Anda di halaman 1dari 6

MODEL TETES ZAT CAIR

Gaya berjangkauan pendek yang mengikat nukleon sedemikian aman menjadi inti
merupakan jenis gaya terkuat diantara gaya yang diketahui. Namun, gaya ini masih jarang
diketahui dibandingkan gaya elektromagnetik yang sudah dikenal baik, akibatnya teori
struktur nuklir masih primitif dibandingkan teori struktur atomik. Gaya tarik yang dilakukan
nukleon sangat kuat tetapi jangkauannya sangat pendek,sehingga kita dapat menganggap
bahwa masing-masing dari partikel dalam inti hanya berinteraksi dengan tetangga
terdekatnya. Situasi ini sama dengan atom dalam zat padat yang secara ideal bervibrasi
terhadap kedudukan tetap dalam kisi kristal, atau dengan molekul dalam zat cair yang secara
ideal bebas walaupun jarak intermolekulnya tetap. Analogi dengan zat padat tidak dapat
dikejar lebih lanjut karena perhitungan menunjukkan bahwa vibrasi nukleon terhadap
kedudukan rata-ratanya terlalu besar untuk inti supaya tetap mantap. Sebaliknya, analogi
dengan zat cair sangat berguna bagi pengertian kita tentang aspek tertentu dari kelakuan
nuklir.
Pada tahun 1935 model tetes zat cair diperkenalkan oleh fisikawan C. Von
Weizsacker. Ia menjelaskan bahwa sifat-sifat inti berkaitan dengan ukuran geometris, massa,
dan energi ikatnya yang mirip dengan tetesan sebuah cairan. Hal ini berdasarkan analogi
dengan tetesan cairan untuk materi inti sesuai dengan usulan Bohr. Perandaian-perandaian
pokoknya adalah:
1. Inti terdiri dari materi tak termampatkan.
2. Gaya inti identik untuk setiap nukleon dan khususnya tidak bergatung pada apakah
nukleon tersebut neutron atau proton.
3. Gaya inti mengalami kejenuhan.
Pada tetes zat cair, kerapatannya konstan, ukurannya berbanding lurus dengan jumlah
partikel atau molekul di dalam cairan, dan penguapannya(energi ikatnya) berbanding lurus
dengan massa atau jumlah partikel yang membentuk tetesan.
Model ini disebut model tetesan cairan karena adanya sejumlah kesamaan kelakuan
antara inti dan tetesan suatu cairan. Kesamaan kelakuan tersebut adalah:

1. Baik tetes cairan maupun inti, keduanya bersifat homogen dan tidak dapat
dimampatkan. Tetes cairan tersusun oleh sejumlah atom atau molekul, sedangkan inti
tersusun atas nukleon. Implikasi dari hal ini adalah volume inti sebanding dengan
massa A. Maka jari-jari inti R = r0 A , dengan r0 suatu tetapan dengan orde 1,2 – 1,5 F.
2. Kemiripan inti dengan tetesan larutan ideal ditunjukkan dengan anggapan bahwa gaya
interaksi antarnukleon adalah sama, tidak memperhatikan muatan maupun spin
nukleon, yakni f n-n f n-p f p-p . Hal ini didukung oleh fakta bahwa energi pengikat inti
pada pasangan “ inti cermin” adalah hampir sama, yaitu penggantian gaya p-p oleh
gaya n-n tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap energi pengikat total.
3. Sama dengan suatu tetes cairan, inti atom akan menunjukkan adanya gaya tegangan
permukaan, gaya yang sebanding dengan luas permukaan inti, sehingga terdapat gaya
sebanding dengan A.
4. Gambaran umum untuk tetes cairan, yaitu dapat terjadi penggabungan tetesan kecil
menjadi tetesan yang lebih besar atau sebaliknya, pemecahan tetesan besar menjadi
tetesan yang lebih kecil. Hal ini ada kemiripan dengan reaksi fusi dan fissi pada reaksi
inti.
5. Jika tetes cairan atau inti ditembaki dengan partikel berenergi tinggi, partikel
penembak ditangkap dan terbentuk suatu inti gabungan (inti majemuk). Kemudian
tambahkan energi partikel yang tertangkap akan secara cepat didistribusikan kepada
semua partikel dalam tetesan atau nukleon-nukleon dalam inti. Proses pemanasan
energi ini dalam inti gabungan dapat berlangsung dan bergantung pada kecepatan
partikel penembak.
6. Pelepasan kelebihan energi (dieksitasi) pada tetesan atau inti majemuk dapat dilakukan
melalui proses berikut :

Pada Tetesan Pada Inti Majemuk


 Pendinginan dengan melepaskan  Pendinginan dengan memancarkan
panas radiasi
 Penguapan sejumlah partikel  Pemancaran satu atau lebih
 Pemecahan tetesan menjadi dua partikel
tetesan yang lebih kecil  Pembelahan inti menjadi dua inti
yang lebih kecil

Gambaran inti sebagai tetesan cairan dapat menerangkan variasi energi ikat per
nucleon terhadap nomor massanya yang dapat diamati. Berawal dari anggapan bahwa energi
ikat nukleon-nukleon memiliki harga tertentu U (energi ini sebenarnya berharga negatif,
karena berkaitan dengan gaya tarik Coulomb, tetapi biasanya ditulis positif).
Energi Volume
Setiap energi ikat U di antara dua nucleon, masing-masing berenergi ikat ½ U. Jika
sekumpulan bola berukuran sama dimampatkan menjadi volume terkecil, masing-masing bola
dalam mempunyai 12 bola lain yang bersentuhan dengannya. Jadi, masing-masing nukleon
dalam sebuah inti berenergi ikat 12 x ½ U atau 6. Jika semua A nucleon dalam inti berada di
bagian dalam (interior), energi ikat total dari inti ialah
Ev = 6 AU
atau
Ev = a1A
Ev disebut energi volume sebuah inti dan berbanding lurus dengan A
Energi Permukaan
Beberapa nukleon ada pada permukaan setiap inti, sehingga memiliki tetangga kurang
dari 12. Banyaknya tetangga nucleon seperti itu bergantung pada luas permukaan yang
ditinjau. Inti berjari-jari R mempunyai luas:
4  R 2  4  R02 A2 / 3

Jadi, jumlah nucleon yang jumlah interaksinya kurang dari maksimumnya berbanding lurus
dengan A2/3, mereduksi energi ikat total dengan energi sebesar
Es = - a2 A2/3
Energi negative Es disebut energi permukaan inti.

Energi Coulomb
Gaya tolak listrik antara setiap pasangan proton dalam inti memberi pasang proton
dalam inti memberi kontribusi pada pengurangan energi ikat. Energi potensial sepasang
proton yang berjarak r sama dengan:
e2 ke2
V  
4  0 r r
Karena terdapat Z (Z-1)/2 pasangan proton,
Z ( Z 1) Z ( Z 1) e 2  1 
Ec  V   
2 8  0  r av

dengan (1/r)av ialah harga rata-rata 1/r terhadap semua pasangan proton. Jika proton
terdistribusi serbasama ke seluruh bagian sebuah inti berjari-jari R. (1/r)av berbanding lurus
dengan 1/R sehingga berbanding lurus dengan 1/A1/3.
Jadi,
Z ( Z 1)
Ec   a3
A1 / 3
Energi Coulomb negatif karena energi ini timbul dari efek yang menantang kemantapan inti.
Energi Asimetri
Semakin besar jumlah nucleon dalam inti, lebih kecil jarak selang energi  , dengan 
berbanding lurus dengan 1/A. Ini berarti energi asimetri Ea yang timbul dari perbedaan antara
N dan Z dapat dinyatakan:
( A  2Z ) 2
Ea    E   a4
A
Energi asimetri negative karena mereduksi energi ikat inti.
Energi Pasangan
Inti ganjil-ganjil memiliki proton tak berpasangan dan neutron tak berpasangan dan
memiliki energi ikat yang relatif rendah. Energi pasangan Ep positif untuk inti genap-genap
dan inti genap-ganjil, dan negatif untuk inti ganjil-ganjil, dan berubah terhadap A menurut A-
3/4
dan bertambah sebesar jumlah nucleon-nukleon tidak berpasangan.
Jumlah ini ditentukan sebagai berikut:
Jumlah Nukleon tidak
A Z Examples
Berpasangan
Genap Genap He42 0
Ganjil - Li47 1
Genap Ganjil Li37 2 (1 netron dan 1 proton)

Jadi,

E p  , 0 
a5
A3 / 4
Energi Ikat Total
Rumus akhir untuk menyatakan energi ikat sebuah inti bernomor atom Z dan
bernomor massa A yang pertama kali dikemukakan oleh C.F Von Weizsacker pada tahun
1935 ialah:
Z ( Z 1) ( A  2Z ) 2
Eb  a1 A  a2 A2 / 3  a3  a4 , 0 a35/ 4
A A A
dengan keterangan:
a1 = 14 MeV a4 = 19 MeV
a2 = 13 MeV a5 = 34 MeV
a3 = 0,60 MeV
Selain itu, untuk a5 besarnya juga ditentukan berdasarkan ketentuan berikut:
A Z a5
Genap Genap - 33,5 MeV
Ganjil - 0
Genap Ganjil + 33,5 MeV
Daftar Pustaka
Arthur,Beiser.1983. Konsep Fisika Modern. Jakarta: Erlangga

Muslim dan Zahara M. 1997. Pangantar Fisika Inti. Yogyakarta: FMIPA UGM

Dwijananti,Pratiwi. 2012. Diktat Mata KuliahFisikaInti. Semarang: FMIPA UNNES