Anda di halaman 1dari 19

AKUNTANSI PERBANKAN

“TRANSAKSI MODAL BANK”

Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Akuntansi Perbankan

OLEH:

ARIF RAHMANSYAH (A1C016012)

AZMIA NAUFALA HADIA (A1C016020)

BAIQ AULIA SULHIA (A1C016023)

BAIQ TITIN FITRIANI (A1C016035)

DIAH ROSDIANA (A1C016043)

AKUNTANSI A

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MATARAM
2018/2019

A. PENGERTIAN BANK
- Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan
- Bank adalah sebuah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau
bentuk-bentuk lain dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup orang banyak. (pasal
1 ayat 2)
- Menurut Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang
Perbankan
- Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan-kegiatan konvensional maupun
secara syariah dalam kegiatannya memberikan jasa keuangan dalam lalu lintas
pembayaran. (pasal 1 ayat 3)
- Menurut PSAK No. 31
- Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 31, Pengertian Bank
adalah suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan antara pihak-pihak
yang memiliki kelebihan dana dan pihak-pihak yang memerlukan dana, serta sebagai
lembaga yang berfungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.
- Menurut Taswan
- Bank adalah sebuah lembaga atau perusahaan yang aktivitasnya menghimpun dana yang
berupa giro, deposito, tabungan dan simpanan lain dari pihak yang kelebihan dana.

B. PENGERTIAN MODAL
Menurut Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI)
Ekuitas adalah hak residual atas aset bank setelah dikurangi semua kewajiban. Instrumen
Ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas asset suatu entitas setelah
dikurangi dengan seluruh kewajibannya

C. POS – POS YANG MERUPAKAN BAGIAN DARI MODAL DAN BUKAN BAGIAN
DARI MODAL
a. Modal disetor, modal disetor adalah modal yang telah ditempatkan dan disetor secara
penuh yang dibuktikan dengan bukti penyetoran yang sah.
b. Tambahan modal disetor, yang terdiri dari agio, modal sumbangan, opsi saham dan
waran yang memenuhi kriteria sebagai komponen ekuitas, dan lainnya.
- Agio saham yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai
akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya
- Disagio saham adalah selisih kurang setoran modal yang diterima oleh bank pada
saat penerbitan saham karena harga pasar saham lebih rendah dari nilai nominal
- Modal sumbangan, yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham,
termasuk selisih antara nilai yang tercatat dengan harga jual apabila saham
tersebut dijual. Modal yang berasal dari donasi pihak luar yang diterima oleh bank
yang berbentuk hukum koperasi juga termasuk dalam pengertian modal
sumbangan. Bunga penempatan dana setoran modal sebelum perseroan beroperasi
secara komersial yang dikontribusikan oleh pemegang saham sebagai tambahan
modal juga termasuk dalam pengertian modal sumbangan
- Dividen atau setara dividen yang dibayarkan kepada karyawan atas bagian dari
program kompensasi saham atau instrumen ekuitas lainnya yang menjadi hak
karyawan dibebankan ke saldo laba.
- Beban kompensasi program pemberian instrumen ekuitas kepada karyawan diakui
selama masa bakti karyawan, yaitu dengan mengakui beban kompensasi dan
mengkredit tambahan modal disetor jika kompensasi tersebut untuk jasa masa
depan. Jika masa bakti karyawan tidak ditentukan, maka masa bakti karyawan
dianggap sama dengan periode dari tanggal pemberian kompensasi sampai dengan
tanggal saat kompensasi tersebut menjadi hak karyawan, dan eksekusinya tidak
lagi bergantung pada berlanjut atau tidaknya masa bakti karyawan. Apabila
program kompensasi diperuntukkan bagi jasa masa lalu, maka beban kompensasi
diakui pada periode pemberian kompensasi
- Jumlah kas atau aset lain yang dibayarkan (atau kewajiban yang timbul) untuk
memperoleh kembali instrumen ekuitas yang telah menjadi hak karyawan
dibebankan ke ekuitas, dengan syarat jumlah pembayaran tersebut tidak melebihi
nilai instrumen yang diperoleh kembali.
- Dana setoran modal tidak memenuhi kriteria instrumen ekuitas sesuai dengan
PSAK 50 karena masih terdapat unsur ketidakpastian dimana bank tetap memiliki
kewajiban kontraktural sehingga harus mengembalikan dana tersebut apabila tidak
memenuhi ketentuan Bank Indonesia untuk diakui sebagai modal disetor.
c. Pendapatan komprehensif lainnya adalah pos-pos keuntungan dan kerugian (termasuk
dampak dari penyesuaian reklasifikasi) yang tidak diakui dalam laporan laba rugi
sebagaimana diatur dalam PSAK. Termasuk dalam pendapatan komprehensif lainnya
adalah:
- Perubahan ekuitas yang berasal dari peningkatan/penurunan nilai wajar aset
keuangan dalam kategori Tersedia untuk Dijual;
- Bagian efektif dari keuntungan dan kerugian yang berasal dari transaksi lindung
nilai atas arus kas (cash flow hedge), dan transaksi lindung nilai atas investasi neto
(net investment hegde).
d. Perubahan dalam surplus revaluasi
1. Model revaluasian sesuai PSAK 16 (2007) maka revaluasi aset tetap dalam rangka
penyajian laporan keuangan tidak lagi harus mengikuti ketentuan perpajakan. Suatu
entitas yang memilih model revaluasian mempunyai pilihan untuk melaporkan atau
tidak atas hasil revaluasi untuk tujuan perpajakan. Apabila entitas bermaksud tidak
melaporkan hasil revaluasian tersebut untuk tujuan perpajakan maka akan terjadi
beda temporer antara laporan keuangan dengan laporan fiskalnya sehingga pengaruh
pajak tangguhan atas revaluasi tersebut perlu dihitung.
2. Beberapa paragraf dalam PSAK 16 (2007) menjelaskan mengenai nilai wajar aset
tetap pada saat revaluasian. Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan
melalui penilaian yang dilakukan oleh penilai yang memiliki kualifikasi professional
berdasarkan bukti pasar. Jika tidak ada nilai wajar karena sifat dari aset tetap yang
khusus dan jarang diperjual-belikan, kecuali sebagai bagian dari bisnis yang
berkelanjutan, entitas dapat menggunakan pendekatan penghasilan atau biaya
pengganti yang telah disusutkan. Belum ada pedoman yang lebih lanjut mengenai
bagaimana suatu entitas atau profesi penilai dalam menentukan nilai wajar. Bahkan
dalam kasus penentuan nilai wajar pabrik dan peralatan PSAK cenderung
menyerahkan kepada profesi penilai. Sehingga dikhawatirkan akan mengurangi
reliabilitas laporan keuangan
3. PSAK 16 (2007) menyebutkan bahwa frekuensi revaluasi tergantung kepada
perubahan nilai wajar dari suatu aset tetap yang direvaluasi. Jika terjadi perbedaan
nilai wajar secara material dari jumlah yang tercatat maka revaluasi selanjutnya perlu
dilakukan. Beberapa aset tetap yang mengalami perubahan nilai wajar signifikan dan
fluktuatif perlu dilakukan revaluasi setiap tahun. Sedangkan untuk perubahan nilai
wajar yang tidak signifikan tidak perlu dilakukan revaluasi setiap tahun. Namun
demikian, aset tersebut mungkin perlu direvaluasi setiap tiga atau lima tahun sekali
4. Pengelompokan aset tetap merupakan hal yang penting dan harus diperhatikan oleh
entitas pada saat melakukan revaluasi aset tetap. PSAK 16 (2007) menyebutkan
bahwa jika suatu aset tetap direvaluasi, maka seluruh aset tetap dalam kelompok
yang sama harus direvaluasi
5. Definisi suatu kelompok aset tetap menurut PSAK 16 (2007) adalah pengelompokan
aset yang memiliki sifat dan kegunaan yang serupa dalam operasi normal entitas.
Contoh dari kelompok aset yang terpisah adalah: tanah, tanah dan bangunan, mesin,
kapal, pesawat udara, kendaraan bermotor, perabotan, dan peralatan kantor. Oleh
karena itu system informasi akuntansi suatu entitas perlu didisain sedemikian rupa
sehingga mampu membuat kelompok-kelompok aset tetap sesuai dengan PSAK ini.
e. Keuntungan dan kerugian yang timbul dari selisih kurs karena penjabaran
laporan keuangan operasi luar negeri
1. Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan adalah selisih yang timbul dari
proses penjabaran laporan keuangan kantor cabang atau perusahaan anak di luar
negeri yang termasuk dalam kriteria entitas asing.
2. Entitas asing adalah suatu kegiatan usaha luar negeri (foreign operation), yang
aktivitasnya bukan merupakan bagian integral dari perusahaan pelapor.
f. Selisih Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali
Transaksi restrukturisasi entitas sepengendali adalah selisih yang timbul dari transaksi
pengalihan aset, kewajiban, saham atau bentuk instrumen kepemilikan lainnya antara
pihak-pihak (perorangan, perusahaan atau bentuk entitas lainnya) yang, secara langsung
atau tidak langsung (melalui satu atau lebih perantara), mengendalikan atau dikendalikan
oleh atau berada di bawah pengendalian yang sama
g. Selisih Transaksi Perubahan Ekuitas Perusahan Anak/Perusahaan Asosiasi
1. Transaksi perubahan ekuitas perusahaan anak/perusahaan asosiasi adalah transaksi
perubahan ekuitas perusahaan anak/perusahaan asosiasi yang tidak berasal dari
transaksi antara investor dan perusahaan anak/perusahaan asosiasi.
2. Transaksi yang mengubah ekuitas perusahaan anak/perusahaan asosiasi antara lain:
a. Transaksi yang mengubah persentase kepemilikan investor pada perusahaan
anak/perusahaan asosiasi:
1) Transaksi antara perusahaan anak/perusahaan asosiasi dengan investor:
- Perusahaan anak/perusahaan asosiasi menjual saham tambahan kepada
investor,
- Perusahaan anak/perusahaan asosiasi memperoleh kembali saham
beredar yang dimiliki oleh investor.
2) Transaksi antara perusahaan anak/perusahaan asosiasi dengan pihak ketiga
(selain investor):
- Perusahaan anak/perusahaan asosiasi menjual saham tambahan kepada
pihak ketiga;
- Perusahaan anak/perusahaan asosiasi memperoleh kembali saham
beredar yang dimiliki oleh pihak ketiga.
b. Transaksi yang tidak mengubah persentase kepemilikan investor pada
perusahaan anak/perusahaan asosiasi, misalnya perusahaan anak/ perusahaan
asosiasi melakukan revaluasi aset tetap sehingga muncul akun selisih penilaian
kembali aset tetap.
3. Bagian ini hanya mencakup perlakuan akuntansi untuk perubahan nilai investasi
bank (sebagai investor) pada perusahaan anak/perusahaan asosiasi akibat adanya
perubahan ekuitas perusahaan anak/perusahaan asosiasi yang bukan berasal dari
transaksi antara bank dan perusahaan anak/perusahaan asosiasi, atau akibat transaksi
perusahaan anak/perusahaan asosiasi dengan pihak ketiga.
4. Pada hakekatnya, perusahaan anak/perusahaan asosiasi merupakan bagian bank
(sebagai investor), karena itu perubahan ekuitas perusahaan anak/ perusahaan
asosiasi yang tidak berasal dari transaksi antara bank dan perusahaan
anak/perusahaan asosiasi juga diperlakukan sebagai perubahan ekuitas di bank.
h. Selisih penilaian aset dan kewajiban karena kuasi reorganisasi
Kuasi-reorganisasi merupakan prosedur akuntansi yang mengatur perusahaan
merestrukturisasi ekuitasnya dengan menghilangkan defisit dan menilai kembali seluruh
aset dan kewajibannya.
i. Saldo laba, yang terdiri dari cadangan tujuan, cadangan umum dan saldo laba yang
belum dicadangkan (laba/rugi tahun lalu dan laba/rugi tahun berjalan).
1. Saldo laba adalah akumulasi hasil usaha periodik setelah memperhitungkan
pembagian dividen dan koreksi laba rugi periode lalu.
2. Saldo laba dikelompokkan menjadi:
a. Cadangan tujuan adalah cadangan yang dibentuk dari laba bersih setelah pajak
yang tujuan penggunaannya telah ditetapkan.
b. Cadangan umum adalah cadangan yang dibentuk dari laba bersih setelah pajak
yang dimaksudkan untuk memperkuat modal.
c. Sisa laba yang belum dicadangkan terdiri dari:
- laba rugi periode lalu yang belum ditetapkan penggunaannya; dan
- laba rugi periode berjalan.
3. Pos saldo laba harus dinyatakan secara terpisah dari pos modal saham. Seluruh
saldo laba dianggap bebas untuk dibagikan sebagai dividen, kecuali jika diberikan
indikasi mengenai pembatasan terhadap saldo laba, misalnya dicadangkan untuk
tujuan tertentu, atau untuk memenuhi ketentuan undang-undang atau ikatan tertentu.
4. Saldo laba yang tidak tersedia untuk dibagikan sebagai dividen karena
pembatasanpembatasan tersebut dilaporkan dalam pos tersendiri yang
menggambarkan tujuan pencadangan yang dimaksud.
j. Modal saham meliputi saham preferen, saham biasa, dan akun Tambahan Modal
Disetor. Pos modal lainnya seperti modal yang berasal dari sumbangan dapat disajikan
sebagai bagian dari tambahan modal disetor. (PSAK 21: Paragraf 11)
k. Modal penyertaan diakui sebagai ekuitas dan dicatat sebesar jumlah nominal setoran.
Dalam hal modal penyertaan yang diterima selain uang tunai, maka modal penyertaan
tersebut dinilai sebesar harga pasar yang berlaku pada saat diterima. (PSAK 27:
Paragraf 29).
l. Modal sumbangan yang diterima oleh koperasi yang dapat menutup risiko kerugian
diakui sebagai ekuitas, sedangkan modal sumbangan yang substansinya merupakan
pinjaman diakui sebagai kewajiban jangka panjang dan dijelaskan dalam catatan atas
laporan keuangan. (PSAK 27: Paragraf 33)
m. Modal saham meliputi saham preferen, saham biasa, dan akun Tambahan Modal Disetor.
Pos modal lainnya seperti modal yang berasal dari sumbangan dapat disajikan sebagai
bagian dari tambahan modal disetor. (PSAK 21: Paragraf 11)
n. Jika perusahaan memperoleh kembali saham yang telah dikeluarkan, selisih antara
jumlah yang dibayarkan pada saat perolehan kembali dengan jumlah yang diterima pada
saat pengeluaran saham tidak diakui sebagai laba atau rugi perusahaan. Perolehan
kembali saham yang telah dikeluarkan dapat dicatat menggunakan metode biaya (cost
method) atau metode nilai nominal (par value method). Dengan metode biaya, saham
yang diperoleh kembali dicatat sebesar harga perolehan kembali dan disajikan sebagai
pengurang atas jumlah modal. (PSAK 21: Paragraf 18)
Adapun yang bukan merupakan bagian pos-pos modal/ekuitas, yaitu:

Dalam menentukan apakah instrumen keuangan dapat dikategorikan dalam komponen


ekuitas, bank harus memperhatikan apakah instrumen keuangan tersebut memenuhi kriteria
sebagai instrumen ekuitas atau kewajiban keuangan sebagaimana diatur dalam PSAK 50.
Sebagai contoh:

a. Redeemable preference sharedengan discretionary dividends. Kewajiban atas pokok


dari saham tersebut dikategorikan sebagai kewajiban keuangan, sementara dividennya
dikategorikan sebagai ekuitas.
b. Convertible bonddengan konversi menjadi jumlah saham yang sudah ditentukan (fixed
number of shares).

Instrumen obligasi dikategorikan sebagai kewajiban, sementara opsi konversi


dikategorikan sebagai ekuitas.

D. ILUSTRASI PENYAJIAN MODAL DALAM LAPORAN POSISI KEUANGAN


a. Struktur Modal Dalam Laporan Keuangan Bank NTB 2017
b. Penyajian modal dalam laporan posisi keuangan

E. STANDAR AKUNTANSI DAN PERATURAN OJK MENGENAI MODAL


MINIMUM

Bank wajib menyediakan modal minimum sesuai profil risiko dengan menggunakan rasio
Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM). Penyediaan modal minimumdi tetapkan
paling rendah:

a. 8% (delapan persen) dari Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) bagi Bank dengan
profil risiko Peringkat 1;
b. 9% (sembilan persen) sampai dengan kurang dari 10% (sepuluh persen) dari ATMR
bagi Bank dengan profil risiko Peringkat 2;
c. 10% (sepuluh persen) sampai dengan kurang dari 11% (sebelas persen) dari ATMR bagi
Bank dengan profil risiko Peringkat 3; atau
d. 11% (sebelas persen) sampai dengan 14% (empat belas persen) dari ATMR bagi Bank
dengan profil risiko Peringkat 4 atau Peringkat 5.

Dalam hal Otoritas Jasa Keuangan menilai Bank menghadapi potensi kerugian yang
membutuhkan modal lebih besar maka OJK berwenang menetapkan modal minimum lebih
besar dari modal minimum sebelumnya. Pemenuhan modal minimum sesuai profil resiko
ditentukan dengan:

- Pemenuhan modal minimum di bulan Maret – Agustus didasarkan pada peringkat


profil resiko di bulan Desember;
- Pemenuhan modal minimum di bulan September – Februari didasarkan pada peringkat
profil resiko di bulan Juni;
- Dalam hal terjadi perubahan profil resiko di antara periode penilaian resiko,
pemenuhan modal minimum didasarkan pada peringkat profil risiko terakhir.

Selain pemenuhan modal minimum sesuai profil resiko, bank juga wajib membentuk
tambahan modal sebagai penyangga (buffer). Tambahan modal yang dimakasud yaitu:

a. Capital Conservation Buffer (


Ditetapkan sebesar 2,5% dari ATMR) dan wajib dibuat Bank Umum Kegiatan Usaha
(BUKU 3 dan 4). Dimana pemenuhan dilakukan secara bertahap, yaitu:
- 0,625% dari ATMR mulai tanggal 1 Januari 2016;
- 1,25% dari ATMR mulai tanggal 1 Januari 2017;
- 1,875% dari ATMR mulai tanggal 1 Januari 2018; dan
- 2,5% dari ATMR mulai tanggal 1 Januari 2019.
b. Countercyclical Buffer
Ditetapkan sebesar 0% - 2,5% dari ATMR dan wajib dibuat oleh seluruh bank
c. Capital Surcharge untuk D-SIB
Ditetapkan 1% - 2,5% dari ATMR dan wajib dibentuk oleh bank yang ditetapkan
berdampak sistemik

Pemenuhan tambahan modal dipenuhi dengan komponen modal inti utama setelah
dialokasikan untuk pemenuhan kewajiban penyediaan modal inti utama minimum, modal
inti minimum, dan modal minimum sesuai profil resiko. Jika perusahaan memiliki
perusahaan anak maka pembentukan tambahan modal dilakukan secara individu dan
konsolidasi.

Terkait dengan pemenuhan modal minimum bank dibatasi bahkan dilarang melakukan
distribusi laba jika hal tersebut mengakibaatkan kondisi permodalan tidak mampu memebuhi
modal minimum baik secara individu maupun konsolidasi.

MODAL

Modal bagi Bank yang berkantor pusat di Indonesia terdiri atas:

a. Modal inti (Tier 1)


Bank wajib menyediakan modal inti paling rendah sebesar 6% dari ATMR baik
secara individu maupun secara konsolidasi dengan Perusahaan Anak. Untuk modal inti
utama paling rendah sebesar 4,5% dari ATMR baik secara individu maupun secara
konsolidasi dengan Perusahaan Anak. Jika terdapat kepentingan non pengendali dalam
perusahaan maka hal tersebut akan diperhiungkan seabagai modal inti utama hanya jika
kepemilikannya lebih dari 50% dan dengan syarat yaitu merupakan bank, adanya
keterkaitan atau afiliasi, dan komitmen yang dinyatakan dalam RUPS. Modal inti
meliputi:
1. Modal inti utama (Common Equity Tier 1);
- Modal disetor, dengan syarat:
a. Diterbitkan dan telah dibayar penuh;
b. Bersifat subordinasi terhadap komponen modal lain;
c. Bersifat permanen;
d. Tersedia untuk menyerap kerugian yang terjadi sebelum likuidasi maupun
pada saat likuidasi;
e. Perolehan imbal hasil tidak dapat dipastikan dan tidak dapat
diakumulasikan antar periode;
f. Tidak diproteksi maupun dijamin oleh Bank atau Perusahaan Anak;
g. Memiliki karakteristik pembayaran dividen atau imbal hasil:
- Berasal dari saldo laba dan/atau laba tahun berjalan;
- Tidak memiliki nilai yang pasti dan tidak terkait dengan nilai yang
dibayarkan atas instrumen modal;
- Tidak memiliki fitur preferensi; dan
h. Sumber pendanaan tidak berasal dari Bank penerbit baik secara langsung
atau tidak langsung.
- Cadangan tambahan modal (disclosed reserve);
Faktor penambah, yaitu:
1. Agio yang berasal dari penerbitan instrumen yang tergolong sebagai modal
inti utama (Common Equity Tier 1);
2. Modal sumbangan;
3. Cadangan umum;
4. Laba tahun-tahun lalu;
5. Laba tahun berjalan;
6. Selisih lebih penjabaran laporan keuangan;
7. Dana setoran modal, yang memenuhi persyaratan:
- Telah disetor penuh untuk tujuan penambahan modal namun belum
didukung dengan kelengkapan persyaratan untuk dapat digolongkan
sebagai modal disetor seperti pelaksanaan rapat umum pemegang
saham maupun pengesahan anggaran dasar dari instansi yang
berwenang;
- Ditempatkan pada rekening khusus (escrow account) yang tidak
diberikan imbal hasil;
- Tidak boleh ditarik kembali oleh pemegang saham atau calon
pemegang saham dan tersedia untuk menyerap kerugian; dan d)
penggunaan dana harus dengan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan;
8. Waran yang diterbitkan sebagai insentif kepada pemegang saham Bank
yang diakui sebesar 50% (lima puluh persen) dari nilai wajar dan harus
memenuhi persyaratan:
- Instrumen yang mendasari adalah saham biasa;
- Tidak dapat dikonversi ke dalam bentuk selain saham; dan
- Nilai yang diperhitungkan adalah nilai wajar dari waran pada tanggal
penerbitannya;
9. Opsi saham (stock option) yang diterbitkan melalui program kompensasi
pegawai atau manajemen berbasis saham (employee atau management
stock option) yang diakui sebesar 50% (lima puluh persen), dengan
memenuhi persyaratan:
- Instrumen yang mendasari adalah saham biasa;
- Tidak dapat dikonversi ke dalam bentuk selain saham; dan
- Nilai yang diperhitungkan adalah nilai wajar dari stock option pada
tanggal pemberian kompensasi;
10. Pendapatan komprehensif lainnya berupa potensi keuntungan yang berasal
dari peningkatan nilai wajar aset keuangan yang dikategorikan sebagai
kelompok tersedia untuk dijual; dan
11. Saldo surplus revaluasi aset tetap;

Faktor pengurang, yaitu:

1. Disagio yang berasal dari penerbitan instrumen yang tergolong sebagai


modal inti utama (Common Equity Tier 1);
2. Rugi tahun-tahun lalu;
3. Rugi tahun berjalan;
4. Selisih kurang penjabaran laporan keuangan;
5. Pendapatan komprehensif lainnya berupa: potensi kerugian yang berasal
dari penurunan nilai wajar aset keuangan yang dikategorikan sebagai
kelompok tersedia untuk dijual, dan kerugian atas pengukuran kembali
atas program pensiun manfaat pasti;
6. Selisih kurang antara PPA atas aset produktif dan Cadangan Kerugian
Penurunan Nilai (CKPN) atas aset produktif;
7. Selisih kurang antara jumlah penyesuaian terhadap hasil valuasi dari
instrumen keuangan dalam Trading Book dan jumlah penyesuaian
berdasarkan standar akuntansi keuangan; dan
8. PPA non-produktif.
2. Modal inti tambahan (Additional Tier 1); dengan syarat:
a. Diterbitkan dan telah dibayar penuh;
b. Tidak memiliki jangka waktu dan tidak terdapat persyaratan yang mewajibkan
pelunasan oleh Bank di masa mendatang;
c. Pembelian kembali atau pembayaran pokok instrumen harus mendapat
persetujuan pengawas;
d. Tidak memiliki fitur step-up;
e. Memiliki fitur untuk dikonversi menjadi saham biasa atau mekanisme write
down dalam hal Bank berpotensi terganggu kelangsungan usahanya (point of
non-viability) yang dinyatakan secara jelas dalam dokumentasi penerbitan atau
perjanjian;
f. Bersifat subordinasi pada saat likuidasi, yang secara jelas dinyatakan dalam
dokumentasi penerbitan atau perjanjian;
g. Perolehan imbal hasil tidak dapat dipastikan baik jumlah maupun waktu dan
tidak dapat diakumulasikan antar periode;
h. Tidak diproteksi maupun dijamin oleh Bank atau Perusahaan Anak;
i. Tidak memiliki fitur pembayaran dividen atau imbal hasil yang sensitif
terhadap Risiko Kredit;
j. Dalam hal disertai dengan fitur opsi beli (call
option), harus memenuhi persyaratan:
- Hanya dapat dieksekusi paling cepat 5 (lima) tahun setelah instrumen
modal diterbitkan; dan
- Dokumentasi penerbitan harus menyatakan bahwa opsi hanya dapat
dieksekusi atas persetujuan Otoritas Jasa Keuangan;
k. Tidak dapat dibeli oleh Bank penerbit dan/atau Perusahaan Anak;
l. Sumber pendanaan tidak berasal dari Bank penerbit baik secara langsung
maupun tidak langsung;
m. Tidak memiliki fitur yang menghambat proses penambahan modal pada masa
mendatang; dan
n. Telah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan untuk diperhitungkan
sebagai komponen modal.
b. Modal pelengkap (Tier 2).
Dapat diperhitungkan paling tinggi sebesar 100% (seratus persen) dari modal inti
dengan persyaratan kurang lebih sama dengan modal inti. Jumlah yang dapat
diperhitungkan sebagai modal pelengkap adalah jumlah modal pelengkap dikurangi
amortisasi yang dihitung dengan menggunakan metode garis lurus yang dilakukan untuk
sisa jangka waktu instrumen 5 (lima) tahun terakhir. Dalam hal terdapat opsi beli (call
option), jangka waktu sampai Bank dapat mengeksekusi opsi beli (call option)
merupakan sisa jangka waktu instrumen. Modal pelengkap, meliputi:
a. instrumen modal dalam bentuk saham atau dalam bentuk lainnya yang memenuhi
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam
b. agio atau disagio yang berasal dari penerbitan instrumen modal yang tergolong
sebagai modal pelengkap;
c. cadangan umum PPA atas aset produktif yang wajib dihitung dengan jumlah paling
tinggi sebesar 1,25% (satu koma dua puluh lima persen) dari ATMR untuk Risiko
Kredit; dan
d. cadangan tujuan.

Dalam hal perusahaan sebagai perusahaan konsolidasi maka yang tergolong modal harus
memenuhi syarat, yaitu:

a. Memenuhi persyaratan sebagaimana; dan


b. Memiliki fitur untuk dikonversi menjadi saham biasa atau mekanisme write down
dinyatakan secara jelas dalam dokumentasi penerbitan, dalam hal Bank secara
konsolidasi berpotensi terganggu kelangsungan usahanya (point of non-viability).

Dalam hal kantor cabang berada di luar negri maka yang tergolong modal terdiri atas:

a. Dana usaha, dalam hal posisi dana usaha sebenrnya > dana usaha dinyatakan maka
diambil dana usaha dinyatakan, sebaliknya dana usaha sebenrnya < dana usaha
dinyatakan maka diambil dana usaha sebenarnya, posisi dana usaha yang sebenarnya
negatif, menjadi faktor pengurang komponen modal;
b. Laba ditahan dan laba tahun lalu setelah dikeluarkan pengaruh faktor tertentu
(peningkatan atau penurunan nilai wajar kewajiban keuangan dan keuntungan atas
penjualan asset dalam transaksi sekuritisasi);
c. Laba tahun berjalan setelah dikeluarkan pengaruh faktor tertentu (peningkatan atau
penurunan nilai wajar kewajiban keuangan dan keuntungan atas penjualan asset dalam
transaksi sekuritisasi)
d. Cadangan umum;
e. Saldo surplus revaluasi aset tetap;
f. Pendapatan komprehensif lainnya berupa potensi keuntungan yang berasal dari
peningkatan nilai wajar aset keuangan yang diklasifikasikan dalam kelompok tersedia
untuk dijual;
g. Cadangan tujuan; dan
h. Cadangan umum penyisihan penghapusan aset (ppa) atas aset produktif d yang wajib
dihitung dengan jumlah paling tinggi sebesar 1,25% dari ATMR untuk Risiko Kredit.

Jika dalam perusahaan dibentuk cadangan pelunasan dan telah dipublikasikan dalam RUPS
maka cadangan tersebut tidak diperhitungkan sebagai modal pelengkap.

Dalam menghitung modal diatas perlu diperhatikan faktor-faktor yang menjadi pengurang
modal, yaitu:

- Cadangan tambahan modal,


- Perhitungan pajak tangguhan (deferred tax);
- Goodwill;
- Aset tidak berwujud;
- Seluruh penyertaan bank yang meliputi :
1. Penyertaan bank kepada perusahaan anak kecuali penyertaan modal sementara
bank kepada perusahaan anak dalam rangka restrukturisasi kredit;
2. 2. Penyertaan kepada perusahaan atau badan hukum dengan kepemilikan bank
lebih dari 20% (dua puluh persen) sampai dengan 50% (lima puluh persen)
namun bank tidak memiliki pengendalian; dan
3. Penyertaan kepada perusahaan asuransi;
- Kekurangan modal (shortfall) dari pemenuhan tingkat rasio solvabilitas minimum (risk
based capital atau rbc minimum) pada perusahaan asuransi yang dimiliki dan
dikendalikan oleh bank;
- Eksposur sekuritisasi;
- Pembelian kembali instrumen modal yang telah diakui sebagai komponen permodalan
bank; dan
- Penempatan dana pada instrumen utang bank lain yang diakui sebagai komponen
modal oleh bank lain (bank penerbit).

CEMA (Capital Equivalency Maintened Asset)

Merupakan alokasi dana usaha kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri
yang wajib ditempatkan pada asset keuangan dalam jumlah dan persyaratan teretentu.
Kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri wajib memenuhi CEMA
minimum sebesar 8% dari total kewajiban kantor cabang dari bank yang berkedudukan di
luar negeri pada setiap bulan dan paling sedikit sebesar Rp1.000.000.000.000,00. Adapun
tahapannya yaitu:

a. Sampai dengan posisi bulan November 2017, CEMA minimum ditetapkan sebesar 8%
(delapan persen) dari total kewajiban kantor cabang dari bank yang berkedudukan di
luar negeri pada setiap bulan;
b. Mulai posisi bulan Desember 2017, CEMA minimum ditetapkan 8% (delapan persen)
dari total kewajiban kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri pada
setiap bulan dan paling sedikit sebesar Rp1.000.000.000.000,00.

CEMA minimum dipenuhi dari dana usaha kantor cabang di luar negeri yang harus
memenuhi KPMM seseuai profil resiko dan CEMA minimum dan dihitung setiap bulan.
CEMA minimum dipenuhi paling lambat 6 bulan. Selain itu kantor cabang menetapkan asset
keuangan untuk memenuhi CEMA yang mana asset tersebut dilarang dipertukarkan selama
periode pemenuhan CEMA. Aset yang dimaksud adalah:
a. Surat berharga yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dan dimaksudkan
untuk dimiliki hingga jatuh tempo;
b. Surat berharga yang diterbitkan oleh Bank lain yang berbadan hukum Indonesia dan
memenuhi kriteria:
1. Tidak bersifat ekuitas;
2. Memiliki peringkat investasi; dan
3. Tidak dimaksudkan untuk tujuan diperdagangkan (trading); dan/atau
c. Surat berharga yang diterbitkan oleh korporasi berbadan hukum Indonesia dan
memenuhi kriteria:
1. Tidak bersifat ekuitas;
2. Memiliki peringkat surat berharga paling kurang A+ atau yang setara;
3. Tidak dimaksudkan untuk tujuan diperdagangkan (trading); dan
4. Porsi surat berharga korporasi paling banyak sebesar 20% (dua puluh persen) dari
total CEMA minimum.

Aset keuangan yang digunakan sebagai CEMA harus bebas dari klaim pihak manapun.
Perhitungan aset keuangan yang digunakan untuk memenuhi CEMA minimum:

a. Untuk aset keuangan yang telah dimiliki oleh Bank, dihitung berdasarkan nilai tercatat
aset keuangan pada posisi akhir bulan laporan;
b. Untuk aset keuangan yang dibeli setelah posisi akhir bulan laporan, dihitung
berdasarkan nilai tercatat aset keuangan pada posisi pembelian aset keuangan.

ATMR

ATMR yang digunakan dalam perhitungan modal minimum dan perhitungan pembentukan
tambahan modal sebagai penyangga yang terdiri atas:

a. ATMR untuk Risiko Kredit;


Dalam perhitungan ATMR untuk Risiko Kredit, terdapat 2 pendekatan yang dapat
digunakan, yaitu:
1. Pendekatan Standar (Standardized Approach); dan/atau
Pendekatan ini digunakan untuk penerapan tahap awal
2. Pendekatan berdasarkan Internal Rating (Internal Rating based Approach).
Pendekatan ini dapat digunakan atas persetujuan OJK.
b. ATMR untuk Risiko Operasional; dan
Dalam perhitungan ATMR untuk Risiko Operasional, terdapat 3 (tiga) pendekatan yang
dapat digunakan, yaitu:
a. Pendekatan Indikator Dasar (Basic IndicatorApproach);
Digunakan untuk penerapan tahap awal
b. Pendekatan Standar (Standardized Approach); dan/atau
c. Pendekatan yang lebih kompleks (Advanced Measurement Approach).

Untuk pendekatan b dan c penggunaannya harus ada persetujuan dari OJK

c. ATMR untuk Risiko Pasar.


Risiko Pasar yang wajib diperhitungkan oleh Bank secara individu dan secara
konsolidasi dengan Perusahaan Anak adalah:
a. risiko suku bunga; dan/atau
b. risiko nilai tukar.

Dalam perhitungan ATMR untuk Risiko Pasar, terdapat 2 (dua) pendekatan yang dapat
digunakan, yaitu:

a. Metode Standar (Standard Method);


Digunakan untuk penerapan awal
b. Model Internal (Internal Model).

Digunakan atas persetujuan OJK

Internal Capital Adequacy Assessment Process (ICAAP)

Dalam memenuhi kewajiban penyediaan modal minimum sesuai profil risiko baik
secara individu maupun konsolidasi dengan Perusahaan Anak, Bank wajib memiliki ICAAP
yang disesuaikan dengan ukuran, karakteristik, dan kompleksitas usaha Bank. ICAAP
mencakup paling sedikit:

a. Pengawasan aktif Direksi dan Dewan Komisaris;


b. Penilaian kecukupan modal;
c. Pemantauan dan pelaporan; dan
d. Pengendalian internal.