Anda di halaman 1dari 6

HAND OUT

Mata Kuliah : Kesehatan Reproduksi


Topik : Konsep dasar kesehatan reproduksi
Sub Topik : Hak-hak kesehatan reproduksi
Waktu : 50 Menit
Dosen : Melur Azura Amd. Keb

Objek Perilaku Siswa


Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu :
1. Menjelaskan kembali tentang hak-hak kesehatan reproduksi

Referensi
1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Dirjen Pembinaan Kesehatan
Masyarakat, 1996, “Kesehatan Reproduksi di Indonesia”, Jakarta.
2. Mohamad, Kartono, 1998, “Kontradiksi Dalam Kesehatan Reproduksi”,
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
3. Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, PPK-UGM, dan Ford
Foundation, 1995,
4. “Hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi, terjemahan bahasa
Indonesia Implication of the ICPD programme of action Chapter VII,
Yogyakarta.
5. Wahid, Abdurrahman, dkk, 1996, “Seksualitas, Kesehatan Reproduksi dan
Ketimpangan Gender”, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
6. Mona Isabella Saragih, Amkeb, SKM. Materi Kesehatan Reproduksi.
Akademi Kebidanan YPIB Majalengka.
Uraian Materi

Hak – Hak Kesehatan


Reproduksi

a. Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi

b. Hak mendapat pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi

c. Hak kebebasan berpikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi

d. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan

e. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak

f. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan


reproduksinya

g. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk


perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual

h. Hak mendapatkan manfaat kemajuan, ilmu pengetahuan yang berkaitan


dengan kesehatan reproduksi

i. Hak atas kerahasiaan pribadi berkaitan dengan pilihan atas pelayanan dan
kehidupan reproduksinya

j. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga

k. Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan


berkeluarga dan kehidupan reproduksi

l. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang


berkaitan dengan kesehatan reproduksi

3. Menurut Piagam IPPF/PKBI Tentang Hak-hak reproduksi dan seksual adalah:

a. Hak untuk hidup


Setiap perempuan mempunyai hak untuk bebas dari risiko kematian karena
kehamilan, melahirkan dan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV & AIDS

b. Hak mendapatkan kebebasan dan keamanan

Setiap individu berhak untuk menikmati dan mengatur kehidupan seksual dan
reproduksinya dan tak seorang pun dapat dipaksa untuk hamil, menjalani
sterilisasi dan aborsi

c. Hak atas kesetaraan dan terbebas dari segala bentuk diskriminasi

Setiap individu mempunyai hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi
termasuk kehidupan seksual dan reproduksinya

d. Hak privasi

Setiap individu mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan


seksual dan reproduksi dengan menghormati kerahasiaan pribadi. Setiap
perempuan mempunyai hak untuk menentukan sendiri pilihan reproduksinya.

e. Hak kebebasan berpikir

Setiap individu bebas dari penafsiran ajaran agama yang sempit, kepercayaan,
filosofi dan tradisi yang membatasi kemerdekaan berpikir tentang pelayanan
kesehatan reproduksi dan seksual

f. Hak atas informasi dan edukasi

Setiap individu mempunyai hak atas informasi dan pendidikan yang berkaitan
dengan kesehatan reproduksi dan seksual termasuk jaminan kesehatan dan
kesejahteraan perorangan maupun keluarga

g. Hak memilih untuk menikah atau tidak serta untuk membentuk dan
merencanakan sebuah keluarga

h. Hak untuk memutuskan apakah ingin dan kapan punya anak

i. Hak atas pelayanan dan proteksi kesehatan

Setiap individu mempunyai hak atas informasi, keterjangkauan, pilihan,


keamanan, kerahasiaan, kepercayaan, harga diri, kenyamanan, dan
kesinambungan pelayanan

j. Hak untuk menikmati kemajuan ilmu pengetahuan

Setiap individu mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan


reproduksi dengan teknologi mutakhir yang aman dan dapat diterima

k. Hak atas kebebasan berserikat dan berpartisipasi dalam arena politik


Setiap individu mempunyai hak untuk mendesak pemerintah agar
memprioritaskan kebijakan yang berkaitan dengan hak-hak kesehatan seksual
dan reproduksi

l. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk

Termasuk hak-hak perlindungan anak dari eksploitasi dan penganiayaan


seksual. Setiap individu mempunyai hak untuk dilindungi dari perkosaan,
kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual.

4.Menurut BKKBN 2000, kebijakan teknis operasional di Indonesia, untuk


mewujudkan pemenuhan hak-hak reproduksi :

a. Promosi hak-hak reproduksi

Dilaksanakan dengan menganalisis perundang-undangan, peraturan dan


kebijakan yang saat ini berlaku apakah sudah seiring dan mendukung hak-
hak reproduksi dengan tidak melupakan kondisi lokal sosial budaya
masyarakat. Pelaksanaan upaya pemenuhan hak reproduksi memerlukan
dukungan secara politik, dan legislatif sehingga bisa tercipta undang-
undang hak reproduksi yang memuat aspek pelanggaran hak-hak
reproduksi.

b. Advokasi hak-hak reproduksi

Advokasi dimaksudkan agar mendapatkan komitmen dari para tokoh politik,


tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM/LSOM dan swasta. Dukungan swasta
dan LSM sangat dibutuhkan karena ruang gerak pemerintah lebih terbatas.
Dukungan para tokoh sangat membantu memperlancar terciptanya
pemenuhan hak-hak reproduksi. LSM yang memperjuangkan hak-hak
reproduksi sangat penting artinya untuk terwujudnya pemenuhan hak-hak
reproduksi.

c. KIE hak-hak reproduksi

Dengan KIE diharapkan masyarakat semakin mengerti hak-hak reproduksi


sehingga dapat bersama-sama mewujudkannya.

d. Sistem pelayanan hak-hak reproduksi

Indikator terpenuhinya atau tidak terpenuhinya hak reproduksi digambarkan


dalam derajat kesehatan reproduksi masyarakat yang ditunjukkan dengan
beberapa komponen berikut :

1) Angka kematian ibu/AKI (makin tinggi AKI semakin rendah derajat


kesehatan reproduksi

2) Angka kematian bayi/AKB (makin tinggi AKB makin rendah derajat


kesehatan reproduksi
3) Angka cakupan pelayanan KB dan patisipasi laki-laki dalam keluarga
berencana (makin rendah angka cakupan pelayanan KB, makin rendah
kesehatan reproduksi)

4) Jumlah ibu hamil dengan 4T terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat jarak
kehamilan, dan terlalu banyak anak (makin tinggi jumlah ibu hamil dengan 4T,
makin rendah derajat kesehatan reproduksi)

5) Jumlah perempuan atau ibu hamil dengan masalah kesehatan terutama


anemia dan kurang energi kronis (semakin tinggi tingkat anemia dan energi
kronis, semakin rendah derajat kesehatan reproduksi)

6) Perlindungan bagi perempuan terhadap penularan penyakit menular


seksual/PMS (makin rendah perlindungan bagi perempuan, makin rendah
derajat kesehatan reproduksi)

7) Pemahaman laki-laki terhadap upaya pencegahan dan penularan PMS


(makin rendah pemahaman PMS pada laki-laki makin rendah derajat
kesehatan reproduksi)

Bagaimana Hak Reproduksi dapat Terjamin ?

1. Pemerintah, lembaga donor dan masyarakat harus mengambil langkah-


langkah yang tepat untuk menjamin semua pasangan dan individu yang
menginginkan pelayanan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksualnya
terpenuhi

2. Hukum-hukum dan kebijakan-kebijakan harus dibuat dan dijalankan untuk


mencegah diskriminasi, pemaksaan dan kekerasan yang berhubungan dengan
sekualitas dan masalah reproduksi

3. Perempuan dan laki-laki harus bekerja sama untuk mengetahui haknya,


mendorong agar pemerintah dapat melindungi hak-hak ini serta membangun
dukungan atas hak-hak tersebut melalui pendidikan dan advokasi

4. Konsep-konsep kesehatan reproduksi dan uraian hak-hak perempuan ini


diambil dari hasil kerja International Women’s Health Advocates Worldwide

5. Pelayanan kesehatan reproduksi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan


perempuan sebagaimana mereka inginkan, serta mengetahui bahwa
kebutuhan-kebutuhan ini sangat beragam dan saling terkait satu dengan yang
lain.

Hak Reproduksi maupun akses untuk mendapatkan Pelayanan Kesehatan


Reproduksi adalah penting, sehingga perempuan dapat :
1. Mempunyai pengalaman dalam kehidupan seksual yang sehat, terbebas dari
penyakit, kekerasan, ketidakmampuan, ketakutan, kesakitan, atau kematian
yang berhubungan dengan reproduksi dan seksualitas

2. Mengatur kehamilannya secara aman dan efektif sesuai dengan


keinginannya, menghentikan kehamilan yang tidak diinginkan, dan menjaga
kehamilan sampai waktu persalinan

3. Mendorong dan membesarkan anak-anak yang sehat seperti juga ketika


mereka menginginkan kesehatan bagi dirinya sendiri.