Anda di halaman 1dari 10

PENENTUAN KONSENTRASI SULFUR DIOKSIDA (SO2) DI

SEKITAR DEPARTEMEN AGRONOMI HORTIKULTURA


IPB MENGGUNAKAN METODE PARAROSANILIN

DETERMINING THE CONCENTRATION OF SULFUR


DIOXIDE (SO2) ARROUND DEPARTEMENT OF AGRONOMY
HORTICULTURE IPB USING PARAROSANILIN METHOD
Deni Dwi Yudhistira1, Marissa Dwi Ayusari2
Kamis – Kelompok 5A
1, 2)
Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor, Jl. Raya Darmaga Kampus IPB
Email: denidwiyudhistira@gmail.com

Abstrak: Salah satu fokus pencemaran udara yang berasal dari aktivitas perindustrian adalah
meningkatnya kadar sulfur dioksida (SO2) di udara bebas. Gas SO2 merupakan salah satu
komponen polutan di atmosfer yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil (minyak
bumi dan batubara), serta proses lain yang mengandung sulfat. Sulfur dioksida (SO2) mempunyai
karakteristik bau yang tajam dan tidak terbakar di udara, sedangkan SO 3 merupakan komponen
yang tidak reaktif. Penelitian penentuan konsentrasi SO2 dilakukan dengan menggunakan metode
Pararosanilin. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk menentukan konsentrasi SO2 sebagai
senyawa pencemar pada udara ambien berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999
tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi SO2-
dan nilai absorbansi memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan volume larutan standar
Na2S2O5, semakin tinggi volume larutan standar Na2S2O5 maka semakin tinggi juga jumlah
konsentrasi SO2- dan nilai absorbansi yang dihasilkan. Konsentrasi SO2- tertinggi yang dihasilkan
yaitu sebesar 3.3 μg/ml. Nilai absorbansi larutan standar Na2S2O5 tertinggi yaitu sebesar 2.405.
Rata-rata nilai temperatur ruang (Tr), temperatur alat (Ta), dan laju aliran udara sampling (Qs)
yang dihasilkan dari pengukuran sebesar 32 °C; 33 °C; dan 0.0008 m3/menit. Hasil pengukuran
nilai konsetrasi SO2- selama 1 jam memiliki hasil yang lebih rendah dari pengukuran 30 menit,
secara berturut-turut sebesar 54.45303 μg/m3 dan 61.90313 μg/m3. Berdasarkan PP No. 41
Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, nilai konsentrasi SO2 yang terdapat pada
udara ambien di sekitar Dept. Agronomi Hortikultura IPB masih tergolong aman.
Kata kunci: Ambien, kualitas udara, pararosalinin, SO2

Abstract: One of the focuses of air pollution originating from industrial activities is a rising levels
of sulfur dioxide (SO2) on the air. SO2 gas is one of component pollutants in the atmosphere from
the burning of fossil fuels (oil and coal), as well as the other processes that contain sulfates. Sulfur
dioxide (SO2) has a characteristic pungent smell and do not burn in air, while SO 3 is a component
that is not reactive. Research determining the concentration of SO2 is done using Pararosanilin
method. This research was conducted aiming to determine the concentration of SO2 as compounds
in the air ambient pollutants based on Government Regulation No. 41 of 1999 about Air Pollution
Control. The results showed that the concentration of SO2- and value of absorbance solution have
a relationship that is directly proportional to the volume of a standard Na 2S2O5, the higher the
volume of a standard solution of Na2S2O5 the higher the number SO2- concentration and
absorbance values are generated. The highest concentration of SO2- generated in the amount of
3.3 ug/ml. The absorbance value of a standard solution of Na2S2O5 highest at 2.405. The average
value of the room temperature (Tr), the temperature of the tool (Ta), and the sampling air flow
rate (Qs) resulting from measurements at 32 ° C; 33 ° C; and 0.0008 m3/min. SO2-. Concentration
value measurement results for 1 hour to have a lower yield than the measurement of 30 minutes,
respectively amounted to 54.45303 ug/m3 and 61.90313 ug / m3. Under PP 41 of 1999 about Air
Pollution Control, SO2 concentration value contained in the ambient air around Dept. Agronomy
Horticulture IPB is still relatively safe.
Keywords: ambient, air quality, pararosalinin, SO2

1
PENDAHULUAN
Perkembangan dan pertambahan penduduk Indonesia yang semakin pesat
mengakibatkan munculnya program-program pembangunan di segala bidang.
Salah satu hasil pelaksanaan dari program-program pembangunan tersebut yaitu
munculnya kawasan-kawasan industri, baik dari skala kecil, menengah, bahkan
dalam skala yang besar. Perkembangan industri yang semakin pesat apabila tidak
diimbangi dengan sistem penanganan emisi limbah yang baik maka dapat
berpotensi menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan. Kegiatan
industri yang dapat berpotensi mencemari lingkungan yaitu proses pembakaran
bahan bakar fosil (minyak, gas dan batubara) dan penguapan bahan kimia produk
kegiatan industri.
Salah satu fokus pencemaran udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar
fosil adalah meningkatnya kadar sulfur dioksida (SO2) di udara bebas. Gas SO2
merupakan gas polutan yang banyak dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil
yang mengandung unsur belerang seperti minyak, gas, batubara, maupun kokas.
Pencemaran SOx dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia, hewan,
maupun kerusakan pada tanaman. Akibat utama pencemaran gas sulfur oksida,
khususnya SO2 terhadap manusia adalah terjadinya iritasi pada system pernapasan
(Wiharja 2002). Berdasarkan latar belakang diatas, penelitian ini dilakukan
bertujuan untuk menentukan konsentrasi SO2 sebagai senyawa pencemar pada
udara ambien berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara dengan menggunakan metode Pararosanilin.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian penentuan konsentrasi sulfur dioksida (SO2) dilakukan di
Laboratorium Polusi dan Kualitas Udara Teknik Sipil dan Lingkungan IPB.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Pararosanilin.
Penelitian terdiri dari pengujian sampel di lapang, penentuan konsentrasi SO2
dalam larutan induk Na2S2O5, dan pembuatan kurva kalibrasi. Uji sampling
lapang dilakukan di sekitar Dept. Agronomi Hortikultura IPB.
Peralatan yang digunakan yaitu midget impinger, flowmeter, pompa vakum,
labu ukur (50 ml; 100 ml; 250 ml; 500 ml; dan 1000 ml), tabung uji 25 ml, gelas
ukur 100 ml, pipet volumetrik (1 ml; 2 ml; 5 ml; dan 50 ml), gelas piala (100 ml,
250 ml, 500 ml, dan 1000 ml), buret 50 ml, labu erlenmeyer asah bertutup 250 ml,
spektrofotometer yang dilengkapi kuvet, neraca analitik, dan termometer. Bahan-
bahan yang digunakan yaitu air suling non peroksida, larutan penyerap
tetrakloromerkurat (TCM) 0.04 M, larutan induk Na2S2O5, larutan standar
Na2S2O3, larutan induk iod (I2) 0.1 N, larutan indikator kanji, larutan asam klorida
(HCL) (1:10), larutan induk natrium tiosulfat (Na2S2O5) 0.1 N, larutan standar
natrium tiosulfat (Na2S2O5) 0.0105 N, larutan asam klorida (HCL) 1 M, larutan
asam sulfamat (NH2SO3H) 0.6% b/v, larutan asam fosfat (H3PO4) 3 M, larutan
induk pararosanilin hidroklorida (C19H17N3.HCL) 0.2%, larutan formaldehida
(HCHO) 0.2% v/v, dan larutan penyangga asetat 1 M (pH = 4.47).
Prosedur sampling yang dilakukan dalam penilitian ini yaitu setiap 10 menit
selama 30 menit. Penelitian diawali dengan dimasukkannya 10 ml larutan
penyerap TCM dalam impinger. Impinger diatur agar terlindung dari hujan dan
sinar matahari langsung. Selanjutnya impinger dihubungkan dengan erlenmeyer
asah tertutup yang berisi serat kaca (glass woll) dan flowmeter. Pompa penghisap

2
dihidupkan dan kecepatan udaranya di atur sebesar 0.5-1 l/menit. Kecepatan
aliran udara dikontrol agar tetap konstan hingga akhir periode sampling. Apabila
setelah sampling dihasilkan endapan maka dihilangkan dengan sentrifugasi.
Selanjutnya, sampel dipindahkan ke dalam tabung uji 25 ml, kemudian dibilas
dengan 5 ml air suling dan didiamkan selama 20 menit untuk menghilangkan
pengganggu.
Penelitian di laboratorium diawali dengan penentuan konsentrasi SO2 dalam
larutan induk Na2S2O5. Larutan induk Na2S2O5 dipipet sebanyak 25 ml dalam
labu erlenmeyer asah dan 50 ml larutan iod 0.01 N dipipet dalam labu, kemudian
simpan di dalam ruang tertutup selama 15 menit. Larutan dititrasi dalam
erlenmeyer dengan larutan standar natrium tiosulfat 0.01 N sampai larutan
berwarna kuning muda. Sebanyak 5 ml HCl ditambahkan dan ditritasi hingga titik
akhir (waran biru tepat hilang), serta besarnya volume larutan Na2S2O5 (VC)
dicatat. Sebanyak 25 ml air suling sebagai blanko dipipet dalam erlenmeyer asah,
kemudian dilakukannya langkah-langkah di atas kembali (VB). Konsentrasi SO2
dalam larutan induk Na2S2O5 dapat dihitung dengan persamaan (1).

VB - VC ×N ×32.03 ×1000
C= ……..............……...(1)
VA
Keterangan :
C = konsentrasi SO2 dalam Na2SO3, (µg/ml)
VB = volume larutan standar Na2SO3 hasil titrasi blanko (ml)
VC = volume larutan standar Na2SO3 hasil titrasi larutan induk Na2SO3 (ml)
N = normalitas larutan standar natrium tiosulfat (N)
VA = volume larutan induk Na2SO3 yang didapat dipipet (ml)
1000 = konsevasi gr ke µg
32,03 = berat ekuivalen SO2 (BM SO2/2)

Selanjutnya, dilakukannya pembuatan kurva kalibrasi yang di awali dengan


dimasukannya masing-masing 0 ml; 0.2 ml; 0.4 ml; 0.6 ml; 0.8 ml; dan 1 ml
larutan standar Na2S2O5 dalam tabung uji 25 ml, dengan bantuan pipet volume
atau buret. Penyerap TCM ditambahkan hingga volume 10 ml. Larutan asam
sulfamat 0.6% ditambahkan sebanyak 1 ml kemudian didiamkan hingga 10 menit.
Larutan formaldehida 0.2% ditambahkan sebanyak 2 ml dan larutan kerja
pararosalinin juga ditambahkan sebanyak 5 ml. Selanjutnya, ditepatkan dengan air
suling hingga volume 25 ml dan dihomogenkan, kemudian didiamkan selama 30-
60 menit. Masing-masing larutan standard, larutan TCM, dan larutan sampel
diukur absorbansinya dengan spektrofotometer gelombang 550 nm. Setelah itu,
dilakukannya pembuatan kurva kalibrasi antara nilai absorbansi dan konsentrasi
SO2-. Selanjutnya, dilakukan perhitungan terhadap parameter-parameter kualitas
udara. Konsentrasi SO2- (Cb) dapat dihitung dengan persamaan (2). Nilai koreksi
aliran udara (Qc) dapat dihitung persamaan (3). Volume sampel udara (V) dapat
dihitung dengan persamaan (4). Volume sampel udara suhu 25 oC, 760 mmHg
dapat dihitung dengan persamaan (5). Konsentrasi partikulat udara ambien SO2 -
pengukuran 30 menit dapat dihitung dengan persamaan (6). Konsentrasi partikulat
udara ambien SO2- pengukuran 1 jam dapat dihitung dengan persamaan (7).

Ca.Va = Cb.Vb.................................................(2)

3
Tr
Qc = Qs ......................................................(3)
Ta

V= Qc . t..........................................................(4)

P 298
Vr = V ..........................................(5)
760 T r + 273

b
C1 = × 25...................................................(6)
Vr

T1 0.185
C2 = C1 × ………………………....(7)
T2

Keterangan :
Ca = konsentrasi pada larutan a (μg/ml)
Cb = konsentrasi pada larutan b (μg/ml)
Va = volume larutan a (ml)
Vb = volume larutan b (ml)
V = volume sampel udara (m3)
Vr = volume sampel udara pada suhu 25 oC, 760 mmHg (m3)
V = volume sampel udara (m3)
P = tekanan atmosfer selama sampling (mmHg)
Qc = koreksi laju aliran udara (m3/menit)
Qs = laju aliran udara sampling (m3/menit)
Tr = temperatur ruang saat pengukuran (oC)
Ta = temperatur alat (oC)
T1 = lama pengukuran 30 menit
T2 = lama pengukuran 60 menit
t = lamanya sampling (menit)
C1 = Konsentrasi partikulat udara ambien (µg/m3)
b = jumlah SO2 pada sampel yang diperoleh dari kurva kalibrasi (µg)

Nilai-nilai yang didapat dari hasil penelitian digunakan sebagai data analisis.
Besarnya konsentrasi SO2 yang diperoleh dibandingkan dengan Peraturan
Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
Dampak dan penanganan terhadap polutan gas SO2 diberikan berdasarkan
referensi yang tersedia.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Gas SO2 (sulfur dioksida) merupakan salah satu komponen polutan di
atmosfer yang dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil (minyak bumi
dan batubara), serta proses lain yang mengandung sulfat. Di samping itu,
pembakaran bahan bakar fosil juga menghasilkan gas SO3 yang secara bersama-
sama dengan gas SO2 atau lebih dikenal dengan gas SOx (sulfur oksida) (Wiharja
2002). Gas SO2 sangat berbahaya bagi mahluk hidup karena berperan penting
pada akumulasi zat-zat asam di udara yang menyebabkan terjadinya hujan asam.
Sulfur dioksida (SO2) mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak terbakar

4
di udara, sedangkan SO3 merupakan komponen yang tidak reaktif (Rusmayadi
2010).
Pencemaran SO2 di udara dapat berasal dari sumber alamiah maupun sumber
buatan. Sumber pencemaran SO2 secara alamiah yaitu aktivitas gunung berapi,
pembusukan bahan organik oleh mikroba, dan proses reduksi sulfat secara
biologis. Proses pembusukan akan menghasilkan H2S yang akan cepat berubah
menjadi SO2. Selanjutnya, sumber pencemaran SO2 secara buatan adalah
pembakaran bahan bakar minyak, gas, dan terutama batubara yang mengandung
sulfur tinggi. Gas SO2 terutama diproduksi oleh insinerator yang menggunakan
bahan bakar fosil, seperti batu bara dan minyak bumi. Selain itu, gas SO2
diemisikan oleh pabrik kimia, pabrik pemroses besi dan baja, pembuatan semen,
pabrik batu bata, industri keramik, pembuatan kaca, dan pelepasan asap buangan
(Mukono 1997). Hasil pengukuran konsentrasi SO2- (Cb) dan nilai absorbansi
terhadap larutan standar Na2S2O5 (Va) disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1 Konsentrasi SO2- (Cb) dan absorbansi yang diambil dari larutan standar Na2S2O5 (Va)
Larutan standar Va (ml) Vb (ml) Ca (μg/ml) Cb (μg/ml) Absorbansi
1 0 25 82.49 0 0
2 0.2 25 82.49 0.660 0.435
3 0.4 25 82.49 1.320 0.973
4 0.6 25 82.49 1.980 1.256
5 0.8 25 82.49 2.640 1.603
6 1 25 82.49 3.300 2.405

Berdasarkan hasil yang terdapat dalam Tabel 1 dapat ditunjukan bahwa volume
larutan standar Na2S2O5 (Va) mempengaruhi besarnya nilai absorbansi yang
diperoleh. Volume larutan standar Na2S2O5 yang semakin besar mengakibatkan
peningkatan terhadap nilai absorbansi yang dihasilkan. Tinggi rendahnya nilai
absobansi yang terbaca disebabkan oleh tingkat kepekatan larutan yang berasal
dari larutan standar Na2S2O5, semakin tinggi volume larutan standar Na2S2O5
maka semakin pekat warna larutan yang dihasilkan sehingga semakin tinggi juga
nilai absorbansi yang terbaca. Selain itu, peningkatan volume larutan standar
Na2S2O5 juga mempengaruhi jumlah konsetrasi SO2 - (Vb) yang dihasilkan.
Besarnya jumlah konsentrasi SO2- mengalami peningkatan seiring bertambahnya
volume larutan standar Na2S2O5.
Hasil dalam Tabel 1 secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa jumlah
konsentrasi SO2- dan nilai absorbansi memiliki hubungan yang berbanding lurus
dengan volume larutan standar Na2S2O5, semakin tinggi volume larutan standar
Na2S2O5 maka semakin tinggi juga jumlah konsentrasi SO2- dan nilai absorbansi
yang dihasilkan. Konsentrasi SO2 - tertinggi yang dihasilkan yaitu sebesar 3.3
μg/ml dan terendah sebesar 0.660 μg/ml. Nilai absorbansi larutan standar Na2S2O5
tertinggi yaitu sebesar 2.405 dan yang terendah sebesar 0.435. Selain itu, besarnya
konsentrasi SO2- dalam larutan standar Na2S2O5 (Ca) memiliki nilai yang konstan
sebesar 82.49 μg/ml. Kurva kalibrasi konsentrasi SO2 - (Cb) terhadap nilai
absorbansi disajikan dalam Gambar 1.

5
3

2.5
y = 0.6846x - 0.0174
2

Absorbansi 1.5

0.5

0
0 1 2 3 4
Konsentrasi SO2 (μg/ml)
-
-
Gambar 1. Kurva kalibrasi jumlah μg SO2 terhadap nilai absorbansi

Kurva kalibrasi yang terdapat dalam Gambar 1 dapat ditunjukkan bahwa nilai
absorbansi memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan konsentrasi SO2 -
(Cb). Nilai absorbansi mengalami peningkatan seiring bertambahnya jumlah
konsentrasi SO2-. Nilai absorbansi secara tidak langsung juga menggambarkan
banyaknya konsentrasi SO2-, semakin tinggi nilai absorbansi maka semakin tinggi
juga jumlah konsentrasi SO2-. Selanjutnya, kurva kalibrasi dalam Gambar 1
memiliki persamaan linier berupa y = 0.9928x - 0.0002, dimana variabel x
menunjukkan jumlah SO2- pada sampel lapang dan variabel y menunjukkan selisih
absorbansi larutan penyerap tetrakloromerkurat (TCM) dengan nilai absorbansi
larutan sampel lapang. Hasil pengukuran sampel udara di sekitar Dept. Agronomi
Hortikultura IPB disajikan dalam Tabel 2.

Tabel 2 Hasil pengukuran sampel udara di sekitar Dept. Agronomi Hortikultura IPB
Waktu Tr (°C) Ta (°C) Qs (m3/menit)
0 32 33.00 0.0008
10 32 33.00 0.0008
20 32 33.00 0.0007
30 32 33.50 0.0009
Rata-rata 32 33.13 0.0008

Hasil pengukuran sampel udara lapang dalam Tabel 2 menunjukkan bahwa


nilai temperatur ruang (Tr) yang dihasilkan memiliki hasil yang konstan di
sepanjang waktu pengukuran, yaitu sebesar 32 °C. Besarnya nilai temperatur alat
(Ta) juga memiliki hasil yang konstan hingga menit pengukuran ke-20 yaitu
sebesar 33 °C dan mulai mengalami kenaikan dalam menit pengukuran ke-30
yaitu sebesar 33.50 °C. Nilai temperatur alat yang dihasilkan memiliki nilai yang
lebih tinggi dari temperatur ruang dengan selisih sekitar 0.5 °C hingga 1 °C .
Selain itu, juga dapat ditunjukkan nilai udara sampling (Qs) cenderung memiliki
hasil yang berfluktuasi di sepanjang waktu pengukuran. Rata-rata nilai temperatur
ruang, temperatur alat, dan laju aliran udara sampling disepanjang waktu
pengukuran secara berturut-turut sebesar 32 °C; 33 °C; dan 0.0008 m3/menit.

6
Hasil pengukuran konsentrasi sulfur dioksida (SO2-) di sekitar Dept. Agronomi
Hortikultura IPB disajikan dalam Tabel 3.

Tabel 3 Hasil pengukuran konsentrasi SO2- di sekitar Dept. Agronomi Hortikultura IPB
Qc V Vr b C1 (30 menit) C2 (1 jam)
y
(m3/menit) (m3) (m3) (μg) (μg/m3) (μg/m3)
0.00077 0.02318 0.02265 0.02100 0.05609 61.90313 54.45303

Hasil pengukuran konsentrasi SO2 yang terdapat dalam Tabel 3 dapat


ditunjukkan bahwa besarnya volume udara sampel (V) memiliki hasil yang lebih
besar dari volume udara ruang (Vr), secara berturut-turut sebesar 0.02457 m3 dan
0.02397 m3. Besarnya selisih nilai absorbansi larutan penyerap TCM dengan
absorbansi larutan sampel lapang (y) dapat mempengaruhi besarnya jumlah SO2 -
pada sampel (b). Selain itu, nilai koreksi laju aliran udara (Qc) apabila di
bandingkan dengan nilai laju aliran udara sampling (Qs) (Tabel 2) memiliki hasil
yang lebih rendah yaitu sebesar 0.00077 m3/menit. Dalam Tabel 3 juga
ditunjukkan hasil pengukuran nilai konsetrasi SO2- selama 1 jam memiliki hasil
yang lebih rendah dari pengukuran 30 menit, secara berturut-turut sebesar
54.45303 μg/m3 dan 61.90313 μg/m3.
Nilai konsentrasi SO2 - pada udara ambien selama satu jam (Tabel 3) apabila
dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara (Lampiran 1) masih dapat dikategorikan aman.
Hal ini dikarenakan konsentrasi SO2- pada udara ambien yang terkandung di Dept.
Agronomi Hortikultura IPB masih memiliki nilai kurang di bawah 900 µg/Nm3.
Tingginya kualitas udara di sekitar Dept. Agronomi Hortikultura IPB dapat
disebabkan oleh banyaknya vegetasi yang mampu menangkal pencemaran udara,
seperti emisi gas kendaraan.
Udara ambien yang tercemar oleh gas SO2 tentu dapat menimbulkan dampak
negatif bagi mahkluk hidup yang tinggal disekitarnya. Bagi manusi gas SO2 dapat
menimbulkan efek iritasi pada saluran pernafasan bagian atas karena mudah larut
dalam air yang mengakibatkan produksi lendir meningkat sehingga terjadi
penyempitan pada saluran pernafasan (Sandra 2013). Dalam konsentrasi tertentu
gas SO2 dapat mengakibatkan penyakit paru-paru dan kesulitan bernafas terutama
bagi penderita asma, bronchitis, dan penyakit pernafasan lainnya. Selain itu, gas
SO2 sangat berbahaya bagi mahluk hidup karena berperan penting pada akumulasi
zat-zat asam di udara yang menyebabkan terjadinya hujan asam. Gas SO2 juga
dapat memberikan kerusakan pada tanaman pada kadar sebesar 0,5 ppm (Azizah
dan Zakaria 2013).
Berbagai metode telah banyak dipakai untuk mereduksi gas SO2. Flue Gas
Desulfurization (FGD) adalah metode pengolahan gas SO2 secara fisik dan kimia
yang banyak dipakai saat ini. Metode ini memerlukan biaya investasi dan
operasional yang cukup besar (Miller 1996). Alternatif lain yang saat ini banyak
dikembangkan adalah pengolahan gas SO2 secara biologis dengan metode
biofilter. Menurut Chou dan Cheng (1997), biofilter adalah reaktor dengan
material padat sebagai bahan pengisi dimana mikroba terjerat secara alami di
dalam-nya dengan membentuk biolayer (lapisan tipis). Metode ini memanfaatkan
mikroorganisme untuk mereduksi gas SO2. Selain itu, pengurangan dan
penanggulangan gas SO2 dapat dilakukan dengan cara diversifikasi (subtitusi)
energi dan pemakaian bahan bakar bersulfur rendah.

7
SIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran konsentrasi gas SO2- dapat
ditentukan dengan menggunakan metode Pararosanilin. Konsentrasi SO2- dan nilai
absorbansi memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan volume larutan
standar Na2S2O5, semakin tinggi volume larutan standar Na2S2O5 maka semakin
tinggi juga jumlah konsentrasi SO2- dan nilai absorbansi yang dihasilkan.
Konsentrasi SO2- tertinggi yang dihasilkan yaitu sebesar 3.3 μg/ml. Nilai
absorbansi larutan standar Na2S2O5 tertinggi yaitu sebesar 2.405. Rata-rata nilai
temperatur ruang (Tr), temperatur alat (Ta), dan laju aliran udara sampling (Qs)
yang dihasilkan dari pengukuran sebesar 32 °C; 33 °C; dan 0.0008 m3/menit.
Hasil pengukuran nilai konsetrasi SO2- selama 1 jam memiliki hasil yang lebih
rendah dari pengukuran 3 jam, secara berturut-turut sebesar 54.45303 μg/m3 dan
61.90313 μg/m3. Berdasarkan PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara, nilai konsentrasi SO2 yang terdapat pada udara ambien di
sekitar Dept. Agronomi Hortikultura IPB masih tergolong aman.

DAFTAR PUSTAKA
Azizah R, Zakaria N. Analisis pencemaran udara, keluhan iritasi tenggorokan dan
keluhan kesehatan iritasi mata pada pedagang makanan di sekitar terminal Joyo
Boyo. Journal of Occupational Safety and Health. 2 (1): 75-81.
Chou MS, Cheng WH. 1997. Screening biofiltering material for VOC treatment. J
of the Air and Waste Management Association. 1 (47): 674-681.
Miller KW. 1996. Effect of calcium and dibasic acid on selected strains of
neutrofilic sulfur-oxidizing bacteria. J of Environ. 1 (156): 854-857.
Mukono HJ. 1997. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan
Saluran Pernapasan. Surabaya (ID): Airlangga University Press.
Rusmayadi G. Konsentrasi sulfur oksida dipermukaan sekitar factory outlet dan
jalan raya bogor. Agroscientiae. 2(17): 90-95.
Sandra C. 2013. Pengaruh penurunan kualitas udara terhadapa fungsi paru dan
keluhan pernafasan pada polisi lalu lintas Polwitabes Surabaya. IKESMA. 9 (1):
2-7.
Wiharja. 2002. Identifikasi kualitas gas SO2 di daerah industri pengecoran logam
ceper. J Teknol. 3(3): 1-5.

8
Lampiran 1 Peraturan Pemerintah RI No.41 Tahun 1999
LAMPIRAN
PERATURAN PEMERINTAH
REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41
TAHUN 1999
TANGGAL : 26 MEI 1999-

BAKU MUTU UDARA AMBIEN NASIONAL

No Parameter Waktu Baku Mutu Metode Peralatan


Pengukura Analisis
1 SO2 1 Jam n 900 μg / Nm3 Pararosanalin Spektrofotometer
( Sulfur Dioksida ) 24 Jam
1 Thn 365 μg / Nm3
60 μg / Nm3
2 CO 1 Jam 30.000 μg / Nm3 NDIR NDIR Analyzer
( Karbon Monoksida ) 24 Jam
1 Thn 10.000 μg / Nm3
3 NO2 1 Jam 400 μg / Nm3 Saltzman Spektrofotometer
( SulfurDioksida ) 24 Jam
1 Thn 150 μg / Nm3
3
4 O3 1 Jam 235 μg
100 μg // Nm
Nm3 Chemiluminescent Spektrofotometer
( Oksida ) 1 Thn
50 μg / Nm3
5 HC 3 Jam 160 μg / Nm3 Flamed Ionization Gas
( Hidro Karbon ) Chromatografi
6 PM10 24 Jam 150 μg / Nm3 Gravimetric Hi – Vol
( Partikel < 10 mm )
PM2,5 (*) 24 Jam 65 μg / Nm3 Gravimetric Hi – Vol
( Partikel < 2.5 mm ) 1 Thn Gravimetric Hi – Vol
15 μg / Nm3
7 TSP 24 Jam 230 μg / Nm3 Gravimetric Hi – Vol
( Debu ) 1 Thn
90 μg / Nm3
8 Pb 24 Jam 2 μg / Nm3 Gravimetric Hi – Vol
( Timah Hitam ) 1 Thn Ekstraktif
1 μg / Nm3 Pengabuan AAS
9 Dustfall 30 hari 10 Ton/km /Bulan Gravimetric
2 Cannister
( Debu Jatuh ) ( Pemukiman )
10 Ton/km2/Bulan
( Industri )

10 Total Fluorides (as F ) 24 Jam 3 μg / Nm3 Spesific Ion Impinger atau


90 hari Electrode Countinous Analyzer
0,5 μg / Nm3
11 Flour Indeks 30 hari 40 μg / 100 cm2 Colourimetric Limed Filter Paper
dari kertas
limed filter
12 Khlorine & 24 Jam 150 μg / Nm3 Spesific Ion Imping atau
Khlorine Dioksida Electrode Countinous Analyzer
13 Sulphat Indeks 30 hari 1 mg SO3 / 100 Colourimetric Lead
Peroxida Candle
cm3
Dari Lead
Peroksida

9
Lampiran 2 Peralatan selama penelitian penentuan konsentrasi SO2

Keterangan: Larutan standar Na2S2O5 0 ml; 0.2 ml; 0.4 ml; 0.6 ml; 0.8 ml; 1 ml

Keterangan: Proses sampling di lapangan

10