Anda di halaman 1dari 8

MENUNGGU

Bel sekolah di tahun pertama di sekolah SMP Tunas Bangsa berbunyi. Semua murid dari
kelas 3 dan 2 berkumpul di lapangan sepak bola untuk melaksanakan upacara bendera, tidak
terkecuali murid kelas 1 sebagai murid baru dan masih menggunakan perlengkapan MOS (Masa
Orientasi Siswa)
Perlengkapan MOS itu terdiri dari pot yang di tancapkan bendera di atasnya dan
dijadikan sebagai topi, tas dari karung beras bekas, dan rompi baju yang terbuat dari plastik
belang belang, tidak lupa rambut yang di kucir 2 menggunakan tali rafia bagi perempuan.
Dari sekian ratus murid ada seorang murid bernama Reni, dia murid yang biasa saja.
Wajahnya tidak terlalu cantik, namun dia punya senyuman yang manis. Dia lahir dari keluarga
yang sederhana. Rambutnya panjang hingga pinggang. Reni mempunyai tubuh yang tidak terlalu
tinggi dan Reni sangat tidak suka jika dia mencium parfum yang berlebih, karena itu bisa
membuatnya pusing. Reni masuk ke kelas barunya di 7G dan berteman dengan teman baru, di
antaranya adalah Dian, Rina, Bulan, Yeni, Yuli dan yang lainnya.
Di sekolah Reni selalu di adakan latihan BKC (Bandung Karate Club) setiap minggunya.
Namun saat latihan BKC berlangsung, tidak sengaja dia melihat sesosok pria yang tinggi, putih
dan tampan di sebelahnya. Reni tidak pernah melihatnya. Ntah mengapa setelah Reni melihat
pria itu, dia selalu memikirkannya, hingga dia mengetahui namanya, dia adalah Rangga, Rangga
Rahardian.
Di awal sekolah tidak ada kejadian yang membuat Reni terganggu hingga suatu hari
setelah pelajaran olahraga, ada teman Reni yang bernama Yeni datang menghampiri Reni. Yeni
sudah menggunakan minyak wangi yang berlebihan, hingga membuat Reni pusing. Awalnya
Reni diam saja, hingga akhirnya dia tidak tahan dan megatakannya pada Yeni, “Yen maaf,
minyak wangimu terlalu berlebihan, itu membuatku pusing” kata Reni. Namun dengan lantang
Yeni berkata “Kamseupay sekali kau Ren, aku hanya memakai beberapa semprot dan kau bilang
terlalu wangi, sungguh terlalu”. Reni hanya bisa bungkam setelah di hina seperti itu. Namun dia
jadi selalu menjauh dari Yeni dan tidak pernah bicara satu sama lain hingga tahun berikutnya.
Di tahun berikutnya Reni sekelas dengan Yeni dan Yuli, dia juga mendapat teman baru
yang bernama Siska. Awalnya Reni masih marah pada Yeni, tapi setelah sekian lama, akhirnya
mereka berempat bersahabat. Hingga ada guru yang bilang jika mereka adalah 4 serangkai.
Mereka selalu berbagi, saat sedih, tertawa, bahagia dan menangis. Saat siska sedih karena
ada masalah dengan pacarnya mereka selalu membuatnya tersenyum. Saat Yeni sedih karena
kakaknya meninggal dunia, mereka selalu menghiburnya, saat yuli yang tinggal sendiri karena
ibunya bekerja, mereka salalu saling mendukung dan Reni yang menunggu Rangga selama
hampir 2 tahun ini, mereka selalu menyemangatinya.
Di tahun kedua, Reni masih menyukai Rangga, namun dia masih diam dan tidak
mengungkapkan pada siapapun, kecuali pada ketiga sahabatnya itu. Awalnya mereka ingin
langsung mengatakan pada Rangga, namun Reni terus mencegahnya. Mereka merasa geregetan
dengan Reni yang sudah menyukai Rangga hingga 2 tahun, tapi tetap menyembunyikannya.
Hingga suatu hari Reni mengetahui jika Rangga berpacaran dengan murid sekelasnya
yang bernama Dara. Reni mengetahuinya dari foto yang di upload Dara ke Fb milik Rangga.
Reni hanya bisa menangis di kamarnya, itu saat pertama dia menangis karena pria. Dia menangis
hingga larut malam dan saat di sekolah mata Reni masih bengkak karena kejadian tadi malam.
Di sekolah dia menjadi pendiam dan membuat temannya khawatir. Bahkan dia hanya
berbicara seperlunya, namun ketiga sahabatnya terus menyemangatinya. Esok harinya Reni
kembali seperti biasa, dia memang masih sedih, namun tak ditunjukan di depan sahabatnya
karena dia tak mau membuat sahabatnya khawatir. Dia hanya memendam perasaannya di dalam
hatinya.
Rangga adalah seorang anak basket di sekolahnya. Suatu hari Rangga mengikuti lomba
basket di sekolah antar sekolah. Namun Reni hanya bisa melihatnya dari kaca jendela kelasnya.
Dia sangat ingin menyemangati Rangga di depan lapangan, namun dia terlalu malu pada Dara
yang sudah menjadi pacar Rangga.
Setelah beberapa bulan dara dan rangga berpisah, Reni mendengar kabar itu dari Dwi
sahabatnya. Reni tersenyum dalam hati, dia senang karena Rangga sudah tidak punya pacar lagi.
Suatu hari Reni sedang berdiri di depan pintu kelasnya, tiba tiba Rangga datang bersama
temannya dan menghampiri Reni yang sedang memandangnya. Rangga bertanya pada Reni
“Apakah Izal ada di kelas?”. Reni hanya diam, dia terlalu kaget karena Rangga berbicara
padanya saat ini. Namun di belakang Reni ada orang yang di cari oleh Rangga, “Hei Rangga ada
apa, aku dengar kau mencariku” tanya Izal. “Tidak apa apa, aku hanya ingin mengajakmu ke
perpustakaan” jawab Rangga. “Ohh baiklah” kata Izal. Setelah kejadian itu Reni hanya diam dan
tersenyum sendiri karena Rangga berbicara dengannya hingga membuat ketiga sahabatnya
kebingungan dengan tingkahnya :v.
Setahun pun berlalu, rasa suka Reni pada Rangga masih tetap ada walaupun sudah
hampir 2 tahun. Reni masih senang memandang Rangga tanpa diketahui oleh Rangga sendiri.
Saat memandangnya hatinya terasa damai dan itu membuatnya tersenyum. Perasaan inilah yang
selalu terjadi saat Reni memandang Rangga.
Di hari penerimaan rapot, sahabat Reni yang bernama Dwi bertanya di kelas mana dia di
kelas 9, Reni berkata bahwa dia di kelas 9D dan ternyata Dwi juga di kelas 9D. Dan Dwi juga
membuat kejutan pada Reni, bahwa ternyata Rangga juga di kelas 9D, yang artinya mereka akan
di kelas yang sama selama 1 tahun terakhir. Reni sangat gembira dengan kabar ini, bahkan dia
sampai melupakan rasa sebelnya pada kakanya yang telah menjahilinya.
Reni tidak sabar menunggu untuk datang kesekolah dan setelah 2 minggu berlalu
akhirnya Reni berangkat menggunakan seragamnya dan tas hitamnya. Dia masuk ke kelas
barunya dia berangkat terlalu awal sehingga kelasnya masih kosong, namun satu persatu
kelasnya mulai terisi, dia memilih kursi di barisan ketiga dan kedua dari tembok. Sahabat Reni di
kelas 8 terpisah, hanya Reni dan Yeni yang bersama. Namun mereka masih sering berkumpul
bersama.
Reni sedang menunggu sahabatnya yaitu Dwi, namun tiba tiba sesosok pria masuk ke
dalam kelas. Dia adalah Rangga, dia memilih untuk duduk di barisan ke tiga dekat tembok.
Jantung Reni semakin tidak karuan karena melihat Rangga, akhirnya dia melipat tangannya di
meja dan membenamkan wajahnya ke tangan hingga temannya menyapanya :v. “Hei Reni kamu
sedang apa, kamu sakit?” tanya salah satu temannya yang bernama Fitri. “Aku tidak apa apa fit,
kamu akan duduk dimana?” kata Reni. “Aku duduk di barisan kedua tepat di depanmu,
bolehkan?” tanya Fitri. “Tentu saja boleh” jawab Reni sambil tersenyum.
Tiba tiba Dwi datang dan langsung duduk di samping Reni, Dwi adalah anak yang
tomboi namun dia cantik, dia juga humoris dan dia juga tau tentang perasaannya pada Rangga.
Dia adalah sahabat yang paling Reni percayai. “Hai Reni” sapa Dwi, “Hai juga Dwi” balas Reni
dengan tersenyum. “Hai semua, hai juga Rangga” sapa Dwi pada semuanya termasuk Rangga.
“Ohh hai Dwi” jawab Rangga sambil tersenyum. Reni kaget melihat Dwi yang bergitu akrab
dengan Rangga, Reni baru ingat jika mereka teman sekelas saat kelas 8.
Di kelas barunya Reni juga mendapat beberapa teman baru seperti Tia, Sarah, Azri, Nia
dan yang lainnya. Dan teman lamanya Luthfi, Yeni dan Dwi. Sarah juga mengetahui perasaan
Reni pada Rangga karena Dwi memberitahunya.
Bulan pun berganti. Setelah sekian lama di kelas 9, Reni masih suka memandang Rangga,
namun dengan sembunyi sembunyi. Dia tidak menginginkan Rangga tau jika dia selalu di
pandangi olehnya.
Suatu hari setelah jam pelajaran olahraga, Yeni dan Reni pulang dari ruang ganti, tiba
tiba Reni terkejut karena Rangga duduk sendirian di belakang kursi Reni. Jantung Reni berdegup
dengan kencang, dia hanya bisa bungkam dan tidak berani untuk membalikan badannya. Tiba
tiba pria di belakang Reni berkata “Hei apa kamu Reni, kenapa kamu diam saja?” tanya Rangga.
Reni kaget dan dia menjawab dengan gugup “ Iya aku Reni, tidak apa apa, aku lebih senang
diam”. “Oh baiklah, tapi bisakah kita mengobrol?” tanya Rangga. “Tentu saja bisa” jawab Reni
dengan senyuman. Mereka akhirnya mengobrol hingga guru datang dan memisahkan mereka.
Di pagi hari di bulan November pada jam istirahat pertama, murid murid mulai keluar
dari kelasnya, namun ada beberapa murid yang ada di tempat duduk termasuk Reni dan Rangga.
Tiba tiba Reni mendengar Rangga menyanyi lagu Happy Birthday di kelas dan memandang
Reni. Reni kaget dan bingung, hari ini adalah ulang tahunnya dan bagaimana Rangga
mengetahuinya. Reni sadar, pasti yang memberitahukan pada Rangga adalah Dwi, namun dia
tidak terlalu memikirkannya, Reni hanya memandang Rangga dan mengucapkan terima kasih
dalam hatinya sambil tersenyum. Namun sepertinya Rangga mendengarnya karena dia
menganggukan kepalanya dan membalas senyumnya. Hari itu adalah hari yang sangat
membahagiakan Reni, karena orang yang dia suka menyanyikan sebuah lagu untuknya dan tepat
di hari bahagianya.
Di saat Rangga ulang tahun Reni juga memberinya sebuah kado sebuah jam tangan,
namun dalam kado tersebut tidak tercantum namanya. Dia malu jika Rangga mengetahuinya. Dia
menitipkan kado itu pada Dwi, agar Dwi bisa memberikannya pada Rangga.
Mereka sering bersama namun hanya sebatas teman. Reni dan Rangga juga les bersama
dengan Dwi, Fitri, Bulan dan Sarah serta teman Rangga yang bernama Raka dan Refan. Mereka
les bersama dengan tekun, Rangga selalu duduk di sebelah Reni, di saat waktu luang mereka
bercanda dengan kejailan Rangga yang menyembunyikan pulpen Reni. Namun Reni tersenyum
dan meminta pulpennya di kembalikan.
Suatu hari setelah les, Sarah pulang dengan Refan, bulan, fitri dan Dwi jalan kaki karena
rumah mereka dekat dan Raka tidak berangkat karena ada acara keluarga. Sedangkan Reni harus
naik angkot agar sampai ke rumahnya. Tiba tiba Dwi menjahili Reni, Dwi bilang pada Rangga
untuk mengantarkan Reni, tapi Rangga berkata tidak bisa karena ada acara keluarga, jadi Rangga
hanya bisa mengantarnya hingga perempatan jalan tempat Reni menunggu angkot.
Awalnya Reni menolak, namun Dwi terus merayunya dan Rangga juga mengajaknya.
Akhirnya Reni menyetujuinya dan naik ke motor Rangga. Jantung Reni semakin tidak karuan dia
salah tingkah, dia hanya diam dan tersenyum sendiri. Dwi dan yang lainnya melihatnya dan
tertawa cekikikan melihat perilaku Reni.
“Apa kamu sudah siap?” tanya Rangga. “Aku sudah siap” jawab Reni. Akhirnya motor
melaju dengan pelan, dalam perjalanan Reni sanggat gugup dan salah bicara pada Rangga
“Rangga kenapa bunyi motormu keras sekali?” tanya Reni. Upss dia salah bicara pada Rangga.
Namun Rangga menjawab sambil tersenyum “Aku tidak tau, mungkin karena motor ini sudah
tua” jawab Rangga. “Rangga maaf aku tidak bermaksud berkata seperti itu” kata Reni. “Tidak
apa apa Reni, mungkin motor ini memang sudah waktunya untuk di service” jawab Rangga.
“Baiklah” jawab Reni menyesal.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di perempatan tempat Reni menunggu angkot,
dan Reni turun dari motor. “Terimakasih Rangga untuk tumpangannya” kata Reni. “Sama sama
Ren, duluan yaa” kata Rangga. “Iya, hati hati” jawab Reni.
Ujian semakin dekat dan mereka semakin giat untuk belajar karena besok akan ada TO
pertama. Setelah 4 hari melaksanakan TO tiba waktunya mereka mendapat nilai dan di
tempatkan di kelas mana mereka akan les, tergantung pada nilai yang di dapat. Di TO pertama
Reni kecewa karena di tempatkan di kelas B bukan di A, namun dia juga senang karena Rangga
juga di kelas B bersamanya.
Suatu hari saat pelajaran di kelas les berlangsung, Reni memandang Rangga yang duduk
tepat di sebelah mejanya namun dia dekat tembok. Reni memandangnya, tiba tiba Rangga
melihat Reni dan mereka saling berpandangan sampai beberapa menit. Namun tiba tiba Tiara
teman sebangku Reni memanggil Reni dan mengagetkannya. Akhirnya mata mereka berpisah
dan memperhatikan guru yang sedang mengajar kembali.
Bulan pun berganti, TO ke 2 dilaksanakan. Reni senang sekali karena dia di tempatkan di
kelas A, namun Rangga tetap di kelas B dan mereka berpisah. Awalnya Reni sedih, namun Reni
berpikir jika mereka tetap bersama di kelas saat sekolah biasa.
Hari hari berganti, ujian semakin dekat dan Reni masih saja menyukai Rangga. Namun
mereka jadi kurang mengobrol seperti dulu. Rangga terlihat dekat dengan Sarah teman Reni, dia
adalah salah satu sahabat Reni yangg mengetahui tentang perasaan Reni pada Rangga.
Rangga dan Sarah sering berdua di depan kelas dan membuat Reni bimbang. Reni sedih
melihat mereka berdua. Awalnya Reni ragu untuk menanyakannya pada Sarah, namun akhirnya
dia dia bertanya pada Sarah. “Sarah apa kamu berpacaran dengan Rangga?” tanya Reni. “Haha
tidak, kita hanya berteman” jawab Sarah. “Ohh begitu yaa, aku percaya padamu” kata Reni.
“Terima kasih Ren” jawab sarah. Namun hati Reni berkata lain, dia tidak rela melihat sahabatnya
dekat dengan orang yang dia suka. Reni memang masih suka pada Rangga, namun melihat
sahabatnya dekat dengan orang yang dia suka membuatnya sakit hati. Akhirnya dia memutuskan
untuk menjauh dari mereka berdua, bahkan setiap Rangga mendekat Reni selalu menjauh.
Reni makin tidak bisa menahan kesedihannya pada Rangga, dia selalu mengingatnya
hingga akhirnya dia bertemu dengan teman sekelasnya dulu saat kelas 1, dia adalah Dani. Dani
orang yang baik, dia selalu ceria. Sekarang dia di kelas IX H, di kelas yang sama dengan Yuli
teman sekelasnya dulu saat kelas 2. Dia selalu menghibur Reni dan dia mulai menyukai Reni.
Mereka makin dekat, hingga akhirnya Dani menyatakan perasaannya. Reni bingung harus
berkata apa, dia ingin menolaknya, namun Dani memaksa, dan akhirnya Reni menceritakan
alasannya padanya. Namun tanpa dia sangka, Dani terus memaksa dan ingin merubah perasaan
Reni pada Rangga. Awalnya Reni bingung, namun akhirnya dia berpikir, mungkin jika dia
bersama Dani, dia bisa melupakan Rangga.
Akhirnya mereka menjalin hubungan. Layaknya sepasang kekasih, mereka sering main
bersama, menjemput Reni setelah Reni pulang Les dan mengantar Reni pulang kerumahnya.
Mereka mempunyai tempat favorit, mereka sering pergi ke penjual es pisang hijau di dekat alun
alun kota mereka tinggal.
Ujian nasional makin dekat, semua murid makin giat belajar, begitupun Reni. Tidak
sengaja Reni mendengar sebuah lagu yang berjudul “Cinta Tak Mungkin Berhenti”. Tiba tiba
Reni menangis, seolah kembali ke masa lalu, Reni ingat dengan kenangannya bersama Rangga,
perjuangannya dalam menyayangi Rangga. Akhirnya Reni sadar, dia telah menyakiti dirinya
sendiri, dia juga telah menyakiti perasaan Dani. Dia bingung akan bilang apa pada Dani, dan
akhirnya dia memutuskan akan mengatakan perasaannya pada Dani.
Ujian nasional makin dekat, Reni berjuang mendapatkan nilai yang maksimal, dia juga
menghilangkan dulu masalahnya pada Dani dan Rangga. Akhirnya Ujian Nasional selesei. Reni
akhirnya jujur pada Dani, bahwa dia tidak bisa bersamanya lagi. “Kenapa Ren, apa alasanmu
memutuskan hubungan kita?” tanya Dani. “Maaf Dan, aku masih belum bisa melupakan Rangga,
maaf sekali, aku sadar aku hanya menyakiti kamu dan diriku sendiri. Aku tak bisa, maafkan
aku” jawab Reni sambil menangis. “Baiklah, aku memaafkanmu, aku juga merasa bersalah telah
memaksamu dulu, aku harap kamu bisa bersamanya suatu saat nanti”. “Makasih Dan, makasih
sudah memaafkanku, aku juga berharap kamu bisa menemukan orang yang bisa buat kamu
bahagia”. Dan akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi teman.
Kelulusanpun datang Reni sudah memutuskan di mana dia akan sekolah. Dia juga
mendapat nilai yang baik dan tidak mengecewakan orang tuanya. Tiba tiba Reni mendengar jika
Rangga akan sekolah di sekolah yang sama dengan Reni, mendengar itu Reni langsung
tersenyum bahagia.
Bulan pun berganti mereka semua mulai mendaftar di sekolah yang mereka inginkan,
sahabat Reni berpisah namun mereka masih tetap berhubungan lewat HP.
Setelah libur lama, akhirnya mereka masuk sekolah dengan perlengkapan MOSnya.
Semua murid kelas 10 di bagi menjadi 10 kelas, Reni mendapat kelas di urutan ke 9 dan Rangga
di masukan di kelas urutan ke 5.
Mereka berpisah tidak pernah bicara dan bertatap muka. Suatu hari di sekolah Reni di
adakan acara perkemahan pramuka yang di dalamnya terdapat penampilan siswa antar kelas.
Kelas Reni memberikan penampilannya dan dilanjutkan dengan kelas Rangga, Rangga ikut
dalam band tersebut, dia sebagai drummer dan ada wanita cantik dan tinggi berdiri di tengah
panggung sebagai vokalis. Reni mendengar jika wanita itu bernama Raya, dan dia sedang dekat
dengan Rangga dan kemungkinan mereka berpacaran. Reni sangat terkejut mendengar itu semua,
dia langsung diam dan menjadi murung, dia hanya menangis di dalam hatinya.
Bulan pun berganti, Raya dan Rangga di kabarkan berpisah namun kabar itu masih belum
pasti. Setelah beberapa hari kabar itu makin kuat dan ternyata benar mereka memang sudah
berpisah. Reni tersenyum dalam hati, dia senang karena dia masih mempunyai kesempatan untuk
dekat dengan Rangga lagi.
Di setiap pagi Reni selalu melihat Rangga di antar oleh ayahnya berangkat sekolah,
namun Reni hanya melihat punggung Rangga yang berjalan di depannya. Dia selalu tersenyum
saat melihat Rangga. Suatu hari Rangga dan Reni bertemu di gerbang sekolah, mereka
bertatapan dan mereka saling tersenyum. Setelah sekian lama akhirnya mereka dapat bertatapan
dan saling tersenyum kembali
Tahun pun berganti. Reni masih menyukai Rangga dari SMP hingga di akhir tahun
mereka SMA, di tahun ketiga mereka semakin giat untuk melaksanakan Ujian Nasional. Reni
juga sudah memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Yogyakarta sedangkan Rangga kuliah di
Semarang.
Mereka tidak akan pernah bertemu kembali. Reni merasa sedih dan dia memutuskan
untuk mengungkapkan perasaannya pada Rangga lewat surat. Surat itu akan di titipkan pada Dwi
dan di serahkan tepat saat Reni pergi ke Yogyakarta.
Di Yogyakarta dia menjadi mahasiswi yang pendiam sama seperti saat SMP dan SMA.
Setelah 4 tahun berlalu, akhirnya Reni pulang ke rumahnya dan mendapat pekerjaan di sebuah
Bank.
Di pagi yang dingin Reni pergi bekerja dengan motornya dan melewati sekolah di mana
Reni bertemu Rangga. Terkadang Reni masih mengingat rasa sukanya pada Rangga, walaupun
sudah 4 tahun berlalu. Dia takut untuk bertemu Rangga, karna dia tau Rangga juga bekerja di
kota ini.
Suatu hari saat Reni sedang bekerja di depan komputernya, seorang pria masuk dan
mengisi kertas untuk menabung di bank. Lalu pria itu menumpuk kertasnya di depan meja Reni.
Dengan terkejut pria itu bertanya pada Reni, “Ehh.. Bukannya kamu Reni, teman SMP dan
SMAku dulu? Aku Rangga, kmu masih ingat”. “Eh iya aku Reni temanmu, iya aku masih ingat
denganmu” jawab Reni dengan gugup karena orang yang tidak ingin di temuinya muncul di
depannya. “Ohh jadi kmu bekerja di sini, kalo aku kerja di perusahaan sebelah bank ini, senang
bertemu denganmu” kata Rangga dengan tersenyum. “Aku juga senang bertemu denganmu”
balas Reni sambil tersenyum.
Kejadian itu membuat Reni semakin mengingat kenangan Rangga kembali. Reni berpikir
apakah surat itu sudah di baca oleh Rangga. Tapi Reni yakin Rangga sudah membacanya karena
Dwi sudah memberikannya pada Rangga.
Suatu hari Rangga datang ke Bank tempat Reni bekerja, dia datang setelah pulang
bekerja. Dia mencari Reni dan ingin mengajaknya berbicara sebentar, awalnya Reni ingin
menolak karena dia takut salah bicara seperti dulu lagi. Namun akhirnya mereka mengobrol dan
makan malam bersama.
Mereka saling menceritakan kejadian waktu SMP saat mereka sekelas dan menceritakan
bagaimana mereka kuliah dulu. Tiba tiba Rangga meminta nomer HP Reni agar bisa
menghubunginya kembali. Setelah selesei mereka pulang ke rumah masing masing.
Mereka semakin dekat seperti dulu SMP namun ada yang berbeda, jika dulu mereka tidak
pernah sms atau telfonan, sekarang mereka sering sms dan telfonan. Mereka sering jalan berdua,
bahkan Rangga sering menjemput Reni jika motor Reni sedang bermasalah.
Saat Reni dan Rangga sedang mengobrol berdua, tiba tiba Dwi datang “Wah wah
berduaan ajaa nih, udah jadian yaa?” tanya Dwi sambil tertawa. Reni menjawab tidak dan
Rangga menjawab belum secara bersamaan. “Ternyata belum ya, berarti mau jadian nih, hahah”
kata Dwi lagi. Reni hanya menunduk karena malu. Sedangkan Rangga mengalihkan
pembicaraannya dengan menanyakan kabar Dwi selama ini. Akhirnya mereka bertiga bersama
mengobrol hingga malam hari.
Reni baru pulang bekerja, dia merasa lelah tapi tiba tiba Reni di kejutkan dengan kabar
Dwi yang terluka parah karena mengalami kecelakaan. Dengan baju seadanya dan kerudung
yang tidak terlalu rapih, dia pergi ke rumah Dwi. Dia ingin melihat keadaan sahabatnya. Dia
sangat khawatir pada Dwi, karena dia sahabat paling baik yang dia punya. Namun saat masuk
rumah Dwi, Reni bingung karena lampu di rumah Dwi mati semua, tapi Reni tetap mengetuk
pintunya dan membukanya karena rumah itu tidak terkunci. Reni sudah hafal betul rumah Dwi
jadi dia tau di mana saklar lampu rumah itu. Dia menyalakan lampu tapi tiba tiba di depannya
ada sebuah kue bertuliskan “Happy Birthday Reni” dan ada angka 23 di atasnya. Teman teman
baik dari SMP dan SMAnya berkumpul bersama di situ termasuk Dani, pacarnya Dani, Dwi dan
Rangga.
Awalnya Reni bingung dengan ini semua, tapi akhirnya dia sadar jika dia sedang di
bohongi oleh Dwi, dan Reni melihat Dwi ada di belakang Rangga yang sedang membawa kue
ulang tahunnya. “Hihi maafkan aku Ren, ini ide Rangga tuh” kata Dwi. Reni memandang
Rangga takjub dengan pakaian rapih sedangkan dirinya sendiri hanya memakai celana dan baju
panjang lusuh dan tidak lupa kerudung tidak rapihnya. Semua orang berpakaian rapih, hanya dia
yang berpakaian tidak rapih. Lalu mereka semua menyanyikan lagu ulang tahun untuk Reni dan
menyuruh dia untuk meniup lilinnya, di lanjutkan dengan memotong kue pertamanya, karena
keluarga Reni tidak ada maka kue itu di berikan pada Dwi sahabatnya. Acara itu berlangsung
meriah hingga malam hari.
Tiba tiba Rangga memegang tangan Reni dan maju ke depan tamu undangannya. Rangga
berlutut dan berkata “Ren, aku tidak tau harus berkata apa untuk ini semua, kita telah melewati
kehidupan yang panjang, saat kita SMP, SMA, kuliah bahkan hingga sekarang. Aku tau
perasaanku padamu sudah tumbuh mulai dari kita berteman saat SMP dulu, namun aku tidak
menyadarinya. Tapi saat kamu menjauhiku, aku mulai merasakannya. Dan saat SMA, aku
memutuskan untuk melupakanmu dengan mencoba berhubungan dengan orang lain, namun
hubungan itu tidak berlangsung lama dan akhirnya kami berpisah. Tapi tiba tiba Dwi memberiku
sepucuk surat, dia berkata jika itu darimu dan aku membacanya. Setelah itu aku baru sadar jika
kamu mempunyai perasaan yang sama sejak SMP, tapi aku terlambat, kamu sudah pergi jauh dan
tidak ada kabar sama sekali. Aku meminta nomer Hpmu pada Dwi, tapi dia tidak
memberikannya dan menyalahkanku karena tidak mengungkapkan perasaanku padamu sejak
dulu. Aku terus menunggu kamu pulang ke kota ini, 4 tahun aku menunggu, hingga akhirnya aku
mulai menyerah. Namun tiba tiba aku melihatmu sedang berjalan di depan perusahaan tempatku
bekerja, aku mengikutimu dan betapa terkejutnya aku ketika melihatmu bekerja di Bank
tempatmu bekerja, aku senang sekali, aku mencari tau tentangmu, tentang kamu sudah punya
pacar atau belum tapi ternyata kamu belum mempunyainya. Aku terus mendekatimu dan terus
bertanya kabarmu. Kita juga makin sering pergi bersama dan sekarang aku takut jika perasaanmu
padaku sudah pergi dan menghilang, aku takut karena sekarang aku menyukaimu namun kamu
tidak bisa membalasnya dan sekarang aku ingin mengungkapkan bahwa aku menyukaimu dari
dulu bahkan dari kita SMP dan aku ingin kamu menjadi kekasihku, menjadi wanita yang selalu
bersamaku saat bahagia ataupun berduka, saat muda hingga tua dan selalu setia hingga akhir.
Apakah kamu mau menjadi kekasihku dan menerimaku apa adanya?” tanya Rangga setelah
pengakuannya. Reni menangis mendengar itu semua, dia diam dan tidak bisa bicara namun
Rangga berkata “Bagaimana Ren, apakah kamu menerimaku sebagai kekasihmu? Aku tidak akan
memaksamu, dan aku akan memberikan waktu yang cukup untuk kamu berfikir”. Reni
menjawab dengan menangis “Aku tidak bisa Rangga”. Saat itu Rangga dan yang lainnya kecewa
mendengar itu semua, mereka berharap Reni dan Rangga bisa bersama setelah sekian lama
berpisah.
“Baiklah jika itu keputusanmu, aku tidak bisa memak..” tiba tiba Reni memotong kata
kata Rangga dengan meletakan jari telunjuknya di depan bibir Rangga. “Aku belum selesei
bicara, aku tidak bisa, yaa aku tidak bisa menolakmu Rangga” lanjut Reni dengan senyum
termanis Reni yang pernah di lihat Rangga saat SMP.
Tiba tiba Rangga memegang tangan Reni dengan erat dan mencium tangan itu. Suasana
yang awalnya tegang berubah menjadi romantis dan bahagia. “Terima kasih Ren, terima kasih
sudah datang di duniaku, terima kasih sudah menerimaku dan maaf aku membuatmu menunggu
terlalu lama hingga 10 tahun” ucap Rangga. “Sama sama Rangga, aku berharap kita bisa terus
bersama, amin” kata Reni. “Amin, semoga kita bisa terus bersama” jawab Rangga.
“Ciye ciye yang baru jadian, sampe sampe lupain kita nih, pajaknya dong, baju atau tas
boleh lah, hahahah” canda Dwi sambil tertawa. Teman teman yang datang memberikan selamat
pada Reni dan Rangga hingga larut malam dan mereka mulai pulang satu persatu. Akhirnya Reni
menginap di rumah Dwi dan Rangga pulang kerumahnya. Mereka sangat bahagia karena
akhirnya mereka bisa bersatu setelah sekian lama saling menunggu.