Anda di halaman 1dari 11

TEKNOLOGI PEMBAKARAN BATUBARA

DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK 3

NAMA : dyah carissa azaria (061740411840)

Fhikri cahaya fatoni (061740411842)

Roby adi nugraha (061740411850)

Samudra dyan bagus r (061740411851)

KELAS : 3EGD

DOSEN PENDAMPING : Zikri, M.T

JURUSAN TEKNIK KIMA


PROGRAM STUDI DIV TEKNIK ENERGI
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asam sulfat merupakan asam anorganik yang bisa diproduksi secara massal dan dalam
kapasitas besar. Pada umumnya setiap pabrik memiliki unit pabrik pengolahan asam sulfat
agar mengurangi biaya pembelian bahan baku. Selain bahan kimia yang sangat aktif, asam
sulfat juga merupakan bahan kimia yang paling banyak dipakai dan merupakan produk
teknik yang amat penting. Zat ini digunakan sebagai bahan untuk pembuatan garam-garam
sulfat dan untuk sulfonasi, tetapi lebih sering lagi dipakai terutama karena merupakan asam
anorganik yang kuat dan murah. Asam sulfat digunakan dalam pembuatan pupuk, kulit,
platina, pengolahan minyak, dan dalam pewarnaan tekstil. Oleh karena itu, agar kita lebih
memahami mengenai industri asam sulfat, maka makalah ini akan membahas mengenai
industriasam sulfat.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui sejarah perkembangan industri asam sulfat.
2. Mengetahui karakteristik bahan baku yang digunakan dalam industri asam sulfat.
3. Memahami proses industri asam sulfat.
4. Mengetahui produk dalam industri asam sulfat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perkembangan Industri Asam Sulfat


Asam sulfat pertama kali ditemukan di Iran oleh Al-Razi pada abad ke-9.
Pembuatannya melalui pembakaran belerang dengan saltpeter, pertama kali dijelaskan oleh
Valentinus pada abad kelima belas. Pada tahun 1746, Roebuck dari Birmingham (Inggris)
memperkenalkan proses kamar timbal. Proses yang menarik, namun sekarang sudah kuno.
Proses kontak pertama kali ditemukan pada tahun 1831 oleh Phillips, seorang
Inggris, yang patennya mencakup aspek – aspek penting dari proses kontak yang modern,
yaitu dengan melewatkan campuran sulfur dioksida dan udara melalui katalis, kemudian
diikuti oleh absorpsi sulfur trioksida di dalam asam sulfat 98,5 % sampai 99 %.
Pada tahun 1889, diketahui bahwa proses kontak dapat ditingkatkan dengan
menggunakan oksigen secara berlebihan di dalam campuran gas reaksi. Dalam periode
1900 sampai 1925, banyak pabrik asam kontak yang dibangun dengan menggunakan
platina sebagai katalis. Pada tahun 1930, proses kontak ini telah dapat bersaing dengan
proses bilik timbal pada segala konsentrasi asam yang dihasilkan. Sejak pertengahan tahun
1920-an, kebanyakan fasilitas yang baru dibangun dengan menggunakan proses kontak
dengan katalis vanadium. Berbagai penyempurnaan telah dilakukan, baik terhadap
peralatan maupun terhadap katalis. Proses kontak sekarang telah banyak mengalami
penyempurnaan dan dewasa ini telah menjadi suatu proses industri yang murah, kontinu
dan dikendalikan secara otomatis. Semua pabrik asam sulfat yang baru menggunakan
proses kontak.
Salah satu kelemahan proses kamar yang menyebabkan orang tidak memakainya
lagi adalah karena proses ini hanya mampu menghasilkan asam sulfat dengan konsentrasi
sampai 78% saja. Pemekatannya merupakan suatu operasi yang mahal, sehingga pada tahun
1980, hanya tinggal satu pabrik saja yang menggunakan proses kamar yang masih
beroperasi di Amerika Serikat.

2.2 Bahan Baku Pembuatan Asam Sulfat


Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan asam sulfat adalah belerang,
oksigen, air dan katalis vanadium pentaoksida sebagai bahan pembantu. Dimana belerang
dan vanadium pentaoksida di impor langsung dari Singapura, sedangkan oksigen di dapat
dari udara bebas. Untuk air yang digunakan didapat dari sumur bor yang melalui tahap
pengolahan.
Tabel 2.2.1 Sifat Fisik Bahan Baku Pembuatan Asam Sulfat
Titik Titik
No. Komponen Bentuk Warna Bau didih Leleh
(oC) (oC)
Belerang
1. Padatan Kuning Menyengat 444.6 120
Sulfur Dioksida
2. Gas - - -10.0 -75.5
Sulfur Trioksida
3. Gas - - 16.83 44.6
Oksigen
4. Gas - - -183 -218,4
Vanadium
5. Padatan Kuning - 1750 800
Pentaoksida
6. Cairan - - 100 -
Air
Sumber : Perry’s Chemical Engineering’s Hand Book, 6th edition

Tabel 2.2.2 Sifat Kimia Bahan Baku Pembuatan Asam Sulfat


BM Spgr
No. Komponen Kelarutan
(gr/mol) (gr/cm3)
Belerang Hygroskopis
1. 32.06 2.046
Sulfur Dioksida Larut dalam air
2. 64.06 1.434
Sulfur Trioksida Tidak larut dalam air
3. 80.06 1.923
Oksigen -
4. 32 1.14
Vanadium Larut dalam asam dan
5. 181.9 3.357
Pentaoksida alkali
6. 18 1.004
Air Berfungsi sebagai pelarut
Sumber : Perry’s Chemical Engineering’s Hand Book, 6th edition

2.3 Macam-Macam Proses Pembuatan Asam Sulfat


1. Proses Kontak (Contact Process)
Salah satu cara pembuatan asam sulfat melalui proses industri dengan produk yang
cukup besar adalah dengan proses kontak. Prinsip proses kontak adalah reaksi oksidasi gas
SO2 dengan oksigen dari udara dengan memakai katalis padat dilanjutkan dengan absorpsi
gas SO3 yang dihasilkan untuk membentuk asam sulfat.
Reaksi Utama :

S(s) + O2(g) SO2(g) -70,9 kcal

SO2(g) + ½ O2(g) SO3(g) -23,0 kcal


Pt merupakan katalis yang mula-mula dipakai karena katalis ini aktif pada suhu di
atas 4000C. Reaksinya merupakan reaksi keseimbangan dan ekoterm sehingga digunakan
sejumlah konverter adiakat yang dipasang secara seri dan dipasang pendingin di antara
masing-masing konverter untuk mendapatkan konversi sampai 95%. Konversi reaksi harus
tinggi karena SO2yang tak bereaksi menimbulkan polusi udara (Austin, 1996).

o Proses Kontak dengan Absorpsi Tunggal


Bila menggunakan bahan baku seperti biji sulfida, asam bekas pakai atau lumpur
asam, diperlukan pemurnian gas yang cukup ekstensif. Kalor yang dilepas pada waktu
reaksi katalitik dimanfaatkan untuk memanaskan gas SO2 di dalam penukar kalor sebelum
masuk konversi katalitik. Kalor yang keluar dalam pemanggangan bijih atau dalam
pembakaran asam bekas biasanya dipulihkan dalam bentuk uap bertekanan rendah. Bahan
yang digunakan pada proses ini adalah belerang dan melalui proses berikut.
a) Belerang dibakar di udara, sehingga bereaksi dengan oksigen dan menghasilkan gas
belerang dioksida.
b) Belerang dioksida direaksikan dengan oksigen dan dihasilkan belerang trioksida.
Reaksi ini berlangsung lambat, maka dipercepat dengan katalis vanadium
pentaoksida (V2O5) pada suhu ± 450 °C.
c) SO3 yang dihasilkan, kemudian dipisahkan, dan direaksikan dengan air untuk
menghasilkan asam sulfat.
Reaksi tersebut berlangsung hebat sekali dan menghasilkan asam sulfat yang sangat
korosif. Untuk mengatasi hal ini, gas SO3 dialirkan melalui menara yang di dalamnya
terdapat aliran H2SO4 pekat, sehingga terbentuk asam pirosulfat (H2S2O7) atau disebut
“oleum”. Asam pirosulfat direaksikan dengan air sehingga menghasilkan asam sulfat
dengan kadar 98%.

o Proses Kontak dengan Absorpsi Ganda


Proses kontak kemudian mengalami modifikasi secara berangsur-angsur dan
menggunakan absorpsi ganda (juga disebut katalis ganda), sehingga hasilnya lebih tinggi
dan emisi SO2 yang belum terkonversi dari cerobong asap berkurang.
Dalam konfigurasi aliran ini, gas yang keluar dari menara absorpsi pertama
dipanaskan lagi melalui pertukaran kalor dengan gas konverter bawah dan masuk kembali
dalam tahap akhir konverter itu. Oleh karena itu, kadar sulfur trioksidanya rendah,
reaksinya:

SO2(g) + ½ O2(g) SO3(g)


Reaksi dapat berlangsung lebih jauh pada arah yang dihendaki dan pemulihan dapat lebih
tinggi dan mencapai 99,7%.
Berikut ini adalah diagram alir pabrik asam sulfat kontak yang menggunakan
pembakaran belerang dan absorpsi tunggal.
2. Proses Bilik Timbal (Chamber Process)
Proses bilik timbal yang dikembangkan pada pertengahan kedua abad ke-18,
membakar sulfur dalam bejana tanah liat. Sejumlah kecil SO3 yang dihasilkan (bersamaan
dengan SO2 yang menjadi produk utamanya) diembunkan dan dimasukan ke dalam air
untuk membuat asam sulfat. Suatu penemuan yang tak sengaja mengungkapkan bahwa
penambahan natrium nitrat dan kalium nitrat meningkatkan rendemen SO3. Garam-garam
ini terurai untuk menghasilkan nitrogen dioksida yang bereaksi dengan SO2 dan
menghasilkan SO3 :
SO2(g) + NO2(g) SO3(g) + NO(g)
Pada tahun 1736, Joshua Ward mengambil langkah penting berikutnya dengan mengganti
bejana tanah liat tempat sulfur dibakar dengan botol kaca besar yang disusun berseri, untuk
mempercepat proses.
Pengembangan bilik-timbal (lead chamber) berukuran kamar, yang digunakan
pertama kali oleh John Roebuck pada tahun 1746, secara dramatis memperluas manufaktur
asam sulfat. Produk dari bejana tanah liat yang kuno itu hanya beberapa gram, dan botol
kaca Ward dapat menghasilkan beberapa kilogram. Sebaliknya, bilik-timbal dapat
memproduk asam sulfat dalam jumlah ratusan pound hingga berton-ton, menurunkan harga
produk karena skalanya yang besar serta menurunkan biaya tenaga kerja. Dalam proses
bilik-timbal, campuran sulfur dan kalium nitrat diletakan dalam cedok (ladle) dan dibakar
di dalam bilik besar yang dilapisi timbal, lantainya digenangi dengan air. Gas mengembun
pada dinding dan diabsorpsi oleh air. Sesudah proses ini diulang beberapa kali, asam sulfat
encer diambil dan dididihkan untuk memekatkannya lebih lanjut. Pengembangan terakhir
meliputi penghembusan uap air untuk mempercepat reaksi dengan air dan menyebarkan gas
serta memisahkan bilik pembakar dari bilik absorpsi.
Joseph Gay Lussac mengambil langkah maju yang nyata pada tahun 1835 ketika ia
membangun menara untuk mengambil kembali NO yang sebelumnya telah dihembuskan
keluar dan dan mengkonversinya kembali menjadi NO2melalui reaksi dengan oksigen.
Tepatnya, dalam menara Gay Lussac, NO dikonversikan menjadi Asam Nitrit (HNO2) yang
dilarutkan dalam asam sulfat berair;

2NO(g) + ½ O2(g) + H2O(l) 2HNO2(aq)


Asam nitrit kemudian direaksikan dalam menara kedua yang diberi nama sesuai dengan
pengembangannya, John Glover untuk mengoksidasi sulfur dioksida :
2HNO2(aq) + SO2(g) H2SO4(g) + 2NO(g)

Reaksi keseluruhan langkah-langkah ini ternyata :


SO2(g) + ½ O2(g) + H2O(l) H2SO4(aq)
SO3 yang dihasilkan (bersamaan dengan SO2 yang menjadi produk utamanya) diembunkan
dan dimasukan ke dalam air untuk membuat asam sulfat. Suatu penemuan yang tak sengaja
mengungkapkan bahwa penambahan natrium nitrat dan kalium nitrat meningkatkan
rendemen SO3. Garam-garam ini terurai untuk menghasilkan nitrogen dioksida yang
bereaksi dengan SO2 dan menghasilkan SO3 :
SO2(g) + NO2(g) SO3(g) + NO(g)
Pendaur ulangan oksida nitrogen sangat mengurangi konsumsi natrium nitrat atau
kalium nitrat, yang hanya sekarang diperlukan untuk menggantikan dalam kehilangan
dalam proses. Disamping itu, menara Glover memproduksi asam sulfat yang lebih pekat 75
sampai 85 persen H2SO4 berdasar massa dibandingkan 60 sampai 70 persen yang diperoleh
dengan metode terdahulu.

3. Proses Pemekatan Asam Sulfat


Asam encer dapat dipekatkan menjadi asam dengan konsentrasi yang agak lebih
tinggi dengan mencelupkan gulungan uap pemanas yang terbuat dari timbal, di dalam
tangki timbal atau tangki yang berlapis timbal dan bata. Berdasarkan gambar konsentrator
dengan tiupan uap seperti gambar dibawah ini. Gas panas pada suhu sekitar 680oC
diperoleh dari pembakaran minyak atau gas bahan bakar. Gas pembakaran yang panas ini
ditiupkan dari arah yang berlawanan terhadap asam sulfat itu di dalam kompartemen pada
drum pemekat dan air keluar bersama gelembung-gelembung gas dari asam. Gas keluar
pada suhu 230oC sampai 250oC dari kompartemen pertama drum itu, masuk ke dalam
kompartemen kedua, bersama dengan sebagaian gas panas dari tanur pembakaran.
Kemudian gas yang dihasilkan ini akan keluar pada suhu 170oC sampai 180oC, dan
masuk ke dalam drum pendingin gas, dimana gas tersebut didinginkan lagi menjadi 100oC
sampai 125oC sambil menaikkans uhu asam encer ke titik didihnya. Oleh karena sebagian
asam sulfat itu terbawa ikut sebagai kabut, gas panas dilewatkan melalui pembasuh venture
dan separator siklon, kemudian dicuci dengan asam umpan dan air untuk menyingkirkan
kabut asam, sebelum dibuang ke udara. Cara ini dapat menurunkan kabut asam sampai
sekitar 35 mg/m3 dengan biaya investor yang lebih rendah dari pada bila menggunakan
prisipitator-kabut elektrostatik. Prosedur ini akan menghasilkan asam dengan konsentrasi
akhir 93%.

2.4 Produk Dalam Industri Asam Sulfat


Asam Sulfat sering digunakan dalam industri pupuk buatan, khususnya Ammonium
Sulfat dengan super fosfat. Dalam skala besar juga digunakan dalam pembuatan pigmen,
khususnya barium sulfat dan titanium dioksida. Pembuatan detergen, bahan pewarna, obat-
obatan serta plastik. Asam sulfat juga digunakan untuk memisahkan hidrokarbon, untuk
menghilangkan lapisan film zat asam dari besi atau baja sebelum proses pelapisan,
pengecatan, mengisi aki atau baterai, dan pembuatan sutera sintetik.
Asam sulfat juga digunakan untuk pembuatan aluminium sulfat. Alumunium sulfat
dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun pada serat pulp kertas untuk menghasilkan
aluminium karboksilat yang membantu mengentalkan serat pulp menjadi permukaan kertas
yang keras. Aluminium sulfat juga digunakan untuk membuat aluminium
hidroksida. Dalam industri kimia, asam sulfat digunakan sebagai katalis asam yang
umumnya digunakan untuk mengubah sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam, yang
digunakan untuk membuat nilon. Ia juga digunakan untuk membuat asam klorida dari
garam melalui proses Mannheim. Banyak H2SO4 digunakan dalam pengilangan minyak
bumi, contohnya sebagai katalis untuk reaksi isobutana dengan isobutilena yang
menghasilkan isooktana(Darwati, 2012).
Sekarang ini ada 7 pabrik asam sulfat, diantaranya ada yang merupakan unit terpadu
dengan pabrik-pabrik pupuk yang sudah ada, rayon, dan detergen. Dengan adanya pabrik-
pabrik baru, maka kapasitas sebesar 253.000 ton/tahun pada tahun1983 akan meningkat
menjadi 841.000 ton/tahun pada tahun 1988. Jumlah kebutuhan pada tahun 1983/1984
238.000 ton dan pada tahun 1988 diperlukan 800.000 ton. Pemakai dan penghasil terbesar
adalah PT. Petrokimia Gresik yaitu 170.000 ton/tahun untuk unit pupuk ZA((NH4)2SO4))
dan akan dipoles menjadi 698.000 ton/tahun dengan mulai beroperasinya unit asam
phosport.
BAB III
PENUTUP
Asam sulfat merupakan asam anorganik yang bisa diproduksi secara massal dan
dalam kapasitas besar. Pada umumnya setiap pabrik memiliki unit pabrik pengolahan asam
sulfat agar mengurangi biaya pembelian bahan baku. Selain bahan kimia yang sangat aktif,
asam sulfat juga merupakan bahan kimia yang paling banyak dipakai dan merupakan
produk teknik yang amat penting. Zat ini digunakan sebagai bahan untuk pembuatan
garam-garam sulfat dan untuk sulfonasi, tetapi lebih sering lagi dipakai terutama karena
merupakan asam anorganik yang kuat dan murah. Asam sulfat digunakan dalam pembuatan
pupuk, kulit, platina, pengolahan minyak, dan dalam pewarnaan tekstil.
Asam sulfat pertama kali ditemukan di Iran oleh Al-Razi pada abad ke-9.
Pembuatannya melalui pembakaran belerang dengan saltpeter, pertama kali dijelaskan oleh
Valentinus pada abad kelima belas. Pada tahun 1746, Roebuck dari Birmingham (Inggris)
memperkenalkan proses kamar timbal. Proses yang menarik, namun sekarang sudah kuno.
Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan asam sulfat adalah belerang,
oksigen, air dan katalis vanadium pentaoksida sebagai bahan pembantu. Dimana belerang
dan vanadium pentaoksida di impor langsung dari Singapura, sedangkan oksigen di dapat
dari udara bebas. Untuk air yang digunakan didapat dari sumur bor yang melalui tahap
pengolahan.
Pada pengolahan asam sulfat menggunakan beragam proses. Macam-macam proses
tersebut adalah :
1. Proses Kontak,
salah satu cara pembuatan asam sulfat melalui proses industri dengan produk yang
cukup besar adalah dengan proses kontak. Prinsip proses kontak adalah reaksi oksidasi gas
SO2 dengan oksigen dari udara dengan memakai katalis padat dilanjutkan dengan absorpsi
gas SO3 yang dihasilkan untuk membentuk asam sulfat. Pada proses kontak dibagi menjadi
2, yaitu :

 Single Contact Absorber, yaitu proses kontak yang hanya menggunakan sebuah
absorber. Gas sulfur trioksida yang keluar dari converter, langsung didinginkan di
economizer, kemudian dilewatkan absorber dan keluar produk asam sulfat.
 Double Contact Absorber, yaitu proses kontak dengan menggunakan dua buah
absorber. Gas sulfur trioksida yang keluar dari converter stage 3 didinginkan di
economizer, kemudian dilewatkan absorber I dan gas dikembalikan ke converter
stage 4. Keluar dari converter stage 4, gas masuk ke economizer kemudian
dilewatkan absorber II dan keluar produk asam sulfat.
2. Proses Bilik Timbal,
proses bilik timbal yang dikembangkan pada pertengahan kedua abad ke-18,
membakar sulfur dalam bejana tanah liat. Sejumlah kecil SO3 yang dihasilkan
(bersamaan dengan SO2 yang menjadi produk utamanya) diembunkan dan dimasukan ke
dalam air untuk membuat asam sulfat.
3. Proses Pemekatan Asam Sulfat,
asam encer dapat dipekatkan menjadi asam dengan konsentrasi yang agak lebih tinggi
dengan mencelupkan gulungan uap pemanas yang terbuat dari timbal, di dalam tangki
timbal atau tangki yang berlapis timbal dan bata.

Asam Sulfat sering digunakan dalam industri pupuk buatan, khususnya Ammonium
Sulfat dengan super fosfat. Dalam skala besar juga digunakan dalam pembuatan pigmen,
khususnya barium sulfat dan titanium dioksida. Pembuatan detergen, bahan pewarna, obat-
obatan serta plastik. Asam sulfat juga digunakan untuk memisahkan hidrokarbon, untuk
menghilangkan lapisan film zat asam dari besi atau baja sebelum proses pelapisan,
pengecatan, mengisi aki atau baterai, dan pembuatan sutera sintetik.
DAFTAR PUSTAKA
Austin, George T. 1996. Industri Proses Kimia. Jilid 1. Edisi Kelima. Jakarta :
Erlangga.
Perry, R.H., Perry’s Chemical Engineering’s Hand Book, 6th edition, McGraw Hill
Book Company.
Darwati, Winda. 2012. Pabrik Asam Sulfat Dengan Proses Double Contact
Absorber. Fakultas Teknologi Industri : UPN Veteran Jatim.