

Gambar7.
Nodal Pada Sistim Produksi

Pembagian :Sistim analisa meliputi dua section yaitu inflow section (up-
stream) dan outflow section (down-stream). Hubungan antara laju produks: dan
tekanan dari masing-masing komponen harus tersedia sebelum hubungan dari
sistim nodal dapat ditentukan. Laju produksi melalui sistim ditetapkan
berdasarkan anggapari' :
Aliran menuju iitik node = aliran yang keluar dari titik node.
Hanya ada satu harga tekanan pada tiap titik node.
Pada sua!U sistim produksi ada dua tekanan yang tetap dan bukan
merupakan fungsi dari laju produksi fluida yaitu tekanan reservoir rata-rata (Pr)
dan tekanan outlet sistim (biasanya tekanan separator). Untuk sistim produksi
yang dikontrol oleh jepitan di perrnukaan, tekanan outlet-nya adalah tekanan
kepala sumur (Pwh)·

Dasar Teknik Produksi Page 12


Jika titik node dihitung dari kedua arah yang dimulai darl tekanan yang
tetap, dengan persamaan :
Outflow node : ·

Pnode Psep + P2 (komponen down stream) ............................. (14)

Inflow node :

Pnode Pr+ Pi (komponen down stream) (15)

Dengan memperhittmgkan kehilangan tekanan pada,, sistim produksi, maka


hasil produksi dapat dievaluasi apakah sudah sesuai dengan.analisa perhitungan
secara teoritis, atau lebih baik, atau mungkin jauh dari yang diharapkan.

1. ·Node Penyeles~ian Pada Dasar Sumur ....


Pe~yelesaian dengan mengamhil node pada dasar sumur sebagai node
penyelesaian pada pusat interval perforasi bertujuan. agar dengan inenggunakan
tubing dan pipa alir yang sama dapat ditentukan laju produ:ksi optimumnya. Hal
ini berkaitan dengan peramala..1 laju produksi mendatang dengan terjadinya
penurunan tekanan reservoir.
Pada penyelesaian node ini, sistim produksi dibagi menjadi dua komponen
yaitu komponen reservoir dan komponen sistim (konfigurasi sumur). Node
penyelesaian pada dasar sumur dapat dilihat pada gambar 8.

Dasar Teknik Produksi Page 13


PERFORATIONS

. . ' p
. e
P,.r~ . FLOW _
~ ".:l Pr • 2200psi
. · THROUGtl POROUS MEDIA
J:;; l.00
Pb • 1600 p$i
l\.,f • Pw!s FOR THIS EXAMPLE

SEPAHA1'0A

' - - - - - - .... ~--IOSALES


L W~ N
30')0"

'l - TUBINGll.'1'.1~·1.01
V€R'l1CAL
(,'(PT>i
~ooc· .

NOOE OUTfLCW PAESSl.f<E


I
, ~ • SEPARATOR PRESSuRf
j__ 1 ~fl,.,_owt.rNC •· APtve:N<o

Ni -SOCU1<0N •;(JC~
PF.~FORAT(O <NTERVAL
Al nN<lA or

Gambar 8.
Komponen Reservoir Dan Komponen Aiiran Dalam Pipa

Prosedur penyelesaiannya sebagai berikut :


1. Asumsikan bcberapa laju alir seperti pada contoh pembahasan sebelumnya.
2. Buat node IPR untuk PI konstan, Vogel atau kombinasl.
Apabila Pwf diatas Pb, buatlah IPR dengan hukum Darcy. Apabila Pwf
dibawah Pb, buatlah IPR dengan Vogel.
3. Buat kurva tubing intake atau node outflow dengan menggunakan korelasi
aliran horisontal.
4. Berdasarkan laju alir yang dimisalkan, hitung Pwh yang dibutuhkan untuk
dapat mengalirkan fluida melalui pipa saluran sampai ke separator, dengan
mempergunakan korelasi aliran vertik.al.

Dasar Teknik Produksi Page 14


5. Dari laju alir dan Pwh yang bersangkutan, hitung tekanan pada ujung tubing
dan Pwf, dengan mempergunakan korelasi aliran vertikal.
'l"j:;,

6. Buat plot IPR dan kurva tubing intake dalam satu plot (Nodal Plot) dan laju
produksi sumur adalah laju produksi pada perpotongan kurva tersebut. Hal ini
ditunjuk seperti pada gambar 9.
7. Apabila digunakan lebih dari satu tubing, maka pembuatan k.urva intake-nya
adalah sebagai berikut:
a. Buat kurva tubing intake unruk masing-masing tubing secara terpisah.
b. Untuk tekanan yang sama, jumlahkan laju produksinya dari masing-
masing tubing yang dipakai.
c. Plot laju produksi total proses tersebut diatas versus tubing intake pressure
seperti pada gambar 10.

-----------
~· ..........

Hl /

:: ' i
::-
~'j
..
,.
...
''
-~·~·'I"'.:;; ,:1-)1;~;~•
• : .... i. .

. ... \IV
I
RC.Tf it<UNJl!E::lS Of 81:.

Garnbar 9.
Node Penyelesaian Pada Dasar Sumur.

Dc.sar Telmik Produksi Page 15


)

Gambar 10
Kurva Tubing Intake Terhadap Laju Produksi

Dasar Teknik Produksi · Page 16


BAB II
PERALATAN ELECTRIC
SUBMERSIBLE PUMP (ESP)

I. PENDAHULUAN
Electric Submersible Pump (ESP) telah digunakan di Indonesia oleh Caltex lebih
dari 30 tahun yang lalu. Pada tahun 1970 60% dari total produksi minyak di
Indonesia atau sekitar 80% produksi minyak Caltex diproduksi dengan pompa ini. ·
Dewasa ini ada beberapa produsen ESP, yang terbesar Reda (700/o pasaran dunia,
sekitar 2500 dipunyai oleh Caltex pada tahun 1970-an), Centrilift (25% pasaran
dunia), Oil Line, ODI, Trico dan lain-lain.
Pada prinsipnya pompa-pompa ini sama saja kecuali pada bentuk atau disain
impeller dan diffuser, gas separator, seal section, putarannya dan arah putarannya.
Unit pompanya terdiri dari pompa centrifugal, seal section (istilah Centrilift, Reda
menyebutnya protector dan ODI menyebutnya equilizer) dan ·electric motor. Unit ·
ini ditenggelamkan di cairan, disambung dengan tubing dan motomya
dihubungkan dengan kabel ke permukaan melalui junction -box ke switchboard
dan trafo. Kabel tersebut diklem di tubingnya padajarak 15-20 ft. Listrik bisa dari
220-2400 volts di pompanya. Pompa ini bisa memproduksi minyak atau air dari
1500 s/d 60000 BID (pada 10-3/4" OD casing) dan kedalamannya ada yang
sampai 15000 ft (Brown). Ukuran motornya dari i sampai 700 daya kuda dan ini
lebih besar dari pompa manapun. Penggunaannya antara lain pada industri
minyak, baik untuk sumur produksi maupun injeksi (secondary recovery) dan
pad.a instalasi air di offshore. Gambar 1 dan 2 menunjukkau suatu instalasi ESP,
temperatur sampaj 400°F masih dapat menggunakan pompa ini (kabel khusus).

Peralatan Electrical Submergible Pump Pagel


_l rons'f or-mer S..1n'°.
( Thnt~ Si.ngle Pt1i..,~.e:..)

o;
S WI t C.J\\"'1Qt'1rd I

ul
-J-Arnmctc:.r
· Junet lon Bo)(
r

.. r---Tvbin.g
--+--··- ~ol"I: -or. l-\'Zlld

1-4---·-Pump

Gambar 1.
Submergible Centrifugal Pumping Unit

Peralatan F.lectricai Submergible Pump PageZ


- T~ANSFORMER

MISCELLANE.OUS

Gambar2.
Instalasi Electric Submersible Pump9>

Peralatan Electrical Submergible Pump


Electric submersible pump dibuat atas dasar pompa sentrifugal bertingkat
banyak dimana keseluruhan pompa dan motornya ditengelamkan ke dalam cairan.
Pompa ini digerakkan dengan motor listrik dibawah permukaan melalui suatu
poros motor (shaft) yang memutar pompa, dan akan memutar sudu-sudu
(impeller) pompa. Perputaran sudu-sudu itu menimbulkan gaya sentrifugal yang
digunakan untuk mendorong fluida ke permukaan.
Dibawah memperlihatkan sentrifugal kompresor multistage, impeller.
Pada saat gas meninggalkan impeller pertama, gas aka.TI mendapatkan kecepatan
dan tekanan. Pertambahan kecepatan akan dikonversikan sebagian menjadi
tekanan didalam diffuser (Gambar 3.).

Garn.bar 3.
Skema Impeller dan Diffuser5)

II. Peralatan Electrical Submersible Pump (ESP)


Peralatan electric submersible pump dapat dibagi menjadi dua bagian
yaitu:
1. Peralatan diatas permukaan.
2. Peralatan diba:w_ah permukaan.

Peralatan Electrical Submergible Pump Page4


A. Peralatan di Atas Permukaan
Peralatan diatas permukaan terdiri atas Wellhead_, Junction Box,
Switchboard dan Transformer.
1. Wellhead
Wellhead harus dilengkapi dengan "seal" agar tidak bocor pada lubang
kabel dan tubing. Wellhead didesain untuk tahan terhadap tekanan 500 psi sampai
3000 psi. (Gambar 4)
Wellhead atau.kepala sumur dilengkapi dengan tubing hang~r khusus yang
mempunyai lubang untuk cable pack off atau penetrator (Gambar 5). Cable pack
off biasanya tahan sampai tekanan 3000 psi. Tubing hanger dilengkapi lubang
hidraulic control line, saluran cairan hidraulik wituk menekan subsurface ball
valve agar terbuka.

IE;;;~~-----·• c.t.SoNG

.
, - - - - - ... r~H CASINO

GJJ

-t-

Gambar 1 Weiihead

Gambar 4. Wellhead

Peralatan Electrical Submerg~ble Pump Pages


Gambar 5.
Cable Pack-Offpada Tubing Hanger5)

2. Junction Box
Junction Box merupakan suatu tempat yang terletak antara switchboard
dan wellhead yang berfungsi untuk ternpat sambungan kabel atau penghubung
kabel yang berasal dari dalam sumur dengan kabel yang berasal dari switchboard.
Junction Box juga digunakan untuk melepaskan gas yang ikut dalam kabel agar
tidak menimbulkan kebakaran di switchboard.
Fungsi dari junction box antara lain :
• Sebagai ventilasi terhadap adanya gas yang mungkin bermigrasi ke
permuk:aan melalui kabel agar terbuang ke atrnosfer.
• Sebagai terminal penyambungan kabel dari dalam sumur dengan kabel
dari switchboard. (Garnbar 6)

Peralatan Blectrfcal Submergible Pump Page6


Gambar6.
Junction Box5)

3. Switchboard
Switchboard adalah panel kontrol kerja dipermukaan saat pompa bekerja
yang dilengkapi motor controller, overload dan underload protection serta alat
pencatat (recording instrument) yang bisa bekerja secara manual ataupun otomaiis
bila terjadi penyimpaugan. Switcboard dapat digunakan nntuk tegangan 4400-
4800 volt.
Fungsi utama dari switchboard adalah :
• Mengontrol kemungkinan terjadinya downhole problem seperti overload
atau underload current.
• Auto restart underload pada kondisi intermittent well.
• Mendeteksi unbalance voltage.

Perilla tan Electrical Submergible Pump Page7


Switchboard biasanya dilengkapi dengan ampermeter chart yang berfungsi untuk
mencatat arus motor versus waktu ketika motor bekerja.
Switchboard ditempatkan pada suatu kotak yang tahan cuaca. Isinya
bennacam-macam tergantung keperluan, umumnya ada sekering (fuse), alat
otomatis untuk mematikan (overload/ underload protection), tombol sakelar atau
switch, start-step otomatis, anti petir dan pencatat ampere (recording ammeter).
Kadang-kadang terdapat lampu tanda bahaya, timers untuk pompa intermittent
dan alat-alat kontrol otomatis seperti float atau tekanan.

4. Transformer
Transformer merupakan alat untuk mengubah tegangan listrik, bisa untuk
menaikkan atau rrienurunkan tegangan. Alat ini terdiri dari core (inti) yang
dikelilingi oleh coil dari lilitan kawat tembaga. Keduanya, baik core maupun coil
direndam dengan minyak trafo sebagai pendingin dan isolasi. Perubahan tegangan
akan sebanding dengan jumlah lilitan kawatnya. Tegangan input transformer
biasanya diberikan tinggi agar ampere yang rendah pada jalur transmisi, sehingga
tidak dibutuhkan kabel (penghantar) yang besar. Tegangan input yang tinggi akan
diturunkan dengan menggunakan step-down transformer sai.11pai dengan tegangan
yang dibutuhkan oleh motor.

B. Peralatan Bawah Permukaan


Peralatan dibawah permukaan dari electric submersible pump terdiri atas
pressure testing sensing instrument, electric motor, protector, intake, pump unit
dan electri cable serta alat penunjang lainnya.

1. PSI Unit (Pressure Sensing Instruments)

PSI (Pressure Sensing Instrument) adalah suatu alat yang mencatat tekanan
. '
dan temperatur sumur. Secara umum PSI unit mempunyai 2 komponen pokok,
yaitu:

Peralatan Electrical Submergible Pump Page8


a. PSI Down Hole Unit
Dipasang dibawah Motor Type Upper atau Center Tan~.em, karena alat ini
dihubungkan pada Wye dari Electric Motor yang seolah-olah merupakan bagian
dari motor tersebut
b. PSI Surface Readout
Merupakan. bagian dari system yang mengontrol kerja Down Hole Unit
serta menampakkan (Display) informasi yang diambil dari Down Hole Unit
Seperti yang terlihat pada (Gambar 7)

Pressure· and Temperature


Sensi:ng lnstrument

Gambar7.
Pressure Sensing Instrument5>

2. Motor (Electric Motor)


Jenis motor ESP adalah motor listrik induksi 2 kutub 3 fasa berbentuk
sangkar burung (two pole, three phase, squirrel cage, induction-type electric
motor), yang diisi dengan minyak pelumas khusus yang mempunyai tahanan

Pera!atan Electrical Submergible Pump Page9


listrik (dielectric strength) tinggi. Tenaga listrik untuk motor diberikan dari
permukaan mulai kabel listrik, sebagai penghantar ke motor.
PrifarAflMotor'adalah 3400 RPM - 3600 RPM pada 60 Hz dan 2915 rpm
pada 50 Hz. (motor Reda lama 3450 rpm, sedang yang baru 3500 rpm, Centrilift
3475 rpm dan ODI 3500 rpm). tergantung besamya frekuensi yang diberikan serta
beban yang diberikan oleh pompa saat mengangkat fluida. Secara gans besar
motor ESP seperti juga motor iistrik yang lain mempunyai dua bagian pokok,
yaitu:
- Rotor (bagian yang berputar)
- Stator (bagian yang diam)
Stator menginduksi aliran listrik dan mengubah menjadi tenaga putaran
pada rotor, dengan berputarnya rotor maka poros (shaft) yang berada ditengahnya
akan ikut berputar, sehingga poros yang saling berhubungan akan ikut berputar
pula (poros pompa, intake dan protector).
Unhtl<. jenis motor listrik induksi dikenal putaran medan magnet yang
biasa disebut Syncronous Speed yaitu putaran medan magnet atau putaran motor
kalau seandainya tidak ada faktor kehilangan atau internal motor losses yang
diakibatkan oleh bt;ban
.
shaft (shaft load) dan frictions. Putaran
~ '
motor yang
biasanya tertera pada nama plate dari pabrik misalnya: 3500 RPM/60 Hz
Panas yang ditimbulkan oleh putaran rotor akan dipindahkan ke housing
motor melalui media minyak motor , untuk selanjutnya dibawa ke permukaan oleh
fluida sumur .
Fungsi dari minyak tersebut adalah :
- Sebagai pelumas
- Sebagai tahanan (isolasi)
- Sebagai rriedia penghantar panas motor yang ditimbulkan oleh perputaran
rotor ketika motor tersebut sedang bekerja.
Minyak tersebut harus mempunyai spesifikasi tertentu yang biasanya sudah
ditentukan o.leh pabrik yaih1 berwama jemih tidak mengandung bahan kimia,
dielectric strength tinggi, lubricant dan tahan panas. Minyak yang diisikan akan
mengisi semua celah-celah yang ada dalam motor , yaitu antara rotor dan stator.

Peralo.tan Electrical Submer.gible Pump Page 10


Untuk mendapatkan pendingin yang baik, pihak pabrik sudah menentukan bahwa
kecepatan fluida yang me!ewati motor (Velocity) barns> 1 ft/sec. Kurnng dari itu
.. ,.,
motor alcan menjadi .panas dan kemungkinan bisa terbakar. Seperti yang terlihat
pada gambar 8 atau gambar 9.

Karena diameter motor terbatas oleh ukuran casing, maka untuk


mendapatkan daya kuda cukup, motor dibuat panjang dan kadang-kadang dibuat
dua motor yang dihubungkan ke pompa (tandem). Pendinginan dilakukan oleh
fluida sumur yang mengalir di dinding luarnya, maka pad.a !nstalasinya motor
han1s dipasang di .atas perforasi, ataupun kalau terpaksa harus dibawah perforasi,
harus ditambahkan suatu jacket (shroud) atau pipa tambahan di luar pompa agar
fluida produksi akan mengalir ke bawah dan akan melalui.. motor sebelum masuk
ke pompa. Gambar 10 menunjukkan penggunaan jacket ini. Tabel 1 menunjukkan
hermacam-macam harga daya kuda motor maksimum untuk ukuran casing
terte:ntu.

Tabel 1. HP MalcsimU1J1. Motor dan Casing


Ukuran Casing Max. Single Motor, hp Multiple Motor, hp
4-1/2" 25.5 127.5
'
5-112"
6-5/8"-7"
lI 120
225
240
600
8-5/8" 260
I 720

Pera/a tan Electrical Submergible Pump Page 11


SHAFT

THRUST BEARING
FLAT CA'BLE

VALVE DRAI:N'

Gambar 8.
Motor Electric submersible pump9 )

Peralatan Electrical Submergible Pump Page12


.·~~ MOTOR THRUST BEARING
~ - COMPONENTS & COMPLETE

~~
1::fu
----- ~

Gambar9.
Motor

Pera/a tan Electrical Submergible Pump


Page 13
c
0
-aG) .•
..
,, m
~.2
o-
.. a.
.c Di
en~

·Gambar 10.
Penggunaan Jacket untu1c membantU Pendinginan Motor atau bila Pompa
dipasang di bawah Perforasi.

. .
!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!l!!!!!!!!!!!I!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!\
Peralatan Electrical Su6mergible Pump Pa .
~.

I
3. Protector/Seal Section/Equalizer I
Protector sering juga disebut Seal Section. Alat m1 berfungsi untuk
menahan rnas"li:knya ftuida sumur kedalam motor, menaha.Il.thrust load yang I
ditimbulkan oleh pompa pada saat pompa mengangkat cairan, juga untuk
menyeimbangkan tekanan yang ada didalam motor dengan tekanan didalam I
annulus. Dengan tekanan luar dan dalam yang sama maka dinding motor tidak
perlu terlalu tebal. Ia juga memisahkan thrust pompa dari bearing-bearing motor.
Seal section terletak antara pompa dan motomya. Gambar 11 menunjukkan skema
suatu seal section ini.

('~
~~

(
~
~... THRUST BEARING

''----....__
COMPONENTS


. '~-£ '
~
'

--:::8: lHRUST BEARING

[ '"""'-

COMPLETE

Gambar 11. Protector (Seal, Equalizer)

Peralatan Electrical Submergible Pump Page15


Secara umum protector mempunyai dua macam type, yaitu :
1. Positive Seal atau Modular Type protector.
2. Labyrinth Type Protector (Gambar 12): ' ·
Untuk sumur-sumur miring dengan temperatur > 300°F disarankan menggunakan
protector dari jenis seal atau modular type protector.

- - - A O A P T E R C::Ol,...JPLING

BASE

Gambar 12.
Jenis Labyrinth Type Protector9>

Peralatan Electrical Submergible Pump Page 16


Secara prinsip protector mempunyai 4 fungsi utama yaitu:
- Untuk mengimbangi tekanan dalam motor dengan tekanan diannulus.
- Tempat duduknya thrust bearing untuk meredam gaya axial yang
ditimbulkan oleh pompa.
- Menyekat masuknya fluida sumur kedalam motor
- Memberikan ruang untuk pengembangan dan penyusutan minyak motor
•'
akibat perubahan temperatur dalam motor pada saat bekerja dan pada saat
dimatikan.

4.. Intake (Gas Separator)


Intake atau Gas separator dipasangkan dibawah pompa dengan cara
menyambungkan sumbunya (shaft) memakai coupling. Intake ada yang dirancang
untuk mengurangi volume gas yang masuk k.e dalam pompa, disebut dengan gas
separator, tetapi ada juga yang tidak. Untuk yang terakhir ini disebut dengan
intake saja atau standart intake (Gambar 13).
Prinsip kerja gas separator dengan. aliran balik (reverse flow), gravitasi
atau hydraulic-centrifugal dimana gas mengalir di tengah dan dibelokkan ke
annulus sedang minyak yang terlempar keluar oleh gaya centrifugal dialirkan ke
inlet pompa di tengah lubang. Gas separator tidak baik untuk minyak yang sangat
kental (viscous) atau emulsi karena bisa mengganggu lubang masuk pompa.
Ada beberapa intake gas separator yang populer dipak.ai, yaitu :
• Standart intake, dipakai untuk sumur dengan GLR rendah. Jumlah gas
yang masuk pada intake hams kurang dari 10% sampai dengan 15 % dari
total volume fluida. Intake mempunyai lubang untuk masuknya fluida ke
pompa, dan dibagian luar dipasang selubung (screen) yang gunanya untuk
menyaring partikel masuk ke intake sebelum masuk kedalam pompa.
• Rotary Gas Separator dapat memisahkan gas sampai dengan 90%, dan
biasanya dipasang untuk sumur-sumur dengan GLR tinggi. Gas separator
jenis ini tidak direkomendasikan untuk. dipasang pada sumur-sumur yang
abrasive (Gambar 14).

Pera Iatan Electrical Submergible Pump Page 17


• Static Gas Separator atau sering disebut reverse gas separator, yang
dipakai untuk memisahkan gas hingga 20% dari fluidanya.
•,' ' "!''"''

HEAD SHAFT PUMP


..
TO l>uMP ASSY •

ADAPTER-BUSHING ASSY.
BUSHING
GASKET
AOAPTER·SE?ARATOR ASSY.
fNTAKE HOUSING
COUPLING·ASSY.

FLUID TUBE

GUIDE TUBE
OIFFUSER-Se?ARATOR ASSY.

SHAFT
.' HOUSING SEPARATOR

IMPELL!R

1--11---PICKUP IMPELLER
::--;i--- STAND TUBE
INTAKE-SEPARATOR A~~Y.

----BUSHING SCRE!:N-SUCTION
----VENT PLUG
--·BASE

c~
..
TO MOTOR
.. ,,. ,........., '°'4111111 ~JIOllft

Gambar 13.
Gas Separator (kanan : Reda, kiri : Oil Line-Kobe)

Peralatan Electrical Submergible Pump PagelB


"''GAS
. SEPARA.TOR
HEAD

O'RING

CROSSOVER

EXTERNAL BUSHING.

ROTOR ASSEMBLY

GUIDE VANE HUB

.,COMPRESSION TUBE

INDUCER

SHAFT
.
' .

SPACER
INTERNAL BUSHING
EXTERNAL BUSHING

Gambar 14.
Jenis Rotary Gas Separator9)

Peralatan Electrical Submergible Pump


Page 19
5. Unit Pompa
Pompa tersedia dalam bennacam-macam ukuran, baik diameter rnaupun
panjang susunannya. Unit pornpa merupakan Multistage Centrifugal Pump, yang
.. , '

terdiri dari: impeller (sudu-sudu), diffuser, shaft (tangkai) dan housing (rumah
' '

pompa). Impeller melekat pada as secara tetap (fixed) atau dapat bergerak
sepanjang as (floating impeller).
Di dalam housing pompa terdapat sejumlah stage, dimana tiap stage terdiri
dari satu impeller dan satu diffuser. Jumlah stage yang dipasang pada setiap
pornpa akan dikorelasi langsung dengan Head Capacity dari pompa tersebut.
Dalam pemasangannya bisa menggunakan lebih dari satu (tandem) tergantung
dari Head Capacity ·yang dibutuhkan unruk menaikkan fluida dari lubang sumur
ke pennukaan. Impeller merupak.an bagian yang bergerak, sedangkan diffuser
adalah bagian yang diam. Seluruh stage disusun secara vertikal, dimana masing-
masing stage ~pasang tegak lurus pada poros pompa yang berputar pada housing
(Gambar 15).

Untuk casing 7" atau kurang, biasanya impell~mya floating, karena dapat
meratakan tekanan pada as (thrust). Tetapi bila casingnya besar, dipakai yang
tetap, karena lebih kokoh dan lebih tahan pasir. As pada mana impeller melekat
berhubungan dengan.as seal dan motor. Diffuser dan impeller (Gambar 16) dibuat
dari alloy besi - nikel (Ni-resist), atau bronze dan untuk as digunakan K-Monel
agar awet dan k:uat Head per stage sangat tergantung pada diameter impeller.
Karena diameter impeller ini terbatas oleh casing maka diperlukan banyak tingkat
(atau multi-stage). Impeller/diffuser bisa sampai 417 stages.
· Bila minyak mengandung gas, maka sebelum masuk ke pompa ia dapat
dimasuk:kan dahulu melalui suatu gas separator (Gambar 13) yang berputar dan
merupakan bagian dari pornpa, agar effisien_si pornpa bisa tetap cukup besar. Gas
separator ini merupakan bagian dari pompa dan terdapat dalam banyak ukuran.
Prinsip kerja pompa ini, yaitu fluida yang masuk kedalam pompa melalµ.i
intake akan diterima oleh stage paling bawah dari pompa, impeller akan
mendorongnya masuk, sebagai akibat proses centrifugal maka fluida akan
terlempar keluar dan diterima diffuser.

Pera Iatan Electrical Submergible Pump Page20


Oleb diffuser, tenaga kinetis (velocity) fluida ak.an diubah menjadi tenaga
potensial (tekanan) dan diarahkan ke stage selanjutnya. Pada proses tersebut fluida
ji;.1;1.:dih•:•:i' I '

memiliki energi yang semakin besar dibandingkan pada saat masuknya Kejadian
tersebut terjadi terus-menerus sehingga tekanan head pompa berbanding linier
dengan jumlab stages, artinya semak.in banyak stages yang dipasangkan, maka
semakin besar kemampuan pompa untuk mengangkat fluida.

Paockln.;:i
5ush•f'lC

Coupling
Hex cap Screw &.
Lock" 'A'asher

Gambar 15.
Unit Electric submersible pump9>

Pera/atan Electrical Submergible Pump Page21


THRUST
-- __.-WASHER
~'ff:···-~- IMPELLER
l~:.......,,_..... '

.. ,

Garnbar 15. B. Diagram Pompa ESP (Brown et al)

Peralatan Electrical Submergible Pump Pa9e2Z


Gambar 16.
Impeller dan Diffuser (Brown et al)

6. Electric Cable
Kabel yang dipakai adalah 3 jenis konduktor. Dilihat dari bentuknya ada
dua jenis, yaitu flat cable type dan round cable type. Fungsi kabel tersebut adalah
sebagai media penghan~3.I' arus listrik dari switchboard sampai ke motor di dalam
sumur. Secara umum ada 2 jenis /kelas kabel yang sering digunakan di lapangan,
yaitu:
- Low temperatur cable, yang biasanya dengan material isolas1 nya terdiri
dari jenis polypropylene ethylene (PPE) atau nitrile. Direkomendasikan
untuk pemasangan pada sumur-sumur dengan temperatur maximum 205°F
- High temperatur cable, banyak dibuat dengan jenis ethylene prophylene
diene methylene (EPDM). Direkomendasikan untuk pen:1asangan pada
sumur-sumur dengan temperatur yang cukup tinggi sampai 400°F

Peralatan Electrical Submergible Pump Page23


Kerusakan pada round cable merupakan hal yang sering kali terjadi pada
saat menunmkan clan mencabut rangkaian ESP. Untuk mengbindari atau
memperkecil kemungkinart itu, mak.a kecepatan string pada saat menurnnkan
rangkaian tidak boleh mele~ihi dari 1500 ft I jam dan harus lebih pelan lagi ketika
melewati deviated zone atau dog leg. Kabel harus tahan terhadap tegangan tinggi,
temperatur, tekanan migrasi gas dan tahan terhadap resapan cairan dari. sumur
maka kabel harus mempunyai isolasi dan sarung yang baik. Bagian dari kabel
biasanya terdiri dari :
- Konduktor (conductor )
- Isolasi (Insulation)
- Sarung (sheath) Jaket
Kabel didisain menurut nomor seperti 110, 2/0 dst. Untuk ESP dibuat dari
tembaga (Cu) dan Aluminium (Al) serta bentuknya ada yang bulat. untuk
penggunaan dilekatkan pada tubing dan pipih (flat) untuk di sekitar pompa (dan
protector) ke arah motornya (Gambar 17). Standard taha..'lan -ohm untuk Cu
10.37 dan Al= f7.0 (20°C). Tabel 2 menunjukkan voltage drop dari bermacam-
macam kabel tsb.
Kabel A~ lebih murah dan tahan korosi (terhadap lhS) tetapi lebih mudah
. ' '

patah dan sukar disambung kembali. Walaupun demikian kabel Al tetap. dipakai
untuk sumur dengan kadar H2S tinggi.
Kapasitas aliran maksimum adalah:
No.I Cudan 2/0 Al maksimum 110 ampere
2 Cudan 1/0 Al maksimum 95 ampere
4 Cu dan 2 Al maksimum 70 ampere
6 Cu dan 4 Al maksimum 55 ampere
Kad~g-kadang bila coupling tubing sangat besar maka seluruh instalasi
menggunakan kabel flat. Dalam hal penggunaan kabel flat akan kehilangan
tegangan lebih banyak.
Kabel harus berdiameter kecil, tahanan listriknya sedikit, tahan karat/oli
dan bisa digulung. Dalam memilih kabel, dianjurkan agar kabel tsb mempunyai
penurunan tegangan listrik di bawah 30 volts per 1000 ft2 •

Peralatan Electrir.al Submergible Pump ·pageZ4


COPPER
PP (PLASTIC)
EPH (RUBBER BAflBIERl
EPR

INSENSITIVE INSULATION
COPPER CONDUCTOR
LEAD TIN COATED
T'fl/U l'IMld clOlt tC:utta, r,qw41foeJ PP (PLASTIC)
NITRILE RUBBER
G. P. NlTRILE ~IQH TEMPEBAIUBE
PP {PLASTIC)
POlYHOPYL!NI COPPER
COPOt.YMIA
INSULATION

CURRENT
HITlllLI
JACKU
STEEL WRAP
P (PLASTIC)
NITRILE---ii-o
EPROR
SOUO CONSTRUCTION STD.PP
Aoiiltd UM /CNIHy. JOWi • Ctl'1t11H1
COPPEil IU.RIHG
LUDJACXU
CL·81

Cl.·11
OIL llES1'1A.llT

. ..
£POiINSUl..41'JOll
...
. . ~
••• p •

:· ~

.· .•.
' ..... flNHfO •
:. ''. com•
SflllHO
11\0ClllOJ

''"""0 COllUllllCflON
fro<JI CM fCWfftr il)'Oll JtclWt • C.-.WI

Gambar 17.
Kabel.

Pera/atan Electrical Submergible Pump


Tabel 2. Penurunan Tegangan .Listrik pada Kabel
Ukuran Kabel Penurunan Tegangan Per Ampere
Per 1000 ft~ 100% Power Factor dan 149°F
# 12 Cu atau # 10 Al 3.907.
# 10 Cu atau # 8 Al • 2.447
# 8 Cu atau # 6 Al 1.553
# 6 Cu atau # 4 Al 0.988
# 4 Cu atau # 2 Al 0.624
# 2 Cu atau # 110 Al 0.390
# 1 Cu atau # 2/0 Al 0.307

Sedang clearance (lubang untuk kabel antara casing dan coupling tubing)
hams:
OD kabel ~ 10 casing - OD coupling tubing - 0.250 (8)
Dimana:
OD kabel = diameter luar kabel, jn ·
ID casing diameter dalam casing,- in
OD coupling tubing = diameter luar sambungan (kopling) tubing, in
' . .; 'c ~

Bila digunakan flat cable seluruhnya maka kehilangan tegangan listrik


akan bertambah sekitar 8%. Selain itu flat cable lebih mudah rusak dalam
pemasangannya.
Kabel dengan bungkus polyethylene terbatas penggunaannya sampai
B0°F. Polypropylene dengan armor sampai 180°F, dan EPR lead sheath sampai
250°F. Kabel standard biasanya dibuat untuk maksimum l 67°F, 10 tahun masa
pakai dengan umur dibagi dua untuk setiap kenaikan 18°F. Kabel dipasang
dengan klem pada tubing dimana klem dipasang setiap 15 20 ft.

7. Check Valve dan Drain Valve


Check valve dipasang pada tubing (2-3 joint) diatas pompa. Bertujuan
untuk menjaga fluida tetap berada di atas pompa. Check valve tidak dipasang
tnaka kebocoran fluida dari tubing (kehilangan fluida) akan melalui pompa yang
dapat menyebabkan aliran balik de¢ fluida yang naik ke atas, sebab aliran balik
(back flow) tersebut membuat putaran impeller berbalik arah, dan dapat
rnenyebabkan motor terbakar atau rusak.

Pera/a tan Electrical Submergible Pump Page26


Check valve umumnya digunakan agar tubing tetap terisi penuh dengan
fluida sewaktu pompa mati dan mencegah supaya fluida tidak turun kebawah pada
:-'! \ : 'ld·!lii·l•.iii 1·1. "'' . ''

waktu pompa dihentikan, hal mana dapat menyebabkan pompa terbalik. Bila pada
waktu ini langsung distart, maka as pompa bisa rusak dan motor atau kabel bisa
terbakar. Jika check valve tidak ada, maka sebelum di start kembali maka perlu
diberi waktu miniml:tm 30 menit ( dihitung dari waktu pompa dimatikan).
Check valve harus diangkat kembali dengan wireline kalau pompa mau
diangkat, karena k;aJau tidak minyak akan berceceran di p~nnukaan atau kalau
' ~ . '

tidak maka 1 joint di atas check valve dipasang pula.bleeder valve (drain.valve,
katup pengering) untuk mengeringkan fluid.a di dalam tubing yang jatuh di
annulus selama mengangkat tubingnya. Bleeder valve dibuka dengan menjatuhkan
suatu batang rod (stang). Dalam menjatuhkan rod ini harus yakin bahwa tubing
memang berisi cairan (ditunggu sampai tubing basah terangkat), ini agar rod tsb
tidak jatuh keras ke pompa bila fluida memang bocor ke bawah (tubing kering).

8. Bleeder Valve
Bleeder Valve dipasang satu joint di atas check valve, mempunyai fungsi
mencegah minyak keluar pada saat tubing di cabut. Fluida akan keluar melalui
bleeder valve.

9. Centralizer
Berfungsi untuk menjaga kedudukan pompa agar tidak bergeser atau selalu
ditengah-tengah pada saat pompa beroperasi, schingga kerusakan kabe1 karena
gesekan dapat dicegah serta umuk pendinginan sempurna untuk motor.

10. Lain-lain
Cable guards untuk pelindung kabel flat di pompa ke motor; swaged
nipple untuk penyambung kepala pompa atau drain valve ke tubing; service cable
yaitu kabel dari trafo ke switchboard; vent box. Cable guide wheel, untuk
pemasangan kabel; cable reels, gulungan kabel dan penahannya (reel support).

Peralatan Electrical Submergible Pump P.a9e27


BAB III
CARA KERJA DAN PENANGANAN ESP

ESP/SPS atau lebih dikenal dengan nama Reda. System ini terdiri dari :

1. Reda Pump Handllng Tools :


2. Gas Separator I Pump Intake 14. Pump Clamp
3- Protector 15. Motor Clamp
4. Motor 16. Tandem Motor Jack
s. Electric Cable 17. Tail Clamp
6. Reda Oil 18. Nylon Sling
7. Cable Clamp 19. Acme Stretcher
8. Cable Guard 20. Acme Sealer
21. Tin Cutter

~n

9. Bleeder Valve
10. Check Valve
11. Shroud
12. Liner
13. Cup Packer

1. Electric Power atau listrik disuplai dari Transformer (step down) melalui switch board.
2. Di switchboard ini, semu.a tingkah laku dari Reda dan kabel akan dikontrol/ dimonitor (Amperage. voltage)
3. Dari switchboard, power akan diteruskan ke reda motor melalui power cable yang terikat sepanjang tubing dan reda unit.
4. Pada.reda motor, Electric Power, akan dirobah menjadi mechanical power yzitu beropa tenaga putaran.
5. Tenaga putaran ini akan diteruskan ke Reda Protector dan Reda Pump melalui "Shaft" yang dihubungkan dengan "coupling"
6. Reda Pump "as~ atau Shafi: berputar dan pada waktu yang sama, impeller akan ikut berputar dan akan mendorong 11uida yang masuk melalui pump
intake at.au gas separator kearah permukaan
7. Fluida yang didorong. secara bertahap akan memasuki tubing dan akan terus keperrnukaan atau menujµ stasiun pengumpul.

1
I.1 REDA PUMP
Reda Pump adalah sel>uah pompa Centrifugal yang terdiri dari beberapa
stages. Satu stages terdi.ri .kri satu impeller yang bergerak (Rotor) dao. satu
Diffuser yang stationary (Stator}. Type dan Stages dari pompa ini akau
menentukan hanyaknya fluida yang dapat di Prodaksi serta menentukan total
Head Capacity (Daya dorong). Disampiog itu juga menentukan jwnlah horse
Upper Bearing pow·er yang dipeduk.an. Stage<; terbuat dari Metal M-Resist atau Ryton yang
~~.;..,_-Shaft tahan terhadap karat, kuat dan tahan lama. Sedangkan Shalt terbuat dari besi
K-Monel yang juga tahan karat dan sangat keras.
~~Mo.-- Bushing
Stpp Key

..i-.-- Compression-Tube

.j.__ _ Impeller CARAKERJA.;

1. Putaran tkri motor di!eruskan sampai ke pompa melalui shaft. Sambungan


autara shaft tiap-tiap unit dihubungkan dengan menggunakan Caupling.
Impeller dipasang pada shaft sehingga dengan berputarnya sh.aft mah
impellerpun akau berputar. Impeller yang berputar ini akau mendorong serta
mengangkat Fluida, sedangkan Diffuser yang stationary mengai:ahk.an fluida ini
...____ Housing ke;itas menuju impeller yang di atas .

~--Lower Diffuser

2. Impeller bersama-sama dengan Fluida memberi teb.nan yang dil"'dukan tintuk


mencapai head yang dibutuhkan dan hal ini dilaksanalcan deugan
mempercepat aliran Fluida di Jal.am Impeller.

J. Pada walc:tu iluida mu1galir dengan arah axial kearah sudu-sudu impeller,
fluida ini diterima oleh sudu-sudu diffiiser dan dibelokkan arahnya menuju
impeller yang diatasnya. Pada Diffuser kecepatan fluida alcan berkurang dan
diruhah menjadi tekanan.

4. Untuk dapat memompa fluida dengan tekanan dan head )"!Ilg tertenlu
••.&......,....__ Packing dlperluJ.-.an stages yang di,usun seo.ra series, maki.n banyz.k stagesnya mak!n

_.,,.___ Base tinggi fluida yang dapat didorongnya (head capacity).

Bushing Catalan;
Besarnya rating atau kapasitas dari pompa ditentukan oldi outside diameter
dari Impdlei:, bukan jum!ahnya.
Coupling
Hex Cap Screw &
Lock-Washer

'. ,
Alat ini merupakan bagian dari J>?mpa yang
berfungsi : •

1. Sebagai Fluida Intake


--Head 2. Sebagai Pemisah ~;;,.' Flul~ ~ Gas

Oleh karena itu gas separator banyak dijumpai pada


sumw-sumur yang memiliki G.O.R (Gas Oil Ratio}
Bushing lebih dari 1000 Cult/bbl

~-- Guide Tube


c~
+-- Shaft I Sumbu Sewaktw1 pompa beketja, maka tekanan dalmn gas
.,...'+--- Fluid Tube separator akan lehih kecil dari tekanan diluarnya.
Perbedaan ini menyebabkan gas yang sebelumnya
berupa cairan akan memecah menjadi gelembung-
gelembung gas. Kemudian gelembung gas ini naik.
keatas dan kduar meWui lubang yang terdapat
diatas separntor. SeJangkan cairan akan turun
kebawah serta masuk keclalam tube dan selanjutnya
"ditangkap" oleh "Pick Up Impeller" dan diteruskan
kedalam impeller paling bawah dari pompa

Jenis:Ji:cidias.Sepi:mor

l. 65 GS untuk series 400


2. 75 GS untuk series 540
3. 54 GS untuk series 650 - 675
4. 500 KGS/RGS untuk series 540
5. VGSA untuk series 540
Pick Up Impeller

Stand Tube

- - - Intake Housing/
Screen

- - - Coupling

3
Protector in.i terd.iri dari bermacam-macam type dan series misalnya sbb :
Secies = 375/400; 400/540; 400/450/540
REDA.nOTECTOR
TYPE PSSB ; PSSB ; 66 L; Modular
Ji.lea kit.a akan menyambung protedDr dengan motor dan pompa yang berbeda
lleritl!lnya m.aka )dt;a harus1ah menggunakan housing adaptor.
Cata.KetjL..:
i----Head Protector yang dipzsang diatas motor ini berfungsi sebagai pelindung dan
pemis:ah motor dan pompa dengan earn :
ii-+---Ring ·snap
1. Me11ahan calran yang masuk dari wdlbo~e agar
~+----Seal
tidak langsung masuli: kedalam motor.
lfr,r'llll•---Valve • Relief
"'"-P---:rube • Brather 2.. Menyamakan tekanan yang ada didalam motor
Plug-Vent dengan tekanan yang datang dari well bore.
~t-++----Bushing
3. Memberikan kesempatan kepada minyak yang
ada d.iC!alam motor untuk dapat memuai dan
me~yusut disebabkan oleh panas dan dingin
•...,.......,...-.
~·\4----Housing
11ew..:ktu JU;tart alau :.tup.

r:r-::llR---- Body· Bushing


EROSES l'ENGISIAN.MINYAK.REDA.:
.1~9111~---Valve- Drain Protector terdiri dari 2 chamber yang dihubungkan oleh tube (tabung) antara
chamber yang satu dengan chamber yang lainnya. Jika mioyak reda diisikan
melalui drain & fill valve, minyak te=but akan memenuhi chamber yang
bawah (lower chamber) kemudian masuk ke Chamber atas (upper chamber)
melalui tube dan memenuh.i chamber tersebu!. Sete1ah pen~ Japal kita lihat
dari dr.i.in-valve yang paling atas.

CA:r.AJ:AN;
- Spacer Se;J adalah seal yang terbuat dari
ceramic clan gampang pecah. Jadi haru:s betul-
betul dijaga agar protector jangan sampai
terpuk.ul atau terhempas demi menjaga seal ini.
Kalau seal ini pecah, akan terjadi komunikasi.
Disamping hal ini spacer seal juga berfungsi
untuk menahan fluida mengafu- melalui shaft.
Setiap protector yang dilepaskan dari unit yang
----Body- Bushing sudah pemah cli start, harus diganti oobah m.1cah

l~-~----Valve-Drain dlmasuki oleh cairan s1unur.


Dalam keadaan terpaksa, dimana protector akan
....,11-+----Tube
d.ipergunakan kembali sehabis &cabut, jangan
sekali-kali protector ini ditidurkan" barus dijaga
agar tetap tegak.
Hempasan dan pukula.-. pad.o. housing Protector
akan mudah seka!i memeca:1kan Spacer Seal
ing -Two Piece Keramik yang akan menyebabkan protector bocm.

-Housing
Valve - Drain & Fill
---Adapter· Coupling
•------::Rex H'd cap screw
& Lock washer
r---.-----Base
4
l.4 REDA MOTOR

Motor yang biasa dipakai at.au dipergunak.an dldaerah CPI adalah yang terdiri dari
3 phase cl.an mempu.nyai 60 cycle. A<:lapun fungsi dari motor ini adalah untuk
menggerakan pompa dengan jalan merobah Electrical Energy yang diberikan kepada
motor mdalui cable untuk menjad.i Mechnic:al Energy. Meclianical. Energy ini
rumtinya akan menggerakkan pompa melalui sbaft yang terdapat pada setiap unit,
dan antara. shaft dengan shaft yang lainnya dihubungbn dengan coupling.

Beberapa unsur yang penting mengenai Reda Motor adalah :

a. Stator : Yaitu susunan dari cable halus yang stationary (lidak


bergerak) cl.an dipasang pada boJY motor dibahagian dalam.

b. Rotor : Adalah susunan dari elemen-demen tipis yang beiputar clan ditengah·
tengahnya terdapat shah. Jarak antara rotor Gengan stator ini adalah sangat kecil
yaitu 0.007 inch.

c. Reda Oil : Sejenis cairan (mmy;&) yang berfungsi sebagai pelumas dan pendingin
Reda Motor.
STATOR
Cua.Ketja . :

Stator yang dialiri lislTik (di energize) akan mengincluksi rotor sehingga akan ikut
bcrputar. Rotor ini pada saat bcrputar ak.an tcrangkat dalam kcadaan umdayang»
sediklt c:lari kecludukannya (Thrust Bearing). Seh.ingga waktu rotor berputar shaft
--HOUSING yang ada ditengah-tengah rotor ini akan ikut berputar. IJengan herputam.ya shaft
maka pompa dan protector akan ikut berputar. Shafi: antara setiap unit
disambungkan dengan coupling.

-r---BEARING MOTOR

PLUG PIPE

BASE

5
I.5 REDA CAB.LE

Armor
Filler .· ·· .
- iead Jacket ·
[ ~\_-.;;Insulation
Recla Cable gunanya adalah untuk m'!llgalirkan atUS listrik dari sumbemya ke Recla
Motor. Cable ini dibuat dari tembaga dengan petunjuk dari Perusahaan Recla. dan
pcmbuatannya discsUaikan dcngan kondisi dari sumur scrta bcsar kcdln:ya HP dari Motor.
. . . . ;·r·.-~Conductor
. . . • • V'
.•• ,·1 LJ
' ... '' '

0
'606
__ ·.... ..... 00· 1. REDA.RED.ALENE - Dapat menahan ams sampai dengan 3 KV (3 Kilo Volts)
mempunyai susunan yang sejajar ataupun bulat. Cable i.-i:i dapat betfung1ii sampai

Flat Type Round Type dengan maximum BHf 18o'F . Balian lsolasinya rerlniat dari Ployproo!yne dan
jacketnya terbuat dari karet Nitrile. Annomya terbuat dari Galvanize, hes.i ataupun
Monet. Cable bulat biasan:ya dipaltai untuk swnur yang diametemya lehih besar dari
7", sedangkan cable picak untuk sumur yang mempunyai OD 7 atau lebih kecil
3

Flat Cable~
2. REDA REALEAD Berbentuk pic:ik (Flat), juga t:ahan terhadap 3";18 sampai dengan 3
KV ( 3 Kilo Volts) dan maximum BHT JOO'f. Cable ini texbUat dari bahan yang sama
dengan bahan untuk cable bulat, han.ya saja cable ini dibalut dengaa karet Ethylene
Propylene clan Jacketnya d«ri Timah (lead). Annomya terhuat dari balian yang sama
dengan c,.b!e bulat.

3. REDAIDLYEiliEINE 3 KV, berbent:uk bulat saja. Cable ini adalah jenis yang
khusus dibuat dari daerah yang berhawa dingia serta mengandung karat. Cable dari
jenis ini dapat beketja sampai pada temperatur 65 derajat Fahrenheit dibawah nol, dan
jeilis iui tidak dibalut dengan Armor.

Tubing~-

6
)URFACE EQUIPMENT
JUNCTION BOX

Disini gas yang migrasi dari dalam sumur melalui kabel menuju kepermukaan dan terus ke swicth board akan keluar. Tanpa iunction box, gas
, akan masuk ke switch board dan akan menjadi "potential hazard"

SWITCH BOARD
Berfungsi sebagai :

• Alat control dari re<ia (Reda Chart)


• Menjacli alat pelinchmg dari recla terhadap overload clan underload

PENGIRIMAN_DAN..P.ENANGANAN

Pengiriman dan Penanganan reda equipment merupakan factor yang sangat penting untuk
berhasilnya operasi dari reda.

Bagian-bagian penting dalam setiap unit dari reda yang akar. rusak apabila terjadi kesalahan
penanganan :
(BARUS MENJAPI PERTIMBANGAN SETIAP MENANGANI REDA)

1. Pompa: Susunan stage yang terdiri dari impeller (rotor) dan dilluser (stator)
2. Intake I Gas Seperator :

Inducer dan Auger (Fluida. akan masuk melalui alat ini)


Cross over section, pada aiat !ni gas akan dialirkan kembali ke annulus dan £luida akan
diarahkan ke stage pertama dari pompa.

3. Protector : Seal (Cheramie) yang menjaga well fluid tidak masuk ke motor.
4. Mo.tor : Motor Winding: jarak antara stator dan rotor adaiah 0.007".
S. Cable : Berat dari layer kabel yang paling alas akan menjadi beban untuk layer dibawahnya.

Melihat dari kondisi dan sifat dari bagian-bagian inl maka perlu kita bahas peralatan-peralatan yang
harus dipakai untuk penanganan ini :

I. SHlPJWJiJIDX

Semua reda yang akaa dikirimkan (Ready line alau yang akan diperbaiki) haruo dimasukkan kedalam box dan diberi ganjal karet (shipping
rubber)

1 Pada bagian luar dari box harus dicantumkan :

• Serial No. darl Reda.


• Type dan ukuran dari Reda (Pump GN-2000/36/STGS SER#S4 - DH)
• Tujuan dari reda (SO - Bekasap # 79)

Catatan: Tanda cat merah pada ujung dari Box adalah menunjukkan arah letak reda ke well.

7
b._Ei:ngiriman_k.i:_Shop :

• Pada body dari reda yang ~ tanggal pencabutan d:m dari lokasi
mana reda tersebut dicabut
..
Menukar tulisan yang lama p~~ .•~x dengan data reda yang dicabut dan lokasi asalnya.
• Selalu memasang shipping rubber.

Catalan : Untuk referensi penerimaan di shop, dapat mengacu kepada "Pump Removal
Report" (yang dikirimkan untuk setiap reda yang dicabut clan masuk)

Jangan memakai "Single w;_nch Line" untuk pengangkatan reda box. Pergunakanlah "Spreader
Bar" dengan mengikatkan rantainya pada titik yang \4 x panjang reda box dari m~sing-masing
ujungnya (lihat gambar).

Pada saat mengangkat box, rantai dari spreader bar tidak boleh diikatlran pada handle dari
Bo.]I;, tetapi harus diikatkan meliliti box itu sendiri.

MenumokaxLieda...c!.alam..Shippingl!ox.(F.aa>_Tmdr..l_Gruie)

Peralatan yang dibutuhkan :

1. Foco I Crane Truck.


2. 2 Buah "Nylon Sling".
3. 1 Tail Clamp.
4. 1 Reda Safety Clamp

eROS.EDllR.MEREBAHKAN.REDA KEDALAM..BOX
(Untuk proses melepas reda, lihat "SOP Dismantling SPS"

1. Ikatkan rantai Pump Clamp ke tubing elevator.


2. Angkat Traveling Block sampai kesambungan bawah (Gas Seperator)
3. Buka samhungan clan pasang "Tail Clamp- pada bagian bawah pompa.
4. Crane Truck harus berada pada posisi sejajar dengan shipping box clan kepala (cabin)
knalpot tidak mengarah ke well.
5. Operator harus berada pada posisi berlawan:m dengan beLan yang akan dikerjakan.
6. Pemberi aba-aba (Flag Man) harus dapat memberi aba-aba dengan jclas.
7. Kaitkan hook dari crane truck terhadap rantai dari tail clamp.
8. Crane truck rnengarahkan pompa ke shipping box yang dituju sambil menurunkan
traveling block.
9. Turunkan sampai posisi ujung dari pompa menyentuh shipping box (dengan sudut :t 20°)
dan kepaia pompa berada ± 4 kaki diatas working plat form.
10. Lepaskan rantai tail clamp dari traveling block.
11. Pasang kedua nylon sling dengan formula \4 x panjang beban dari kedua ujungnya clan diikatkan
terhadap hook dari crane truck.

8
12. Setelah dapat keseimhangan beban, lepaskan rantai dari pump damp. Jang;m berada
dibdakang tum:!Jing blil.d<.
13. Angkat pompa clan posisikan keatas shipping box
14. P~g karet (shipping rubber) kedalam box (2 bh) sesuai dengan formula dan pasa.'lg .
' .

2 buah ganjal kayu pada kedua ujung box.


15. Turunkan pompa keatas box, lepaskan kedua pump dan tail clamp.
16. Angkat kembali pompa, masukkann ke<lalam boi<, arahkan "name plate" dari reda keatas
supaya mudah mendatanya.
17. Tuliskari pada body dari reda tsb, "tanggal pencabutan"· dan "lokasi asalnya"
18. Lepaskan "Nylon Sling" dan lengkapkan pasangan shipping rubber.
19. Tutupkan reda box dengan mengangkat "handle" dari pada box dengan aba·aba yang jelas.
20. Pasangkan kembali baut-baut dari reda box.
21. Proses pengangkatan bagian dari yang lainnya dilakukan dengan mengulang langkah #1 s/d
#20.
22. Reda siap untuk dikirimkan kembali ke shop.

:e.ERINGATAN_:
• Handle dari reda tidak didaign untuk menahan behan dari keseluruhan box bcserta
isinya.
• Jangan melakukan "sliding" pada saal merebahkan alau mengangkat reda ke dan
dari
shipping box, karena akan membengkokkan reda (pergunakan bantuan crane)
• Pada saat mengangkat atau menurunkan travelling block, ha.nm_ diperhatikan
kalau-kalau ada yang menyanglwt..di....atas.

Sebelun, inenangani reda cable kita hams mengetahui bagian·bagian dari kabel ini -.

1. Armor, terbuat dari lapisan baja dan galvanize..


2. Filler, terbuat d:>ri kaleng tipis dari kuningan (Brass Shi;n)
3. Lead Jacket, terbuat dari timah.
4. Insµlation, terouat dari karet..
5- Conductor, terbuat dari tembaga, sebagai penghantar arus.

Keempat lapisan pelindung diatas, dibuat sedemikian rupa bena untuk mengantisipasi fluida sumur
yang mempunyai bermacam-macam sifat :

1. Panas, rata-rata BHT : 300° F


?.. Minyak, crude oil.
3. Gz.:;sy, mengandung gas.
4. Sandy, mengandung pa.sir

5. Afr, dapat mengakibat karat.


6. Chemical, mengandung zat kimia sewaktu pekerjaan workover.

Dari keterangan diatas, maka diambil kesimpulan REDA CABLE, membutuhkan penanganan yang
extra hati-hati. Setiap benturan akan mendorong setiap lapisan, pelindung sampai ke konduktor.
Apabila ini tetjadi lapisan akan bocor dan konduktor akan rusak. :

a. Sewaktu Pengangkatan, tidak boleh melilitkan sling mengitari kabel. Lilitkanlah pada "as" dari spool.

9
b. Sewaldu Pengirimao Reda.

1. Angkat reda keatas truck pengangkut (lihat SOP bongkar muat barang).
2. Pasang ganjal kayu pada masing-mas:ing reda box dengan formula ~ x panjang box dari
masing-masing ujung box dan ditambah dengan 1 (satu) ganjal untuk box yang panjang
3. Ilrat semua box dengan rantai (come along}
4. Sebelum berangkat, operator I driver melakukan :

• Pemeriksaan/penyesuaian jumlah barang yang akan dibawa dengan "Surat Perintah Kerja"
atau cargo manifest.
• Periksa ulang rautai pengik.at, kuudisi ban, rem dan perlengkapan lainnya.

5. Swamper (bersama rig <:rew hilamana pedu} akan memandu kendaraan sampai keluar dari
daerah herbahaya (rig site) barn kemudian menaiki kendaraan.
6. Kcccpatan maksimal kcndaraan adalah 50 Km/jam atau kc.rang dari itu apabila bcrada pada
jalan yang jelek.
7. Pemeriksaan ulang ikatan dari reda wajib dilakukan seh<"lum memasuk.i jalan umum.

CATATAN Range dari ukuran reda box adalah 5.5' s.d 32' untuk ukuran reda box 32' dianjurkan untuk
memakai trailer.

Sebelum memulai pekerjaan, lakubnlah persiapan dibawah ini

1. Adalran "Pre Job Meeting"


2. Periksa Shock Absorber Wheel :
• Guard
• Safety Chain
• Shackle Lluk
• Center Bolt
• Sadie Spring
3. Periksa Power Tong dan Backup Tong ( dapat disetf angkat :!: 6 ft diatas floor)
4. Periksa Power Slip.
5. Periksa kondisi "Tin Cutter", "Acme Strectcher"dan "Acme Sealer".
6. rug harus "center" terhadap surnur sehingga kabel mempunyai ruangan yang cukup dan aman
pada well head dan casing.
/. Traveling Block, Swivel dal= keadaan kbas (tidak terkunci)
8. Perik.sa Elevator.

A. M.ENCABUJ'.JIBOA

L Gantung shock absorber wheel setiIJggi floor.


2. Pastikan tubing hanger/doughnut tidak d~am keadaan terkunci (longgar "inner lock down screw"
bukan "outer lock down screw"
3. "Screw" kan pup joinL
4. Angkat String (Perhatikan Weight Indicator}
S. Lepaskan kabel dari tubing hanger (electrician) sambil memperhatikan .kalau ada kabel yang
terbakar.
6. Angkat kembali string sambil memasukkan ujung kabe\ ke Shock AbooTber Wheel.
7. Buka 1 Jt thg +doughnut dan rebahkan ke ground.

10
8. Masukkan Power Tong.
9. Lanjutkan pencabutan sambil menarik ujung kabel dan rnasukkan ke gulungan kabeL
10. Setelah + 10 jts yang dicabut, angkat dan gantung SAW di monkey bo:ud.
11. Proses pencabutan dilanjutkan.
"l'•i •I

CATATAN./..PERil:iGAIAN

l. Pada saat pencabutan dan pengguntingan kabel clamp. floorman berdiri pada posisi tidak
rnenghalangi pandangan operator.
2. Kecepatan operator mengangkat pipa harus disesuaikan dengan kecepatan !loorman meng-
gunting clamp.
3. Pada Iangkah #5 setelah kabel dilepas, periksa kernbali "megger" dari kabel :
a. Apabila masih bagus, informasikan kc ROC untuk dipertir.ibangkan.
b. Apabila tidak terbaca, (open sirkuit) ini rnenunjukkan kabel atau tubing/reda putus..
Sehingga proses pencabutan hams dilakukan dengan sangat hati-hati.
4. Ganja! kayu harus dipasang supaya kabel tidak konb>k langsung dengan tanah.

B. MEMASUKKAN.RED.A
l. Pasa.ng cable guard yang sesuai pada cable di sisi SPS.
2. Rangkaian Tubing dan SPS harus berada ditcngah-tengah sumur.
3. Pada waktu menyambung tubing, ulir harus baik, bersih dan diolesi dengan tool joint compound.
4. Pada saat mengunci sambui;igan tubing dengan power tong, backup tong harus difungsikan dan torsi,_yang diberikan harus sesuai dengan
ukuran tubing.
5. Setiap menutup power slip, cable harus selalu diperhatikan agar tidak terjepit.
6. Jumlah clamp cable minimal yang harus dipgsang pada setiap joint tubing sebanyak 2 buah,
kecuali pada SI'S series #400, pada tubing stand pertama diatas pup sebany"-k 10 bh/joint.
7. Cara memasang camp cable, uju.ng clamp diselipkan diantara tubing dan cable, sealer tidak
boleh mengenai cable.
3. Posisi clamp cable pada setiap tubing adalah pertarna, 1 kaki diatas coupling, yang kedua,
+/- 15 kaki diatasnya (dipertengahan tubing)
9. Maximum kecepata., masuk 30 jts per jarn. Cable tidak boleh tegang, orang tidak boleh berada dibawah cable wheel.
10. Pada sumur horizontal (kick of point) harus dipasang cable protector pada setiap sarnbungan tubing, dari pompa sampai KOP.
11. Pernasangan CV dan BY :
a. Pada sumur yang normal : SPS, Pup. 2 jts tubing, BV. 2 jts tubing. BY, Tubing.
b. Pada sumur yang banyak rnengandung gas : SPS, Pup, 10 Jts tubing, CV, 2 Jts tubing,
BV Tubing.
12. Setelah SPS da:n 6 Jts tubing dimasukkan kedalam sumur, naikhn cable wheel dan gantung pada monkey board dan ikat dengan rantai
pengaman, kendorkan sand line pasang rantai pengaman pada handle r~m sand line dan lepas yuick connection pada saluran angin.
13. Lanjutkan proses pemasukan SPS sampai jumlah tubing yang diperlukan sudah terpenuhi,
sambil periksa rgble reading secara berkala (setiap 10 1tsi
14. T urunkan cable wheel, gantung pada ketinggian +I- 10 kaki dari WPF, ikat handle rem sand
line dengan rantai pengaman dan lepaskan quick connection pada salurar: angin.
15. Sisipkan cable pada tubing doughnut (dilakukan oleh crew SPS)

11
16. Dudukkan tubing doughnut pada keduduhnnya, pastikan cable tidak sea.rah dengan keran
annulus dan lockdown screw. Lanjutkan pekerjaan selanjutnya.
17. Pastikan cable reading masih baik, porong cable dengan gergaji sepo.njang jarak ke junction
box. Lanjutkan ke peketjaan selanjutnya.

Catalan : Lockdown screw dikunci setelah BOPE diturunkan dari well head, agar posisi cable terlihat.

1. Untuk menyambung reda protector (single atau tandem) pergunakan "Friction Clamp"
2. Setiap reda I SPS dan power cable yang baro sa~pai dilokasi harus se.gera dibuka clan di
periksa (walaupun belum akan dimasukan pada saat itu) untuk memastikan apakah data-data
nya I ukurannya sudah sesuai dengan yang akan dimasukkan.
3. Apabila dijumpai sambungan kabel tepat berada pada sambungan tubing (coupling), tambahkan
pup joint (3 ft atau 4 ft) pada sambungan sebelumnya.
4. Apabila tetjadi sentakan pada kabel ketika mencabut ataupun memasukan reda, maka "tension
cable" akan bertambah tinggi yang akan menyebabkan terjadinya perobahan "strnktur" pada
kabel (akan merusak kabel).
5. Down Hole Protection untuk reda unit :
a. Shroud, yang dipasangkan pada pump intake sampai ke motor, mempunyai 3 keuntungan :
1. Mengoptimalkan efficiency dad pompa, yaitu dengan cara menambah velocity (kecepatan)

dari lluida memasuki pompa (diharapkan 1 kaki/detik)


2. Dengan adanya aliran ini, pr~ses pendinginan terhadap motor akan menjadi lebih baik.
3. Mencegah "Fluid Cut" atau kenaikan temperature apabila reda dipasang pada perforasi.

b. Liner dan Cup Packer, dipasang dibaWah motor untuk mengurangi ataupun menahan pasir dan
"Surge Pressure" yang akan merusak pompa.

c. Check Valve, dipasang pada tubing string untuk melindungi reda unit terhadap tekanan balik
(back pressure) yang mengak.ibatkan tetjadinya putaran halik terhadap reda ketika pompa
akan dihidupkan (twist).

" Kabel tension tarikan.lteg:mgml yang terjadi karena betat kabel itu sendiri ketika

digantung.

12
P.ENANGANAN CABLE_REELS

SLING DA.KI CRANE


-t--------

RANTA/ ATAU SLING

I' .AS

CABLE REEL
·-

• JANGAN MELiLITKA.t'il SLING/R.At.'\ITAI DJSEKELILING REDA KABEL


• APABILA MEMAKA1 FORK LIFTPENGANGKAT, ANGKATLAH PADA •AS"NYA.

13
· ·£ENGANGKATAN-1IBDA

RIG WINCH UNE

CRANE UNE

f'TING CHAIN

.--~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~Shlppmg
Box

1/4 .,

• PERINGATAN :

- JANGAN MENGANGKAT DENGAN 1 SLING


- jANGAN BERDIRI DIBAWAH BARANG YANG SEDANG DIANGKAT
- ABA-ABA YANG DIBERIKAN KEPADA OPERATOR RIG & CRANE HARUS JELAS

14
PENANGANAN_SlfilPlNG BOX

CRANE WIRE ROPE

SPREADER. BAR.

----------
t-----cHAIN

111/ x-~t----- J/~. x-----tt4--- Jff x-.. .•·.

Spreader Bar harus dipergunakan untuk mengangkut red• motor, pump, protector, intake, gas separator

clan shipping box.

- Nylon sling harus dipakai apabila mengangkat reda pada bodynya.

- Shipping box harus diganjal dengan kayu dengan formula 1A dari panjang box pada masing-masing ujung.

15
PELETAKAN REDA DILOKASI

I '=" l
l'UB!NG
BAS!:i

WORK FLOOR

REDA
CABLE REEL

OPERA
TOR

75-100 FEET

RIG UNIT

- Tanda cat merah pada shipping box hams dekat/mengarah kepada sumur.

- Shipping box dan reda cable harus ganjal.

- Dianjurkan, apabila shipping box diletakkan dari arah lain, titik sambungan
tetap mengarah terhadap sumur ( seperti jari-jari dari sebuah !ingkaran ),

16
BABIV
PERMASALAHAN DAN" soe ,ES.P

1. Pengertian Electri~ Submersible Pump ( ESP )


Pompa submersible merupakan pompa jenis sentrifugal yang
diciptakan oleh seorang sarjana kelahiran Rusia bemama Prof. Armais
Arutonuff.. Pada saat itu pompa ini digunakan untuk memompa air di
tainbang-tambang pada Perang Dunia I. Perkembangan selanjutnya
memungkinkan untuk digunakan pada sumur-sun;iur minyak yang dalam
dan dapat memberikan laju produksi yang besar
ESP merupakan pompa bertingkat yang Porosnya dihubungkan
langsung dengan motor Pengerak di mana motor dari ESP terletak di
Bawah permukaan. Motor pengerak iniMenggunakan tenaga listrik yang
.disuplai dari Pemukaan dengan kabel dan sumbernya diambil dari power
ganset yang ada.
Adapun susunan rangkaian ESP didalam sumuryaitu : Motor,
Protector, Gas Separator, pump, pump head.

2. Komponen ESP
Komponen ESP dapat di golongkan menjadi 2 ( dua ) bagian yaitu :

2.1. Surface Facility (Peralatan Permukaan )


Terdiri dari : Variable Speed Drive (VSD), Transformer (Trafo),
Junction Box dar. Genset.
a. Variable Speed Drive (VSD)
Alat ini · berfungsi sebagai control dipermukaan guna
melindungi peralatan bawah permukaan serta untuk
me~percepat. ataupun memperlambat kerja Motor di bawah
tanah dengan pengaturan daya yang diberikan ke transformer.
Alat ini merupakan gabungan starter, upperioad, dan
underload protection serta Recorder Instrument (alat pencatat)
yang bekerja secara otomatis jika terjadi peyimpangan.

Permasalahan ESP Page I


b. Transformer (Trafo)
Alat ini berfungi untuk menaikan dan menurunkan
teganggan sesuai dengan yang di butuhkanserta
diperintahkan atau output dari VSD guna memutar motor
dalam sumur.

c. Junction Box
Junction box adalah tempat (kotak) yang terletak di antara
VSD dengan Well head Fungsinya untuk menghubung kan
kabel dari transformer ke kabel dari Well head.

Permasalahan ESP Page2


d. Genset (Sumber Listrik)
Peralatan yang menghasilkan Daya listrik untuk mensuplay
arus listrik:, kepadaVSIJ! sesuai dengan kebutuhan yang di
perlukan VSD itu · sendiri, tegangan yang sesui dengan
operating voltage motor di bawah permukaan.

2.2 Subsurface I Down Hole {Peralatan Bawah Tanah)


Terdiri dari: motor, protecor, gas separator, pornpa dan pump head,
kabel band, kabel guard, standing valve.
a. Motor
Motor listrik penggerak pompa adalah 3 phase, motor listrik
ini di rnasukan ke dalarn rurnah motor yang diisi dengan minyak
motor untuk pendingin dan merupakan isolasi motor terhadap
fluida sumur.
Adapun fungsi motor ini adalah sebagai pemutar I
penggerak pompa dibawah sumur.

Bagian atas Bagian bawah

Permasa/ahan ESP Pagel


Coupling

..
b. Protector
,,

Peralatan Protector in di pasang di bawah porr.pa, adapun


fungsi peralatan tersebut antara lain ·.
1. Melindungi minyak motor dan mencegah fluida masuk
kedalam motor
2. Menjaga keseimbangan tekanan dalam motor dengan
tekanan fluida luar sumur pada kedalaman penenggelaman.

Permasalahan ESP Page4


c. Gas Separator
Gas separator dapat disambungkan pada pompa guna
memperbaiki effisiensi pompa.Peralatan ini sekaligus
berfungsi sebagai intake pompa (tempat masuknya fiuida ke
dalam pompa} dan karena perbedaan density . gas dengan
minyak maka gas akan terpisah dari minyak.

d. Pompa
Pompa merupakan Multistages Centrifugal Pump, yang
terdiri dari : impeller, diffuser, shaft (tangkai) dan housing
(rumah pompa}. Di dalam housing pompa terdapat sejumlah
stage, dimana tiap stage terdiri dari satu impeller dan satu
diffuser.

Permasolahan ESP Page5


: '.:

e. Pump Head
Di pasang di atas pompa berfungsi sebagai discharge
pompa dan berfungsi sebagai penyambung rangkai pompa ke
tubing.

f. Standing Valve
Di pasang satu joint di atas pompa, berfungsi sebagai:
Bila pompa berhenti bekerja (shut down), menahan fluida
agar tidak keluar dari tubing ( turun ke pompa lagi ) dan
menahan partikel-partikel agar tidak mengendap dalam
porn pa
Menjaga tubing tetap penuh dengan fluida pada saat
pompa berhenti.

Permasa/ahan ESP , Page 6


g. Cable Guard
Di pasang pada rangkaian berfungsi sebagai pelindung
kabel MLE supaya tidak terjadi gesekan pada kabel dengan
casing. Yang diletakkan/posisinya berada pada rangkaian
pompa.

h. Cable Band
Alat ini berfungsi sebagai pengikat cable guard dengan
rangkaian dan sebagai penahan kabel dengan tubing.

Permasalahan ESP Page7


3. Memasukan Peralatan Kedalam Sumur
Kerusakan kabel banyak terjadi karena kesalahan pada saat
memasukanperalalatan kedalam sumur.Kehati-hatian dan perhatian
selama pemasangaan peralatan kedalam sumur ada!ahsangat
pentinguntuk menjamin pemasangan terlaksanadengan sempurna .

.
',

Menurunkan dan mengangkat tubing(peralatan ESP) secara perlahan


dan teratur {smooth) sangat penting. Perubahan percepatan atau
per!ambatan yang mendadak hanya akan merusakankabel dan peralatan
ESP
Salah seorang dari crew rig dapat dt tunjuk untuk menjamin bahwa
kabel tetap lurusdengan slot tubing spider door

Permasalahan ESP Page8


Jangan dibiarkan kabel jatuh ketanah.kekenduran kabel harus dijaga
antara gulungan kabel sheave kabel
Pengujian"electricalcontinuity" dan "insulation resistance". harus di lakukan
secara berkala

4. ldentifikasi Permasalahan
4.1 Pennasalahan yang dihadapi dalam pemasanga~. rangkaian Pompa
ESP
Dalam upaya memenuhi target produksi yang telah ditetapkan
pemasangan pompa ESP merupakan salah satu upaya untuk mencapai
target tersebut. Terutama pada sumur-sumur deng~n. potensi cadangan
fluida besar ·namun tidak mempunyai cukup tekanan untuk mngangkat
fluida kepermukaan ( sembur alam ), dengan dipasangnya pompa ESP
diharapkan cadangan fluida yang besar tersebtJ! dapat diangkat
kepemiukaan. De:ngan daya angkat jumlah fluida/gross yang besar maka
dimungkinkan mengangkat fluida sumur dalam jumlah besar sesuai
dengan desain pompa yang telah ditetapkan. Walaupun cadangan fluida
tersebut hanya mengandung prosentse minyak yang sedikit namun
jumlah fluida yang diangkat berjumlah besar tentunya akan memberikan
hasil yang cukup sesuai dengan perhitungan engineering sehingga
mampu memberikan sumbangan jumlah produksi minyak untuk mencapai
target yang telah ditetapkan.
Dalam operasionalnya pompa ESP juga tidak terlepas dari
gangguan I kerusakan yang ditampilkan dalam bentuk table lokasi
pemasangan dan catatan kerusakan yang terjadi.

Permasalahan ESP Page9


Kumpulan data tersebut adalah sebagai berikut :
Tahun ke Lokasi PeraIatan Keterangan Kerusakan
1 X-1 Pompa Stuck
Kabel Zero M.Ohm
2 X-2 Motor Phase to phase un balance
Phase to ground zero
3 X-3 Motor Short sircuit
X-4 Motor Phase to phase un balan.ce
Phase to ground zero
X-5 Motor ZeroM.Ohm
~··
X-6 Pompa Shaft goblak
X-7 Kabel ZeroM.Ohm
Pompa Stuck
'
4 X-8 Motor Un balance
X-9 Motor Stuck
·-
X-10 Motor Un balance

,,
Dari data di atas maka gangguan kinerja/ kerusakan yang terjadi
pada pompa ESP secara garis besar dapat di golongkan dalam 3
kategori sebagai berikut :
1. Gangguan I kerusakan peralatan yang disebabkan oleh pengaruh
kondisi di dalam sumur.
Kondisi di dalam sumur yang berubah-ubah atau fluktuatif memiliki
pengaruh dalam menyebabkan kerusakan komponen pompa. Kondisi
yang memberikan pengaruh pada kinerja pompa antara lain fluktuasi
cairan reservoir sumur terutama apabila fluktuasinya menyebabkan
kondisi cairan berada di bawah level pompa 'akan menyebabkan
down thrust pada pompa karena cairan sumur yang juga berfungsi
sebagai pendingin komponen tidak terhisap ke dalam pompa dan
mengakibatkan komponen - komponen pompa mengalami pemuaian
terutama pada thrust bearing.
Kondisi lainnya adalah sifat kimia dari cairan reservoir pada sumur-
sumur. tertentu yang mampu dengan cepat membentuk scale

Permasalahan ESP Page JO


sehingga terjadi penumpukan scale didalam komponen dan jalur
discharge pompa yang mengakibatkan pompa macet/ stuck.
1.::-\:!;·:: .... :
'I '·':' ·i•H!~!\ijii!11!Ji1~!d~T!1!!i!i\ti]•i1\!1l·111
,,!·:., ,' .:

2. GaMg~uar(t kerusakan yang disebabkan oleh kualitas material yang


dig~~akan pada saat pemasangan rangkaian ESP.
:i
Baik'komponen rangkaian pompa maupun material yang digunakan
; ].!!"'

untuk' keperluan pemasangan pompa ESP telah didesain dan diuji


berdasarkan standar tertentu sesuai dengan kondisi lingkungan kerja
pompa. Namun dalam data penulis terdapat beberapa. kerusakan
yang disebabkan oleh kondisi peralatan dan material yang secara
kualitas tidak memenuhi standar yang ditet~pkan. Hal yang sering
terjadi adalah kerusakan port head MLE karena mutu pengecoran
pada kepala MLE yang kurang baik.

3. Gangguan I kerusakan yang disebabkan kesalahan pada saat


penanganan dan pemasangan rangkaian pompa ESP.
Kesalahan manusia yang diakibatkan kurangnya skill, pengetahuan
dan kepatuhan terhadap standar sangat berpengaruh
.. besar dalam
menilai kehandalan pada suatu rangkaian pompa ESP. Karena
manusia memberikan peranan yang cukup besar dimulai dari
fabrikasi peralatan, pengangkutan dan pemasangan suatu rangkaian.
Dari data yang ada, terdapat beberapa kejadian kerusakan yang bisa
diduga karena akibat faktor kesalahan manusia a.tau human error.
.

Terjadinya gangguan a.tau kerusakan pada pon:!pa ESP tentunya


·akan berdampak pad a upaya pemenuhan target produksi minyak yang
dicapai. Gangguan kinerja tersebut selam berpengaruh terhadap hasil
produksi tentunya juga berakibat terjadinya pengeluaran anggaran
belanja yang diperlukan untuk pengangkat rangkaian ( POOH ) dan
penggantian komponen yang mengalami kerusakan serta kegiatan lain
dalam kaitannya dangan perbaikan kinerja pompa ESP yang mengalami
kerusakan.

Permasalahan ESP Page 11


Salah satu permasalahan yang pemah terjadi dalam pemasangan
rangkaian ESP di lapangan yaitu tidak terpasangnya 0-ring seal pada
bagian motor Upper tandem ke motor lower 'tandem, sehl'ngga masuknya
cairan dari luar motor yang mengakibatkan short circuit pada motor.
Pada saat pembongkaran rangkaian motor ESP di permukaan
setelah p~oses pencabutan rangkaian yang di witnees oleh fungsi
pemeliharaan baru diketahui bahwa 0-ring seal antara motor ke motor
tidak terpasang.

Adapun langkah - langkah yang dilakukan untuk memastikan


short circuit pada motor antara lain :
1. Pengukuran Motor Dengan Megger
Phase to ground A I B /C = 0 M.Ohm
Phase to phase AB I AC I BC = 4,5 Ohm I 4,0 Ohm I 5,7 Ohm
. (UNBALANCE)

4.2 Mengukur Tahanan lsolasi Motor


> Pastikan Megger dalam keadaan "OFF" ( mati ).
> Pasang kabel Hitam tester ke tanda "E" (Earth).
l> Pasang kabel Merah tester ke tanda Low Ohm.
> Reset I Pastikan jarum penunjuk pengukuran pada posisi angka 0 (
nol ).
> Periksa tahanan lsolasi (Phase to Ground) Motor dengan cara:
> Putar Pengatur Skala Megger ke posisi 500V 1200 M.Ohm.
> Pasang Kabe! yang berwama "Hitam" ke Ground (Body Motor}.
> Pasang Kabel yang berwarna "Merah" ke Terminal Motor Phase
No:1.
> Tekan tombol "ON".
> Baca hasil pengukuran.
> Lakukan Test yang sama terhadap Phase No: 2 ke Ground. dan
Phase No:3 ke Ground Catatan: Hasil pembacaan harus sama dan
seimbang

Permasalahan ESP Page 12


Gambar pengukuran Tahanan lsolasi Phase to ground pada motor

Pemasangan unit motor adalah sebagai berikut :


1. Pengis!an Oil Coolant.
Oil coolant berfungsi sebagai pelumasan dan pendinginan
pada motor ketika motor beroperasi.
2. Pemasangan 0-Ring seal.
0-Ring seal yang berfungsi untuk mencegah atau masuknya
cairan ke dalam motor.
3. Pemasangan atau pengantian Gasket lead ( timah }.
Gasket lead berfungsi untuk mencegah atau masuknya cairan
ke dalam motor.

4.3 Mengukur tahanan Winding (Phase to Phase) Motor dengan cara


Pasang Kabel yang berwarna "Merah" ke Terminal Motor Phase No:1.
Pasang Kabel yang berwama "Hitam" ke Terminal Motor Phase No:2.
Tekan tombol "ON".
Baca hasil pengukuran (cocokan dengan TABEL WI No: 01).
Lakukan Test yang sama terhadap Phase No:2 ke Phase No:3 dan Phase
No:3 ke Phase No: 1. Catatan: Unbalance Resistance yang diizinkan tidak
boleh melebihi 2 % dari jumlah rata-rata ke 3 Phase-nya.

Permasalahan ESP Page 13


Tabel 1- Tahanan Winding Motor

"." ·ii.:,.j'n1i;, •. :,,;;.;;ii•'•il"r .,,,.,, .. )111>""

NO HP TYPE VOl.TS AMPS RESISTANCE


1 80 62 D 860V 39A 1.2 Ohm
2 100 62 D 1580V 40A 1.6 Ohm
.3 120 62 D 1945V 40A 2.2 Ohm

5~ Standar Operation Prosedur (SOP)


ESP adalah suatu rangkaian yang sating berhubungan antara rangkaian
satu dengan rangkaian lain termasuk kabel power yang berfungsi untuk
mensuplay tenaga listrik untuk menggerakan motor didalam sumur. Dengan
berputar nya motor berputarlah bagian-bagian yang Jain. Dalam hal ini tidak
berfungsi nya suatu bagian dari rangkaian ESP tidaklah dapat berkerja suatu unit
ESP.
Dalam Pemasangan rangkaian ESP SOP adalah bagian yang sangat
penting dan tidak bisa untuk ditinggalkan, karena dengan adanya SOP suatu
pekerjaan pemasangan rangkaian ESP akan memperoleh hasil yang lebih
optimal, dibawah ini adalah contoh SOP Sebelum Pemasangan Rangkaian ESP
dan SOP pemasangan rangkaian ESP.

5.1 Standard Operation Prosedur (SOP) Sebelum Pemasangan


Rangkaian

5.1.1 Motor
1. Lakukan pengukuran pada motor menggunakan "Insulation
Tester"(Megger)
,
dan resitansi motor Penggunakan ohm meter
'

pada masing-masing fasa.


2. Periksa putaran motor dapat berputar bebas (free rotation).
3. Periksa semua flug dan drain pada motor sudah terpasang
'de~~an benar.

Permasalahan ESP Page 14


4. Lakukan test tekanan sepe11unya untuk memeriksa kebocoran

5.1.2 Protector

Periksa putaran pada protector dapat berputar bebas (free


rotation)
5.1.3 Cable Power
1. Sebelum melakukan pennyambungan cable power ke motor
pastikan kondisi cabel dalam keadaan baik dengan di lakukan
pengukuran ulang.
2. Langkah selanjutnya melakukan penyambungan dari kabel
kemotor dan di lakukan pengukuran set,elah kabel tersambung
ke motor.

5.2 Standard Operation Prosedur (SOP) pemasangan rangkaian


1. Pastikan semua clamp sudah tepasang dengan tepat pada bagian
yang akan di rangkai.
2. Pastikan kan semua 0-ring saat penyambungan rangkaian sudah
terpasang
3. Pastikan semua coupling antara rankaian sudah terpsang dengan
baik
4. Pastikan semua bolt antara rangkaian sudah terikat dengan kuat
5. Pastikan oil motor dan oil protector sudah terisih dengan baik
6. Pasang cable MLE pada motor dan pastikan sudah terpasang
dengan baik

Permasalahan ESP Page 15


Kesimpulan
1. Secara umum gangguan kinerja/ kerusakan pompa ESP dapat
dikategorikan dalam 3 klasifikasi yaitu:
• Gangguan kinerja/ kerusakan karena pengaruh kondisi sumur.
• Gangguan kinerja/ kerusakan karena kualitas material .dan
peralatan pompa.
• Gangguan kinerja/ kerusakan karena faktor kesalahan manusia
dalam penanganan dan pemasangan rangkaian pompa ESP.
2. Prosedur operasi standar untuk penanganan dan pemasangan rangkaian
pompa merupakan hal yang sangat penting untuk menghindari kesalahan
dan ketidak maksimalan kinerja pompa setelah pemasangan.
3. Peningkatan kualitas dan pengetahuan para teknisi yang terlibat dalam
pemasangan pompa perlu dilakukan untuk keseragaman kemampuan
dalam kegiatan pemasangan dan operasi pompa.

Saran-saran
Untuk mendukung operasional produksi migas yang handal, efektif dan
efisien maka di" perlukan pekerja yang berkualitas sehirigga kinerja pompa
setelah dipasang dapat memenuhi harapan untuk mendukung pencapaian
target produksi antara lain:
1. Perlu diso::;.ialisasikan prosedur operasi pengukuran standar yang berisi
spesifikasi peAgukuran standar baik elektrik maupun mekanis, tahap -
tahap pemeriksaan, tata wakt11 pemeriksaan dan metode pemeriksaan
yang digunakan.
2. Melakukan pelatihan kepada para teknisi yang melakukan pemeriksaan
sehingga ·setiap teknisi memiliki kemampuan yang seragam/ sama agar
hasil pemeriksaan yang dilakukan memiliki hasil akhir yang sama juga.
3. Membentuk tim khusus yang menangani inventarisasi, pemeriksaan dan
pelaporan sehingga pergerakan setiap komponen dapat terlaporkan
secara lengkap dan akurat.

Permasalahan ESP . Page 16


BABV
PERHITUNCAN ELECTRIC
SUBMERSIBLE PUMP (ESP)

I. DASAR-DASAR PERIIlTUNGAN POMPA


A.1. TDH-Total Dynamic Head
TDH adalah suatu istilah umum dalam dunia pompa yang menyatakan total
pressure yang bisa diberikan oleh tekanan keluar pompa, dinyatakan dalam head
(ketinggian kolom cairan). TDH juga dapat dinyatakan sebagai pressure
differential sepanjang pompa (inlet outlet), atau sebagai kerja yang dilakukan oleh
..
pompa pada cairan untuk menaikkarmya dari satu level enersi ke level yang lebih
tinggi.

A.2. Faktor-Faktor yang Berpengaruh pada TDH


Enersi di segala titik adalah jurnlah pressure head, elevation head dan velocity
head (atau tekanan, ketinggian dan kecepatan).
Pressure head adalah head yang berhubungan dengan tekanan di suatu titik
tertentu
Elevation head adalah ketinggian di atas suatu datum (dasar) yang ditentukan
Velocity head adalah head ekivalent pada mana cairan akan jatuh pada
kecepatan yang sarha. Velocity head= v 2/2g
Gambar 18 memperlihatkan suatu bagan dari komponen TDH ini.
Dengan mengabaikan selisih elevasi inlet dan outlet pompa maka energi pada
kedua titik ini dapat dinyatakan sebagai berikut:
Vs2 Vd2
Es.=Pps+ - dan Ed=Ppd+ -
2g 2g
Dimana:
Es = enersi pada lubang masuk (suction/inlet) pompa
Pps = tekanan pada lubang masuk (inlet)

Perhiiungan Electrical Submergible Pump Pagel


2
Vs /2g = kecepatan (dinyatakan dalam head) pada lubang masuk (inlet)
Ed = enersi pada lubang keluar (outlet, pump discharge)
Ppd = tekanan pada lubang keJuar (outlet)
2
Vd /2g kecepatan (dinyatakan dalam head) pada lubang keluar (outlet)

PROOUCING

r-::~ro.R:.:no:i:s !. t
I T
Gambar 1.
Faktor-factor pada TDH.

!!!la!
Perhitungan Electrical Submergible Pump
P'age2
TDH adalah selisih enersi antara kedua titik keluar dan masuk,
Jadi, TDH Ed - Es
,. '"''' !" · Vs2 Vd2
Atau TDH=Pps+ - -Ppd+ - (1)
2g 2g

Vs2
Hf dan Pps = l.s- - - He
2g

Dimana:
Z = D = kedalaman pompa (pump suction depth)
Pt tekanan tubing di permukaan (THP)
Hf = kehilangan tekanan karena friksi

Zs = kedalaman tenggelamnya pompa


He = kehilangan head di lubang masuk
Disubstitusikan, maka:

TDH = (Z+
pt x 2 .31
SG
) vd
+Hf + g -
2
(
Zs -
vgs 2
J vsg
- He -
2
(2)
2 2 2
2
pt x 2.31 Hf V d
(z - Zs) + + +--+ H e (3)
SG 2g

pt x 2.31 Hf Vd2 H (4)


= Zfl + + +-+ e
SG 2g
Dimana:
Zfl = kedalaman aras cairan (working fluid level)

Kedua term terakhir pada persamaan ini dapat diabaikan karena. kebanyakan ESP
mempunyai kecepatan fluida di bawah 10 ft/det dan cukup ruang untuk fluida
masuk.
Jadi:
2 31
TDH Zfl +pt x ' +Hf (5)
SG
TDH dapat pula diperkirakan dari korelasi grafik multifasa dimana kalau didapat
suatu pressure loss L\p maka Head .6.p x 2.31/SG. Gambar 19 memperlihatkan
tekapan vs kedalaman untuk kerja pompa.

Perhitungan Electrical Submergible Pump Page3


Pt ·Tekanan ->
Dimana:
80 = Aras Cairan Statik
u -= keoalaman pompa ·
H = kedalaman fonnasi
Gr= gradient flowing fluida
Pps =p.._f • (H-D)xGr
Zn = aras cairan kerja
Grafik Multi Fasa Kalau GLR <, Gr=Os

Sn '
Zo ' ',
'
\, ' ' , Head Pompa
D 'p <.....':>..,.... ________________)\ Ppd
P.t <

Gambar2.
Grafik Tekanan vs Kedalaman pada Pompa

Perhitun9an Electrical Submer9ible Pump · Pa9e4


B. Daya Kuda (Horse-Power,
'
HP) dan Effisiensi .
..
Dengan mengetahui TDH dan laju produksi, hydraulic horsepower dapat
dituliskan sbb:
QxTDHxSG
HHP (6)
c
Dimana:
HHP = Hydraulic Horse Power yang diberikan oleh pompa, hp
TDH =Total Dynamic Head, ft atau meter
C = 135770 kalau BID dan ft
= 6580 kalau m3/hari dan meter
Untuk menyatakan input brake horsepower dari permukaan ke pompanya, kita
harus mengoreksi dengan effisiensi pompa, motor dan kehllangan di kabel
(Eff.kabel).
Jadi:
BHP HHP/Eff
HHp
BHP=------------ (7)
Eff.pompa x Eff.motor x Eff.kabel
Umumnya:
Effisiensi pompa 55-75%
Effisiensi motor =85%
Effisiensi kabel = 90 95%
Pada pompa, effisiensi tersebut menggambarkan terjadinya kehilangan friksi
fluida pada impeller/diffuser, pada lubang masuk, pusaran (eddy current),
belokan, separasi dan kombinasinya. Se lain itu pada sela-sela (clearance)
impeller/diffuser/asnya serta kehilangan mekanis di bearingnya (thrust bearing).

Perhitun9an Electrical Submergible Pump Pages


II. KARAKTERISTIK KERJA POMPA
A. Dasaf Kerja
··· ·,.1.n111<l•!•!!IH~1!~ " :

ESP mempunyai sifat seperti pompa centrifugal yang lain, tetapi bertingkat.
Setiap tingkat atau stage terdiri dari impeller dan diffuser. Dalam operasinya,
fluida diarahkan ke dasar impelJer dengan arah tegak. Gerak putar diberikan
pada cairan oleh· sudu-sudu impeller. Gaya centrifugal fluida menyebabkan
aliran radial dan cairan meninggalkan impeller dengan kecepatan tinggi dan
diarahkan kembali ke impeller berikutnya oleh diffuser. Fluid.a produksi akan
lewat pada impeller-impeller yang disusun berurutan dan setiap stage akan
mengembangkan tekanan (head). Head total yang terjadi adalah jumlah
masing-masing head yang terbentuk di setiap impeller.

B. Kinerja Pompa
Kelakuan kerja atau sifat karakteristik kerja pompa ditentukan berdasarkan
test di pabrik dengan air tawar. Penyajiannya secara grafis dari hasil test ini
disebut gra:fik kinerja atau performance atau characteristic \::Urves. Pad.a grafik
ini akan digambarkan head yang dihasilkan, brake hp dan effisiensi pompa
terhadap laju produksi (Gambar 3).

1. Head Capacity Curve


Gra:fik head ini menunjukkan hubungan antara TDH dengan laju produksi
pad.a kecepatan (rpm) konstant. Dengan naiknya TDH maka laju produksi
•. ~ .
akan turun dan sebaliknya. Gambar 3 menunjukkan grafik untuk I stage.
Untuk I 00 stages hampir sama bentuknya. Pompa yang baru atau masih
baik akan berkarakteristik kerja sepanjang grafik :ini. Yang menyimpang
'.
dapat dikaren~an oleh rusaknya pompa, inteferensi gas atau tuhingnya
bocor. Gra:fik head suatu ESP akan melalui laju nol seperti pada Gambar
20, dimana titik nolnya shuft-off head atau head bilam~wa ESP bekerja dan
flow line valve (katup produksi) ditutup. Dalam mencari shut-off head ini
maka impeller akan berputar di cairan di situ saja dan daya yang perlu
untuk melawan friksi di cairan dan bearing akan berubah menj adi panas

Perhitungan Electrical Submergible Pump Page6


(karena itu menutup tak boleh Iebih dari 1 menit). Besar shut-off head
tergantung dari diameter impeller dan rpm-nya. Untuk: multi stage maka
,,Li"1'!1'''li11•··i'

rumusnya adalah:

H=s(DN)2 (8)
1840
Dimana:
H =shut-off head cairan yang dipompakan
D = diameter impeller, in
N =rpm
S = jumlah stage (tingkat)

Shut-off head yang sebenamya tergantung dari aliran fluida dalam pompa
dan kemungkinan bocor, Perbedaan antara rumus ini dengan yang
sebenarriya bisa 20%. Bentuk grafik head tergantung dan lebar impeller,
bentuknya, jumlah sudu-sudu impeller dan friksi dalam pompanya. Head
capacity suatu pompa digunakan untuk menghitung jumlah stage
pompanya dengan rationya terhadap TDH. Pompa dengan head yang lebih
curam lebih disukai karena bisa lebih toleran terhadap kesalahan data-data
sumur (API, GOR, SG dll)

2. Horsepower Curves
Grafik brake hp pada Gambar 3 rnenunjukkan BHP input yang diperlukan
per stage pada test pabrik. Grafik ini rnula-rnula naik sedikit dengan
naiknya laju produksi kernudian tunm. Hal ini dikarenakan oleh efek laju
produksi lebih besar dari turunnya head dan pada rate besar turunnya head
yang lebih berpengaruh karena bentuknya lebih curam. Test pada pabrik
dilakukan dengan air tawar yang viskositasnya 1 cp (32 SSU) dan SG = 1.

Perhitungan Electrical Submergible Pump Page7


--
_.._

'
I
0
300 I
so
-
CAPAClTY
- i
too
IOO

'
1$0
I
200

Gambar3.
Typical Pump Performance Curve.

3. Grafik Effisiensi
Effisiensi pad.a ESP bukannya effisiensi volume pompanya melainkan
ratio dari output hp dibagi input Brake hp.
Dengan test data:
. . Output hp pompa Q x TDH x SG
. siens1 pompa =
Effi = (9)
· Input Brake hp 135770P,·

Dimana:
Q laju produksi, BID
TDH =Total Dynamic Head, ft
P1 input brake hp
SG = specific gravity cairan (SG air = 1)

Perhitungan Electrical Submergible Pump PageB


Effisiensi di atas sebenarnya adalah gabungan antara hidraulis, volumetris
dan mekanis. Terlihat pada Gambar 3, effisiensi naik dari 0 pada produksi
0 ke maksimum lahi furllii kembali pada laju maksimum.
Di sebelah kiri dari titik maksimum tadi, kehilangan karena kebocoran,
friksi pada bearing (laher) karena "downthmst''. (gerak impeller
menggesek ke bawah) dan friksi antara impeller dan fluida produksi
terjadi. Di sebelah kanan dari maksimum tersebut akan terjadi friksi dalam
cairan sendiri dan dinding impeller, tetapi juga "upthrust" (gerak
·mendorong impeller menggesek ke atas).
Untuk menerangk.an adanya upthrust dan downthrust lihat G~mbar 4. Pada
gambar tersebut impeller rnenekan ke atas (upthrust) pada laju produksi
tinggi (rpm tinggi) dan menekan ke bawah (downthrust) pada laju rendah
(rpm rendah). Pada daerah effisiensi tertinggi impeller seakan-akan
melayang bebas. Hal ini dapat dibayangkan seperti sebuah helicopter yang
dapat mel~yang tetap pada rpm tertentu, tetapi kalau akan bergerak_ naik
maka rpm dinaikkan, dan kalau mau turun rpm diturunkan, atau dia akan
turun kalau udara menipis dan naik kalau udara meg.ebal.
ESP didisain agar bekerja pada daerah dekat effisiensi maksimal Wltuk
mengurangi kerusakan bearing dan washer (tatakan) pompa akibat
upthrust dan downtluust tersebut. Dalam praktek upthrust lebih merusak
dari pada downthrust karena washer di bagian atas Ie.bih kecil luas bidang
kontaknya dari pada bagian bawahnya. Walaupun demikian tetap perlu
dipertahankan agar pompa bekerja pada maksimum effisiensi agar tahan
- -·
lama. Harga effisiensi maksimum ini biasanya sekitar 55 - 75%.

Perhitungan Electrical Submergible Pump Page9


OPERATING
DOWNTHRUST RANGE UPTHRUST
I (FREE FLOATING I
I IMPELLER) I
200 I I
I
I

I- 160
L&J
LIJ
u..
~ 12.0
0
<(
LaJ
:.x:
80

I.
·2 4 12 14 16

Gambar4.
Tiga Posisi Impeller pada Operasi ESP.

III. APLIKASI KHUSUS


Aplikasi pada ESP dapat meliputi banyak hal. Seperti telah diterangkan, ESP
dapat dipakai untuk laju produksi 300 sampai 90000 BID dan juga untuk
viscositas tinggi. Selain sumur minyak ESP digunakan pula pada sumur air atau
untuk injeksi pada proyek water flood. ESP mempunyai biaya operasi cukup
tinggi. Terutama ini dikarenakan oleh efisiensi yang rendah (55% - 60%) dan
teknologi yang agak. rumit, serta sulitnya daJam memasukkan alat ke lubang
sumur tanpa merusak. kabelnya. Hanya laju produksi besar saja yang 'akan
menutup biaya operasinya. Selain itu banyak alat ESP yang hanya tahan di lubang
1 - 3 bulan saja.

Perhitun9an Electrical Submergible Pump Page10


Beberapa aplikasi khusus yang lain:
Untuk sumur berpasir
ESP dapat dipakai sampai tingkat tertentu. Tetapi pompa lebih mudah rusak
walaupun demikian impeller/diffuser khusus dengan bahan Ni-Resist telah
dibuat untuk melawan pasir.
Untuk sumur korosive
Sumur yang mudah mengakibatkan karat pada pompa dilawan dengan
misalnya resistant-coating khusus, bronze & Ni-resist impeller, Ni-resist
diffuser, housing (tabung atau rnmah porn.pa) tanpa sambungan (las) dan as
pompa dari K-Monel. Juga kabel dengan ditutup Monel sebagai pengganti
besi telah digunakan. Untuk ini kabel Al mendapat tempat sebagai pengganti
Cu bila H2S terdapat di sumur. Untuk sur.aur sangat korosive maka rumah
untuk pompa, seal dan motor dibuat dari monel juga.
Bagi sumur dengan problem paraffin
ESP lebih baik dari pompa lain karena ESP menghasilkan pailas. Juga laju ke
produksi yang tinggi rnengurangi kernungkinan pengendapan paraffin dan
scale.
Temperatur tinggi
Temperatur sampai 't 60°F tergantung pabriknya biasanya bisa tahan oleh ESP.
Untuk temperatur tinggi sampai 280°F harus dikonsultasika:n dengan
pabriknya.
Sumur miring/tidak lurus/horisontal
Untuk swnur miring (directional well) dan tidak lurus (crooked well) ESP
harus dipasang dengan lebih hati-hati agar kabel tidak lecet. Centralizers pada
pompa/motor perlu digunakan. Maksimum pemasangan 45 50° kemiringan.
Untuk swnur horisontal harus dipasang pada sudut miring tersebut, bukan
horisontal.
Sumur dengan dua atau lebilt zone yang bisa dibuka-tutup dengan wireline
Dalam hal ini dianjurkan agar dipakai alat yang disebut Y-tool (Gb.S) dimana
porilpa digantungkan dengan tubing disampingnya. Aliran ke pompa di atas
dan di bawah bisa: ditutup dengan sliding sleeve, sehingga'dperasi zone mana

Perhttungan Electrical Submergible Pump Page 11


yang akan diproduksikan nanti tinggal dikerjakan melalui tubing dengan
wireline.

THUMSCO
•y• TOOL
PATENT PENDING

CABLE GUARDS 'o" ~&.AT


CONDUIT _ _ _ __..,.

CLAMPS: GO ICTWUN
"'°TtCTOR ANO ,,,._ AlcO
l(TW([N "ltOTtcTOlt AND
lllOTOlt

BANOS - Pact Al NUDlO.


Q5 10 IAND AROUND mMOUtT
If •HO<O.

Cl)ttOUIT.

POTHEAD CONNECTION

Gambar 5.
Operasi Pompa dengan Y-Tool

Perhit'..ingan Electricai Submergible Pump Page 12


Menentukan PI dengan ESP
ESP bisa dipergunakan untulc menentulcan PI dengan jalan menutup flow line.
··;I·•'
Langkah-langkahnya adalah:
1. Tutup sumur untuk mendapat static fluid level
2. Dengan tubing penuh, tutup klep
3 .. Start pompa (maximum 1 menit)
4. Catat tekanan permukaan. Ini menunjukkan tekanan dengan laju = 0
5. Buka valve
6. Ukur laju .produksi yang tetap (konstan)
7. Tutup klep
8. Baca tekanan pada saat klep ditutup. Ini adalah tekanan permukaan pada
laju produksi langkah 6

Pada gambar 6, H adalah kolom fluid statik. Pl adalah tekanan di gauge yang
berhubungan dengan kolom statik dengan FL 1. Demikian pula untuk Head H
konstan, dapat dibaca P2 yang berhubungan dengan laju produksi q dan FL2,
permukaan fluida pada saat pompa bekerja
Maka H = FLl + Pl/K
·H = FL2 + P2/K

Jadi FL2-FL1 = Pl-P 2


K
Dimana: K = 0 .43 3 untulc air tawar
= 0.45 - 0.50 untulc air garam
= 0.36 untuk 40° API dan lain-lain
= 0.433 X SG
Juga Ps = (D- FLl) x 0.433 x SG
Pwf = (D-FL2) x 0.433 x SG
Dari sini dapat dihitung :
(ps - pwf)/(0.433 SG) ~ FL2 - FLl dan PI= q/(ps -pwf) atau PI= q/(Pl - P2)
Menutup sumur tak boleh lebih dari 1 menit karena pompa akan panas, demikian
pula motomya.

Perhitungan Electrical Submergible Pump Page 13


'I·:• .,,
.'

ft1•f\t I


("'•
.,
I ..• \

~ "
.

Cl
SUtFA(t - ·
" 1 '•

100 lo-

200
"·f
~,
lOO ~
"•

..E.
!
...>...
*
500
r--

~.

...._
".. ,,,
f
~

~~
.....
0
.00
~-
...5
... 100 ~ ~Qi.
- . -~
100

tOO :il . '~


101000 -
I I I I I I I I 1 I
~
I
0 100 JOO ~ •00 rco
•teouetHG IA.ft
MO
'" too too 1000

Gambar6.
Menentukan PI Sumur dengan ESP

Perhitungan Electrica.l Submergible Pump Page 14


IV. Perkiraan Pump Setting Depth.
Perkiraan pump setting depth merupakan suatu batasan umum untuk
menentukan letak kedalaman pompa dalam suatli slirtlur ·adalah:' bahwa pompa
harus ditenggebµnkan didalam fluida sumur. Sebelum perhitungan perkiraan
setting depth dilakukan, terlebih dahulu diketahui parameter yang
menentukannya, yaitu Static Fluid Level (SFL) dan Working Fluid Level (WFL)
dimana untuk menentukannya digunakan alat sonolog atau dengan operasi
wireline, bila sumur tersebut tidak menggunakan packer.
Beberapa parameter yang mempengarubi Pump Setting Depth yaitu ;
Static Fluid Level dan Dinamic Fluid Level

1. Static Fluid Level


"
Static fluid level pada sumur daiam keadaan mati (tidak .<liproduksikan),
sehingga tidak ada aliran, maka tekanan di depan perforasi sama dengan tekanan
statik sumur. Sehingga kedala."llan permukaan fluida di annulus (SFL, ft) adalah:

SF'L -- Dmia pelf ,- ( G


psf + G
pcf J)' fieet. .....................................................
'" .(10)

2.Working Fluid Level/Operating Fluid Level (WFL,ft)


Bila sumur diproduksikan dengan rate produksi sebesar q (bbl/D, dan
tekanru1 alir dasar sumur adalah Pwr (Psi), maka ketinggian (kedalaman bila diukur
dari permukaan) tluida di annulus adalah :

WFL =D .,._if (~~ + :~ } feet ............................................. (11)

3.Suction Head (Tinggi Hisap)


Suction head adalah silinder atau torak yang semula berada dipennukaan
cairan (dalam bak) air akan naik mengikuti torak sampai pada mencapai
ketinggian H5 , dimana :

Perhitungan Electrical Submergible Pump Page15


144xP
= .................................................................................(12)
p

4. Kavitasi dan Net ~ositive Suction Head (NPIIS)


Tekanan absolut pada cairan pada suatu titik di dalam pompa berada di
bawah tekanan saturasi (Pb) pada temperatur cairan, maka gas semula terlarut
dalam cairan terbeba.Skan. Gelembung-gelembung gas ini akan mengalir bersama-
sama dengan cairan sampai pada daerah yang memiliki tekanan tinggi a:kan
dicapai dimana gelembung tadi akan mengecil. Fenomena ini disebut sebagai
kavitasi yang dapat menurunkan efisiensi dan merusak pompa.
,,
Kejadian ini berhubungan dengan kondisi penghisapan dan apabila kondisi
penghisapan berada di atas Pb, maka kavitasi tidak terjadi. Kondisi minimum yang
dikehendaki untuk mencegah kavitasi pada suatu pompa disebut Net Positive
Suction Head (NPJ:IS). NPHS adalah tekanan absolut di atas tekanan saturasi yang
diperlukan untuk menggerakkan fluida masuk kedalam fluida.

5. Pump Setting Depth Minimum


Pump· setting depth minimum merupakan keadaan yang diperlihatkan
dalam Gambar 7 (Posisi B), dalam waktu yang singkat akan terjadi pump-off, oleh
karena ketinggian fluida level diatas pompa relatif sangat kecil atau pendek
sehingga hanya gas yang akan dipompakan. Pada kondisi ini Pump Intake
Pressure (PIP) akan menjadi kecil. PIP mencapai dibawah harga Pb, maka akan
terjadi penurunan efisiensi volumetris dari pompa (disebabkan terbebasnya gas
dari larutan). PSD minimum dapat ditulis dengan persamaan :

PSDmin = WFL +Pb + ~ ,feet ........................................................ (13)


G1 G1

Perhitungan Electrical Submergible Pump Paye 16


6. Pump Setting Depth Maksimum
Merupakan keadaan yang ditunjukkan oleh Gambar 7 (Posisi C), juga
kedudukan yarig ·kurang inenguntungkan. Keadaan ini memungkinkan terjadinya
overload., yaitu pengangkatan beban kolom fluida yang terlalu berat. PSD
maksimum dapat didefinisikan :

PSD_ D-{ ~ - ~~}feet . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . :. . . . . .


= (14)

7. Pump Setting Depth Optimum.


Merupakan kedudukan yang diharapkan dalam perencanaan electric
submergible pump seperti dalam Gambar 7 (Posisi D) menentukan kedalaman
yang optimum tadi (agar tidak terjadi pump-off dan overload serta sesuai dengan
kondisi rate yang dikehendaki), maka kapasitas pompa yang digunakan harus
disesuaikan dengan produk:tivitas sumur. Penentuan PSD optimum ini dipengaruhi
oleh terbuka dan tertutupnya casing head yang mana akan mernpengaruhi tekanan
casing atau tekanan ya11g bekerj a pada permukaan dari fluida di annulus. Kejadian
ini rnernpengaruhi besamya suction head pompa
Untuk casing head tertutup, maka:

Kedalarnan pompa optimum WFL+ PIP-~ ................................(15)


G1
Untuk casing head terbuka, maka :

.
K eda1aman .
pompa optimum= PIP
W FL + -----"---'- .............................(! 6)
GI

Perhitungan Electrical Submergib!e Pump Page17


-r
DYlllMC

POMPA
"'[
f1UOlM~
.............
POSIS! I
........_....

MIN!~!Uli!
a. '
!,,

jl!
-
~.

l 1" 1 '"'4
POSISU
OPTIMiN
••# ,1 ...'
J•.~·;':.r
'

.··(·.'}:
'1 .. ,it·.
' ,~.I •1~'··
I.,
.-·
POSIS! 2 I•'
. '..'
.

l.IJXSIMW
. "';
,, ..
- : :
l f"
, •
...
LJ LJ L c
LJ .

L
Ii
POMPA MAT! KONOISI OPERAS! D. I
Gambar7.
Berbagai Posisi Pompa Pada Kedalaman Sumur4 )

Perhftungan Electrical Submergible Pump P'age 18


V. DISAIN POMPA
".
Disain ESP tidak sesulit disain pornpa yang lain, karena · rnasing-masing
komponen mempunyai banyak ukuran dan penentuan dari satu kornponen
dilanjutkan dengan penentuan kornponen berikutnya dst.
Disain ESP akan rumit bilarnana laju produksi q belurn ditentukan dan rnasih
menjadi fungsi dari index produktivitas (PI) sumur dan TDH, atau bila
viskositasnya tinggi dan bila GORnya tinggi, penggunaan VFD dan lain-lain.
Contoh-contoh soal akan diberikan wituk setiap hal tersebut.

Dalam diskusi disini akan dibicarakan:


l . Disain normal
2. Disain dengan memilih pompa yang ada di gudang
3. Disain wituk minyak atau emulsi berviskositas tinggi
4. Disain untuk pompa tapered (disusun dengan ukuran berlainan) karena GOR
sangat mempengaruhi pemompaan
5. Variable Frequency Drive
Note : ESP yang terlalu besar perbedaannya dengan laju pompa seharusnya atau
yang intermittent operasinya perlu menggunakan VFD (Variable Frequency
Drive). Bila diberikan back pressure di permukaan maka akan bias merusak
pompa selain tidak effisien. Intermittent menyebabkan kondisi pompa sering
mengalami downthrust.

Data-data di bawah ini harus diketahui wituk mendapatkan disain yang baik.
a. Ukuran casing dan· beratnya
b. Ukuran tubing
c. Kedalaman pompa
d. Aras cairan kerja [working fluid level= Pwf- 0,433 SG x (HD)]
e. Laju yang diinginkan, BID atau m3/hari
f. SG fluida
. g. THP (tekanan kepala sumur)
h. BHT (temperatur dasar sumur)

Perhitungan Electrical Submergible Pump Page 19


Data-data lain misalnya PI, tekanan statik Ps, viskositas % air, GOR, tekanan
didih minyak (BPP), perforasi, problem pasir, paraffin, scale dan Iain-lain.
Contoh 1 memberikan disain ESP yang paling besar.

Contoh 1.
Pada suatu sumur akan dipasang suatu ESP.
Di gudang hanya tersedia pompa Reda G-180, G-110, E-35 (listrik 60 Hz).
Casing = 9-7/8'', 62.8 lb/ft (l.D. 8.625'') sedalam 5700'.
Tubing = 2-7/8' 0.D.
Perforasi 5470'-5500'.
Pompa akan dipasang sedalam 5200'.
P.l. = 2.5,
GOR diabaikan.
Ps (= Pstatik) = 800 psig@ 5485'.
WC =50%.
THP 100 psig.
BHT 167°F.
SGoil = 0.87,
SGwater = 1.03.
Laju minyak = 625 BOPD.
Coba disain pompanya.

Jawab:
Qtotal 625/0.50 = 1250 BID.
Dari sini yang paling cocok adalah pompa E-35 (Gb. 18).
Head disana terbaca 2810 ft/100 stages.
SG rata-rata = 0.87 x 0.5 + 1.03 x 0.5 0.95
Pwf Ps-q/PI
= 800 - 1250/2.5 300 psi
Zfl = kedalaman fluid level = H - (Pwf/(0.433xSG)]
5485 - [300/(0.433x0.95)] = 4756'

Perhitungon Electrical Submergible Pump Page20


Dari pers. 5, TDH 4756 + 100 x 2.3110.95 + (13 ft/1000') x 5200'
=5067'
Note: 13 ft/1000' dapat dibaca dari Gb. 18.
Jumlah sudu-sudu = (5067/2810) x 100 180

Dari pers. 6, HP motor= (1250x5067x0.95)/(135770x0.54) = 82 hp.


Note: Eff. 54% berasal dari Gb. 18 di grafik k.inerja pompa E-35 tsb.
Kalau langsung dibaca pada Gb. 18 tsb harga hp = 47.5 hp/_1,00 stage atau
(180/100)x47.5 85.5 hp.
Ini sedikit lebih besar dari rumus pers. 6 tsb, karena SG di grafik menganggap
fluid~ya air dengan SG = 1.

Dari tabel 5 besar motor dicari, misaJnya ambil series 4 56,90 hp, 71 ov. 81 A.
Check pendingin~ pompa :

Kecep. Aliran 0.0119 x Q >I ft/det


(IDcsgf-(ODmotorf -

Untuk soal kita, (0,01l9xl250)/(8.625 2 -4.562 ) 0.27 ft/det


Atau kurang dari 1 ft/det.
Jadi perlu diberi shroud atau jacket agar annulus jacket tersebut dengan pompa
bisa rilenghasilkan kecepatan > 1 ft/det.
1 > (0.0119x1250)/(x2-4.562),
maka didapat x < 5.97"
atau diameter dalam shroud harus < 5.97".

Kabel/Trafo:
Dipilih kabel dengan total loss < 30v/1000 ft. Dari gambar 5, #2 Cu atau #110
d.imana loss rata-rata 30v/1000 ft. Untuk 5200' kedalaman pompa maka harus
ditambahkan 100' untuk kabel di permukaan atau loss di 5300' kabel adalah 5.3 x
30v = 159v.
Trafo KVA3fasa 1.73 (710+159) x 81/1000 = 122 kVA.

Perhitungan Electrical Submergible Pump Page21


Dari Tabel 7 diambil 3 trafo masing-masing l fasa 5okva dengan primary volts
12500v dan secondary yang dari trafo 1200v (> 710+159 = 869v).

Switchboard:
Dari tabel 8 diambil switchboard Model l 00 MDFH yang mempunyai max.volts
1500, hp 150. Agar motor bisa distart maka motor membutuhk:an 35% voltage
rating tetapi dengan delivery 3X-nya.
Untuk soal kita lossnya 3X-nya = 3 x 159v = 477v.
35% voltage rating = 0.35 x 710 249v.
Sisa di motornya (710 + 159)-477 = 392" > 249v,jadi motor
bisa distart.

Contoh 2.
Dalam contoh ini akan dipilih 3 pompa yang sudah tersedia di gudang. Contoh ini
diambil di Langitan, Caltex. Misa!nya di gudang telah tersedia pompa dari Seri
540:
(1) G-110 19. _tingkat, Motor 30 hp
(2) G-110 86 tingkat, Motor 120 hp
(3) G-180 62 tingkat, Motor 120 hp
Bila akan dipakai satu dari pompa untuk sumur:
Casing : 7" - 23 lb, 2450'
Tubing : 3-112" OD, EUE (old)
Perforasi : 2250' -2300'
Produksi : test terakhir 2000 BOPD, 0% air, dengan pompa angguk
Tekanan statik : 500 psi @ 2200'
Gradient : 0.350 psi/ft
PI sumur : 32 B/D/psi
Temperatur dasar sumur: 200°F
THP : 20 psi @ 2000 B/D ·
GOR : 50 SCF/STB
Buble point pressure (BPP) : 200 psi

Perhitungan Electrical Submergible Pump Page22


Dengan produksi minyak 3000 BID dari grafik Gb.2 akan didapat frekuensi 43.3
dan BHP = 83. Effisiensi didapat dengan menggeser dari head lama (2800' pada
Gb.30) dan dibaca pada Gb.30 didapat 52%~ , ·

Perhitun9an Electrical Submer9ible Pump Pa9e23


BAB VI
PERENCANAANPENGANGKATANBUATAN
DENGAN SUBMERSIBLE PUMP (ES~)

1. TUJUAN
Memilih ESP (menentukan jenis dan ukuran pomp~ jumlah stages, jerus motor,
kabel, transfonneter dan switch board) sesuai merek kadang terpilih, data
produksi, konfgursi sumur, dan karakteristik fluida produksi.

2. METODE DAN PERSYARAT AN


METODE
Metode yang digunakan adalah metode analisis dengan bantuan gambar dan
tabel sesuai merek dagang terpilih.

PERSYARA TAN
Perencanaan hanya berlaku untuk lubang sumur tegak; untuk sumur miring
perlu dilakukan korelasi atas sudut kemiringannya dalam menghitung TDH.
(Total Dinamik Head)

3. LANGKAII KERJA
1) Isi data yang diperlukan (data sumur, reservoir, dan fluida) dalam "kolom-
kolom data" pada tabel 1.
2) Hitung berat jenis rata-rata dan gradien tekanan fluida produksi menurut :

(1)

Gradien Fluida (GF) = 0,433 x SG (2)


Bila mengandung gas, kurangi GF sekitar l 0%
3) Tentukan kedudukan pompa (HPIP) kurang lebih 100 ft di atas lubang
perforasi teratas. Jarak antara motor dan lubang perforasi teratas (HS)
kurang lebih 50 ft.

Perencanaan ESP Page I


4) Tentukan laju produksi diinginkan dengan cara memilih kemudian
mencoba harga Pwf untuk menghitung harga laju total menurut persamaan :
·... ,., . ,Q TOT
. " · -(P"-P
- s Wf
)xPI (3)

Hitung laju yang diinginkan (Qo) menurut persamaan:


1
(4)
. Qo = 1+ WOR x Qror
Apabila harga tersebut belum sesuai, ulangi memilih harga P wr dengan
penjajalan
5) Hitung pump intake pressure (PIP) menurut persamaan :
PIP= Pwr- GF x (HS - HPIP) (5)
Harga PIP haius lebih besar dari BPP (tekan jen'uh) bila tidak terpenuhi
ulangi langkah 4 dan 5 dengan laju produksi yang lebih rendah.
6) Hitung aras cairan kerja (Zfl) menurut persamaan:

Z =HS- Pwi (6)


t1 GF

7) Tentukan kehilangan tekanan sepanjang tubing (Hf) dengan menggunakan


gambar 14.
8) Hitung total dynamic heaci (TDH) menurut persamaan
THP
TDH=--+Zfl +Hf (7)
GF
9) Pilih jenis dan ukuran pompa dari katalog perusahaan pompa bersangkutan
dan gambar yang menunjukkan efisiensi maksimum untuk laju produksi
yang diperoleh di frmgkah 4, baca harga head capacity (EC) dan daya kuda
motor (HP motor) pada laju produksi tersebut.
l 0) Hitung jumlah stages (tingkat) :
. TDH
Jumlah stages= - - (8)
HC
11) Hitung daya kuda yang diperlukan
HP= HP motor x jumlah stages (9)
12) Tentukanjenis motor pada tabel 3 yang memenuhi HP tersebut.

Perencanaan ESP Pagel


13) Untuk masing-masing jenis motor, hi tung kecepatan aliran di anulus motor
(FV)

FV = 0,0119 x QTOT
2 2 (10)
{iD casing ) - (OD motor )

Jenis motor dan OD motor terkecil yang membecikari PV > I n ft/detik


adalah pasangan yang harus dipilih.
14)Baca harga arus listrik (A) dan tegangan listrik (Vmotor) yang dibutuhkan
untuk jenis motor yang bersangk:utan.
15) Dari harga arus listrik tersebut pilih jenis kabel pada Gambar 15
(dianjurkan memilih jenis kabel yang mempunyai kehllangan tegangan
dibawah atau sekitar 30 volt tiap 1000 ft).
AVkabel =(HS 50) x AV/1000 ft (11)

16) Mernilih transformator dan S'Ni.tch board :


a. Hitung tegangan yang diperlukan motor dan kabel
(V TOT) V motor + AV kabel (12)
b. Hitung KV A 1, 73 x VroT x All 000 (13)
c. Dari Tabel 4 tentukan transformator yang m emenuhi hasil hitungan
15.b
Karena aliran 3 fasa maka transfonnator yang dipilih adalah sepertiga
dari hasil hitugan 16.b
d. Dari Tabel 5 tentukan switch-board yang memenuhi.
17) Lakukan perhitungan total tegangan pada waktu start sebagai berikut :
a. Kebutuhan tegangan untuk start 20,35 x volt~ge rating ..
b. Kehilangan tegangan selama start== 3 x kehilangan tegangan biasa.
18) Bandingkan apakah total tegangan pad a waktu start tidak melebihi
tegangan yaiig dikeluarkan oleh switch board. Apabila tidak melebjhi,
berarti perencanaan telah betul ; apabila melebihi ulangi langkah 16. '

Perencanaan ESP Page3


Catatan:
1. ESP dapat dipakai untuk laju 300 sampai 60000 BPD.
2. Dapat dipakai untulc fluida viskositas tinggi.
3. Dapat dipakai untuk sumur-sumur air atau sumur injeksi air pada proyek
water flood. Untuk sumur injeksi arah impeller harus dibalikkan.
4. u:r{tulc sumur kepasiran, ESP dapat dipakai sampai derajat kepasiran
tertentu, yaitu dengan menggunakan impeller atau diffu~6r khusus yang
terbuat d.ari Ni-Resist.
5. untuk sumur korosif perlu dipasang "ressistant coning Ha~sing" khusus;
su:mbu as pompa dari bahan K-monel. Apabila terdapat H2S gunakan kabel
Al atau kabel biasa dengan ditutup monel.
6. ESP menghasilkan panas sehingga dapat menurunkan viskositas fluida
produksi ; hal mana akan membantu sumur dengan maslah para.fin.
7. untuk sumur bersuhu tinggi (lebih 250°F) perlu dipasang Epoxy untuk
melindungi kabel, 0-ring, dan seal (gasket).
8. ·untuk sumur miring atau tidak lurus (crooked well) perlu dipasang
centralizer agar kabel tidak terkelupas.

4. DAFTARPUSTAKA
1. ARCO, Pump Course, Super School, Dalla5, Jan, 1982,
2. Beavers, J., "Application of Electric Submersible Pumps m Hostile
Environments", Pet. Eng. International, March 15, 1983.
3. Brown, K.E., Ed., "The Technology of Artificial Lift methods". Vol 2b,
The Petroleum Publishing, Co., Okla 1980.
4. Centrilift, Submersible Pump Handbook, 3rd Ed, 1981
5. Devine, D,L., "Variable Speed Submersible Pumps Find Winder
Application", OGJ, June 11, 1979.
6. langitan, F.B., "High Volume Submersible Electric Pumps Desing
Consideration And operation", PT Caltex, June 1974.
7. Legg, L.V., "Sumbmersible Pump", part 1,2,3,4, OGJ, July 9, July 23,
Aug. 27, 1979.

Perencanaan ESP Page4


8. Reda Submel.'sible Pump Catalog, Bartleville, 1982.
9. .Sam Meek, Personal Communication, Centrilift, PT Inti Jatampura,
'<1;··Ht:!1il;,; .,, I .

Jakarta.
10. Winkler, H.M., "Design of Artifical Lift Svstems Course for ARCO",
Jakarta, Indonesia, 1980.

5. DAFTAR SIMBOL
A = harga arus listrik ampere
BHT = temperatur dasar sumur, °F
BPP tekanan jenuh, psi
FV = kecepatan aliran dasar snulus motor, ft/detik
GF = gradien tekanan fluida dengan adnya gas psi/ft
GOR = perbandingan gas minyak, SCF/STB
GS = gradien statik fluida, psi/ft
HC =head capaGity, ft/tingkat
HF = kehilangan tekanan karena gesekan dinyatakan sebagai ketinggian, ft
HP motor= daya kuda motor, dk
.
HPIP = kedalaman. ietak lubang masuk pompa dari permukaan, ft
HS kedalaman lubang perforasi teratas, ft
ID = diameter dalam pompa, in

KA = kadar air~%
KV A = kilo volt ampere, daya 3 fase
OD =diameter - luar, in
Pl = indeks produktivitas, bid/psi
PIP tekanan isap pompa, psi
PS tekanan - statik, psi
PVT = analisa tekanan volume dan suhu cairan
Pvr = tekanan alir dasar sumur, psi
Rs = kelarutan gas diam minyak, SCF/bbl
Q0 == laju produksi minyak, STB/hari

01-oT =total produksi cairan, STB/hari

Perenc:anaan ESP Page5


TDH total dynamic head, ft
THP = tekanan kepala sumur, ft
,1,l;i
V motor = tegangan listrik di motor, volt
V Kabel kehilangan tega:ngan listrik di kabel, volt/I 000 ft
WOR =perbandingan laju produksi air terhadap minyak
Zn = aras cairan kerja, ft

6. LAMPIRAN
6.1. LATAR BELAK.ANG
Pertama kali ESP (gambar 1 dan 2) dilakukan di Indonesia oleh Caltex sekita:r
tahun 1960 ; kemudian sejak tahun 1969, ESP banyak digunakan oleh
perusahaan-perusahan minyak asing rnaupun pertamina.
Dewasa ini ada 4 pabrik ESP yang benar yaitu : Reda, Centrilift, Baker, dan
ODI, EJP, Weatherford (Rusia), Wood Group (WG), Rodless (Cina), Tian Jin.
Alat ESP terdiri atas pompa sentrifugal bertingkat banyak (Gambar 1 dan 2)
berputar 3475-3500 rpm, 60 HZ (atau 2900-2915,50 HZ) dengan motor listrik
. (,,
induksi sinkron kutub, 3 fasa, berbentuk sangkar. Antara menyamakan
tekanan di dalam motor dengan sekelilingnya. Motor disini dengan minyak
mineral agar . tidak mengalirkan listrik dan memberi efek, lubrikasi serta
pendinginan. Pendinginan terutama didapat dari aliran cairan produksi. Selain
protector di atas kadang-kadang dapat dipakai gas separator untuk sumur yang
mengahasilkan banyak gas.
ESP biasanya dipakai untuk laju produksi 200-2500 STB/hari, walaupun dapat
digunakan untuk produksi sampai 95.000 STB1hari. Umumnya dipakai di
sumur miring di daerah kpas pantai, di daratan hanya dipakai untuk laju
produksi tinggi yaitu di atas 2000 STB/hari. Karena pompa angguk akan lebih
ekonomis untuk sumur dengan laju produksi rendah.
Laju produksi sangat menentukan jenis ESP yang dipilih, karena ESP sangat
sensitif terhadap laju aliran. Hanya kisaran laju produksi tertentu yang dapat
diatasi oleh suatu jenis ESP. laju produksi terlalu besar dari kemampuan ESP
akan menyebabkan upshurust kerusakan terjadi pada bantalan (washer) atas.

Perencanaan ESP Page6


Sedangkan laju terlalu kecil dari kapasitas ESP akan menyebabkan down thust
yang ak.an merusak. bantalan bawah. Perhatikan gambar 3

6.2. CONTOH SOAL


Data:
Selubung : 7 inci, 26#, 6000 T.D. (ID ; 6,276 inci)
. Tubing . : 3,5 inci OD
Listrik : 60 cycle
Perforasi : 5800 - 5850 feet
PI : 5 STB/hari/psi
Ps : 1800 psi @ 5800 feet
WOR : 50%
THP : 100 psi
BHT : 160 Op
GOR : 100 SCF/STB
SGminyak : 0,86
SGair : 1,02
BPP : 600 psi
Penyelesaiaan
1. Isi Kolom Data

2. SGrata-rata
Ix SGminyak +0,5 x SGair = 1,0 x 0,86+ 0,5x1,02 =0913
1,5 1,5 '
Gradien fluida (GF) = 0,433 x SGrata-rata = 0,433 x 0,913 = 0,395 psi/ft
Kerena terdapat gas maka GF diturunkan sekitar 10% sehingga harga
GF menjadi = 0,35 psi/ft (kalau tidak ada gas, gunakan gra<lien statik
0,395 psi di atas)
3. Tentukan kedalaman pompa, misalnya 5700 feet, yang berarti jarak.
motor dengan perforasi 50 ft atau jarak perforasi dengan pompa : 100 ft
4. ambil Pwf = 700 psi, dengari mempertimbangkan BPP = 600 psi dan
besar Q 0 yang diinginkan.
QrnT = (Ps-Pwf) x PI= (1800 - 700) 5 = 5500 STB/hari

Perencanaan ESP Page7


1 1
Qo = xQTOT = x5500=3670STB/hari
1+ WOR 1+0,5
Atau kembali Pwr, bila Q0 yang dihasilkan kurang sesuai dengan yang
diharapkan.
5. Hitung pump intake pressure (PIP)
PIP Pwr- GF x (HS - HPIP)
= 700 0,35 x (5800 - 5700) 665 psi
Temyata 665 psi lebih besar dari BPP (600 psi), berbagai syarat
· terpenuhi.
6. Hitung aras kerja cairan (Zn)

Zn= HS- Pwr


GF
100
= 5800- = 3800ft
0?35
7. Tentukan hilang tekanan sepanjang tubing. Dengan menggunakan
Gambar 14, pada QTOT BPD dan ukuran tubing = 3,5 inci dengan
kondisi tubing "bekas", diperoleh hilang tekanan 85 :ft/l 000 ft,
sehingga:
85 .,
Hr = 85 feet/l 000 ft x panjang tubing= --x5700 = 485,5 ft
1000
8. Hitung total'Dynamic head (TDH)
THP
TDH =--+Z 11 +Hr
GF
100
- + 3800 + 485,5 4572 ft
0,35
9: Pilihan jenis dan ukuran porn pa dengan menggunakan gambar 4 s.d 13
(hanya sebagai dari gambar yang tersedia dari kataldg pabrik). Ambit
gambar yang dapat memberikan efisiensi maksimum untuk laju
produksi yang ditentukan pada langkah 4. dalam soal ini untuk QmT =
. ......
5500 BPD, maka gambar ·yang memberikan efisiensi maksimum

Perencanaan ESP Page8


adalah grun~~ 4. (tabel 2 dapat digunakan untuk memilih jenis
pompanya).
Tentukan dari Gambar 4 tersebut:
a. Head capacity (HC) = 2980 ft untuk tiap 100 stages
b. Horse power meter, HP motor = 184 Hpuntuk tiap 100 stages.
10. Hitung jumlaJ1 stages pompa.
TDH 4572
Jumlah stages = - - = = 154 stages
HC 2980/100
11. Hitung horse-power motor yang diperlukan :
HHP =HP motor x stages = (184/100) x 154 = 284 HP
12. Pilihjenis motor dari Tabel 3, misalnya type 540 series (5,43 inci OD),
maka didapat jenis motor 300 HP 2150 volts, 87A.
13. Hitung kecepatan alir di anulus motor (FV)

FV = 0,0119 x QTOT = 0,0119 x 5500 = 6 _6 ft/detik


2 2
(IDcasing) ·-(QDmotor) (6,270) 2 -(5,43) 2

Temyata· niemenuhi FV > 1 feet/detik


14. Memilih kabel:
Pilih jenis kabel dari gambar 15 sedemikian sehingga pada arus yang
dipakai (87 A) memberikan kehilangan tegangan sekitar 30 volt per
1000 ft (umumnya setengah dari maksimum). Dalam hal ini didapat
jenis kabel # 110 AL dengan kehilangan tegangan 27 volt per 1000 ft.
kehilangan tegangan di kabel = 5750 x 27/1000 = 155 volt.
15. Piiih tranformator dan switch board
a. Total tegangan yang diperlukan = 2150 + 155 = 2305 volt.
b. KV A= 1,73 x tcgangan total x A = 1, 73 x 2305 x 87 = 347
1000 1000.
c. Tentukan ukuran transformator, Dengan menggunakan Tabd 4
didapat 3 x 150 KVA, yaitu dipilih ukuran yang lebih besar dari
total KVA diperlukan (347 KVA).
d. Tenttikan switch board. Dengan menggunakan Tabel 5 dipilih
RPR-R, yaitu 2400 volt. 700 HP, 360 A. Switch board yang dipilih

Perencanaan ESP fage9


harus mempunyai kepasitas lebih besar dari kebutuhan (2305 volt,
284 HP, 87 A)
16. Lakukan perhitungan untuk membuktikan bahwa motor dapat
dihidupkan (distart) dengan transfonnator, kabel, switch board yang
. ··~

. dipilih
Kebutuhan tegangan untuk start 0,35 x voltage rating
0,35 x 2150
= 752,5 volt
Kehilangan tegangan selama start = 3 x 155 volt
= 468 volt
Temyata tegangan yang tersedia 2400 > (752 + 468)
Kesimpulan semua peralatan yang telah dipilih dapat berjalan.

Perencanaan }:,"'SP Page JO


SWITCHBOARD

ROUND CABLE
SPLICE
FLAT CABLE --::--11IU...- TUBING
EXTENSION BOLT-ON HEAD

CABLE 0UARO--w-"""'
liiiiiiilo.._- INTAKE
.. " PROTECTOR

MOTOR

GAMBAR 1 SUBMERSIBLE CENTR/.FUGAL PUMPBVG UlVIT

Perencanaan ESP Page 11


· THRUST
- - - ..-- WASHER
~ IMPELLER
wq.~

COMPLETE
STAGE

GAMBAR 2 POMPA ESP

Perencanaan ESP
Page 12
DOWNTHRUST OPERATING
RANGE UPTHRUST

I IFREE FLOATING - ,
I IMPELLER ) I
I. I
I
I

,_ llSO
w
"'
II.

~g 120

=
:c 90

40

g I IO 14

ALtRAN OALAM GPM

GAMBAR 3 KEMUNGKINAN POSISI IMPELLER

Perenc:anaan ESP Page 13


fvnee1eo

f §S I ,..0 i 0
0 ~ ~
.. ,, ......
& e
a. B] . "·•"""'·'·
:x: j ..J § i 0
9 0
.D

.... ,
~

....
.... ~,
1• I
. "'
. -1'
'J
" , ,, kl I
. "'
I"-
J •
"
II
~ " -
~ ...
II
j

I-
- ~

. -I~ r
-

-
~
"" -
!--
''
t
-
-
--

~
- - - ..
-
- ""

' I\
\ - --
..

u~ !,
iJ - t- I-

~\
~'
~
I
.~
( '
i:y ~
\\ '.'

"
!--

'5
[( -~ ~ ';!: ... ,... -r· --
- . \ ' - ,_
-t--
- • 1-~ . - .. - M
~
' "'- ..
-~
- t-
•. f-

. ,... - - .... . . - f' ~


- -.·-
-·- - . ,, ... , .. - . .... "
..... . -c-

.- . - .. .. .. - . - ~ ....
'l
!ti. §

+'


' 80

80
I') ..,§ i
N
§
N ~
-
II
~ 8n
""

JI~ ~
0
~ 2 § ..8 2
GAMBAR 4 REDA PUMP PERFORMANCE CURVE 100 STAGES Gl80-60 Hz-
540 SERIES - 3500 RPM

Perencanaan ESP
Page 14
!mt •.
~ i g ¥
T,.,._ 81t0

ii] "3 2
§
!!

2
- ·- . . .. -
I
..

-
I
- -
- ... - ~ ~ . z .. -
·- -- -- -
"

- . ~. .. r. ~ . - - I
-
i"'
...

!i
I
--
-- • - ··I-
r. - .
-
--
. '* -

.. -...
-

~
-
-- . - .. -
-
.

,_ ...

!
t

'\.

...
T'l
l
f; -
I!
"

- -.
-- -... - ....
... .. --
.
- .. -. .-
...
- .. -. . .. --.. ..
- , -.
~

. - l!"p.;

Jc: §n § 0
8.., ~ ~
II ~ fi ~
0
,...
n § 0
»

GAMBAR 5 REDA PUMP PERFORMANCE CURVE 100 STAGES GU0-60 Hz-


540 SERIES - 3500 RPM

Perencanaan ESP
Page 15
T111t BHO
f§lb e s 0
IO ~ a 2 2
!EJ~ "'' " ···.1-111 .•. ,.

@ ~ 8
- - -.
..

.
- -
I
. ~
.
!
•I• t-- ~~ . ,_I• .. - ~ f...

- •l•f. - . - ~

- ,;
"'..-"' - - - I
I

- le
I . " w_
... - -
~

-- . - - .... I
"'
11
.... ""
... - -
-- - ..
- - -
- -
... - -
.- -- --- - -
-
- -
-
I
.'
"; . !
"',}'
.. l"I '
l
i .,. -
\J
~

~ - .. .
~

-
-
..
- ,.,_
-
·- -
- - - ..
....
-
. -t- -
I-
. . . 5'- •
- ..... - ...
.
-
~
~

Ju: § 0
8
8
~ ··~ .. 0
n 'It ti)

l:'JS m
J! ! •
II ~ ~ ~ ~
0 0
0
11
ID
11 ~
GAMBAR 6 REDA PtJ~IP PERFORi'1ANCE CURVE 100 STAGES E35-60 Hz-
450 SERIES- 3500 RPM

Perencanaan ESP
Page 16
i 8w
~lL- I.I. ft
.... g rJ
TJpt GN2000

' ......

~1~ ~ g

B
I
V>
:!
ii
2 ~
JC

~
8

- - \, I
-- - - g

-- J
_g I
:.1-i1--1--1--+-1--i--+- -- ·- ._,.._

- .,_
-· --
-· .......
- . •. -- I ~
"t- "'I-
L
'-
..,.
:g
I :
_,_ ._,_ -1-t-I ..._,_'
I r~ ~i:.

~ ~ ~
0
8
Ill ~ :0
~-· - -·---~=--------=-------------1 m
.. 0
p t: j 0
0 ...:
0 0 ,, .2 .,
0 0
0 "
:c !
'e ':0m :E
C> -
" \it) ll.
e
GAMBAR 7 REDA PUMP PERFORMANCE CURVE 100 ST AGES GN2000-50 Hz-
540 SERIES - 2917 RPM

Perencanaan ESP
Page 17
l-.!""""l'-t--t-1~1-t---t-.... - - r- - - .... - · ,_ - -·i-41-1--t--t
8 !--· . -----·-- - .. -· ·- - ·~ -1--1-~

-f,_-t~'-+-''!1-++-+~-t-t--t-; I
i:, l-+--+-f.-4-1-4--f-li-.+4~-+-+-++i--+.....
0 i ~
.If ,_ -= - - - ·- ~ . - --:- -- ·- -: -:: ~ ,_ -· . --
w ·--1--.- - ... --
r: ~·! .~._,. .-. :. . ::-,_·:-+-:---....=:·'""-:,=-:·-: g
f
~
~
.§ l-+-+-l-+--lf--.1,.: : - - - ,_ - - ::. .. - ~ - ..J ... - - - . - .. §§
~
• g'CI)_
i
t-t-t--+--1-11...1. ·l--1r-+-i--l-+-1-t-..-t--+-+-1-1
\~·~~-HH--+-!H-+-t
~\ t'lll--++-+-t-t-t--t--1
' ,.... ,_ - ,_ i - '\)).\. R
8 l-f--t--+-11-1'--+- - - - .. - \\ ~3
~ t-1--t--+-+-~. - - -- - t .f++-+-l-+-+-+-1
. §
·~
~
-
!,_ - ~-,_. ---- -.. --· -· ~ ,_ -~l
; --1- - -
- ..
,_ - - - - ·- - - - - ·-
-i •
_'"',___._,__-4-+-+-f.-4
R S
-g•~-4--1-_--i-__ - ·- I - -
-·-11--t·--t--t-•1- -
--f-it--1'-t--1--111.~ ...-f-+-f-+-1
·- _\ -•--+--t-r-1
ii
~ ~ - ~l--~-+--1- -
J..4-+-.....
1-+-+-t - ·- ·- - i- - - - ·- - _,_ '\: -.i--.--t--t

1-1--t--t §:. . . -+--I- •• - - . . - ·-f-l-f·-t--f--t--f--t--f-+-fr-t--l--to


·;; 1H--+--+--t-t-1-+-~--1 -· • - ,_ - -· ... - ,_ - 1 1 r ·-
,r.i.,-1"1-i-:l.§ g
f-+-+--1 0 I - - ·- ·1~--11-+-t\-. 1-- ,_
r-i-t-o..f g., . - - ---· .. --.- .l_ ~§
!lier - -- ·--,_ --- _,_ - .\ ... - '
::·.~- ·- -· ·- .. - - .. : - - -· - - - - - -- ! - -1--1-.f~~. 0 ~
ll~
~ll. 8
n
~
"
8
trJ
§
N
§_ '
::a
t---0--~-----------------------------------------------..j ~:
~j ~ ~ g ~~~
'-·~--~~~~~~----~--------------~----------_,di c0

GAMBAR 8 REDA PUMP PERFORMANCE CURVE 100 ST AGES GN2000-60 Hz...


400 SERIES - 3500 RPM

Pe,.encanaan ESP
Page/8
T1JHI ON IT!SO
..,...
I"" "'
" '
: I! ' Jl' ! • ~
·s ~

~ g ll

•-r- - - r- - - _,_,... --,, ., ·-,.... -·f-1-t-T-t


Ii
I i~-..-.,....,i'"T'"T'"'t

I
. , .' I!
I

I "'• I 8
8 t-f-t-"1-t-t-t-1-t'-t-+-t-t---t-f-14-i-"f',n-~i-v'-·.,...,,_,..._.... 2
··t-~-i-~ §
Gt-'._._+-t-t-++-H-t--HH-+.f-l-·1tj..,_.l-'t"-t-t-t-t--t-t-1·u..,...
5 h
~ ~
.....J'-+-+-t-f-+·H-+-1=·t-t'-1--t--·ft-Ht-t-+-t-t-t
r-t-l"-t-1-"t-t--t-t-t--t-t-11·

9t-t'-t-i--t--t-1t-t--t-t-t-H1't-t-f-t-++-ii-.--t-t-t-t-+it-t-t-+-+-t-t-t
§

0
6
..
51-1"-t-T-ir-t-+-t-t--+-+,~-t-+-t-t-t-t-+-l-++-ll-++•·-+-t-t--t-f-t--S
r-t'"'"f-"f'"""'lt-T-t-"t-1'-t--f"#'t-t-t--t-t-+-f-i-1- ,_ ,... - ...... - -1-t·-r--t-1'""1''""1
·I ft
0 (I) 1-t-t--i-t-t-t-·HH- T t-t-i--i--t-t--1- i - •· - 1- -1-~1-t--t-t
~ H-+-+-H-t--+--1-t-t-+-:tr'-H·++-H-i-I- -\·- -r-1-r-
.....,._,_-t-t-t--r--t-f-t-i-;~!-t-t-·1-ir-+-t-·t-f-+-H11-+-t-+-t~+-11-+-t-+-1~
-r-r--r---t-r-t ~ I'll
;!
~>.f-11-t--+-+-ii-T--'f'
$! 1-1--t-"1-t-t-t·--t-t--t-t- II I
V)t-lr-t'-t-t-t-t-.,...~-+-,~l-+-+-+""l""+-+-t-+-+-+-li--+-+-t-F-=t...+-11--+-t-+-1-t
.§ ,..·-...._,_-·-......·-...··-t---+---t-t----t,_~,+--11,.....-+_-1:.--.· 1-t .~:~=;~::;.:-.:: -
---~~~;~~:;.;i:•::,;.:~;i~:
§§ i
~

(/)r-t-r-"t-1i-i-~-r-t-111-'t-t-•t-i1-+-t-+-t-1-+-t-t-•~'1-+-1--t·~~l-+-t-++-t-+-t
..
~ t-1--t--t-f-t-t--t-t-+-,t-+-t-+-ir-+-t-+-t-f-.......l-+-1 Ti.t - -
.,....~-. § B
I
·ua , .. r-,... ......1-1........
'O: r ..,._ !"i-+-t-t-"f-t-t--t
E t-t-t--t-t-+-t--t-,f-f--f-+-i~-+-+-1-++-i-+-+-~i-.~·~
r---i-t--t-r t--t-'t-lt- - - -
~·.......'1'-1-1'-i-.,.....
~ ~:t..,.._,,.,+-11--t-....,...'f-t-t
%•
-i--r-t-t--t-•1-1r--1-;.-+-t-1
§
~ ·'.- :;- ·- -r--"1-1-1- - ~-" r-
!J-1r-t-;-T-1-r.....-r-i-t--t-t-t1--t--~-~-~·-.,..-;,...-r-~--t-·-~~~~ '"""'~:+-l'-+-t-1--i-t§ 8
:::i r-t-t--t-11- ,_ - ...... r- '

......
r - t - t - - t - t - -1-#l'-t-+-t- - .• - - - - - ·- - - ,_ r- \1 l_._,_"T-t--t--t
I ~~,
-t-f'-t-f-T;;lltf-t'-t--t-t-1-~
;:, I' ,...,. -·-----,--,_,_,JI' §
81~ ;- -r- e-r- - -·r- - - -1- •!- ·-1- :- - ·- · ; , ,.. -,- :- "'
_fli
t"--t-t--t--1
v. " - - - - -· -. J ~ - - I -
·1 . ~ r- ....
t-l-t-"i-'B·t-t-r-t-t-t-t--t-t-t-t-T-1-r+-t-t-+-+-1~+-t-+-tt--+--1-+.-t-+-t§
- - - - - ; - I'·

r-t--t-t : / - ,_ - - - - - - .. . . I . - -!-'! ,.... 1-


-:----""-.··-~··· --~
- r-r- -if- -
·1

c-- r- - - - f- - - -
_, __ --•,-

~
I'.
-1-+--t-1·-i, 0

GAMBAR 9 REDA PUMP PERFORMANCE CURVE 100 ST AGES DN1750-60 Hz-


400 SERIES - 3500 RPM

Perencanaan !:.:SP
Page 19
type oN ·iOOO
g

i~ §
-- .... ,...,...
~

I
0
!'!

Perencanaan ESP
Page10

.. ·•
IB
I
-- .... ~ - -++-HH,·...r-
,,;,- - - t- - r-- ·~ •-t-1-t·-t-"1-11 !
I
r
I
~
I ~

I ~
§
~~.--;-~;--1:~14~t:~,1~lli,t·-t--_,_~~-+-_~_-t-_.·~.~-~_+-_i;:.-~,_-+-,_~_·-_r_-+-_~~-+r+-...._t-1!--t--+-+-+-1
~
~
l'l'-t-t-t-lt-1--1 R
..J..+
,-t--t-+-t-t
... ,
!
~t-t-11-t-t--+-~t-i!-i-+-+-+-+-1--t,.-+-+-+-+-1--t...+~-+-+-1-+-.~tt-,-t-+-i'""'t~
~t-t·-t-t·,~-~J~~-r~++1~-f~-H-+-H-t-+--H--+-+-t2
§ s
~ t-t-+-t-'1-H:;-;_:-~~:+"\-:::::::=:H·-::::::
8W 1-'-t-
--t-+-t-lf-f t-t-i1-t-t--t--1
1

"(I~ r- -
'1.i.\,-r-rHH-t·-t-++-11-t-t--t-i Cl
-: '- - •· ,., - - ,_ - -
t •- ' - I - r- r-

!t-i-+-t-H
2 i
~
~ -·-· ----- !
E HH-t--t-~l~-++t-t-1-+-... ~'T-HH-+-+-+-lf-+-+-+-1-t-1tH-.f--t-+-f §
c~ ,......,_,_ -,... ,-:.: : .: -~=:...:. -i-;--i-t-; i:;<Ll~'l'l~-+--f--+--i-1-t-1.1-_+.-_11-_-+,_~,...--1•,
l - .__ - ,_ ,.._ t1
:- .......... ,..., ~
;i -· ·""'1--t-+-t-t-+-. q '.\- ·- r- ··HH-t-++-t-t..l·t-11~-i--t
~=t~~l:t~~~-_,.._+,_-if--t-...._+_t:t1'itt:.1-_1....~ ·~"'t'-t-t-t--t-t-t·· _ _ __ ... I
t-t-1~-+"""--9-t-11--+-t--t--t--f-t-1~-·t-f-11-T-+'"'T·+-t- ·+-ii--+-~-1-1-1-1-t-~
t- -i-·.-
t-1--t-+-f
r-- -1..-r-
·a,...t-HH-t-+++-HK++-1-1-!i-l'"i:
f-1-+-r-1- ,_ ........ I'--
& 1--.~r--- - - -
·- -
~
-~

",_ ,...,.. -·
•- f- ..... • - - ... .. ..
·-
-
-t-1-+-t-·t-11-i!"""f--t-1
. ·.L·..,.. -+-+-+-·n ~ -
""r
Jo- ,_

-1-- i ' - t -
R
~
0 ...... r-t- !- -1- "· l- -· !\ - - - - - 1 - t- t-

s
r-- .......
u . ,__ .. , -•- - ... I"
1--t-i-+-1 "D - •• ·-t-++ f-1 -- •" •.. - - - ,.... -- - -·l'"''<t-·1-t-i·\ - ,_. r-:
J H'-+-+++-1"' ""'
... 1-1,.._..-+-f--t-I"'- -
· -· 1- -- -
- ~ r·- 1-- -· ·- .
,... -
-
- ·•
• -
- - ~ .,•• ,,_ ,_ ,_.
,...... ::,_
,. t - .. -
-1- -

z ..,
"12

:r: b..

GAMBAR 11 REDA PUMP PERFORMANCE 100 ST AGES DN 1000-60 H 400


SERIES-3500 RPM 400

Perencanaan ESP
Page2J
TJPtt ON7llO
g

t- ...... r- -1-il-l-+-...-i- .....


...........,1-i......-+-t--t· ..... ~~ 1- "'- f-- - - -t-

GAMBAR 12 REDA PUMP PERFORMANCE CURVE 100 STAGES DN750~ Hz-


400 SERIES-3500 RPM

Perencanaan ESP
Page22
I i't ~ ~ R t ~ !? 2
TJP• A4 Oo
In

ti~ g !! ~ .,
I . -
1-t-.......,•t"'f·-t-1-t-t""'f"1- •
1-t-+t-t-t tt-t-t-t· .
+
·-
-i-t-~"1"1 l+H-H-H++-H+lf+1H-H-H-tttttt"'H
- - • . • . r- !-

,...
1-t-+-t-t-T"1-'t-t-t-1-
. . - .. · • r-
·H--i-t1-1~
• • •
.- ~'
H-H-lt-H
·r- a
~ r- ........J-J-++++++-H+t..,,f-!1-+~l+H-H-tttt-t
1-t--t-;--t-t· •. I• • . •

~·l+i-t-+tlH-t;C"f•l-•t-f'"t""1'"1

• 1-++-t+~·+ ~· ~ .
I" I• ' •
M-H·+..+t1tH
'-HH-1,....._,H-'H

i
u
t-++++-t-t-t-H·~··
·

.l"':: ·::._
l-f-Hr-i-'1+.:t-+·+-t-+t·H·t~H-H-1-¥bH·
.;.~

-
f,ttttTt"1""1~M
fl+i-+-t-t·-H"1"1t-t
1•
I
i

l~t-i-+"H·-H-t-1N
§2
1 ~ ···l+H-H-H-t+~t1~H·+1~N-t"t'"M1
§
0 = -·
r- --··· t-- .. ··.·~== .. .
8 1 j -~ ... . . .. 8
i c •
.. ~
r- --
s ~Ci5
~
~
.,. r n .' ..e
I
'
. • • . • •• jH-+t"H"'Hr-'t'""M
I f
~ l't . ;, - . . . . -- . ... 1· 1- ~ ~

M l'-1-t-t-t-1• -
r' -·· ·-
· ·-
••
IE."'"-~
·...-..++-+-t-t-t-t §
1-+++'f'"f-+++t- ~ • • ... - ...
' • • •• - . r-i- ,. v·•-+-t-t-+-t-t-t-t-t

~ 1-++++-+++++#+i"t-t+t-t-tt-H-H-~H~
l-+-H+1H-H-+ft.++~-t-+-HH-t· . l· .
~
it!'- 8~
1-t-tt·-t-t-f-ir-Ht-HH '.>. I fr;!H-tt·t-t-Hrt;
lH-++i-++iT'I

t-+-t-t-"f-t-+-1'"","f'-lr-t
-~
r- :.t'
• • -
• •
' I'- ,+-!"f'-a
t--r
tl+tt·-t-t-t"'l
~
::; .- • r r- -· - - -~ • • ~· • i •·
·-I·•·
' r-
""J'J'"'lt-1H-t--t·t-t-tt-rt·N"t'1-r1M• 3
t-H+Hli! .•n.:;.i:m::t:t:m~m~l=t=1-1ITI- +~·m,..:·
4' r-
!'-
•• - · • •-~~
2
l-"1-H-+-i::J:H-H+-f.-H-H+!H-1H-f.+~~i++'t-.t-1-H...,.;H-H-1-+1-t1:H-+-t-t;T1
1-1-t-i""'t-; .., .. - •
s
~................ .E ~ ~ . ~ i;; ~·· ..
l-t+-t-t-1 'ij ... I" " ., ...
g
,,,.
I')
.
,~ ,_ •. • - . I- I• . •t-
..
: Ff· =rr- .. po .. r ·;;;
I
!~Bt~
::C LI..
8 ~ N -
i
-
~ §
-
~ ~ ~ 0

'~
,,... 0 8 8 'ii ·-l7 C,Q

E! ~
I::. II

:i:: :e
g N
': ~ :2
:0 ll'l Q..
lI) !: (!)

GAMBAR 13 REDA PUMP PERFORMANCE CURVE 100 STAGES A400-60 Hz-


338 SERIES-3500 RPM

Perencanaan ESP
Page23
Vdld·WV'IV<I NVNV}[Jl.J. NV~NV'IIHn ti HVHWV~
Ft
(II
...
N
'II


- M
0 8 "'..
ii 0
GI
'°0 ....
QI
0 (I)
b
s '°a ,, (f.J
N ~
g -I ~
1'11
N lJ :c
f11
)>
z0
1J 0
'ii ~
ftl
l> d
U)
,... "Tl
lii 3:!
~ ~
111
t:i 0
z
Ode SS01 NOU.:>1a.:1
60

.....J
m co
a
la.
0

~
40

-
8
15
30
a.
a.
0
a: 20
a
I
:!..I 10
~

0
0 20 40 60 BO 100
AMPERES
CU!!COPPER
Al: ALUMINUlii

GAMBAR lS CHART HILANG TEGANGAN

Perencanaan ESP Page25


llIOAll:!ISID! flHflS vavd sv~ VdNV..L XVANIW sv..LISOXSIA 9T llVWi\IV~
A8SOUJT£ VISCOSITY OF GAS SATURATED IBUBQLE POINT) CRUDE OL AT RESERVOIR
TEMPERATURE ANO PRESSURE CENTIPOISES
p
e N
0 N -A (I) G:I 0 -
0 0 00
f I" •' ~., ,P' "• ~r ii'" .,.
1
,1 ..., •
- - -I- _ t
f •' 1.. J ~ / l l Lr.L. .. " T-::a-""-i·~i..-·,_-H~
~ I , J I ' / ' _ii •• II'~ •' •
8 .• , • II"
~~
z8
~
E
.... 8
0
z a
!i 8
:a
fl1
en 8
111
:a
~ ~
:0
I-
"O
:a
--.
fl1 §

n
F
"!\
:t' I
.,1
m 8
2: - I
-
§ " I
' ~
,;
. -..
ii i
8 i
- a
I I
8-
CARAN OENGAN S.G 1..EBIH KECIL DARI AIR

ar
~1:§110
Q9

- - IOOO

---
-- --
4000
Hl.OGO 5 000
14.000 I 000
tLOGO
- ........
·-
"
~
~

-..-z
llB ..
--- --
,_ ...

---
7.000 ~

-
_,,,
"'-- ._ ...

-
e.ooo

- ·--·
-...._
s.oao r--._, :--
~-

.-.om -
r- r--.. .._ ~
a.ooo I:: 'l
.
-- -- -
r- ..._ .._ ....
3 LOCIO ~-
at .. ,._ r--.
-
m
. r-.. i-..
~
r--... ... . .
.............
1.000 .
-- -
.._ ...._ -...

- -- ---
""'- r-
I"'-.
r--
-... 90
IOO
•. ~ ._ 80

_--
I'-- ~ ...._ E: TO

-
""'- r-
r-.
-....
... .. IO so

-- - --
r-- 40
r--
. I'- ..._ ~
t--
..
r;- 50

too
90
80
.
. - ---- - ,
,_ ...._
..._
~
......
zo

--- --- - ••
10 r-.
r- r-. ..__
80
,._
·~ r-.. !'-- "'-- ...=-
. - -~
- -
r-- ...._ 7
.
.
..
. - .. r-
r--
r-... .......
~
~
r-- ·;::..

r-- ......._ r-- loot-- :s


..
......
...
.
5

- - --
r-

-
.- r---
....._

r-- ~ ,._
r-..
r-
r--.
-
so
30 .. -
31
.e-
ao.4
- r--.. .._

r-- r--. :---


.........
-
r::-
t
1.0
0.8
o.e
0.7
o.e
so.2. ....... ..""" o.s
SPECIFIC GRAVITY CAIRAH

GAMBAR 17 MERUBAH CP KE SSU

Perencanaan ESP PG;ge 27


.
•.
. j1-'•!•

'
' .
••
\ ...\
a. 10' ~
u
'' '' '·a
·-...
•. . -·~
' '' • ·1
•.
\ ',
\
\ ·,
\ \
. ·~
\~
~
. .. ..
. ' ... ..
.
' '·
' ' .. .-
l'- ' . '
' I'
' ' ' '· "· ..,
' ' ' I''·,,' .
.. .. '.. .'
t

q,~
.. ''11o....:..... ,~
- .

... ... ·~ ....'...


' .. .. - t;:..::__ ~-
.-
"'·~ I'.,~

).,
~.

.... ... . ......


"i..

00
.....
.... .... ... . ~

..... ............. ... .... . -


.... .. _ .. .....
·- --_ . - .... - -. . -

-.. .. _- ~-

!"'.. _
-
-....
;
-. ----·-
...
t0•I
ro m ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
APi ~AVITY MINYAK PADA 60°F DAN TEKANAN ATMOSFER
0

GAMBAR 18 VISKOSITAS MINY AK JENUH GASP ADA P DAN T RESERVOIR

Perencanaan ESP Page28


Tabel 1
KOLOM DATA UNTIJK PERHITIJNGAN ESP

' .
LAPANGAN: SUMUR:
INSTALASI: BARU ( ) DESAIN ULANG ( )
FORMASI:
JENIS BATUAN (PASIR, 'GAMPING, BATUAN LAIN)
DATASUMUR
Selubung (OD, in) (ID, in) (L,ft)
Liner (OD, in)
Lubang terbuka (L, ft)
'.
(lD, in) (L,ft)
I
Dalam Akhir (ft)
Selang Perforasi (ft)

~
Tubing (OD, in) (lD, in)
DATA RESERVOIR
Laju Produksi (Pompa, bbl/hari)
(Swab, bbl/hari)
(Sembur alam, bbl/hari)
Tekanan Statik (PS, psi) pada kedalaman (ft) .
Tekanan Aliran dasar sumur (Pwf, psi)
Pada kedalaman (ft)
Pada laju produksi (bbl/hari)
Perbandingan Gas Minyak (PGM, SCF/STB)
Kadar Air (KA, %)
0
SG Minyakl ( API) .
' 0
Temperatur Dasar Sumur (BHT, F) ----··--~------

Viscositas Minyak (µo, cp) --


Viscositas Emulsi (µ 0 , cp) Pada

DATA PVT
Gas Terlarut (Rs, SCF/STB) _pada tekanan (psi) __

Gas Terlarut (Rs, SCF/STB) nada tekanan(psig)


Takanan Jenuh (Bpp, psig)

J
Perencanaan ESP Page29
DATA LAIN
Produksi yang diinjeksikan (Qror, bbVhari)
------
(Qo, bbVhari) . . '""' , .
----'-------
Kedalaman Pompa (ft) _ _ _ _ _ __
Tekanan 1sap Pompa (PlP, psig) _ _ __
Tekanan Kepala Sumur (THP, psig) _ __
Perbandingan Gas Cairan melalui pompa (PGC, SCF/STB) _ _ _ __

Masalah Produksi Lainnya :


Pasir ( ) Scale ( ) Koros i ( )

Parafin ( ) H2S ( )
KETERANGAN LAIN

Perencanaan ESP Page30


Tabel 2
POMPA 60Hz 3500 RPM
. !' "''• .,·

DIAMETER Max BHP Pompa


SERI JENIS (in) Diijinkan
LUAR Rating untuk Sahft bbl/hari (m3/hari)
338 3,38 A.IO 94 280 500 45 80
A.14 94 425- 700 68-111
A.25 94 660 1100 105 175
A.30 94 875-1575 ' 139 250
A.45 125 llOO - 1900 175-302

ON. 280 44 100 450 16-72


D.400 94 280-550 45 87
0.13 94 320-575 5) -91
D.550 94 375-650 60 103
1400 4,62 D.20 94 500-900 80- 143
D.950 125 600 - Ir50 95-183
ON. 1000 125 760 1250 121-199
DN. 1300 125 975 1650 155-262
D.1350 125 950- 1800 151 -286
DN. 1750 125 1200 2050 191 326
D.55 125 1400-2450 223 -390
DN. 3000 256 2100 3700 334- 588

450 4,62 E.35 160 950 1600 151 -254


E.41 160 !050- 1800 167 - 286
E.100 256 I
2800 4500 445 - 715
I
I G.52 256 1500- 2500 l 238- 396
G.62 256 2000 3100 318-493
G.75 256 2100- 3400 334- 541
540 5,13 G.59 256 2200 3700 350-586
G.110 - 375
G.150 375 4200 6600 668 - 1049
G.180 375 4500- 7250 715-1153
G.220 "' 375 5500 8500. 874--1351.

Perencanaan ESP Page 31


Tabel 2
POMPA 60Hz 3500 RPM (Lanjutan)

562 5,62 H.350 375 9200-16400 1463-2607


··~

I 1.250 637 6000-9500 954-1510


650 6,62 ' I.300 637 8000 12250 1272 - 1948

J.400 637 12800 - 19500 2035-3100


675 6,75 J.600 637 16000 - 25000 2544-3795

M.520 637 12000 - 24000 1908-3816


862 8,62 M.675 637 19000-32500 3021 - 5167

I 950 9,50 N.1050 !000 24000 47500 3816-7552

1000 10,00 N.1500 1000 35000 59000 5564 9380

1125 11,25 P.2000 1000 53600 - 95800 8521-15240

Perencanaan ESP Page 32


TABEL3
MOTOR60Hz
· ; ' ; ~ ' ; 1' I I " i ' •

357 SERIES 456 SERIES 5'1-0 SERIES


(3, ?5• OD) (4, 56• OD) (5, lf.3• OD)

HP VOLTS AMP HP VOLTS AMP HP VOLTS AMP


T,5 415 20 10 435 15 20 440 29
to, s 690 12 155 11
15 435 23
15 330 34 655 16 30 435 45
415 27 TIO 28
20 460 28,5
19,5 415 35 750 tT 40 435 60
650 22.s 660 40
25 410 39 130 36
22,5 440 38,5 690 22 880 30
750 22,5
30 425 57 50 450 72
22. 5 650 29,5 675 33 725 45
780 24,5 785 2& 905 34

35 385 57' 50 425 91


675 33 645 60
TANDEM MOTOR 785 28 870 45
910 40
30 630 35,5 40 430 59
770 33 70 110 89
39 515 51 880 29 1160 45
7?4 3e··
t\75 47 too 110 89
45 660 51, 5 0 50 815 ;sg &35 76
955 33 10?0 60
51 740 51. 2170 29
1000 37 540 59
1250 31 60 745 52 120 855 '88
lUO 47 1030 '13
56,5 860 51 970 39 1295 59
2165 33
67,5 990 51,5 540 82,5
70 750 60 130 925 68
76,5 1110 51 945 47 11 i.'5 67
1135 39

Perencanaan ESP Page33


90 13eo 51,5 150 101~ 67
80 635 80 2105 44
1 Oi? . 1460 51 660 60
1035 46 160 825 122
112.s 1650 51,5 1310 39 1115 86,S
2185 46
127,5 1850 51 710 81
90 900 59 160 945 120
1135 50 12'1S 8.9
1eeo 46
----~
1911-5 59
738 SERIES 1460 39
er, 38" OD> 1960 29 200 1100 lHi
2140 54
HP VOLTS AMP too 790 80
920 10 225 .. 1135 1 Z7
200 2300 58 1075 59 2235 64
135~ 40
220 1325 110 2205 28,5
2300 64 TAIDBH HOTORS
110 1190 60
240 2.i!75 Tb 240·, 1710 88
120 945 81 2060 n
250 2280 76 1125 70 2590 59
1Z95 59
34.0 2.2'35 101 224-5 35 260- 1850 88
1?250 GT
TADDEK MOTORS TARDEH HOTORS 300 2150 81

400' 2300 115 140 1080 82,5 320 1650 122


1500 '30 2230 8&,5
440 2050 142 1890 47
2270 39 360 1890 120
480 2230 143 2550 69
160 1270 8()
520 2'if!O 143 1120 60 400 zzoo 115
2170 46
CiOO 3450 116 eo~o 39 450 ez10 1 e7

Perencanaan ESP Page34


t\00 • 3110 142 100 1420 61 460 Z415 12Z
• ' ; ! '. · 1~ ' l • i I • I ! 191!0 59 3345 66,5
fa() 3345 14'3 2270 50
ZMO 46 540 Z835 1ZO
2920 39
600 3300 175
zoo 1560 80
1640. 'TO
2150 59
ZT10 46

220 2'3l\O 60

2'10 1890 81
2250 10
2590 59
.

I'erencanaan ESP Page35


TA.BEL4
TRANSFORMATOR FASA TUNGGAL
60 Hz, UNTUK KENAIKAN SUHU 56 oC

...
• "ll·l•H·H«" • \!•

Tilll tlBAI DWI llllT 1111111 rm


DAI
Dl JI I II I II I ... lf ms 'II.TS

~ '81 0 l,02 ZZ,5 0,51 H,t 0.53 uo Z09 IZ.500 W/960 &lilfD-0
25 CO,tl i,Ol U,5 0,51 M,I 0,61 uo mg lt, •12•, goo ••Ja "'6-5

so so.o 1,zt lt,3 o.eo n.J o. 69


115 3tO IZ,D &ll/lZCI &9133-t
50 so.o o,ao n.J 0.69 115 110
1.zt 11,l l!, SGD TG0/1•1 19313·1
SO SO,D 1,21 Jl.3 0,IO rl,3 01 69 115 310 It 511 iml/ZD1 69ZR·l
so so,o 1,2T lt,3 o.eo n,3 o,69 115 JIO it, tflO/U, SOD iGl/180 199Z5·6
so so,o 1,21 :n,1 o.ao 2t,3 o.n &tS 110 It, tclO/ll, SOD tcl/1•1 S98lW
so so. o 1, n 11, 3 o, r.o n, '3 c, 69 115 310 ii, UG/IZ, 5rl 1111/iW 1'915-1

t5 53, o 1, 35 32t g o, M a.' o. 13 1135 sis n, gm
t2CIJZHl1 19313-5
t5 53. 0 l, 35 12, 9 0, M lli 6 -0. Tl 1!35 515 It, 400/tl, 500 ll00/2te81 6'5~..0
'"

100 55,0 11 35 12 1 9 DiM 29,0 0, 74 1350 612 12,500 IH0/2Ht1 'mn-2


100 ss.·o I, 35 n.9 o. M Z9, 0 0,,. 1350 61~ ii, 400/12, S!JO IZU>/Hll1 TORCH

150 51.0 l,4T 36,0 0,91 J3,5 0,&5 1350 139 IZ,500 lml/M<G1 TONl-0
iSO sa. a 1, 11 JS,o o, 91 n, 5 o. as 1aso m 14, tOO/ll, 500 1~za1 TOM0-2

200 66,0 l,18 42,0 l,O'l 40,0 l,02 2'00 !089 IZ,SOO 1200/ltrl' IOH!-1
~ &6.0 1,68 tl,0 1,01 40,0 i,OZ 2400 1089 14,C00/12,500 12CI0/2D1 T0025-2

.. ·,

Perencanaan ESP Page 36


TABELS
DATA UMUM SWITCHBOARD
n:t.AS .mns UIURAH TEGAHGAI ·HP BEBAN ARUS PERUH
• MAXSIMUH • MAJ:SIKUK
DPH.2 12 2 600 25 50

3 500 50 100

4 GOO 100 135

5 600 200 270

'lS HFH 76B 2 1000 70 45

120 KFH 'T6.A 3 IOOO 160 120

100 HDFH. 76A 3 1500 150 100

150 HDFH 76A II- 1500 250 150

RPB. 2 2400 100 360

1512 76C 2400 '100 360

Perencanaan ESP Page37


TABELl
"' "'i~":, .. KOLOMDATA UNTUKPERHITUNGANESP

Lapangan - - - - - - - - Sumur ~-~-------~


Instalas1-------- Baru ( ) Desa1n ulang
Forma.si
Jen1s batuan (Pastr , Gamp1n1 , Batuan lain )

DATA SUHUR

selUl>ung COD.in) - - - - (ID, l n ) - - - - ( L , f t ) - - - -


Liner (OD, in) ( ID, 1 n ) - - - - ( L , f t ) - - - -
Lubane terl>Uka (L, f t ) - - - - - - - - -
Dalam Akhir (ft)
Selang Perforas1 (ft.)
Tubing (OD,1n)----- (ID, . t n ) - - - - -

DATA RESERVOIR
LaJu prodUksi (Pompa, l:>bl/har1)
(S'tfab, bbl/hari)
(Sembur alam. bbl/hari) - - - - -
Teka.nan stat1k (PS, psi) pada kedalaman ( f t l - - - -
Tekanan al 1ran dasar sumur tPwf• p s i > - - - - - - - - - - -
pada KedaJaman ( f t ) - - - - - - - - - - -
pada laJu prodUks1 (bbl/harl} - - - - - -
Perbandingan Gas Hinyak {PGH, SCF/STB) - - - - - - - -
Iadar Air CU, 1.) - - - - - - - -
SG mlnyak ( 0 API)
Temperatur dasa?' sumur (BHT, o F ) - - - - - - - - - - -
SG air - - - - - - - - - - -
SG gas - - - - - - - - - - -
Viskosi tas minyak (~ 0 • cp)
Viskosltas emul s1 ( µ0 , cp) pada O F - - - - - -

DATA PVT

Ga:s terla.rut (Rs, SCF/STB)---- pad.a tekanan (psi}---


Gas terlarut (Rs, SCF/STB) pada t.ekanan (psig)---
Tel<.anan jenUh IBpp• p s l g ) - - - - -

Perencanaan ESP Page38


DATA LAU£

Prod.Uk.Si yang d.11nJeks1kan <Qirotr1 bbl/hart)., .


(00 , bbl/har1) ------
Iedalaman Pompa ( f t l - - - - - - - - - - " -
Tekanan lsap Pompa (PIP. P . s i « J - - - - - -
Tekanan :tepala Sumur CTHP, ps11>--------
Perband1n1an Gas ca1ran melalui pompa (PGC, SCF/STB)---
Hasalah ProdUl<.si lainnya :
·Pasi:r Scale toros1 (
Parafln H2S

XE'l'EJWIGA.B LAIB.

Perencanaan ESP Page39


TABEL2
POMPA 60 Hz 3500 RPM

Seri Diameter Jenh Hax BHP D1ij1nkan


luar (1nl Pompa Rat1ng untult
Pump Shaft :bbl/bari (m3/har1)

338 3,36 A. 10 94 .?60-500 45-80


A. 14 94 425-100 56-111
A.25 94 660-1100 105-175
A. '30 94 8'15-1515 139-250
A.45 125 1100-1~00 115~302

D'H.260 100-450 l6-7e


D.400
D.15
"
94
94
280-55.0
,320-&1~
45-8T
51-91
D. 550 94 375-()50 60-103
400 4,00 D.20 94 500-900 60-143
D.950 125 600-1150 95-183
DH 1000 125 160-1250 121-199
D?i 1300 1es 975-1650 t5s-e&e
D. 1350 1Z5 950-1600 151-Z66
DN 1750 125 1200-2050 ·191-326
D. 55 125 1400-2450 223-390
DH 3000 256 2100-3700 334-586

E. 35 160 950-1600 151-251'-


450 4,62 E. 41 160 1050-1800 167-286
E. 100 256 2800-4500 445-115

G. 52 256 1500-Z500 c3&-39~


G. 62 256 2000-3100 318-493
G. 75 256 2100-3400 334-541
540 5, 13 G. 59 t?56 2£00-3700 350-586
G. 110 375
G. 150 375 4200-6600 668-1049
G.160 315 4.500-1250 1t5-tt53
G.220 375 5500-8500 874-1351

Perencanaan ESP Page40


TABEL 2 (LANJUTAN)
POMPA 60 Hz 3500 RPM
'"'·•11!n111<: '' !HH"P I ;

Seri Diameter Jenis Ha.z :BRP Di1J1nk.an


luar (in) Pompa Rating untuk
Pump Shaft· b:t>l/har1 (m3/har1)

56e 5,62 H.350 3T5 9f00-1HOO 1463-ZGOT


I.250 637 6000-9500 954-1510
650 6,62 1.300 631 8000-12250 1272-1911.8

J.400 6T3 12800-19500 2035-3100


615 6,75 J.600 537 16000-25000 2544-3195
K.~zo on 1ZQ00-2.4000 190&-30~0
862 8,62 H.615 631 19000·32500 3021-5167

950 9, 50 R.1050 1000 2.tt000-47500 3816-7552

1000 10,00 " H• .1500 1000 35000-59000 556'1--9380


1125 11, (?5 P.2000 100() 53600-95600 6521-15240

.'
.

Perencanaan ESP
Perencanaan ESP Page42
BAB VII
TROUBLESHOOTING ESP

I. METODE API RP llS


1. Lakukan pengamatan langsung kelakuan pompa sebagai berikut:
a. Teliti apakah alat masih bekerja pada besarnya arus listrik yang didisain.
(Cara yang umum adalah dengan melihat voltmeternya).
b. Amati karat Pl:\da perangkat pompa di permukaan.
c. Teliti apakah laju produksi nyata masih tercakup dalam "range"
kemampuan laju produksi pompa.
d. Teliti apakah alat masih bekerja pada kondisi kerja.
e. Teliti apakah head discharge pompa bervariasi tidak lebih dari 5%, serta
daya kuda bervariasi tidak lebih dari 15%.
f. Lakukan shut-off head, yaitu pompa dijalankan dengan wing-valve ditutup
sebentar, kemudian amati tekanan kepala sumur.
g. Teliti apakah total dynamic head (TDH) clan laju produksi turun.
2. Dari gejala yang telah dideteksi pada butir I klasifikasikan dan tentukan
tindakan yang hams dilakukan menggunakan Tabel 1.

II. METODE GRAFIK


1. Rekam arus dengan amperemeter.
2. Lakukan analisa terhadap grafik tersebut sebagai berikut:
a. Pompa berjalan normal.
Grafik rata dan simetris, harga ampere lebih kurang sama dengan yang
tertera di nameplate (contoh Gambar 1).

Troubleshooting ESP Pagel


b. Fluktuasi Daya Listrik (VA}
Grafik menunjukkan seperti pada. Gambar 2. Fluktuasi daya listrik dapat
terjadi karena adanya pembebanan listrik pada pompa lain yang sedang
distort. Gejala serupa juga ~apat terjadi karena adanya petir.

c. Gas Lock.
Keadaan gas lock ditandai olen adanya harga ampere yang rendah. Bila
harga ampere merosot hingga di bawah underload (batas bawah harga
ampere) mak:a pompa otomatis berhenti. Contoh pada Gambar 3.
Titik A merupakan saat start pompa, biasanya harga ampere naik 3-8
kali harga ampere pada keadaan pompa berjalan nonnal.
Titik B menunjukkan operasi normal.
Titik C memperlihatkan berkurangnya harga ampere dan terjadinya
fluktuasi akibat masuknya gas ke dalam pompa.
Titik . D menunjukkan kenaikan mendadak harga ampere, ini
menandakan arus cairan masuk pompa. Selanjutnya terjadi gas lock
yang diikuti oleh turunnya harga Ampere di E, pada saat ini tidak
ada cairan yang diproduksikan.
Penanggulangan hal ini adalah dengan cara:
Matikan pompa agak lama agar gas lock hilang.
Turunkan pompa sehingga lebih tenggelam. Bila pompa di rat hole
gunakanjaket.
Turunkan produksi dengan mengecilkan choke, sepanjang
memungkinkan.
Apabila dengan cara-cara tersebut di atas tetap tak tertanggulangi,
maka pompa harus diganti dengan yang lebih kecil atau produksikan
secara intermittent dengan menggunakan (cycle controller)
meskipun cara ini sebenarnya dapat merusak poinpa.

d. Pompa mati karena terjadi interferensi gas atau air~_Grafik pada Gambar
4 menandakan keadaan pompa mati (pump-ojf) dan interferensi gas atau

Troubleshooting ESP Pagel


air terjadi berkali-kali, hal ini terdeteksi karena adanya starter otomatis.
Pada Gambar 23, titik A adalah saat start pompa, titik B pompa berjalan
normal, titik C gas mulai masuk pompa, dan titik D arus cairan
mendekati pompa dan selanjutnya diiringi dengan matinya pompa karena
ampere terlalu rendah (under current shut-down).

e. Pompa mati bukan karena interferensi gas atau air. Grafik pada Gambar 5
menunjukkan gejala pompa mati tetapi bukan kar~na tanpa interferensi
gas. Sehingga pada grafik tak terlihat fluktuasi. Dalam hal ini kematian
pompa adalah akibat tiadanya cairan terproduksi sehingga cara
penanggulangannya seperti pada masalah gas locking.

f. False Starts.
Grafik pada Gambar 6 yaitu menunjukkan seol::~l1-olah 'pump off dengan
restart yang gagal. Kejadian ini adalah sebagai akibat panjang cycle
waktu tak cuku.p untuk menghasilkan arus cairan yang cukup tinggi. Unit
ini harus diganti dengan yang 1ebih kecil.

g. Selang-seling start dan mati.


Grafik pada Gambar 7, yaitu menunjukkan selang-seling kejadian start
dan mati, yang berlangsung dalam waktu singkat. Kejadian ini adalah
akibat ukuran pompa terlalu besar atau pompa bekerja dengan TDH
(head) yang kurang besar. Cara penanggulangan adalah:
eek TDH dengan cara menutup wing-valve sesaat.
eek kemungkinan kebuntuan aliran di pipa atau tertutupnya katup
dipermukaan.
hentikan pompa dan eek arus cairan.
Pompa dengan grafik ampere demik.ian harus segera dihenti.kan karena
kejadian tersebut akan sangatmerusak pompa .

.
.'

Troubleshooting ECJP Page3


h. Produksi dengan GOR tinggi.
Cara penanggulangan GOR tinggi adalah dengan pengaturan ·tekanan
· :'selubung dan penggunaan separator gas. Grafik serupajuga dapat terjadi
karena adanya emulsi, sehingga harga ampere biasanya menurun sesaat.
Penanggulangannya adalah dengan penggunaan deemulsifier (pemecah
emulsi). Lihat Gambar 8.

1. Harga Ampere terlalu kecil.


Grafik pada Gambar 9, yaitu menunjukkan pompa yang distart berkali-
kali, tetapi tidak berhasil hidup. Hal ini bias~ya terjadi karena harga
ampere yang diberik.an terlalu rendah, sehingga tidak cukup memberi
tenaga ke motor untuk mengangkat fluida dengan berat jenis dan volmne
tertentu. Bila dari test terlihat adanya produksi, maka penanggulangan-
nya adalah dengan melakukan penyetelfill under-current (ampere
rendah). Gambar 9 mungkin puia disebabkan oleh gagalnya relay ketika
menghentikan batas ampere rendah dari kontrolnya, sewaktu pompa
distart secara otomatis. Gambar 9 juga bisa terjadi karena patahnya
pompa.

j. Beban Rendah.
Grafik pada Gambar 10, yaitu menunjukkan pompa dijalankan (distart)
dengan normal tetapi diikuti dengan penurunan harga ampere secara
bertahap, selanjutnya terjadi keadaan tanpa beban untuk beberapa saat
dan akhlmya terjadi kerusakan pada unitnya dan pompa berhenti karena
overload (beban berlebih). Grafik ini menandakan pompa yang salah
disain (ukurannya), atau salah. melakukan penyetelan pelindung beban
rendahnya (underload protection relay), kesalahan tersebut
mengakibatkan tertahannya fluida produksi, sehingga motor bekerja pada
keadaan tanpa beban. Selanjutnya karena tidak ada aliran maka tidak
terjadi pendinginan motor sehingga tirnbul panas dru.i ini menyebabkan
overload (beban berlebih) dan akhimya motor mati.

Troubleshooting ESP Page4


k. Pengontrolan Pompa oleh tangki pengun;ipul.
Grafik paqa Gambar 11, yaitu menunjukkan harga ampere motor pompa
i'l.'11,i!I"!' '"od··::o.!'·"'i·I"·!

(berbenti dan bekerjanya pornpa) dikontrol oleh arus cairan tangki


pengumpuL Gambar 11 menunjukkan tenggang waktu (delay) antara saat
pompa berhenti dan start kembali terlalu singkat. Bila pompa tak
dilengkapi check valve (katup penahan aliran balik) yang baik, maka
setiap pompa berhenti fluida akan turun kembali sehingga pompa akan
berputar kearah sebaliknya. Menjalankan kembali pompa yang sedang
berputar terbalik mengakibatkan kerusakan pompa. Biasanya as pompa
terpuntir atau as patah. Tenggang waktu (delay) antara saat pompa
berhenti dan start kembali adalah minimal kurang lebih 30 menit, yaitu
agar fluida dapat stabil kembali.

L Behan berlebih.
Grn.fik pada Gambar 12. Titik A pada gambar adalah saat dijalankan;
biasanya menunjukkan harga ampere yang meningkat, B adalah pada
keadaan pompa bekerja normal, C menunjukkan kenaikan.·beban hingga
mencapai.batas tertinggi (overload) dan akhirnya pompa mati.
Gejala peningkatan beban yang diikuti dengan matinya pompa tersebut
disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
- Naiknya· berat jenis fluida (misalnya karena terproduksinya lumpur
atau fluida komplesi).
- Terjadinya emulsi atau kenaikan viskositas.
- Terjadinya problem mekanis atau listrik (misal motor panas atau
terjadi keausan alat).
- Problem daya listrik.

m. Behan karena kotoran padat.


Grafik pada Gambar 13, yaitu mula-mula berfluktuasi tak teratur,
selanjutnya normal. Gejala ini disebabkan terikutnya scale, pasir atau
partikel lumpur w~tu sumur mulamula diproduksikan. Walaupun hal ini

Troubleshooting ESP Page5


umum terjadi; sebaiknya dihindari dengan terlebih dahulu melak:ukan
pembersihan sumur sebelum pompa distart. Untuk mematikan sumur
sebaiknya digunakan fluida yang ringan atau hampir sama dengan fluida
yang akan dipompa.
Dalam hat terteutu perlu pemberian tekanan balik (menggunakan
jepitan), guna menahan naiknya harga ampere secara berlebihan. Untuk
sumur yan~ menjumpai problem pasir, start harus lambat dengan laju
produksi kecil (jepitan dipermukaan diperkecil).

n. Start berulang-ulang.
Grafik pada Gambar 14, yaitu menunjukkan start normal yang lalu rnati
karena beban ber)ebinan. Garis-garis naik setelah itu menunjukkan usaha
menstart k~mbali berkalikali.
Usaha ini bisa merusak pompa. Dianjurkan pompa di tes terlebih dahulu
sebelum menstart kembali.

o. Behan berfluktuasi tak beraturan.


Grafik pada Gambar 15 harga ampere yang turun naik tak beraturan.
Umumnya disebabkan adanya fluktuasi pada berat jenis fluida atau
adanya variasi tekanan permukaan. Akhirannya dapat berakibat pompa
rnati karena beban berlebihan (overload). Grafik serupa bisa juga
disebabkan karena pompa karena pompa tersumbat, motor atau kabel
terbakar atau sekering putus (primer atau sekunder).

Troubleshooting ESP Page6


TABEL-1
Anarisa Gel'ala Kerusakan Pomoa danP
enan1rn:ulan12:annva Pomoa Sedang Bekena. .
Geiala Penvebab
L Tindakan
Produksi diatas kapasitas
pornpa
- Teliti aras cairan dan
tekanan alir dasar sumur
Pwf. Bila aras cairan
cukup, perkecil jepitan
agar tekanan kepala
sumur naik dan laju
produksisesuaidengan
kapasitas pompa

...
- Atau ganti pompa dengan
ukuran yang lebih besar.
- Lihat tindakan pada l .a
- Teliti desain IDH nya.
- Pertukaran keduduk:an 2
.. kabel di switchboard agar
ai'ah perputaran pornpa
f
II
benar.
(Lakukantindakanini
setelah pompa berhenti
.. berputar terbalik atau
.. fluida di sumur teiah
I
kembali stabil.
- Lakukan kebocoran
tubing. Apabila tubing
terbukti bocor, ganti
tubing.
- Kadang-kadang dari
tinggi atau rendahnya
ampere bisa dihitung
bocomya aras fluida dan
ukuran pompa
(dibandingkan desainnya)
- Teliti plug bila dipakai
y -tool.
- Teliti tekanan di pipa
· permukaan dan kepala
sumur. Apabila terlalu
tinggi, cari dan
tanggulangi penyebabnya
agar tekanan turun.
- Bersihkan sumur.
- Kotoran yang menyumbat
lubang masuk pompa
kadangkadangdapat
dibersihkan dengan aliran
pompa balik (berputar
terbalik) yaitu apabila
tidak dipakai check valve.
Ganti, betulkan
asfpompa.

Troubleshooting ESP Page7


- Bila saja relay arus
rendah dipakai hal ini
dapat menghentikan
pompa karena rendahnya
arus.
2. Tak berproduksi atau - Tentukan arus fluida dan
produksi dibawah Pwrserta te\itl tekanan
kapasitas pompa. pompa (discharge
pressure) denganjalan
menutup tubing.Apabila
menunjukkan turunnya
headatau ·
kapasitaspompa, ganti
pornpa.
- Teliti clan ganti bila
bocor.
- Teliti dan perbaiki.
- Telifr TOH clan aras
fluida, sesuaikan tekanan
kepala sumur (rubah
jepitan)
- lihat Tabet 7.1 b.

Troubleshooting ESP Page8


'lVWHON NV'IVfH:tlH VdWOd "I lIVHWV!>
z
0
0
z
Xllll.Sl'I V.AVG ISVfl.DJJl'M ·z lIVflWV!>
JKJ07 sv3 ·f ~vawv~
# •
m:v flV l. v sv~ ISN'JIHllllll:.lI.LNI nrvtM:ll NVG Il.vw vdWOd .t' }[VtfWVD
GAMBAR 5. POMPA MATI TANPA INTERFERENSI GAS ATAU AIR

Troubleshooting ESP. Page 13


DIV.LS :tlS1V.!I ·9 llVtIWV~
z:
0
·~
l.LVW NVO.LNVJ,S NVI<IVf3)1 VllV.LNV nNI'I:IS- nNV'I:IS .L lIVO:WVn
I~~Nl.L HO~ N'V~N:!ICl ISXflOOHd '8 HVtIWV~
' .
.
dS'd 'IJUfJ001/.S'<l/qrt.o.J.J,
HVCINO NVH'Jl.9 ·ot lIV9:WVD

GAMBAR 11. EFJ,tK


. ,, PENGONTROLAN POMPA OLEH TAN.GK.I PENGUMPUL
'

Troubleshooting ESP Page 19


oza2oJ
HUl:il'Til'JUI NV8:il8 ·n HVUWV!l
...
l.v<IVa NY80l.O}I Nvaaa ·r1 llvawv~
z
i
z
8
:z

GAMBAR 15. BEBAN BERFLUKTUASI TAK BERATURAN

Troubleshooting ESP Page23


BAB VIII
APLIKASI SISTIM NODAL
ANALISIS P ADA ESP

SISTIM SUMUR PRODUKSI

~-- G:?S 1.t"t Valve


~--I Subsm:face Safety Valve

SISTIM SUMUR PRODUKSI

----T::bi::g(Af>t)

~-- ... Gas Lift Valve (APv)


.,..___ Subsurface Safety Valve (.dl'ssv)

Perforation (.tJPp}

Aplikasi A-S-N Pada Gas Lift, ESP, SRP '. . Page 1


TITIK NODAL:
pertemuan antara dua kelakuan aliran
Choke
_..,
yang berbeda

.
Flowline
-
I _
--'4

3/8/ 1015

KELAKUt1....1V ALIRAlv DIBEDAKAl..J

CJ media aliran (batuan reserooir, pipa, choke,


pompa, manifold dan sebagainya)

D dimensi media aliran (diameter,


penneabilitas dan porositas)

Cl parameter~parameter aliran (GLR, Q)


' '

Dfluida yang mengalir (gas atau minyak)

Aplikasi A-S-N Pada Gas Lift, ESP, SRP Page 2


NODAL SYSTEM ANALYSIS
~, '' - -I
Kepa.1a Sumur
e _ _._,
ti L WKC 1up ·
& ' . )
auw11S. trear.n .
....

...!:·::::::::::::::::::::::::::::::::::::.~f=ar.=.~=o=M==g==::::!IJ·!!!!!!!!!!c--=:-t-~

Tt@-tifik Noal
:..:.,......,.._-- ~ Gas Lift v;:!ve
.. ·.
~-- d lip & Downstream Valve
c Up & Downstream Safety Valve

- b Up & Dow~stream Pompa
- - - a DasarSumur

:l/8/2015 Nodal Sysren) /\n;;,l\1s;!:

Aplikcr.si A-S-N Pada Gas Lift, ESP, SRP


· Page3
(lMd)J = !J@
: d/11$1.IOfJ~ "JJ8d MOflUI
':~'!f-~'1.· -
M,,~, I-
. .___!
NV9Nn!IHH3d Hn0.3SOHd
. . . : . . ,f ' • " .
Contoh Analisa Sistem Nodal
• Panjang pipa salur = 300ft
• Diameter pipa salur =2 in
• Kedalaman sumur =SOOOft
• Diameter tubing =2 3/8 11

• Kadar Air =O
• Perbandingan gas cairan = 400 SCF/bbl
• Tekanan statik = 2200 psi
Tentukan laju produksi yang diperol~h dengan
menggunakan dasar sumur sebagai titik No.dal.

3/W2015 )(1

Aplikasi A-S-N Pada Gas Lift, ESP, SRP Page5


.15

APL/KASI A-S-N PADA SUMUR GAS LIFT

Gas lnjeksi r:
"'UH

Gas Formasi +
/GLR-2
Gas Injeksi p ..r

Gi.R-3 / "' .
GLR-5 "'-
."-......,
Gas Lift Valve

•. ,

Aplikasi A-S-N Pada Gas Lift, ESP, SRP Page8


,,
APLIKASI NODAL SYSTEM ANALYSIS
PADA SUMUR GAS LIFT

18

APLIKASI NODAL SYSTEM ANALYSIS


PADA SUMUR GAS LIFT

nubungan antara i.aju Produksi vs


GLR total, menunjukkan kurva
yang menghasillcan Q.. maksimum,
pada GLRtotal yang optimum.

Dengan demikian jumlah gas


lf'jeksi yang dibutuhkan dapat
Diperkirakan berdasarkan kurva
Gas Lift Performance Curve.

~lnjebi = Q(GL~ - GLRrorn...s.)

J~

AplikasiA-S-N Pada Gas L(fi, ESP, SRP Page9


APLIKASI A-S-N PADA SUMUR ESP

Pwh Pressure

I PM• Pwh+ "1't. ~Pp + N'c \ o I


lI
__ -• Discharge
Pressure Depth I
i ... p Discharge
_ _ Electric Pump Pres.
;::';J,
LJ

Submersibie 9 - ~ta~k·
.. . - - - - - -
Pump Pres.

Intake I
t Pressure Well L_ '
Pwf@q 32

APUKASI A-S-N PADA SUMUR ESP

'. ,
~ .,i
lp~J
I ? •.,_ I
Stage-3
l/ 'I
L._ _ _ _ _ _ _~
Q
Kun1a Tubing tergantung pada :
• Typepompa
• Jumlah srages pompa ·
•Jumlah gas masukk pompa

:n

Aplikasi A-S-N Pada Gas Lift, ESP, SRP Page JO


' '

Aplikasi A-S-N pada Sumur Pompa


Sucker Rod

Jika Pompa @ Ptincak Perforasi:


Pwf =In.take Pressure

Jika Pompa diatas Pe:rforasi:


Pwf = Intake Pressure + L1Pc

..
Intake
Pressure Intake Pressu;re =ft.Q,S;N)

.iJS!Wl~ 34

Aplikasi A-S-N pada Sumur Pompa


Sucker Rod

JT~i-· 1~ 1-7""-~a
U.J l.UI\. 1-UI ~ N
l t,.;...,
0 ~"-e~A.1-... •
£. 1'£.U •

P-intake = a + bq

a= (1/Ap){Wf + G.1273(SGj)lNr -
0.5063(SF)Wr .. 0.25T(SF)Atrj

h = Wr.N{1+0.562S(SF) +(1-0.5625(Sf'))(r/p)V
(56400.KAp)

35

Aplikasi A-S-N Pada Gas Lift, ESP, SRP Page 11


Aplikasi A-S-N pada Sumur Pompa
suclter Rod

Untuk harga S tertentu :

P-intake = a + cq2

a= (1/Ap)(Wf + 0.1273(SGj)Wr -
D.5063(SF)Wr - 0.25T(SF)Atr}

c = Wr{1-0.5625(SF) +(1-0.5625(SF))(c/p)V
\ V...L•v..a.-.. A""'c;:\
14t:::.1?mn /-'V/

36

Aplikasi A-S-N pada Sumur Pompa


Sucker Rod
Konversi Flow Rate :

VF= WC+ (1-WC)Bo + GIP{GLR-(1-WC)Rs}Bg

Beban - beban pada pompa

Beban Percepatan = SN2(1+c/p)Wrf70500

;·,._..__;; . ..·::;;.;;., , ....;,,.; . -.

Aplikasi A-S-N Pada Gas Lift, ESP, SRP Page 12


: : f
f ""'
: :'
... I !
I '':'
I rald
I I
I
~\ I
I "": ~
I I
t,,i,:,.
poH Jalpns
edwod Jnwns eped N-S-'1 !Se>md'1
..

BAB IV
PERHITUNGAN EV ALUASI DAN OPTIMASI PRODUKSI DENGAN ESP
PADA SUMUR "X" LAPANGAN "Y''"'

Pengangkatan fluida reservoir ke permukaan dapat dilakukan dengan dua .


cara yaitu secara sembur alam (natural flow) dan pengangkatan buatan (artificial
lift). Cara yang kedua dilakukan apabila tekanan reservoir sudah tidak mampu
lagi untuk mengangkat fluida ke permukaan dengan laju produksi yang
diinginkan. Electrical Submersible Pump (ESP) merupakan suatu peralatan
metode produksi artificial lift yang dipakai di Sumur X. Alasan digunakannya
I

ESP dikarenakan faktor keekonomian, faktor formasi dan jumlah fluida yang akan
diproduksikan. Kemudian untuk mengoptimalkan laju produksinya, dilakukan
evaluasi dan desain ulang terhadap sumur ini. Dengan evaluasi ini dapat diketahui
apakah pompa yang terpasa11g tersebut beroperasi sesuai dengan yang diinginkan
atau tidak. Sedangkan dari perhitungan produktivitas sumur dapat mengetahui
seberapa besar kemampuan berproduksi dari suatu sumur atau potensi swnur yang
dapat dilihat dari Inflow Peiformance Relationship (IPR) .. Hasil perhitungannya
akan dibandingkan dengan kondisi operasi saat ini dan kemudian dilanjutkan
dengan perhitungan desain ulang ESP imtuk mendapatkan produksi yang optimal.

4.1. Data Sumur X


Data yang digunakan dalam perhitungan perencanaan. ulang ESP ini
diambil dari Sumur X Lapangan Y. Adapun data yang digunakan meliputi data
komplesi dan data uji produksi dari Sumur X. Tabel 4.1. di halaman selanjutnya
menunjuk~an data komplesi Sumur X.

100
16
Tabel 4.1. Data Komplesi Sumur X )

Kedalaman Sumur 2380 ft


!

Top Perforasi 2272 ft


Bottom Perforasi 2322 ft
Mid Perforasi 2250 ft
OD Casing 7 inchi
OD Tubing 2 7/8 inchi
ID Casing 6.184 inchi
lD Tubing 2.441 inchi
PSD 2172 ft
TipePompa MMU ESP W200
Kapasitas Pompa Terpasang 960-: 1640 BPD
Stage Pompa Terpasang 100 stages

Sedangk.an data uji produksi Suniur X ditunjukkan pada Tabel 4.2. di


bawah ini.
16
Tabel 4.2. Data Uji Produksi Sumur X )

IQ total 975 BFPD


Qoil 19.5 BOPD
QWater 955.5 BWPD
Water Cut 98 %
API 34.8
SFL 279 ft
DFL/WFL 1273 ft
Pwh 150 psi
spoil 0.85
\I
SG Water 1.08
'
Temperatur 250 op
\ \

Adapun .~agan alir penelitian dalam penyusunan Tugas Akhir ini


ditunjukkan di halaman selanjutnya.
Bagan Alir Evaluasi clan Optimasi Produksi Dengan ESP Pada Sumur "X"
Lapangan "Y"

Data Yang Digunakan

. Sumur: Tes Produksi:


Kedalaman Sumur, Top Qtot, Qo, Qw, WC, 0 API, SFL,
Perfornsi, Bottom Perfora.si, Mid DFL/WFL, Pwh, SGo, SGw,
Perforasi, Ukuran Casing, Temperatur dasar sumur
Ukuran Tubing, Pompa
Terpasang, Tipe Pompa

Evaluasi Pompa T erpasang

% Effisiensi Volumetris

Optimasi Produks! Dengan ESP

Kurva IPR Vogel

• Pembuatan Kurva lntake Pompa


• Qopt Berdasarkan Jumlah Stage dan HP
• Perencanaan Ulang ESP Dengan Pompa Baru

Pemilihan Peralatan Pendukung


• Protector, Motor, Kabel,
Transformer, Switchboard

Hasil Perencanaan Ulang ESP

Analisa

Selesai
4.2. Perhitungan Evaluasi Pompa Terpasang
Evaluasi dilakukan untuk menentukan presentase effisiensi pompa (%EV)
" ~1·:1,., ;. , .... j• l

untuk Sumur X dengan pompa terpasang MMU ESP W200 (400 series,,60 Hz,
3500 RPM~ Optimum Range 960-1640 BPD). Langkah-langkah perbitungan
evaluasi ESP Sumur X sebagai berikut :
~.

a. Penentuan Specific Gravity Fluida Campuran


• SGw = Water Cut x Water Sp. Gr
= 0.98 x 1.08

= 1.0584

• SGo Oil Cut x Sp. Gr. Minyak


(1 0.98) x 0.85
,, =0.01702

• SGmix SGw+ SGo


= 1.0584 + 0.01702
= 1.0754
s Gradient fluida = SGmix x 0.433
= l.0754 x 0.433
= 0.466 psi/ft
b. Penentuan Tekanan Statis (Ps)
Pc=> Tekanan Cassing diabaikan
Ps =(Mid perforasi SFL) X 0.433 X SGmix
= (2250 279) x 0.433 x 1.0754
=917.81 psi
c. Penentuan Tekanan Alir Dasar Sumur (Pwf)
Pc => Tekanan Cassing diabaikan
Pwf =(Mid perforasi DFL) X 0.433 X SGmix
= (2250 1273) x 0.433 x 1.0754
= 454.95 psi
d. Penentuan Pump Intake Pressure (PIP)
= Pwf _ (Midperfora si PSD )x Com .SG
• PIP
· 2.31ftlpsi
= 454.95 - ((2250 2172) x 1.0754 / 2.311
= 418.63 psi
e. Penentuan Total Dynamic Head (TDH)

P!Px 2.3Ift I psi


• HD =PSD-
SGmix

418.63 x 2.3 lft I psi


= 2172-
1.0754

= 1272.78 ft
8 85

2.083 (100
- } \ -Qt }
c 34.3
• Ft
lD4.&6SS

=
- )I.SS -975 }
2.083 (100
120 )4.3
l 85

2.44 ,48655

= 9.46 ft I 1000 ft

FL Ft x PSD

9 .46 x 2172 I 1000

20.SS ft

= Pwh x 2.3 lft'psi


• Pd
SGmix

l 50 x 2.3 l ft/psi
l.0754

= 322.2 ft

• TDH HD+ FL+ Pd

1272.78 + 20.55 + 322.2

1615.52 ft
\ __/

f. · Penentuan Effisiensi Volumetris (%EV}

•. ·I .,,. • .. Stage pompa = 100 stages


• Head per stage = TDH I stages
= 1615.521 ~~
= 16.16 ft I stage

Kurva Performance Curve untuk tipe MMU - ESP W200


ditunjukkan pada Gambar 4.1. di bawah ini.

~ Pump Perfonnance curve MMU. ESPW200 (1300}'Pump

l llolsilg Burst U!lits


Y"lh!:!t! !i!1D1 Jil$I
1 , li8 llertz, BO RPll, SpGr ~ 1.llO

Nomml Camg Sim


'i5 ""1>.
·
~
SIY1t limb
US I!?

1-
a...s.11we.a

-
QUI F'S' ffiheonol 200 If'
fH< liP Ell
JO ~~~~~~~~~~1-.-~~~~~~1--~~~1
1 I I f

25 Head ::
1~ l
1:

1106
0.7

i:

ll 151 0.5

:0
,, 0.3

Motor Load
0.1

...,_~~--~~~~~---.-1h-~~~~~---.-1~~~-+o

zoo 400 liOO 300 1000 1200 HOO 1600 11!00 200l

llkldal'

Gambar 4.1. Kurva Performa Pompa MMU - ESP W200

• Berdasarkan Head per stage sebesar 16.16 ft/stage, maka dari


Kurva Performance Curve untuk tipe MMU -ESP W200 diperoleh
harga laju fluida (Qzheorical) sebesar 1500 BPD.

• % EV = Qaktual x 100%
Qteor)

975
x 100%
1500

=65%
• Berdasarkan Grafik Performance Curve dengan head per stages
pompa sebesar 16.16 ft/stage, diperoleh nilai Effisiensi Pompa
sebesar 60 %.
Hasil perhitungan evaluas1 efisiensi pompa ESP terpasang ditunjukkan
pada Tabel 4.3. di bawah berikut.
Tabel 4.3. Basil Perhitungan Prosentase Effisiensi Volumetris Pompa (%EV)
MMU - ESP W200 Sumur X

~ Ps (PSI')
Qactual QtheOry EV . HP I
Pompa. Pwf(Pst')
l (BPD) (BPD) (%) (%)
~
L MMU - ESP W200 917.81 454.95 975 1500 65 60

4.3. Optimasi Produksi Dengan ESP Pada Sumur X


Dalam optimasi produksi dengan ESP pada Sumur X diawali dengan
membuat Kurva IPR, kemudian membuat Kurva Intake Pompa. Dari perpotongan
antara Kurva IPR dengan Kurva Intake Pompa didapatkan Qoptimwn berdasarkan
jumlah stages dan HP. Berdasarkan Qoptimum tersebut .kemudian dilakukan
percncanaan ulang ESP dengan menggunakan pompa baru.

4.3.1. Pembuatan Kurva IPR Vogel 2 Fasa


Dalam perencanaan ulang ESP, sebagai langkah awal adalah membuat
kurva IPR. Dengan anggapan bahwa Pb > Ps dan Pb > Pwf serta fluida yang
diproduksikan hanya air dan minyak:, maka pembuatan IPR dilakukan dengan
metode 2 fasa dari Vogel. Langkah pembuatan Kurva IPR adalah sebagai berikut :
a. Menghit.Ung Productivity Index (PI)

PI Q
Ps - Pl1f
975
917.81-454.95
= 2.11 BPD/psi
b. Menghitung Qmax Menggunakan Metode Vogel

Qmax = Q
·[1-0.f;:)-o.f;:J']
975
--=------------
!1 _ 0_2(454.95\_0_ 8(454.95) 2
]
L 917.81J 917.81

= 1384.36 BPD
c. Membuat Kurva IPR Menggunakan Metode Vogel
• Menggunakan asumsi Pwf = 400 psi

Q ~ Q=,[1 0.2 [ 1;[]-o.s [~:Jl


= usJ J -
t 0.2 [ 400 ]-- o.s [ 400
911.81 911.81
]2].
= 1053.34 BPD
• Menggunakan asumsi Pwf= 350 psi

Q ~_Q~[l - 0.2 [p;:]- 0.8 [~;rJ]


2
350 350
= 1384[1- 0.2 [
. 917.81
]- 0.8 [
917.81
J ]

=1117.72BPD
Demikian seterusnya sampai harga Pwf;;::: 0
Ha:sil perhitungan Q pada berbagai harga Pwf asumsi ditunjukkan
pada Tabet 4.4. di halaman selanjutnya.
b. Menghitung Qmax Menggunakan Metode Vogel

l (
Qmax = Q
1-0.2 - Pw/)
Ps
.. ' ' (Pw/)
-0.8 -
Ps
2
]

= -=-~~~~~~~~~---=;-
975
.r1_0·2(454.95 )-o.s(454.95 ) 1
2

L 9n.s1 911.s1 J
= 1384.36 BPD
c. Membuat Kurva IPR Menggunakan Metode Vogel
• Menggunakan asumsi Pwf = 400 psi

Q Q~,[1- 02 [ 1;[] 0.8 [~:J]


= I 384rl1 - o.2 [ 400 )- o.s [ 400
917.81 917.81~
12]
= 1053.34 BPD
• Menggunakan asumsi Pwf = 350 psi

Q Qm~[1- 0.2 [P;:J-os [P;;J]


= 1384.l. l 0.2 [ 350 ]- 0.8
917.81
r 350 ]2]
L917.81

1117.72 BPD
Demikian seterusnya sampai harga Pwf 0
Hasil perhitungan Q pada berbagai harga Pwf asumsi ditunjukkan
pada T abel 4.4. di halaman selanjutnya.
Tabel 4.4. Hasil Perhitungan Laju Produksi (Q) Pada Berbagai Harga Pwf

Pwf(Psi) Q(BPD)
917..81 0.00

900 47_93
850 178.05

800 301.60

750 418.57

700 528.98

650 632.80

.'. 600 730.06

550 '320./4

500 904.84

454_95 975.00
450 98238

250 1226.77

200 1271.44

150 1309.53

100 1341.04

50 1365.99

0 1384.36

• Memplot Harga Q Vs Pwf Asumsi


Hasil plot harga Q vs Pwf asumsi ditunjukkan pada Gambar 4.2. di
halaman selanjutnya.
0 !~) .!00 .100 ..!00 Sf.)(J. 600- 700 300 900 IOCA') 1100 1200 1300 1400

Gambar 4.2. Kurva IPR Sumur X

4.3.2. Pembuatan Kurva Intake Pompa


Pembuatan kurva intake pompa dirnaksudkan untuk menentukan laju alir
optimum berdasarkan jumlah stages dan horse power dimana laju alir tersebut
seharusnya masih berada dalam kapcsitas laju produksi yang direkomendasikan.
Langkah - langkah pembuatan kurva intake pompa adalah sebagai berikut:
1. Memilih tipe pompa yang sesuai dengan ukuran casing dan laju produksi
yang diinginkan, pompa yang dipilih adalah pompa Iy!MU - ESP DN 1100
(400 series, 60 Hz, 3500 RPM, Optimum Range 540- 1220 BPD)
2. Menentukan densitas flui<la campuran
Prsc = 350 x WC x SGw + 350 (1-WC) SGo
= (350 x 0.98 x 1.08) + (350 (1 - 0.98! x 0.85)
= 376.40 lb/STB
3. Memperkirakan berbagai asumsi laju produksi;· menentukan tekanan
discharge (P2) dan head J stage pada berbagai asumsi laju produksi.
Misalkan Q = 500 BPD
• Penentuan P2
P~f = Ps-(Q I PI)
= 917.81 - (500 J 2.11)
= 680.44 psi
PIP , = Pwf _ (Midperforas~ - PSD )x SGmix
2.3 lft I psi

= 680.44-· (2250-21,72)x 1.0754


2.31ft I psi
= 644.13 psi
HD PSD- P/Px 2.31/t I psi
SGmix
= 2172 _ 644.13x2.31ft/ psi
1.0754
= 788.41 ft

=
100)1.Jl.5( Qt
2.083 ( -
c
-j
34.3
.
'\!85

Ft ID4.s6ss

JOOJ1.ss(500 )1.ss
=
2.083 - (
120
-
34.3
2.4414.8655

= 2.75 ft I 1000 ft
FL =Ftx PSD

= 2.75 x 2172 I 1000 ft


= 5.97 ft
Pd = Pwh x 2.31
SGmix

150 x 2.3 l ft/psi


1.0754

322.2 ft

TDH HD + FL + Pd

= 788.41 + 5.97 + 322.2

= lll6.58ft

L).p = TDH x Gf
= 1116.58 x 0.466

= 519.94 psi

P2 =PIP+ l\P

= 644 .13 + 519. 94

1164.07 psi

• Penentuan Head J Stage


Head I stage didapat dari kurva performen pompa yaitu 27.4 ft/stage.
Kurva Performa Pompa MMU ESP DNl 100 ditunjukkan pada
Gambar 4.3. di bawah ini.

Pump Perfonnance Curve MMU ·ESP DN1100 Pump


1 ~. ~·Hmtz, l.'i!l@RPU, Sf&= t.llli

llollsili Oill'St u11ls Sltalll.11111$


··n.w.a 5MI P.i ~ il5 'IP
S.-.. Th!..00 6000 P51 · HShconol 200 HP
~ ~B

35 -....--------+-------------------, n.9
M111mim

0.8
30

25
HC8d
0.$

20 '0.5 •.

u; 04 t
vJ t':
r:
10

t:'.

600 1200 1400 1600

Gam~ar 4.3. Kurva Performa Pompa MMU - ESP DNl 100

4. Mengasumsikan jumlah tingkat pompa yang bervf,U'iasi (40, 50, 60, 70. 80.
90, dan 100 stages) dan menentukan tekanan intake '(P3) pada setiap laju
produksi asumsi danjumlah tingkat pompa.
Misalkan Q = 500 BPD, asumsi jumlah stage 40 stages, maka :
P3 P2 -[ P.fsc x h
808.3141..l
lst
• ' •. I ~ ~ I '

= 1164.07 [376.40x 27.4140


808.3141 ~
=653.71 psi
Hasil perhitungan tekanan intake pompa pada masing-masing jumlah
tingkat pompa ditunjukkan pada T abel 4.5. di bawah ini.
Tabel 4.5. Pump Intake Pressure Setiap Stages Sumur X
MMU-ESP DNllOO

pj (fl'si)
Qasumsi P2
H
(ftlstage) 40 50 60 70 80 90 100
{BPD} (Psi)
Stages Stages 'Stages Stages Stages ·Stages Stages
.. . '!.

600 l l65.20 27 662.29 536.56 4l0.84 285.t: 159.38 33.65 -92.07

800 1167.96 26.5 674.36 550.96 427.57 304.17 180.77 57.37 -66.03

1000 1171.37 24.S 715.03 600.94 486.86 372.77 258.69 144.60 30.Sl

1200 1175.4\ 20 802.89 709.76 616.63 523.SO 430.37 337.23 244.10

1300 1177.67 17 861.02 781.86 702.70 623.54 544.38 465.21 386.05

1400 1180.07 11 975.18 923.96 872.74 821.52 770.30 719.07 667.85

5. Memplot teka~~ intake pompa (P3) terhadap laju prod~si untulc masing-masing
jumlah stage pompa dengan skala yang sama pada kurva IPR yang telah dibuat
sebelumnya, ditunjukkan Gambar 4.4. di halaman selaajutnya.
r
i.000

l
. 800

700
·l)li'JX
..... , r.:itt•

600

"'
~ 500
.,.:
:::::
.:.. ·.k."'-0 -rost
.,.,,

/~~··'.·:··,,...
300 -705t

l 200
. :· 1
;~;,·
-<II,_ 80Sl

I 100
. .
· 90St

l 0
<100 500 600 700 800 900 1.000 1100 1200 1300 1400 1500
lOOSl

I Gambar 4.4. Kurva IPR Vs Pump Intake Pressure Sun-mr X


Q.RJ>I>

6. Membaca harga laju produksi pada setiap titik perpotongan antara kurva
pompa intake dengan kurva IPR. Untuk setiap laju produksi, baca Hp/stage
yang dibutuhkan dari kurva performance pompa, kemudian hitung, HP total
dengan pcr·samaan HP = hp Yfsc St.
Misalkan dari perpotongan garis pump intake pressure dengan IPR untuk 70
stages diperoleh Q = 1045 BPD dan dari kurva performa pompa diperoleh
hp/stage sebesar 0.3 HP/stage maka:
HP total = SGmix x hp x St
= 1.0754 x 0.3 x 70
= 22.58 HP
Perhitungan lengkap HP total untuk setiap jumlah stage ditunjukkan pada
Tabel 4.6. di halaman selanjutnya.
Tabel 4.6. Horse Power Requirement Setiap Stages

St Qopt hp/stage HP
(stages) (BPD) (HP) {HP)

0.245 10.54

50 815 0.28 15.06

60 953 0.285 18.39

1115 0.3 25.81

90 1170 Q.3 29.04

100 1215 0.29 31.19

7. Plot Iaju produksi terhadap nomor stage dan HP yang dibutuhkan,


ditunjukkan pada Gambar 4.5. di bawah.

1400

§::
·- : : ---f---~------
goo
l
/

~
6
wo ~ I

lOIJ

0 2() 4() 60 3() JOO 120 140

Gambar 4.5. Kurva Qpossible Vs Stages dan HP


8. Laju alir maksimal target sebesar 80 % dari laju alir maksimal, yaitu:
Qtarget = 801100 x Qmax
= 80/100 x 1384.36
1107.49 BPD

· Berdasarkan Kurva Intake Pressure dengan batasan laju produksi yang


diinginkan (Qd) tidak boleh > 80% laju produksi maksimal (Qmax = 1384.36
BPD, sehingga Qd = 1107.49 BPD) maka didapatkan Qopt 1045 BPD dengan
"
Pwf = 406.12 Psi pada 70 stages dan HPtotal sebesar 22.58 HP. Sehingga :

•%EV = Qopt x100%


Qtarget

= 1045 x 100%
\ 107.49
94.36 %
• Berdasarkan kurva performa pompa, didapa~an nilai efisiensi pompa
sebesar 63 %.
Tabel 4.7. di bawah ini menunjukkan hasil penentuan Qoptimum dan nilai
efisiensi pompa MMU - ESP DN 1100.
Tabel 4.7. Hasil Penentuan Qopt dan % EP Berdasarkan Perhitungan
Intake Pompa MMU - ESP DNllOO

Ps Pwf Qopt EV EP
I Pompa
~ (Psi) (Psi) (BPD) {°lo} (%)
,,
' lMMU-E.SP '
1
DNl 100
917.81 ~ 406.12 1045 94.36 63
1
'
I I

4.3.3. Perencanaan Ulang ESP Sumur X Dengan Pompa Baru


Pada optimasi produksi ini dilakukan dengan merencanakan ulang pompa
ESP dengan menggunakan pompa baru berdasarkan ketersediaan pompa di
Japangan. Perhitungan dilakukan pada jumlah stages 70 stages yang memiliki laju
alir sebesar I 045 BPD karena jumlah stages ini memi.Iiki laju alir yang paling
mendekati kriteria dimana Iaju alir maksimal target tidak boleh > 80% Iaju alir
maksimal.
I. Penentuan Pump Setting Depth (PSD)
(Pc => diabaikan)

a. PSD,;, = WFL + [ ~;]

PSDmin = 1273+[-
0
-J
0.466
= 1273 ft

b. PSD.n = midperforasi -[ ~;]

PSDmax = 2250-[-
0
0.466
-J
2250 ft
c. Perkiraan Pump Setting Depth optimum untuk sumur adalah ± 150 ft
di atas Top Perforasi
PSDoptimum Top Perforasi - 150
=2272-150
= 2122 ft
2. Menghitung Pump Intake Pressure (PIP)
PIP = P·wf _ ( Midpeiforasi - PSD )x SGmix_
2.3 ljl I psi

= . (2250 2122)x 1.0754


406 12
2.31/t I psi
= 346.53 psi
3. Menghitung Total Dynamic Head (TDH)

• HD = PSD- P!Px 2.3


SGmix
= I 22 _ 346.53 x 2.31.ft I psi
2
l.0754
= 1377.65 ft

( JOOJl.&S(- Qt )US
2.0831--
= \ c 34.3
• Ft ID4.865S
100)1.SS(l045'\.LS)
2.083 ( -
120
-1
34.3 I
2.44 l4.S655

= 10.75 ft /1000 ft
FL =Ft x PSD
10.75 x 2122 / 1000
22.82 ft
= Pwh x 2.31 ft/psi
• Pd
SGmix
= 150 x 2.31 ft/psi
\.0754
= 322.20 ft
• TDH HD + FL + Pd
= I 3 77 .65 + 22.82 + 322.20
= 1722.67 ft
4. Optimasi Ukuran Komponen
a. Pem~lihan Protector (Seal Section)
· Protektor yang dipilih berdasarkan Tabel C.1. (Lampiran C) adalah
Protector 66L (400 series). Pada Seal Sectton ini membutuhkan HP
sebesar 1.77 HP berdasarkan kurva HP versus -YDH di Gambar B.4.
(Lampiran B). Jadi total HP yang dibutuhkan :
HP motor =stages x HP/stage x SG
= 70 x 0.3 x 1.0754
= 22.58 HP
HP total HP motor + Seal Section HP
22.58 + 1.77
24.35 HP
b. Pemilihan Jenis Motor
Pemilihan motor dipilih berdasarkan tenaga (HP) yang dibutuhkan
pompa dan ketersediaan motor. Maka dari Tabel C.2. (Lampiran C)
dipilih:
Series = 456
HP ." ,. = 25 HP
I' .
Voltage 420 Volt
,;1j1l:!i!!l•i\·f·\.•!'''

Ampere = 38 Ampere
Sehirigga ampere yang dibutubkan adalah :
Ampere @ 24.35 HP =tot HP/HP motor x ampere motor
= 24.35 I 25 x 38
37.02 Ampere
c. Pemilihan Kabel Listrik
Pemilihan ukuran kabel dilakukan berdasarkan kemampuan dari arus
pembawanya. Pilih ukuran kabel dengan voltage drop kurang dari 30
volts per 1000 ft. Motor ampere sebesar 38 ampere diplot pada grafi.k
voltage drop pada Gambar B.3. (Lampiran B), mak.a didapat kabel #4
AWG yang memiliki voltage drop @ 68 °F sebesar 17 .2 ft! 1000 ft.
Kabel operating temperature didapat dari hasil plot autara ampere
motor (38 ampere) dan BHT (250 ()F) pada gr.afik #4 AWG Solid
Round Cable dj Gambar B.5. (Lampiran B) sehlngga <lidapat
temperatur sebesar 265 °F. Pada tabel Conductor Vo(tage Drop pada
berdasarkan Gambar B.3. (Lampiran B), dicari correction factor
pada temperatur 265 °F yaitu sebesar 1.431. Voltage Drop (motor 38
ampere) setelah koreksi temperatur dapat dihitung sebagai berikut:
• Panjang kabel yang dibutuhkan PSD + 100 ft
= 2122 + 100
2222 ft
= voli.drop@68° F x PanjangKabel xcorr.factor
• Volt. drop
1000
17.2x2222x 1.431
=------
1000
= 54.69Volt
Tipe kabel yang dipiJih berdasarkan Tabel C.3. (Lampiran C) yaitu 3
KV Round Cable Galvanized Armor (340 °F temperature rating) tipe #4
solid.
d. ·Pemilihan Transformer dan Switchboard
Dalam pemilihan Transformer, kita harus menghitung surface voltage
dan total KV A terlebih dahulu.
• Surface voltage = motor voltage + voltage drop
:::: 420 + 54.69
474.69 Volt
= SV x motorampere x 1.73
• KVA
1000
474.69x 38x 1.73
=------
1000
= 31.21 KVA
Menentukan ukuran transformator dilak:ukan dengan tabel pemilihan
transformator pada Tabel C.4. (Lampiran C), maka didapatkan pada
31.21 KV A pemilihannya harus lebih besar dari KV A total yang
dibutuhkan yaitu 50 KVA.
Untuk memilih switchboard maka harus dipilih yang mempunyai
kapasitas lebih besar dari kapasitas yang dibutuhkan (474.69 Volt,
24.35 HP, 37.02 Ampere). Sehingga dari Tabel C.5. p8.da Lampiran C
dipilih switchboard tipe DPH. 2 Jenis 72 Ukuran 2 Tegangan
maksimurn 600 Volt, 25 HP, 50 Ampere.
e. Perhitungan Pembuktian
Perhitungan ini dilakukan untuk membuktikan bahwa motor yang
dihidupkan (start) dengan transformator, kabel, switchboard yang
dipilih.
• Kebutuhan Start = 0.35 x voltage rating-·
0.35 x 600
= 210Volt
• Kehilangan tegangan saat start = 3 x cable voltage drop
"
= 3 x 54.69
= 164.07 Volt
Tegangan yang tersedia 600 volt, lebih dari tegangan yang diperlukan
saat awal start yaitu 210 + 164.07 = 374.07 volt. Sehingga
kesimpulannya semua peralatan yang dipilih dapat berjalan.
Hasil perhitungan optimasi produksi dengan ESP menggunakan pompa
barn tipe MMU - ESP DNI 100 pada Sumur X ditunjukkan pada Tabet 4.8. di
bawah.
Tabel 4.8. Hasil Perhitungan Optimasi Produksi Dengan ESP Pada Sumur X
Menggunakan Pompa Baru

Parameter MMU - ESP DNllOO


Qopt 1045 BPD
Stages 70 Stages
%EV 94.36%
%EP 63%
PSD 2122 ft
PIP 346.53
TDH 1722.67
Protector (Seal Section) Protector 66L (400 series)
Motor series 456
Motor HP 25HP
Motor Volts ' 420 Volts
Motor ampere 38 Ampere
-
3 KV Round Cable Galvanized Armor
Kabel (340 °F temperature rating) tipe #4
Transformator SOKVA
1 Switchboard
DPH. 2 Jenis 72 Ukuran 2 (600 Volt, 25 HP, 50 A)

'· \\
DAFTAR PUSTAKA

1. ARCO, Pump Course, Super School, Dallas, Jan, 1982,

2. Beavers, J., "Application of Electric Submersible Pumps in Hostile

Environments", Pet. Eng. International. March 15, 1983.

3. Brown, K.E., Ed., "The Technology of Artificial Lift methods". Vol 1, The

Petroleum Publishing, Co., Okla 1980.


4. Brown, K.E., Ed., "The Technology of Artificial lift methods". Vol 2b, The

Petroleum Publishing, Co., Okla 1980.

5. Brown, K.E., Ed., "The Technology of Artificial Lift methods". Vol 4, The
Petroleum Publishing, Co., Okla 1984.
6. Centrilift, Submersible Pump Handbook, 3rd Ed, 1981

7. Devine, D,L, "Variable Speed Submersible Pumps Find Winder Application",

OGJ, June 11, 1979.


8. langitan, F.B., "High Volume Submersible Electric Pumps Desing Consideration

And operation", PT Caltex, June 1974.


9. Legg, LV., ~'Sumbmersible Pump", part 1,2,3,4, OGJ, July 9, July 23, Aug. 27,
1979.
10. Reda Submersible Pump Catalog, Bartleville, 1982.

11. Sam Meek, Personal Communication, Ceritrilift, PT Inti Jatampura, Jakarta.

12. Winkler, H.M., "Desien of Artifical Lift Svstems Course for ARCO". Jakarta,
Indonesia, 1980.

.
' .

Pustaka Page 1