Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH SKILL LAB BEDAH MULUT

Fraktur Dentoalveolar

Oleh :

KELOMPOK 3

Nyayu Khairunnisa F. (04031181520074)


Friska Auriani (04031281520061)
Elvina Josephine (04031281520062)
Frisilia Pratiwi Wijaya (04031281520063)
Almita Rifqi Destyarinta (04031281520064)
Raden Ayu Anisa Salsabila (04031281520065)
Shofi Hana Regita Syehrun (04031281520066)
Nazila Putri (04031281520067)
Mutiara Nur Fauziah (04031281520068)
Anggi Oktaviani (04031281520069)
Lysandra Griselda (04031281520071)

Dosen Pembimbing : drg. Valentino Haksajiwo, Sp.BM., M.Kes., MARS

FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
PENGERTIAN DAN PENANGANAN FRAKTUR DENTOALVEOLAR

(TEKNIK DENTAL WIRING)

1. Pengertian Fraktur Dentoalveolar


Fraktur dentoalveolar dapat terjadi tanpa atau disertai dengan fraktur bagian tubuh
lainnya, biasanya terjadi akibat kecelakaan ringan seperti jatuh, benturan saat bermain,
berolahraga atau iatrogenik.
Fraktur dentoalveolar didefinisikan sebagai fraktur yang meliputi avulsi, subluksasi, atau
fraktur tulang alveolar. Fraktur dentoalveolar dapat terjadi tanpa atau disertai dengan fraktur
bagian tubuh lainnya, biasanya terjadi akibat kecelakaan ringan seperti jatuh, benturan saat
bermain, berolahraga atau iatrogenik.

2. Etiologi Fraktur
Kebanyakan fraktur disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan
pada tulang. Fraktur lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan usia dibawah
45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga, pekerjaan, atau luka yang disebabkan oleh
kecelakaan kendaraan bermotor. Sedangkan pada orang tua, perempuan lebih sering mengalami
fraktur daripada laki-laki yang berhubungan dengan meningkatnya insidensi osteoporosis yang
terkait dengan perubahan hormone pada menopause.
Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter
mendadak, dan bahkan kontraksi otot ekstrem. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang
lebih besar dari yang daoat diabsorbsinya.
Jadi penyebab fraktur adalah:
 Trauma tulang dikenai tekanan/stress yang lebih besar
 Kecelakaan kendaraan bermotor
 Kecelakaan karena pekerjaan, olahraga
 Osteoporosis
 Pukulan langsung
 Gaya meremuk
 Gerakan punter mendadak
 Kontraksi otot ekstrem
3. Klasifikasi Fraktur Dentoalveolar
3.1.Klasifikasi Ellis (1961)
Terdiri dari enam kelompok dasar:
a. Fraktur Email
Fraktur mahkota sederhana, tanpa mengenai dentin atau hanya sedikit mengenai
dentin.
b. Fraktur Dentin tanpa Terbukanya Pulpa
Fraktur mahkota yang mengenai cukup banyak dentin, tetapi tanpamengenai
pulpa.
c. Fraktur Mahkota dengan Terbukanya Pulpa
Fraktur mahkota yang mengenai dentin dan menyebabkan pulpa terbuka.
d. Fraktur Akar
e. Luksasi Gigi
f. Intrusi Gigi

3.2.Klasifikasi Ellis dan Davey:


Menyusun klasifikasi trauma pada gigi anterior menurut banyaknya struktur gigi yang
terlibat, yaitu :
 Kelas 1 : Fraktur mahkota sederhana yang hanya melibatkan jaringan
 email.
 Kelas 2 : Fraktur mahkota yang lebih luas yang telah melibatkan jaringan dentin
tetapi belum melibatkan pulpa.
 Kelas 3 : Fraktur mahkota gigi yang melibatkan jaringan dentin dan menyebabkan
terbukanya pulpa.
 Kelas 4 : Trauma pada gigi yang menyebabkan gigi menjadi non vital dengan atau
tanpa kehilangan struktur mahkota.
 Kelas 5 : Trauma pada gigi yang menyebabkan kehilangan gigi atau avulsi.
 Kelas 6 : Fraktur akar dengan atau tanpa kehilangan struktur mahkota.
 Kelas 7 : Perubahan posisi atau displacement gigi.
 Kelas 8 : Kerusakan gigi akibat trauma atau benturan pada gigi yang
menyebabkan fraktur mahkota yang besar tetapi gigi tetap pada tempatnya dan
akar tidak mengalami perubahan.
 Kelas 9: kerusakan pada gigi sulung akibat trauma pada gigi depan.

3.3.Klasifikasi Berdasarkan Application of International Classification of Diseases to


Dentristry and Stomatology dari World Health Organization (WHO) dan
dimodifikasi oleh Andreasen.
Klasifikasi ini dibagi menjadi 4 bagian, yaitu:
a) Kerusakan pada Jaringan Keras Gigi dan Pulpa
Kerusakan pada jaringan keras gigi dan pulpa terdiri atas 7 bagian, yaitu:
 Retak mahkota (email infraction) yaitu fraktur tidak sempurna atau
keretakan pada email tanpa kehilangan struktur gigi.
 Fraktur email (email fracture/ uncomplicated crown fracture), yaitu fraktur
pada bagian email gigi tanpa melibatkan bagian dentin maupun pulpa gigi.
 Fraktur email dentin (uncomplicated crown fracture), yaitu fraktur pada
bagian email dan dentin gigi tanpa melibatkan pulpa.
 Fraktur mahkota yang kompleks (complicated crown fracture), yaitu
fraktur pada email dan dentin gigi yang telah melibatkan pulpa.
 Fraktur mahkota yang akar yang tidak kompleks (uncomplicated crown
root fracture), yaitu fraktur pada email, dentin, dan sementum tanpa
melibatkan pulpa.
 Fraktur mahkota akar yang kompleks (complicated crown root fracture),
yaitu fraktur pada email, dentin dan sementum yang telah melibatkan
pulpa.
 Fraktur akar (root fracture), yaitu fraktur yang melibatkan dentin,
sementum dan melibatkan pulpa.

b) Kerusakan pada Jaringan Pendukung


Kerusakan pada Jaringan Pendukung terbagi atas 8 bagian, yaitu:
 Kominusi soket alveolar rahang atas yaitu hancur dan pemampatan yang
terjadi pada soket alveolar rahang atas, terjadi pada trauma intrusi dan
luksasi lateral.
 Kominusi soket alveolar rahang bawah yaitu hancur dan pemampatan yang
terjadi pada soket alveolar rahang bawah, terjadi pada trauma intrusi dan
luksasi lateral.
 Fraktur dinding soket alveolar rahang atas yaitu fraktur pada bagian labial
atau palatal dinding soket tulang alveolar rahang atas.
 Fraktur dinding soket alveolar rahang bawah yaitu fraktur pada bagian
labial atau lingual dinding soket tulang alveolar rahang bawah.
 Fraktur prosesus alveolaris rahang atas, yaitu fraktur pada prosesus
alveolaris rahang atas, dengan atau tanpa melibatkan soket gigi.
 Fraktur prosesus alveolaris rahang bawah, yaitu fraktur pada prosesus
alveolaris rahang bawah, dengan atau tanpa melibatkan soket gigi.
 Fraktur rahang atas, yaitu fraktur pada tulang maksila dengan atau tanpa
melibatkan soket gigi.
 Fraktur rahang bawah, yaitu fraktur pada tulang mandibula dengan atau
tanpa melibatkan soket gigi.
c) Kerusakan pada Jaringan Periodontal
Kerusakan pada jaringan periodontal terbagi menjadi 6 bagian, yaitu:
 Konkusio yaitu trauma terhadap jaringan pendukung gigi yang
menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif terhadap tekanan dan perkusi
tanpa adanya kegoyangan atau perubahan posisi gigi.
 Subluksasi yaitu trauma terhadap jaringan pendukung gigi yang
menyebabkan terjadinya kegoyangan tanpa disertai perubahan posisi gigi.
 Luksasi yaitu perubahan posisi gigi dalam arah lateral, palatal, lingual
maupun labial dan menyebabkan kerusakan pada ligamen periodontal dan
kontusi atau fraktur pada soket alveolar gigi tersebut.
 Luksasi ekstrusi, yaitu terlepasnya sebagian gigi dari soketnya yang
menyebabkan kerusakan pada jaringan periodontal. Luksasi ekstrusi
disebut juga avulsi parsial.
 Luksasi intrusi yaitu masuknya gigi ke dalam soket tulang alveolar yang
menekan ligamen periodontal dan umumnya menyebabkan fraktur pada
soket tulang alveolar.
 Avulsi, yaitu terlepasnya gigi secara keseluruhan dari soketnya. Pada
kondisi ini, ligamen periodontal terputus dan dapat disertai dengan fraktur
pada tulang alveolar.

d) Kerusakan pada Gingiva atau Jaringan Lunak Rongga Mulut


Kerusakan pada gingiva atau jaringan lunak rongga mulut terbagi atas 3 bagian,
yaitu:
 Laserasi adalah luka pada bagian mukosa berupa robeknya jaringan epitel
dan subepitel.
 Kontusio yaitu luka memar tanpa disertai robeknya jaringan mukosa dan
biasanya menyebabkan perdarahan submukosa.
 Luka abrasi yaitu luka superfisial yang disebabkan oleh gesekan atau
goresan pada permukaan mukosa.

4. Penanganan Fraktur Dentoalveolar


a. Trauma pada Gigi Sulung
Perawatan gigi sulung yang mengalami trauma pada umumnya tidak berbeda dengan
perawatan gigi tetap. Gigi sulung yang intrusi biasanya akan erupsi secara spontan. Gigi yang
tidak terlalu bergeser dan tidak menyebabkan gangguan oklusi dapat diobservasi saja. Fraktur
dentoalveolar yang kompleks pada gigi sulung jarang terjadi karena elastisitas tulang alveolar.
b. Trauma pada Gigi Tetap
a) Trauma yang Mengenai Jaringan Keras Gigi
 Fraktur Mahkota
Fraktur email hanya memerlukan penghalusan bagian yang tajam, atau
penambalan dengan komposit. Fraktur dentin sebaiknya ditambal sesegera mungkin,
khususnya pada pasien muda karena penetrasi bakteri melalui tubulus dentin cepat
terjadi. Penambalan dengan semen kalsium hidroksida dan restorasi komposit sudah
cukup ideal. Bila patahan gigi cukup besar, fragmen mahkota dapat disemen kembali
menggunakan resin komposit. Fraktur pulpa dapat dirawat dengan pulp capping,
pulpotomi, atau ekstirpasi pulpa.
 Fraktur Akar
Fraktur mahkota yang oblik dapat meluas ke subgingiva (fraktur mahkota-akar).
Bila garis fraktur tidak terlalu jauh ke apikal dan pulpa tidak terbuka, cukup ditambal
dengan restorasi komposit. Bila fraktur meluas sampai jauh ke apikal, atau bila gigi
terbelah secara vertikal, umumnya ekstraksi harus dilakukan.
Fraktur akar horizontal prognosisnya tergantung pada garis fraktur. Bila garis
fraktur terletak di dekat gingiva, fragmen mahkota dapat diekstraksi dan dilakukan
perawatan endodontik serta pembuatan mahkota pasak. Bila garis fraktur terletak
jauh ke apikal, gigi sebaiknya diekstraksi.
b) Trauma yang Mengenai Jaringan Periodontal
 Malposisi
Gigi yang luksasi, ekstrusi dan intrusi direposisi dan di-splint untuk imobilisasi
gigi selama 7-21 hari. Setelah periode imobilisasi selesai vitalitas gigi tersebut harus
diperiksa.
 Avulsi
Gigi yang avulsi dapat direplantasi dengan memperhatikan sejumlah faktor, yaitu
tahap perkembangan akar, lamanya keberadaan gigi di luar soket, lamanya
penyimpanan dan media yang digunakan. Idealnya replantasi dilakukan sesegera
mungkin. Sebaiknya dipastikan bahwa sel ligamen periodontal tidak mengering,
yakni tidak lebih dari 30 menit. Kemudian dilakukan imobilisasi dengan pemasangan
splint.
c) Trauma yang Mengenai Tulang Alveolar
Perawatan fraktur tulang alveolar biasanya hanya memerlukan anastesi lokal, dan
paling baik dilakukan segera setelah trauma. Reduksi tertutup fraktur alveolar tertutup
biasanya dilakukan dengan manipulasi jari yang diikuti dengan splinting. Imobilisasi
tersebut harus menyertakan beberapa gigi yang sehat. Fiksasi intermaksilar
kadangkadang diperlukan bila fragmen fraktur sangat besar, atau bila prosedur splinting
tidak menghasilkan imobilisasi yang adekuat, dengan memperhatikan oklusi yang benar.
Reduksi terbuka jarang dilakukan untuk fraktur alveolar, kecuali bila merupakan bagian
dari perawatan fraktur rahang.
.Pada ekstraksi gigi yang menyebabkan komunikasi oro antral, harus dilakukan
penutupan segera dengan flap bukal. Pasien diberi obat tetes hidung ephedrine 0,5 persen
untuk membantu drainase antral, dan antibiotik untuk mencegah timbulnya fistula
oroantral.

d) Trauma yang Mengenai Jaringan Lunak Mulut


Fraktur dentoalveolar hampir selalu disertai vulnus. Prinsip perawatannya terdiri
atas pembersihan, pembuangan jaringan nekrotik (debridement), penghentian perdarahan
dan penjahitan. Pada bagian dalam laserasi degloving sering ditemukan debris atau
kotoran tanah, sehingga debridement perlu diikuti dengan irigasi yang cermat.
Fraktur dentoalveolar sering mengakibatkan luka terbuka, sehingga perlu
diberikan antibiotik profilaksis dan obat kumur antiseptik.

5. Teknik Dental Wiring


Berbagai Jenis Teknik Dental Wiring adalah sebagai berikut.
1. Essig’s wiring
2. Gilmer’s wiring
3. Risdon’s wiring
4. Ivy eyelet wiring
5. Col. Stout’s multiloop wiring
Armamentarium untuk wiring :
1. Kumparan kawat atau kawat stainless steel ukuran 26 yang masing-masing dipotong
sepanjang 20 cm yang sebelumnya sudah disterilisasi. Kawat selalui dipotong miring
membentuk bevel, sehingga bevel tersebut dapat bertindak sebagai ujung jarum, untuk
melewati area interdental gigi. Kawat tersebut juga harus diregangkan terlebih dahulu
sekitar 10 persen, untuk mencegah longgarnya kawat setelah dilakukan fiksasi pada gigi.
2. Dua neddle holder atau wire holder.
3. Pemotong kawat

Essig’s Wiring

Essig’s wiring dapat digunakan untuk menstabilisasi fraktur dentoalveolar pada


lengkung-lengkung gigi individual, dan dapat juga digunakan sebagai alat penjangkar untuk
fiksasi intermaksila. Gigi yang luksasi juga dapat distabilisasi menggunakan wiring ini.
Syarat untuk melakukan wiring jenis ini adalah bahwa harus terdapat jumlah gigi yang
cukup pada kedua sisi dari garis fraktur untuk mendapatkan efek penjangkaran yang baik.
Kawat sepanjang 40 cm berukuran 26 yang sebelumnya telah direntangkan digunakan
dalam teknik ini. Gigi yang luksasi harus didorong ke dalam soketnya dan area stabilisasi yang
dipilih harus setidaknya 3 gigi jauhnya dari garis fraktur. Kawat kemudian dilewatkan disekitar
servikal dari gigi yang dipilih, satu akhiran kawat melewati gigi dari bukal ke lingual dan akhiran
kawat lainnya melewati gigi dari lingual ke arah bukal pada tiap ruang interdental gigi (3 gigi
dari garis fraktur). Akhiran kawat bukal kemudian diregangkan untuk menahan permukaan bukal
dari servikal gigi di dekat garis fraktur dan juga pada sisi yang berlawanan dari garis fraktur
meninggalkan setidaknya 3 gigi pada sisi lain dari garis fraktur. Prosedur yang sama diulangi
dengan akhiran kawat lingual dan kemudian akhiran kawatnya dibawa keluar pada sisi bukal dari
gigi penjangkar terakhir setelah menyusuri servikal dari ketiga gigi pada sisi yang berlawanan.
Kedua akhiran kawat bukal dan lingual kemudian disatukan dan diputar bersama dan dipotong
pendek untuk dimasukkan ke ruang interdental. Sekarang terdapat dua basis kawat yang
terbentuk, satu dari sisi bukal dan yang lainnya dari sisi lingual servikal gigi. Kawat kecil
tambahan kemudian dilewatkan di interdental mengelilingi dua basis kawat ini untuk mengunci
mereka dengan kuat di bawah singulum gigi. Kawat interdental individu kemudian juga diputar,
dipotong, dan dimasukkan di ruang interdental, sehingga akhirannya yang tajam tidak melukai
pasien.

Gilmer’s Wiring
Gilmer’s wiring merupakan suatu metode wiring langsung dari fiksasi intermaksila antara
gigi maksila dan mandibula. Metode ini merupakan teknik yang paling umum, simpel, dan
praktikal, karena teknik ini mengunci gigi dan menstabilisasi rahang dengan tepat. Beberapa gigi
yang kuat di maksila dan mandibula dipilih. Setidaknya satu gigi anterior dan satu gigi posterior
dari fraktur harus tersedia untuk wiring untuk memastikan stabilisasi yang baik. Akan tetapi,
lebih baik jika melibatkan banyak gigi, untuk mengurangi beban dan resiko kerusakan terhadap
gigi individual. Kawat tidak boleh diaplikasikan langsung pada gigi yang berbatasan dengan
fraktur. Kawat stainless steel ukuran 26 sepanjang 20 cm dilewatkan mengelilingi servikal gigi
yang dipilih. Kedua akhiran kawat kemudian disatukan pada permukaan bukal dan diputar secara
manual dengan menjaga agar lilitan kawat dekat dengan gigi. Pemutaran kawat diakhiri dengan
memegang kedua akhiran kawat dengan wire holder, pertahankan tekanan tarik lateral selama
memutar, untuk mencegah terputusnya kawat. Beberapa gigi dipilih pada tiap lengkung
individual dan lilitan kawat dibiarkan panjang terkait. Setelah reduksi dari fraktur dilakukan,
kawat mandibula kemudian diputar kencang dengan kawat maksila yang bersangkutan. Akhiran
lilitan tersebut kemudian dipotong pendek dan akhiran tajamnya dimasukkan ke ruang
interdental. Kekurangan utama dari metode ini adalah dibutuhkannya pelepasan total dari kawat
untuk membuka mulut pada kondisi emergensi. Kekurangan lainnya dapat berupa ekstruksi dari
gigi akibat adanya beban berlebihannya yang diterima gigi, dalam kasus klinis hanya sedikit gigi
yang dipilih sebagai penjangkarnya.

Risdon’s Wiring
Risdon’s wiring merupakan metode yang umum digunakan dari fiksasi kawat horizontal.
Beberapa fraktur tertentu dapat dirawat dengan adekuat dengan hanya menggunakan metode ini.
Akan tetapi, pada beberapa kasus, stabilisasi tambahan masih dibutuhkan. Dalam metode ini
biasanya molar kedua pada kedua sisi dipilih sebagai gigi penyangganya. Kawat berukuran 26
sepanjang 25 dilewatkan mengelilingi servikal gigi molar kedua dari tiap sisi dan kedua
akhirannya disatukan pada sisi bukal. Kemudian kedua akhiran kawat tersebut diputar bersama
sepanjang keseluruhan kawat tersebut, sehingga basis kawat yang kuat terbentuk pada kedua sisi,
dengan arah menuju garis tengah dari tiap molar kedua. Kedua basis kawat tersebut kemudian
digenggam dan disilangkan pada garis tengahnya dengan menggunakan wire holder dan putaran
terakhir dilakukan dengan mengadaptasikan basis kawat ini pada servikal gigi pada sisi
bukalnya. Kawat yang berlebihan dipotong dan akhirannya dimasukkan ke ruang interdental.
Basis kawat kemudian dikunci ke gigi-gigi individual dengan menggunakan kawat interdental
tambahan. Pada tahap ini kawat-kawat kecil dipotong dan salah satu akhirannya dilewatkan dari
permukaan distal gigi di bawah kawat basis dan kemudian dibawa menuju sisi lingual dan
kemudian dibawa pada permukaan bukal dari ruang interdental mesial di atas kawat basis. Kedua
akhiran kawat kemudian digenggam bersama dan diputar lagi, dipotong dan dimasukkan ke
ruang interdental. Setiap gigi diikutsertakan dalam cara yang sama dengan kawat basis, sehingga
kawat basis terkunci sepenuhnya pada lengkungan gigi-geligi. Jenis wiring horizontal ini
memberikan fiksasi yang kuat.
Ivy Eyelets Wiring

(A) Formasi eyelets/lubang tali, (B) Susunan ikatan kawat dalam pola ‘V’, (C) Ligasi
intermaksila menggunakan wiring eyelets dalam pola yang lurus

Simpul Ivy melingkupi dua gigi yang berdekatan. Kawat stainless steel berukuran 26
yang dipotong sepanjang 20 cm digunakan dalam metode ini. Sebuah simpul dibentuk di tengah
kawat melingkari paruh dari penjeit handuk atau tangkai dari bur gigi dan diputar tiga kalu
dengan dua ujung akhiran. Simpul Ivy tersebut dibentuk terlebih dahulu dan disimpan di dalam
larutan tersterilisasi yang dingin, sehingga simpul tersebut dapat tersedia dalam keadaan
emergensi. Dua ujung akhiran dari eyelet/lubang tali dilewatkan melalui ruang interdental dari
dua gigi yang dipilih dari sisi bukal menuju lingual. Salah satu akhiran kawat dilewatkan
mengelilingi gigi distal secara lingual dan dibawa keluar dari ruang interdental distal melewati
sisi bukal dan dikaitkan dengan simpul yang sebelumnya sudah dibentuk. Akhiran kawat lainnya
dibawah mengelilingi permukaan lingual dari gigi mesial dan dibawa keluar pada permukaan
bukal dari ruang interdental mesial, dimana akhiran kawat ini akan bertemu dengan akhiran
kawat yang pertama. Kedua kawat kemudian disilangkan dan diputar bersama dengan
menggunakan wire holder dan dipoton pendek dan diselesaikan dengan cara yang biasa.
Simpulnya kemudian diatur dan dibengkokkan menuju arah gingiva. Eyelet kawat mandibula
dapat dikencangkan ke eyelet maksula dengan menggunakan rubber band atau kawat
penghubung. Satu atau dua eyelet Ivy harus diletakkan pada tiap kuadran. Wiring eyelet ini
sangat berguna. Rubber band atau kawat jembatan dapat dilepaskan, kapanpun dibutuhkan tanpa
mengganggu kawat utama dan diganti. Bahkan ketika terdapat putusnya kawat selama fiksasi,
hanya eyelet tersebut yang harus dilepaskan dan diganti.

Col. Stout’s Multiloop Wiring

Dalam metode ini, empat kuadran posterior digunakan untuk wiring. Empat buah kawat
berukuran 26 sepanjang 20 cm dibutuhkan untuk membuat simpul. Sebuah kawat solder
diadaptasikan pada permukaan bukal gigi pada kuadran pertama, dimana wiring akan dimulai.
Kawat sepanjang 20 cm yang terlebih dahulu sudah diregangkan dilipat menjadi empat bagian
yang sama, bagian pertama disebut sebagai kawat stasioner, yang akan diadaptasikan pada sisi
bukal dimulai dari garis tengah mengarah ke belakang menuju molar kedua (atau gigi terakhir
yang terdapat pada lengkung rahang). Akhiran lain dari kawat (working end) kemudian dibawah
ke distal menuju molar kedua dan dibawa mengelilinginya pada sisi lingual. Akhiran ini
kemudian dikaitkan melalui ruang interdental mesial dari molar kedua ke sisi bukal untuk keluar
dari bawah kawat solder dan stasioner. Kemudian kawat disumpulkan mengelilingi kedua kawat
tersebut dan kembali pada ruang interdental, kali ini dari sisi bukal menuju lingual. Dari sisi
lingual kawat kemudian mengelilingi gigi di sebelahnya dan prosedur yang sama diulangi untuk
setiap gigi sampai garis tengah. Kawat solder dapat digeser ke depan setelah simpul telah
terbentuk dan simpul diputar sebanyak tiga kali untuk membentuk eyelet/lubang tali.
Penyelesaian akhirnya dilakukan dengan mengenggam kedua akhiran kawat stasioner dan
akhiran working wire bersamaan dan diputar dan dipotong pendek dan ditekan di ruang
interdental. Prosedur yang sama dilakukan di tiga kuadran lainnya di lengkung gigi-geligi. Jika
traksi elastis yang akan digunakan, eyelet harus dibengkokkan menjauh dari bidang oklusal,
sehingga pengkaitnya dapat terbentuk. Jika kawat yang digunakan, simpul dibengkokkan menuju
bidang oklusal. Lebih disarankan untuk menggunakan traksi yang elastis dalam periode awal
penyembuhan dibandingkan kawat. Pada kasus-kasus muntah atau masalah jalan napas
emergensi, bahan yang elastis ini dapat dilepaskan dengan mudah.
REFERENSI

Ellis E. Soft tissue and dentoalveolar injuries. Dalam: Peterson LJ, Ellis E, Hupp J, Tucker M.
Contemporary oral and maxillofacial surgery. 4th eds. St.Lauis. Mosby Inc. 2003.

Kruger G. Textbook of oral surgery. 4th eds. St.Lauis. The C.V. Mosby Company, 1974.

Malik, neelima anil. 2010. Text Book of Oral and Maxillofacial Surgery, 3rd Ed. New Delhi:
Jaypee