Anda di halaman 1dari 28

KATA PENGANTAR

Penulis mengucap syukur atas penyertaan Tuhan untuk segala sesuatu


yang telah diberikan-Nya baik kesehatan, kesabaran dan juga kemudahan
sehingga dalam pembuatan makalah dalam mata kuliah Dogmatika 2 dapat
berjalan lancar sehingga dapat terselesaikan. Penulis juga berterima kasih kepada
Pdt.Dr Keloso S Ugak selaku dosen yang mengampu mata kuliah Dogmatika 2
ini atas bimbingan, arahan dan tugas yang telah diberikan sehingga dengan tugas
yang telah diberikan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang
bereklesiologi dan juga pandagang tentang sebuah acara adat.

Dalam penulisan makalah ini pasti terdapat kesalahan dalam pengetikan,


pemilihan kata meskipun penulis sudah bekerja keras dan juga teliti agar tidak
terjadi kesalahan. Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi orang lain
yang membacanya.

Banjarmasin, Desember 2017

Penulis

1
Daftar Isi

Kata Pengantar ........................................................................................................... 1

Daftar Isi..................................................................................................................... 2

Bab I Pendahuluan .................................................................................................... 3

Latar Belakang .......................................................................................................... 3

Rumusan Masalah ..................................................................................................... 3

Tujuan Penulisan ........................................................................................................ 4

Bab II Pebahasan ....................................................................................................... 5

A.A.1 Suku dayak, adat dan kebudayaannya


....................................................................................................................................
5
A.2 Anggota Jemaat GKE dan pendeta ..................................................................... 6
A.3 Injil dan adat ....................................................................................................... 8
A.4 Adat dan peraturan gereja .................................................................................. 10
B. Bereklesiologi di jemaat asal. ............................................................................... 14
B.1 Menggambarkan berbagai persoalan yang ada di kampung di mana jemaat
berada ........................................................................................................................ 14
B.2 menggambarkan beberapa persoalan yang ada di dalam jemaat saat ini ........... 16
B.3 Tugas panggilan atau misi gereja secara internal .............................................. 20
B.4 Seperti apa semestinya pelaksanaan tugas panggilan atau misi gereja dalam
menjawab persoalan yang ada di jemaat ................................................................... 21

Bab III Penutup ......................................................................................................


28

Daftar Pustaka ........................................................................................................... 29

2
Bab I Pendahuluan

Latar Belakang

Dalam penulisan makalah ini aakan di bahas lebih jelas tentang bagaimana
seoarang pendeta melayani mengalamai keraguan karena harus menggunakan
darah dan berbagai macam kelengkapan adat lainnya. Dengan pemperhatikan
ajaran GKE tentang hubungan antara injil dan adat dan peraturan GKE No.36
tahun 2016 tentang pedoman mengikuti dan melaksanakan acara adat bagi warga
GKE. Dalam makalah ini penulis akan memberikan pertimbangan mengenai apa
yang harus di lakukan oleh seorang pendeta. Dan juga dalam makalah ini penulis
berupaya bereklesiologi secara kontekstual yaitu dalam koteks jemaat Kandui.

Rumusan Masalah

1. Apa itu Suku dayak, adat dan kebudayaannya?


2. Apa dan bagaiman seharusnya Anggota Jemaat GKE dan pendeta?
3. Bagaimana Injil dan adat?
4. Bagaimana Adat dan peraturan Gereja?
5. Seperti apa dan bagaimana gambaran berbagai persoalan yang ada di kampung
di mana jemaat berada?
6. Seperti apa dan bagaimana beberapa persoalan yang ada di dalam jemaat saat
ini?
7. Apa tugas panggilan atau misi gereja secara internal?
8. Seperti apa semestinya pelaksanaan tugas panggilan atau Misi Gereja dalam
menjawab persoalan yang ada di jemaat?

Tujuan Penulisan

1. Mejelaskan apa itu Suku dayak, adat dan kebudayaannya.


2. Menjelaskan apa dan bagaiman seharusnya Anggota Jemaat GKE dan pendeta.
3. Mejelaskan bagaimana Injil dan adat.
4. Menjelaskan bagaimana Adat dan peraturan gereja.

3
5. Menjelaskan seperti apa dan bagaimana gambaran berbagai persoalan yang ada
di kampung di mana jemaat berada.
6. Menjelaskan seperti apa dan bagaimana beberapa persoalan yang ada di dalam
jemaat saat ini
7. Menjelaskan apa tugas panggilan atau misi gereja secara internal.
8. Mejelaskan seperti apa semestinya pelaksanaan tugas panggilan atau misi
gereja dalam menjawab persoalan yang ada di jemaat.

4
Bab II Pembahasan

A. A. 1 Suku dayak, adat dan kebudayaannya.

Jemaat GKE di tanah Dayak. Suku-suku yang hidupnya masih sangat


sederhana suku dayak tersebar di seluruh pulau kalimantan, kebanyakan berdiam
di daerah pedalaman dan tidak banyak mendiami daerah pesisir. setiap suku dayak
memiliki bahasa daerah masing-masing, bahkan bahasa daerah dari suku yang
berada di daerah yang letaknya tidak jauh, juga berbeda. Suku dayak walau
bertempat tinggal tersebar di seluruh pulau kalimantan, namun secara batin
mereka tetap merasa satu jarak tidak mampu memisahkan benang merah ikatan
batin diantara mereka. ikatan batin tersebut pun tidak mampu memisahkan lintas
batas negara. Suku Dayak di daerah Kalimantan wilayah Indonesia dan suku
dayak di daerah kalimantan Utara, yang bukan menjadi wilayah Indonesia, tatap
terikat dalam satu ikatan batin yang kuat. Dayak idetntik dengan perkampungan
dimana jarak dari satu kampung ke kampung lainnya, pada umumnya berjauhan
dan terpencar. Begitu pula letak rumah-rumah penduduk biasanya terpencar-
pencar. Beberapa kumpulan dari kampung kecil menjadi sebuah kampung bear,
atau dapat juga dikatakan bahwa sebuah kampung besar terdiri dari beberapa
kampung kecil. Hal ini terjadi disebabkan karena tuntutan kebutuhan. Pada
umumnya, alasan pendirian kampung berdasarkan kesuburan tanah, atau
banyaknya hasil hutanyang dibutuhkan, juga pada daerah yang banyak ikannya.

Suku dayak memiliki adat dan kebudayaan yang berbeda-beda di setiap


wilayahnya. Tanah dayak merupakan suatu tempat atau kumpulan orang-orang
yang pada awalnya masih beragama suku dan kental sekali dengan kepercayaan-
kepercayaan terhadap nenek moyang dan sangat kental dengan adat dan juga
kebuyaan di mana mereka tinggal. Orang-orang dayak juga di kenal dengan
orang-orang yang memiliki tingkat kerja sama yang tinggi antara satu dengan
yang lainnya, contohnya saja mereka saling bergotong royong dalam membuat
ladang dan juga mereka saling tolong-menolong dalam berbagai acara adat yang
akan mereka laksanakan bersama. Bagi orang-orang kristen yang berada di tanah

5
dayakpun masih percaya dengan adanya roh-roh leluhur dan juga masih
melaksanakan adat yang di anut oleh agama suku. Contohnya saja masyarakat
dayak masih melakukan yang namanya memalas tiang dengan menggunanakan
darah, ini merupakan suatu adat dan kebudayaan yang dimiliki orang orang dayak
khusunya agama suku. Adat bagi orang dayak bukan saja peraturan dan kebiasaan
yang mengatur hubungan antar sesama manusia teatpi mempunyai pengertian
yang lebih luas. Di tanah dayak juga kepercayaan masyarakat masih sangat
berpengaruh contohnya saja dalam mendirikan sebuah bangunan rumah, mereka
menyediakan bebagai macam jenis benda-benda dan untuk mengawali pendirian
tiang tersebut, disipakan sejumlah kelengkapan adat, yaitu darah ayam di dalam
mangkok yang diletakan bersama-sama dengan beras dan buah kelapa serta
sejumlah kelengkapan lainnya di dalam suatu baskom. Benda-benda yang
disediakan tersebut memiliki makna yang berbeda-beda menrut kepercayaan
mereka, misalnya darah ayam. Mengapa harus menggunakan darah? Karena darah
bagi mereka adalah lambang hubungan antar mahkluk dan antar manusia serta
dipercaya berfungsi mendinginkan dan menetralisir. Beras mempunya arti khusu
bagi orang dayak dimana beras mempunyai peran sebagai media komunikasi antar
manusia dengan Raying Hatalla. Itulah sebabnya dalam upacara adat, beras tidak
pernah ketinggalan.1

A.2 Anggota Jemaat GKE dan pendeta

Menurut kesaksian perjanjian baru jemaat adalah suatu kesatuan yaitu satu
kesatuan antara Kristus dengan orang-orang pilihannya. Kesatuan yang dimaksud
ialah Tubuh Kristus dan dalam perjanjian baru juga dikatakan bahwa jemaat
adalah Rumah Rohani (1 Pet. 2:5) atau bangnan Allah dalam Roh (Efs. 2:21).
Jemaat juga merupakan suatu persekutuan yang kongkrit, sama konkritnya dengan
persekutuan-persekutuan lainnya di dunia ini. Dimana persekutuan yang
memunyai anggota-anggota, aturan-aturan dan juga mempunyai susunan yang
tertentu maupun yang lain-lain. Jemaat yang terpanggil, bukan saja untuk

1
Cilik Riwut Sanaman Mantikey, Maneser Panatau Tatu Hiang: menyelami kekayaan
leluhr (Palangka Raya : PuasakaLima, 2003), 60-102.

6
mengaku, tetapi untuk bersaksi, karena Tuhan menghendaki, supaya semua orang
beroleh selamat (1 Tim. 2:4)2. Lain halnya dengan seorang pendeta. Dimana
peneta adalah seorang yang menjalani tugas kependetaan dengan memimpin,
melayani dan tugas lain yang selanjutnya disebut pelayanan pendeta bagi jemaat.
tugas pendeta ini adalah sesuatu yang merupakan tututan dari anggota jemaat
maupun dari pernyataan firman Allah. Pendeta dikatakan Gembala yang baik.
Dimana seorang gembala yang baik memberikan nyawanya dengan sukarela
untuk menebus domba-dombanya supaya mereka boleh dilepaskan dari kematian
kekal dan mempunyai hidup yang kekal. Pelayanan yang dilakukan oleh pendeta
tidak hanya dalam kesukacitaan tetapi juga dalam kesusahan, kedukacitaan dan
kesakitan karena dlam keadaan demikianlah jemaat membutuhkan pertolongan,
hiburan dan juga dukungan. Dari peryataan itu dapat disimpulkan bahwa
keteladanan, pengorbanan dan penyediaan waktu dalam tiap keempatan itlah inti
tugas pendeta. Ada sisi lain dari seorang pendeta dimana di dalam kehidupan
seorang pendeta yang tidak bisa dilepaskan dari dirinya adlah kemanusiaannya.
Pendeta adlah seorang manusia. Seorang manusia yang mempunyai kebutuhan
dan hak azasi sebagai manusia. Pasal-pasal deklarasi hak azasi manusia
menyatakan bahwa manusia berhak hidup, mendapat pekerjaan yang sesuai
dengan bakatnya, dan mempelajari apa yang dia inginkan. Karena seorang
mempunyai hak untuk belajar, bekerja, menikah, beribadah, mempunyai agama,
berpolitik dll. Dalam menjalankan pelayanannnya, kemanusiaan dan juga
kependetaan seorang penddeta berjalan beriringan dlam tetrang pekerjaan Allah.
Pun di dalam pribadi Yesus, “manusi dan Allah bertemu dlam pribadi itu tanpa
persimpangan, tanpa jabatan. Kemanusiaan dan ke-Allah-an tidak bertentangan.
Kemanusiaan terbuka sehingga Allah mampu bersemayam didalamnya”. Tetapi
keyaatan yang terjadi sekarang ini adalah. Jemaat sangat menekankan pelayanan
pendeta. Kemanusiaan pendeta sering tenggelam dan dilupakan. Jemaat

2
J.L.CH. Abineno, Djemaat (Djakarta: Badan Penerbit Kristen,1965), 9-21.

7
beranggapan bahwa aktivitas-aktivitas kemanusiaan di luar pelayanan yang sudah
lazim adalah prlaku ynag dapat menggu citra kependetaan.3

Berkenaan dengan Fungsi imamat yang bersifat pelayanan kependetaan


(‘ministerial priesthood”) luther menyebutkan delapan tugas yang ekssplisit di
dalam concerning the Ministry, 1523, ia menunjukan bahwa yang utamanya
fungsi-fungsi seorang imam adalah sebagai berikut: mengajar, berkhotbah dan
memproklamasikan Firman Allah, membatis menguduskan atau
menyelenggarakan ekaristi, mengikatkan dan melepaskan dosa-dosa, nerdoa bagi
orang lain, mempersembahkan korban, dan menilai semua ajaran dan roh. Tetapi
yang paling utama dan terutama dari semua itu ialah yang diatasnya segala
sesuatu bergantung adalah pengajaran Firman Allah. Luther lebih lanjut
menjelasakan bahwa pelayanan Firman ini tidak terbatas pada beberapa orang
percaya, dan bahwa pelayanan itu seharusnya tidak dilihat hanya hak namun juga
sebagai tugas dari setiap orang percaya. Tugas pertama dari pelayanan Firman,
karena itu adalah umum untuk seluruh orang kristen. Terlihat jelas dari I petrus
2:9, “ kamu adalah suatu imamat yang rajani sehingga kamu dpat menyatakan
perbuatan-perbuatan ajaib dari Dia yang memanggil kamu keluar dari kegelapan
ke dalam terang-Nya yang ajaib”.4

A.3 Injil dan adat


Empat kitab injil (Matius, Markus, lukas dan yohanes) menampilkan
beragam macam catatan tentang hidp dan ajaran Yesus Kristus. Dalam injil matius
berisikan tentang hidup dan ajaran-ajaran Yesus. Injil ini juga berbicara tentang
apa artinya menjadi anggota umat Allah, dan meberikan nasihat-nasihat tentang
hidup yang sesuai dengan kehendak Allah. Dalam inji ini berisitentang
bagaimana Allah memenuhi janji-janji-Nya dengan mengirim Yesus menjadi
Juruselamat dunia dan ketiaka Ia mati dan dibangkitkan untuk menggenapi

3
Roliani, Upaya Memenfaatkan Kesempatan Bekerja Bagi Pendeta Di Luar Pelayanan
:suatu study tentang penggunaan hak pendeta untuk bekerja menurut pandangan anggota jemaat
GKE Buntok dan jemaat GKE bambulung, (Banjarmasin: Sekolah Tinggi Teologi Gereja
Kalimantan Evangelis, 2002), 1-2.
4
Andar Ismail, awam dan pendeta mitra membina gereja (Jakarta: PT BPK Gunung
Mulia, 2000),4-5.

8
Rencana Allah (26:1-28:20). Dalam injil markus berisi tentang bagaimana karya
Yesus, termasuk mukjizat dan penyembuhan yang dilakukan-Nya . namun di
dalam injil ini, memiliki pandangan bahwa mukjizat Yesus yang terbesar adalah
sengsara dan kematiannya yang berujung di kayu salib.sekilas tentang injil lukas
dmana injil ini berisi tentang kehidupan yesus mulai dari kelahiran Yesus Kristus
sampai pada kenaikan-Nya ke Surga. Dalam injil Yohanes pembaptis menyebut
Yesus “aanak domba Allah yang menghapus dosa manusia”(1:29). Dalam injil ini,
Yesus menggambarkan diri-Nya sendiri sebagai: mesias (4:25-26); roti hidup
(6:35); sumber air hidup (7:37-39); gembala yang baik (10:14); dia yang
membangkitkan orang mati (11:25); jalan, kebenarandan hidup (14:6); pokok
anggur yang benar (15:1). Yohanes juga menggambarkan bagaiman mukjizat-
mukjizat dengan makna yang lebih mendalam lagi yaitu melalui kata-kata dan
tindakan-tindakan Yesus dengan mengubah air menjadi anggur, meredakan angin
ribut di danau dll. Injil ini menolong untk memahami dengan lebih baik
pergumulan yang ada di antara orang-orang yang mengikut ajaran-ajaran baru
Yesus dan orang-orang yang merasa mereka tidak dapat melakukan itu dan masih
tetap setia kepada aturan-aturan hukum taurat.5 Injil berbicara mengenai
bagaimana kehidupan Yesus hingga pada akhirnya berujung pada kayu salib.
Adat adalah suatu aturan (perbuatan dan sebagainya) yang lazim diturut
atau dilakuakn sejak dahulu kala. Adat juga bisa dikatakan sebagai suatu cara
(kelakuan dan sebagainya) yang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Adat juga
merupakan wujud suatu gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya,
norma, hukum, daan aturan yang satu dengan yang lain berkaitan menjadi satu
satu sistem.6

5
Alkitab Edisi Studi, 1559-1723.
6
Aplikasi KBBI V 0.2.0.Beta (20)

9
A.4 Adat dan peraturan gereja

Peraturan GKE No. 36 Tahun 2016

Peraturan tentang pedoman mengikti dan melaksanakan acar adat bagi warga
GKE.

PASAL 1

DASAR

Firman Allah seperti tertulis dalam kitab kel. 20:3-5; Ul. 6:14; I Kor. 10:20-32;
Gal.5:20.

PASAL 2

PENGERTIAN

1) Yang dimaksud dengan adat disini ialah ritus atau kebiasaaan yang
berhubungan dengan nilai-nilai kepercayaan di luar Agama Kristen Protestan
yang dianut oleh warga GKE
2) Ciri-ciri adat yang menunjukan kepada kepercayaan yang lain itu nampak
dalam bentuk:
a. Hukum pali dan tabu
b. Pengharusan memakai unsur tertentu (sperti: darah binatang dan kurban,
sesajen) dalam acara adat.
c. Merapal mamtera atau bacaan tertentu yang menyebutkan unsur ilah atau
roh yang menyertai acara adat tersebut.
d. Minyak, benda-benda yang dianggap berkekuatan magis.

PASAL 3
PEDOMAN
1) Bagi warga GKE yang diundang untuk mengikuti acar adat menurut pasal
2, ayat (1) dan (2) di atas berlaku ketentuang:

10
a. Tidak perlu hadir kalau pihak pengundang bukanlah kaum kerabat atau
warga sekampung.
b. Bisa hadir demi menghormati dan memelihara hubungan dengan pihak
pengundang yang adalah kaum kerabat atau warga sekampung sepanjang tidak
ambil bagian dalam acara adat yng dimaksud.
c. Boleh hadir sebagai wisatawan ataupun kebutuhan penelitian.
2) Bagi warga GKE yang kebetulan adalah kepala adat di kapung itu atau
sebagian keluargannya yang belum Kristen masih memelihara adat berlaku
ketentuan:
a. Dapat ikut mengundang pihak lain untuk menghadiri acara adat itu
sedangkan untuk pelaksanaan acara adat tersebut dipercayakan kepada piahk yang
emang adalah penganut kepercayaan dari adat itu.
b. Untuk mengokohkan persaudaraan dengan sesama warga kampung dan
yang terutama sekali sebagai wujud pelayanan kasih krosten, maka warga GKE
dianjurkan ikut membantu persiapan dan pelaksanaan pesta yang menyertai acara
adat itu, baik tenaga maupun pendanaan.
3) Dalam hal membuat ukiran-ukiran, memainkan alat-alat musik atau
mengikti tari-tarian sebagai ungkapan seni budaya daerah yang menyertai acara
adat itu maka keikutsertaan warga GKE dapat dibenarkan dengan
memperhatiakan kuat/lemahnya iman jemaat setempat dan sebaiknya mendapat
persetujuan dari majelis jemaat setempat.7

Alasan/pertimbangan untuk mendukung pendapat

Berlandaskan sebuah aturan tentang pedoman mengikuti dan


melaksanakan acara adat bagi warga GKE No. 36 Tahun 2016 dimana di dalam
pasal 2, ayat 2 yaitu berisikan tentang ciri-ciri adat yang menunjuk kepercayaan
lain yang nampak dalam bentuk: pengaharusan dalam unsur tertentu (seperti:
darah binatang kurban, sesajen) dalam acara adat. Seorang yang sudah di baptis
dan menjadi kristen berati sudah siap menerima ajaran tentang Kristus. Baptisan

7
Praturan Gereja (Banjarmasin : Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja Kalimantan
Evangelis, 2016 ) 146-147.

11
merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh orang-orang kristen yang
beriman kepada Tuhan dan yang berniat bergabung di dalam Gereja. 8 Ketika
sudah di baptis secara resmi sudah menjadi anggota jemaat Kristen dan sudah siap
menerima dan mengikuti aturan-aturan yang diberlakukan di GKE seperti halnya
aturan tentang mengkuni dan melaksanakan acara adat. Seorang jemaat GKE
seharusnya tidak lagi melakukan acara adat karena adat merupakan suatu aturan
yang lazim diturut atau dilakuakan sejak dahulu kala. Adat juga bisa dikatakan
sebagai suatu cara yang sudah menjadi sebuah kebiasaan. Adat juga merupakan
wujud suatu gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma,
hukum, daan aturan yang satu dengan yang lain berkaitan menjadi satu satu sistem
ini dalam artian seseorang yang masih memeluk kepercayaan agama suku yang
masih memegah teguh adat mereka. Khususnya melaksanakan acara adat dalam
membangun sebuah rumah di mana pada saat akan meletakan tiang ke lobang
perlu adanya suatu acara yaitu memamalas darah binatang baik di tiang maupun di
lobang tersebut, di mana dalam kepercayaan agama suku darah merupaka sesuatu
yang dapat menetralisirkan dan juga darah binatang merupakan suatu lambang
hungan antar maklhuk serta lambang kedamaian. Dalam pemikiran ibrani darah
adalah tempat pusat kehidupan, atau bahkan diidetikan dengan kehidupan itu
sendiri. Darah memiliki peran mendasar dalam persembahan korban, yang dalam
masyarakat ibrani sangat Fundamental. Imam-imam dikuduskan dengan darah
(Kel. 29:19-21); darah dipercikakan kepada seluruh umat israel utuk menegakan
perjanjian dengan Tuhan (Kel. 24:8). Dalam PB darah yaitu darah Yesus
menandakan kuasa kematia-Nya utnuk menebus dosa. Dengan demikian, ketaatan
dalam kehidupan dan kematian-Nya menjadi dasar bagi perjanjian baru
(1Kor.11:23-29).9 Dalam perjanjian baru telah di ungkapkan juga tentang darah
dimana darah penebusan bagi orang-orang berdosa. Kerana hukum untuk orang
berdosa adalah kematian, dan kematian binatang sebagai ganti orang berdosa
melambangkan korban utama oleh Yesus untuk dosa umat manusia (Ibr.10:4),
kematian binatang bukanlah suatu pengganti yang memadai untuk kematian

8
Robert G. Rayburn, Apa Itu Baptisan? (Jakarta: Lembaga Reformed Injili
Indonesia,1995), 1.
9
W.R.F. Browning, Kamus Alkitab(Jakarta:PT BPK Gunung Mulia, 2014)74-75.

12
seseorang manusia berdosa pengganti itu membutuhkan kematian dari suatu
kehidupan yesus (Ef.1:7), “....oleh darah-Nya kita beroleh penebusan...”. untuk
memetraikan penebusan kita setelah kematiannya yesus naik ke surga dan melalui
darahnya sendiri ia masuk ke tempat yang kudus satu kali untuk seluruh umat
manusia dan mempersembahkan diriNya kepada Allah (Ibr 9:12,14). Karena
kematiannya, kita dapat menikmati manfaat anugrah dan rahmat dari Allah, kita
menikmati hadiratnya dan menyebut diri kita “orang-orang Kristen”.10

Mengenai persoalan yang diperhadapkan bagi penulis dimana seorang


Pendeta yang melayani mengalami keraguan karena harus menggunakan dan
berbagai kelengkapan adat lainnya. Dengan memperhatikan tugas dan panggilan
dari pendeta itu sendiri dimana seorang pendeta adalah seorang yang menjalani
tugas kependetaan dengan memimpin, melayani dan tugas lain yang selanjutnya
disebut pelayanan pendeta bagi jemaat. Tugas seorang pendeta ini adalah sesuatu
yang merupakan tututan dari anggota jemaat maupun dari pernyataan firman
Allah. Pendeta dikatakan Gembala yang baik. Dan Jemaat juga merupakan suatu
persekutuan yang kongkrit, sama konkritnya dengan persekutuan-persekutuan
lainnya di dunia ini. Dimana persekutuan yang memunyai anggota-anggota,
aturan-aturan dan juga mempunyai susunan yang tertentu maupun yang lain-lain.
Jemaat yang terpanggil, bukan saja untuk mengaku, tetapi untuk bersaksi, karena
Tuhan menghendaki, supaya semua orang beroleh selamat (1 Tim. 2:4)11.
Menurut penulis tidak pantas jika seorang penedeta melakukan sesuatu yang
bukan tugasnya seperti halnya memalas tiang dan lobang dengan darah binatang
karena hal tersebut merupakan adat kepercayaan dari agama suku yang masih
dipercayakan oleh jemaat dayak sudah di paparkan secara jelas di atas tadi bahwa
tugas pendeta adalah melayani jemaat dan menyampaikan Firman Tuhan kepada
umat, begitupun jemaat sudah dengan jelas di paparkan di atas seorang jemaat

10
https://googlewedlight.com/?lite_url=http://onlinekonseling.wordpress.com/2010/01/14/
tentang-darah-dalam-perjanjian-lama/&ei=S4uhCQvN&Ic-id-
ID&s=1&m=5&host=www.google.co.id&ts=1511516562&sig=ANTY_L0x0ynjuNUYKvngq71e
zgsHUkkaHQ. Di unduh pada 24 Nopember 2017 pukul 18:15 WITA.
11
Ibid., 9-21.

13
merupakan bagian dari kristus yang telah menjadi bagian dalam gereja dan harus
mengikuti apa yang sudah menjadi aturan yang sudah di buat.

Pendeta yang diperhadapkan dengan hal tersebut harus mengambil


tindakan yaitu dengan melimpahkan mandat yang diberikan oleh pihak keluraga
kepada orang seharusnya melakukan hal tersebut misalnya orang yang masih
memegang kepercayaan terhadap adat tersebut (agama suku) dan bisa juga tokoh-
tokoh adat setempat. Seharusnya seorang jemaat tidak boleh melakukan adat
tersebut, sangat jelas dalam peraturan GKE No.36 tahun 2016 pada pasal 3 ayat 2
dimana berisikan tentang dapat mengundang pihak lain untuk mengahdiri acara
adat itu sedangkan untuk pelaksanaan acara adat tersebutdipercayakan kepada
pihak yang memang adalah penganut kepercayaan dari adat itu. Dan untuk
mengokohkan persaudaraan dengan sesama warga kampung dan yang terutama
sekali sebagai wujud pelayanan kasih Kristen, maka warga GKE di anjurkan ikut
membantu persiapan dan pelaksanaan pesta yang menyertai acara adat itu, baik
tenaga maupun pendana.

B. Bereklesiologi di jemaat asal.


B.1 Gambarkan berbagai persoalan yang ada di kampung di mana jemaat
berada
Jemaat kandui merupakan jemaat resort yang terletak di kecamatan Gunung
Timang Kabupaten Barito utara provinsi kalimantan Tengah dan tepatnya
ditengah-tengah pemukiman warga desa Kandui, dan teletak diruas jalan negara
Muarah Teweh, Banjarmasin Kalimantan selatan yaitu di Jl. A.Yani, yaitu jalan
yang menghubungkan berbagai Desa, Kecamatan dan juga Kabupaten. Desa
kandui merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Gunung Timang. Desa kandui
berpenduduk 2.841 jiwa atau 59 kepala keluarga (KK) dengan luas wilayah 47,75
km² dengan mata pencaharian masyarakat setempat sebagai petani karet, rotan,
damar, sektor perdagangan, berkebun dan industri rumah tangga. Pekerjaan

14
masyarakat setempat yaitu, PNS, petani.12 Di desa Kandui ada berbagai persolan
yang terjadi yaitu dalam bidang perekonomian, di mana dalam bidang
perekonomian masyarakat di desa kandui mengalami krisis moneter yang di
kategorikan semakin tahun semakin meningkat dikerenakan masyarakat di desa
kandui yang merupakan petani karet. Di mana harga karet semakin tahun
bukannya semakin meningkat tetapi semakin menurun dan akibat menurunnya
harga karet tersebut masyarakat di desa kandui mengalami krisis di bidang
ekonomi. Masyarakat desa kandui juga diperhadapkan dengan persolan yang pada
saat ini sedang hangat-hangatnya yaitu perselingkuhan. Perselingkuhan antara
seorang jemaat yang sudah berkeluarga dengan perempuan non kristen yang juga
sudah memiliki keluarga. Bencana alam juga menjadi persoalan di desa kandui
sekarang di mana sering kali terjadi banjir, sehingga membuat para petani
mengalami gagal panen. Dan juga efek dari perusahaan batu bara di desa Tongka
yang dulunya sebelum perusahaan itu masuk banjir hanya terjadi satu kali dalam
setahun meskipun hujan deras. Dan sekarang sangat berbeda jauh dari pada
sebelumnya, ketika hujan deras desa kandui menjadi seperti sungai montalat
(aliran sungai yang merupakan anak dari sungai barito yang bermuara atau yang
berujung di desa Montalat di sungai barito, denagn panjang 11,25 km) yang
luasnya sama seperti sungai barito (dari kaki pegunungan Muller hingga mencapai
muara laut jawa, panjang sungai barito mencapai 900 km, dengan lebar antara 650
m hingga mencapai 1000 m13), karena seluruh pemukiman warga di desa kandui
khusus di daerah dataran rendah terkena banjir dan akibat banjir terebut
masyarakat tidak dapat bekerja dll. Yang terakhir yang menjadi persoalan di desa
kandui ialah masalah adat. Di mana masyarakat di desa Kandui kerap kali di
temukan melaksanakan acara adat. Adat yang kita tau sangat erat hubungannya
dengan agama suku. Di desa kandui adat tersebut sering kali dilaksanakan oleh
oknum-oknum yang beraga kristiani. Dalam wawancara penulis dengan ibu S
pada 1 Desember 2017 pukul 18:45-19:12 WITA, oknum-oknum yang beragama

12
https://barutkab.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/223. Di unduh pada 4 Desember 2017
pukul 18:35 WITA.
13
https://www.google.co.id/amp/s/baritobasin.wordpress.com/2008/05/26/barito-induk-
sungai/amp/. Di unduh pada 4 Desember 2017 pukul 19:50 WITA.

15
kristiani melaksanakan adat tersebut berlatar belakang usaha, yaitu berpolitik
dengan mengambil keuntungan dari pajak parkiran, pajak lapak dadu, pajak saung
ayam, pajak lapak-lapak warung dsb. Itulah persolan-persoalan yanga ada di desa
kandui dan Telah di jelaskan secara singkat beberpa persolana yang terjadi di desa
kandui pada saat ini.

B.2 Gabarkan beberapa persoalan yang ada di dalam jemaat saat ini
Persoalan yang penulis angkat dalam jemaat ialah tentang adat yang di
laksanakan oleh anggota jemaat. Menurut kesaksian perjanjian baru jemaat adalah
suatu kesatuan yaitu satu kesatuan antara Kristus dengan orang-orang pilihannya.
Kesatuan yang dimaksud ialah Tubuh Kristus dan dalam perjanjian baru juga
dikatakan bahwa jemaat adalah Rumah Rohani (1 Pet. 2:5) atau bangnan Allah
dalam Roh (Efs. 2:21). Jemaat juga merupakan suatu persekutuan yang kongkrit,
sama konkritnya dengan persekutuan-persekutuan lainnya di dunia ini. Dimana
persekutuan yang memunyai anggota-anggota, aturan-aturan dan juga mempunyai
susunan yang tertentu maupun yang lain-lain. Jemaat yang terpanggil, bukan saja
untuk mengaku, tetapi untuk bersaksi, karena Tuhan menghendaki, supaya semua
orang beroleh selamat (1 Tim. 2:4).14 Dan juga gereja sudah memiliki aturan yaitu
pedoman mengikuti dan melaksanakan acara adat bagi warga GKE yakni di
bawah ini:

Peraturan GKE No. 36 Tahun 2016

Peraturan tentang pedoman mengikti dan melaksanakan acar adat bagi warga
GKE.

PASAL 1

DASAR

Firman Allah seperti tertulis dalam kitab kel. 20:3-5; Ul. 6:14; I Kor. 10:20-32;
Gal.5:20.

14
Ibid., 9-21.

16
PASAL 2

PENGERTIAN

3) Yang dimaksud dengan adat disini ialah ritus atau kebiasaaan yang
berhubungan dengan nilai-nilai kepercayaan di luar Agama Kristen Protestan
yang dianut oleh warga GKE
4) Ciri-ciri adat yang menunjukan kepada kepercayaan yang lain itu nampak
dalam bentuk:
e. Hukum pali dan tabu
f. Pengharusan memakai unsur tertentu (seperti: darah binatang dan kurban,
sesajen) dalam acara adat.
g. Merapal mamtera atau bacaan tertentu yang menyebutkan unsur ilah atau
roh yang menyertai acara adat tersebut.
h. Minyak, benda-benda yang dianggap berkekuatan magis.

PASAL 3
PEDOMAN
4) Bagi warga GKE yang diundang untuk mengikuti acar adat menurut pasal
2, ayat (1) dan (2) di atas berlaku ketentuang:
d. Tidak perlu hadir kalau pihak pengundang bukanlah kaum kerabat atau
warga sekampung.
e. Bisa hadir demi menghormati dan memelihara hubungan dengan pihak
pengundang yang adalah kaum kerabat atau warga sekampung sepanjang tidak
ambil bagian dalam acara adat yng dimaksud.
f. Boleh hadir sebagai wisatawan ataupun kebutuhan penelitian.
5) Bagi warga GKE yang kebetulan adalah kepala adat di kapung itu atau
sebagian keluargannya yang belum Kristen masih memelihara adat berlaku
ketentuan:
c. Dapat ikut mengundang pihak lain untuk menghadiri acara adat itu
sedangkan untuk pelaksanaan acara adat tersebut dipercayakan kepada pihak yang
emang adalah penganut kepercayaan dari adat itu.

17
d. Untuk mengokohkan persaudaraan dengan sesama warga kampung dan
yang terutama sekali sebagai wujud pelayanan kasih kristen, maka warga GKE
dianjurkan ikut membantu persiapan dan pelaksanaan pesta yang menyertai acara
adat itu, baik tenaga maupun pendanaan.
6) Dalam hal membuat ukiran-ukiran, memainkan alat-alat musik atau
mengikti tari-tarian sebagai ungkapan seni budaya daerah yang menyertai acara
adat itu maka keikutsertaan warga GKE dapat dibenarkan dengan
memperhatiakan kuat/lemahnya iman jemaat setempat dan sebaiknya mendapat
persetujuan dari majelis jemaat setempat.15

Di desa Kandui yang melaksanakan acara adat yaitu adat wara (suatu rukun
kematian tingkat akhir bagi umat hindu kaharingan dari suku dayak bawo,
lawangan, taboyan, dusun, bentian di wilayah Das Barito) menurut ibu Anti ketua
majelis Resort Agama Hindu kaharingan Gunung Timang bahwa wara bukanlah
upacara adat biasa, melainkan suatu upacara ritual Agama Hindu yang
mengandung nilai sakral dan bersifat religius yang khas dari suku Das Barito.
Menurut Anti, para arwah yang di upacarai melaui ritual wara ini akan di antar ke
Gunung Lumut (gunung suci) yang terletak di wilayah Teweh Timur. Bagi suku
dayak penganut kaharingan di Das Barito,Gunung Lumut adalah tempat yang
sakral dan perlu di jaga sakralitasnya. Di dalam acara adat wara tersebut terdapat
berbagai kegitan di dalamnya yaitu “Usik Liau” adalah bentuk permainan
tradisional yang dilakukan pada saat ritual wara dilaksanakan, misalnya: saung
liau (mengadu ayam antara pihak keluarga dengan wakil dari arwah), gasing liau
(permainan gasing antara pihak keluarga dengan wakil dari arwah), seramin liau
(becermin di atas air yanga ada dalam sebuah beskom), tumuk liau (saling lempar-
lempar dengan nasi bekas/kerak nasi), tota liau (saling siram-siraman dengan air),
tarian liau (keluarga mempersembahkan tari-tarian) dsb. Dalam upacara wara
sebenarnya tidak dikenal dengan istilah judi atau perjudian yang ada hanya sejenis
permainan usik liau. Kalau saja ada judi/perjudian itu hanya disisipkan saja
dengan maksud agar lebih semarak dan menarik minat orang datang ketempat

15
Ibid., 146-147.

18
acara wara, sehingga oleh masyarakat di anggap menjadi tradisi. Permainan usik
liau seperti itu sudah berlangsung lama sejak jaman dulu kala hingga sekarang ini
tetap ada dalam pelaksanaan upacara wara. Kemungkinan terkait ada taruhan uang
di alam sebuah permainan usik liau tersebut sehingga usik liau di anggap dengan
judi, akan tetapi tidak di lakukan secara bebas-sebebasnya (terbatas) di atur oleh
hukum adat.
Usik liau merupakan simbolisasi bentuk suka cita kegembiraan para arwah
(liau) disambut oleh pihak keluarga sebagaimana layaknya manusia yang masih
hidup. Membedakan usik liau yang lajim dengan permainan judi umumnya
adalah, usik liau suatu permainan liau (arwah) yang di atur dengan baik sesuai
ketentuan adat yang mengandung nilai-nilai ritual agama dan adat. Sedangkan
permainan judi yakni berupa profesi untuk mengadu keberuntungan melalui
mempertaruhkan uang dengan resiko kalah atau menang. Sedangkan menurut
Martoloneus (Damang Kepala Adat Kecamatan Gunung Timang) adanya
kesulitan memisahkan antara usik liau yang sebenarnya dengan permainan judi
biasa dikarenakan dengan permainan judi biasa dikarenakan terkait erat dengan
adat wara dan masyarakat pun menganggapnya sebagai tradisi. Permainan usik
liau tersebut merupakan permainan tradisional yang keberadaannya sudah ada
sejak jaman dulu kala atau sejak munculnya kepercayaan kaharingan (Hindu
Kaharingan) itu sendiri.16 Wara yang yang merupakan acara adat agama hindu
kaharingan di laksanakan selama 7 hari 7 malam dan waktu menyelimat 7 hari
tujuh malam dan jika di jumlahkan lama wara itu berlangsung selama 14 hari 14
malam. Tetapi yang terjadi pada saat ini wara yang sebagaiman acara adat yang
sangat sakral dalam agama kaharingan di salah gunakan sebagai pusat usaha
sebagian masyarakat di desa kandui dan yang lebih menjadi atensi adalah seorang
anggota jemaat yang melakukan adat tersebut. acara yang di lakukan berlangsung
selamat 14 hari 14 malam tetapi berbeda dengan yang seharusnya, dalam 14 hari
14 malam ini tidak ada acara menyelimat (acara teakhir dalam wara yaitu orang-
orang membokar tulang dan menjadikannya satu d dalam sandung (rumah/peti)

16
http://stahntp.ac.id/v2/index.php/info/iu/artikel/91-permainan-usik-liau-pada-upacara-
wara-rukun-kematian-suku-dayak-lawangan. Di unduh pada 4 Desember 2017 pukul 21:00
WITA.

19
menghayutkan lating (rakit) yang di atsnya diletakan sesajen yang sudah
disiapkan).17
Masyarakat khusunya anggota jemaat seharusnya mengetahui apa itu adat
dan seharusnya juga tidak menyalahgunakan adat agama lain untuk sebuah usaha
dan juga bagaimana seorang anggota jemaat memposisikan dirinya dalam sebuah
acara adat dengan memperhatikan pedoman yang ada dalam pasal 3 peraturan
GKE. dalam mengokohkan persaudaraan dengan sesama warga kampung dan
yang terutama sekali sebagai wujud pelayanan kasih Kristen, maka warga GKE
dianjurkan ikut membantu persiapan dan pelaksanaan pesta yang menyertai acara
adat itu, abil tenaga maupun pendanaan. Bukan berarti seorang jemaat terlibat
langsung dalam acara adat tersebut dengan mengikuti ritual-ritual acara wara
tersebut.

B.3 Tugas panggilan atau misi gereja secara internal.

“Yesus mendekati mereka dan berkata: “ KepadaKu telah diberikan segala


kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-
Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
(Mat.28:18-20). Menjadi Kristen berarti kita sudah menjadi milik gereja dan harus
patuh terhadap perintah-perintahnnya. Dia sudah mejadikan gereja-Nya menjadi
suatu masyarakat Penginjil yang meluas keseluruh dunia. Dengan menginjili
setiap orang, ataupun kepercayaan yang mereka anut dan tidak toleran dan
bertentangan dengan masyarakat multi agama. Orang-orang Muslim yang sama
setiannya terhadap pertumbuhan Islam memahami komitmen Kekristen. Dalam
tanggung jawab tersebut mereka dipercayakan bisa membuat orang-orang non
Kristen bertobat, tetapi juga punya pengalaman langsung.18 misi gereja juga

17
Wawancara dengan seorang tokoh yang beragama Hindu pada 4 Desember 2017 pada
pukul 17:45-18:10 WITA.
18
Miichael Griffiths, Gereja dan Panggiannya Dewasa Ini (Jakarta: PT BPK Gunung
Mulia, 1991) 133-136.

20
bertanggung jawab dalam keselamatan manusia melalui pewartaan injil dan
pembatisan (Mrk.16,15-16) menggerakan “orang-orang gereja” (iman, bruder,
suster, kelompok awam tertentu) dari belahan bumi bagian utara untuk membawa
keselamatan sampai ke seluruh ujung bumi. Banyak kongregasi misi didirikan
untuk menyemarakan kegiatan perambatan iman kepada bangsa-bangsa sehingga
Gereja berkembang lebih ekstensif keseluruh penjuru dunia.19 Misi gereja
mencakup unsur-unsur keluar dan ke dalam. Kisah rasul memang menujukan pola
dari Yerusalem sampai ke ujung bumi. Misi gereja yang bersiat holistik adalah
misi yang bersangkut paut dengan keterlibatan sosial yaitu bagaimana
menghubungkan misi gereja dengan konteks sosial budaya setempat.misi gereja
bukan dimaksudkan sebagai suatu raid (serangan penyusupan) yang akan
membebaskan beberapa orang dari daerah yang gelap menuju ke daerah yang
terang. Misi gereja tidaklah dimaksudkan untuk membuat seseoarang percaya
terlepas atau melepaskan diri dari koteks sosial budaya. Yesus datang untuk
menyelamatkan kebudayaan, tetapi tidak berbicara sekedar tentang kebudayaan
sebagai sarana di dalam membawa orang kepada Kristus.20

B.4 Seperti apa semestinya pelaksanaan tugas panggilan atau misi gereja
dalam menjawab persoalan yang ada di jemaat.
Bereklesiologi pada dasarnya adalah upaya untuk menjawab atau
mengambarkan makna dan tugas anggilan gereja dalam jemaat, karena kata
Eclesia sendiri berarti sekumpulan orang-orang yang di panggil keluar. Ketika
eclesia di pakai atau digunakan utnuk menjelaskan makna gereja, maka eclesia
berrti persekutuan orang-orang yang di panggil dari kegelapan dosa untuk datang
mengahap dan meneriman anugrah penyelamatan Allah melalui Yesus dan Roh
Kudus namun selanjutnya di utus ke dalam dunia untuk mewartakan anugerah
penyelamatan Allah.21

19
Edmund Woga, Misi, Misiologi, & Evangelisasi Di Indonesia (Yogyakarta: Kanisius,
2009) 77.
20
Emanuel Gerrit Singgih, Berteologi dalam Konteks (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004)
163.
21
http://lewikurniawan.blogspot.co.id/2016/04/bereklesilogi-dalam-konteks-jemaat-
di.html?m=1. Di unduh pada 5 Desember 2017 pukul 23:22 WITA.

21
Berangkat dari maksud terebut, penulis kemudian mencoba melihat model
atau alat bantu yang sesuai dengan konteks bergereja di jemaat GKE kandui,
berangkat dari situasi dan kondisi deawas ini. Menurut penulis model atau alat
bantu yang tepat adalah “Gereja sebagai ambulan desa dalam konteks bergereja di
jemaat Kandui” pemilihan judul tersebut di angkat berdasarkan situasi, kondisi,
serta permasalahan yang ada pada jemaat Kandui

1. Gambaran ambulan desa secara umum


Ambulan desa adalah mobil milik warga yang secara sukarela disiagakan
untuk membantu ibu hamil yang telah tiba masa persalinannya atau ibu hamil
yang di haruskan untuk memeriksakan diri ke fasilitas yang lebih memadai dari
apa yang ada di tempat ia tinggal. Ambulan desa adalah salah satu bentuk
semangat gotong royong dan saling peduli sesama warga desa dalam sistem
rujukan kesehatan yang berbentuk lat transfortasi. Ambulan desa juga merupakan
alat transfortasi yang dapat digunakan untuk mengantarkan warga yang
membutuhkan pertolongan dan perawatan di tempat pelayanan kesehatan.

2. Peran dan fungsi ambulan desa bagi masyarakat kandui


Tujuan umum dari ambulan desa ini adalah untuk membantu mempercepat
penurunan AKI (Acute Kidney Injury), karena hamil, nifas (pendarahan) dan
melahirkan. Dan tujuan khusus dari ambulan desa ini adalah untuk mempercepat
pelayanan kegawat daruratan masalah kesehatan, bencana serta kesiapsiaga
mengatasi masalah kesehatan yang terjadi atau mungkin terjadi.22

3. Gereja sebagai ambulan desa


Pada pembahasan ini penulis tidak lupa memuat kerangka dasar dalam
berkritologi, adanya Tuhan yang memimpin dan mendirikan jemaatnya, adanya
umat yang didirikan dan pastilah umat yang sudah menyerahkan dirinya untuk
mengikut kristus akan meninggalkan hal-hal lama dengan menjadikan pengajaran

22
http://jurnalbidandiah.blogspot.co.id/2012/06/ambulance-desa-di-komunitashtml?m=1.
Di unduh pada 6 Desember 2017 pukul 0:13 WITA.

22
kritus sebagai pedoman dalam kehidupannya. Dalam jemaat pasti ada perbedaan
latar belakang baik segi suku, profesi dan latar belakang sosial lainnya. Dalam
Ambulan desa tiga kerangka dasar yang sudah tercapai. Sopir yang merupakan
orang yang dapat menjalakan, membawa dan melaksanakannya. Pasien yang di
abawa yaitu di gambarkan sebagai jemaat yang ada di dalam sebuah ambulan desa
tersebut. lalu ada suatu tujuan yang ingin di capai atau suatu tempat yang ingin di
tuju.
Selanjutnya di atas telah dijelaskan mengenai ambulan desa, peran dan
fungsinya dalam kehidupan masyarakat Kandui. Selanjutnya penulis akan
menggambarkan ambulan sebagai model bergereja yang selanjutnya disebutkan
gereja sebagai ambulan desa karena memiliki kesamaan namun tidak melupakan
pula perbedaanyang ada. Penulis akan akan memberikan gambaran bahwa ruang
gereja memiliki kesamaan di dalam masyarakat kandui.
Tidak dapat di pungkiri bahwa gereja merupakan tempat atau wadah
berkumpul umat dan di dalam perkumpulan tersebut tidak ahnya membahas
Firman Tuhan tetapi bagaiman seorang hamba Kristus yang sudah mengikuti
kristus dan mengikuti aturan dan ajaran Kristus itu sendiri dengan siap
menangung semua resiko dan kebiasaan-kebiasaan lama seperti halnya yang
menjadi permasalah jemaat desa kandui adalah dengan melaksankan adat
kaharingan dan lebih fatalnya lagi menyalahgunakan adat tersebut sebagai usaha
untuk mendapatkan keuntungan. Gereja sebagai ambulan desa dapat dipahami
sebagai suatu alat trasnfortasi bagi masyarakat desa dengan ke arah yang lebih
baik lagi, dengan adanya sesuatu yang di tuju dan adanya arahan di dalamnya.
Dalam upaya berkristologi secara kontekstual atas peran dan Fungsi ambulan
desa dalam kehidupan masyarakat desa kandui, teryata ada kesamaan dengan
gereja secara fungsional, Ambulan desa memberikan suatu layangan, bantuan, dan
juga sebagai alat transfortasi. Gereja bukan hanya sekedar memberitakan
keselamatan sorgawi dan juga ajaran dan aturan dala mengikut Kristus dan
bagaimana semestinya dan seharusnya anggota jemaat yang sudah memeluk
agama kristen dalam menyingkapi ataupun ingin melaksanakan suatu adat dan
juga tidak menyalah gunakan adat sebagai alat usaha untuk kepentingan pribadi

23
yaitu dengan mengambil unutuk dari acara adat tersebut seperti yang telah di
jelaskan pada bagian poin di ats tadi.
Mengakhiri bagian ini, penulis menyadari bahwa keterlibatan gereja terhadap
permasalahan anggota jemaat yang melaksanakan adat dan juga
menyalahgunakannya adalah bukan tugas utama dari gereja. Akan tetapi, tidak
dipungkiri bahwa gereja hadir ditengah-tengah keadaaan umat memilik hasrat
duniawi yang besar seperti dalam halnya uang, kenapa penulis mengatakan sperti
itu kareana menurut hasil wawancara orang atau anggota jemaat yang
melaksanakan adat tersebut adalah orang-orang yang meiliki pekerjaan tetap
seperti PNS, yang penulis kategorikan orang yang mampu dan meiliki jaminan
hidup. Inilah keyataannya, bahwa gereja tidak bisa tinggal diam akan
permasalahan tersebut.

4. Pelaksanaan tugas panggilan atau misi gereja dalam kontek masyarakat dan
jemaat kandui
Setelah memaparkan permasalahan dan rumusan eklesiologi, tugas penulis
selanjutnya adalah menggambarkan seperti apa semestinnya pelaksanaan tugas
panggilan atau misi gereja dalam konteks masyarakat dan jemaat Kandui.
Gereja adalah alat transfortasi yang diciptakan oleh Yesus Kristus dan di urapi
oleh Roh kudus sebagai tanda terakhir kehendak Allah untuk menyelamatkan
umatnya. Gereja juga tempat mengabrkan penyelamatan bagi duna yang
seharusnya tidak hanya dipahami sebagai keselamatan jiwa (hidup kekal) tetapi
menyelamatkan manusia secara jasmaniah sehingga mendapkan kehidipan yang
layak dan manusiawi bukan dengan menggunakan hal-hal yang berhungan dengan
kepercayaan lain.
Dalam konteks masyarakat kandui, gereja seharusnya hadir secara sadar dalam
menagatasi masalah-masalah yang muncul di tengah masyarakat. dengan
memberikan pemahaman apa itu jemaat dan bagaimana seharusnya seorang
jemaat, dan bagaimana seharusnya seorang jemaat dalam meyingkapi sebuah adat
dengan memberikan ataupun menjelaskan peraturan gereja yang sudah di tetapkan
dan juga gereja dapat mejadi gembala yang baik dengan memberikan pehaman

24
bagi jemaat agar dapat melawan hasrat duniawi yang ada diri mereka dengan tidak
menggunakan adat kepercayaan agama kaharingan sebagai suatu alat untuk usaha
dan mendapat keuntungan dari hal tersebut.

25
BAB III Penutup

Demikianlah yang dapat penulis paparkan terkait tindakan seorang pendeta


dalam adat memalas tiang dengan memperhatiakan aturan GKE dan juga upaya
berkristologi secara kontekstual dalam menjawab permasalah yang ada di
masyarakat dan juga di jemaat Kandui.

26
Daftar pustaka

Buku
Abineno J.L.CH., Djemat. Djakarta: Badan Penerbit Kristen,1965.
Alkitab Edisi Studi, 1559-1723.
Aplikasi KBBI V 0.2.0.Beta (20)
Browning, W.R.F. Kamus Alkitab. Jakarta:PT BPK Gunung Mulia, 2014.
Griffiths, Miichael, Gereja dan Panggiannya Dewasa Ini. Jakarta: PT BPK
Gunung Mulia, 1991.
Ismail, Andar, awam dan pendeta mitra membina gereja. Jakarta: PT BPK
Gunung Mulia, 2000.
Mantikey,Cilik Riwut Sanaman. Maneser Panatau Tatu Hiang: menyelami
kekayaan leluhr. Palangka Raya : PuasakaLima, 2003.
Praturan Gereja. Banjarmasin : Badan Pekerja Majelis Sinode Gereja
Kalimantan Evangelis, 2016.
Rayburn, Robert G. Apa Itu Baptisan?. Jakarta: Lembaga Reformed Injili
Indonesia,1995.
Singgih, Emanuel Gerrit Berteologi dalam Konteks. Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2004.
Woga, Edmund Misi, Misiologi, & Evangelisasi Di Indonesia. Yogyakarta:
Kanisius, 2009.

Makalah/Skripsi
Roliani, Upaya Memenfaatkan Kesempatan Bekerja Bagi Pendeta Di Luar
Pelayanan :suatu study tentang penggunaan hak pendeta untuk bekerja
menurut pandangan anggota jemaat GKE Buntok dan jemaat GKE
bambulung. Banjarmasin: Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan
Evangelis, 2002.

Internet
https://googlewedlight.com/?lite_url=http://onlinekonseling.wordpress.com/2010/
01/14/tentang-darah-dalam-perjanjian-lama/&ei=S4uhCQvN&Ic-id-
ID&s=1&m=5&host=www.google.co.id&ts=1511516562&sig=ANTY_L0x0ynju
NUYKvngq71ezgsHUkkaHQ.

https://barutkab.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/223.

https://www.google.co.id/amp/s/baritobasin.wordpress.com/2008/05/26/barito-
induk-sungai/amp/

http://stahntp.ac.id/v2/index.php/info/iu/artikel/91-permainan-usik-liau-pada-
upacara-wara-rukun-kematian-suku-dayak-lawangan.

27
http://lewikurniawan.blogspot.co.id/2016/04/bereklesilogi-dalam-konteks-jemaat-
di.html?m=1

http://jurnalbidandiah.blogspot.co.id/2012/06/ambulance-desa-di-
komunitashtml?m=1

Wawancara

Dengan seorang tokoh yang beragama Hindu ( Itak).

28