Anda di halaman 1dari 2

Pergerakkan Nasional

a. Kebangkitan Nasional

Latar Belakang Kebangkitan Nasional:

• Kesengsaraan rakyat Indonesia akibat penerapan sistem politik kolonial


Belanda dan kebijakan-kebijakan yang diterapkannya.

(kebijakan-kebijakan tersebut seperti terbentunya VOC,diterapkannya


Culturstelsel,sistem liberal,dan masuknya modal-modal asing secara bebas )

• Muncul lah perlawanan-perlawanan di daerah-daerah guna memperjuangkan


nasib seluruh rakyat Indonesia

(Namun perlawanan-perlawanantersebut banyak mengalami kegalalan,karena


perlawanan tersebut masihg bersifat kedaerahan)

Pada abad XX dunia timur bangkit,dengan menunjukkan kekuatannya seperti :

• Republik Philipina (1898) dipelopori Jose Rizal

• Kemenangan Jepang atas Rusia di Tsusima (1905)

• Partai Kongres di India dengan Tilak dan Gandhi (1908)

• Budi Utomo dengan Wahidin Sudirohusodo

Budi Utomo merupakan organisasi pertama yang didirikan pada 20 Mei 1908 oleh
Wahidin Sudirohusodo,digerakkan olehpara pemuda pelajar sekolah Kedokteran Jawa
di Batavia (Jakarta).Awal mula organisasi ini adalah bergerak dalam pendidikan dan
budaya.

Namun dengan berjalannya waktu organisasi ini bergerak dalam bidang politik demi
tercapainya kemerdekaan bangsa.Jadi,Budi Utomo merupakan organisasi pertama
dalam perjuangan bangsa.

b. Organisasi-Organisasi Pergerakan Nasional

Pada tahun 1911, Hos Cokroaminoto mendirikan organisasi Serikat Dagang


Islam yang kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam. Selanjutnya, muncul
Indische Partij yang dipimpin oleh tiga serangkai yaitu Douwes Dekker, Cipto
Mangun Kusumo, dan Soewardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Partai ini
menunjukkan keradikalannya melalui tulisan Ki Hajar Dewantara yang berjudul “Als
ik een Nederlander Was…” (“Andaikan saya seorang Balanda”) yang isinya
menyindir sikap pemerintahan Belanda yang memperingati bebasnya negeri Belanda
dari penindasan Perancis. Ketika terjadi Perang Dunia I memberikan pengaruh
kebijakan politik Belanda di Indonesia.

Di lain pihak, Serikat Islam lambat laun mengalami perpecahan karena suatu
partai yang bernama Partai Komunis di Hindia yang kemudian menjadi Partai
Komunis Indonesia (PKI). Partai Komunis Indonesia menyerap banyak anggota
Sarekat Islam sehingga Sarekat Islam mengalami perpecahan. Perkembangan PKI di
Indonesia dipengaruhi Negara komunis di Rusia yaitu Uni Soviet. Dengan bantuan
Negara komunis tersebut, PKI dapat meluncurkan pemberontakan terhadap
pemerintahan Hindia-Belanda. Akan tetapi, pemberontakan tersebut gagal karena
pemberontakan tersebut tidak disetujui banyak anggota PKI. Akibat dari
pemberontakan PKI ini, mengakibatkan kehidupan partai politik di Indonesia menjadi
sulit karena partai politik diawasi lebih ketat oleh pemerintahan kolonial.

Pada tahun 1927, muncul Partai Nasional Indonesia, yang dipelopori oleh
Soekarno, Cipto Mangun Kusumo, Sartono, dll. Dimana partai nasional ini sudah
memiliki tujuan yang jelas. Kemudian diikuti dengan tampilnya golongan muda yang
dipelopori oleh Muhammad Yamin, Wongsonegoro, Kuncoro Purbopranoto, dll) yang
akhirnya mencetuskan Sumpah Pemuda yang memberikan pengaruh besar terhadap
pemikiran bangsa Indonesia. Golongan Pemuda merumuskan Persatuan Indonesia;
Satu Bahasa, Satu Bangsa dan Satu Tanah Air (28 Oktober 1928).

Dalam memperjuangkan Indonesia Merdeka terjalin hubungan yang erat antara


Perhimpunan Indonesia, Partai Nasional Indonesia dan Pemuda Indonesia yang
mencetuskan Sumpah Pemuda. PNI yang pada awalnya berkembang pesat dan
memiliki pengaruh yang cukup besar, dibubarkan karena seakan-akan mau melakukan
pemberontakan dan diganti bentuknya dengan Partai Indonesia atau Partindo (1931).
Golongan yang tidak menyetujui pembubaran PNI akhirnya mendirikan partai baru
yang bernama Pendidikan Nasional Indonesia (1933) yang dikenal dengan nama PNI
Pendidikan atau PNI Baru oleh Moh. Hatta dan Sutan Sjahrir. Semboyannya yang
terkenal adalah self help.

Tujuan Indonesia merdeka, tidak lagi tegas seperti pada waktu sebelumnya,
partai-partai seperti PNI, Partindo, PNI Baru sifatnya radikal dan non kooperasi
terhadap pemerintah kolonial, sehingga partai ini melakukan praktik kooperatif.